1

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kebanyakan lanjut usia (lansia) memiliki satu atau lebih keadaan atau ketidakmampuan fisik yang kronis. Masalah kesehatan kronik yang paling sering terjadi pada lansia adalah artritis, hipertensi, gangguan

pendengaran, penyakit jantung, katarak, deformitas atau kelemahan ortopedik, sinusitis kronik, diabetes, gangguan penglihatan, varicose vein (Sadock, 2007). Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia (meningkatanya kadar gula darah) yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya (Sudoyo, 2009). Menurut data World Health Organization (WHO), diperkirakan pada tahun 2000, terdapat 171 juta orang pasien diabetes melitus, dan diperkirakan pada tahun 2030, angka tersebut akan meningkat menjadi 366 juta orang. Data menunjukkan pada tahun 1995, Indonesia berada di tempat ke tujuh dalam 10 negara untuk estimasih jumlah orang dewasa dengan diabetes dengan jumlah 4.5 juta orang (Gupta dan Phatak, 2003). Namun, pada tahun 2000, jumlah ini meningkat pada 8,4 juta orang dan menyebabkan Indonesia meningkat menjadi turutan yang ke empat. Sedangkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat diabetes melitus pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Di daerah pedesaan, diabetes melitus menduduki ranking ke6 yaitu 5,8% (Sudoyo, 2009). Diabetes Mellitus (DM) dapat dibagi menjadi, diabetes mellitus tipe I, diabetes mellitus tipe II, diabetes gestasional dan diabetes dengan tipe spesifik lain. Diabetes tipe I adalah disebabkan sel beta pankreas yang dirosakkan secara permanen akibat proses autoimun. Diabetes mellitus tipe

2

II mempunyai prevalensi yang lebih tinggi dan merupakan akibat dari resistensi insulin. Diabetes gestasional pula merupakan diabetes yang didapat sewaktu mengandung dan yang terakhir adalah diabetes dengan tipe spesifik yang lain. Diabetes ini terjadi akibat sekunder dari penyakitpenyakit lain, contohnya sindrom Cushing’s, pankreatitis dan akromegali (Sudoyo, 2009). Gejala khas awal yang harus diwaspadai adalah poliuria (peningkatan frekuensi kencing di malam hari), polidipsi (banyak minum), polifagia(banyak makan) yang ketiga tersebut menjadi 3P, dan penurunan berat badan secara cepat. Gejala lain yang juga dapat timbul yaitu rasa kesemutan, mudah lelah, dan luka yang sukar sembuh. Kondisi yang dapat ditimbulkan oleh diabetes mellitus dalam kondisi kronik antara lain adalah gagal ginjal, penyakit jantung, stroke, dan kerusakan mata (katarak atau kerusakan retina). Kondisi akut yang dapat muncul pula adalah seperti penurunan kesadaran mendadak, baik karena gula darah yang sangat tinggi atau sangat rendah. Risiko gangguan tersebut dapat menurun jika diabetes dapat dikontrol dengan baik (Bainbridge et al, 2008). Pasien diabetes yang tidak dapat mengendalikan penyakitnya dapat menimbulkan komplikasi yang dapat membahayakan nyawa. Sebanyak 50% pasien diabetes mengalami kematian, atau dapat pula bertahan hidup dengan komplikasi berupa kaki diabetes dengan atau tanpa amputasi 14,8%, kebutaan 1-2%, ginjal diabetes 20% dengan keharusan cuci darah serta gangguan syaraf tepi, dan impoten (Boedisantoso, 1997). Salah satu cara untuk mencegah komplikasi tersebut adalah memberikan pengetahuan awal tentang upaya pencegahan sekunder pada pasien DM. Pengetahuan pasien tentang DM ini dapat membantu mereka untuk menjalankan penanganan diabetes seperti minum obat, olahraga teratur, diet makanan rendah karbohidrat dan lemak serta harus rajin mengkonsumsi sayur dan buah sehingga mereka mengerti tentang penyakitnya dan dapat mengubah perilakunya (Waspadji, 2004). Penelitian yang dilakukan oleh Manoel di Brazil (2007) mengungkapkan bahwa 78,05 % pasien DM memiliki pengetahuan yang

3

baik tentang penyakit DM, namun sikap pasien terkadang acuh tak acuh terhadap penyakitnya. Survei awal yang dilakukan di Puskesmas Kesunean terhadap pasien DM, bahwa pasien dengan pengetahuan yang cukup mengenai penyakitnya dengan sikap merespon terhadap upaya pencegahan sekunder DM dan tak jarang pula yang lainnya mempunyai pengetahuannya cukup baik tetapi sikap yang ditimbulkan kurang memperhatikan dan kurang merespon penyakitnya. Sedangkan hasil survei yang kami lakukan menyatakan bahwa pengetahuan yang dimiliki pasien DM cukup baik dan mempunyai sikap yang memperhatikan terhadap penyakitnya namun kebanyakan dari mereka penyakit DM yang diderita sudah sampai dengan komplikasi DM. Hasil dari survei ini disimpulkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan sikap yang dimiliki pasien DM (Notoatmodjo, 2007) Berdasarkan fenomena diatas, penulis berminat untuk

mengidentifikasi lebih jauh keterkaitan antara tingkat pengetahuan dan sikap dengan perilaku terhadap upaya pencegahan sekunder pasien DM, karena perubahan perilaku atau mengadopsi perilaku baru mengikuti tahap-tahapan melalui proses perubahan: pengetahuan, sikap dan praktek (Notoatmodjo, 2007)

1.2

Tujuan Tujuan Umum Mengetahui mengenai penyakit Diabetes Mellitus Tipe II yang terjadi pada geriatri khususnya di Puskesmas Kesunean Cirebon.

Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui dan memahami mengenai komplikasi dari penyakit Diabetes Mellitus Tipe II pada lanjut usia (Lansia). 2. Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan penyakit Diabetes Mellitus Tipe II yang terjadi pada lanjut usia (Lansia). 3. Untuk mengetahui aspek kemandirian pasien pada penyakit Diabetes Mellitus Tipe II dalam merawat dirinya sendiri.

4

4. Untuk mengetahui peran aktif keluarga dalam perawatan pasien penyakit Diabetes Mellitus Tipe II.

1.3

Manfaat 1. Bagi Mahasiswa Dengan adanya makalah ini diharapakan teman-teman mahasiswa dapat mengetahui dan memahami mengenai penyakit Diabetes Mellitus Tipe II yang terjadi pada geriatri.

2. Bagi Penulis Dengan makalah ini diharapkan penulis dapat menerapkan dan lebih memahami ilmu penyakit Diabetes Mellitus Tipe II pada geriatri. Penulis juga dapat mengobservasi atau mengintervensi secara langsung baik antara teori dengan praktek klinis sehari-hari.

3. Bagi Institusi Dengan makalah ini diharapkan penulis dapat memberikan wawasan dan keilmuan serta tambahan informasih secara klinik untuk dijadikan bahan referensi bagi institusi Kedokteran.

4. Bagi Puskesmas Dengan makalah ini diharapkan penulis dapat memberikan tambahan informasih mengenai penatalaksanaan secara teori dalam materi dengan praktek klinis sehari-hari bagi Puskesmas.

pemulihan kesehatan (rehabilitasi) sehingga keadaan patologik pun dapat disembuhkan agar menjadi healthy aging (Darmojo. pengecapan. instabilisasi (mudah jatuh). Exogenic factor. inaniation (malnutrisi). intelektualisia. imunodefisiensi. iatrogenik. dimana lansia akan mengalami 13 gejala yaitu: imobilisasi. Faktor exogenic aging sekarang lebih dikenal dengan sebutan faktor risiko. yang dapat dibagi dalam lingkungan dimana seseorang hidup dan faktor sosiobudaya yaitu gaya hidup (life style). Tujuan hidup manusia adalah menjadi tua tetapi tetap sehat (healthy aging). Healthy aging di bidang kesehatan dengan cara peningkatan mutu (promosi) kesehatan. gangguan pada (impairment of) penglihatan. 2. pengobatan penyakit (kuratif). 2004). . Healthy aging dipengaruhi oleh faktor (Darmojo. Proses ini seperti jam yang berputar. infeksi.1 Pengertian Lanjut Usia Menjadi tua bukanlah suatu penyakit atau sakit. mudah terjadi impaksi (konstipasi). komunikasi dan integritas kulit. pendengaran.5 BAB II LANDASAN TEORI 2. lansia risiko tinggi yaitu seseorang yang berusia 70 tahun atau seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan. tetapi suatu proses perubahan di mana kepekaan bertambah atau batas kemampuan beradaptasi menjadi berkurang yang sering dikenal dengan geriatri giant. pencegahan penyakit (prevensi). Endogenic aging yang dimulai dengan cellular aging. lansia yaitu seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih. Klasifikasi pada lansia menurut Darmojo (2004) adalah paralansia yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun. impotensia. penciuman. lewat tissue dan anatomical aging ke arah proses menuanya organ tubuh. 2004): 1. insomnia.

walaupun hal itu merupakan bagian dari proses menua. serta perubahan fisiologis yang terkait usia (Sudoyo. yang berupa kelemahan. Sebab berbagai proses yang terjadi seiring waktu. suatu proses perubahan. meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan perubahan lingkungan. dan dilanjutkan dengan senescence yaitu proses degeneratif yang inkompatibel dengan kehidupan. rentan) dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian secara eksponensial. 2. gangguan memori yang terjadi selama aging merupakan manifestasi senescence. 2009). karena banyak perubahan selama aging mungkin tidak merusak dan mungkin suatu perubahan yang diharapkan. Sebaliknya. hilangnya mobilitas dan ketangkasan. Membedakan antara aging dan senescence dianggap perlu. istilah yang sering digunakan dalam di bidang pediatrik. 2009): 1. Istilah senescence juga digunakan untuk menggambarkan turunnya fungsi efisien suatu organisme sejalan dengan penuaan dan meningkatnya kemungkinan kematian. kebijakan yang meningkat seiring usia tidak dianggap sebagai senescence melainkan suatu aging. seperti perkembangan. Aging merupakan proses yang terus berlangsung yang di mulai dengan perkembangan yaitu proses generatif seiring waktu yang dibutuhkan untuk kehidupan. Senescence (menjadi tua): hilangnya kemampuan sel untuk membelah dan berkembang dan seiring waktu akan menyebabkan kematian.6 Menua didefinisikan sebagai proses yang mengubah individu dewasa sehat menjadi seorang yang ‘frail’ (lemah. Istilah aging yang hanya menunjukan efek waktu. Homeostenosis: penyempitan atau berkurangnya cadangan homeostatis yang terjadi selama penuaan pada setiap sistem organ. Sebagai contoh. Sementara konsep . biasanya bertahap dan spontan. Menua juga didefinisikan sebagai penurunan seiring waktu yang terjadi pada sebagian besar mahluk hidup. dianggap tidak mewakili apa yang terjadi pada proses menua. dapat di sebut aging. Aging (bertambahnya umur): menunjukan efek waktu. Terdapat beberapa istilah yang digunakan oleh gerontolog ketika membicarakan proses menua (Sudoyo. 3.

Penuaan yang sukses merupakan suatu kombinasi dari tiga komponen: (1) penghindaran dari penyakit dan ketidakmampuan. 2009). Mean longevity merupakan longevity rata-rata suatu. Pada manusia. berusia 65-74 tahun. Ahli gerontologi membagi lanjut usia menjadi dua kelompok: young-old. maximum longevity diyakini sekitar 110120 tahun (Sudoyo. 2007). dan old-old. Kadang-kadang digunakan istilah oldest old untuk merujuk pada orang-orang yang berusia 85 tahun ke atas (Sadock. sosiologi. Mean longevity dihitung berdasarkan penjumlahan umur semua anggota populasi saat meninggal dibagi jumlah anggota populasi tersebut. Dua aspek longevity adalah mean longevity dan maximum longevity. (2) pemeliharaan . Maximum longevity (life span) merupakan usia saat meninggal dari anggota populasi yang hidup paling lama. Sementara longevity merujuk pada lama hidup seorang individu. biasanya merujuk pada tahap siklus kehidupan yang dimulai pada usia 65 tahun. Idealnya seorang lansia dapat menjalani proses menua secara normal sehingga dapat menikmati kehidupan yang bahagia dan mandiri. Beberapa istilah lain yang perlu dikemukakan terkait dengan proses menua adalah gerontologi. Pasien geriatri adalah pasien usia lanjut dengan multipatologi atau penyakit ganda. disebut pula usia harapan hidup (life expectancy). dan longetivty. dan sejarah yang terkait dengan penuaan. 2. Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari proses menua dan semua aspek biologi.2 Masalah-masalah Yang Dialami atau Terjadi Pada Pasien Lansia Dewasa akhir (late adulthood) atau lanjut usia. 2009). Geriatri menunjukan pada pemberian pelayanan kesehatan untuk usia lanjut. geriatri. Geriatri merupakan cabang ilmu kedokteran yang mengobati kondisi dan penyakit yang dikaitkan dengan proses menua dan usia lanjut.7 homeostenosis menunjukan bahwa seiring dengan bertambahnya usia maka makin kecil kapasitas seorang tua untuk membawa dirinya ke keadaan homeostatis setelah terjadinya suatu tantangan adalah kondisi atau perubahan yang mengganggu homeostenosis (Sudoyo. berusia 75 tahun ke atas.

Kehilangan anak atau yang lebih sering kehilangan pasangan . Kehilangan teman-teman dan orang-orang yang dicintai menyebabkan terjadinya isolasi sosial. dan masalah psikologis. gangguan penglihatan. Kebanyakan lansia memiliki satu atau lebih keadaan atau ketidakmampuan fisik yang kronis. Masalah-masalah yang berhubungan dengan usia lanjut adalah masalah kesehatan baik kesehatan fisik maupun mental. Di banyak negara. dan berkurangnya kualitas dukungan sosial. diabetes. Proses menua merupakan sebuah waktu untuk berbagai kehilangan: kehilangan peran sosial akibat pensiun. 2003). Berbagai kehilangan dan kejadian hidup yang merugikan merupakan penentu utama penyakit-penyakit psikiatrik pada lansia. varicose vein (Sadock. defisit kognitif. kehilangan teman dan keluarga (Hoyer dan Roodin. deformitas atau kelemahan ortopedik. Ketidakmampuan fisik dapat menyebabkan keterbatasan untuk melakukan aktivitas sosial atau aktivitas di waktu luang (leisure activities) yang bermakna. 2007). Ketidakmampuan fisik tampaknya membawa jumlah kejadian hidup negatif yang lebih tinggi.8 kapasitas fisik dan kognitif yang tinggi di tahun-tahun berikutnya. hipertensi. masalah ekonomi. penyakit jantung. dan (3) keterlibatan secara aktif dalam kehidupan yang berkelanjutan (Hoyer dan Roodin. Ketika manusia semakin tua. kehilangan mata pencaharian. sinusitis kronik. Masalah kesehatan kronik yang paling sering terjadi pada lansia adalah artritis. Ketidakmampuan fungsional yang merupakan akibat dari beberapa penyakit medis yang terjadi bersama-sama dan ketidakmampuan ortopedik dan neurologik pada lansia merupakan suatu kehilangan yang besar. penuaan dikaitkan dengan ketidakmampuan. Banyak orang menghadapi proses penuaan dengan keprihatinan. masalah sosial. mereka cenderung untuk mengalami masalah-masalah kesehatan yang lebih menetap dan berpotensi untuk menimbulkan ketidakmampuan. isolasi. 2003). gangguan pendengaran. dan kesendirian. katarak.

2) Jenis kegiatan a. kecemasan. alkoholisme. Gangguan yang sering terjadi meliputi depresi. hipokondriasis. Perubahan peran akan berdampak langsung pada penghargaan diri. terutama ketika hal tersebut tidak direncanakan atau diinginkan. berhubungan dengan kelesuan. dan depresi. Pengunduran diri/pensiun atau kehilangan fungsi utama di rumah. dan penurunan fungsi. Lansia lebih mudah untuk mengalami isolasi sosial. dan jaringan ini didominasi oleh sanak saudara (Hoyer dan Roodin. Pembekalan dari Dinas Kesehatan Kota Cirebon b. Praktek belajar lapangan Mahasiswa dibagi untuk ditempatkan pada beberapa kegiatan Puskesmas secara bergantian yaitu: 1. Sekitar 15% lansia mengalami kesulitan-kesulitan besar dalam penyesuaian diri terhadap pensiun. Pensiun berhubungan dengan pengurangan pendapatan personal sebesar sepertiga sampai setengahnya. dan gangguan dalam penyesuaian terhadap kehilangan atau disabilitas fungsional (Hoyer dan Roodin. involusi (degenerasi progresif). Lansia memiliki jaringan dukungan sosial yang lebih kecil daripada orang yang lebih muda. Pensiun juga akan menyebabkan perubahan gaya hidup pada pasangannya dan menyebabkan beberapa adaptasi dalam hubungan mereka. 2003).9 merupakan faktor risiko penting untuk depresi mayor. Hal-hal di atas menyebabkan lansia menjadi lebih rentan untuk mengalami masalah kesehatan mental. Poli umum . 2. 2003). Pendaftaran 2.3 Praktek Belajar Lapangan 1) Waktu pelaksanaan PBL diselenggarakan mulai pada minggu ketiga sampai kelima pelaksanaan blok yaitu: pada tanggal 9 April 2013 – 26 April 2013 setiap hari selasa dan jumat sesuai jadwal skill lab.

Peserta Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unswagati Cirebon pada blok 264 mengenai Adulthood and Ederly serta terdaftar sebagai mahasiswa aktif (tidak langsung cuti) pada semester yang bersangkutan. Mahasiswa wajib melaksanakan kegiatan PBL sesuai dengan rencana kerja yang telah disetujui oleh pembimbing 4. g. Home Vissit Lansia 8. Tempat pelaksanaan Di UPTD Puskesmas Kesunean d. Tugas Mahasiswa 1. Posyandu Lansia 7. Mahasiswa wajib mengetahui jadwal kegiatan PBL seperti yang tercantum dalam jadwal kegiatan 2. Mahasiswa mengikuti kegiatan di Puskesmas yang telah ditentukan . Mahasiswa wajib mematuhi peraturan atau tata tertib yang berlaku diPuskesmas setempat. Pembimbing Pembimbing lapangan atau instruktrur mengampu satu kelompok mahasiswa yang terdiri dari 7-8 orang. Mahasiswa wajib melaksanakan kegiatan PBL dengan selalu memperhatikan prilaku yang baik f. Klinik Konseling 5. Pusling c. Tata tertib 1.10 3. 5. Mahasiswa melaksanakan kegiatan sesuai dengan arahan pembimbing 2. KIA 4. e. Farmasi 6. Mahasiswa wajib memakai jas praktikum selama mengikuti kegiatan PBL di Puskesmas 3.

tenaga medis dan non medis. Bertangguang Jawab Komitmen terhadap tugas Tepat waktu Tidak terlambat atau absen tanpa alasan yang dapat dipertanggung jawabkan c. Mawas diri Mampu mengenali kemampuan dan keterbatasan diri sendiri . Mahasiswa wajib melakukan Home Visit lansia dimana pasien lansia harus berbeda sesuai dari arahan pembimbing Mahasiswa menyerahkan log book kepada koordinasi praktek belajar lapangan keterampilan klinik sebagai bentuk laporan hasil kegiatan di minggu kelima pelaksanaan blok h. staf dan kelompok) Peka terhadap kebutuhan orang lain terutama pasien baik secara fisik maupun emosional d. Profesional Behavior Aspek yang dinilai meliputi sebagai meliputi: a. log book) b. dimana feedback dari hubungan dengan pasien.11 3. Jujur Menghormati dan dihormati oleh teman. Compassion Menunjukkan sikap yang perhatian dan perduli terhadap pasien (dapat dibuktikan melalui lapangan. serta pasien Tidak berbuat curang untuk kepentingan sendiri (tidak melakukan plagiarism) Mencatat laporan dan melaporkan dengan benar (contoh: medical record. Penilaian Penilaian diberikan oleh pembimbing penilaiannya mencakup: 1.

staf. fisik. dan anggota masyarakat Hati-hati dalam bersikaf terhadap pasien. Menghargai orang lain Menghargai hak. Partisipasi Ikut serta dan berkonstribusi secara sukarela dalam kelompok dan aktivitas dimasyarakat Memfasilitasi kegiatan belajar orang lain dan tidak menghalangi usaha mereka Membantu orang lain yang sedang dalam tahap awal pembelajaran I. kemampuan.12 e. tanggung jawab. Memiliki keilmuan dalam bidang keterampilan klinik yang akan diajarkan 2. tidak sombong. Tidak diskriminatif Memberikan perlakuan sama terhadap orang lain tanpa membedakan ras. peran. agama dan kepercayaan serta penyakit itu sendiri g. kepercayaan. baik dalam bentuk komunikasi verbal maupun non verbal h. gender. Instruktur adalah dokter yang memiliki kompetensi dasar 1. Mampu berkomunikasi efektif 4. Hubungan dokter-pasien Menghargai privasi. Mampu mendemostrasikan keterampilan klinik yang benar 3. emosional dan financial f. Mampu memberikan penilaian terhadap pencapaian belajar . kelompok. dan nilai budaya dari paseien. tidak agresif dan ramah Menghargai integritas personal dan profesional serta peran tenaga kesehatan lainnya. harga diri dan rahasia pasien Melindungi hak pasien dan menghindari eksploitasi secara seksual.

berat badan menurun. 2009). Mampu memberikan konstruktif feedback 2. Mengajarkan keterampilan klinik kepada mahasiswa Memberikan penilaian terhadap kinerja mahasiswa selama melaksanakan kegiatan di Puskesmas dan dimasyarakat 4. Memberikan arahan dan bimbingan kepada mahasiswa dalam praktek lapangan di Puskesmas 2. Penyakit diabetes mellitus merupakan satu penyakit kronik yang berlaku bila pankreas tidak menghasilkan insulin yang cukup atau tubuh tidak dapat memanfaatkan insulin yang diproduksikan secara efektif. . dan merasa lelah.13 mahasiswa 5. 2002). Oleh karena itu. Mampu memberikan konstruktif feedback II. merasa sangat haus. produksi kemih sangat meningkat dan pasien harus sering kencing. Tugas instruktur 1. dan ini mengakibatkan konsentrasi glukosa dalam darah kita meningkat (WHO. Akibatnya adalah glukosa bertumpuk di dalam darah (hiperglikemia) dan akhirnya diekskresikan lewat kemih tanpa digunakan (glycosuria). 3.4 Definisi Diabetes Melitus Diabetes mellitus (DM) adalah suatu kumpulan gejala klinis (sindromaklinis) yang timbul oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah kronis akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Katzung. Penyebab diabetes mellitus adalah kekurangan hormon insulin yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan mensintesis lemak.

5 Tipe Diabetes Diabetes dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. b. biasanya pada trimester kedua atau ketiga. DM tipe lain Dapat disebabkan oleh efek genetik fungsi sel beta. artinya kondisi diabetes atau intoleransi glukosa yang didapati selama masa kehamilan. defek genetik kerja insulin. 2002). penyakit eksokrin pankreas. c. Pada DM tipe II sel β pankreas tidak rusak tetapi terjadi resistensi terhadap kerja insulin. Diabetes Mellitus Gestasional Diabetes yang timbul selama kehamilan. infeksi. Diabetes mellitus gestasional berhubungan dengan meningkatnya komplikasi perinatal (di sekitarwaktu melahirkan).14 2. Produksi insulin biasanya dapat untuk mencegah KAD. namun KAD dapat timbul bila ada stress berat (Woodley dan Whelan. Diabetes melitus tipe II (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) DM tipe II biasanya timbul pada usia lebih dari 40 tahun. 1991). endokrinopati. DM tipe I terjadi karena destruksi sel-sel pembuat insulin melalui mekanisme imunologik sehingga menyebabkan hilangnya hampir seluruh insulin endogen. dan sang ibu memiliki resiko untuk dapat menderita penyakit diabetes mellitus yang lebih besar dalam . 1995). Diabetes mellitus tipe I (Insulin dependent) DM tipe I umumnya timbul pada anak-anak dan dewasa muda. karena obat atau zat kimia. d. Pada pasien DM tipe I perawatan insulin adalah mutlak (Leslie. sebab imunologi dan sindrom genetika lain yang berkaitan dengan diabetes mellitus (Katzung. Pasien DM tipe I mengalami ketergantungan terhadap insulin eksogen untuk menurunkan kadar glukosa plasma dan menghindari ketoasidosis (KAD) serta untuk mempertahankan hidupnya.

Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabtes tipe II. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut. namun terdapat jumlah insulin yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton. luka pada kulit yang tidak sembuh-sembuh. poliuria. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat dan progresif. ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. Pada pasien toleransi glukosa terganggu. iritabilitas. . Oleh karena itu.6 Diabetes Tipe II Terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin.15 jangka waktu 5 sampai 10 tahun setelah melahirkan (Woodley dan Wheland. gejalanya sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan. maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi. yaitu: resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah harus terdapat peningkatan insulin yang disekresikan. dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. infeksi dan pandangan yang kabur. diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketotik. polidipsia. 2. 1995). Meskipun demikan. keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun jika sel-sel tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin maka kadar glukosa akan meningkat danterjadi diabetes tipe II. terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel.

Apabila keadaan ini tidak segera diobati maka akan timbul keluhan lain yang disebabkan oleh kurangnya insulin. Bila tidak segera diobati. Banyak kencing (poliuria) Dalam fase ini biasanya pasien menunjukkan berat badan yang terus bertambah. Terasa tebal dikulit 4. Mudah lelah 6. karena pada saat itu jumlah insulin masihh mencukupi. Nafsu makan berkurang 2. Banyak makan (polifagia) 2. yaitu : 1. Keluhan tersebut diantaranya: 1.7 Gejala Diabetes Melitus Gejala diabetes dapat dikelompokan menjadi dua. Berat badan turun dengan cepat 5. Kulit terasa panas 3. Banyak minum 3.16 2. Banyak kencing 4. Lelah 6. Kram 5.pasien akan merasa mual bahkan pasien akan jatuh koma Gejala kronik Gejala kronik akan timbul beberapa bulan atau beberapa tahun setelah pasien menderita diabetes. Mudah mengantuk . yaitu : Gejala Akut dan Gejala Kronis Gejala akut Pada permulaan terdapat tiga gejala khusus. Kesemutan 2. Gejala kronik yang sering dikeluhkan oleh pasien yaitu : 1. Banyak minum (polidipsi) 3.

pasien biasanya memiliki berat badan yang rendah. DM tipe 2. Mata kabur 8. pada kenyataannya. DM tipe 2 merupakan penyakit familier yang mewakili kurang-lebih 85% kasus DM di Negara maju. Dengan demikian. DM tipe 1. berat dan perjalanannya sangat progresif. Ketika diagnosa ditegakkan. tanpa pengobatan dengan insulin (pengawasan dilakukan melalui pemberian insulin bersamaan dengan adaptasi diet). non-insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM) DM jenis ini disebut juga diabetes onset-matur (atau onsetdewasa) dan diabetes resistan-ketosis (istilah NIDDM sebenarnya tidak tepat karena 25% diabetes. dengan prevalensi sangat tinggi (35% orang dewasa) pada masyarakat yang mengubah gaya hidup tradisional menjadi modern (Arisman. 2011). Dahulu. harus diobati dengan insulin. Gejala biasanya muncul secara mendadak. Gatal disekitar kemaluan 2. 2011). Hasil tes deteksi antibodi islet hanya bernilai sekitar 50-80% dan KGD >140 mg/dL (Arisman. bedanya mereka tidak memerlukan insulin sepanjang usia). Sekresi insulin mengalami defisiensi (jumlahnya sangat rendah atau tidak ada sama sekali). pasien biasanya akan mudah terjerumus ke dalam situasi ketoasidosis diabetik (Arisman. b. insulin dependent diabetes mellitus (IDDM) Diabetes jenis ini terjadi akibat kerusakan sel β pakreas. dapat berkembang menjadi ketoasidosis dan koma. DM tipe 1 disebut juga diabetes onset-anak (atau onset-remaja) dan diabetes rentan-ketosis (karena sering menimbulkan ketosis).17 7. . 2011). jika tidak diawasi. Onset DM tipe 1 biasanya terjadi sebelum usia 25-30 tahun (tetapi tidak selalu demikian karena orang dewasa dan lansia yang kurus juga dapat mengalami diabetes jenis ini).8 Diagnosis Banding a.

Etiologi diabetes jenis ini. (d) kondisi tertentu yang jarang terjadi. atau dengan pemberian obat hipoglisemik (Arisman. Kadar insulin menurun atau bahkan tinggi. seperti akromegali. dan (e) sindrom genetic (Arisman. atau mungkin juga insulin bekerja tidak efektif (Arisman. seperti kelainan pada reseptor insulin. feokromositoma. Pengendaliannya boleh jadi hanya berupa diet dan (jika tidak ada kontraindikasi) olahraga. meliputi : (a) penyakit pada pankreas yang merusak sel β. Koma hiperosmolar dapat terjadi pada kasus-kasus berat. 2011). 2011). kecuali pada kasus yang disertai stress atau infeksi. 2011). dan cenderung tidak berkembang kearah ketosis. pankreatitis. ketoasidosis jarang sekali muncul. (c) obat-obat yang menggangu sekresi insulin (fenitoin [Dilantin]) atau menghambat kerja insulin (estrogen dan glukokortikoid). Namun. Gejala muncul perlahan-lahan dan biasanya ringan (kadangkadang bahkan belum menampakkan gejala selama bertahun-tahun) serta progresivitas gejala berjalan lambat. 2011). Atas dasar ini pula. Kemungkinan untuk menderita DM tipe 2 akan berlipat ganda jika berat badan bertambah sebanyak 20% di atas berat badan ideal dan usia bertambah 10 tahun atau di atas 40 tahun (Arisman. dan sindrom Cushing. fibrosis kistik. . DM tipe lain Diabetes jenis ini dahulu kerap disebut diabetes sekunder. (b) sindrom hormonal yang mengganggu sekresi dan/atau menghambat kerja insulin. c. atau lebih tua. Kebanyakan pasien memiliki berat badan yang lebih. penyandang DM jenis ini dikelompokkan menjadi dua: (1) kelompok obes dan (2) kelompok non-obes.18 DM tipe 2 mempunyai onset pada usia pertengahan (40-an tahun). atau DM tipe lain. seperti hemokromatosis.

diagnosis pasti DM pada lanjut usia ditegakkan kalau didapatkan kadar glukosa darah puasa lebih dari 140 mg/dl. kemudian hamil. Wanita yang sebelumnya diketahui telah mengidap DM. atau Kadar glukosa plasma ≥200 mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram pada TTGO Menurut Kane et. 2.19 d. Diabetes Mellitus Gestasional Diabetes mellitus Gestasional didefenisikan sebagai setiap intoleransi glukosa yang timbul atau terdeteksi pada kehamilan pertama. Apabila .al (1989). intoleransi glukosa. 3. tidak termasuk ke dalam kategori ini (Arisman. Apabila kadar glukosa puasa kurang dari 140 mg/dl dan terdapat gejala atau keluhan diabetes seperti di atas perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO). 2. Kadar glukosa darah sewaktu (plasma vena) ≥200mg/ dl. Kategori ini mencakup DM yang terdiagnosa ketika hamil (sebelumnya tidak diketahui). jadi batas glukosa pada DM lanjut usia lebih tinggi dari pada orang dewasa yang menderita penyakit DM. tanpa memandang derajat intoleransi serta tidak memperhatikan apakah gejala ini lenyap atau menetap selepas melahirkan. atau Kadar glukosa darah puasa (plasma vena) ≥126 mg/dl. bertambah sesuai dengan pertambahan usia. Kemunduran. Para ahli masihh berbeda pendapat mengenai kriteria diagnosis DM pada lanjut usia. Anamnesis Banyak pasien dengan Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) yang asimptomatik dan baru diketahui adanya peningkatan kadar gula darah pada pemeriksaan laboratorium rutin.9 Pendekatan Klinis 1. Diabetes jenis ini biasanya muncul pada kehamilan trimester kedua dan ketiga. 2011). Kriteria diagnostik diabetes melitus dan gangguan toleransi glukosa (WHO 1985): 1.

sedangkan pemeriksaan penyaring bertujuan untuk mengidentifikasi mereka yang tidak bergejala yang mempunyai risiko DM. Pemeriksaan penyaring dikerjakan pada kelompok dengan salah satu risiko DM sebagai berikut: a. Berat badan lebih >110% BB ideal atau IMT >23 kg/m2 c. kadar glukosa darah puasa. Riwayat abortus berulang. Pada lanjut usia sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan glukosa darah puasa secara rutin sekali setahun. Peningkatan TTGO pada lanjut usia ini disebabkan oleh karena turunnya sensitivitas jaringan perifer terhadap insulin. Pemeriksaan Penunjang Ada perbedaan antara uji diagnostik DM dan pemeriksaan penyaring. melahirkan bayi cacat atau BB lahir bayi >4000 gram f. 2. Serangkaian uji diagnostik akan dilakukan pada mereka yang hasil pemeriksaan penyaringnya positif. kemudian dapat diikuti dengan tes tolerasi glukosa oral (TTGO) standar. Uji diagnostik DM dilakukan pada mereka yang menunjukkan gejala dan tanda DM. Usia >45 tahun b.20 TTGO abnormal pada dua kali pemeriksaan dalam waktu berbeda diagnosis DM dapat ditegakkan. Ini berarti bahwa sel-sel lemak dan otot pada pasien lanjut usia menurun kepekaannya terhadap insulin. karena pemeriksaan glukosuria tidak dapat dipercaya karena nilai ambang ginjal meninggi terhadap glukosa. Kolesterol HDL 35 mg/dl dan atau trigliserida ≥150 mg/dl Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu. Riwayat DM dalam garis keturunan e. Hipertensi (>140/90 mmHg) d. . baik pada tingkat reseptor (kualitas maupun kuantitas) maupun pasca reseptornya.

pemeriksaan penyaring dapat dilakukan setiap 3 tahun. Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas DM berupa poliuria. 2. pemeriksaan glukos darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. serta pruritus vulvae pada pasien wanita. Penatalaksanaan menurut TTGO (WHO. Jika keluhan khas. atau dari hasil tes toleransi glukosa oral (TTGO) yang abnormal. sedangkan bagi mereka yang berusia >45 tahun tanpa faktor risiko.21 Untuk kelompok risiko tinggi yang hasil pemeriksaan penyaringnya negatif. belum cukup kuat untuk menegakkan diagnosis klinis DM. polidipsia. pemeriksaan glukosa darah sewaktu ³ 200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. lemah. mata kabur dan impotensia pada pasien pria. kadar glukosa darah sewaktu ³ 200 mg/dl pada hari yang lain. Diagnosis tidak dapat ditegakan atas dasar adanya glukosuria. hasil pemeriksaan glukosa darah yang baru satu kali saja abnormal . Keluhan lain yang mungkin dikemukakan pasien adalah kesemutan. Diperlukan pemastian lebih lanjut dengan menddapatkan sekali lagi angka abnormal. pemeriksaan penyaring ulangan dilakukan tiap tahun. Untuk kelompok tanpa keluhan khas DM. baik kadar glukosa darah puasa 126 mg/dl. gatal.10 Diagnosis Diagnosis DM dapat ditegakan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.1994): . polifagia. Penggunaan bahan darah utuh (whole blood). Untuk penentuan diagnosis DM. vena ataupun kapiler dapat tetap dipergunakan dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai dengan pembakuan WHO. Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa ³ 126 mg/dl juga digunakan untuk patokan diagnosis DM.

Kadar glukosa darah 2 jam pada TTGO≥200mg/dl TTGO dilakukan dengan standar WHO menggunakan beban glukosa yang setara dengan 75g glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air. Diperiksa kadar glukosa darah puasa.75 g/kgbb (anakanak). . Gejala klasik DM + GDP ≥ 126mg/Dl Puasa diartikan pasien tidak mendapatkan kalori tambahan sedikitnya 8jam 3. Diperiksaa kadar glukosa darah 2 jam sesudah beban glukosa g. Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai f. e. b. Gejala klasik DM + GDS ≥200mg/dl Glukosa sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir 2. c. Selama proses pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok. Tiga (3) hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehari-hari (dengan karbohirat yang cukup) dan kegiatan jasmani seperti biasa. dilarutkan dalam 250 ml air dan diminum dalam waktu 5 menit. minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan. d. Diagnosis DM dapat ditegakan dengan 3 cara: 1. Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan. Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa) atau 1.22 a.

Setelah 5-10 tahun kemudian 1/3 kelompok TGT akan berkembang menjadi DM. 1/3 tetap TGT dan 1/3 lainnya kembali normal. Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2. Diagnosis Diabetes Mellitus .23 Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Sebagai Patokan Penyaring dan Diagnosis DM Kadar glukosa (mg/dl ) Sewaktu Plasma Vena Darah Kapiler Puasa Plasma Vena Darah Kapiler Bukan DM < 110 < 90 < 110 < 90 Belum pasti DM 110 – 199 90 – 199 110 – 125 90 – 109 DM ≥ 200 ≥ 200 ≥126 ≥110 Sumber: PERKENI. 2006 Pasien dengan Toleransi Glukosa terganggu dan Glukosa Darah Puasa Terganggu merupakan tahapan sementara menuju DM.

2. gangguan faal ginjal dan hati. stres berat. Pengetahuan tentang pemantauan mandiri. Penatalaksanaan dikenal dengan empat pilar utama pengelolaan Diabetes Melitus. OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung kombinasi.24 2. Tujuan pengelolaan secara umum menurut Perkeni (2006) adalah meningkatkannya kualitas hidup pasien Diabetes. latihan jasmani dan intervensi farmakologis. setelah mendapat pelatihan khusus. Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran. terapi gizi medis. Pada keadaan tertentu.11 Penatalaksanaan Penatalaksanaan Diabetes melitus dapat dilakukan dengan cara pengelolaan yang baik. sesuai indikasi. misalnya ketoasidosis. Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat. Pemicu Sekresi Insulin  Sulfonilurea Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. berat badan yang menurun dengan cepat. namun masihh boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. tanda dan gejala hipoglikemia dan cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien. Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani selama beberapa waktu (2-4 minggu). Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaaan seperti orang tua. kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular. dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO)dan atau suntikan insulin. tidak . sedangkan pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri. dan merupakan pilihan utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang. yang meliputi: edukasi.1 Penatalaksanaan Farmakologis Sarana penatalaksanaan farmakologis diabetes dapat berupa obat hipoglikemik oral (OHO): a. insulin dapat segera diberikan.11. adanya ketonuria.

5 mg/dL) dan hati. sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer. Untuk mengurangi keluhan tersebut . c. Penambah Sensitivitas Terhadap Insulin (Tiazolidindion) Tiazolidindion (rosiglitazon dan pioglitazon) berikatan pada Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-γ). Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu: Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat fenilalanin). Tiazolidindion dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung klas I-IV karena dapat memperberat edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati. renjatan. gagal jantung). sepsis. Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati (PERKENI. 2006). Penghambat Glukoneogenesis (Metformin) Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis).  Glinid Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea. Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala (PERKENI. Metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin >1. suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Terutama dipakai pada penyandang diabetes gemuk. 2006).25 dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang (PERKENI. dengan penekanan pada meningkatkan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa. 2006). Metformin dapat memberikan efek samping mual. b. serta pasien-pasien dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebrovaskular. di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer.

Edukasi secara individual dan pendekatan berdasarkan penyelesaian masalah merupakan inti perubahan perilaku yang berhasil. 2006). sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan.26 dapat diberikan pada saat atau sesudah makan (PERKENI. Penghambat Glukosidase Alfa (Acarbose) Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus.11. Keberhasilan pengelolaan diabetes mandiri membutuhkan partisipasi aktif pasien. 2. d. implementasi. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens. perencanaan. lemak. Perubahan perilaku hampir sama dengan proses edukasi yang memerlukan penilaian. Terapi Medis Gizi Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal kabohidrat. 2006). dibutuhkan edukasi yang komprehensif pengembangan ketrampilan dan motivasi. b. serta pengaruh obat terhadap penurunan A1C dapat dilihat pada tabel (PERKENI. keluarga dan masyarakat.2 Penatalaksanaan Non Farmakologi a. Edukasi Diabetes Melitus umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku telah terbentuk dengan kokoh. sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut:  Kabohidrat : 60 – 70%  Protein : 10 – 15%  Lemak : 20 – 25 % . dokumentasi dan evaluasi (PERKENI. protein. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku. Mekanisme kerja OHO. efek samping utama. 2006). Tim kesehatan harus mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku. Acarbose tidak menimbulkan efek samping hipoglikemia.

c. dan berenang. menggunakan tangga. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas-malasan (PERKENI. bersepeda santai. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. stres akut. dan kegiatan jasmani untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. dan kalori yang diperlukan untuk menghadapi stres akut sesuai dengan kebutuhan. umur.27 Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti: jalan kaki. 2006). Pada dasarnya kebutuhan kalori pada diabetes tidak berbeda dengan non diabetes yaitu harus dapat memenuhi kebutuhan untuk aktifitas baik fisik maupun psikis dan untuk mempertahankan berat badan supaya mendekati ideal (PERKENI. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin. koreksi status gizi. jogging. Kemudian ditambah dengan kebutuhan kalori untuk aktifitas. sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. intensitas latihan jasmani bisa ditingkatkan. sementara yang sudah mendapat komplikasi DM dapat dikurangi. 2006). (34 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit). berkebun harus tetap dilakukan Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006. Jumlah kalori yang diperlukan dihitung dari berat badan ideal dikali kebutuhan kalori basal (30 Kkal/kg BB untuk laki-laki dan 25 Kkal/kg BB untuk wanita). Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar. Olah Raga Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur. merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2. status gizi. . Untuk mereka yang relatif sehat.

Perbaikan kesadaran pada DM usia lanjut sering lebih lamban dan memerlukan pengawasan yang lebih lama. terutama pada pasien dengan gagal ginjal kronik). Hipoglikemia akibat sulfonilurea dapat berlangsung lama. sebelum dapat dipastikan penyebab menurunnya kesadaran. Hipoglikemia harus segera mendapatkan pengelolaan yang memadai. Hipoglikemia pada usia lanjut merupakan suatu hal yang harus dihindari.12 Komplikasi Dalam perjalanan penyakit DM. Perlu dilakukan pemeriksaan ulang glukosa darah 15 menit setelah pemberian glukosa.28 2. Penyulit akut . . banyak keringat.Ketoasidosis diabetik . gelisah.Hiperosmolar non ketotik . Gejala hipoglikemia terdiri dari gejala adrenergik (berdebar. kesadaran menurun sampai koma). sementara dapat diberikan glukosa 40% intravena terlebih dahulu sebagai tindakan darurat. mengingat dampaknya yang fatal atau terjadinya kemunduran mental bermakna pada pasien. Hipoglikemia paling sering disebabkan oleh penggunaan sulfonilurea dan insulin. Glukagon diberikan pada pasien dengan hipoglikemia berat. Diberikan makanan yang mengandung karbohidrat atau minuman yang mengandung gula berkalori atau glukosa 15-20 g melalui intra vena.Hipoglikemia Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah <60 mg/dL. Bila terdapat penurunan kesadaran pada penyandang diabetes harus selalu dan dipikirkan kemungkinan terjadinya hipoglikemia. gemetar. Untuk penyandang diabetes yang tidak sadar. sehingga harus diawasi sampai seluruh obat diekskresi dan waktu kerja obat telah habis. Terkadang diperlukan waktu yang cukup lama untuk pengawasannya (24-72 jam atau lebih. rasa lapar) dan gejala neuro-glikopenik (pusing. dapat terjadi penyulit akut dan menahun a.

Neuropati Yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer. Pembuluh darah jantung Pembuluh darah tepi Penyakit arteri perifer sering terjadi pada penyandang diabetes. Mikroangiopati a. Retinopati diabetik Kendali glukosa dan tekanan darah yang baik akan mengurangi risiko dan memberatnya retinopati. berupa hilangnya sensasi distal. dilakukan sedikitnya setiap tahun. Apabila diketemukan adanya polineuropati distal. Pembuluh darah otak 2.29 b. perawatan kaki yang memadai akan menurunkan risiko amputasi. Terapi aspirin tidak mencegah timbulnya retinopati. Terkadang ulkus iskemik kaki merupakan kelainan yang pertama muncul. pada setiap pasien perlu dilakukan skrining untuk mendeteksi adanya polineuropati distal dengan pemeriksaan neurologi sederhana. Berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan amputasi. . Penyulit menahun 1.8 g/kg BB) juga akan mengurangi risiko terjadinya nefropati c. c. Gejala yang sering dirasakan kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri. Makroangiopati a. Pembatasan asupan protein dalam diet (0. Biasanya terjadi dengan gejala tipikal intermittent claudicatio. dengan monofilamen 10 gram. meskipun sering tanpa gejala. b. dan lebih terasa sakit di malam hari. Nefropati diabetik Kendali glukosa dan tekanan darah yang baik akan mengurangi risiko nefropati. Setelah diagnosis DM ditegakkan. b.

Pasien juga mengeluh pinggang dan kaki nya terasa nyeri ini di rasakan kurang lebih sekitar 1 bulan . Keluhan ini sangat mengganggu aktivitasnya. Anamnesis Keluhan uatama .2 Lokasi Home Visit Kediaman bapak “P” yang beralamat di Kesunean Rt 02 Rw 08 3.30 BAB III HASIL HOME VISIT 3.Sering kencing lebih dari 5 kali dalam sehari Riwayat penyakit sekarang: Sejak kurang lebih satu bulan belakangan ini pasien mengeluh sering kencing lebih dari 5 kali dalam sehari. “P” : 78 Tahun : Kesunean Rt 02 Rw 08 : Pedagang roti keliling : Islam Suku bangsa : Sunda Tinggal dengan : Anak dan menantu Tanggal pemeriksaan : 23 Maret 2013 3.3 Home Visit 1. Pasien juga mengeluh sering haus serta sering lapar. terutama pada malam hari pasien merasa sering terbangun karena harus buang air kecil. tetapi pasien masihh tetap bisa beraktifitas.1 Data Pribadi Pasien Nama Usia Alamat Pekerjaan Agama : Bpk. Biasanya pasien bisa minum sampai 20 kali sehari tetapi makan masih dalam batasan normal hanya tidak mudah kenyang.

Dari pengakuan pasien gula darahnya pernah mencapai angka 500mg/dl. Riwayat pengobatan: Pasien sudah pernah berobat ke Puskesmas dan praktek dokter swasta. Keluhan ini di rasa semakin memburuk apabila pasien banyak mengkonsumsi nasi hangat atau baru dimasak. Pasien pernah berobat dan memeriksa gula darahnya. obat tersebut dia minum 2x1 dalam sehari.Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama. Riwayat pribadi: . Riwayat hipertensi disangkal. Ketika ditanya obatnya apapun pasien menjawab lupa dan tidak tau namanya dikarenakan pasien tidak rutin berobat dan kontrol gula darah ke puskesmas atau praktek dokter swasta. Untuk mengurangi keluhan nyerinya biasanya pasien menkomsumsi amoxilyn dan neuralgin yang dibelinya sendiri di apotek. Keluhan nyeri pinggang dan kaki itu hanya terasa di sebelah kanan. Riwayat penyakit dahulu: . Dari pemeriksaan tersebut pasien diberi obat penurun gula darah tetapi sekarang sudah tidak ada obatanya dikarenakan habis dan kemasanya dibuang. Buang air besar tidak ada keluhan masih dalam keadaan normal.31 berbarengan dengan sering kencingnya itu. Riwayat keluarga: . Menurut pengakuan keluarganya sakit itu timbul dikarenakan akibat pasien pernah tertabrak motor. Tidak ada rasa kesemutan dan baal.Kencing manis yang sudah diderita sejak 7 tahun yang lalu.

a.a.32 Pasien adalah seorang pedagang roti keliling dengan berjalan kaki yang memeliki jarak tempuh yang cukup jauh. 2.Bentuk Trakhea KGB JVP . Tinjauan sistem tubuh: . arcus senilis Telinga : t. pupil isokor. Frekuensi pernafasan : 24x/menit. suhu : 37 ˚C. Lingkungan rumahnya cukup bersih.mata: penglihatan berkurang (arcus senilis).LEHER .Keadaan umum dan kesadaran: sakit ringan dan sadar penuh (composmentis) . yang lainya masih dalam keadaan normal. lensa tidak keruh. Pemeriksaan fisik .Berat Badan .k Rambut : t. sklera anikterik.k Hidung : t. konjungtiva ananemis. nadi : 80x/menit.Tanda Vital : 120/90 mmhg.a.k Mulut : t. untuk makan biasanya pasien makan nasi kemarin sore dan biasanya lauknya hanya tahu dan tempe tidak mengkomsumsi daging. .Status gizi .k Mata : Palpebra oedem -/-. jarak antara kamar pasien ke kamar mandi cukup jauh dan tidak ada pegangan di kamar mandi pasien.a. Pasien sering menkomsumsi kopi dan minuman energi.a.k : Simetris : Di tengah : Tidak teraba pembesaran : Tidak meningkat .Tinggi badan .Status Generalis : 50 kg : 163 cm : gizi cukup - KEPALA Bentuk : t. reflek cahaya (+/+).

k .EKSTREMITAS Superior : t.a. wheezing (-) ronki (-) Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat Palpasi :Iktus kordis tidak teraba Perkusi : Batas atas : sela iga II linea parasternal kiri Batas kanan : sela iga V linea parasternal kanan Batas kiri : sela iga VI linea midklavikula kiri Auskultasi (-) : BJ I .II reguler. murmur (-).JANTUNG - . Shifting Dulness (-) Perkusi Auskultasi : Timpani. pergerakan nafas kanan kiri simetris Palpasi : Fremitus taktil simetris kanan kiri Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru Auskultasi : Suara nafas vesikuler pada seluruh lapang paru.33 . t.a. simetris Palpasi : Nyeri tekan (-).k Inferior : nyeri saat digerakan d bagian panggul sampai kaki sebelah kanan. hepar dan lien tidak teraba. Ballotement (-).ABDOMEN Inspeksi : Perut datar.GENITALIA EXTERNA Kelamin : laki-laki. SENSIBILITAS Eksteroseptif / rasa permukaan ( superior / Inferior ) Rasa raba : (N/N) Rasa nyeri : (N/N) Rasa suhu panas : (N/N) Rasa suhu dingin : (N/N) .shifting dulness (-) : Bising usus (+) normal .THORAK Paru Inpeksi : Bentuk dada normal. gallop .

Pengobatan Non Farmakologi . . Jadwal lazim : mulai dengan satu tab tunggal 500 mg saat sarapan selama beberapa hari.Biguanid Dosis 500 mg sampai max 2. Diagnosis kerja . Diagnosis banding .Penghambat glukosidase-alfa Dosis : 25-100 mg segera sebelum suapan pertama setiap waktu makan. tolazamid . Pemeriksaan penunjang Tanggal pemeriksaan : 23 maret 2013 . dapat ditambahkan satu tab 500 mg saat makan siang. chlorpropamid.Tiazolidinedion . glipizid.DM tipe 2 6.Sulfonilurea generasi pertama : tolbutamid.55 g setiap hari diawali.34 3.Antidiabetik oral : . Bila diperlukan peningkatan dosis selanjutnya setelah 1 minggu.DM tipe 1 .Trauma akibat kecelakaan .Sulfonilurea generasi kedua : gliburid. . glimepirid .DM tipe 2 .Diet rendah kalori .Banyak bergerak Farmakologi .Nyeri punggung bawah 5.Tes GDP : 226 mg/dl 4.Diet rendah gula . Apabila berjalan baik tanpa keluhan sal cerna tambah satu tab 500 mg waktu makan malam jika masih hiperglikemik.

Foto koagulasi dengan Xenon Arc Fotokoagulator atau Argon Laserphoto Koagulator Edukasi: . or needs help in cleaning self.Konsultasikan ke dokter spesialis mata untuk penatalaksanaan DM dengan suspek retinopatinya. more than once a week Value 4 .35    Klorporamid 0.Analgetik oral :  Paracetamol 500 mg/hari 2x1 . 7. no incontinence 3 Needs to be reminded.5 mg/hari 2x1 atau . . Hasil activity of daily living Hasil activity of daily living GERIATRIC ASSESSMENT CENTER ACTIVITIES OF DAILY LIVING PHYSICAL SELF-MAINTENANCE SCALE Instructions: Write in the appropriate value number on the score lines provided to the right of the responses.Kontrol kesehatan secara teratur terutama untuk kontrol gula darahnya kepada dokter yang merawatnya ataupun ke Puskesmas terdekat.1 mg/hari 2x1 atau Glibenklamid 5 mg/hari 2x1 atau Metformin 0. or has rare (weekly at most) accidents 2 Soiling or wetting while asleep. GERIATRIC ASSESSMENT CENTER ACTIVITIES OF DAILY LIVIN PHYSICAL SELF-MAINTENANCE SCALE No Activity 1 TOILET 4 Cares for self at toilet completely. Add the value numbers to obtain total score.

grounds or city 3 Ambulates within residence or about one block distant 2 Ambulates with assistance of (check one): another person. railing. with help preparing food or with help in cleaning up after meals 2 Feeds self with moderate assistance and is untidy 1 Requires extensive assistance for all meals 0 Does not feed self at all and resists efforts of others to feed him 3 DRESSING 4 Dresses. cane. more than once a week 0 No control of bowels or bladder 2 FEEDING 4 Eats without assistance 3 Eats with minor assistance at meal times. without assistance 3 Grooms self adequately. with minor assistance 2 Needs moderate assistance in dressing or selection of clothes 1 Needs major assistance in dressing but cooperated with efforts of other to help 0 Completely unable to dress self and resists efforts of others to help 4 GROOMING 4 Always neatly dressed and well-groomed. with occasional minor assistance 2 Needs moderate and regular assistance or supervision in grooming 1 Needs major assistance in dressing but cooperates with efforts of others to help 0 Actively negates all efforts to others to maintain grooming 5 PHYSICAL AMBULATION 4 Goes about . undressed and selects clothes from own wardrobe 3 Dresses and undresses self. walker. but cannot propel self without help 0 Bedridden more than half the time 4 4 4 4 .or wheelchair: gets in and out without help needs help in getting in and out 1 Sits unsupported in chair or wheelchair.36 1 Soiling or wetting while awake.

etc. sponge bath) without help 3 Bathes self. 2 Dials a few well known numbers 1 Answers telephone but does not dial 0 Does not use telephone at all 2 SHOPPING 3 Takes care of all shopping needs independently 2 Shops independently for small purchases 1 Needs to be accompanied on any shopping trip 0 Needs to have meals prepared and served 3 Value 1 3 FOOD PREPARATION 3 Plans. and resists efforts to keep him clean SCORE 26 2 GERIATRIC ASSESSMENT CENTER SCALE FOR INSTRUMENTAL ACTIVITIES OF DAILY LIVING No Acitvity 1 ABILITY TO USE TELEPHONE 3 Operates telephone on own initiative.37 6 BATHING 4 Bathes self (tub. but cannot bathe rest of body 1 Does not wash self but is cooperative with those who bathe him 0 Does not travel at all 4 7 RESPONSIBILITY FOR OWN MEDICATION 2 Is responsible for taking medication in correct dosage at correct time 1 Takes responsibility if medication is prepared in advance in separate dosages 0 Does not try to wash self. looks up and dials numbers. with help in getting in and out of tub 2 Washes face and hands only. shower. prepares and serves adequate meals independently 2 Prepares adequate meals if supplied with ingredients 1 .

but does not otherwise use public transportation 2 Travels on public transportation when assisted or accompanied by another 1 Travel limited to taxi or automobile.g. write checks. or prepares meals but does not maintain adequate diet 0 Needs to have meals prepared and served 4 HOUSE KEEPING 4 Maintains house alone or with occasional assistance (e..38 1 Heats and serves prepared meals. etc. with assistance of another 0 Does not travel at all 7 RESPONSIBILITY OF OWN MEDICATION 2 Is responsible for taking medication in correct dosages at correct time 1 Takes responsibility if medication is prepared in advance in separate dosages 0 Is not capable of dispensing own medication 8 ABILITY TO HANDLE FINANCE 2 Manages financial matters independently (budgets. pays rent and bills. 0 All laundry must be done by others 6 MODE OF TRANSPORTATION 4 Travels independently on public transportation or drives own car 3 Arranges own travel via taxi. rinses socks. stockings. goes to Bank) collects and keeps 2 2 4 2 4 . heavy-work domestic help)` 3 Performs light daily tasks such as dish-washing and bed-making 2 Performs light daily tasks but cannot maintain acceptable \ level of cleanliness 1 Needs help with all home maintenance tasks 0 Does not participate in any housekeeping tasks 5 LAUNDRY 2 Does personal laundry completely 1 Launders small items.

but needs help with banking. Tetapi dari hasil semuanya rata-rata penilaiannya sudah baik atau cukup mandiri. . etc. itu pun bukan karena pasien tidak mandiri atau tidak bisa melainkan pasien tidak memliki atau tidak mengetahui barang atau komponen dari penilain tersebut. Hanya saja mungkin dari salah satu penilaian ada yang kurang. penilaian ADL dan IADL pada pasien bernama bapak “P” yang berusia 78 tahun ini masih memiliki kemandirian yang baik. 0 Incapable of handling money SCORE 18 Dari hasil home visit.39 track of income 1 Manages day-to-day purchases. major purchases.

40 Gambar 1. Bapak “P” usia 78 tahun Gambar 2. Anamnesis bersama Bapak “P” .

Pemeriksaan Penunjang Tes GDP kepada Bapak “P” .41 Gambar 3. Pemeriksaan Fisik Inspeksi kedua mata Bapak “P” Gambar 4. Pemeriksaan Fisik Inspeksi terhadap mata Bapak “P” Gambar 5.

Kamar mandi di kediaman Bapak “P” . Hasil Pemeriksaan Penunjang Tes GDP kepada Bapak “P” Gambar 7.42 Gambar 6. Hasil Pemeriksaan Penunjang Tes Asam Urat kepada Bapak “P” Gambar 4.

maka gejala-gejala atau . Pasien DM di Indonesia cukup banyak jumlahnya salah satunya ada beberapa pasien DM di Puskesmas Kesunean. Aktivitas pekerjaan Bapak “P” sehari-hari BAB IV PENUTUP 4.43 Gambar 4. Tetapi dari hasil semuanya rata-rata penilaiannya sudah baik atau cukup mandiri.1 Simpulan Dari hasil home visit. Hanya saja mungkin dari salah satu penilaian ada yang kurang. penilaian ADL dan IADL pada pasien bernama bapak Pulung yang berusia 78 tahun ini masih memiliki kemandirian yang baik. itu pun bukan karena pasien tidak mandiri atau tidak bisa melainkan pasien tidak memliki atau tidak mengetahui barang atau komponen dari penilian tersebut.

2.cdc. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. 4. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) Edisi Ke-3. Jakarta. Patofisiologi konsep klinis prosesproses penyakit edisi 6 vol. Maka diharapkan adanya peningkatan kesadaran pasien untuk mengontrol kesehatan khususnya mengontrol gula darahnya yang dikonsultasikan dengan dokter yang merawatnya supaya hasil pengontrolan kesehatan yang dicapai dapat maksimal. Balai Penerbit FKUI. Soekidjo. Pendidikan. 2007 Prince A. Rineka Cipta.44 tanda-tanda dari penyakit tersebut harus segera dapat dipahami.2 Saran Karena obat bukan satu-satunya cara untuk penatalaksanaan penyakit DM alangkah baiknya olahraga disertai dengan pengaturan pola makan juga dapat digunakan sebagai penatalaksanaan penyakit DM. Jakarta. EGC . supaya penyakit tersebut dapat diketahui secara dini. Pasien harus memahami penatalaksanaan penyakit DM untuk mengurangi terjadinya komplikasi. DAFTAR PUSTAKA Darmojo. Wilson M. B. Jakarta.Sylvia. 2004. Perilaku Kesehatan. Depkes (2008) Pedoman Teknis Penemuan dan Tata Laksana Penyakit Diabetes Melitus Cetakan ke 2 National Diabetes Fact Sheet 2011 diakses dari www. Peran serta keluarga juga sangat penting untuk pasien DM dikarenakan dalam home visit yang kami lakukan pasiennya berusia lanjut sehingga keluarga diharapkan harus selalu mengingatkan dan mengawasi kesehatan pasien DM tersebut.gov pada September 2011 Notoatmojo. karena penyakit DM tidak dapat disembuhkan melainkan hanya dapat dikontrol kadar glukosa dalam darah. Lorraine 2006.

. 2010. Setiati S. Jakarta. FKUI.. Setiyohadi B. Simadribata M.45 Saddock.W. Jakarta.. 2. Sudoyo A. Kaplan & Sadock Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Edisi. 2009. EGC. dkk. Benjamin. Alwi I. Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam edisi V jilid III. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful