You are on page 1of 23

SISTEM REPRODUKSI LAPORAN INDIVIDU PBL

MODUL 2 DISTOSIA

TUTOR : dr. Nuraini Sp.OG

OLEH : EPI FITRAHWATI DARWIS C 111 07 135 KELOMPOK B 8

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2009

Skenario
Wanita, 35 tahun, hamil anak ketiga dan persalinan tidak maju. Pada pemeriksaan fisik didapatkan bahwa tanda vital batas normal, tinggi fundus 3 jari bawah prosesus xipoideus, punggung di kanan ibu, bagian terendah kepala, perlimaan 2/5. Jarak antara simfisis pubis-tinggi fundus uteri 37 cm, lingkar perut ibu 95 cm. Denyut jantung janin 130x/menit. His 2x dalam 10 menit dengan durasi 30-35 detik. Pembukaan serviks 4 cm, ketuban utuh, penurunan sesuai bidang Hodge 2 dengan kondisi panggul cukup.

Kata Sulit
 persalinan tidak maju = persalinan dgn his yg adekuat yg tdk menunjukkan kemajuan pd pembukaan serviks..turunnya kepala dan putar paksi selama 2jam terakhir  bidang hodge 2 = bidang yg sejajar dgn bidang hodge 1,setinggi bagian bawah simpisis  perlimaan 2/5 = pemeriksaan trhdp turunnya kepala dgn 5jari,jika dpt teraba brarti 5/5.jika 2/5 sinsiput teraba.oksiput sdikit teraba. sdh masuk ke rongga pelvis.  tinggi fundus 3 jari di bawah prosesus xipoideus = aterm (9 bulan)  punggung di kanan ibu,bagian terendah kepala =normal  tinggi fundus uteri 37 cm =agak besar dari normal(36 cm)  denyut jantung janin 130x/menit =normal  his 2x dalam 10 menit dengan durasi 30-35 detik = normal  ketuban utuh,pembukaan serviks 4 cm = kala 1,fase aktif

Kata kunci

• • • • • • • •

wanita, 35 tahun multigravida kehamilan 37 minggu tinggi fundus uteri 37 cm persalinan tidak maju tanda vital batas normal lingkar perut 95 cm punggung di kanan ibu (normal)

• • • • • • • •

pembukaan serviks 4 cm denyut jantung janin 130 kali/menit bagian terendah kepala his 2 x dalam 10 menit, durasi 30-35 detik perlimaan 2/5 ketuban utuh penurunan sesuai bidang hodge 2, kondisi panggul cukup

Bagaimana penatalaksaan distosia? 5. Bering dijumpai pergeseran yang lebar pada artikulasio sakro iliak. . c) os pubis. Bagaimana prognosis distosia? Jawaban 1. Di luar kehamilan artikulasio ini hanya memungkinkan pergeseran sedikit. Apa etiologi distosia dan kelainannya?    power passanger passage 4. Di belakang terdapat artikulasio sakro-iliaka yang menghubungkan os sakrum dengan os ilium. dan 3) os koksigis. misalnya ujung os koksigis dapat bergerak ke belakang sampai sejauh lebih kurang 2. Bagaimanakah anatomi jalan lahir? 2. b) bagian lunak terdiri atas otot-otot. jaringan-jaringan. disebut simfisis. Tulang-tulang ini satu dengan lainnya berhubungan. Hal demikian dapat menimbulkan rasa sakit di daerah artikulasio tersebut. Pada seorang wanita hamil yang bergerak terlampau cepat dari duduk langsung berdiri.Pertanyaan 1. tetapi pada kehamilan dan waktu persalinan dapat bergeser lebih jauh dan lebih longgar. b) os iskium. Hal ini dapat dilakukan bila ujung os koksigis menonjol ke depan pada partus.5 cm. Bagaimana mekanisme persalinan normal? 3. dan pada pengeluaran kepala janin dengan cunam ujung os koksigis itu dapat ditekan ke belakang. Apa resiko yang dapat ditimbulkan dari distosia jika tidak tertangani? 6. dan ligamen-ligamen. 2) os sakrum. Di depan terdapat hubungan antara kedua os pubis kanan dan kiri. Di bawah terdapat artikulasio sakro-koksigea yang menghubungkan os sakrum dengan os koksigis. Jalan-lahir dibagi atas: a) bagian tulang terdiri atas tulang-tulang panggul dengan sendi-sendinya (artikulasio). Tulang-Tulang Panggul Tulang-tulang panggul terdiri dari 1) os koksa yang terdiri atas a) os ilium.

Bagian yang terletak di bawah linea terminalis disebut pelvis minor disebut pula true pelvis . Pintu-atas panggul Pintu atas panggul merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh Pelvis minor Pelvis mayor promontorium korpus vertebra sakral 1. Hal ini penting untuk diketahui bila kelak mengakhiri persalinan dengan cunam agar supaya arah penarikan cunam itu disesuaikan dengan jalannya sumbu jalan-lahir tersebut. disebut pula false pelvis. linea innominata (terminalis). III dan IV. Secara fungsional panggul terdiri dari 2 bagian yang disebut pelvis mayor. Bidang atas saluran ini normal berbentuk hampir bulat. dan pinggir-atas . Hal demikian dapat menimbulkan rasa sakit atau gangguan jalan. Di antara kedua pintu ini terdapat ruang panggul (pelvic cavity). sejajar dengan sakrum. untuk seterusnya melengkung ke depan. Pelvis mayor adalah bagian pelvis yang terletak di atas linea terminalis. Bidang bawah saluran ini tidak merupakan suatu bidang seperti pintu atas tetapi terdiri atas dua bidang. karena longgarnya hubungan di simfisis. Sampai dekat Hodge III sumbu itu lurus.Juga pada simfisis tidak jarang dijumpai simfisiolisis sesudah partus atau ketika tergelincir. disebut pintu-atas panggul (pelvic inlet ). disebut pintu-bawah panggul (pelvic outlet). Bagian akhir ini adalah bagian yang mempunyai peranan penting dalm obstetri dan harus dapat dikenal dan dinilai sebaik-baiknya untuk dapat-tidaknya bayi melewatinya. sesuai dengan lengkungan sakrum. dan pel vis mi nor . Bentuk pelvis minor ini menyerupai saluran yang mempunyai sumbu melengkung ke depan (sumbu Carus) Sumbu ini secara klasik adalah garis yang menghubungkan titik persekutuan antara diameter dan konjugata vera pada pintu atas panggul dengan titik-titik sejenis di II. Penyempitan di panggul tengah ini disebabkan oleh adanya spina iskiadika yang kadangkadang menonjol ke dalam ruang panggul. akan tetapi menyempit di panggul tengah untuk kemudian menjadi lebih luas lagi sedikit. Ruang panggul mempunyai ukuran yang paling luas di bawah pintu -atas panggul.

5-13 cm. Umumnya pria mempunyai jenis seperti ini. bagian belakangnya pendek dan gepeng. Secara statistik diketahui bahwa konjugata vera sama dengan konjugata diagonalis dipotong 1. Sebenarnya. sedangkan bagian depannya menyempit ke Jenis ginekoid . akan tetapi yang terakhir ini jauh lebih mendekatisakrum Dengan demikian. Bile ditarik garis dari artikulasio sakroiliaka ke titik persekutuan antara diameter transversa dan konju gata vera Dan diteruskan ke linea innominata. b. a. dikenal pula konjugata obstetrika. 1933). walaupun perbedaannya dengan konjugata vera sedikit sekali. Jarak terjauh garis melintang pada pintu-atas panggul lebih kurang 12. Cara mengukur konjugata vera ialah. yang mempunyai ciri-ciri pintu atas panggul sebagai berikut.simfisis. disebut diameter transversa. jarak bagian bawah simfisis sampai ke promontorium dikenal sebagai konjugata diagonalis. bentuk pintu atas panggul hampir bulat. disebut konjugata vera. panjang diameter anteroposterior hampir sama dengan diameter transversa. ditemukan diameter yang disebut diameter oblikua sepanjang lebih kurang 13 cm. jari tengah clan telunjuk dimasukkan ke dalam vagina untuk meraba promontorium. Jenis ginekoid : panggul paling baik untuk wanita. yaitu jarak dari bagian dalam tengah ke promontorium. Jenis android : bentuk pintu atas panggul hampir segi tiga. Panjang diameter antero-posterior kira-kira sama dengan diameter transversa. Jenis ini ditemukan pada 45% wanita. Panjang jarak dari pinggir-atas simfisis ke promontorium lebih kurang 11 cm. Dalam obstetri dikenal 4 jenis panggul (pembagian Caldwell dan Moloy.5 cm. konjugata ini yang paling penting. Selain kedua konjugata ini.

Tidak jarang dijumpai jenis kombinasi ke empat jenis klasik ini. kemudian bagian depan. Di sinilah letak kegunaan pelvimetri rontgen. Misalnya. Pembatasan pemakaian sinar rontgen berdasarkan pengaruhnya terhadap sel-sel kelamin janin yang masih amat muda itu Berta ovaria ibu. Jenis ini ditemukan pada 5% wanita. atau kelainan letak lain. itu berarti jenis pelvis bagian belakang adalah jenis android dan bagian depan adalah ginekoid. Jenis ini ditemukan pada 15% wanita. Panjang diameter antero-posterior lebih besar daripada diameter transversa. Dalam keadaan normal besarnya sudut ini ± 90° atau lebih sedikit. Bila lebih kecil. pintu bawah panggul tidak merupakan suatu bidang datar. Pinggir-bawah simfisis berbentuk lengkung ke bawah dan merupakan sudut (arkus pubis). d. bentuk. Jenis platipelloid : Sebenarnya jenis ini adalah jenis ginekoid yang menyempit pada arch muka belakang. Jenis ini ditemukan pada 35% wanita. jarak antara . maka kepala janin akan lebih sulit dilahirkan karena memerlukan tempat lebih banyak ke dorsal. bekas seksio sesarea dan akan direncanakan partus per vaginam pada letak sungsang. presentasi muka. Ukuran melintang jauh lebih besar daripada ukuran muka belakang. jenis android-ginekoid. Dewasa ini dapat digunakan MRI (Magnetic Resonance Imaging).5 cm. c. Dapat di sini dikemukakan bahwa pelvimetri rontgen itu hanya dilakukan pada indikasi tertentu. seperti telur. Jenis anthropoid : bentuk pintu atas panggul agak lonjong.muka. disebutkan jenis pelvis bagian belakang dahulu. misalnya adanya dugaan ketidak seimbangan antara janin dan panggul (feto-pelvic disproportion). Untuk menyebut jenis pelvis kombinasi. Pintu-bawah panggul Seperti telah dijelaskan. adanya riwayat trauma atau penyakit tuberkulosis pada tulang panggul. dan ukuran ukuran pelvis secara tepat. Dalam hal ini perlu diperhatikan apakah ujung os sakrum tidak menonjol ke depan hingga kepala janin tidak dapat dilahirkan. Bila kurang sekali dari 90°. yaitu bidang yang dibentuk oleh garis antara kedua buah tubera ossis iskii dengan ujung os sakrum dan segi tiga lainnya yang alasnya juga garis antara kedua tubera ossis iskii dengan bagian bawah simfisis. Jarak antara kedua tuber ossis iskii (distansia tuberum) diambil dari bagian dalamnya adalah ± 10. untuk mengetahui jenis. tetapi tersusun atas 2 bidang datar yang masing-masing berbentuk segitiga.

2007 : 104-107) . Dinding samping pada panggul ginekoid misalnya umumnya lurus dari atas ke bawah. Bidang yang terluas dibentuk pada pertengahan simfisis dengan os sakral 2 -3. Jarak antara kedua spina ini (distansia interspinarum) normal ± 10. Ruang panggul (pelvic cavity) Seperti telah dikemukakan. Dari bentuk dan ukuran berbagai bidang rongga panggul tampak rongga ini merupakan saluran yang tidak sama luasnya di antara tiap-tiap bidang. yang disebut inklinasi. Bidang Hodge IV : Bidang ini sejajar dengan bidang-bidang Hodge I. d. ruang panggul di bawah pintu-atas panggul mempunyai ukuran yang paling luas.tengah-tengah distansia tuberum ke ujung sakrum (diameter sagittalis posterior) harus cukup panjang agar bayi normal dapat dilahirkan. Di panggul tengah terdapat penyempitan setinggi kedua spina iskiadika. apakah seperti normal melengkung baik dari alas ke bawah dan ke samping cekung ke belakang. sehingga kepala j anin dimungkinkan bergeser melalui pintu-atas panggul masuk ke dalam ruang panggul. b. a. Bidang Hodge Bidang-bidang Hodge ini dipelajari untuk menentukan sampai di manakah bagian terendah janin turun dalam panggul pada persalinan. c. II. dan selanjutnya bagaimanakah bentuk rongga panggul seluruhnya. (Wiknjosastro. lebih besar. Bidang Hodge III : Bidang ini sejajar dengan bidang-bidang Hodge I dan II terletak setinggi spina iskiadika kanan dan kiri. dan III. Ketika mengadakan penilaian ruang panggul hendaknya diperhatikan bentuk os sakrum. Bidang Hodge II : Bidang ini sejajar dengan Hodge I terletak setinggi bagian bawah simfisis. terletak setinggi os koksigis. Bidang Hodge I : Bidang yang dibentuk pada lingkaran pintu atas panggul dengan bagian atas simfisis dan promontorium.5. Kemungkinan kepala dapat lebih mudah masuk ke dalam ruang panggul diperbesar jika sudut antara sakrum dan lumbal.

b. Peristiwa penting pada persalinan kala 2. 3) selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm). dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus. Kala II (Kala Pengeluaran) Dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap. akibat terbukanya vaskular kapiler serviks. His menjadi lebih kuat. Mekanisme persalinan normal a. lebih lama. 3) Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik) 4) Kepala dilahirkan lebih dulu. 2) Fase aktif. 2) Ibu timbul perasaan/refleks ingin mengejan yang makin berat. dan menyebabkan perubahan pada serviks hingga mencapai pembukaan lengkap. yaitu : 1) Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul. Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2. Kala I (Kala Pembukaan Serviks) Dimulainya proses salinan yang ditandai dengan adanya kontraksi yang teratur. c) fase deselerasi (sekitar 2 jam). yaitu : 1) Fase laten. lebih sering. . sangat kuat. b) fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam). pembukaan 4 cm sampai 9 cm. Berakhir pada saat bayi telah lahir lengkap. Kala I terdiri dari dua fase. pembukaan 9 cm sampai lengkap (10 cm). Fase aktif terbagi atas : a) fase akselerasi (sekitar 2 jam). Peristiwa penting pada persalinan kala I. berlangsung sekitar 6 jam. pembukaan 3 cm sampai 4 cm.2. yaitu : 1) keluar lendir/darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis. 2) ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar. yaitu pembukaan sampai mencapai 3 cm. yaitu pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (10 cm). berlangsung sekitar 8 jam. selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan. dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion). adekuat.

b) Kepala turun ke dalam rongga panggul. f) Rotasi eksterna (putaran paksi luar). posisi kepala berubah dari diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipito-bregmatikus (belakang kepala). yaitu sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring/membentuk sudut dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior/posterior). e) Ekstensi. dahi. Lahir berturut-turut : oksiput. yaitu setelah kepala mencapai vulva. 2) tekanan dari cairan amnion. putaran ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis). mulut. Gerakan utama pengeluaran janin pada persalinan dengan letak belakang kepala. yaitu kepala berputar kembali sesuai dengan sumbu rotasi tubuh. bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi anteroposterior sampai di bawah simfisis. membawa kepala melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis. 3) kontraksi otot dinding perut dan diafragma (mengejan). d) Rotasi interna (putaran paksi dalam). dagu.5) Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi). yaitu : a) Kepala masuk pintu atas panggul. terjadi ekstensi setelah oksiput melewati bawah simfisis pubis bagian posterior. yaitu selalu disertai turunnya kepala. akibat : 1) tekanan langsung dari his dari daerah fundus ke arah daerah bokong. . c) Fleksi. dan 4) badan janin terjadi ekstensi dan menegang. dilahirkan kemudian bahu depan dan bahu belakang. yaitu kepala janin fleksi. bregma. dagu menempel ke toraks. hidung.

Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi. tidak ada pengaduan sakit kepala. Pada keadaan normal. c. Kala IV (Observasi Pascapersalinan) Bagian Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr. sekurangkurangnya 1 jam postpartum. 3. Cipto Mangunkusumo masih mengenal kala IV. yaitu setelah bahu lahir. Hal ini dimaksudkan agar dokter. kontraksi uterus bertambah keras. bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks. Etiologi dan kelainan  Kelainan His (Power): Inersia Uteri. Kala III (Kala Pengeluaran Plasenta/Uri) Dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap. tungkai dan kaki. atau mungkin juga serempak sentral dan marginal. serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri. yaitu satu jam setelah plasenta lahir lengkap. Kelahiran plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus. atau penolong persalinan masih mendampingi wanita selesainya bersalin. fundus setinggi sekitar/di atas pusat. Nadi dan tekana darah normal. Adanya frekuensi nadi yang menurun dengan volume yang baik adalah suatu gejala baik. 7 pokok penting harus diperhatikan: 1) Kontraksi uterus harus baik 2) Tidak ada perdarahan dari vagina atau perdarahan-perdarahan dalam alat genitalia lainnya 3) Plasenta dan selaput ketuban harus telah lahir lengkap 4) Kandung kencing harus kosong 5) Luka-luka pada perineum terawat dengan baik dan tidak ada hematoma 6) Bayi dalam keadaan baik 7) Ibu dalam keadaan baik. Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir. Aksi Uterus Inkoordinasi . Sebelum meninggalkan wanita postpartum. atau dari tepi/marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan.g) Ekspulsi.abdomen) dan lengan. d. sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah. Lepasnya plasenta dari insersinya mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru. Tetania Uteri. Berakhir dengan lahirnya plasenta. Dengan cara ini diharapkan kecelakaan-kecelakaan karena perdarahan postpartum dpt dikurangi atau dihindarkan. bidan. pinggul/trokanter depan dan belakang.

dsb. Kelainan Bentuk & Besar Janin. cemas. Aksi Uterus Inkoordinasi  Mengurangi rasa takut.Injeksi Pethidin 50 mg bila sakit berlebihan .  Bila ada tanda2 obstruksi: Seksio Sesarea. Kelainan Jalan Lahir (Passage): Panggul Sempit.  Bila ada tanda2 obstruksi: Seksio Sesarea. Letak Sungsang.  Bila persalinan terlalu lama: selesaikan dengan ekstraksi vakum. dimulai 12 tetes/menit. Letak Lintang.Antibiotik: ketuban pecah Inersia Uteri  Oksitosin drips 5-10 satuan dlm 500 cc dekstrosa 5%. Tetania Uteri Bila janin diperkirakan tidak akan lahir dalam waktu dekat (4-6 jam): Morfin. atau Seksio Sesarea. forseps.Infus dekstrosa 5%/garam fisiologis 1 lt 1 jam pertama . beri Regim rehidrasi: . dsb. Penatalaksaan distosia. & tonus otot: anti sakit & penenang (sedativa & analgetik) seperti Morfin. Kelainan Letak  Kelainan Janin (Passenger): Kelainan Letak Kepala. Luminal. Luminal. Kelainan Serviks. dilakukan berdasarkan: Kelainan His • • Mencari etiologi Partus lama. Kelainan Bentuk Panggul • Pemeriksaan Panggul • Pemeriksaan Besarnya Janin . dinaikkan setiap 10-15 menit sampai 40-50 tetes/menit. Petidin.     Obat penenang: Valium 10 mg. dan Valium.Kortison 200 mg . Bila disertai Disproporsi Sefalopelvis: Seksio Sesarea. Tetania Uteri  Bila janin diperkirakan tidak akan lahir dalam waktu dekat (4-6 jam): Morfin. Prolaps Folikuli 4.

5 cm 6 cm : Seksio Sesarea : Seksio Sesarea Kelainan Serviks    Serviks kaku: beri Valium. kemungkinan berakhir dengan partus spontan atau ekstraksi vakum. lakukan Seksio Sesarea Edema serviks: ekstraksi vakum atau forceps. Prolaps Folikuli  Tali Pusat Terkemuka: . lakukan Seksio Serviks konglumer: - Melebarkan pembukaan ostium uteri eksternum secara digital atau dengan dilatator  Melebarkan oue dengan sayatan Durhsen Bila tidak juga berhasil. Atau dengan Seksio. lakukan episiotomi atau bahu diperkecil dengan kleidotomi uni/bilateral. kalau tetap kaku lakukan Seksio Serviks gantung: bila tidak ada kemajuan.   Monster: Seksio Janin dengn perut besar: diusahakan pervaginam. Kalau tidak bisa lakukan Seksio. bila tidak bisa Seksio. Kelainan Bentuk & Besar Janin  Pertumbuhan janin berlebihan: - Pada disproporsio sefalo & feto-pelvis dianjurkan Seksio Kesulitah melahirkan bahu. kerjakan perforasi atau kraniolasi.5-10 cm : Partus percobaan.  Bila janin meninggal: embriotomi.• • • Pemeriksaan Radiologik Ukuran Pelvis Luas Bidang Panggul Panggul Sempit Bila Conjugata vera:  • • Kapasitas Panggul Daya Akomodasi 8. Hidrosefalus: - Mengecilkan kepala janin dengan pungsi sisterna pada pembukaan 3-4 Kalau pembukaan lengkap. Letak sungsang akan terjadi after coming head. Lakukan perforasi dari for ovale untuk mengeluarkan cairan.   6-8.

Pada anak.  Usahakan ketuban jangan pecah Ibu dalam posisi Trendelenberg berbaring miring dengan arah bertentangan dengan tali pusat   Reposisi dan dorong kepala ke dalam pintu atas panggul Tali Pusat Menumbung:  Letak kepala: bila pembukaan masih kecil. dan melewati pintu atas pangul. Kalau belum. Saat persalinan. - Persalinan berlangsung lama Ketuban pecah dini Maulage kepala berlangsung lama Dapat terjadi simfisiolisis. Resiko yang dapat ditimbulkan dari distosia jika tidak tertangani: Jika kelainan pada his: •  Inersia uteri his sifatnya lebih lemah komplikasi: Tetania uteri his terlampau kuat komplikasi: partus presipitatus. perlukaan jalan lahir  Incoordinate uterine actionsifat his berubah-ubah komplikasi: lingkar kontraksi atau lingkaran konstriksi sehingga menyebabkan hipoksia janin. lakukan Seksio. 5. Bila pembukaan sudah lengkap. Jika pada jalan lahir  Kelainan panggul: ‘Panggul Sempit’ 1. lakukan kepala goyang versi dan ekstraksi atau Seksio   Letak lintang: Seksio Letak sungsang: tunggu pembukaan lengkap. ruptur uteri (panggul sempit). ekstraksi kaki. lakukan ekstraksi vakum atau forceps. infeksi intrapartal 2. perdarahan intrakranial. Infeksi intrapartal Prolaps funikuli .

muka tidak dapat melakukan dilatasi serviks secara sempurna dan bagian terendah harus turun sampai ke dasar panggul sebelum ukuran terbesar kepala melewati pintu atas panggul  Angka kematian perinatal presentasi muka= 2. Prognosis pada distosia Presentasi oksipitalis posterior persisten Sulit diramalkan karena kemungkinan timbulnya kesulitan selalu ada.5-5% Presentasi dahi Janin yang kecil masihmungkin lahir spontan. tetapi janin dengan berat dan besar normal tidak dapat lahir spontan pervaginam karena kepala turun melalui pintu atas panggul dengan sirkumferensia maksiloparietalis 36 cm yang lebih besar daripada lingkaran pintu atas panggul Letak sungsang   Angka kematian bayi lebih tinggi dibandingkan dengan letak kepala Sebab kematian perinatal prematuritas dan penanganan persalinan yang kurang sempurna dengan akibat hipoksia atau perdarahan di dalam tengkorak Letak lintang  Berat badan kurang dari 4500gram pada umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan.- Perdarahan intrakranial Kaput suksedaneum dan sefalo-hematoma Fraktur tulang kepala 6. kesukaran dapat terjadi karena kepala yang besar atau kepala yang lebih . karena kepala masuk ke dalam panggul dengan sirkumferensia trakeoparietale yang hanya sedikit lebih besar daripada sirkumferensia suboksipitale bregmatika. Persalinan umumnya berlangsung lama kemungkinan kerusakan jalan lahir lebih besar sedangkan kematian perinatal lebih tinggi bila dibandingkan dengan keadaan dimana ubun-ubun kecil berada di depan Presentasi muka  Umumnya berlangsung tanpa kesulitan. Dibandingkan dengan letak belakang kepala.   Tetapi kesulitan persalinan dapat terjadi karena adanya kesempitan panggul dan janin yang besar yang merupakan penyebab terjadinya presentasi muka.

. yaitu wanita 35 tahun.keras tidak dapat memasuki pintu atas panggul atau karena bahu yang lebar sulit memasuki pintu atas panggul  Menarik kepala terlalu kuat dalam pertolongan melahirkan bahu yang sulit dapat berakibat perlukaan pada nervus brakhialis dan muskulus sternokleidomastoideus. Analisis Masalah Berdasarkan kasus di atas. dan persalinan kala I fase aktif. Dari kata-kata kunci tersebut. Kelainan bentuk janin khususnya pertumbuhan janin berlebih memiliki tanda yang sama dengan tanda yang ada pada skenario. multigravida. distosia. Kata Kunci DD Kelainan Panggul Pertumbuhan Janin Berlebihan + + + Wanita 35 tahun Multigravida Distosia Kala I Fase Aktif + Berdasarkan hasil analisis di atas. telah diambil beberapa kata kunci. diagnosis utama yang paling mungkin adalah kelainan bentuk janin. Akan tetapi. dilakukan analisis untuk mengetahui diagnosis utama sebagai berikut. masih diperlukan pemeriksaan dan pemantauan persalinan untuk melihat tanda-tanda khas lainnya yang bisa membedakannya dengan diagnosis banding lainnya guna menegakkan diagnosis yang pasti agar bisa ditentukan tindakan yang paling sesuai dengan kelainan yang dialami oleh pasien tersebut.

janin dengan berat badan 4000-5000 gram pada umumnya tidak mengalami kesulitan dalam melahirkannya. Prognosis Pada panggul normal. seksio sesarea perlu dipertimbangkan. Yang dinamakan bayi besar adalah bila berat badannya lebih dari 4000 gram. Pendahuluan Berat neonatus pada umumnya kurang dari 4000 dan jarang melebihi 5000 gram. hendaknya dilakukan episiotomi mediolateral yang cukup luas. hidung serta mulut janin dibersihkan. janin dapat meninggal akibat asfiksia. Kesulitan melahirkan bahu tidak selalu dapat diduga sebelumnya. pada postmaturitas dan pada grande multipara. Hubungan antara ibu hamil yang makannya banyak dan bertambah besarnya janin. Pemeriksaan yang teliti tentang adanya disproporsi sefalopelvik dalam hal ini perlu dilakukan. 3. 2. . Kadang-kadang baru diketahui adanya janin besar setelah tidak adanya kemajuan persalinan pada panggul normal dan his yang kuat. Pada panggul normal. atau karena bahu yang lebar sulit melalui rongga panggul. Besarnya kepala dan tubuh janin dapat diukur pula secara teliti dengan menggunakan alat ultrasonik. Penanganan Pada disproporsi sevalopelvik karena janin besar. Bahu yang lebar selain dijumpai pada janin besar juga dijumpai pada anensefalus. Frekuensi berat badan lahir lebih dari 4000 gram adalah 5. Apabila kepala anak sudah lahir tetapi kelahiran bagian-bagian lain macet karena lebarnya bahu.3 % dan yang lebih dari 4500 gram adalah 0. Selain itu. faktor keturunan memegang peranan penting. janin dengan berat badan kurang dari 4500 gram pada umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Apabila kepala sudah lahir sedangkan bahu sulit dilahirkan. 4. Pada janin besar.KELAINAN DALAM BENTUK JANIN A. masih diragukan. janin besar dijumpai pada wanita hamil dengan diabetes mellitus. Kesukaran dapat terjadi karena kepala yang besar atau kepala yang lebih keras (pada postmaturitas) tidak dapat memasuki pintu atas panggul. Diagnosis Menentukan besarnya janin secara klinis memang sulit. Pertumbuhan Janin yang Berlebihan 1.4 %. Menarik kepala ke bawah terlalu kuat dalam pertolongan melahirkan bahu yang sulit dapat berakibat perlukaan pada nervus brakhialis dan muskulus sternokleidomastoideus.

hidrosefalus akan menyebabkan disproporsi sefalopelvik dengan segala akibatnya. Diagnosis Bila janin dalam presentasi kepala. Kemudian bahu depan diputar ke diameter miring dari panggul guna melahirkan lengan depan. Pemeriksaan rontgenologik pada hidrosefalus dengan janin dalam letak sungsang tidak dapat memberi kepastian. Hidrosefalus seringkali disertai kelainan bawaan lain seperti spina bifida. sedangkan tulang kepala sangat tipis dan mudah ditekan. Defenisi Hidrosefalus ialah keadaan di mana terjadi penimbunan cairan serebrospinal dalam ventrikel otak. B. di mana teraba kepala yang besar menonjol di atas simfisis. Diagnosis hidrosefalus pada letak sungsang lebih sulit dan sering baru dibuat setelah dialami kesulitan dalam kelahiran kepala. akan tetapi kadang-kadang dapat mencapai 5 liter. Bagaimana pun letaknya. dan sebaliknya. Pada keadaan dimana janin telah mati sebelum bahu dilahirkan. penolong memasukkan tangannya ke dalam vagina dan berusaha melahirkan lengan belakang janin dengan menggerakkan di muka dadanya. karena kepala normal pada letak sungsang . Bila tidak berhasil. Pada palpasi ditemukan kepala yang jauh lebih besar daripada biasa serta menonjol di atas simfisis. maka sering ditemukan dalam letak sungsang. Karena kepala janin terlalu besar dan tidak dapat berakomodasi di bagian bawah uterus. Pada pemeriksaan dalam diraba sutura-sutura dan ubun-ubun yang melebar dan regang. denyut jantung paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tinggi. Cairan yang tertimbun dalam ventrikel biasanya antara 500 sampai 1500 ml. Pemeriksaan rontgenologik menunjukkan kepala janin sangat besar dengan tulang-tulang yang sangat tipis. tubuh janin diputar dalam rongga panggul. 2.kemudian kepala ditarik curam ke bawah secara hati-hati dengan kekuatan yang terukur. Bila dengan cara ini pun belum berhasil. sehingga bahu belakang menjadi bahu depan dan lahir di bawah simfisis. Untuk memudahkan pemeriksaan. sehingga kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran suturasutura dan ubun-ubun. Untuk melahirkan lengan kiri digunakan tangan kanan penolong. Karena kepala janin besar dan tidak dapat masuk ke dalam panggul. kandung kencing harus dikosongkan lebih dahulu. Hidrosefalus 1. dapat dilakukan kleidotomi pada satu atau kedua klavikula untuk mengurangi kemungkinan perlukaan jalan lahir. diagnosis tidak terlalu sulit.

Bila janin dalam letak sungsang. 2) kepala berbentuk bulat. kepala janin harus dikecilkan pada permulaan persalinan. bahaya regangan segmen bawah uterus hilang. Bentuknya tidak simetris dan penyatuan kedua . Kelainan Bentuk Janin yang Lain. 3. 3) bayangan tulang kepala sangat tipis.R. Untuk menghindarkan kesalahan pada pemeriksaan rontgenologik harus diperhatikan beberapa hal : 1) muka janin sangat kecil bila dibandingkan dengan tengkorak.dapat memberi gambaran seolah-olah sangat besar. pada persalinan dengan panggul normal dan his kuat. pengeluaran cairan dari kepala yang tidak dapat lahir dilakukan dengan pungsi atau perforasi melalui foramen oksipitalis magnum atau sutura temporalis. Janin yang satu dapat jauh lebih kecil daripada yang lain. dalam hal ini kandung kencing harus dikosongkan lebih dahulu. Untuk menghilangkan keragu-raguan dapat pula dibantu dengan pemeriksaan secara ultrasonik atau M. Penanganan Persalinan pada wanita dengan janin hidrosefalus perlu dilakukan pengawasan yang seksama. karena tengkorak yang besar ikut meregangkan segmen bawah uterus. Pada hidrosefalus yang nyata. 1. Janin Kembar-Melekat (Double Monster) Janin kembar melekat adalah keadaan di mana terdapat perlekatan antara 2 janin pada kehamilan kembar. Pada jenis pertama kadang-kadang janin yang satu sangat kecil dan tidak lengkap.setelah kepala mengecil. 4. bahaya ruptura uteri akan mengancam penderita tersebut. sehingga tidak terjadi kesulitan penurunan kepala ke dalam rongga panggul. tetapi dapat pula kedua janin kira-kira sama besarnya. 2) kepala janin teraba sebagai benda besar di atas simfisis. Pada pembukaan 3 cm cairan cerebrospinalis dikeluarkan dengan pungsi pada kepala menggunakan jarum spinal. Ruptura uteri pada hidrosefalus dapat terjadi sebelum pembukaan serviks menjadi lengkap. Dianjurkan pula untuk mencoba melakukan ventrikulosentesis transabdominal dengan jarum spinal. C. berbeda dengan kepala biasa yang berbentuk ovoid. karena bahaya terjadinya ruptura uteri selalu mengancam.I. sehingga seolah-olah merupakan parasit pada yang lain. Prognosis Apabila tidak segera dilakukan pertolongan. Kemungkinan hidrosefalus harus dipikirkan apabila : 1) kepala tidak masuk ke dalam panggul.

penyatuan terjadi secara longitudinal atau secara lateral. dapat dilakukan tindakan vaginal dengan merusak janin. Kelahiran janin kembar melekat dengan satu janin yang jauh lebih kecil daripada yang lain dan janin kembar dengan penyatuan janin secara longitudinal biasanya berlangsung tanpa kesukaran. Pada penyatuan longitudinal kepala yang satu berhubungan dengan kepala yang lain (kraniopagus). akibat dari asites. Penyatuan lateral bisa terjadi pada dada (torakopagus) atau pada daerah perut (omfalopagus). Pada umumnya seksio sesarea lebih aman untuk melahirkan janin kembar melekat daripada melakukan pembedahan vaginal yang sukar. Kadangkadang pemeriksaan rontgenologik yang dilakukan atas dugaan adanya hamil kembar dapat menunjukkan adanya penyatuan kedua janin. atau panggul yang satu dengan panggul yang lain (pigopagus). Kemungkinan dapat terjadi penyatuan bagian bawah tubuh seluruhnnya dengan dua kepala (disefalus) dan dengan satu kepala (sinsefalus) Diagnosis janin kembar melekat sukar ditentukan antepartum. Pada umumnya diagnosis baru dapat ditegakkan bila persalinan macet dan pada pemeriksaan jalan lahir kelainan tersebut kebetulan ditemukan oleh tangan penolong. Pada jenis kedua. bila perut berisi cairan (asites. dan meraba perut janin.janin tidak terjadi antara dua bagian yang sama (misalnya antara kepala dengan dada). limpa. Apabila terjadi kesukaran persalinan. atau tumor hati. Janin dengan perut besar Pembesaran perut yang menyebabkan distosia. Apabila terjadi kemacetan. 2. tumor kistik). Kandung kencing yang sangat penuh dapat pula menimbulkan gejala yang sama. terdapat banyak kasus biasanya terjadi persalinan prematur. atau melakukan seksio sesarea. sehingga kelahiran yang satu dapat mendahului yang lain. Torakopagus merupakan janin kembar melekat yang paling sering menimbulkan kesukaran persalinan. atau hubungan antara kedua janin tidak seberapa erat. dapat dilakukan . ginjal dan ovarium jarang sekali dijumpai. Kesukaran persalinan biasanya terjadi pada janin kembar melekat dengan penyatuan janin secara lateral. Tindakan pertama dapat dilakukan lebih mudah pada letak sungsang karena janin dapat digunakan sebagai pegangan dalam melaksanakan tindakan tersebut. Diagnosis dapat dibuat dengan memasukkan tangan ke dalam uterus. Meskipun demikian. Pada antenatal care yang baik dengan mempergunakan USG pada 16-18 minggu kehamilan atau MRI kiranya lebih dini dapat ditentukan apakah kehamilan dapat dilangsungkan atau dihentikan mengingat prognosis dari monster tersebut tidak selalu baik.

Pada presentasi kepala. prolapsus funikuli sangat berbahaya bagi janin. sebelum ketuban pecah. sebaiknya dilakukan seksio sesarea atau pengecilan tumor per varginam. Pada kehamilan prematur lebih . sehingga pintu atas panggul tidak tertutup oleh bagian bawah janin tersebut. terutama presentasi bokong kaki. Myles melaporkan hasil penelitiannya dalam kepustakaan dunia. biasanya merupakan jenis teratoma atau janin kembar melekat jenis pigomelus parasitikus. Etiologi Keadaan-keadaan yang menyebabkan gangguan adaptasi bagian bawah janin terhadap panggul. merupakan predisposisi turunnya tali pusat dan terjadinya prolapsus funikuli. Defenisi Prolapsus funikuli ialah keadaan di mana tali pusat berada di samping atau melewati bagian terendah janin di dalam jalan lahir setelah ketuban pecah. keadaan itu dinamakan tali pusat terdepan.pungsi perut. bahwa angka kejadian prolapsus funikuli berkisar antara 0. Apabila tali pusat dapat diraba di samping atau lebih rendah dari bagian bawah janin sedang ketuban belum pecah. 2. akan tetapi bila disebabkan oleh tumor padat.3 % sampai 0. 3. Dengan demikian prolapsus funikuli sering ditemukan pada letak lintang dan letak sungsang. Tumor pada daerah pelvis janin. D. karena setiap saat tali pusat dapat terjepit antara bagian terendah janin dengan jalan lahir dengan akibat gangguan oksigenasi janin. terapi yang terbaik ialah seksio sesarea. tetapi setelah ketuban pecah bahaya kematian janin sangat besar. Tetapi bila dijumpai. kesukaran lebih sering terjadi bila janin dalam letak sungsang. dan untuk ini perlu dilakukan pengecilan tumor per vaginam. Tumor-tumor lain pada janin Di samping tumor-tumor dalam perut yang sudah dibahas di atas. ancaman terhadap janin tidak seberapa besar. tumor pelvis biasanya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Pada tali pusat terdepan. Prolapsus Funikuli 1. Pada presentasi kepala. masih ada tumor-tumor pada bagian lain bagian lain tubuh janin yang dapat menyebabkan distosia. antara lain dapat terjadi pada disproporsi sefalopelvik.6 % persalinan. Pada presentasi kepala. Tumor pada glandula tireoidea jarang sekali demikian besar sehingga menimbulkan distosia.

satu tangan dimasukkan ke dalam vagina untuk mencegah turunnya bagian terendah di dalam rongga panggul. sedangkan pada prolapsus funikuli tali pusat dapat diraba dengan dua jari.sering dijumpai. maka hanya terdapat 2 pilihan. sedangkan pada tali pusat terdepan ancaman bahaya tersebut sewaktu-waktu dapat terjadi. agar supaya kepala janin . karena tali pusat akan terjepit antara bagian terendah janin dan jalan lahir. yakni melakukan reposisi tali pusat atau menyelamatkan persalinan dengan seksio sesarea. Pada multipara dengan ukuran panggul normal. Untuk hal itu. tali pusat yang berdenyut menandakan bahwa janin masih hidup. karena kepala anak yang kecil tidak dapat menutupi pintu atas panggul. 3. Pada prolapsus funikuli dengan tali pusat yang masih berdenyut. Pemeriksaan dalam perlu pula dilakukan apabila terjadi kelambatan denyut jantung janin tanpa adanya sebab yang jelas. Oleh karena diagnosis pada umumnya hanya dapat dibuat berdasarkan pemeriksaan dalam. melilitkannya dengan hati-hati ke tali pusat. janin menghadapi bahaya hipoksia. kemudian mendorong seluruhnya perlahan-lahan ke kavum uteri di atas bagian terendah janin. Pada letak sungsang janin dilahirkan dengan ekstraksi kaki. Tindakan ini lebih mudah dilakukan bila wanita yang bersangkutan ditidurkan dalam posisi Trendelenburg. maka sementara menunggu persiapan perlu dijaga agar tali pusat tidak mengalami tekanan dan terjepit oleh bagian terendah janin. tetapi pembukaan belum lengkap. pada waktu pembukaan lengkap. sedangkan pada presentasi belakang kepala dilakukang tekanan yang cukup kuat pada fundus uteri pada waktu his. selain meletakkan wanita dalam posisi Trendelenburg. Cara yang terbaik untuk melakukan reposisi adalah dengan memasukkan gumpalan kain kasa yang tebal ke dalam jalan lahir. dapat diraba bagian yang berdenyut di belakang selaput ketuban. Pada tali pusat terdepan. janin harus segera dilahirkan. maka pemeriksaan dalam mutlak harus dilakukan pada saat ketuban pecah bila bagian terendah janin belum masuk ke dalam rongga panggul. 4. Diagnosis Adanya tali pusat menumbung atau tali pusat terdepan pada umumnya baru dapat diketahui dengan pemeriksaan dalam setelah terjadi pembukaan ostium uteri. Apabila diambil keputusan untuk melakukan seksio sesarea. Penanganan Pada prolapsus funikuli. pada letak lintang dilakukan versi ekstraksi.

denyut jantung janin diawasi dengan seksama sedangkan kemajuan persalinan hendaknya selalu dinilai dengan pemeriksaan dalam untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan selanjutnya. tindakan ini dapat dibantu dengan melakukan ekstraksi cunam. tidak ada alasan untuk menyelesaikan persalinan dengan segera. Pada keadaan di mana janin sudah meninggal. dan tindakan hanya dilakukan apabila diperlukan demi kepentingan ibu.masuk ke dalam rongga panggul dan segera dapat dilahirkan. . Persalinan diawasi sehingga berlangsung spontan. bilamana perlu. Pada tali pusat terdepan penderita ditidurkan dalam posisi Trendelenburg dengan harapan bahwa ketuban tidak pecah terlalu dini dan tali pusat masuk kembali ke dalam kavum uteri. Selama menunggu.

1998. 2007. Winkjosastro H. EGC: Jakarta. 1998. Mochtar.DAFTAR PUSTAKA Mochtar. Edisi 2. EGC: Jakarta. Sinopsis obstetri: obstetri fisiologi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardho. Jilid 1. Edisi 2. Sinopsis obstetri: obstetri fisiologi. Retno Budiati. . Mardiah dan Farid. Keterampilan Pemeriksaan Obstetri. Buku Panduan Kerja. obstetri patologi. Tahir. FK-UH: Makassar. obstetri patologi. 2007..dkk. Rustam. Jilid 2. Jakarta. Rustam. Ilmu Kandungan Edisi Kedua.