Trauma Ginjal (Ur) Written by Maizar Rahman Thursday, 15 September 2011 22:02

Trauma Ginjal
Trauma ginjal terjadi sekitar 3% dari seluruh trauma yamg ada bahkan mencapai 5% pada daerah urban. Trauma ginjal terjadi sekitar 10% dari seluruh trauma abdomen. Dari seluruh trauma sistem genitourinaria, trauma ginjal menduduki angka tertinggi sekitar 50% tidak membedakan ginjal kiri atau kanan. Trauma biasanya disebabkan oleh karena jatuh, kecelakaan lalu lintas, pukulan, olah raga, tusukan atau senjata api (Brandes, 2003). Patologi Trauma Ginjal Ginjal yang terletak pada rongga retroperitoneal bagian atas hanya terfiksasi oleh pedikel pembuluh darah serta ureter, sementara masa ginjal melayang bebas dalam bantalan lemak yang berada dalam fascia Gerota. Fascia Gerota sendiri yang efektif dalam mengatasi sejumlah kecil hematom , tidak sempurna dalam perkembangannnya. Kantong fascia ini meluas kebawah sepanjang ureter, meskipun menyatu pada dinding anterior aorta serta vena cava inferior, namun mudah untuk sobek oleh adanya perdarahan hebat sehingga perdarahan melewati garis tengah dan mengisi rongga retroperitoneal.(Guerriero, 1984). Gambar: Fasia Gerota, proyeksi anterior-posterior. (Guerriero, 1984) Karena miskinnya fiksasi, ginjal mudah mengalami dislokasi oleh adanya akselerasi maupun deselerasi mendadak, yang bisa menyebabkan trauma seperti avulsi collecting system atau sobekan pada intima arteri renalis sehingga terjadi oklusi parsial maupun komplet pembuluh darah.

Sejumlah darah besar dapat terperangkap didalam rongga retroperitoneal sebelum dilakukan stabilisasi. Keadaan ekstrem ini sering terjadi pada pasien yang datang di ruang gawat darurat dengan kondisi stabil sementara terdapat perdarahan retroperitoneal. Korteks ginjal ditutupi kapsul tipis yang cukup kuat. Trauma yang menyebabkan robekan kapsul sehingga menimbulkan perdarahan pada kantong gerota perlu lebih mendapat perhatian dibanding trauma yang tidak menyebabkan robekan pada kapsul. (Geehan , 2003). Vena renalis kiri terletak ventral aorta sehingga luka penetrans didaerah ini bisa menyebabkan trauma pada kedua struktur. Karena letaknya yang berdekatan antara pankreas dan pole atas ginjal kiri serta duodenum dengan tepi medial ginjal kanan bisa menyebabkan trauma kombinasi pada pankreas, duodenum dan ginjal.. Anatomi ginjal yang mengalami kelainan seperti hidronefrosis atau tumor maligna lebih mudah mengalami ruptur hanya oleh adanya trauma

Luka karena senjata api dan pisau merupakan luka tembus terbanyak yang mengenai ginjal sehingga bila terdapat luka pada pinggang harus dipikirkan trauma ginjal sampai terbukti sebaliknya. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL). Trauma minor Merupakan 85% kasus. Pada luka tembus ginjal. Berikut adalah mekanisme yang umumnya terjadi pada trauma ginjal (Geehan. berupa laserasi kortikomeduler yang dalam sampai collecting system . 2000) Gambar : A. 1984) Iatrogenik disebabkan oleh prosedur endourologi.Luka tusuk (Guerriero. Tabrakan kendaraan pada kecepatan tinggi bisa menyebabkan trauma pambuluh darah utama karena deselerasi cepat. Trauma mayor Merupakan 15% kasus.1985) Gambar: Mekanisme trauma ginjal. (Blandy. trauma ginjal dibagi menjadi: 1. Mekanisme Trauma Mekanisme trauma pada ginjal perlu diperhatikan benar oleh klinisi. 2000). 2003): 1. Laserasi korteks superfisial juga merupakan trauma minor. 80% berhubungan dengan trauma viscera abdomen. Kanan: Jatuh terduduk dari ketinggian (contrecoup of kidney). biopsi renal dan prosedur ginjal perkutan. jatuh dan olahraga kontak.(McAninch. 2. Gambar kecil memperlihatkan gayadari arah cranial merobek pedikel ginjal (McAninch.Trauma tembus 2. Kontusio renal kadang diikuti hematom subkapsuler. Kiri: Hantaman langsung pada abdomen.Luka tembus peluru B. Pada intraoperatif terjadi pada Diagnostic Peritoneal Lavage(DPL).Trauma tumpul 3. Penyebab lain trauma ginjal adalah karena rejeksi transplantasi ginjal serta proses kelahiran. Gambar kecil menunjukkan gaya yang berjalan dari hilus renalis. umumnya berupa kontusio maupun ekskoriasi renal. perkelahian.ringan. 2000). pinggang atau punggung. (Mc Aninch . Trauma tersebut disebabkan karena kecelakaan lalu lintas. Iatrogenik Trauma ginjal 80-85% disebabkan trauma tumpul yang secara langsung mengenai abdomen. Klasifikasi Patologi trauma Ginjal Menurut Moore et al . Gambar : Trauma tumpul yang merusak ginjal sering menyebabkan fraktur iga bawah dan prosesus transverses vertebra lumbal.

Laserasi multiple mungkin menyebabkan destruksi komplit jaringan ginjal. Derajat IV: laserasi korteks meluas ke collecting system (terlihat adanya ekstravasasi kontras). A. Derajat II : hematom perirenal yang tidak meluas atau laserasi korteks < 1 cm tanpa ekstravasasi urine. Derajat I : kontusio ginjal atau hematom subkapsuler yang tidak meluas tanpa laserasi parenkim. gambaran radilogis normal. 3. kontusio atau hematom subkapsuler terlokalisisr tanpa laserasi parenkim. Jarang terjadi laserasi pelvis renalis tanpa laserasi parenkim pada trauma tumpul. Regangan pada arteri renalis utama tanpa avulsi menyebabkan trombosis arteri renalis. disertai Gambar: Klasifikasi trauma ginjal. avulsi pedikel ginjal atau trombosis arteri utama. Hematom perirenal dan retroperitoneal sering menyertai laserasi dalam ini. Trauma vaskuler pada pedikel ginjal ini memang sangat jarang dan biasanya karena trauma tumpul. Derajat III : laserasi korteks > 1 cm tanpa ekstra vasasi urine 4. 2003): 1. The American Association for the surgery of Trauma membagi trauma ginjal menjadi 5 grade:(Brandes . 2000) .Grade II: hematom perirenal tak meluas atau laserasi korteks curing dari 1 cm dalamnya tanpa disertai ekstravasasi urine (McAninch.menyebabkan ekstravasasi urine kedalam ruang perirenal.grade I: hematuria gross atau mikroskopik. Trauma vaskuler Terjadi sekitar 1% dari seluruh trauma ginjal. Grading Trauma Ginjal Untuk mengelola trauma ginjal dengan baik perlu terlebih dahulu menetapkan grading secara akurat. Derajat V : shattered kidney. Bisa terjadi total avulsi arteri dan vena atau avulsi parsial dari cabang segmental vasa ini. 2. B. 3. atau cedera arteri atau vena segmental(terlihat adanya infark parenkim segmental) atau cedera arteri atau vena utama yang tertutup oleh hematom 5.

(McAninch. D: grade Iv. Mungkin ditemukan nyeri abdomen difus pada palpasi yang merupakan tanda akut abdomen karena adanya darah pada cavum peritonei. punggung.(Purnomo. F: gradeV. trombosis arteri renalis utama. Trauma tembus pada daerah pinggang dan abdomen. Cermati adanya ekimosis pada pinggang atau kuadran atas abdomen. Cedera deselerasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas. Gejala Nyeri terlokalisasi pada satu pinggang atau seluruh perut. Masa yang palpable menandakan adanya hematom retroperitoneal besar atau suatu ekstravasasi urin. 2000) Diagnosis Kecurigaan adanya trauma ginjal patut dicermati pada keadaan dibawah ini:      Trauma didaerah pinggang. ematuri raktur kosta sebelah bawah (T8-T12) atau fraktur prosesus transversus vertebra. C: Grade III. 2000) Gambar : E. Distensi abdomen mungkin ditemukan dengan bising usus yang menghilang. laserasi meluas ke corticomedullary junction dan ke dalam collecting system (McAninch. trombosis arteri renalis segmental tanpa laserasi parenkim. Tanda Perlu diperhatikan adanya syok atau tanda-tanda kehilangan darah masiv karena perdarahan retroperitoneal. Trauma lain seperti ruptur visera abdomen atau fraktur pelvis multiple juga menyebabkan nyeri abdomen akut sehingga mengaburkan adanya trauma ginjal. dan perut bagian atas dengan disertai nyeri atau didapatkan adanya jejas pada daerah tersebut. karena gross hematuria bisa terjadi pada trauma ginjal minor sedangkan hematuria ringan terjadi pada trauma ginjal mayor.Gambar: Klasifikasi trauma ginjal. H: Grade V.2003). Tampak adanya daerah iskemia segmental. (McAninch. Laboratorium . 2000) Gambar:. Juga adanya patah tulang iga bagian bawah. nausea serta vomitus. Derajat trauma ginjal tidak berhubungan dengan derajat hematuri. laserasi parenkim > 1 cm kedalam korteks tanpa ekstravasasi urine. Perdarahan retroperitoneal bisa menyebabkan distensi abdomen. Namun jika retroperitoneum robek. dada sebelah bawah. avulsi vasa utama. ileus. laserasi multiple mayor menyebabkan suatu shattered kidney. Grade IV. darah bebas masuk ke cavum peritonei tanpa ditemukan masa palpable pada pinggang. G: Grade V. Kateterisasi biasanya menunjukkan adanya hematuria.

Sedangkan pada avulsi total vasa renalis bahkan tidak ditemukan hematuri. Untuk menghemat waktu kontras dapat disuntikkan pada saat resusitasi awal. Intravenous Urography (IVU) Pada trauma ginjal. apabila gambaran IVU abnormal dibutuhkan pemeriksaa lanjutan dengan Computed Tomography (CT) scan. Untuk hasil yang baik sistol dipertahankan diatas 90 mmHg. IVU tidak spesifik dan tidak sensitive. Teknik noninvasiv ini secara jelas memperlihatkan laserasi parenkim dan ekstravasasi urin. . Awalnya hematokrit normal namun kemudian terjadi ppenurunan pada pemeriksaan serial. Pada tulang tampak fraktur prosesus transversalis vertebra atau fraktur iga. mengetahui infark parenkim segmental. Pada pasien dengan hemodinamik stabil. 3. Bagi pasien hemodinamik tak stabil. Pada trauma minor bisa ditemukan hematuri yang berat. CT Scan Staging trauma ginjal paling akurat dilakukan dengan sarana CT scan. dengan adanya IVU abnormal memerlukan tindakan eksplorasi. 2003). Plain Photo Adanya obliterasi psoas shadow menunjukkan hematom retroperitoneaal atau ekstravasasi urin. diikuti satu pengambilan gambar abdomen 10 menit kemudian.Pada kondisi akut.2000). Single shot IVU ini bersisi 2 ml/kgBB kontras standar 60% ionic atau non ionic yang disuntikkan intra vena.(Donovan . hepar. Keterbatasan pemeriksaan IVU adalah tak bisa mengetahui luasnya trauma.Biasanya didapatkan adanya hematuri baik gross maupun mikroskopis.(McAninch . Saat ini telah diperkenalkan suatu helical CT scanner yang mampu melakukan imaging dalam waktu 10 menit pada trauma abdomen (Brandes . serta luasnya ekstravasasi urin dan pada trauma tembus bisa mengetahui arah perjalanan peluru pada ginjal. IVU menggantikan arteriografi karena secara akurat dapat memperlihatkan cedera arteri baik arteri utama atau segmental. mengetahui ukuran dan lokasi hematom retroperitoneal. IVU sangat akurat dalam mengetahui ada tidaknya trauma ginjal. 2003). Imaging 1. 1994) 2 . Namun untuk staging trauma parenkim. semua trauma tembus atau trauma tumpul dengan hemodinamik tidak stabil yang membutuhkan eksplorasi segera harus dilakukan single shot high dose intravenous urography (IVU) sebelum eksplorasi ginjal. identifikasi jaringan nonviable serta cedera terhadap organ sekitar seperti lien. . Beratnya hematuri tidak berbanding lurus dengan beratnya kerusakan ginjal. pankreas dan kolon (Geehan . Perdarahan yang persisten jelas memerlukan tindakan operasi. CT scan telah menggantikan pemakaian IVU dan arteriogram. Temuan ini menandakan adanya perdarahan retroperitoneal persisten yang menyebabkan terjadinya hematom retroperitoneal yang besar. sementara pada trauma mayor bisa hanya hematuri mikroskopis. Udara usus pindah dari posisinya. Dengan IVU bisa dilihat fungsi kedua ginjal.

2003) Trauma ginjal minor 85% dengan hematuri akan berhenti dan sembuh secara spontan. bertambah besarnya massa pada regio flank. Pengobatan konservatif tersebut meliputi istirahat di tempat tidur. biasanya diobati secara konservatif. 2000) Lesi minor grade 1. Bed rest dilakukan sampai hematuri berhenti. Pada keadaan ini dilakukan observasi tanda-tanda vital (tensi. suhu tubuh). 2000) 5. adanya pembesaran lingkar perut. Penyebab lain adalah memang tidak adanya ginjal baik karena kongenital atau operasi sebelumnya. mengandalkan kemampuan normal ginjal untuk menyembuhkan dirinya sendiri. 2. Tindakan konservatif ini dilakukan untuk menghindari dilakukannya tindakan nephrektomi. nadi. Penanganan secara konservatif. Penatalaksanaan 1. balutan.(Purnomo . Hanya dengan Doppler berwarna maka cedera vaskuler dapat didiagnosis. Pengecualian dari indikasi diatas adalah oklusi pada a. penurunan kadar hemoglombin dan perubahan warna urin pada pemeriksaan urin serial. Ultra Sonography (USG) Pemeriksa yang terlatih dan berpengalaman dapat mengidentifikasi adanya laserasi ginjal maupun hematom. Penanganan secara operatif biasanya dilakukan apabila pasien tidak memberikan respon positif terhadap pengobatan konservatif. kontusio parenkim berat yang menyebabkan spasme vaskuler. analgesik untuk menghilangkan nyeri. renalis ( grade 3 ). 2003). Arteriografi Bila pada pemeriksaan sebelumnya tidak semuanya dikerjakan. Sedangkan dokter yang memilih tindakan operatif secara dini mengemukakan bahwa insidens terjadinya komplikasi lanjut dapat diturunkan dengan tindakan nephrektomi.4. maka arteriografi bisa memperlihatkan cedera parenkim dan arteri utama. hematokrit serta sedimen urin. serta observasi status ginjal dengan pemeriksaan kondisi lokal.(McAninch. Indikasi absolut .(Brandes. ileus intestinal. Penanganan trauma ginjal grade 2 masih menimbulkan suatu kontroversi. Konservatif Tindakan konservatif ditujukan pada trauma minor. Keterbatasan USG adalah ketidakmampuan untuk membedakan darah segar dengan ekstravasasi urin. kadar hemoglobin. seperti yang dipilih oleh kebanyakan dokter. Eksplorsi a. serta ketidakmampuan mengidentifikasi cedera pedikel dan infark segmental.(Mc Aninch . seperti kehilangan darah yang terus bertambah. rasa sakit yang terus menerus dan disertai dengan adanya demam. Adanya fraktur iga . kemungkinan adanya penambahan masa di pinggang. trombosis arteri. Penyebab utama ginjal nonvisualized pada IVU adalah avulsi total pedikel. luka terbuka serta obesitas membatasi visualisasi ginjal. Trombosis arteri dan avulsi pedikel ginjal terbaik didiagnosis dengan arteriografi terutama pada ginjal yang nonvisualized dengan IVU.

Renal salvage dimungkinkan apabila iskemia kurang dari 12 jam.Indikasi absolut adalah adanya perdarahan ginjal persisten yang ditandai oleh adanya hematom retroperitoneal yang meluas dan berdenyut. Tanda lain adalah adanya avulsi vasa renalis utama pada pemeriksaan CT scan atau arteriografi. ada kontroversi apakah perlu revaskularisasi atau observasi. pemeriksaan imaging yang bisa dilakukan hanyalah one shot IVU di meja operasi. Pada pasien dengan kondisi tidak stabil yang memerlukan tindakan laparotomi segera. b. terjadi trombosis arteri renalis utama atau cabang segmentalnya yang akan menyebebkan infark parenkim ginjal. Penegakan diagnosis yang tepat serta timing operasi sangat penting dalam penyelamatan ginjal. Nefrektomi dilakukan hanya bila delayed celiotomy dilakukan karena adanya cedera organ lain atau jika hipetensi menetap pasca operasi.  Incomplete staging Penatalaksanaan nonoperatif dimungkinkan apabila telah dilakukan pemeriksaan imaging untuk menilai derajat trauma ginjal. Bila ekstravasasi menetap maka membutuhkan intervensi bedah. Indikasi relatif  Jaringan nonviable Parenkim ginjal yang nekrosis lebih dari 25% adalah indikasi relatif untuk dilakukan eksplorasi.  Trombosis Arteri Cedera deselerasi mayor menyebabkan regangan pada arteri renalis dan akan menyobek tunika intima.  Trauma tembus Pada trauma tembus indikasi absolut dilakukan eksplorasi adalah perdarahan arteri . Jika ginjal kontralateral normal. Trombosis arteri renalis bilateral komplit atau adanya ginjal soliter dibutuhkan eksplorasi segera dan revaskularisasi. Adanya incomplete staging memerlukan pemeriksaan imaging dahulu atau eksplorasi /rekonstruksi ginjal.Jika iskemia melebihi 12 jam.  Ekstravasasi urin Ekstravasasi urin menandakan adanya cedera ginjal mayor. Bila hasil IVU abnormal atau tidak jelas atau adanya perdarahan persisten pada ginjal harus dilakukan eksplorasi ginjal. ginjal akan mengalami atrofi.

(McAninch. Gambar: Isolasi pembuluh darah utama ginjal. 2003) C. Usus halus dan kolon disingkirkan ke lateral dan cranial.persisten. 2003). Jaringan nonviable pada kutub atas maupun bawah yang luas memerlukan nefrektomi passial. Bila dijumpai perdarahan pada leher kaliks. Defek pelviokalises memerlukan penjahitan yang kedap air. Pada saat inilah biasanya terjadi perdarahan yang dapat dikendalikan dengan melakukan oklusi sementara pembuluh darah ginjal.(Taher A. eksplorasi ginjal dilakukan dengan membuat irisan peritoneum parakolika. Vena renalis kiri merupakan tanda yang penting karena relatif mudah ditemukan. Bila diperlukan lebih lama ginjal didinginkan dengan es. Buat insisi pada peritoneum posterior sebelah medial dan sejajar dengan vena mesentrika superior. Lemak omentum dapat digunakan untuk menutup defek parenkim yang luas. Dengan teknik ini di RSCM dapat diturunkan angka nefrektomi dari 635 menjadi 36%. Setelah prosedur ini. Tenik Operasi A. Sebagai penggantinya dapat dipakai free graft . namun penting untuk menyisakan kapsul ginjal agar dapat dipakai untuk menutup defek parenkim ginjal. Perkecualian adalah trauma ginjal tanpa adanya penetrasi peluru intraperitoneum Luka tusuk sebelah posterior linea aksilaris posterior relatif tidak melibatkan cedera organ lain. Rekonstruksi Setelah membuka fascia gerota maka ginjal harus terpapar seluruhnya. 2003). Approach Dilakukan transperitoneal karena dapat mengenali dan menanggulangi trauma intraabdominal lain serta dapat melakukan isolasi pembuluh darah ginjal sebelum melakukan eksplorasi ginjal. sementara di kraniodorsal akan didapat arteri renalis kiri. Isolasi pembuluh darah ginjal (Prosedur Mc Aninch) Dimaksudkan untuk mengendalikan perdarahan waktu dilakukan eksplorasi ginjal sebelum tamponade hematom retroperitoneal dibuka.(Brandes. B. Setelah itu baru dilakukan penjahitan parenkim sekaligus kapsulnya dengan jahitan matras menggunakan benang kromik 2-0. Selanjutnya dilakukan debridemen fasia dan jaringan ginjal diikuti hemostasis sebaik mungkin. dilakukan penjahitan dengan benang absorabel kecil dan jarum atraumatik. Vena renalis kanan bermuara pada vena kava lebih kaudal disbanding vena renalis kiri dan di cranial vena renalis kanan akan dijumpai arteri renalis kanan.Pada saat pembuluh darah dijerat untuk mengendalikan perdarahan tapi wrm ischaemic time tidak boleh lebih dari 30 menit. Insisi berada di ventral aorta dan dengan meneruskan insisi ke cranial akan didapat vena renalis kiri yang berjalan melintang di ventral aorta. Hampir semua trauma tembus renal dilakukan tindakan bedah. Cara guillotine merupakan cara yang mudah.

Bila besar dan simtomatik dilakukan embolisasi. transient dan tidak membutuhkan tindakan . Di USA dari semua cedera arteriil hanya 44% kasus yang berhasil direpair. kalkulus. Komplikasi Lanjut Hidronefrosis. Abses Terdapat ileus. Ureter harus dikenali dan bila terdapat bekuan darah di ureter maupun pielum. Nefrektomi biasanya dilakukan pada robekan scattered atau mengenai daerah hilus. Jika kecil dan noninfeksius maka tidak membutuhkan intervensi bedah. 1. Sebelum menutup rongga retroperitoneum dilakukan pemasangan pipa drain (Taher . Angiografi akan memperlihatkan ukuran dan posisi fistula. Mobilitas ginjal sendiri . panas tinggi dan sepsis. 5. Komplikasi A. KESIMPULAN Ginjal sangat terlindungi oleh organ-organ disekitarnya sehingga diperlukan kekuatan yang cukup yang bisa menimbulkan cedera ginjal. Delayed bleeding Terjadi dalam waktu 2 minggu cedera. Urinoma Terjadi < 1% kasus trauma ginjal. Repair pembuluh darah perlu diusahakan dan cedera yang mengenai sekaligus a/v ginjal umumnya berakhir dengan nefrektomi. Pada sebagian besar kasus mudah dilakukan penutupan fistula dengan embolisasi. B. Laserasi luas pada bagian tengah ginjal dan mengenai pelviokalises sering berakhir dengan nefrektomi. Hipertensi delayed pasca cedera ginjal karena iskemi ginjal merangsang aksis renin-angiotensin. pemasangan nefrostomi harus dilakukan dengan kateter folley 16F. 3. Namun pada kondisi patologis seperti hidronefrosis atau malignansi ginjal maka ginjal mudah ruptur oleh hanya trauma ringan. Komplikasi Awal Komplikasi awal terjadi I bulan pertama setelah cedera. delayed hipertensi scarring pada daerah pelvis renis dan ureter pasca trauma bisa menyebabkan obstruksi urine yang menyebabkan terbentuknya batu dan infeksi kronik. 2003). Hipertensi Pada periode awal pasca operasi biasanya karena rennin mediated.peritoneum. Fistula arteriovenosa sering terjadi setelah luka tusuk yang ditandai dengan delayed bleeding. pielonefritis. Bila besar perlu dilakukan pemasangan tube ureter atau nefrostomi perkutan /endoskopik. Mudsah didrainase perkutan. 2. Urinary fistula Terjadi karena adanya urin yang tidak didrain atau infark segmen besar parenkim gunjal. 4. arteriovenous fistula.

prosesus transversus vertebra lumbal yang menunjukkan kecurigaan kita terhadap trauma ginjal. Pada pasien mungkin ditemukan hematuria gross ataupun mikroskopis atau mungkin tanpa hematuria. Pemeriksaan fisik diperlukan untuk menilai ABC nya trauma. Pada kondisi tak stabil. dekompresi hematom ginjal yang dilakukan durante operasi meningkatkan insidensi nefrektomi. pemeriksaan fisik dan penunjang. Dilakukan arteriografi apabila CT scan tidak tersedia. Kerugiannya pemeriksaan ini invasif. Sebagian besar trauma ginjal adalah trauma tumpul dan sebagian besar trauma tumpul menimbulkan cedera minor pada ginjal yang hanya membutuhkan bed rest. lokal ginjal maupun organ lain yang terlibat. Pemeriksaan angiografi sangat baik dilakukan pada kecurigaan cedera vaskuler. Pada pemeriksaan penunjang plain photo bisa ditemukan patah tulang iga bawah. Pada pemeriksaan fisik digali mekanisme trauma serta kemungkinan gaya yang menimpa ginjal maupun organ lain disekitarnya. maka hanya dilakukan one shot IVU yang bisa menilai ginjal kontralateral. Teknik operasi saat ini memegang peranan penting dalam penyelamatan ginjal. Bagian-bagian infark ginjal terlihat. Kontrol pembuluh darah dilakukan diluar fasia Gerota sebelum masuk zona trauma. Bila kondisi tidak stabil walau dengan resusitasi maka tidak ada pilihan kecuali eksplorasi segera .membawa konsekuensi terjadinya cedera parenkim ataupun vaskuler. Keselamatan jiwa pasien tentunya lebih penting dari pada usaha peyelamatan ginjal namun jiwa melayang. Tanpa isolasi arteri dan vena . Dengan kontrol pembuluh darah ginjal maka terjadi penurunan angka nefrektomi. . serta seluruh organ abdomen serta retroperitoneum juga jelas. Hanya pasien dengan indikasi jelas dilakukan nefrektomi. Prinsip penanganan trauma ginjal adalah meminimalisasi morbiditas dan mortalitas serta sedapat mungkin mempertahankan fungsi ginjal. Pada pemeriksaan IVU akurasinya 90% namun pada pasien hipotensi tidak bisa diharapkan hasilnya. Diagnosis trauma ginjal ditegakkan dengan anamnesis. Pemeriksaan dengan CT scan merupakan gold standard karena dengan alat ini bisa melakukan grading dengan baik. IVU juga tidak bisa menilai daerah retroperitoneal serta sangat sulit melakukan grading.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful