You are on page 1of 2

Edisi No.

11

Buletin the WAHID Institute

Agama dan Keyakinan dalam R–KUHP


Alamat Redaksi: Jl. Taman Amir Hamzah No 8 Jakarta 10320 Indonesia. Telp: +62 21–3928233, 3145671 Faks: +62 21–3928250
E–mail: info@wahidinstitute.org. Web: www.wahidinstitute.org ; www.gusdur.net

Pasal-Pasal Agama dalam RKUHP Cenderung Diskriminatif


P
ada awalnya, KUHP “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang
yang sekarang masih siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau
berlaku tidak mengatur melakukan perbuatan; a. yang pokoknya bersifat permusuhan,
agama. Delik agama dalam penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di In-
KUHP muncul setelah terbit donesia; b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama
UU No.1/PNPS/1965. Pasal 4 apapaun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.”
UU tersebut memerintahkan
agar ketentuan pasal UU ter- Pasal tersebut dimasukkan dalam Bab V KUHP tentang Kejahatan
sebut yang mengatur tentang terhadap Ketertiban Umum. Peletakan pasal tersebut dalam Bab V
delik agama dimasukkan dalam bisa dilihat bahwa, yang dimaksud kejahatan terhadap agama adalah
KUHP pasal 156a. Seleng- kejahatan terhadap ketertiban umum.
kapnya sbb: Namun berbeda dalam praktiknya. Dari berbagai kasus, antara lain
dari kasus cerpen Ki Panji Kusmin dengan tersangka H.B. Yassin, kasus
Tabloid Monitor dengan tersangka Arswendo Atmowiloto, kasus Lia

Pengantar Redaksi Eden dengan tersangka Lia Aminuddin, kasus YKNCA dengan
tersangka Ardi Hussen, hampir tidak ada kaitan antara pelanggaran
yang disangkakan terhadap mereka dengan kejahatan ketertiban umum.
Inisiatif penyusunan Rancangan Kasus-kasus tersebut berkaitan dengan pendapat dan ide mereka yang
Undang-undang Kitab Undang-
diprotes oleh kelompok tertentu di dalam masyarakat, karena dianggap
undang Hukum Pidana (RUU-
KUHP) yang merupakan penyempur-
menyimpang dari pendapat pemrotes yang menglaim diri sebagai main-
naan terhadap KUHP lama bikinan pe- stream. Apa yang dimaksud dengan Kejahatan terhadap Ketertiban
merintahan Belanda, patut disambut Umum dalam proses pengadilan tersebut menjadi sangat kabur.
baik. Namun jika ditelisik lebih jauh, vonis atas mereka sesungguhnya lebih
Namun masih banyak masalah mendasarkan pada pengertian tentang delik agama dalam UU No. 1/
dalam draft RUU-KUHP yang harus PNPS/1965 pasal 1. Selengkapnya berbunyi demikian:
dibahas dan dikaji. Ini karena berbagai
pasalnya cenderung tidak melindungi “Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan,
warga negara secara keseluruhan. Selain menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan
itu terdapat unsur-unsur mendiskri- penafsiran tentang sesuatu agama yang utama di Indonesia atau melakukan
minasi kelompok tertentu. kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan agama
Tulisan ini akan membahas pasal- itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran
pasal RUU-KUHP tentang delik dari agama itu.”
agama dan kehidupan beragama.
Kesimpulannya adalah pertama, penerapan atas pasal 156a KUHP
lebih ditujukan kepada perbuatan “menafsirkan dan kegiatan agama”
Dew an R
Dewan edaksi: Yenny Zannuba
Redaksi: yang menyimpang dari agama utama di Indonesia ketimbang perbuatan
Wahid, Ahmad Suaedy, menganggu atau kejahatan terhadap ketertiban umum. Kedua, pasal
Rumadi, Moqsith Ghazali tersebut hanya berlaku untuk melindungi agama utama di Indonesia,
Redaktur: Gamal Ferdhi, Subhi tidak termasuk agama yang dianggap bukan agama utama apalagi
Azhari, Nurul Maarif, Nurun Nisa kepercayaan atau aliran kepercayaan yang selama ini hidup di Indone-
Desain: Widhi Cahya sia.
Kerjasama The Wahid Institute—Yayasan TIFA No.11/Maret 2007
Pasal-Pasal Agama dalam RKUHP
Cenderung Diskriminatif
Sedangkan sebutan “agama yang utama” dalam dan penghasutan untuk meniadakan keyakinan
pasal tersebut mengacu pada penjelasan pasal terhadap agama. Cakupan ini terdiri dari 5 pasal.
dalam UU No. 1/PNPS/1965 , yaitu enam agama Kedua, tindak pidana terhadap kehidupan ber-
(Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan agama dan sarana ibadah dan perusakan tempat
Kong Hu Chu). ibadah. Cakupan ini terdiri dari 3 pasal.
Dari hasil investigasi, the Wahid Institute Dari sudut bunyi pasal-pasalnya, memang ada
menemukan bahwa protes yang melibatkan massa beberapa yang perlu diapresiasi. Misalnya pasal
terhadap ide dan kegiatan mereka yang dianggap tentang membubarkan dengan kekerasan atau an-
menyimpang melibatkan tokoh-tokoh tertentu. caman kekerasan terhadap jamaah, yang sedang
Dengan kata lain, protes massa itu digerakkan oleh melakukan ibadah; mengejek dan menganggu
kepentingan tertentu. Vonis yang dijatuhkan oleh orang yang sedang menjalankan ibadah; mengejek
pengadilan dalam kasus-kasus tersebut lebih petugas agama, dan sebagainya. Pasal-pasal ini
disebabkan oleh tekanan massa dan tokoh tertentu bisa menjerat mereka yang suka main hakim sendiri
di luar pengadilan, ketimbang pembuktian di ruang dengan menggang gu, membubarkan dan
pengadilan. mengancam kelompok agama atau keyakinan
tertentu.
Bagaimana delik agama dalam RUU-KUHP?
Tetapi kelompok pasal-pasal tentang delik
Delik agama dalam RUU-KUHP, ternyata dalam agama tentang penghinaan terhadap agama; seperti
praktiknya belum terlepas dari pengertian delik menghina Tuhan dan firman dan sifat-Nya dan
agama seperti pada pasal 156a KUHP. seterusnya cenderung bisa ditafsirkan seba-
Dari satu pasal dalam KUHP menjadi delapan gaimana penerapan pada pasal 156a KUHP.
pasal dalam RUU-KUHP, justru memperluas dan
memperinci pengertian yang diambil dari UU No. Kesimpulan
1/PNPS/1965 tersebut. Jadi, agama tidak diambil Jadi perlu ada tinjauan secara menyeluruh
pengertiannya yang umum yang hidup di Indone- terhadap pasal tindak pidana agama dan
sia, melainkan suatu pengertian yang telah kehidupan beragama dalam RUU-KUHP untuk
didistorsi melalui UU tersebut dalam konteks disesuaikan dengan era demokrasi. Perumusan
kepentingan dan sistem politik tertentu. RUU-KUHP har us dikembalikan kepada
Jadi, latar belakang kondisi politik lahirnya UU pengertian UUD 45 dengan segala amande-
No. 1/PNPS/1965 perlu dipahami. Yaitu, suatu mennya. Juga, harus dilepaskan dari pengertian
masa dimana peran negara dan pemerintah sangat UU yang mendistorsi pengertian agama seperti
sentral, sehingga kerap melahirkan UU yang UU No. 1/PNPS/1965.
bersifat state heavy atau mendasarkan pada paham Karena kandungan amandemen UUD 1945
negara integralistik. Di sisi lain, terjadi ketegangan telah banyak memasukkan unsur-unsur baru dan
politik yang sangat tinggi ketika itu, termasuk penegasan beberapa aspek Hak Asasi Manusia.
ketegangan antara mereka yang kritis terhadap Juga UUD 1945 yang asli telah tanpa syarat
kehidupan agama dan mereka yang memegang menerima dan bahkan mendahului Deklarasi Uni-
teguh agama, sehingga dikuatirkan menimbulkan versal Hak-hak Asasi Manusia (DUHAM).
kekerasan horisontal. Akhirnya negara yang Dengan demikian, UU dan RUU baru yang disu-
berkarakter integralistik itu pun campur tangan. sun di era reformasi seperti RUU-KUHP mesti-
Situasi masa lalu itu sudah tidak relevan setelah nya mengikuti perkembangan penghargaan
terjadi refor masi dan desentralisasi. Per- terhadap HAM bukannya mendistorsinya.
tanyaannya, mengapa RUU-KUHP yang disusun Pemberlakuan pasal-pasal delik agama dan
di era reformasi masih menempatkan situasi pada kehidupan beragama dalam RUU-KUHP dengan
masa otoritarianisme atau represif ? pengertian yang distortif, akan menjalar pada
Dalam RUU-KUHP ada 8 pasal tentang delik penerapan hukum yang diskriminatif dan
agama dan kehidupan beragama yang ditempatkan mempersubur ketidakadilan. Karena itu draf
pada BAB VII. Secara umum dalam RUU-KUHP, RUU-KUHP mestinya disusun ulang dengan
delik agama bisa dibagi dua. Pasal-pasal yang mendasarkan pada perspektif UUD 1945 dan
mengatur penghinaan terhadap agama, terdiri dari prinsip-prinsip HAM.[]
dua bagian. Pertama, penghinaan terhadap agama (AS)