Untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan berbagai langkah akan diambil seperti peningkatan jumlah anak yang

ikut merasakan pendidikan, akses terhadap pendidikan ini dihitung berdasarkan angka partisipasi mulai tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Umum. Selain itu pemerintah akan mengurangi tingkat disparitas atau ketidakmerataan akses baik spasial kota non kota dan yang bersifat gender. 3.4.1 Wajib Belajar Dalam sektor pendidikan, kewajiban belajar tingkat dasar perlu diperluas dari 6 ke 9 tahun, yaitu dengan tambahan 3 tahun pendidikan setingkat SLTP seperti dimandatkan oleh Peraturan Pemerintah 2 Mei 1994. Hal ini segaris dengan semangat “Pendidikan untuk Semua” yang dideklarasikan di konferensi Jomtien di Muangthai tahun 1990 dan Deklarasi Hak-Hak Azasi Manusia Sedunia Artikel 29 yang berbunyi: “Tujuan pendidikan yang benar bukanlah mempertahankan „sistem‟ tetapi memperkaya kehidupan manusia dengan memberikan pendidikan lebih berkualitas, lebih efektif, lebih cepat dan dengan dukungan biaya negara yang menanggungnya” Berbagai upaya telah dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan taraf pendidikan penduduk Indonesia termasuk pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang diharapkan tuntas pada tahun 2008 yang dapat diukur antara lain dengan peningkatan angka partisipasi kasar jenjang pendidikan sekolah menengah pertama dan yang sederajat menjadi 95 persen. Namun demikian sampai dengan tahun 2006 belum seluruh rakyat dapat menyelesaikan jenjang pendidikan dasar. 3.4.2 Bidang Teknologi Kemajuan teknologi menawarakan solusi untuk menyediakan akses pendidikan dan pemerataan pendidikan kepada masyarakat belajar yang tinggal di daerah terpencil. Pendidikan harus dapat memenuhi kebutuhan belajar orang-orang yang kurang beruntung ini secara ekonomi ketimbang menyediakan akses yang tak terjangkau oleh daya beli mereka. Televisi saat ini digunakan sebagai sarana pemerataan pendidikan di Indonesia karena fungsinya yang dapat menginformasikan suatu pesan dari satu daerah ke daerah lain dalam waktu yang bersamaan. Eksistensi televisi sebagai media komunikasi pada prinsipnya, bertujuan untuk dapat menginformasikan segala bentuk acaranya kepada masyarakat luas. Hendaknya, televisi mempunyai kewajiban moral untuk ikut serta berpartisipasi dalam menginformasikan, mendidik, dan menghibur masyarakat yang pada gilirannya berdampak pada perkembangan pendidikan masyarakat melalui tayangan-tayangan yang disiarkannya. Sebagai media yang memanfaatkan luasnya daerah liputan satelit, televisi menjadi sarana pemersatu wilayah yang efektif bagi pemerintah. Pemerintah melalui TVRI menyampaikan program-program pembangunan dan kebijaksanaan ke seluruh pelosok tanpa hambatan geografis yang berarti. Saat ini juga telah dirintis Televisi Edukasi (TV-E), media elektronik untuk pendidikan itu dirintis oleh Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Pustekkom), lembaga yang berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Ini untuk memberikan layanan siaran pendidikan berkualitas yang dapat menunjang tujuan pendidikan nasional. Tugasnya mengkaji, merancang, mengembangkan, menyebarluaskan, mengevaluasi, dan membina kegiatan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan jarak jauh/terbuka. Ini dalam rangka peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan di semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan sesuai dengan prinsip teknologi pendidikan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan Menteri Pendidikan Nasional. Siaran Radio Pendidikan untuk Murid Sekolah Dasar (SRPM-SD) adalah suatu sistem atau model

Block Grant. Kebijakan BOS telah ditelurkan oleh pemerintah. Kalaupun siswa dikenai biaya itupun harus disesuaikan dengan tingkat pendapatan orang tua. terutama bagi kelompok masyarakat miskin yang berjumlah sekitar 38. alat-alat transportasi dan komunikasi di samping rendahnya pengetahuan mereka terhadap . SRPM-SD lahir dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar. R. Pemerintah hendaknya mempunyai komitmen untuk mendistribusikan bantuan pendidikan (Imbal Swadaya. dan audio SLTP Terbuka. Oleh karena itu. Mereka yang paling memerlukan layanan pendidikan dalam mengantisipasi persaingan global di samping penyandang buta huruf adalah masyarakat miskin di tempat-tempat yang jauh dan tersebar. agenda penting yang harus menjadi prioritas adalah peningkatan pemerataan pendidikan. b. pendidikan di Indonesia perlu ditingkatkan hingga ke pelosok negeri dan bagi masyarakat menengah ke bawah. kompetisi dalam semua aspek kehidupan ekonomi. Upaya-upaya peningkatan pemerataan pendidikan bagi masyarakat miskin dan masyarakat terpencil yang disarankan oleh penulis adalah : a. serta perubahan kebutuhan yang cepat didorong oleh kemajuan ilmu dan teknologi. kemiskinan menjadi hambatan utama dalam mendapatkan akses pendidikan. Mayoritas kaum miskin di Indonesia tinggal di tempat-tempat jauh yang terpencil. audio integrated. tetapi sekolah bisa membuat badan amal usaha yang menjadi ruh/biaya operasional pendidikan lebih-lebih tanpa melibatkan pembiayaan kepada siswa.6 persen dari total penduduk Indonesia (berdasarkan data Badan Pusat Statistik : 2007). 2007.pemanfaatan program media audio interaktif untuk siswa SD yang dikembangkan oleh Pustekkom sejak tahun 1991/1992. Di Indonesia. namun pada kenyatannya di lapangan masih banyak sekolah-sekolah yang mencari lahan untuk menarik pungutan kepada siswa (orang tua) dengan embelembel program tertentu. termasuk TV-E yang akan berfungsi sebagai media pembelajaran bagi peserta didik. Produk media audio lain yang dihasilkan oleh Pustekkom antara lain Radio Pelangi. Untuk itu. diperlukan SDM yang berkualitas. c. yang paling memerlukan pendidikan adalah mereka yang berada di daerah miskin dan terpencil. Bagaimana pemerintah dapat membuat regulasi tentang standar Biaya Operasional Pendidikan.4 juta atau 17. termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil dalam rangka pemerataan kesempatan dan peningkatan mutu pendidikan (Eka. dll) kepada sekolah sesuai dengan kuintasi yang dicairkan dan jangan sampai bantuan yang diberikan oleh pemerintah terhenti di tingkat birokrasi. Mereka praktis kekurangan segalanya: fasilitas. Pemerintah memberikan reward yang menarik agar memotivasi para guru yang profesional untuk dapat mengaar di daerah-daerah terpencil. d. itu tadi. Pendidikan tidak harus dibangun dengan biaya yang mahal. Problem mereka. Untuk memenuhi perkembangan ilmu dan teknologi. Tentu saja.1 Pemerataan Pendidikan Masyarakat Miskin dan Terpencil di Indonesia Era global ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan industri. MAKALAH PEMERATAAN PENDIDIKAN DI MASYARAKAT TERPENCIL BAB II PEMBAHASAN 2.

1. sekolah plus. menengah. sehingga hanya anak-anak yang berasal dari keluarga mampu saja yang memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Pertama. Perguruan tinggi bertarif mahal akan makin mengentalkan watak elitisme dan kian mereduksi jiwa egalitarianisme. diakses 9 Maret 2009)). sekolah full day. dapat dibagi menjadi pemerataan pendidikan formal dan pemerataan pendidikan non formal. yang bertentangan dengan misi utama sebuah lembaga pendidikan tinggi. elit. R. Berbagai universitas terkemuka dipusatkan berada di pulau Jawa. dan IPB.2 Pemerataan Pendidikan Nonformal Di samping menghadapi permasalahan dalam meningkatkan akses dan pemerataan pendidikan di jalur formal. dan berduit yang ingin mempertahankan eksistensinya sebagai kalangan atas. Pada pendidikan menengah. seperti: UI. masih sangat jarang. untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang baik. 2. sekolah terpadu.com. terutama bagi masyarakat miskin maupun masyarakat di daerah terpencil. ITB. Gejala ini jelas bertentangan dengan prinsip pemerataan pendidikan seperti diamanatkan di dalam UU Sistem Pendidikan Nasional.1. UGM. Untuk pendidikan tinggi persoalannya menyangkut pemerataan kesempatan dalam memperoleh pendidikan tinggi bagi warga negara dalam kelompok usia 19-24 tahun. Bagi orangorang yang berasal dari kelas bawah (keluarga miskin) mengalami kesulitan mendapatkan akses pendidikan tinggi dengan biaya yang mahal itu (Eka. 2007. Pemerataan pendidikan formal terdiri dari pemertaaan pendidikan di tingkat prasekolah. 2. pendidikan tinggi yang selama ini bersifat elitis akan semakin bertambah elitis. USU. saat ini banyak bermunculan sekolah-sekolah unggul. tetapi mutu dari pendidikan tersebut masih sangat berbeda antara daerah perkotaan dengan pedesaan. Biaya yang diperlukan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi memang sangat besar. Kebutuhan biaya baik langsung maupun tak langsung yang cukup besar inilah yang menyebabkan rendahnya partisipasi pendidikan pada jenjang perguruan tinggi. Selain itu. penyebaran geografis lembaga pendidikan tinggi unggulan di Indonesia juga tidak merata. Bila pendidikan ingin menjangkau mereka yang kurang beruntung ini – bila perbaikan hidup masyarakat yang lebih banyak ini yang menjadi sasaran kita dengan menyediakan pendidikan yang lebih berkualitas. Kondisi Pemerataan Pendidikan di Indonesia. sehingga masyarakat yang berada di pulau lain harus meninggalkan kampung halamannya demi melanjutkan pendidikan tinggi. misal : playgroup dan taman kanak-kanak. sekolah alam. perguruan tinggi.1 Pemerataan Pendidikan Formal Pada jenjang pendidikan formal. Prinsip dasar pemerataan ini sangat penting guna memberikan kesempatan bagi semua golongan masyarakat. UPI. yang bisa menikmati pendidikan tinggi adalah orang-orang yang berasal dari keluarga kelas menengah. tetapi untuk daerah terpencil seperti di pedesaan. secara umum perluasan akses dan peningkatan. sekolah unggulan. Ada beberapa argument yang menyebabkan muncul gerakan protes atas gejala komersialisasi pendidikan tinggi. Pendidikan prasekolah merupakan pendidikan pada anak usia dini. dan label-label lain yang melekat pada sekolah yang diasumsikan dengan “unggul”. sekolah eksperimen (laboratorium). Selama ini. Pemerataan pendidikan masyarakat miskin dan terpencil di Indonesia.teknologi. ada alasan ideologis di balik gerakan protes itu. Kritik kini mulai bermunculan atas pelaksanaan Badan Hukum Milik Negara (BHMN) bagi beberapa universitas dan institut. Pada jalur pendidikan non formal juga menghadapi permasalahan dalam hal perluasan dan . Kalaupun ada peserta didik yang masuk ke sekolah dengan sistem subsidi silang itu hanya akal-akalan saja dari pihak sekolah untuk menghindari “image” di masyarakat sebagai sekolah mahal dan berkualitas. orangtua mahasiswa harus mengeluarkan uang puluhan juta rupiah. hal ini sejalan dengan program wajib belajar 9 tahun. Pemerataan pendidikan masih menjadi masalah utama. BHMN dinilai telah mengarah ke komersialisasi pendidikan. Pendidikan sekolah dasar memang sudah cukup dirasakan pemerataannya di berbagai daerah. Pada daerah perkotaan pendidikan prasekolah secara formal sudah sering ditemukan. Kedua. pembangunan pendidikan juga menghadapi permasalahan dalam peningkatan akses dan pemerataan pendidikan non formal. sekolah dasar. Dalam pelaksanaannya model sekolah ini hanya diperuntukkan untuk kalangan borjuis. (http://edu-articles. Untuk bisa kuliah di universitas dan institut terpandang itu.

Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas.38 persen. wajib belajar belum memiliki makna “compulsory” karena ketidakmampuan subsidi pemerintah untuk menjangkau masyarakat marjinal ke bawah yang jumlahnya cukup besar dan secara ekonomi tidak mampu. sedangkan APK pada jenjang SMA/SMK/MA telah mencapai 54. Sementara itu. Meskipun demikian.pemerataan akses pendidikan bagi setiap warga masyarakat.13 persen dan 82. Menurut data Susenas 2004. pembangunan pendidikan telah membuahkan hasil yang cukup baik.24 tahun. Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi. mengingat sampai dengan tahun 2003 jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang telah menyelesaikan jenjang sekolah menengah pertama atau jenjang yang lebih tinggi baru mencapai 45.2 Permasalahan Pemerataan Pendidikan Masyarakat Miskin dan Terpencil di Indonesia Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Pendidikan dasar Beberapa permasalahan yang masih dihadapi terkait dengan pemerataan pendidikan bagi masyarakat miskin maupun masyarakat di daerah terpencil.2 persen pada kelompok usia 13–15 tahun dan 56. pencapaian APS diperkirakan masih sebesar 83.5 persen dan 53. pendidikan non formal yang berfungsi baik sebagai transisi dari dunia sekolah ke dunia kerja (transition from school to work) maupun sebagai bentuk pendidikan sepanjang hayat belum dapat diakses secara luas oleh masyarakat. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. secara ringkas diuraikan berikut: a. APK pada jenjang SD/MI dan SMP/MTs masing-masing telah mencapai 107. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.3 juta siswa).8 persen. kesadaran masyarakat khususnya yang berusia dewasa untuk terus-menerus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya masih sangat rendah. Meskipun demikian. pada tahun 2004 rata-rata lama sekolah penduduk berusia 15 tahun ke atas baru mencapai 7. pembangunan pendidikan masih dihadapkan pada sejumlah permasalahan terutama berkaitan dengan perluasan akses dan pemerataan pendidikan pada jalur formal. Pencapaian pembangunan pendidikan antara lain dapat dilihat pada peningkatan angka partisipasi kasar (APK) di setiap jenjang pendidikan. Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54. Pada saat yang sama. Berbagai permasalahan dan tantangan yang masih dihadapi dalam penyelenggaraan baik pada pendidikan prasekolah dan pendidikian dasar. Menurut data Susenas 2004.4% (28. pada umumnya membutuhkan biaya yang cukup mahal sehingga tidak dapat terangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. yang tertampung pada jenjang SD sampai dengan PT . angka partisipasi sekolah penduduk usia 13–15 tahun dan penduduk usia 16–18 tahun masing-masing baru mencapai 83. Meskipun pada tahun 2004 angka partisipasi sekolah (APS) penduduk usia 7–12 tahun sudah hampir 100 persen. Untuk itu. Pendidikan prasekolah Beberapa permasalahan yang masih dihadapi terkait dengan pemerataan pendidikan bagi masyarakat miskin maupun masyarakat di daerah terpencil adalah sebagai berikut : 1) Sebagian besar pendirian lembaga-lembaga pendidikan prasekolah yang diprakarsai oleh masyarakat masih berorientsi di wilayah perkotaan.3 Perkembangan Pemerataan Pendidikan di Indonesia Selama ini. pada tahun 2006. Apalagi pendidikan non formal.4 juta siswa).24 persen. 2) Kondisi sosial ekonomi masyarakat di pedesaan dan daerah terpencil yang sebagian besar miskin telah menyebabkan kualitas gizi anak kurang dapat mendukung aktivitas anak didik dalam bermain sambil belajar.5 persen (Susenas 2004).0 persen pada kelompok usia 16–18 tahun sesuai sasaran RKP 2006. Sampai dengan tahun 2006. angka partisipasi pendidikan penduduk Indonesia perlu terus-menerus ditingkatkan. 2. dari penduduk usia sekolah 7–24 tahun yang berjumlah 76. 2. Dalam hal ini. 8% (9. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94. diperlukan upaya sungguh-sungguh baik oleh pemerintah maupun masyarakat agar dapat meningkatkan angka partisipasi pendidikan penduduk Indonesia. Hal ini berakibat pada kurang adanya pemerataan kesempatan untuk pendidikan prasekolah. sedangkan untuk wilayah-wilayah di pedesaan atau daerah terpencil dirasakan masih sangat kurang.0 juta orang. b. kaitannya dengan perluasan dan pemerataan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.

tercatat baru mencapai 41. lebih efektif. Saat ini juga telah dirintis Televisi Edukasi (TV-E). Pendidikan harus dapat memenuhi kebutuhan belajar orang-orang yang kurang beruntung ini secara ekonomi ketimbang menyediakan akses yang tak terjangkau oleh daya beli mereka. Untuk menekan angka putus sekolah. dan jenjang pendidikan sesuai dengan prinsip teknologi pendidikan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan Menteri Pendidikan Nasional. Masalah putus sekolah dan tidak dapat melanjutkan pendidikan terutama pada jenjang pendidikan dasar merupakan persoalan serius yang dapat mempengaruhi keberhasilan penuntasan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. menyebarluaskan. akses terhadap pendidikan ini dihitung berdasarkan angka partisipasi mulai tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Umum. pemerintah menyediakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).2 Bidang Teknologi Kemajuan teknologi menawarakan solusi untuk menyediakan akses pendidikan dan pemerataan pendidikan kepada masyarakat belajar yang tinggal di daerah terpencil. bertujuan untuk dapat menginformasikan segala bentuk acaranya kepada masyarakat luas. Ini untuk memberikan layanan siaran pendidikan berkualitas yang dapat menunjang tujuan pendidikan nasional. mendidik. 2. Selain itu pemerintah akan mengurangi tingkat disparitas atau ketidakmerataan akses baik spasial kota non kota dan yang bersifat genger. Tugasnya mengkaji.054 orang. lebih cepat dan dengan dukungan biaya negara yang menanggungnya” Berbagai upaya telah dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan taraf pendidikan penduduk Indonesia termasuk pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang diharapkan tuntas pada tahun 2008 yang dapat diukur antara lain dengan peningkatan angka partisipasi kasar jenjang pendidikan sekolah menengah pertama dan yang sederajat menjadi 95 persen.4. Bantuan Khusus Sekolah (BKS). Sementara itu. televisi menjadi sarana pemersatu wilayah yang efektif bagi pemerintah.5 juta orang atau sebesar 55 persen. Hendaknya. lembaga yang berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).967 anak. media elektronik untuk pendidikan itu dirintis oleh Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Pustekkom). dan Bantuan Khusus Murid (BKM) atau beasiswa. Televisi saat ini digunakan sebagai sarana pemerataan pendidikan di Indonesia karena fungsinya yang dapat menginformasikan suatu pesan dari satu daerah ke daerah lain dalam waktu yang bersamaan. Ini dalam rangka peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan di semua jalur. Menurut data Susenas 2003. dan menghibur masyarakat yang pada gilirannya berdampak pada perkembangan pendidikan masyarakat melalui tayangan-tayangan yang disiarkannya. masih tingginya angka putus sekolah dan tidak dapat melanjutkan pendidikan itu lebih banyak bersumber pada persoalan ekonomi. angka putus sekolah atau drop-out di tingkat SD/MI tercatat sebanyak 685. mengembangkan. yaitu dengan tambahan 3 tahun pendidikan setingkat SLTP seperti dimandatkan oleh Peraturan Pemerintah 2 Mei 1994. Eksistensi televisi sebagai media komunikasi pada prinsipnya.4. televisi mempunyai kewajiban moral untuk ikut serta berpartisipasi dalam menginformasikan. dan membina kegiatan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan jarak jauh/terbuka. jenis. Namun demikian sampai dengan tahun 2006 belum seluruh rakyat dapat menyelesaikan jenjang pendidikan dasar. merancang. . yang berhasil lulus SD/MI tetapi tidak melanjutkan ke jenjang SMP/MTs dan putus sekolah di tingkat SMP/MTs sebanyak 759. Sebagai media yang memanfaatkan luasnya daerah liputan satelit.1 Wajib Belajar Dalam sektor pendidikan. Hal ini segaris dengan semangat “Pendidikan untuk Semua” yang dideklarasikan di konferensi Jomtien di Muang thai tahun 1990 dan Deklarasi Hak-Hak Azasi Manusia Sedunia Artikel 29 yang berbunyi: “Tujuan pendidikan yang benar bukanlah mempertahankan „sistem‟ tetapi memperkaya kehidupan manusia dengan memberikan pendidikan lebih berkualitas. kewajiban belajar tingkat dasar perlu diperluas dari 6 ke 9 tahun. 2. Pemerintah melalui TVRI menyampaikan program-program pembangunan dan kebijaksanaan ke seluruh pelosok tanpa hambatan geografis yang berarti. Untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan berbagai langkah akan diambil seperti peningkatan jumlah anak yang ikut merasakan pendidikan. 2.4 Upaya Pemerintah dalam Pemerataan Pendidikan Masyarakat Miskin dan Terpencil di Indonesia. mengevaluasi. menurut data Balitbang Depdiknas 2004. karena banyak di antara anak-anak usia sekolah dasar itu berasal dari keluarga miskin.

audio integrated. Produk media audio lain yang dihasilkan oleh Pustekkom antara lain Radio Pelangi. Pemerintah memberikan reward yang menarik agar memotivasi para guru yang profesional untuk dapat mengaar di daerah-daerah terpencil. Pendidikan tidak harus dibangun dengan biaya yang mahal.com. UPAYA PEMERATAAN PENDIDIKAN BAGI MASYARAKAT KURANG MAMPU Nuris Fajar Rizki PLS-UM (MK Problematika PLS) . BAB III PENUTUP 3. namun pada kenyatannya di lapangan masih banyak sekolah-sekolah yang mencari lahan untuk menarik pungutan kepada siswa (orang tua) dengan embel-embel program tertentu.Siaran Radio Pendidikan untuk Murid Sekolah Dasar (SRPM-SD) adalah suatu sistem atau model pemanfaatan program media audio interaktif untuk siswa SD yang dikembangkan oleh Pustekkom sejak tahun 1991/1992. termasuk TV-E yang akan berfungsi sebagai media pembelajaran bagi peserta didik. termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil dalam rangka pemerataan kesempatan dan peningkatan mutu pendidikan (Eka.5 Upaya Peningkatan Pemerataan Pendidikan Masyarakat Miskin dan Terpencil di Indonesia Upaya-upaya peningkatan pemerataan pendidikan bagi masyarakat miskin dan masyarakat terpencil yang disarankan oleh penulis adalah : a. Block Grant. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam melakukan pemerataan pendidikan bagi masyarakat miskin dan terpencil di Indonesia yaitu dengan adanya program wajib belajar 9 tahun dan pengadaan teknologi informasi seperti televisi dan radio. tetapi sekolah bisa membuat badan amal usaha yang menjadi ruh/biaya operasional pendidikan lebih-lebih tanpa melibatkan pembiayaan kepada siswa. Pemerintah hendaknya mempunyai komitmen untuk mendistribusikan bantuan pendidikan (Imbal Swadaya. c.1 Kesimpulan Pemerataan pendidikan yang ada saat ini masih kurang terealisasikan dengan baik. dan audio SLTP Terbuka. diakses 9 Maret 2009)). SRPM-SD lahir dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar. R. d. Kalaupun siswa dikenai biaya itupun harus disesuaikan dengan tingkat pendapatan orang tua. 2007. dll) kepada sekolah sesuai dengan kuintasi yang dicairkan dan jangan sampai bantuan yang diberikan oleh pemerintah terhenti di tingkat birokrasi. (http://edu-articles. Tentu saja. Bagaimana pemerintah dapat membuat regulasi tentang standar Biaya Operasional Pendidikan. 2. Kondisi Pemerataan Pendidikan di Indonesia. Permasalahannya yaitu karena pendidikan itu sendiri masih berorientsi di wilayah perkotaan dan subsidi dari pemerintah itu pun masih belum mencukupi untuk masyarakat yang tidak mampu yang jumlahnya cukup besar. Kebijakan BOS telah ditelurkan oleh pemerintah. b. itu tadi.

Rendahnya prestasi siswa. memaksimalkan fungsi sekolah. “Ketidak adilan dari aspek pendidikan merupakan persoalan didalam kehidupan yang tidak pernah terselesaikan. Dan pernyataan bahwa Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan. maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan[3]. maka negara. efisiensi dan standardisasi pengajaran. ekonomi. (4).PENDAHULUAN Pemilihan judul Upaya Pemerataan Pendidikan Bagi Masyarakat Kurang Mampu berlatar belakang pada beberapa masalah. Dari pernyataan tersebut dijelaskan bahwa korban dari ketidakadilan tidak perlu pesimis akan nasibnya untuk mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapat. kemiskinan adalah suatu yang didalamnya hidup manusia tidak bermartabat manusia. hukum. Apakah fakta bahwa ketidakadilan adalah pergumulan manusia yang tidak pernah terselesaikan itu membuat kita menjadi pesimistis?” (Broto Semedi). Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu: (1). khususnya mengenai kesempatan belajar. “Masyarakat punya hak untuk menuntaskan sembilan tahun pendidikan.[4] Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas. harus menyiapkan seluruh sarana dan prasarana. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Secara kualitatif. Namunsecara kuantitatif. Dari beberapa permasalahan khusus tersebut terdapat poin yang akan saya jadikan pembahasan khusus dalam karya ilmiah yang saya buat ini yaitu mengenai rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu. Kalau itu menjadi hak. layanan komprehensif. Saat ini paradigma pendidikan di Indonesia harus dicermati. Ini tercermin dari pernyataan Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu. Semua bisa menuntaskan pendidikan se mbilan tahun. kesetaraan pendidikan. Rendahnya loyalitas dan dedikasi guru. serta orientasi layanan sesuai kebutuhan. . Kesenjangan antara sarana pendidikan kota dan pinggiran. Baik sektor politik. (5).kemiskinan adalah suatu keadaan dimana hidup manusia selalu kekurangan atau lazim disebut “tidak berharta benda” [2]. Hal ini dilakukan agar pemerataan pendidikan bisa menyeluruh. (2). Penjelasannya sebagai berikut. (3). Tidak meratanya even-even yang melibatkan siswa. Mahalnya biaya pendidikan. Dan biasanya masyarakat kurang mampu tersebut sering mendapat perlakuan yang dirasa kurang adil dari berbagai sektor. Salah satu paradigma yang harus digeser adalah wajib belajar sembilan tahun agar menjadi hak belajar sembilan tahun. Atau dengan kata lain hidup manusia tidak layak sebagai manusia. (6).”[1] Masyarakat kurang mampu sering diartiakan sebagai masyarakat miskin. dan pendidikan.

(3) faktor apa saja yang menyebabkan pendidikan di Indonesia belum merata. (2) menjelaskan mengenai sistem pendidikan yang terdapat di Indonesia. tidak ada alasan bahwa setiap warga Negara tidak bisa merasakan pendidikan. Dari latar belakang tersebut. Sebetulnya pemerintah di dalam menangani masalah pendidikan tersebut sudah sudah berusaha sekuat tenaga dan sudah menggunakan berbagai cara serta strategi untuk mengatasi masalah seperti :     Masih tingginya angka buta huruf Masih tingginya anak usia sekolah yang drop out Masih tingginya anak yang tidak sekolah Masih tingginya masyarakat yang masih tidak memiliki pengetahuan.Oleh sebab itu. Dijelaskan bahwa “ ada dua bentuk pendidikan. Dan pendidikan formal adalah pendidikan yang didapat melalui bangku sekolah” [5]. dan pemuka agama baik secara langsung maupun melalui media. . (3) menjabarkan peranan APBN terhadap pendidikan di Indonesia. Adapun tujuan yang akan diperoleh dari permasalahan di atas adalah (1) mengetahui penyebab terjadinya kemiskinan di Indonesia. Pendidikan harus dapat dirasakan oleh semua warga Negara supaya tercapai tujuan dari Negara tersebut. (2) bagaimana sistem pendidikan yang terdapat di Indonesia. (3) bagaimana peran APBN terhadap pendidikan di Indonesia. pendidikan sangat penting guna peningkatan mutu SDM. Pendidikan non formal adalah pendidikan yang didiapat dari lingkungan keluarga. Seperti halnya pendidikan yang sampai saat ini masih problema yang sangat rumit dan pelik. [6] Oleh sebab itu. Masyarakat miskin juga berhak untuk belajar dan mendapat pendidikan yang layak dan tidak ada diskriminasi terhadap masyarakat miskin untuk merasakan pendidikan. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang. masyarakat. nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan. Tak terkecuali masyarakat miskin. yakni pendidikan non formal dan pendidikan formal. (3) mendeskripsikan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan pendidikan di Indonesia belum merata. baik pendidikan formal maupun informal. Ada berbagai upaya untuk memecahkan permasalan tersebut.Setelah kita amati. maka permasalahan yang diangkat adalah (1) penyebab terjadinya kemiskinan di Indonesia. Pemerintah juga mempunyai andil dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful