TEORI – TEORI BELAJAR DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

MULYADIN 102104014 S1

PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL & PERENCANAAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2012/2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat limpahan rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah teori-teori belajar dan implikasinya dalam pembelajaran. Penulisan makalah ini adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran . Kami telah berusaha untuk membuat makalah ini sebaik mungkin namun tentu masih terdapat kekurangan. Untuk itu penulis sangat memerlukan kritik dan saran yang konstrukstif dalam rangka penyempurnaan penulisan berikutnya. Penulis juga ingin berterimakasih kepada orangtua dan semuanya yang telah mendukung dan membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga bantuan yang diberikan oleh semua pihak mendapat pahala yang berlipat ganda oleh Allah SWT dan semoga makalah ini memberikan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal „alamin.

Makassar ,

Desember 2012

Penulis

.............................................................1 Latar Belakang .............................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ......... DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................... ............. 19 ...................................... 1 1............... 17 3..........................................1 Teori-teori Belajar .................. PENDAHULUAN 1..........................2 Implikasi teori-teori Belajar dalam Pembelajaran .................................. ISI 2...........2 Saran .................................................. PENUTUP 3................................. ii I .......................................................................................................................................... i DAFTAR ISI ..................... 9 III ....................................1 Kesimpulan .......................2 Tujuan dan Manfaat ............................................................. 18 IV.............................. 2 2..... 1 II ...

(5) teori belajar bermakna dan disajikan pula beberapa implikasi teori tersebut dalam suatu pembelajaran 1. Makalah ini dirancang dengan mengetengahkan lima teori belajar dan implikasinya dalam pembelajaran. pisau pemilah dalam pemecahan masalah. (3) kognitif. (4) konsep. Suatu teori bukan hanya dapat membantu dalam memahami fenomena pembelajaran.BAB I PENDAHULUAN 1.2 Manfaat dan Tujuan Melalui makalah ini anda diharapkan mampu menerapkan teori-teori belajar tersebut dalam suatu pembelajaran yang anda lakukan. dan makalah ini dirancang agar anda lebih mudah memahami teori-teori tersebut sehingga betulbetul dapat dimanfaatkan dalam situasi nyata. Pembahasan teoritis dan contoh-contohnya disajikan pada Bab II. (2) humanisme. Teori yang anda kuasai akan menjadi kerangka pikir dalam mengambil putusan pendidikan atau pembelajaran.1 Latar Belakang Masalah Fenomena pembelajaran dapat dijelaskan dan dimaknai oleh teori-teori belajar. tetapi juga dapat menjelaskan dan memaknai setiap fenomena pembelajaran. Makalah ini menyuguhkan beberapa implikasi teoritis yang disertai contoh-contoh sehingga anda dapat mempelajarinya secara mandiri. . dan bahkan sebagai bagian hidup yang integratif. oleh karena anda merupakan personel yang akan terlibat di dalam pembelajaran maka pada bagian ini anda diajak berdiskusi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan teori-teori belajar dan implikasinya dalam suatu pembelajaran. yang materinya mencakup teori belajar (1) behaviourisme.

teori belajar bermakna. h. dan teori belajar konsep. menurut teori Thorndike disini belajar melalui langkah-langkah kecil yang sistematis dan bertahap daripada sebuah lompatan yang besar. Skinner. humanistik. Ditengah keresahan masyarakat akibat teori Watson munculah pendapat Thorndike (1874-1974) yang mengemukakan bahwa belajar lebih bersifat meningkat bertahap ketimbang karena hadirnya pemahaman. f. Hukum kesiapan Hukum latihan Hukum akibat Hukum berganda Sikap Elemen-elemen berpotensi Respons dengan analogi.BAB II ISI 2. Watson. e. Thorndike. dan Pergeseran asosiatif Setelah tahun 1930-an Thorndike meralat teorinya tersebut. J. c.F. Menurutnya. g. pemabuk. Hukum belajar yang diralatnya yakni hukum latihan dan hukum akibat.1.B Watson (1878-1958) mengemukakan bahwa perilaku manusia disebabkan oleh pembentukan faktor lingkungan. selanjutnya terserah dapat dibentuk mau jadi apa saja” Begitulah pendapat Watson yang akhirnya membuat para orang tua takut menyekolahkan anaknya karena khawatir anak mereka dijadikan orang gila. dan sebagainya. Bahkan ia mengemukakan pendapat untuk bayi Albert yang dinilai negatif oleh masyarakat Amerika waktu itu “ Beri aku bayi. Thorndike pada tahun 1930-an terkenal akan hukum-hukum belajarnya yaitu. a. 2. b.B.1 Teori – Teori Belajar Berbagai teori belajar yang dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran di Sekolah Dasar akan kita bahas bersama. Bagi Watson Lingkungan adalah faktor dominan dan yang paling penting bagi tumbuh berkembang anak. teori kognitif. dan B. Artinya. Adapun paparan dalam proses pembelajaran berkaitan dengan teori belajar behavioristik. d. hukum keterpakaian sebagai bagian dari hukum latihan yang menyatakana bahwa .1 Teori Behavioristik Tokoh pelopor teori behavioristik antara lain J.

Sementara Carl Rogers seorang ahli bimbingan konseling dengan teori client centered-nya berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang rasional. tidak sesuai dengan tujuan utamanya. Stimulus datang dari lingkungan yang dapat membangkitkan tanggapan individu. Menurut Maslow. Dalam revisi hukum akibat. Pemberian penguatan juga harus mewaspadai tricky matter. Thorndike mengemukakan bahwa reinforcement akan menguatkan suatu hubungan sedangkan hukuman tidak berpengaruh pada kekuatan hubungan. puncak kebutuhan yang sekaligus sebagai ukuran keberhasilan individu ialah berhasil dalam mengaktualisasikan diri dalam dunianya (Agus Taufik. rasa puas hanya terjadi sesaat saja sehingga manusia mencari peluang lain untuk menutupi kebutuhannya.2 Teori Humanisme Tokoh pelopor teori belajar Humanisme antara lain Abraham Maslow dan Carl Rogers. Sebaliknya peserta didik yang betul mengerjakan tugas diberi reinforcement berupa pujian sehingga ia semakin sungguh-sungguh dalam belajarnya. dan akibat. Reinforcement (penguatan) menjadi prinsip utama dalam memperkuat lekatnya hasil belajar pada individu (Agus Taufik. Dalam prosesnya mengandung tiga pokok yakni stimulus. 2007: 6. sosialis.6). murid yang diberi hukuman karena salah mengerjakan tugas belum tentu membuatnya mengulangi tugas pelajaran tersebut. Dalam mencapai sesuatu manusia tidak akan pernah puas. respon. seorang ibu meminta anaknya untuk menyapu rumah dengan iming-iming akan diberikan uang dengan tujuan anaknya mempunyai kebiasaan menyapu lantai hingga bersih. Adapun cara belajar menurut teori ini adalah dengan mengamati perkembangan peserta didik. Misalnya. Respon menimbulkan perilaku dari stimulus yang diberikan sedangkan akibat terjadi setelah individu memberi repson postif ataupun negatif. Masalahnya. Belajar dimodifikasi oleh lingkungan. 2. Perilaku terbentuk dengan adanya ikatan asosiatif antara stimulus dan respon. Suatu pemahaman yang tepat memberikan kepuasan pada diri individu tetapi mereka cenderung menghindari sesuatu yang tidak memberikan kepuasan.1. 2007:6. apa kita yakin bahwa anak itu menyapu kembali rumah di lain waktu dengan kesadaran dirinya sendiri? Mari kita teruskan ke teori selanjutnya. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang menghindari hal-hal yang menyakitkan dan berprilaku sesuai dengan pola stimulus respon yang terjadi. yakni proses penguatan yang keliru.pengulangan suatu perilaku pada praktiknya terkadang tidak akurat. Sebagai contoh. Maslow meyakini bahwa belajar merupakan kebutuhan akan perkembangan motivasi.5). ingin maju dan realistis sehingga manusia memiliki potensi untuk tumbuh .

Djawad Dahlan (1985:41) sampai kepada suatu ungkapan yang menyatakan bahwa learning to be free merupakan perkembangan yang berarti untuk menjadi manusia yang “menjadi” becoming human (Agus Taufik. Belajar yang bermakna tidak lain hanyalah belajar yang dapat memenuhi kebutuhan nyata individu (Agus Taufik. seperti hukuman. melakukan eksplorasi dan mengasimilasikan pengalaman baru. Prinsip learning to be free adalah ide Rogers untuk mengkonsepsikan pembelajaran berbasis becoming a person. a. pembelajaran berbasis learning to be free mampu membuat peserta didik bersikap lebih otonom. Adapun cara belajar menurut teori ini adalah dengan mengembangkan aktualisasi diri untuk mencapai puncak perkembangan individu. Rogers menempatkan manusia secara manusiawi dalam martabat kemanusiannya. Menurutnya. lebih spontan.7). freedom to be. mencemoohkan dan sebagainya. Bagi Rogers. kreativitas. Senada dengan pengalaman Rogers ini. Sikap mandiri. dalam membimbing perlu diberinya kebebasan. Apabila seseorang mampu mengembangkan potensinya serta merasa dirinya utuh. baik faktor internal maupun personal. Carl Rogers mengemukakan prinsip-prinsip belajar sebagai berikut ini. bermakna dan berfungsi (fully functioning person) maka orang itu bukan hanya akan berguna bagi dirinya sendiri tapi juga berguna bagi lingkungan sekitarnya. Teori ini berpendapat bahwa motivasi belajar harus datang dari dalam diri individu. dan percaya diri diperkuat dengan penilaian atas diri sendiri. Selain itu. .dengan aktual serta memiliki martabat yang tinggi. d. Proses belajar harus melibatkan pengalaman langsung. dan courage to be. sikap merendahkan murid. e. b. intelektual dan emosional sama sekali tidak ada pengaruhnya dalam proses pembelajaran.6). Belajar harus diperkuat dengan jelas mengurangi ancaman eksternal. berfikir serta merasakan kehendak sendiri dan melibatkan seluruh pribadi peserta didik sehingga hasil belajar dapat dirasakan diri individu. 2007: 6. penilaian. 2007: 6. Belajar atas inisiatif sendiri akan melibatkan keseluruhan pribadi. Belajar akan bermakna apabila materi yang dipelajari relevan dengan kebutuhan anak. Manusia mempunyai dorongan alamiah untuk belajar. dorongan ingin tahu. guru merupakan fasilitator yang memungkinkan peserta didik paham akan sesuatu hal. c. dan lebih meyakini dirinya sendiri.

2007: 6.8). 2007: 6.1. siap diberi masukan. Sikap empati (emphatic) merujuk kepada sikap guru yang mau memposisikan dirinya pada kerangka berfikir peserta didik sehingga guru dapat merasakan apa yang peserta didik rasakan dan alami. Kurt Lewin. Ini – ibu – Budi I – ini i – bu Bu – di I–n–i i–b–u B–u–d–i Kurt Lewin (1890-1947) merupakan pengembang teori motivasi di sekitar teori medan (Agus Taufik. kekonkretan (concreteness).8). Wolfgang Kohler (1887-1967).7). Kurt Koffka. Wolfgang Kohler.3 Teori Belajar Kognitif Tokoh pelopor teori belajar kognitif yang terkenal antara lain Max Wertheimer. Kurt Koffka (18861941) merupakan pionir teori gestalt (Agus Taufik. permulaan membaca untuk anak SD yang baik adalah mengajarinya keseluruhan baru dianalisis/dipisahkan per kata. keaslian (genuineness). Max Wertheimer (1880-1943). Teori ini mengemukakan bahwa semakin dekat peserta didik dengan medan belajarnya. Kekonkretan (concreteness) merujuk pada kejelasan dalam menyatakan sesuatu. 2007: 6. Artinya proses belajar dalam teori ini harus dimulai dari keseluruhan dahulu. Selain itu guru harus memiliki sikap empati (emphatic). Teori ini menekankan bahwa keseluruhan lebih berarti daripada bagian-bagian. baru menganalisa bagian-bagian atau unsur-unsurnya. terbuka (open mindedness).8). 2007: 6. Keaslian (genuineness) merujuk kepada penampilan apa adanya dan tidak dibuat-buat. 2. Contoh. dan per huruf. per suku kata. dan Jean Piaget. motivasi belajarnya cenderung lebih kuat dibandingkan peserta yang jauh motivasinya dari medan belajar.7). Medan yang dimaksud ialah medan psikologis sebagai arena belajar peserta didik (Agus Taufik. memberikan tanggung jawab sesuai dengan kemampuan peserta didik dan realistis. dan kehangatan (warmth) (Agus Taufik.Menurut teori ini salah satu karakteristik yang harus ada pada diri pendidik adalah memiliki kemampuan memotivasi belajar peserta didiknya. dan diberi pujian. siap dikritik. Kehangatan (warmth) merujuk pada jalinan komunikasi yang secara psikologis terasa nyaman dan aman bagi peserta didik disertai ketulusan dalam memberikan pelayanan pendidikan (Agus Taufik. Misalnya. 2007: 6. siap dinilai. Sementara Jean Piaget yang seorang ahli teori tahap mengemukakan bahwa perkembangan tahap kognitif individu dimulai dari periode sensori . Keterbukaan (open mindedness) merujuk pada kemampuan guru untuk membuka diri.

2) dapat mengklafikasikan objek-objek atas dasar satu ciri yang sama. Periode intuitif ditandai oleh dominasi pengamatan yang bersifat egosentris ( belum memahami cara orang lain memandang objek sama).motorik. Prestasi yang dicapai dalam periode ini ialah perkembangan bahasa. 0) Periode ini terbagi dua tahapan. hubungan tentang objek.0-4. Perilaku kognitif yang tampak. periode operasional konkret.0) dan intuitif (4:0-7. kontrol skema. Periode sensori motor (0. Piglet akhirnya berkesimpulan bahwa perkembangan kognitif seseorang melalui empat tahapan utama yang secara kualitatif setiap tahapan memunculkan kualikatif yang berbeda. Adapun cara belajar menurut teori ini adalah dengan proses pengenalan yang bersifat kognitif. sensitif terhadap rangsangan suara dan cahaya. 1) 2) 3) 4) 5) . yaitu prakonseptual (2. a. Periode konseptual ditandai dengan cara berpikir yang transuktif (menarik kesimpulan) tentang sesuatu yang khusus atas dasar hal khusus (contoh. 0-7. dan periode operasional formal. Tahapan kognitf Piaglet adalah sebagai berikut. Jean Piaget seorang ilmuan Prancis yang merupakan salah satu tokoh aliran kognitivisme melakukan penelitian tentang perkembangan kognitif individu sejak tahun 1920 sampai 1964. Oleh karena itu. b. mencoba bertahan pada pengalaman-pengalaman yang menarik. Periode praoperasional (2. faktor tahap perkembangan individu menjadi pertimbangan utama dalam berlangsungnya proses belajar.0). Orang dewasa menggunakan kemampuan kognitif yang lebih tinggi dalam belajar dibandingkan dengan anak. mendefinisikan objek/benda dengan memanipulasinya. Teori ini berpendapat bahwa cara belajar anak berbeda dengan cara belajar orang dewasa. antara lain: 1) self-centered dalam memandang dunianya. periode praoperasional. sapi disebut juga kerbau). 0-2. dan pengenalan hubungan sebab akibat. kerangka berpikir.0) Periode ini ditandai oleh penggunaan sensori motorik (dalam pengamatan dan pengindraan) yang intensif terhadap dunia di sekitarnya. mungkin pula memiliki perbedaan dalam hal yang lainnya. Perilaku kognitif yang tampak. antara lain : menyadari dirinya berbeda dari benda-benda lain di sekitarnya. pembentukan pengertian. mulai memahami ketepatan makna suatu objek meskipun lokasi dan posisinya berubah. seperti searah (selancar).

Perilaku kognitif yang tampak. konsep tentang ibu. Periode operasional formal (1.11).0) Periode ini ditandai dengan kemampuan untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal yang tidak terikat lagi oleh objek-objek yang bersifat konkret.4 Teori Belajar Konsep A.1. 2007: 6. 2) kemampuan mengembangkan suatu kemungkinan. 4) dapat menyusun benda-benda. ayah. Perilaku kognitif yang tampak pada periode ini ialah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika meskipun masih terikat dengan objek-objek yang bersifat konkret. Dalam periode ini anak mulai pula mengkonservasi pengetahuan tertentu. piring. Misalnya. Periode operasional konkret (7.0 atau 12. 0-11 atau 12. Belajar Konsep Konsep itu apa sih? Seseorang akan sulit mengetahui apa itu konsep kalau dia tidak mengetahui konsep akan lingkungannya. d. Konsep sangat erat kaitannya dengan reaksi dari stimulus-stimulus yang ada di lingkungan kita. 0-14 atau 15. dan hal-hal lain yang terkait dengan individu tersebut. 4) kemampuan menarik generalisasi dan inferensi dari berbagai kategori objek yang beragam. 3) kemampuan mengembangkan suatu proporsi atas dasar proporsiproporsi yang diketahui.0) Tiga kemampuan dan kecakapan baru yang menandai periode ini adalah mengklasifikasikan angka-angka atau bilangan. mandi. Menurut Dahlar (1996:76) konsep-konsep itu menyediakan skema-skema terorganisasi untuk mengasimilasikan stimulus-stimulus baru.3) dapat melakukan koleksi benda-benda berdasarkan suatu ciri atau kriteria tertentu. antara lain. c. tetapi belum dapat menarik inferensi dari dua benda yang tidak bersentuhan meskipun terdapat dalam susunan yang sama. dan untuk menentukan hubungan di dalam dan di antara kategori-kategori (Agus Taufik. 2. . 1) kemampuan berpikir hipotetik-deduktif.

d. Hasil belajar itu akan membangun fondasi berpikir individu. Hal itulah yang dijadikan dasar untuk memecahkan masalah secara relevan dan sesuai aturan. sulit sekali mendapatkan definisi konsep yang dipandang akurat.Misalnya anak tidak hanya bisa melihat tali tetapi juga bisa memainkannya.12). berkenaan dengan definisi konsep adalah sesuatu yang diterima dalam pikiran atau ide yang umum dan abstrak (Agus Taufik. misalnya atribut dari gajah ialah hewan dan belalai sehingga anak akan memahami kalau hewan yang berbelalai adalah gajah.Konsep-konsep yang dimiliki individu merupakan hasil dari proses belajar yang ia peroleh berdasarkan pengalaman kognitifnya. Misalnya anak sudah mengetahui apa yang namanya tali. Apa itu konsep? Tampaknya. memiliki orientasi ruang yang berbeda terhadap objek itu atau apabila objek tersebut ditentukan melalui suatu cara indra yang berbeda. Tingkat konkret Pencapaian konsep tingkat konkret ditandai oleh adanya pengenalan anak terhadap suatu benda yang pernah ia kenal. Sementara asimilasi konsep terjadi setelah anak mulai sekolah dan berlangsung secara deduktif. b. Bagaimana individu memperoleh konsep-konsep Kalau melihat teori Ausubel (1968) individu memperoleh konsep-konsep melalui dua cara. c. Tingkat-tingkat Pencapai Konsep Klausmeier mengemukakan 4 tingkatan pencapaian konsep sebagai berikut. Tingkat formal .11) B. yaitu melalui formasi konsep dan asimilasi konsep (Agus Taufik. Hal-hal yang banyak dikemukakan orang. 2007: 6. Tingkat identias Seseorang telah mencapai tingkat konsep identitas apabila ia sudah mengenal suatu objek setelah selang waktu tertentu. Tingkat classificatory Tingkatan ini anak bisa dikatakan sudah mampu mengenal persamaan dari suatu contoh yang berbeda dari kelas yang sama. Pada tingkat ini anak bisa membedakan stimulus-stimulus yang ada di lingkungannya dan anak sudah mampu menyimpan gambaran mental dalam sturuktur kognitifnya. C. a. Konsep-konsep yang diperoleh semenjak kecil dari lingkungan individu melahirkan formasi konsep. bisa dikatakan formasi konsep didapatkan sebelum individu itu memasuki bangku sekolah. Anak biasanya diberi atribut sehingga mereka belajar konseptual. 2007: 6. Misalnya buah jeruk yang masak dan jeruk yang mentah.

1.Pada tingkat ini anak sudah mampu membatasi konsep dengan konsep lain. 2. jika peserta didik menghubungkan informasi atau materi pelajaran baru dengan konsep-konsep atau hal lainnya yang telah ada dalam struktur kognitifnya maka terjadilah yang disebut dengan belajar bermakna. Apabila ia hanya mencoba-coba menghafalkan informasi atau materi pelajaran baru tanpa menghubungkannya dengan konsep-konsep yang lain di dalam struktur kognitifnya maka terjadilah yang disebut dengan belajar hafalan. Pertama. tidak terjadi proses asimilasi informasi atau materi pembelajaran baru. Belajar Hafalan Belajar hafalan dapat terjadi jika dalam struktur kognitif peserta didik belum ada konsep-konsep (subsumer) yang relevan dengan informasi atau materi pembelajaran baru. 2. Sedikitnya ada 2 yang mungkin terjadi jika pada diri seorang guru mampu menerapkan teori belajar yang diyakininya dalam kognisi nyata. teori yang dikenalnya itu cenderung meningkat baik secara kualitatif maupun kuantitatif sehingga pada suatu saat ia akan kaya dengan khazanah teori belajar dan pembelajaran.5 Belajar Bermakna: David Ausubel Dalam teorinya Ausubel membagi klasifikasi belajar menjadi 2 bagian yakni dimensi pertama yang menyangkut cara materi atau informasi diterima peserta didik dan dimensi kedua yang menyangkut cara bagaimana peserta didik dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran dengan struktur kognitif yang telah ada. Sebaliknya. Sedangkan teori kedua lebih kepada cara berfikir anak. Teori dimensi pertama lebih menitik beratkan pada penerimaan dan penemuan peserta didik. Kedua. 1. pembelajaran akan optimal baik dilihat dari sudut . Dengan belajar hafalan. membedakannya. Belajar Bermakna Inti dari teori ini adalah proses belajar yang mengaitkan informasi atau materi baru dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif.2 Implikasi Teori-Teori Belajar dalam Pembelajaran Penting bagi seorang pendidik untuk menerapkan teori belajar yang telah ia kuasai. memberikan nama atribut yang membatasinya bahkan sampai mengevaluasi atau memberikan contoh secara verbal 2. menentukan ciri-ciri.

21). Tujuan pendidikan bersifat eksternal. artinya guru yang mengendalikan proses pembelajaran tanpa campur tangan peseta didik. Hindari hukuman (punishments) yang bersifat fisik. afektif maupun psikomotorik agar peserta didik bisa lebih menguasai informasi atau pengetahuan. Guru/pendidik berperan sebagai fasilitator. . dan pendidik harus memberikan penguatan terutama yang bersifat psikologis dan menghindari penguatan yang lebih bersifat kebendaan. Pendekatan akademik yang lebih menekankan pada penguasaan secara tuntas terhadap apa saja yang dipelajari menjadi langkah penting dalam pencapaian teori behaviorisme ini.21). bukannya berpusat pada proses pembelajaran. akan tetapi justru guru/pendidik harus berperan aktif dalam suatu proses pembelajaran (Agus Taufik. Hasil belajar akan lebih bermakna jika prosesnya menyenangkan peserta didik dan terjadi penguatan (reinforcement). Crain (1980:9) guru. 2. Kurikulum yang berorientasi pada aliran behaviorisme harus sudah menggambarkan perincian tentang apa-apa yang hendak disajikan kepada peserta didik. orang tua. 2. Sedangkan penghargaan (rewards) seharusnya diberikan hanya kepada perilaku yang masuk akal (reasonable) dan tidak bersifat memanjakan. 2007: 6. Menurut Rogers seorang pendidik harus berperan aktif dalam hal-hal berikut ini. Peserta didik harus diberi kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kesadaran dirinya untuk perkembangan aspek kognitif. pengajar harus bisa memfasilitasi tumbuhnya motivasi belajar dalam diri peserta didik. Kurikulum harus dikristalisasikan dalam satuan acara pembelajaran (SAP) yang dirancang sedemikian rupa sebelum proses pembelajaran dimulai. 2007: 6. Menurut William C. peserta didik menjawab benar maka diberi penguatan oleh guru/pendidik dengan mengucapkan “Jawabanmu bagus” atau “tepat” dan sebagainya.2. Teori ini meyakini bahwa guru adalah fasilitator bukan sebagai pengajar belaka.2 Implikasi Teori Humanisme dalam Pendidikan Pandangan kalangan humanisme tentang proses belajar mengimplikasikan perlunya penataan peran guru/tenaga kependidikan dan prioritas pendidikan (Agus Taufik.20).1 Implikasi Teori Belajar Behaviorisme dalam Pembelajaran Proses pembelajaran berpegang teguh pada prinsip dan pemahaman aliran behaviorisme menekankan pada pentingnya keterampilan dan pengetahuan akademik maupun perilaku sosial sebagai hasil belajar (Agus Taufik.2. bukan berarti ia harus pasif. Artinya. 2007: 6.pandang pengembangan peserta didik maupun aktualisasi kemampuan guru itu sendiri. Misalnya.

3 Implikasi Teori Kognitif dalam Pendidikan Dari aliran psikologi kognitif. Contohnya. Selain itu kurikulum juga tidak bersifat kaku. Membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif dan sikap positif terhadap pembelajaran. Piaget mengemukakan bahwa kemampuan berfikir anak dengan orang dewasa itu berbeda. 2. Dalam teorinya. Bagi anak SD pengoperasian suatu penjumlahan harus menggunakan benda-benda nyata. Diusahakan agar materi yang diajarkan harus dapat menarik minat anak dan menantang sehingga mereka merasa senang dan akhirnya terlibat dalam proses pembelajaran. 4. 5. 4. untuk menjelaskan operasi penjumlahan 4+2 lebih baik guru memperagakannya . Menyediakan sumber-sumber belajar. kenali dan bina minat peserta didik melalui penemuannya terhadap diri sendiri. terutama di kelas-kelas awal karena tahap perkembangan berpikir mereka baru mencapai tahap operasi konkret. 2. tidak harus berpusat pada guru. usahakan sumber belajar yang mungkin dapat diperoleh peserta didik untuk dapat memilih dan menggunakannya.22). Artinya urutan bahan pembelajaran harus menjadi perhatian utama. Rogers menyarankan agar terciptanya iklim kelas yang memungkinkan terjadinya belajar bermakna perlu dilakukan hal-hal berikut: 1. teori Piaget tampak lebih banyak digunakan dalam praktik pendidikan atau proses pembelajar meskipun teori ini bukanlah teori mengajar (Agus Taufik. 2. Anak akan sulit memahami bahan pelajaran jika urutan bahan pelajaran itu loncat-loncat. gunakan pendekatan inquiry-discovery.1. 3. 2007: 6. Belajar bermakna terjadi jika kebutuhan peserta didik disertai motivasi instrinsik dapat terpenuhi.2. Dalam teori Piaget peserta didik harus dibimbing agar aktif menemukan sesuatu yang dipelajarinya. 3. Guru harus arif dan paham betul atas keunikan peserta didik. Membantu peserta didik mengembangkan dorongan dengan tujuannya sebagai kekuatan pembelajaran. tekankan pentingnya penilaian diri sendiri dan biarkan peserta didik mengambil tanggung jawab untuk memenuhi tujuan belajarnya. Membantu peserta didik mengklasifikasikan tujuan belajar dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta didik secara bebas menyatakan apa yang ingin mereka pelajari. terimalah peserta didik apa adanya.

kontrol skema. Kemampuan mengoperasikan kaidah penjumlahan. Akan tetapi. Oleh karena itu. kerangka berpikir. Untuk terjadinya proses belajar harus tidak ada proses paksaan agar sifat egosentrisnya tidak terbunuh. Materi harus sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif dan harus merangsang kemampuan berpikir mereka. Tahap kemampuan berpikir pra-operasional ditandai dengan berpikir anak yang bersifat egosentrik-simbolik. pembentukan pengertian. Anak dikondisikan untuk belajar mengeksplorasi. metode pembelajaran yang paling tepat ialah metode bermain. berapa jumlahnya anak-anak?” Dalam proses pembelajaran guru/pendidik harus memperhatikan tahapan perkembangan kognitif peserta didik. pada kelas-kelas awal (1 dan 2) masih terbatas pada operasi penjumlahan dan pengurangan sederhana. bahkan berpikir menurut konsep sendiri. Jadi. Ini berarti proses belajar di SD kelas-kelas bawah harus disertai dengan benda-benda konkret. pengurangan. Tahap kemampuan berpikir operasional konkret ditandai oleh kemampuan anak untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika meskipun masih terikat oleh objek-objek yang bersifat konkret. dan pengenalan hubungan sebab akibat. caranya: “Empat buah jeruk ini ditambah dengan dua buah jeruk yang itu.dengan memperlihatkan 4 benda dan 2 benda. mencari dan menemukan (inquiry- . Begitu pun penggunaan benda-benda konkret sebagai simbol harus digunakan dalam merangsang pemikiran anak ketika proses belajar berlangsung. Rangsangan tersebut dapat dilakukan dengan cara selalu mengajak bicara pada bayi. Metode ini selain tidak mengubur sifat egosentris anak juga merupakan dunia anak. buktinya anak senang bermain dan ia akrab dengan bermain. Tahap kemapuan berpikir formal mengimplikasikan bahwa anak melalui proses belajar mengajar harus mampu menemukan sendiri. Pada tahap ini anak sudah mampu berpikir logis dan abstrak mengenai situasi-situasi aktual maupun hipotetik. Tahap kemampuan berpikir sensori motorik mengimplikasikan bahwa bagi proses belajar harus mencapai kerangka dasar kemampuan berbahasa. perkalian dan pembagian mulai tampak. hubungan tentang objek. memberi keleluasaan gerak. Tahapan perkembangan berpikir praoperasional ini terutama terjadi pada anak usia TK. dan memangku bayi dengan posisi kepala selalu menghadap depan. Tahap ini umumnya dialami anak SD. Implikasi dalam proses belajarnya ialah belajar harus berpusat pada anak karena anak melihat sesuatu berdasarkan dirinya sendiri. Ini berarti bahwa orang tua atau lingkungan harus dapat memberikan rangsangan yang banyak terhadap bayi. Ini berarti bahwa guru harus menciptakan suatu situasi yang memungkinkan anak berinteraksi dengan yang lainnya dan juga guru. memecahkan masalah sendiri. membawa jalan-jalan kepada bayi untuk mengenalkan objek yang ada disekelilingnya.

Penentuan Konsep-konsep yang akan diajarkan Ada dua hal yang harus kita pertimbangkan ketika akan memberikan pembelajaran konsep. konsep-konsep yang diajarkan harus sesuai dengan perkembangan kognitif atau usia peserta didik atau tergantung pada pencapaian konsep mana yang akan diajarkan kepada peserta didik. Analisi konsep . dan (2) perencanaan pelajaran yang mencakup (1) penentuan tingkat pencapaian konsep. tingkat klasifikasi atau tingkat formal? Hal ini harus betulbetul dipertimbangkan sebab akan terkait dengan sampai sejauh mana penganalisisannya.discovery). Artinya. Kedua. Pertama. Perencanaan Pembelajaran Konsep Jika anda sudah memilih konsep-konsep yang akan diajarkan maka selanjutnya anda perlu menentukan strategi-strategi pembelajaran. yaitu (1) penemuan konsep-konsep yang akan diajarkan. 2. a.2. perkembangan kognitif atau usia peserta didik yang kerap kali membuat biasnya pembelajaran konsep. Namun demikian. Tentu saja seorang guru harus tetap berpedoman kepada kurikulum yang berlaku sehingga lebih menambah kejelasan orientasi tujuan pendidikan kita. Ada 2 langkah yang perlu dilaksanakan dalam rencana pembelajaran konsep. Penentuan tingkat pencapaian konsep Penentuan tingkat pencapaian konsep perlu didasarkan kepada tuntutan kurikulum. yaitu berikut ini. Tetapi kebanyakan guru lebih menenkankan pada konsepkonsep yang bersifat emergency bagi peserta didiknya. perkembangan peserta didik. dan tingkat kepentingan konsep. 2. b. tingkat pencapaian konsep yang diharapkan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dirumuskan. guru harus tetap memperlihatkan dimensi perkembangan kognitif dan tujuan pencapaian konsep-konsep yang akan diajarkan.4 Implikasi Teori Belajar Konsep dalam Pembelajaran Ada 2 langkah dalam pembelajaran yang berbasis teori belajar konsep. Metode inquiry-discovery dengan logika yang tinggi sudah bisa digunakan dalam proses belajar mengajar. Apakah konsep yang diharapkan dicapai pada tingkat konkret. dan (2) analisis konsep 1.

dan sekarang sudah berbunga.” Bu Pulan : “Bagus jawabannya. Pada suatu hari Bu Pulan mengajarkan materi pembelajaran tentang ciriciri makhluk hidup. Peserta didik 1 : “Karena kucing itu dapat berjalan. contoh-contoh dan noncontoh. Ini dapat terjadi pada diri kita karena ada satu hal yang menonjol dari Ausubel dalam menyusun teorinya. Anak-anak apakah kucing termasuk makhluk hidup?” Peserta didiknya menjawab serempak: “Ya. Bu. hari ini kita akan mendiskusikan tentang ciri-ciri makhluk hidup. 2. Mengapa Bu Pulan mempertanyakan dahulu hal tersebut kepada peserta didiknya. “Mengapa disebut makhluk hidup?”.Analisis konsep mencakup nama. dan hubungan konsep dengan konsepkonsep lain. mungkin kita akan tertarik dengan teorinya dan cara Ausubel berteori.. yaitu kemampuannya mengoperasionalkan teori tersebut dalam bentuk nyata dalam suatu proses pembelajaran. Bu Pulan mengulas dahulu konsep makhluk hidup yang telah dikenal peserta didiknya. Bagaimana Ausubel menerapkan teori belajarnya dalam proses pembelajaran? Untuk memberikan jawaban sementara atas pertanyaan tersebut marilah kita coba kaji kasus berikut ini. Bu. Sebelum sampai kepada pokok bahasan tersebut.2. atribut-atribut kriteria dan variabel.” Peserta didik 2 : “Karena suka makan ikan.!”.5 Implikasi Teori Belajar Bermakna Ausubel dalam Pembelajaran Jika kita bandingkan antara Ausubel dengan teoriwan lainnya.. Sebab bunga tersebut kan tumbuh dari kecil. Inilah sisi yang menarik dari Ausubel sehingga banyak kalangan yang peduli terhadap teori belajarnya. Kata Bu Pulan. definisi.. Dimana letak kesesuaian dengan teori belajar dari Ausubel? Kalau kita kaji lebih cermat maka akan terlihat bahwa Bu Pulan sedang berupaya mengaitkan . “Anak-anak yang ibu cintai.. kalau bunga yang tumbuh di halaman itu juga makhluk hidup? Bunga kan tidak dapat berjalan? Peserta didik : “Bunga itu pun termasuk makhluk hidup.

Belajar Superordinat Tampaknya belajar superordinat jarang terjadi di sekolah. mari kita pelajari bagian-bagian pemaparan berikut ini. Caranya dengan mengembangkan konsep-konsep yang lebih umum terlebih dahulu. Intinya merupakan proses penggalian pengalaman masa lalu yang sudah ada dalam struktur kognitf peserta didik yang relevan dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan. Penyusunan konsep seperti ini. 1996) dan mempersiapkan pengetahuan siap (Abin Syamsiddin. dan penyesuaian intergratif. yang disampaikan sebelum materi pokok pembelajaran dibahas. advance organizer tersebut suka dianggap semacam pertolongan mental. selanjutnya diberikan konsep-konsep yang lebih mendetail dan khusus sampai kepada contoh-contoh. Advance Organizer Sejak tahun 60-an. sebab kebanyakan guru dan buku sekarang menyajikan konsep-konsep yang lebih inklusif.materi ciri-ciri makhluk hidup dengan konsep makhluk hidup. suatu konsep yang diajarkan perlu disusun secara hierarkis. Untuk mendalami beberapa implikasi teori belajar Ausubel tersebut. belajar superordinat. konsep-konsep tersebut dikembangkan dari umum ke khusus. tetapi ada kalanya penyajian seperti itu mengalami masalah. konsep advance organizer menjadi bagian penting dalam bukunya yang berjudul The Psychology of Meaningful Verbal Learning. Dalam implikasi teori Ausubel yang diperagakan Bu Pulan merupakan salah satu contoh penerapan konsep Advance Organizer dalam proses pembelajaran versi Ausubel. . Kalau begitu maka penting juga dipahami apa yang disebut belajar superordinat. Ausubel telah memperkenalkan istilah Advance Organizer. Novak (1985) mengajukan penerapan peta konsep dalam suatu proses pembelajaran dengan tujuan agar lebih bermakna. Oleh karena itu. Ausubel mengajukan beberapa implikasi. Dengan demikian. 2. Advence organizer diartikan sebagai pengatur awal (Dahlar. dalam konsep belajar bermakna menurut Ausubel dipandang perlu terjadinya pengembangan dan elaborasi konsep-konsep yang tersubsumsi. 3. diferensiasi progresif. Pada tahun 1963. yaitu advance organizer. Oleh sebab itu. disebut dengan istilah diferensiasi progresif. Dalam penerapan teorinya pada proses pembelajaran. Diferensi Progresif Kalau kita cermati secara jeli. 1999). Dalam mendukung pendapat Ausubel tersebut. 1.

Pertentangan seperti itu. Di situ tampaklah bahwa mamalia sebagai superordinat dan kucing. lebih inklusif (Dahar. yang berarti orang yang melahirkan atau yang dituankan pun dapat menimbulkan pertentangan kognitif bagi anak. Artinya perlu diperlihatkan keterkaitan antara konsep-konsep umum dengan konsep-konsep khusus. . Misalnya. anjing termasuk kelompok binatang mamalia. anjing juga sapi sebagai subordinat. jantan dan sebagainya. Ausubel berpendapat bahwa suatu pembelajaran yang bermakna tidak harus selalu terjadi secara diferensiasi progresif. yaitu racun. seperti kata “ibu”. Selain itu perlu jelas pula konteks dan rentetan penggunaan kata yang telah melebar maknanya atau kasus makna dwifungsi dan sebagainya. ketika anak kecil belajar mengenal kucing. 4. Misalnya. umumnya membuat anak bertanya kapan saya harus mengatakan “bisa” yang berarti dapat dan kapan saya harus mengatakan “bisa” yang berarti racun. tetapi harus terjadi upaya penggerakan kerangka hierarkis konseptual ke atas dan ke bawah. ia juga belajar dari unsur keberbuluan maka muncullah kelompok binatang menyusui atau mamalia maka kucing. Bu Pulan berkata “Coba bukunya berikan ke Ibu!” Menurut Ausubel untuk mengatasi atau mengurangi pertentangan kognitif seperti itulah pentingnya penggunaan prinsip-prinsip penyesuaian intergratif yang sering disebut dengan istilah rekonsiliasi integratif. awalnya semua kucing sama. sapi. Lalu. Penggunaan kata maknanya sudah meluas. Penyesuaian Integratif Terkadang anak dihadapkan kepada permasalahan dwifungsi suatu konsep dan dengan kenyataan ini mereka mengalami semacam pertentangan kognitif. penggunaan kata bisa yang berarti dapat/mampu dan arti lainnya. Misalnya. 1996). Tetapi setelah belajar lebih jauh maka ia mulai membedakannya dengan kucing betina.Belajar suborinat jarang terjadi bila konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya dikenal sebagai unsur-unsur dari suatu konsep yang lebih luas.

Kesimpulan Proses belajar terjadi dengan adanya tiga komponen pokok yaitu stimulus. superordinat yang merupakan pengenalan terhadap konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya sebagai unsur-unsur dari suatu konsep yang lebih luas. Keempat. advance organizer dan entry behavior pengetahuan siap. Menurut pandangan ini guru/tenaga kependidikan berperan sebagai fasilitator daripada sebagai pengajar belaka. Pertama. Sedangkan akibat adalah sesuatu yang terjadi setelah individu merespons baik yang bersifat positif ataupun yang negatif. Stimulus adalah sesuatu yang datang dari lingkungan yang dapat membangkitkan respons individu. Kedua diferensiasi progesif yang menentukan proses pembelajaran yang berlangsung dari umum ke khusus. penyesuaian interaktif yang merupakan upaya untuk mengatasi dan mengurangi terjadinya pertentangan kognitif dalam proses pembelajaran. Sedikitnya ada empat aplikasi teori belajar yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. kegiatan-kegiatan atau hubungan yang mempunyai atribut-atribut yang sama. kejadian-kejadian. Konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu kelas objek-objek. Teori belajar Humanisme memandang bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor internal dirinya dan bukan oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan. Respons menimbulkan perilaku jawaban atas stimulus.BAB III PENUTUP A. respons. dan akibat. Pandangan kalangan humanisme tentang proses belajar mengimplikasikan perlunya penataan peran guru/tenaga kependidikan dan prioritas pendidikan. . Ketiga.

B. . Selain dapat memotivasi peserta didiknya. bertanggung jawab. jelas dalam menyatakan sesuatu. dan tulus dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didiknya. seorang guru/pendidik harus memiliki sikap empati. Saran Guru/tenaga kependidikan sebaiknya bukan lagi sebagai pusat proses pembelajaran. terbuka. berpenampilan apa adanya. tetapi yang terpenting adalah memfasilitasi tumbuhnya motivasi belajar secara intrinsik pada diri peserta didik. Kebutuhan peserta didik harus menjadi bahan pertimbangan yang akan disampaikan.

Agus Taufik dan Puji Lestari Prianto. Pendidikan Anak di SD. 2007. Jakarta: Universitas Terbuka . Hera Lestari.DAFTAR PUSTAKA Mikarsa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful