PENYAKIT-PENYAKIT HATI MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Akhlak Tasawuf”

Disusun Oleh : Ahmad Safruddin Nihlah Istighfarin : D01208111 :D01208112

Dosen Pembimbing :

Drs. Syaifuddin Mr.

FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2009

PENYAKIT HATI 1. Mengendalikan Amarah Marah itu sebenarnya ialah secebis api yang bersumber dari api Allah yang bernyala-nyala, yang panasnya naik ke pangkal hati, dan api itu bersemadi pula di dalam lubuk hati hingga berbara, kemudian diselaputi oleh abunya. Daripadanya terpancar sifat congkak yang terpendam di dalam hati setiap orang yang sombong dan bongkak, seperti terpancarnya api dari batu yang bergesek dengan besi. Dalam riwayat diceritakan, ada seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW. “YA Rasulullah, amal apakah yang paling utama?” Maka beliau menjawab : “jangan marah!.” Jawaban itu beliau ulangi hingga tiga kali. Jika kita ingin mulia di dunia dan akhirat, jika seorang suami ingin mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, jika seorang pemimpin ingin agar hubungannya dengan masyarakat berjalan harmonis, seorang anak ingin sukses dalam perjalanan pendidikan dan disayangi orang tuanya, maka salah satu kuncinya adalah “JANGAN MARAH!!.” Berkata al-Hasan pula: "Di antara tanda-tanda seorang Muslim yang sejati, ialah teguh agama, lemah-lembut kelakuan, penuh iman dan yakin, berilmu pengetahuan dan bertoleransi, pandai menjaga kepentingan dan berbelas kasihan, selalu memberi dengan hak, tidak boros meskipun kaya, murah hati meskipun miskin, berbuat baik walaupun berkuasa, menanggung jerih-perih bersama kawan-kawan, bersabar walaupun susah, tiada dikuasai oleh kemarahan, tiada selalu menurutkan perasaan, tiada dipengaruhi oleh syahwat dan nafsu, tiada dimalukan oleh kebatinan, tiada mementingkan keinginan, tiada terhad niat baik, sering menolong orang yang teraniaya, mengasihani orang yang lemah, tidak kikir dan tidak boros, tidak berbelanja berlebihan-lebihan dan tidak mengenggam tangan, bersedia mengamuni orang yang menganiayai, suka memaafkan oarng bodoh, biarlah dirinya berada di dalam kepayahan asalkan semua orang berada di dalam kesenangan."

Ada beberapa poin yang harus diperhatikan, yaitu:  Kecelaan sifat marah Allah s.w.t berfirman: “Perhatikanlah ketika Allah menimbulkan dalam hati orang-orang yang tidak beriman kepadaNya itu, perasaan sombong; iaitu sifat sombong zaman jahiliah, lalu Allah menurunkan pula ketenananganNya ke atasa RasulNya dan ke atas kaum Mu’minin.” (al-Fath: 26) Ayat ini telah mencela kaum Musyrikin atau orang-orang yang tidak beriman dengan Allah Ta’ala, disebabkan mereka telah melahirkan perasaan sombong yang timbul dari sebab marah terhadap yang hak dan membela yang batil. Begitu pula ia telah memuji juga kaum Mu’minin, atau orang-orang yang beriman dengan Allah s.w.t., disebabkan sikap mereka yang menerima yang hak, lalu diturunkan ke atas mereka perasaan tenang. Diriwayatkan ada seorang telah mendatangi Rasulullah s.a.w. sambil memohon supaya baginda mewasiatkan sesuatu wasiat yang pendek dan sedikit saja. Maka baginda bersabda kepadanya: Jangan marah! Diulangi permintaannya lagi maka bagina sekali lagi: Jangan marah! Rasulullah s.a.w. pernah bertanya kepada para sahabat: Apakah yang kamu dapat fahamkan tentang maksud bergelut? Kata para sahabat: Penggusti yang tidak dapat ditumbangkan dalam pergelutannya. Sabda baginda; Bukan itu yang aku maksudkan. Tetapi orang yang bergelut itu ialah orang yang dapat menahan dirinya, ketika dalam kemuncak kemarahannya. Berkata Ja’far r.a.: Kemarahan itu kunci segala kecelakaan. Setengah para sahabat berkata; Pokok dan pangkal sifat bodoh itu, ialah degil dan pemimpinnya ialah marah. Barangsiapa yang meredhakan dirinya dengan kejahilan, tidaklah perlu lagi baginya sifat toleransi. Toleransi adalah sifat yang baik dan banyak mendatangkan manfaat. Sedang kejahilan pula adalah sifat yang

buruk dan mendatangkan banyak mudharat. Berdiam diri atau tidak melayani pertanyaan seorang yang bodoh adalah jawabnya.  Tingkatkan manusia ketika marah Ketahuilah bahawasanya keganasan marah itu berpunca dari hati. Maknanya darah yang berada di dalam hati sedang menggelegak, lalu darah itu pun mengalir ke dalam urat-urat badan, dan terus memuncak tinggi ke anggota badan yang teratas sekali, sebagaimana api dan air memuncak tinggi ketika makanan mendidih di dalam periuk. Oleh kerana itu bila marah mula memuncak kelihatanlah darah manusia itu menyerap ke muka, sehingga wajah dan mata menjadi merah padam, dan kulit pula kerana kejernihannya, dapat menampakkan warna air yang di dalamnya. Manusia dalam menghadapi keganasan marah terbahagi kepada tiga bahagian: 1. ketiadaan sifat marah 2. keterlampauan sifat marah 3. pertengahan antara marah dan tidak marah  Ketiadaan sifat marah Orang yang tiada bersifat pemarah, ataupun yang lemah sifat kemarahannya itu tercela. Itulah orang yang dikatakan tidak mempunyai sifat cemburu pada diri Allah s.w.t. telah mensifatkan para sahabat Nabi s.a.w. dengan terkadang-kadang bersifat keras dan berperasaan cemburu atas diri seperti firman Allah ta’ala: “Mereka itu bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” Allah telah berfirman ke atas NabiNya s.a.w.: “Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (at-Tahrim:9) Yang dikatakan bersikap keras dan tegas itu adalah bersumber dari adanya tanda-tanda kekuatan cemburu dalam diri, iaitu yang menyebabkan sifat marah.  Keterlampauan sifat marah

Yang dikatakan keterlampauan dalam marah itu, ialah bila sifat marah itu tidak dapat dikuasai lagi, sehingga ia terkeluar dari batas pertimbangan akal dan agama dan kepatuhannya. Orang yang bersikap seperti itu, tentulah tidak lagi mempunyai bashirah atau matahati yang dipandang dengannya, atau pemikiran untuk menimbang dengan akalnya dan ia tidak pilihan lagi, melainkan seperti seorang yang terpaksa saja.  Sebab-sebab kemarahan Anda telah mengetahui, bahawa ubat segala penyakit mestilah dengan memotong pangkalnya dan melenyapkan sebab-sebabbya. Dengan hal yang demikian, maka anda mestilah mengetahui sebab dan punca timbulnya kemarahan itu terlebih dulu. Sebab-sebab yang membangkitkan kemarahan itu, ialah meninggi diri, ujub dan bangga, senda gurau, omong kosong, mengejek-ejek, mencela, berbantah-bantah, berlawan-lawan, berkhianat, kemahuan yang tak terbatas pada mencari wang dan menuntut kedudukan; semua sifat-sifat ini merupakan perilaku-perilaku yang tercela di dalam syariat Islam. Seseorang itu tidak mungkin terlepas dari sifat marah, selagi semua sifat-sifat ini masih kekal di dalam dirinya. Maka sayugialah, ia bersungguh-sungguh untuk menghapuskan segala sifat-sifat ini dengan sifat-sifat lawannya. Hendaklah menyirnakan sifat membesar diri dengan merendah diri, menyirnakan sifat ujub dan bangga diri dengan mengenal diri sendiri, menyimpan sifat memuji diri dengan mengingati diri bahawa ia adalah dari jenis makhluk yang sangat rendah, yang bersatu keturunan dengan bapa yang satu, iaitu Adam a.s. Seterusnya untuk menyirnakan sifat megah diri pula, ialah dengan mengerjakan seberapa banyak kebajikan dan kebaikan dan hendaklah ia menyakini bahawa sifat megah diri atau bangga diri itu, adalah termasuk sifat-sifat yang amat tercela.  Bagaimana kita mengendalikan marah? Pertama, kita harus menanamkan tekad dalam diri kita kalau hari ini kita tidak boleh marah, dan itu bukan hanya omong kosong, tapi sekuat tenaga berusaha dijalani dengan konsisten.

Kedua, jika kita dalam kondisi marah, maka palingkanlah muka kita dari kemarahan itu. Jika saat marah itu posisi kita sedang berdiri, maka duduklah. Dan jika kita sedang duduk, maka berbaringlah. Pokoknya, usahakan untuk mengubah posisi dan situasi. Ketiga, saat kemarahan itu muncul, maka segeralah memohon perlindungan Allah SWT dari godaan syetan yang menjerumuskan. 2. Buruk Lisan Seseorang bisa selamat karena telah memelihara lidahnya. Dan sebaliknya, seseorang bisa celaka karena tidak memelihara lidahnya. Mulut itu seperti moncang teko yang mengeluarkan isi. Jika kita ingin melihat kualitas diri, maka dengan mudah kita dapat melihatnya dari kata-kata yang keluar dari mulut kita. Rasulullah SAW bersabda,”barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.”(HR. Bukhari dan Muslim). 3. Buruk Sangka (Su’uzhan) Allah SWT berfirman :”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah seseorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(QS. Al Hujurat,12). Selain akan merusak hati, kebahagiaan, dan akhlak, buruk sangka akan merusak kedudukan kita disisi Allah SWT. Jadi, latihlah hati dan pikiran kita untuk selalu berpikir positif agar kita terhindar dari berburuk sangka terhadap orang lain dan yang paling berbahaya ketika kita sudah mulai berprasangka buruk kepada Allah SWT. Na’uudzubillahi min dzaalik.

4.

Cinta Dunia (Hubbuddunya) Rasulullah bersabda :”Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang tersebut melahap isi mangkuk”. Para sahabat bertanya:”Apakah jumlah kami saat itu sedikit, Ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab :”Tidak, bahkan saat itu jumlahmu amat banyak, tetapi seperti air buih di dalam air bah karena kamu tertimpa penyakit ‘wahn’. Para sahabat bertanya, “Apakah penyakit ‘wahn’ itu Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “penyakit ‘wahn’ itu adalah kecintaan yang amat sangat kepada dunia dan takut akan kematian.” Dan Rasulullah berkata, “Cinta dunia merupakan sumber utama segala kesalahan.” Orang yang cinta dunia tidak akan pernah merasa bahagia, karena dia telah diperbudak dunia sehingga tidak pernah merasa puas atas apa yang telah dia dapat. Maka, berhati-hatilah dalam mengikuti keinginan, kita harus berpikir apakah keinginan kita itu bermanfaat atau hanya didasari nafsu belaka. Mohonlah pertolongan Allah SWT setiap mengambil keputusan.

5.

Dendam Dendam itu buah dari hati yang merasa terluka, teraniaya, dan merasa haknya terambil. Makin kuat kedendaman seseorang, maka akan semakin besar kemungkian seseorang untuk marah dan dengki. Na’uudzubillahi min dzaalik. Cara menghindari dendam adalah dengan menjadikan cemoohan dan hinaan orang lain sebagai bahan evaluasi diri buat kita. Yang kedua, balaslah sikap buruk orang lain dengan sikap terbaik yang bisa kita lakukan. Selain hati kita menjadi lebih tenang, kita juga akan mendapatkan kemuliaan disisi Allah SWT.

Akibat dendam dan faedah belas kasihan Ketahuilah bahawasanya sifat marah itu bila tidak dikekang dengan segera, nescaya sukarlah ia disembuhkan dengan serta-merta, maka ketika itu ia akan terpendam di dalam kebatinan, dan bersarang di situ, sehingga menjadi sifat dendam pula. Pengetian dendam itu, ialah bila hati anda merasa sangat berat terhadap, seseorang, seperti membencinya, menjauhi diri darinya dan sifat itu akan kekal bersemadi di dalam hati anda dan sentiasa hidup di situ. Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Orang Mu’min itu bukanlah seorang yang pendendam.” Jadi nyatalah, bahawa sifat dendam itu bersumber dari sifat marah, dan ia akan menimbulkan berbagai-bagai perkara mungkar iaitu: 1. Perasaan hasad dan dengki dalam diri, sehingga anda merasakan tidak senang bila melihat seseorang berada di dalam kenikmatan, lalu anda mencita-citakan terhapusnya nikmat itu daripadanya. Tegasnya anda tidak suka seseorang yang hidupnya senang-lenang, sebaliknya anda merasa gembira bila ia ditimpa bahaya atau kesusuhan. Perilaku ini adalah contoh dari perilaku orang-orang munafik. 2. Anda bukan saja menyimpan perasaan hasad dan dengki di dalam diri anda, malah anda merasakan senang sekali, bila orang itu terkena sesuatu musibat atau bala bencana. 3. Anda akan menjauhinya dan memutuskan semua perhubungan dengannya. Tidak mahu bergaul dengannya, meskipun ia cuba berbaik-baik denganmu dan mendapatimu. 4. Kiranya orang itu lebih rendah kedudukannya darimu, maka anda memalingkan dirimu daripadanya, kerana menganggapnya kecil di hadapan matamu.

5. Anda akan mengucapkan kata-kata yang tidak patut terhadap orang itu, tidak kira sama ada dengan berbohong, mengumpat 6. Dengki Ciri-ciri orang pendengki adalah : a. Senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang. b. Seorang pendengki akan enggan bertemu dengan orang yangdidengkinya. c. Raut muka pendengki lebih banyak masamnya daripada manisnya. d. Pendengki akan selalu mencari-cari kejelekan orang lain. 7. Merasa bahwa hanya dirinya yang berhak sukses dan orang lain harus gagal. Penyebab dari kedengkian adalah luka hati, merasa diri paling hebat (uzub), sombong (takabur),dan ambisi yang berlebihan sehingga menginginkan hanya dirinyalah yang harus sukses dan orang lain gagal. Seorang pendengki akan mendapat kerugian yang sangat besar, dia tidak lagi memikirkan kesehatan dirinya, sebab yang dia pikirkan hanya keburukan orang lain dan memikirkan bagaimana caranya agar orang lain mendapatkan kesusahan. Hal terpenting untuk mengatasi sifat dengki ini adalah belajar untuk mengakui bahwa ada orang lain yang lebih baik dari kita. Tapi bukan berarti kita tidak memiliki suatu kelebihan, karena setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangan. Bersyukurlah atas segala yang telah Allah SWT berikan untuk kita. 8. Ghibah (Menggunjing) Ghibah yaitu membicarakan aib seseorang dengan tujuan apapun. Allah SWT mengibaratkan orang yang suka menggunjing sebagai orang yang suka memakan bangkai saudaranya sendiri.

Cara kita menjauhi ghibah adalah dengan memilih lingkungan pergaulan yang dapat meningkatkan kualitas keilmuan dan ibadah kita menjadi lebih baik, dan hindarilah obrolan-obrolan yang mengarahkan kita kepada ghibah. 9. Riya’ HAKEKAT RIYA` Kata riya` berasal dari kata ru`yah (melihat). Asalnya adalah mencari kedudukan di hati manusia dengan menunjukkan kepada mereka berbagai perangai dan sifat baik. Adapun yang ditunjukkan kepada manusia cukup banyak, namun bisa dikelompokkan menjadi lima bagian, yang semuanya merupakan sarana yang biasa digunakan oleh seorang hamba untuk berhias di hadapan manusia, yaitu : fisik (badan), pakaian, perkataan, perbuatan, pengikut, dan barang-barang yang tampak di luar. Adapun riya` dalam agama dengan badannya adalah dengan menampakkan keletihan dan kelelahan yang mengesankan kerja keras, merasa sedih memikirkan berbagai persoalan agama dan sangat takut dengan akhirat. Adapun riya` dengan penampilan dan pakaian seperti rambut kusut, menundukkan kepala ketika berjalan, sangat tenang dalam melakukan aktivitas dan membiarkan bekas sujud menempel di wajahnya. Riya` dengan perkataan seperti riya` yang dilakukan oleh orang-orang mendalami agama dengan memberikan mau’izhah (nasehat), peringatan dan berbicara dengan kata-kata hikmah (mutiara) dan atsaar (Hadits Nabi atau perkataan ‘ulama`) untuk menampakkan perhatiannya dengan perbuataan orang-orang shaleh serta menggerakkan kedua bibirnya untuk bedzikir di depan orang banyak.

Riya` dengan amal seperti riya`nya orang yang shalat dengan memanjangkan berdiri, sujud dan ruku’, menundukkan kepala dan tidak menoleh. Sedangkan riya` dengan teman dan orang-orang yang mengunjungi seperti orang yang meminta seorang alim ulama mengunjungi supaya dikatakan bahwa (alim) fulan sudah mengunjungi fulan. Riya’ adalah salah satu syirik yang paling kecil. Orang yang memiliki sifat riya’ selalu mengharapkan pujian dari orang lain atas segala amal baiknya. Allah SWT mengibaratkan amalan orang yang riya’ bagai batu licin yang diatasnya tanah, lalu hujan lebat menimpanya, maka ia menjadi bersih dan tidak meninggalkan bekas. Untuk menghindari sifat riya’ bukan berarti kita harus selalu sembunyi-sembunyi dalam beramal. Karena sesungguhnya kesemuanya itu bersumber dari hati. Kuncinya adalah IKHLAS. Ketika kita melakukan sesuatu karena Allah, maka sanjungan dan pujian orang sudah tidak berarti, karena yang kita harapkan hanyalah keridhoan Allah SWT. Semoga kita termasuk orang yang diridhoi Allah SWT. Amin TUJUAN RIYA` Orang yang riya` mempunyai tujuan-tujuan yang bisa kita bagi menjadi beberapa tingkat, Pertama : Tujuannya adalah agar ia dapat lebih leluasa berbuat ma’siyat. Seperti orang yang riya` dengan menampakkan taqwa dan wara`. Tujuannya agar dikenal orang sebagai orang yang mempunyai sifat amanah kemudian orang-orang memberikan kedudukan untuk posisi tertentu atau mempercayakan pembagian harta (zakat, infak dan yang sejenis) kepadanya.

Kedua : Tujuannya mendapatkan keuntungan duniawi semata, baik berupa harta ataupun wanita yang ingin dinikahinya. Seperti orang yang menampakkan ilmu dan ketaqwaannya karena ingin menikah atau mendapatkan uang. Ketiga : Tidak bertujuan mendapatkan harta atau menikahi wanita, tetapi ia menampakkan ibadah karena takut dilihat kurang oleh orang, tidak dianggap orang-orang khusus dan zuhud serta dianggap seperti orang-orang pada umumnya. PEMBAGIAN RIYA` 1. Riya` Jaliy (tampak jelas) yaitu riya` yang menjadi pendorong untuk beramal meski dimaksudkan untuk mendapatkan pahala. 2. Riya` Khafiy (samar). Riya` ini lebih ringan. Meski bukan motivasi untuk beramal tetapi membuat amalnya yang ditujukan karena Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa lemah. Seperti orang yang biasa melakukan tahajjud setiap malam dan itu ia jalani dengan berat, tetapi kalau ada tamu yang datang (menginap) ia tambah semangat dan ia jalani shalat tersebut dengan ringan. Tergolong dalam jenis riya` khafiy juga adalah orang yang menyembunyikan berbagai ketaatannya, tetapi jika orang-orang melinhatnya ia senang jika orang-orang menyambutnya dengan penuh ceria dan penghormatan, memujinya, bersemangat untuk membantu memenuhi keperluannya, tidak banyak menuntutnya dalam berjual beli dan memberinya tempat (dalam berbagai pertemuan) dan jika ada orang yang kurang memberikan haknya hatinya merasa keberatan. OBAT RIYA` DAN CARA MEMBERSIHKAN HATI DARI RIYA` Anda telah mengetahui bahwa riya` menghapuskan amal, sebab kemurkaan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dan merupakan pembinasa yang paling besar. Kalau memang begini sifatnya maka sudah sepantasnya untuk secara sungguh-sungguh menghilangkannya. Ada beberapa tingkatan untuk mengatasinya.

Pertama : Memotong akar dan asal usulnya yaitu senang dipuji, menghindari pahitnya dicela dan sangat tamak terhadap yang dimiliki manusia. Tiga hal inilah yang menggerakan orang untuk riya`. Cara mengatasinya : Menyadari bahaya riya` dan akibat yang ditimbulkannya dengan tidak didapatkannya hati yang baik (bersih), terhalang mendapatkan taufiq di dunia, tidak mendapatkan kedudukan di sisi Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa di akhirat nanti, balasan yang akan diterima berupa siksaan, kemurkaan yang dahsyat dan kehinaan yang tampak. Bagaimanapun, jika seorang hamba memikirkan kehinaan tersebut, kemudian membandingkan apa yang didapatkannya dari menampakkan keindahan (perkataan, amal dll) dihadapan manusia di dunia dengan apa yang tidak bisa ia raih di akhirat dan pahala yang terhapus, ia akan dengan mudah menghilangkan keinginan tersebut. Seperti orang yang mengetahui bahwa madu itu enak tetapi kalau ternyata di dalamnya ada racun yang akan berakibat buruk baginya, ia akan tinggalkan madu tersebut. Kedua : Menghilangkan berbagai (bisikan) yang sempat mengganggunya ketika melakukan ibadah. Ini juga perlu dipelajari. Orang yang berjuang memerangi (penyakit) jiwanya dengan memotong akar-akar riya`, menghilangkan rasa tamak dan menganggap hina pujian dan celaan orang, kadang-kadang syetan tidak membiarkannya pada saat menjalankan ibadah, tetapi membisikkan riya`. Jika terbetik dalam benaknya bahwaorang-orang sedang melihatnya, melawannya dengan mengatakan pada dirinya : Apa urasanmu dengan orang-orang itu, merek tahu atau tidak, Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa mengetahui keadaanmu. Apa faidahnya orang mengetahui (amal kita) ? Jika keinginan untuk mendapatkan pujian sedang bergejolak, ingat dengan penyakit riya` yang ada dalam hatinya yang menyebabkannya mendapatkan murka dari Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dan kerugian ukhrawi lainnya. Dikutip Dari :Buku ’Mengatasi Penyakit Hati’ Karya : KH. Abdullah Gymnastiar

MB: PAK MAAF MAKALAHNYA KURANG LENGKAP

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful