Asta Kosala Kosali dan Asta Bumi

Posted on September 12, 2011 by admin ASTA KOSALA dan ASTA BUMI. Yang dimaksud dengan Asta Kosala adalah aturan tentang bentuk-bentuk niyasa (symbol) pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan) dan hiasan. Yang dimaksud dengan Asta Bumi adalah aturan tentang luas halaman Pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar pelinggih. Aturan tentang Asta Kosala dan Asta Bumi ditulis oleh Pendeta: Bhagawan Wiswakarma dan Bhagawan Panyarikan. Uraian mengenai Asta Kosala khusus untuk bangunan Padmasana telah dikemukakan pada bab: Hiasan Padmasana, Bentuk-bentuk Padmasana dan Letak Padmasana. Asta Bumi menyangkut pembuatan Pura atau Sanggah Pamerajan adalah sebagai berikut: Memperoleh kesejahteraan dan kedamaian atas lindungan Hyang Widhi b Mendapat vibrasi kesucian c Menguatkan bhakti kepada Hyang Widhi a Memanjang dari Timur ke Barat ukuran yang baik adalah: Panjang dalam ukuran “depa” (bentangan tangan lurus dari kiri ke kanan dari pimpinan/klian/Jro Mangku atau orang suci lainnya): a 2,3,4,5,6,7,11,12,14,15,19. Lebar dalam ukuran depa: 1,2,3,4,5,6,7,11,12,14,15. Alternatif total luas dalam depa: 2×1,3×2, 4×3, 5×4, 6×5, 7×6, 11×7, 12×11, 14×12, 15×14, 19×15. Memanjang dari Utara ke Selatan ukuran yang baik adalah: Panjang dalam ukuran depa: 4,5,6,13,18. b Lebar dalam ukuran depa: 5,6,13. Alternatif total luas dalam depa: 6×5, 13×6, 18×13 Jika halaman sangat luas, misalnya untuk membangun Padmasana kepentingan orang banyak seperti Pura Jagatnatha, dll. boleh menggunakan kelipatan dari alternatif yang tertinggi. Kelipatan itu: 3 kali, 5 kali, 7 kali,

1

Tujuan Asta Bumi adalah

2 Luas halaman

Arah kaja adalah letak gunung atau bukit. Jika memilih kaja sebagai hulu. Misalnya untuk halaman yang memanjang dari Timur ke Barat. Hal ini berkaitan dengan tatanan pemujaan dan pelaksanaan upacara. “Hulu” artinya arah yang utama. Bentuk halaman pura adalah persegi empat sesuai dengan ukuran Asta Bumi sebagaimana diuraikan terdahulu. artinya jika memilih timur sebagai hulu agar benar-benar timur yang tepat. segi tiga. HULU-TEBEN. demikian seterusnya. jangan melenceng ke timur laut atau tenggara. Misalnya jika gunung berada di utara maka hulu agar benar-benar di arah utara sesuai kompas. lingkaran. Untuk yang memanjang dari Utara ke Selatan. 7x(18×13). 7x(19×15). sehingga membentuk halaman seperti trapesium. Arah “Kaja” Mengenai arah Timur bisa diketahui dengan tepat dengan menggunakan kompas. Pemilihan arah hulu yang tepat sesuai dengan mata angin akan memudahkan membangun pelinggih-pelinggih dan memudahkan pelaksanaan upacara dan arah pemujaan. dan Asta kosala. BENTUK HALAMAN. 9x(19×15). dll. dan 2. Sebagaimana telah diuraikan terdahulu. 5x(19×15). 9x(18×13). ada dua patokan mengenai hulu yaitu 1. sedangkan “teben” artinya hilir atau arah berlawanan dengan hulu. jangan sampai melenceng ke arah timur laut atau barat laut. . Jangan membuat halaman pura tidak persegi empat misalnya ukuran panjang atau lebar di sisi kanan – kiri berbeda. Arah Timur. Cara menentukan lokasi Pura adalah menetapkan dengan tegas arah hulu.9 kali dan 11 kali. selain melihat gunung atau bukit juga perhatikan kompas. alternatif luas maksimum dalam kelipatan adalah: 3x(18×13). 11x(19×15). alternatif luas maksimum dalam kelipatan adalah: 3x(19×15). 5x(18×13). 11x(18×13). misalnya pengaturan meletakkan umbul-umbul. penjor.

Dari as ini ditetapkan lebarnya gerbang apakah setengah depa atau satu depa. tidak boleh hanya utama mandala saja yang persegi empat. di madya mandala dibangun sarana-sarana penunjang misalnya bale gong. dan tetap berbentuk segi empat. 3) Sepertiga ukuran tali dari arah teben adalah “as” pemedal. Madya Mandala adalah bagian tengah. MENETAPKAN PEMEDAL. menggunakan ukuran Asta Bumi. menggunakan ukuran Asta Bumi yang sama dengan utama Mandala. Madya Mandala 3. bale pesamuan (untuk rapat-rapat). artinya tidak terpisah-pisah. Nista Mandala.PEMBAGIAN HALAMAN. bale kulkul. tergantung dari besar dan tingginya bangunan candi bentar dan gelung kori. Utama mandala adalah bagian yang paling sakral terletak paling hulu. dll. dll. Batas antara nista mandala dengan madya mandala adalah “Candi Bentar” dan batas antara madya mandala dengan utama mandala adalah “Gelung Kori”. dan halaman ini dapat digunakan untuk keperluan lain misalnya parkir. tetapi madya mandala dan nista mandala berbentuk lain. sedangkan nista mandala tidak diberi pagar atau batas dan langsung berhadapan dengan jalan. Di Utama mandala dibangun pelinggih-pelinggih utama. Untuk Pura yang besar menggunakan pembagian halaman menjadi tiga yaitu: 1. boleh menggunakan ukuran yang tidak sama dengan utama dan nista mandala hanya saja lebar halaman tetap harus sama. Yang dimaksud dengan teben dalam ukuran pemedal ini . Ketiga Mandala itu merupakan satu kesatuan. Cara menetapkan pemedal sebagai berikut: 1) Ukur lebar halaman dengan tali. Pemedal adalah gerbang. Utama Mandala 2. Nista Mandala adalah bagian teben. perantenan (dapur suci). Di nista mandala ada pelinggih “Lebuh” yaitu stana Bhatara Baruna. baik berupa candi bentar maupun gelung kori. penjual makanan. bale pesandekan (tempat menata banten). 2) Panjang tali itu dibagi tiga.

demikian seterusnya. Jika bangunan inti hanya Padmasana. dan PANGRURAH sebagai niyasa pemujaan Bhatara Kala yaitu “putra” Siwa yang melindungi manusia dalam melaksanakan kehidupannya di dunia. sebagaimana tradisi yang ada di luar Pulau Bali. Jarak antar pelinggih dapat juga menggunakan kombinasi dari depa dan tapak. “telung tapak nyirang”. . kelipatan satu depa. Jarak antar pelinggih yang satu dengan yang lain dapat menggunakan ukuran satu “depa”. Pengertian “depa” sudah dikemukakan di depan. PELINGGIH (STANA) YANG DIBANGUN. Ketentuan-ketentuan jarak itu juga tidak selalu konsisten. BALE KULKUL yaitu tempat kulkul (kentongan) yang dipukul sebagai isyarat kepada pemuja bahwa upacara akan dimulai atau sudah selesai. Jarak antar pelinggih juga mencakup jarak dari tembok batas ke pelinggih-pelinggih. Bangunan lain yang bersifat sebagai penunjang adalah: PIYASAN yaitu bangunan tempat bersemayamnya niyasa Hyang Widhi ketika hari piodalan. Ketentuan ini juga berlaku bagi bangunan dan pelinggih di Madya Mandala. maka selain Padmasana dibangun juga pelinggih TAKSU sebagai niyasa pemujaan Dewi Saraswati yaitu saktinya Brahma yang memberikan manusia kemampuan belajar/mengajar sehingga memiliki pengetahuan. di mana diletakkan juga sesajen (banten) yang dihaturkan. sedangkan jarak ke “Piasan” dan Pemedal (gerbang) menggunakan depa. Di Madya Mandala dibangun BALE GONG. tergantung dari harmonisasi letak pelinggih dan luas halaman yang tersedia. tempat gambelan. BALE PAMEOSAN adalah tempat Sulinggih memuja. Yang dimaksud dengan “telung tampak nyirang” adalah jarak dari susunan rapat tiga tapak kaki kanan dan kiri (dua kanan dan satu kiri) ditambah satu tapak kaki kiri dalam posisi melintang. tempat rapat atau menyiapkan diri dan menyiapkan banten sebelum masuk ke Utama Mandala. misalnya jarak antar pelinggih menggunakan tapak. atau kelipatan telung tapak nyirang. Penetapan gerbang candi bentar dan gelung kori ini penting untuk menentukan letak pelinggih sesuai dengan asta kosala.adalah arah yang bertentangan dengan hulu dari garis halaman pemedal. maka teben dalam menetapkan gerbang tadi adalah utara. JARAK ANTAR PELINGGIH. kecuali di utara ada gunung maka tebennya selatan. yaitu jarak bentangan tangan lurus dari ujung jari tangan kiri ke ujung jari tangan kanan. Misalnya hulu halaman Pura ada di Timur. Baik depa maupun tapak yang digunakan adalah dari orang yang dituakan dalam kelompok “penyungsung” (pemuja) Pura. BALE PESANDEKAN.

di mana yang diletakkan di hulu adalah Padmasari/Padmasana. Cara menempatkan pelinggih-pelinggih itu sesuai dengan konsep Hulu dan Teben. Turut 9 adalah turut 7 ditambah dengan pelinggih Sapta Petala dan Manjangan Saluwang. Gedong Kawitan adalah pemujaan leluhur laki-laki yang pertama kali datang di Bali dan yang mengembangkan keturunan. dan Taksu. Kemulan Rong Tiga.9. Kemulan Rong tiga (pelinggih Hyang Guru atau Tiga Sakti: Brahma. Gedong Ibu adalah pemujaan leluhur dari pihak wanita (istri Kawitan).7. dharma dan adharma. dan 11. “Turut” artinya “berjumlah”. Pelinggih Sapta Petala adalah pemujaan Hyang Widhi sebagai penguasa inti bumi yang menyebabkan manusia dan mahluk lain dapat hidup. Turut 5: Padmasari. Wisnu. maka letak bangunan dapat berbentuk L yaitu berderet dari pojok hulu ke teben kiri dan keteben kanan. Bila halamannya terbatas sedangkan pelinggihnya perlu banyak. Manjangan Saluwang adalah pemujaan Mpu Kuturan sebagai Maha Rsi yang paling berjasa mempertahankan Agama Hindu di Bali. Turut 11 adalah turut 9 ditambah pelinggih Gedong Kawitan dan Gedong Ibu. Taksu.Jika ingin membangun Sanggah pamerajan yang lengkap. Jenis ini digunakan oleh tiap keluarga di rumahnya masing-masing. Turut 3: Padmasari. “Baturan Pengayengan” yaitu pelinggih untuk memuja ista dewata yang lain. dll. Turut 7: adalah turut 5 ditambah dengan pelinggih Limas cari (Gunung Agung) dan Limas Catu (Gunung Lebah). bangunan niyasa yang ada dapat “turut” 3. . Siwa). Yang dimaksud dengan Gunung Agung dan Gunung Lebah (Batur) adalah symbolisme Hyang Widhi dalam manifestsi yang menciptakan “Rua Bineda” atau dua hal yang selalu berbeda misalnya: lelaki dan perempuan. sedangkan yang diletakkan di teben adalah pelinggih berikutnya sesuai dengan turut seperti diuraikan di atas. siang dan malam.5. Pangrurah.

2.bahan/ ramuan berdasarkan lontar Asta Dewa dan lontar Asta Kosala/ Kosali. Beberapa ketentuan.ciri : 1. 3. Tempat/ denah berdasarkan Lontar Asta Bhumi. Tri Mandala/ Tri Loka 3. bata dan sebagainya Bangunan Bali mengandung ciri. Naga.macam prinsip seperti : bentuk.ideran (Catur Loka Phala/ Asta Dala). fungsi dan keindahan Bangunan Bali yaitu Setiap bangunan yang berdasarkan tattwa (falsafah) agama Hindu Filosofis bangunan Bali Ialah adanya hubungan yang erat dan hidup antara bhuwana alit dengan bhuwana agung yang perwujudannya dilandasi oleh ketentuan agama Hindu.alang. Bangunan suci/ keagamaan ialah segala pelinggih.ketentuan bangunan Bali: 1.jenis bangunan Bali 1. seperti : kayu.pelinggih yang disucikan. 4. Adanya upacara sangaskara/ penyucian. Kemampuan merancang. batu alam. Bahan. 2. Pengider. Pengertian bangunan secara umum Ialah segala hasil perwujudan manusia dalam bentuk bangunan.TAFSIR AGAMA HINDU >Daftar isi >Hindu Dharma Arsitektur Bali Tentang arsitektur Bali menurut tattwa agama Hindu. Pengelompokan bangunan Bali meliputi 1. Mengandung simbul. dan membangun. ijuk. konstruksi. Yang tercakup dalam bangunan yaitu : 1. (misalnya: Sanghyang Acintya. Jenis. yang mengandung keutuhan/ kesatuan dengan agama (ritual) dan kehidupan budaya masyarakat. Bangunan/ konstruksinya berdasarkan lontar Asta Dewa dan lontar Asta Kosala/ Kosali. Bangunan Kepara/ adat. 2. Padma dan sebagainya). Bangunan suci/ keagamaan. Mewujudkan seni bangunannya menurut bermacam. alang. 2.simbul sesuai dengan ajaran agama Hindu. . bahan.

Nyukat Karang.arca serta perlengkapannya.patung/ arca. adat. Ngurip. 5. Nasarin. Ketertiban fungsi dan penggunaannya 1. Asta Kosala/ Kosali.lontar lainnya. Sesuai dengan lontar Asta Dewa.urip. Fungsi dan penggunaannya ditetapkan pada proporsi yang sewajarnya .termasuk patung.ketentuan lontar Asta Dewa. 4. Memakuh. 3. 2. dan bangunan Bali lainnya. Bentuk dan nama bangunan Bali Bentuk dan nama bangunan Bali berdasarkan ketentuan.bangunan perumahan. Asta Kosala/ Kosali dan Lontar Wisma Karma. Semua wujud bangunan Bali hendaknya mengikuti ketentuan. Ngeruwak Karang.ketentuan tersebut di atas. 2. 2. Dewa Tattwa dan lontar. Tata laksana dan penyucian bangunan Bali antara lain : 1. Bangunan Kepara/ adat adalah bangunan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful