A. Latar Belakang Perdarahan pada kehamilan harus dianggap sebagai kelainan yang berbahaya .

Perdarahan pada kehamilan muda disebut sebagai abortus sedangkan perdarahan pada kehamilan tua disebut perdarahan anterpartum. Batas teoritis antara kehamilan muda dengan kehamilan tua adalah 22 minggu mengingat kemungkinan hidup janin diluar uterus . Perdarahan anterpartum biasanya berbatas pada perdarahan jalan lahir setelah kehamilan 22 minggu tapi tidak jarang terjadi pula pada usia kandungan kurang dari 22 minggu dengan patologis yang sama. Perdarahan saat kehamilan setelah 22 minggu biasanya lebih berbahaya dan lebih banyak daripada kehamilan sebelum 22 minggu . Oleh karena itu perlu penanganan yang cukup berbeda . Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan perdarahan yang tidak bersumber pada kelainan plasenta umpamanya kelainan serviks biasanya tidak seberapa berbahaya. Pada setiap perdarahan anterpartum pertama-tama harus selalu dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada kelainan plasenta. Perdarahan anterpartum yang bersumber dari kelainan plasenta yang secara klinis biasanya tidak terlampau sukar untuk menentukannya ialah plasenta previa dan solusio plasenta serta perdarahan yang belum jelas sumbernya . Perdarahan anterpartum terjadi kira-kira 3 % dari semua persalinan yang terbagi atas plasenta previa , solusio plasenta dan perdarahan yang belum jelas penyebabnya. Pada umumnya penderita mengalami perdarahan pada triwulan tiga atau setelah usia kehamilan , namun beberapa penderita mengalami perdarahan sedikit-sedikit kemungkinan tidak akan tergesa-gesa datang untuk mendapatkan pertolongan karena disangka sebagai tanda permulaan persalinan biasa. Baru setelah perdarahan yang berlangsung banyak , mereka datang untuk mendapatkan pertolongan. Setiap perdarahan pada kehamilan lebih dari 22 minggu yang lebih banyak pada permulaan persalinan biasanya harus lebih dianggap sebagai perdarahan anterpartum apapun penyebabnya , penderita harus segera dibawah ke rumah sakit yang memiliki fasilitas untuk transfusi darah dan operasi . Perdarahan anterpartum diharapkan penanganan yang adekuat dan cepat dari segi medisnya maupun dari aspek keperawatannya yang sangat membantu dalam penyelamatan ibu dan janinnya. Latar Belakang Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat. Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok. Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu. Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam, sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian terjadi gawat janin, perdrhan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi. Solusio plasenta merupakan penyakit kehamilan yang relatif umum dan dapat secara serius membahayakan keadaan ibu. Seorang ibu yang pernah mengalami solusio plasenta, mempunyai resiko

Frekuensi plasenta previa pada primigravida yang berumur lebih 35 tahun kirakira 10 kali lebih sering dibandingkan dengan primigravida yang berumur kurang dari 25 tahun . Jadi yang dimaksud plasenta previa ialah plasenta yang implantasinya tidak normal. rendah sekali hingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum. bahwasanya vaskularisasi yang berkurang atau perubahan atropi pada desidua akibat persalinan yang lampau dapat menyebabkan plasenta previa . klasifikasi Plasenta Previa : a. Etiologi Plasenta bertumbuh pada segmen bawah uterus tidak selalu jelas dapat diterangkan . Dapat membuat perencanaan pada klien plasenta previa. . Definisi Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. B. Plasenta Previa Lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan dan mampu mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan pada klien plasenta previa. Tujuan Umum Mampu menerapkan asuhan keperawatan klien dengan plasenta previa 2. tidaklah selalu benar . Konsep Dasar Penyakit 1. serta menimbulkan perdarahan saat pembentukan segmen bawah rahim. 2. Plasenta previa parsialis. vias = jalan). Solusio plasenta juga cenderung menjadikan morbiditas dan bahkan mortabilitas pada janin dan bayi baru lahir. Menurut Prawiroharjo. Perdarahan tak dapat dihindarkankarena adanya ketidakmampuan selaput otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal. plasenta previa adalah plasenta yang ada didepan jalan lahir (prae = di depan . Tujuan 1. BAB II LANDASAN TEORI A. Tujuan Khusus a. Memang dapat dimengerti bahwa apabila aliran darah ke plasenta tidak cukup seperti pada kehamilan kembar maka plasenta yang letaknya normal sekalipun akan memperluaskan permukaannya sehingga mendekati atau menutupi sama sekali pembukaan jalan lahir . plasenta previa merupakan implantasi plasenta di bagian bawah sehingga menutupi ostium uteri internum. Pelebaran sekmen bawah uterus dan pembukaan servik menyababkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Pada grandemultipara yang berumur lebih dari 30 tahun kira-kira 4 kali lebih sering dari grandemultipara yang berumur kurang dari 25 tahun. b. apabila sebagian pembukaan (ostium internus servisis) tertutup oleh jaringan plasenta. c. Patofisiologi Perdarahan anter partum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 20 minggu saat sekmen uterus telah terbentuk dan mulai melebar dan menipis. Dapat merumuskan masalah dan membuat diagnosa keperawatan pada klien plasenta previa. Dapat melakukan pengkajian secara langsung pada klien plasenta previa. Menurut Cunningham. c.yang lebih tinggi mengalami kekambuhan pada kehamilan berikutnya. 3. d. Umumnya terjadi pada trimester ke tiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan. Plasenta Previa totalis : seluruh ostium internum tertutup oleh plasenta b.

Perdarahan vagina setelah minggu ke 20 kehamilan adalah karakteristik dari placenta previa. Ibu dengan plasenta previa pada umumnya asimptomatik (tidak memiliki gejala) sampai terjadi perdarahan pervaginam. Plasenta previa marginalis. dan biasanya tidak berat. Adakalanya kedua tipe-tipe dari pemeriksaan ultrasound adalah perlu. Pada umumnya perdarahan pertama terjadi tanpa faktor pencetus.d. Koagulapati jarang terjadi pada plasenta previa. polip. e. plasenta perkreta d. dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan plasenta atau jarak tepi plasenta terhadap ostium c. Jika didapatkan kecurigaan terjadinya plasenta previa pada ibu hamil. Dirumah sakit TTV pasien diperiksa. Adalah penting bahwa pemeriksaan ultrasound dilakukan sebelum pemeriksaan fisik dari pelvis pada wanita-wanita dengan placenta previa yang dicurigai. tergantung pada lokasi dari placenta. Pemeriksaan inspekkulo secara hati-hati dan benar. Kecacatan pada bayi 6. . maka pemeriksaan Vaginal Tousche (pemeriksaaan dalam vagina) oleh dokter tidak boleh dilakukan kecuali di meja operasi mengingat risiko perdarahan hebat yang mungkin terjadi. Komplikasi a. Plasenta akreta. plasenta inkreta. Pemisahan plasenta dari dinding rahim b. Pemeriksaan diagnostik a. Perdarahan sebelum atau selama melahirkan yang dapat menyebabkan histerektomi (operasi pengangkatan rahim). Penatalaksanaan Medis Episode pendarahan significan yang pertama biasanya terjadi di rumah pasien. Biasanya perdarahan tidak menyakitkan. Plasenta abruptio. apabila plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah uterus belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir atau plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir permukaan sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir.keganasan. Biasanya perdarahan tersebut tidak terlalu banyak dan berwarna merah segar. Prematur atau kelahiran bayi sebelum waktunya (< 37 minggu) e. 4. laserasi/troma) 7. Pemeriksaan ultrasound digunakan untuk menegakan diagnosis dari placenta previa. Gejala paling khas dari plasenta previa adalah perdarahan pervaginam (yang keluar melalui vagina) tanpa nyeri yang pada umumnya terjadi pada akhir triwulan kedua. Perdarahan terjadi karena pembesaran dari rahim sehingga menyebabkan robeknya perlekatan dari plasenta dengan dinding rahim. Evaluasi ultrasound transabdominal (menggunakan probe pada dinding perut) atau transvaginal (dengan probe yang dimasukan kedalam vagina namun jauh dari mulut serviks) mungkin dilakukan. karena pemeriksaan fisik pelvic mungkin menjurus pada perdarahan yang lebih jauh. Perdarahan mungkin mencakup dalam keparahan dari ringan sampai parah. namun ia dapat dihubungkan dengan kontraksi-kontraksi kandungan dan nyeri perut. karena akan mencetuskan perdarahan yang sangat berat. Gejala Klinis Perdarahan adalah gejala primer dari placenta previa dan terjadi pada mayoritas (70%-80%) dari wanitawanita dengan kondisi ini. dinilai jumlah darah yang keluar. Pemeriksaan darah : hemoglobin. dapat menentukansumberperdarahan dari karnalis servisis atau sumber lain (servisitis. c. hematokrit b. 5. apabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan (ostium internus servisis). Pemeriksaan ultra sonografi. meskipun latihan fisik dan hubungan seksual dapat menjadi faktor pencetus. Penatalaksanaan a. Pasien harus dirawat dirumah sakit dan tidak dilakukan pemeriksaan vagina. Plasenta letak rendah.

Penanganan di RS dilakukan berdasarkan usia kehamilan. tidak melakukan senggama. meskipun biasanya dilakukan sebelum tanggal yang disepakati. apabila letak kepala biasanya kepala masih goyang/floating . Pengkajian a. pendidikan. tergantung besar atau kecilnya robekan pembuluh darah dan placenta. taksiran Berat Janin kurang dari 2500g. mengedan karena sulit buang air besar). Sedikit banyaknya perdarahan. taksiran berat janin 2500g atau lebih lakukan PDMO. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Sering dijumpai kesalahan letak Bagian terbawah janin belum turun. Dalam kasus perdarahan hebat. Pasang infus NaCl fisiologis. B. pekerjaan. ibu tampak anemia. Pemeriksaan Ultrasonografi dilakukan segara setelah masuk. lakukan PDMO kolaborasi (PemeriksaanDalam Di atas Meja Operasi). Wanita yag memiliki derajat plasenta previa minor dapat memilih menunggu kelahiran sampai term atau denganinduksi persalinan. Jika perdarahan tidak hebat. TFU masih rendah. karena perdarahan berat dapat terjadi setiap saat b. d) Palpasi abdomen Janin sering belum cukup bulan. bila ada kontraksi tangani seperti kehamilan preterm. Pantau pula BJJ dan pergerakan janin. Plasenta previa derajat mayor ditangani dengan seksio seksarae pada waktu yang ditentukan oleh pasien ataudokter. diperlukan tindakan darurat untuk melahirkan bayi (dan plasenta) tanpa memperhitungkan umur kehamilan janin. medicalrecord dll.dandilakukan close match. Bila perdarahan berulang. Karena perdarahan ini cenderung berulang. Jika perdarahan lebih banyak. Bila tidak memungkinkan. umur. beri kortikosteroid 12 mg IV/hari selama 3hari. Penatalaksanaan keperawatan Sebelum dirujuk anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri. pantau tekanan darah dan frekuensi nadi pasien secara teratur tiap 15 manit untuk mendeteksi adanya hipotensi atau syok akibat perdarahan. Kehilangan darah yang banyak memerlukan transfusi. alamat. beri cairal peroral. bila teratasi. Bila terdapatrenjatan. bila bukan usahakan partus pervaginam. maka : Bila perdarahan sedikit. segera lakukan resusitasi cairan dan transfusi darah bila tidakteratasi. asalkan kondisinya sesuai.Dilakukan palpasi abdomen untuk menentukan umur kehamilan janin. namum pada kebanyakan kasus kehamilan dapat dilanjutkan hingga 36 minggu . bila ternyata plasenta previa lakukan persalinan perabdominam. Sifat perdarahan. upaya penyelamatan optimal. terbentuknya SBR. perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu/trimester III. tanpa nyeri.lalulakukan mobilisasi bertahap. untuk mengkonfirmasi diagnosis Penatalaksanaan selajutnya tergantung pada perdarahan dan umur kehamilan janin. perhatikan usia kehamilan. c) Inspeksi Dapat dilihat perdarahan pervaginam banyak atau sedikit. usia gestasi kurang dari 37 minggu. berulang Sebab perdarahan. rawat sampai sia kehamilan 37 minggu. menghidari peningkatan tekanan rongga perut (misal batuk. perawatan kehamilan dapat dibenarkan jika umur kehamilan janin kurang dari 36 minggu.dan posisinya. Episode perdarahan berat mungkin mengharuskan pengeluaran janin darurat. b) Keluhan utama : Gejala pertama. Bila tidak ada renjatan usia gestaji 37 minggu atau lebih.Bila terjadi renjatan.ibu harus tetap dirawat di RS. tanpa sebab. presentasi. placenta dan pembuluh darah yang robek. terbukanya osteum/ manspulasi intravaginal/rectal. kemudian pilihan melahirkan bergantung padaapakah derajat plasenta previanya minor atau mayor. Pengumpulan data 1) Anamnesa a) Identitas klien: Data diri klien meliputi : nama.

dan perdarahan. bulan dikurangi tiga. anemis (3) Hidung (4) Gigi dan mulut (5) Leher (6) Buah dada / payudara Peningkatan pigmentasi areola putting susu Bertambahnya ukuran dan noduler (7) Jantung dan paru Volume darah meningkat Peningkatan frekuensi nadi Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah pulmonal. (8) Abdomen Menentukan letak janin . dan penolong persalinan Jenis anetesi dan kesulitan persalinan Komplikasi maternal seperti diabetes. infeksi. Peningkatan volume tidal. TP ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT). tahun disesuaikan. adanya riwayat infeksi. Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada. ataukeduanya. tempat persalinan. jenis persalinan. dan penyakit ginjal bisa berefek buruk pada kehamilan.Wajah (2) Mata : pucat. d) Riwayat penyakit dan operasi: Kondisi kronis seperti dibetes melitus. Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didapatkan pada saat kunjungan pertama. dan trauma pada persalinan sebelumnya harus di dokumentasikan 3) Pemeriksaan fisik a) Umum Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil: (1) Rambut dan kulit Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola. Komplikasi pada bayi Rencana menyusui bayi b) Riwayat mensturasi Riwayat yang lengkap di perlukan untuk menetukan taksiran persalinan(TP). dan anak hidup (GPAH) Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi Pengalaman persalinan. Untuk menentukan TP berdasarkan HPHt dapat digunakan rumus naegle. Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha. Riwayat obstetri meliputi: Gravida. penurunan resistensi jalan nafas. c) Riwayat Kontrasepsi Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat buruk pada janin. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan berlanjut pada kehamilan yang tidak diketahui dapat berakibat buruk pada pembentukan organ seksual pada janin.2) Riwayat Kesehatan a) Riwayat Obstetri Memberikan imformasi yang penting mengenai kehamilan sebelumnyaagar perawat dapat menentukan kemungkinan masalah pada kehamilansekarang. prosedur operasi. para abortus. Terjadi hiperventilasi selama kehamilan. Laju pertumbuhan rambut berkurang. Oleh karena itu. yaitu hari ditambah tujuh. ibu. putting susu dan linea nigra. hipertensi. hipertensi. Diafragma meningga.

Penurunan cardiac out put berhubungan dengan perdarahan dalam jumlah yang besar.Menentukan tinggi fundus uteri (9) Vagina Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick) Hipertropi epithelium (10) System musculoskeletal Persendian tulang pinggul yang mengendur Gaya berjalan yang canggung Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis rectal b) Khusus (1) Tinggi fundus uteri (2) Posisi dan persentasi janin (3) Panggul dan janin lahir (4) Denyut jantung janin 2. Rencana keperawatan Diagnosa Tujuan/Kriteria No Intervensi Rasional Keperawatan Hasil 1 Penurunan kardiak Setelah 1. kardiak output pelayanan intervensi. 3. sampai nadi. b. hemodinamik dalam jumlah yang 24 merupakan besar jam diharapkan 2. c. untuk mencegah serta nilai komplikasi laboratorium seperti infeksi. Resiko tinggi cedera (janin) b/d Hipoksia jaringan / organ. volume darah nilai harus diperbaiki hemodinamik. Bantu dasar untuk penurunan pemberian perencanaan. kerusakan system imun. tidak terjadi atau kesehatan atau evaluasi. teratasi dengan mulai sarankan Memperbaiki kriteria hasil : terapi cairan IV volume vaskuler o Volume darah atau terapi membutuhkan intravaskuler dan transfusi darah terapi IV dan kardiak output sesuai kebutuhan. Kehilangan tekanan darah. TD serta akurat mengenai berhubungan tindakan jumlah status dengan perdarahan keperawatan 2 X perdarahan. Ansietas yang berhubungan dengan perdarahan kurangnya pengetahuan mengenai efek perdarahan dan menejemennya. profil darah abnormal. Diagnosa keperawatan a. Terapi Kehadiran . Kaji dan catat Pengkajian yang output dilakukkanya TTV. intervensi dapat diperbaiki farmakologi. 2 Ansietas Setelah 1. menunjukkan gangguan janin tanda normal dan gangguan vital ibu hamil.

berhubungan dengan kurangnya pengetahuan efek perdarahan dan manejemennya. Berikan pasangan informasi tentang manajemen yang sudah direncanakan. Pantau tanda/gejala syok 2. gagal ginjal.profil darah abnormal. Pasangan dapat mengungkapkan harapannya dengan kata-kata tentang manajemen yang sudah direncanakan. Hemoragi berlebihan dan menetap dapat mengancam hidup klien atau mengakibatkan infeksi pascapartum. Hb. Hal yang diberikan perawat akan memperkuat penjelasan dokter dan untuk memberitahu dokter jika ada penjelasan yang penting. 1. 2. Pengetahuan akan mengurangi ketakutan akan ha-hal yang tidak diketahui. Pendidikan pasien yang diberikan merupakan cara yang efektif mencegah dan menurunkan rasa cemas. 3. anemia pascapartum. bersama pasangan dan menyatakan perasaan. sehingga dapat mengurangi kecemasan pasangan. dan perawat dan pemahaman secara empati merupakan alat terapi yang potensial untuk mempersiapkan pasangan untuk menanggulangi situasi yang tidak diharapkan. hitung SDP. Resiko tinggi cedera (janin) b/d hipoksia jaringan/ organ. Catat suhu. atau nekrosis . Menentukan tingkat pemahaman pasangan tentang situasi dan manajemen yang sudah direncanakan. dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 diharapkan ansietas dapat berkurang dengan kriteria hasil : 1. 3. Kriteria evaluasi : Menunjukkan profil darah dengan hitung SDP.kerusakan system imun. dan pemeriksaan koagulasi DBN normal. Kaji jumlah darah yang hilang. KID.

Berikan heparin. Catat masukan/haluaran urin. 4. 4. Berikan antibiotic secara parenteral hipofisis yang disebabkan oleh hipoksia jaringan dan malnutrisi. Evaluasi . Kehilangan darah berlebihan dengan penurunan Hb meningkatkan risiko klien untuk terkena infeksi. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien. Heparin dapat digunakan pada KID di kasus kematian janin. Pelaksanaan Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Penurunan perfusi ginjal mengakibatkan penurunan haluaran urin. bila diindikasikan 5.bau serta warna rabas vagina. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. 5. 3. atau kematian satu janin pada kehamilan multiple. atau untukmemblok siklus pembekuan dengan melindungi factor-faktor pembekuan dan menurunkan hemoragi sampai terjadi perbaikan pembedahan Mungkin diindikasikan untuk mencegah atau meminimalkan infeksi. dapatkan kultur bila dibutuhkan. Catat berat jenis urin.

Evaluasi dapat berupa : masalah teratasi dan masalah teratasi sebagian. dapat menyebabkan kesakitan atau kematian baik pada ibu maupun pada janinnya. Sedangkan morbiditas/ kesakitan ibu dapat disebabkan karena komplikasi tindakan seksio sesarea seperti infeksi saluran kencing.5% disertai pula oleh pre eklampsia. sampai kemudian . 2004). 2004). Penilaian dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam melaksanakan rencana kegiatan klien secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan. 6. tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun. Kematian ibu disebabkan karena perdarahan uterus atau karena DIC (Disseminated Intravascular Coagulopathy). pneumonia post operatif dan meskipun jarang dapat terjadi embolisasi cairan amnion (Hanafiah. jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat. plasenta previa meningkatkan insiden kelainan kongenital dan pertumbuhan janin terganggu sehingga bayi yang dilahirkan memiliki berat yang kurang dibandingkan dengan bayi yang lahir dari ibu yang tidak menderita plasenta previa. Terhadap janin. Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam. Penilaian keperawatan adalah mengukur keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan perawatan yang dilakukan dalam memenuhi kebutuhan klien. Risiko kematian neonatal juga meningkat pada bayi dengan plasenta previa (Hanafiah. Faktor resiko yang juga penting dalam terjadinya plasenta previa adalah kehamilan setelah menjalani seksio sebelumnya . BAB III PENUTUP A. 15. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin. padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok. sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan komplikasi Plasenta previa dikategorikan pada asuhan keperawatan pada lingkup emergensi obstetri. darah yang telah keluar sukar diperhitungkan. Dari kasus solusio plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik.kejadian plasenta previa meningkat 1% pada kehamilan dengan riwayat seksio. Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah. Kesimpulan Perdarahan yang salah satunya disebabkan oleh plasenta previa. KESIMPULAN Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti. Maka untuk meminimalkan keterlambatan tahap III yaitu tidak adekuatnya penanganan di fasilitas kesehatan diperlukan perawat yang sudah melalui pendidikan formal seperti perawat spesialis keperawatan maternitas. Penkes Plasenta previa merupakan perdarahan di trimester ketiga dan jika tidak mendapat penanganan yang cepat bisa mendatangkan syok dan kematian.

Manoe dkk. Bagian /SMF obstetri dan ginekologi FK Unhas . Bagi Mahasiswa Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam memberikan pelayanan keperawatan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo. kontraksi uterus yang hebat. 2001. 2001. Media Aesculapius FKUI . Jakarta. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Sandra M. Sarwono. Pedoman Praktik Keperawatan. 2. Doenges & Mary Frances Moorhouse. Jakarta. Ujung Pandang. perdrhan hebat. . Jakarta. Penerbit buku kedokteran EGC. Ilmu Kebidanan. B. Bagi petugas-petugas Kesehatan Diharapkan dengan makalah ini dapat meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang keperawatan sehingga dapat memaksimalkan kita untuk memberikan health education dalam perawatan luka perineum untuk mencegah infeksi DAFTAR PUSTAKA Mansjoer. hipertomi uterus yang menetap. Pedoman Diagnosis Dan Terapi Obstetri Dan Ginekologi. Kapita Selekta Kedokteran .terjadi gawat janin.Jakarta Marilynn E. edisi ketiga . Saran 1. 1997. Penerbit buku kedokteran EGC. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi. 2001. Murah. Nettina. edisi kedua. 199. Arief.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful