You are on page 1of 36

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kasus abortus (keguguran) dapat terjadi dimana saja dan kapan saja baik di negara yang

sudah maju maupun negara yang sedang berkembang. Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas dimana masa gestasi belum mencapai usia 20 minggu dan beratnya kurang dari 500 g. Secara hukum abortus adalah tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan janin sebelum waktu kelahiran tanpa melihat usia kandungannya . Abortus dapat terjadi secara alami (spontaneus), dapat pula terjadi karena dibuat/disengaja (abortus provocatus). Abortus provokatus kriminalis yaitu abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis. Abortus provokatus dibagi menjadi dua yaitu provokatus medisinalis (terapeutik) dan abortus provokatus kriminalis. Secara statistik 40 % dari semua kasus abortus merupakan abortus provokatus kriminalis. Negara – negara di Eropa barat umumnya mengancam perbuatan pengguguran kandungan dengan hukuman, kecuali bila atas indikasi medis ( bahaya maut atau bahaya kesehatan yang parah bagi si ibu, yang bila dilanjutkan akan membahayakan diri si ibu, atau bahaya kelainan kongenital yang hebat ). Amerika melarang pengguguran kandungan yang ilegal, yaitu selain yang dilakukan dokter di Rumah Sakit dengan prosedur tertentu. Bahkan di negara – negara Eropa Timur, abortus diperbolehkan bila dilakukan oleh dokter di Rumah Sakit tanpa keharusan membayar biayanya. Di Jerman Barat, pengguguran kandungan usia 14 hari hingga 3 bulan, dengan izin wanita, atas anjuran dokter dan dilakukan oleh dokter, tidak diancam hukuman. Di Indonesia, dalam KUHP tidak terdapat ketentuan yang membolehkan tindakan abortus, termasuk untuk menyelamatkan jiwa si ibu. Yang ada hanya ketentuan yang melarang dilakukan pengguguran kandungan seperti diatur dalam KUHP pasal 299,346,347, dan 348. Baru sejak tahun 1992 dalam Undang – Undang no. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dijelaskan bahwa pengguguran kandungan dapat dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi, tetapi sampai

sekarang petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis berupa Peraturan Pemerintah dan peraturan lain masih belum diterbitkan. Otopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan` interpretasi atau penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian. Otopsi pada abortus provokatus kriminalis bertujuan untuk mencari bukti dan tanda kehamilan, mencari bukti abortus dan kemungkinan adanya tindakan kriminal dengan obatobatan atau instrumen dan menentukan kaitan antara sebab kematian dengan abortus. Dokter dapat diminta bantuannya oleh polisi selaku penyidik untuk memeriksa kasus abortus provokatus tersebut. Dengan demikian seorang dokter sangat perlu membekali dirinya dengan pengetahuan yang memadai tentang aspek pengetahuan forensik dari suatu abortus pada umumnya dan abortus provocatus kriminalis pada khususnya.

1.2

Batasan Masalah Referat ini membahas mengenai temuan otopsi pada wanita yang mengalami abortus

provokatus kriminalis.

1.3

Tujuan Penulisan 1. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai temuan otopsi pada abortus provokatus kriminalis. 2. Meningkatkan kemampuan penulisan ilmiah di bidang kedokteran khususnya di Bagian Forensik dan Medikolegal. 3. Memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 2.1.1

Abortus Definisi Abortus Definisi abortus secara umum adalah menggugurkan kandungan. Berdasarkan ilmu

kedokteran, abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.5 Beberapa pengertian abortus menurut ahli, diantaranya :7 a. Eastman. Abortus adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup berdiri sendiri di luar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400 – 1000 gr atau kehamilan kurang dari 28 minggu. b. Jeffcoat. Abortus adalah pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum 28 minggu, yaitu fetus belum viable by law. c. Holmer. Abortus yaitu terputusnya kehamilan sebelum minggu ke – 16 dimana plasentasi belum selesai.

Pengertian abortus menurut hukum berbeda dengan pengertian abortus menurut ilmu kedokteran. Abortus menurut hukum adalah pengguguran kandungan atau tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan janin sebelum waktu kelahiran, tanpa melihat usia kandungannya. Juga tidak dipersoalkan, apakah dengan pengguguran kehamilan tersebut lahir bayi hidup atau mati. Yang dianggap penting adalah bahwa sewaktu pengguguran kehamilan dilakukan, kandungan tersebut masih hidup.2

2.1.2

Klasifikasi abortus Meskipun secara terminologi terdapat banyak macam abortus yang bisa dijelaskan,

Krismaryanto menguraikan berbagai macam abortus sebagai berikut :8 1. Abortus / Pengguguran kandungan Procured Abortion/ Abortus Provocatus/ Induced Abortion, yaitu pengeluaran hasil kehamilan dari rahim sebelum janin bisa hidup di luar kandungan. 2. Miscarringe / Keguguran, yaitu terhentinya kehamilan sebelum bayi hidup di luar kandungan ( viability ) usia 4-7 bulan 3. Abortus Therapeutic / Medicalis, adalah penghentian kehamilan dengan indikasi medis untuk menyelamatkan nyawa ibu, atau tubuhnya yang tidak bisa dikembalikan. 4. Abortus Kriminalis, adalah penghentian kehamilan sebelum janin bisa hidup di luar kandungan dengan alasan – alasan lain selain therapeutik, dan dilarang oleh hukum. 5. Abortus Eugenik, adalah penghentian kehamilan untuk menghindari kelahiran bayi yang cacat atau bayi yang mempunyai penyakit genetis. Eugenisme adalah ideologi yang diterapkan untuk mendapatkan keturunan hanya yang unggul saja.

6. Abortus langsung – tak langsung, adalah tindakan ( intervensi medis ) yang tjuannya secara langsung ingin membunuh janin yang ada dalam tahim sang ibu. Sedangkan abortus tak langsung ialah suatu tindakan ( intervensi medis ) yang mengakibatkan abortus, meskipun abortusnya sendiri tidak dimaksudkan dan bukan jadi tujuan dalam tindakan tersebut. 7. Selective Abortion. Adalah penghentian kehamilan karena janin yang dikandung tidak memenuhi kriteria yang diinginkan. Abortus ini banyak dilakukan wanita yang mengadakan “ Pre natal diagnosis ‘ yakni diagnosis janin ketika ia masih ada di dalam kandungan. 8. Embrio Reduction ( penguarangan embrio ), pengguguran janin dengan menyisakan satu atau dua janin saja, karena dikhawatirkan mengalami hambatan perkembangan, atau bahkan tidak sehat perkembangannya. 9. Partial Birth Abortion, pada TM III, merupakan istilah politis / hukum yang dalam istilah medis dikenal dengan nama dilatation and extaction. Cara ini pertama – tama adalah dengan cara memberikan obat – obatan kepada wanita hamil, tujuan agar leher rahim terbuka secara prematur. Tindakan selanjutnya adalah menggunakan alat khusus, dokter memutar posisi bayi, sehingga yang keluar lebih dahulu adalah kakinya. Lalu bayi ditarik keluar, tetapi tidak seluruhnya, agar kepala bayi tersebut tetap berada dalam tubuh ibunya. Ketika di dalam itulah dokter menusuk kepala bayi dengan alat yang tajam. Kemudian menghisap otak bayi sehingga bayi mati. Sesudah itu baru disedot keluar.

Di dalam ilmu kedokteran, abortus dibagi atas dua golongan :2 1. Abortus Spontan (Spontaneus Abortion) Abortus spontan adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor – faktor mekanis ataupun medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.

Diperkirakan antara 10-20% dari kehamilan akan berakhir dengan abortus secara spontan.6 2. Abortus Provokatus (Induced Abortion) Abortus provokatus adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obatobatan maupun alat-alat. Abortus provokatus ini terbagi lagi menjadi : a. Abortus Provokatus Medisinalis (Abortus Provocatus Therapeutica) Abortus provokatus medisinalis adalah abortus yang dilakukan dengan alasan medis, dimana terminasi kehamilan bisa dilakukan pada saat kritis untuk menolong jiwa si ibu, umpamanya pada kehamilan di luar kandungan, sakit jantung yang parah, penyakit TB yang parah, tekanan darah yang sangat tinggi, kanker payudara, kanker leher rahim. Indikasi untuk melakukan abortus provokatus medisinalis sedikit – dikitnya harus ditentukan oleh dua orang dokter spesialis, seorang ahli kebidanan dan dari ahli penyakit dalam atau ahli jantung.

b. Abortus Provokatus Kriminalis Abortus provokatus kriminalis adalah abortus yang terjadi karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis. Hal ini dilakukan dengan alasan – alasan tertentu, misalnya malu mengandung karena hamil di luar nikah. Biasanya dilakukan demi kepentingan pelaku, baik itu dari wanita yang mengaborsikan kandungannya ataupun orang yang melakukan abortus seperti tenaga medis ataupun non medis yang hanya mencari keuntungan materi saja. Berdasarkan uraian di atas, maka di dalam menghadapi kasus abortus penyidik harus dapat memperoleh kejelasan, apakah tindakan menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita memang ditujukan untuk menyelamatkan nyawa ibunya, ataukah ada maksud lain dibalik tindakan tersebut.6

Berbagai tindakan pengobatan yang menimbulkan harapan akan terjadinya gugur kandungan seorang perempuan juga dapat dipidana dengan pidana penjara, demikian pula pada mereka yang menyuruh seorang perempuan untuk diobati agar dengan pengobatan tersebut terjadi gugur kandungan.6 Dari semua tipe abortus maka yang paling mendatangkan bahaya maut bagi si ibu dan yang merupakan kasus yang paling banyak dihadapi oleh penyidik adalah abortus kriminalis, walaupun perlu tetap diingat bahwa menurut per-Undang-Undangan yang berlaku (K.H.U.P), tidak diberi batasan atau perbedaan yang jelas antara abortus kriminalis dengan abortus lainnya.6

2.1.3

Jenis - Jenis Tindakan Abortus Provokatus Kriminalis Terdapat berbagai metode yang sering dipergunakan dalam abortus provokatus kriminalis

yang perlu diketahui, oleh karena berkaitan dengan komplikasi yang terjadi dan bermanfaat di dalam melakukan penyidikan serta pemeriksaan mayat untuk menjelaskan adanya hubungan antara tindakan abortus itu sendiri dengan kematian yang terjadi pada si-ibu. Berdasarkan survey cara abortus yang dilakukan oleh dokter dan bidan/perawat adalah berturut-turut: kuret isap (91%), dilatasi dan kuretase (30%) sertas prostaglandin / suntikan (4%). Abortus yang dilakukan sendiri atau dukun memakai obat/hormon (8%), jamu/obat tradisional (33%), alat lain (17%) dan pemijatan (79%).9 1. Kekerasan mekanik lokal Dapat dilakukan dari luar maupun dari dalam. Kekerasan dari luar dapat dilakukan sendiri oleh si ibu atau oleh orang lain, seperti melakukan gerakan fisik berlebihan, jatuh, pemijatan/pengurutan perut bagian bawah, kekerasan langsung pada perut atau uterus, pengaliran listrik pada serviks dan sebagainya.2 Kekerasan dari dalamyaitu dengan melakukan manipulasi vagina atau uterus. Manipulasi vagina dan serviks uteri, misalnya dengan penyemprotan air sabun atau air panas pada porsio, aplikasi asam arsenik, kalium permanganat pekat, atau jodium tinktur, pemasangan laminaria stift atau kateter ke dalam serviks, atau manipulasi serviks dengan jari tangan. Manipulasi uterus, dengan

melakukan pemecahan selaput amnion atau dengan penyuntikan ke dalam uterus.Pemecahan selaput amnion dapat dilakukan dengan memasukkan alat apa saja yang cukup panjang dan kecil melalui serviks. Penyuntikan atau penyemprotan cairan biasanya dilakukan dengan menggunakan Higginson tipe syringe, sedangkan cairannya adalah air sabun, desinfektan atau air biasa/air panas. Penyemprotan ini dapat mengakibatkan emboli udara.2

2.

Obat / zat tertentu Pernah dilaporkan penggunaan bahan tumbuhan yang mengandung minyak eter tertentu yang dapat merangsang saluran cerna hingga terjadi kolik abdomen, jamu perangsang kontraksi uterus dan hormon wanita yang merangsang kontraksi uterus melalui hiperemi mukosa uterus. Hasil yang dicapai sangat bergantung pada jumlah (takaran), sensitivitas individu dan keadaan kandungannya (usia gestasi).2 Bahan-bahan tadi ada yang biasa terdapat dalam jamu peluntur, nenas muda, bubuk beras dicampur lada hitam, dan lain-lain. Ada juga yang agak beracun seperti garam logam berat, laksans dan lain-lain, atau bahan yang beracun, seperti strichnin, prostigmin, pilokarpin, dikumarol, kina dan lain-lain. Kombinasi kina atau menolisin dengan ekstrak hipofisis (oksitosin) ternyata sangat efektif. Akhir-akhir ini dikenal juga sitostatika (aminopterin) sebagai abortivum.2

Menurut referensi lain ada tiga kelompok besar cara untuk melakukan abortus buatan (provokatus) yaitu:9 1. Dengan obat-obatan : a. Antiprogestin

Dikenal dengan nama pil RU 486. Pil ini menimbulkan abortus dengan mencairkan corpus luteum yang berfungsi mempertahankan kehamilan muda. Biasanya digabung dengan prostaglandin. b. Methotrexate. Biasanya digabung dengan prostaglandin. c. Prostaglandin. Khasiatnya membuat rahim berkontraksi dan mengeluarkan isinya. d. Larutan garam hipertonik. Menyebabkan tekanan dalam rahim meningkat yang pada gilirannya menyebabkan rahim berkontraksi dan mengeluarkan janin. e. Oksitosin. Khasiatnya menyebabkan rahim berkontraksi. Saat ini banyak dipakai obat-obat yang mengandung hormon estrogen dan progestin untuk mereka yang terlambat haid. Sebenarnya obat-obat tersebut tidak berkhasiat menggugurkan kandungan (abortus), tetapi hanya menimbulkan haid bila tidak ada kehamilan.

2. Dengan tindakan medik yaitu dengan: a. Dilatasi dan Kuretase (D & K) b. Penyedotan (suction curettage) c. Dilatasi bertahap d. Penggaraman (cairan garam hipertonik) e. Histerotomi

3. Dengan cara tradisional yaitu seperti: a. Melakukan kegiatan fisik yang berat/berlebihan seperti meloncat, mengangkat barang berat.

b. Memasukkan daun atau batang tanaman tertentu ke dalam rahim. c. Minum obat-obat tradisional seperti jamu. 2.1.4. Metode Abortus Sesuai Usia Kehamilan Metode yang dipakai untuk melakukan abortus tergantung dari usia kehamilan, hal mana perlu diketahui penyidik dalam kaitannya dengan pengumpulan barang-barang bukti.6 Terdapat banyak cara ataumetode dalam tindakan abortus yang disesuaikan dengan umur kehamilan antara lain:10 a. Metode Abortus Trimester Pertama
• Metode Penyedotan (Suction Curettage)

Pada 1-3 bulan pertama dalam kehidupan janin, aborsi dilakukan dengan metode penyedotan. Teknik inilah yang paling banyak dilakukan untuk kehamilan pada trimester pertama. Mesin penyedot bertenaga kuat dengan ujung tajam dimasukkan ke dalam rahim lewat mulut rahim yang sengaja dimekarkan. Penyedotan ini mengakibatkan tubuh bayi berantakan dan menarik ari-ari (plasenta) dari dinding rahim. Hasil penyedotan berupa darah, cairan ketuban, bagian-bagian plasenta dan tubuh janin terkumpul dalam botol yang dihubungkan dengan alat penyedot tersebut.

Gambar . Metode Suction Curretage (Sumber: http://www.klikdokter.com) Diunduh tanggal 3 Maret 2013

• Metode D dan C – Dilatasi dan Kerokan

Dalam teknik ini, mulut rahim dibuka atau dimekarkan dengan paksa untuk memasukkan pisau baja yang tajam. Bagian tubuh janin dipotong berkeping-keping dan diangkat, sedangkan plasenta dikerok dari dinding rahim. Darah yang hilang selama dilakukannya metode ini lebih banyak dibandingkan dengan metode penyedotan. Begitujuga dengan perobekan rahim dan radang paling sering terjadi.

Gambar . Metode Dilatation & Curretage (Sumber: http://www.answers.com/topic/curettage) Diunduh tanggal 3 Maret 2013

• PIL RU 486

Masyarakat menamakannya “Pil Aborsi Perancis”. Teknik ini menggunakan 2 hormon sintetik yaitu mifepristone dan misoprostol untuk secara kimiawi menginduksi kehamilan usia 5-9 minggu. Kerja RU 486 adalah untuk memblokir hormon progesteron yang berfungsi vital untuk menjaga jalur nutrisi ke plasenta tetap lancar. Karena pemblokiran ini, maka janin tidak mendapatkan makanannya lagi dan menjadi kelaparan. Pada kunjungan kedua, yaitu 36-48 jam setelah kunjungan pertama, wanita hamil ini

diberikan suntikan hormon prostaglandin, biasanya misoprostol, yang mengakibatkan terjadinya kontraksi rahim dan membuat janin terlepas dari rahim.

Gambar . Pil RU 486 (Sumber: http://www.google.co.id/imglanding) Diunduh tanggal 3 Maret 2013

• Suntikan Methotrexate (MTX)

Prosedur dengan MTX sama dengan RU 486, hanya saja obat ini disuntikkan ke dalam badan. MTX pada mulanya digunakan untuk menekan pertumbuhan pesat sel-sel, seperti pada kasus kanker, dengan menetralisir asam folat yang berguna untuk pemecahan sel. MTX ternyatajuga menekan pertumbuhan pesat trophoblastoid – selaput yang menyelubungi embrio yang juga merupakan cikal bakal plasenta. Trophoblastoid tidak saja berfungsi sebagai ‘sistim penyanggah hidup’ untuk janin yang sedang berkembang, mengambil oksigen dan nutrisi dari darah calon ibu serta membuang karbondioksida dan produk-produk buangan lainnya, tetapi juga memproduksi hormon hCG (human chorionic gonadotropin), yang memberikan tanda pada corpus luteum untuk terus memproduksi hormon progesteron yang berguna untuk mencegah gagal rahim dan keguguran.MTX menghancurkan integrasi dari lingkungan yang menopang, melindungi dan menyuburkan pertumbuhan janin, dan karena kekurangan nutrisi, maka janin menjadi mati. 3-7 hari kemudian, tablet misoprostol dimasukkan ke dalam kelamin wanita hamil itu untuk memicu terlepasnya janin dari rahim.

Gambar . Suntikan Methotrexate (Sumber: http://www.google.co.id/imglanding=Methotrexate) Diunduh tanggal 3 Maret 2013

b. Metode Abortus Trimester Kedua • Metode Dilatasi dan Evakuasi (D&E) Metode ini digunakan untuk membuang janin hingga usia 24 minggu. Metode ini sejenis dengan D&C, hanya dalam D&E digunakan tang penjepit (forsep) dengan ujung pisau tajam untuk merobek-robek janin. Hal ini dilakukan berulang-ulang hingga seluruh tubuh janin dikeluarkan dari rahim. Karena pada usia kehamilan ini tengkorak janin sudah mengeras, maka tengkorak ini perlu dihancurkan supaya dapat dikeluarkan dari rahim. Jika tidak berhati-hati dalam pengeluarannya, potongan tulang-tulang yang runcing mungkin dapat menusuk dinding rahim dan menimbulkan luka rahim.

Gambar . Metode dilatasi dan evakuasi (Sumber: http://www.google.co.id/imglanding?q=Abortus%20provokatus) Diunduh tanggal 3 Maret 2013

• Metode Racun Garam (Saline) Caranya ialah dengan meracuni air ketuban. Teknik ini digunakan saat kandungan berusia 16 minggu, saat air ketuban sudah cukup melingkupi janin. Jarum disuntikkan ke perut si wanita dan 50-250 ml (kira-kira secangkir) air ketuban dikeluarkan, diganti dengan larutan konsentrasi garam. Janin yang sudah mulai bernafas, menelan garam dan teracuni. Larutan kimia ini juga membuat kulit janin terbakar dan memburuk. Biasanya, setelah kira-kira satu jam, janin akan mati. Kira-kira 33-35 jam setelah suntikan larutan garam itu bekerja, si wanita hamil itu akan melahirkan anak yang telah mati dengan kulit hitam karena terbakar.

Gambar . Hasil aborsi dengan racun salin (Sumber: http://www.google.co.id/imglanding?q=visum%20luar%20korban%20abortus ) Diunduh tanggal 3 Maret 2013

Prostaglandin Prostaglandin merupakan hormon yang diproduksi secara alami oleh tubuh dalam proses melahirkan. Injeksi dari konsentrasi buatan hormon ini ke dalam air ketuban memaksa proses kelahiran berlangsung, mengakibatkan janin keluar sebelum waktunya dan tidak mempunyai kemungkinan untuk hidup sama sekali. Sering juga garam atau racun lainnya diinjeksi terlebih dahulu ke cairan ketuban untuk memastikan bahwa janin akan lahir dalam keadaan mati.

• Partial Birth Abortion Metode ini sama seperti melahirkan secara normal, karena janin dikeluarkan lewat jalan lahir. Aborsi ini dilakukan pada wanita dengan usia kehamilan 20-32 minggu, mungkin juga lebih tua dari itu. Dengan bantuan alat USG, forsep (tang penjepit) dimasukkan ke dalam rahim, lalu janin ditangkap dengan forsep itu. Tubuh janin ditarik keluar dari jalan lahir (kecuali kepalanya). Pada saat ini, janin masih dalam keadaan hidup. Lalu, gunting dimasukkan ke dalam jalan lahir untuk menusuk kepala bayi itu agar

terjadi lubang yang cukup besar. Setela itu, kateter penyedot dimasukkan untuk menyedot keluar otak bayi. Kepala yang hancur lalu dikeluarkan dari dalam rahim bersamaan dengan tubuh janin yang lebih dahulu ditarik keluar.

Gambar . Partial birth abortion (Sumber: http://www.google.co.id/imglanding?q=Partial%20Birth%20Abortion) Diunduh tanggal 3 Maret 2013

c. Metode

Abortus

Trimester

kedua

dan

ketiga

(Histerotomy)

Sejenis dengan metode operasi caesar, metode ini digunakan jika cairan kimia yang digunakan/disuntikkan tidak memberikan hasil memuaskan. Sayatan dibuat di perut dan rahim. Bayi beserta ari-ari serta cairan ketuban dikeluarkan.

Gambar . Histerotomi (Sumber: http://www.google.co.id/imglanding?q=Hysterotomy) Diunduh tanggal 3 Maret 2013 2.1.5 Komplikasi Abortus Provokatus Kriminalis Penggunaan obat-obatan abortus sebenarnya tidak ada yang efektif tanpa menimbulkan gangguan pada si ibu. Cara yang efektif dan adalah dengan melakukan manipulasi mekanik oleh tangan yang terampil. Beberapa komplikasi yang mungkin timbul adalah :3 a. Perdarahan akibat luka pada jalan lahir, atonia uteri, sisa jaringan tertinggal, diatesa hemoragik dan lain-lain. Perdarahan dapat timbul segera pasca tindakan, dapat pula timbul lama setelah tindakan. b. Syok (renjatan) akibat refleks vasovagal atau neurogenik. Komplikasi ini dapat mengakibatkan kematian yang mendadak. c. Emboli udara dapat terjadi pada teknik penyemprotan cairan ke dalam uterus. Hal ini terjadi karena pada waktu penyemprotan, selain cairan juga gelembung udara masuk

ke dalam uterus, sedangkan di saat yang sama sistem vena di endometrium dalam keadaan terbuka. d. Inhibisi vagus, hampir selalu terjadi pada tindakan abortus yang dilakukan tanpa anastesi pada ibu dalam keadaan stres, gelisah dan panik. Hal ini dapat terjadi akibat alat yang digunakan atau suntikan secara mendadak dengan cairan yang terlalu panas atau terlalu dingin. e. Keracunan obat/zat abortivum, termasuk karena anestesia. Antiseptik lokal seperti KMnO4 pekat, AgNO3, K-Klorat, Jodium dan Sublimat dapat mengakibatkan cedera yang hebat atau kematian. Demikian pula obat-obatan seperti kina tau logam berat. Pemeriksaan adanya Met-Hb, pemeriksaan histologik dan toksikologik sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosis. f. Infeksi dan sepsis. Komplikasi ini tidak segera timbul pasca tindakan tetapi memerlukan waktu g. Lain-lain, seperti tersengat arus listrik saat melakukan abortus dengan menggunakan pengaliran listrik lokal

2.2

Aspek Hukum dan Medikolegal Abortus Provokatus Kriminalis Abortus telah dilakukan oleh manusia selama berabad-abad, tetapi selama itu belum ada undang-undang yang mengatur mengenai tindakan abortus. Peraturan mengenai hal ini pertama kali dikeluarkan pada tahun 4 M di mana telah ada larangan untuk melakukan abortus. Sejak itu maka undang-undang mengenai abortus terus mengalami perbaikan, apalagi dalam tahun-tahun terakhir ini di mana mulai timbul suatu revolusi dalam sikap masyarakat dan pemerintah di berbagai negara di dunia terhadap tindakan abortus. Hukum abortus di berbagai negara dapat digolongkan dalam beberapa kategori sebagai berikut:6

Hukum yang tanpa pengecualian melarang abortus, seperti di Belanda.

Hukum yang memperbolehkan abortus demi keselamatan kehidupan penderita (ibu), seperti di Perancis dan Pakistan.

Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi medik, seperti di Kanada, Muangthai dan Swiss.

Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosio-medik, seperti di Eslandia, Swedia, Inggris, Scandinavia, dan India.

Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial, seperti di Jepang, Polandia, dan Yugoslavia.

Hukum yang memperbolehkan abortus atas permintaan tanpa memperhatikan indikasiindikasi lainnya (Abortion on request atau Abortion on demand), seperti di Bulgaris, Hongaria, dan Singapura.

Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi eugenistis (aborsi boleh dilakukan bila fetus yang akan lahir menderita cacat yang serius) misalnya di India

Hukum yang memperbolehkan aborsi atas indikasi humanitarian (misalnya bila hamil akibat perkosaan) seperti di Jepang Negara-negara yang mengadakan perubahan dalam hukum abortus pada umumnya mengemukakan salah satu alasan/tujuan seperti yang tersebut di bawah ini:

• • • •

Untuk memberikan perlindungan hukum pada para medisi yang melakukan abortus atas indikasi medik Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya abortus provokatus kriminalis Untuk mengendalikan laju pertambahan penduduk Untuk melindungi hal wanita dalam menentukan sendiri nasib kandungannnya

Untuk memenuhi desakan masyarakat. Di Indonesia, baik menurut pandangan agama, Undang-Undang Negara, maupun Etik Kedokteran, seorang dokter tidak diperbolehkan untuk melakukan tindakan pengguguran kandungan (abortus provokatus). Bahkan sejak awal seseorang yang akan menjalani profesi dokter secara resmi disumpah dengan Sumpah Dokter Indonesia yang didasarkan atas Deklarasi Jenewa yang isinya menyempurnakan Sumpah Hippokrates, di mana ia akan menyatakan diri untuk menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan. Dari aspek etika, Ikatan Dokter Indonesia telah merumuskannya dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia mengenai kewajiban umum. Pasal 7d : Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Pada pelaksanaannya, apabila ada dokter yang melakukan pelanggaran, maka penegakan implementasi etik akan dilakukan secara berjenjang dimulai dari panitia etik di masingmasing RS hingga Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK). Sanksi tertinggi dari pelanggaran etik ini berupa "pengucilan" anggota dari profesi tersebut dari kelompoknya. Sanksi administratif tertinggi adalah pemecatan anggota profesi dari komunitasnya. Ditinjau dari aspek hukum, pelarangan abortus justru tidak bersifat mutlak. Abortus abortus provokatus dapat digolongkan ke dalam dua golongan yaitu : 1. Abortus Provokatus Medisinalis (Abortus Provocatus Therapeutica) Abortus atas indikasi medik ini diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Pasal 15 1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu.

2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) hanya dapat dilakukan: a. b. Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli. c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya. d. Pada sarana kesehatan tertentu.

3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pada penjelasan UU no 23 tahun 1992 pasal 15 dinyatakan sebagai berikut: Ayat (1) : Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu Ayat (2). Butir a : Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakan medis tertentu sebab tanpa tindakan medis tertentu itu,ibu hamil dan janinnya terancam bahaya maut. Butir b : Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga yang memiliki keahlian dan wewenang untuk melakukannya yaitu seorang dokter ahli kandungan, seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan.

Butir c : Hak utama untuk memberikan persetujuan ada ibu hamil yang bersangkutan kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya ,dapat diminta dari semua atau keluarganya. Butir d : Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan ditunjuk oleh pemerintah. Ayat (3) : Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya,tenaga kesehatan mempunyai keahlian dan wewenang bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk. 2. Abortus Buatan Ilegal (Abortus Provocatus Criminalis) Disebutabortus provocatus criminalis karena di dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan. Beberapa pasal yang mengatur abortus provokatus dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP):3 PASAL 299 1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak empat pulu ribu rupiah. 2) Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencaharian atau kebiasaan atau jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga. 3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencaharian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencaharian itu. PASAL 346

Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. PASAL 347 1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuan, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. 2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun. PASAL 348 1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seseorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. 2) Jika perbuatan tersebut mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikarenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun. PASAL 349 Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan. Dari pasal 346, 347, dan 348 KUHP, jelas bahwa undang-undang tidak mempersoalkan masalah umur kehamilan atau berat badan fetus yang keluar. Sedangkan pasal 349 dan 299 KUHP memuat ancaman hukuman untuk orang-orang tertentu yang mempunyai profesi atau pekerjaan tertentu bila mereka turut membantu atau melakukan kejahatan seperti yang dimaksud ketiga pasal tersebut.3

2.3

Penyidikan pada Kasus Abortus

Penyidikan kasus kematian yang ada hubungannya dengan tindakan abortus dilakukan pada:6 1. Kematian mendadak/ yang tak diduga pada seorang perempuan sehat dalam masa subur (childbearing period)

2. Adanya perdarahan yang keluar dari vagina. 3. Kematian pada seorang wanita di tempat yang tidak seharusnya, misalnya di hotel. 4. Adanya barang bukti yang biasa dipakai untuk melakukan abortus di sekitar korban.

Pemeriksaan dan interogasi ditujukan kepada:6 1. Suami korban atau keluarganya atau kekasih korban. 2. Orang yang diduga melakukan tindakan abortus pada korban. 3. Korban, bila masih hidup.

Bukti-bukti yang Dibutuhkan Penyidik di dalam Kasus Abortus6: 1. Adanya kehamilan. 2. Umur kehamilan khususnya, bila pengertian abortus yang dipakai menurut pengertian medis. 3. Adanya barang-barang bukti yang dipakai dalam melakukan abortus dan

kaitannya dengan metode yang dipakai. 4. Adanya hubungan antara saat dilakukannya abortus dengan saat kematian korban. 5. Adanya hubungan sebab akibat antara abortus dengan kematian korban. 6. Alasan atau motif untuk melakukan abortus itu sendiri.

2.4

Pemeriksaan Korban Abortus Provokatus Kriminalis Secara hukum, tidak ada perbedaan antara aborsi, miscarriage dan kelahiran prematur. Secara medis:11 • • Aborsi berarti pengeluaran hasil konsepsi pada 3 bulan pertama kehamilan. Miscarriage berarti pengeluaran fetus pada bulan ke empat sampai bulan ke tujuh kehamilan. • Kelahiran prematur: persalinan yang terjadi pada bulan ke tujuh dari masa gestasi dan sebelum kehamilan aterm.

Penemuan miscarriage Pemeriksaan medis pada kasus aborsi untuk menemukan: • Apakah benda dugaan aborsi yang dikeluarkan tersebut berasal dari uterus adalah hasil produk konsepsi. • Jika merupakan produk konsepsi, pada periode kehamilan berapa aborsi tersebut berlangsung. • • • • Apakah dugaan keguguran tersebut merupakan spontan atau yang dibuat. Sarana apa yang digunakan Kapan hal tersebut terjadi Apakah aborsi tersebut merupakan diinduksi sendiri atau tidak.

2.4.1 Kematian pada Korban Abortus Provokatus Kriminalis

Penggunaan peralatan yang tidak steril yang dikerjakan oleh tenaga yang tidak terlatih serta tidak dilakukannya tindakan anestesi merupakan faktor penting yang menyebabkan kematian. Berdasarkan saat terjadinya kematian Simpson membagi kematian pada abortus sebagai berikut:3 Kematian yang segera (immediate deaths) terutama disebabkan oleh emboli udara dan inhibisi vagal, perdarahan lebih jarang dijumpai dibandingkan dengan kedua hal tersebut. Kematian yang lambat (delayed deaths), umumnya disebabkan karena terjadi infeksi, khususnya infeksi oleh Clostridium welchii dan Clostridium tetani. Inhibisi vagal dapat terjadi oleh karena korban tidak dianestesi serta intervensi instrumen atau penyuntikan cairan secara tiba-tiba, yang mana cairan tersebut dapat terlalu panas atau terlalu dingin.

2.4.2 Emboli Udara dan Abortus Provocatus Emboli yang terjadi pada tindakan abortus provocatus akan menyebabkan kolapnya korban dengan segera dan disusul dengan kematian yang terjadi hanya dalam tempo beberapa menit. Secara klinis Simpson membagi emboli udara yang fatal, menjadi tiga, yaitu:3 1. Kematian tiba-tiba, mendadak dalam waktu beberapa menit. 2. Kematian antara 12-24 jam, hilangnya kesadaran dan adanya gejala awal kejang serta kelumpuhan yang erjadi segera dan menetap untuk beberapa waktu. 3. “delayed embolism”, yang terjadi dalam dua tahap yang dipisahkan oleh interval waktu yang jelas, udara tidak mencapai jantung sampai suatu ketika, kadang-kadang beberapa jam setelah injeksi. Emboli yang terjadi beberapa jam setelah tindakan, dimungkinkan oleh karena udara yang masuk dalam uterus tertahan di dalam sampai terjadi separasi plasenta yang membuka pembuluh darah sehingga memungkinkan masuknya udara ke dalam sirkulasi.

Adanya “mucus plug” dapat menjelaskan mengapa udara dalam uterus tidak dapat keluar melalui mulut rahim.3 Dosis dari udara yang dapat mematikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya keadaan umum korban dan kecepatan masuknya udara ke dalam tubuh. Pada umumnya jumlah udara yang dapat menyebabkan kematian minimal 100 ml, walaupun secara eksperimental udara yang dapat menyebabkan kematian berkisar antara 10 ml sampai 480 ml.3

2.4.3

Pemeriksaan pada Korban Mati Pemeriksaan post mortem abortus kriminalis bertujuan untuk : a. Mencari bukti dan tanda kehamilan b. Mencari bukti abortus dan kemungkinan adanya tindakan kriminal dengan obat –obatan atau instrumen c. Menentukan kaitan antara sebab kematian dan abortus d. Menilai setiap penyakit wajar yang ditemukan Temuan autopsi pada korban yang meninggal tergantung pada cara melakukan abortus

serta interval waktu antara tindakan abortus dan kematian.3 Pada korban yang melakukan abortus dengan obat-obatan dilakukan pemeriksaan toksikologik untuk mendeteksi obat yang dipergunakan. Obat yang biasa ditemukan umumnya obat yang bersifat mengiritasi saluran pencernaan. Uterus akan menunjukkan hasil konsepsi atau sisanya, perlekatan plasenta atau gumpalan darah. Fetus tidak selalu ditemukan pada tiap kasus. Pada sisi tempat perlekatan plasenta ditandai dengan tempat sirkular yang menonjol dengan gumpalan darah . Walaupun setelah kuretase, bagian plasenta dapat tertinggal dalam cavum uteri sebagai penyebaran villi chorionic atau sel –sel trofoblas t yang terisolasi yang dapat dibuktikan dengan mikroskop. Uterus dapat juga menunjukkan reaksi desidua. Ovarium menunjukkan

adanya corpus luteum. Tampilan korpus luteum tidak selalu membuktikan kehamilan karena korpus luteum juga dapat ditemukan pada fibroid dan pada menstruasi yang normal.11 Temuan memar pada abdomen dan genitalia eksterna, ekskoriasi dan laserasi pada vagina, serviks, uterus, adanya benda asing di dalamnya, mengindikasikan instrumen yang digunakan. Kadangkala sulit untuk mengidentifikasi instrumen yang digunakan, tetapi bila perforasi uterus atau vagina terjadi, dapat diperkirakan ketajaman dan panjang instrument yang digunakan. Alat vacum biasanya tidak menyebabkan perlukaan.11 Abortus yang dilakukan dengan instrumen dapat diketahui bila terjadi robekan atau perforasi dari rahim atau jalan lahir. Robekan umumnya terjadi pada dinding lateral uterus sedangkan perforasi biasanya terdapat padaa bagian posterior forniks vagina .3 Abortus dengan penyemprotan diketahui dengan tampaknya cairan yang berbusa diantara dinding uterus dengan fetal membran separasi sebagian plasenta dapat dijumpai. Gelembung-gelembung udara dapat dilihat dan ditelusuri pada pembuluh vena mulai dari rahim sampai ke bilik jantung kanan. Pengukuran kandungan fibrinolisis dalam darah dapat berguna untuk mengetahui korban mati secara mendadak.3 Kematian akibat syok neurogenik dapat terjadi dalam beberapa detik saat tindakan. Perdarahan yang banyak dapat terjadi dan menyebabkan kematian dalam 24 jam bila tidak ditangani dengan cepat. Infeksi Clostridium welchii berkembang biasanya dalam waktu 3 hari, sangat jarang dalam rentang waktu 6 jam sedangkan pada infeksi oleh Clostridium tetani biasanya berkembang dalam rentang waktu 3 hari sampai 3 minggu. Kematian akibat gagal ginjal terjadi dalam 5-10 hari.11 Pada pemeriksaan jenazah, Teare (1964) menganjurkan pembukaan abdomen sebagai langkah pertama dalam autopsi bila ada kecurigaan akan abortus kriminalis sebagai penyebab kematian korban.2 Pemeriksaan korban : • Pemotretan sebelum memulai pemeriksaan  Identifikasi umum

1. Tinggi badan, berat badan, umur 2. Pakaian, cari tanda-tanda kontak dengan suatu cairan, terutama pada pakaian dalam.    Catat suhu badan, warna dan distribusi lebam jenazah. Periksa dengan palpasi uterus untuk kepastian adanya kehamilan. Cari tanda-tanda emboli udara, gelembung sabun, cairan pada arteri coronaria, ventrikel kanan, arteri pulmonalis, arteri dan vena dipermukaan otak dan venavena pelvis.  Uterus diperiksa apakah ada pembesaran, krepitasi, luka atau perforasi . Vagina dan uterus diinsisi pada dinding anterior untuk menghindari jejas kekerasan yang biasanya terjadi pada dinding posterior misalnya pada perforasi uterus. Cara pemeriksaannya yaitu uterus direndam dalam larutan formalin 10% selama 24 jam, kemudian direndam dalam alkohol 95% selama 24 jam, iris tipis untuk melihat saluran perforasi.    Periksa juga tanda-tanda kekerasan pada serviks (abrasi, laserasi). Periksa alat-alat genitalia interna apakah pucat, mengalami kongeti atau adanya memar. Pemeriksaan mikroskopik meliputi adanya sel trofoblas yang merupakan tanda kehamilan, kerusakan jaringan yang merupakan jejas/tanda usaha penghentian kehamilan. Ditemukannya sel radang PMN menunjukkan tanda intavitalitas.   Buat swab dinding uterus untuk pemeriksaan mikrobiologi. Ambil sampel untuk pemeriksaan toksikologis : o isi vagina o isi uterus o darah dari vena cava inferior dan kedua ventrikel

o urine o isi lambung o rambut pubis o o 2.4.4 Pertimbangan – Pertimbangan Saat Otopsi12 Saat melakukan otopsi untuk kasus aborsi, ahli patologi harus membuat catatan khusus tentang kondisi dan rahim dan genitalia, serta deskripsi umum tentang mayat. Panjang, lebar, dan ketebalan uterus, ketebalan dinding uterin, panjang rongga uterin, lingkar sirkumferen internal dan eksternal, panjang serviks, diameter corpus luteum, dan ukuran sisa – sisa janin harus dicatat. Pemeriksaan dilakukan pada tuba ovarium dan mammae. Bagian – bagian janin harus dicari dalam saluran genital dan rongga peritoneal. Luka – luka instrumental dan tanda – tanda tenaculum harus diidentifikasi. Semua organ dalam rongga abdominal dapat menyebabkan peritonitis supuratif, seperti apendiks, kandung kemih, atau perut, harus diperiksa. Semua kondisi tubuh yang dapat menyebabkan abortus spontan, seperti penyakit jantung dan hydatidiform mole, harus diperiksa. Kondisi – kondisi septik tubuh harus diperiksa dengan cermat. Vena – vena uterin dan ovarian harus diurutkan dengan cermat sampai ke bagian tubuh yang lebih besar untuk mengetahui terjadinya phlebitis purulen. Penggunaan terapeutik sulfonamid dan obat – obatan antibiotik lainnya dapat menghambt perkembangan bakteri dan kultur post – mortem, pemeriksaa kimiawi harus dapat dilakukan pada otak dan viscera parenkimatom, jika perlu. Harus dilakukan pemeriksaan mikroskopis pada mukosa uterin untuk mengetahui apakah terdapat vili chorionic. Struktur – struktur lainnya, seperti tuba, ovarium appendiks, ginjal, limpa, hati, pankreas, jantung, paru – paru, dan organ – organ lainnya yang terlihat abnormal harus diperiksa / dipotong. Jika terdapat sisa – sisa janin, dapat dilakukan pemeriksaan sinar x untuk mengetahui pusat – pusat osifikasi. Hal ini sangat penting untuk menentukan usia kehamilan. B enda – benda asing, instrumen, juga harus diawetkan sebagai bukti, jika ditemukan dalam tubuh.

Dalam banyak kasus, sisa – sisa janin tidak diidentifikasi. Jika seorang wanita meninggal saat aborsi, janin atau bagian dari janin, akan ditemukan dalam saluran genital. Kadang – kadang terjadi perforasi rahim dan janin dipaksakan masuk ke rongga peritoneal akan ditemukan saat otopsi. Biasanya, tubuh janin telah diangkat, dan daerah plasenta ditandai oleh penonjolan sirkuler pada batas – batas uterus di sekitar fundus, kondisi ini akan bertahan selama beberapa hari. Perforasi dapat terjadi dalam berbagai berbagai ukuran dan bentuk, bervariasi mulai dari stellata kasar dan kecil yang terbuka dan berdiameter kurang lebih 1 cm,banyak potongan stellata yang berbentuk oval atau irreguler, dan terlihat seperti kawah yang kadang menonjol pada fundus uterin. Kadang, ditemukan dua atau beberapa perforasi pada fundus, atau terjadi perlukaan fundus dan serviks akibat penggunaan kuret. Uterus paling mudah mengalami perforasi adalah jenis bicornuate, karena operator yang ragu – ragu, menduga bahwa rongga uterus lebih panjang dan melukai dindingnya pada bagian cornua yang terpisah. Luka pada serviks uteri terjadi sebanyak kurang dari separuh perlukaan instrumental pada uterus, sebagian diantaranya berupa ekskavasasi crateriform dalam dinding servikal, sedangkan yang lainnya mengalami perforasi ke dalam rongga abdominal melalui dinding uterus. Perforasi tersebut berbentuk stellata dan mengarah ke atas mungkin akibat penggunaan instrumen seperti kayu. Perforasi pada rongga vagina jarang terjadi pada abortus yang dilakukan oleh seorang operator, namun paling sering terjadi pada abortus yang dilakukan sendiri. Ukuran daerah plasenta bervariasi sesuia dengan usia kehamilan dan jumlah hari setelah abortus dilakukan. Setelah melakukan kuretase pada bagian plasenta, yang tersisa pada dinding uterin berupa penyimpangan vili chorionik dan syncytial giant cell, ini dapat dilihat melalui pemeriksaan mikroskopis pada daerah plasenta. Karena plasenta merupakan bagian dari janin, ini merupakan bukti nyata terjadinya kehamilan. Bertolak belakang dengan sel – sel decidual yang merupakan jaringan dari ibu sehingga bukan menjadi indikasi yang jelas. Vili vhorionic dan syncytial giant cell akan menetap selama beberapa hari kemudian menghilang. Satu – satunya kriteria yang tersisa adalah ukuran dan bentuk rahim, kondisi payudara dan corpus luteum ovarium.

Dalam suatu kasus abortus yang telah terjadi selama beberapa hari dan tidak ada sisa – sisa janin dalam rahim, sulit untuk membuktikan fakta bahwa telah terjadi kehamian atau usia kehamilan sebelum aborsi dilakukan. Bagian – bagian janin yang tersisa, membran atau jaringan plasenta, dan terjadinya infeksi uterin akan mengganggu atau menghambat proses involusi uterus. Nekrosis sisa – sisa janin, membran dan jaringan plasenta akan mempersulit pemeriksaan mikroskopis. Dimensi uterus yang diukur saat otopsi merupakan satu – satunya data yang dapat diandalkan oleh ahli patologis untuk memperkirakan usia kehamilan . Dalam kondisi tidak hamil, uterus berbentuk sepertibuah pir dan memiliki panjang 3 inchi, lebar 2 inchi, dan ketebalannya 1 inchi. Selama dua bulan pertama masa kehamilan, terjadi pembesaran. Pada akhir bulan ketiga, panjang rahim akan mencapai 4 – 5 inchi, panjang serviks mencapai 1 cm, dan panjang corpus uteri mencapai 3 – 4 inchi . Pada akhir bulan ke enam, uterus akan terus membesar, corpus akan membentuk globular dan serviks memendek. Pada akhir bulan ke empat, panjang uterus mencapai 5 – 6 inchi. Pada akhir bulan ke enam panjangnya akan mencapai 6 inchi. Pada akhir bulan ke tujuh, panjangnya mencapai 8 inchi. Pada akhir bulan ke delapan, panjangnya mencapai 9,5 inchi. Dan pada akhir bulan ke sembilan, panjangnya mencapai 10,5 – 12 inchi. Setelah proses kelahiran, rahim akan berkontraksi dan dindingnya menebal. Setelah dua hari post – partum, panjangnya akan mencapai 7 inchi dan lebar 4 inchi. Pada akhir minggu pertama akan berkontraksi samapai panjangnya 5 inchi. Setelah dua minggu panjangnya mencapai 4 inchi. Setelah dua bulan ukuran uterus akan kembali normal. Jika involusi telah sempurna, dimensi uterus setelah abortus sulit ditentukan. Jika korban hidup sebentar setelah ekspulsi janin, ukuran uterus jelas akan berkurang. Namun tidak ada standar ukuran involusinya setelah abortus dalam berbagai usia kehamilan. Pemeriksa hanya dapat menentukan dimensi uterus seakurat mungkin dan menarik kesimpulan sendiri sesuai dengan pengalamannya menghadapi kasus semacam itu. Ukuran pembuluh darah dan limfatik uterus akan bertambah selama masa kehamilan dan akan tetap meregang selama puerperium sampai masa involusi lewat. Peningkatan vaskularitas ini akan meningkatkan kerentanan gravid uterus terhadap perdarahan dan infeksi.

Payudara akan membesar selama masa kehamilan, akibat terjadinya hiperplasia kelenjar – kelenjar payudara. Pada wanita yang tidak hamil, jaringan kelenjar berupa beberapa duktus dan sejumlah alveoli dalam su atu stroma fibrosa yang padat. Namun seiring dengan perkembangan kehamilan, cabang – cabang duktus dan jaringan kelenjar akan berproliferasi dan jumlahnya bertambah. Pada akhir bulan kedua, payudara akan membesar dan memiliki konsistensi noduler saat dipalpasi. Selama masa kehamilan, puting susu akan terlihat lebih menonjol, dan areola di sekitarnya semakin meluas dan pigmentasinya bertambah. Ukuran kelenjar montgomery, kelenjar sebaseous dalam areola akan bertambah selama masa menyusui dan membentuk nodul subkutan pendek. Pada akhir masa menyusui, sekresinya sangat banyak, jika payudara dipotong, akan keluar banyak cairan susu dari permukaan yang dipotong. Sebagian urin yang diperoleh post – mortem dari kandung kemih harus disimpan dan dapat digunakan dalam uji Aschheim – Zondek untuk menguji kehamilan, jika diperoleh dalam waktu satu minggu setelah abortus. Dalam beberapa kasus abortus, kematian yang terjadi disebabkan oleh infeksi piogenik parah dan urin mengandung bakteri yang akan membunuh binatang – binatang yang digunakan dalam pengujian.

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan 1. Abortus provokatus medisinalis adalah abortus yang dilakukan dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan dua sampai tiga tim dokter ahli. 2. Seorang dokter sangat perlu membekali dirinya dengan pengetahuan yang memadai tentang aspek pengetahuan forensik dari suatu abortus pada umumnya dan abortus provocatus kriminalis pada khususnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mochtar, R. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. Edisi 2. Jilid 1. Jakarta : EGC. 1998. p 209 2. Budiyanto A, dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 3. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Binarupa Aksara. Jakarta: 1997 4. Amir A. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran USU. Medan: 2005 5. Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI. Jakarta: 2001 6. Idries, AM. Peran Penyidik dalam Proses Otopsi. Binarupa Aksara. Jakarta: 2010 7. Rustam Mochtar, Sinopsi Obstetri,penerbit ECG, jakarta, 1998. Hal 209 8. C. B. Kusmaryanto. Kontroversi aborsi. Gramedia widiasarana indonesia.jakarta. 2002. hal 11-18 9. Azhari. Masalah abortus dan kesehatan reproduksi perempuan. Palembang : Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unsri. 1-19.

10. Metode-metode

aborsi

-

benarkah

tanpa

efek

samping

?,

diakses

dari

http://www.aborsi.org/artikel14.htm pada tanggal 3 Maret 2013 11. Guharaj, PV, Chandran, MR. Pregnancy, Miscarriage and Delivery, Chapter 16 in Forensic Medicine, Second Edition, Chennai 2003, page 233-252 12. Gonzales A Thomas, Vance Morgan,dkk.legal Medicine Pathology and Toxicology. Abortion. 2st Ed. Appletion Century Crofts, New York : 1954