LAPORAN PENDAHULUAN GASTROENTERITIS AKUT (GEA) PADA ANAK

Disusun oleh : Ady Sanjaya Putra NIM. 10.001

Akademi Keperawatan Dian Husada Mojokerto 2012

monosakarida pada bayi dan anak. protozoa. Faktor infeksi Infeksi internal adalah infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. poliomyelitis. II. 2002). astovirus dan lain-lain. DEFINISI Gastroenteritis merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya. Coli. dan patogen (D. sesudah membuang tinja atau sebelum mengkonsumsi makanan. 5. 4. shigella.L Wong.LAPORAN PENDAHULUAN GASTROENTERITIS AKUT (GEA) I. 3. salmonella. Faktor makanan : Makanan basi beracun dan alergi makanan. malabsorbsi protein. virus. rotavirus. coxsackie. ETIOLOGI Etiologi gastroenteritis (diare) akut menurut (Ngastiyah. Faktor malabsorbsi Malabsorbsi karbohidrat : disakarida. malabsorbsi lemak. 2. meliputi: a) Infeksi bakteri : Vibrio. Gastroenteritis akut adalah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat (Suharyono. aeromonas dan sebagainya. E. keenceran serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir dan darah (Hidayat AAA. dan jamur. 2005) yaitu : 1. adenovirus. campylobacter. 2003) Gastroenterits akut adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri. dimulai dengan peningkatan volume. Faktor kebersihan Penggunaan botol susu. . tidak mencuci tangan sesudah buang air besar. 2006). infeksi internal. Faktor psikologi Rasa takut dan cemas dapat menyebabkan diare karena dapat merangsang peningkatan peristaltik usus. yersinia. b) Infeksi virus : entroviru (virus ECHO). air minum tercemar dengan bakteri tinja. c) Infeksi parasite : Cacing.

Protein F makanan F. Tek osmo tik toksin tak dapat diserap cemas Hipersekresi air dan elektrolit ( isi rongga usus) pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus hiperperistaltik menurunya kesempatan usus menyerap makanan DIARE Frek. kes. Psikologi Masuk dan ber kembang dlm usus meningk. muntah Resiko hipovolemi syok sesak nafsu makan Gang. Metabl mual. Tumbang . PATHWAY faktor infeksi F malabsorbsi KH. cairan & elekt As. BAB meningkat distensi abdomen Kehilangan cairan & elekt berlebihan integritas kulit perianal gg.III. Oksigensi BB menurun Gangg.Lemak.

riwayat kasus infeksi keracunan akan bervariasi bergantung pada agen dengan variasi onset.anuria) Turgor kulit munurun sampai jelek Ubun-ubun / fontanela cekung Kelopak mata cekung Membran mukosa kering (suryadi. . MANIFESTASI KLINIK • • • • • • • • • • • • • • Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer Kram perut Demam Mual Muntah Kembung Anoreksia Lemah Pucat Urin out put menurun (oliguria. • • • • • • • • frekuensi dan bentuk tinja kehadiran darah dan lendir Muntah Demam Kekurangan cairan menyebabkan klien akan merasa haus ludah kering tulang pipi menonjol turgor kulit menurun serta suara menjadi serak.IV. 2001) Pasien kasus infeksi dengan keracunan makanan.

dkk. 2001).• Asidosis metabolik akan menyebabkan frekuensi pernapasan lebih cepat dan dalam (kusmaul) • • • • • • denyut nadi cepat + 120 x/menit tekanan darah menurun sampai tidak terukur klien gelisah muka pucat extremitas bagian ujung dingin dan kadang sianosis kekurangan kalium dapat menyebabkan aritmia jantung (Eko Cahyadi. PENATALAKSANAAN Keperawatan . 2001) VI. asidosis metabolic Syok Kejang Sepsis Gagal ginjal akut Ileus paralitik Malnutrisi Gangguan tumbuh kembang (suryadi. 2006. KOMPLIKASI • • • • • • • • Kehilangan air dan elektrolit : dehidrasi. Mansjoer A. V.

digunakan untuk : • • • Mengatasi diare tanpa dehidrasi Meneruskan terapi diare di rumah Memberikan terapi awal bila anak diare lagi . C b. Mengontrol dan mengatasi demam e. Penyuluhan kesehatan : • • • • • • • • Upayakan ASI tetap diberikan Kebersihan perorangan : cuci tangan sebelum makan Kebersihan lingkungan : buang air besar di jamban Memberikan makanan penyapihan yang benar Penyediaan air minum yang bersih Selalu memasak makanan Selalu merebus dot/botol susu sebelum digunakan Tidak jajan di sembarang tempat Medis a. rendah serat. makanan diberikan sedikit-sedikit tapi sering (lebih kurang 6 kali sehari). Memnuhi kebutuhan nutrisi : anak tidak boleh dipuasakan. Mengganti cairan dan elektrolit yang hialng : mengelola plan A. Rencana pengobatan A. Memonitor tanda dehidrasi. syok c.a. Resusitasi cairan dan elektrolit b. buah-buahan diberikan terutama pisang d. B.

beritahu ibu untuk memberikan cairan lain atau kembali ke petugas untuk mendapatkan tambahan oralit Berikan sesendok teh tiap 1-2 menit untuk anak < 2 . Berikan lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah dehidrasi (oralit. Rencana pengobatan A : a. air matang).200-2. makanan cair : sup.800 ml/hari Cara memberikan oralit : • tahun • • Berikan beberapa teguk dari gelas untuk anak lebih tua Bila anak muntah. tunggi 10 menit. kemudian berikan cairan lebih sedikit (sesendok teh tiap 1-2 menit) • Bila diare berlanjut setelah bungkus oralit habis.Tiga Cara Dasar 1. Berikan cairan ini sebanyak anak mau dan terus diberikan hingga diare berhenti. Kebutuhan oralit per kelompok umur Umur < 12 bulan 1-4 tahun > 5 tahun Dewasa Diberikan setiap BAB 50-100 ml 100-200 ml 200-300 ml 300-400 ml Yang disediakan 400 ml/hari (2 bungkus) 600-800 ml/hari (3-4 bungkus) 800-1000 ml/hari (4-5 bungkus) 1.

tambahkan 1 atau 2 sendok teh minyak sayur tiap porsi Berikan sari buah segar atau pisang halus untuk menambah kalium Dorong anak untuk makan berikan sedikitnya 6 kali sehari Berikan makanan yang sama setelah diare berhenti dan berikan makanan tambahan setiap hari selama 2 minggu Bawa anak kepada petugas bila anak tidak mebaik selama 3 hari atau anak mengalami : bab sering kali. kemudian pilih rencana A. berikan oralit sesuai tabel : Jumlah oralit yang diberikan 3 jam pertama Setelah 3-4 jam. bila mungkin dicampur dengan kacang-kacangan. nilai kembali. Rencana pengobatan C . muntah berulang. makan minum sedikit. rehidrasi dengan oralit 75 ml/kgBB dalam 3 jam pertama atau bila beraqt badan anak tidak diketahui dan atau memudahkan di lapangan. atau C untuk melanjutkan pengobatan : Umur Jumlah oralit < 1 tahun 300 ml 1-5 tahun 600 ml > 5 tahun 1. sayur. ganti dengan rencana C 3.b. susu dan sari buah seperti rencana A Bila dehidrasi berat. daging.200 ml Dewasa 2.400 ml Bila anak > / = 6 bulan atau telah mendapat makanan Teruskan pemberian ASI Untuk anak < 6 bulan dan belum mendapatkan makanan padat dapat diberikan susu yang dicairkan dengan air yang sebanding Bila tidak ada dehidrasi ringan ganti ke rencana A Bila ada dehidrasi tak berat atau sedang. B. sangat haus sekali. Beri anak makanan untuk mencegah kurang gizi • • selama 2 hari • padat: Berikan bubur atau campuran tepung lainnya. ulangi rencana B tetapi tawarkan makanan. tinja berdarah 2. demam. Rencana pengobatan B • Dehidrasi tidak berat (ringan-sedang).

smekta). opium). C untuk melanjutkan pengobatan » Obat-obat anti diare meliputi antimotilitas (loperamid. » » Obat anti muntah : prometazin. adsorben (norit. Bila rehidrasi belum tercapai percepat tetesan infuse Juga berikan oralit 5 ml/kgBB/jam bila penderita bisa minum.• Dehidrasi berat : rehidrasi parenteral/cairan intravena segera. kemudian pilih rencana A. kaolin. Asering atau garam normal (larutan yang hanya mengandung glukosa tidak boleh diberikan) Umur < 12 bulan > 1 tahun 30 ml/kgBB 1 jam pertama ½ jam pertama 70 ml/kgBB 5 jam kemudian 2 ½ jam kemudian • Rehidrasi parenteral : » » » RL atau Asering untuk resusitasi/rehidrasi D1/4S atau KN1B untuk maintenan (umur < 3 bulan) D1/2S atau KN3A untuk maintenan (umur > 3 bulan) Ulangi bila nadi masih lemah atau tidak teraba Nilai kembali tiap 1-2 jam. B. Biasanya setelah 3-4 jam (bayi) atau 1-2 jam (anak) Setelah 3-6 jam (bayi) atau 3 jam (anak) nilai lagi. domperidon. difenoksilat. klorpromazin Antibiotic hanya diberikan untuk disentri dan tersangka kolera : Metronidazol 50 mg/kgBB/hari . Beri 100 ml/kgBB cairan RL. kodein.

Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui fungsi ginjal. . dikoreksi dengan kalsium glukonas perlahan-lahan 5-10 menit sambil memantau detak jantung » Hipokalemia (K < 3. c. 2000) VII. 4. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif terutama dilakukan pada apenderita diare kronik ( Suharyono 2003 ). Biakan kuman penyebab. b. 3. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. dikoreksi dengan RL ata Hiperkalemia (K > 5 mEq/L). dikoreksi dengan D1/3S.» Hiponatremia (Na > 155 mEq/L). bila memungkinkan dengan menentukan pH keseimbangan analisa gas darah atau astup bila memungkinkan. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup. » NaCl » Hiponatremia (Na < 130 mEq/L). (Kapita Selekta Kedokteran. penurunan kadar Na tidak boleh lebih dari 10 mEq per hari karena bisa menyebabkan edema otak. Pemeriksaan tinja a. Makroskopis dan mikroskopis.5 mEq/L) dikoreksi dengan KCl. 2. Tes resisten terhadap berbagai antibiotik.

VIII. PENGKAJIAN KEPERAWATAN 1. Member asi. Kebanyakan kasus karena infeksi usus asimptomatik dan kuman enteric menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Pemberian penyakit 3. vitamin. protein. Diuretic pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan penyembuhan dan menjaga kesehatan. Identitas Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Pemberian penanganan feses pada penyebab penyakit 2. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan. 4. mineral dan makanan yang bersih. Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori. Pengolaan sampah yang baik. hal ini membantu menjelaskan penurunan insidence penyakit pada anak yang lebih besar. • • • Meminum air minum sehat. peroral dan cairan parental IX. ASUHAN KEPERAWATAN TEORI I. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas aktif mulai terbentuk. PENCEGAHAN • Mencuci tangan pakai sabun pada lima waktu penting (sebelum makan. setelah buang air besar. Status ekonomi juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan perawatannya . setelah menceboki anak dan sebelum menyiapkan makanan). . Obat-obatan dengan keterangan : pemberian cairan. Kebanyakan kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi. 6. sebelum memegang bayi. TERAPI Terapi pada diare akut menurut suryadi 2001 yaitu : 1. Membuang air besar dan kecil pada tempatnya. 5.

pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit). 6. Kenaikan linkar kepala : 12cm ditahun pertama dan 2 cm ditahun kedua dan seterusnya. porsi yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu. Riwayat Penyakit Sekarang BAB warna kuning kehijauan. alergi makanan. Konsistensi encer. lingkungan tempat tinggal. seluruhnya berjumlah 14 – 16 buah Erupsi gigi : geraham perama menusul gigi taring. lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan). Keluhan Utama BAB lebih dari 3 x 3. ISPA. kebiasan cuci tangan. 4.. Riwayat Kesehatan Keluarga Ada salah satu keluarga yang mengalami diare. Pertumbuhan • • • • b. kekurangan gizi pada anak usia toddler sangat rentan. • Kenaikan BB karena umur 1 –3 tahun berkisar antara 1. 5. OMA campak. bercamour lendir dan darah atau lendir saja. Riwayat Nutrisi Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa. Riwayat Penyakit Dahulu Pernah mengalami diare sebelumnya. 7.2. geraham pertama dan gigi taring. menjaga kebersihan dan sanitasi makanan. . waktu pengeluaran : 3-5 hari (diare akut). Cara pengelolahan makanan yang baik. lebih dari 14 hari (diare kronis). Perkembangan Tahap perkembangan Psikoseksual menurut Sigmund Freud. Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan a. kurang menjaga kebersihan.5-2. PB 6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun. ISK. Tumbuh gigi 8 buah : tambahan gigi susu.5 kg (ratarata 2 kg). Riwayat Kesehatan Lingkungan Penyimpanan makanan pada suhu kamar. 8. frekuensi lebih dari 3 kali.

• Gerakan kasar dan halus. keadaan umum : klien lemah. hubungna interpersonal. minum sedikit atau kelihatan bisa minum . mual muntah. jika orang tua terlalu over protektif menuntut harapan yanag terlalu tinggi maka anak akan merasa malu dan ragu-ragu seperti juga halnya perasaan tidak mampu yang dapat berkembang pada diri anak. lingkar kepala. nafsu makan menurun. lesu. kering. Sistem pencernaan : mukosa mulut kering. berdiri dengan satu kaki tampa berpegangan sedikitpun 2 hitungan (GK) 2. Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun lebih d. Melepasa pakaian sendiri (BM) 9. distensi abdomen. Pemeriksaan Fisik a. berat badan menurun. • Tahap perkembangan psikososial menurut Erik Erikson.Fase anal : Pengeluaran tinja menjadi sumber kepuasan libido. b. minum normal atau tidak haus. lingkar lengan mengecil. Menyatakan keinginan sedikitnya dengan dua kata (BBK) 4. BAB sendiri. c. sangat cekung e. mulai kenal dengan tubuhnya. kesadaran menurun. cinta diri sendiri/ egoistic. Mata : cekung. perkembangan bicra dan bahasa (meniru dan mengulang kata sederhana. bergaul dan mandiri : Umur 2-3 tahun : 1. rewel. bermain). pengukuran panjang badan. lingkar abdomen membesar. Autonomy vs Shame and doundt Perkembangn ketrampilan motorik dan bahasa dipelajari anak toddler dari lingkungan dan keuntungan yang ia peroleh Dario kemam puannya untuk mandiri (tak tergantug). bahasa dan kecerdasan. Meniru membuat garis lurus (GH) 3. Melalui dorongan orang tua untuk makan. berpakaian. gelisah. peristaltic meningkat > 35 x/mnt. bacara. tugas utamanyan adalah latihan kebersihan. meulai menunjukan keakuannya. minum lahap dan kelihatan haus.

putus asa. turgor menurun > 2 dt. Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah. akral hangat. capillary refill time memajang > 2 dt. j.f. RR : < 40 . frekuensi berkurang dari sebelum sakit. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare. h. 3.50 C. Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang berupa perpisahan. Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive III. 36-37. 6. Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ). kemerahan pada daerah perianal. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekwensi diare. terhadap tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes. dan kemudian menerima. pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan) g. S. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. II. kehilangan waktu bermain. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare atau output berlebihan dan intake yang kurang 2. Resiko tinggi gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan BB menurun terus menerus. Sistem integumen : warna kulit pucat. akral dingin (waspada syok). Sistem Pernafasan : dispnea. 5. Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi skunder terhadap diare 4. INTERVENSI KEPERAWATAN Diagnosa 1: Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal Kriteria hasil : • Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt. suhu meningkat > 375 0 c. tensi menurun pada diare sedang . i.

Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur R/ Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat. 2-3 lt/hr R/ Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral 5) Kolaborasi : Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na. Konsistensi BAB lembek. antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin. BUN) R/ koreksi keseimbang cairan dan elektrolit. penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt 4) Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien. 3) Timbang berat badan setiap hari R/ Mendeteksi kehilangan cairan . Diagnosa 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan out put Tujuan : setelah dilakukan tindakan perawatan selama dirumah di RS kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria : . UUB tidak cekung. antispasmolitik. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit 2) Pantau intake dan output R/ Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak aadekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.x/mnt) • • Turgor elastik . mata tidak cowong. Obat-obatan : (antisekresin. frekwensi 1 kali perhari Intervensi : 1) Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit R/ Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekataj urin. antibiotik) R/ anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang. K. BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).Ca. antispasmolitik untuk proses absorbsi normal. membran mukosa bibir basah.

fungtio leasa) Intervensi : 1) Monitor suhu tubuh setiap 2 jam R/ Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh ( adanya infeksi) 2) Berikan kompres hangat : Stelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi peningkatan suhu tubuh .air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan sluran usus. sajikan makanan dalam keadaan hangat R/ situasi yang nyaman. 5) Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain : a.5 C) Tidak terdapat tanda infeksi (rubur. 3) Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan R/ Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan 4) Monitor intake dan out put dalam 24 jam R/ Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan. berlemak dan air terlalu panas atau dingin) R/ Serat tinggi.. obat-obatan atau vitamin ( A) R/ Mengandung zat yang diperlukan .Nafsu makan meningkat . lemak. tumor. dolor. untuk proses pertumbuhan Diagnosa 3 : Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare Tujuan Kriteria hasil : suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37. rileks akan merangsang nafsu makan. susu b. jauh dari bau yang tak sedap atau sampah. kalor. terapi gizi : Diet TKTP rendah serat.BB meningkat atau normal sesuai umur Intervensi : 1) Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi. 2) Ciptakan lingkungan yang bersih.

mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi iskemi dan irirtasi . klien tampak tenang dan tidak rewel Intervensi : 1) Libatkan keluarga dalam melakukan tindakan perawatan R/ Pendekatan awal pada anak melalui ibu atau keluarga 2) Hindari persepsi yang salah pada perawat dan RS R/ mengurangi rasa takut anak terhadap perawat dan lingkungan RS 3) Berikan pujian jika klien mau diberikan tindakan perawatan dan pengobatan .R/ merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh 3) Kolaborasi pemberian antipirektik R/ Merangsang pusat pengatur panas di otak Diagnosa 4 :Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan peningkatan frekwensi BAB (diare) Tujuan : setelah dilakukan tindaka keperawtan selama di rumah sakit integritas kulit tidak terganggu Kriteria hasil : .Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal dengan baik dan benar Intervensi : 1) Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur R/ Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman 2) Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya) R/ Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban dan keasaman feces 3) Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam R/ Melancarkan vaskulerisasi.Tidak terjadi iritasi : kemerahan. lecet. klien mampu beradaptasi Kriteria hasil : Mau menerima tindakan perawatan. kebersihan terjaga . Diagnosa 5 : Kecemasan anak berhubungan dengan tindakan invasive Tujuan : setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam.

EGC. Philadelpia. 2001. Jakarta Doengoes. 5) Berikan mainan sebagai rangsang sensori anak R/ merangsang perkembangan sensori anak. Asuhan Keperawatan Maternal/ Bayi.. Yuliani R. Sagung Seto. Jakarta Suriadi. DAFTAR PUSTAKA Carpenitto. CV. belaian dll) R/ Kasih saying serta pengenalan diri perawat akan menunbuhkan rasa aman pada klien. Jakarta Gordon. EGC.R/ menambah rasa percaya diri anak akan keberanian dan kemampuannya 4) Lakukan kontak sesering mungkin dan lakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal (sentuhan. Asuhan Keperawatan pada Anak. Nursing Diagnoses : Definition & Classification 20012002. 2001. USA Soetjiningsih.al.LJ. Jakarta . et. Tumbuh Kembang Anak.2000. Ed 6. 1995. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. EGC.

Jakarta. EGC. Jakarta Soeparman & Waspadji (1990). . Jakarta Price & Wilson (1995).Ngastiyah (1997). BP FKUI. Ilmu Penyakit Dalam. Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ke-3. Perawatan Anak Sakit.4. Ed. Buku 1. EGC. Ed. Jilid I.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful