BAB II TINJAUAN TEORI

A. Posyandu 1. Pengertian Posyandu Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi (Depkes RI, 2006:11) 2. Tujuan Posyandu Tujuan Umum Menunjang percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia melalui upaya pemberdayaan masyarakat. Tujuan Khusus: a. Meningkatnya peran masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB. b. Meningkatnya peran lintas sektor dalam penyelenggaraan Posyandu, terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB. c. Meningkatnya cakupan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB (Depkes RI, 2006:12-13).
8

9

3. Sasaran Posyandu Sasaran Posyandu adalah seluruh masyarakat, utamanya: a. Bayi b. Anak balita c. Ibu hamil, ibu melahirkan, ibu nifas dan ibu menyusui d. Pasangan Usia Subur (Depkes RI, 2006:13). Balita merupakan kelompok umur rawan gizi. Kelompok ini merupakan kelompok umur yang paling menderita akibat gizi (KKP) dan jumlahnya dalam populasi besar. Beberapa kondisi yang menyebabkan anak balita rawan gizi dan rawan kesehatan antara lain sebagai berikut : a. Anak balita berada dalam masa transisi dari makanan bayi ke makanan orang dewasa b. Biasanya anak balita ini sudah mempunyai adik atau ibunya sudah bekerja penuh sehingga perhatian ibu sudah berkurang c. Anak balita sudah main di tanah dan sudah dapat amin di luar rumahnya sendiri sehingga lebih terpapar dengan lingkungan yang kotor dan kondisi yang memungkinkan untuk terinfeksi dengan berbagai macam penyakit d. Dengan adanya posyandu yang sasaran utmanya adalah anak balita adalah sangat tepat untuk meningkatkan gizi dan kesehatan anak balita (Soekidjo Notoatmodjo, 2003:15).

(7) Penyedian obat esensial. pos kesehatan. yaitu: (1) KIA. dan BKKBN). Tujuh kegiatan Posayandu (Sapta Krida Posyandu). (5) Penanggulan diare. yaitu: (1) KIA. 5. 1998:268). (4) Peningkatan gizi. dan lain-lain). Imunisasi. (2) KB. c. Kelembagaan masyarakat (pos desa. d. b. RI. 2006:26-28). b. e. kelompok tumbang/pos tumbang. gizi.10 4. Kes. Pendekatan yang dibutuhkan adalah pengembangan dan PKMD/PHC (Nasrul Effendy. . anak balita 1-4 tahun. Pos pelayanan terpadu merupakan usaha masyarakat dimana terdapat perpaduan antara pelayanan professional dan non professional (oleh masyarakat). Prinsip Dasar Posyandu a.(Depkes RI. Kegiatan Posyandu a. (3) Imunisasi. pos imunisasi. (3) Imunisasi.(Nasrul Effendy. KB. (2) KB. Mempunyai sasaran penduduk yang sama (bayi 0-1 tahun. PUS). (4) Peningkatan gizi. (6) Sanitasi dasar. Adanya kerjasama lintas program yang baik (KIA. 1998:271). Depdagri/Bangdes. (5) Penanggulangan diare. ibu hamil. Lima kegiatan Posyandu (Panca Krida Posyandu). penangulangan diare) maupun lintas sektoral (Dep.

Meja III : Pengisian KMS. 1999 . c. Sistem Lima Meja Posyandu Penyelenggaraan Posyandu dengan system lima meja. Meja II : Penimbangan balita dan ibu hamil. d.1 : Alur penyelenggaraan Posyandu Pendaftaran oleh kader di meja 1 Penimbangan bayi oleh kader di meja 2 Pengisian KMS oleh kader di meja 3 Penyuluhan oleh kader di meja 4 Pelayanan kesehatan oleh petugas kesehatan di meja 5 Sumber : Depkes RI. Meja IV : Penyuluhan perorangan e. Meja I : Pendaftaran. meliputi: a. pencatatan bayi. b. dan pasangan usia subur. 1998:270) Gambar 2. Meja V: Pelayanan oleh tenaga professional meliputi pemberian imunisasi.11 6. pelayanan kontrasepsi (Nasrul Effendy. pemeriksaan kehamilan. ibu hamil. ibu menyusui. pemeriksaan kesehatan dan pengobatan. balita.

Frekuensi penimbangan masih kurang dari delapan kali dalam satu tahun. kegiatan belum bias rutin tiap bulan dan kader aktifnya terbatas. Sudah ada program tambahan. Posyandu Pratama (Warna Merah) Pelaksanaan masih belum mantap. dan dana sehat telah menjangkau lebih dari 50% KK. maka dapat ditetapkan pokok-pokok kegiatan Posyandu sebagai berikut: . bahkan mungkin sudah ada dana sehat yang masih sederhana. Gizi. Posyandu Mandiri (Warna Biru) Kegiatan teratur. KIA. Imunisasi masih rendah yaitu kurang dari 50%. Klasifikasi Posyandu Posyandu diklafikasikan menjadi empat tingkatan. Dana sehat menggunakan prinsip Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) serta mampu berswasembada (Depkes RI.12 7. Posyandu Purnama (Warna Hijau) Dapat melaksankan kegiatan lebih dari delapan kali setiap tahun. d. 1997:53-54) 8. cakupan lima program utama sudah baik. jumlah kader lima orang atau lebih. cakupan program utama yaitu KB. Posyandu Madya (Warna Kuning) Dapat melaksanakan kegiatan lebih dari delapan kali setiap tahun. jumlah kader kurang lebih 5 orang. ada program tambahan. Posyandu pratama dinilai gawat. c. b. Pokok-pokok Kegiatan Posyandu Dengan berpedoman pada dasar pemikiran UPGK. cakupan lima program utamanya lebih dari 50%. yaitu: a.

Apabila berat badan angka sewaktu penimbangan tidak menunjukkan kenaikkan maka in berarti anak tidak tumbuh yang berarti pula sebagai tanda awal tidak terpenuhinya kebutuhan gizi anak (Sjahmien Moehjie. Apabila anak ditimbang berat badanya secara teratur tiap bulan. 2002:118). . Sedangkan gangguan pertumbuhan yang berlangsung dalam waktu yang lama dapat terlihat pada hambatan pertumbuhan tinggi badan (Depkes RI. Garis pertumbuhan anak tersebut dapat dibandingkan dengan garis pertumbuhan tubuh baku yang tertera dalam KMS. 2004:4). atau karena kurangnya makanan yang dikonsumsi. b. dan jika titik-titik yang menunjukan berat badan anak pada KMS dihubungkan.13 a. sakit seperti diare dan infeksi saluran pernafasan. Gangguan pertumbuhan dalam waktu singkat sering terjadi pada perubahan berat badan sebagai akibat menurunnya nafsu makan. Gangguan pertumbuhan dapat terjadi dalam waktu singkat dan dapat terjadi pula dalam waktu yang lama. Pengawasan gizi anak balita Melalui penimbangan berat badan secara teratur dan terus menerus setiap bulan dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). maka akan tergambar apa yang disebut sebagai garis pertumbuhan anak. Pemberian bimbingan dan nasehat kepada ibu sangat penting dalam usaha menumbuhkan perilaku gizi yang positif yang diperlukan dalam kegiatan posyandu.

2005:51). 1 . Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kunjungan Ibu Balita dalam Kegiatan Posyandu. Faktor-faktor Presdisposisi (Presdisposing Factors) 1) Umur ibu Umur sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi partisipasi sosial terdapat pada masa dewasa. termasuk gizi anak balita. wanita hamil. Pelayanan pertolongan gizi diberikan untuk menanggulangi penderita gangguan gizi terutama penderita defiansi vitamin A. ibu menyusui. 10. Sasaran dari kegiatan Posyandu adalah seluruh rakyat dengan prioritas pada golongan anak 0-5 tahun. wanita yang cepat dewasa tetap aktif . 2002:119-122). dan golongan penduduk di daerah rawan pangan (Suharjo. f. Tujuan dan Sasaran Kegiatan Posyandu Tujuan dari kegiatan Posyandu adalah meningkatkan dan membina keadaan gizi seluruh anggota masyarakat melalui partisipasi dan pemerataan kegiatan. Perilaku Individu a. penderita anemia gizi dan pencegahan terjadinya dehidrasi pada anak yang menderita diare. e. Motivasi dan pelayanan KB untuk menunjang kegiatan Posyandu.14 c. Pemanfaatan pekarangan guna membantu dan mendorong tumbuhnya swadaya keluarga untuk perbaikan gizi (Sjahmian Moehji. B. d. golongan pekerja terutama yang berpenghasilan rendah. perubahan tingkah laku yang mendukung tercapainya perbaikan gizi. Kegiatan rujukan penderita penyakit infeksi ke Puskesmas terdekat atau rumah sakit sebagai pelengkap kegiatan Posyandu.

2) Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. Penelitian Sihol P . Pengetahuan menurut HR Bloom adalah hasil tahu yang dimiliki individu atau dengan memperjelas fenomena sekitar. pendengaran. Hurlock. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. b. 1980:263). c. Sesuatu yang ada atau dianggap adab. penciuman. Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior) (Soekidjo Notoatmodjo. dan itu terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Hasil persesuian antara induksi dengan deduksi. Sedangkan menurut Indra Jaya pengetahuandidefinisikan sebagai berikut : a. Hasil kodrat manusia. 1980). Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Menurut Suchman (1966) pengetahuan kesehatan berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan (Greenley. rasa dan raba.15 dibidang sosial seperti ikut serta dalam Posyandu (Elizabeth B.Sesuatu hasil persesuaian subjek dan objek. Para ibu muda merupakan suatu kelompok pendukung sukarela yang besar pada umumnya perhatian mereka sangat besar dan mudah diberi instruksi untuk ikut serta dalam kegiatan Posyandu (Alam B dan Robert J. 2003:121). yakni indera penglihatan. 1985:44).

pendidikannya dan sebagainya (Soetjiningsih. 4) Pekerjaan ibu Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. 2005:98). 1990). Pendidikan formal dari ibu rumah tangga seringkali mempunyai asosiasi yang positif dengan pengembangan pola-pola konsumsi makanan dalam keluarga. Adanya Hubungan Pengetahuan. maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik. karena dengan pendidikan yang baik. Berdasarkan penelitian Sanjur tahu 1982 beberapa studi menunjukkan bahwa jika tingkat pendidikan dari ibu meningkat pengetahuan nutrisi dan praktik-praktik nutrisi makin meningkat. bagaimana menjaga kesehatan anaknya. Tetapi korelasi itu tidak selalu linier karena untuk makanan yang cukup jarang merupakan hasil pengetahuan semata-mata. bahkan seringkali tidak disadari oleh pelakunya. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang .16 Hutagalung (1992) pengetahuan ibu mempengaruhi perilaku menimbangkan anaknya di Posyandu. 3) Pendidikan Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak. berkembang dan berubah. ibu rumah tangga yang mempunyai pengetahuan nutrisi akan memilih makanan yang lebih bergizi daripada yang kurang bergizi (Mulyono Joyomartono. Kebutuhan ibu bisa bermacam-macam. sikap dengan praktek penggunaan posyandu oleh ibu balita di Kotamadya Ujung Pandang (Thata. 1998:100). M.

anak dan hal-hal yang menyangkut tetek bengek rumah tangganya (Pandji Anoraga. masyarakat. dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawanya kepada sesuatu keadaan yang lebih memuaskan dari pada keadaan yang sebelumnya (Pandji Anoraga. Wanita mempunyai mempunyai beban dan hambatan lebih berat dibandingkan rekan prianya. Jumlah anak adalah banyaknya (bilangan atau sesuatu . suami. 2000:253). Adapun waktu kerja bagi pekerja yang waktu siang 7 jam satu hari dan 40 jam satu minggu untuk 6 hari kerja dalam satu minggu. 2003:13). dan lain-lain (Siswanto Sastrohadiwiryo. Ibu yang bekerja mempunyai waktu kerja sama seperti dengan pekerja lainnya. 2002:41). Bagi pekerja wanita. 1998:121). keduanya akan tetap meninggalkan anak-anaknya untuk sebagian besar waktu (Neil Niven. bagaimanapun juga mereka adalah ibu rumah tangga yang sulit lepas begitu saja dari lingkungan keluarga. Aspek sosio ekonomi akan berpengaruh pada partisipasi masyarakat di Posyandu. 5) Jumlah anak dalam keluarga Anak adalah keturunan yang kedua (Departemen Pendidikan Nasional.17 hendak dicapainya. Sisa waktunya 16-18 jam digunakan untuk kehidupan dalam keluarga. Semua ibu yang bekerja baik di rumah atau luar rumah. atau dengan 8 jam satu hari dan 40 jam satu minggu untuk 5 hari kerja dalam satu minggu. Dalam arti wanita harus lebih dulu mengatasi urusan keluarga. tidur. 1998:11).

Jumlah anak adalah banyaknya keturunan dalam satu keluarga. Jadi yang dimaksud pendapatan dalam penelitian ini adalah suatu tingkat . Jumlah anak yang banyak pada keluarga akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima.18 yang dikumpulkan menjadi satu) (Departemen Pendidikan Nasional 2002:480). Kecukupan gizi keluarga berkaitan erat dengan besar kecilnya jumlah anggota keluarga. Menurut Mulyanto Sumardi dan Hans Diater Evers (1982:20). 1998:10). 2002:122). Jadi jumlah anak adalah banyaknya keluarga dalam satu keluarga. lebih-lebih jika jarak anak terlalu dekat (Soetjiningsih. 2002:117). usaha untuk mengatur jarak dan jumlah kelahiran haruslah merupakan bagian dari usaha peningkatan kemampuan keluarga untuk menyediaakan kecukupan gizi bagi setiap anggota keluarga (Sjahmien Moehji. pendapatan yaitu seluruh penerimaan baik berupa uang maupun barang baik dari pihak lain maupun dari hasil sendiri. Jarak kelahiran anak yang terlalu rapat merupakan salah satu faktor yang mempertinggi resiko anak akan menderita KKP. Oleh karena itu. Karenanya motivasi dan pelayanan KB sangat diperlukan untuk menunjang kegiatan UPGK (Sjahmien Moehji. 6) Pendapatan Pendapatan adalah hasil pencarian atau perolehan usaha (Departemen Pendidikan Nasional 2002:236).

karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun sekunder (Soetjiningsih. sedangkan dalam sikap negative terdapat kecenderungan menjauhi. 2003:130). adanya peraturan atau perundangan yang menjadi penghambat akan membatasi keberdayaan orang perorang maupun masyarakat untuk merubah perilakunya. Sikap adalah kesiapan pada seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu. 1998:10). Manifestasi sikap tidak dapat dilihat langsung tetapi hanya dapat di tafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup (Soekidjo. Sikap yang ada pada seseorang yang memberikan gambaran corak tingkah laku . Menurut budioro (2002:108) keterbatasan sarana dansumber daya. Sikap positif. Sikap merupakan penentu penting dalam tingkah laku. menghindari. Pendapatan keluarga yang memadai akan menujang tumbuh kembang anak dan kesadaran anak. membenci. tidak menyukai obyek tertentu (Sarlito Wirawan Sarwono. menyenangi. rendahnya penghasilan. kecenderungan tindakan adalah mendekati. mengharapkan obyek tertentu. 2000:94).19 penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan pokok dan pekerjaan sampingan dari orang tua dan anggota keluarga lainnya. 7) Sikap Sikap adalah merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek.

dan ada fasilitas imunisasi yang mudah dicapai. Berdasar pada sikap seseorang. b. ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas kesehatan yang dapat memberikan pelayanan . Misalnya sikap ibu yang sudah positif terhadap imunisasi tersebut harus mendapat konfirmasi dari suaminya. 2003:133). orang akan dapat menduga bagaiman respon atau tindakan yang akan diambil tindakan oleh orang tersebut terhadap suatu masalah atau keadaan yang dihadapinya. agar ibu tersebut mengimunisasikan anaknya. 2003:90). antara lain fasilitas. perilaku masyarakat yang merugikan kesehatan ataupun gaya hidup yang dapat merusak tatanan masyarakat dalam bidang kesehatan. yang kesemuanya itu tidak terlepas dari faktor lingkungan dimana masyarakat itu berada.20 seseorang. Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. Faktor-faktor Pemungkin (Enabling Factors) 1) Keterjangkauan Fasilitas Masalah kesehatan masyarakat terjadi tidak terlepas dari faktorfaktor yang menjadi masa rantai terjadinya penyakit. Disamping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan dari pihak lain (Soekidjo. Jadi dalam kondisi wajar-ideal gambaran kemungkinan tindakan atau tingkah laku yang diambil sebagai respon terhadap suatu masalah atau keadaan yang dihadapkan kepadanya dapat diketahui dari sikapnya (Sugeng Hariyadi. Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan.

2001:147). 1998:296). Posyandu dapat dilaksanakan di pos pelayanan yang sudah ada. 2) Jarak Posyandu Menurut Deprtemen Pendidikan Nasional (2002:456) Jarak adalah ruang sela (panjang atau jauh) antara dua benda atau tempat yaitu jarak antara rumah dengan Posyandu. Hasil penelitian tentang kelengkapan sarana atau fasilitas posyandu dibuktikan oleh peneliti yang berkesimpulan bahwa semakin lengkap saran yang digunakan di Posyandu. Posyandu sebaiknya berada pada tempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan ditentukan oleh masyarakat sendiri. 1992). 1998:8). keluarga. atau di tempat khusus yang dibangun masyarakat (Nasrul Effendy.21 kesehatan kepada masyarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sutanto (2006) menunjukan bahwa responden yang mengaku jarak tempuh . disamping faktor-faktor yang sudah dibawa sejak lahir sehingga menjadi masalah tersendiri bila dilihat dari segi individu. balai desa. kelompok. balai RT. Jangkauan pelayanan Posyandu dapat ditingkatkan dengan bantuan pendekatan maupun pemantauan melalui kegiatan Posyandu (Budioro. semakin sering ibu menimbangkan anaknya di Posyandu (Sihol H. maupun masyarakat secara keseluruhan (Nasrul Effendy. rumah penduduk. Faktor biaya dan jarak pelayanan kesehatan dengan rumah berpengaruh terhadap perilaku penggunaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (Kresno. 2005).

terampil dalam memberikan pelayanan kesehatan dapat menyababkan ibuibu balita rajin datang dan memanfaatkan pelayanan kesehatan di Posyandu (Yon Ferizal dan Mubasysyir Hasanbasri. et all (1975) dalam Greenlay (1980) yang mengatakan bahwa jarak merupakan komponen kedua yang memungkinkan seseorang untuk memanfaatkan pelayanan pengobatan. Posyandu yang dilakukan oleh kader Posyandu yang terampil akan mendapat respon positif dari ibu-ibu balita sehingga kader tersebut ramah dan baik. dari 80 orang responden yang memanfaatkan posyandu 77 orang diantaranya datang ke posyandu hanya dengan jalan kaki sedangkan sisanya 3 orang mengatakan harus menggunakan kendaraan untuk bisa mengikuti kegiatan posyandu. Demikian juga menurut Andersen. 2007:10). Kader Posyandu yang ramah. Pendapat yang sama juga ditemukan dalam penelitian Setowaty (2000) di Puskesmas Pal V Kota Pontianak yang menemukan keluarga yang tinggalnya dekat dengan pelayanan pengobatan akan memanfaatkan pelayanan 4. . c.22 ke tempat pelaksanaan posyandu dekat akan lebih banyak memanfaatkan posyandu dibandingkan dengan responden yang jarak tempuhnya jauh.267 kali dibandingkan dengan yang bertempat tinggal jauh. Faktor-faktor Penguat (Reinforcing Factors) Peran Kader Keterampilan petugas Posyandu merupakan salah satu keberhasilan dari system pelayanan di Posyandu. Menurut Koenger (1983) keterjangkauan masyarakat termasuk jarak akan fasilitas kesehatan akan mempengaruhi pemilihan pelayanan kesehatan.

1985:10-13). 2. 1) Peranan Langsung Menyelenggarakan kegiatan bulanan Posyandu: (1) Pencatatan balita. (3) Pencatatan hasil penimbngan balita. (4) Penyuluhan atas dasar hasil penimbangan balita. mampu menggerakan masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan Posyandu. Program pembangunan kesehatan. mampu melaksanakan kegitan. 2) Peranan tidak langsung Penggerak utama masyarakat dalam kegiatan posyandu (Depkes RI. bekerja sukarela. (8) Melaporkan kegiatan. dapat mencapai tujuan program apabila dari kedua belah pihak saling berpartisipasi . (5) Penyuluhan ibu hamil dan ibu menyusui. Perilaku Masyarakat Pada hakikatnya bila sesuatu program pembangunan kesehatan dilaksanakan berlangsung suatu proses interaksi antara provider dengan recipient. Provider memilki sistem kesehatan kedokteran. bekerja sukarela. Kader mempunyai peranan langsung dan tidak langsung dalam melaksanakan kegiatan. (6) Pemberian makanan tambahan.23 Kader gizi berasal dari anggota masyarakat. termasuk di dalamnya upaya peningkatan kedudukan gizi. yang masing-masing memiliki latar belakang sosial budaya sendirisendiri. (7) Peran serta rumah. mampu melaksanakan kegitan. (2) Penimbangan balita. recipient memilki sistem kesehatan yang berlaku di komunitasnya. mampu menggerakan masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan.

3. keluarganya dan masyarakat (Depkes RI. menjadi feel-need bagi masyarakat yang bersangkutan. terhadap kesehatan atau kesejahteraan dirinya. Untuk memperlancar pelaksanaan program masyarakat target yang dapat menghambat. yang berdasarkan pertimbangan provider adalah need. status sosial. Prinsip-prinsip pembangunan masyarakat pedesaan perlu diperhatikan prinsip-prinsip itu antara lain: a. Berdasarkan pengalaman. kesehatan dan harga. 2005:120-121). provider hendaknya memahami faktor-faktor kebiasaan makan orang-orang dari masyarakat target. Makanan apa yang dipilih tergantung pada skala nilai yang diacu (Mulyono Joyomartono. karena sesuai dengan felt-need. Menurut teori ini pemilihan makanan didasari oleh nilai intelektual dan emosional dan dipengaruhi oleh rasa. Ada konsep kebiasaaan makan yang dapat dijadikan pedoman. Partisipasi Masyarakat Partisipasi masyarakat adalah menumbuhkan dan meningkatkan tanggungjawab individu. suatu program pembangunan masyarakat terlaksana dengan lancer keren melibatkan peran serta masyarakat dalam kegiatankegiatan. . antara lain teori channel dari Kurt Lewin. c. keluarga. Pihaknya perlu memahami latar belakang sosial budaya dan psikologi recipient. dan yang mendorong baik yang terdapat dalam masyarakat target maupun staf birokrasi inovasi. Nilai-nilai berinteraksi satu dengan yang lain. Dalam usaha memperbaiki kebiasaan makan anak balita dan ibu menyusui.24 aktif. 1987:2). b.

Tingkat partisipasi masyarakat karena tuntutan akan hak azasi dan tanggungjawab (Depkes RI. Tingkat partisipasi masyarakat karena perintahatau karena paksaan. Tingkat partisipasi masyarakat karena identifikasi karena ingin meniru. d. persepsi masyarakat yang sangat berbede dengan persepsi provider tentang masalah kesehatan yang dihadapi. Faktor penghambat dalam partisipasi masyarakat berasal dari masyarakat dan pihak provider. persepsi yang berbede antara provider dan masyarakat. Dari masyarakat dapat terjadi karena kemiskinan. susunan masyarakat yang sangat heterogen.25 Partisipasi masyarakat dibagi menjadi lima tingkatan. e. Penerapan (perilaku) Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2002:1180) Penerapan adalah hasil menerapkan sesuatu. b. sistem pengambilan keputusan dari atas ke bawah. dan pelaporan yang tidak obyektif (Depkes RI. Tingkat partisipasi masyarakat karena imbalan atau karena insensitif. c. 4. dalam hal ini adalah penerapan kunjugan . 1987:18). 1987:20). Tingkat partisipasi masyarakat karena kesadaran. 1987:20). pengalaman pahit masyarakat tentang program sebelumnya. adanya kepentingan tetap. Partisipasi masyarakat didorong oleh faktor yang berat dalam masyarakat dan pihak provider yang akan mempengaruhi perubahan perilaku yang merupakan faktor penting dan besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan (Depkes RI. Sedangkan hambatan yang ada dalam pihak provider adalah terlalu mengejar target. yaitu: a. kesenjangan social.

26 posyandu. et al dalam Soekidjo Notoatmodjo (2003:134) proses perubahan perilaku pada hakikatnya adalah sama dengan proses belajar. Di samping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain misalnya suami atau istri. Sepanjang masa hidupnya semua makhluk hidup termasuk manusia akan mengalami perubahan perilaku. Setelah stimulus mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti dan dilanjutkan ke proses berikutnya. Menurut Hosland. orang tua atau mertua sangat penting 1) Proses perubahan perilaku. Sikap ibu yang sudah positif terhadap kunjungan posyandu tersebut harus mendapat konfirmasi dari suaminya dan ada fasilitas posyandu yang mudah dicapai agar ibu tersebut datang dalam kegiatan posyandu. c. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada individu yang terdiri dari: a. . Perubahan perilaku ini dilakukan untuk menghadapi kondisi alam sekitarnya yang berubah-ubah. Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau tidak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus efektif. Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan dan untuk terwujudnya suatu tindakan yang nyata perlu pendukung atau kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas. b. Organisme tersebut kemudian mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang diterimanya (bersikap).

Presdiposing factors (faktor-faktor predisposisi) meliputi umur ibu. sebagai berikut: Faktor-faktor ynga berhubungan dengan kunjungan ibu balita dalam kegiatan Posyandu dibagi menjadi predisposing factors. Adanya dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku). dan jumlah anak. Kerangka teori secara lebih lanjut dapat dilihat pada bagan berikut: . pendidikan ibu. sikap ibu. D. dan reinforcing factors. pengetahuan ibu. maka disusun kerangka teori mengenai partisipasi ibu balita dalam kegiatan Posyandu. Enabling factors (factor-faktor pendukung) yang meliputi keterjangkauan fasilitas.27 d. Peran kader turut serta mempengaruhi partisipasi ibu balita dalam kegiatan Posyandu. jarak posyandu. Kerangka Teori Berdasarkan uraian dalam landasan teori. enabling factors. dan perilaku masyarakat yang mana dilator belakangi oleh faktor sosial dan budaya yang juga ikut berperan dalam pelaksanaan kegiatan posyandu. serta reinforcing factors (factor penguat) yaitu peran kader.

sikap. pendapatan) Enabling factor (keterjangkauan fasilitas. jarak Reaksi tertutup (perubahan sikap) Posyandu dari rumah) Reinforcing factor (Peran kader) Reaksi terbuka (perubahan perilaku) Perubahan negatif Perubahan positif Tidak melakukan Melakukan kunjungan posyandu kunjungan posyandu Gambar 2.28 Predisposing factor (umur. et al (1953) dalam Soekidjo Notoatmodjo (2003:96&135). pengetahuan. pendidikan. .2 Kerangka Teori Dimodifikasi dari: Teori Lawrence Green (1980) dan Hosland. Stimulus Perhatian Pengertian Penerimaan jumlah anak. pekerjaan.

Ada hubungan antara umur ibu balita dengan kunjungan ibu balita dalam kegiatan posyandu. Ada hubungan antara pengetahuan ibu balita dengan kunjungan ibu balita dalam kegiatan posyandu. 3.3 Kerangka Konsep 2. Kerangka Konsep Variabel bebas Faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan ibu balita: Umur ibu balita Variabel Terikat Pendidikan ibu balita Kunjungan ibu balita dalam kegiatan posyandu Sikap ibu balita Pengetahuan ibu balita Jumlah anak Gambar 2.29 E. Ada hubungan antara pendidikan ibu balita dengan kunjungan ibu balita dalam kegiatan posyandu. 2.4 Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah 1. .

30 4. Ada hubungan antara jumlah anak ibu balita dengan kunjungan ibu balita dalam kegiatan posyandu. Ada hubungan antara sikap ibu balita dengan kunjungan ibu balita dalam kegiatan posyandu. . 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful