Standar Isi untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kelompok A 1.

Mata Pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 1.1 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti a. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMP/MTs dimaksudkan untuk meningkatkan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilainilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara individual maupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, santun, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial demi mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar
61

kompetensi sesuai dengan jenjang persekolahan ditandai dengan ciri-ciri:

yang secara nasional

1. lebih menitik beratkan pencapaian kompetensi secara utuh selain penguasaan materi; 2. mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia; dan 3. memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya pendidikan. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti diharapkan menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global. Pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar. Peran semua unsur sekolah, orang tua siswa dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam. Terkait dengan hal-hal tersebut, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang harus dikuasai oleh lulusan SMP/MTs. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti di Sekolah/Madrasah tersebut. b. Tujuan Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMP/MTs bertujuan untuk: 1. menumbuhkembangkan aqidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya

62

kepada Allah SWT demi mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat; dan 2. mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yang ditunjukkan dalam perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, santun, peduli (toleransi, gotong royong), percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP/MTs meliputi aspek-aspek sebagai berikut. 1. Al-Qur’an; 2. Aqidah; 3. Akhlak; 4. Fiqih; dan 5. Tarikh Islam. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti menekankan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian antara hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan diri sendiri, dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMP/MTs meliputi: 1. Membaca, menulis, mengartikan dan memahami Al-Quran surat-surat pilihan dan Hadits pilihan, serta mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari; 2. Mengamalkan keimanan dan ibadah dengan pemahaman sesuai ajaran agama Islam; 3. Membiasakan akhlak mulia yang meliputi ikhlas, sabar, amanah, istiqamah, pemaaf, hormat pada sesama, empati, toleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya Islami dalam komunitas sekolah;
63

4. Mengambil pelajaran dari sejarah Nabi Muhammad SAW, Khulafaur Rasyidin, Bani Umayah dan Bani Abbasiyah, serta Islam di Nusantara; 5. Membiasakan hidup rukun dan damai intra-umat dan antar-umat beragama selaras dengan wawasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

64

1.2 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti a. Latar Belakang Agama memiliki peran dan fungsi yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama berfungsi sekurang-kurangnya sebagai pemberi identitas dan penuntun moral. Karena itu agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, bermartabat, tetapi juga menuntun kepada sikap dan perilaku adil, damai dan peduli. Menyadari peran agama yang amat penting bagi kehidupan umat manusia maka pendidikan agama serta internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi ditempuh melalui pendidikan agama dan budi pekerti baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun komunitas agamawi masing-masing. Sekolah dengan demikian bukan satu-satunya konteks di mana Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti terjadi, dan karena itu tidak semua hal harus disajikan di sekolah agar tidak terjadi pengulangan pokok-pokok yang sama dalam konteks lainnya. Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti dimaksudkan untuk meningkatkan potensi manusia seutuhnya khususnya dimensi spiritual, sehingga membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Dengan demikian, peserta didik dapat menghargai kehidupan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, keadilan, perdamaian, dan kasih. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual maupun kolektif/kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan untuk optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Penerapan Kompetensi Mata Pelajaran di bidang Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti, sangat tepat dalam rangka menerapkan pendekatan dalam Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti yang memungkinkan tercapainya internalisasi nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan peserta didik pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Kompetensi Mata Pelajaran disajikan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual,

65

emosional, dan moral anak didik sehingga memberikan ruang kepada keunikan masing-masing individu. Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti lebih merupakan penuntun dalam membimbing peserta didik berjumpa dengan Tuhan yang Maha pengasih dalam Yesus Kristus. Dengan demikian peserta didik dapat merespons kasih Tuhan dengan cara mengasihi Tuhan melalui kasihnya kepada sesama dan pemeliharaan atas alam ciptaan Tuhan yang diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik belajar mengenal dan bersekutu dengan Allah secara akrab karena sesungguhnya Allah itu ada dan selalu ada dan berkarya dalam hidup mereka sebagai sahabat dalam kehidupan anak-anak. Hakikat Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti seperti yang tercantum dalam hasil Lokakarya Strategi Pendidikan Agama Kristen di Indonesia tahun 1999 adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran pendidikan agama Kristen dan budi pekerti memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bersama. Pada dasarnya Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti dimaksudkan untuk menyampaikan kabar baik (euangelion = injil), tentang Allah yang mahakasih, baik sebagai pencipta, pemelihara, penyelamat, serta pembaharu manusia dan seluruh ciptaan-Nya, maupun nilai-nilai Kristiani yang pokok sebagai penuntun kehidupan moral dan etis. Dengan demikian, pengembangan Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti mengacu kepada pokok kepercayaan Kristiani yang mendasar tentang Allah dan karya-Nya, serta nilai-nilai Kristiani yang patut diterapkan dalam kehidupan keseharian peserta didik. Berdasarkan pemahaman tersebut, maka rumusan Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti di SMP dibatasi hanya pada aspek yang secara substansial mampu mendorong terjadinya transformasi dalam kehidupan peserta didik, sehingga mereka dapat
66

menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan seharihari. Fokus Kompetensi Mata Pelajaran berpusat pada pengalaman konkret peserta didik (life centered). Artinya, pembahasan Kompetensi Mata Pelajaran didasarkan pada pengalaman konkret peserta didik mulai dari lingkungan paling dekat: keluarga (orang tua), tetangga, teman bermain, sekolah, komunitas iman, masyarakat dan lingkungan alamnya. Iman dan nilai-nilai Kristiani berfungsi sebagai cahaya yang menerangi tiap sudut kehidupan manusia. Terkait dengan hal-hal tersebut, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti yang harus dikuasai oleh lulusan SMP. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti. b. Tujuan Mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti di SMP bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Mengenal Allah yang maha pengasih yang menciptakan, memelihara manusia, alam semesta dan isinya, serta yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus. 2. Merespons kasih Allah dengan cara bersyukur, baik melalui ibadah yang benar, maupun melalui penerapan nilai kasih, menghormati dan menyayangi orang tua, dan sesama dalam lingkungan konkretnya. 3. Memelihara lingkungan hidup. 4. Melayani Tuhan melalui pelayanan kepada gereja, masyarakat, dan dunia. 5. Menghayati . c. Ruang Lingkup Ruang lingkup Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti di SMP meliputi aspek-aspek sebagai berikut: imannya secara bertanggung jawab dalam konteks masyarakat yang majemuk.

67

1. Allah dan karya-karya-Nya sebagai pencipta, pemelihara, penyelamat dalam Yesus Kristus, serta pembaharu melalui Roh Kudus. 2. Nilai-nilai Kristiani: a. iman: meyakini dan mengagumi kebesaran kasih Tuhan; b. pengharapan: berharap kepada Tuhan dalam segala situasi; c. kasih: peka terhadap mereka yang menderita, melayani sesama, gereja dan masyarakat, serta memelihara lingkungan hidup; d. rukun dan damai: menghargai perbedaan dan mengembangkan nilai rukun dan damai; e. adil: berlaku adil dalam kehidupan bersama. Pada jenjang SMP peserta didik dibimbing untuk tidak hanya memahami secara lebih dalam mengenai Allah, tetapi lebih jauh lagi peserta didik diharapkan mampu mewujudkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari sebagai respons terhadap kasih Allah. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti di SMP meliputi: 1. Mengidentifikasi, menjelaskan dan mensyukuri karya Allah yang menciptakan, memelihara, menyelamatkan dan membaharui dalam kehidupan manusia. 2. Mengidentifikasi dan mempraktikkan nilai-nilai Kristiani yang berhubungan dengan iman, pengharapan dan kasih. 3. Mewujudkan sikap dan tindakan bertanggung jawab baik terhadap diri sendiri, sesama dan ciptaan lainnya.

68

1.3 Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti a. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari bahwa peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang maha Esa dan berakhlak mulia serta peningkatan potensi spiritual. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. Dari pengalaman dapat dilihat bahwa apa yang diketahui (pengetahuan, ilmu) tidak selalu membuat hidup seseorang sukses dan bermutu. Tetapi kemampuan, keuletan dan kecekatan seseorang untuk mencernakan dan mengaplikasikan apa yang diketahui dalam hidup nyata, akan membuat hidup seseorang sukses dan bermutu. Demikian pula dalam kehidupan beragama. Orang tidak akan beriman dan diselamatkan oleh apa yangia ketahui tentang imannya, tetapi terlebih oleh pergumulannya bagaimana ia menginterpretasikan dan mengaplikasikan pengetahuan
69

imannya dalam hidup nyatasehari-hari. Seorang beriman yang sejati seorang yang senantiasa berusaha untuk melihat, menyadari dan menghayati kehadiran Allah dalam hidup nyatanya, dan berusaha untuk melaksanakan kehendak Allah bagi dirinya dalam konteks hidup nyatanya. Oleh karena itu Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti di SMP merupakan salah satu usaha untuk memampukan peserta didik menjalani proses pemahaman, pergumulan dan penghayatan iman dalam konteks hidup nyatanya. Dengan demikian proses ini mengandung 4 unsur yaitu: penyajian fakta/pengalaman manusiawi, pengidentifikasi nilai-nilai luhur dari fakta, penegasan nilai religius/iman menurut ajaran katolik dalam Kitab Suci dan tradisi, serta diakhiri dengan pilihan untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai iman yang ditawarkan. Terkait dengan hal-hal tersebut di atas dan dengan memperhatikan kompetensi inti (KI) yang terdapat dalam standar kompetensi lulusan, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) pelajaran agama Katolik dan Budi Pekerti yang harus dikuasai oleh lulusan SMP. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran agama Katolik dan Budi Pekerti. Oleh karena hal-hal tersebut di atas dan dengan memperhatikan kompetensi inti (KI) yang terdapat dalam standar kompetensi lulusan, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) pelajaran agama Katolik dan Budi Pekerti yang harus dikuasai oleh lulusan SMP. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran agama Katolik dan Budi Pekerti. b. Tujuan Pendidikan Agama Katolik (PAK) dan Budi Pekerti pada dasarnya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk membangun hidup yang semakin beriman. Membangun hidup beriman Kristiani berarti membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus, yang memiliki keprihatinan tunggal, yakni Kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan situasi dan peristiwa penyelamatan: situasi dan perjuangan untuk perdamaian dan keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan, persaudaraan dan kesetiaan,

70

kelestarian lingkungan hidup, yang dirindukan oleh setiap orang dari pelbagai agama dankepercayaan. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup pembelajaran dalam Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti di SMP Menengah Pertama mencakup empat aspek yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain dan merupakan kelanjutan pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti di Sekolah Dasar. Keempat aspek yang dibahas secara lebih mendalam sesuai tingkat kemampuanpemahaman peserta didik adalah: 1. Pribadi peserta didik 2. Yesus Kristus 3. Gereja 4. Kemasyarakatan d. Kompetensi Mata Pelajaran Standar kompetensi mata pelajaran pendidikan agama Katolik dan Budi Pekerti di SMP merupakan standar umum minimal yang meliputi: dasardasar umum ajaran iman Katolik yang harus diketahui, dihayati dan diamalkan para peserta didik. Oleh karenanya, untuk meningkatkan kompetensi mata pelajaran, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti dapat membuka peluang bagi pengayaan lokal sesuai kebutuhan sekolah setempat. 1. Menyadari diri sendiri sebagai pria dan wanita yang memiliki kelebihan dan kekurangan dalam berelasi dengan orang lain. 2. Menghargai seksualitas sebagai anugerah Allah yang indah bagi dirinya sehingga mampu menjalin pergaulan antara laki-laki dan perempuan secara baik. 3. Mengenal sabda dan karya Yesus Kristus sebagai perwujudan Kerajaan Allah di dunia 4. Menaladani sikap dan perbuatan Yesus Kristus dalam memperjuangkan nilai-nilai Kerajaan Allah 5. Menyadarikarya Allah Bapa sebagai sebagai penyelamat kehidupan

71

6. Menyadari berbagai karya Allah Roh Kudus yang menghangatkan kasih sayang dan kegembiraan dalam hidup bersama dalam masyarakat. 7. Sebagai warga Gereja mampu menyusun doa syukur/pujian terhadap Allah dan karya-Nya 8. Sebagai warga Gereja mampu menyusun doa permohonan bagi diri sendiri dan orang lain. 9. Mengenal sumber-sumber ajaran Gereja Katolik. 10. Bergaul dengan anggota keluarga dan orang lain di tengah masyarakat.

72

1.4 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti a. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari bahwa peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia serta peningkatan potensi spritual. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP adalah usaha yang dilakukan secara terencana, bertahap dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memperteguh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, serta peningkatan potensi spiritual sesuai dengan ajaran agama Hindu. Jadi pendidikan agama diharapkan juga agar peserta didik memiliki kemampuan untuk meyakini keberadaan Tuhan, mampu hidup bersama sebagai komunitas masyarakat yang baik dan mampu memanfaatkan potensi dirinya dengan baik untuk memanfaatkan ciptaan Tuhan (berupa dunia ini) untuk kehidupannya yang lebih baik, dalam rangka mencapai tujuan hidupnya (Mokshartham dan Jagadhita) Pendekatan yang semestinya digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti guna mencapai tujuan sebagaimana tersebut di atas adalah pendekatan kontektual, dalam arti peserta didik diarahkan untuk memahami tema-tema pembelajaran yang
73

mengambil contoh terkait dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian maka peserta didik secara tidak langsung akan tergiring pada kenyataan bahwa ilmu agama adalah sesungguhnya ilmu yang harus bisa diaplikasikan dan benar-benar bermakna untuk hidup kita sehari-hari. Terkait dengan hal-hal tersebut dan dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti yang harus dikuasai oleh lulusan SMP. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) Pelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti bagi siswa SMP. b. Tujuan Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP adalah sebagai berikut: 1. Menumbuh kembangkan dan meningkatkan kualitas Sradha dan Bhakti kehadapan Brahman, dan seseorang memahami hakekat kehidupannya di jagat raya ini. 2. Mewujudkan insan Sadhu-Gunawan (bersusila dan berguna untuk kehidupan) 3. Membangun insan yang toleran yang gemar mewujudkan kerukunan. 4. Memantapkan pelaksanaan ibadah agama baik secara pribadi maupun kelompok 5. Mewujudkan insan yang memahami kandungan ajaran yang tertera dalam kitab suci Weda 6. Meningkatkan kesadaran akan peran penting sejarah perkembangan Agama 7. Hindu dan Budi dalam kontek kehidupan di masa yang akan datang c. Ruang Lingkup Ruang lingkup pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1. Tattwa 2. Susila 3. Acara
74

4. Weda 5. Sejarah Agama Hindu d. Kompetensi Mata Pelajaran Adapun kompetensi yang diharapkan dari pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SMP adalah agar para peserta didik mampu: 1. Memahami eksistensi Brahman/Tuhan, alam semesta, dan keberadaan manusia 2. Memahami dan mengamalkan secara rutin ajaran yang berfungsi membangun pribadi yang positif dan negatif 3. Memahami, mengamalkan ajaran yang mengarahkan untuk hidup rukun, harmonis dan damai 5. Memahami dan mengamalkan ajaran ibadah keagamaan dengan benar 6. Memahami secara lebih terstruktur kandungan ajaran kitab suci weda 7. Memahami dan menyadari hikmah sejarah perkembangan agama Hindu baik dalam kontek sejarah nasional maupun internasional

75

1.5 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti a. Latar Belakang Agama berperan sangat penting dalam menghadapi proses perubahan (anicca) kehidupan umat manusia. Agama menjadi petunjuk jalan dalam upaya mewujudkan kehidupan yang selaras, damai, bermartabat, dan bermakna. Kesadaran terhadap pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka faktor pendukung proses internalisasi nilai-nilai universal dalam kehidupan merupakan kebutuhan, yang harus ditempuh melalui pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan adalah penerusan nilai, pengetahuan, kemampuan, sikap dan tingkah laku; dalam pengertian yang luas pendidikan adalah hidup itu sendiri, sebagai proses menyingkirkan kebodohan dan mendewasakan diri menuju kesempurnaan. Masalah sentral pendidikan dalam pandangan Buddha adalah penderitaan manusia. Penderitaan bersumber pada keinginan yang rendah (tanha), keinginan sendiri timbul tergantung pada faktor lain yang mendahuluinya. Buddha menempatkan kebodohan (avijja) dalam rumusan rangkaian sebab musabab yang saling bergantungan (paticcasamuppada), di urutan pertama. Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti di SMP merupakan proses internalisasi (paratoghosa) yang dilakukan secara bertahap dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik agar dapat memahami nilai-nilai ajaran Buddha, menerapkannya dalam kehidupan, sehingga meperoleh kemajuan spiritual. Pendidikan diperoleh dari terminologi 'sikkha' (education) secara umum merupakan proses latihan, belajar, mempelajari, pengembangan, dan pencapaian penerangan. Secara natural termasuk latihan moral yang tinggi (síla), konsentrasi (samadhi), dan kebijaksanaan atau pengetahuan (pañña). Secara holistik berhubungan dengan pengembangan fisik (kaya bhavana), pengembangan sosial (sila bhavana), pengembangan mental (citta bhavana), dan pengembangan intelektual (panna bhavana) sehingga menghasilkan keluaran teman yang baik (kalyanamitta). Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti di SMP mengacu kepada Ajaran Sakyamuni Buddha (Buddha Gautama) yang terdapat dalam Kitab Suci Tripitaka (Tipitaka). Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti di SMP
76

memiliki

karakteristik

pokok

yaitu

penguasaan

pengetahuan

secara

komprehensif (Pariyatti), mempraktikan hasil yang dipelajari menjadi pedoman dalam berperilaku sehari-hari (Pariyatti), dan pencapaian atau pencerahan (Pativedha). Diharapkan dapat diselenggarakan menggunakan pendekatan Terkait dan metode yang sesuai dengan dan karakteristik dan perkembangan peserta didik. dengan hal-hal tersebut dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang diberikan dalam Standar Kompetensi Lulusan, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti yang harus dikuasai oleh lulusan SMP. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti sekolah tersebut. b. Tujuan Mata pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti di SMP bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Memahami konsap-konsep dasar agama Buddha sehingga memiliki perilaku cerdas, jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, toleransi, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru. 2. Mewujudkan manusia Indonesia Dharma yang memahami, sesuai menghayati, Kitab Suci mengamalkan/menerapkan kontektual

Tripitaka (Tipitaka) dalam kehidupan sehari-hari. 3. Memahami sejarah perkembangannya agama Buddha di Indonesia. c. Ruang Lingkup Mata pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti di SMP meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1. Keyakinan (Saddha) 2. Perilaku/moral (Sila) 3. Meditasi (Samadhi) 4. Kebijaksanaan (Panna). 5. Kitab Suci Agama Buddha Tripitaka (Tipitaka) 6. Sejarah

77

d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti di SMP meliputi: 1. Memahami peristiwa tujuh minggu setelah Petapa Gotama mencapai Penerangan Sempurna, Buddha mengajarkan Dharma yang pertama. 2. Memahami inti kotbah pertama Buddha dalam kehidupan sehari-sehari. 3. Menceriterakan para siswa utama dan para penyokong Buddha. 4. Memahami peristiwa Buddha Parinibbana. 5. Memahami formulasi lima latihan (Pancasila) dan lima dhamma (Pancadhamma) dalam kehidupan sehar-sehari 6. Melaksanakan lima latihan (Pancasila) dan lima dhamma (Pancadhamma) dalam kehidupan sehar-sehari. 7. Memahami peran agama Buddha untuk memelihara perdamaian, menegakkan hak asasi manusia, dan kesetaraan gender. 8. Melatih meditasi ketenangan batin dalam kehidupan sehari-hari. 9. Mengidentifikasi isi garis besar kitab Suci Tripitaka (Tipitaka). 10. Memahami tujuan dan manfaat dharmayatra. 11. Mendeskripsikan tempat ibadah dan lambang-lambang dalam agama Buddha.
12.

Memahami sejarah perkembangan agama zaman Mataram kuno, Sriwijaya, Majapahit, masa penjajahan, dan kemerdekaan sehingga memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.

78

1.6 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti a. Latar Belakang Agama memiliki peran dan fungsi yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Sekurang-kurangnya agama berfungsi sebagai pemberi identitas dan menjadi penuntun moral. Karena itu agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, bermartabat, tetapi juga menuntun kepada sikap dan perilaku adil, damai dan peduli. Menyadari peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka pendidikan agama serta internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi ditempuh melalui pendidikan agama baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun komunitas keagamaan masingmasing. Sekolah dengan demikian bukan satu-satunya tempat pendidikan agama terjadi, dan karena itu tidak semua hal harus disajikan di sekolah agar tidak terjadi pengulangan dari pokok-pokok yang sama dalam konteks lainnya. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi manusia seutuhnya khususnya dimensi spiritual, sehingga membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Dengan demikian peserta didik dapat menghargai kehidupan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran,keadilan, perdamaian, dan kasih-sayang. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual maupun pada kolektif/kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut

akhirnya bertujuan untuk optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan. Penerapan Kompetensi Mata Pelajaran pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Khonghucu mendukung tercapainya internalisasi nilainilai dalam agama Khonghucu dalam kehidupan peserta didik pada jenjang pendidikan menengah. Kompetensi Dasar disajikan dengan cara menyesuaikan tingkat perkembangan intelektual, emosional, dan moral anak didik karenanya individu.
79

memberikan ruang kepada keunikan masing-masing

Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Khonghucu lebih merupakan penuntun dalam membimbing peserta didik dalam upaya pencarian dan perjumpaan dengan Tuhan yang Maha Esa. Dengan demikian peserta didik dapat merespons Karunia Tuhan (Tian Ming) dengan cara menjalankan perintahNya (Cheng Ming) melalui pelayanan dan pengabdian kepada sesama manusia (Shi ren er shi Tian) dan pemeliharaan dan pelestarian atas alam semesta dan isinya sebagai ciptaan Tuhan. Hakikat pendidikan agama Khonghucu adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan kontinu dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan semangat membina diri dapat dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Dengan demikian, setiap orang yang terlibat dalam proses pembelajaran agama Khonghucu memiliki tanggungjawab untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesentosaan dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bersama. Pada dasarnya pendidikan agama Khonghucu dimaksudkan untuk menyampaikan ajaran agama Khonghucu secara utuh dan jelas agar peserta didik dapat hidup didalam Jalan Suci Tuhan sebagai penuntun kehidupan moral dan etis. Dengan demikian, pengembangan Kompetensi Mata Pelajaran pendidikan agama Khonghucu di SMP mengacu kepada Kitab Suci Si Shu dan Wu Jing serta tata agama yang disusun oleh Dewan Rohaniwan Matakin. Materi Pendidikan agama Khonghucu bukan bersumber pada tradisi Tionghua dan tidak dicampur-aduk dengan tradisi Tionghua, tetapi juga tidak untuk menentang tradisi Tionghua yang bernilaii positip. Fokus Kompetensi Mata Pelajaran berpusat pada pengalaman konkrit peserta didik (life centered). Artinya, pembahasan Kompetensi Mata Pelajaran didasarkan pada pengalaman konkrit peserta didik mulai dari lingkungan paling dekat: keluarga (orang tua), tetangga, teman bermain, dan sekolah. Terkait dengan hal-hal tersebut, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) agama Khonghucu yang harus dikuasai oleh lulusan Sekolah sekolah. Menengah Pertama. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Agama Khonghucu di

80

b. Tujuan Mata pelajaran Agama Khonghucu dan Budi pekerti di SMP bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Mengajarkan peserta didik mengenal dan mengimani adanya Tian yang maha Esa yang menciptakan alam semesta dan isinya, mengatur dan memelihara serta menjaga agar yang tidak lurus tetap diluruskan sesuai kodratnya 2. Mengajarkan peserta didik sebagai orang yang disiplin bermoral berakhlak mulia mempunyai rasa peduli kepada orang lain dalam keluarga dan masyarakat, Menjadi siswa yang rajin belajar hormat kepada guru dan mampu bekerja sama dengan teman-temannya. 3. Mengajarkan peserta didik memahami kedudukan Nabi Khongcu sebagai Utusan Tuhan atau Genta Rohani untuk membina dan memperbaiki kehidupan manusia 4. Mengajarkan peserta didik meyakini kebenaran isi Kitab Si Shu Wu Jing untuk membina kehidupan manusia 5. Mengajarkan peserta didik percaya adanya Roh dan Nyawa 6. Mengajarkan peserta didik melakukan upacara sembahyang kepada Tian, kepada Nabi Khongcu dan kepada para Shenming di kelenteng pada waktu yang sudah ditentukan 7. Mengajarkan peserta didik menghormati para leluhur yang sudah meninggal dunia dengan melakukan upacara sembahyang pada waktu yang sudah diatur dalam tata ibadah. 8. Mengajarkan peserta didik berbakti kepada orang tua, menyayangi saudara dan teman, serta orang-orang disekitarnya. 9. Mengajarkan peserta didik menghormati hukum negara dan patuh kepada semua undang-undang dan peraturan yang berlaku 10. Mengajarkan keyakinannya c. Ruang Lingkup Mata pelajaran Agama Khonghucu dan Budi Pekerti di SMP meliputi aspek-aspek sebagaii berikut: 1. Keimanan agama Khonghucu
81

peserta

didik

menghormati

hak

orang

lain

serta

2. Jalan Suci Junzi 3. Ibadah agama Khonghucu. 4. Sejarah Suci agama Khonghucu 5. Kitab Suci agama Khonghucu d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Agama Khonghucu dan Budi Pekerti di SMP meliputi: 1. Mengenal Watak Sejati atau Xing yaitu Ren, Yi, Li, Zhi. 2. Melaksanakan delapan langkah pembinaan diri sesuai dengan isi kita Da Xue bab utama. 3. Berbakti kepada orang tua, menyayangi saudara, menghormati undangundang negara, dan melakukan kewajiban sebagai warganegara yang baik. 4. Melakukan ibadah secara teratur sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan di rumah, Litang, atau Miao (kelenteng). 5. Mengenal riwayat nabi Khongcu dan murid-muridnya. 6. Mengenal para shenming dan perbuatan baiknya. 7. Mengenal simbol simbol suci agama Khonghucu. 8. Memahami isi kitab suci. 9. Mengenal dan mengerti undang-undang dan peraturan yang berkaitan dengan agama Khonghucu di Indonesia. 10. Mengenal simbol negara Indonesia yang penting untuk menjaga persatuan dan kerukunan masyarakat. 11. Mengenal cara hidup rukun dengan orang lain yang berbeda agama. 12. Mengenal cara menjadi orang yang mandiri dan dapat dipercaya. 13. Mengenal sikap Ba De dan cara menghormat sesuai agama Khonghucu. 14. Mengenal Lima Kebajikan dan empat pantangan.

82

2. Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) a. Latar Belakang Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mengawal dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hakikat NKRI adalah negara kebangsaan modern. Negara kebangsaan modern adalah negara yang pembentukannya didasarkan pada semangat kebangsaan --atau nasionalisme-- yaitu pada tekad suatu masyarakat untuk membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang sama walaupun warga masyarakat tersebut berbeda-beda agama, ras, etnik, atau golongannya. [Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia, 1998]. Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945), perlu ditingkatkan secara terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang NKRI. Secara historis, negara Indonesia telah diciptakan sebagai Negara Kesatuan dengan bentuk Republik. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. [Pembukaan UUD NRI 1945] Dalam perkembangannya sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 sampai saat ini, rakyat Indonesia telah mengalami berbagai peristiwa yang mengancam keutuhan negara. Untuk itu diperlukan pemahaman yang mendalam dan komitmen yang kuat serta konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD NRI 1945. Konstitusi
83

Negara Republik Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus. Indonesia harus menghindari sistem pemerintahan otoriter yang memasung hak-hak warga negara untuk menjalankan prinsip-prinsip demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kehidupan yang demokratis di dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintahan, dan organisasi-organisasi non-pemerintahan perlu dikenal, dipahami, diinternalisasi, dan diterapkan demi terwujudnya pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi. Selain itu, perlu pula ditanamkan kesadaran bela negara, penghargaan terhadap hak asasi manusia (HAM), kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, serta sikap dan perilaku anti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mata merupakan Pelajaran mata Pendidikan yang Pancasila dan Kewarganegaraan pembentukan pelajaran memfokuskan pada

warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air, cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD NRI 1945. Terkait dengan hal-hal tersebut, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang harus dikuasai oleh lulusan SMP/MTs. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMP.

b. Tujuan Mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMP bertujuan agar peserta didik dapat: 1. berpikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan; 2. berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta antikorupsi;
84

3. bersikap positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya; dan 4. berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

c. Ruang Lingkup Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMP mencakup komponen-komponen sebagai berikut: 1. persatuan dan kesatuan bangsa 2. norma, hukum dan peraturan 3. konstitusi negara, dan 4. Pancasila

d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMP meliputi: 1. menerapkan hidup rukun, damai, dan bersatu dalam keberagaman sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa; 2. memahami dan menerapkan hidup tertib, jujur, disiplin, bertanggung jawab, santun, peduli, toleran, kasih sayang, dan percaya diri dalam berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat berdasarkan Pancasila; 3. memahami dan menjalankan hidup tertib, bekerjasama, dan bergotong royong berdasarkan nilai-nilai Pancasila; 4. menampilkan perilaku jujur, disiplin, senang bekerja keras dan anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila; 5. memahami makna keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan UUD NRI 1945, undang-undang, peraturan, kebiasaan, adat istiadat, kebiasaan, dan menghargai keputusan bersama berdasarkan nilai-nilai Pancasila; 6. memahami Indonesia sebagai bangsa yang beragam dalam suku, agama, ras, budaya, gender dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika;
85

7. memahami dan menghargai makna kesejarahan NKRI dan makna nilainilai kejuangan bangsa.

86

3. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia a. Latar Belakang Bahasa berperan sangat penting dan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik sekaligus merupakan sarana untuk mencapai keberhasilan dalam mempelajari semua mata pelajaran. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain. Selain itu, pembelajaran bahasa menjadi sarana pembentukan karakter peserta didik seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif, dan proaktif dalam mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk mencapai peningkatan kemampuan peserta didik berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Kompetensi mata pelajaran (KMP) Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang terdiri atas keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), kebahasaan, kesastraan, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran ini merupakan indikator bagi peserta didik dalam mencapai pemahaman dan kemampuan merespons situasi lokal, regional, nasional, dan global. Berkenaan dengan hal itu, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) Bahasa Indonesia yang harus dimiliki oleh lulusan sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs). KMP ini selanjutnya menjadi dasar dalam penyusunan dan kompetensi dasar (KD) pelajaran Bahasa Indonesia di SMP/MTs.

87

b. Tujuan Tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP/MTs adalah peserta didik dapat: 1. 2. 3. 4. 5. berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis; menghargai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa negara; menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara dengan penuh kebanggaan; memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan; menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan nilai-nilai pendidikan karakter, kemampuan emosional dan sosial; 6. menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; dan 7. menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. c. RuangLingkup Mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP/MTs mencakupi komponen keterampilan berbahasa, kebahasaan, dan kesastraan yang meliputi aspekaspek: 1. menyimak, 2. berbicara, 3. membaca, 4. menulis, 5. kebahasaan, 6. kesastraan, dan 7. kesantunan berbahasa. Pada akhir pendidikan di SMP/MTs peserta didik diharapkan telah membaca sekurang-kurangnya tiga puluh buku sastra dan nonsastra. intelektual, serta kematangan

88

d. Kompetensi Mata Pelajaran 1. Keterampilan Berbahasa a. Menyimak Memahami wacana lisan yang berupa teks laporan hasil observasi, tanggapan deskriptif, ekspositoris, ulasan, diskusi, pidato, biografi, tanggapan kritis, tantangan, rekaman percobaan, dan pembacaan karya sastra berbentuk cerita moral/fabel, puisi lama (pantun, syair, dsb.), puisi baru, cerita rakyat, drama, cerpen, dan penggalan novel. b. Berbicara Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan menyampaikan laporan hasil observasi, tanggapan deskriptif, ekspositoris, ulasan, diskusi, tanggapan kritis, berpidato, berdiskusi, bercerita, serta mengomentari pembacaan cerita moral/fabel, puisi lama (pantun, syair, dsb.), puisi baru, cerita rakyat, cerpen, penggalan novel, dan pementasan drama dengan bahasa yang baik dan benar serta santun. c. Membaca Menggunakan berbagai teknik membaca untuk memahami teks nonsastra yang berbentuk grafik, tabel, artikel, tajuk rencana, teks pidato, laporan hasil observasi, tanggapan deskriptif, ekspositoris, ulasan, tanggapan kritis, serta teks sastra berbentuk cerita moral/fabel, puisi lama (pantun, syair, dsb.), puisi baru, puisi kontemporer, hikayat, novel, biografi, cerpen, drama, karya sastra lain berbagai angkatan dan sastra Melayu klasik. d. Menulis Menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk teks naratif, deskriptif, ekspositoris, argumentatif, teks pidato, surat dinas, surat dagang, rangkuman, ringkasan, notulen, laporan hasil observasi, karya ilmiah sederhana, dan berbagai karya sastra berbentuk puisi, cerpen, drama dengan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan efektif.

89

2. Kebahasaan Memahami dan dapat menggunakan berbagai komponen kebahasaan yang meliputi bunyi bahasa, fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat dengan baik dan benar dalam wacana lisan dan tulis. 3. Kesastraan Memahami bentuk-bentuk sastra dan unsur-unsurnya yang meliputi puisi (lama, baru, kontemporer), prosa (cerpen, novel, roman), prosa lirik, dan drama; serta dapat menciptakan bentuk-bentuk sastra sederhana dan mengapresiasinya. 4. Kesantunan Berbahasa Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan santun dan penuh toleran, responsif, proaktif sesuai dengan budaya nasional Indonesia sebagai cermin budi pekerti yang luhur.

90

4. Mata Pelajaran Matematika a. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu universal yang berguna bagi kehidupan manusia dan juga mendasari perkembangan teknologi modern, serta mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia, serta pembentukan watak dan kepribadian manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang, dan matematika diskrit. Untuk membentuk manusia berwatak dan berkepribadian yang baik, menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan dan pemahaman atas matematika yang kuat sejak dini. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar, untuk membekali peserta didik yang disiplin dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, inovatif dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk hidup lebih baik pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan sangat kompetitif. Dalam melaksanakan pembelajaran matematika, diharapkan bahwa peserta didik harus dapat merasakan kegunaan belajar matematika. Kompetensi Mata Pelajaran Matematika dalam dokumen ini disusun sebagai landasan pembelajaran untuk membentuk watak, kepribadian, dan kepribadian, serta mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan media sederhana maupun media modern yang lain. Pendekatan pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah merupakan fokus utama dalam pembelajaran yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan
91

memahami masalah, membangun model matematika dan menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai fakta, konsep, prinsip, dan keterampilan matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan media pembelajaran yang sederhana maupun media pembelajaran yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu, perlu ada pembahasan mengenai bagaimana matematika terkait atau diterapkan dalam kehidupan di sekitar, maupun dalam perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni (ipteks) Penguasaan mata pelajaran matematika memudahkan peserta didik untuk melatih berfikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif dan inovatif yang difungsikan untuk mendukung pembentukan soft-skill (watak, kepribadian, atau karakter) peserta didik. Dengan pembelajaran matematika diharapkan peserta didik dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan mengembangkan diri serta pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi. Terkait dengan hal-hal tersebut dan dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang diberikan dalam Standar Kompetensi Lulusan, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) matematika yang harus dikuasai oleh lulusan SMP/MTs. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran matematika SMP/MTs. b. Tujuan Mata pelajaran Matematika SMP/MTs bertujuan agar peserta didik dapat: 1. memiliki kemampuan berpikir kritis, logis, analitik dan kreatif, kemampuan pemecahan-masalah, dan kemampuan mengkomunikasikan gagasan serta budaya bermatematika; 2. memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah;

92

3. menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; 4. mengembangkan sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari (dunia nyata); 5. mengembangkan sikap dan perilaku dalam matematika dan pembelajarannya. c. Ruang Lingkup Mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan SMP/MTs memuat materi tentang: 1. Bilangan dan Pola: bilangan bulat dan bilangan pecahan, urutan bilangan pecahan, operasi pangkat dan akar, pola bilangan, barisan, dan deret. 2. Aljabar dan Relasi: himpunan, relasi, persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel, perbandingan. 3. Geometri dan Pengukuran: geometri bidang datar, kesebangunan dan kekongruenan, pengukuran jarak dan sudut, Teorema Pythagoras, transformasi. 4. Statistika dan Peluang: pengolahan data, penyajian data, ukuran pemusatan, mencacah, frekuensi relatif, peluang. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Matematika di SMP/MTs meliputi: 1. Memiliki kemampuan berpikir kritis, logis, analitik dan kreatif, kemampuan pemecahan-masalah, dan kemampuan mengkomunikasikan gagasan serta budaya bermatematika 2. Menghargai nilai-nilai dan kegunaan matematika dalam kehidupan, ilmu pengetahuan dan teknologi 3. Memiliki rasa ingin tahu dan percaya diri dalam belajar dan menggunakan matematika. 4. Menggunakan teknologi secara tepat dan efektif untuk memecahkan masalah serta memahami gagasan matematika
93

yang sesuai dengan nilai-nilai

5. Memahami bilangan bulat dan pecahan, bilangan bentuk akar, serta operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan operasi akar dan pangkat serta sifat – sifat pada operasi tersebut 6. Memahami fakta, konsep, sifat, dan keterampilan aljabar yang meliputi bentuk-bentuk aljabar, persamaan linier, pertidaksamaan linier, himpunan dan operasinya, fungsi dan grafiknya, pola bilangan, barisan bilangan, serta mampu menerapkannya dalam konteks matematika serta menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. 7. Memahami fakta, konsep, sifat, dan keterampilan geometri meliputi menggunakan sistem koordinat untuk menyatakan posisi dan jarak, menaksir dan menghitung luas dan volume; menggunakan gagasan transformasi dan kesimetrian untuk menyelidiki karakteristik bangun data. 8. Memahami dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan: penyajian dan pengolahan data, ukuran pemusatan. 9. Memahami konsep ruang sampel, peluang kejadian, dan mampu menggunakannya dalam pemecahan masalah.

94

5. Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) a. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusiamelalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan. Di tingkat SMP/MTs diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) secara terpadu yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana. Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SMP/MTs menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Terkait dengan hal-hal tersebut dan dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang dirumuskan dalam Standar Kompetensi Lulusan, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) IPA yang harus dikuasai oleh lulusan SMP/MTs. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran IPA pada jenjang SMP.
95

b. Tujuan Mata Pelajaran IPA di SMP/MTs bertujuan: 1. Meningkatkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaanNya. 2. Mengembangkan pemahaman tentang berbagai macam gejala alam, konsep dan prinsip IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran terhadap adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. 4. Melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bersikap dan bertindak ilmiah serta berkomunikasi. 5. Meningkatkan 6. Meningkatkan kesadaran kesadaran untuk untuk berperanserta menghargai dalam alam memelihara, dan segala menjaga, dan melestarikan lingkungan serta sumber daya alam. keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan. 7. Meningkatkan pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. c. Ruang Lingkup Ruang Lingkup bahan kajian IPA untuk SMP/MTs meliputi aspekaspek berikut: 1. Makhluk hidup dan proses kehidupan 2. Materi dan sifat-sifatnya. 3. Energi dan perubahannya. 4. Bumi dan alam semesta. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran IPA untuk SMP/MTs meliputi: 1. Menunjukkan sikap jujur, terbuka, cermat, selalu ingin tahu, dan percaya diri. 2. Memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif.

96

3. Melakukan pengamatan atau percobaan secara teliti; mencatat data percobaan dalam bentuk tabel dan grafik; membuat kesimpulan; dan mengkomunikasikan hasilnya secara lisan dan tulis menggunakan teknologi informasi. 4. Mendeskripsikan keaneka-ragaman makhluk hidup, klasifikasi berdasarkan ciri-cirinya, saling ketergantungan dalam ekosistem; dan mempunyai kepedulian untuk melestarikan. 5. Menjelaskan cara kerja berbagai indera dan sistem organ dalam mendukung kelangsungan hidup. 6. Mendeskripsikan wujud zat, sifat-sifat (fisika dan kimia), perubahan yang dialami, serta hubungannya dengan makhluk hidup dan lingkungan sekitarnya. 7. Mendeskripsikan konsep gaya, usaha, energi, getaran, gelombang, optik, listrik, dan magnet, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. 8. Mendeskripsikan sistem tata surya dan proses yang terjadi di dalamnya, serta hubungannya dengan ekosistem.

97

6. Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) a. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI sampai SMP/MTs. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SMP/MTs mata pelajaran IPS memuat materi Ekonomi, Sejarah, Geografi dan Sosiologi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai. Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis. Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan. Terkait dengan hal tersebut di atas dan dengan memperhatikan Kompetensi Inti (KI) yang diberikan dalam Standar Kompetensi Lulusan, perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) IPS yang harus dikuasai oleh lulusan SMP/MTs. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran IPS di sekolah tersebut. b. Tujuan Mata pelajaran IPS SMP/MTs bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya

98

2. menampilkan sikap ingin tahu untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan terhadap sejumlah konsep kehidupan sosial 3. memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan 4. memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup mata pelajaran IPS SMP/MTs meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1. Manusia, Tempat, dan Lingkungan 2. Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan 3. Sistem Sosial dan Budaya 4. Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran IPS di SMP/MTs meliputi: 1. Memahami keanekaragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan dampaknya terhadap kehidupan 2. Memahami proses interaksi dan sosialisasi dalam pembentukan karakter dan kepribadian manusia 3. Membuat sketsa dan peta wilayah serta menggunakan peta, atlas, dan globe untuk mendapatkan informasi keruangan 4. Memahami gejala-gejala geosfer dan dampaknya terhadap kehidupan 5. Mendeskripsikan Eropa 6. Menemukan upaya penanggulangan permasalahan kependudukan dan lingkungan hidup dalam pembangunan berkelanjutan 7. Memahami proses kebangkitan nasional, usaha persiapan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan sejak Pra-aksara, Hindu Budha, sampai masa Kolonial

99

8. Mendeskripsikan perubahan sosial-budaya dan tipe-tipe perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan, serta mengidentifikasi berbagai perilaku sosial sebagai akibat penyimpangan sosial dalam masyarakat, dan upaya pencegahannya 9. Mengidentifikasi region-region di permukaan bumi berkenaan dengan pembagian permukaan bumi atas benua dan samudera, keterkaitan unsur geografis dan ciri-ciri negara maju dan berkembang 10. Mendeskripsikan perkembangan lembaga internasional, kerja sama internasional dan peran Indonesia dalam kerja sama dan perdagangan internasional, serta dampaknya terhadap perekonomian Indonesia 11. Mendeskripsikan manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi serta mengidentifikasi tindakan ekonomi berdasarkan motif dan prinsip ekonomi dalam memenuhi kebutuhannya 12. Mengungkapkan gagasan kreatif dalam tindakan ekonomi yang berkarakter berupa kegiatan konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa untuk mencapai kemandirian dan kesejahteraan masyarakat yang beretika.

100

7. Mata Pelajaran Bahasa Inggris a. Latar Belakang Bahasa, memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, emosional, dan karakterpeserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran Bahasa Inggris diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain. Selain itu, pembelajaran bahasa juga membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan bahkan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan inilah yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi tertentu. Tingkat literasi mencakupiperformative, functional, informational, dan epistemic. Pada tingkat performative, orang mampu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan. Pada tingkat functional, orang mampu menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membaca surat kabar, manual atau petunjuk. Pada tingkat informational, orang mampu mengakses pengetahuan dengan kemampuan berbahasa, sedangkan pada tingkat epistemic orang mampu mengungkapkan pengetahuan ke dalam bahasa sasaran (Wells,1987). Pembelajaran bahasa Inggris di SMP/MTs ditargetkan agar peserta didik dapat mencapai tingkat functional yakni berkomunikasi secara lisan dan
101

tulis untuk menyelesaikan masalah sehari-hari, sedangkan untuk SMA/MA diharapkan dapat mencapai tingkat informational karena mereka disiapkan untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Tingkat literasi epistemic dianggap terlalu tinggi untuk dapat dicapai oleh peserta didik SMA/MA karena bahasa Inggris di Indonesia berfungsi sebagai bahasa asing. Terkait dengan hal-hal tersebut di atas, perlu disusun kompetensi mata pelajaran (KMP) bahasa Inggris yang harus dikuasai oleh lulusan SMP/MTs. KMP ini selanjutnya dijadikan dasar penyusunan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran bahasa Inggris. b. Tujuan Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SMP/MTs bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. mengembangkan kompetensi berkomunikasi dalam bentuk lisan dan tulis untuk mencapai tingkat literasi functional; 2. memiliki kesadaran tentang hakikat dan pentingnya bahasa Inggris untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam masyarakat global; dan 3. mengembangkan pemahaman peserta didik tentang keterkaitan antara bahasa dengan budaya. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Inggris di SMP/MTs meliputi: 1. kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis secara terpadu untuk mencapai tingkat literasi functional; 2. kemampuan memahami dan menciptakan berbagai teks fungsional pendek dan monolog serta esei berbentuk procedure, descriptive, recount, narrative, dan report, dan gradasi bahan ajar tampak dalam penggunaan kosa kata, tata bahasa, dan langkah-langkah retorika; dan 3. kompetensi pendukung, yakni kompetensi linguistik (menggunakan tata bahasa dan kosa kata, tata bunyi, tata tulis), kompetensi sosiokultural (menggunakan ungkapan dan tindak bahasa secara berterima dalam
102

berbagai konteks komunikasi), kompetensi strategi (mengatasi masalah yang timbul dalam proses komunikasi dengan berbagai cara agar komunikasi tetap berlangsung), dan kompetensi pembentuk wacana (menggunakan piranti pembentuk wacana). d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Bahasa Inggris di SMP/MTs meliputi: 1. Menyimak Memahami makna dalam wacana lisan interpersonal dan transaksional sederhana, secara formal maupun informal, wacana lisan dalam bentuk teks fungsional pendek, dan wacana lisan dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, dan report, dalam konteks kehidupan sehari-hariyang dapat memberikan kontribusi terbentuknya pribadi yang berkarakter luhur. 2. Berbicara Mengungkapkan makna secara lisan dalam wacana interpersonal dan transaksional sederhana, secara formal maupun informal, dan dalam bentuk teks fungsional pendek, serta dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, dan report, dalam konteks kehidupan seharihariyang dapat memberikan kontribusi terbentuknya pribadi yang berkarakter luhur. 3. Membaca Memahami makna dalam wacana tertulis dalam bentuk teks fungsional pendek dan wacana tertulis dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, dan report yang sederhana secara formal maupun informal dalam konteks kehidupan sehari-hariyang dapat memberikan kontribusi terbentuknya pribadi yang berkarakter luhur. 4. Menulis Mengungkapkan makna secara tertulis dalam bentuk teks fungsional pendek dan dalam bentuk recount, narrative, procedure, descriptive, dan report yang sederhana secara formal maupun informal dalam konteks kehidupan sehari-hariyang dapat memberikan kontribusi terbentuknya pribadi yang berkarakter luhur.

103

Kelompok B 1. Mata Pelajaran Seni Budaya a. Latar belakang Pendidikan Seni Budaya diberikan di sekolah karena memiliki keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan dalam upaya membentuk keperibadian peserta-didik menjadi manusia yang utuh sebagaimana yang terkristalisasi dalam rumusan kompetensi inti. Keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan pendidikan Seni Budaya terletak pada cirinya yang khas yang tidak dimiliki oleh mata pelajaran lain pengalaman estetik dalam bentuk yakni pada pemberian berapresiasi dan kegiatan

berekspresi/berkreasi. Dalam praktiknya, pendidikan seni budaya terlaksana melalui bidang seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater. Bidang seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater, memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan kaidah keilmuan masing-masing. Dalam pendidikan seni budaya, aktivitas berkesenian harus menampung kekhasan tersebut yang tertuang dalam pemberian pengalaman untuk mengembangkan kemampuan konsepsi, apresiasi, dan kreasi Pendidikan Seni Budaya memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. bahasa rupa, Multilingual bermakna pengembangan kemampuan gerak, peran dan berbagai perpaduannya. mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bunyi, Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi, apresiasi, dan kreasi/rekreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni budaya menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara (meliputi budaya daerah setempat dan daerah lain dalam wilayah Indonesia) dan Mancanegara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk. Materi pembelajaran Seni Budaya yang bersifat teori (fakta, konsep, kaidah, dan teori) tidak diberikan secara terpisah, tetapi terpadu dalam kegiatan mengapresiasi karya seni dan berkreasi seni. Hal ini dimaksudkan
104

agar pendidikan seni budaya tidak terjerumus ke arah pembelajaran yang bersifat kognitif. Terkait dengan hal-hal tersebut perlu disusun Standar Isi yang selanjutnya akan dijadikan acuan dalam merumuskan Kompetensi Dasar mata pelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, dan karakteristik mata pelajaran Seni Budaya di SMP/MTs. b. Tujuan Mata pelajaran Seni Budaya SMP/MTs berorientasi pada pencapaian Kompetensi Inti yang meliputi aspek spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan melalui pencapaian tujuan berikut ini: 1. memahami konsep dan pentingnya seni budaya; 2. menampilkan sikap apresiatif terhadap seni budaya; 3. mengungkapkan pengalaman estetik melalui kreasi/rekreasi seni budaya; 4. menampilkan peran serta dalam seni budaya. c. Ruang Lingkup Ruang Lingkup Mata Pelajaran Seni Budaya SMP/MTs mencakup: 1. Seni Rupa Aspek konsepsi (pemahaman), apresiasi (pencerapan dan penanggapan terhadap gejala estetik seni rupa) dan aspek kreasi (penciptaan karya seni rupa serta penyajiannya dalam bentuk pameran di kelas/sekolah). 2. Seni Musik Aspek konsepsi (pemahaman), apresiasi (pencerapan dan penanggapan terhadap gejala estetik seni musik) dan aspek kreasi (penciptaan karya seni musik serta penyajiannya dalam bentuk pementasan di kelas/sekolah). 3. Seni Tari Aspek konsepsi (pemahaman), apresiasi (pencerapan dan penanggapan terhadap gejala estetik karya seni tari) dan aspek kreasi (penciptaan karya seni tari serta penyajiannya dalam bentuk pementasan di kelas/sekolah
105

4. Seni Teater Aspek konsepsi (pemahaman), apresiasi (pencerapan dan penanggapan terhadap gejala estetik karya seni teater) dan aspek kreasi (penciptaan karya seni teater serta penyajiannya dalam pementasan di kelas/sekolah Di antara keempat bidang seni yang ditawarkan minimal diajarkan satu bidang seni sesuai dengan kemampuan sumberdaya manusia serta fasilitas yang tersedia. Pada sekolah yang mampu menyelenggarakan pembelajaran lebih dari satu bidang seni, peserta didik diberi kesempatan untuk memilih bidang seni yang akan diikutinya. Pada tingkat SMP/MTs, prakarya ditekankan pada keterampilan vokasional. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Seni Budaya yang harus dimiliki oleh peserta didik SMP/MTs untuk bidang seni rupa mencakup: 1. memiliki pengetahuan kesenirupaan yang memungkinkan peserta-didik mengapresiasi dan mengekspresikan diri (berkreasi) melalui seni rupa sesuai dengan tingkat usia sekolah menengah pertama. 2. mengapresiasi (mencerap, dan menanggapi) karya seni rupa Nusantara (seni rupa yang tumbuh dan/atau berkembang serta diakui sebagai kekayaan budaya tradisi/daerah di Indonesia) khususnya dan seni rupa Indonesia pada umumnya, baik yang merupakan seni rupa terapan maupun seni rupa murni, yang diamati secara langsung atau melalui media rekam; dan 3. mengekspresikan diri melalui karya seni rupa terapan dan seni rupa murni dengan memanfaatkan teknik dan corak seni rupa Nusantara/Indonesia serta menyajikan karya tersebut dalam bentuk pameran di kelas maupun di sekolah. Kompetensi Seni Budaya yang harus dimiliki oleh peserta-didik SMP/MTs untuk bidang seni musik mencakup: 1. memiliki pengetahuan kesenimusikan yang memungkinkan peserta-didik mengapresiasi dan mengekspresikan diri (berkreasi) melalui seni musik sesuai dengan tingkat usia sekolah menengah pertama; 2. mengapresiasi (mencerap, dan menanggapi) karya seni musik Nusantara
106

bentuk

(seni musik yang tumbuh dan/atau berkembang serta diakui sebagai kekayaan budaya tradisi/daerah di Indonesia) khususnya, lagu wajib, dan seni musik Indonesia pada umumnya, yang diamati secara langsung atau melalui media rekam; dan 3. mengekspresikan diri melalui karya seni musik vokal dan instrumen dengan menampilkan/merekreasi karya seni musik Nusantara khususnya, lagu wajib, dan seni musik Indonesia pada umumnya dalam bentuk penampilan di kelas maupun penampilan/pementasan di sekolah. Kompetensi Seni Budaya yang harus dimiliki oleh peserta-didik SMP/MTs untuk bidang seni tari mencakup: 1. memiliki pengetahuan yang memungkinkan peserta-didik mengapresiasi dan mengekspresikan diri (berkreasi) melalui seni tari sesuai dengan tingkat usia menengah pertama. 2. mengapresiasi (mencerap dan menanggapi) karya seni tari Nusantara (seni tari yang tumbuh dan/atau berkembang serta diakui sebagai kekayaan budaya tradisi/daerah di Indonesia) khususnya dan seni tari Indonesia pada umumnya, yang diamati secara langsung atau melalui media rekam; dan 3. mengekspresikan diri melalui karya seni tari dengan menampilkan/ merekreasi karya seni tari Nusantara khususnya dan seni tari kreasi Indonesia pada umumnya dalam bentuk pementasan di kelas maupun pementasan di sekolah. Kompetensi Seni Budaya harus dimiliki oleh peserta-didik SMP/MTs untuk bidang seni teater mencakup: 1. memiliki pengetahuan yang memungkinkan peserta-didik mengapresiasi dan mengekspresikan diri (berkreasi) melalui seni teater sesuai dengan tingkat usia sekolah menengah pertama. 2. mengapresiasi (mencerap dan menanggapi) karya seni teater Nusantara (seni teater yang tumbuh dan/atau berkembang serta diakui sebagai kekayaan budaya tradisi/daerah di Indonesia) khususnya dan seni teater Indonesia pada umumnya, yang diamati secara langsung atau melalui media rekam; dan 3. mengekspresikan diri melalui karya seni teater dengan menampilkan/merekreasi karya seni tari Nusantara khususnya dan
107

seni

teater

kreasi

Indonesia

pada

umumnya

dalam

bentuk

pementasan di kelas maupun pementasan di sekolah.

108

2. Mata Pelajaran Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan a. Latar Belakang Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan aspek kritis, berfikir secara kebugaran keseluruhan, jasmani, sosial, bertujuan penalaran, untuk gerak, stabilitas mengembangkan keterampilan keterampilan

keterampilan

emosional, tindakan moral, pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, kesehatan yang terpilih dan dilakukan secara sistematis. olahraga dan Pembekalan

pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat. Pendidikan memiliki sasaran pedagogis, oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman. Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, pemanduan bakat istimewa ,penghayatan nilainilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang. Ini berarti bahwa Pendidikan Jasmani adalah pendidikan manusia seutuhnya yang diperoleh melalui segala bentuk aktivitas jasmani yang mengacu kepada konsep pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.
109

Terkait dengan hal-hal tersebut di atas perlu disusun Kompetensi Mata Pelajaran (KMP) Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan yang harus dikuasai oleh lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs). SKL ini selanjutnya dijadikan dasar Kompetensi Dasar (KD) pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan di SMP/MTs. b. Tujuan Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan bertujuan agar peserta didik SMP/MTs dapat: 1. Memiliki karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan; 2. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis; 3. Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif. 4. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih; 5. Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik; 6. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar; 7. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, lingkungan. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan untuk jenjang SMP/MTs adalah sebagai berikut: 1. Permainan dan olahraga 2. Aktivitas pengembangan 3. Aktivitas senam 4. Aktivitas ritmik 5. Aktivitas air
110

6. Pendidikan luar kelas 7. Kesehatan d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan SMP/MTs meliputi: 1. Memiliki karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan; 2. Menerapkan kebiasaan hidup bugar, bersih, aman, sehat fisik, sehat mental dan sehat sosial yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah lingkungan serta kehidupan sehari-hari; 3. Memanfaatkan berbagai informasi tentang hidup bersih, aman, dan bugar; 4. Menerapkan sikap kompetitif, sportif, dan prestatif melalui aktivitas jasmani yang terkandung di dalam pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan yang dapat ditransfer ke dalam kehidupan sehari-hari; 5. Memiliki kemampuan berbagai macam aktivitas motorik (permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan diri, aktivitas senam, aktivitas ritmik, aktivitas air, pendidikan luar kelas, dan kesehatan) yang dapat dimanfaatkan dalam memecahkan masalah lingkungan dan kehidupan sehari-hari.

111

3. Mata Pelajaran Prakarya a. Latar Belakang Mata pelajaran Prakarya merupakan pembentuk kompetensi dasar keterampilan yang sangat diperlukan oleh peserta didik SMP/MTs dalam rangka membangun kapasitas personalnya agar mampu berkiprah secara proporsional dalam kehidupan sehari-hari. Berkembangnya ragam kebutuhan manusia, dalam mencukupi kebutuhan akan keterampilan dasar yang diperlukanya sehari hari, pada dasarnya bisa dipandang sebagai faktor tuntutan yang harus diantisipasi oleh setiap peserta didik SMP/MTs. Mata pelajaran Prakarya kiranya tepat memenuhi kebutuhan itu. Mata Pelajaran Prakarya menjadi sangat urgen bagi peserta didik untuk mendapatkan keterampilan “teknis-teknologis dasar” sebagai bekal mereka dalam kehidupan sehari-hari. Di samping berfungsi sebagai keterampilan dasar untuk mendapatkan kelanjutan dari mata pelajaran serupa di tingkat pendidikan menengah. Mata pelajaran Prakarya mencakup dasar dasar Kerajinan, Rekayasa, Budidaya dan Pengolahan. Mata pelajaran Prakarya diajarkan sebagai salah satu mata pelajaran terpisah, yang cakupan materinya disesuaikan dengan kebutuhan guna membentuk kompetensi keterampilan. Alokasi waktu pembelajarannya secara keseluruhan untuk jenjang SMP/MTs adalah 2 jam per minggu selama 3 tahun (kelas VII, VIII dan IX). b. Tujuan Mata pelajaran Prakarya bertujuan agar peserta didik: 1. Mensyukuri karunia Tuhan YME yang berupa kekayaan ragam prakarya yang bisa dilihat, dipahami di wilayah NKRI 2. Menunjukan perilaku jujur, percaya diri, mandiri, toleran, disiplin dan beranggung jawab dalam menerapkan keteramplan prakarya dalam kehidupan sehari-hari. 3. Menunjukkan rasa bangga terhadap produk kerajinan, rekayasa, budidaya dan pengolahan bahan organik dan anorganikI. 4. Memahami aneka bahan organik dan anorganik lingkungan yang dapat dimanfaatkan untuk prakarya 5. Memahami dasar-dasar keterampilan kerajinan, rekayasa, budidaya dan
112

pengolahan 6. Menerapkan keterampilan yang berupa kerajinan, rekayasa, budidaya dan pengolahan dalam bentuk barang kerajianan yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. c. Ruang Lingkup Ruang lingkup mata pelajaran Prakarya untuk jenjang SMP/MTs adalah sebagai berikut: 1. Kait hubung antara mata pelajaran Prakarya dan kebutuhan sebagai anggauta masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, yang merupakan kewajiban sebagai umat Tuhan YME. 2. Bahan-bahan organik dan anorganik dari lingkungan sebagai bahan dasar membuat barang kerajinan yang dapat memberi nilai tambah, baik berupa nilai keindahan, kemudahan bagi proses kehidupan maupun produk kerajinan yang bisa bernilai ekonomi 3. Perangkat keras untuk rekayasa, budidaya dan pengolahan bahan organik dan anorganik yang menjadikan peserta didik memiiliki informasi tambah tentang perangkat tersebut, yang mana daripadanya diharapkan dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya kepada Tuhan YME, menciptakan keindahan, memberi kemudahan dalam kehidupan siswa dan masyarakat di lingkungannya. d. Kompetensi Mata Pelajaran Kompetensi mata pelajaran Prakarya meliputi: 1. Mengenali bahan lingkungan, organik dan anorganik yang dapat dimanfaatkan untuk kerajinan, rekayasa, budidaya dan proses pengolahan untuk memproduk barang atau tatacara yang dapat memberikan nilai tambah. 2. Menggunakan bahan dan limbahnya yang berasal dari bahan organik dan anorganik untuk merancang dan memodifikasi kerajinan serta memanfaatkan limbahnya untuk membuat barang kerajinan. 3. Memahami prinsip dasar rekayasa yang berbasis teknologi mekanik sederhana, merekayasa produk elektronika pasif dan masif, merancangbangun konstruksi sederhana dan instalasi listrik; Memahami
113

prinsip budidaya tanaman obat dan pangan, ikan hias, serta budidaya ternak; Memahami prinsip pengolahan bahan sayur dan buah untuk minuman kesehatan, pengolahan bahan pangan sereal dan umbi menjadi makanan siap saji setengah jadi serta menjadi produk non pangan, pengolahan bahan ikan-daging putih/merah siap saji serta menjadi bahan setengah jadi sekaligus pengepakannya. 4. Menggunakan pemahaman rekayasa, budidaya dan pengolahan untuk memproduk barang barang yang bisa dimanfaatkan.

114

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful