PERANAN DAN TUGAS UTAMA PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PELAYANAN PUBLIK (Suatu Analisis Akademik dan Empirik Mengenai

Implementasi Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Menurut Versi UU No. 32 Tahun 2004 dalam Mendukung Hubungan antar Pemerintahan dan Mendorong Kerjasama antar Daerah dalam upaya mewujudkan pelayanan public yang baik)1 Oleh: Prof.Dr. H. Zaidan Nawawi2 1. Latar Belakang Pilosofis.
Pembahasan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah dilandasi asumsi bahwa hubungan antara orang yang memerintah dan orang yang diperintah, sama halnya dengan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah merupakan masalah klasik dalam ilmu politik. Paradigma lama yang memandang masih kuatnya hubungan sub-ordinasi antara pemerintah dan rakyat, nampaknya sudah mulai luntur yang dalam paradigma baru cendurung menghendaki hubungan yang setara antara pemerintah dan rakyat. Peranan pemerintah tidak lagi membawahi dan memerintah, melainkan lebih mengarahkan dan memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Persoalan utamanya bersumber pada seberapa bebas masyarakat (baca: pemerintah daerah) bergerak atau berinitiatif dalam lingkungan kekuasaan negara, dan seberapa besar pula masyarakat daerah dapat mempengaruhi kebijakan negara dan atau pemerintahan daerah yang pada giliranya kebijakan itu akan berujung kepada pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Atas dasar inilah konsep desentralisasi dan otonomi dapat dipandang, baik sebagai fenomena politik maupun administrasi negara. Walaupun Pemerintahan Negara Republik Indonesia tidak menganut “faham negara integralistik”3, namun penyelenggaraan Pemerintahan negara di bawah regime demokrasi terpimpin dan regime orde baru pada masa yang lalu, demikian pula pada masa-masa pemerintahan selanjutnya, menunjukkan betapa kuatnya “faham negara integralistik” yang mempengaruhi penyelenggaraan sistem pemerintahan negara, dimana negara memiliki kemauan dan kepentingan yang
1 2

“Faham Negara Integralistik” adalah suatu faham yang memandang kepentingan individu dan kepentingan masyarakat harus dilihat secara keseluruhan (integral), tidak terpisah sendirisendiri, dengan kata lain setiap kepentingan apapaun selalu harus dikaitkan dengan kepentingan Negara secara keseluruhan.
3

1

sering berbeda dengan kepentingan warganya, yang dapat melakukan intervensi kedalam kehidupan masyarakat, sekalipun hal itu didedikasikan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat itu sendiri4. Kondisi seperti ini dimungkinkan terjadi, karena setiap kebijakan yang ditetapkan sebagai kebijakan publik, sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh sikap, perilaku, dan value judgement dari para penyelenggara negara (human behaviour and value judgement), yang pada gilirannya dipandang sebagai “pembenaran hukum” dan sebagai alat pemaksa yang harus ditaati oleh rakyat. Dalam “faham negara integralistik”, negara mempunyai kekuasaan mutlak, dimana kedaulatan negara mengatasi kedaulatan rakyat. Semua bagian - bagian dalam keseluruhan diarahkan kepada persatuan dan kesatuan, bagi negara yang terpenting adalah keseluruhan bukan bagian - bagian. Itulah faham negara integralistik yang sering dipraktekkan oleh para penyelenggara kekuasaan pemerintahan negara. Ide faham “Negara integralistik” ini semula diekspose dan direkomendasikan oleh Prof. Dr. Supomo pada sidang BUPKI tanggal 15 Mei 1945 dengan mengemukakan 3 (tiga) pilihan yang diusulkan untuk dijadikan dasar Negara, apabila Indonesia telah merdeka, yaitu faham: (1) Individualisme; (2) Kolektivisme; dan (3) Integralistik Para Pendiri Negara (The Founding Fathers) kurang sefaham dengan ide negara integralistik ini yang akan dijadikan konsep dasar negara, karena faham ini menonjolkan sifat totalitarian dari negara yang tidak selaras dengan ide kekeluargaan yang bersifat egalitarian. Ide kekeluargaan menghendaki posisi sejajar antara fihak fihak yang berinteraksi, termasuk antara negara dan masyarakatnya. 5 Hal ini dapat terlihat dari pasal - pasal dalam UUD 1945 yang secara ideatif bertolak belakang dengan gagasan faham negara integralistik tersebut, misalnya pasal 28 yang menjamin hak - hak azasi manusia 6, dan pasal 18 yang menghormati dan menghargai sifat - sifat khusus dari daerah - daerah yang ada di Indonesia. 7 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa UUD 1945 sebenarnya berusaha mengatur keseimbangan antara individualisme dan kolektivisme, UUD 1945 menganut kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan negara.
Alfred Stepan, The State and Society, Peru in comparative perspective, Princeton, NJ: Princeton UP, 1978, hlm. 26-27 5 Ide tentang negara integralistik ini dipaparkan oleh Soepomo dalam sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, ketika membahas dasar negara apabila kelak Indonesia merdeka. Pembahasan yang sangat tajam mengenai penyimpangan gagasan Soepomo ini, dapat dilihat dalam karya Marsilam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik, Jakarta: Grafiti, 1994. 6 Pasal 28 UUD 1945 yang tadinya hanya 1 pasal, setelah amandemen kedua berubah menjadi 10 Pasal, yaitu 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, dan 28J 7 Pasal 18 UUD 1945 yang tadinya hanya satu pasal berubah menjadi 3 (tiga) pasal, yaitu pasal 18, 18A, 18B setelah terjadi amandemen kedua.
4

2

Dari kenyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan faham negara integralistik sering lebih banyak bersifat politis daripada hukum tata negara. 8 Namun, apabila dikaitkan dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, maka fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak awal penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Situasi inilah yang sedikit - banyak mempengaruhi penyelenggaraan otonomi daerah di Indonesia, baik sebagai suatu fenomena politik maupun fenomena administrasi yang seharusnya ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat. Salah satu argumentasi dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah mendekatkan pemerintah dalam bentuk Pemerintah Daerah kepada masyarakat, agar pemerintah daerah memahami keinginan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian tingkat kesejahteraan masyarakat akan sangat tergantung kepada tingkat ”pelayanan publik” yang disediakan oleh pemerintah daerah. Paradigma ”otonomi daerah” menurut semangat UU No. 32 Tahun 2004 adalah ”otonomi masyarakat”, dalam arti Pemerintah Daerah sebagai perwujudan dari ”otonomi masyarakat” dituntut untuk lebih mampu mensejahterakan masyarakat melalui pelayanan publik dibanding dengan pemerintah pusat yang jaraknya lebih jauh kepada masyarakat. Motivasi yang mendorong tumbangnya rejim orde baru oleh gerakan reformasi dengan dipelopori oleh para mahasiswa pada pertengahan tahun 1998 adalah karena melihat fenomena penyelenggaraan pemerintahan negara berorientasi kepada format politik totalitarian, sehingga tidak mencerminkan dan menjamin terwujudnya keadilan, demokrasi dan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Salah satu kebijakan politik yang menjadi sumber kelemahan dan mendorong terjadinya krisis multidimensi yang mengancam keutuhan negara bangsa adalah diterapkannya sistem pemerintahan negara yang terlalu sentralistik dengan mengabaikan prinsip - prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, baik langsung maupun melalui kontrol perwakilan rakyat, serta pemerataan dan keadilan, yang pada gilirannya kebhinekaan dalam segala bidang kehidupan yang menjadi sumber potensi dan keanekaragaman daerah, terabaikan pula. Kebijakan politik tersebut, tidak hanya berdampak terbelenggunya aspirasi, oto-aktivitas dan kreativitas masyarakat setempat, melainkan juga mematikan sumber potensi dan sumber daya di daerah, terutama sumberdaya manusianya, yang pada gilirannya pula pelayanan publik dalam upaya mensejahterakan masyarakat tidak terselenggara dengan optimal.
8

Marsilam Simanjuntak, op.cit., hlm. 247.

3

2. Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan. Prinsip penyelenggaraan pemerintahan, bisa dilihat dari dua aspek, yaitu: Pertama, prinsip penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan atau dianut oleh suatu negara bangsa (Nation State) sebagai satu kebijakan, seperti sentralisasi, desentralisasi, dekonsentrasi, devolusi, parlementair, presidensiil dlsb. Tergantung dari sistem mana yang dianut oleh suatu Negara Bangsa (Nation State) tersebut. Sistem ini berkaitan dengan kebijakan pembagian kekuasaan (Division of Power) di dalam lingkungan kekuasaan pemerintahan negara, baik secara horisontal (Capital Division of Power) antara lembaga-lembaga negara yang ada, maupun secara vertikal antara Pusat dan Daerah (Areal Division of Power). Di dalan Negara Kesatuan (Unitary State), secara vertikal terdapat ”Satuan Pemerintahan Nasional” (Pemerintah Pusat) dan ”Satuan Pemerintahan SubNational” (Pemerintahan Daerah), sedangkan secara horisontal terdapat Badanbadan/Lembaga Legislatif, Eksekutif, dan Judicatif. Kekuasaan atau kewenangan dibagi (”diberikan; toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada satuan pemerintahan daerah yang dibentuk dengan Undang-undang, namun kedaulatan (souvereignty) yang melekat kepada Negara dan Bangsa tidak dibagi kepada pemerintah daerah. Satuan Pemerintahan Sub Nasional merupakan hasil pembentukan dan pengembangan pemerintahan. Karenanya, kewenangan pemerintahan sub nasional dapat ditambah, dikurangi atau bahkan dapat dihapuskan melalui proses hukum dan per-undang-undangan. Kedudukan satuan pemerintahan sub nasional, karenanya pula adalah ”tergantung” (dependent) kepada pemerintah nasional. Karena itu pula ia berada di bawah (sub ordinated) pemerintah nasional. Sistem pemerintahan NKRI tidak menganut paham ”sentralisme” dalam kekuasaan, melainkan mengakui dan menganut prinsip ”desentralisasi” dalam pemerintahan. Sesuai dengan amanat UUD, dalam rangka menjalankan prinsip desentralisasi di wilayah NKRI dibentuk daerah-daerah Provinsi, dan di wilayah provinsi dibentuk daerah-daerah kabupaten/kota sebagai daerah otonom. Secara juridis, politis dan administratif, daerah otonom mempunyai kewenangan ”otonomi daerah” yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada masyarakat setempat dalam wilayah tertentu sesuai dengan aspirasi dan otoaktivitas masyarakat sendiri untuk menentukan nasibnya sendiri, yang dijalankan oleh pemerintahan daerah yang mempunyai kewenangan dan berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri . Dengan kata lain ”daerah otonom” mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-undangan. Dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan, tidak sepenuhnya dilaksanakan secara ”desentralistik”, tetapi ada beberapa bagian yang tetap

4

dilaksanakan secara ”sentral”, karena pertimbangan pencapaian tujuan (doelmatig), dayaguna dan hasilguna, serta karena sifat dan coraknya yang tidak bisa lain harus diselenggarakan secara sentral. Pertimbangannya didasarkan kepada kriteria eksternalitas, akuntabilitas, efisiensi dan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan, seperti dianut di dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU No. 22 Tahun 1999. Kedua, dalam koridor Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 yang sering terabaikan dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kaitannya dengan pelayanan publik adalah prinsip penyelenggaraan pemerintahan dari aspek ”kepatutan pemerintahanan” (”Behoorlijk Bestuur”), karena aspek ini seringkali dipengaruhi oleh ”perilaku” (behaviour) dan value judgement dari para penyelenggara negara. Prinsipprinsip tersebut seperti, antara lain: Vrijbestuur; Nach Freies Ermessen, Preventieve Rechtszorg; Omnipresence dan Van zelf principles, serta prinsip-prinsip umum penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik, sering terabaikan. Walaupun UU No. 32 Tahun 2004 mencantumkan asas-asas kepatutan dengan merujuk kepada UU No. 28 Tahun 1999,9 tetapi tidak secara imperatif mengkaitkannya dengan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem. Bahkan suatu kekeliruan yang cukup mendasar dalam UU No. 32 Tahun 2004 tersebut yang membedakan antara asas penyelenggaraan sistem pemerintahan di pusat dengan asas penyelenggaraan sistem pemerintahan pada pemerintahan daerah, yang menekankan bahwa dalam menyelenggarakan pemerintahan, pemerintah menggunakan asas-asas desentralisasi, tugas pembantuan, dan dekonsentrasi, sesuai dengan peraturan perundang-undangan,10 sedangkan penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintahan daerah menggunakan asas ”otonomi dan tugas pembantuan”11 sebagai asas penyelenggaraan pemerintahan di daerah, padahal ”otonomi dan tugas pembantuan” merupakan hak dan wewenang (bukan asas) yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat yang merupakan manifestasi atau perwujudan dianutnya asas desentralisasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Oleh karena itu, betapapun baiknya sistem penyelenggaraan pemerintahan yang dianut oleh suatu negara bangsa, kalau tidak dibarengi dengan penegakkan ”asas-asas kepatutan pemerintahan” yang dilakukan oleh para penyelenggara negara, maka kepentingan masyarakat dalam bentuk pelayanan publik untuk mensejahterakan masyarakat, tetap akan sulit untuk dapat diwujudkan. Dalam kedudukannya sebagai Daerah Otonom, dan dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, ditegaskan dalam UU No. 32 Tahun 2004, bahwa Daerah berkewajiban untuk:12
Lihat Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004 Lihat Pasal 20 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2004. 11 Ayat (3) Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004. 12 Lihat Pasal 22 UU No.32 Tahun 2004.
9 10

5

mengelola administrasi kependudukan. menjaga persatuan. contohnya: penggusuran kios-kios PKL di jalan-jalan trotoir. kewajiban lain yang diatur dalam perundang-undangan Misalnya. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip Omnipresence dan Van Zelf principles. m. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. sehingga pada intinya prinsip ini mewajibkan kepada masyarakat untuk tetap mentaati peraturan perundang-undangan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah. tidak terikat kepada ruang dan waktu. mewujudkan keadilan dan pemerataan. Salah satu argumen dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah bahwa perangkat pemerintahan daerah dengan kewenangan-kewenangan otonominya harus mampu menyediakan pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. namun ketika rakyat memerlukan pertolongan atau bantuan. dan o. d. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. f. mengembangkan kehidupan demokrasi. dalam menerapkan asas ”Omnipresence dan Van zelf principles” yang pada dasarnya memandang bahwa pemerintahan itu berada di mana-mana. k. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. intinya adalah ”tidak patut” (onbehoorlijk) apabila para aktor penyelenggara negara membiarkan anggota masyarakat untuk melanggar hukum kemudian ditindak (represif).a. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. melestarikan lingkungan hidup. Dengan demikian. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. j. maka dengan sendirinya (van zelf) merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk membantunya. Essensi Pelayanan Publik. g. e. c. 3. melindungi masyarakat. dlsb. Jadi. mengembangkan sistem jaminan sosial. h. n. sehingga disini terjadi ”kewajiban yang berimbang” antara pemerintah dan masyarakat. melestarikan nilai sosial budaya. kesatuan dan kerukunan nasional. kewenangan yang diberikan kepada masyarakat dalam bentuk otonomi 6 . i. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. sekalipun tidak secara terus menerus diawasi oleh pemerintah. l. Preventieve Rechtszorg adalah suatu prinsip dalam pemerintahan yang menyatakan bahwa peranan dan tugas utama pemerintahan adalah menjaga agar supaya anggota masyarakat mentaati tertib hukum dan mencegah (to prevent) agar supaya masyarakat tidak melanggar aturan-aturan hukum yang berlaku.

50 14 Ibid. rumah sakit dsb. Depdagri. hlm. haruslah mampu memanifestasikan ”pelayanan publik” yang berkorelasi atau yang ”relevant” dengan kebutuhan masyarakat. Walaupun urusan-urusan tersebut ada di perkotaan. perindustrian atau peternakan. Oleh karena itu argumen pertama untuk menentukan pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat adalah Pemerintah Daerah perlu mengidentifikasi apa-apa saja input (masukan) sesuai kebutuhan masyarakat untuk diolah menjadi output (produk) yang perlu dihasilkan oleh Pemerintah Daerah sehingga menjadi outcome yang dapat memenuhi pelayanan publik yang disediakan oleh Pemerintah Daerah. IMB. ”Derasnya arus urbanisasi ke Jakarta seiring dengan kembalinya arus mudik Lebaran. dalam penyelenggaraan otonomi daerah menurut semangat UU No. merupakan bentuk kegagalan konsistensi Indonesia sebagai negara agraris. kalau Pemerintahan Daerah yang murni perkotaan. Sedangkan dalam kelompok Regulations yang dihasilkan umumnya yang bersifat ’Regulatory” atau Pengaturan. Misalnya. dengan perkataan lain seberapapun luasnya otonomi daerah yang diberikan. pengaturan tata tertib dan ketentraman. KK. Akte Kelahiran. pertanian. dan bagimana dampaknya yang ditimbulkan oleh pelayanan publik tersebut. pertanyaanya adalah: ” Sejauh mana Pemerintah Daerah mampu mempertanggungjawabkan kuantitas dan kualitas output yang dihasilkannya.Kelompok dari Goods adalah barang-barang atau fasilitas publik yang dihasilkan Pedmda seperti pasar. tapi relatif kecil sekali dibandingkan kebutuhan-kebutuhan yang merupakan ”corecompetence” di perkotaan. pertambangan. Dari dasar pemikiran ini lahir konsep yang sangat dikenal sebagai ”No Tax Without Representation” 14 Dalam pada itu. jalan. 13 ”Pada dasarnya output Pemda adalah untuk menghasilkan ”good and regulations” untuk kepentingan publik. ditekankan kepada kegiatan urusanurusan yang berkaitan dengan urusan kehutanan.daerah itu adalah suatu ”alat” (means) untuk mencapai ”tujuan” (end) dalam wujud pelayanan publik guna mensejahterakan masyarakat. Grand design implementasi otonomi daerah dalam koridor UU nomor 32 tahun 2004. dlsb. Jakarta 2005. adalah tidak logis atau tidak riil-rasional. hlm. seperti pengaturan untuk KPT. jembatan. 32 Tahun 2004 yang menganut prinsip ”otonomi nyata dan bertanggungjawab” mengisyaratkan bahwa Pemerintahan Daerah dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. sekolah. 50 13 7 . bagaimanapun juga harus dikaitkan dengan ”kebutuhan riil masyarakat di daerah”. Apabila dikaitkan dengan posisi Pemerintah Daerah sebagai lembaga yang memperoleh ”legitimasi” dari rakyat untuk menyelenggarakan ”good and regulations” tersebut. Izin usaha . sehingga benar-benar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat? Untuk itulah rakyat membayar pajak dan mempercayakan penggunaan pajak tersebut kepada wakil-wakil rakyat yang dipilih melalui mekanisme Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah.

bahwa mengadu nasib ke Jakarta. Penentuan core-competence ini didasarkan kepada perhitungan terhadap apa yang menjadi unggulan suatu daerah yang pengembangannya akan berdampak sangat besar terhadap pembangunan sosial ekonomi daerah ybs. setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dipakai dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ibid. Kedua. fasilitas pencegah dan pemadam kebakaran. Komposisi penduduk menurut mata pencahariannya. relokasi pedagang kaki lima. b. dan listrik di pedesaan menyebabkan parahnya kehidupan ekonomi di pedesaan. hlm. Untuk menentukan core-competence suatu daerah. sbb: Pertama. peternakan. Dari pemanfaatan lahan akan terlihat sektor mana yang dikembangkan di daerah yang bersangkutan. lingkungan air minum.Salah satu akan persoalan yang mendasari adalah sempitnya akses petani kecil dan buruh tani terhadap tanah serta infrastruktur pertanian” 15 Kondisi ini semakin parah karena kebijakan pembangunan yang menitik beratkan kepada ”pertumbuhan” (growth) masih tetap menenmpatkan kota-kota besar seperti Jakarta sebagai pusat pertumbuhan. buat apa kebijakan desentralisasi dengan memberikan otonomi yang luas dan bertanggung jawab kepada Daerah kalau bukan untuk mensejahterakan rakyat di pedesaan? Pertanyaan inilah yang harus terjawab. pariwisata dlsb. Oleh karena itu. Dengan demikian. terutama dalam mencari akar permasalahannya. tiadanya jaringan irigasi. 15 16 Dipetik dari harian Kompas. jalan. Pemanfaatan lahan. 29 Oktober 2006. hlm 3. Pemerintah Daerah sudah seharusnya memberikan perhatian untuk pengembangan sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja penduduk terbanyak. Beberapa warga desa yang ikut bersama pemudik balik ke Jakarta mengaku. transportasi perkotaan. pendidikan. karena kondisi lahan di desa mereka sangat memprihatinkan. baik oleh penentu kebijakan di daerah maupun di pusat. seperti : pelayanan kesehatan. di sisi lain berbagai persoalan di pedesaan seperti minimnya infrastruktur dan kesulitan lahan terus terjadi. 8 .16 Kalau begitu. “Kegagalan Negara Agraris”. akan terlihat sektor mana yang paling menyerap tenaga kerja penduduk daerah ybs. kekeringan menyebabkan banyak lahan terlantar. sehingga tidak mengherankan jika warga desa terus mengalir ke kota untuk mencari nasib. Sedangkan. pendekatan isi otonomi yang berorientasi kepada penyediaan pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan pokok (Basic needs) masyarakat. industri. fasilitas untuk pejalan kaki (trotoir). resetlement daerah2 kumuh dlsb. yaitu kebutuhan daerah untuk melakukan kewenangan yang berdasarkan pertimbangan urusan-urusan ”unggulan” yang akan dilakukan daerah tersebut untuk memajukan daerahnya masing-masing. bisa diukur dari 3 indikator sbb: a.3. pendekatan atas dasar sektor unggulan (”core-competence”) daerah. misalnya core-competence di bidang pertanian. Dari data statistik mata pencaharian penduduk.

karena 17 18 Ibid. sehingga pemahaman sektor unggulan tsb akan menjadi acuan bagi Daerah dalam menentukan isi otonomi atas dasar corecompetence daerah ybs. atau diserahkan sepenuhnya kepada swasta (private). sesuai dengan kondisi. dilihat sektor mana yang mempunyai ”forward linkage” dan ”backward linkage” terbesar.Daerah dengan Swasta (public private partnership) . 9 ..17 Dalam pada itu. dan juga urusan yang berkaitan dengan pengembangan corecompetence daerah ybs.c. Dari komposisi PDRB dapat dilihat sektor mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian daerah. kekhasan. Dari setiap sektor yang ada dalam komposisi PDRB. dengan mengacu kepada pendekatan core-competence. Pertimbangan dari ketiga faktor tersebut akan memberikan gambaran kepada Pemerintah Daerah. hlm 52 Lihat Pasal 14 ayat (2) UU No. maka isi otonomi daerah dari satu daerah akan berbeda dengan daerah lainnya.. atau dilakukan kemitraan antara Pem. terutama dampaknya terhadap kegiatan penduduk. sudah barang tentu termasuk fasilitas pelayanan umum yang harus disediakan oleh pemerintah. tergantung dari sektor mana yang akan dikembangkan sebagai core competence diluar kewenangan yang menjadi kewajiban untuk penyediaan basic services. bukan juga berarti bahwa Pemerintahan Daerah dapat mengenyampingkan urusan-urusan yang merupakan pelayanan terhadap kebutuhan pokok (basic services) masyarakat seperti: pendidikan. dalam bentuk infrastruktur. kesehatan. sektor-sektor mana yang menjadi andalan daerah yang bersangkutan untuk dikembangkan. apakah suatu urusan tersebut akan sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintahan Daerah sendiri public). Keleluasaan (diskresi) yang cukup luas yang diberikan kepada Daerah oleh UU No. Dari kondisi tersebut. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). maka Pemerintahan Daerah haruslah berhati-hati dalam menentukan urusan-urusan mana saja yang akan dijadikan ruang lingkup otonominya. harus juga menjadi perhatian Pemerintahan Daerah untuk menentukan pilihan (option) yang paling optimal dalam melaksanakan urusan otonominya. 32 Tahun 2004 ditegaskan bahwa urusan itu adalah urusan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. 32 Tahun 2004 beserta penjelasannya. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. namun Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota sebaiknya pro-aktif mengambil initiatif dan oto-aktivitas dalam menentukan option tersebut.32 Tahun 2004 untuk menentukan isi otonominya. terutama yang menyangkut dengan pelayanan publik. fasilitas umum dlsb. lingkungan. 18 Walaupun pelaksanaan ketentuan tersebut dijanjikan dalam UU 32/2004 akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Disamping itu. transportasi dlsb. Akan tetapi. perlu menjadi perfhatian bahwa urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan (option) dalam UU No.

maka dalam UU No. meliputi: a. yaitu hubungan dalam bidang keuangan. b. b. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pelayanan umum. dan c. dan antar Pemerintahan daerah. b. b. kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. maupun peningkatan kerjasama antar daerah. dan c. kewenangan. baik melalui pengembangan hubungan pemeriantahan. yang kesemuanya meliputi hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. dan c. meliputi: a. bidang pelayanan umum. Kedua. c. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. meliputi: a. dan d. fasilitasi pelaksanaan kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. meliputi: a. 4. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan.kesempatan. pengelolaan perizinan bersama dalam bidang pelayanan umum. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. Keempat. Initiatif tersebut bisa dilakukan. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. dan penentuan standar pelayanan minimal. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. Ketiga. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dalam bidang pelayanan umum. 10 . 32 Tahun 2004 dengan tegas dinyatakan bahwa terdapat hubungan pemerintahan yang mencakup 3 (tiga) hal. sehingga pola hubungan tersebut menjadi sbb: Pertama. serta kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahan sendiri dan kepentingan masyarakat setempat secara undang-undang telah diberikan kepada pemerintahan/masyarakat daerah. tanggung jawab. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. dan bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. pembiayaan bersama atas kerjasama antar daerah. Mendorong Hubungan Pemerintahan dan Kerjasama antar Daerah. 22 Tahun 1999 dinyatakan bahwa antara Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. Kalau dalam UU No.

keamanan. Konstatasi adanya kesenjangan antara niat (willingness. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. kerjasama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antar pemerintahan daerah. pemanfaatan. pengelolaan peridzinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. tannggung jawab. meliputi: a. dan untuk Kabupaten/Kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. Ketentuan tersebut diatas. b. dimana daerah akan memperoleh bagi hasil atas pengelolaan sumber daya di bawah dasar dan/atau di dasar laut. pengendalian dampak. dan pengelolaan kekayaan laut. pengaturan administrasi. 5. Daerah yang memiliki ”wilayah laut” diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut.Kelima. meliputi: eksplorasi. political will) 11 . Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tersebut. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi diperuntukkan untuk Kabupaten/Kota. pengaturan tata ruang. eksploitasi. Kesenjangan antara niat dan realitas. budi daya dan pelestarian. pemeliharaan. diukur dari garis pantai kearah laut lepas dan/atau kearah perairan kepulauan untuk provinsi. penegakkan hukum terhadap perauran yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewsenangannya oleh pemerintah. maka kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tsb dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antara 2 (dua) provinsi tersebut. ikut serta dalam pemeliharaan. dan c. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. tidak berlaku bagi penangkapan ikan oleh nelayan kecil. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan bebas manangkap ikan di seluruh pengelolaan perikanan dalam wilayah Republik Indonesia. konservasi. dan c. meliputi: a. dan terhadapnya tidak dikenakan surat idzin usaha. dan ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. ditentukan paling jauh 12 (duabelas) mil laut. kewenangan. Yang dimaksud dengan ”nelayan kecil” disini adalah nelayan masyarakat tradisional Indonesia yang menggunakan bahan dan alat penangkapan ikan secara tradisional. b. yang pengaturannya sesuai dengan perundang-undangan. Keenam. dan bebas dari pajak.

).negara di Asean. “Politik” adalah panglima di masa orde lama dan “stabilitas” adalah panglima di masa orde baru. sumber-sumber daya alam dan sumber daya lainnya dlsb. menggerakan sejarah persatuan dengan doktrin dan kekuatan tentara. berawal dari perkembangan konfigurasi politik yang mendasari piranti perundang . Namun. dan jatuh bangunnya sistem pemerintahan yang berganti . seorang yang gandrung akan persatuan dan selalu bergelora bicara masa depan bangsa. Ia hidup dalam mimpi mimpi dan gagasan besar. 12 . Rabu. berkat pimpinan negara yang lalu. sedangkan Malaysia yang dulu hampir seluruhnya belajar dari kita. Penggantinya H. Bung Karno. Sebagai bangsa yang besar. memposisikan dirinya sebagai pihak yang harus dilayani.ganti. nyatanya masih tetap ditangani oleh pusat dengan dalih eksternalitas dan akuntabilitas tergolong kepada kepentingan nasional (seperti: petanahan.Pemerintah Indonesia dan realitas di lapangan dalam melaksanakan asas desentralisasi dan otonomi daerah.undangan serta komitmen politik pemerintah yang sangat jelas menginginkan terwujudnya otonomi daerah dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan di Indonesia. tetapi pekerjaan besar. praktek perkoncoan dan kronisme pun tidak bisa dihindarkan. sehingga dalam realisasi manajemen pemerintahan terdapat beberapa Keppres yang dikeluarkan yang dalam praktek mengalahkan kekuatan Undang-undang. dimana Indonesia berada di peringkat ke-111 di antara 175 negara di dunia. meredam berbagai pemberontakan. Pengelola negara yang mestinya melayani publik. 16 Maret 2005/No. Misalnya. pekerjaan yang genius. Politik menjadi “tertib” sebab semuanya dalam bingkai dan kontrol negara. Dalam sejarah bangsa ini. kita melihat kenyataan selalu bisa keluar dari berbagai kemelut bangsa. baik mengusir penjajah.Soeharto. seharusnya kita bisa mengatasi segala persoalan yang besar pula. Pengelolaan negara dan keluarga pun menjadi wilayah yang sulit dibedakan. Keduanya telah mengorbankan kualitas manusia Indonesia 19 Dampaknya. Baik Bung Karno maupun Pak Harto kurang memperhatikan aspek pembngunan manusia (human development). berdasarkan asas desentralisasi. kini di urutan ke-76. dan 19 Editorial Media Indonesia. kualitas manusia Indonesia terburuk di antara negara .asalan. sejauh ini perwujudan asas ini masih senggang dari idealisasi yang diharapkan. Dalam tumpang tindih garis batas wilayah negara dan keluarga.M. adalah sangat mudah difahami kalau menurut ukuran Human Development Index (HDI). tetapi yang kurang diperhatikan adalah merumuskan atau membuat fondasi tahapan seperti apa yang harus dilalui untuk menjadi bangsa yang besar itu. beberapa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daeah Kabupaten/Kota. Ini bukan kerja yang asal . Kita juga telah memperlihatkan kepada dunia atas kemampuan kita mngintegrasikan seluruh wilayah dan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah yang amat luas ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. yang seharusnya sudah bisa direalisasikan di daerah.8867/Tahun XXXVI.

melalui kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia menuju kepada proses penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good governance).20 Inilah salah satu masalah cukup mendasar yang menjadi tantangan kita dalam menghadapi krisis multidimensi. yang sesungguhnya faham ini.Undang Nomor 1 Tahun 1957. dan yang berpihak kepada rakyat. dan keburu dipangkas dengan dikeluarkannya Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959 yang merombak secara fundamental Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 hanya dengan sebuah “Penetapan Presiden” tanpa meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Undang . Rezim Orde Lama.praktek sentralisasi. namun dasarnya adalah Dekrit Presiden yang menyelamatkan kesatuan dan persatuan bangsa. setelah keluar Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Namun. Undang . Alasannya. mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. kembali terjebak dalam pola “sentralisasi” yang merombak “sistem pemerintahan kolegial” (collegial bestuur) yang dianut dalam Undang .Filipina di urutan ke-98. Dalam pada itu. hanya berhasil menghapuskan “dualisme struktural” 20 Ibid. Apakah dengan melalui Undang . menurut Badan Pusat Statistik 2004. pada masa rezim Orde Lama dengan menggunakan semangat Demokrasi Terpimpin.Undang Nomor 22 Tahun 1948. disamping untuk menghapus dualisme pemerintahan yang marasuk penyelenggaraan pemerintahan pada masa Undang . Dengan kebijakan ini. Kondisi kemiskinan seperti ini setara dengan keadaan 15 tahun yang lalu.1950 melalui sistem pemerintahanan yang parlementer dan dilandasi oleh faham demokrasi yang sangat liberal. Pengecualian terjadi pada masa berlakunya Undang .1 juta.Undang Nomor 1 Tahun 1957 umurnya tidak panjang. serta menghapuskan dualisme dalam pemerintahan. yang hampir kolaps pada Sidang Dewan Kontituante yang gagal membentuk UUD tetap. Melalui kajian sejarah administrasi pemerintahan di Indonesia. 13 . 6. Itulah era Demokrasi Terpimpin dengan semangat “Faham Negara Intergralistik”.Undang Nomor 1 Tahun 1957 yang didasarkan kepada UUDS . sekalipun “Penetapan Presiden” mempunyai derajat lebih rendah daripada Undang-undang. dengan dikeluarkannya Undang . tampak sebenarnya adanya semacam kesinambungan upaya mewujudkan desentralisasi yang selalu berakhir dengan munculnya praktek . upaya pemerintah untuk menghapuskan “dualisme” dalam penyelenggaraan pemerintahan.Undang Nomor 1 Tahun 1957 menjadi “sistem pemerintahan tunggal” (Eenhoofdig-bestuur) dengan mengangkat dan mendudukan Kepala Daerah sebagai “alat daerah” dan sekaligus sebagai “alat pusat”. Editorial Media Indonesia.Undang Nomor 1 Tahun 1945. kini penduduk miskin mencapai 36. Melihat sekilas perspektif historis. sekali lagi secara konstitutional tidak dianut di dalam UUD 1945.Undang Nomor 6 Tahun 1959. dengan dalih atas dasar semangat Demokrasi Terpimpin.

syarat . karena berdasarkan pengalaman konsep ini sangat rawan disintegrasi dan dikhawatirkan akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.pokok Pemerintahan di Daerah. Dengan demikian. Prinsip Otonomi yang seluas . Melalui konsep Undang . terlihat adanya kausalitas antara sistem politik dan pemerintahan yang berlaku.Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok . pada era rezim Orde Baru diambil keputusan politik yang menetapkan Demokrasi Pancasila sebagai landasan berpolitik bangsa.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini pemerintah bertekad untuk mewujudkan Otonomi Daerah. kedudukan dan peranan Kepala Daerah semakin diperkuat dan semakin dominan. Dengan demikian pula. Maka keluarlah Undang . Perbantuan Pegawai Negeri dan Penyerahan Keuangannya kepada Pemerintah Daerah diletakkan kembali di tangan Kepala Derah dalam kedudukannya sebagai “alat pusat”. pemberian otonomi daerah dalam wujud hak dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sendiri. harus disusun Undang – Undang yang menjadi landasan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia. karena justru penyelenggaraan pemerintahan dalam pelaksanaan fungsi “dekonsentrasi” yang menyangkut fungsi “pemerintahan umum” (“Algemene bestuur”) yang menurut Undang . seluruh tatanan pemerintahan harus disesuaikan dengan isi dan semangat Demokrasi Pancasila. Dengan keputusan politik tersebut. Melalaui Undang .Undang Nomor 6 Tahun 1959 tentang Penyerahan Tugas Tugas Pemerintah Pusat dalam bidang Pemerintahan Umum.luasnya. serta kerangka besar dalam pembangunan nasional.syarat semacam ini yang memunculkan kendala baru bagi perwujudan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. disesuaikan dengan kemampuan daerah. Maka lahirlah konsep “otonomi nyata dan bertanggung jawab”. Itulah era pemerintahan yang disebut “Executive heavy” atau sering juga disebut “Strong Executive System”. Pemerintah Indonesia tampaknya sangat menyadari kausalitas ini. dengan upaya mewujudkan asas desentralisasi pemerintahan. 18 Tahun 1965 tidak dianut lagi. Namun. sedangkan dualisme dalam fungsi (dualism in function) tetap tidak terhapuskan. terutama setelah dikeluarkannya PenPres Nomor 6 Tahun 1959 dipandang sebagai “retreat from autonomy”.sama dengan asas dekonsentras i. Oleh karena itu. Itulah pula sebabnya. ternyata kembali terjebak dengan kecendurungan awal munculnya sentralisasi pelaksanaan 14 . demikian pula paradigma yang menyatakan bahwa azas desentralisasi dilaksanakan bersama . yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Konsekuensinya. banyak kritikan yang dilontarkan kepada rezim pemerintahan pada saat itu. ataupun membahayakan kesinambungan gerak pembangunan nasional. Otonomi daerah dipandang lebih merupakan “kewajiban” daripada “hak”. dikehendaki agar pelaksanaan Otonomi Daerah ini tidak mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. yang digelar melalui UU No.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini.saja. Tampaknya. Penelitian yang terus menerus saya lakukan. menemukan bahwa UU Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang menitik beratkan pelaksanaan otonomi daerah pada Daerah Tingkat II.

sedangkan Daerah Tingkat II perkembangan otonominya tetap tersendat . karena Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Undang . namun keinginan politik ini tidak bisa direalisasikan. dimana DPRD sebagai penyalur aspirasi rakyat dalam pengembangan demokrasi dan sebagai alat kontrol.lambatnya dalam waktu 2 (dua) tahun sejak dikeluarkannya PP tersebut. 15 . dalam era Undang . yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II. bertanggung jawab dan demokratis. menyerahkan lebih lanjut kewenangan otonominya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. yang diletakkan di tangan Kepala Daerah dalam kedudukannya sebagai Kepala Wilayah. Pemerintah Daerah Tingkat I yang secara imperatif dalam PP tsb diwajibkan untuk secara berangsur . Namun.angsur selambat . dilihat dari sisi hubungan kelembagaan antara Eksekutif dan Legislatif ternyata adanya hubungan kemitraan yang sebenarnya kurang tepat (hubungan yang tidak sejajar).hampir tidak berfungsi. tidak berjalan dengan baik.Undang Nomor 22 Tahun 1999.undangan politik dan pemerintahan.administrasi pemerintahan di Indonesia. dengan menekankan bahwa titik . Walaupun Undang .tegas menyatakan bahwa kebijakan peletakan titik berat otonomi daerah pada Daerah Tingkat II sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengurangi keberadaan dan peranan Pemerintah Daerah Tingkat I.lagi penonjolan wajah “Eksekutif heavy” dalam era konfigurasi politik menurut Undang .sendat. Perumusan “Otonomi Daerah” yang merupakan pergeseran paradigma yang berpihak kepada rakyat. karena PP tersebut tegas . eksistensi Daerah Tingkat I sebagai “daerah otonom” tetap kuat. menyebutkan bahwa “Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.Undang ini bertahan selama lebih dari 25 tahun. dst.” Sebelum terjadi perubahan Undang . kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . dengan menggeser paradigma “Executive heavy” kepada “Legislative heavy”.Undang Nomor 5 Tahun 1974. Ini adalah lagi . yang dalam prakteknya dekonsentrasi lebih menonjol dan sangat dominan. Kemudian. Dengan demikian. Demikian pula.Undang Nomor 5 Tahun 1974 baru dapat dikeluarkan 18 (delapan belas) tahun kemudian. karena didominasi oleh wewenang Kepala Daerah/ Kepala Wilayah yang sangat kuat. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat.berat otonomi diletakkan pada Daerah Tingkat II. karena lagi-lagi Pemerintah Pusat tidak konsekuen dengan kebijakannya yang mestinya Pemerintah Pusat menyerahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Pemerintah Daerah dengan mengutamakan penyerahannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. bersih.Undang Nomor 5 Tahun 1974 hampir . boleh dikatakan tidak berjalan sama sekali. Peraturan Pemerintah inipun tidak berjalan mulus. dengan lebih menonjolkan kepada keberpihakan kepada rakyat. menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat……….

Disamping itu. tidak terdapat mekanisme yang jelas bagaimana bentuk pertanggung jawaban DPRD tersebut. tetapi di pasal lain menegaskan bahwa kedudukan DPRD dan Kepala Daerah adalah sejajar sebagai mitra . Kebijakan Pilkada yang membawa anarkhisme.Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang tujuannya antara lain untuk mengembalikan dan mewujudkan keseimbangan dari “Legislatif heavy” kepada “Eksekutif heavy” dan keseimbangan antara hubungan kekuasaan pusat dan daerah. Pengalaman menunjukkan.mana. Pergantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang . kenyataan di lapangan banyak kericuhan terjadi dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah. ketika salah satu calon yang diajukan oleh Parpol ditolak oleh KPUD.pasal dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 (pasal 56 s/d pasal 119) mengatur tentang Pemilihan Kepala Daerah secara langsung.kerja.nya ditolak atau karena sebab . terjadi konflik horizontal dimana . sehingga mencerminkan gejala bahwa kewenangan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. 7. Kalau bertanggung jawab kepada rakyat.sebab lain yang kecendurungan menunjukkan kekuasaan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. kembali terjebak kepada nuansa “re-sentralisasi” dalam penyelenggaraan otonomi daerah.Undang Nomor 22 Tahun 1999 pemberhentian Kepala Daerah tidak sepenuhnya berada dalam kompetensi DPRD. kondisi tersebut tidak memungkinkan adanya “kemitraan” yang sejajar dan kecendurungan secara realitas posisi DPRD lebih kuat daripada Kepala Daerah.Undang Nomor 32 Tahun 2004. terutama setelah salah satu “calon terpilih” dinyatakan menang dalam Pilkada tersebut. Inilah pula.mana hanya untuk memenangkan jabatan Kepala Daerah. banyak perilaku 16 . Inilah suatu paradigma yang cenderung lebih menjukkan “Legislative heavy” dalam sistem Pemerintahan Daerah yang berjalan menurut Undang . uang terhamburkan dimana . bahwa sering terjadi ”impeachment” terhadap Kepala Daerah hanya dengan keputusan DPRD. Sedangkan DPRD sendiri tidak jelas bertangungg jawab kepada siapa. melainkan kewenangan untuk memberhentidkan Kepala Daerah tersebut berada pada Presiden.dimana Kepala Daerah dipilih dan ditetapkan oleh DPRD.lebihan. belum lagi terjadinya “money politic” yang berlebih . ada orang yang bangkrut setelah tidak terpilih menjadi Kepala Daerah. meskipun menurut jiwa dan semangat Undang . Dengan demikian.Undang Nomor 22 Tahun 1999. Namun. apakah karena LPJ . dan bertanggung jawab kepada DPRD. dimana hampir 30% pasal . menjadi kebingungan bagaimana mengembalikan uang biaya Pilkada yang jumlahnya milyaran rupiah itu. idenya ingin mengembangkan strategi baru yang lebih dinamis. salah satu alasan mengapa Undang . Hubungan Eksekutif – Legislatif Daerah. daripada diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat. sebaliknya orang yang terpilih sebagai Kepala Daerah. Namun tidak jarang pula terjadi konflik vertikal.Undang Nomor 22 Tahun 1999 diganti dengan Undang .

Padahal Indonesia sangat miskin dan lemah. 21 Maret 2006. Di jalan raya demonstrasi oleh warga dan anggota LSM tidak pernah putus. entah di parlemen. Ada beberapa kelemahan terdapat dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berdampak kerancuan dalam implementasi Pilkada. Semua ini hanya bisa diperoleh apabila kita menampilkan wajah yang menawan dan bersahabat. Sekarang. sehingga tidak memerlukan lagi orang . memperburuk wajah kita. merusak gedung .aksi menentang Exxon Mobile di Blok Cepu. dst. Kita sekarang muncul sebagai bangsa yang gaduh. mengecam. Setiap hari kita memaki. 21 Editorial Media Indonesia.akan Indonesia begitu hebatnya.dst. Pekan-pekan ini. Di Era Orde Baru. Sedikit saya mengutip Editorial Media Indonesia. Tidak wajah garang yang selalu mengepal tinju dan menghunus pedang…………….kuat seakan . dan bukan melaksanakan Pilkada. yang berjudul “Wajah Seram Indonesia”. Para elite bangsa sekarang tenggelam dalam keyakinan super . wajah Indonesia ditampar-tampar oleh Negara. karena ketidak puasan hasil Pilkada. Kita membutuhkan modal. tetapi anarkistis.l. Bangsa yang tidak menghargai perjanjian dan komitmen.” 21 8. demi keamanan dan pembangunan. Indonesia tidak lagi hanya bangsa yang gaduh.1 17 . sehingga membawa dampak instabilitas dalam pemerintahan dan ketidak tentraman dalam masyarakat.olah ada kesan bahwa tidak ada satu badan publikpun yang semestinya bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan persoalan tersebut. keahlian. hlm. dan teknologi. Kelemahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dalam penyelenggaraan Pilkada. Demonstrasi menentang PT Freeport di Papua yang berujung kematian tiga anggota Polri dan satu TNI. tetapi nyatanya kaostik dan anarkhis. Di parlemen hampir setiap minggu kita mendengar tentang ancaman angket dan interpelasi.gebuk oleh rakyatnya sendiri atas nama demokrasi. Apa saja yang dirasa tidak sesuai dengan pikiran individu atau kelompok diributkan. karena tugas dan kewenangan KPU (KPUD) adalah melaksanakan Pemilu. pembakaran kamp milik PT Newmont di NTB. a. sbb: “Wajah Indonesia berubah total akhir .orang di bagian dunia yang lain.akhir ini. dan disusul sekarang dengan aksi . mengusir. dan banyak lagi persoalan persoalan yang muncul yang mencerminkan seolah .jalan. citra Indonesia tidak lagi sekedar bangsa yang gaduh. dengan dalih pencerminan “demokrasi”.olah pemerintah tidak mampu lagi untuk menyelesaikannya. di era reformasi wajah Indonesia digebuk .gedung dan sarana pemerintahan. dan merusak. antara lain: a. bahkan seolah .masyarakat pemilih menjadi anarchist. entah di jalan . Penunjukan KPUD sebagai Pelaksana Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung (PILKADA) adalah kurang tepat.

ideenya.unsurnya terdiri dari tokoh masyarakat. sehingga dalam pelaksanaannya menimbulkan multi . sehingga skenario format hubungan yang akan terjadi adalah sebagai berikut:22 Pertama. 9. DPRD akan dipilih dengan sistem proportional terbuka. pers dll yang bertanggung jawab kepada Pemerintah cq.uang” hampir di seluruh lini penyelenggaraan Pilkada. maka diharapkan akan merubah perimbangan hubungan antara Eksekutif dan Legislatif daerah.b. termasuk Tim Suksesnya dll. maka alternatifnya adalah menusuk tanda gambar. Kalau rakyat lebih banyak memilih I Made Suwandi. baik di kalangan masyarakat. Sosialisasi dan diseminasi peraturan perundang . 2004.jawab kepada siapa. 22 18 . Sesungguhnya. hlm.interpretasi dan persepsi yang berbeda . kalau pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara langsung. kurang sekali disosialisasikan kepada masyarakat luas. Kalau pemilih tidak memilih nama. Pasal 57 UU No. namun Pasal tsb dalam judicial . perguruan tinggi. 3-4. Materi Workshop. serta konsekuensi konsekuensi yang bakal terjadi pada Pilkada. para calon Kepala Daerah. “ Implikasi Pemilihan Kepala Daerah Langsung” (Dalam koridor UU 32 Tahun 2004). c. Hasil Pemilu 5 April 2004 juga menunjukkan bahwa hanya 2 orang anggota DPR di tingkat Nasional yang benar-benar terpilih yang memenuhi “Bilangan Pembagi Pemilih” (BPP). Pemerintahan Daerah. sehingga masyarakat kurang memahami aturan main. yang berarti Elite Parpol yang akan memegang peranan utama menentukan siapa yang akan didudukkan di lembaga legislatif daerah.undangan tentang Pilkada sebagaimana tertuang dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pelaksanaannya. sehingga. Penyelenggaraan Pilkada merupakan kompetensi Pemerintah cq. dalam menyelenggarakan Pilkada.beda. semangat dan jiwa.review dicabut oleh Mahkamah Konstitusi.32/2004 menyatakan bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggung jawab kepada DPRD. Upaya menyeimbangkan hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah. e. KPUD. dan karenanya perlu dibentuk Panitia/ Komisi Pemilihan Kepala Daerah yang unsur . Pemerintahan Daerah. Maraknya “politik . ini berarti ada tanda gambar dan sekali gus daftar nama caleg. LAPI. tidak memenuhi treshold BPP yang diunjuk mewakili parpol di DPR atau DPRD dan menimbulkan konflik internal di tubuh parpol. d. f. Panitia Pengawas Pilkada tidak berfungsi secara optimal. KPUD tidak jelas bertanggung . Masalahnya sering calon yang mendapatkan suara terbanyak.

kepada siapa Kepala Daerah harus bertanggung jawab? Karena Kepala Derah dipilih langsung oleh rakyat. rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk memilih seseorang calon Kepala Derah. akan terjadi pergeseran (shift) titik berat kekuatan politik yang tadinya ke DPRD (“Legislative heavy”) akan bergeser kepada Kepala Deerah (“Executive heavy”).cara yang sama. dimana pendidikan politik rakyat belum mantap. kalau cara . Di negara . demikian juga sebaliknya rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk menjatuhkan Kepala Daerah dengan cara . yang pada gilirannya kondisi tersebut akan menciptakan krisis yang berkepanjangan. dimana akuntabilitas Kepala Daerah lebih bersifat individu dibanding dengan akuntabilitas DPRD yang bersifat kolegial. jelas akan lebih memperkuat posisi Kepala Daerah.cara tersebut diterapkan di Indonesia. seperti di Amerika. akan berjalan baik. Ini adalah akibat akuntabilitas Kepala Daerah yang lebih kuat dibandingkan dengan DPRD. ini berarti bahwa Kepala Daerah akan mendapatkan legitimasi penuh dari rakyat pemilih. Ini berarti. dalam rangka pemilihan Kepala Derah perlu adanya sosialisasi dan pendidikan politik yang intensif bagi rakyat pemilih. Lantas mekanismenya bagaimana kalau Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada rakyat. supaya mereka menyadari bahwa sekali mereka memilih Kepala Daerah maka mereka akan menanggung segala konsekuensi dari pilihannya tersebut.cara “money politics” dalam pemilihan Kepala Daerah. Akibatnya. maka seyogyanya ia (Kepala Daerah) bertanggung jawab langsung kepada rakyat.productive terhadap laju pertumbuhan dan investasi. apabila pendidikan politik rakyat sudah mantap. dan apakah rakyat bisa memberhentikan Kepala Derah apabila rakyat tidak menyukai atau mempercayainya lagi. Persoalannya sekarang. sedang akuntabilitas kolektif akan lebih menonjol. Kalau Kepala Daerah dipilih secara langsung. Kedua. Kondisi tersebut akan diperkuat lagi dengan adanya dukungan perangkat daerah kepada Kepala Daerah. maka baik DPRD maupun Kepala Daerah akan bertanggung jawab langsung kepada rakyat pemilih. akibatnya. Kepala Derah dapat diberhentikan oleh rakyat apabila diatas 50% pemilih menyatakan tidak menghendaki lagi Kepala Daerah ybs. pelaksanaan demokrasi tendensinya anarkhis. Dengan demikian. konsekuensi dari pemilihan langsung. Karena itu.negara maju. seperti di Amerika. Dengan kata lain akuntabilitas Kepala Daerah akan lebih kuat dibanding dengan akuntabilitas DPRD.tanda gambar dan bukan orang. akuntabilitas individu akan berkurang. mengundurkan diri atau tidak lagi mampu 19 .pidana. Karenanya perlu penegasan dan difahami oleh rakyat bahwa pemberhentian Kepala Derah hanya dapat dilakukan apabila ybs melakukan tindak . pemerintahan yang tidak stabil sudah barang tentu akan mengganggu stabilitas keamanan dan counter . maka dengan imbalan uang. Namun. karena Kepala Derah pun akan mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang dipilih secara langsung. artinya rakyat akan memberikan legitimasi politik secara langsung kepada orang yang dipilihnya. tidak lagi Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD sekalipun DPRD mempunyai posisi sebagai wakil rakyat. dimana di kalangan masyarakat Indonesia masih kental cara . maka sudah bisa dipastikan akan terjadi instabilitas dalam pemerintahan daerah. Kondisi ini. Sebagai konsekuensinya.

Dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terdapat masalah kepegawaian daerah. maka diharapkan DPRD sedikit . Namun. anggota DPRD dapat di re-call oleh pimpinan Parpolnya.unsur “separated system” dalam manajemen kepegawaian. untuk menciptakan “check and balances” yang seimbang. Ketiga. misalnya banyak kasus terjadi pemberhentian Sekda oleh Kepala Daerah/ DPRD tanpa alasan yang jelas. DPRD diharapakan akan tetap mempunyai otoritas di bidang legislasi. harus ada perubahan yang signifikan terhadap konstruksi pemerintahan daerah. Keempat. serta ethik dan moral. maka akan sulit bagi DPRD untuk mengimbangi kekuatan dan kinerja eksekutif yang didukung oleh perangkat daerah yang professional. Apabila mereka mampu mempergunakan kewenangan dan hak . Demikian juga dengan posisi DPRD. Dalam pada itu ada Badan Kehormatan dalam lembaga DPRD yang nantinya akan menerima komplain dari masyarakat tentang anggota DPRD dan dapat memberhentikan anggota DPRD apabila anggota DPRD terbukti melanggar tata . sedangkan pejabat karir adalah pejabat yang melaksanakan/ mengoperasionalkan kebijakan tersebut kedalam bentuk pelayanan publik atau pemenuhan kebutuhan publik. maka rakyat sebagai “stake . anggaran dan kontrol. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk.etik DPRD. placement.hak tersebut secara effektif. Pejabat politik adalah pejabat yang bertugas merumuskan dan menetapkan “kebijakan publik”.undangan. baik dari pihak Kepala Daerah maupun dari DPRD. artinya unsur .Undang Nomor 22 Tahun 1999.l. dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Parpol. a. perlu digerakkan agar mampu menjadi “pressures and supporters”. DPRD yang lemah. maka Daerah sebaiknya dilibatkan dalam proses rekrutmen.menjalankan tugasnya sebagai Kepala Derah sebagaimana ditentukan dalam perundang .banyak akan mampu mengimbangi kekuatan Eksekutif. baik kepada DPRD maupun kepada Kepala Daerah melalui upaya revitalisasi LSM. Forum Komunikasi.politik” (Pejabat karier).holders” utama dalam penyelenggaraan otonomi daerah. tanpa adanya kemajuan yang berarti. terjadi kecendurungan kooptasi oleh kekuatan politik di daerah. kalau kualitas anggota DPRD tetap seperti sekarang. dan fungsi anggaran dalam menetapkan dan mendayagunakan potensi anggaran daerah. berpotensi untuk melemahkan fungsi kontrol terhadap eksekutif. sesuai dengan hak-haknya sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang . professionalisme. terutama yang menyangkut kejelasan antara “pejabat politik” (Kepala Daerah dan DPRD) dengan “Pejabat non . dengan diberikannya kewenangan manajemen kepegawaian sebagaimana diatur dalam Pasal 76 Undang . fungsi legislasi dalam membuat kebijakan. dan “integrated system” diterapkan dalam rangka menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan otonomi daerah. Organisasi professi dll yang berbasis demokrasi. diberikan kepada daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah.tertib dan kode . Oleh karena itu. development dan appraisal dari PNS Daerah. karena bagaimanapun juga posisi 20 .undangan. Untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah di bidang manajemen kepegawaian. sehingga akan menciptakan kondisi “Executive heavy” seperti terjadi puluhan tahun pada masa orde baru.

3. Dengan melihat perspektif historis ketata-negaraan Indonesia. bersih dan bertanggung jawab. beberapa pokok-pokok pikiran tentang pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan otonomi daerah sebagai bahan masukan dalam Seminar ini untuk didiskusikan lebih lanjut. Kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang .PNS tetap harus difungsikan sebagai perekat negara dan bangsa disamping professionalisme pegawai yang perlu terus ditingkatkan. 10 Nopember 2006. Berbagai upaya dan terobosan politik telah banyak dilakukan dalam rangka membangun pemerintahan daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat.Undang Nomor 22 Tahun 1948. APRESIASI KEBIJAKAN DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH MENURUT PERSPEKTIF UNDANG . Undang . Jakarta. Terima kasih atas perhatiannya. Undang - 21 .undangan politik dan pemerintahan. Demikian. Penutup. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat.undangan pemerintahan daerah yang diwarnai dengan berbagai perkembangan konfigurasi politik sejak lahirnya Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1945. 10. Pemerintah NKRI telah berhasil mengundangkan berbagai perundang . serta berpihak kepada rakyat.UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999.

baik secara konsep akademik maupun operasional signifikan dalam upaya menerapkan prinsip . dan tidak terkendalinya oleh pemerintah pusat. dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan (“disintegrasi”) karena terkotak .Undang Nomor 5 Tahun 1979. tidak dapat dipungkiri bahwa paket Undang . peran serta masyarakat. peningkatan daya saing daerah. Namun demikian. yang akhirnya daerah yang merasa sangat kuat akan tidak peduli terhadap daerah lainnya. pemerataan dan keadilan.raja kecil di daerah dlsb. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. serta menjamin tetap terjaga dan terpeliharanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. bersih.Undang ini masih jauh dari harapan.prinsip akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. pemerintah yang menamakan dirinya sebagai “pemerintah orde reformasi” nyatanya tidak reformis dan dalam memberikan otonomi kepada daerah. sampai kepada paket kebijakan terakhir. dan masih berbau “status quo”. sehingga timbul kesenjangan antar daerah dan laju pertumbuhan antar daerah. Apalagi Undang – Undang 22 . Penetapan Presiden (PenPres) No. egoisme kedaerahan yang sempit. Undang . Undang . berwibawa dan bertanggung jawab (“Good Governance”) serta berpihak kepada rakyat.Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 sebagai produk kebijakan politik desentralisasi dan otonomi daerah pada masa pemerintahan transisi.prinsip demokrasi. terutama dalam mewujudkan pemerintahan daerah yang baik. Undang .kotaknya antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. ada pula yang beranggapan bahwa Undang .Undang Nomor 1 Tahun 1957.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. adalah suatu prasyarat yang harus terjawab dalam upaya menjalankan “keinginan politik” (political will”) pemerintah untuk menjadikan Daerah Otonom yang mandiri berdasarkan prinsip . 5 Tahun 1960. Undang Undang Nomor 6 Tahun 1959. yang pada gilirannya akan mengakibatkan lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa. masih setengah hati. arogansi kekuasaan. Namun sebaliknya.Undang Nomor 18 Tahun 1965. 6 Tahun 1959. timbulnya raja . Hal tersebut. Ada yang menganggap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terlalu luas memberikan kewenangan kepada daerah.Undang Nomor 32 Tahun 1956. baik ditinjau dari tataran konsep maupun tataran operasional. kolusi dan nepotisme (KKN) akan merajalela di daerah. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dengan otonomi daerah ini. dikhawatirkan akan memindahkan birokrasi pusat ke daerah dengan segala ekses -eksenya seperti korupsi.Undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang . Berbagai pendapat dan pandangan telah banyak dilontarkan orang terhadap kelahiran Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999. PenPres No. sehingga dengan keleluasaan (“discretionary power”) yang diberikan kepada Daerah. Yang menjadi fokus pertanyaan adalah apakah kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dituangkan dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 itu. masih mengandung berbagai kelemahan dan masalah. yaitu Undang .

sebagian masyarakat beranggapan bahwa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 mampu menjawab tuntutan demokrasi. ditinjau dari perspektif nasional. baik yang dilakukan oleh para pejabat Eksekutif. desentralisasi dan otonomi yang kini semakin nyaring terdengar. pemerintah pusat yang telah memberikan kewenangan yang luas kepada daerah sebagaimnana ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 11 Undang – Undang Nomorr 22 Tahun 1999. adanya arogansi pusat dengan pencerminan pembagian sumber . sehingga daerah bisa mengatur dan mengurus kepentingan masyrakat setempat. karena ia merupakan salah satu komponen utama dari fondasi yang menopang keberadaan “bangunan” desentralisasi dan otonomi daerah. sangat ditentukan oleh format pengaturan distribusi kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. tidak adil dan sangat berat ke pusat. Namun. hlm. Demikian pula. karena sisa kewenangannya sangat dibatasi.87. dianggapnya masih terlalu berorientasi ke pusat. karena sebagian besar kewenangan dan sumber keuangan telah diserahkan kepada daerah. terutama Daerah Kabupaten/Kota. otonomi terbatas. Ditinjau dari perspektif Daerah. Inilah pula antara lain salah satu pertimbangan mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang baru berumur kurang dari 5 (lima) tahun telah diganti dengan Undang – Undang yang baru. otonomi daerah yang diberikan kepada daerah Propinsi sangat terbatas yang hanya meliputi kewenangan yang bersifat lintas kabupaten/ kota sebagaimana diatur dalam Pasal 9 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 25/2000. karakteristik desentralisasi dan otonomi daerah yang diterapkan dalam suatu negara. maupun para anggota badan Legislatif (DPRD) membuktikan kebenaran anggapan masyarakat tersebut. dan otonomi khusus – semuanya sangat ditentukan oleh seberapa jauh kekuasaan dan wewenang Pande Radja Silalahi. desentralisasi administrasi. Dalam pada itu. 23 23 . Dengan kata lain. dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan keuangan antara pusat dan daerah telah diganti dengan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004.23 Maraknya korupsi di daerah. “Implikasi Kebijakan Ekonomi Pemerintah Pusat dan Pembangunan Ekonomi di Daerah”.1. justru merasa sangat risau dan khawatir terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konsep hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk dikaji. No. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 adalah merupakan angin segar dan sangat menguntungkan daerah. otonomi luas. Inilah sesungguhnya yang didambakan oleh daerah sejak lama.Nomor 25 Tahun 1999 dengan segala peraturan pelaksanaannya. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. dalam Jurnal CSIS. Tahun XXXIX/2000. sementara sebagian lainnya justru menganggap kedua UU tersebut sebagai sumber malapetaka bagi beberapa daerah tertentu dan bahkan bagi Indonesia.sumber keuangan yang tidak proportional. Kategorisasi. antara lain. seperti – desentralisasi politik.

melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. 2002. Pusat Penelitian Politik. desentralisasi fungsional. karakteristik hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah telah didudukkan sebagai variabel penting yang membedakan dua konsep antara perspektif “desentralisasi politik” (“political decentralization perspective”) dan perspectif “desentralisasi administrative” (“administrative decentralization perspective”) 25 Salah satu hal yang amat penting dan mungkin terlupakan adalah bahwa urusan/kewenangan yang sudah dimiliki oleh Daerah otonom sejak pembentukannya dengan Undang . 24 24 . desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). deconcentration. Karenanya suatu negara bangsa merupakan genus dari species desentralisasi dan sentralisasi. Suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan pula merupakan alternatif dari sentralisasi. 8. dalam “Evaluasi Implementasi Otonomi Daerah”. hampir setiap negara bangsa (nation state) menganut desentralisasi sebagai suatu asas dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Berbagai definisi tentang desentralisasi dan otonomi telah banyak dikemukakan oleh para penulis yang sudah barang tentu pada umumnya didasarkan pada sudut pandang yang berbeda. TINJAUAN TEORITIS: PANDANGAN TENTANG DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH. desentralisasi administratif (adminisrative decentralization). Walaupun begitu. seperti decenralization. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI). hlm.22 Tahun 1999: Tinjauan Kritis atas Konsep Hubungan Kekuasaan Pusat – Daerah”. otonomi dan medebewind. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. devolution. desentralisasi jabatan (ambtelijke decentralisatie).24 Oleh karena itu. ditinjau dari tataran teoritis. Syarif Hidayat. beberapa batasan perlu diajukan sebagai bahan perbandingan dan bahasan dalam upaya menemukan pengertian yang mendasar tentang pelaksanaan otonomi daerah sebagai manifestasi dari politik desentralisasi. desentralisasi politik (political decentralization). “Evaluasi UU No. dan sebagainya.. Akan tetapi.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. Pada masa sekarang. Walaupun demikian. 4. melainkan merupakan sub .yang dimiliki oleh pemerintah daerah.istilah lainnya. hlm. pengertian desentralisasi tersebut sering dikacaukan (interchangeably) dengan istilah .11. dan 11 serta penjelasannya) harus ada “pengakuan” (“erkennen”) dari Pemerintah sampai sekarang belum dijalankan secara tuntas sampai dicabutnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 oleh Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 . desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri.Undang yang secara materiil sudah diserahkan kepada Daerah ybs. yang menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Pasal 7.11 25 Ibid.

bukan hanya sekedar pelimpahan.27 Yang dimaksud dengan area offices of administration adalah suatu perangkat wilayah yang berada di luar kantor pusat.organ di daerah.macam decentralization. namun juga memiliki keleluasaan. Department of Economics and Social Affair. Handbook of Public Administration.badan politik di daerah yang disebut pemerintah daerah. New York: United Nations. 28 Ibid. hlm.batas rencana dan sumber pembiayaan yang sudah ditentukan. delegation) to field offices or by devolution to local authorities or local bodies”26 Batasan ini dimaksudkan untuk menjelaskan proses penyerahan wewenang dari pusat kepada organ di daerah melalui dua cara. whose responsibility continues).bentuk atau macam . Batasan itu lebih memfokuskan kepada bentuk . hal ini berbeda dengan devolution. baik secara politik maupun administrasi. 26 25 . tidak dijelaskan isi dan keluasan kewenangan tersebut serta konsekuensi-konsekuensi apa penyerahan itu bagi organ . 28Jadi. yaitu melalui deconcentration atau devolution. New York: UN.3. Kepada pejabatnya oleh departemen pusat dilimpahkan wewenang dan tanggung jawab bidang tertentu yang bertindak sebagai perwakilan departemen pusat untuk melaksanakan fungsi bidang tertentu yang bersifat administratif tanpa menerima penyerahan penuh kekuasaan (final authority). yaitu yang bersifat administatif (administative decentralization) dan yang bersifat politik (political decentralization). Kalau deconcentration melalui delegasi kekuasaan kepada pejabat pejabatnya di daerah. 1962. Current Concept and Pracice with Special Reference to Developing Countries. hlm. Dengan demikian bentuk devolution merupakan type of arrangement having a political as well as an administrative character. dimana sebagian kekuasaan yang diserahkan kepada badan politik di daerah itu merupakan kekuasaan penuh untuk mengambil keputusan.Salah satu batasan tentang desentralisasi yang sering dibahas adalah: “decentralization refers to the transfer of authority away from the national capital whether by deconcentration (i. sedangkan devolution kepada badan . There are two principal forms of decentralization of governmental powers and functions are deconcentration to area offices of administration and devolution to state and local authorities. karena itu adalah kompetensinya politik desentralisasi.e. Sifatnya adalah penyerahan nyata berupa fungsi dan kekuasaan. Disini. Desentralisasi administratif adalah suatu delegasi wewenang pelaksanaan yang diberikan kepada pejabat pusat di tingkat lokal. Decentralization for National and Local Development. hlm. Division for Public Administration. kewenangan dan tanggung jawab tertentu dalam mengembangkan kebijaksanaan pemberian jasa dan pelayanan di United Nations. Para pejabat tersebut bekerja dalam batas . Technical Assistant Progame. Pertanggungjawaban akhir tetap berada pada departemen pusat (the arrangement is administrative in nature and implies no transfer of final authority from the ministry. Departement of Economic and Social Affair.64.. 1961.64. 27 United Nations. 29 Ibid.29 Dalam kenyatannya memang ada dua bentuk decentralization.

yang sesungguhnya hal itu dikarenakan “konflik kepentingan” antara individu-individu di Pusat dan Daerah. Kalau ada orang yang berpendapat bahwa pemberian otonomi kepada daerah dapat menimbulkan disintegrasi dan karenanya harus diwaspadai. Makalah disajikan dalam diskusi terbatas. bahkan kebanyakan orang sekarang mempersoalkan kapan dan bagaimana peletakkan otonomi Bryant. dapat didjadikan titik tolak pemikiran dalam rangka mengembangkan penyelenggaraaan otonomi daerah di Indonesia. dan dengan demikian akan meningkatkan pengaruh serta legitimasinya. 5-6 September 1992. hlm. 213-214.tahan. Pendayagunaan Otonomi Daerah yang Bertitik Berat pada Daerah Tingkat II dan Implikasinya pada Manajemen Pembangunan. maka para pemuka dan warga masyarakat akan mempunyai investasi kecil saja di dalamnya. Managing Development in the Third World.215-216. Yang perlu menjadi perhatian disini adalah. kemampuan untuk mengembangkan otoritasnya akan meningkat. Jika suatu badan lokal diserahi tanggung jawab dan sumber daya.30 Pengertian ini lebih menekankan kepada dampak atau konsekuensi penyerahan wewenang untuk mengambil keputusan dan kontrol oleh badan . Sedangkan desentralisasi politik. 31 Ibid. 31 Akan tetapi.badan otonom daerah yang menuju kepada pemberdayaan (empowerment) kapasitas lokal. mulai dari penetapan peraturan-peraturan yang sifatnya pro . 33 Midjaja. Konsep desentralisasi yang menekankan kepada salah satu cara untuk memberdayakan kapasitas lokal. 1987.keputusan yang lebih substansial. 30 26 . Kewenangan itu bervariasi. resistensi dan pembangkangan daerah terhadap pusat. jika suatu unit lokal diberi kesempatan untuk meningkatkan kekuasaannya. karena kekhawatiran timbulnya disintegrasi dalam pelaksanaan otonomi daerah. baik secara politik maupun administrasi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kapasitas lokal. terjemahan Rusyant “Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang”.mata hanya ditugaskan untuk mengikuti kebijakan nasional. 32 Ibid. Subarda. Bandung: Unpad. dimana kekuasaan dan pengaruh cendurung bertumpu pada sumber daya. Bandung. Carolie dan Louise G. yaitu wewenang pembuatan keputusan dan kontrol tertentu terhadap sumber . 20 Januari 1992. jika pemerintah lokal semata .215.forma sampai kepada keputusan .hak dan kewenangan otonomi daerah yang ditahan .. dalam Ateng Syafrudin. jutru akan menimbulkan “disintegrasi”. diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan. hlm.32 Dengan demikian. White.. kekuasaan pada tingkat nasional tidak dengan sendirinya akan menyusut.1. “Pidato Pengarahan pada Pembukaan Sespanas-Seskoad. hlm.tingkat lokal. Jakarta: LP3ES.sumber daya yang diberikan kepada badan badan pemerintah regional dan lokal. bahwa desentralisasi. terutama untuk mempengaruhi elit birokrasi dan pengambil keputusan di pusat yang nampaknya belum sepenuh hati rela menyerahkan berbagai kewenangan dan sumber daya kepada daerah..33 saya justru berpendapat sebaliknya. bahwa hak . Sebaliknya. Pemerintah Pusat malah mungkin memperoleh respek dan kepercayaan karena menyerahkan proyek dan sumber daya kepada unit lokal. hlm.

prinsip pembagian kewenangan dan prinsip . “Implementing Decentralization Policies: An Introduction. decision making. California. 1988. Dengan demikian.unit atau badan badan pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi tertentu untuk dilaksanakan secara independen (mandiri). and Cheema. Dennis A. yaitu: deconcentration. Dennis A. bukan mepersoalkan kekhawatiran disintegrasi. 27 . or administrative authority from the central government to its field organizations. semi-autonomous and parastatal organizations. local adminisrative units. local government. Konsekuensi dari devolution ini. Ibid.governmental institutions. SAGE Publications Inc. or non -governmental organizations..pada daerah tingkat lokal itu akan dilaksanakan. and Cheema.prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. sebagai bentuk pertama. 18-19.35 Oleh karena itu. Beverly Hills. Menurutnya. 34 35 hlm. Bentuk yang kedua tidak akan saya bahas. Rondinelli membedakan 4 (empat) bentuk decentralization. Policy Implementation in Developing Countries.” Dengan batasan ini. Decentralization and Development. decentralization dalam bentuk deconcentration. Ateng Syafrudin. kalau suatu sistem pemerintah daerah yang kebijakannya lebih mengutamakan deconcentration daripada devolution. baik di pusat maupun di daerah tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal. Shabbir. maka sudah bisa dibayangkan tidak akan mendorong kepada pemberdayaan masyarakat lokal. Bentuk ketiga dari decentralization yang lebih relevan dengan perkembangan politik dan pemerintahan di Indonesia adalah devolution to local government. G. Shabbir. Pemerintah pusat membentuk unit . and non . pada hakekatnya hanya merupakan pembagian kewenangan dan tanggung jawab administratif antara departemen pusat dengan pejabat pusat di lapangan.autonomous and parastatal agencies. Selanjutnya dikatakan bahwa kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan lebih banyak berupa shifting of workload from a central government ministry or agency headquarters to its own field staff located in offices outside of the national capital without transferring to them the authority to make decisions or to exercise discretion in carrying them out.34 Sejalan dengan pendapat Bryant. Pendapat ini tidak berbeda dengan pendapat Bryant. Rondinelli (1988) lebih luas memaparkan konsep decentralization dengan memberikan batasan sebagai berfikut: “the transfer of planning. dalam Rondinelli. devolution to local government. delegation to semi . karena dalam deconcentration semua keputusan sudah ditetapkan. meskipun harus tetap disesuaikan dengan prinsip . G. saya akan lebih memfokuskan kepada bentuk yang ketiga yang ada relevansinya atau setidaknya sebagai perbandingan dengan kebijakan desentralisasi di Indonesia. Rondinelli. keempat bentuk decentralization ini merupakan species dari genus decentralization.

terutama dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Keempat. boleh dikatakan mirip dengan Indonesia. nampaknya ada beberapa hal kemiripan kebijakan desentralisasi yang sedang dilancarkan di Indonesia.tingkat pemerintahan. Kelima. terdapat hubungan kesetaraan dan saling menguntungkan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta unit . Pemerintah pusat tidak melakukan pengawasan langsung terhadapnya. karena prinsip desentralisasi yang dianut dalam NKRI. sehingga prinsip ini tidak sejalan dengan prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. bagi daerah di Indonesia masih sangat terbatas. Kalau kita bandingkan dengan sistem di Indonesia.cara baru dalam 28 . Kedua. melihat perlunya dikembangkan cara .tugas umum pemerintahan. justru kita tidak memiliki kesetaraan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Oleh karena itu. dengan didorong oleh tiga hal kekuatan sebagai berikut: Pertama. pengambilan keputusan dan administrasi yang pada tahun 1970-an . unit pemerintahan daerah tersebut berstatus sebagai badan hukum dan berwenang mengelola dan memanfaatkan sumber . Konsep decentralization ini didasarkan kepada adanya perhatian yang semakin besar untuk memberikan keleluasaan decentralization dalam kewenangan perencanaan. namun ciri yang Keempat adalah justru menjadi “tantangan” bagi pemerintah daerah di Indonesia pada umumnya. unit pemerintahaan tersebut diakui mempunyai batas . unit pemerintahan bersifat otonom. Dengan memperhatikan ciri .sumber daya untuk mendukung pelaksanaan tugas . unit pemerintahan daerah tersebut diakui oleh warganya sebagai suatu lembaga yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan mereka.Ada beberapa karakteristik bentuk devolution sebagai berikut: Pertama.batas wilayah yang jelas dan legal. namun dalam beberapa hal masih terdapat perbedaan. oleh karena kita masih melihat bahwa segala keinginan atau tuntutan masyarakat seringkali tidak diajukan kepada pemerintah daerah setempat. mandiri (independent) dan secara tegas terpisah dari tingkat . dan mempunyai wewenang untuk melakukan tugas . vertrauwen).tugas umum pemerintahan. bahwa kedudukan pemerintah daerah adalah “tergantung” (dependent) dan karenanya Pemerintah Daerah berada “dibawah” (subordinated) Pemerintah Pusat. melainkan langsung ke Pusat karena kurangnya “keterpercayaan” terhadap pemerintah daerah setempat yang dipandangnya tidak bakalan dapat menyelesaikan permasalahan di daerah. Kedua.ciri karakteristik tersebut. Sedangkan ciri yang Kelima.unit organisasi lainnya dalam suatu sistem pemerintahan. ciri . Ketiga. pemerintah daerah ini mempunyai pengaruh dan kewibawaan terhadap warganya (credibility.ciri Kesatu dan Ketiga. misalnya kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya nasional. melihat kenyataan hasil yang tidak memuaskan akibat perencanaan pembangunan dan kontrol administrasi secara terpusat yang berjalan sekitar tahun 1950 dan 1960-an. disebut sebagai the second wave of decentralization.

36 Dengan demikian. hlm. kegiatan pemerintahan semakin meluas. Bandung.19. Sementara deconcentration yang dalam hal ini oleh Mawhood telah dipersamakan dengan administrative decentralization. didefinisikan sebagai the ransfer of administrative responsibility from central to local government. Menurut versi kontinental. Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPPI). hlm. 1990. Kalau kita bandingkan dengan versi kontinental.37 Dalam hubungan ini. guna kelancaran pekerjaan semata . “Hubungan antara Pusat dan Daerah berdasarkan Azas Desentralisasi Menurut UUD 1945”. Yang dimaksud dengan ambtelijke decentralisatie. Menurut konsep ini. Dari berbagai batasan dan pengertian yang dikemukakan diatas. desentralisasi digolongkan menjadi dua. adalah pemberian (pemasrahan) kekuasaan dari atas kebawah di dalam rangka kepegawaian.daerah otonom). ternyata decentralization tidak berdiri sendiri. Sedangkan yang dimaksud dengan staatskundige decentralisatie merupakan pemberian kekuasaan untuk mengatur bagi daerah di dalam lingkungannya guna mewujudkan asas demokrasi pemerintahan negara. “Desentralisasi dan Otonomi Daerah: Perspektif Teoritis dan Perbandingan”. melainkan decentralization sebagai genus dan mempunyai species yang bermacam . decentralisatie tsb mempunyai dua wajah. sehingga dengan demikian.mata. Ketiga. dalam Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein.mengelola program dan proyek serta administrasi pembangunan yang meliputi strategi pertumbuhan dan pemerataan yang dijalankan selama tahun 1970-an. Desentralisasi ini adalah sistem untuk mewujudkan asas demokrasi yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk ikut serta dalam proses penyelenggaraan kekuasaan negara. yaitu autonomie dan medebewind atau zelfbestuur. dalam Paradigma Baru Otonomi Daerah. yaitu ambtelijke decentralisatie dan staatskundige decentralisatie yang dibagi lagi menjadi territoriale decentralisatie dan functionele decentralisatie.24. pada prinsipnya sama mendudukan decentralization sebagai genus dengan species yang bermacam-macam. sehingga semakin sulit untuk mencapai efisiensi dan efektifitas apabila semua perencanaan dan kegiatan pembangunan dipusatkan pada pemerintah pusat.daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri (daerah . melihat kenyataan kehidupan masyarakat semakin kompleks. 36 29 . dekonsentrasi (deconcentration) atau ambtelijke decentralisatie adalah pelimpahan kekuasaan dari alat perlengkapan negara tingkat lebih atas kepada bawahannya guna Diana Conyers (1984). Namun Mawhood (1987 : 9) dengan tegas mengatakan bahwa decentralization adalah devolution of power from central to local governments. Mawhood tidak menjadikan decentralization sebagai genus dengan species devolution dan deconcentration. 2001. dapat dipahami bahwa pengertian decentralisatie sebagai “staatskundige decentralisatie” (desentralisasi ketatanegaraan) merupakan pelimpahan kekuasaan pemerintahan dari pusat kepada daerah . melainkan memisahkan antara decentralization dan deconcentration. desentralisasi lazim dibagi dalam dua macam: Pertama. 37 Didiskusikan dalam Bagir Manan. hanya dengan istilah yang berbeda.macam. Disertasi Untuk Memperoleh Gelar Doktor Dalam Ilmu Hukum pada Universitas Padjadjaran.

Hal ini berbeda dengan pendapat J. Di dalam desentralisasi semacam ini dikehendaki agar kepentingan . b) desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie). Bandung: Binacipta. van der Pot bahwa autonomie betekent anders dan het woord zou doen vermoeden-regeling en bestuur van eigen zaken. hlm. dan dengan jalan menyelenggarakan kepentingan umum.W. Di dalam desentralisasi politik atau ketatanegaraan ini. hlm. 38 30 .Undang dasar atau perundang .14. 1979. Desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) ini dibagi lagi menjadi dua macam: a) desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). maupun dari tataran Koesoemahatmadja. “Pengantar Ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia”. desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) atau juga disebut “desentralisasi politik” (politieke decentralisatie) adalah pelimpahan kekuasaan perundangan dan pemerintahan (regelende en bestuurende bevoegheid) kepada daerah . Otonomi berarti pengundangan sendiri (zelfwetgeving). Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menyatakan otonomi adalah asas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah “misleading” dan dikhawatirkan akan menyesatkan. otonomi itu selain berarti perundangan (wetgeving). Kedua. hlm. juga berarti pemerintahan (bestuur). Seperti dikatakan C. baik ditinjau dari perspektif akademik. badan . zelfstandigheid.39 Dengan diberikannya hak dan kekuasaan perundangan/ pengaturan dan pemerintahan kepada badan .badan tersebut dengan initiatifnya sendiri dapat mengurus rumah tangganya dengan jalan mengadakan peraturan .daerah otonom di dalam lingkungannya. menurut perkembangan sejarahnya di Indonesia.badan otonom.Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah asas penyelenggaraan dalam pemerintahan daerah. seperti propinsi.16.15. Kewajiban pemerintah dalam hubungan ini hanyalah memberikan pengesahan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh golongan-golongan kepentingan tersebut. Dalam desentralisasi semacam ini rakyat tidak diikut sertakan. 39 Ibid. rakyat dengan mempergunakan berbagai saluran tertentu (perwakilan) ikut serta di dalam pemerintahan. 40 Ibid.peraturan daerah yang tidak boleh bertentangan dengan Undang . yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah masing masing (otonom). kotamadya dan seterusnya.J.golongan yang bersangkutan sendiri. yaitu: otonomi (autonomie) dan medebewind atau zelfbestuur.. van het de Grondwet noemt..38 Kedua pandangan ini membagi desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) menjadi dua macam. Akan tetapi.kepentingan tertentu diselenggarakan oleh golongan . Schrieke yang mengatakan bahwa autonomie adalah eigen meesterschap.melancarkan pelaksanaan tugas pemerintahan. yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus sesuatu atau beberapa kepentingan tertentu. adalah kurang tepat kalau dikatakan bahwa otonomi dan medebewind (tugas pembantuan) sebagaimana ditegaskan dalam Undang .undangan lainnya yang tingkatnya lebih tinggi. 40 Dengan demikian. dan bukan onafhankelijkheid. eigen huishouding.

41 dalam Ateng Syafrudin. Bandung: Binacipta. Kalau dikatakan. 41 Dengan demikian. hlm. 1983.kepentingan dari pusat atau daerah . pemberian tugas dan kewenangan untuk menyelesaikan suatu urusan.daerah yang tingkatannya lebih atas oleh alat . Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu merupakan wujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan. urusan . wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Istilah zelfbestuur adalah terjemahan dari selfgovernment yang di Inggris diartikan sebagai segala kegiatan pemerintahan di tiap bagian dari Inggris yang dilakukan oleh wakil .43 Selanjutnya dikatakan.wakil dari yang diperintah. otonomi dapat diartikan sebagai kesempatan untuk menggunakan prakarsa sendiri atas segala macam nilai yang dikuasai untuk mengurus kepentingan umum (penduduk). Di Belanda medebewind atau zelfbestuur diartikan sebagai pembantu penyelenggaraan kepentingan . op. tidak beralih menjadi urusan rumah tangga daerah yang dimintakan bantuan.tugas medebewind. Akan tetapi. “Het Staatsrecht der Zelfregelende Gemeenschappen” Surut Otonomi Daerah”.cit. otonomi itu merupakan manifestasi atau perwujudan kewenangan yang diberikan (“toekennen”) oleh pemerintah pusat. bahwa otonomi itu bermakna kebebasan atau kemandirian (zelfstandigheid) tetapi bukan kemerdekaan (onafhankelijkheid). Karena. sebagai sanksinya pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan hanya dapat menghentikan perbuatan dari daerah yang dimintakan bantuan. Daerah otonom yang diminta bantuan itu tidak berada di bawah perintah dari dan tidak pula dapat diminta pertanggungjawaban oleh pemerintah pusat/ daerah yang lebih tinggi. “Pasang 31 . sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) sebagai suatu sistem dalam penyelenggaraan pemerintahan negara.cara penyelesaian tugas tersebut. 42 Ibid. hlm. untuk selanjutnya dipertimbangkan tentang pelaksanaan kepentingan atasan termaksud dengan jalan Logeman. Dengan perkataan lain. dalam melakukan bantuannya itu diserahkan sepenuhnya kepada daerah itu sendiri. bagaimana cara daerah otonom yang dimintakan bantuan itu.21. otonomi adalah hak. 25 43 Koesoemahatmadja.operasional. diartikan sebagai pemberian kemungkinan kepada pemerintah pusat/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih atas untuk minta bantuan kepada pemerintah daerah/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih rendah agar menyelenggarakan tugas atau urusan pemerintah pusat atau rumah tangga (daerah yang tingkatannya lebih atas) tersebut. 42 Kemudian mengenai medebewind atau zelfbestuur.urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah masih tetap merupakan urusan pusat cq daerah yang lebih atas.. bahwa “Jika ternyata ada daerah yang tidak menjalankan tugas bantuannya atau tidak begitu baik melakukan tugasnya. hlm. Dalam menjalankan tugas .23. Kedua.alat perlengkapan daerah yang lebih bawah. pemberian kepercayaan dan wewenang untuk memikirkan dan menetapkan sendiri cara . maka di dalamnya terkandung dua aspek utama. Pertama.

thesa” dari sentralisasi.27-28. Jakarta: Yayasan Pariba. saya dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar melihat karena kecendurungan sentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. disertai dengan pembiayaan. yaitu negara bangsa (nation state). dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan speciesnya. Dengan menyimak berbagai batasan dan pengertian desentralisasi seperti diuraikan diatas. Jadi. hlm. maka dilancarkan ide desentralisasi dengan berbagai corak dan bentuknya. “Otonomi Daerah.. dengan tidak mengurangi hak pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan untuk menuntut kerugian dari daerah yang melalaikan kewajibannya. sarana dan prasarana. Untuk Demokrasi dan Kemandirian Rakyat”. suatu negara bangsa merupakan genusnya. karena dalam konsep itu pembiayaan. serta sumber daya manusia. hlm.cit. melainkan merupakan sub .Undang Nomor 22 Tahun 1999 disebut dengan tugas pembantuan. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. 44 45 32 . karena yang ditugaskan berkewajiban untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkannya.21-22 Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. semuanya disediakan oleh pemerintah pusat. bagaimana mencari keseimbangan diantara species tersebut. Pengertian tugas pembantuan versi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menurut pandangan saya adalah keliru. 47. op. karena kalau itu rumusannya berarti “dekonsentrasi” bukan tugas pembantuan. Padahal. menurut pandangan saya suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan merupakan alternatif dari sentralisasi. bahwa desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. walaupun suatu negara bangsa menganut asas desentralisasi. melainkan ada bagian .lain.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. sedangkan sentralisasi. Ibid. 46 E. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. sedangkan peralatan dan personil justru merupakan kewajiban pemerintah daerah dalam upaya membantu pelaksanaan tugas tertentu dari pemerintah pusat atau pem erintah daerah yang lebih tinggi tingkatannya.ordinasi. di dalam konsep tugas pembantuan yang perlu disediakan oleh pemerintah pusat adalah hanya pembiayaan. seperti telah disinggung dimuka. Dengan perkataan lain. Koswara. yaitu suatu penugasan dari pemerintah kepada daerah dan desa untuk melaksanakan tugas tertentu. namun tidak semua urusan kewenangan diserahkan kepada daerah otonom. Karenanya. dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan. antara yang menugaskan (pemerintah pusat) dan yang ditugaskan ada hubungan sub . Masalahnya. hlm. desentralisasi. 2001.bagian urusan tertentu yang tetap dikelola secara sentral (terpusat).” 44 Berbeda dengan konsep medebewind menurut versi Indonesia yang menurut Undang . Seperti ditegaskan dalam tulisan Syarif Hidayat (2001 : 27-28) bahwa secara prinsipal. 46 Karenanya pula.45 Padahal.. dapat dikatakan bahwa lahirnya ide desentralisasi merupakan sebuah “anti .

Keempat. T. Tiara Wacana.politik pada suatu waktu 47. serta meletakkan hubungan kemitraan dan kesejajaran institutional antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah. Respons juridis . terutama dalam perwujudan akuntabilitas publik yang mendudukan Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. sehingga akan mewujudkan nilai dan bentuk “sentripetal”. serta memperhatikan heteroginitas daerah dan perbedaan setempat. memantapkan hubungan antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah.. hlm. maupun sebagai badan pengawas atas pelaksanaan kebijakan daerah yang dijalankan oleh Kepala Daerah. sebagai upaya mewujudkan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraaan otonomi daerah dalam rangka penetapan kebijakan desentralisasi dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menjadikan “daerah otonom” yang mandiri dalam naungan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.prinsip partisipasi dan transparansi. Sebuah Analisis. dengan tujuan untuk menciptakan kerjasama yang erat antara Moeljarto.formal terhadap dilemma ini bervariasi dari waktu ke waktu.aktivitas masyarakat. 47 33 .Sejarah ketatanegaraan Indonesia mencatat upaya yang terus-menerus mencari “titik . 5. 1987. pemerataan dan keadilan. setidaknya ada enam pemikiran dasar dalam pembentukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999: Pertama. baik sebagai badan legislative daerah. Kedua.menerus menjadi dilema. dan pergeseran kedua nilai ini terus . tergantung kepada konfigurasi . Arah. Konsep. serta penyalur aspirasi masyarakat sebagai sarana pengembangan demokrasi. Yogyakarta: PT.keseimbangan” yang tepat dalam meletakkan bobot desentralisasi dan sentralisasi. dalam rangka membangun prinsip keterpercayaan (akseptabilitas dan kredibilitas). dan Strategi”. Melihat perspektif Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. “Politik Pembangunan. memberdayakan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Terjadi pergeseran antara “dua kutub nilai”. Pemikiran dasar terbentuknya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. pemberian keleluasaan yang pada hakekatnya diberikan kepada masyarakat daerah sebagai kesatuan masyarakat hukum. dan dilain pihak menekankan “nilai desentralisasi dan otonomi daerah” yang akan melahirkan nilai dan bentuk “sentrifugal”. yaitu “nilai pembangunan bangsa dan integritas nasional” disatu pihak yang menekankan pentingnya “sentralisasi”.1. dalam rangka menjalankan prinsi . EVALUASI PELAKSANAAN UNDANG – UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. dilaksanakan atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. 5. Ketiga. peranserta dan oto .

Keenam. kawasan perkebunan. yang mau tidak mau pengaruhnya akan sangat dirasakan oleh daerah . maupun tantangan persaingan global .daerah. nyata dan bertanggung jawab. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. 2) Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi yang luas. pemerataan serta potensi dan keanekaragaman Daerah. menjaga dan memelihara stabilitas pemerintahan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. kawasan kehutanan. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. Kelima. 4) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara. 9) Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. kawasan perumahan. yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. fungsi pengawasan maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Sejalan dengan dasar pemikiran tersebut diatas. keadilan. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 semangatnya mengandung prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah sebagai berikut: 1) Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa dengan disertai pembiayaan. Dari keenam pemikiran dasar tersebut secara signifikan dan potensial telah tertampung dijalankannya prinsip . baik di dalam negeri. untuk mengantisipasi perkembangan keadaan. sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah. 3) Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. kawasan pertambangan. kawasan pelabuhan.kedua institusi tersebut. 7) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislative daerah. 6) Pada kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain. yang memiliki hak asal . seperti badan otorita. dengan 34 . sehingga asas dekonsentrasi dalam lingkungan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dianut lagi. kawasaan industri. sebagai kesatuan masyarakat hukum terrendah. untuk mendudukan kembali posisi “Desa” atau dengan nama lain. 8) Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. baik sebagai fungsi legislasi. 5) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom. berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonom.usul dan otonomi asli. kawasan perkotaan baru. kawasan pariwisata dan semacamnya. serta antar -Daerah.prinsip Good Governance. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi.

dapat disimpulkan bahwa ada “keinginan politik” (“political will”) yang kuat dari Pemerintah Pusat untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah yang semula sangat sentralistik dan bercorak “centripetal” menjadi desentralistik yang bersifat “centrifugal”. perbedaan setempat dan keanekaragaman daerah (“democratic.Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini lebih condong menganut kepada “The Local Democratic Model”. hendaknya dijaga benar .aspek demokrasi. bukan berarti kembali kepada paradigma lama seperti dalam Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 dimana Gubernur berperan kuat sebagai “interventionist”.sistem dan sub . dan karenanya harus terjamin bahwa pelaksanaan otonomi daerah itu tidak keluar dari rambu . melainkan keleluasaan otonomi yang diberikan kepada Daerah ini. terutama bagi Daerah Kabupaten dan Daerah Kota.beda dan mengarah kepada sikap dan tindakan yang akan membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa. pengendalian. model ini lebih menekankan kepada aspek . Oleh karena itu.pasal Undang . (dalam pengertian independent. sikap emosional dan tuntutan yang berlebih .lebihan dan kurang proporsional dari Daerah. baik dalam memahami pasal .ordinasi dari Pemerintahan nasional. adalah dengan mendjadikan daerah Provinsi sekaligus sebagai Wilayah Administrasi. Salah satu konstruksi untuk menjaga dan menjamin penyelenggaraan otonomi daerah yang demikian itu. yang pada dasarnya untuk terwujudnya kemandirian daerah. Dalam hubungan ini. yang ditinjau dari segi tujuannya atau valuesnya. perlu ditekankan bahwa dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.kotak.benar agar gerakan pergeseran pendulum tersebut. maupun dalam implementasinya tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda . berbeda dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang lebih cendurung menganut “The Structural Efficiency Model”. Walaupun kebijakan desentralisasi yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini telah melahirkan pemberian otonomi yang luas. Dalam pada itu. onafhankelijkheid.kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. nyata dan bertanggung jawab. demikian pula sikap dan perilaku birokrasi pusat yang enggan untuk bergeser dari paradigma lama dalam memperlakukan pembagian 35 .prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah tersebut di atas. tetap merupakan sub .rambu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. bimbingan dan fasilitasi kepada daerah kabupaten/ kota yang berada dalam wilayah administrasi provinsi yang bersangkutan. memberikan pengendalian. Jadi. self-determination. dan dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat yang berperan untuk menjaga keseimbangan dan memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka NKRI. kemerdekaan atau ketidak tergantungan). local differences and system diversity). terlepas dan bebas dari supervisi. pembinaan dan pengawasan pemerintah pusat. namun posisi kemandirian daerah otonom seperti itu tidak berarti bahwa Daerah-daerah itu akan berkotak .q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut. Dari prinsip .

maka pelaksanaan otonomi daerah secara formal menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dimulai Januari 2001. sehingga secara efektif pelaksanaan otonomi daerah menurut semangat Undang Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 akan dimulai pada Mei 2001.2. yaitu: Pertama. Realisasi Undang . Tahapan stabilisasi. Amanat UU 22/1999 menyebutkan bahwa selama dua tahun diproyeksikan persiapan segala peraturan perundangan organik Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.kewenangan pusat kepada daerah. persatuan dan kesatuan bangsa. Tahapan konsolidasi. Ini prinsip transparansi yang harus dijaga benar dalam penyelenggaraaan pemerintahan daerah. mengingat kebijakan tentang tahun fiskal yang baru. yang pada akhirnya ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.benturan baik yuridis. hal tersebut bukan saja akan mengaburkan makna persatuan dan kesatuan bangsa. yang justru dimaksudkan untuk memperkuat integrasi. yang diproyeksikan akan berlangsung dalam tahun 2002-2003. Pelaksanaan kebijakan desentralisasi berdasarkan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah berlangsung sejak Januari 2001 dengan tahapan-tahapan yang prosesnya sudah ditetapkan secara makro. Dengan melihat hasil evaluasi seperti itu. Tahapan inisisasi yang dilakukan selama tahun 2001. nyata dan bertanggungjawab. melainkan pula akan mengaburkan makna pemberian otonomi yang luas. Namun. pemerataan dan keadilan. yang diproyeksikan tahun 2004–2007.kultural yang menghambat jalannya pelaksanaan otonomi daerah. agar tidak menyimpang dari upaya mewujudkan Good Governance. 5. Kedua. ketiga. walaupun secara teoritis pada dasarnya implementasi otonomi daerah seharusnya sudah dapat berlangsung di 36 . sebaiknya sejauh mungkin dieliminir. yaitu mulai Januari sampai Desember. melainkan terdapat benturan . maupun psikologis serta sosio . Realisasi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. politik.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak serta merta berjalan mulus seperti yang diharapkan. sebab kalau tidak. pengembangan demokrasi. Tahapan instalasi. bahkan menurut perspektif Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diupayakan untuk mewujudkan peningkatan “daya saing daerah”. dan terakhir Keempat. dimana setelah tahun 2007 diharapkan lay-out atau bentangan daerah otonom secara lebih nyata dapat dilihat di seluruh wilayah daerah otonom di Indonesia.

Koswara. 4 tahun berjalan dalam praktik memunculkan hubungan yang kurang harmonis antara Gubernur dan Bupati/Walikota di beberapa kasus tertentu. hampir selama k. disamping karena penafsiran terhadap pasal-pasal Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut diartikan secara “letterlijk” dan dengan berbagai persepsi yang bermacam . dimana Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak secara tegas mengatur kewenangan Propinsi dan Kabupaten/ Kota. sesuai kehendaknya masing . antara lain: (1) Menyangkut pengaturan prinsip-prinsip dasar dan distribusi kewenangan diantara tingkat . namun dalam praktiknya.masing. IIP Press. masih timbul persoalan . Jakarta. Inilah salah satu alasan yang menjadi kritikan Remy Proud’homme (1998: 2) 49 yang antara lain menyatakan bahwa memberikan desentralisasi yang luas kepada daerah “ can increase disparities”.mata sebagai wahana untuk menjatuhkan Kepala Daerah . 48 37 .persoalan yang mengemuka di lapangan. Kedudukan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kurang berfungsi.departemen Sektoral. 2003. tanpa melihat sifat dan coraknya serta ruang lingkup urusan pemerintahan di Daerah. dan Departemen . baik dalam rangka dekonsentrasi.macam. dan 218. dengan diletakannya otonomi daerah pada Daerah Kabupaten/ Kota dan diberikan otonomi yang luas sebagaimana dinyatakan dalam pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. 202. (2) (3) (4) (5) Persoalan tersebut muncul. hlm. Ketentuan yang menyatakan tidak adanya hubungan hierarki 48 antara Propinsi dan Kabupaten/Kota. karena ketidak tegasan meletakkan fungsi dan kewenangan Gubernur dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. karena Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Angggaran hanya dilihat semata . “The Dangers of Decentralizartion”. Belum sinkronnya peraturan perundang . Hubungan DPRD dengan Kepala Daerah yang sering menimbulkan ketegangan. 1998.daerah.l. Demikian pula. 49 Remy Prud’homme. tanpa ada sosialisasi Dalam UU yang baru (UU 32/2004) ketentuan mengenai “tidak adanya hubungan hierarkhis” sudah dihapus. disamping menyebutkan bahwa decentralization can undermine efficiency. dipandang sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. dapat ditafsirkan bahwa semua kewenangan pemerintahan diluar yang dikecualikan. “Teori Pemerintahan Daerah. 208. menambah rumitnya hubungan kewenangan antara pusat dan daerah. jeopardize stability and might be accompanied by more corruption. juga karena Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diluncurkan dan diberlakukan begitu saja. dalam E.tingkat pemerintahan.undangan Sektoral yang belum disesuaikan dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. atau sebagai ruang yang potensial untuk mengadakan kolusi antara DPRD dengan Kepala Daerah. maupun selaku Wakil Pemerintah.

Sebab.dan diseminasi terlebih dahulu. ayat 2) mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan PP tentang mulai diberlakukannya suatu Undang .lines sebagai acuan. namun tidak jelas apakah dengan demikian kedudukan Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah. baik bagi perangkat pemerintah daerah maupun bagi perangkat pemerintah pusat. (7) Demikian pula kewenangan dekonsentrasi bagi instansi vertikal tidak dengan tegas dinyatakan bahwa instansi vertikal adalah perangkat Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non .Undang Dasar 1945. Dalam kedudukan sebagai “Wakil Pemerintah” menurut Undang . walaupun hanya terbatas kepada 3 (tiga) hal sebagai berikut: (a) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/ kota. 38 . baik dalam hal menafsirkan sesuatu pasal maupun rambu . atau dalam kedudukan selaku Wakil Pemerintah apakah Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah? Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 hanya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Wilayah Administrasi adalah “daerah administrasi” menurut Undang .daerah itu bersifat autonom (Streek en locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat administrative belaka. Walaupun Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan secara eksplisit bahwa Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku wakil pemerintah (dalam konteks “Integrated Perfectoral System”). Di dalam UUD 1945.rambu yang mestinya jadi acuan bagi pelaksanaan UU tersebut. Lazimnya “daerah administrasi” yang menganut “Split model” yang dikepalai oleh seorang Kepala Wilayah.lines dan rambu . sehingga PP tersebut merupakan “umbrella” yang memuat guide . bahwa Daerah .rambu bagi pelaksanaan secara operasional di lapangan.Undang yang baru. dan tidak hanya berkoordinasi dengan Gubernur. dekonsentrasi fungsional) di wilayah dalam yurisdiksi tertentu sebagai “lingkungan kerjanya”. tanpa ada guide . sebelum peraturan pelaksananaan (peraturan organik) dikeluarkan. tugas dan wewenang Gubernur lebih tegas. maupun dan terutama dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas dekonsentrasi tidak jelas dan tidak secara eksplisit menggambarkan lingkup dekonsentrasi di Propinsi. (b) Koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. banyak penjelasan Pasal . meskipun dalam penjelasannya disebutkan “cukup jelas”. Padahal Presiden menurut UUD (Pasal 5.Departemen (LPND) yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral/ Teknis.Undang. penjelasan Pasal 18 (lama). yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. (6) Isu lain yang menonjol adalah menyangkut kedudukan dan peran Gubernur. baik sebagai Kepala Daerah Otonom Propinsi.pasal dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang tidak jelas.

yang ternyata membawa dampak politis . Sebab. mengawasi. agar Daerah mampu menjalankan otonominya secara optimal. meskipun PP 39/2001 tentang penyelenggaraan dekonsentrasi merupakan tindak lanjut dan peraturan organik dari Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.tugas “dekonsentrasi” sebagaimana termaksud dalam Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 39 Tahun 2003 sama sekali tidak disinggung lagi dalam Undang – Undang yang baru (Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004).dinas daerah propinsi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur selaku Kepala Daerah Otonom Propinsi. Menyangkut penyelenggaraan dekonsentrasi. penyeimbang.psikologis yang tidak menguntungkan menyangkut hubungan antara Gubernur dan Bupati/ Walikota. Demikian pula.benar secara operasional dapat diselenggarakan secara baik. benar . yang pada gilirannya fungsi dan peranan Gubernur yang diharapkan akan menjadi koordinator. terutama menyangkut “Tata Cara Pelimpahan Wewenang dan Penyelenggaraan Kewenangan”.tugas dekonsentrasi tidak dipertanggungjawabkan kepada DPRD. sehinga penyelenggaraan manajemen pemerintahan di daerah akan lebih efektif dan efisien. Ketentuan itu tidak tepat dan menimbulkan masalah serta bertentangan dengan konsep dekonsentrasi itu sendiri. Gubernur memang seharusnya mempunyai kewenangan untuk mengkoordinasikan. yang semestinya melekat pada Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dengan tidak adanya (c) 39 . Dalam hubungan dengan penyelenggaraan dekonsentrasi. sebab kalau kewenangan pemerintah pusat dilaksanakan oleh perangkat daerah otonom adalah tugas pembantuan. menurut pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 pelaksanaannya dilakukan oleh dinas . melainkan dipertanggung .jawabkan oleh Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kepada Presiden. dan pemersatu bangsa. misalnya saja disebutkan bahwa pelimpahan sebagian kewenangan kepada Gubernur “mesti ditetapkan dengan Keputusan Presiden”.dinas daerah propinsi. melakukan supervisi dan memfasilitasi .tindih pertanggungjawaban kepada Presiden dan DPRD.sini masih menimbulkan kerancuan untuk dapat secara otomatis dijalankan oleh Gubernur selaku Wakil Pemerintah. Dalam pada itu. Kabupaten dan Kota masingmasing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. Pasal 9 ayat (3) dan Pasal 12. dan bukan dekonsentrasi. terutama Pasal 8 ayat (2).mudahan peraturan pelaksanaan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 nanti. dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak tercantum lagi. ketentuan Pasal 4 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa daerah-daerah Provinsi. Mudah . Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah dalam konteks “Integrated Prefectoral System”. akan mengadakan penyesuaian terhadap kelemah .tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada DPRD. Tugas .Koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. dinas .kelamahan yang terdapat dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. sehingga akan timbul tumpang . namun disana . penyelaras. yang selanjutnya pelaksanaan tugas . sedangkan tugas .

Beberapa pertimbangan perlunya perubahan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Dari perspektif perundang-undangan. (2).belakangi mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 perlu dirubah atau diganti. maka dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan yang kompleks dalam kaitan dengan mensinergikan kepentingan antar tingkat pemerintahan sebagai suatu kesatuan sistem dalam Negara Kesatuan RI. 22D. 5.undangan normatif. kepentingan nasional ataupun peraturan perundang . terutama pasal-pasal yang terkait langsung dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. (3) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR.undangan. VI/MPR?2002.undang lainnya. 20. 5. maupun Inplementasi. yang pada gilirannya bukan saja akan mengganggu penyelenggaraan prinsip . (6) Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang . XV?MPR/1988.undangan yang lebih tinggi. (3) Perlunya penyerasian dan penyelarasan dengan Undang . 18. melainkan juga akan merapuhkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. yaitu: Pasal . (5) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. diantaranya adalah sebagai berikut: a. yaitu: (1) Ketetapan MPR No. diantaranya: (1) Undang – Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. (2) Ketetapan MPR No. (4) Ketetapan MPR No. IV/MPR/1999. 31 ayat (1). (4) Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. 23E ayat 24 ayat (1).prinsip manajemen pemerintahan yang efektif. dan Nepotisme. baik ditinjau dari perspektif Konsep. Dengan melihat hasil evaluasi terhadap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan pelaksanaannya telah mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.3. IV/MPR/2000. Beberapa Ketetapan MPR yang berkaitan dengan pemerintahan daerah. DPR. 18B. Adapun beberapa pertimbangan yang melatar . terutama menyangkut perundang . (7) 40 . Kolusi. DPD dan DPRD.ketegasan pengaturan mengenai tugas dan kewenangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. (3) Ketetapan MPR No.pasal 1. 18A. (2) Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 33 dan 34. yaitu menjalankan kewenangan Pusat untuk menjaga dan memelihara agar kebijakan dan jalannya penyelenggaraan pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota tidak menyimpang dan tidak bertentangan dengan kepentingan umum. I/MPR/2003. yang erat kaitannya dengan penyelenggaraan sistem pemerintahan daerah. terutama dalam menjalankan “Tutelage Power”. 5/MPR/2003. Instrumen. 21. (5) Ketetapan MPR No. (6) Keputusan MPR No. (1) UUD 1945 telah diamandemen.

Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah memberi kuasa kepada Pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi. Dalam pengelolaan kewenangan sering memunculkan friksi. belum sinkronnya berbagai peraturan perundang undangan. Penyusunan peraturan perundang . IV/2000. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong terselenggaranya otonomi daerah secara transparan atau terdapat peraturan organik yang menyimpang dari esensi UU pokoknya. namun tanpa diberikan rambu . redundent dan conflict of interest antar tingkat pemerintahan. b. Dari perspektif Implementasi. c.  Dari perspektif Instrumen. sehingga sering menimbulkan penafsiran yang berbeda. • • d.Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. sehingga daerah berprakarsa membuat pengaturan sendiri dengan wewenang yang diberikan Tap MPR IV/2000.ekses 41 . Dalam pada itu. sehingga sering menimbulkan konflik dan penafsiran yang berbeda.undnagan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya. (8) Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. baik yang diterbitkan pemerintah maupun daerah. sehingga terjadi pembengkakan struktur yang tidak effisien. pembentukan lembaga pemerintahan daerah sering kurang memperhatikan atau kurang berorientasi kepada peningkatan pelayanan masyarakat. baik yang diterbitkan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong otonomi daerah. Belum harmonisnya berbagai peraturan perundang .rambu yang jelas. Sistem pengelolaan kepegawaian yang didasarkan kepada separated system menimbulkan ekses . sehingga cendurung mengurangi dan mengganggu pelayanan umum. Penyusunan pengaturan perundang . Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 memberi kuasa kepada pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi tanpa diberikan rambu . sehingga banyak daerah mengambil prakarsa sendiri dalam membuat peraturan daerah dengan wewenang yang diberikan TAP MPR No. Dari perspektif Konsep. Karena pemberian otonomi yang luas yang tidak terkendali.rambu. ovelapping.undangan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya.undangan.

4. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat merupakan tantangan untuk menyesuaikan sistem dan prosedur manajemen pemerintahan daerah. e. karena dalam prakteknya DPRD sering mendominasi Kepala Daerah. dalam praktek sering dijadikan sebagai praktek “kolusi” atau pertentangan kepentingan yang berlarut . Demokratisasi dan Hak Asasi Manusia. secara operasional kurang berjalan dengan baik. misalnya peletakan dasar sistem informasi manajemen dalam segala bidang. yang pada gilirannya membawa dampak penurunan terhadap pelayanan masyarakat. seperti globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas menuntut efisiensi dan daya saing masyarakat.ethnosentrisme dan terbatasnya mobilitas pegawai dalam pengembangan karier.sejajaran antara DPRD dan Kepala Daerah. sebagai tindak lanjut Pasal 112 dan 133 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. akibat belum memadainya pedoman yang diperlukan dan adanya berbagai perundang .larut yang sudah barang tentu akan menimbulkan “ketidak stabilan” dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. misalnya dalam Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD sering dipergunakan sebagai ajang politik untuk menjatuhkan Kepala Daerah dan bukan untuk menilai performance Kepala Daerah menurut ukuran Renstra. Pertimbangan lain. hubungan kemitra . adalah juga yang mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.undangan sektoral yang belum disesuaikan. f. Disamping itu. Demikian pula. bangsa dan negara yang lebih tinggi. Timbulnya kebijakan sektoral di daerah yang tidak sejalan dengan semangat otonomi daerah. Dalam pada itu. 5. Paradigma baru pembagian urusan pemerintahan 42 . Kerjasama antara DPRD dan Kepala Daerah yang mestinya diarahkan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. sehingga memerlukan arahan yang jelas sebagai kebijakan pemerintah yang perlu dituangkan dalam undang undang. memerlukan landasan peran serta dan mekanisme penyaluran aspirasi masyarakat. Pengaruh Lingkungan strategis. bahwa perkembangan tuntutan demokratisasi dan Hak Azasi Manusia (HAM) yang semakin menonjol dalam berbagai aspek kehidupan. yang menjadi pertimbangan lainnya adalah pengaruh lingkungan strategis. penetapan APBD lebih banyak berorientasi kepada menutup untuk keperluan aparat daerah dan DPRD daripada untuk keperluan pelayanan publik. serta perlunya kepastian hukum terhadap persamaan kedudukan seluruh warga negara. atau bahkan sering dijadikan ajang “politik uang” dalam penerimaan atau penolakan LPJ tersebut.

dimana dalam strata pemerintahan daerah. apabila suatu bagian 43 . Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan kabupaten/ kota.Peletakkan Otonomi Daerah dan pembagian urusan yang bersifat Concurrent. yaitu suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/ akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama disemua tingkat pemerintahan. untuk mendapatkan ketepatan.4.5. Mengenai strategi hubungan kekuasaan antara pusat dan daerah. ada bagian urusan yang diserahkan kepada provinsi.1.berat otonomi itu diletakkan. baik personil. maupun sarana. kalau Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan tegas menyatakan bahwa letak otonomi adalah pada Daerah Kabupaten/Kota dalam memfungsikan pelayanan kepada masyarakat. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut. Dengan demikian. Artinya. adalah suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tiangkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/ dekat dari urusan yang ditangani tersebut. karena paradigma yang dianutnya adalah konsep “pembagian urusan pemerintahan” yang bersifat “concurrent”. adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya. Apabila dampak yang ditimbulkan itu bersifat lokal. Kedua: Akuntabilitas. sedangkan dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak dengan tegas menyatakan tentang letak atau titik . baik yang menyangkut “urusan wajib” maupun “urusan pilihan”. dilaksanakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. pemerintah daerah provinsi. Kenapa letak otonomi tidak dinyatakan dengan tegas. maka akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. sebab baik Daerah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/ Kota mempunyai kedudukan yang sama sebagai Daerah Otonom. dan ada pula bagian urusan yang diserahkan kepada kabupaten/ kota. Ketiga: Efisiensi. kabupaten/ kota merupakan pemerintahan daerah yang paling dekat kepada masyarakat. apabila dampaknya regional menjadi kewenangan provinsi. dan apabila nasional menjadi kewenangan pemerintah pusat. Pembagian urusan yang bersifat “Concurrent”. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang bersifat concurrent tersebut secara proporsional antara pemerintah pusat. didasarkan kepada 4 (empat) kriteria yang meliputi: Pertama: Eksternalitas. daerah kabupaten/ kota.

50 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 memperinci secara tegas “urusan wajib” yang menjadi kewenangan daerah. kecendurungan terjadi sharing ratio dalam pembagian kewenangan yang sering membias keatas. Jadi apa yang tidak tercantum dalam rincian itu. dan daerah kabupaten/ kota mempunyai kewenangan urusan yang sama. op. Dalam ajaran ini ada yang disebut “taak verdeling” antara pusat dan daerah. pada masa Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 kita menggunakan ajaran ‘Rumah Tangga Materiil” (Materiele Huishoudingsleer). kejumbuhan (overlapping) sulit untuk dihindarkan. Disamping itu. disamping adanya kewenangan “pilihan” (option) yang didasarkan kepada konsep concurrent tadi.penyerahan selanjutnya. Dalam kaitan dengan ajaran “ de drie kringenleer” ini. hlm 73-74 Sikap dan tindakan Jurisdiksi-positif dan/atau Jurisdiksi-negatif. daerah provinsi. antara lain sering terjadi duplikasi. akan sangat dipengaruhi oleh potensi sumber daya dari sebagian urusan yang akan diserahkan itu. Sebenarnya. Keempat. baik di dalam undang . 50 51 44 .positive dan jurisdiksi negatif51. Sadar atau tidak. maka bagian urusan tersebut tetap ditangani oleh pemerintah pusat. adalah bahwa pengelolaan bagian urusan pemerintahan yang dikerjakan oleh tingkat pemerintahan yang berbeda. dan kurang memberikan E. tidak termasuk kepada urusan rumah tangga daerah.urusan dalam penanganannya dipastikan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna dilaksanakan oleh daerah Provinsi dan/ atau Daerah Kabupaten/ Kota dibandingkan apabila ditangani oleh pemerintah pusat. bersifat saling berhubungaan (interconnection). Keserasian hubungan. Koswara. apabila suatu bagian urusan tertentu akan lebih berdayaguna dan berhasilguna bila ditangani oleh pemerintah pusat. di Negeri Belanda sendiri teori ini sudah tidak dipakai lagi. dimana antara pemerintah pusat dan daerah terdapat pembagian tugas yang diperinci secara tegas. perumus Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 cendurung menggunakan teori atau ajaran dari negeri Belanda yang sering disebut “de drie kringenleer” . hanya sifat dan gradasi yang berbeda yang ditentukan oleh 4 (empat) kriteria tersebut diatas. maupun pada penyerahan . yaitu ajaran tentang pembagian urusan kewenangan dalam 3 lingkungan kekuasaan. dan saling mendukung secara sinergis sebagai satu kesatuan sistem yang menyeluruh. karena mengandung beberapa kelemahan.cit. demikian pula kevaccuman pemerintahan sering terjadi karena ada kecendurungan masing ..masing lingkungan kekuasaan bersikap dan bertindak jurisdiksi . maka bagian urusan tersebut diserahkan kepada daerah Provinsi dan/ atau Kabupaten/ Kota. dengan perkataan lain daerah yang berszangkutan tidak mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kegiatan di luar yang sudah diperinci atau yang secara a priori telah ditetapkan. saling tergantung (inter . sehingga terjadi model piramid terbalik.dependent). yaitu antara pemerintah pusat.undang pembentukannya. yaitu suatu sistem dalam penyerahan kewenangan dalam rangka otonomi daerah. Sebaliknya. Kewenangan setiap daerah meliputi tugas tugas yang ditentukan satu per satu secara nominatif.

Dalam prakteknya konsep ini sulit dioperasionalkan. perlu adanya klarifikasi terhadap TAP MPR tersebut. Demikian pula.negara maju lainnya akan sangat berbeda.tidaknya terdapat tiga persoalan yang prinsip. yaitu: Pertama.soal yang masuk lingkungan pemerintah pusat. provinsi. dan kabupaten/ kota. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang .RI Nomor IV/MPRRI/2000 Tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. terutama keseimbangan antara kekuasaan Pemerintah Pusat dengan kekuasaan Pemerintah Daerah disemua tingkat pemerintahan. baik dari segi pendidikan maupun dari strata sosialnya. karena berdasarkan pengalaman istilah tersebut ternyata dapat menimbulkan kecendurungan pemikiran yang dapat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan dan tidak serasi dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi kepada Daerah. misalnya Pasal 18 ayat (5) hanya menyatakan bahwa “Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas . ajaran ini tidak mendorong daerah untuk berprakarsa dan mengembangkan potensi wilayahnya diluar urusan yang tercantum dalam undang undang pembentukannya.luasnya. terutama mengenai apa yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat dan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. yaitu Pasal . setidak . karena pada umumnya mereka sudah established.pasal 18. meskipun Pasal 18 UUD 1945 diperluas menjadi tiga Pasal. baik secara akademik.luasnya” berarti kembali kepada paradigma Undang . politik. namun Ketetapan MPR itu sendiri perlu dikaji. Tap MPR di atas dapat dikatakan sebagai upaya politik untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah pada “titik keseimbangan” (equilibrium). Penggunaan istilah “otonomi seluas . Namun. maupun operasional.undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat” . dimana istilah itu baik dalam Undang . 18A dan 18B yang meliputi 11 (sebelas) ayat. baik aparatur maupun masyarakatnya tergolong kepada kaum menengah. Kalau yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat terhadap Daerah Propinsi. karena faktor pendidikan dan rasionalitas SDM aparatur pemerintah daerah di Indonesia yang relatif masih rendah. Kabupaten dan Kota sama dengan system penyerahan kewenangan otonomi proporsional bertingkat berarti kembali kepada paradigma lama sebagaimana dianut dalam Undang . Walaupun pengembangan paradigma baru yang dituangkan ke dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 berasal dari ide Ketetapan MPR . sedangkan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua.Undang Nomor 5 Tahun 1974.Undang Nomor 5 Tahun 1974 maupun dalam Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak dipergunakan lagi. kecuali kalau ditetapkan secara pasti (clear cut) mana soal . Dengan demikian. dimana teori ini dapat digunakan secara efektif. Kalau dibandingkan dengan negeri Belanda dan Inggris atau di negara .Undang Nomor 18 Tahun 1965. juridis. namun tidak ada satu ayatpun yang secara ekplisit mengatur tentang pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah.keleluasaan (descretion) kepada daerah untuk berinisiatif dan berinovasi. Pasal 18A ayat (1) hanya menyatakan bahwa “Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan 45 .

menyangkut Pembagian Daerah. yang tiap . Penekanan terhadap terminologi “asas otonomi” dikhawatirkan akan menimbulkan “misleading” dalam penafsiran. yang diatur dengan undang undang”.daerah provinsi.Asas penyelenggaraan pemerintahan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. ayat (1) yang dibagi adalah “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. karena semangatnya sudah ditampung dalam berbagai perubahan/tambahan Pasal dalam UUD 1945 yang baru. dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”. yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 ayat (1) : “Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. Pasal 10 ayat (3) menegaskan bahwa yang menjadi urusan Pemerintah yang dikecualikan tersebut adalah: a. 46 .2.pemerintahan daerah provinsi. Pasal 18 baru UUD 1945 tidak menganut lagi asas dekonsentrasi dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di daerah. Ketiga. tidak diadakan perubahan. diatur dengan undang . karena secara eksplisit menyatakan “NKRI dibagi”.” 5. sehingga ketiga persoalan diatas bisa diklarifikasikan (clarified) dengan baik. yang bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut. maupun dalam tataran operasional.undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”.4. Dalam perubahan kedua UUD 1945 tidak lagi mengenal “Pembagian Daerah” seperti halnya dalam Pasal 18 lama. Undang . saya tidak berpretensi untuk menganggap bahwa Perubahan Kedua UUD 1945 yang menyangkut Pasal 18 ayat (1) sebagai Pasal yang bernuansa “Federasi”. karena dalam Pasal 18 baru. baik dalam tataran konsep akademik. Walaupun demikian. dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah . atau antara provinsi dan kabupaten dan kota. kecuali apabila Penjelasan Pasal 18 lama. tetap berlaku sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari batang tubuh UUD 1945. karena otonomi bukan asas melainkan “hak. disamping asas desentralisasi dan asas tugas pembantuan. Namun Penjelasan Pasal 18 UUD 1945 lama dinyatakan tidak berlaku lagi.undang ditentukan menjadi urusan pemerintah pusat. daerah kabupaten. kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. Pasal 18 ayat (2) hanya menyatakan bahwa “Pemerintahan daerah provinsi. karena tidak lazim dipakai. Politik luar negeri. kabupaten dan kota. kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang . wewenang dan kewajiban” untuk mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada daerah. Kedua. karena saya tetap berpegang kepada Pasal 1 ayat (1) yang dalam Perubahan Pertama UUD 1945.tiap provinsi. Ada sementara anggapan orang bahwa Pasal 18 baru ayat (1) ini bernuansa “Federasi”.

karena otonomi dan tugas pembantuan bukan asas. Padahal. mestinya diadakan judicial review oleh Mahkamah Konstitusi.b. Disamping itu. Agama. Padahal asas . d.asas tersebut merupakan suatu kebijakan (“policy”) yang berlaku baik di pusat maupun di daerah sebagai satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan. Dari uraian Pasal 10 ini dapat diartikan bahwa tidak ada kemungkinan daerah akan memperoleh tambahan kewenangan dari Pemerintah selain dari yang sudah ditetapkan dalam Pasal 13 dan 14 Undang . Yustisi. sedang penyelenggaraan pemerintahan di daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. Mengenai penetapan asas penyelenggaraan pemerintahan. tidak hanya melalui “tugas pembantuan”. karena dalam UU tsb asas penyelenggaraan pemerintahan diatur dengan menetapkan bahwa antara penyelenggaraan pemerintahan di Pusat dan di Daerah berbeda.52 6.asas desentralisasi. 47 . melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah atau: c. Pada Pemerintah pusat menggunakan asas .Undang Nomor 32 Tahun 2004. dan f. tugas pembantuan. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. b. mestinya sebagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tersebut dimungkinkan untuk diserahkan kepada daerah melalui asas “desentralisasi”. melainkan suatu hak. Moneter dan fiskal nasional. Keamanan. c. atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa. jangan sampai perundang . tetapi kalau itu merupakan kekeliruan. otonomi dan tugas pembantuan sebagai “asas” adalah misleading.undangan di bawahnya ikut keliru. Ayat (4) menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah. wewenang dan kewajibansebagai manifestasi atau perwujudan atau konkritisasi dianutnya asas desentralisasi dalam NKRI. Selanjutnya ayat (5) menegaskan bahwa dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). e. Pertahanan. Walaupun kata-kata asas otonomi dan tugas pembantuan itu berasal dari UUD (setelah diamandemen). Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 agak rancuh mengaturnya. dan dekonsentrasi. Pemerintah dapat: a. 52 DAMPAK PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH Lihat Pasal 20 ayat (2) dan (3) UU No.32/2004. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan.

Dampak Positif Sesuai dengan tujuan pemberian otonomi daerah. dalam arti peningkatan Akuntabilitas. karena adanya keleluasaan untuk mengambil keputusan.Undang ini. meningkatnya gairah birokrasi pemerintahan Daerah. g. d. karena kompetisi professional. munculnya semangat kedaerahan yang menjadi faktor pendorong yang kuat bagi pengembangan daerahnya. keinginan bagi Daerah Otonom untuk meningkatkan penghasilan asli Daerah (PAD) yang berlebihan. dikhawatirkan akan menimbulkan dampak ekonomi biaya tinggi. sehingga keinginan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik. f. bersih. 6. kemungkinan munculnya konflik kepentingan antar Daerah dan antara Daerah dan pusat yang berkaitan dengan pendayagunaan sumber daya alam.6. terpercaya dan akuntabel (“Good Governance”) semakin sangat didambakan oleh masyarakat. b. b. namun perlu juga mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi secara negatif dalam pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang . anggaran dan pengawasan. baik dalam proses penentuan kebijakan. memberatkan masyarakat. sejalan dengan meningkatnya tuntutan dari masyarakat akan pelayanan yang lebih baik. yang pada gilirannya akan menimbulkan “keterpercayaan” masyarakat kepada pemerintah daerah.l. baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun DPRD. akan semakin meningkat. Partisipasi aktif masyarakat dalam proses kepemerintahan. 48 . munculnya kreativitas dan inovasi Daerah untuk mengembangkan pembangunan daerahnya. meningkatnya peranan DPRD sebagai wahana demokrasi dan penyalur aspirasi rakyat dalam menjalankan fungsi legislasi. Walaupun kita melihat secara potensial dampak positif dari pelaksanaan otonomi daerah. dan pelaksanaan maupun dalam proses evaluasi dan pengawasan. Perkembangan proses demokrasi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan akan meningkat. serta terbukanya peluang karier yang lebih tinggi. Dampak negatif. sbb: a. e. baik kualitas maupun kuantitas. pemberian pelayanan umum kepada masyarakat semakin meningkat.1. a. diharapkan pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 membawa dampak positif yang secara umum dapat dikategorikan sebagai berikut: a. dan kurang terjaminnya kelestarian lingkungan (tidak transparan dan tidak akuntabel). h. meningkatnya pengawasan atas jalannya pemerintahan Daerah.2. c.

baik terhadap jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 maupun terhadap pasal . karena lemahnya antara perencanaan pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota. hutan.prinsip penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik (“Good Governance”). seperti: hubungan pusat dan daerah.c. Yang terpenting adalah bagaimana upaya mengembangkan satu kesatuan sistem antara sistem pemerintahan nasional dan sub . lingkungan hidup dlsb. yang memungkinkan terjadinya segmentasi antar Daerah (tidak transparan). sehingga integritas dan sinergitas tidak terjamin. PROSPEK OTONOMI DAERAH MELALUI SOLUSI ALTERNATIF Upaya penyempurnaan/penggantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 bukan semata . pengembangan demokrasi dan peningkatan kemandirian daerah. kemungkinan terjadi pengaturan daerah yang over regulated atau benturan antara peraturan daerah di tingkat Daerah Kabupaten/ Kota dengan Daerah Propinsi.tingkat pemerintahan yang berbeda. e.sistem pemerintahan daerah secara sinergis. tetapi juga untuk menegaskan visi dan misi yang jelas dalam menetapkan format dan sistem pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan belum menyesuaikan dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. munculnya egoisme kedaerahan yang sempit yang mendorong atau menjurus kepada eksklusivisme daerah dan proteksionisme kedaerahan.Undang Sektoral yang bersangkutan. Daerah Propinsi. f. sehingga para pejabat birokrasi Departemen Sektoral pusat masih berpegang kepada Undang . seperti sumber daya air. penegasan hirarki dalam sistem pemerintahan. dan Pusat. 7. penataan kembali sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan. d. terutama dalam mempertahankan kewenangan pusat yang enggan menyerahkannya kepada Daerah (tidak transparan). hendaknya Pemerintah secara transparan dan tidak menyimpang dari tujuan untuk kebaikan bangsa dan negara. ataupun Pusat.sendiri. belum sinkronnya perundang .undangan sektoral pusat dengan Undang Undang tentang pemerintahan daerah.pasal didalamnya yang tidak atau kurang jelas. terjadinya multi-interpretasi. pembagian kewenangan dan urusan pada tingkat . 2) 49 . Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. lautan. Dalam pada itu. penegasan prinsip . Dengan penyempurnaan tersebut. diarahkan kepada substansi yang bersifat strategis. serta daya saing daerah.. karena masing . terutama untuk mewujudkan komitmen kebijakan desentralisasi.masing merasa mempunyai kompetensi sendiri . sikap dan perilaku birokrasi pusat yang cenderung untuk tetap mempertahankan statusquo. sehingga akan mengganggu kepada makna persatuan dan kesatuan bangsa. 1).mata untuk mengatasi masalah yang timbul.

terutama dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus dan permasalahan di daerah. dapat diwujudkan.sehingga tercipta stabilitas.isu strategis dan penting. 6) 50 . tidak lagi sebagai ajang tarik . maupun dan terutama dari aspek “Nach Freies Ermessen” yang seharusnya melekat pada diri seorang Gubernur. instabilitas dan stagnasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan daerah. serta prinsip . Dalam hubungan ini. tidak mendukungnya. maka secara transparan perlu mengoptimalkan peranan dan fungsi Gubernur selaku Wakil Pemerintah. kepada Gubernur dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah diberikan keleluasaan untuk menjalankan tugas “pemerintahan umum” (algemene 4) 5) i. akuntabilitas. isu . Kalau saja.undangan yang ada. maupun hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah sebagaimana selama ini terjadi.menarik pembagian kekuasaan. baik antara pusat dan daerah. dan pengembangan demokrasi.daerah terpelihara dengan baik. dan ketegangan -ketegangan dan kerancuan di daerah yang selama ini sering terjadi. sangat disayangkan perundang .tugas dekonsentras Namun.prinsip perilaku “Good Governance” di semua tingkat pemerintahan. baik dari aspek “teori sisa” (Residual Theory). dapat dituntaskan oleh Gubernur dalam kedudukan ia (Gubernur) sebagai Wakil Pemerintah (representative of the President). Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan otonomi daerah. harus ditempatkan pada proporsi waktu dan situasi yang tepat untuk menghindarkan kerancuhan. dimana pemerintahan daerah seharusnya menjadi “backbone” dari stabilitas pemerintahan nasional. Ini adalah sebagai konsekuensi didudukannya Gubernur sebagai Wakil Pemerintah dalam rangka menjalankan tugas . serta diperlukan secara proporsional bagi semua level pemerintahan. hubungan pusat . hendaknya dapat diselesaikan secara tuntas oleh Gubernur. pemberdayaan. sehingga pada gilirannya akan mengurangi bertumpuknya “beban” (burden) pada pemerintah pusat. daya saing daerah. serta efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. 3) Terjadinya penggantian Undang . sebaiknya Pemerintah Pusat mengatur lebih lanjut dengan memberikan penugasan dan kewenangan yang tegas kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. sehingga tidak memungkinkan Gubernur untuk bertindak pro aktif. tanpa dilandasi dasar hukum kewenangan yang kuat.Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tetap harus di arahkan kepada upaya pencapaian kemandirian pemerintah daerah yang berorientasi kepada pelayanan. Demikian pula. baik yang bersifat lokal maupun regional. Ditinjau dari aspek asas kepatutan penyelenggaraan pemerintahan (Berhoorlijk Bestuur) seharusnya ia (Gubernur) memiliki kewenangan “Vrijbestuur”. sehingga segala persoalan yang terjadi di Daerah. sehingga nasib dan kepentingan rakyat terabaikan. keutuhan dan kesatuan bangsa tetap terjaga. dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

harus dengan sendirinya menyesuaikan dengan semangat Undang – Undang tersebut. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. serta mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin stabilitas dan kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di daerah secara baik".menarik kewenangan dan tarik menarik kepentingan. 7) Mengingat pengaturan lebih lanjut yang menegaskan kedudukan dan tugas serta kewenangan Gubernur selaku Wakil Pemerintah. dimana kedudukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. dengan dasar hukum yang tegas. Kewenangan dekonsentrasi yang dijalankan oleh Instansi Vertikal (“dekonsentrasi fungsional”). Pelaksanaan otonomi daerah.undangan Sekotral lainnya. Seluruh peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penyelenggaraan tugas-tugas substantif Departemen Sektoral/ Departemen Teknis.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 itu sendiri seharusnya berkedudukan sebagai “batu penjuru” (“corner stone”) bagi perundang .menerus agar segala peraturan perundang . sedangkan pemerintah daerah 8) 9) 10) 51 .tugas yang dikecualikan menurut Pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. harus ada penegasan bahwa Instansi Vertikal dimaksud adalah perangkat Departemen dan/ atau LPND yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral. yaitu tugas . Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dimaksudkan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan oto .aktivitas masyarakat.bestuur) di daerahnya melalui asas “Vrijbestuur”. yang posisinya tidak hanya wajib berkoordinasi dengan Gubernur.instansi pemerintah dan pemerintah daerah. Fungsional) di wilayah dalam jurisdiksi tertentu. maka seyogyanya sebagai tindak lanjut Pasal 38 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. maka diharapkan ia (Gubernur) akan mampu untuk mentuntaskan segala persoalan yang terjadi di daerah.q. tidak ada. guna memberdayakan masyarakat sendiri. yang pada gilirannya akan mengakibatkan terhambatnya kelancaran pelaksanaan otonomi daerah yang seharusnya dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat setempat.undangan dan peraturan daerah dijalankan oleh instansi . segera dikeluarkan Instruksi Presiden yang intinya menugaskan dan memberikan keleluasaan kepada Gubernur untuk “mengusahakan secara terus . Pasal 10 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah (dalam konteks “Integrated Prefectoral System”). karena adanya tarik . Teknis. baik yang terbit sebelum maupun sesudah terbitnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. selaras dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c.q.siuran penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya kesimpang .

PENUTUP Demikian beberapa pemikiran tentang penyelenggaraan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah untuk dikembangkan dan didiskusikan lebih lanjut. kesatuan pemahaman dan kesatuan interpretasi. 52 . dan pelayan publik terabaikan. memiliki kesatuan sikap.Undang Nomor 32 Tahun 2004 kita tidak seharusnya a priori untuk segera merobah Undang . baik di pusat maupun di daerah. baik dari segi konsep akademik dan juridis.masing kepentingan yang akan mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan dan konflik kewenangan.berperan mendorong dan memfasilitasinya. baik bagi masyarakat. Dalam mengantisipasi perubahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. Dalam pada itu.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan peraturan pelaksanaannya agar terdapat interpretasi dan persepsi yang sama. 3 April 2006. kesatuan pandang. lembaga masyarakat. juridis. perlu merubah paradigma pemerintahan dari birokrasi yang berpola pikir (mindset) bernuansa “dilayani” menjadi “melayani”. hendaknya semua komponen penyelenggara pemerintahan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan turut serta mensosialisasikannya. partai politik. maupun bagi para pejabat di pusat dan di daerah. 12) Menyikapi kelemahan dan atau kelebihan Undang . sambil mewacanakan berbagai aspek permasalahanya. dengan kemungkinan memberikan alternatif solusinya. politik dan operasional. melainkan kita perlu memahami substansi dan semangat Undang . yang pada gilirannya hanya akan merugikan kepentingan rakyat banyak. 11) Perlu mensosialisasikan dan mendesiminasikan Undang . kalangan perguruan tinggi. 8. dan para praktisi operasional dan disosialisakan kepada masyarakat luas. harus ada persiapan yang matang dan keterbukaan sedemikian rupa. sehingga baik dari segi akademik. Jakarta. hendaknya disikapi secara positif dan penuh kearifan. Berdasarkan hal tersebut. benar benar dapat dipertanggungjawabkan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 sekarang.administratif. maupun empirik . baik antara Pemerintah. sehingga kelemahan dan kekurang sempurnaan Pasal pasal dan instrumen yang ada. sehingga tidak terjadi upaya-upaya manipulasi untuk menonjolkan masing .Undang yang bisa diimplementasikan dengan persepsi dan interpretasi yang sama antara Pusat dan Daerah. sehingga hasil perubahan itu akan menghasilkan produk Undang .

Koswara Kertapradja 53 .E.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful