You are on page 1of 26

BAB I PENDAHULUAN

I. 1 Latar Belakang Demam berdarah dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah demam dengue yang disertai pembesaran hati dan manifestasi perdarahan, dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian. Seluruh wilayah di Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD, sebab baik virus penyebab maupun nyamuk penularnya sudah tersebar luas di perumahan penduduk maupun fasilitas umum diseluruh Indonesia.1,2,3 Penyakit infeksi virus dengue disebabkan oleh virus. Virus dengue termasuk ke dalam kelompok arbovirus B. Dikenal 4 serotipe virus dengue yang saling tidak mempunyai imunitas silang. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya Perang Dunia ke-II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Keempat serotipe telah ditemukan pada pasien-pasien di Indonesia. Dengue 3 merupakan serotipe yang paling banyak beredar. 2,3 Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk Genus Aedes. Peningkatan kasus setiap tahunya berkaitan dengan sanitasi lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang berisi air jernih (bak mandi, kaleng bekas, dan tempat penampungan air lainnya). 3,4 Penyakit DBD merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Seluruh wilayah di Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD. Laporan yang ada sampai saat ini penyakit DBD sudah menjadi masalah yang endemis pada 122 daerah tingkat II, 605 daerah kecamatan

1

dan 1800 desa/kelurahan di Indonesia.

4

Sejak tahun 1968 angka kesakitan rata-rata DBD di

Indonesia terus meningkat dari 0,05% (1968) menjadi 14,9% (1997), dengan angka kematian menurun dari 41,3% (1968) menjadi 2,3% (Maret 1998). Namun demikian angka kematian DBD berat/Dengue Shock Syndrome (DSS) masih tetap tinggi.5 Sampai saat ini, dari sekian faktor yang mempengaruhi angka kematian adalah kesukaran menduga penderita DBD mana yang akan mengalami renjatan, renjatan berulang dan berakhir dengan kematian. 6 Infeksi dengue pada umumnya mempunyai prognosis yang baik. Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, shock yang tidak teratasi, efusi pleura dan asites yang berat dan kejang. 2,3,7 1.2 Definisi Demam berdarah dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama. Uji tourniquet akan positif dengan atau tanpa ruam disertai beberapa atau semua gejala perdarahan seperti petikie spontan yang timbul serentak, purpura, ekimosis, epitaksis, hematemesis, melena, trombositopenia, hematokrit meningkat dan gangguan maturasi megakariosit. Pada keadaan tertentu DBD dapat memburuk yaitu terjadi syok. Syok adalah suatu keadaan klinis akibat perfusi jaringan yang tidak adekuat.5,6 1.3 Etiologi Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue serotipe 1 (DENV-1), 2 (DENV-2), 3 (DENV3), dan 4 (DENV-4) yang terutama ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes albopictus, Aedes polynesiensis, dan beberapa spesies Aedes lain merupakan vektor yang kurang berperan namun juga dapat menularkan derajat efek yang bervariasi. 1,3

2

Setelah itu disusul oleh periode tenang selama kurang lebih 4 hari. maka tubuh akan memberi reaksi. dimana virus melakukan replikasi secara cepat dalam tubuh. Dengan adanya virus dengue dalam tubuh. Aedes Aegypti 1. sehingga menimbulkan konsentrasi kompleks antigen antibodi (kompleks virus-antibodi) yang tinggi1.Gambar 1. Apabila jumlah virus sudah cukup maka virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia). 3 .8. Reaksi yang amat berbeda akan tampak.4 Patogenesis dan Patofisiologi Virus dengue memasuki tubuh manusia melalui gigitan nyamuk. dan akan timbul gejala panas. Berdasarkan hal ini timbullah yang disebut the secondary heterologous infection.Reinfeksi ini akan menyebabkan reaksi amnestik antibodi. bila seseorang mendapat infeksi berulang dengan tipe virus dengue yang berlainan.

menurunnya fungsi trombosit dan 4 . Secondary Heterologous Dengue Infection Kompleks virus-antibodi dalam sirkulasi akan mengaktivasi sistem komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepaskan C3a dan C5a. Disseminated intravascular coagulation (DIC) disamping trombositopenia.Secondary Heterologous Dengue Infection Virus replication Virus antibody complex Annamnestic antibody response Complement activation Complement ↓ Anaphylatoxin (C3a C5a ↑ histamin level in 24 – hours urine ↑ vascular permeability > 30% in shock cases 24 – 48 hours Leakage of plasma  Ht ↑  Na+ ↑  Fluid in the serous cavities Hypovolemia SHOCK Anoxia ┼ Acidosis Gambar 2. dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangnya plasma melalui endotel dinding itu.

9. 5-7 hari terjadi demam akut. X dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat.4 Setelah terinokulasi pada host manusia.2. virus dengue memiliki periode inkubasi 3-14 hari (rata-rata 4-7 hari). Ketiga faktor di atas menyebabkan (1) peningkatan permeabilitas kapiler. (2) agregasi trombosit menurun.8. Selain itu. Mengikuti inkubasi. fungsi agregasi trombosit menurun mungkin yang dibuktikan dengan peningkatan sekresi ADP dan metabolit prostasiklin plasma (PGI2) yaitu 6-keto-PGF1a (6KPGF1). yang disebabkan vaskulopati. Hal ini berakibat mengurangnya volume plasma. VII. histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikrein yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. IX.menurunnya faktor koagulasi (protrombin. terjadinya hipotensi.9 Fenomen patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan demam dengue dengan demam berdarah dengue ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilatoksin. trombositopenia. Sebagai reaksi terhadap infeksi terjadi (1) aktivasi sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilatoksin yang menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler dan terjadi perembesan plasma dari ruang intravaskuler ke ruang ekstravaskuler.3 Trombositopenia dihubungkan dengan meningkatnya megakariosit muda dalam sumsum tulang dan pendeknya masa hidup trombosit menimbulkan dugaan meningkatnya destruksi trombosit. faktor V. hemokonsentrasi. hipoproteinemia. dan (3) kerusakan sel endotel pembuluh darah akan merangsang/mengaktivasi faktor pembekuan. efusi dan renjatan 8. dapat bermanifestasi sebagai efusi pleura dan asites (2) kelainan hemostasis. Kesembuhan lengkap 5 . apabila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibat mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang. dan koagulopati yang dapat bermanifestasi sebagai petekie sampai perdarahan gastrointestinal. terutama perdarahan gastrointestinal pada DBD1.

10. sering kali dalam bentuk turun mendadak (lysis). tinggi (dapat mencapai 39-40oC) dan dapat disertai dengan menggigil. Ruam Ruam dapat timbul pada saat awal panas yang berupa flushing yaitu berupa kemerahan pada daerah muka. DBD atau DSS biasanya berkembang sekitar hari ketiga sampai hari ketujuh. berupa bercak-bercak merah kecil. dimana anak tampak lemah.5 Manifestesi Klinik Manifestasi klinis infeksi virus dengue bervariasi. sampai dengan sindrom syok dengue. nyeri sendi. rata-rata 4-6 hari.biasanya terjadi dalam 7-10 hari. Demam ini hanya berlangsung untuk 5-7 hari. 4. Nyeri seluruh tubuh Pada umumnya yang dikeluhkan adalah nyeri otot. 1. mulai dari asimptomatik.3. dan disertai dengan berkeringat banyak. penyakit paling ringan. demam dengue.2 1. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit. demam berdarah dengue.10 Gejala klinis yang ditunjukkan antara lain : 1. dan dada. Perdarahan 6 . Masa inkubasi dengue antara 3-14 hari. 3. yang disebabkan oleh kongesti pembuluh darah di bawah kulit.12 1. Pada saat demamnya berakhir. nyeri punggung dan nyeri pada bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan.11. 2. leher. Demam Demam yang terjadi pada infeksi virus dengue ini timbulnya mendadak.

5. Jika tidak mendapat pengobatan segera. purpura.8 Gambar 3. setelah demam berlangsung selama beberapa hari.6 Diagnosis Pada awal mulainya demam. hati dan limpa. Manifestasi Infeksi Virus Dengue 1. bakteri dan parasit. lidah sering kotor dan kadang-kadang pasien sukar buang air besar.1. DBD sulit dibedakan dari infeksi lain yang disebabkan oleh berbagai jenis virus. dan menyebabkan syok. Gejala lain yang dapat ditemukan antara lain : kelainan yang mungkin terjadi pada sistem retikuloendotelial. ekimosis. maka pembuluh darah akan menjadi kolaps.Gejala perdarahan pada pasien DBD mulai tampak pada hari ke-3 sampai ke-4 berupa petekie.Diagnosa ditegakkan dari gejala klinis dan hasil pemeriksaan darah : 1. disebut dengan dengue syok sindrome (DSS). Pada penderita DBD yang disertai renjatan. hematemesis. muntah. batuk ringan. melena. Hal ini biasanya terjadi pada saat atau setelah demam menurun yaitu di antara hari ke-3 dan ke-7 sakit. Setelah hari ketiga atau keempat baru pemeriksaan darah dapat membantu diagnosa. seperti pembesaran kelenjar getah bening. dan epistaksis. Sindrom ini sering fatal.5 7 . keadaan umum penderita tiba-tiba memburuk.3. mual.

Tidak 8 . Bentuk reaksi ketiga terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya komponen plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah sehingga membuat plasma darah mengalir ke luar menuju ke rongga perut berupa gejala ascites dan rongga selaput paru berupa gejala efusi pleura. 2. otot. Trombositopeni. Kadangkadang dari x-ray dada ditemukan efusi pleura atau hipralbuminemia yang menunjukan adanya kebocoran plasma. Hemokonsentrasi. berupa bercak-bercak merah kecil seperti bercak pada penyakit campak.000 sel/ mm3 2. 4. Bentuk reaksi pertama adalah terjadi netralisasi virus. jumlah hematokrit meningkat paling sedikit 20% diatas rata-rata. dan disusul dengan mengendapkan bentuk netralisasi virus pada pembuluh darah kecil di kulit berupa gejala ruam (rash). tubuh bagian belakang. Muka penderita pun menjadi memerah atau facial flush. Pada fase ini.dari penurunan jumlah dan kualitas komponen-komponen beku darah (trombosit) yang menimbulkan menifestasi pendarahan. Masa kritis penderita demam berdarah berlangsung sesudahnya.1. bentuk reaksi tubuh manusia terhadap keberadaan virus dengue melalui beberapa tahapan: 6. Kalau penderita jatuh dalam keadaan syok. Hasil laboratorium seperti ini biasanya ditemukan pada hari ketiga sampai ke-7. maka kasusnya disebut sebagai Dengue Shock Syndrome ( DSS ). penderita juga mengalami sakit pada kepala. tulang dan perut (antara pusar dan ulu hati). suhu badan turun (sering kali mendadak/lysis) dan biasanya diikuti oleh sindrom shock dengue karena perubahan yang tiba-tiba.7 1. jumlah trombosit kurang dari 100. yakni hari keempat dan kelima.6 Pada prinsipnya. Biasanya. 3. Bentuk reaksi kedua terjadi gangguan fungsi pembekuan darah sebagai akibat. Penurunan trombosit ini mulai bisa dideteksi pada hari ketiga.

6. Panas 2-7 hari. DBD dibagi menjadi 4 tingkat (WHO 1997) : 4. epistaksis. telinga dan sebagainya III. petekie. Bila hanya memberi reaksi bentuk 1 dan 2 saja maka disebut Demam Dengue. sedang bila ketiga bentuk reaksi terjadi baru disebut Demam Berdarah Dengue. ekimosis. tekanan nadi sempit ( ≤20 mmHg). Kenaikan nilai hematokrit/hemokonsentrasi Menurut derajat berat ringannya penyakit. Kriteria klinik DBD menurut WHO (1996) : 4.6. Dengan/tanpa hepatomegali 4. berkeringat dan kulit tampak biru . kemudian turun secara lisis. Sama dengan derajat I ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie. hematemesis dan melena. lemah nyeri pada punggung. yang tetap tinggi selama 2-7 hari.7 1. tekanan darah menurun. hematemesis dan melena 3. gejala umum tidak khas. tulang. ekimosis. uterus.13 I. epistaksis. Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat ( ≥ 120/menit). perdarahan gusi. uji tourniquet (+) II. perdarahan gusi. lembab dan pasien menjadi gelisah IV.jarang diikuti dengan muntah yang berkelanjutan dan suhu tubuh dingin dan lembab pada ujung jari serta kaki. Nadi tidak teraba. purpura. anggota gerak teraba dingin. tekanan darah tidak terukur (denyut jantung ≥ 140x/menit). Demam akut. atau hipotensi disertai kulit yang dingin. Demam disertai gejala tidak spesifik. persendian dan kepala 2. seperti anoreksia. 9 . Manifestasi perdarahan : uji tornikuet positif.

serta obat simptomatis untuk mengatasi keluhan dispepsia.15 Terapi nonfarmakologis yang diberikan meliputi tirah baring (pada trombositopenia yang berat) dan pemberian makanan dengan kandungan gizi yang cukup. lunak dan tidak mengandung zat atau bumbu yang mengiritasi saluaran cerna. Dalam pemberian terapi cairan. masih berdasarkan atas patokan yang telah dirumuskan oleh WHO pada tahun 1975. 10 . Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan. diagnosis DBD/DSS. Sebagai terapi simptomatis. Selain pemantauan untuk menilai apakah pemberian cairan sudah cukup atau kurang. Proses kebocoran plasma dan terjadinya trombositopenia pada umumnya terjadi antara hari ke 4 hingga 6 sejak demam berlangsung. pemantauan terhadap kemungkinan terjadinya kelebihan cairan serta terjadinya efusi pleura ataupun asites yang masif perlu selalu diwaspadai. Terapi cairan pada kondisi tersebut secara bertahap dikurangi.7 Penatalaksanaan13 Pada dasarnya terapi DBD adalah bersifat suportif dan simtomatis.2. hal terpenting yang perlu dilakukan adalah pemantauan baik secara klinis maupun laboratoris.6 1. 1. ditemukannya 2 atau 3 patokan klinis pertama (satu di antaranya ialah panas) disertai trombositopenia dan hemokonsentrasi sudah cukup untuk membuat diagnosis DBD. dapat diberikan antipiretik berupa parasetamol. Pemberian aspirin ataupun obat antiinflamasi nonsteroid sebaiknya dihindari karena berisiko terjadinya perdarahan pada saluran cerna bagaian atas (lambung/duodenum) 13. Pada hari ke-7 proses kebocoran plasma akan berkurang dan cairan akan kembali dari ruang interstitial ke intravaskular.Hingga kini.

serta periksa laboratorium (hematokrit.Tatalaksana Demam Berdarah Dengue tanpa syok13 Anak dirawat di rumahsakit Berikan anak banyak minum larutan oralit atau jus buah. Jangan berikan asetosal atau ibuprofen karena obat-obatan ini dapat merangsang terjadinya perdarahan. muntah/diare. trombosit. Berikan infus sesuai dengan dehidrasi sedang: o Berikan hanya larutan isotonik seperti Ringer laktat/asetat o Kebutuhan cairan parenteral Berat badan < 15 kg : 7 ml/kgBB/jam Berat badan 15-40 kg : 5 ml/kgBB/jam Berat badan > 40 kg : 3 ml/kgBB/jam o Pantau tanda vital dan diuresis setiap jam. turunkan jumlah cairan secara bertahap sampai keadaan stabil. air tajin. susu. air sirup. untuk mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma. Cairan intravena biasanya hanya memerlukan waktu 24–48 jam sejak kebocoran pembuluh kapiler spontan setelah pemberian cairan. Berikan parasetamol bila demam. Apabila terjadi perburukan klinis berikan tatalaksana sesuai dengan tata laksana syok terkompensasi (compensated shock). leukosit dan hemoglobin) tiap 6 jam o Apabila terjadi penurunan hematokrit dan klinis membaik. demam. 11 .

Ht. oralit. Bila suhu > 38. lihat Protokol 8) Protokol 7. trombosit tiap 12–24 jam Perbaikan klinis dan laboratorium Ht naik Pulang ( kriteria pulang ) tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik nafsu makan membaik Infus ganti RL (tetesan disesuaikan. sirup. susu. jus buah. Tatalaksana Kasus Demam Dengue 12 .50C beri parasetamol RAWAT INAP Pasang infus Jumlah dan jenis sesuai kebutuhan Pantau gejala klinis dan laboratorium Perhatikan tanda syok Palpasi hati setiap hari Ukur diuresis setiap hari Awasi perdarahan Periksa Hb.Demam dengue · · · · · · Gejala Klinis : demam 2–7 hari uji bendung (+) atau perdarahan spontan Laboratorium : Ht: tidak ada hemokonsentrasi Dengan atau tanpa trombositopeni Pasien masih dapat minum Pasien tidak dapat minum Pasien muntah terus-menerus RAWAT JALAN Beri minum banyak 1-2 liter/hari atau satu sendok makan tiap 5 menit Jenis minuman: teh manis.

Ht tiap 3 jam Perbaikan Sesuaikan tetesan Rumatan IVFD stop pada 24-48 jam bila tanda vital/Ht stabil dan diuresis cukup Protokol 8. Ht dan trombosit tiap 6 jam Perbaikan tidak gelisah nadi kuat tekanan darah stabil diuresis cukup (≥ 1 ml/kgBB/jam) Ht turun(2 kali pemeriksaan) Tanpa tanda-tanda syok Ht tetap tinggi/naik Perburukan gelisah distres pernapasan frekuensi nadi naik Hipotensi/tekanan nadi ≤ 20mmHg diuresis kurang/tidak ada Pengisian kapiler >2 detik Ht tetap tinggi/naik Masuk ke Protokol Syok (Protokol 9) Tetesan dikurangi Rumatan atau sesuai kebutuhan Tetesan dipertahankan Pantau lebih ketat Tanda vital setiap jam.DBD derajat I atau II Cairan awal RL/RA/NS : BB < 15 Kg : 6–7 ml/kgBB/jam BB 15 – 40 Kg : 5 ml/kgBB/jam BB > 40 Kg : 3 – 4 ml/kgBB/jam Pantau tanda-tanda vital tiap 3 jam. Tatalaksana kasus DBD derajat I atau II 13 .

kelebihan dan/atau pemberian cairan yang terlalu cepat .pemberian cairan intravena yang terlalu lama . jumlah cairan dikurangi hingga 10 ml/kgBB/jam dalam 2-4 jam dan secara bertahap diturunkan tiap 4-6 jam sesuai kondisi klinis dan laboratorium.14 Perlakukan hal ini sebagai gawat darurat. Berikan 20 ml/kg larutan kristaloid seperti Ringer laktat/asetat secepatnya.pemberian cairan intravena yang jumlahnya terlalu banyak dengan 14 . Jika terdapat perbaikan klinis (pengisian kapiler dan perfusi perifer mulai membaik. Ingatlah banyak kematian terjadi karena pemberian cairan yang terlalu banyak daripada pemberian yang terlalu sedikit. Berikan oksigen 2-4 L/menit secarra nasal.penggunaan jenis cairan yang hipotonik .beri koloid dan segera rujuk. ulangi pemberian kristaloid 20 ml/kgBB secepatnya (maksimal 30 menit) atau pertimbangkan pemberian koloid 10-20ml/kgBB/jam maksimal 30 ml/kgBB/24 jam. Bila tidak. Penanganan kelebihan cairan Kelebihan cairan merupakan komplikasi penting dalam penanganan syok. Hal ini dapat terjadi karena: . berikan transfusi darah/komponen. Dalam banyak kasus. Jika tidak ada perbaikan klinis tetapi hematokrit dan hemoglobin menurun pertimbangkan terjadinya perdarahan tersembunyi. Tatalaksana komplikasi perdarahan Jika terjadi perdarahan berat segera beri darah bila mungkin. cairan intravena dapat dihentikan setelah 36-48 jam. tekanan nadi melebar). Jika tidak menunjukkan perbaikan klinis.Tatalaksana Demam Berdarah Dengue dengan Syok13.

napas cepat . 15 .sianosis . hentikan pemberian cairan intravena dan jaga anak agar tetap istirahat di tempat tidur selama 24–48 jam.asites . • Jika syok sudah pulih namun anak masih sukar bernapas atau bernapas cepat dan mengalami efusi luas. Rujuk segera.kebocoran yang hebat.edema peri-orbital atau jaringan lunak.tarikan dinding dada ke dalam . Kelebihan cairan akan diserap kembali dan hilang melalui diuresis. Tatalaksana penanganan kelebihan cairan berbeda tergantung pada keadaan apakah klinis masih menunjukkan syok atau tidak: • anak yang masih syok dan menunjukkan tanda kelebihan cairan yang berat sangat sulit untuk ditangani dan berada pada risiko kematian yang tinggi. Tanda awal: .syok ireversibel. • Jika syok sudah pulih dan anak stabil.edema paru . Tanda-tanda lanjut kelebihan cairan yang berat .efusi pleura yang luas . berikan obat minum atau furosemid intravena 1 mg/kgBB/dosis sekali atau dua kali sehari selama 24 jam dan terapi oksigen (lihat halaman 302).

hipervolemia/overload dan respon pemberian cairan. Ht. 20 ml/kgBB secepatnya Perhatikan : Tanda-tanda hipovolemia. trombosit. leukosit. leukosit. ¤ EVALUASI TERATASI**** TIDAK TERATASI · · · · · · · · Kristaloid 10 ml/kgBB/jam O2 2 – 4 l/menit Hb. Tatalaksana DBD Grade III dan IV pada Anak 16 . Status keseimbangan Asam-Basa Pantau tanda vital Pantau diuresis (≥ 1ml/kgBB/jam) Stabil dalam 6-12 jam Ht ≤ 40% atau penurunan Ht 10-20% · · · · · · · · · Lanjutkan cairan Kristaloid 20 ml/kgBB/jam dan atau koloid 10-20 ml/kgBB/jam (Sesuai dengan dosis maksimal koloid ***) O2 2 – 4 l/menit Hb. trombosit.DBD derajat III atau IV Airway Breathing : O2 2-4 l/menit Circulation : cairan kristaloid * dan atau koloid **. Ht. Status keseimbangan Asam-Basa Pantau tanda vital Pantau diuresis (≥ 1ml/kgBB/jam) Stabil dalam 6-12 jam Ht ≤ 40% atau penurunan Ht 10-20% Kembali sesuai protokol 8 EVALUASI TERATASI**** TIDAK TERATASI Syok Berulang Ht turun Ht tetap tinggi / naik Tidak ada tanda-2 kelebihan cairan Kembali sesuai protokol 9 Transfusi PRC 10 ml/ kgBB Koloid 10-20 ml/kg BB/jam Sesuai dosis maksimum EVALUASI TERATASI **** TIDAK TERATASI ***** Pertimbangkan pemakaian inotropik dan koloid (sesuai dosis maksimum) Protokol 9.

Kematian terjadi pada kasus berat yaitu pada waktu muncul komplikasi pada sistem syaraf. 13 17 .8 Pencegahan14 a. pernapasan. DD dan DBD tidak ada yang mati. kardiovaskuler. Kebersihandiridanlingkungandengan 3 M (mengubur.9 Prognosis Infeksi dengue pada umumnya mempunyai prognosis yang baik. dan organ lain. Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat. menutup. efusi pleura dan asites yang berat dan kejang. shock yang tidak teratasi. membakar) sampahataukaleng yang memungkinkantempatperindukannyamuk b. 1. darah. Kematian dapat juga disebabkan oleh sepsis karena tindakan dan lingkungan bangsal rumah sakit yang kurang bersih.1.Mengurasbakmandiatautempat air satuminggusekali c. Membunuhnyamukdenganfogingdanjentiknyamukdenganabatisasi.

BAK dalam batas normal.Pada lengan pasien juga didapatkan bintik-bintik merah yang tidak gatal 1 hari setelah demam muncul. Demam mendadak tinggi dan terus-menerus. Keluhan juga disertai badan pegal-pegal.1 Kasus Seorang laki-laki 12 tahun datang ke IGD diantar oleh ibunya dengan keluhan keluar darah dari hidung 2 jam sebelum masuk rumah sakit. Terdapatuji tourniquet (+) padakeduaextremitas superior 18 . Darah bewarna merah kehitaman dna kental. Pemeriksaan Fisik: Keadaan umum : Tampak sakit sedang Tanda vital : Tekanan darah : 100/70 N T : 82 x/menit : 380 C Kepala dan leher : konjungtivapucat Thorax Abdomen Ekstremitas petekie (+) : dalambatas normal : dalambatas normal : akrtalhangat. Perdarahan terjadi 1 kali dan baru kali ini dialami pasien. BAB (-) sejak 2 hari. mual dan nyeri kepala.BAB II SIMULASI KASUS 2. Demam turun dengan pemberian parasetamol namun naik kembali. Ibu juga mengeluhkan anak demam 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Riwayat trauma disangkal.

3 Alasan Pengobatan Pada dasarnya pengobatan demam berdarah dengue bersifat suportif. 19 . Pemberian cairan diperlukan untuk mencegah terjadinya kebocoran plasma disertai pengawasan yang ketat terhadap terjadinya kemungkinan syok (hari ke 3-5 fase demam). yang ditandai dengan adanya peningkatan hematokrit ≥ 20% dari nilai hematokrit pada pemeriksaan sebelumnya. 2.000/ Ht LED : 48% : 40mm/jam Diagnosis : Demam Berdarah Dengue grade II 2. Karena pada awal timbulnya gejala klinis.2 Tujuan Pengobatan Menurunkan panas dan mencegah terjadinya kebocoran plasma. Perbedaan bisa dilihat dari adanya hemokonsentrasi atau kebocoran plasma pada demam berdarah dengue.Pemeriksaan Penunjang:Hasil pemeriksaan laboratorium darah lengkap Hb : 14 gr% Trombosit : 50. diberikan antipiretik untuk menurunkan panas dan nyeri sendi. Jadi. sangat sulit untuk membedakan antara demam dengue dengan demam berdarah dengue.

Ringer Laktat 2. Keamanan dan Kecocokan 25.Daftar Kelompok Obat beserta Jenisnya untuk Kasus Demam Berdarah Denguesesuaikasus Keluhan pada kasus meliputi : Demam. hipervolemia · Kerusakan dan demam ginjal · Edeme paru · Hipernatremia · Hiperkloremia Hiperhidrasi Mengembalikan keseimbangan elektrolit Ringer Asetat Sebagai cairan resusitasi (pengganti kehilangan cairan akut). dannyerikepala 2. Ringer Asetat 1. badanpegal-pegal. mual.4 Daftar kelompok obat dan jenisnya yang berkhasiat untuk kasus demam berdarah dengue KelompokObat Cairan Infus Antipiretik JenisObat 1.a CairanInfus Kelompok/ jenis obat Ringer laktat Khasiat (efek) Keamanan BSO (Efek Kecocokan Samping Obat) (kontraindikasi BSO) Efek samping : Kontraindikasi: Edeme jaringan pada · Hipernatremia penggunaan volume · Kelainan ginjal yang besar · kerusakan sel hati · asidosis laktat Kontraindikasi : Efek samping : · Gagal jantung Trombosis vena atau kongestif flebitis. Paracetamol 2. loading cairan pada saat induksi anestesi 20 .5 Perbandingan Kelompok Obat/jenisnya menurut Khasiat.

49 tpm (makro) Sesuai dengan kebutuhan cairan berdasarkan berat badan Diberikan cairan infus 21 paten. Kecocokan (Kontra Indikasi BSO) Pada penderita kelainan fungsi hati 2.b. larutan asering 500 ml IVFD Asering Merupakan cairan infus yang baik dan tepat untuk penatalaksanaan resusitasi cairan protap penatalaksanana DBD grade I atau II: BB < 15 kg : 6-7 ml/kgBB/jam BB 15-40 kg : 5 ml/kgBB/jam BB > 40 kg : 3-4 ml/kgBB/jam 5 ml/kgBB/jam pasien anak berusia dengan berat badan berkisar dari 15-40 kg (39 kg). BSO yang diberikan dan alasannya Dosis referensi Dosis kasus dan alasannya Frekuensi pemberian dan alasannya Cara pemberian dan . larutan Ringer laktat 500 ml IVFD RL Merupakan cairan infus yang baik dan tepat untuk penatalaksanaan resusitasi cairan protap penatalaksanana DBD grade I atau II: BB < 15 kg : 6-7 ml/kgBB/jam BB 15-40 kg : 5 ml/kgBB/jam BB > 40 kg : 3-4 ml/kgBB/jam 5 ml/kgBB/jam pasien berusia 12 tahun dengan berat badan ideal berkisar dari 15-40 kg (39 kg). nekrosis hati. Pemakaian lama menyebakan anemia hemolitik.25. Cairan Infus Uraian Nama Obat BSO (generik.5. Antipiretik Kelompok Obat/Jenisnya Asetaminofen (Parasetamol) Khasiat (efek) Analgesik. gangguan ginjal. 49 tpm (makro) Sesuai dengan kebutuhan cairan berdasarkan berat badan Diberikan cairan infus Obat Alternatif Asering (Ringer asetat) Asering (Ringer asetat) Sedian : Cairan infus.a. antipiretik Keamanan BSO (Efek Samping Obat) Eritem atau urtikaria. kekuatan) Obat Pilihan Ringer laktat Ringer laktat Sedian: cairan infus.5 Cairan Infus dan Obat yang Tepat untuk Kasus Demam Berdarah Dengue dan Alternatifnya 2.

guna menghindari syok hipovolemia. karena sediaan berupa tablet dan jikakondisi pasien yang masih memungkinkan untuk penggunaan obat secara oral dan Saat demam karena obat ini bersifat simptomatik dan sebaiknya diberikan sebelum makan karena efek parasetamol akan dihambat oleh makanan 22 .5. IVFD stop pada 24-48 jam bila tanda vital/Ht stabil dan diuresis cukup 2. sesuai dengan berat badan anak 4-6x sehari paten. karena jikapasien masih bisa menelan 10-15 mg/kgBB/kali 390-585 mg.b Antipiretik Uraian Nama Obat BSO (generik. BSO yang diberikan alasannya Dosis referensi Dosis kasus tersebut alasannya Frekwensi pemberian alasannya Cara pemberian alasannya dan dan dan Saat pemberian alasannya dan Oral. kekuatan) Obat Pilihan Parasetamol Generik : Paracetamol Tablet : 500 mg Sirup : 120 mg/5ml Paten : Sanmol® Tablet. karena pada demam berdarah dengue terjadi kebocoran plasma akibat meningkatnya permeabilitas pembuluh darah dan Pemberian dilakukan sesegera mungkin. guna menghindari syok hipovolemia.alasannya Waktu pemberian alasannya Lama pemberian alasannya guna sebagai cairan resusitasi (pengganti kehilangan cairan akut). karena pada demam berdarah dengue terjadi kebocoran plasma akibat meningkatnya permeabilitas pembuluh darah Pemberian dilakukan sesegera mungkin. dan IVFD stop pada 24-48 jam bila tanda vital/Ht stabil dan diuresis cukup guna sebagai cairan resusitasi (pengganti kehilangan cairan akut).

Lama pemberian alasannya dan Selama suhu masih tinggi. obat ini bersifat sebagai obat simptomatik yaitu antipiretik 23 .

prn.d.d.i.m.5 Banjarmasin Telp : (0511) 3252180 Nama Dokter : dr.2.m. A.A UPF/Bagian . Banjarmasin Pro : Nn.II No. Yani 45 Banjarmasin 24 . I R/Paracetamol tab 500mg S.m R/ Infusion set Surflo no.m fl. Amin. Anak Tanda tangan dokter Banjarmasin.ac (febris) No.i.20februari 2013 R/ IVFD RL 500 ml S. Yani km 1. Benyamin Permai 17 no 5. Allisa Umur : 25 Tahun Alamat : Jl.24 s. A. Raffa Umur : 12 tahun/39 kg Alamat : Jl. I No.6 Resep yang Benar dan Rasional untuk Kasus Demam Berdarah Dengue Resep Pilihan PEMERINTAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I KALIMANTAN SELATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH “ULIN” BANJARMASIN Jl. Sp.III Pro : An.t.tab I.

saat pemberian. 25 . Informasi yang jelas tentang cara penggunaan obat sangat penting untuk pengendalian obat dan jika masih didapatkan gejala setelah masa terapi maka perlu dilakukan evaluasi terapi dengan meminta pasien kontrol ulang. efek samping dan riwayat alergi. Setelah 3 jam keadaan pasien dievaluasi lagi. karena berat badan ideal anak untuk umur 12 tahun adalah 39 kg maka kebutuhan cairan maintenencenya 50 ml/kgbb/hari. frekuensi pemberian. Bila timbul efek samping.Dosis obat disesuaikan dengan referensi sesuai berat badan pasien untuk pasien yang berusia12 tahunberatbadanidealnyaadalah 39 kg. didapatkan 20 tpm. Apabila membaik maka kebutuhan cairan akan dikurangi yaitu sesuai kebutuhan cairan maintenence memakai rumus Darrow. cara pemberian. Bila terdapat riwayat alergi maka obat dapat diganti dengan obat alternatif.2. Pemberian cairan intravena RL 5ml/kgbb/jam merupakan terapi awal untuk demam berdarah dengue grade II sesuai dengan kasus. Untuk obat antipiretik dan antiemetik hanya diberikan apabila gejala demam masih ada. lama pemberian. maka diperlukan konsultasi dan obat tetap diteruskan untuk sementara atau dihentikan.6 Pengendalian Obat Pengendalian obat dilakukan dengan memperhatikan dosis. maka obat tersebut pemakaiannya dihentikan. Apabila gejala sudah tidak ada dengan tanpa pengobatan.

Pencegahan dan penanggulangan penyakit demam dengue dan demam berdarah dengue. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Obat-Obat Penting. 2nd Ed. Dengue haemorrhagic fever : diagnosis. 11. treatment. Pengobatan. dkk. Dalam: Kapita selekta Kedokteran. Academy of Medicine of Malaysia.htm. Communicable http://www.419-427. 1997. and control. Hemorrhagic Fever. Edisi IV. disease bulletin. 2000. Penggunaan. WHO.29-33. Available from: 6.1-42. 13. Demam Berdarah Dengue : Diagnosis. Isselbacher J Kurt dkk. Jakarta : EGC : 1999.who.S. 2002. Jakarta: PT. 2002. PelayananKesehatanAnak di Rumah Sakit.1-64. Bukusaku. Arif. Mansjoer Arif dkk. Khasiat. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. 5. Geneva: WHO Library Cataloguing in Publication Data.com/communicable_disease. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2. Demam Dengue. 12. Elex Media Komputindo. Dalam : Harrison’s Principles of Internal Medicine. Demam berdarah dengue. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI : 2006 : 17091713. Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Media Aesculapius.p. 3. United State of America : McGraw-Hill: 1998 : 1141-1143. Rebecca George. 14th edition. 8. WHO.h. FKUI.h. prevention. Consensus statement on the management of dengue infection in the paediatric population. 10. Mansjoer. 1988. dan Efek-Efek Sampingnya. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. 9.p. 1999. World Health Organization.h.h. Gramedia. 2011 26 . Jakarta : Media Aesculapius FKUI : 2004 : 428-433. Tjay TH. Suhendro dkk. Sri RHH dan Hindra IS. 7. Demam berdarah (dengue) pada anak. dan Pengendalian.P. Pencegahan.13-71. Sumarmo S. World Health Organization. PanduanPraktikKlinikPediatri.2009 14. Demam berdarah dengue.DAFTAR PUSTAKA 1. 4. Rahardja K. 2000. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1-14. Thomas Suroso et al. Malaysia: Chapter of paediatric.