Examination of Urine

Sumber: Smith’s General urology. 17th Edition.

Urinalisis merupakan salah satu pemeriksaan urologis yang paling penting dan bermanfaat. Namun ada beberapa hal yang menyebabkan hasil urinalisis yang tidak memadai, antara lain : (1) pengumpulan yang salah (2) kegagalan dalam memeriksa spesimen dengan segera (3) pemeriksaan yang tidak cukup (ex: sebagian besar laboratorium tidak melakukan analisis mikroskopis) (4) pemeriksa yang kurang berpengalaman (5) pengetahuan pemeriksa yang tidak memadai tentang apa yang ditemukannya. Keperluan dari menjalani rutin urinalisis sebagai skrining biasanya dilakukan pada pasien asimptomatik yang datang ke rumah sakit. Pasien dengan tanda dan gejala pada urinary tract harus menjalani urinalisis. Melalui studi yang sudah dilakukan, diketahui jika macroscopic urynalisis (dip-strip) yang dihasilkan normal, maka analisis mikroskopis tidak diperlukan lagi. Apabila pasien menunjukan tanda dan gejala adanya urologic disease, atau ketika dip-strip menunjukan positif protein, heme, leukosit esterase ataupun nitrite, maka complete urynalisis, termasuk analisis mikroskopis terhadap sediment perlu dilakukan.

Urine Collection
A. Timing of Collection First-voided morning specimen sangat membantu untuk pemeriksaan kualitatif protein pada pasien yang diduga mengalami orthostic proteinuria dan juga penting untuk penilaian terhadap specific gravity sebagai pemeriksaan terhadap fungsi ginjal pada pasien dengan minimal renal disease due to diabetes mellitus atau sickle cell anemia. Spesimen urin yang diambil sesaat setelah pasien mengkonsumsi makanan atau spesimen yang telah ditinggalkan beberapa jam akan menjadi alkaline dan mungkin dapat ditemukan sel darah merah yang lisis, disintegrated casts, ataupun multiplikasi yang cepat dari bakteri, sehingga spesimen urin yang diambil beberapa jam setelah pasien makan dan diperiksa dalam waktu satu jam setelah pasien berkemih adalah yang paling baik untuk dilakukan. B. Method of Collection Pengumpulan spesimen yang tepat adalah penting untuk dilakukan, terutama ketika pasien mengalami hematuria atau proteinuria atau sedang di evaluasi untuk kemungkinan infeksi saluran berkemih. Untuk mendapatkan data urinalisis yang tepat maka urin harus dikumpulkan melalui sebuah metode yang seragam yang dilakukan di sebuah laboratorium utamanya. Spesimen urin harus diambil sebelum dilakukannya pemeriksaan rectal ataupun genital, dengan tujuan untuk mencegah kontaminasi. Urin yang diambil dari sebuah kondom, chronic kateter, ataupun intestinal conduit drainage bag bukanlah spesimen yang tepat untuk urinalisis. 1. Men Prosedurnya terdiri atas: (1) Retraction of the foreskin (sumber utama kontaminasi pada spesimen) dan membersihkan meatus dengan benzalkonium chloride atau hexachlorophene (2) Passing

Spesimen yang sudah terkumpul kemudian dipersiapkan dengan segera untuk sebagian jumlahnya dilakukan pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis. 2. rifampin yang akan menyebabkan warna urin menjadi yellow-orange. Apabila spesimen yang diinginkan tidak dapat diperoleh dengan metode diatas. dan alpha-methyldopa. Women Prosedurnya terdiri atas: (1) Pasien ditempatkan di meja pemeriksaan dalam posisi litotomi (2) Vulva dan urethral meatus dibersihkan dengan menggunakan benzalkonium chloride atau hexachlorophene (3) Labia are seperated (4) Pasien diinstruksikan untuk berkemih ke dalam kontainer yang didekatkan dengan vulva. dan sisanya disimpan di dalam kontainer yang steril untuk pemeriksaan selanjutnya.the first part of the stream (15-30 mL) without collection (3) Collecting the next or midstream portion (sekitar 50-100 mL) dalam sebuah kontainer yang steril. 3. maka tidak perlu ragu untuk mengambil spesimen melalui kateterisasi untuk mengeliminasi nonvaginal source of abnormal urinary constituents. Dengan metode midstream clean-catch ini. Suprapubic needle aspiration dilakukan dengan prosedur : (1) Terlebih dahulu membersihkan daerah suprapubic dengan menggunakan sponging dengan alkohol (2) Dengan sedikit anastesi lokal yang akan membuat intradermal wheal di midline 1-2 cm diatas pubis (3) Memasangkan 10 mL syringe ke 22-gauge needle. . diperkirakan dapat mengurangi kontaminasi terhadap spesimen oleh meatal ataupun urethral secretion. walaupun mungkin tidak sepenuhnya tereliminasi. Color and Appearance Perubahan warna pada urin seringkali disebabkan oleh konsumsi obat-obatan seperti : phenazopyridine (Pyridium) yang dapat menyebabkan warna urin menjadi orange. kemudian lakukan suction dengan syringe sehingga urin dapat diaspirasi sesegera mungkin. yang langsung ditutup rapat segera setelah dimasukkannya spesimen. Sedangkan urin yang digunakan untuk kultur memerlukan kateterisasi atau suprapubic needle aspiration. Macroscopic Examination Pemeriksaan maksroskopis dari urin seringkali dapat menyediakan petunjuk yang penting ketika dignosis pada pasien masih sulit ditegakkan. maka kemudian 50-100 mL yang dikeluarkan selanjutnya akan dikumpulkan kedalam steril kontainer yang setelahnya langsung ditutup dengan rapat. Children Urin yang digunakan untuk analisis (bukan yang digunakan untuk kultur bakteri) dapat diambil dari anak laki-laki maupun perempuan dengan cara melapisi dengan menggunakan plastic bag pada urethral meatus yang terlebih dahulu sudah dibershikan. Setelah pasien mengeluarkan sebanyak 10-20 mL urin. Kemudian masukan needle secara prependicular melalui abdominal wheal kedalam bladder wall. jika memang diperlukan. A. nitrofurantion menjadikannya berwarna cokelat.

Cloudy urine umumnya menunjukan adanya pyuria. seringkali digunakan sebagai diagnosis yang menunjukan dimana pasien dengan trauma intrakranial yang signifikan akan mengalami penurunan pada specific gravity dari urinnya dikarenakan penurunan dari ADH (Vasopressin) . specific quantitative protein tests. Walau bagaimanapun juga. protein. namun bagaimanapun juga konfirmasi ulang dengan pH meter seringkali dibutuhkan. . Chemical Test 1. nephrocalcinosis atau keduanya dapat mengalami renal tubular acidosis. Specific Gravity Normalnya adalah 1. phenolphthalein dalam laksatif. atau intravenous contrast agents. maka hematuria dapat dicurigai dan diperiksa lebih lanjut melalui analisis mikroskopis. Oleh karena itu. 2. myoglobinuria yang disebabkan oleh trauma otot. Peningkatan level protein secara persisten di dalam urin ( >150 mg/24 h) dapat mengindikasikan adanya penyakit yang signifikan. Dengan adanya urinary tract infection yang disebabkan oleh urea-splitting organisms (utamanya Proteus species). artificial plasma expander. atau urates. Indicator paper pada sebagian besar dip-strips adalah akurat. Pengukuran dengan menggunkan dip-strips utamanya dapat mendeteksi kehadiran albumin. namun tidak sensitif untuk Bence-Jones protein (Immunoglobulin). atau hemoglobinuria yang menyertai hemolisis. namun dengan pH acidic urin yang tidak mungkin sampai dibawah 6. electrophorectic studies of the urine. Pasien dengan calcium stones. Specific gravity dapat menunjukan adanya falsely elevated melalui kehadiran glukosa. pH : pH urin sangat penting dalam beberapa keadaan klinis yang spesifik. Urine yang berwarna merah tidak selalu menandakan adanya hematuria. Warna merah pada urin yang tidak diasosiasikan dengan intact eryhthrocyte dapat dihasilkan dari ekskresi betacyanin melalui ingesti gula. B. yang akan menghilang dengan tambahan acid. Protein : Dip-strips yang mengandung bromphenol blue dapat digunakan untuk menilai adanya >10 mg/dL protein di urin. kapanpun warna merah pada urin muncul. pH urin biasanya berada diatas 7.003-1.5 (uric acid terlarut dalam alkaline urin).metronidazole akan menyebabkan urin berwarna merah. Pasien dengan uric acid stones jarang sekali memiliki pH urin diatas 6. namun lebih seringnya hal tersebut disebabkan oleh banyaknya jumlah amorphous phosphate. atau keduanya diperlukan untuk menilai tipe spesifik dari protein yang ditemukan. namun deteksi akan persistent proteinuria dalam keadaan ini memerlukan pemeriksaan quantitative protein untuk konfirmasi.030. Low specific gravity dapat menjadi sebuah tanda awal adanya kerusakan ginjal dari kondisi seperti sickle cell anemia. C. ingesti pewarna sayuran.

Bakteri dan leukosit : Test strips yang digunakan untuk menilai jumlah dari bakteri (nitrite) atau leukosit (leukosit esterase) sebagai prediktor dari bakteriuria memiliki keakuratan seperti halnya microscopic sediment analysis yang menggunakan quantitative urine culture sebagai standard. Ascorbic acid yang terdapat di dalam urin dapat memberikan hasil false-negative. Walaupun tes ini merupakan indikator yang baik terhadap pyuria. Hasil false-negative terhadap leukosit esterase dapat disebabkan oleh glucosuria. Glucose : Pemeriksaan glucose oxidase-peroxidase yang digunakan dalam dip-strips adalah cukup akurat and specific for urinary glucose. Vitamin C. sebagai contoh enterocyte bacteria. False negative dapat terjadi pada bakteri yang tidak memiliki enzim nitrate reductase atau pada keadaan dietary nitrate is absent. yang memiliki kapasitas untuk mengurangi nitrate menjadi nitrite sehingga dapat terdeteksi melalui test ini. 5. Sehingga. atau cephalosporin.000 organisme per ml. Banyak bakteri yang berperan pada infeksi urinary tract. atau rifampin di dalam urin. Hemoglobin : Dip-strip test untuk hemoglobin tidaklah spesifik untuk eritrosit dan digunakan hanya untuk skrining hematuria. atau oleh phenazopyridine hydrochloride (Pyridium). Nitrite reductase test bergantung pada konversi dari nitrate menjadi nitrite. seringkali tes ini dikombinasikan dengan nitrite test untuk mendeteksi baik itu bacteriuria dan inflamasi untuk memaksimalkan dugaan terhadap infeksi pada urinary tract. Perlu dicatat bahwa dilute urine (<1.3.008) akan melisis eritrosit sehingga akan menghasilkan positif dip-strip reading untuk hemoglobin tapi tidak ada eritrosit yang terlihat pada analisis mikroskopis. Pada beberapa pasien ditemukan memiliki level blood glucose dibawah 180 mg/dL dan umumnya mengalami glucosuria. Hasil false-positive mungkin dapat terjadi ketika pasien sehabis mengkonsumsi dosis tinggi dari aspirin. namun ini tidak dapat mendeteksi bacteriuria. 4. Ketika nitrite test positif maka itu menandakan adanya >100. ascorbic acid. dengan analisis mikroskopis dari sedimen urin yang digunakan untuk konfirmasinya. dimana hal tersebut mengindikasikan adanya low renal threshold terhadap ekskresi glukosa. Test ini adalah sebuah indikasi terhadap pyuria dan akan tetap positif walaupun leukosit mengalami degenerasi. Tes ini dapat secara akurat mengidentifikasi pasien dengan 10 sampai 12 leukosit per lapang pandang di dalam sentrifugasi spesimen. Leukosit esterase test digunakan secara luas pada chemical test yang mana hasilnya bergantung pada keberadaan esterase dalam granulocytic leukocytes. Microscopic Examination . namun bagaimanapun juga terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan hasil falsenegative.

ataupun sedimen yang diambil melalui suprapubic aspiration atau kateterisasi pada wanita. Bacteria 2. final). sedangkan kalau jumlah erithrosit di ketiga kontainer sama biasanya hal tersebut mengindikasikan sumbernya . sedangkan kalau banyaknya pada final portion. (2) Instruksikan pasien untuk berkemih dan kumpulkan initial portion dari urine stream (10-45 mL) pada kontainer nomor 1. cover with coverslip. terdapat 3 metode pengumpulan yang dapat digunakan untuk memberikan informasi mengenai site of origin of eryhtrocyte. Erythrocytes Keberadaan walau hanya sedikit eritrosit di dalam urine (hematuria) adalah abnormal dan perlu dilakukan investigasi lebih lanjut. lalu middle portion (30-40 ml) pada kontainer nomor 2.3 (atau initial. maka biasanya berasal dari bladder neck atau posterior urethra. antara lain : (1) Berikan pasien 3 buah kontainer. (2) Decant the supernatant (3) Resuspend the sediment in the remaining 1 mL of urine by tapping the tube gently against countertop (4) Place 1 drop of the mixture on a microscopic slide. lakukan sentrifugasi pada 3 spesimen secara terpisah. Interpretation 1. dimana apabila ditemukan lebih dari 5 leukosit per lapang pandang maka dapat dikatakan secara umum adanya keabnormalitasan (pyuria) . Dalam sebagian besar kasus. maka pemeriksaan mikroskopis ini harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berpengalaman. mid. 3. Early-morning urine adalah spesimen yang paling baik untuk digunakan jika spesimen tersebut dapat langsung diperiksa dalam waktu beberapa menit setelah pengumpulannya. vaginal bleeding. kemudian siapkan slide untuk urinary sediment (dengan atau tanpa pewarnaan) kemudian amati slide tersebut secara mikroskopis. sebagai contoh diverticulitis ataupun appendicitis. Leukocytes Hanya dengan ditemukannya keberadaan bakteri di dalam sedimen tidaklah dapat menjadi indikasi yang pasti akan adanya infeksi. dan inflamasi dari organ yang berada dekat dengan urinary tract . Di dalam sedimen yang diambil dari clean-voided midstream specimen dari pria. Penyebab-penyebab yang terbilang jarang yang dapat menyebabkan hematuria antara lain: long-distance running.2. (3) menggunakan metode yang telah dijelaskan sebelumnya. yang diberi label 1.Untuk mendapatkan hasil yang sangat akurat. Pada pasien dengan microscopic hematuria. dan periksa terlebih dahulu dengan pembesaran 10x lalu 40x lensa objektif. dan terakhir final portion (5-10 mL) di kontainer nomor 3. Apabila eritrosit terlihat paling banyak pada initial portion dari spesimen. Apabila pasien memiliki gejala adanya infeksi pada urinary tract seperti adanya pyuria dan bacteriuria maka diagnosis infeksi dapat ditegakkan . sediment tersebut dapat dipersiapkan melalui tahap : (1) Sentrifugasi 10-mL spesimen pada 2000 rpm selama 5 menit. maka biasanya itu berasal dari anterior urehtra.

Anatomi Pyelum dan Ureter Pyelum atau renal pelvis adalah ekspansi di ujung superior ureter yang berbentuk corong. Walaupun leukocyte casts dapat menjadi pertimbangan akan dugaan pyelonephritis. Casts Cast terbentuk di distal tubulus serta collecting duct. bilirubin. Pyelum menerima 23 major calyces. Tidaklah jarang ditemukan adanya transitional epithelial cells dalam sedimen urin yang normal. dan umunya tidak terlihat pada sedimen urin yang normal. atau kidney). Pemeriksaan 3 kontainer tersebut tidak perlu dilakukan pada pasien dengan gross hematuria. pyelum dan calyces biasanya kolaps. 4. dan peningkatan rasio nukleus terhadap sitoplasma) maka hal tersebut mengindikasikan adanya malignant process yang mempengaruhi urothelium. Ureter melewati dinding buli-buli di superior terhadap levator ani. 5.berasal dari atas bladder neck (bladder. Ujung inferiornya dikelilingi vesical venous plexus. namun apabila jumlahnya sangat banyak disertai dengan adanya keabnormalitasan secara histologi (seperti large nuclei. Sehingga. Cast jarang terlihat pada urin yang bersifat alkali. multiple nucleoli. Cystine. namun hal tersebut bukanlah indicator pasti . Other findings Penemuan lain seperti adanya kristal dalam urin. Ureter melewati dinding buli-buli secara oblique ke arah inferomedial yang membentuk katup. Perlu diingat bahwa pengumpulan urin harus dilakukan sebelum pemeriksaan fisik (utamanya sebelum dilakukannya rectal examination pada laki-laki) untuk mencegah hasil yang salah. leucine. rectangular plates. Major calyx bercabang menjadi minor calyces. Pada orang hidup. Epithelial cells Squamous epithelial cells yang ditemukan dalam urinary sediment dapat mengindikasikan adanya kontaminasi pada spesimen dari bagian distal urethra (pada laki-laki) dan dari introitus (pada wanita). often in a fan atau star-burst pattern. Area di sekeliling calyces yang disebut dengan renal sinus biasanya mengandung jaringan adiposa. kontraksi otot buli-buli selama mikturisi berfungsi sebagai sphincter yang menambah tekanan internal . Ureter adalah duktus muskular di retroperitoneal sepanjang 25-30 cm dengan lumen sempit yang membawa urin dari apex pyelum pada hilum lalu melewati pelvic brim di bifurkasi common iliac arteries lalu ada di sepanjang dinding lateral pelvis dan masuk ke buli-buli. Apexnya berlanjut dengan ureter. tekanan buli-buli yang terisi menyebabkan intramural passage kolaps sehingga mencegah aliran balik urin ke dalam ureter. 6. sulfonamide crystals merupakan penemuan yang tidak normal. Bahkan. Karakteristik dari kristal adalah flat. cholesterol. ureter. tyrosine. hal tersebut dapat menjadi indicator adanya intrinsic renal disease.

Junction ureteropelvis 2. Di perempuan. ductus deferens menyebrangi ureter di dalam ureteric fold of peritoneum. Tapi cabang ini kecil jadi disrupsi bisa memicu ischemia. • • • Inervasi: • Renal. Tapi yang paling konstan yang menyuplai terminal part ureter di perempuan adalah cabang uterine arteries. Dari punggung. surface markingnya adalah 5 cm lateral L1 spinous process hingga posterior superior iliac spine. Sedangkan di laki-laki adalah inferior vesical arteries. internal iliac. Limfatik: • Superior part: lumbar nodes . Di laki-laki. Urin dibawa melalui ureter dengan kontraksi peristaltik. Pelvic portion: cabang dari common iliac. yaitu: 1. dan ovarian arteries. Vena dari abdominal part of ureter menuju ke renal dan gonadal (testicular atau ovarian) veins. terutama ke selangkangan. Visceral afferent fibers membawa sensasi nyeri (misal akibat obstruksi atau distensi) mengikuti serabut simpatetik ke spinal ganglia dan T11-L2. Vena dari pelvic part of ureter menuju ke uterine veins dan inferior vesical veins. Saat melewati dinding buli-buli Vaskularisasi: • Abdominal portion: cabang dari renal arteries. Percabangan muncul dari medial ureter lalu terbagi ke ascending dan descending sehingga terbentuk anastomosis longitudinal di dindingnya. abdominal aortic. superior dan inferior hypogastric plexus. Lalu melewati bagian lateral fornix vagina dan masuk buli-buli. ureter melewati medial origin uterine artery dan berlanjut ke level ischial spine dimana ia disebrangi uterine artery. Ureter ada di posterolateral ductus deferens dan masuk bladder di superior seminal glands. ada 3 konstriksi yang merupakan tempat yang berpotensi terobstruksi urinary stones.sehingga urin tidak refluks. Saat diperiksa radiografi dengan media kontras. Nyeri dari ureter biasanya menjalar ke bagian kuadran bawah anterior abdominal wall ipsilateral. Tempat saat menyebrangi pelvic brim 3.

• • Middle part: common iliac LN Inferior part: common. atau internal iliac LN . external.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful