Hubungan antara Umur Ibu, Paritas, Jarak Kehamilan dan Riwayat Obstetri, dengan Terjadinya Plasenta Previa

PENDAHULUAN

Plasenta previa didefinisikan sebagai suatu keadaan seluruh atau sebagian plasenta ber-insersi di ostium uteri internum, sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari jalan lahir.(1,2,3)

Prevalensi plasenta previa di negara maju berkisar antara 0,26 - 2,00 % dari seluruh jumlah kehamilan.(1,4,5) Sedangkan di Indonesia dilaporkan oleh beberapa peneliti berkisar antara 2,4 - 3,56 % dari seluruh kehamilan.(6,7) Angka kejadian plasenta previa relative tetap dalam tiga dekade sampai dengan pertengahan tahun 1980, yaitu rata-rata 0,36-0,37 %, tetapi pada dekade selanjutnya angka kejadian meningkat menjadi 0,48 %, mungkin disebabkan karena meningkatnya faktor risiko terjadinya plasenta previa seperti umur ibu hamil semakin tua, kelahiran secara bedah sesar, paritas yang tinggi serta meningkatnya jumlah abortus yang terjadi, terutama abortus provokatus. (1,4,8)

Penyebab terjadinya plasenta previa belum diketahui secara pasti, namun kerusakan dari endometrium pada persalinan sebelumnya dan gangguan vaskularisasi desidua dianggap sebagai mekanisme yang mungkin menjadi faktor penyebab terjadinya plasenta previa. . (1,9)

Dari beberapa penelitian diketahui bahwa telah dapat dibuktikan adanya faktor-faktor risiko terjadinya plasenta previa termasuk umur ibu, banyaknya jumlah kehamilan dan kelahiran, merokok selama hamil dan riwayat operasi sesar. Meskipun sudah ada beberapa penulis yang menghubungkan antara riwayat abortus spontan dan induksi abortus dengan kejadian plasenta previa tetapi hubungan itu masih menjadi kontroversi.

Suatu penelitian metaanalisis mengenai hubungan antara plasenta previa dengan riwayat seksio sesarea dan abortus di Amerika Serikat (1997) telah menunjukkan bahwa wanita dengan riwayat seksio sesarea minimal satu kali mempunyai risiko 2,6 kali untuk menjadi plasenta previa pada kehamilan berikutnya, dan risiko ini bertambah sesuai dengan bertambahnya banyaknya riwayat seksio sesarea.(4) Penelitian lain di Inggris (1986) juga menemukan hubungan yang sangat bermakna antara plasenta previa dan riwayat seksio

14) Dari penelitian terdahulu pernah dilaporkan hubungan antara riwayat abortus spontan dengan kejadian plasenta previa mereka menemukan odds ratio plasenta previa dihubungkan dengan riwayat abortus spontan satu kali menjadi 1. Meskipun di negara-negara maju abortus spontan dengan umur kehamilan kurang atau sama dengan 12 minggu sering dilakukan dengan vakum kuretase.sesarea. (17) demikian juga Zhou W (2001) hanya menemukan hubungan yang lemah antara keduanya.) Walaupun demikian.10. seperti pada penelitian Heija AT(1999) tidak menemukan hubungan yang bermakna antara riwayat abortus dan terjadinya plasenta previa.(22) Demikian pula halnya pengaruh jarak kehamilan dengan terjadinya plasenta previa masih menjadi kontroversi. Apakah terdapat hubungan antara faktor risiko umur ibu.12. Faktor risiko apa yang paling besar pengaruhnya terhadap kejadian plasenta previa. Hasan Sadikin Bandung penanganan abortus spontan pada umumnya masih menggunakan sendok kuret atau kuretase tajam.19. hubungan antara plasenta previa dan riwayat abortus masih kontroversial.(10) demikian juga penelitian lain menemukan hubungan yang kuat.6 kali dan risiko terjadinya plasenta previa meningkat dengan jumlah riwayat abortus yang semakin banyak.11. 1985).(4. . jarak kehamilan dan riwayat obstetri dengan kejadian plasenta previa.(17. 16.(1) Penelitian yang mendukung pengaruh paritas terhadap terjadinya plasenta previa diantaranya Lira PJ (1995). Eniola AO( 2002). (5.13.(23) IDENTIFIKASI MASALAH 1.20) Namun penelitian yang lain didapatkan bahwa ternyata efek dari paritas kurang mempengaruhi terjadinya plasenta previa dibandingkan faktor risiko yang lain ( Clark SL. Dari beberapa penelitian didapatkan bahwa pengaruh paritas terhadap terjadinya plasenta previa cukup besar. seperti pada penelitian Wax Jr (2000) yang mendapatkan bahwa interval antara seksio sesarea dengan konsepsi berikutnya yang mempunyai korelasi dengan plasenta previa tapi bukan interval antara dua persalinan pervaginam.(18) Di Indonesia lebih khusus lagi di Perjan RS dr. 2.(21) Bahkan penelitian oleh Parazzini F di Milan (1994) menemukan tidak ada korelasi antara kehamilan berulang dengan terjadinya plasenta previa. paritas. Abu-Heija AT (1999). hal ini mungkin disebabkan terjadinya respon inflamasi dan perubahan atrofi di permukaan endomterium.15.

c. Penderita plasenta previa b. Kehamilan tunggal d. sedangkan kelompok kontrol diambil sampel secara acak dengan bantuan program komputer SPSS for Windows versi 10. Hasan Sadikin Bandung Januari 1998 . Kehamilan yang kedua atau lebih Kriteria inklusi kelompok kontrol: Penderita yang bukan plasenta previa yang memenuhi kriteria inklusi kelompok kasus. dengan pendekatan retrospektif terhadap ibu hamil penderita plasenta previa sebagai kasus dan bukan penderita plasenta previa sebagai kontrol yang datang berobat di Rumah Sakit dr. ANALISIS DATA Data yang terkumpul dianalisis secara statistik dengan menghitung uji statistik chi kuadrat dan menghitung besarnya odds ratio dengan 95% CI. Untuk kelompok kasus diambil seluruh penderita plasenta previa yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi. Kehamilan kembar d. Menentukan faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap kejadian plasenta previa. Umur kehamilan dibawah 28 minggu. Kriteria eklusi : a. jarak kehamilan dan riwayat obstetri dengan kejadian plasenta previa. paritas. yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. BAHAN DAN CARA KERJA Penelitian ini merupakan suatu case control research design (rancangan penelitian kasus kontrol). Primigravida. Umur kehamilan 28 minggu atau lebih c.MAKSUD DAN TUJUAN Mencari hubungan antara faktor risiko umur ibu.Desember 2002. Untuk perhitungan multivariat . Kriteria inklusi kelompok kasus: a.

10.Desember 2002. Hal tersebut disebabkan karena pada kasus plasenta previa sering dilakukan pengakhiran kehamilan karena komplikasi perdarahan yang terjadi.21). Dengan analisis multivariat didapatkan OR(95% CI) 1.79(1. HASIL PENELITIAN Telah dilakukan penelitian di Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran / Perjan RS dr.9-13.2) Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sauer M (1985) mendapatkan 67 % persalinan pada plasenta previa merupakan persalinan prematur. untuk usia kehamilan. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p < 0. (1. Pada tabel 1 menunjukkan karakteristik ibu. karena tidak memenuhi kriteria inklusi. terhadap penderita plasenta previa dan bukan plasenta previa dengan beberapa variabel penelitian selama kurun waktu Januari 1998 . Pada kasus plasenta previa dengan usia kehamilan 28-32 minggu mempunyai OR 6.digunakan analisis regresi logistik multipel dengan bantuan program komputer SPSS for Windows ver. Hal-hal tersebut di atas sesuai dengan beberapa penelitian diantaranya Abu-Heija AT (1999). Dari jumlah tersebut yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 4787 kasus persalinan. ternyata dari perhitungan statistik didapatkan perbedaan yang sangat bermakna dengan terjadinya plasenta previa. pengukuran variabel yang restrospektif mempunyai kelemahan terutama objektivitas dan reliabilitasnya sehingga untuk faktor-faktor risiko yang tidak dapat diperoleh dengan pasti informasinya baik dengan anamnesis maupun data sekunder amat riskan untuk diteliti dengan rancangan ini. Sehingga apabila terdapat kelainan letak pada kehamilan kita dapat mencurigai salah satu penyebabnya adalah plasenta previa.001. Selama kurun waktu tersebut terdapat 9453 kasus persalinan.Hasan Sadikin Bandung. ternyata terdapat perbedaan yang sangat bermakna antara kasus plasenta previa dan kontrol dengan p < 0. masih dari tabel 1. diambil secara acak dari 4534 kasus persalinan bukan plasenta previa yang memenuhi kriteria penelitian. Kasus yang dikeluarkan dari penelitian sebanyak 4666 kasus persalinan. usia .(24) Untuk letak anak dalam kehamilan. PEMBAHASAN Pada penelitian ini digunakan rancangan kasus kontrol yang tidak luput dari kekurangankekurangan antara lain: tidak dapat diketahui efek variabel luar yang oleh karena keterbatasan teknis tidak ikut terkendali dengan matching. Rose GL (1986) yang mendapatkan hubungan yang bermakna antara umur. Diperoleh 253 kasus plasenta previa sebagai kelompok kasus yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan sebagai kelompok kontrol diambil 253 kasus yang bukan plasenta previa.05.45-2.17 dengan CI 2.4.

83) dan semakin renggang jarak kehamilan maka semakin kecil kemungkinan untuk menjadi plasenta previa.17) Pada tabel 4. Hal tersebut sesuai dengan beberapa penelitian seperti. Namun berbeda dengan suatu penelitian metaanalisis yang dilakukan oleh Ananth CV.kehamilan dan letak anak dengan terjadinya plasenta previa. Hal tersebut sesuai dengan suatu penelitian yang dilakukan oleh Abu-Heija AT (1999) yang mendapatkan hasil tidak ada hubungan yang bermakna antara riwayat abortus dengan terjadinya plasenta previa.(19) Pada tabel 3 menunjukkan hubungan antara paritas dengan plasenta previa.45 yang artinya bahwa riwayat abortus tidak mempunyai risiko untuk terjadinya plasenta previa dan secara statistik tidak bermakna hubungan tersebut.(5) Pada penelitian ini diamati pula outcome pada kasus dengan plasenta previa berupa berat badan bayi pada saat lahir dibandingkan dengan kontrol. Eniola (2002) yang mendapatkan OR untuk usia > 35 tahun 1.17) Demikian pula Sheiner E (2001) mendapatkan presentasi patologi dengan OR 7.05-1. setelah dilakukan perhitungan statistik ternyata terdapat perbedaan yang bermakna berat badan bayi yang dilahirkan ( p< 0. dan secara perhitungan satistik terdapat hubungan yang bermakna.89 yang artinya bahwa kehamilan multipara mempunyai risiko 1.6 kali untuk terjadinya plasenta previa. dalam penelitian ini odds ratio riwayat abortus terhadap terjadinya plasenta previa adalah 0. maka kemungkinan untuk mendapatkan plasenta previa semakin besar. Hal tersebut sesuai dengan penelitian Abu Heija (1999) dan Sheiner E (2001) yang menyatakan bahwa semakin tinggi paritas maka kemungkinan untuk mendapatkan plaseta previa semakin besar.078 yang berarti berdasarkan perhitungan statistik bermakna.67).7-10.6. demikian pula pada grandemultipara didapatkan OR(95% CI) 1.6–1. (23) Pada tabel 5. Pada tabel tersebut pada kasus plasenta previa rata-rata berat badan bayi 2577 gram dengan SB 637.001). Artinya semakin tua umur ibu. yang dapat dilihat pada tabel 1 pula.871.6 dengan 95% CI (5. dibandingkan dengan kontrol rata-ratanya 2979 dengan SB 604. Berdasarkan analisis multivariat (tabel 7) didapatkan odds ratio 1. dan secara statistik didapatkan perbedaan yang bermakna. Hal ini sesuai yang didapat oleh Wax Jr (2000) yang dalam penelitiannya menemukan hubungan jarak kehamilan dengan terjadinya plasenta previa. ternyata didapatkan p = 0.82-2. seperti pada jarak kehamilan < 24 bulan mempunyai OR(95% CI) 1.93 dengan interval kepercayaan antara 0.28 dengan interval kepercayaan 0.28 kali untuk terjadinya plasenta previa. setelah dilakukan uji statistik ternyata didapatkan OR untuk multipara 1. dan secara statistik hubungan tersebut bermakna. Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa berdasarkan karakteristik umur ibu.4 dengan CI 1.(10.28 dengan CI 1.(5. .1). pengaruh jarak kehamilan dengan terjadinya plasenta previa.772.52 (0.56) dan pada ibu yang melahirkan dalam usia > 40 tahun terdapat risiko 2.2-6.43 (0.

Weiner CP.4). Steer PJ.496 ). 21st ed. dan jarak kehamilan ( p=0. Faktor risiko riwayat operasi seksio sesarea sebelumnya seperti pada tabel 6.42-1. London : WB Saunders.7 (1. (16. KESIMPULAN Terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu. Konje JC.85 dengan interval kepercayaan 0. riwayat seksio sesarea ( p = 0. usia kehamilan ( p < 0.05. William Obstetric.19) Analisis Multivariat Untuk mengetahui hubungan berbagai faktor risiko dengan kejadian plasenta previa dilakukan analisis dengan menggunakan regresi logistik multipel seperti terlihat pada tabel 7. Gilstrap LC. Obstetrics Illustrated. Bleeding in late pregnancy.007) Sedangkan untuk faktor risiko lain yang tidak bermakna adalah riwayat abortus ( p = 0. yang bermakna secara statistik adalah umur ibu ( p = 0. namun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat abortus dan operasi seksio sesarea dengan kejadian plasenta previa. 2. New York : McGraw Hill.001 ).2( 1.001). . dan Vintzileos pada tahun 1997.4-3. yang mendapatkan hubungan yang kuat antara riwayat abortus dengan terjadinya plasenta previa. letak anak ( p < 0.Smulian JC. Leveno KJ. seperti Rose GL (1986) mendapatkan hasil yang bermakna dengan p < 0. berat badan lahir ( p < 0. 1997 :186 – 8. 3. paritas dan jarak kehamilan dengan kejadian plasenta previa. Faktor risiko yang paling besar pengaruhnya terhadap kejadian plasenta previa adalah umur ibu. Bertentangan dengan beberapa penelitian yang menemukan hubungan yang bermakna antara riwayat seksio sesarea dengan terjadinya plasenta previa. Hasil analisis dari semua faktor risiko yang diteliti. Gant NF.71 yang artinya bahwa riwayat seksio sesarea tidak mempunyai risiko untuk terjadinya plasenta previa dan secara statistik tidak bermakna hubungan tersebut. Hauth JC.9-11.001 ).4) serta 4. Miller AWF.001).(4) Hal ini mungkin disebabkan karena jumlah sampel yang sedikit dan adanya faktor risiko lain yang tidak diperhitungkan pada penelitian ini.(10) Bahkan Eniola AO (2002) dan Hendricks MS (1999) mendapatkan OR (95% CI) 2. 5th ed.984 ). 2001 : 111-26. DAFTAR PUSTAKA 1.03 ) . 2001 : 630-35. In : James DK. Hanretty KP. 2nd ed. Taylor DJ. setelah dilakukan uji statistik ternyata didapatkan OR 0. New York : Churchill livingstone. Wensterom KD. Gonik B. Cuningham FG. paritas ( p=0. High risk pregnancy.

Previous cesarean section and abortion as risk factors for developing placenta previa. Hallak M. Schneider D. Zhou W. Vintzileos AM. Rose Gl. Am J Obstet Gynecol 1997 . Zuniga MA. Br J Obstet Gynaecol 1986 . Mazor M. Smulian JC. Clark SL. 7. Rasmussen S. 80 : 1115 – 20. Harijanto B. Dalaker K. Chapman MG. Sumampouw H. Vaknin Z. Halperin R. 10. Placenta praevia/accreta and previous cesarean section. Bukovsky I. Placenta previa : obstetric risk factor and pregnancy outcome. Tyrlik M. Monica G. 47 : 6-8. Bagian pertama. 8. Obstetric history and the risk of placenta previa. Placenta previa. Late midtrimester pregnancy termination in the presence of placenta previa. Olsen J. Clin Perinatol 1992 . 19 : 425 – 35. Singh K. 16. Placenta previa/accreta and prior cesarean section. 93 : 586 – 8. Prabowo RP. Suardi A. Kukla L. Hasan Sadikin Bandung. Peacock S.4. Lira JP. Obstetri & Ginekologi FKUP/ RSUP dr. Acta Obstet Gynecol Scand 1995 . 17. Fetal salvage pada plasenta previa. Pregnancy and fetal development in smoking and nonsmoking women. . 11. Wirakusumah FF. Pengaruh berbagai faktor terhadap kematian dan kesakitan ibu serta anak pada plasenta previa di RS dr. 20. Kumpulan makalah KOGI II Surabaya. Aetiological factors in placenta praevia – a case controlled study. 1998. Nielsen GL. 48 : 175 – 8. Kramer MD. Vaughan TL. Selo-Ojeme DO. 21. 64 : 271-4. Placenta previa and prior cesarean delivery : how strong is the association ?. Hasan Sadikin Bandung 1975-1978. J Reprod Med 2000 . Koonings PP. Ginecol Obstet Mex 1995 . Albrechtsen S. Hruba D. 25 : 137 – 42. Shoham VI. Katz M. Pedoman diagnosis dan terapi obstetri & ginekologi RSUP dr. Abu-Heija AT. Placenta previa : effect of age. Ceska Gynekol 1999 . Chow YH. and previous caesarean section. 9. Bag. 10: 414-9. Placenta previa. Bako AU. Acta Obstet Gynecol Scand 2000 . 19. 79 : 535 – 8. 74 : 341 – 5. Wijayanegara H. Lilja C. gravidity. parity. Hendricks MS.1979. Skrpsi. 18. J Obstet Gynaecol Res 1999 . 63 : 337 – 40. 1973. Ochoa FI.Hasan Sadikin Bandung. 15. 12. Taylor VM. Phelan JP. Ziadeh S. Hershkowitz R. 13. maternal smoking and recurrence risk. 14. 6. Obstet Gynecol 1994 . Acta Obstet Gynecol Scand 2001 . Bhagavath B. The Association of placenta previa with history of cesarean delivery and abortion : a metaanalysis. 177 : 1071-8. Est Afr Med J 2002 . Gynecol Obstet Invest 1999 . Experience of five years at the Mexico National Institute of Perinatology. 84 : 55 – 7. Sheiner E. 79 : 502-7. Risk factors palsenta previa in southern Nigeria. Ananth CV. Larsen H. El-jallad F. Mabie WC. 5. J Matern Fetal Med 2001. Induced abortion and placenta complications in the subsequent pregnancy. Langer R. Eniola AO.

Parsons M.42 . 22. Am J Perinatol 1985 . et al. Horowitz S. 2 : 39 . 24. 64 : 659 – 61. Sauer M. Parazzini F.Obstet Gynecol 1985 . Interpregnancy interval as a risk factor for placenta accreta/praevia. Risk factors for placenta praevia. Ingardia CJ. 15 : 321 – 6. Dindelli M. Luchini L. Conn Med 2000 . 23. Placenta 1994 . Placenta previa : an analysis of three years experience. Seiler A. 66 : 89 – 92. Wax Jr. Sampson M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful