You are on page 1of 15

SNI 06-2385-2006

Standar Nasional Indonesia

Minyak nilam

ICS 71.100.60

Badan Standardisasi Nasional

.

....................................................................................................................................................................................................................SNI 06-2385-2006 Daftar isi Daftar isi....... 1 Syarat mutu ......................................................... 1 Istilah dan definisi ......................................................................................................................................................................................................................................................................................... 1 Pengambilan contoh .................................................................i Prakata ....................................................................................................................... 9 Syarat penandaan ............................................................................................................................................................ 9 Pengemasan........................................................................ 11 i .................................................................................................ii 1 2 3 4 5 6 7 8 Ruang lingkup ... 2 Syarat lulus uji ...................................................................................................................... 9 Lampiran A (normatif) Daftar nomor acak ................ 1 Cara uji ................................................. 10 Bibliografi ..........................................................................................................................

SNI 06-2388-2006 Prakata Standar Nasional Indonesia (SNI) ini merupakan revisi dari SNI 06-2385-1998. Maksud dan tujuan revisi standar ini adalah sebagi acuan bagi industri. hadir dalam rapat tersebut wakil-wakil dari produsen. laboratorium penguji. ii . Minyak nilam. kadar besi dan alpha copaene serta mengingat perkembangan teknologi dan menunjang ekspor. dan regulator. Standar ini telah di bahas melalui konsensus nasional di Jakarta pada tanggal 17 November 2003. asosiasi. agar minyak nilam yang beredar di pasar dapat terjamin mutunya dan dapat bersaing dengan pasar internasional. Standar ini di susun oleh Panitia Teknis 71-01. konsumen.Teknologi Kimia. Standar ini merupakan revisi dengan menambahkan persyaratan mutu yaitu Patchouli alkohol.

20 (-)48o – (-)65o Min. f) Tutup botol kemudian segel dan diberi etiket yang bertuliskan nomor drum/ lot. c) Ambil contoh empat kali pada empat sudut yang menyilang berhadapan kemudian dicampur menjadi satu dan dikocok.SNI 06-2385-2006 Minyak nilam 1 Ruang lingkup Standar ini menetapkan persyaratan mutu.1 minyak nilam minyak atsiri yang diperoleh dengan cara penyulingan daun tanaman nilam Pogostemon cablin BENTH 3 Syarat mutu Tabel 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 9 Persyaratan mutu minyak nilam Satuan % % mg/kg Jenis uji Warna Bobot Jenis 25oC/25 oC Indeks bias (nD20) Kelarutan dalam etanol 90 % pada suhu 20 oC ±3 oC Bilangan asam Bilangan ester Putaran optik Patchouli alcohol (C15H26O) Alpha copaene (C15H24) Kandungan besi (Fe) Persyaratan Kuning muda – coklat kemerahan 0. a) Ambil contoh dari setiap drum dengan suatu alat pipa logam tahan karat atau pipa gelas yang mempunyai panjang 125 cm dan diameter 2 cm.1 pengambilan contoh mewakili setiap drum Contoh diambil dari setiap drum. 2 Istilah dan definisi 2. tanggal pengiriman contoh. nama produsen atau eksportir.507 – 1. sehingga minyak dapat terambil dari lapisan atas hingga lapisan bawah. b) Masukkan alat pipa logam ke dalam drum.515 Larutan jernih atau opalesensi ringan dalam perbandingan volume 1 :10 Maks. d) Ambil dari campuran tersebut 80 ml untuk dianalisa dan 80 ml lagi sebagai arsip contoh.950 – 0. cara uji. pengemasan dan penandaan minyak nilam. 25 4 Pengambilan contoh 4. pengambilan contoh. kering dan tidak mempengaruhi contoh. 1 dari 11 . syarat lulus uji. 30 Maks.975 1. 8 Maks. identitas pengambil contoh.5 Maks. Ujung pipa dapat ditutup atau dibuka dengan suatu sumbat bertangkai panjang. e) Masukkan contoh ke dalam botol bersih. 0.

4. 5. c) sandarkan tabung reaksi berisi contoh minyak nilam pada kertas atau karton berwarna putih. b) pipet gondok atau pipet berskala kapasitas 10 ml.1 Penentuan bobot jenis Prinsip Perbandingan antara berat minyak dengan berat air pada volume dan suhu yang sama. nama produsen atau eksportir.1.1.1. seperti tersebut pada 5.3 Prosedur a) pipet 10 ml contoh minyak nilam. tanggal pengiriman contoh. b) Ambil contoh sebanyak 30 % dari jumlah drum.2 Peralatan a) neraca analitik. 5. kering.1 Penentuan warna Prinsip Metode ini didasarkan pada pengamatan visual dengan menggunakan indra penglihatan (mata) langsung.1. 5.2 oC.2. hindari adanya gelembung udara.SNI 06-2388-2006 g) Tutup kembali drum dan disegel setelah pengambilan contoh. b) masukkan kedalam tabung reaksi.2 Pengambilan contoh mewakili lot (maksimum 50 drum) a) Ambil contoh dari tiap-tiap drum yang dipilih secara acak berdasarkan daftar nomor acak terlampir dan berasal dari satu tangki pengaduk.1 5. Apabila contoh minyak nilam yang diamati berwarna kuning muda. f) Tutup kembali drum dan disegel setelah pengambilan contoh. Kemudian contoh dicampur menjadi satu dan dikocok sampai rata. d) Masukkan contoh ke dalam botol bersih. e) Tutup botol kemudian segel dan diberi etiket yang bertuliskan nomor drum/ lot. 2 dari 11 . 5. d) amati warnanya dengan mata langsung. terhadap contoh minyak nilam. minimal 5 drum per lot. 5 Cara uji 5. berwarna coklat dan bertutup asah. b) penangas air yang dipertahankan pada 25 oC ± 0. 5. jarak pengamatan antara mata dan contoh 30 cm. c) kertas atau karton berwarna putih ukuran 20 cm x 30 cm.1. identitas pengambil contoh.2.2 Peralatan a) tabung reaksi kapasitas 15 ml atau 20 ml. maka warna contoh minyak nilam dinyatakan kuning muda. c) Ambil 80 ml untuk dianalisa dan 80 ml untuk arsip contoh.4 Penyajian hasil uji Nyatakan hasil sesuai dengan warna contoh minyak nilam yang diamati.2 5.

3 5. pikonometer berisi contoh pada 25 oC (g).3.1 Penentuan indeks bias Prinsip Metoda ini didasarkan pada pengukuran langsung sudut bias minyak yang dipertahankan pada kondisi suhu yang tetap. 5. cuci dengan etanol dan dietil eter. f) Sisipkan penutupnya dan keringkan piknometernya. 5.3.4 Prosedur a) Alirkan air melalui refraktometer agar alat ini berada pada suhu dimana pembacaan akan dilakukan.2 Bahan kimia Aseton 5.SNI 06-2388-2006 c) piknometer berkapasitas 50 ml.3 Prosedur a) Cuci dan bersihkan piknometer. b) Keringkan bagian dalam piknometer tersebut dengan arus udara kering dan sisipkan tutupnya. e) Celupkan piknometer ke dalam penangas air pada suhu 25 oC ± 0.2 oC selama 30 menit. l) Biarkan piknometer di dalam lemari timbangan selama 30 menit dan timbang (m2). i) Isilah piknometer dengan contoh minyak dan hindari adanya gelembung-gelembung udara.4 Penyajian hasil uji Bobot jenis = d 25 25 = m2 − m m1 − m Keterangan: m adalah massa piknometer kosong (g). Sisipkan tutupnya dan keringkan piknometer tersebut. piknometer berisi air pada 25 oC (g).2 oC selama 30 menit.3. c) Biarkan piknometer di dalam lemari timbangan selama 30 menit dan timbang (m). c) lampu natrium. kemudian keringkan dengan arus udara kering.2. 5. 3 dari 11 . h) Kosongkan piknometer tersebut. 5. k) 25 oC ± 0. g) Biarkan piknometer di dalam lemari timbangan selama 30 menit. kemudian basuh berturut-turut dengan etanol dan dietil eter. b) penangas air.3 Peralatan a) refraktometer. kemudian timbang dengan isinya (m1). m1 adalah massa. d) Isi piknometer dengan air suling sambil menghindari adanya gelembung-gelembung udara.2.3. 25 ml dan 10 ml. sesuai dengan volume minyak yang tersedia yang dilengkapi dengan termometer yang telah dikalibrasi. 5. m2 adalah massa. j) Celupkan kembali piknometer ke dalam penangas air pada suhu.

4.1 N ke dalam 50 ml larutan natrium khlorida (NaCl) 0. Sebelum minyak ditaruh di dalam alat.5 Penyajian hasil uji Hasil uji dinyatakan sebagai berikut: Akan membentuk larutan jernih atau opalesensi ringan. t adalah pembacaan yang dilakukan pada suhu pengerjaan t.0002 N dan dikocok. minyak tersebut harus berada pada suhu yang sama dengan suhu dimana pengukuran akan dilakukan. 5. Kocoklah setelah setiap penambahan sampai diperoleh suatu larutan yang sebening mungkin pada suhu 20 oC. 0.2 Bahan kimia a) etanol 90 % b) larutan pembanding (dibuat baru) Dengan menambahkan 0. setetes demi setetes.2 oC.4. c) Bandingkanlah kekeruhan yang terjadi dengan kekeruhan larutan pembanding. 5.5 t Indeks bias n t = n 1 + 0.4.0004 adalah faktor koreksi untuk indeks bias minyak nilam setiap derajat.1 Penentuan kelarutan dalam etanol Prinsip Kelarutan minyak nilam dalam etanol absolut atau etanol 90 % membentuk larutan yang bening dan cerah dalam perbandingan-perbandingan seperti yang dinyatakan.4 5.0004 (t1 − t ) D D Keterangan: t1 adalah pembacaan yang dilakukan pada suhu pengerjaan t1. 5. bila larutan tersebut tidak bening.4. Pembacaan dilakukan bila suhu sudah stabil. b) gelas ukur tertutup 10 ml atau 25 ml.3 Peralatan a) gelas ukur 50 ml. Penyajian hasil uji 5. 5. Tambahkan satu tetes asam nitrat (HNO3) encer (25 %) dan amati setelah 5 menit. Lindungi terhadap sinar matahari langsung.SNI 06-2388-2006 b) c) d) Suhu tidak boleh berbeda lebih dari ± 2 oC dari suhu referensi dan harus dipertahankan dengan toleransi ± 0. b) Tambahkan etanol 90 %.4 Prosedur a) Tempatkan 1 ml contoh minyak dan diukur dengan teliti di dalam gelas ukur yang berukuran 10 ml atau 25 ml.5 ml larutan perak nitrat (AgNO3) 0.3. 5. melalui cairan yang sama tebalnya. apabila ditambahkan etanol sebanyak maksiumum sepuluh kali volume contoh 4 dari 11 .4.

5.1 Penentuan bilangan asam Prinsip Jumlah miligram kalium hidroksida (KOH) yang diperlukan untuk menetralkan asam-asam bebas yang terdapat dalam 1 gram minyak nilam.2 Bahan kimia a) larutan etanol 95 % (v/v) yang baru dinetralkan dengan larutan alkali.6. c) larutan standar volumetri asam khlorida (HCl) 0.1 adalah bobot setara KOH. larutkan dalam 5 ml etanol netral pada labu saponifikasi. m adalah massa contoh yang diuji. yang dinetralkan dengan larutan kalium hidroksida (KOH) dengan menggunakan indikator fenolftalein (pp). c) buret dengan skala terbagi dalam seper sepuluh milimeter.5 5.1 x V x N m Bilangan asam = Dengan: 56.SNI 06-2388-2006 5. Pipa ini bertindak sebagai pendingin refluks pada penentuan bilangan ester. b) labu penyabunan kapasitas 250 ml. c) kalium hidroksida (KOH).5 N dalam etanol.5 N. c) Titrasi larutan tersebut dengan kalium hidroksida 0. dengan dasar bulat terbuat dari kaca tahan alkali.6.05 g contoh minyak. V adalah volume larutan KOH yang diperlukan (ml). b) larutan kalium hidroksida (KOH) 0. N adalah normalitet larutan KOH (N). 5 dari 11 .1 Penentuan bilangan ester Prinsip Penyabunan ester-ester dengan larutan alkali standar dan menitrasi kembali kelebihan alkali tersebut. b) Tambahkan 5 tetes larutan fenolftalein sebagai indikator.5 Penyajian hasil uji 56. larutan baku untuk volumetri 0.6 5. 5.5. dilengkapi dengan sebuah pipa kaca yang panjangnya paling sedikit 1 m dan diameter bagian dalam paling sedikit 1 cm. larutan 0.5.1 N sampai warna merah muda.3 Peralatan a) neraca analitik.1 N dalam etanol yang diperiksa dalam 24 jam sebelum melakukan penentuan bilangan asam.5.5. b) fenolftalein (pp). 5.2 Bahan kimia a) etanol 95 % (v/v) pada 20 oC.5.4 g/l dalam etanol 20 % (v/v) yang telah dinetralkan. 5. 5. dengan menggunakan larutan indikator fenolftalein (pp). 5.4 Prosedur a) Timbang 4g ± 0.

. terbuat dari gelas dengan leher kaca asah yang tahan terhadap alkali.7 5.6. tambahkan 5 tetes larutan fenolftalein.5 Penyajian hasil uji Bilangan ester (E) dihitung dengan rumus: 56. dan titrasi dengan HCl 0. d) pipet standar 25 ml. dan diameter sebelah dalam 1 cm.Lepaskan kondensor refluks.7.SNI 06-2388-2006 d) larutan fenolftalein (pp) 1 %dalam etanol.Didihkan dengan hati-hati. b) gelas ukur 5 ml. tambahkan 25 ml larutan kalium hidroksida 0.5 N dalam alkohol.5 N sampai diperoleh perubahan warna. Pasanglah tabung berisi penyerap karbon dioksida pada pendingin selama pendinginan. yang digunakan sebagai kondensor refluks atau bila perlu sebagai pendingin refluks. pada waktu dan kondisi yang sama. Diamkan larutan hingga menjadi dingin. panjangnya paling sedikit 1 m. 6 dari 11 . .6.4 a) Prosedur Pengujian blanko a) Isi labu penyabunan dengan beberapa potong batu didih atau poeselen.5 N dalam alkohol dan beberapa potong batu didih atau porselen. lalu tambahkan 5 ml etanol dan 25 ml larutan kalium hidroksida 0. e) penangas air.3 Peralatan a) labu penyabunan. 5. 5. b) Pengujian contoh .Timbang contoh 4 g ± 0.5 N sampai diperoleh perubahan warna. c) buret standar 50 ml.6.1 (V1 − V0 ) N m Dengan: 56. dapat dilengkapi dengan sebuah pipa kaca. 5.1 adalah bobot setara KOH V1 adalah volum HCl yang digunakan dalam penentuan blanko (ml) Vo adalah volume HCl yang digunakan untuk contoh (ml) m adalah massa dari contoh yang diuji (g) N adalah normalitas HCl E = 5. c) Lepaskan kondensor refluks dan tambah 5 tetes larutan fenolftalein dan kemudian titrasi dengan HCl 0.1 Penentuan putaran optik Prinsip Metoda ini didasarkan pada pengukuran sudut bidang dimana sinar terpolarisasi diputar oleh lapisan minyak yang tebalnya 10 cm pada suhu tertentu. berkapasitas 250 ml. b) Refluks dengan hati-hati di atas penangas air mendidih selama 1 (satu) jam setelah larutan mendidih.05 g dan masukkan ke dalam labu. kemudian biarkan larutan menjadi dingin.

SNI 06-2388-2006 5. c) digunakan lampu uap natrium atau alat lain yang menghasilkan sinar monokhromatik dengan panjang gelombang 589.2 Bahan kimia a) larutan sukrosa anhidrat murni. periksalah bahwa suhu minyak dalam tabung adalah 20 oC ± 1 oC.05 nm dilengkapi dengan jaket untuk mensirkulasikan air.08 o (5”). 5.7. g) termometer. 5.3 nm ± 0. f) alat untuk mempertahankan suhu penangas air.7. Kadar patchouli alkohol dan alpha copaene dihitung dengan membandingkan luas puncaknya dengan jumlah luas seluruh komponen.7.1 Prinsip Pemisahan patchouli alkohol dan alpha copaene dari campuran menggunakan kromatografi gas cair. b) Isi tabung polarimeter dengan contoh minyak yang sebelumnya telah dibawa pada suhu tertentu.7. 5.8. masing-masing pembacaan harus sesuai disekitar 0. 5. 5. dengan presisi + 0.2 Bahan kimia a) aseton (p. e) berukuran 100 nm ± 0. putaran optik dekstro harus diberi tanda positif (+) dan putaran optik levo harus diberi tanda negatif (-). d) tabung polarimeter. c) Letakan tabung didalam polarimeter dan bacalah putaran optik dekstro (+) atau levo (-) dari minyak. pelarut pencuci.3 nm. b) khloroform.8 Penentuan patchouli alkohol dan alpha copaene menggunakan kromatografi gas cair (GLC) 5.8.8.5 Penyajian hasil uji Putaran optik harus dinyatakan dalam derajat lingkar sampai mendekati 0.01 o. 5. b) sumber cahaya.03o (±2”). konsentrasi 26. deterktor ionisasi nyala (flame ionization detector FID). pada skala yang terdapat pada pada alat.00 g sukrosa per 100 ml air. b) bahan baku patchouli alkohol dan alpha copaene. untuk mengencerkan contoh minyak berwarna gelap sebelum dilakukan pengujian.3 Peralatan a) b) c) d) instrumen kromatografi gas cair (GLC). yang ditempatkan dan dipergunakan dalam ruangan gelap dengan kondisi stabil. d) Dengan menggunakan termometer yang disisipkan pada lubang ditengah-tengah.4 Prosedur a) Nyalakan sumber cahaya dan tunggu sampai diperoleh kilauan yang penuh. e) Catatlah hasil rata-rata dari sedikitnya tiga pembacaan.a). alat suntik dengan volume 1 mikroliter. rekorder-integrator.3 Peralatan a) polarimeter. usahakanlah agar gelembung-gelembung udara tidak terdapat didalam tabung. 7 dari 11 .

5 mikroliter untuk kolom kapiler. panjang 2 m.8.6 Penyajian hasil uji a.9 5. b. Untuk kadar patchouli alkohol Kadar Patchouli alkohol = Ap x100% A Dengan: Ap. d) Gas hidrogen dengan kecepatan alir 30 ml per menit dan kecepatan alir gas tekan 300 ml per menit.5 Prosedur a) Kecepatan alir gas pembawa diatur pada 3 ml/menit untuk kolom kemasan dan split 100 ml/menit pada kolom kapiler pada tekanan 2 bar atau pada kecepatan yang memberikan resolusi yang optimum.1 Penentuan Kadar Besi (Fe) Prinsip Membandingkan nilai absorban larutan contoh terhadap kurva standar 8 dari 11 . selanjutnya diatur kecepatan alir gas hidrogen sebesar 30 ml/menit.4 Kondisi analisis a) Kolom kemasan gelas/ logam inert. A adalah jumlah komponen yang ada.8.5 cm per menit. f) Volume contoh 0. b) Fasa gerak nitrogen dengan kecepatan alir 30 ml per menit.SNI 06-2388-2006 5. 5. d) Suhu injektor diatur pada 200 oC. 5.5 mm diisi carbawax 20 M 15 % dalam chromosorb WHP 80 mesh-100 mesh. b) Pada sistem terprogram suhu oven diatur yaitu suhu awal 100 oC dan suhu akhir 220 oC dengan kecepatan 5 oC/ menit. adalah luas puncak patchouli alkohol. dengan kenaikan suhu 5 oC per menit. adalah luas puncak alpha copaene. Atau pada kecepatan alir yang memberikan resolusi yang optimum.9. c) Suhu detektor diatur pada 250 oC.8. 5. e) Menggunakan sistim terprogram dengan suhu awal 100 oC dan suhu akhir 200 oC. g) Cuplikan diseuntikan sebanyak 0. A adalah jumlah komponen yang ada.5 cm/menit atau sesuai dengan keadaan alat. diameter 0. h) Alat penyuntik setelah dipakai dicuci dengan aseton lalu dikeringkan. f) Atenuasi diatur pada 128 atau disesuaikan dengan kemampuan alat rekorder diset pada minimum area. e) Kecepatan kertas 0.1 mikroliter untuk kolom kemasan dan 0. c) Detektor flame ionization detector dengan suhu 250o C. Untuk kadar alpha copaene Kadar alpha copaene = Ap x100% A Dengan: Ap.1 µl dengan kecepatan kertas 0.

.0 gram contoh minyak nilam kedalam labu Kjeldahl 50 ml. dengan ruang kosong sebesar 5% . 5.5 gram feroamonium sulfat kristal kedalam labu ukur 500 ml .3. 4. bagian luar drum diberi keterangan dengan cat yang tidak mudah luntur: . galvanis atau berenamel yang di dalamnya dilapisi dengan lapisan yang tahan minyak nilam.9. 3. 5.dan lain-lain keterangan yang diperlukan.10% dari isi drum.timbang 3.produksi Indonesia. . . 40. .pindahkan cairan secara kuantitatif kedalam labu ukur 50 ml dengan air suling dan encerkan hingga tanda tera. Untuk kemasan drum berat bersih maksimum 200 kg.timbang dengan teliti 5. . 8 Syarat penandaan Pada setiap pengiriman. b) alat AAS. encerkan dengan air suling sampai tanda tera (larutan menjadi 10.2 Bahan kimia feroamonium sulfat 5.4 Prosedur a) Larutan Besi Standar .5 Penyajian hasil uji Kadar besi (Fe) dihitung dengan menggunakan kurva kalibrasi. . 30.9.nomor drum. tidak mempengaruhi dan dipengaruhi isi.berat bersih.pipet sebanyak 1. .3 Peralatan a) labu ukur.9.ukur absorban larutan dengan alat AAS pada panjang gelombang 248.9.nama perusahaan/eksportir.SNI 06-2388-2006 5. dan 6 ml masing-masing kedalam labu ukur 100 ml.ukur masing-masing larutan dengan alat AAS pada panjang gelombang 248.000 ppm Fe) . dan 60 ppm Fe) . plat besi berlapis timah putih. 7 Pengemasan Minyak nilam dikemas dalam wadah tertutup rapat.negara tujuan. .nama barang. 50. 2. 20. . . 5.berat kotor. 6 Syarat lulus uji Contoh dinyatakan lulus uji apabila memenuhi persyaratan butir 3.larutkan denga air suling hingga tanda tera (larutan 1.tambahkan 10 ml HNO3 1:1 dan didihkan selama 1 jam.nomor lot. 9 dari 11 . Drum minyak nilam dibuat dari plat timah atau aluminium.3 nm dan buat kurva kalibrasinya b) Larutan contoh minyak nilam . . aman selama penyimpanan dan pengangkutan.

SNI 06-2388-2006 Lampiran A (normatif) Daftar nomor acak Tabel A.1 Baris (Line) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 (1) 78994 40909 46582 29242 68104 17156 50711 35449 75622 01020 08327 76829 89708 89836 25903 71345 61454 80376 45144 12191 62936 31588 29787 45603 31606 10452 37016 66726 07380 71621 03466 12692 52192 56691 74952 18752 61691 49197 19436 39143 82244 59427 94095 11751 69902 21680 75350 29643 82749 36342 (2) 36244 58485 73570 89792 81339 02182 94789 52409 82729 55151 89989 41229 30641 55817 61370 03422 92263 09109 54373 88527 59120 96798 96048 00745 64782 33074 64633 93685 74438 57683 13263 32931 30491 72529 43042 43693 04914 63948 87291 61803 67549 56155 95770 69469 03995 25352 46992 22085 23443 42092 (3) 36273 70369 33004 88694 97090 82504 07171 75095 76916 36132 24260 19706 21267 56747 66081 01015 14647 30470 05505 58852 73957 43668 84726 84635 34027 76718 67301 25409 82120 58256 23917 97387 44998 44998 66063 58869 32867 43111 78947 71584 14606 76491 42878 07826 25521 27821 25556 25165 42581 52075 Daftar nomor acak (4) 25475 93930 61795 60285 20601 19130 02103 77720 72657 51971 08613 30094 56501 75195 54076 58025 08473 40200 90074 51175 35969 10111 17512 43079 56734 99556 50949 37498 17890 47702 20417 32822 17833 73570 15677 53017 28325 60207 75859 13543 09756 23708 25991 44097 11758 92161 55906 69675 25514 83926 (5) 84953 34880 86477 07190 78940 93747 99057 39729 58992 32155 66798 69430 95182 06813 67442 19703 34124 46558 24783 11534 21698 01714 39450 52724 09365 10026 91298 00816 40963 74724 11315 57775 94663 86860 18573 22661 82319 70667 76501 09621 71494 97999 37584 07511 64968 23592 62339 20251 32827 42815 (6) 61793 73059 46736 07796 20233 80910 98775 03205 32756 60935 25339 92399 72442 80343 52964 77313 10740 61742 86299 87215 47287 77255 43618 14262 20009 00013 74903 99262 55757 89419 52305 92674 23062 682125 43520 39610 65589 39343 93946 63301 91307 40131 56966 88976 61902 43921 33968 39641 35325 71500 (7) 50243 06825 60640 27011 22803 78260 37997 09313 01154 64867 62860 93749 21445 47403 23323 04555 40039 11543 80900 04876 39394 56079 30629 05760 93559 78411 73631 14471 13492 03025 33072 76549 95725 40436 97521 63795 96046 60607 95714 69817 61222 52060 68623 30122 32121 10479 91717 65786 93268 69216 (8) 63423 80257 70345 85941 96070 25136 18325 43545 84090 35424 57375 22081 17276 47403 02718 83425 05620 92121 15155 85584 08778 24690 24356 89373 73384 95107 57897 10232 68294 63519 07723 37635 38463 31303 83248 02622 98498 15328 92518 52140 66592 90390 83454 67542 23165 37879 15756 30689 32911 01390 10 dari 11 .

Bogor 11 dari 11 . Official Methods of Analysis.000. Minyak nilam SNI 19-1429-1998. 16th ed.SNI 06-2388-2006 Bibliografi SNI 06-2385-1998. 2. Associating of Official Analytical Chemist.23 AOAC. Petunjuk Pengambilan Contoh Cairan dan semi padat Essential Oil Association (EOA) of USA No. Washington DC Hasil pengujian minyak nilam Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.