You are on page 1of 4

Informasi Organisme Pengganggu Tanaman

Kumbang Tanduk Oryctes rhinoceros Linn.


Agus Susanto, Sudharto, & A. E. Prasetyo

TAKSONOMI Dunia Filum Kelas Ordo Famili Sub Famili Genus Spesies : Animalia : Arthropoda : Insecta : Coleoptera : Scarabidae : Dynastinae : Oryctes : Oryctes rhinoceros Linn.
192-274 hari 8 - 12 hari

17-28 hari 82 - 207 hari

8 - 13 hari

BIOLOGI Siklus hidup kumbang tanduk bervariasi tergantung pada habitat dan kondisi lingkungannya. Musim kemarau yang panjang dengan jumlah makanan yang sedikit akan memperlambat perkembangan larva serta ukuran dewasa yang lebih kecil dari ukuran normal. Suhu perkembangan larva yang sesuai adalah o o 27 C-29 C dengan kelembapan relatif 8595% (Bedford, 1980). Kumbang ini mempunyai telur yang berwarna putih kekuningan dengan diameter 3 mm. Bentuk telur biasanya oval kemudian mulai membengkak sekitar satu minggu setelah peletakan dan menetas pada umur 8-12 hari. Stadia larva terdiri atas 3 instar, dan berlangsung dalam waktu 82-207 hari. Larva berwarna putih kekuningan, berbentuk silinder, gemuk dan kekuningan, berbentuk silinder, gemuk dan berkerutkerut, melengkung membentuk setengah lingkaran

Gambar 2. Siklus hidup Oryctes rhinoceros

Gambar 1. Kumbang tanduk dewasa

dengan panjang sekitar 60-100 mm atau lebih (Ooi, 1988). P r e p u p a t e r l i h a t menyerupai larva, hanya saja lebih kecil dari larva instar terakhir dan menjadi berkerut serta aktif bergerak ketika diganggu. Lama stadia prepupa berlangsung 8-13 hari. Pupa berwarna cokelat kekuningan, berukuran sampai 50 mm dengan waktu 17-28 hari. Kumbang berwarna cokelat gelap sampai hitam, mengkilap, panjang 35-50 mm dan lebar 20-23 mm dengan satu tanduk yang menonjol pada bagian kepala (Wood, 1968). Jantan memiliki tanduk yang lebih panjang dari betina sedangkan betina mempunyai banyak rambut pada ujung ruas terakhir abdomen dan jantan tidak (Wood, 1968). Umur betina lebih panjang dari umur jantan. Kumbang yang baru jadi akan tetap tinggal di tempatnya antara 1520 hari (masa pre-imago), kemudian baru terbang keluar. Kumbang dapat hidup sekitar 6-9 bulan (Mariau et al. , 1991). Kumbang terbang dari t e m p a t persembunyiannya menjelang senja sampai agak malam (sampai dengan jam 21.00 WIB), dan jarang dijumpai pada waktu larut malam. Dari pengalaman diketahui bahwa kumbang banyak menyerang kelapa pada malam

sebelum turun hujan. Kumbang akan meletakkan telur pada sisa-sisa bahan organik yang telah melapuk. Misalnya batang kelapa sawit yang masih berdiri dan telah melapuk, rumpukan batang kelapa sawit, batang kelapa sawit yang telah dicacah, serbuk gergaji, tunggul-tunggul karet serta tumpukan tandan kosong kelapa sawit (Dhileepan, 1988). Adanya tanaman kacangan penutup tanah akan menghalangi pergerakan kumbang dalam menemukan tempat berkembang biak. Liew & Sulaiman (1993) mengamati bahwa tanaman penutup tanah setinggi 0,6-0,8 m mengurangi perkembangbiakan kumbang tanduk. Batang kelapa sawit yang diracun dan masih berdiri sampai pembusukan pada sistem underplanting merupakan tempat berkembangbiak yang paling baik bagi kumbang tanduk. Selama lebih dari 2 tahun masa dekomposisi, batang yang masih berdiri memberikan perkembangbiakan 39.000 larva perhektar dibandingkan dengan batang yang telah dicacah dan dibakar (500 larva per hektar) (Samsudin et al., 1993). GEJALA SERANGAN DAN KERUSAKAN Makanan kumbang dewasa adalah tajuk tanaman, dengan menggerek melalui pangkal bbatang sampai pada titik tumbuh.

PUSAT PENELITIAN KELAPA SAWIT


Jl. Brigjend Katamso No. 51, Medan 20158 Tel : +62 61 7862477, Fax : +62 61 7862488

Vol. H - 0003 Oktober 2011

Kumbang Tanduk Oryctes rhinoceros Linn.


Daun yang telah membuka memperlihatkan bentuk seperti huruf V terbalik atau karakteristik potongan serrate (Sadakhatula & Ramachandran, 1990). Serangan yang berkali-kali pada tanaman dapat menyebabkan kematian dan menjadi rentan masuknya kumbang Rhyncophorus bilineatus (Coleoptera: Curculionidae) (Sivapragasam et al., 1990), juga bakteri ataupun jamur, sehingga terjadi pembusukan yang berkelanjutan. Dalam keadaan seperti ini tanaman mungkin menjadi mati atau terus hidup dengan gejala pertumbuhan yang tidak normal. Tanaman dapat mengalami gerekan beberapa kali, sehingga walaupun dapat bertahan hidup, pertumbuhannya terhambat dan mengakibatkan saat berproduksi menjadi terlambat. Berdasarkan penelitian dan pengalaman menunjukkan bahwa kematian tanaman muda akibat serangan kumbang tanduk berkisar antara 1,0 - 2,5%. Produksi dari areal tanaman yang banyak terserang dapat berkurang antara 0,2 - 0,3 ton/ha, selama 18 bulan pada panen tahun pertama. (Pardede, 1973 ; Sipayung, 1992 ; Kamaruddin & Wahid, 1997 ; Ginting et al., 1998). Pada saat ini, kumbang O. rhinoceros menyerang tanaman kelapa sawit yang baru ditanam di lapangan sampai tanaman tua (Susanto et.al., 2006). Namun demikian, dengan dilakukannya pemberian mulsa tandan kosong kelapa sawit (TKS), maka masalah hama ini sekarang semakin berat di areal TM. Pada areal replanting kelapa sawit, serangan kumbang dapat mengakibatkan tertundanya masa berproduksi sampai satu tahun, dan tanaman yang mati dapat mencapai 25%. Masalah kumbang tanduk saat ini semakin bertambah dengan adanya aplikasi tandan kosong kelapa sawit pada gawangan maupun pada sistem lubang tanam besar. Aplikasi mulsa tandan kosong sawit (TKS) yang kurang tepat dapat mengakibatkan timbulnya masalah kumbang tanduk di areal kelapa sawit tua. Selama hidupnya, yang dapat mencapai umur 6-9 bulan, kumbang berpindah-pindah dari satu tanaman ke tanaman lain setiap 4-5 hari, sehingga seekor kumbang dapat merusak 6-7 pohon/bulan (Sudharto, 1990). Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan melalui penyemprotan herbisida berbahan aktif glifosat 2-3 l/ha dan metsulfuron metil 100-150 mg/ha dengan volume semprot 400 liter (Priwiratama, 2011). Pemanfaatan herbisida berbahan aktif 2,4D dan trychlopir juga dilaporkan efektif, tetapi aplikasinya harus dilakukan secara berulang (Pasaribu & Purba, 2006).
Gambar 3. Gejala serangan Oryctes rhinoceros pada TBM (a) dan TM (b)

MONITORING DAN SENSUS Sistem monitoring hama Oryctes rhinoceros di perkebunan kelapa sawit berdasarkan populasi kumbang di lapangan dan gejala serangan baru. Berdasarkan populasi di lapangan Batas ambang kumbang adalah 3 ekor kumbang tertangkap per ferotrap per ha per bulan untuk TBM, sedangkan untuk TM adalah 20 ekor per ferotrap per ha per bulan. Berdasarkan gejala serangan baru Batas ambang adalah 5% untuk TBM dan 10% untuk TM. Kriteria serangan: 0 = Tidak ada gejala serangan baru 1 = Serangan baru atau kerusakan kurang dari 5% atau pelepah yang digerek hanya 1-2 pelepah 2 = Serangan baru atau kerusakan 510% atau pelepah yang digerek 3-5 pelepah 3 = Serangan baru dengan kerusakan tanaman 10-25% atau sebagian besar pelepah tergerek dan membentuk seperti kipas 4 = Serangan baru dengan kerusakan 25-50% atau sebagian besar pelepah tergerek dan tanaman tampak kerdil 5 = Serangan berat dengan kerusakan lebih dari 50% atau pupus terpuntir atau pupus tidak ada atau tanaman mati

n x v IS = N x V IS = Intensitas serangan

x 100 %

n = Jumlah sampel pada kriteria tertentu yang diamati v = Nilai skor pada sampel yang diamati N = Jumlah semua sampel yang diamati V = Nilai skor tertinggi pada metode tersebut (5) Monitoring populasi kumbang tanduk dilakukan setiap sekali sebulan, bersamaan dengan pelaksanaan pengendalian secara manual. Kumbang dan bekas gerekan yang masih segar dicatat dan dihitung. Kumbang yang dijumpai pada tanaman terserang juga diambil dengan kait dan dibunuh. Apabila kumbang dan bekas gerekan segar yang dijumpai adalah 10/ha yang setara dengan batas ambang 5% untuk TBM dan segera dilakukan tindakan pengendalian. Pengendalian Areal Tanam Ulang (replanting) Pengutipan larva dan kumbang sebelum replanting Sumber populasi awal kumbang O. rhinoceros di areal tanaman tua menjelang replanting biasanya berasal dari batang tanaman kelapa sawit yang mati dan membusuk. Kematian tanaman kelapa sawit tersebut, umumnya akibat serangan penyakit busuk pangkal batang atau karena suatu sebab tertentu lainnya. Oleh sebab itu, sebelum areal tersebut direplanting, maka batang kelapa sawit mati dan lapuk

Kumbang Tanduk Oryctes rhinoceros Linn.


tersebut harus berikut telur, larva, kepompong dan kumbang O. rhinoceros yang ada di dalamnya. Pencincangan batang kelapa sawit Pada daerah dengan populasi O. rhinoceros sangat tinggi sangat dianjurkan melakukan replanting dengan sistem pencincangan batang kelapa sawit. Tujuan teknik ini adalah mempercepat waktu pelapukan batang kelapa sawit sehingga tidak menjadi breeding site O. rhinoceros dalam waktu yang lama. Setelah batang kelapa kelapa sawit dicincang dilakukan pemberaan atau dibiarkan selama satu tahun.
Gambar 4. Pengutipan larva

Penanaman Mucuna bracteata Penanaman Mucuna ini selain sebagai penutup tanah juga berfungsi sebagai penghalang bagi O. rhinoceros meletakkan telurnya. Dalam proses replanting yang tanpa pencincangan, batang kelapa sawit akan ditumbang dan dirumpuk di antara calon barisan tanaman kelapa sawit baru. Rumpukan tersebut harus diupayakan ditutup dengan kacangan penutup tanah secepatnya, sebelum terjadi proses pembusukan. Dengan demikian, belum ada kumbang tanduk betina yang bertelur pada rumpukan tersebut. Keadaan tersebut biasanya dapat dicapai dengan menanam biji Mucuna setiap 50 cm di sebelah kanan dan kiri rumpukan tersebut. Pengutipan larva Teknik pengutipan larva sangat dianjurkan untuk melengkapi proses

kumbang O. rhinoceros dengan menggunakan ferotrap terdiri atas satu kantong feromon sintetik (Etil-4 metil oktanoate) yang digantungkan dalam ember plastik kapasitas 12 liter. Tutup ember plastik diletakkan terbalik dan dilubangi 5 buah dengan diameter 55 mm. Pada dasar ember plastik dibuat 5 lubang dengan diameter 2 mm untuk pembuangan air hujan. Ferotrap tersebut kemudian digantungkan pada tiang kayu setinggi 4 m dan dipasang di dalam areal kelapa sawit. Selain ember plastik dapat juga digunakan perangkap PVC diameter 10 cm, panjang 2 m. Satu kantong feromon sintetik dapat digunakan selama 2-3 bulan. Setiap dua minggu dilakukan pengumpulan kumbang yang terperangkap dan dibunuh. Areal Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Pengendalian secara kimiawi Penaburan insektisida butiran Karbosulfan sebanyak (0,05-0,10 gram bahan aktif per pohon, setiap 1-2 minggu) atau 3 butir kapur barus/ pohon, setiap 1-2 kali/bulan pada pucuk kelapa sawit. Pengutipan larva Pengutipan dilakukan pada rumpukan yang telah membusuk atau bahan organik lain yang sebagai tempat berkembang biak Oryctes rhinoceros. Untuk teknik replanting yang menggunakan teknik underplanting maka pengutipan larva dilakukan pada tegakan batang kelapa sawit yang telah diracun. Pemasangan feromon agregat pada lahan. Apabila terjadi serangan berat maka dosis pemakaian dapat ditingkatkan menjadi 1 kemasan per ha. Pemasangan feromon dilakukan minimal selama 1 tahun. Areal Tanaman Menghasilkan (TM) Pemasangan feromon agregat pada lahan. Pada tanaman tinggi pemasangan feromon merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Apabila terjadi serangan berat maka dosis pemakaian

pengendalian Oryctes pada teknik replanting dengan pencincangan batang kelapa sawit. Hal ini dikarenakan pada teknik ini Oryctes akan meledak populasinya karena tersedia tempat berkembang biak yang sangat melimpah. Apabila tidak dibantu oleh teknik pengutipan maka resiko serangan baru akan semakin meningkat. Pemasangan Feromon Pada satu tahun pertama setelah replanting dengan sistem pencincangan memiliki populasi Oryctes yang sangat tinggi. Oleh karena itu, stadia kumbangnya juga harus dikendalikan dengan pemasangan feromon. Feromon agregat ini berguna sebagai alat kendali populasi hama dan sebagai perangkap massal. Rekomendasi untuk perangkap masal adalah meletakkan satu perangkap untuk 2 hektar (Chung, 1997). Pemerangkapan

Gambar 5. Pencincangan batang kelapa sawit untuk mempercepat pelapukan

Kumbang Tanduk Oryctes rhinoceros Linn.


Areal dengan Bahan Organik Tinggi (gambut dan banyak inang alternatif lain) Organic Trapping Pembuatan jebakan dengan pemasangan tandan kosong kelapa sawit pada kebun kelapa sawit secara sistematis. Satu perangkap sekitar 5 ton tumpukan tandan kelapa sawit kosong. Pemasangan feromon agregat pada organic trapping Pengutipan larva pada organic trapping secara berkala Pengendalian hayati Pengendalian kumbang tanduk Oryctes rhinoceros secara biologi menggunakan beberapa agensia hayati diantaranya jamur Metarhizium anisopliae dan Baculovirus oryctes. Jamur M. anisopliae merupakan jamur parasit yang telah lama digunakan untuk mengendalikan hama O. rhinoceros. Jamur ini efektif menyebabkan kematian pada stadia larva dengan gejala mumifikasi yang tampak 2-4 minggu setelah aplikasi. Jamur diaplikasikan dengan menaburkan 20 g/m2 (dalam medium jagung) (Sudharto et.al., 2000) pada tumpukan tandan kosong kelapa sawit ( organic trapping ). Baculovirus oryctes juga efektif mengendalikan larva maupun kumbang O. rhinoceros. Daftar Pustaka
Bedford, G.O. 1980. Biology, ecology and control of palm rhinoceros beetle. Annual Review of Entomology. 25:309-339. Chung, GF. 1997. The bioefficacy of the aggregation pheromone in mass trapping of Oryctes rhinoceros (L) in Malaysia. The Planter, 73(852):119-127. Dhileepan, K. 1988. Incidence and Intensity of Rhinoceros Beetle Infestation in Oil Palm Plantations in Kerala. Journal of Plantation Corps. 16:126-129. Ginting, C.U., Sudharto & A. Sipayung, 1998. Pengendalian kumbang Oryctes rhinoceros (L.) (Coleoptera : Scarabaeidae) pada kelapa sawit dengan menggunakan feromon. Disajikan pada Evaluasi Hasil Penelitian Unggulan Pusat Penelitian Perkebunan, 23-24 Februari 1998 di Balai Penelitian Perkebunan Sembawa, Palembang, p1-15. Kamarudin, H. N., & M.B. Wahid. 1997. Status of rhinoceros beetle, Oryctes rhinoceros (Coleoptera : Scarabaeidea) as a pest of young oil palm in Malaysia. The Planters, 73 (850) : 5-21. Liew, V.K., & A. Sulaiman. 1995. Penggunaan Tanaman Penutup Bumi dalam kawalan pembiakan kumbang badak (Oryctes rhinoceros) di kawasan penanaman semula- penemuan masakini. Kemajuan Penyelidikan, Bil. 22. FELDA kuala Lumpur. Mariau, D., R. Desmier de Chenon & Sudharto. 1991. Les insectes ravageurs du palmier a huile et leurs ennemis en Asie du Sud-est. Oleagineux Vol. 46 (11) : 400-476. Ooi, PAC. 1988. Insect in Malaysian Agriculture. Kuala Lumpur. Malaysia Tropical Press. 103pp. Pardede, D. 1973. Masalah kumbang Oryctes rhinoceros pada kelapa sawit muda sesudah tanam karet dan kelapa sawit, Bah Jambi, Pematang Siantar, Indonesia. Sadakhatulla, S & T.K.A. Ramachandran. 1990. A Novel Method to Control rhinoceros beetle, Oryctes rhinoceros L in Coconut. Indian Coconut Journal Cochin, 21:7-8, 10-12. Samsudin, A, P.S. Chew & M.M. Mohd. 1993. Oryctes rhinoceros: breeding and damage on oil palm to oil palm replanting situation. The Planter, 69(813): 583-591. Sipayung, A. 1992. Pengaruh serangan Oryctes rhinoceros terhadap pengalihan status tanaman kelapa sawit dari belum menghasilkan ke menghasilkan. Bull. Puslitbun Marihat 12(1) Pebruari 1992, Marihat, Pematang Siantar, Indonesia. Sivapragasam, A; A. Arikiah & C.A. Ranjit. 1990. the red striped weevil, Rhynchoporus scach Olivier (Coleoptera:Curculionidae): an Increasing menace to coconut palm in hilir Perak. The Planter. 66:113123. Sudharto. 1990. Hama Kelapa Sawit. PPM Marihat, Marihat Pematang Siantar. Sudharto Ps., Agus Susanto, Z.A. Harahap & Edy Purnomo. 2000. Pengendalian kumbang tanduk Oryctes rhinoceros pada tumpukan tandan kosong kelapa sawit. Pertemuan Teknis Kelapa SawitIII, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 3-4 Oktober 2000. pp. V-1-V-14. Susanto, A., Purba, R Y & Prasetyo, A E. 2010. Hama dan Penyakit Kelapa Sawit Volume 1. PPKS Press, Medan. Susanto A, Sudharto Ps, Purba RY, Utomo C, Fadillah LA, PrasetyoAE, DongoranAP, Fahridayanti. 2006. Perlindungan Tanaman Kelapa Sawit. Pematang Siantar, Indonesia. Wood, B.J. 1968. Pests of oil palm in Malaysia and their control. Inc. Soc. of Planters, Kuala Lumpur. 204 p. Developments in Oil Palm. Kuala Lumpur: The Incorporated Society of Planters.

Gambar 6. Pemasangan feromon

dapat ditingkatkan menjadi 1 kemasan per ha. Pemasangan feromon dilakukan minimal selama 1 tahun (Susanto et.al., 2010). Pengutipan larva Pengutipan larva pada bahan organik lain yang merupakan tempat berkembang biak O. rhinoceros. Bahan organik lain yang mungkin sebagai tempat berkembangbiak Oryctes adalah tanaman kelapa, gergajian kayu, dan kotoran sapi serta penggunaan tandan kosong kelapa sawit sebagai mulsa. Pengendalian hayati Larva Oryctes rhinoceros pada mulsa tandan kosong kelapa sawit di areal TM dapat dikendalikan dengan menaburkan jamur Metarhizium anisopliae 2 sebanyak 20 g/m .

Gambar 7. Teknik organic trapping