You are on page 1of 72

DEPARTEMEN KEHUTANAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI WILAYAH INDONESIA BAGIAN BARAT

BP2TPDAS 23 34.5 12 2002

LAPORAN KAJIAN DETEKSI TINGKAT KEKRITISAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PJ DAN SIG

PENGKAJIAN DAN PENERAPAN HASIL PENELITIAN KEHUTANAN BP2TPDAS-IBB SURAKARTA SUMBER DANA DIK-S DR TAHUN DINAS 2002 SURAKARTA, DESEMBER 2002

KAJIAN DETEKSI TINGKAT KEKRITISAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PJ DAN SIG Oleh : Beny Harjadi, Agus Wuryanto, Nining Wahyuningrum

Sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS, kriteria dan indikator kinerja DAS perlu ditentukan karena keberhasilan maupun kegagalan hasil kegiatan pengelolaan DAS dapat dimonitor dan dievaluasi melalui kriteria yang telah ditetapkan. Indikator kriteria penggunaan lahan, salah satunya ditetapkan berdasarkan indeks erosi dan kemampuan penggunaan lahan, untuk analisis tingkat kekritisan lahan. Adapun identifikasi dan klasifikasi tingkat kekritisan lahan dalam penetapannya belum ada kriteria yang tetap, akibatnya maka perhitungan luasan lahan kritis selalu berubah sepanjang tahun sesuai kebutuhan. Dalam kajian berikut akan dicobakan formula untuk penetapan tingkat kekritisan lahan dengan berbagai kriteria antara lain : kelas KPL (Kemampuan Penggunaan Lahan) dan selisih tanah yang tersisa (perbedaan nilai toleransi erosi dengan besarnya erosi) dibandingkan dengan analisis tingkat kekritisan lahan dengan peralatan penginderaan jauh. Tujuan kajian deteksi tingkat kekritisan lahan dengan menggunakan penginderaan jauh (PJ) dan sistem informasi geografis (SIG), adalah : 1. menetapkan kriteria lahan kritis 2. menginventarisasi sumber daya lahan 3. mengklasifikasi lahan kritis berdasarkan kriteria lahan kritis 4. metode klasifikasi lahan kritis dengan PJ 5. memetakan lahan kritis suatu Sub DAS dengan SIG. Untuk mencapai tujuan tersebut maka perlu ditetapkan sasaran kegiatan yaitu tersedianya teknik PJ dan SIG dalam rangka penanggulangan degradasi SDA (Sumber Daya Alam) dan untuk menunjang otonomi daerah. Pengumpulan dan pengolahan data diperoleh dari interpretasi citra satelit secara visual maupun dengan kompute, disamping yang utama dari kegiatan cheking lapangan : a. Survei lapangan dengan mendatangi beberapa sampel yang telah ditetapkan 25 % dari total unit lahan yang ada. b. Melengkapi data biofisik sebagai bahan untuk analisis kondisi lahan kritis c. Penetapan sampel dilakukan menyebar dan mewakili seluruh bentuk lahan, kelerengan, dan variasi penutupan lahan d. Setiap titik sampel dilakukan pengumpulan parameter utama yang terkait dengan tingkat kekritisan lahan (nilai T, nilai K, KPL, dan TBE). Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan cara sebagai berikut : a. Membandingkan tingkat efisiensi dan efektifitas antara pengumpulan data biofisik pada pelaksanaan survei lapangan, interpretasi foto udara, dengan analisis citra satelit. b. Membandingkan tingkat efisiensi dan efektifitas data tingkat kekritisan lahan yang diperoleh dari data sekunder hasil analisis KPL dengan hasil perhitungan perbedaan erosi dengan toleransi erosi. KATA KUNCI : Lahan Kritis, Kriteria Lahan Kritis, Penginderaan Jauh, SIG

ii

KATA PENGANTAR

Kegiatan penelitian yang berjudul : KAJIAN DETEKSI TINGKAT KEKRITISAN LAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PJ DAN SIG dengan menggunakan perangkat

penginderaan jauh dan sistem informasi geografis bertujuan dalam rangka : 6. menetapkan kriteria lahan kritis 7. mengklasifikasi lahan kritis berdasarkan kriteria lahan kritis 8. metode klasifikasi lahan kritis dengan PJ 9. memetakan lahan kritis lokasi penelitian dengan SIG. Dengan telah selesainya laporan ini disampaikan ucapan terimakasih yang sebesarbesarnya kepada : 1. Atasan Langsung Bendahara Kegiatan Pengkajian dan Penerapan Hasil Penelitian Kehutanan DIK-S DR 2002 BTPDAS Surakarta, beserta staf Sekretaris keproyekan. 2. Tim yang telah menyusun dan menyelesaikan kajian ini, antara lain : Ir.Beny Harjadi, MSc., yang telah menulis laporan ini, serta anggota tim lainnya : Drs. Agus Wuryanto,MSc, Ir. Nining Wahyuningrum. 3. Para teknisi (Yusuf I.W., Sudirman, Ragil Bambang WMP, M.Sidiq) serta seluruh staf BP2TPDAS-IBB yang telah mendukung penyelesaian teknis maupun non teknis sehingga kagiatan ini dapat berjalan dengan lancar. Akhirnya laporan berikut tidak terlepas dari segala kekurangannya, sehingga saran dan kritik dalam rangka meningkatkan kualitas penelitian di masa yang akan datang sangat diharapkan.

Surakarta, Desember 2002 KEPALA BALAI

Ir. C. NUGROHO S. PRIYONO, MSc. NIP. 710. 008. 384

iii

DAFTAR ISI Hal RINGKASAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Hasil yang Telah Dicapai C. Tujuan dan Sasaran Kegiatan D. Keluaran dan Dampak Hasil II. TUJUAN PUSTKA A. Permasalahan Pengelolaan DAS B. Kriteria Lahan Kritis C. Penginderaan Jauh untuk Deteksi Lahan Kritis D. Analisis Citra Satelit Secara Visual dan Komputerisasi III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian B. Bahan dan Alat C. Rancangan Penelitian D. Pengumpulan dan Pengolahan Data E. Analisa Data IV. RINCIAN BIAYA V. PELAKSANAAN KEGIATAN A. Persiapan B. Pelaksanaan C. Pelaporan VI. KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ii iii iv v vi vii 1 1 1 2 2 3 3 5 10 11 14 14 14 14 15 18 19 20 20 23 27 49 50 51

iv

DAFTAR TABEL

Hal

1.

Tabel 1.

Tingkat Kekritisan Lahan Berdasarkan Kelas Kemampuan Lahan dan Bentuk Penggunaan Lahan Kriteria Lahan Kritis Berdasarkan Biofisik Tanah Biaya Penelitian yang Diperlukan untuk Menyelesaikan Kajian Deteksi Tingkat Kekritisan Lahan dengan Menggunakan PJ dan SIG Tahun 2002 Kedalaman Tanah dan Regolit di Sub DAS Alang Luasan dan Prosentase Batuan Singkapan dan Batuan Permukaan Kelas Kemiringan Lereng di Sub DAS Alang Luasan Ordo Tanah di Sub DAS Alang Kondisi Drainase di Sub DAS Alang Luasan Masing-masing Tipe Batuan di Sub DAS Alang Jenis dan Kondisi Teras di Sub DAS Alang Tingkat Erosi di Sub DAS Alang Kelas KPL Lahan di Sub DAS Alang Kondisi Kenampakkan pada Citra Landsat TM dengan analisis Secara Visual dari Cetak Kertas di Sub DAS Alnag, Wonogiri Karakteristik Sinyal Radiometri Masing-masing Jenis Penutupan Lahan di Sub DAS Alang, Wonogiri Perbandingan Deteksi Lahan Kritis Secara Visual dan Dengan Komputerisasi

7

2. 3.

Tabel 2. Tabel 3.

10 19

4. 5. 6. 7. 8 9.

Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Tabel 9.

28 29 31 34 35 36 37 38 39 41

10. Tabel 10. 11. Tabel 11. 12. Tabel 12. 13. Tabel 13.

14. Tabel 14.

42

15. Tabel 15.

43

v

DAFTAR GAMBAR

Hal 1. 2. 3. Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Terbentuknya Lahan Kritis (BTPDAS, 1986) Bagan Alur Kegiatan Analisa Klasifikasi Citra Satelit Lahan Kristis Batuan Kapur Oolitik Limestone yang Porous Penyebab Lahan Tidak Dapat Menyimpan Air Kondisi Lahan Miring Merupakan Salah Satu Penyebab Lahan Cepat Kritis Peta Prosentase Batuan Permukaan dan Batuan Singkapan di Sub DAS Alang, Wonogiri Peta Kelas Kemiringan Lereng di Sub DAS Alang, Wonogiri Peta KPL (Kemampuan Penggunaan Lahan) Sub DAS Alang, Wonogiri Citra Satelit TM Sub DAS Alang, Wonogiri 8 17 24

4.

Gambar 4.

24

5.

Gambar 5.

30

6. 7.

Gambar 6. Gambar 7.

32 40

8.

Gambar 8.

44

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Hal

1.

Lampiran .1.

Kerangka Logis kegiatan Proyek-Proyek Penelitian Teknologi 51 Pengelolaan DAS Kawasan Barat Indonesia

2.

Lampiran .2.

Peranan PJ (penginderaan Jauh) dan SIG (Sistem Informasi 52 Geografis dalam Identifikasi Tingkat Kekritisan Lahan

3.

Lampiran .3.

Kartu Lapangan ISDL

53

vii

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS, kriteria dan indikator kinerja DAS perlu ditentukan karena keberhasilan maupun kegagalan hasil kegiatan pengelolaan DAS dapat dimonitor dan dievaluasi melalui kriteria yang telah ditetapkan. Untuk analisis tingkat kekritisan lahan, Indikator kriteria penggunaan lahan salah satunya ditetapkan berdasarkan indeks erosi dan kemampuan penggunaan lahan,. Adapun identifikasi dan

klasifikasi tingkat kekritisan lahan dalam penetapannya belum ada kriteria yang tetap, akibatnya maka perhitungan luasan lahan kritis selalu berubah sepanjang tahun sesuai kebutuhan. Berkenaan dengan hal tersebut di atas maka perlu dilakukan kajian untuk mengidentifikasi lahan kritis dan penetapan tingkat kekritisannya dengan formula yang tetap. Dalam kajian berikut akan dicobakan formula untuk penetapan tingkat kekritisan lahan dengan berbagai kriteria antara lain : kelas KPL (Kemampuan Penggunaan Lahan) dan selisih tanah yang tersisa (perbedaan nilai toleransi erosi dengan besarnya erosi) dibandingkan dengan analisis tingkat kekritisan lahan dengan peralatan penginderaan jauh. Bertitik tolak dari permasalahan tersebut di atas maka perlu dilakukan Kajian Deteksi Tingkat Kekritisan Lahan dengan Menggunakan PJ dan SIG dengan target pencapaian yaitu untuk melihat penyebaran luasan dan tingkat kekritisan lahan dengan bantuan PJ (Penginderaan Jauh) dan SIG (Sistem Informasi Geografi).

B. Hasil yang Telah Dicapai Kajian ini merupakan tahun pertama sehingga belum ada hasil yang telah dicapai. Sedangkan untuk kegiatan kajian yang terkait dengan penginderaan jauh dan SIG yang pernah dilakukan BPPTPDAS Surakarta antara lain : Deteksi penurunan perubahan tanaman hutan di Pontianak Kajian kondisi penutupan lahan di dalam dan diluar kawasan hutan Kondisi penutupan lahan pada sistem TPTI dan TJTI di Kalimantan Timur Deteksi daerah bekas kebakaran hutan di Jambi Deteksi perubahan penutupan lahan DAS di Wonogiri.

1

C. Tujuan dan Sasaran Kegiatan Tujuan kajian deteksi tingkat kekritisan lahan dengan menggunakan penginderaan jauh dan sistem informasi geografis, adalah : 10. menetapkan kriteria lahan kritis 11. mengklasifikasi lahan kritis berdasarkan kriteria lahan kritis 12. metode klasifikasi lahan kritis dengan PJ 13. memetakan lahan kritis lokasi penelitian dengan SIG. Dari tujuan tersebut diharapkan dapat diperoleh teknik PJ dan SIG dalam rangka mengidentifikasi tingkat kekritisan lahan dan sebaran luas lahan kritis pada suatu DAS (Daerah Aliran Sungai).

D. Keluaran dan Dampak Hasil Keluaran yang diharapkan dari kegiatan kajian tahun 2002 antara lain : 1. tersedianya informasi data fisik lahan sebagai parameter untuk menetapkan tingkat kekritisan lahan dengan melihat kelas kemampuan penggunaan lahan (KPL) dan tingkat bahaya erosi (TBE). 2. tersedianya peta tingkat kekritisan lahan dalam bentuk penyebaran dan luasan masing-masing lahan kritis Dampak dari kegiatan tersebut adalah kemampuan mendeteksi tingkat kekritisan lahan secara mudah dan akurat dalam rangka membantu perencanaan dengan menyediakan data yang terbaru setiap tahunnya dari data penginderaan jauh, baik dalam bentuk cetak kertas (hard copy) maupun dalam bentuk dijital (soft copy). Lampiran 1. Kerangka logis kajian ini disajikan pada

2

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Permasalahan Pengelolaan DAS Pengelolaan DAS adalah upaya manusia dalam mengendalikan hubungan timbal balik diantara sumber daya alam yang dapat diperbaharui berupa hutan, tanah dan air dengan manusia dan segala aktivitasnya, yang dimaksudkan untuk membina kelestarian dan ekosistem serta meningkatkan manfaat sumber daya alam bagi kehidupan manusia (Penning, Agus, and Kerr, 1998). Sebagai bagian dari pembangunan wilayah pengelolaan DAS sampai saat ini masih menghadapi berbagai masalah yang komplek dan saling terkait (Departemen Kehutanan, 2000). Permasalahan tersebut meliputi masalah teknis (erosi, banjir, kekeringan) maupun non teknis (keterpaduan antar sektor, antar instansi maupun kesadaran masyarakat). Sehingga dengan

demikian untuk mencapai tujuan pengelolaan DAS salah satunya dengan mengoptimalkan sumber daya tanah dengan cara konservasi tanah. Konservasi atau pengawetan tanah merupakan upaya manusia untuk mempertahankan, meningkatkan, merehabilitasi, dan mengembalikan daya guna lahan sesuai dengan peruntukkannya dengan cara mengendalikan erosi (Abdullah, 1996). Pengelolaan DAS khususnya dalam konservasi tanah ditentukan prioritas penanganan pada lahan-lahan yang kritis. Dimana batasan dari lahan kritis belum ada kriteria yang baku sehingga sering terjadi luasan lahan kritis berubah-ubah. Dalam menyikapi hal tersebut perlu ada ketentuan baku tentang lahan kritis dan kriterianya. Permasalahan DAS antara lain : a. kondisi DAS menurun, penutupan lahan menurun dan konservasi tanah jelek pada lahan miring, karena erosi berat mengakibatkan solum dangkal, batuan singkapan terbuka, sehingga produktivitas lahan menurun b. banjir dan kekeringan, ketidakmampuan tanah menyimpan air maka akan terjadi banjir pada saat musim penghujan dan akan terjadi kekeringan pada musim kemarau karena tidak adanya cadangan air. c. Erosi dan sedimentasi, rehabilitasi lahan dengan teknik konservasi tanah dan air yang tidak segera dilaksanakan akan memperbesar erosi dan sedimentasi yang terjadi yang akan mengakibatkan pendangkalan waduk dan produktivitas menurun. d. Pencemaran air sungai, erosi besar-besaran dari permukaan lahan yang membawa unsur-unsur beracun dari pupuk maupun pestisida akan menyebabkan pencemaran air sungai, disamping limbah dari pabrik maupun rumah tangga.

3

e. Pengelolaan tidak terpadu, pengelolaan dalam DAS yang seharusnya melibatkan seluruh departemen dan interdisiplin ilmu jika ada keterpaduan dan sinkronisasi antara unit lembaga satu dengan lainnya akan terjadi pemborosan dana dan hasil tidak maksimal. f. Koordinasi lemah, ketiadaan koordinasi antar satu lembaga dengan lembaga yang lain akan menimbulkan masalah DAS yang serius karena baik buruknya DAS tergantung bagaimana pelaku di dalam DAS mengelolanya. g. Kesadaran masyarakat lemah, kesadaran masyarakat untuk mempertahankan lahannya agar tetap produktif kadang ada kendala biaya disamping itu juga kesadaran yang belum tumbuh optimal. h. Dana pemerintah terbatas, keterbatasan dana dari pemerintah jika tidak diimbangi pendanaan secara swadaya dari masyarakat dalam mengelola lahannya masing-masing maka akan berakibat timbulnya masalah DAS. i. Institusi belum mantap, ketidakmantapan institusi dengan visi misi yang tidak jelas tentang pengelolaan DAS, seolah-olah tidak ada institusi yang bertanggungjawab terhadap baik buruknya suatu DAS. j. Peraturan tumpang tindih, peraturan yang tumpang tindih antara pusat dan daerah karena kepentingan yang berbeda akan terjadi benturan yang mengakibatkan masalah DAS semakin serius dan tidak pernah tuntas. k. Konflik antar sector, kepentingan antar sector atau kegiatan masing-masing institusi untuk saling mengambil peran dalam pengelolaan DAS dengan mengabaikan aspek lainnya akan terjadi tarik ulur kepentingan. l. Hulu hilir belum serasi, daerah hilir yang banyak menerima manfaat baik dari hulu Karena endapan Lumpur yang membawa unsur-unsur hara dan suplai air dari atas ke daerah bawah perlu ada kontribusi dari daerah hilir untuk kompensasi pada daerah hulu yang telah banyak berkorban. m. Pengembangan SDM belum sinkron dengan konservasi, SDM yang tersedia maupun SDM yang dihasilkan dari pelatihan belum dapat menjawab tantangan dan permasalahan DAS karena tidak semuanya terlibat langsung dalam pengelolaan lahan.

B. Kriteria Lahan Kritis

4

Lahan kritis ditinjau dari kesuburan tanah, merupakan lahan pertanian dengan suatu kondisi sistem siklus hara, dimana terjadi penurunan kesuburan dalam arti jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung didalamnya yang diperlukan tanaman (Hardjowigeno, 1987). Sedangkan dari sudut erosi, maka lahan kritis diartikan sebagai lahan pertanian dengan suatu kondisi dimana laju hilangnya tanah akibat air hujan besarnya melebihi laju pembentukan tanahnya itu sendiri. Lahan kritis adalah lahan yang keadaan fisiknya sedemikian rupa sehingga lahan tersebut tidak dapat berfungsi secara baik sesuai dengan peruntukkannnya sebagai media produksi maupun sebagai media tata air (Departemen Kehutanan, 2000). Sedangkan menurut Dulbahri (1986) lahan kritis didefinisikan sebagai lahan yang kekurangan air pada musim kering dan sebaliknya terjadi erosi dan kelebihan air pada musim penghujan. Disamping itu lahan kritis merupakan lahan yang tidak sesuai antara penggunaan dengan kemampuannya, sehingga terjadi : (a) kerusakan fisik, kimia dan biologi, (b) bahaya terhadap fungsi hidrologi, orologi, produksi pertanian, pemukiman dan kondisi sosiak ekonomi. Puspics (1998) mendefinisikan lahan kritis sebagai lahan yang telah mengalami kerusakan sehingga kehilangan atau berkurang fungsinya sampai pada batas yang ditentukan atau diharapkan. Dari batasan atau pengertian lahan kritis yang ada, maka dapat ditentukan ciri-ciri lahan kritis sebagai berikut : 1. kritis fisik, yang meliputi unsur : a. kedalaman solum tanah dan efektif perakaran tanaman sudah tipis (dangkal) b. lapisan padas sudah tampak dipermukaan (batuan singkapan) c. lahan berbatuan permukaan, berjurang, dan berparit akibat erosi berat. d. Erosi tanah melebihi erosi yang diperbolehkan.

5

2. kritis kimia, yang meliputi unsur : a. produktivitas tanah menurun sangat rendah b. terjadi keracunan pada tanaman karena akumulasi garam-garaman c. terjadi gejala defisiensi pada tanaman akan unsur hara 3. kritis sosial ekonomi, yang meliputi unsur : a. tanah ditumbuhi alang-alang, semak belukar atau bentuk-bentuk lainnya sebagai akibat sistem perladangan berpindah. b. Tanah-tanah bekas galian tambang atau perkebunan yang sudah diusahakan 4. kritis hidroorologis, yang meliputi unsur : a. tanah gundul yang tidak ada vegetasinya atau hanya sedikit sekali b. jarang jenis vegetasi yang dapat tumbuh. Sehingga kerusakan lahan yang mengakibatkan lahan menjadi kritis disebabkan oleh penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan tingkat kemampuan lahan dan tidak sesuai dengan tingkat kesesuaian lahan, akan berakibat pada kerusakan fisik, kimia maupun biologi (Gambar 1). Faktor-faktor lahan yang mempengaruhi tingkat kekritisan lahan antara lain meliputi parameter : a. Penggunaan lahan, adalah segala macam campur tangan manusia baik secara permanen ataupun secara siklis terhadap sumberdaya alam dan sumberdaya buatan, yang dibagi menjadi dua bagian yaitu : penggunaan lahan perkotaan (non pertanian) dan lahan pedusunan (pertanian) b. Kemampuan lahan adalah bentuk evaluasi terhadap lahan untuk penggunaan tertentu yang didasarkan pada sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah untuk menentukan pola pemanfaatan lahan yang optimal dan lesatari (Tabel 1). Faktorfaktor kemampuan lahan meliputi : kemiringan lereng, erosi, penggenangan, drainase, kedalaman tanah, dan pH tanah.

6

Tabel 1.

Tingkat Kekritisan Lahan Berdasarkan Kelas Kemampuan Lahan dan Bentuk Penggunaan Lahan BENTUK PENGGUNAAN KELAS KEMAMPUAN LAHAN LAHAN I H K PS SP STP TSP TP PT HTP B 0 0 0 0 0 A A A B C II 0 0 0 0 0 A A A B C III 0 0 0 A A B B B C C IV 0 0 0 A B B B B C C V 0 0 B B B C C C D C VI 0 0 B B B C C C D C VII 0 0 D D D D D D D C VIII 0 0 D D D D D D D C

1. Hutan 2. Kebun 3. Pekarangan, Sawah 4. Sawah, Pekarangan 5. Sawah,Tegal, Pekarangan 6. Pekarangan 7. Tegal, Pekarangan 8. Pekarangan, Tegal 9. Hutan, Tegal, Pekarangan 10. Tambak

Sumber : Tim Fakultas Geografi, 1990 Keterangan 0 : Tidak kritis A : Tingkat kekritisan ringan B : Tingkat kekritisan sedang C : Tingkat kekritisan berat D : Tingkat kekritisan sangat berat

7

ASPEK FISIK, KIMIA, BIOLOGI 1. Hujan 2. Hidroorologi tata air 3. Fisik tanah 4. Kimia tanah 5. Biologi tanah 6. Kemiringan lereng 7. Tingkat erosi

ASPEK SOSIAL EKONOMI 1. Tekanan ekonomi 2. Kesadaran pelestarian lingkungan rendah 3. Daya tarik semua aspek dan kesempatan ekonomi 4. Pengetahuan dan pendidikan rendah

KEMAMPUAN LAHAN

PENGGUNAAN LAHAN

Pengelolaan lahan yang tidak benar & tidak sesuai

KERUSAKAN LAHAN 1. Kimiawi 2. Fisik 3. Biologi 4. Hidroorologi

LAHAN KRITIS

Gambar 1. Terbentuknya Lahan Kritis (BTPDAS, 1986).

8

Dengan memperhatikan lahan kritis yang selalu berhubungan dengan kondisi kemampuan dan penggunaan lahan, maka lahan kritis akan mempengaruhi kesuburan tanah, yang ditandai dengan besar kecilnya tingkat erosi yang akan menyebabkan semakin menipis ketebalan solum tanah. Disamping itu faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan tanah antara lain : iklim, relief, vegetasi, tanah, manusia, dan erosi. a. Iklim : merupakan salah satu unsur penting yang sangat mempengaruhi erosi sekaligus mempengaruhi kemampuan lahan. Unsur iklim yang sangat berpengaruh terhadap iklim yaitu curah hujan yang meliputi lamanya hujan, distribusi hujan, dan intensitas hujan. b. Relief : termasuk didalamnya panjang lereng dan derajat kemiringan lereng, yang terkait dengan erosi ditentukan oleh bentuk lereng (cekung, cembung, komplek, dan teratur). Disamping itu erosi tanah juga dipengaruhi oleh adanya vegetasi dan kerapatannya. c. Vegetasi : untuk mengurangi tenaga pukulan hujan yang jatuh ke tanah juga untuk mengurangi aliran permukaan yang akan mengurangi tenaga erosi. Kecepatan aliran permukaan dan material tanah yang terangkut akan berkurang dengan adanya pohon, akar tanaman, dan sisa-sisa tanaman dan daun-daun yang membusuk di permukaan tanah akan menyerap air, sehingga akan mengurangi debit aliran permukaan dan juga mengurangi adanya erosi. d. Tanah : sifat fisik tanah yang meliputi struktur, tekstur, kedalaman efektif tanah, kerapatan tanah, kelembaban tanah, dan sifat kimiawi serta biologis tanah. Sifat-sifat tanah juga terkait dengan kapasitas infiltrasi yang berpengaruhi terhadap besarnya aliran permukaan. Semakin besar kapasitas infiltrasi maka akan menurunkan aliran permukaan dan menyebabkan berkurangnya tenaga erosi. e. Manusia : aktivitas manusia merupakan faktor yang tidak permanen yang setiap saat dapat merubah sifat fisik secara cepat. Peranan manusia terhadap tanah dapat diketahui dari pola penggunaan lahan dan usaha-usaha pengawetan tanah yang dilakukan. f. Erosi : erosi dapat terjadi secara normal atau erosi geologi dan ada erosi tanah atau erosi yang dpercepat. Erosi normal berlangsung secara sangat lambat dan erosi ini sangat menguntungkan karena dapat menyuburkan tanah. Sedangkan erosi tanah atau erosi dipercepat yang disebabkan oleh tenaga dari luar seperti angin dan air merupakan erosi yang merugikan dan berlangsung secara cepat.

9

Penetapan lahan kritis berbeda untuk setiap fungsi kawasan, yaitu ada kawasan hutan lindung, budidaya untuk usaha pertanian, lindung di luar kawasan hutan, dan hutan. Lahan kritis dalam hal ini tidak hanya dilihat dari tebal tipisnya solum tanah, banyak sedikitnya tanah tererosi, ada tidaknya tanaman, ada tidaknya teras, maupun besar kecilnya curah hujan. Namun lahan kritis lebih ditentukan oleh beberapa parameter komplek yang mendukung dalam hal kesuburan tanah dan selisih tanah yang tersisa (Walker and Reuter, 1996). Pendekatan

kesuburan tanah ditetapkan dari nilai KPL (Kemampuan Penggunaan Lahan) sedangkan selisih tanah yang tersisa dihitung dari nilai T (Tolerable Soil Loss) dibandingkan dengan besarnya erosi (A). Tingkat kekritisan suatu Sub DAS/DAS diperoleh dari nilai-nilai indeks erosivitas yang dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu : topografi, lereng, bentuk percabangan sungai dan penggunaan lahan (Departemen Kehutanan, 1997). lahan kritis sebagai berikut (Tabel 2) : Tabel 2. Kriteria Lahan Kritis Berdasarkan Biofisik Tanah No. 1 2 3 4 KONDISI LAHAN SISA TANAH KPL A<T I, II T < A < 1,1*T 1,1*T < A < 1,3*T A > 1,3*T III, IV V, VI VII, VIII TINGKAT KEKRITISAN KRITIS KODE Tidak kritis K0 Ringan Sedang Berat K1 K2 K3 Sehingga dengan demikian dapat ditetapkan tingkatan

C. Penginderaan Jauh untuk Deteksi Lahan Kritis Pemanfaatan penginderaan jauh untuk analisis tingkat kekritisan lahan dengan melihat perubahan kenampakan secara visual maupun perbedaan sinyal radiometri pada saat analisis dengan komputer. Begitu juga untuk letak obyek dan penyebarannya dapat dianalisis dari hasil koreksi geometri yang dilanjutkan dengan analisis klasifikasi citra satelit (Purbowaseso, 1996). Sehingga dalam identifikasi citra satelit untuk analisis lahan kritis mutlak diperlukan persyaratan spesifik antara lain (Kucera, 2000) : (a) diambil pada musim kering, (b) tidak lebih dari lima tahun, (c) citra Landsat TM harus pada saluran 5, 4, 2 (warna asli) atau 4, 3, 2 (inframerah warna), dan (d) skala hendaknya 1 : 250.000 untuk perencanaan makro dan skala 1 : 50.000 untuk pemetaan kelayakan (RTL).

10

Peranan penginderaan jauh dan SIG dalam identifikasi tingkat kekritisan lahan pada saat interpretasi atau analisis maupun sebagai pedoman di lapangan dapat dilihat pada Lampiran 2. Untuk menentukan lahan kritis dengan penginderaan jauh maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut : a. melakukan identifikasi obyek sebagai dasar klasifikasi penggunaan lahan b. melakukan identifikasi obyek sebagai dasar klasifikasi kemampuan lahan c. mengukur ketidaksesuaian antara pola penggunaan lahan dengan kemampuan lahan. Peranan penginderaan jauh pada penentuan lahan kritik ditentukan oleh komponen yang tampak tergambar pada citra karena adanya : a. karakteristik spektral (sinyal radiometri) b. karakteristik spasial (sinyal geometri) c. karakteristik temporal (pengambilan berbeda/multitemporal) d. karakteristik band tunggal atau kombinasi band (multispektral). Penilaian secara langsung terhadap lahan kritis menggunakan teknik penginderaan jauh menurut Dulbahri (1986) sukar dilakukan karena konsep lahan kritis bertolak dari keadaan lahan yang tidak menentu, yang ditentukan oleh beberapa faktor dan selalu berubah menjadi baik (pengelolaan oleh manusia) atau semakin buruk (karena ditelantarkan).

D. Analisis Citra Satelit Secara Visual dan Komputerisasi
Analisis citra satelit dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara pengamatan visual dari gambar cetak citra satelit dan dengan cara analisis langsung pada monitor komputer dengan sistem klasifikasi baik berbantuan maupun tak berbantuan. Analisis citra satelit untuk deteksi tingkat kekritisan lahan dapat dilakukan dengan komputerisasi maupun dengan pengamatan visual langsung di monitor komputer atau dari hasil cetak kertas hard copy. Untuk analisis secara visual dari kenampakan gambar citra seperti halnya dalam interpretasi foto udara maka perlu memperhatikan unsur-unsur interpretasi citra foto atau gambar foto udara untuk

11

mengenali masing-masing obyek dengan berpedoman pada 8 unsur : Rona, Warna, Bentuk, Ukuran, Tekstur, Pola, Situs, Asosiasi (BTPDAS, 1986). Unsur-unsur interpretasi citra foto udara maupun citra satelit yang telah dicetak hard copy, meliputi : a. Rona (tone/colour tone/grey tone) yaitu tingkat kegelapan obyek pada foto hitam putih yang merupakan gradasi dari hitam ke putih atau sebaliknya. Rona dan warna merupakan

karakteristik spektral sinyal radiometri yang dipantulkan, yang merupakan unsur interpretasi primer karena yang pertama kali tampak sebelum ciri yang lainnya. b. Warna, merupakan wujud obyek yang hanya memantulkan sinar untuk warna putih dan menyerap sinar untuk warna hitam. Sedangkan warna obyek lain merupakan perpaduan sinar pantulan dari warna dasar biru, merah dan hijau. c. Bentuk, merupakan obyek karakteristik spasial yang merupakan susunan umum atau struktur yang bentuknya lebih terinci yang memudahkan pengenalan obyek pada citra. Meskipun sering terjadi distorsi pada citra radar maupun citra satelit namun kunci pengenalan bentuk tersebut sangat penting. d. Ukuran, ialah ciri obyek yang berupa jarak, luas, tinggi, lereng, dan volume suatu obyek yang merupakan fungsi skala untuk mengukur obyek sebenarnya di lapangan di bandingkan obyek dalam citra atau gambar.. e. Tekstur, frekwensi perubahan rona pada citra atau pengulangan rona gabungan obyek yang berdekatan yang terlalu kecil untuk dibedakan secara individual, yang dinyatakan dengan kasar, sedang dan halus. f. Pola, atau susunan keruangan yang merupakan ciri untuk menandai bagi banyak obyek bentukan manusia dan bagi beberpa obyek alamiah. g. Site, adalah lokasi suatu obyek dalam hubungannya dengan lingkungan sekitarnya, yang diartikan juga lokasi maupun satuan terkecil dari suatu medan. h. Asosiasi, beberapa obyek yang dikenal melalui hubungannya dengan adanya atau tanpa adanya obyek lain. Analisis citra satelit dengan cara komputerisasi langsung dilakukan dengan klasifikasi berbantuan dengan berdasarkan data dari lapangan dan sinyal spesifik radiometri yang ditunjukkan dengan nilai spektral, serta sinyal geometri yang menunjukkan tentang letak lokasi dan kaitannya dengan keruangan.

12

13

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian Sub DAS Alang yang terletak sebelah barat dari Daerah Tangkapan Waduk (DTW) Wonogiri, Jawa Tengah. Proyeksi peta UTM Sub DAS Alang terletak diantara titik 632500 mU – 650225 mU sampai dengan titik 387700 mT – 400175 mT, dengan luas total 19.162,83 ha. Secara geografis terletak sebelah selatan genangan waduk dan secara administrasi sebagian besar termasuk wilayah kabupaten Wonogir. Dengan kondisi formasi batuan berkapur, solum tanah sebagian besar dangkal dan kritis.

B. Bahan dan Alat Dalam rangka menyelesaikan kegiatan kajian ini diperlukan bahan dan peralatan kantor maupun lapangan sebagai berikut : perangkat lunak Erdas-Imagine citra satelit Landsat dan peta tematik dijital Peta topografi, peta tanah, peta geologi,peta rupa bumi Indonesia dll Peralatan survai lapangan (Abney level, Palu geologi, Pisau lapangan, Bor tanah, Plastik sampel, Spidol, Meteran, Kemikalia, pH stik dll.) Perangkat komputer (software dan hardware) Peralatan kantor (kertas HVS, Disket CD-rom, Pensil, Penghapus, dll) Bahan dan alat pemetaan (plastik astralon, selotip Nashua, spidol OHP)

C. Rancangan Penelitian Keperluan data dasar sebagai data sekunder untuk keperluan perencanaan sebelum melakukan identifikasi di lapangan, antara lain berupa citra satelit, beberapa peta, foto udara, dan berbagai sumber laporan. Penggunaan citra satelit SPOT atau Landsat dipakai untuk

menganalisa, mengidentifikasi dan mengklasifikasi tingkat kekritisan lahan. Kegiatan untuk mencapai tujuan dan sasaran kajian maka diperlukan tahapan-tahapan rancangan penelitian sebagai berikut :

14

1. konsultasi dengan instansi yang terkait dan upaya mencari data pendukung berupa peta topografi, peta administrasi, peta geologi, peta tanah, peta land use, dan citra satelit yang tersedia. 2. pembuatan peta dasar sebagai pedoman pelaksanaan orientasi dan survei setiap sampel unit lahan yang telah ditetapkan di lapangan. 3. pelaksanaan orientasi wilayah dengan menjelajahi seluruh areal yang akan diteliti untuk menetapkan calon sampel unit lahan yang akan didatangi. 4. digitasi seluruh peta unit lahan untuk memasukan data grafis dan data angka serta membantu analisis citra satelit pada saat koreksi geometri. 5. survei lapangan dengan mendatangi beberapa sampel unit lahan yang telah ditetapkan dalam rangka pengumpulan data biofisik ISDL meliputi parameter tetap dan parameter berubah. 6. komputerisasi data dasar dari lapangan dan hasil reinterpretasi citra satelit serta editing data grafis. 7. analisis tingkat kekritisan lahan berdasarkan citra satelit dan data lapangan. 8. rechecking lapangan untuk memastikan data yang dipandang meragukan atau data kurang lengkap serta tidak jelas kenampakkan pada citra satelit. 9. produksi peta dan pembuatan laporan.

D. Pengumpulan dan Pengolahan Data Pengumpulan data dengan teknik survei inventarisasi sumber daya lahan (ISDL) dengan cara sebagai berikut : 1. survei dengan mendatangi beberapa lokasi dalam bentuk sampling lokasi yaitu kurang lebih 25 % dari total jumlah unit lahan. 2. penetapan sampel dilakukan menyebar yang mewakili seluruh bentuk lahan, kelerengan, dan variasi penutupan lahan 3. setiap titik sampel diamati beberapa parameter utama yang terkait dengan tingkat kekritisan lahan untuk menetapkan nilai T, nilai K, dan KPL serta TBE. Pengolahan data dengan memadukan data dari lapangan baik data primer maupun data sekunder serta hasil analisis dari citra satelit. Metode analisis citra satelit dapat dilihat pada Gambar 2.

15

16

Data Citra Satelit Tahun 2002 DTW Wonogiri

Peta Dijital Multitema Sub DAS Alang Wonogiri

Deteksi Tingkat Kekritisan Lahan dengan PJ dan SIG

Survei Lapangan dan Pengambilan Sampel Tanah

Parameter Analisis dengan Citra Satelit : Penutupan Lahan, Lereng, Erosi dll

Analisis Sampel Tanah dan Kompilasi Data Lapangan

Data biofisik dari hasil analisis teknik Penginderaan jauh

Revisi peta dengan melengkapai data biofisik dan kimia dari analisis laboratorium Kriteria dan indikator lahan kritis dari hasil survei lapangan

Kriteria dan indikator lahan kritis hasil analisis dengan penginderaan

Perbandingan kriteria dan indikator lahan kritis dari lapangan dan analisis PJ

Kriteria lahan kritis : Tidak kritis (K0), Ringan (K1), Sedang (K2), dan Berat (K3)

Peta penyebaran lahan kritis satu Sub DAS

Luas lahan kritis tiap unit lahan dan total lahan kritis satu Sub DAS

Gambar 2. Bagan Alur Kegiatan Analisis Klasifikasi Citra Satelit Lahan Kritis 17

E. Analisis Data Analisis data dengan membandingkan tingkat efektifitas dan efisiensi pemanfaatan citra satelit untuk mendeteksi tingkat kekritisan lahan dibandingkan dengan survei teristris. Untuk itu analisis data yang diperlukan dalam kegiatan kajian ini antara lain : a. Analisa data biofisik dan kimia yang dikumpulkan dari lapangan dan hasil analisa laboratorium. b. Analisa citra satelit untuk deteksi tingkat kekritisan lahan dengan teknik penginderaan jauh. c. Kompilasi data yang telah ada dengan data yang baru untuk penetapan lahan kritis sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

18

IV. RINCIAN BIAYA

Dalam rangka mendukung kegiatan kajian deteksi tingkat kekritisan lahan dengan menggunakan PJ dan SIG maka diperlukan biaya penelitian untuk tahun dinas 2002 sebesar Rp 30.655.000,- (Tiga Puluh Juta Enam Ratus Lima Puluh Lima Ribu Rupiah), dengan rincian biaya sebagai berikut (Tabel 3) :

Tabel 3.

Biaya Penelitian yang Diperlukan untuk Menyelesaikan Kajian Deteksi Tingkat Kekritisan Lahan dengan Menggunakan PJ dan SIG Tahun 2002 KEGIATAN VOLUME BIAYA

1. Upah pembantu survei 2. Pengadaan ATK dan operasional komputer 3. Pengadaan bahan survei 4. Perjalanan dalam rangka pelaksanaan kegiatan 5. Foto copy, dokumentasi dan penggandaan/penjilidan laporan 6. Analisa data dan laporan 7. Pembahasan laporan

250 HOK 1 paket 1 paket 7 OT 1 paket

3.125.000 750.000 12.500.000 10.780.000 1.000.000

1 paket 40 OH Jumlah

1.500.000 1.000.000 30.655.000

19

V. PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Persiapan

1.

Konsultasi a. Puspics – UGM/Pusat Perpetaan Ilmu Kebumian : Sebelum survei lapangan diperlukan beberapa bahan antara lain berupa Citra satelit dan Peta Digital Sub DAS Alang. b. Kepala Desa : Meminta informasi tentang kondisi penutup lahan dan kondisi tingkat kekritisan lahan serta menanyakan upaya-upaya rehabilitasi lahan apa yang telah dilakukan untuk mengelola lahan kritis, agar tidak semakin kritis. c. Tokoh Masyarakat : Wakil masyarakat yang tinggal di wilayah Sub DAS Alang diminta pendapatnya tentang persepsi lahan kritis ditinjau dari kondisi lahan secara fisik, kimia dan ekonomi.

2.

Orientasi : a. Penjelajahan seluruh wilayah Sub DAS Alang yang dibatasi oleh : - Sebelah utara Sub DAS Unggahan - Sebelah barat wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. - Sebelah selatan wilayah pantai selatan. - Sebelah timur Sub DAS Solo Hulu. b. Jalan aspal utama hanya dari jurusan Solo ke pasar Pracimantoro, sedangkan jalan aspal yang masuk ke desa-desa hanya yang berdekatan dengan jalan utama. Sebagian besar jalan makadam dari batu kapur meliputi hampir seluruh Sub DAS Alang dan ada juga yang masih jalan tanah pada daerah dataran yang jauh dari perbukitan kapur. c. Saluran irigasi mengalir pada musim penghujan yang disuplai dari Waduk Song putri dan waduk Nawangan, sedangkan pada musim kemarau hampir semua waduk maupun song tidak ada airnya sama sekali. d. Obyek wisata selain waduk juga ada gua yang baru ditemukan pada tahun 1991 yaitu Goa Putri Kencana, perlu ditunjang dengan sarana yang memadai terutama ketersediaan air sepanjang tahun, karena untuk telepon dan listrik sudah masuk disekitar lokasi.

20

3.

Pelaksanaan Survei orientasi : a. Survei orientasi dimaksudkan untuk mengenal medan dan penjelajahan seluruh jalan aspal, makadam dan jalan tanah dengan mengidentifikasi sampel-sampel lahan yang didatangi setiap unit lahan yang diinventarisasi kondisi biofisik. b. Pengambilan sampel tanah untuk chek silang dari hasil sidik cepat analisis biofisik dan kimia di lapangan, antara lain meliputi tekstur, pH tanah, konsistensi, bahan organik, dll. c. Dari hasil survei orientasi selanjutnya dibuat : - Kartu lapangan ISDL. - Blanko lapangan - Kunci identifikasi dan analisis citra satelit.

4.

Pembantu Survei : - Dalam pelaksanaan orientasi maupun survei diperlukan tenaga pembatu dengan upah harian untuk membantu dalam hal : a. Pengambilan sampel tanah dengan pisau lapangan maupun dengan bor tanah. b. Membawa perbekalan lapangan dan penunjuk untuk menuju beberapa sampel unit lahan yang sudah ditentukan. c. Memasang meteran untuk mengukur kedalaman solum, efektif perakaran dan kedalaman regolit. d. Membantu keperluan lain dalam rangka mengumpulkan data biofisik untuk melengkapi blanko ISDL (Inventarisasi Sumber Daya lahan).

5.

Hasil Survei Orientasi : a. Kartu lapangan sebagai pedoman untuk pengisian blanko ISDL b. Kunci interpretasi visual dan analisis deteksi /citra satelit dengan melihat kondisi lapangan dibandingkan dengan kenampakan pada citra satelit. c. Pengambilan sampel tanah setiap unit lahan yang dikunjungi untuk melengkapi data biofisik dan kimia tanah untuk membantu penetapan KPL, KKL dan tingkat kekritisan. d. Penetapan beberapa unit lahan yang akan dijadikan sampel untuk pelaksanaan survei selanjutnya.

6.

Kondisi Sub DAS Alang :

21

- Secara umum kondisi Sub DAS Alang dalam keadaan kritis, yang disebabkan oleh : a. Dominasi batuan kapur (Limestone Oolistik) yang sangat keras dan sulit ditembus perakaran pada daerah Karst perbukitan dan pegunungan. b. Solum tanah dangkal pada daerah yang berlereng miring, curam sampai terjal sehingga tanaman keras jarang dan banyak semak belukar. c. Ketersediaan air tanah bagi tanaman rendah karena batuan kapur cepat sekali meloloskan air hujan yang jatuh, sehingga musim kemarau sulit mendapatkan air untuk dikonsumsi maupun untuk irigasi. d. Batuan sedimen liat hitam pada daerah bawah yang bertopografi dataran sampai berombak, dimana tanah Vertisol tersebut sulit untuk budidaya pertanian, apalagi pada musim kemarau maka tanah pecah-pecah dan menyebabkan terputusnya perakaran tanaman. e. Beberapa lahan kritis sudah dikelola dengan baik oleh masyarakat dengan membuat teras dari batu kapur sekitar lokasi. 7. Kondisi lahan kritis : - Kondisi lahan kritis di Sub DAS Alang bisa secara fisik, karena : a. Solum dangkal b. Lereng curam sampai terjal c. Batu kapur di permukaan atau batuan singkapan yang keras dan porous. d. Ketersedian air rendah. e. Tekstur liat berat pada Vertisol. - Kondisi lahan kritis secara kimia di Sub DAS Alang : a. Kandungan bahan organik rendah b. Ketersedian hara rendah bagi tanaman c. Kemasaman tanah yang ekstrim (asam/alkalis) - Lahan Kristis secara ekonomis ; a. b. c. Produktivitas lahan rendah Biaya produksi dan konservasi tanah sangat tinggi Lahan tidak mampu berproduksi sepanjang tahun

22

8.

Kriteria lahan Kristis : Dari hasil survei dan orientasi Sub DAS Alang dapat diambil kesimpulan untuk analisis lahan kritis dari data lapangan dan citra satelit : a. Data Lapangan Lahan kritis jika memenuhi satu atau beberapa kriteria lahan kritis secara fisik, kimia dan ekonomis. b. Analisis Citra Satelit : Diketahui lahan kritis dengan citra satelit dapat diperoleh dengan pendekatan kritis secara fisik dari kombinasi kanal maupun dari sinyal radiometrik tentang : Kondisi penutupan alahn Kemiringan lereng Deteksi jenis tanah dan formasi geologi Tingkat kelembaban tanah atau ketersediaan air.

B. Pelaksanaan Kekritisan lahan di Sub DAS Alang lebih banyak ditentukan oleh kondisi fisik lapangan, antara lain meliputi permasalahan : Kekurangan air, karena batuan kapur porous (Oolistik limeston) tidak dapat menyimpan air dan lebih sering melewatkan air secara cepat dan menjadi aliran bawah permukaan (Gambar 3). Solum dangkal, karena banyaknya batuan singkapan dan batuan permukaan sehingga mengganggu pertumbuhan akar tanaman. Kemiringan lereng, pada daerah perbukitan dan pegunungan memiliki kemiringan curam sampai terjal (Gambar 4). Upaya yang telah dilakukan masyarakat untuk rehabilitasi lahan dalam rangka mencegah berkembangnya lahan kritis: Menggali batu singkapan untuk bahan tambang kapur kalsit dan dolomit untuk kapur pertanian atau bangunan Menguatkan tampingan teras dengan pecahan batu kapur dari batu permukaan dan singkapan.

23

-

-

Gambar 3. Batuan Kapur Oolitik Limestone yang Porous Penyebab Lahan Tidak Dapat Menyimpan Air

Gambar 4. Kondisi Lahan Miring Merupakan Salah Satu Penyebab Lahan Cepat Kritis

24

-

Memperdalam solum tanah dengan menggali batu singkapan (batuan induk) atau mendatangkan tanah dari bawah (dataran banjir)

-

Menyediakan air dari sumber mata air di pegunungan dengan memasang selangselang yang panjang dari pegunungan ke pemukiman dan ke lahan tegalan. Secara garis besar lahan kritis di Sub DAS Alang dapat ditemui di derah:

- Pegunungan, karena solum dangkal, lahan curam banyak batuan singkapan dan kekurangan air, sehingga pertumbuhan tanaman terhambat. - Perbukitan, karena solum dangkal, lahan miring, batuan singkapan dan permukaan yang porous sehingga air tidak dapat disimpan dalam tanah. - Alluvial-colluvial, karena solum dangkal erosi berat (erosi jurang dan tebing sungai) serta sedimentasi. - Dataran, karena liat berat (black clay) sehingga tanah retak dan perakaran putus jika terjadi kekeringan panjang. Kriteria Penetapan Lahan Kritis, pada setiap kawasan berbeda : a. Kawasan Hutan Lindung : Penutupan lahan, Kemiringan lereng, Erosi, dan Manajemen b. Kawasan Budidaya untuk Usaha Petanian: Produktivitas lahan,

Kemiringan lereng, Erosi, dan Manajemen. c. Kawasan Lindung di Luar Kawasan Hutan: Vegetasi permanen, Kemiringan lereng, Erosi, dan Manajemen. d. Kawasan Hutan : Tidak ditentukan karena lahan kritis hanya untuk waktu yang pendek. Faktor-faktor lahan kritis : a. Penggunaan lahan : Penggunaan lahan kota (non pertanian/ pemukiman) Penggunaan lahan pedusunan (pertanian) Penggunaan lahan pegunungan(kehutanan)

25

b. Kemampuan lahan : Kemiringan lereng Erosi Penggenangan Drainase Kedalaman efektif tanah Tekstur tanah pH tanah

Penentuan komponen yang tampak, tergambar pada citra sebagai akibat adanya sifat karakteristik spektral dan komponen yang dapat ditarik berdasarkan analisis baik keruangan, ekologi dan temporal. Penentuan lahan kritis melalui teknik penginderaan jauh: Mendapatkan besaran dan identifikasi obyek sebagai dasar klasifikasi penggunaan lahan Mendapatkan besaran dan identifikasi obyek sebagai dasar klasifikasi kemampuan lahan Mengukur ketidaksesuaian antara pola penggunaan lahan dan kemampuan lahan.

26

C. Pelaporan
1. Kondisi Lahan Kritis Sub DAS Alang Kondisi lahan kritis secara fisik di lapangan ditentukan oleh beberapa parameter yang berpengaruh terhadap kritis atau tidaknya suatu lahan, antara lain : a. kedalaman tanah dan regolit b. batuan singkapan dan batuan permukaan c. kemiringan lereng d. tekstur tanah e. manajemen pengelolaan lahan f. kondisi penutupan lahan g. jenis dan tingkat erosi h. tingkat produktivitas lahan (KPL) Semakin dangkal solum tanah (< 10 cm) dan regolit maka tanah akan semakin kritis, sebaliknya untuk tanah dengan solum dalam (> 90 cm) akan semakin subur (tidak kritis). Batuan singkapan juga merupakan faktor kekritisan lahan secara fisik yaitu semakin banyak batuan singkapan atau batuan permukaan yang ada di permukaan maka sebagai indikator bahwa solum tanah dangkal dan lahan dalam keadaan kritis. Untuk kemiringan lereng semakin terjal lereng (> 85%) maka lahan akan semakin kritis sebaliknya pada lahan yang datar (< 4%) maka akan semakin subur, kecuali pada daerah yang tergenang air pada dataran banjir dengan drainase sangat jelek atau pada tanah Vertisols dengan kandungan liat berat. Manajemen pengelolaan lahan, yaitu semakin terawat lahan dengan bangunan konservasi tanah dan dilakukan rehabalitasi lahan dengan berbagai teknik maka lahan akan semakin membaik, sebaliknya lahan yang ditelantarkan atau tidak dilakukan perawatan maka lahan akan semakin kritis. Kondisi penutupan lahan yang semakin rapat dengan tanaman

permanen maka lahan akan semakin baik, sebaliknya jika lahan semakin terbuka maka akan semakin kritis. Jenis erosi yang besar (erosi tebing sungai dan erosi jurang) dan berat akan mempercepat tingkat kekritisan lahan, sebaliknya erosi yang kecil (erosi permukaan atau erosi percikan) dengan tingkat erosi yang ringan tidak akan berpengaruh terhadap degradasi lahan. Tingkat produktivitas lahan yang ditunjukkan oleh nilai KPL yaitu semakin tinggi nilai KPL

27

(VIII) maka lahan akan semakin kritis, sebaliknya dengan semakin rendahnya KPL maka lahan akan semakin subur.

28

a. Kedalaman tanah dan regolit Kondisi kedalaman tanah dan regolit di Sub DAS Alang dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini.

Tabel 4. Kedalaman Tanah dan Regolit di Sub DAS Alang NO 1 2 3 4 5 6 DESKRIPSI KODE KEDALAMAN TANAH Sangat dangkal 0 Agak dangkal 1 Dangkal 2 Sedang 3 Agak dalam 4 Dalam 5 SOLUM (CM) < 10 10 – 15 15 – 30 30 – 60 60 – 90 > 90 LUAS (Ha) 4.068,5 3.122,9 3.076,2 2.268,2 5.845,5 781,5 19.162,8 PROSEN LUAS (%) 21,23 16,30 16,05 11,84 30,50 4,08 100,00

NO 1 2 3 4 5 6 7 8

DESKRIPSI REGOLIT TANAH Ekstrim dangkal Sangat dangkal Dangkal Agak dangkal Sedang Agak dalam Dalam Sangat dalam

KODE 0 1 2 3 4 5 6 7

REGOLIT (CM) < 10 10 – 20 20 – 40 40 – 60 60 – 80 80 – 100 100 – 200 > 200

LUAS (Ha) 3.986,1 3.194,1 2.106,6 921,9 1.564,8 994,4 521,0 5.863,9 19.162,8

PROSEN LUAS (%) 20,82 18,67 10,99 4,81 8,16 5,19 2,78 30,60 100,00

Lahan agak dangkal sampai dengan dangkal merupakan kondisi lahan yang kritis yaitu seluas 7.191,41 ha (37,53%), kondisi tersebut perlu segera ditangani dengan cara sering dilakukan pengolahan lahan dan pengelolaan lahan. Pengelolaan lahan untuk di daerah berbatu kapur atau vulkanik dilakukan dengan mengambil batu-batuan kapur tersebut untuk bahan bangunan rumah atau untuk pengerasan jalan dan dapat juga untuk penguat teras pada tampingan yang biasanya dengan menggunakan rumput. Disamping itu untuk mempercepat proses

desintegrasi batu-batuan tersebut dilakukan penanaman tanaman keras khususnya tanaman yang mengandung bahan masam seperti Pinus, agar lebih cepat membantu proses dekomposisi maupun desintegrasi batu-batuan. Dekomposisi tanah dapat dipercepat dengan penambahan

29

pupuk organik baik pupuk kandang maupun pupuk kompos. Tanah dangkal pada daerah kapur relatif subur karena pada kemasaman tanah yang netral atau agak basa hampir semua hara tersedia bagi tanaman. Penghambatnya hanya pada perkembangan perakaran tanaman

khususnya untuk tanaman yang memiliki perakaran dalam. Kedalaman regolit merupakan kedalaman tanah sampai bahan induk dimana perakaran masih dapat menembus sampai batas akhir pada batuan induk, karena regolit sampai pada bahan induk yang telah mengalami pelapukan lanjut atau belum mengalami pelapukan. Tanah dengan regolit dalam di Sub DAS Alang terletak pada daerah dataran dekat waduk sehingga kondisinya selalu jenuh dengan air (instrusi air dari waduk) dan sebagian tanah Vertisols memerlukan persyaratan kedalaman vertik/rekahan lebih dari 50 cm. Regolit yang dalam terdapat juga pada tanah Inceptisols terletak di daerah perakaran dengan bentuk lahan Alluvial-Colluvial (5.863,91 ha = 30,60%). Sedangkan regolit ekstrim dangkal pada tanah-tanah Entisols di daerah perbukitan atau pegunungan kapur (Karst) yang hanya memiliki lapisan olah yang sangat tipis dan langsung dibawahnya batuan induk (R) atau bahan induk (C). Tanah dangkal yang langsung dilapisi horison R dapat dilakukan pengelolaan lahan untuk mengurangi tingkat kekritisan lahan dengan cara sebagai berikut : - menambah pupuk organik untuk membantu percepatan proses dekomposisi dan desintegrasi. - Menanam tanaman keras yang perakarannya dapat menembus batuan padu seperti batu kapur (kalsit, dolomit, Oolitik, dll). - Menambang batu kapur keras dan padu untuk keperluan lain diluar pertanian, seperti : menguatkan teras, mengeraskan jalan dan merenovasi bangunan. b. Batuan singkapan dan batuan permukaan Luas dan prosentase penyebaran batuan singkapan dan batuan permukaan dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 5.

Tabel 5. Luasan dan Prosentase Batuan Singkapan dan Batuan Permukaan KD 1 2 3 DESKRIPSI Sedikit Sedang Banyak KRITERIA (%) < 10 10 – 20 20 – 40 BAT. SINGKAPAN Luas/Ha Prosen/% 5.501,3 28,71 8.181,7 42,70 3.701,8 19,32 BAT. PERMUKAAN Luas/Ha Prosen/% 5.496,3 28,68 11.814,6 61,65 1.603,2 8,37

30

4 5 6

Berlebih Melimpah Extrim melimpah

40 – 60 60 – 80 > 80

1.548,2 220,7 9,1 19.162,8

8,01 1,15 0,04 100,00

199,6 49,1 19.162,8

1,04 0,26 100,00

31

Gambar 5. Peta Prosentase Batuan Permukaan dan Batuan Singkapan, di Sub DAS Alang, Wonogiri

32

Semakin banyak prosentase batuan singkapan dan batuan permukaan pada suatu lahan maka diindikasikan bahwa lahan tersebut dalam keadaan kritis. Hal tersebut karena lahan dengan batuan singkapan biasanya memiliki solum yang dangkal seperti pada tanah Entisols yang memiliki lapisan tanah olah tipis sekali yaitu dibawahnya langsung batuan induk (.R) atau bahan induk (C). Di Sub DAS Alang batuan singkapan terdapat pada perbukitan karst dengan bahan induk batu kapur yang terletak sekitar batas Sub DAS bagian atas seluas 8.181,7 ha (42,7%) untuk kategori sedang. Sedangkan untuk batuan singkapan untuk kategori ekstrim melimpah hanya sedikit sekali yaitu seluas 9,1 ha (),04%) disekitar perbukitan karst yang memiliki lereng curam sampai terjal. Kalau batuan singkapan merupakan batuan yang muncul ke permukaan karena adanya erosi besar-besaran yang disebabkan lahan miring atau tanah porous, sehingga batuan tersebut sulit dipindahkan dari tempatnya karena merupakan batuan induk yang sangat besar dan menyatu dengan bumi. Sedangkan batuan permukaan yaitu batuan yang terletak diatas permukaan tanah yang memiliki ukuran dari kerikil sampai batu besar sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Batuan permukaan berukuran besar dan dalam jumlah banyak sangat berpengaruh terhadap tingkat kekritisan lahan, sebaliknya batuan permukaan yang memiliki ukuran kecil dan jumlahnya hanya sedikit tidak terlalu mengganggu pada saat pengolahan tanah dan juga tidak mengganggu pada saat pertumbuhan maupun saat produksi tanaman.

c. Kemiringan lereng Kelas kemiringan lereng yang merupakan faktor utama untuk menilai lahan dalam kondisi kritis atau tidak disajikan pada Tabel 6 dan Gambar 6.

Tabel 6. Kelas Kemiringan Lereng di Sub DAS Alang NO 1 2 3 4 5 6 7 8 DESKRIPSI Datar Agak miring Miring Sangat miring Agak curam Curam Sangat curam Ekstrim curam KELAS A B C D E F G H PROSEN LERENG 0–4 4–8 8 – 15 15 – 25 25 – 35 35 – 45 45 – 65 65 – 85 LUAS (Ha) 3.248,7 4.407,6 2.708,8 1.434,1 1.377,4 1.814,9 2.625,4 1.400,4 PROSEN (%) 16,95 23,00 14,45 7,48 7,19 9,47 13,7 7,31 33

9

Terjal

I

> 85

85,5 19.162,8

0,45 100,00

34

Gambar 6. Peta Kelas Kemiringan Lereng Sub DAS Alang, Wonogiri.

35

Semakin terjal kemiringan lereng maka lahan akan semakin kritis karena solum tanah akan semakin dangkal, batuan singkapan lebih banyak dan produktivitas lahan menurun. Di Sub DAS Alang yang didominasi bentuk lahan perbukitan karst memiliki lereng curam dan hanya sedikit yang terjal seperti pada daerah yang memiliki bentuk lahan pegunungan karst. Di daerah bawah atau hilir yang berdekatan dengan outlet sebagian besar datar dan agak miring pada tanah Inceptisols dan Vertisols seluas 7.656,3 ha. Lahan kritis terdapat pada lahan yang berkemiringan sangat curam sampai terjal yang memiliki solum tanah dangkal. Disamping itu lahan kritis juga terdapat pada lahan datar yaitu untuk tanah Vertisols yang bertekstur liat berat. Tekstur liat berat dengan kandungan liat montmorilonit tipe 2:1 memiliki sifat kembang kerut yaitu tanah akan mengembang pada saat jenuh air dan mengkerut saat kering panjang. Kondisi ekstrim tersebut sama merugikan bagi tanaman khususnya tanaman semusim yaitu pada saat mengkerut banyak perakaran yang putus karena rekahan tanah, sebaliknya pada saat mengembang banyak unsur hara yang terjerap oleh lapisan liat, sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Pada daerah yang memiliki kemiringan lereng yang terjal cenderung menjadi kritis karena beberapa sebab antara lain : - solum tanah lebih dangkal - lebih banyak batuan singkapan dan batuan permukaan - produktivitas lahan rendah - jenis dan tingkat erosi berat. Untuk mencegah lahan menjadi kritis maka perlu diusahakan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah dengan cara mencegah agar kondisi yang menyebabkan lahan menjadi kritis tersebut tidak terjadi. Lahan termasuk kritis jika kemiringan lereng telah melebihi dari 45 %, yaitu seluas 3.011,3 ha di Sub DAS Alang (11,46%). Apalagi lahan yang memiliki kemiringan > 45% tidak sesuai dengan peruntukkannnya, antara lain Untuk : - tanaman hutan atau permanen - tidak dilakukan terasering - ditelantarkan tanpa ada tanaman - masih diusahakan tanaman semusim

36

d. Tekstur tanah Kondisi tekstur tanah dapat ditunjukkan dari jenis tanah yang ada di Sub DAS Alang yaitu ada 3 ordo yaitu : Entisols, Inceptisols, dan Vertisols yang disajikan pada Tabel 7. Tabel 7. Luasan Ordo Tanah di Sub DAS Alang NO 1 2 3 ORDO TANAH Entisols Inceptisols Vertisols KELAS TEKSTUR Kasar (Loam) Sedang (Clay Loam) Sangat halus (Clay) LUAS (HA) 7.636,9 5.990,4 5.535,5 19.162,8 PROSEN (%) 39,85 31,26 28,89 100,00

Kondisi tanah Entisols yang dicirikan oleh solum yang dangkal, tekstur kasar dan bahan organik rendah merupakan indikator lahan kritis yaitu seluas 7.636,9 ha (39,85 %). Disamping itu juga kekritisan lahan pada tanah pertanian ditentukan oleh kandungan liat yang tinggi yang menimbulkan retakan tanah saat musim kering dan panas pada ordo tanah Vertisols seluas 5.535,5 ha (28,89%). Dari dua jenis tersebut penanggulangan pencegahan lahan kritis berbeda yaitu untuk tanah Entisols dengan batu kapur Oolitik Limestone dilakukan dengan berbagai cara antara lain : - mengambil batuan singkapan dan batuan permukaan dari bidang olah agar lapisan olah tanah semakin dalam dan tidak ada gangguan batuan induk. - Membuat teras sejajar kontur dengan penguat teras dari pecahan batu kapur yang diambil dari bidang olah. - Menyediakan air dengan pembuatan sumur artesis, karena pada lahan berkapur maka drainase sangat cepat sehingga tidak ada air yang diserap tanah sebagai cadangan air tanah untuk tanaman pada musim kemarau. - Menambah bahan organik dengan pemberian pupuk kandang atau pupuk kompos untuk mempercepat proses penghancuran batu kapur yang keras. Sedangkan untuk tanah dengan solum dalam seperti Vertisols dalam rangka mencegah agar lahan tidak cepat kritis maka dilakukan dengan cara : - menambah bahan pasir sehingga tekstur dapat berubah dari liat berat menjadi agak kasar.

37

- Menggenangi tanah dengan air sehingga tidak ada kesempatan tanah untuk merekah dan memudahkan dalam pengolahan tanah. - Penanaman tanaman lamtoro untuk penyediaan unsur nitrogen, karena tanah vertik dengan kandungan liat tipe 2 : 1 Montmorilonit sering menyerap unsur hara terutama hara makro NPK besar-besaran.

e. Manajemen pengelolaan lahan Manajemen pengelolaan lahan selain ditentukan dari bentuk bangunan teras juga ditentukan oleh kondisi drainase dan kandungan jenis batuan yang ada. Karena setiap jenis batuan yang berbeda perlu konservasi tanah dan air yang berbeda ada lahan tetap sehat dengan drainase yang baik dan aerasi yang lancar. Tabel 8 menyajikan kondisi drainase di Sub DAS Alang.

Tabel 8. Kondisi Drainase di Sub DAS Alang NO 1 2 3 4 5 6 DESKRIPSI DRAINASE Baik Agak baik Sedang Agak jelek Jelek Sangat Jelek KODE 1 2 3 4 5 6 LUAS (HA) 4.349,3 3.629,0 3.698,3 2.288,2 943,5 4.252,5 19.162,8 PROSEN (%) 22,70 18,9 19,3 11,9 4,9 22,2 100,00

Drainase jelek terjadi pada tanah-tanah dangkal dengan batuan vulkanik dan bukan batu kapur, atau pada tanah dalam dengan kandungan liat yang tinggi, atau juga pada daerah bawah yang mengalami genangan air sepanjang tahun. Drainase sangat jelek si Sub DAS Alang (4.252,5 ha =22,2%) sebagian besar pada tanah Vertisols terutama pada daerah AlluvialColluvial yang berdekatan dengan dataran banjir atau tepi sungai. Sedangkan drainase cepat pada daerah atas yang relatif kering dan didominasi oleh batu kapur yang mempunyai daya serap tinggi terhadap air dan mudah sekali meloloskan air karena banyak rongga diantara batu kapur.

38

Pembuangan air atau drainase selain ditentukan oleh jenis tanah dan kandungan batuan, juga ditentukan oleh tingkat kemiringan lereng dan kerapatan tanaman bawah. Pada lahan yang semakin miring dan tanah terbuka maka drainase akan semakin baik, sebaliknya lahan yang relatif datar dan tanaman rapat maka drainase jelek. Pada daerah datar drainase dapat dipercepat dengan pembuatan saluran drainase dan pada daerah yang berkapur dan tidak ada batuan yang padu. Tipe batuan juga merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam mengelola lahan, kalau tidak maka lahan akan cepat menjadi kritis (Tabel 9).

Tabel 9. Luasan Masing-masing Tipe Batuan di Sub DAS Alang NO 1 2 3 4 5 6 KELAS TIPE BATUAN Bat. beku pelapukan sedang Bat. Beku pelapukan lanjut Batuan liat hitam Bat. sedimen pasir berkapur Bat. sedimen halus, alluvium Bat. kapur padu dan Oolitik KODE Ic Iw Sb Sc Sf Sl LUAS (HA) 15,9 1.210,8 4.935,5 1.351,7 3.897,7 6.990,8 19.162,8 PROSEN (%) 0,08 10,28 25,76 7,06 20,34 36,48 100,00

Dari jenis batuan tersebut yang termasuk kategori kritis yaitu tanah dengan kandungan liat hitam (Sb) seluas 4.935,4 ha (25,7 %) dan batuan kapur padu dan Oolitik (Sl) seluas 6.990,8 ha (36,5 %). Tekstur liat berat pada batuan sedimen liat hitam sangat sulit untuk diolah terutama pada musim kering yang panjang, karena tanah akan menjadi sangat keras dan pecah-pecah, maka sering dilakukan pengolahan tanah dengan linggis untuk membalikan bongkahan tanah. Disamping itu liat berat juga menyerap beberapa unsur hara sehingga tidak tersedia bagi tanaman, begitu juga tanaman semusim juga sering mati karena perakaran putus oleh terjadinya rekahan tanah. Pada daerah perbukitan Karst di Sub DAS Alang didominasi batuan kapur yang keras dan mudah berlubang oleh gerusan air hujan, sehingga tidak dapat menyimpan air dan tanah dangkal atau sulit ditembus oleh perakaran tanaman.

f. Kondisi penutupan lahan 39

Jenis dan kondisi teras merupakan salah satu upaya dalam pengelolaan lahan untuk melakukan konservasi tanah dan air (Tabel 10).

40

Tabel 10. Jenis dan Kondisi Teras di Sub DAS Alang NO 1 2 3 4 5 6 BENTUK TERAS Teras bangku datar Teras miring kedalam Teras miring keluar Teras campuran Tidak berteras Teras lain SIMBOL Bl Br Bo Bm Nt LUAS (HA) 13.018,3 213,1 112,3 80,4 1.936,4 3.802.3 19.162,8 LUAS (HA) 11.033,2 560,2 1.795,7 5.773,3 19.162,8 PROSEN (%) 67,24 1,40 0,59 0,42 10,10 19,84 100,00 PROSEN (%) 57,58 8,93 9,36 30,13 100,00

NO 1 2 3 4

KONDISI TERAS Baik Sedang Jelek Tanpa teras

SIMBOL .g .m .p -

Kondisi lahan yang sebagian sudah berteras maka dapat mempertahankan atau menaikkan tingkat produktivitas lahan, sehingga dapat mengurangi tingkat kekritisan lahan. Pada lahan persawahan dibuat bangunan teras bangku datar (BL), untuk tanah tegalan dibuat teras bangku miring kedalam (Br) dan pada lahan yang masih relatif miring dilakukan pembuatan teras secara bertahap yaitu dengan bentuk teras yang masih berkembang pada teras miring keluar (Bo). Teras bangku pada daerah yang tidak berkapur biasanya pada tampingan diperkuat dengan rumput-rumputan, sedangkan pada daerah berkapur dilakukan penguatan teras dengan tumpukan batu kapur. Keunggulan penguat tampingan dari batu kapur dibandingkan dengan rumput-rumputan, antara lain : - relatif kuat dan resapan air masih dapat menembus di sela-sela batu-batuan, sehingga tidak mudah rusak bangunan terasnya. - Tidak terjadi perebutan unsur-unsur hara yang dapat mengganngu tanaman pokok, sehingga pada tampingan teras yang ada rumputnya sering dibersihkan dengan memangkas rumput sampai habis. - Tidak perlu ada perawatan intensif seperti pada tampingan dengan penguat

rumput yang selalu harus disiangi, disulam dan dipotong pada saat rumput sudah tinggi-tinggi.

41

Upaya-upaya yang dilakukan masyarakat Sub DAS Alang sudah cukup baik yaitu dengan membuat teras-teras dan bangunan konservasi tanah lainnya dengan penguat dari batu kapur. Sedang sisanya yang belum dilakukan konservasi tanah dengan sempurna tinggal 3.802,3 ha (19,84%). Sehingga dengan upaya masyarakat telah merehabilitasi lahan dalam rangka konservasi tanah tersebut akan dapat mengurangi tingkat kekritisan lahan dan dapat mencegah berkembangnya lahan kritis.

g. Jenis dan tingkat erosi Luasan masing-masing untuk tingkat erosi di Sub DAS Alang disajikan pada Tabel 11. Tabel 11. Tingkat Erosi di Sub DAS Alang NO 0 1 2 3 TINGKAT EROSI Diabaikan Ringan Sedang Berat LUAS (HA) 11.398,0 6.610,3 1.119,6 35,0 19.662,8 PROSEN (%) 59,40 34,50 5,84 0,26 100,00

NO 1 2 3

JENIS EROSI Tidak ada erosi Erosi permukaan Erosi tebing sungai

LUAS (HA) 3.802,3 15.309,8 50,7 19.162,83

PROSEN (%) 19,84 79,89 0,27 100

Erosi di Sub DAS Alang sebagian besar erosi permukaan (15.309,81 ha) dengan tingkat erosi ringan dan diabaikan. Kondisi tersebut diakibatkan pada lahan berkapur air hujan yang jatuh meresap langsung kedalam tanah hal tersebut mengingat sifat batuan kapur yang menyerap air dan berlubang-lubang. Sehingga dari jenis dan tingkat erosi di Sub DAS Alang tidak termasuk yang membahayakan. Erosi permukaan di Sub DAS Alang dijumpai pada daerah tegalan atau hutan rakyat yang belum rapat dan pekarangan, namun hampir semua lahan sudah

42

berteras dengan tampingan penguat teras dari batu kapur, sehingga erosi permukaan dalam tingkat ringan atau diabaikan. Lahan yang tidak ada erosi seluas 3.802,34 ha (19,84 %) terdapat pada daerah yang terbuka dengan batuan singkapan yang banyak atau pada daerah semak-semak belukar, dan pada daerah hutan yang telah rapat dengan tanaman.

43

h. Tingkat produktivitas lahan (KPL) Tingkat produktivitas lahan adalah merupakan potensi suatu lahan yang ditentukan dari nilai KPL (Kemampuan Penggunaan Lahan) yang mencerminkan pola penggunaan lahan untuk budidaya pertanian (kelas I – IV) dan untuk tanaman kehutanan (kelas V – VI). Tabel 12 berikut menyajikan data KPL di Sub DAS Alang yang terdiri dari kelas IV sampai dengan kelas VII. Tabel 12. Kelas KPL lahan di Sub DAS Alang, Wonogiri NO

KELAS KPL
IV

PERUNTUKAN

LUAS (Ha)

PROSEN (%)

1

2

V

3

VI

4

VII

Pertanian terbatas, agroforestry, padi gogo, pekarangan, tegalan lahan kering, dll Tanaman keras dengan perakaran dangkal, rumput-rumputan Tanaman produksi kayu kehutanan, jati, mahoni, pinus, dll. Tanaman kehutanan pada daerah yang terjal, berumur panjang dan jarang ditebang

1.699,0

8,87

6.513,6

33,99

2.688,5

14,03

1.483,9

7,74

19.162,83

100,00

Kelas KPL yang termasuk lahan kritis yaitu lahan dengan kelas IV untuk lahan pertanian dan kelas VII dan VIII untuk lahan hutan. Sehingga untuk merubah status lahan dari kritis menjadi tidak kritis harus ada upaya untuk menaikkan kelas KPL lahan tersebut menjadi yang lebih tinggi lagi. Misalnya untuk lahan pertanian dari kelas IV yang memliki kendala kekurangan air dan hanya mengandalkan pada musim dan ketersediaan hara yang rendah maka harus dilakukan penyediaan air lewat irigasi atau air sumur atau artesis, sedangkan ketersediaan hara dan perbaikan kondisi lahan dapat dilakukan dengan menambah pupuk organik. Sedangkan untuk tanaman kehutanan dari kelas VII atau VIII yang memiliki solum dangkal dengan jenis tanah Entisols, maka upaya yang harus dilakukan untuk menaikkan kelas KPL adalah pembuatan

44

terasering untuk mengurangi kemiringan lereng, pendalaman tanah dengan mengambil batu singkapan untuk penguat teras, dll. (Gambar 7).

45

Gambar 7. Peta KPL (Kemampuan Penggunaan Lahan ) Sub DAS Alang, Wonogiri.

46

Adapun lahan dengan kelas KPL yang masuk dalam kategori baik (kelas I dan V) maka harus tetap dipertahankan dengan cara selalu menjaga rehabilitasi lahan dengan membangun bangunan konservasi tanah, agar tanah tidak cepat merosot dan turun kelas KPL nya menjadi jauh lebih rendah dari sebelumnya. Hal tersebut dapat terjadi jika lahan ditelantarkan dan terjadi erosi besar-besaran maka solum tanah akan menjadi dangkal, batuan singkapan banyak yang muncul, ketersediaan hara rendah, sehingga lama-kelamaan kelas kemampuan lahan akan bergeser menjadi lebih jelek.

2. Metode Klasifikasi Lahan Kritis Secara Visual dengan PJ Kenampakkan peta cetak kertas citra satelit kanal 542 (warna asli) untuk deteksi tingkat kekritisan lahan dapat dikategorikan dalam kelas kritis, sedang dan tidak kritis. Parameter yang dapat dilihat dari peta citra satelit tersebut meliputi beberapa unsur, antara lain : penutupan lahan, kedalaman tanah, kemiringan lereng, tekstur tanah, batuan singkapan dan permukaan, serta tingkat erosi. Selanjutnya digunakan unsur-unsur interpretasi yang digunakan dalam interpretasi gambar secara visual (Tabel 13). Dari tabel tersebut dapat dilihat secara visual masing-masing parameter yang dipakai untuk menetapkan lahan kritis, yaitu : a. Penutupan lahan : dari rapat sampai jarang dapat dilihat dari rona maupun warna sebagai unsur utama interpretasi visual gambar citra satelit, yaitu hijau gelap untuk penutupan lahan rapat dan merah terang untuk lahan yang terbuka. b. Kedalaman tanah : dari dalam sampai sedang dapat dilihat dari rona dan warna, yaitu kelabu gelap untuk solum tanah dalam dan coklat untuk solum tanah dangkal. Disamping itu harus memperhatikan unsur interpretasi lainnya, antara lain : tekstur, pola, site dan asosiasi. c. Kemiringan lereng : tidak dapat dibedakan dari rona maupun warna, pendekatan yang paling mudah dari pola pada satu satuan DAS, dimana pada daerah batas DAS atau perbukitan memiliki lereng yang lebih curam dibandingkan pada daerah dekat outlet yang memiliki kelerengan relatif datar. d. Tekstur tanah : hanya dapat dibedakan dari rona gambar citra satelit yaitu rona terang untuk tekstur tanah kasar dan rona gelap untuk tekstur tanah halus. Disamping itu juga perlu dilihat dari unsur interpretasi lainnya yang mudah dikenali di gambar antara lain dari site (letak) yaitu di daerah atas relatif lebih kasar dari pada daerah bawah.

47

Tabel 13. Kondisi Kenampakkan pada Citra Landsat TM dengan Analisis Secara Visual dari Cetak Kertas sub DAS Alang, Wonogiri NO 1. PARAMETER LAHAN KRITIS Penutupan Lahan - Rapat - Jarang - Terbuka Kedalaman Tanah - Dalam - Sedang - Dangkal Kemiringan Lereng - Datar - Miring - Curam Tekstur Tanah - Kasar (Sand) - Sedang (Loam) - Halus (Clay) Batuan Singkapan/Permukaan - Banyak - Sedang - Sedikit Tingkat Erosi - Berat - Sedang - Ringan UNSUR UNSUR INTERPRETASI VISUAL PADA GAMBAR CITRA SATELIT WARNA BENTUK UKURAN TEKSTUR POLA SITE ASOSIASI Hijau Coklat Merah Gerombol Sempit Tersebar Sedang Halus Kasar Sedang Halus Luas Sedang Sempit Atas/miring Hutan Tengah Pekarangan Bawah/datar Bukit

RONA Gelap Abuabu Terang Gelap Abu abu Terang Terang Sedang Gelap

2.

Kelabu Hijau Coklat

-

-

Halus Sedang Kasar

Hamparan Alluvial Miring

Bawah Tengah Atas

Tegal/sawah Pekarangan Hutan

3.

-

-

-

Halus Sedang Kasar Kasar Sedang Halus

Dataran Bawah Alluvial Tengah Perbukitan Atas Perbukitan Atas Alluvial Tengah Dataran Bawah

Irigasi Terasering Kekeringan Entisols Inceptisols Vertisols

4.

5.

Terang Abuabu Gelap Gelap Sedang Terang

-

-

Sempit Sedang Luas

Kasar Sedang Halus

Karst Vulkanik Liat hitam

Atas Tengah Bawah

Entisols Inceptisols Vertisols

6.

Hitam Coklat Kuning

-

Lebar Sedang Sempit

Kasar Sedang Halus

Terjal Sedang Halus

Atas Tengah Bawah

Terbuka Tegalan Hutan

1

e. Batuan singkapan/permukaan : yaitu semakin banyak batuan singkapan maka rona akan semakin terang, sebaliknya pada daerah yang sedikit batuan singkapan akan memiliki rona yang lebih gelap. Dari pola dapat dilihat pada daerah karst yang memiliki tekstur kasar relatif banyak batuan singkapan, sebaliknya pada daerah liat hitam dengan tekstur halus akan memiliki batuan singkapan lebih sedikit. f. Tingkat erosi : berat ringannya erosi akan lebih mudah dilihat dari kanampakkan rona dan warna yaitu untuk erosi berat memiliki rona warna hitam gelap sedangkan erosi ringan akan memiliki rona warna kuning terang. Unsur pola dalam interpretasi juga merupakan faktor

yang mudah diamati kenampakkannya di gambar citra satelit, yaitu untuk erosi berat pada daerah terjal dan erosi ringan pada daerah datar. 3. Metode Klasifikasi Lahan Kritis dengan Komputerisasi Analisis komputerisasi lahan kritis dengan memeperhatikan sinyal radiometri masing-masing jenis penutupan lahan yang dapat dipakai untuk deteksi obyek lainnya. Masingmasing kanal 1, 2 dan 3 untuk setiap tampilan band warna asli dari citra satelit komposisi 5, 4 dan 2 akan menunjukkan obyek yang spesifik tergantung masing-masing jenis penutupan lahan (Tabel !4). Tabel 14. Karakteristik Sinyal Radiometri Masing-masing Jenis Penutupan Lahan di Sub DAS Alang, Wonogiri. NO PENUTUPAN LAHAN KD LUASAN Ha 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kebun Semak belukar Hutan Penghijauan Sawah irigasi Sawah tadah hujan Tubuh air Lahan kering Pekarangan Ac B H P Si Sr W Ut Ap 5.59 536.71 1504.01 1039.08 1920.97 2324.28 5.08 8029.87 3797.26 19162.85 % 0.03 2.80 7.85 5.42 10.02 12.13 0.03 41.90 19.82 100.00 5 43.11 40.12 37.26 44.75 37.62 37.88 10.12 51.27 38.00 KANAL 4 28.24 27.85 22.03 34.91 22.05 23.33 8.17 43.59 25.13 2 53.96 30.12 35.16 34.87 55.68 44.25 5.53 37.91 21.65

1

Dari hasil analisis klasifikasi berbantuan dapat dideteksi bahwa lahan kritis pada daerah dengan semak belukar dan pada kawasan hutan serta lahan kering. Sedangkan hitungan pasti luas lahan kritis dari penginderaan jauh sulit ditetapkan secara pasti dari hasil analisis langsung dengan komputer. 4. Perbandingan Deteksi Lahan Kritis secara Visual dan Komputerisasi Perbandingan analisis deteksi tingkat kekritisan lahan antara pengamatan langsung secara visual dengan analisis klasifikasi dengan komputer, disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15. Perbandingan Deteksi Lahan Kritis Secara Visual dan Dengan Komputerisasi NO 1. PARAMETER SECARA VISUAL PEMBEDA Kenampakkan rona Harus dideteksi dan dan warna diinterpretasi masingmasing obyek KOMPUTERISASI Lebih tepat karena ada sinyal radiometri yang memantulkan sinar spesifik setiap obyek pada setiap kanal 2. Penghitungan luasan Dihitung satu per satu divedakan obyek yang sama dengan obyek yang berbeda 3. Kondisi interpreter Sangat menentukan Dapat dijumlah secara cepat dengan bantuan soft ware yang ada untuk setiap obyek Diperlukan pengalaman dan

pengalaman dan kenormalan kemampuan menganalisis mata interpreter dan tidka boleh buta warna 4. Kebutuhan alat Diperlukan alat yang sederhana, murah dan mudah 5. Analisis lahan kritis Mudah dengan cara ini dalam mengklasifikasikan jenis penutupan lahan Debutuhkan alat yang canggih, mahal dan agak rumit perlu pendidikan khusus Hanya mampu mengklasifikasi

karena dapat memperhatikan penutupan lahan saja, tanpa factor lain yang tidak dapat dianalisis dengan komputer memperhatikan faktor penentu lahan kritis

2

Kesimpulan bahwa untuk analisis lahan kritis maka akan lebih tepat dilakukan dengan analisis secara visual, karena tidak seperti pada analisis dengan komputer yang hanya membedakan penutupan lahan, tapi juga unsru-unsur interpretasi lainnya dapat dilakukan seperti bentuk, ukuran, tekstur, pola, site dan asosiasi (Gambar 8).

Gambar 8. Citra Satelit TM Sub DAS Alang, Wonogiri.

3

5. Kriteria Lahan Kritis Kriteria yang dipakai untuk menetapkan lahan kritis dengan memperhatikan beberapa hal yang terkait tentang pengelolaan lahan meliputi : 1. kelas kemampuan lahan pada setiap jenis penggunaan lahan 2. perubahan kondisi lahan 3. perbandingan nilai A dan T Masing-masing dibuat skor nilai dari 1 sampai 5 yang menunjukkan nilai baik diberi skor 1 dan nilai yang jelek diberi skor 5. Dalam setiap faktor pengelolaan lahan tersebut ditetapkan masing-masing nalai kekritisan lahan dari 1 (baik) sampai 5 (jelek), kecuali untuk perubahan kondisi fisik lahan yang memiliki nilai dari 5 (baik) sampai 25 (jelek). Hal tersebut karena merupakan hasil penjumlahan dari 5 faktor fisik lahan yang berpengaruh pada tingkat kekritisan lahan. Dari ketiga faktor tersebut lalu dilakukan pengalian skor dan hasilnya berkisar dari 1 (terbaik) sampai 64 (terjelek) yang akan menetapkan lahan dalam kondisi sebagai berikut : K0 : tidak kritis (< 15) K1 : kritis ringan (15 – 30) K2 : kritis sedang (30 – 45) K3 : kritis berat (> 45). a. KPL pada Setiap Jenis Penggunaan Lahan Setiap lahan memiliki potensi kemampuan penggunaan lahan (KPL) yang berbeda dan kadang penggunaan lahan dapat serasi dengan kelas KPL, tapi ada juga yang tidak serasi yaitu tidak sesuai dengan kelas KPL atau tidak optimal dengan kelas KPL. Sehingga dari Tabel 16 dapat ditunjukkan bahwa dimungkinkan setiap unit penggunaan lahan memiliki kategori tingkat kekritisan lahan, yaitu : 1 : lahan tidak kritis 2 : lahan kritis ringan 3 : lahan kritis sedang 4 : lahan kritis berat

4

Tabel 16. Kriteria Tingkat Kekritisan Lahan Berdasarkan KPL
NO PENGGUNAAN LAHAN KD KEMAMPUAN PENGGUNAAN LAHAN (KPL)

I HL HT HP 1 1 1

II 1 1 1

III 1 1 1

IV 1 1 1

V 1 1 1

VI 1 1 1

VII 1 1 2

VIII 1 2 2

1.

HUTAN : - H. Lindung - H.Prod terbatas - H.Produksi

2.

PERTANIAN : -Persawahan -Tegal tertutup -Tegal terbuka SW TT TB 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 2 3 2 2 3 3 3 4 3 3 4 4 4

3.

LAIN-LAIN : -Pekarangan -Badan Air/Tambak -Bero (terbuka) -Semak/Rumput PK BA BT SR 1 3 2 1 1 3 2 1 1 3 2 1 2 3 1 1 3 3 3 1 3 3 4 2 4 3 4 3 4 3 4 4

Sehingga tidak setiap KPL yang tinggi (VIII) selalu kritis begitu sebaliknya setiap KPL yang rendah (I) selalu tidak kritis karena tergantung dari jenis penggunaan lahannya. Misalnya pada kelas KPL VIII kalau diperuntukkan untuk tanaman hutan lindung maka termasuk tidak kritis sebaliknya jika dipakai untuk tanaman pertanian maka masuk dalam kategori kritis. Begitu juga untuk lahan denga kela KPL I maka dapat dimungkinkan menjadi kritis jika ditelantarkan atau tidak dilakukan penanaman sama sekali (bero), sebaliknya lahan tidak kritis jika dilakukan pengelolaan lahan dengan baik untuk pertanian maupun tanaman kehutanan.

b. Perubahan Kondisi Fisik Lahan Parameter fisik yaitu terutama yang berubah (tidak permanen) seperti lereng, erosi, manejemen, penggunaan lahan dan hanya tekstur tanah yang merupakan faktor tetap yang dapat diusahakan jika dikehendaki perubahan. Masing-masing parameter tersebut jika bersifat

menguntungkan atau kondisinya baik maka diberi skor 1 seperti pada lahan yang memiliki lereng datar, erosi ringan, pengelolaan lahan yang baik dan penutupan lahan yang rapat. Sebaliknya

5

akan diberi nilai 5 jika kondisi buruk seperti pada lereng yang terjal, erosi berat, ditelantarkan dan tidak ada penutupan lahan. Dari kelima parameter tersebut masing-masing memiliki skor dari 1 sampai 5 sehingga jika dijumlahkan semua parameter maka akan memiliki nilai dari 5 sampai 25. Sehingga kriteria lahan kritis menggunakan skor dari : 1 : lahan tidak kritis (< 10) 2 : lahan kritis ringan (10 – 15) 3 : lahan kritis sedang (15 – 20) 3 : lahan kritis berat ( > 20) Parameter fisik lahan yang dijadikan penentu dalam menetapkan kriteria lahan kritis antara lain : a. Penutupan lahan : 1 : > 80 % 2 : 60 –80 % 3 : 40 – 60 % 4 : 20 – 40 % 5 : < 20 % b. Kemiringan lereng : 1 : < 8% 2 : 8 – 15 % 3 : 15 – 25% 4 : 25 – 45% 5 : > 45% c. Tingkat erosi tanah : 1 : erosi diabaiakan 2 : erosi ringan 3 : erosi sedang 4 : erosi berat d. Manejemen (Pengelolaan lahan) : 1 : baik 2 : sedang 3 : jelek

6

e. Tekstur tanah : 1 : tekstur loam (lempung) 2 : tekstur halus atau kasar 3 : tekstur ekstrim halus atau kasar

c. Perbandingan Nilai A dan T Perbandingan erosi aktual yang terjadi (A) dengan erosi yang diperkenankan (T) yaitu kecepatan erosi yang berlangsung pada lahan dibandingkan dengan kecepatan pembentukan tanah oleh proses desintegrasi atau dekomposisi bahan induk menjadi tanah. Semakin tinggi erosi dibandingkan erosi yang diperkenankan, maka lahan tersebut semakin kritis, sebaliknya jika erosi yang terjadi lebih rendah maka erosi tersebut tidak mengancam kekritisan lahan. Sehingga skor untuk kriteria tingkat kekritisan lahan dengan membandingkan nilai A dan nilai T adalah : 1 : lahan tidak kritis ( A < T) 2 : lahan kritis ringan ( T < A < 1,1* T) 3 : lahan kritis sedang (1,1*T < A < 1,3*T) 4 : lahan kritis berat (A > 1,3 * T)

7

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

Kondisi lahan kritis di Sub DAS Alang disebabkan oleh beberapa factor, antara lain : f. Dominasi batuan kapur (Limestone Oolistik) yang sangat keras dan sulit ditembus perakaran pada daerah Karst perbukitan dan pegunungan. g. Solum tanah dangkal pada daerah yang berlereng miring, curam sampai terjal sehingga tanaman keras jarang dan banyak semak belukar. h. Ketersediaan air tanah bagi tanaman rendah karena batuan kapur cepat sekali meloloskan air hujan yang jatuh, sehingga musim kemarau sulit mendapatkan air untuk dikonsumsi maupun untuk irigasi. i. Batuan sedimen liat hitam pada daerah bawah yang bertopografi dataran sampai berombak, dimana tanah Vertisol tersebut sulit untuk budidaya pertanian, apalagi pada musim kemarau maka tanah pecah-pecah dan menyebabkan terputusnya perakaran tanaman. Kriteria yang dipakai untuk analisis lahan kritis dari interpretasi citra satelit maupun dari hasil survai lapangan dengan memperhatikan beberapa hal yang terkait tentang pengelolaan lahan meliputi : a.kelas kemampuan lahan pada setiap jenis penggunaan lahan b.perubahan kondisi lahan c.perbandingan nilai A dan T Mengingat analisis klasifikasi lahan kritis akan lebih tepat dilakukan dengan secara visual, karena tidak seperti pada analisis dengan komputer yang hanya membedakan penutupan lahan, tapi juga unsur-unsur interpretasi lainnya dapat dilakukan seperti bentuk, ukuran, tekstur, pola, site dan asosiasi. Analisis dengan komputer tidak dapat memperhatikan obyek yang spesifik yang berdekatan dengan daerah tertentu, begitu juga analisis komputer juga sering menjeneralisasi dalam satu pixel 30 m x 30 m di lapangan dianggap homogen atau satu obyek yang sama

8

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, T.S., 1996. Survei Tanah dan Evaluasi Lahan. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta. BTPDAS, 1986. Pedoman Identifikasi Lahan Kritis Menggunakan Foto Udara (Sementara). Proyek P2DAS, Surakarta. Departemen Kehutanan, 1997. Buku Pintar Penyuluhan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan, Jakarta. Departemen Kehutanan, 2000. Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Dir.,Jen. RLPS, Direktorat RLKT, Jakarta. Dulbahri, 1986. Penggunaan Teknik PJ dalam Identifikasi dan Inventarisasi Lahan Kritis. Fakultas Geografi, UGM. Jogyakarta. Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. PT. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta. Kucera, K.P., 2000. Interpretasi Citra Satelit : Buku Pegangan Praktis untuk Identifikasi Lahan Kritis Aktual pada Citra Satelit. Proyek Pengendalian Banjir Jawa Bagian Selatan, Jakarta. Penning de Vries F.W.T., Agus, F. and Kerr J., 1998. Soil Erosion at Multiple Scales : Principles and Methods for Assessing Causes and Impact, CABI Publ. IBSRAM, Bangkok-Thailand. Purbowaseso, B., 1996. Penginderaan Jauh terapan. Terjemahan “Applied Remote Sensing”. Penerbit Universitas Indonesia, UI-PRESS, Jakarta. Puspics, 1998. Kajian Kondisi Lahan Kritis di Kabupaten Daerah Tingkat II Kulon Progo. Laporan Akhir. Fakultas Geografi, UGM. Jogyakarta. Walker, J., and D.J. Reuter, 1996. Indictors of catchment Health : technical perspective, CSIRO Publ. Collingwood Victoria, Australia.

9

LAMPIRAN

10

Lampiran 2. Peranan PJ (Penginderaan Jauh) dan SIG (Sistem Informasi Geografis) dalam Identifikasi Tingkat Kekritisan Lahan. PERANAN PJ dan SIG A. PENGINDERAAN JAUH 1. Foto Udara KEGUNAAN/MANFAAT/KEGIATAN KANTOR LAPANGAN a. delineasi batas DAS dan unit lahan. b. interpretasi bentuk lahan, relief relatif, dan lereng. c. analisis erosi dan bangunan konservasi tanah a. analisis penutupan lahan berdasarkan sinyal radiometri b. analisis letak sampel dan karakteristik obyek secara geometri a. melihat punggung batas DAS dan kesamaan b. melihat bentang alam dengan binokuler dan abney level c. pengamatan erosi dan bengunan teras a. pengukuran di lapangan dengan menggunakan radiometer b. penetapan titik koordinat lapangan dengan GPS a. pengumpulan data fisik lapangan pada setiap unit lahan b. pengamatan lapangan dan analisis data biofisik a. dilaksanakan di kantor setelah ada kegiatan cheking lapangan b. setelahg ada revisi dan perbaikan lainnya a. sebagai petunjuk di lapangan dalam melakukan survei dan koordinasi b. peta dasar dengan melihat sungai, jalan dan tanda lainnya untuk pedoman penjelajahan a. batuan & geomorfologi b. nama dan sifat biofisik c. sebaran jenis dan kelas

2. Citra Satelit

B. SIG 1. Data angka (numerik)

2. Data Grafis (gambar)

a. memasukkan data ISDL (Inventarisasi Sumber Daya Lahan) b. rekapitulasi data fisik untuk analisis tingkat kekritisan lahan a. dijitasi, transformasi dan editing serta ploting b. produksi peta penyebaran tingkat kekritisan lahan

C. PETA 1. Navigasi

2. Data Sekunder

a. peta administrasi, yang menginformasikan batas wilayah (dusun, desa, kecamatan dan lain-lain) b. peta topografi, yang menginformasikan letak ketinggian, kontur, dan kemiringan lereng a. peta geologi b. peta tanah c. peta penggunaan lahan

11

12

13

Lampiran 1. Kerangka Logis Kegiatan Proyek : Proyek Penelitian Teknologi Pengelolaan DAS Kawasan Barat Indonesia Sumber Dana : DIK-S. DR Kegiatan/Topik Penelitian : Kajian Deteksi Tingkat Kekritisan Lahan dengan Menggunakan PJ dan SIG No 1. URAIAN RINGKAS Input 1.1. Dana 1.2. SDM 1.3. Waktu 1.4. Bahan INDIKATOR KUALITATIF/KUANTITATIF Rp 30.655.000,Peneliti (3) dan Teknisi (3) 2 bulan - Citra Satelit, Peta Dijital, - ATK STANDARD HASIL/ KINERJA Perencanaan Operasional Peneliti (S2 = 2 orang, S1 = 1 orang) Teknisi (3 orang) = 1 paket = 1 paket

PENG Realisasi

2.

Output (Fisik) 2.1. Dokumentasi 2.2. Laporan Kegiatan

- Kegiatan lapangan terdokumentasi - Laporan sesuai prosedur dan subsansi kajian - Laporan telah dibahas - Laporan selesai sesuai jadwal

- 2 roll - 1 judul - 1 kali - Desember 2002

3.

Outcome 3.1. Informasi Teknis

- Tersedianya informasi teknis tentang : Kajian Deteksi Tingkat Kekritisan Lahan dengan PJ dan SIG - Meningkatkan kelestarian DAS - Penyempurnaan penyusunan kriteria lahan kritis

- 1 judul

4.

Dampak (Manfaat Implementasi outcome)

- Diketahui penyebaran lahan kritis - Pengguna : BPDAS dan Dinas Kehutanan

1

I S D L (Inventarisasi Sumber Daya Lahan)
LAHAN BL : Bentuk Lahan KL : Kemiringan Lereng RR : Relief Relatif BS : Batuan Singkapan BP : Batuan Permukaan BATUAN TG : Tegangan KK : Kekerasan PL : Pelapukan KA : Kandungan Asam TB : Tekstur Batuan WB : Warna Batuan JB : Jenis Batuan EROSI PE : Prosentase Erosi JE : Jenis Erosi ID : Indeks Deplesi Tanah TE : Tingkat Erosi KONSERVASI PT : Prosentase Teras JT : Jenis Teras PR : Prosentase Riser QT : Qualitas Teras

Lembar 1
KEDALAMAN SO : Solum EF : Efektif RG : Regolit

UN LAHAN BATUAN EROSI KONSERVASI KEDALAMAN LH BL KL RR BS BP TG KK PL KA TB WB JB PE JE ID TE PT JT PR QT SO EF RG

2

I S D L (Inventarisasi Sumber Daya Lahan)
KELEBIHAN AIR IF : Infiltrasi PB : Permeabilitas DN : Drainase BJ : Banjir PORI TANAH UP : Ukuran pori JP : Jumlah pori KARATAN JK : Jumlah karatan UK : Ukuran karatan BK : Bentuk karatan BT : Batas karatan AKAR UA : Ukuran akar JA : Jumlah akar STRUKTUR BS : Bentuk struktur US : Ukuran struktur PS : Perkembangan strk W. DASAR (Hue) H. Hitam C. Coklat M. Merah K. Kuning B.Biru FISIK TANAH TX : Tekstur WT : Warna tanah

Lembar 2
KIMIA TANAH pH : Kemasaman BO : Bahan organik

KONSISTENSI BS : Basah LB : Lembab KR : Kering

CEMERLANG (Value) 0. Hitam mutlak 1. Hitam gelap ---------------8. Putih terang 9. Putih mutlak

KEMURNIAN (Chroma) 0. Keputihan 1. Kekuningan --------------8. Kecoklatan 9. Kehitaman

UN
LH

KELEBIHAN PORI KONSISTENSI KARATAN AKAR STRUKTUR FISIK KIMIA TN AIR IF PB DN BJ UP JP BS LB KR JK UK BK BT UA JA BS US PS TX WT pH BO GG

3

REKAPITULASI DATA TINGKAT KEKRITISAN LAHAN
K (ERODIBILITAS TANAH) Si : Silty (% debu) S.sh : Sand sangat halus (% pasir) C : Clay (% liat) ‘a : bahan organik (%) ‘b : Kode struktur ‘c : Kelas permeabilitas K : Nilai K (ton/joule) Km : K metrik = 1,292 x K T (TOLERANSI EROSI) D : Kedalaman tanah (m) 0,2 m < D < 1 m K : erodibilitas tanah (ton/joule) T : Toleransi erosi (ton/ha/th) T = 4 + 1,266 (10D – K – 2) A (PREDIKSI EROSI) R : Erosivitas hujan K : Erodibilitas tanah LS : Panjang dan Kemiringan C : Faktor tanaman (vegetatif) P : Faktor teras (Sipil) A : Prediksi erosi (ton/ha/th) KPL (Kelas, Sub Kelas) KPL : Kemampuan Penggunaan Lahan KELAS : I – IV : Pertanian V – VIII : Kehutanan SUB KELAS : e. : Erosi w. : Kelembaban s. : Tanah c. : Iklim g. : Kemiringan TK (TINGKAT KEKRITISAN) TK. I : nilai A dan T Selisih A – T A > T : kritis (K1, K2, K3) A < T : tidak kritis (K0) TK. II : KPL I, II : tidak kritis (K0) III, IV : kritis ringan (K1) V, VI : kritis sedang (K2) VII, VIII : kritis berat (K3)

100 K = 2,1 M 1,14 (10-4)(12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (c3) UN TEKSTUR NILAI-K Km D T LH Si S.sh C M a b c K PREDIKSI EROSI R LS C P A TK. KEKRITISAN A-T TK.I KPL TK.II TK

4