Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. 7 No.

4, Desember 2011

ANALISIS KADAR TIMBAL DALAM LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KADAR TIMBAL DALAM DARAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA PEKERJA INDUSTRI ELEKTRONIK 2011
Oleh Amar Muntaha Program Pascasarjana Kesehatan Masyarakat STIK Bina Husada, Palembang Email: muntaha_amar@yahoo.com
Abstrak Studi ini bertujuan untuk mengetahui sumber dan derajat pemaparan pekerja terhadap timbal dan pengaruhnya terhadap sistem haemopoitik, terutama kadar hemoglobin darah. Untuk itu telah dilakukan kajian terhadap bahan baku dan proses di departemen Audio, AC, dan Water Pump pada industri elektronik PT. PMI. Telah dilakukan pula pengukuran kadar Pb di Udara Lingkungan Kerja, baik dengan teknik areal sampling maupun personal sampling ( breathing zone). Data pemantauan lingkungan yang selama ini telah dicatat pihak perusahaan juga dipelajari. Sebagai penduga pemaparan terhadap Pb, digunakan biomarker yaitu Pb darah (PbB), Zinc Protoporphyrin (ZnPp) darah; dan kadar Hemoglobin (Hb) serta Hematokrit (Ht) darah. Untuk itu telah dilakukan pemeriksaan terhadap 75 pekerja yang dipilih secara purposif dari mereka yang terpapar yaitu yang bekerja di baigian dimana terdapat proses soldering, spot welding, brazing dan die casting pada ketiga departemen diatas. Telah ditemukan bahwa pemaparan terhadap Pb bersumber dari bahan baku berupa solder bar/wire dan Alumunium Ingot yang dipanaskan sampai menguap dan menghasilkan metal fumes pada proses-proses kerja seperti soldering, spot welding, brazing dan die casting. Hasil pemantauan yang dilakukan oleh perusahaan memperlihatkan kadar Pb di Udara dapat terdeteksi dan pernah mencapai kadar diatas Nilai Ambang Batas (NAB) yang dianut di Indonesia. Kadar PbB para pekerja berkisar dari 1–36 g/dl dengan rerata sebesar 11,63 g/dl dan SD sebesar 8,28 g/dl. Kadar ZnPp pada sampel yang diperiksa bervariasi antara 15–141 g/dl, dengan rata-rata dan SD sebesar 45,07 dan 22,56. Angka referensi yang dianut adalah 41 g/dl. Dari hasil pemeriksaan kesehatan oleh perusahaan didapatkan frekwensi anemia pada seluruh pekerja PT. PMI adalah 9% pada 2008 dan turun menjadi 7% pada 2009. Pada ketiga departemen yang diteliti, dengan jumlah pekerja 742 orang, kejadian anemia adalah 7,4%. Pada sampel yang diteliti, dari jumlah 68 orang yang diperiksa terdapat 18 orang (26,5%) menderita anemia. Kadar PbB berasosiasi negatif terhadap kadar Hb, Ht dan para pekerja yang mengalami anemia memiliki kadar Pb dan ZnPp yang lebih tinggi. Data dari studi ini memperlihatkan bahwa pengaruh negatif Pb terhadap Hb lebih rendah dari yang dikemukakan dalam berbagai literatur yaitu 30 g/dl atau lebih. Dengan demikian disimpulkan bahwa Pb berpengaruh negatif terhadap Hb dan menyebabkan anemia pada kadar dibawah 30 g/dl, dan memperkuat dugaan bahwa tidak ada kadar aman terhadap pengaruh negatif Pb. ZnPp merupakan biomarker yang sensitif untuk pengaruh Pb terhadap sistem haemopoitik dan karena itu sebaiknya selalu dikombinasikan dengan pemeriksaan PbB. Kata kunci: Pb, PbB, ZnPp, Hb, Ht, Anemia Abstract This study aims at documenting workers’ exposure level to lead at the workplace and to see, if any, the health effects on the hemopoetic system especially on haemoglobin and anemia. For that purpose 75 workers of PT. PMI electronic industry who are exposed to metal fumes containing Pb from 3 departements of AC, Audio and WP have been studied. Air samples were collected by areal and personal (breathing zone) monitoring and were analyzed for Pb. Secondary data collected previously by the company through its environmental monitoring program were also studied. Venous bloods samples were collected from 68 workers and analyzed for Pb, ZnPp, Hb, and Ht. It was found that Lead exposure is related to the use of solder wire/bar and Al-ingot as raw materials used in the three departements. These materials are heated until they evaporate and produce metal fumes in the work processes of welding, brazing, soldering and die-casting. The result of monitoring carried out by the company shows that the level of Pb in the working room air can be detected and has ever reached the level above the Occupational Exposure Limit (OEL) adopted by Indonesian government. Pb-blood (PbB) varies between 1 to 36 g/dl with the average of 11,63 g/dl and SD was 8,28 g/dl. ZnPp concentration varies from 15 to 141 g/dl, while the reference value for ZnPp is 41 g/dl. It was also found that the frequency of anemia in all population was 9% in 1998 and decreased to 7% in 2009. The frequency of anemia among workers in the three departements was 7,4%. Eighteen out of 68 (26,5%) samples analized were classified as anemia. The blood Pb (PbB) were negatively associated with Hb, Ht and anaemic workers had higher PbB and ZnPp. The data obtained in this study indicate that the negative effects of Pb on haemoglobin formation are much lower than what are mentioned in the leterature (at or above 30 g/dl). Key Words: Pb, PbB, ZnPp, Hb, Ht and Anemia.

1. Pendahuluan 1.2. Latar Belakang Pencemaran udara oleh berbagai partikel (particulates) dan logam berat (heavy metals) dapat disebabkan peristiwa alamiah dan dapat pula oleh aktivitas manusia (anthrophogenic) yakni yang bersumber dari kegiatan industri dan teknologi. Partikel dan logam berat yang mencemari banyak macam dan

jenisnya, tergantung pada macam dan jenis kegiatan industri dan teknologi yang ada (Dalas, 2000). Salah satu bahaya yang perlu mendapatkan perhatian dalam hubungan dengan pembangunan industri adalah adanya pemaparan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di tempat kerja. Salah satu logam berat yang perlu diwaspadai adalah timbal (Pb) yang mungkin ada dalam solder wire atau pada bahan yang dikerjakan, karena logam tersebut memiliki potensi efek negatif terhadap

Analisis Kadar Timbal dalam Lingkungan Kerja…, Amar Muntaha

123

Karena itulah Pb disebut Muliti Media Polutan (Grant. 2006. Fe dan Zn diduga menghambat absorpsi Pb. terhadap 1. Dari kenyataan ini perlu dilakukan evaluasi secara lebih sistimatik risiko kesehatan akibat pemaparan tehadap Pb pada industri seperti ini. syaraf.4. Amar Muntaha 124 . dan reproduksi. Tingkat keracunan Pb dapat dipengaruhi oleh umur. Kerangka Teori tentang Toksisitas Pb terhadap Sistim Hemopoitik.3. 1. Kwong (2004). c. Ada hubungan korelasi negatif antara ZnPp dengan kadar hemoglobin dan hematokrit para pekerja. Grant. Tujuan Umum Untuk mengetahui intensitas kadar Pb dalam udara lingkungan kerja. ginjal. 2007. bila digabungkan akan memberikan faktor pengali sebesar 6. Sumber: Patrick. b. Gambar 1. PMI dapat terdeteksi dalam darah para pekerja. sebagai faktor risiko terjadinya anemia dikalangan pekerja elektronik.1. adapun strategi yang dapat dipakai pada penilaian risiko kesehatan tersebut adalah untuk melihat hubungan pemaparan terhadap efek kesehatan. Kejadian Anemia pada pekerja berhubungan dengan pemaparan para pekerja terhadap Pb di lingkungan kerja. Fischbein and Hu. ginjal dan reproduksi (Skerfving. air. Cu. 1. ATSDR. Tujuan Khusus a. saraf. 2005). retensi Pb berbanding terbalik dengan asupan Kalsium. Landasan Teori 1. 2007 memperlihatkan bahwa terdapat asosiasi antara absorpsi Pb dengan status nutrisi yang rendah.1. menambahkan bahwa defisiensi Fe pada orang dewasa akan meningkatkan 4-5 kali risiko keracunan Pb. setelah dilakukan pemeriksaan darah termasuk Hb dan Ht didapatkan sebanyak 91 orang menunjukkan anemia (Hb dibawah normal) atau sebanyak 6. udara. Pb dapat menyebabkan efek negatif terhadap kesehatan manusia terutama terhadap sistim haemopoitik. akibat pemaparan kronis. Ada hubungan antara karakteristik pekerja dengan kadar Pb dalam darah pekerja. adanya absorpsi yang meningkat terhadap Pb dikalangan pekerja yakni berupa kadar Pb dalam darah. Desember 2011 kesehatan manusia.3 dan 1. Ada hubungan korelasi yang negatif antara kadar Pb dalam darah dengan kadar hemoglobin dan hematokrit para pekerja. 7 No.2. dan hal ini berpotensi menimbulkan berbagai pengaruh kesehatan pada berbagai sistim tubuh manusia seperti haemopoitik. Angka referensi yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) untuk kandungan Pb dalam darah adalah 20 µg/dl untuk dewasa. Tujuan Penelitian 1. Pada anak dan balita 1-6 tahun. Absorpsi Timbal dan Defisiensi Fe Beberapa data penelitian yang ditinjau ulang oleh ATSDR. Fischbein and Hu. Di lingkungan ambien yang kadar logam berat seperti Pb dapat berkisar cukup tinggi dan kontaminasi dapat terjadi pada makanan. e.7% yang terdiri dari 38 orang pekerja lakilaki (< Hb 13%) dan 53 orang adalah wanita (Hb < 12%) (Diana. Ho-Yu. misalnya. 2009). Pada kadar tertentu. mempunyai kecendrungan risiko yang tinggi untuk terpapar Pb secara kronik.2. perempuan lebih rentan daripada laki-laki. Analisis Kadar Timbal dalam Lingkungan Kerja…. 2005. telah dilakukan Pemeriksaan kesehatan berkala pada industri Panasonic Jakarta tahun 2009. Rumusan Masalah Pekerja merupakan salah satu kelompok yang berisiko pada industri elektronik dengan waktu kerja 8 jam/hari dan 40 jam perminggu. 2007.357 pekerja. Adanya sumber dan pemaparan terhadap Pb dalam lingkungan kerja industri yang telah berlangsung puluhan tahun. sedangkan menurut teori pemaparan kronik terhadap Pb dapat menyebabkan absorpsi Pb yang meningkat kedalam tubuh pekerja dan adanya Pb dalam tubuh yang meningkat mungkin menyebabkan gangguan kesehatan. Pemaparan terhadap Pb yang bersumber dari bahan baku dan proses produksi di PT. Kalsium dan Fosfor menurunkan absorpsi Pb dengan angka 1. tanah dan makanan. 2009. baik jangka pendek maupun jangka panjang. 1.2. antara lain perubahan pada sistem haemopoitik yang dapat diperlihatkan dengan end points berupa kadar Hb dan Ht darah para pekerja. 2006). dan temperatur yang tinggi akan meningkatkan daya racun pada anak-anak (KPBB.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. Pada usia muda seseorang lebih rentan terhadap keracunan Pb. Untuk itu dapat digunakan kerangka kerja yang dikemukakan oleh Corvalan dan Kjellstrom (1995). 4.4. 2009). d. Manusia senantiasa dapat terpapar logam berat di lingkungan kehidupannya sehari-hari dari berbagai sumber seperti lingkungan umum atau lingkungan kerja. Data tentang pemaparan Pb pada industri elektronik. Asupan Ca dan vitamin D lebih rendah pada anak-anak dengan Pb darah yang lebih dari 60 µg/dL.2 kali. jenis kelamin dan musim. 2007. Absorpsi Pb dalam saluran cerna ternyata lebih tinggi pada mereka yang memiliki asupan Kalsium dan Fosfor.

1.4. Desember 2011 1. PMI. 2005).3. Gambar 3. 2. Kontak terhadap polutan ini dapat menyebabkan terjadinya absorpsi polutan kedalam tubuh manusia yang dapat tergambar didalam darah. terhadap kadar Pb dalam darah dan kadar Hb dalam darah (Anemia) pada pekerja. PMI. Jabar. 1. Variabel yang menjadi target penelitian yaitu Konsentrasi Pb dalam ruangan (Pagi dan Siang). . 7 No. tanah dan makanan. Kerangka Konsep Penelitian Pengaruh Timbal (Pb) terhadap Anemia Pekerja Elektronik PT. menggunakan desain studi potong lintang (cross-sectional). elektronik Dilakukan Pemilihan PMI pada 2. Sumber: Corvalan and Kjellstrom. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah pekerja industri elektronik PT. faktor-faktor ruangan serta karakteristik pekerja. PMI.2. Kerangka Teori tentang Hubungan Pemaparan dan Efek Kesehatan Corvalan and Kjellstrom (1995) mengemukakan.4. Cimanggis. bulan Februari sampai bulan Maret 2010. Desain Penelitian Penelitian ini adalah studi analitik dengan jenis studi observasional. 1995. udara.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. 4. Metodologi Penelitian 2. Kerangka Konsep Penelitian ini dilakukan pada pekerja yang beraktivitas sehari-hari di lingkungan kerja yang terindikasi tercemar Pb.3. Depok. bagian Audio. Gambar 2. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Purposif Random Sampling (PRS) pada populasi (Hasan. lokasi penelitian pada industri elektronik PT. AC dan WP. Jakarta. akan teremisikan pada media seperti air. Sampelnya adalah pekerja industri elektronik di Jakarta yang bekerja di bagian produksi.2. 2. Kerangka Teori Umum tentang Hubungan Pemaparan dan Efek Kesehatan. urine atau bagian tubuh lainnya. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada Industri yakni di PT. polutan berasal dari sumber tertentu yang bersifat alami atau antropogenik.

bivariat dan multivariat.1.1.2. Hasil Analisis Multivariat Tabel 4. Analisis multivariat disini ditujukan untuk memperlihatkan asosiasi antara variabel dependen berupa Hb dan Ht terhadap variabel independen. Hasil dan Pembahasan 3. Desember 2011 Tabel 1. Hasil Uji Korelasi (Pearson) antar Variabel Kontinyu (n=68) Pada Sampel Pekerja PT. Pembatasan Penelitian Penelitian ini hanya mengukur kadar Pb dalam darah untuk mengetahui dampaknya terhadap kesehatan. Pengumpulan dan Pengolahan Data Data yang berhasil dikumpulkan akan dilakukan analisis univariat. 4. Deskripsi Variabel Kontinyu Penelitian (**). Model Akhir Analisis Regresi Linier Ganda dengan Ht Sebagai Variabel Dependen (n=68). Lokasi dan Jumlah Sampel Pekerja dan Lokasi Pengukuran Pb di Udara Lingkungan Kerja PT. Hasil Analisis Bivariat Regresi Sederhana antar ditampilkan pada tabel 3. Tahun 2010. 2. PMI. 7 No. terutama kadar timbal darah (PbB). Tabel 5. 2. 3. Model Akhir Analisis Linier Ganda dengan Hb sebagai Dependen Variabel (n=68). dengan mengendalikan pengaruh variabel independen lainnnya. 3. Analisis Kadar Timbal dalam Lingkungan Kerja….4.1. Amar Muntaha 126 . 3.1. Variabel Kontinyu Tabel 3. Hasil Penelitian 3.3.5.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. Hasil Analisis Univariat Tabel 2.1. PMI 2010.

Pada peracunan kronik dan kadar sedang sampai rendah. anemia terjadi akibat gangguan sintese heme dan berkurangnya masa survival RBC. dimana angka pada pria selalu didapat lebih tinggi. ACGIH. 2006. Analisis hubungan PbB terhadap Hb dan Ht pada populasi laki-laki dan wanita telah dilakukan. Peracunan yang akut (kadar tinggi) dapat menyebabkan anemia yang bersifat hemolitik. 2007.1. 2010.05) Homoscedascity (terpenuhi bila pembuatan plot residual titik tebaran tidak berpola tertentu dan menyebar merata disekitar garis titik nol).4. kadar Pb darah merupakan prediktor yang penting dalam menentukan kadar Hb pekerja pada tingkat kadar PbB 10. 2007). 7 No. 2005). sedangkan akumulasi literatur menyebutkan pengaruh negatif ini terjadi mulai pada kadar PbB sebesar 20-30 g/dl (EPA. Tidak terpenuhinya asumsi Homocedasticity diduga kuat akibat dari pengaruh variabel independen berupa Jenis Kelamin.     Eksistensi (nilai mean mendekati nilai nol dan ada standar deviasi). Normalitas (terpenuhi bila pembuatan plot residual titik tebaran menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis tersebut) Diagnostik Multicollinearity (nilai VIF (Variance Inflation Factor ) < 10)   Analisis Kadar Timbal dalam Lingkungan Kerja…. Hasil ini merupakan temuan terpenting dalam studi. Ket. dimana untuk pria dan wanita terdapat perbedaan yang bermakna dalam kadar Hb dan Ht. MCV adalah indikator dari ukuran RBC dan dengan demikian dapat membedakan apakah kondisi anemia bersifat normocytic atau microcytic. Dalam teori. Namun umumnya literatur yang ada menganggap pengaruh buruk tersebut baru terjadi pada kadar PbB 20 g/dl.1. penyebab anemia ini sebaiknya dapat diidentifikasikan (Dilorenzo. Desember 2011 3. Uji Asumsi Multiple Linier Regression dengan Hb sebagai Variabel Dependen (n=68). FEP (atau ZnPp) dapat dikombinasikan dgn pemeriksaan Fe dan PbB untuk memisahkan apakah penyebab anemia hanya Pb atau defisiensi Fe. Independensi (terpenuhi bila nilai uji Durbin-Watson -2 sd +2) Linieritas (terpenuhi bila uji ANOVA P Value nya < alpha (0. dan hasilnya didapatkan pada populasi pria. yakni untuk populasi pria. Pb dapat mengakibatkaan dua jenis anemia disamping adanya gejala basophilic stippling. normo atau mikrositik disertai peningkatan jumlah reltikulosit (RBC muda). Kosnett. 2006. khusus tentang kadar Hb dan Ht pada kedua kelompok tersebut. 3. Pembahasan 3.2. 2005). dan Dilorenzo. Independensi (terpenuhi bila nilai uji Durbin-Watson -2 sd +2) Linieritas (terpenuhi bila uji ANOVA P Value nya < alpha (0. Normalitas (terpenuhi bila pembuatan plot residual titik tebaran menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis tersebut) Diagnostik Multicollinearity (nilai VIF (Variance Inflation Factor ) < 10)   Tabel 7. (ATSDR. pengaruh toksik Pb terhadap sistim hemopoeitik yang tercermin dalam perubahan Hb dan Ht terjadi melalui gangguan sintese heme dan menyebabkan umur eritrosit yang lebih pendek (Patrick. Untuk kepentingan pengobatan. Anemia akibat peracunan Pb bersifat hipokromik.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. Kadar Pb dalam Darah dan Hubungannya terhadap Hb dan Ht Salah satu temuan penting adalah korelasi negatif antara kadar Hb dan Ht terhadap Pb dalam darah. 2007).32 g/dl (n=42). Pemaparan terhadap Timbal yang menyebabkan anemia yakni pada kadar lebih dari 50 µg/dl di industri relatif jarang saat ini. Oleh karena itu diatas dilakukan analisis secara terpisah antara populasi pria dan wanita. Uji Asumsi Regresi Linier Ganda Tabel 6. 4. ATSDR. sedangkan pada studi ini pengaruh tersebut sudah terlihat pada kadar rata-rata PbB sebesar 11.2. Basophilic Stippling dan Hemolitik Ket. hubungan PbB terhadap Hb bersifat negatif dan bermakna. Mengingat kaum lelaki lebih resisten terhadap anemia akibat defisiensi Fe (yang banyak diderita para wanita). Uji Asusmsi Multiple Linier Regression dengan Ht sebagai Variabel Dependen (n=68). Amar Muntaha 127 . Berkurangnya masa survival RBC diduga akibar fragilitas membran. Anemia jenis lainnya yang lebih sering bersifat extra-okupasional adalah karena defisiensi Fe dan penyakit Thalassemia. Literatur lain menyebutkan angka dimulainya pengaruh anemia akibat Pb ini adalah 50 g/dl.05) Homoscedascity (terpenuhi bila pembuatan plot residual titik tebaran tidak berpola tertentu dan menyebar merata disekitar garis titik nol).     Eksistensi (nilai mean mendekati nilai nol dan ada standar deviasi). pengaruh Pb terhadap sintese Heme mungkin berperan penting.63 g/dl. yang memberikan konfirmasi kepada literatur yang ada.

2010 merekomendasikan Indeks Pemaparan Biologik (IPB) untuk Pb dalam darah (PbB) adalah sebesar 30 µg/dl. 2007. sejauh yang dapat dipantau. didapat nilai rata-rata Pb darah sebesar 10. Namun bila dilihat pada mereka yang anemia untuk laki-laki (n=6) bersifat normochrom-normocytic sedangkan untuk para wanita yang anemia (n=15) bersifat hypochrom-normocytic. maka dapat diduga bahwa yang terjadi pada para pekerja elektronik yang sedang diteliti mungkin gabungan dari akibat Pb dan non-Pb terutama defisiensi Fe. didapatkan bahwa rata-rata Mean Corpuscular Volume (MCV) adalah 89. Kadar Pb darah dan ZnPp pada Kejadian Anemia dan Non Anemia PT.9% (n=75). 2007). Dalam teori yang ada. Amar Muntaha 128 . Frekwensi abnormalitas (diatas batas faali) kadar ZnPp pada sampel adalah 47. Mengingat penyebab terjadinya anemia di negara berkembang meliputi banyak hal seperti defisiensi Fe. Analisis Kadar Timbal dalam Lingkungan Kerja…. Bila dilihat dari akumulasi literatur pengetahuan saat ini. Tabel 8. PMI tahun 2008. Dari data ini menimbulkan dugaan bahwa pengaruh defisiensi Fe lebih terlihat pada para wanita.3%. Menurut EPA (2006). penggunaan ZnPp sebagai biomarker pemaparan Pb anorganik dapat dipakai di Indonesia. salah satunya menderita anemia. temuan ini memperlihatkan suatu hal baru yakni kecendrungan bahwa pengaruh negatif timbal terhadap sitese hemoglobin cenderung untuk tidak memiliki ambang batas yang jelas. 2010). Dapat diperlihatkan pada dataset yang ada pada penelitian ini bahwa. Peracunan oleh Pb bila digabung dengan penyebab lainnya termasuk defisiensi Fe dapat menyebabkan anemia yang lebih parah (Kwong. 2002). ZnPp mulai meningkat dalam darah akibat gangguan Pb terjadi mulai pada kadar Pb darah sebesar 30 µg/dl. Wald. Dengan demikian. Desember 2011 merupakan sifat yang dapat ditemukan pada penderita anemia karena keracunan Pb (Hermiston and Mentzer. menyatakan nilai referensi untuk tingkat pemaparan Pb dalam darah adalah 30 µg/dl sedangkan ATSDR.6 fL sedangkan Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) adalah 31. maka ada 9 orang yang berada diatas kadar tersebut dan dari 9 orang tersebut. dan relatif cukup lama dikenal di USA dan Eropa. Namun di Indonesia. Frekwensi anemia dikalangan sampel pekerja adalah sebesar 26.5%. Pada 42 pria yang ada. 3 orang mengalami anemia (33. 2003). angka kejadian Anemia pada pekerja PT. Berdasarkan tinjauan diatas maka disarankan dimasa depan. ACGIH. Literatur lainnya menyebutkan bahwa efek terhadap anemia dari Pb mulai tampak pada kadar PbB sebesar 50 µg/dl (ATSDR. ACGIH. Jadi berdasarkan dua kriteria diatas kondisi darah pada sampel yang ada saat ini berifat normochrom-normocytic.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. Menurut EPA (2006). Dilorenzo. data yang didapat pada penelitian ini mempelihatkan bahwa Batas Ambang dari gangguan Timbal dalam sintese Heme yang kemudian dapat mengakibatkan anemia mungkin tidak dimulai pada kadar Pb darah 30 µg/dl apalagi 50 µg/dl. 4. PMI. 1992. 2008 dan 2009. atau tidak dapat ditetapkan nilai ambangnya. USA). Kadar Hb yang rendah adalah akibat fragilitas membran RBC yang menyebabkan umur RBC menjadi lebih singkat (ATSDR. ZnPp dalam % atau logaritmanya berkorelasi secara baik dengan Hb dan Ht seperti halnya kadar PbB. aplikasi ZnPp dalam Biological Monitoring belum dikerjakan. Malaria dan infestasi parasit (World Bank Health.3%). Ht dan PbB Tabel 9. PMI 2010 (n= 68). 2007 dan Dilorenzo.2. Normalitas MCHC adalah 30%. dengan demikian pada semua data yang ada juga bersifat normochromic (Berkow and Fletcher. kadar Pb darah dimana sistim hemopoeitik (sintese heme) mulai terpengaruh pada kadar 20 µg/dl. 3. PMI tahun 2008 adalah 9% dan pada tahun 2009 sebesar 7%. Audio dan WP PT. 2004). Sumber: Data Pemeriksaan Kesehatan PT. 2005 mengadopsi angka 50 µg/dl sebagai kadar yang dianggap dapat memberikan efek negatif terhadap sintese hemoglobin. Sedangkan pada sampel penelitian (n=68) frekwensi anemia adalah 26. 2010. Dapat diperlihatkan pada dataset yang didapat dari penelitian ini bahwa kadar Pb darah rata-rata (n=68) adalah 11. 2005). (*) Batas Ambang Abnormalitas ZnPp adalah 41% (Quality Lab. Diatas IPB ini hanya terdapat pada 2 orang dari sampel pekerja. Hubungan ZnPp terhadap Hb. 7 No. melainkan lebih rendah. Catatan: Secara Keseluruhan. anemia akibat keracunan Pb lebih bersifat normocytic-normochrom.2.63 µg/dl. 2002 dalam Carley. Penggunaan biomarker ZnPp terutama untuk melihat secara lebih jelas pengaruh Pb terhadap penurunan hemoglobin (Carley.5%. Penggunaan ZnPp sebagai biomarker terhadap pemaparan Pb terhadap para pekerja telah di tetapkan oleh OSHA 2008.32 µg/dl. Batas normal MCV adalah 80 fL dengan demikian pada semua sampel yang ada bersifat normocytic atau volume RBC normal. Dari data ini dapat difikirkan bahwa abnormalitas kadar ZnPp dan Anemia lebih tinggi dari yang diharapkan terjadi akibat pengaruh Pb apabila mengacu kepada nilai IPB ACGIH. 2003). Pada dataset yang ada sekarang tidak terdapat pekerja dengan kadar diatas 36 µg/dl. Frekwensi Anemia pada Ketiga Departemen AC. Dari dataset yang ada.

2006). BLL. 2006). Manajemen awal dari keracunan Timbal adalah mengidentifikasi dari sumber dan pergerakan dari paparan. Lihat tabel 1 berhubungan dengan kehamilan. 2007. 7 No. Tabel diatas memperlihatkan dengan baik bahwa ZnPp memang meninggi pada mereka yang anemia. Rekomendasi Petunjuk Pengendalian Pemaparan Pekerja Terpapar Pb. Pemaparan dikurangi. Perlunya konsultasi dan evaluasi medis sebagai nasehat untuk BLL > 40 µg/dl Peraturan OSHA perlu diterapkan. Sumber: Kosnett. mewajibkan pemilik industri dimana terdapat proses kerja yang memakai Pb dan memaparkan pada pekerja. dimaksudkan untuk lebih meyakinkan bahwa penurunan Hb yang terjadi adalah akibat pengaruh Pb karena mekanisme peracunan Pb terhadap sistim hemopoitik melalui gangguan sintese heme yakni pada enzim Ferochelatase dan memberikan gambaran klinis berupa kenaikan kadar Zinc Protoporphyrin (Patrick. Rekomendasi surveilans kesehatan pekerja terpapar Pb dilihat pada tabel 10. kreatinin pada serum BLL setiap bulan untuk 3 bulan pertama dari penempatan. Tabel 10. Pengukuran BLL satu kali tidak mencerminkan beban tubuh secara kumulatif atau memprediksikan efek jangka panjang. *BLL: Kadar Timbal dalam darah. Menurut Kosnett. Analisis Kadar Timbal dalam Lingkungan Kerja…. ZnPp merupakan prediktor yang lebih baik terhadap Hb dan Ht dibanding PbB. Resiko kesehatan perlu di diskusikan. Amar Muntaha 129 . OSHA 2008. Peraturan OSHA perlu diterapkan. Distribusi univariat dalam bentuk bar diagram data ZnPp memang mengarah ke pola Log-normal. kontrol rancang bangun. Terapi chelation tidak dianjurkan kecuali jika BLL > 50 µg/dl dengan menunjukkan gejala penting. Dianjurkan untuk terapi chelation jika gejala dan/atau BLL  100 µg/dl. Penggunaan biomarker kedua. menganjurkan pemantauan biologik biomarker Pb yakni PbB bagi para pekerja.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. Resiko kesehatan perlu di diskusikan. Pemaparan di evaluasi. Jika BLL meningkat  5 µg/dl. Pengujian BLL tiap bulan. atau jika pengukuran pertama BLL  30 µg/dl (lihat tabel 1). kadar Timbal dalam darah. Pindah dari lokasi pemaparan jika pengukuran  20 ulang BLL dalam waktu 4 minggu  20 µg/dl. lihat pada tabel 11. resiko jangka panjang. Kadar Pb Darah. pemaparan harus di evaluasi dan di proteksi dengan pengukuran. Dianjurkan untuk konsultasi dan evaluasi medis yang mendesak.2. Pindah dari lokasi pemaparan saat hamil. dan pelatihan pekerjaan Pertimbangkan pemindahan (lihat tabel 1) Lihat kembali untuk BLL setiap 6 bulan setelah 3 BLL < 10 µg/dl. kemudian lakukan pengawasan ketika kadarnya meningkat. 10-19 Ketika diatas untuk BLL < 10 µg/dl. 2007. Bukti ini dianggap cukup untuk memperlihatkan hubungan antara penurunan kadar Hb dengan pengaruh dari PbB yang juga tampak lebih tinggi bagi mereka yang anemia. 3. 4. Dari beberapa kali test yang dilakukan ternyata Log ZnPp merupakan prediktor yang lebih baik bila dilihat dari hasil R square yang didapat. keduanya langsung berasosiasi secara negatif terhadap Hb dan Ht serta memperlihatkan konsistensi dataset yang ada. pemeriksaan BLL. Kategori dari Pemaparan Semua pekerja yang terpapar Timbal BLL (µg/dl) < 10 Rekomendasi Pemeriksaan atau catatan rekam medis dan pengujian fisik. berupa ZnPp selain PbB sebagai prediktor perubahan Hb (kejadian anemia). Fakta bahwa ZnPP merupakan prediktor yang lebih baik inilah yang menyebabkan negara maju seperti USA memasukkan dalam peraturan perundangan (compulsory) pemantauan Pb darah harus disertai ZnPp (US-OSHA. Pindah dari lokasi pemaparan jika pada pengulangan BLL dalam 4 minggu ≥ 20 µg/dl Pindah dari lokasi pemaparan. Karena itu para peneliti banyak yang menggunakan Log ZnPp sebagai variabel prediktor dan mendapatkan hubungan linier yang lebih baik terhadap PbB (EPA.3. kemudian BLL setiap 6 bulan. Rekomendasi Surveilans Kesehatan Pekerja Terpapar Pb. Tabel 11. *Terpapar Timbal artinya baik pada penanganan atau alat-alat yang digunakan secara signifikan mengandung Timbal dalam cara yang beralasan diharapkan dapat menyebabkan pemaparan yang berpotensi berbahaya melalui pernapasan dan pencernaan. Pengurangan pemaparan saat hamil. Pengawasan BLL. & lebih. 2007. Desember 2011 Secara umum data yang ada pada penelitian ini menunjukkan bahwa. Pertimbangkan kembali untuk bekerja pada penggunaan timbal setelah 2x pengukuran BLL < 15 µg/dl setiap bulan. Kadar Timbal Dalam Darah (µg/dl) <5 5-9 10-19 Rekomendasi Manajemen dan Perbaikan untuk Orang Dewasa 20-29 30-79  80 Sumber: Tidak membutuhkan tindakan. industri secara umum dan konstruksi dari standar Timbal untuk paparan pada lingkungan kerja. BLL setiap 6 bulan. atau ketika beban dalam tugas pada pemaparan yang tinggi. Mengacu pada OSHA. Pengendalian Pemaparan dan Tindakan Medik Kosnett. melakukan pamantauan dengan menggunakan dua biomarker yakni PbB dan ZnPp. 2008). kondisi medis tertentu.

497 untuk Hb (p=0. Pada tingkat analisis multivariat juga tidak tampak kedua variabel ini menjadi prediktor yang bermakna terhadap kadar PbB. Pada analisis multivariat juga tampak bahwa semua variabel demografik baik kontinyu atau kategorik. yang memiliki potensi melahirkan anak dengan gangguan IQ (ACGIH. Hipotesis ketiga: “Ada hubungan korelasi yang negatif antara kadar Pb dalam darah dengan kadar hemoglobin dan hematokrit para pekerja”. Seperti diulas diatas. anemia dapat terjadi karena berbagai sebab. Karena itu. Braunwald et al. maka tampak asosiasi negatif Hb dengan ZnPp bersifat signifikan. Hipotesis keempat: “Ada hubungan korelasi negatif antara ZnPp dengan kadar hemoglobin dan hematokrit para pekerja”. 2007. 3. harus dilakukan pemantauan dan pengendalian pemaparan serta surveilans medik yang kontinyu. Patrick 2006. sedangkan pada 50 subjek yang non-anemia didapat rerata sebesar 39. Kondisi anemia dan non-anemia adalah pembagian klinis berdasarkan kriteria tertentu. Hipotesis kelima: “Kejadian Anemia pada pekerja berhubungan dengan pemaparan para pekerja terhadap Pb di lingkungan kerja”. tampak bahwa kadar PbB pada mereka yang mengalami kejadian anemia lebih tinggi dari mereka yang non anemia. Keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa Hipotesis ketiga terbukti. ATSDR. Tabel 53 memperlihatkan bahwa kadar ZnPp pada mereka yang anemia lebih tinggi dari mereka yang tidak anemia. setelah dilakukan segregasi pada laki-laki dan perempuan. 2008). 2007). 2007 di aplikasikan pada dataset penelitian yang ada.22 g/dl. 1992. Untuk lebih meyakinkan lagi maka dapat dilihat pada tabel 52 dimana Analisis Kadar Timbal dalam Lingkungan Kerja…. 2002).4.04 g/dl. 2006. 2010). Tempat kerja. Pb dalam darah dapat bersumber dari pemaparan yang baru atau mobilisasi dari deposit pada tulang akibat pemaparan yang lama (Skerfving. ATSDR. 2011). Dengan demikian Hipotesis kedua tentang hubungan kadar PbB terhadap varibel demografik dianggap tidak terbukti. tidak memperlihatkan asosiasi yang signifikan. dengan kadar Pb dalam darah pekerja”. dalam hal ini dipakai kriteria bahwa anemia bagi laki-laki apabila kadar Hb kurang dari 14 gr% dan untuk wanita kurang dari 12 gr% (Berkow and Fletcher. Amar Muntaha 130 . 4. PMI terhadap program RoHS yang diterapkan oleh para pembeli antara lain Masyarakat Ekonomi Eropa yang sejak tahun 2009 mensosialisasikan RoHS secara ketat.181). tidak tampak variable demografik kontinyu (usia dan masa kerja) yang berasosiasi secara bermakna terhadap kadar PbB.8%). Tercatat disini ada 18 wanita (usia subur) yang memiliki PbB lebih dari 10 µg/dl. EPA. dan koefisien korelasi r sebesar – 0. Dataset yang ada setelah diuji secara statistik memperlihatkan korelasi negatif antara PbB terhadap kadar Hb (r = . Kebiasaan merokok. Ada 9 orang pekerja yang harus diulangi lagi pemeriksaan PbB dalam waktu 1 bulan dan bila persisten harus keluar dari tempat kerja. PMI berdasarkan Kelompok Risiko dan Managemen Kesehatan (*) Rekomendasi Kosnett.462 untuk Ht (p=0. dan Pemeriksaan kesehatan dalam 6 bulan. Anemia yang diakibatkan oleh Pb akan memberikan gambaran ZnPp meninggi karena gangguan sintese heme pada enzim Ferochelatase mengakibatkan blokade insersi Fe terhadap heme sehingga Protoporphyrin IX meningkat dalam darah (EPA.212) dan Ht (r = .63 g/dl. maka sampel darah dari semua subjek telah dilakukan pemeriksaan ZnPp di Quality Lab USA. Hasil pengukuran pada 2010 dan 2011 oleh peneliti dan oleh PT. 2005. 2010). Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD). Bila dilihat pada keterangan. 7 No. Diduga hal ini ada hubungannya dengan kepatuhan PT. PMI dapat terdeteksi dalam darah para pekerja”. Pada tingkat analisis bivariat. tidak berasosiasi secara bermakna terhadap variabel PbB. sebagian besar bekerja di Audio Department. Pada Bab IV juga diperlihatkan pada analisis bivariat bahwa semua variabel kategorik yaitu Jenis kelamin.000). Untuk para wanita ini. 3 dan 4 harus meninggalkan tempat kerja bila mereka hamil. ternyata PbB berkorelasi negatif yang bermakna terhadap kadar Hb para pekerja laki-laki (p = 0. Hipotesis kedua: “Ada hubungan antara karakteristik pekerja. Dari pemantauan terdahulu didapatkan bahwa Pb di Udara Lingkungan Kerja pernah didapat pada kadar yang tinggi sampai melebihi NAB yang dianut saat itu. Desember 2011 Tabel 12. Untuk lebih menguatkan dugaan bahwa anemia yang terjadi adalah disebabkan sebagian atau seluruhnya oleh pemaparan terhadap Pb.032. Jenis angkutan kerja. Sesuai dengan teori yang ada saat ini.2. Kandungan Timbal Darah (PbB) Pekerja PT.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol.. Hipotesis pertama dianggap terbukti. USOSHA. Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa Hipotesis keempat terbukti. R square = 12.0. Tinjauan tentang Hipotesa Penelitian Hipotesis pertama: “Pemaparan terhadap Pb yang bersumber dari bahan baku dan proses produksi di PT. PMI sendiri memperlihatkan kadar yang tidak terdeteksi. terutama untuk negara berkembang adalah infestasi parasit dan defisiensi Fe (World Bank Health. Dari uraian pada Bab V ini didapatkan bahwa PbB terdeteksi pada kisaran 1–36 g/dl dengan rerata sebesar 11. Pada analisis lebih lanjut. Analisis regresi sederhana (Pearson’s correlation) pada dataset peneltian menghasilkan hubungan yang bermakna antara ZnPP (log) terhadap Hb dan Ht dengan koefisien korelasi r sebesar – 0.000). Pada 18 subjek yang anemia didapat rerata ZnPp sebesar 56.0. 2005. Pada analisis multivariat. Sedangkan untuk para wanita pada golongan 2. Nilai normal untuk ZnPp dalam darah adalah 41 g/dl (Quality Lab USA.

Tinjauan tentang Kebaruan dan Studi Lanjutan Schwartz (1990). Pada mereka yang anemia ini ternyata rerata ZnPp adalah 56. Pb.2.5. Ulasan diatas menyangkut penggunaan dua biomarker untuk Pb yakni Pb dalam darah (PbB) dan Zinc Protoporphyrin (ZnPp) atau FEP. Untuk menilai beban tubuh (body burden) terhadap Pb akhir-akhir ini telah digunakan dua indikator lagi yakni Cumulative Body Lead Index (CBLI) dan pemeriksaan langsung pada tulang dengan teknik K-shell X-ray Flouresence (KXRF). Namun para praktisi dan akademisi di Indonesia belum memakai ZnPp sebagai biomarker. 2005).Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. 2010). Untuk PT. Pada penelitian ini hal tersebut terkendala karena jumlah sampel darah yang harus diambil untuk Hb dan lain-lain. relatif jauh dari batas normal 41 g/dl. 2004. untuk peneltian terhadap para pekerja (Bidang Occupational Health) pemakaian biomarker ZnPp ini baru yang pertama di Indonesia.06 g/dl . 2003.76 g/dl. 4. 2007). Pemakaian PbB sebagai biomarker untuk menduga tingkat pemaparan terhadap Pb di lingkungan telah sering digunakan di Indonesia. Literatur menyebutkan bahwa kedua hal ini saling memperberat. Landasan teori untuk ini adalah bahwa Pb mengganggu enzim Ferochelatase dan menyebabkan blokade pada sintese Heme sehingga Protoporphyrin IX akan meningkat dalam RBC. Pb disimpan dalam deposit tulang (trabecular dan cortical). US-OSHA sudah cukup lama mewajibkan pemakaian Biomarker kedua yakni ZnPp untuk diperiksa pada para pekerja yang terpapar Pb. sehingga pengalaman penggunaan PbB sebagai biomarker sudah cukup banyak dikerjakan baik oleh kalangan akedemisi maupun praktisi. khususnya terhadap sistim hemopoitik. Dengan demikian penulis menganjurkan untuk pemakaian Biomarker kedua (ZnPp) ini untuk para peneliti dan praktisi di Indonesia. dan dapat dimobilisasi keluar dalam darah bila pemaparan berhenti dan proses ini dapat berlangsung selama 20 tahun (Skerfving. sedangkan mereka yang non-anemia memiliki rerata kadar Pb darah sebesar 10. 1998). Ketiga lembaga ini dianggap otoritatif untuk informasi toksikologi bagi publik umum (ATSDR dan EPA) dan untuk tenaga kerja (ACGIH). maka yang pertama dikaji adalah sumber emisi dari Pb dalam lingkungan kerja. Analisis Kadar Timbal dalam Lingkungan Kerja…. Dari pengalaman dan data pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ZnPp merupakan bio-marker yang cukup baik untuk melihat dampak Pb pada sistim hemopoitik dan bila digabung dengan biomarker PbB yang selama ini telah dipakai akan memberikan bukti yang lebih nyata tentang pengaruh Pb pada sistim hemopoitik yang sesuai dengan teori yang dianut di dunia ilmiah saat ini. Jadi tampaknya batas ini menjadi lebih rendah dan memberikan dugaan bahwa tidak ada batas aman untuk pengaruh negatif Pb terhadap bio-sintese heme. Kwong. Zat besi dan Vitamin C (Ducatman. 7 No. CBLI adalah melakukan perhitungan indeks berdasarkan pemeriksaan PbB yang berulang-ulang. ZnPp akan berjumlah minimal 15 cc dan para pekerja merasa keberatan. Pengunaan biomarker ketiga yakni teknik K-XRF dan penghitungan CBLI merupakan cara dimasa depan untuk menilai beban tubuh terhadap Pb secara lebih akurat.22. Dalam tubuh. 50 g/dl (ATSDR. Disini tampak bahwa mulai terlihatnya pengaruh negatif Pb terhadap Hb para pekerja adalah sekitar 10 g/dl.06 g/dl. Amar Muntaha 131 . Sejauh yang dapat ditelusuri dari publikasi yang ada. Selain itu bukti penyokong lainnya adalah tipe anemia yang terjadi pada 18 subjek yang ada bersifat normochrom dan normocytic yang cocok dengan tipe anemia karena gangguan Pb (ATSDR. yaitu sekitar 39 g/dl . Data literatur yang dianggap current saat ini adalah adalah 30 g/dl (ACGIH. sumber emisi Pb di tempat kerja adalah Bahan baku berupa Aluminium ingot. 3. terutama bila dilihat dari tinjauan toksikologi dimana bila tubuh kekurangan Fe maka intake Pb akan lebih banyak dan cepat. Bila dilihat lebih lanjut data yang merupakan dasar penetapan ini adalah bersumber dari Graziano (1990) dan Makino (1997) yang umumnya menyatakan bahwa batas ambang terjadinya gangguan pada sistim hemopoitik adalah sekitar 30 g/dl Data yang didapat pada penelitian ini adalah rerata PbB pada mereka yang anemia adalah 14. 4. Sumber Emisi Timbal di Tempat Kerja Mengikuti paradigma dari Corvalan dan Kjellstrom.63 µg/dl. Mereka bersedia untuk memberikan sejumlah 10 cc yang dilaksanakan pada saat yang sama dengan pemeriksaan kesehatan. sedangkan K-XRF memeriksa langsung Pb dalam tulang baik cortical maupun trabecular (Hu. 2007). Karena itu juga rekomendasi pengobatan untuk keracunan Pb kronik ini adalah pemberian Kalsium. Kesimpulan dan Saran 4. Desember 2011 terdapat perbedaan yang mencolok pada rerata kadar Pb darah mereka yang mengalami kejadian anemia yakni 14. baru satu kali digunakan untuk penelitian di Indonesia yakni pada anak sekolah yang terpapar Pb (Heinze. 2007). Kenyataan diatas dapat disimpulkan bahwa dampak negatif Pb terhadap sistim hemopoitik lebih rendah dari 30 g/dl seperti yang diramalkan teori selama ini dan memperkuat dugaan bahwa tidak ada ambang yang jelas tentang berapa kadar Pb darah yang dianggap aman bagi manusia khususnya para pekerja. 2007). Solder bars dan Solder wires. menyimpulkan bahwa ada suatu nilai ambang (threshold) yang bisa dipakai sebagai acuan untuk melihat pengaruh peracunan Pb pada manusia dewasa. Dengan keterangan dan berbagai bukti penyokong yang dikemukakan diatas maka dapat dismpulkan bahwa hipotesis kelima tentang hubungan kadar Pb terhadap kejadian anemia dapat dibuktikan. Atas dasar hal tersebut maka dimasa depan disarankan penelitian pengaruh Pb terhadap sistim hemopoitik juga memakai biomarker berupa kandungan Feritin dalam darah sebagai petunjuk tentang kecukupan Fe bagi seseorang. Kesimpulan a.1. rerata PbB pada dataset yang ada (n=68) adalah 11. Secara keseluruhan. Dalam literatur. dan 30 g/dl EPA (2006). yang dapat diperiksa sebagai ZnPp atau Free Erythrocyt Protoporphyrin (FEP). Pengaruh anemia akibat defisiensi Fe merupakan hal yang sulit dipisahkan dari pengaruh Pb. Penyedia jasa untuk ini tidak ada di Indonesia dan Singapura. Kekurangan pokok dari kedua biomarker ini adalah tidak dapat membedakan apakah Pb yang ada dalam darah berasal dari mobilisasi yang ada pada tulang atau paparan baru. PMI. Ward.

misalnya LEV (Local Exhaust Ventilation) pada sumber-sumber emisi serta pemakaian respirator (dengan cartridge khusus untuk metal fumes) oleh para pekerja juga telah dilakukan PT. maka penulis menyimpulkan bahwa kejadian anemia pada para pekerja PT. Hal ini memiliki implikasi kesehatan mengingat Pb bersifat akumulatif dan pemaparan yang kontinyu dapat meningkatkan deposit Pb dalam tubuh. Hb dan Ht Pemakaian biomarker kedua berupa ZnPp dimaksudkan agar pengaruh Pb terhadap perubahan kadar Hb bisa diperlihatkan. Pengertian Lead Free yang selama ini dianut di PT. Namun ACGIH memperingatkan bahwa wanita usia subur dengan kadar Pb darah diatas 10 g/dl dapat melahirkan anak dengan defisit IQ.93 g/dl. Analisis statistik meperlihatkan bahwa PbB merupakan prediktor yang baik dari kadar Hb dengan koefisien yang negatif. bukan menyatakan tidak adanya Pb dalam bahan tersebut. PMI.435 dan p = 0. karena Pb bersifat mengganggu Analisis Kadar Timbal dalam Lingkungan Kerja….Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. f. memperlihatkan hasil bahwa Pb di Udara Lingkungan Kerja dapat terdeteksi dan bahkan mencapai angka datas Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan oleh Depnaker RI 1997 dan ACGIH 2010 sebesar 0. Kadar Hemoglobin dan Hematokrit Pekerja Dari hasil pemeriksaan kesehatan oleh perusahaan didapatkan frekwensi anemia (berdasarkan kadar Hb atau Ht) pada seluruh pekerja PT. PMI. Pada sampel yang diteliti terdapat 21 orang (26. Kadar hemoglobin pekerja berkorelasi negatif dengan kadar Pb darah (PbB) dan ZnPp dimana meningkatnya PbB dan ZnPp disertai dengan penurunan kadar Hb. PMI adalah akibat. Desember 2011 Menurut Material Safety Data Sheet (MSDS) yang diperoleh. pada ketiga Departemen yang diteliti yaitu Water Pump. frekewensi anemia yang jauh lebih tinggi secara mencolok pada mereka yang terpapar Pb dibandingkan pekerja secara keseluruhan. c. Dalam masing-masing lingkungan kerja tersebut terdapat proses dimana bahan logam (Aluminium ingot maupun kawat/batangan soder) dipanaskan sampai mencair dan menguap membentuk Metal Fumes. Para pekerja dengan demikian terpapar Metal Fumes yang mengandung Pb melalui saluran pernafasan. Hubungan PbB terhadap Hb bersifat negatif dan bermakna dengan partial coefficient sebesar -0. Kadar yang didapatkan berkisar dari 1–36 g/dl dengan rerata sebesar 11. Selain karena program RoHS. Brazing dan Spot welding (AC) dan Soldering (Audio).05 mg/m3 udara. PMI adalah 9% pada 2008 dan turun menjadi 7% pada 2009. rekayasa engineering dalam bidang K3. Hasil pemantauan terdahulu dengan sampling yang dilakukan secara internal oleh PT. Hasil analisis dataset yang ada memperlihatkan kadar Pb darah tidak berhubungan dengan kebiasaan merokok. e. Adapun angka referensi ACGIH.63 g/dl dan SD sebesar 7. baik areal maupun personal telah diulangi oleh PT. terutama dalam tulang. Semua sampel yang diambil baik 2010 maupun 2011 tidak memberikan hasil tentang kadar Pb yang terdeteksi. Amar Muntaha 132 . PMI telah mematuhi ketentuan yang ketat dari Masyarakat Ekonomi Eropa berupa program RoHS (Restriction of Hazardous Substances) yang memperbolehkan kandungan Pb dalam bahan baku maksimal 0. menunjukkan validitas data penelitian yang ada. Kadar hemoglobin dan hematokrit yang berbeda secara bermakna antara wanita dan pria.1% (1000 ppm). bahan ini mengandung senyawa logam berat antara lain Timbal (Pb). PMI sendiri. antara lain Pb. Kadar Timbal di Udara Oleh peneliti (2010) telah dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar Pb di Udara Lingkungan Kerja yang meliputi 75 sampel personal (breathing zone sampels) dan 34 sampel yang mewakili areal (stationary sampling). menyatakan bahwa kandungan Pb dalam bahan baku telah memenuhi spesifikasi tertentu untuk tujuan produksi. disebabkan dua hal yakni compliance terhadap regulasi MEE dan perbaikan dalam program K3 perusahaan. Hubungan ZnPp. dimana pria lebih tinggi dari wanita. atau paling tidak diperburuk oleh pengaruh Pb. Air Conditioner dan Audio. Hubungan Anemia dan Pemaparan Timbal Telah dikemukakan adanya hubungan yang bermakna antara kadar Timbal darah (PbB) terhadap kadar Hb pada kelompok pekerja laki-laki. Dengan demikian diduga perbaikan dalam kondisi lingkungan dalam hubungnnya dengan logam berat. Kadar Timbal dalam Darah Pekerja Kadar Pb dalam darah yang dapat diukur adalah sebanyak 68 pekerja yang tersebar pada departemen WP. Dengan demikian variasi kadar Pb darah yang ada kemungkinan besar berasal dari abosorpsi Pb dari lingkungan kerja. 7 No. Melihat adanya kandungan Pb dalam darah (PbB) dan kadar ZnPp yang lebih tinggi pada para pekerja yang anemia dibandingkan dengan yang non-anemia. Dari data yang ada terdapat 18 wanita usia subur dengan kadar Pb darah sama dengan atau lebih tinggi dari 10 g/dl. PMI dan analisis oleh laboratorium yang terakreditasi. AC dan Audio. tipe anemia yang bersifat normochrom-normocytic yang sesuai dengan tipe anemia akibat peracunan Pb yaitu anemia terjadi karena memendeknya usia RBC dan lebih fragil. g. PMI terhadap Pb diudara.036 (signifikan). terjadi pada kegiatan Die casting dan Soldering (WP). b. Pada bulan Januari 2011. yang dapat dimobilisasi kedalam darah dan menimbulkan efek kesehatan pada para pekerja. Penelusuran lebih lanjut mendapatkan fakta bahwa sejak beberapa tahun terahir (2009) PT. yaitu dengan meningkatnya ZnPp. Wanita lebih banyak menderita anemia dibandingkan pria. 4. Sumber Pemaparan Timbal di Tempat Kerja Pemaparan para pekerja di PT. pemeriksaan Pb di Udara. 2010 yang dianggap aman untuk Pb inorganik dalam darah pekerja adalah 30 g/dl. adanya korelasi negatif yang bermakna antara PbB dan ZnPp terhadap kadar Hb.5%) menderita anemia. d. jenis kelamin dan usia.

Meningkatkan kualitas SDM yang terkait dengan pengelolaan kesehatan dalam lingkungan kerja industri khususnya peningkatan kemampuan dalam bidang pengendalian risiko kesehatan dalam lingkungan kerja industri.. ZnPp dan Feritin darah terutama untuk menilai berapa besar pengaruh Pb dengan atau tanpa anemia akibat defisiensi Fe. & Kjellstrom T.2. Daftar Pustaka Achmadi UF.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. Amar Muntaha 133 . Program RoHS yang diikuti oleh PT. Karena itu pemakaian ZnPp sebagai biomarker yang penting dalam melihat toksisitas kronik Pb. 7 No. Transformasi Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja di Indonesia. 2001. Carley A. khususnya para wanita dengan menggunakan 3 biomarker yakni PbB. PMI telah berhasil menurunkan kadar Pb di Udara Lingkungan Kerja.4% pekerja. CrVI. PBB. b. USA. 2000.Mereka yang memiliki kadar Pb darah 20–29 g/dl. Saran Data penelitian ini memperlihatkan adanya 21 pekerja yang menderita anemia (26. Meningkatkan supervisi implementasi program kesehatan kerja di perusahaan. New York. Chapter 9: Hematology and Oncology. Williams. PMI yang mengikuti pemeriksaan kesehatan tahun 2009 adalah 7%.5%) dari 68 sampel. harus berhenti bekerja atau dipindahkan kelokasi dimana tidak ada pemaparan terhadap soldering atau welding fumes. PMI 2009. 2003. et al. Depok. pp 169-186. Diana D. New York. antara lain untuk melihat perbedaan dalam reaksi terhadap pemaparan Pb pada polymorphism atau perbedaan genotip untuk enzim delta-Amino-laevulinic acid dehydratase (d-ALAD) namun belum ada data dari Indonesia tentang hal ini. Berkow R. 4. Anemia: When Is it Not Iron Deficiency?: Differential Diagnosis of Anemia by RBC Indices and Biochemical Markers. Pediatr Nurs 29 (3). dan PBDE) dalam bahan baku industri elektronik. diberikan pengarahan tentang efek keracunan Pb dan bagi para wanita bila hamil haruis berhenti bekerja atau dipindahkan dimana tidak ada pemaparan terhadap soldering atau brazing fumes. 1992. ZnPp. New York. & Fletcher AJ. Pengobatan dengan teknik kelasi (Chelat) tidak dianjurkan kecuali ada gejala keracunan Pb yang jelas. khususnya yang terkait dengan Surveillans Kesehatan Pekerja industri. .Mereka yang memiliki kadar diatas 30 g/dl. termasuk peningkatan kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang berlaku serta meningkatkan kemitraan dengan pihak manajemen/pemilik industri. In Principles of Toxicology Applications. Data anemia pada ketiga departemen yang diteliti sebanyak 7. bila pada pemeriksaan ulangan setelah 1 bulan tetap persisten diatas 20. PT. Desember 2011 sintese heme sehingga kadar protoporphyrin meningkat. Berdasarkan literatur yang dirujuk pada penelitian ini maka pengobatan yang dianjurkan adalah pemberian Kalsium. Hg. Corvalan C. Sesuai dengan Tabel 54 maka dianjurkan untuk melakukan follow-up medik sebagai berikut: . 1991. Pada penelitian ini dapat diperlihatkan bahwa kadar PbB dan ZnPp yang lebih tinggi pada mereka yang mengalami kejadian anemia (Hb rendah). Kepada Pemerintah: a. maka harus berhenti bekerja atau dipindahkan dilokasi yang tidak ada pemaparan terhadap soldering atau brazing fumes. Studi lain yang dianjurkan untuk dilakukan di Indonesia adalah penggunaan indeks pemaparan Pb berupa Cumulative Blood Lead Index (CBLI) dan penggunaan biomarker keempat dengan pemeriksaan kandungan Pb dalam tulang memakai alat K-shell X-ray flourescence (K-XRF). 1995. Basic Environmental Health. In The Merck Manual 16th Edition. Jawa Barat. dan data keseluruhan pegawai PT. Zat Besi (Fe) dan Vitamin C. Dengan demikian dalam khasanah Iptek Kesehatan Kerja saat ini ada empat biomarker yang dapat dipergunakan untuk menduga body burden dan derajat pemaparan terhadap Pb yaitu Pb darah (PbB). Namun ini tidak berarti bahwa kadar Pb darah para pekerja telah turun atau tidak terdeteksi. World Health Stat Q 49(2): 71 – 77 in Annale Yassi et al. untuk melihat body burden terhadap Pb. Depok. Pulmonotoxicity: Toxic Effect in The Lung. Analisis Kadar Timbal dalam Lingkungan Kerja…. Studi lanjutan yang dianjurkan setelah penelitian ini adalah yang menyangkut penilaian pengaruh Pb pada pekerja Indonesia.. Laporan Pemeriksaan Kesehatan PT. . Melakukan review terhadap peraturan perundangan terkait dengan pencegahan keracunan logam berat dalam lingkungan kerja industri. c. Health and Environmental Analysis for Decision Making.Mereka yang memiliki kadar Pb darah 10–19 g/dl. Merck Research Laboratory. Penulis menyarankan agar semua mereka yang anemia. 2nd Edition. Oxford University Press. 2009. Wiley Interscience. yaitu 2 orang. Data memperlihatkan bahwa kadar Pb darah yang ada bervariasi dari 1–36 g/dl. Program ini menyangkut restriksi kandungan beberapa bahan beracun dan berbahaya (yaitu Pb. NJ. 4. dan sebagai indikator pemaparan serta efek pemaparan masih bisa dipakai dimasa depan dan sebaiknya dibuat menjadi acuan di Indonesia. sebanyak 31 orang. baik yang diduga karena efek toksik dari Pb atau penyebab lainnya dilakukan tindakan terapeutik. PMI Cimanggis. Setelah beberapa kali pemantauan pada tahun 2010 dan 2011 didapatkan kadar Pb di Udara Lingkungan Kerja tidak terdeteksi. Analisis memperlihatkan Zinc Protoporohyrin (ZnPp) merupakan prediktor yang lebih baik terhadap Hb dan Ht dibanding Timbal darah (PbB). Rahway. Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap FKM-UI. Studi aspek genetik toksisitas Pb pada sistim hemopoitik manusia telah banyak dilakukan di mancanegara. dan diberi pengobatan untuk keracunan Pb seperti rekomendasi diatas. Dalaas E. CBLI dan Pb tulang dengan teknik pemeriksaan K-XRF. Cd.

Yugoslavia. In. ATSDR. 1977. 7 No. World Health Organization. & Lwanga SK. 4th ed. The Agency for Toxic Substances and Disease Registry. NJ. World Health Organization Genewa. www. & Factor-Litvac P. Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB)/Indonesian Fuel Quality Report.Jurnal Kesehatan Bina Husada Vol. ToxGuide for Lead. WHO. web site: www. Hasan MI. 2011. 2007. US-OSHA. 2005. Determinanats of Elevated Blood.int/.acgih. 4. Cincinnati. Sweden.gov/pls/oshaweb/owadisp. National Institute for Working Life. Air Quality Criteria for Lead. Shih R. CRC Press. 3rd ed. The Agency for Toxic Substances and Disease Registry. Environ Health Perspect 115: 455-462. Gadjah Mada University Press. WHO.org/hnp. Analisis Kadar Timbal dalam Lingkungan Kerja….osha. 2007.show_docume nt?p_table=STANDARDS&p_id=10030. Science of Total Environment. World Bank Health-NutritionPopulation. & Semba RD. Occupational and Environmental Medicine.int/. Stockholm.who. & Schwartz BS. 2004. 1990. 2007. Pokok-Pokok Materi Statistik 2 (Statistik Inferensif). Document no EPA/600/R-05/144aF. TLVs and BEIs 2010. Hosmer Jr. 2006. STIK Bina Husada. Yogyakarta. Desember 2011 EPA. Lead and Its Compounds. & Rothernberg SJ. 2005. The United States Occupational Safety and Health Administration.1910. Toxicological Profile For Lead. Industrial Hygiene. Bumi Aksara. 1995.gov. Environmental Health Criteria 165. Jakarta. 2007. 2005. Hoboken. Friello P. Rothenberg S. Lippincott. Skerfving S. Lemeshow S. 330:1-3 pp 21-37. ACGIH. diakses 14 Februari 2009. Popovac D. Clean Fuel: A Requiretment for Air Quality Improvement. Occupational and Environmental Exposure to Lead. Inorganic Lead. Environmental Health Criteria 3.1025. Regulations (Standards . Jakarta.atsdr. www. Air Quality Criteria for Lead. New York. Edisi Kedua. Human Exposure and Their Health Effects. 2006. Hu H. ACGIH. Malaka T. Klar J. Environ Health Perspect 115:463–471. William. Environmental Toxicology. The Epidemiology of Lead Toxicity in Adults: Measuring Dose and Consideration of Other Methodologic Issues. Boca Ratton Fl. 2007. http://www. Lead. Palembang. Environmental Protection Agency Fischbein H.29 CFR) Lead. diakses 14 Februari 2009. Criteria Document for Swedish Occupational Standards: Inorganic Lead. diakses 4 Januari 2010. Interaction Between Iron Deficiency and Lead Poisoning.who. ATSDR. William and Wilkins. In EPA 2006. 2010.atsdr. . Kuliah Pasca Sarjana Program Magister Kesehatan Masyarakat. 2007. Recommnedation for Medical Management Of Adult Lead Exposure. www. & Hu H. www. diakses 19 September 2010.cdc. www. Kementrian Lingkungan Hidup. diakses 20 Jannuari 2011. Lead During Pregnancy In a Population Surrounding Lead Smelter Plant in Kosovo.cdc. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan. N. DW. Environmental Toxicants.gov/.org/. Amar Muntaha 134 . 2008. Dalam Morton Lipmann. diakses 20 Oktober 2010. 2009. Wedeen RP. Anemia at a Glance. Genewa. 2009. Kosnett MJ. 1997. The American Conference of Governmental Industrial Hygienists. World Bank Health. Rom. John Wiley and Sons. Graziano JH. Kwong WT. diakses 12 Maret 2009. Biological and Health Effects of Pollutants. Grant LD.worldbank. Ho-Yu M. CAS 7439-92-1. The American Conference of Governmental Industrial Hygienist.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful