You are on page 1of 18

TINJAUAN PUSTAKA

Trauma Kepala
Trauma kepala adalah penyebab utama kematian, dan kecacatan. Manfaat dari kepala, termasuk tengkorak dan wajah adalah untuk melindungi otak terhadap cedera. Selain perlindungan oleh tulang, otak juga tertutup lapisan keras yang disebut meninges fibrosa dan terdapat cairan yang disebut cerebrospinal fuild (CSF). Trauma tersebut berpotensi menyebabkan fraktur tulang tengkorak, perdarahan di ruang sekitar otak, memar pada jaringan otak, atau kerusakan hubungan antar nervus pada otak1. Fraktur basis cranii/Basilar Skull Fracture (BSF) merupakan fraktur akibat benturan langsung pada daerah daerah dasar tulang tengkorak (oksiput, mastoid, supraorbita); transmisi energy yang berasal dari benturan pada wajah atau mandibula; atau efek “remote‟ dari benturan pada kepala (“gelombang tekanan‟ yang dipropagasi dari titik benturan atau perubahan bentuk tengkorak)2 Dalam beberapa studi telah terbukti fraktur basis cranii dapat disebabkan oleh berbagai mekanisme termaksud ruda paksa akibat fraktur maksilofacial, ruda paksa dari arah lateral cranial dan dari arah kubah cranial, atau karena beban inersia oleh kepala3. Pasien dengan fraktur basis cranii (fraktur pertrous os temporal) dijumpai dengan otorrhea dan memar pada mastoids (battle sign). Presentasi dengan fraktur basis cranii fossa anterior adalah dengan Rhinorrhea dan memar di sekitar palpebra (raccoon eyes). Kehilangan kesadaran dan Glasgow Coma Scale dapat bervariasi, tergantung pada kondisi patologis intrakranial. Untuk penegakan diagnosis fraktur basis cranii, diawali dengan pemeriksaan neurologis lengkap, analisis laboratorium dasar, diagnostic untuk fraktur dengan pemeriksaan radiologik4.Penanganan korban dengan cedera kepala diawali dengan memastikan bahwa airway, breathing, circulation bebas dan aman. Banyak korban cedera kepala disertai dengan multiple trauma dan penanganan pada pasien tersebut tidak menempatkan penanganan kepala menjadi prioritas, resusitasi awal dilakukan secara menyeluruh4.

Anatomi Basis Cranii Tulang tengkorak terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii 6,7. Tulang tengkorak terdiri dari beberapa tulang yaitu frontal, parietal, temporal dan oksipital7. Kalvaria khususnya di regio temporal adalah tipis, namun di sini dilapisi oleh otot temporalis. Basis kranii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi. Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fosa yaitu : fossa cranii anterior, fossa cranii media dan fossa cranii posterior8. Fossa crania anterior menampung lobus frontal cerebri, dibatasi di anterior oleh permukaan dalam os frontale, batas superior adalah ala minor ossis spenoidalis. Dasar fossa dibentuk oleh

mastoid. yang merupakan celah antara ala mayor dan minor os sphenoidalis dilalui oleh n. Bocornya CSF dan keluarnya darah dari canalis acusticus externus sering terjadi (otorrhea).trochlearis. lacrimalis. yaitu cerebellum. Fraktur yang mengenai pars orbita os frontal mengakibatkan perdarahan subkonjungtiva (raccoon eyes atau periorbital ekimosis) yang merupakan salah satu tanda klinis dari fraktur basis cranii fossa anterior7. apertura di dasar tengkorak di mana spinal cord lewat. darah ditemukan dan muncul di otot otot trigonu posterior. pars spinalis assendens n. condylaris. cranialis III.7. karena daerah ini merupakan tempat yang paling lemah dari basis cranii. lamina cribrosa os etmoidalis dapat cedera. atau efek „remote‟ dari benturan pada kepala („gelombang tekanan‟ yang dipropagasi dari titik benturan atau perubahan bentuk tengkorak)2. sementara bagian posterior dibatasi oleh batas atas pars petrosa os temporal. X dan XI dapat cedera6. Di anterior dibatasi oleh ala minor os sphenoidalis dan terdapat canalis opticus yang dilalui oleh n. supraorbita). craniais VII dan VIII dapat cedera pada saat terjadi cedera pada pars perrosus os temporal. N. pons dan medulla oblongata. Ring fracture in komplit lebih sering dijumpai . Tipe dari BSF yang parah adalah jenis ring fracture. IV dan VI dapat cedera bila dinding lateral sinus cavernosus robek7. dan squamosa os occipital dan pars mastoiddeus os temporal8. transmisi energy yang berasal dari benturan pada wajah atau mandibula. Cavum timpani dan sinus sphenoidalis merupakan daerah yang paling sering terkena cedera.pars orbitalis ossis frontale di lateral dan oleh lamina cribiformis os etmoidalis di medial. Dasar fossa cranii posterior dibentuk oleh pars basilaris. dan lubung lubang halus pada lamini cribrosa dilalui oleh nervus olfaktorius7. Ring fracture komplit biasanya segera berakibat fatal akibat cedera batang otak.vertebralis7. accessories dan kedua a.7. Beberapa hari kemudian. Mekanisme Fraktur Basis Cranii/Basilar Skull Fracture (BSF) Fraktur basis cranii merupakan fraktur akibat benturan langsung pada daerah daerah dasar tulang tengkorak (oksiput.IX.frontale. Foramen magnum menempati daerah pusat dari dasar fossa dan dilalui oleh medulla oblongata dengan meningens yang meliputinya. Fossa cranii media terdiri dari bagian medial yang dibentuk oleh corpus os sphenoidalis dan bagian lateral yang luas membentuk cekungan kanan dan kiri yang menampung lobus temporalis cerebri. n. Fissura orbitalis superior. Pada fraktur fossa cranii posterior darah dapat merembes ke tengkuk di bawah otot otot postvertebralis. karena area ini mengelilingi foramen magnum. Fossa cranii posterior menampung otak otak belakang. Permukaan atas lamina cribiformis menyokong bulbus olfaktorius.opticus dan a. dekat prosesus mastoideus. Membrane mukosa atap nasofaring dapat robek. Keadaan ini dapat menyebabkan robeknya meningeal yang menutupi mukoperiostium. n. Pada fraktur yang mengenai foramen jugularis n. N.oftalmica.Fraktur pada basis cranii fossa media sering terjadi. Secara anatomi kelemahan ini disebabkan oleh banyak nya foramen dan canalis di daerah ini. abducens6. Pasien dapat mengalami epistaksis dan terjadi rhinnore atau kebocoran CSF yang merembes ke dalam hidung. Pada fraktur fossa cranii anterior. Dilateral terdapat pars squamous pars os temporal8. dan darah mengalir keluar. n. Di anterior fossa di batasi oleh pinggi superior pars petrosa os temporal dab di posterior dibatasi oleh permukaan dalam pars squamosa os occipital. occulomotorius dan n.

Huelke et al. yang disajikan dalam berbagai jenis kecelakaan kendaraan bermotor. telah didokumentasikan. Tipe transversal dari fraktur temporal dan type longitudinal fraktur temporal4. dinding superior dari canalis acusticus externus dan tegmen timpani. misalnya. berakhir pada fossa cranii media dekat foramen spinosum atau pada mastoid air cells. Para peneliti menemukan fraktur basis cranii juga bisa disebabkan oleh benturan pada area wajah saja. Pada studi eksperimen berdasarkan pengujian mayat. Fraktur condylar occipital. Tipe II fraktur yang dihasilkan dari pukulan langsung meskipun fraktur basioccipital lebih luas. beban inersia tersebut kemudian meyebabkan ring fracture. Namun sistem lain untuk klasifikasi fraktur os temporal telah diusulkan. Tipe III adalah cedera avulsi sebagai akibat rotasi paksa dan lateral bending. lateral bending. Ini merupakan jenis cedera stabil. atau akibat beban inersia pada kepala (sering disebut cedera tipe whiplash). seluruh wajah (2 kasus) dan berbagai jenis ruda paksa kepala lainnya (14 kasus). Penyebab dari kasus tersebut disebabkan oleh ruda paksa pada area frontal (5 kasus). Tipe fraktur ini dapat berjalan dari salah satu bagian anterior atau posterior menuju cochlea dan labyrinthine capsule. Kematian biasanya terjadi seketika karena cedera batang otak disertai dengan avulsi dan laserasi dari pembuluh darah besar pada dasar tengkorak. transversal dan mixed9. yang terakhir termasuk fraktur yang melibatkan mastoid air cells. Fraktur longitudinal terjadi pada regio temporoparietal dan melibatkan bagian squamousa pada os temporal. Hal ini berpotensi menjadi fraktur tidak stabil10. . 45 kasus skull fraktur diamati secara rinci. Klasifikasi alternative membagi fraktur ini menjadi displaced dan stable. Fraktur mixed memiliki unsur unsur dari kedua frakturlongitudinal dan transversal4. atau cedera rotational pada pada ligamentum Alar. yaitu. Terjadinya beban inersia. Gott et al. dengan dan tanpa cedera ligamen11. Terdapat 3 suptipe dari fraktur temporal berupa longitudinal. Fraktur transversal dimulai dari foramen magnum dan memperpanjang melalui cochlea dan labyrinth. Ring fracture juga dapat terjadi akibat ruda paksa pada benturan tipe vertikal. Fraktur longitudinal merupakan yang paling umum dari tiga suptipe (70-90%). arah benturan dari inferior diteruskan ke superior (daya kompresi) atau ruda paksa dari arah superior kemudian diteruskan ke arah occiput atau mandibula. 1994). Terdapat 22 BSF pada grup ini. fraktur tipe II diklasifikasikan sebagai fraktur yang stabil karena ligament alar dan membrane tectorial tidak mengalami kerusakan. adalah hasil dari trauma tumpul energi tinggi dengan kompresi aksial. ketika dada pengendara sepeda motor berhenti secara mendadak akibat mengalami benturan dengan sebuah objek misalnya pagar. Sistem ini membagi fraktur os temporal kedalam petrous fraktur dan nonpetrous fraktur. Fraktur tersebut tidak disertai dengan deficit nervus cranialis9. Jenis Fraktur Basis Cranii Fraktur Temporal. Kepala kemudian secara tiba tiba mengalami percepatan gerakan namun pada area medulla oblongata mengalami tahanan oleh foramen magnum.(1983) meneliti secara rinci tengkorak dari 146 subjek yang telah mengalami benturan/ruda paksa pada area kepala.(Hooper et al. Fraktur basis cranii telah dikaitkan dengan berbagai mekanisme termasuk benturan dari arah mandibula atau wajah dan kubah tengkorak. dijumpai pada 75% dari semua fraktur basis cranii. Tipe I fraktur sekunder akibat kompresi aksial yang mengakibatkan kombinasi dari kondilus oksipital. (1988) menyelidiki sebuah pandangan umum bahwa fraktur basis cranii akibathasil dari benturan area kubah kranial.berakhir pada fossa cranial media (5-30%). daerah Temporo-parietal tengkorak (1 kasus). Fraktur tipe ini dibagi menjadi 3 jenis berdasarkan morfologi dan mekanisme cedera9. Kasus benturan pada area kubah non-kranial.

palatum mole (curtain sign). Pemeriksaan lainnya Perdarahan dari telinga atau hidung pada kasus dicurigai terjadinya kebocoran CSF. transversal.13. o CT scan: CT scan merupakan modalitas kriteria standar untuk membantu dalam diagnosis skull fraktur. Defisit pada nervus cranial VI dan VII biasanya dijumpai pada fraktur tipe ini12. Facial palsy. sternocleidomastoid. superior pharyngeal constrictor. XI. sehinggamenyebabkan nystagmus. Sebagian besar pasien dengan fraktur condylar os oksipital. ataksia. Manifestasi klinis Pasien dengan fraktur pertrous os temporal dijumpai dengan otorrhea dan memar pada mastoids (battle sign). maka akan menunjukkan gambaran seperti cincin yang jelas yang melingkari . nystagmus. dan tipe oblique telah dideskripsikan dalam literatur. Slice tipis bone window hingga ukuran 1-1. Collet-Sicard sindrom adalah fraktur condylar os oksipital dengan keterlibatan nervus cranial IX. Pasien tampak dengan kesulitan fungsi fonasi dan aspirasi dan paralysis ipsilateral dari pita suara.Fraktur clivus. Foto xray skull tidak bermanfaat bila tersedianya CT scan. Pemeriksaan Lanjutan Studi Imaging o Radiografi: Pada tahun 1987.5 mm. Presentasi dengan fraktur basis cranii fossa anterior adalah dengan rhinorrhea dan memar di sekitar palpebra (raccoon eyes). terutama bila melibatkan sistem vertebrobasilar. VI. dapat dipastikan dengan salah satu pemeriksaan suatu tehnik dengan mengoleskan darah tersebut pada kertas tisu. dan XI akibat fraktur. terutama dengan tipe III. o MRI: MRI atau magnetic resonance angiography merupakan suatu nilai tambahan untuk kasus yang dicurigai mengalami cedera pada ligament dan vaskular. berada dalam keadaan koma dan terkait cedera tulang belakang servikalis. Sindrom Vernet atau sindrom foramen jugularis adalah keterlibatan nervus cranialis IX. Fraktur condylar os oksipital adalah cedera yang sangat langka dan serius12. foto x-ray tulang tengkorak merujukan pada kriteria panel memutuskan bahwa skull film kurang optimal dalam menvisualisasikan fraktur basis cranii. Kehilangan kesadaran dan Glasgow Coma Scale dapat bervariasi.Fraktur longitudinal os temporal berakibat pada terganggunya tulang pendengaran dan ketulian konduktif yang lebih besar dari 30 dB yang berlangsung lebih dari 6-7 minggu. dan facial numbness adalah akibat sekunder dari keterlibatan nervus cranialis V. Fraktur tranversal os temporal melibatkan saraf cranialis VIII dan labirin. dan trapezius. dengan potongan sagital. dan kehilangan pendengaran permanen (permanent neural hearing loss)4. Cedera pada tulang jauh lebih baik divisualisasikan dengan menggunakan CT scan4. Pasien ini juga memperlihatkan cedera lower cranial nerve dan hemiplegia atau guadriplegia. X. Tuli sementara yang akan baik kembali dalam waktu kurang dari 3 minggu disebabkan karena hemotympanum dan edema mukosa di fossa tympany. X. tergantung pada kondisi patologis intrakranial4. Longitudinal. Fraktur longitudinal memiliki prognosis terburuk. dan XII4. bermanfaat dalam menilai skull fraktur. CT scan Helical sangat membantu dalam menvisualisasikan fraktur condylar occipital. digambarkan sebagai akibat ruda paksa energi tinggi dalam kecelakaan kendaraan bermotor. VII. biasanya 3-dimensi tidak diperlukan.

jika disertai rupture membrane timpani biasanya akan sembuh sendiri5. Pada sebuah review artikel yang di publish antara tahun 1970 dan 1989. Pada Bayi dengan simple fraktur linier harus dilakukan pengamatan secara terus menerus tanpa memandang status neurologis.94 P = . Open fraktur. 719 pasien diantaranya mendapat antibiotic profilaksis dan 512 pasien tidak mendapat antibiotic profilaksis. Kesimpulan dari penelitian tersebut menunjukkan antibiotic profilaksis tidak mencegah terjadinya meningitis pada pasien fraktur basis cranii. Fraktur condylar tipe I dan II os occipital ditatalaksana secara konservatif dengan stabilisasi leher dengan menggunakan collar atau traksi halo. Obat anti kejang dianjurkan jika kemungkinanterjadinya kejang lebih tinggi dari 20%. Terapi medis Pasien dewasa dengan simple fraktur linear tanpa disertai kelainan struktural neurologis tidak memerlukan intervensi apapun bahkan pasien dapat dipulangkan untuk berobat jalan dan kembali jika muncul gejala. dari total 1241 pasien dengan fraktur basis cranii. cranioplasty dilakukan dikemudian hari. Peran antibiotik pada profilaksis fraktur basis cranii Pemberian antibiotic sebagai terapi profilaksis pada fraktur basis cranii dengan pertimbangan terjadinya kebocoran dari lapisan meningeal akan menyebabkan mikroorganisme pathogen dari saluran nafas atas (hidung dan telinga) dapat mencapai otak dan selaput mengingeal. craniectomy dekompressi dilakukan jika otak mengalami kerusaksan dan pembengkakan akibat edema. Menyembuhkan fraktur depress dengan baik membutuhkan waktu. Bayi dan anak-anak dengan open fraktur depress memerlukan intervensi bedah.darah.15. Status neurologis pasiendengan fraktur basis cranii tipe linier biasanya ditatalaksana secara conservative. Studi lain juga menunjukkan dengan menggunakan uji statistik.68-1. menemukan 848 kasus dari fraktur basis cranii (519 mendapatkan antibiotic profilaksis dan 8% menjadi meningitis) dan kesimpulannya adalah antibiotic tidak mencegah terjadinya meningitis pada fraktur basis cranii14. Sementara itu. Menunda untuk dilakukan . Pemberian antibiotic profilaksis berkontribusi terhadap terjadinya peningkatan resistensi antibiotic dan akan menyebabkan infeksi yang serius14. Kebanyakan ahli bedah lebih suka untuk mengevaluasi fraktur depress jika segmen depress lebih dari 5 mm di bawah inner table dari adjacent bone. jika terkontaminasi. (odds ratio (OR) = 1. dan hematom yang mendasarinya. Indikasi untuk elevasi segera adalah fraktur yang terkontaminasi. Simple fraktur depress dengan tidak terdapat kerusakan struktural pada neurologis pada bayi ditatalaksana dengan penuh harapan. maka disebut “halo” atau “ring” sign. Fraktur os temporal juga dikelola secara konservatif.678)14. Terapi Bedah Peran operasi terbatas dalam pengelolaan skull fraktur. Sulfisoxazole direkomendasikan pada kasus ini. 95% confidence interval (CI) = 0. Indikasi lain untuk interaksi bedah dini adalah fraktur condylar os oksipital tipe unstable (tipe III) yang membutuhkan arthrodesis atlantoaxial. Kebocoran dari CSF juga dapat dibuktikan dengan menganalisa kadar glukosa dan dengan mengukur transferrin4. Kadang kadang. tanpa dilakukan elevasi dari fraktur depress. tanpa antibiotik. hal ini masih menjadi controversial. mungkin memerlukan antibiotik disamping tetanus toksoid. Dalam hal ini. dural tear denganpneumocephalus. Hal ini dapat dicapai dengan fiksasi dalam-luar16.

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. cedera carotid diduga terdapat pada kasus kasus dimana fraktur berjalan melalui kanal karotid. Nervus kranialis (IX. dalam hal ini. Zamboni P. American College of Surgeon Committe on Trauma. dengan prognosis buruk.com/article/248108-threatment last update 10 mei 2o11 6. Icon Learning System LLC. Stoppler MC. Edisi 7.740-59 8. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Head Injury Overview. Machado CA. Harsh G. Listiono L D. 16. DAFTAR PUSTAKA 1. bahkan tanpa antibiotik. Wyler A R. terutama yang disertai dengan rhinorrhea.emedicinehealth.asp?articlekey=59402&page=1#overview last update 10 Mei 2011 2. IV. Nosko M G.com/article/248108clinicalmanifestations last update 10 mei 2011 5.dan VI dan juga dapat mengganggu arteri karotis interna dan berpotensi menghasilkan pembentukan pseudoaneurysma dan fistula caroticocavernous (jika melibatkan struktur vena). XI.dengan prognosis yang baik. On emedicine health 2009. Onset facila palsy secara tiba tiba pada saat bersamaan terjadinya fraktur biasanya akibat skunder dari transeksi nervus. Clinical Anatomy for Medical Student. Nosko M G.com/script/main/art. Fraktur os sphenoidalis dapat mempengaruhi nervus cranialis III. Qureshi N H. 6th ed. Version 3. 2004. 168-193. Available at http://www. penerjemah. Qureshi N H. Cedera nervus cranialis VI yang terisolasi bukanlah akibat langsung dari fraktur. 15. Wedro B C. X. Cedera kepala. Atlas of Human Anatomy. Onemedicine health 2009. .medscape. Available at http://emedicine. Fraktur pada ujung pertosus os temporale mungkin melibatkan ganglion gasserian. facial palsy yang terjadi pada hari ke 2-3 pasca trauma adalah akibat sekunder untuk neurapraxia dari nervus cranialis VII dan responsif terhadap steroid. CTangiografi dianjurkan5. Talavera F. Susilawati. Biomechanical of basilar skull fracture. edisi III. On ATSB Research and analysis report road safety research grant report 2007-03.2003. Suyono J. Indikasi lain adalah terjadinya kebocoran CSF yang persisten setelah fraktur basis cranii. Skull fracture. penerjemah. Komisi trauma IKABI. Namun. Ilmu Bedah Saraf Satyanegara. Edisi 6. Facial palsy dan gangguan ossicular yang berhubungan dengan fraktur basis cranii dibahas di bagian klinis. Cedera Kepala Bab 6. Available at http://emedicine. Helmet protection against basilar skull fracture. 7.intervensi bedah diindikasikan pada keadaan kerusakan ossicular (tulang pendengaran) akibat fraktur basis cranii jenis longitudinal pada os temporal. Zamboni P. Hartanto H. tapi mungkin akibat skunder karena terjadinya ketegangan pada nervus. Snell RS. Sugiharto L. seperti yang dijelaskan sebelumnya dalam Vernet dan sindrom Collet-Sicard (vide supra). Listiawati E. Nervus cranialis lain mungkin juga terlibat dalam fraktur basis cranii.dan XII) dapat terlibat dalam fraktur condylar os oksipital.medscape. Mahatmi T. Komplikasi fraktur basis cranii Risiko infeksi tidak tinggi. Harsh G. Jakarta: EGC: 2006. Talavera F. terutama. Dalam: Advanced Trauma Life Support for Doctors. Ikatan Ahli Bedah Indonesia. Netter FH. Skull fracture. Wyler A R. Ossiculoplasty mungkin diperlukan jika kehilangan berlangsung selama lebih dari 3 bulan atau jika membrane timpani tidak sembuh sendiri. Jaka 3. Hal ini memerlukan secara tepat lokasi kebocoran sebelum intervensi bedah dilakukan5. Thai T J G K. on emedicine health. dkk. Australia 2007 4.

Permukaan luar dari korpus mandibula pada garis median. X. Neurosurg Rev.48(2):342-8.10:87–8. Tucer B. Ceola W. XI. Bagian korpus mandibula membentuk tonjolan disebut prosesus alveolaris yang mempunyai 16 buah lubang untuk tempat gigi. Bagian bawah korpus mandibula mempunyai tepi yang lengkung dan halus. Milohioid. Fehlings MG. Durak AC. Tulang ini terdiri dari korpus. Jul 1988. 16. 13. Fusciardi J. Tator CH. Kubilis P. Laryngoscope. XII) cranial nerves palsy: four case reports including two fractures of the occipital condyle--a literature review. Neurosurgery. Pait TG. Clivus fractures: clinical presentations and courses. 11. yaitu suatu lengkungan tapal kuda dan sepasang ramus yang pipih dan lebar yang mengarah keatas pada bagian belakang dari korpus. Al-Mefty O. Menku A. Chiaroni P. Feb 2000. J Neurosurg.27(3):194-8. and Rathore M. Permukaan dalam dari korpus mandibula cekung dan didapatkan linea milohiodea yang merupakan origo m. Aug1997. Fournier P. Arango C. Temporal bone fractures: traditional classification and clinical relevance. Rathore MH. Inside-outside technique for posterior occipitocervical spine instrumentation and stabilization: preliminary results. Ishman SL.41(2):368-76. Arnautovic KI. Dibentuk oleh dua bagian simetris yang mengadakan fusi dalam tahun pertama kehidupan. Boop FA. didapatkan tonjolan tulang halus yang disebut simfisis mentum yang merupakan tempat pertemuan embriologis dari dua buah tulang. Akdemir H. Montesano PX. Pada ujung dari masing-masing ramus didapatkan dua buah penonjolan disebut prosesus kondiloideus dan prosesus koronoideus. a review article On cid. 14.org. Anderson PA. Angulus mandibula . J Trauma.9.13(7):731-6.90(1 Suppl):1-7. Ritz O. discussion 376-7. Mackay M. Pada pertengahan korpus mandibula kurang lebih 1 nchi dari simfisis didapatkan foramen mentalis yang dilalui oleh vasa dan nervus mentalis. Morphology and treatment of occipital condyle fractures. Villalobos T. Spine (Phila Pa 1976). 1998 15. Legros B. Anatomi Mandibula merupakan tulang yang besar dan paling kuat pa da daerah muka. Koc RK. Jul 2004. Antibiotic Prophylaxis After Basilar Skull Fractures: A Meta-Analysis.oxfordjournals.114(10):1734-41. Friedland DR. Occipital condyle fractures. Basal fracture of the skull and lower (IX. Do prophylactic antibiotics prevent meningitis after basilar skull fracture Pediatric Infect Dis J 1991. Tuli S. Oct 2004. Prosessus kondiloideus terdiri dari kaput dan kolum. Jan 1999. 12. 10. Rahman S.

adalah pertemuan antara tepi belakang ramus mandibula dan tepi bawah korpus mandibula. Arteri submentalis dan arteri labii inferior merupakan cabang dari arteri facialis. Fungsi m pterigoid sangat penting dalam proses penyembuhan pada fraktur intrakapsuler.5-3mm. Temporalis yang berinsersi disisi medial pada ujung prosesus koronoideus dan m. Pada potongan melintang tulang mandibula dewasa level molar II berbentuk seperti ”U” dengan komposisi korteks dalam dan korteks luar yang cukup kuat. Arteri alveolaris inferior memberi nutrisi ke gigi-gigi bawah serta gusi sekitarnya kemudian di foramen mentalis keluar sebagai a. (6) Mandibula mendapat nutrisi dari arteri alveolaris inferior yang merupakan cabang pertama dari arteri maxillaris yang masuk melalui foramen mandibula bersama vena dan nervus alveolaris inferior berjalan dalam kanalis alveolaris. memipih dan meninggi pada bagian ramus kanan dan kiri sehingga membentuk pilar. Arteri mentalis beranastomosis dengan arteri facialis. diskus artikularis berperan untuk membuka mandibula. Lebar kanalis mandibula tersebut sekitar 3 mm ( terbesar) dan ketebalan korteks sisi bukal yang tertipis sekitar 2. Dari aspek fungsinya. Posisis jalur kanalis mandibula ini perlu diingat dan dihindari saat melakukan instrumentasi waktu reposisi dan memasang fiksasi interna pada fraktur mandibula. merupakan gabungan tulang berbentuk L bekerja untuk mengunyah dengan dominasi (terkuat) m. Arteri . M. Pada yang lebih muda sudutnya lebih besar dan ramusnya nampak lebih divergens. arteri submentalis dan arteri labii inferior. Masseter yang berinsersi pada sisi lateral angulus dan ramus mandibula. M masseter bersama m temporalis merupakan kekuatan untuk menggerakkan mandibula dalam proses menutup mulut. (5) Secara keseluruhan tulang mandibula ini berbentuk tapal kuda melebar di belakang. M pterigoideus lateral berinsersi pada bagian depan kapsul sendi temporomandibular. ramus membentuk sudut 1200 terhadap korpus pada orang dewasa. Pterigodeus medial berinsersi pada sisi medial bawah dari ramus dan angulus mandibula. Ditengahnya ditancapi oleh akarakar geligi yang terbungkus oleh tulang kanselus yang membentuk sistem haversian (osteons) diantara dua korteks tersebut ditengahnya terdapat kanal mandibularis yang dilewati oleh syaraf dan pembuluh darah yang masuk dari foramen mandibularis dan keluar kedepan melalui foramen mentalis. Mentalis. Angulus mandibula terletak subkutan dan mudah diraba pada 2-3 jari dibawah lobulus aurikularis. Sebelum keluar dari foramen mentalis bercabang menuju incisivus dan berjalan sebelah anterior ke depan didalam tulang.7mm sedang pada potongan level gigi kaninus kanalnya berdiameter sekitar 1mm dengan ketebalan korteks sekitar 2.

geraham ±90kg. Fraktur akibat trauma dapat terjadi akibat perkelahian. sehingga dalam melakukan penanganan fraktur mandibula harus benar-benar diperhatikan biomekanik yang terjadi. osteogenesis imperfecta. yaitu otot masseter. fraktur dapat terjadi secara spontan seperti waktu bicara. pterigoideus lateralis dan medialis. Sedangkan otot yang berperan untuk menutup mulut adalah m. Daerah korpus mandibula terutama terdiri dari tulang kortikal yang padat dengan sedikit substansi spongiosa sebagai tempat lewatnya pembuluh darah dan pembuluh limfe. Pterigoideus medialis. atrofi tulang secara menyeluruh atau osteoporosis nekrosis atau metabolic bone disease. kecelakaan kerja. sedang kekuatan menggigit daerah incisivus ±10kg. Fraktur patologis dapat terjadi karena kekuatan tulang berkurang akibat adanya kista. luka tembak. osteomyelitis. Daerah dagu mengalirkan darah ke vena submentalis. disusul m pterigoideus lateralis bagian superior ( yang berinsersi pada kapsul sendi) saat mulut membuka lebih lebar.mentalis memberi nutrisi ke dagu. tumor jinak atau ganas rahang. Aliran darah balik dari mandibula melalui vena alveolaris inferior ke vena facialis posterior. Vena facialis anterior dan vena facialis posterior bergabung menjadi vena fascialis communis yang mengalirkan darah ke vena jugularis interna. (9) Pada waktu membuka mulut. osteomalacia. Pterigoideus lateralis bagian inferior. jatuh ataupun trauma saat pencabutan gigi. makan atau mengunyah. (6) Fraktur Mandibula Fraktur didefinisikan sebagai deformitas linear atau terjadinya diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh rudapaksa. Daerah yang tipis pada mandibula adalah angulus dan sub condylus sehingga bagian ini termasuk . Otot digastricus bukan termasuk otot pengunyah tetapi mempunyai peranan yang penting dalam fungsi mandibula. Akibat adanya proses patologis tersebut. maka yang berkontraksi adalah m. (11) Mandibula merupakan tulang yang kuat. Fraktur dapat terjadi akibat trauma atau karena proses patologis. Kekuatan dinamis dari otot pengunyah orang dewasa pada gigi seri ± 40kg. yang selanjutnya mengalirkan darah ke vena facialis anterior. tetapi pada beberapa tempat dijumpai adanya bagian yang lemah. molar ±15 kg. (8) Biomekanik Mandibula Mandibula memiliki mobilitas dan gaya yang sangat banyak. Gerakan mandibula dipengaruhi oleh empat pasang otot yang disebut otot-otot pengunyah. kecelakaan lalulintas. Temporalis dan masseter dan diperkuat lagi oleh m. temporalis.

korpus mandibula (16%). angulus mandibula tempat gigi molar III terutama yang erupsinya sedikit.3%).11. (10. Pada daerah ramus mandibula jarang terjadi fraktur. kelas II : gigi hanya ada pada satu bagian dari garis fraktur. Pada fraktur mendibula. oleh karena itu maka reduksi dan fiksasi pada fraktur mendibula harus menggunakan splinting untuk melawan tarikan dari otot-otot mastikasi. angulus mandibula (24%). Disebut favourable apabila arah fragmen memudahkan untuk . kelas 1 : gigi ada pada kedua bagian garis fraktur.bagian yang lemah dari mandibula. ramus (1. Namun pada kecelakaan lalu lintas garis fraktur terjadi dekat dengan kaput kondilus. Beberapa macam klasifikasi fraktur mandibula dapat digolongkan berdasar sebagai berikut : Insidens fraktur mandibula sesuai dengan lokasi anatomisnya.7%). prosesus condiloideus (29. ada atau tidaknya gigi pada fragmen. arah lepasnya otot dan luasnya kerusakan jaringan lunak. Berdasar arah fraktur dan kemudahan untuk direposisi dibedakan : horisontal yang dibagi menjadi favourable dan unfavourable. Vertikal.1%). Garis fraktur pada mandibula biasa terjadi pada area lemah dari mandibula tergantung mekanisme trauma yang terjadi. kelas III : tidak ada gigi pada kedua fragmen. arah dan kekuatan trauma. fragmen yang fraktur mengalami displaced akibat tarikan otot-otot mastikasi. dan medial oleh m pterigoideus medialis. arah dan sudut garis fraktur. atau gigi hilang saat terjadi trauma. Garis fraktur dimulai pada regio alveolar kaninus dan insisivus berjalan oblique ke arah midline. yang juga dibagi menjadi favourable dan unfavourable. garis fraktur yang terjadi berbentuk oblique. Pada fraktur corpus mandibula garis fraktur tidak selalu paralel dengan sumbu gigi. Beberapa faktor yang mempengaruhi displacement fraktur mandibula antara lain . Selain itu titik lemah juga didapatkan pada foramen mentale. processus coronoideus (1. karena daerah ini terfiksasi oleh m masseter pada bagian lateral. mungkin gigi sebelumnya memang sudah tidak ada (edentolous). seringkali garis fraktur berbentuk oblique.1%). simfisis mandibula (22%).12) Berdasar ada tidaknya gigi pada kiri dan kanan garis fraktur . alveolus (3. Pada regio angulus garis fraktur umumnya dibawah atau dibelakang regio mlaor III kearah angulus mandibula. Kriteria favourable dan unfavourable berdasarkan arah satu garis fraktur terhadap gaya otot yang bekerja pada fragmen tersebut. kolum kondilus mandibula terutama bila trauma dari depan langsung mengenai dagu maka gayanya akan diteruskan kearah belakang. Demikian juga pada prosesus koronoideus yang terfiksasi oleh m masseter. Garis fraktur subkondilar umumnya dibawah leher prosesus kondiloideus akibat perkelahian dan berbentuk hampir vertikal.

Tujuan dari semua terapi fraktur ialah mengembalikan bentuk dan fungsi seperti semula. Berdasar tipe fraktur dibagi menjadi fraktur greenstick (incomplete). Fraktur compound atau open yaitu fraktur berhubungan dengan dunia luar yang melibatkan kulit. Pada waktu mandibula mengalami fraktur. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan imobilisasi menggunakan fiksasi internal dan eksternal . berdasarkan arsitektur tulang. sehingga kedua kekuatan tegangan yang berlawanan tersebut harus dinetralisir untuk mendapatkan reduksi fungsional yang stabil. Fraktur atrophic . fraktur hanya pada satu tempat saja. Hal ini dapat ditempuh dengan penggunaan plat dan tension bar system yang . fraktur yang biasanya didapatkan pada anak-anak karena periosteum tebal. mukosa atau membran periodontal. Rahang bawah memiliki bentuk anatomis yang unik. 13) Biomekanik Fraktur Mandibula Konsep biomekanik pada perawatan fraktur mandibula perlu dipahami sebab keadaan statik dan dinamik dapat mempengarui proses penyembuhan fraktur. Fraktur komunitif . adalah fraktur spontan yang terjadi pada tulang yang atrofi seperti pada rahang yang tak bergigi. fraktur yang terjadi pada dua tempat atau lebih. Selain itu terdapat juga fraktur patologis . impacted fraktur . terdapat adanya fragmen yang kecil bisa berupa fraktur simple atau compound. Fraktur multiple . fraktur yang terjadi jauh dari lokasi trauma. bentuk dan perlekatan ototnya mandibula dapat digambarkan sebagai sebuah struktur yang mengubah tekanan yang diterimanya menjadi suatu bentuk daya tensi dan kompresi. Indirect fractur . Berdasar beratnya derajat fraktur. prinsip perawatan dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan pada kedua sisi dari aksis imajiner tersebut. (12. umumnya bilateral. fraktur yang terjadi akibat proses metastase ke tulang.mereduksi tulang waktu reposisi sedangkan unfavourable bila garis fraktur menyulitkan untuk reposisi. Fraktur tunggal . fraktur dengan salah satu fragmen fraktur di dalam fragmen fraktur yang lain. Kekuatan kompresi dihasilkan sepanjang daerah basal mandibula sedangkan kekuatan tensi terdapat pada sepanjang daerah alveolar. dibagi menjadi fraktur simple/closed yaitu tanpa adanya hubungan dengan dunia luar dan tidak ada diskontinuitas dari jaringan sekitar fraktur. Aksis tranversal imajiner yang terletak kira-kira sepanjang kanalis mandibula memisahkan prosesus alveolaris yang merupakan daerah tegangan atau disebut dengan tension area dari daerah basal mandibula yang merupakan daerah kompresi atau disebut dengan compression area.

pressure trajectory yang menghasilkan kekuatan kompresi pada mandibula kemudain terjadi distorsi misalnya di rahang yang fraktur dapat diperbaiki dengan pemasangan plat osteosintesis.(17) Selain menggunakan dua miniplate dapat juga digunakan SNT plate untuk fraktur di regio symphisis. dilanjutkan dengan dengan pemeriksaan lanjutan secondary survey yaitu pemeriksaan menyeluruh dari ujung rambut sampai kepala. medikamentosa. 2. 1. hal ini disebabkan karena banyaknya muskulus dasar mulut yang melekat pada bagian ini sehingga apabila terjadi fraktur pada bagian ini maka dapat timbul rotasi.secara individual berbeda tergantung dari lokasi dan tipe frakturnya.. Diagnosis Fraktur Mandibula Didalam penegakan diagnosis fraktur mandibula meliputi anamnesa. circulation dan disability. Secara umum. meliputi ada tidaknya alergi. last meal dan events/enviroment sehubungan dengan injurinya.14. dimana terdiri dari pemeriksaan awal (primar survey) yang meliputi pemeriksan airway. anamnesa . (3. luka terbuka dan evaluasi susunan / konfigurasi gigi saat menutup dan membuka mulut. Setelah dilakukan primary survey dan kondisi penderita stabil. Tension band berfungsi untuk mengurangi kekuatan yang membengkokkan yang terjadi di bagian alveolar atau kekuatan menahan yang menjauhi plat. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. menilai ada/tidaknya . apabila merupakan kasus trauma harus diketahui mengenai mekanisme traumanya (mode of injury). Pemeriksaan fisik . dari inspeksi dilihat ada tidaknya deformitas. Stabilisasi fragmen tulang yang fraktur di regio ini digunakan dua miniplate dengan jarak antar plat kurang lebih 5mm untuk menetralkan kekuatan rotasi pada daerah symphisis tersebut. pemeriksaan penderita dengan kecurigaan fraktur mandibula harus mengikuti kaidah ATLS. sedangkan tension trajectory dengan menggunakan arch bar yang berfungsi sebagai tension band. penyakit sebelumnya. breathing. Pada penderita trauma dengan fraktur mandibula harus diperhatikan adanya kemungkinan obstruksi jalan nafas yang bisa diakibatkan karena fraktur mandibula itu sendiri ataupun akibat perdarahan intraoral yang menyebabkan aspirasi darah dan clot. Plat sudah cukup stabil untuk menetralkan shear dan torsional stress.15. Pada kasus trauma.16) Kekuatan torsional pada mandibula terdapat pada bagian symphisis mandibula.

biasanya terdapat fraktur pada caput condylus lateral c. apalagi dijumpai perdarahan disela gusi. uncorticated . pemeriksaan penunjang . corpus mandibula .step defect .terlihat celah radiolusen bila arah sinar x-ray sejajar garis fraktur .maloklusi. pada fraktur mandibula dapat dilakukan pemeriksaan penunjang foto Rontgen untuk mengetahui pola fraktur yang terjadi.bisa didapatkan gambaran fraktur akar gigi b.ligamen periodontal yang melebar .gambaran tersebut diatas bisa kurang jelas bila garis x-ray tidak sejajar garis fraktur .caput condylus biasanya ”shared off” . 3.letak segmen gigi yang tidak pada tempatnya .gambaran garis radiolusen pada alveolus. Bila ada pergerakan yang tidak sinkron antara kanan dan kiri maka false movement +. Pada palpasi dievaluasi daerah TMJ dengan jari pada daerah TMJ dan penderita disuruh buka-tutup mulut. menilai ada tidaknya nyeri. Gambar yang dihasilkan seminimal mungkin mengalami distorsi. Setiap pemeriksaan radiologis diharapkan menghasilkan kualitas gambar yang meliputi area yang dicermati yaitu daerah patologis berikut daerah normal sekitarnya. deformitas atau dislokasi. tulang alveolar . hal ini bisa dicapai dengan proyeksi yang dekat (film dan sumber x-ray sedekat mungkin dengan obyek) dan densitas serta kontras gambar foto optimal (diatur dari mA dan kVp serta waktu penyinaran dan proses pencuciannya). (6) Dari gambaran radiologis adanya fraktur mandibula dapat dilihat sebagai berikut : a. condylus mandibula .garis fraktur kebanyakan horizontal . korpus mandibula kanan dan kiri dipegang kemudian digerakkan keatas dan kebawah secara berlawanan sambil diperhatikan disela gigi dan gusi yang dicurigai ada frakturnya. Dilihat juga ada/tidaknya gigi yang hilang atau fraktur. Untuk memeriksa apakah ada fraktur mandibula dengan palpasi dilakukan evaluasi false movement dengan kedua ibujari di intraoral.

trismus kadang sedikit maloklusi. .foto Eisler . Keuntungan panoramic adalah . .deviasi mandibula pada sisi yang fraktur (18) Beberapa tehnik Roentgen dapat digunakan untuk melihat adanya fraktur mandibula antara lain . . dilakukan untuk melihat adanya fraktur neck condilus mandibula terutama yang displaced ke medial dan bias juga melihat dinding lateral maksila .reverse Towne’s view . dibuat untuk melihat proyeksi tulang maksila. Kerugiannya tidak bisa menunjukkan gambaran anatomis yang jelas daerah periapikal sebagaimana yang dihasilkan foto intra oral .overlap dari garis trabecular. disebut juga pantomografi atau rotational radiography dibuat untuk mengetahui kondisi mandibula mulai dari kondilus kanan sampai kondilus kiri beserta posisi geliginya termasuk oklusi terhadap gigi maksila.. pemeriksaan cukup nyaman. dosis radiasi rendah.orbitocondylar view .Temporomandibular Joint . dilakukan untuk melihat TMJ pada saat buka mulut lebar. cakupan anatomis yang luas. tampak berupa gambaran garis radioopaque . foto ini dibuat untuk pencitraan mandibula bagian ramus dan korpus. Dibuat film didepan mulut pada alat yang rotasi dari pipi kanan ke pipi kiri. sinar-x juga berlawanan arah rotasi dari arah tengkuk sehingga tercapai proyeksi dari kondulus kanan sampai kondilus kiri.Panoramic .Towne’s view . dibuat sisi kanan atau sisi kiri sesuai kebutuhan. menunjukkan kondisi struktur dan kontur dari kaput kondilus tampak dari depan CT Scan . zigoma dan mandibula ..foto skull AP/Lateral . Pada pembuatan foto TMJ yang standard biasanya di lakukan proyeksi lateral buka mulut (Parma) dan proyeksi lateral tutup mulut biasa (Schuller). Biasanya dibuat kedua sendi kanan dan kiri untuk perbandingan.step defect . pada penderita trauma langsung daerah dagu sering didapatkan kondisi pada dagu baik akan tetapi terjadi fraktur pada daerah kondilus mandibula sehingga penderita mengeluh nyeri pada daerah TMJ bila membuka mulut. bisa dilakukan pada penderita trismus.

fraktur mandibula lebih baik dilakukan perawatan terlebih dahulu dengan prinsip dari dalam keluar. jumlah dan derajat keparahan fraktur mandibula serta usia dan kesehatan pasien maupun metode yang akan digunakan untuk reduksi dan imobilisasi. penanganan konservatif dengan melukan reposisi tanpa operasi langsung pada garis fraktur dan melakukan imobilisasi dengan interdental wiring atau eksternal pin fixation. tindakan operasi untuk melakukan koreksi defromitasmaloklusi yang terjadi pada patah tulang rahang bawah dengan melakukan fiksasi dengan interosseus wiring serta imobilisasi dengan menggunakan interdental wiring atau dengan mini plat+skrup. selama periosteum masih intak masih dapat diharapkan kesembuhan tulang . mengembalikan oklusi merupakan tujuan dari perawatan fraktur mandibula. monitor pemberian nutrisi pasca operasi. Penggunaan antibiotik untuk kasus compound fractures. Waktu penggunaan fiksasi intermaksiler dapat bervariasi tergantung tipe. Evaluasi klinis secara keseluruhan dengan teliti. (6) Penatalaksanaan Fraktur Mandibula Prinsip dasar umum dalam perawatan fraktur mandibula ialah sebagai berikut.Pemeriksaan ini pada kasus emergency masih belum merupakan pemeriksaan standart. dari bawah keatas. lokasi. fraktur komunitif. Pemeriksaan ini membirak banyak informasi mengenai cidera di bagian dalam. MRI Pemeriksaan MRI untuk fraktur maksilofasial tidak pernah dilakukan di RSUD dr Soetomo. Centre yang telah maju dalam penggunaan modalitas ini telah menggunakan CT Scan terutama untuk fraktur maksilofasial yang sangat kompleks. a. pemeriksaan klinis fraktur dilakukan secara benar. Reposisi tertutup (closed reduction) patah tulang rahang bawah . Pemeriksaan ini terutama untuk melihat kerusakan pada jaringan lunak. (19) Indikasi untuk closed reduction antara lain . kerusakan gigi dievaluasi dan dirawat bersamaan dengan perawatan fraktur mandibula. Apabila terjadi fraktur mulitple di wajah. Penanganan fraktur mandibula secara umum dibagi menjadi 2 metode yaitu reposisi tertutup dan terbuka. Reposisi terbuka (open reduction) .

karena open reduction dapat menyebabkan kerusakan gigi yang sedang tumbuh. dan menggunakan karet sebagai traksi yang menghubungkannya d.b. maka digunakan kawat yang halus dan diletakkan pada bagian paling inferior dari mandibula. free flap ataupun granulasi persecundum bila luka tersebut tidak terlalu besar c. untuk mencegah tergelincir ke anterior dan posterior b. sedangkan dewasa setiap 2 minggu. keuntungan tehnik ini bahan mudah didapat dan sedikit menimbulkan kerusakan jaringan periodontal serta rahang dapat dibuka dengan hanya mengangkat ikatan intermaksilaris. Fraktur pada anak-anak . dimana rekonstruksi soft tissue dapat digunakan rotation flap. tehnik erich arch bar . Tehnik yang digunakan pada terapi fraktur mandibula secara closed reduction adalah fiksasi intermaksiler. tehnik continous loop (stout wiring) . Pada anak. Apabila diperlukan open reduction dengan fiksasi internal. tehnik gilmer . Dilakukan pada gigi atas dan bawah sampai oklusi baik. fraktur dengan kerusakan soft tissue yang cukup berat. edentulous mandibula . Kerugiannya kawat mudah putus waktu digunakan untuk fiksasi intermaksiler c. Fraktur condylus . moblisasi ini harus dilakukan tiap minggu. indikasi pemasangan arch bar antara lain gigi kurang/ tidak cukup untuk pemasangan cara lain. closed reduction dengan menggunakan protese mandibula “gunning splint” dan sebaiknya dikombinasikan dengan kawat circum mandibulacircumzygomaticum d. a. Kemudian kedua kawat atas dan bawah digabungkan dan diputar dengan hubungan vertika maupun silang. disertai fraktur maksila. Kawat tersebut dilingkarkan pada leher gigi. Fiksasi ini dipertahankan 3-4 minggu pada fraktur daerah condylus dan 4-6 minggu pada daerah lain dari mandibula Beberapa tehnik fiksasi intermaksilaris . tehnik eyelet (ivy loop) . merupakan tehnik yang mudah dan efektif tetapi mempunyai kekurangan yaitu mulut tidak dapat dibuka untuk melihat daerah fraktur tanpa mengangkat kawat. didapatkan fragmen dentoalveolar . Closed reduction dilakukan dengan splint acrylic dan kawat circum-mandibular dan circumzygomaticum bila memungkinkan e. mobilisasi rahang bawah diperlukan untuk menghindari ankylosis dari TMJ. terdiri dari formasi loop kawat kecil yang mengelilingi arkus dentis bagian atas dan bawah. kemudian diputar searah jarum jam sampai tegang.

malunions  diperlukan osteotomie Kontraindikasi penggunaan MMF . Aplikasi vacuum drain dapat membantu untuk mencegah timbulnya infeksi yang dapat terjadi oleh karena genangan darah yang berlebihan ke daerah pembedahan. dengan menggunakan kawat yang kuat untuk tempat karet dipasang mengelilingi bagian leher gigi. lesi r marginalis mandibulae n. fraktur midface disertai displaced fraktur condylus bilateral. Keuntungan penggunaan arch bar ialah mudah didapat. fraktur jenis ini cenderung untuk terbuka pada batas inferior sehingg mengakibatkan maloklusi c. Bila dikerjakan dengan reposisi tertutup. displaced unfavourable fracture dari corpus atau parasymphysis.pada salah satu ujung rahang yang perlu direduksi sesuai dengan lengkungan rahang sebelum dipasang fiksasi intermaksilaris. Parasthesia dari nervus alveolaris inferior. streptococcus dan bacterioides. Fistel orokutan bisa terjadi pada kelanjutan infeksi terutama pada penderita dengan gizi yang kurang sehingga penyembuhan luka kurang baik dan terjadi dehisensi luka. Terjadi malunion dan delayed healing. displaced unfavourable fracture melalui angulus b. biaya murah. penderita epilepsy. dengan kuman patogen yang umum adalah staphylococcus. multiple fraktur tulang wajah . tidak dapat digunakan pada penderita dengan edentulous luas. e. biasanya disebabkan oleh infeksi. Tehnik kazanjia .(6) DAFTAR PUSTAKA . Salah satu condylus harus di buka untuk menghasilkan dimensi vertical yang akurat dari wajah e. tulang mandibula harus difiksasi terlebih dahulu sehingga menghasilkan patokan yang stabil dan akurat untuk rekonstruksi d. gangguan jiwa dan gangguan fungsi paru (20) Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi akibat fraktur mandibula antara lain adanya infeksi. nutrisi yang buruk. fasialis bisa terjadi akibat sayatan terlalu tinggi. Indikasi untuk reposisi terbuka (open reduction) : a. Tehnik ini untuk gigi yang hanya sendiri atau insufisiensi pada bagian dari pemasangan arch bar. mudah adaptasi dan aplikasinya. dan penyakit metabolik lainnya. reduksi yang inadekuat. Kerugiannya ialah menyebabkan keradangan pada ginggiva dan jaringan periodontal.

Fridrich K. Berlin. Philadelpia.125-132 7. 71-71. Maxillofacial trauma. 1985. Mandibular Body Fractures. J Oral Maxillofac Surg. 8. 1976. In management of temporomandibular disorder and occlusion. Quintessence Publishing. Plate and screw fixation. Lodde JP.125-6 17.77:971 18. New Concepts in Maxillofacial Traumatology. Archer WH. Treatment of Traumatic Mandibular Fractures.19. 3rd .2005 19. 242-6. Pena-Velasco G. 2006. Osbon DB. Oral and maxillofacial traumatology. Okeson JP. 1991: 359-414. Localisation des syntheses en function des contraintes mandibulaires. Olson R. Okeson Jeffrey P. Schilli W. Nov 27 1996 .100. 15. 2007 at www. 1990:917-990 10. 98. vol2. Sept 2006. Barrera E Jose. Functional anatomy and Biomechanics of the masticatory system. Rigid fixation of the craniomaxillofacial skeleton.50:586 23. 1988 13. WB Saunders Co. Alpert B.1. Walker RV. J Oral Maxillofac Surg. Anderson T. Batuello G Stephen. Tenhulzen D.edu/oto/ 2.. Panoramic Radiology in Maxillofacial Trauma. Kai Tu H.52:757-61 22. Wijayahadi R Yoga.Retrieved : Feb 8. WB Saunders Co.104588 11. Butterworth-Heinemen. Alling III CC. vol 1. Mosby. 1996:143-148 9. 1st Ed. Clinically Oriented Anatomy. Dorland’s Illustrated medical dictionary. 1953 .V Amsterdam. 1975. Vol V . Oral and Maxillofacial Surgery. sheltema & holkema N. Boston. 239. Retrieved Jan 2007. from www. 1996.. 6. Spiessl B. EGC 1998. WB Saunders. Majalah Kedokteran Unibraw. 1992.utmb. Lea & Febiger. 1988. vol 1. 16. Handatlas und lehrbuch der anatomie des menschen. 3. Hardjowasito Widanto. Mandibular Fractures.43:585-9 5. Synthesis mandibulaires. 1976:342-356...50:555 . J Oral Maxillofac Surg. 1982.18... Oral and Maxillofacial trauma. Champy M. St Louis 1993 13-21 12.doc 21. 242-51 20. Joseph Mc Carthy MD. Chicago. Rev Stomatol Chir Maxillofac. Assael LA. WB Saunders Co. J Oral Maxillofac Surg. Philadelpia. retrieved : Feb 28. Springer-Verlag. Jakarta.. 1994...125-6. Matorin A Philip. 1992. Pederson GW. William-Wilkins.htm 14. Surabaya. Experiences with rigid fixation of mandibular fractures and immediate function. Germany. Panoramic Imaging News. Issue IV. Prater E Michael. 12:39-41.edu/otoref/grnds/Mandibular-fx-961127/Mandibular-fx-961127. Keith L Moore. Divisi Ilmu Bedah Kepala & Leher SMF/Lab Ilmu Bedah RSDS/FK Unair Surabaya. Yaremuck M.. at http://www. Farman G Allan. Kruger E. Spateholz W..236..224-36. et all. Murtedjo Urip. 89-95. Penanganan Fraktur Mandibula pada Anak dengan pemasangan Arch-Bar. 1992. Trauma Maksilofasial Diagnosis dan Penatalaksanaannya.. 20006:25-26. Richmond Institute. Philadelpia. Philadelpia. Plastic Surgery.emedicine/Ent/Topic415. Sugiharto Setyo. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut.bcm. Changing trend with mandibular fractures : a review of 1067 cases. Compression osteosynthesis of mandibular fractures : A retrospective study. 27th ed. 58-63. Fonseca RJ. Kushner M George. 249-50 4. Treatment of mandibular angle fractures. 2007. Bailey J Byron. 500-1.