PENATALAKSANAAN MEDIS Penatalaksanaan saat awal trauma pada cedera kepala selain dari factor mempertahankan fungsi ABC

(airway, breathing, circulation) dan menilai status neurologis (disability, exposure), maka factor yang harus diperhitungkan pula adalah mengurangi iskemia serebri yang terjadi. Keadaan ini dapat dibantu dengan pemberian oksigen dan glukosa sekalipun pada otak yang mengalami trauma relative memerlukan oksigen dan glukosa yang lebih rendah. Selain itu perlu pula dikontrol kemungkinan tekanan intracranial yang meninggi disebabkan oleh edema serebri. Sekalipun tidak jarang memerlukan tindakan operasi, tetapi usaha untuk menurunkan tekanan intracranial ini dapat dilakukan dengan cara menurunkan PaCO2 dengan hiperventilasi yang mengurangi asidosis intraserebral dan menambah metabolisme intraserebral. Adapun usaha untuk menurunkan PaCO2 ini yakin dengan intubasi endotrakeal, hiperventilasi. Tin membuat intermittent iatrogenic paralisis. Intubasi dilakukan sedini mungkin kepala klien-lkien yang koma untuk mencegah terjadinya PaCO2 yang meninggi. Prinsip ABC dan ventilasi yang teratur dapat mencegah peningkatan tekanan intracranial. Penatalaksanaan konservatif meliputi : 1. 2. 3. Bedrest total. Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesadaran). Pemberian obat-obatan

§ Dexmethason / kalmethason sebagai pengobatan anti-edema serebral, dosis sesuai dengan berat ringannya trauma. § Terapi hiperventilasi (trauma kepala berat), untuk mengurangi vasodilatasi. § Pengobatan anti-edema dengan larutan hipertonis, yaitu manitol 20%, atau glukosa 40%, atau gliserol 10%. § Antibiotika yang mengandung barrier darah otak (pensilin) atau untuk infeksi anaerob diberikan metronidasol. 4. Makanan atau cairan. Pada trauma ringan bila muntah-muntah tidak dapat diberikan apaapa,hanya cairan infuse dextrose 5%, aminofusin, aminofel (18 jam pertama dari terjadinya kecelakaan), 2-3 hari kemudian diberikan makanan lunak. 5. Pada trauma berat. Karena hai-hari pertama didapat klien mengalami penurunan kesadaran dan cenderung terjadi retensi natrium dan elektrolit maka hari-hari pertama (2-3 hari) tidak terlalu banyak cairan. Dextosa 5% 8 jam pertama, ringer dextrosa 8 jam kedua, dan dextrose 5% 8 jam ketiga, pada hari selanjutnya bila kesadaran rendah maka makanan diberikan melalui nasogastric tube (2500-300 TKTP). Pemberian protein tergantung dari nilai urenitrogennya.

b. letargi.delirium. Perdarahan ulang Kebocoran cairan otak Infeksi pada luka atau sepsis Timbulnya edema serebri Timbulnya edema pulmonum neurogenik. cedera/trauma ortopedi. d. Sirkulasi Gejala :Perubahan tekanan darah atau normal. b. Eliminasi . g. e. KOMPLIKASI a. akibat peninggian TIK Nyeri kepala setelah penderita sadar Konvulsi II.kaku hilang keseimbangan Tanda : Perubahan kesadaran. c. d. hemiparese. masalah dlm keseimbangan.takikardia yg diselingi bradikardia disritmia) c.mudah tersinggung. Aktifitas dan istirahat Gejala : merasa lemah. Integritas ego Gejala Tanda : Perubahan tingkah laku atau kepribadian :Cemas. kehilangan tonus otot. PENGKAJIAN Data dasar pengkajian pasien tergantung tipe.bingung.agitasi.K. KONSEP KEPERAWATAN A.lokasi dan keparahan cedera dan mungkin di persulit oleh cedera tambahan pada organ vital a. Perubahan frekuensi jantung (bradikardia. ataksia cara berjalan tidak tegap. f.depresi.lelah.

Pernafasan Tanda i.muntah dan mengalami perubahan selera : muntah. Kulit : laserasi. Tidak efektif kebersihan jalan napas yang berhubungan dengan penumpukan sputum. Perubahan pupil. Neurosensori Gejala :Kehilangan kesadaran sementara.amnesia seputar kejadian. Genggaman lemah tidak seimbang.kehilangan pendengaran. Demam. Keamanan Gejala : Trauma baru/trauma karena kecelakaan : Perubahan pola nafas. vertigo. sinkope. 3. kehilangan sebagain lapang pandang. Wajah tdk simetris. Makanan/cairan Gejala Tanda f. Ketidakefektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan depresi pada pusat pernapasan di otak. : mual.mengi. ketidakmampuan batuk/batuk efektif. Kehilangan penginderaan.adanya aliran cairan dari telin ga atau hidung. Gangguan rentang gerak. gangguan pengecapan dan penciuman Tanda : Perubahan kesadran bisa sampai koma.abrasi. adanya jalan napas buatan pada trakea.gangguan menelan Tanda : Fraktur/dislokasi. Perubahan dalam penglihatan seperti ketajamannya. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.Gejala : Inkontensia kandung kemih/usus mengalami gangguan fungsi e. penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan. Risiko tinggi peningkatan tekanan intracranial yang berhubungan dengan desak ruang sekunder dari kompresi korteks serebri dari adanya perdarahan baik bersifat intraserebral hematoma.tanda batle disekitar telinga.ronkhi.gangguan penglihatan. Kehilangfan sensasi sebagian tubuh g. . stridor. nyeri yang hebat. nafas berbunyi. kegagalan ventilator.respon menarik pd ransangan nyeri. kelemahan oto-otot pernapasan. ekspansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan. B. tersedak.merintih. : Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yg berbeda biasanya lama : Wajah menyeringai. 2.tinitus. peningkatan sekresi sekret. dan perubahan perbandingan O2 dengan CO2.perubahan warna. diplopia. Nyeri/kenyamanan Gejala Tanda h. Perubahan status mental. Gangguan kognitif.

subdural hematoma. 6. RENCANA KEPERAWATAN DX 1 : Resiko tinggi peningkatan TIK yang berhubungan dengan desak ruang sekunder dari kompresi korteks serebri dari adanya perdarahan baik bersifat intraserebral hematoma. Kriteria hasil : klien tidak gelisah. Tujuan : dalam waktu 2x24 jam tidak terjadi peningkatan TIK pada klien. Dengan peningkatan tekanan darah (diastolic) maka dibarengi dengan . C. 5. nemotuma). dan epidural hematoma. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan perubahan kemampuan mencerna makanan. tidak terdapat papiledema. GCS 4. peningkatan kebutuhan metabolisme. Deteksi dini untuk memprioritaskan intervensi. penurunan dari autoregulator kebanyakan merupakan tanda penurunan difusi local vaskularisasi darah serebral. Perubahan kenyamanan: nyeri akut yang berhubungan dengan trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder.4. 5. Memonitor tanda-tanda vital tiap 4 jam Suatu keadaan normal bila sirkulasi serebral terpelihara dengan baik atau fluktuasi ditandai dengan tekanan darah sistemik. 6. Perubahan perfusi serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah (nemongi. mual-mual dan muntah. klien tidak mengeluh nyeri kepala. Intervensi Rasionalisasi Mandiri Kaji faktor penyebab dari situasi/keadaan individu/penyebab koma/penurunan perfusi jaringan dan kemungkinan penyebab peningkatan TIK. mengkaji status neurologis/tanda-tanda kegagalan untuk menentukan perawatan kegawatan atau tindakan pembedahan. TTV dalam batas normal. edema serebral . penurunan TD sistemik / hipoksia.

. Panas merupakan refleks dari hipotalamus. Memberikan suasana yang tenang (colming effect) dapat mengurangi respons psikologis dan memberikan istirahat untuk mempertahankan TIK yang rendah. Hindari penggunaan bantal yang tinggi pada kepala. Pertahankan kepala/leher pada posisi yang netral. Peningkatan kebutuhan metabolism dan O2 akan menunjang peningkatan TIK/ICP (Intracranial Pressure). Sentuhan yang ramah. Cegah/hindarkan terjadinya valsava maneuver. usahakan dengan sedikit bantal. ketajaman. Kurangi rangsangan ekstra dan berikan rasa nyaman seperti masase punggung. Respon terhadap cahaya merupakan kombinasi fungsi dari saraf cranial II dan III. dan reaksi terhadap cahaya. untuk itu dapat meningkatkan tekanan intracranial. Reaksi pupil diatur oleh saraf III cranial (okulomotorik) yang menunjukkan keseimbangan antara parasimpatis dan simpatis. Adanya peningkatan tekanan darah. bradikardi.peningkatan tekanan darah intrakrinial. disritmia. dan suasana / pembicaraan yang tidak gaduh. dispnea merupakan tanda terjadinya peningkatan TIK. amati ukuran. Reaksi pupil dan pergerakan kembali dari bola mata merupakan tanda dari gangguan nervus/saraf jika batang otak terkoyak. Monitor temperatur dan pengaturan suhu lingkungan. Berikan periode istirahat antara tindakan perawatan dan batasi lamanya prosedur. lingkungan yang tenang. Evaluasi pupil. Perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulkan penekanan pada vena jugularis dan menghambat aliran darah otak (menghambat drainase pada vena serebral). Tindakan yang terus-menerus dapat meningkatkan TIK oleh efek rangsangan kumulatif.

Berikan penjelasan pada klien (jika sadar) dan keluarga tentang sebab-sebab TIK meningkat. Palpasi pada pembesaran/pelebaran bladder. muntah. Aktivitas ini dapat meningkatkan intrathorakal/tekanan dalam thoraks dan tekanan dalam abdomen dimana aktivitas ini dapat meningkatkan tekanan TIK. Observasi tingkat kesadaran dengan GCS. Kolaborasi untuk tindakan operatif evakuasi darah dari dalam intracranial. nyeri yang tidak menurun dapat meningkatkan TIK. Mengurangi hipoksemia. Kolaborasi : Pemberian O2 sesuai indikasi. dan menaikkan TIK. Tingkah nonverbal ini dapat merupakan indikasi peningkatan TIK atau memberikan refleks nyeri dimana klien tidak mampu mengungkapkan keluhan secara verbal. volume darah.Mengurangi tekanan intratorakal dan intraabdominal sehingga menghindari peningkatan TIK. Kaji peningkatan istirahat dan tingkat laku. Dapat meningkatkan repons otomatis yang potensial menaikkan TIK. Perubahan kesadaran menunjukkan peningkatan TIK dan berguna menentukan lokasi dan perkembangan penyakit. Bantu klien jika batuk. pertahankan drainase urine secara paten jika di gunakan dan juga monitor terdapatnya konstipasi. Meningkatkan kerja sama dalam meningakatkan perawatan klien dan mengurangi kecemasan. . dimana dapat meningkatkan vasodilatasi serebral.

Berikan antipiretik contohnya : asetaminofen. kegagalan ventilator. .Tindakan pembedahan untuk evakuasi darah dilakukan bila kemungkinan terdapat tanda-tanda deficit neurologis yang menandakan peningkatan ntrakranial. tekanan darah dan TIK. LED. Membantu memberikan informasi tentang efektifitas pemberian obat. kelemahan otot-otot pernapasan. Mungkin di indikasikan untuk mengurangi nyeri dan obat ini berefek negatif pada TIK tetapi dapat digunakan dengan tujuan untuk mencegah dan menurunkan sensasi nyeri. Diuretic mungkin digunakan pada fase akut untuk mengalirkan air dari sel otak dan mengurangi edema serebral dan TIK. Berikan obat osmosis diuretic contohnya : manitol. Berikan analgesic narkotik contoh : kodein. Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam setelah intervensi adanya peningkatan. Monitor hasil laboratorium sesuai dengan indikasi seperti prothrombin. furoscide. Untuk menurunkan inflamasi (radang) dan mengurangi edema jaringan. DX 2 : Ketidakefektifnya pola pernapasan yang berhubungan dengan depresi pusat pernapasan. Mengurangi/mengontrol hari dan pada metabolisme serebral/oksigen yang diinginkan. peningkatan minimum pada pembuluh darah. Berikan steroid contohnya : dexamethason. methyl prenidsolon. dan perubahan perbandingan O2 dengan CO2. Pemberian cairan mungkin di inginkan untuk mengurangi edema serebral. pola napas kembali efektif. Berikan cairan intravena sesuai indikasi. ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma.

bantu klien untuk control diri dengan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam. biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur. . Ventilator yang memiliki alarm yang bias dilihat dan didengar misalnya alarm kadar oksigen. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan. adaptif mengatasi faktor-faktor penyebab. Meningkatkan inspirasi maksimal. Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stress fisiologi dan nyeri atau dapat menunujukkan terjadinya syok sehubungan dengan hipoksia. yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas. mengalami perbaikan pertukaran gasgas pada paru. atau perubahan tanda-tanda vital. Jelaskan pada klien tentang etiologi/factor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru. Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik. Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia. Observasi fungsi pernapasan. Intervensi Rasionalisasi Berikan posisi yang nyaman.Kriteria hasil : Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektif. Periksalah alarm pada ventilator sebelum difungsikan. meningkatkan ekspansi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit. dispnea. Pertahankan perilaku tenang. tinggi/rendahnya tekanan oksigen. Balik kesisi yang sakit. Jangan mematikan alarm.

pengaturan posisi. memeriksa tekanan oksigen dalam tabung. dan ketidakmampuan batuk/batuk efektif sekunder akibat nyeri dan keletihan.Tarulah kantung resusitasi disamping tempat tidur dan manual ventilasi untuk sewaktu-waktu dapat digunakan. monitor manometer untuk menganalisis batas/kadar oksigen. Mengkaji tidal volume (10-15 ml/kg). Bantulah klien untuk mengontrol pernapasan jika ventilator tiba-tiba berhenti. napas perut. . Memerhatikan letak dan fungsi ventilator sebagai kesiapan perawat dalam memberikan tindakan pada penyakit primer setelah menilai hasil diagnostik dan menyediakan sebagai cadangan. Melatih klien untuk mengatur napas seperti napas dalam. Kantung resusitasi/manual ventilasi sangat berguna untuk mempertahankan fungsi pernapasan jika terjadi gangguan pada alat ventilator secara mendadak. peningkatan sekresi sekret. § Konsul foto thoraks. radiologi. dan teknik relaksasi dapat membantu memaksimalkan fungsi dan system pernapasan. napas pelan. DX 3 : Tidak efektif bersihan jalan napas yang berhubungan dengan adanya jalan napas buatan pada trakea. § Pemberian antibiotik. dan fisioterapi. § Fisioterapi dada. periksa fungsi spirometer. Perhatikan letak dan fungsi ventilator secara rutin. Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam terdapat perilaku peningkatan keefektifan jalan napas. § Pemberian analgesic. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya. Pengecekan konsentrasi oksigen.

bertambahnya sesak napas. Lekatkan tube secara hati-hati dengan memakai perekat khusus. Lakukan penghisapan lender jika diperlukan. Gunakan kateter pengisap yang sesuai. Intervensi Rasionalisasi Kaji keadaan jalan napas Obstruksi mungkin dapat disebabkan oleh akumulasi sekret. bertambahnya bunyi ronkhi. Beri tanda batas bibir. Catat adanya batuk. menunjukkan batuk yang efektif. menyebabkan obstruksi jalan napas ke paru-paru kanan dan mengakibatkan klien mengalami pneumothoraks. ronkhi tidak terdengar. sisa cairan mucus. Endotracheal tube dapat saja masuk ke dalam bronchus kanan. Evaluasi pergerakan dada dan auskultasi suara napas pada kedua paru (bilateral). bronkhospasme. Pergerakan dada yang simetris dengan suara napas yang keluar dari paru-paru menandakan jalan napas tidak terganggu. suara alarm dari ventilator karena tekanan yang tinggi. . Selama intubasiklien mengalami refleks batuk yang tidak efektif. batasi durasi pengisapan dengan 15 detik atau lebih. tracheal tube bebas sumbatan. Berikan oksigen 100% sebelum dilakukan pengisapan dengan ambu bag (hiperventilasi). cairan fisiologis steril. Semua klien tergantung dari alternatif yang dilakukan seperti mengisap lender dari jalan napas.Kriteria hasil : Bunyi napas terdengar bersih. tidak ada lagi penumpukan sekret di saluran pernapasan. perdarahan. Mohon bantuan perawat lain ketika memasang dan mengatur posisi tube. atau klien akan mengalami kelemahan otot-otot pernapasan (neuromuscular/neurosensorik). pengeluaran sekret melalui endotracheal/tracheostomy tube. dan/atau posisi dari endotracheal/tracheostomy tube yang berubah. Monitor letak/posisi endotracheal tube. Saluran napas bagian bawah tersumbat dapat terjadi pada pneumonia/atelektasis akan menimbulkan perubahan suara napas seperti ronkhi atau wheezing. keterlambatan untuk batuk.

bersin jika ada indikasi. Diameter kateter pengisap tidak boleh lebih dari 50% diameter endotracheal/tracheostomy tube untuk mencegah hipoksia. Anjurkan klien mengenai tekhik batuk selama pengisapan seperti waktu bernapas panjang. batuk kuat. Ajarkan klien tentang metode yang tepat untuk pengontrolan batuk. Atur/ubah posisi klien secara teratur (tiap 2jam). Mengatur pengeluaran sekret dan ventilasi segmen paru-paru. Berikan minum hangat jika keadaan memungkinkan. Jelaskan kepada klien tentang kegunaan batuk efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di saluran pernapasan. Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin. mengurangi risiko atelektasis. Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif. Dengan membuat hiperventilasi melalui pemberian oksigen 100% dapat mencegah terjadinya atelektasis dan mengurangi terjadinya hipoksia. mempermudah pengeluaran sekret. Membantu pengenceran sekret. dapat menyebabkan frustasi. Memungkinkan ekspansi paru lebih luas. . Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik. Batuk yang efektif dapat mengeluarkan sekret dari saluran napas. dan durasinya pun dapat dikurangi untuk mencegah bahaya hipoksia.Pengisapan lendir tidak selamanya dilakukan terus-menerus.

Higine mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut. radiologi. § Fisioterapi dada. § Pemberian antibiotic. Untuk menghindari pengentalan dari sekret atau mosa pada saluran napas pada bagian atas. dikeluarkan sebanyak mungkin melalui mulut. § Konsul foto thoraks. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk. mempermudah pengeluaran sekresi sekret. Pernapasan diafragma menurunkan frekuensi napas dan meningkatkan ventilasi alveolar. dan fisioterapi. Lakukan napas kedua. tahan. . : mempertahankan hidrasi yang adekuat. Tahap napas selama 3-5 detik kemudian secara perlahan-lahan. yang mengarah pada atelektasis. Sekresi kental sulit untuk di encerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mucus. § Pemberian ekspektoran. Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien. Meningkatkan volume udara dalam paru. Kolaborasi dengan dokter. dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.Lakukan pernapasan diafragma. meningkatkan masukan cairan 1000-1500 cc/hari bila tidak ada kontraindikasi.

Berikan obat-obat bronchodilator sesuai indikasi seperti aminophilin.Ekspektoran untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya. dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri. Mengatur ventilasi dan melepaskan sekret karena relaksasi muscle/bronchospasme. klien tidak gelisah. DX 4 : Nyeri akut yang berhubungan dengan trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder. Lakukan fisioterapi dada sesuai indikasi seperti postural drainage. Kriteria hasil : Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi. Intervensi Rasional Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non-invasif. meta-proterenol sulfat (alupent). Ajarkan relaksasi : Teknik-teknik untuk menurunkan ketegangan otot rangka. Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunujukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri. Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam nyeri berkurang/hilang. Mengatur ventilasi segmen paru-paru dan pengeluaran sekret. adoetharine hydrochloride (bronkosol). . perkusi/penepukan. yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase.

edema serebral . penurunan TD sistemik / hipoksia. Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan. Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.Akan melansarkan peredaran darah sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi dan akan mengurangi nyerinya. mendemonstrasikan vital sign yang stabil dan tidak ada tanda-tanda peningktan TIK. belakangnya dipasang bantal kecil. 30 menit setelah pemberian obat analgesic untuk mengkaji efektivitasnya serta setiap 1-2 jam setelah tindakan perawatan selama 1-2 hari. DX 5 : Perubahan perfusi serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah (nemongi. penurunan fungsi neurologis dapat d minimalkan /distabilkan. Tujuan : Dalam waktu 2x24 jam fungsi serebral membaik. fungsi kognitif dan motorik/sensorik. Analgetik memblok lintasan nyeri. pemberian analgetik. Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang objektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat. Istirahat akan merelaksasikan semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan. nemotuma). sehingga nyeri akan berkurang. Berikan kesempatan waktu istirahat bala terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman misalnya ketika tidur. Intervensi Rasional Kaji ulang tanda-tanda vital . Kriteria hasil : mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik. Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab nyeri dan respons motorik klien. Kolaborasi dengan dokter.

catat adanya hipertensi sistolik secara teratur dan tekanan nadi yang makin berat. Perubahan pada ritme (paling sering bradikardia) dan disritmia dapat timbul yang encerminkan adanya depresi / trauma pada batang otak pada pasien yang tidak mempunyai kelainan jantung sebelumnya.Hipovolumia/ Ht (yang berhubungan dengan trauma multiples) dapat mengakibatkan kerusakan / iskemik serebral. Monitor tekanan darah. ganda. pada klien yang mengalami trauma multiple. Pandang menyempit dan kedalaman persepsi. . Peningkatan tekanan darah sistemik yang diikuti penurunan tekanan darah distolik (nadi yang membesar) merupakan tanda terjadinya peningkatan TIK. seperti periode apnea setelah hiperventilasi (pernafasan cheyne – stokes). Monitor pernafasan meliputi pola dan ritme. obs. lap. perluasan dan perkembangankerusakan ssp. Monitor Heart Rate. Gangguan penglihatan dapat diakibatkan oleh kerusakan mikroskopik pada otak. Nafas tidak teratur menunjukkan adanya gangguan serebral/ peningkatan TIK dan memerlukan intervensi lebih lanjut termasuk kemungkinan dukungan nafas buatan. Kaji perubahan pada penglihatan ( penglihatan kabur. juga diikuti ( yang berhubungan dengan trauma kesadaran.klien dan status relirologis klien Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentukan lokasi. takikardi atau bentuk disritmia lainya. ht. catat adanya bradikardi.

sehingga mengurangi kongesti dan edema / resiko terjadinya peningkatan TIK.Analgetik sedang . Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : .Diuretik .Steroid .Sedatif . Meningkatkan aliran balik vena dari kepala. Sokong dengan handuk kecil / bantal kecil.merupakan konsekuensi terhadap keamanan dan juga akan mempngaruhi pilihan intervensi Pertahankan kepala / leher pada posisi tengah/ pada posisi netral. Kolaborasi Tinggikan kepala pasien 15 – 45o sesuai indikasi / yang dapat ditoleransi. Kolaborasi pemberian O2 tambahan sesuai indikasi Menurunkan hipoksemia yang mana dapat menaikkan vasodilatasi dan vol darah serebral yang meningkatkan TIK. Hindari pemakaian bantal besar pada kepala Kepala yang miring pada salah satu sisi menekan vena jugularis dan menghambat aliran darah lain yang selanjutnya akan meningkat TIK.

Tujuan : Dalam waktu 3x24 jam kebutuhan nutrisi klien terpenuhi. yang selanjutnya menurunkan edema jaringan. Intervensi Rasional Mandiri Evaluasi kemampuan makan klien Klien dengan tracheostomy tube mungkin sulit untuk makan. · Untuk menurunkan air dari sel otak. memperlihatkan kenaikan berat badan sesuai dengan pemeriksaan laboratorium. menurunkan edema otak Menurunkan inflasi. · Untuk mengendalikan kegelisahan agitas DX 6 : gangguan nutrisi : kurang dari kbutuhan tubuh berhubungan dengan perubahan kemampuan mencerna makanan. tetapi klien dengan endotracheal tube dapat menggunakan mag slang atau memberi makanan parenteral. Kriteria hasil : mengerti tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh.· TIK. . peningkatan kebutuhan metabolisme. · Menghilangkan nyeri dan dapat berakibat Θ pada TIK tetapi harus digunakan dengan hasil untuk mencegah gangguan pernafasan.

dan kepekaan terhadap pemasangan ventilator. menganjurkan klien memilih makanan yang di senangi dapat dimakan ( bila sesuai anjuran). memudahkan masuknya makanan.Rencana Asuhan Keperawatan ed-3. dan mencegah gangguan pada lambung. Lakukan pemeriksaan laboratorium yang diindikasikan seperti serum. Memberikan informasi yang tepat tentang keadaan nutrisi yang dibutuhkan klien. karbohidrat dapat berperan dan penggunaan lemak meningkat untuk mencegah terjadinya produksi co2 dan pengaturan sisa respirasi.1999. transverin. Catat pemasukan peroral jika diindikasikan. Berikan makanan kecil dan lunak Mencegah terjadinya kelelahan.Observasi/timbang berat badan jika memungkinkan. protein. Tanda kehilangan berat badan (7-10%) dan kekurangan intake nutrisi menunjang terjadinya masalah katabolisme. Kolaborasi Aturlah diet yang diberikan sesuaii keadaan klien Diet tinggi kalori. karbohidrat sangat diperlukan selama pemasangan ventilator untuk mempertahankan fungsi otot-otot respirasi. anjurkan klien untuk makan Nafsu makan biasanya berkurang dan nutrisi yang masuk pun berkurang. Jakarta : EGC . Marilynn E.BUN/kreatinin dan glukosa. DAFTAR PUSTAKA Doenges. kandungan glikogen dalam otot.

com/2009/11/laporan-pendahuluan-cedera-kepala. Jakarta : EGC http://www.scribd. Arif. Jakarta : Salemba Medika Smeltzer.html . Suzanne C.blogspot.com/doc/20357839/Cedera-Kepala http://asuhan-keperawatan-yuli.2008.Muttaqin.2010. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol 3 ed-8.Buku Ajar asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan sistem persarafan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful