PERNIKAHAN USIA DINI

Home » PERNIKAHAN USIA DINI PERNIKAHAN USIA DINI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Isu pernikahan dini saat ini marak dibicarakan. Hal ini dipicu oleh pernikahan Pujiono Cahyo Widianto, seorang hartawan sekaligus pengasuh pesantren dengan Lutviana Ulfah. Pernikahan antara pria berusia 43 tahun dengan gadis belia berusia 12 tahun ini mengundang reaksi keras dari Komnas Perlindungan Anak. Bahkan dari para pengamat berlomba memberikan opini yang bernada menyudutkan. Umumnya komentar yang terlontar memandang hal tersebut bernilai negatif. Di sisi lain, Syeh Puji, begitu ia akrab disapa berdalih untuk mengader calon penerus perusahaannya. Dia memilih gadis yang masih belia karena dianggap masih murni dan belum terkontaminasi arus modernitas. Lagi pula dalam pandangan Syeh Puji, menikahi gadis belia bukan termasuk larangan agama. Sebenarnya kalau kita mau menelisik lebih jauh, fenomena pernikahan dini bukanlah hal yang baru di Indonesia, khususnya daerah Jawa. Penulis sangat yakin bahwa mbah buyut kita dulu banyak yang menikahi gadis di bawah umur. Bahkan jaman dulu pernikahan di usia ”matang” akan menimbulkan preseden buruk di mata masyarakat. Perempuan yang tidak segera menikah justru akan mendapat tanggapan miring atau lazim disebut perawan kaseb. Namun seiring perkembangan zaman, image masyarakat justru sebaliknya. Arus globalisasi yang melaju dengan kencang mengubah cara pandang masyarakat. Perempuan yang menikah di usia belia dianggap sebagai hal yang tabu. Bahkan lebih jauh lagi, hal itu dianggap menghancurkan masa depan wanita, memberangus kreativitasnya serta mencegah wanita untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. B. Rumusan Masalah A. Apakah yang dimaksud dengan pernikahan dini? B. Faktor apa yang menyebabkan pernikahan dini? C. Dampak apa sajakah dari pernikahan dini itu? BAB II PEMBAHASAN A. Arti Pernikahan Dini Istilah pernikahan dini adalah kontemporer. Dini dikaitkan dengan waktu, yakni di awal waktu tertentu. Pernikahan dini disini adalah ‘pernikahan dini’ sebagai sebuah pernikahan yang dilakukan oleh mereka yang berusia di bawah usia yang dibolehkan untuk menikah dalam Undang-Undang Perkawinan nomor 1 tahun 1974, yaitu minimal 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. 1. Pernikahan Dini menurut Negara Undang-undang negara kita telah mengatur batas usia perkawinan. Dalam Undang-undang Perkawinan bab II pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria

Menurut para sosiolog. Dari kelima nilai universal Islam ini. pemerintah hanya mentoleri pernikahan diatas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita. Konstruksi hukum yang di bangun Ibnu Syubromah sangat rapuh dan mudah terpatahkan. Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. niscaya geneologi (jalur keturunan) akan semakin kabur. pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga. ketika ada jenazah. Oleh karenanya. psikis dan mental. masalah pernikahan dini adalah isu-isu kuno yang sempat tertutup oleh tumpukan lembaran sejarah. nilai esensial pernikahan adalah memenuhi kebutuhan biologis. Oleh sebab itu. secara hukum kenegaraan tidak sah. Ibnu Syubromah menganggap sebagai ketentuan khusus bagi Nabi Saw yang tidak bisa ditiru umatnya. Wacana yang diluncurkan Ibnu Syubromah dinilai lemah dari sisi kualitas dan kuantitas. Istilah pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan umur. satu diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan (hifdzu al nasl). 2. Hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik. Sebaliknya. Syekh Ibrahim dalam bukunya al Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap terjaga. Dari sudut pandang kedokteran. Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini. sosiologis. Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimal Undang-undang Perkawinan. dan akal. Terlepas dari semua itu. Sementara dua hal ini tidak terdapat pada anak yang belum baligh. sejarah telah mencatat bahwa Aisyah dinikahi Baginda Nabi dalam usia sangat muda. Ibnu Syubromah mencoba melepaskan diri dari kungkungan teks. Disamping itu. Imam Jalaludin Suyuthi pernah menulis dua hadis yang cukup menarik dalam kamus hadisnya. Sementara dalam kaca mata agama. Memahami masalah ini dari aspek historis. dan wanita tak bersuami ketika (diajak menikah) orang yang setara/kafaah”. dan kultural yang ada.mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 (enam belas tahun) tahun. isu tersebut kembali muncul ke permukaan. gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Seandainya agama tidak mensyari’atkan pernikahan. dan melanggengkan keturunan. mayoritas pakar hukum Islam melegalkan pernikahan dini. Pernikahan Dini menurut Agama Islam Hukum Islam secara umum meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap agama. Sehingga dalam menyikapi pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah (yang saat itu berusia usia 6 tahun). hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui pernikahan. . keturunan. Pendapat yang digawangi Ibnu Syubromah menyatakan bahwa agama melarang pernikahan dini (pernikahan sebelum usia baligh). Menurutnya. ditinjau dari sisi sosial. Begitu pula pernikahan dini merupakan hal yang lumrah di kalangan sahabat. jiwa. Dan kini. pernikahan dini ialah pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh. sehingga gagasan ini tidak dianggap. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif. pernikahan dini mempunyai dampak negatif baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan. Ia lebih menekankan pada tujuan pokok pernikahan. Bahkan sebagian ulama menyatakan pembolehan nikah dibawah umur sudah menjadi konsensus pakar hukum Islam. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil. harta. Hadis pertama adalah ”Ada tiga perkara yang tidak boleh diakhirkan yaitu shalat ketika datang waktunya.

mendidik dan melindungi anak Menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan.[1] B. ”Dalam kitab taurat tertulis bahwa orang yang mempunyai anak perempuan berusia 12 tahun dan tidak segera dinikahkan. memelihara. Berbagai dampak pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. penikahan dini juga mempunyai sisi positif. Rembang Jawa Tengah. Kebebasan yang sudah melampui batas. Kita tahu.[2] . Terlebih lagi. Pernikahan dini merupakan upaya untuk meminimalisir tindakan-tindakan negatif tersebut agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang kian mengkhawatirkan. Dampak terhadap hukum Adanya pelanggaran terhadap 3 undang-undang di negara kita yaitu : 1. dia belum mengerti arti sebuah pernikahan. C. Apapun alasannya. Dia adalah satu dari sekian banyak perempuan di wilayah Tegaldowo. yang dinikahkan karena tradisi yang mengikatnya. perkawinan tersebut dari tinjauan berbagai aspek sangat merugikan kepentingan anak dan sangat membahayakan kesehatan anak akibat dampak perkawinan dini atau perkawinan di bawah umur. Rembang. Maraknya tradisi pernikahan dini ini terkait dengan masih adanya kepercayaan kuat tentang mitos anak perempuan. ternyata ada juga fasilitas dispensasi. mengenai seorang perempuan yang pertama kali dijodohkan orangtuanya pada usia 11 tahun. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggungjawab untuk:    Mengasuh. 2. Misalnya tentang kasus di daerah Tegaldowo. Kuatnya tradisi turun temurun membuatnya tak mampu menolak. Sekalipun ada ketetapan undang-undang yang melarang pernikahan dini. Pada hakekatnya. sosial anggapan tidak penting pendidikan bagi anak perempuan dan anggapan negatif terhadap status perawan tua. saat ini pacaran yang dilakukan oleh pasangan muda-mudi acapkali tidak mengindahkan norma-norma agama. Berita ini menarik perhatian khalayak karena merupakan peristiwa yang tidak lazim. dimana akibat kebebasan itu kerap kita jumpai tindakantindakan asusila di masyarakat.Hadis Nabi kedua berbunyi. Dampak pernikahan dini (perkawinan di bawah umur) Baru saja kita mendengar berita diberbagai media tentang kyai kaya yang menikahi anak perempuan yang masih belia berumur 12 tahun. UU No. Faktor yang menyebabkan terjadinya pernikahan dini Praktek pernikahan dini dipengaruhi oleh budaya lokal. Fenomena pernikahan diusia anak-anak menjadi kultur sebagian masyarakat Indonesia yang masih memposisikan anak perempuan sebagai warga kelas ke-2. Pasal 6 ayat (2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua. Fakta ini menunjukkan betapa moral bangsa ini sudah sampai pada taraf yang memprihatinkan. UU No. bakat dan minatnya Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak. maka anak itu berdosa dan dosa tersebut dibebankan atas orang tuanya”. Kuatnya tradisi memaksa anak-anak perempuan melakukan pernikahan dini. 1 tahun 1974 tentang perkawinan pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Para orang tua ingin mempercepat perkawinan dengan berbagai alasan ekonomi.

Amanat Undang-undang tersebut di atas bertujuan melindungi anak. Patut dipertanyakan apakah hubungan seks yang demikian atas dasar kesetaraan dalam hak reproduksi antara isteri dan suami atau adanya kekerasan seksual dan pemaksaan (penggagahan) terhadap seorang anak. hak bermain dan menikmati waktu luangnya serta hak-hak lainnya yang melekat dalam diri anak. ”Apa alasan ia menikah? Sebaiknya jangan dulu berhubungan seks hingga anak itu matang fisik maupun psikologis”. Pada saat itu pengantinnya belum siap untuk menghadapi tanggungjawab yang harus diemban seperti orang dewasa. maupun anak. UU No. Anak akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir pada perkawinan yang dia sendiri tidak mengerti atas putusan hidupnya. mendidik anak itu perlu pendewasaan diri untuk dapat memahami anak. pasangan. Namun psikologisnya belum siap untuk mengandung dan melahirkan. Pemahaman tentang undang-undang tersebut harus dilakukan untuk melindungi anak dari perbuatan salah oleh orang dewasa dan orang tua. Sementara itu mereka yang menikah dini umumnya belum cukup mampu menyelesaikan permasalan secara matang. Dampak psikologis Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks. perobekan yang luas dan infeksi yang akan membahayakan organ reproduksinya sampai membahayakan jiwa anak. sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan dalam jiwa anak yang sulit disembuhkan. karena ada juga yang sudah berumur tapi masih seperti anak kecil. agar anak tetap memperoleh haknya untuk hidup. Posisi bayi tidak akan lurus di dalam perut ibunya. Ia memanbahkan. Kematangan fisik seorang anak tidak sama dengan kematangan psikologisnya sehingga meskipun anak tersebut memiliki badan bongsor dan sudah menstruasi. Patut ditengarai adanya penjualan/pemindah tanganan antara kyai dan orang tua anak yang mengharapkan imbalan tertentu dari perkawinan tersebut. apalagi jika sampai hamil kemudian melahirkan.3.[4] Banyak efek negatif dari pernikahan dini. secara mental ia belum siap untuk berhubungan seks. eksploitasi dan diskriminasi. Sungguh disayangkan apabila ada orang atau orang tua melanggar undang-undang tersebut. 3. Jika dilihat dari tinggi badan. maka mana bisa sang ibu mengayomi anaknya. Kalau kematangan psikologis tidak ditentukan batasan usia.[3] 2. Karena kalau masik kenak-kanakan. Kondisi kematangan psikologis ibu menjadi hal utama karena sangat berpengaruh terhadap pola asuh anak di kemudian hari. Atau ada juga yang masih muda tapi pikirannya sudah dewasa. Pernikahan pada anak perempuan berusia 9-12 tahun sangat tak lazim dan tidak pada tempatnya. Padahal kalau menikah itu kedua belah pihak harus sudah cukup dewasa dan siap untuk menghadapi permasalahanpermasalan baik ekonomi. Selain itu. tumbuh dan berkembang serta terlindungi dari perbuatan kekerasan. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma. wanita yang memiliki tinggi dibawah 150 cm kemungkinan akan berpengaruh pada bayi yang dikandungnya.21 tahun 2007 tentang PTPPO. Dampak biologis Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Yang . ikatan perkawinan akan menghilangkan hak anak untuk memperoleh pendidikan (Wajib 9 tahun). kehamilan bisa saja terjadi pada anak usia 12 tahun. Sel telur yang dimiliki anak juga diperkirakan belum matang dan belum berkualitas sehingga bisa terjadi kelainan kromosom pada bayi.

Pernikahan Dini Dalam Perspektif Agama dan Negara. BAB III PENUTUP A.pesantrenvirtual. 1 tahun 1974 tentang perkawinan Yusuf Fatawie.Hum. SS.php/islam-kontenporer/124 tanggal 21 September 2010 [1] Yusuf Fatawie.com/index. Santri Lirboyo Kediri.php/islam-kontenporer/124 tanggal 21 September 2010 Yusuf Fatawie. Dampak sosial Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor sosial budaya dalam masyarakat patriarki yang bias gender.Okezone. Yuk !. Ketahui Resiko Pernikanan Dini. Salah Satu Penyebab Pernikahan Dini. M.php/islam-kontenporer/124 tanggal 21 September 2010 . Kesimpulan Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pernikahan dini atau perkawinan dibawah umur lebih bayak mudharat dari pada manfaatnya. Orang tua harus disadarkan untuk tidak mengizinkan menikahkan/mengawinkan anaknya dalam usia dini atau harus memahami peraturan perundang-undangan untuk melindungi anak. Pernikahan Dini. http://www.ada hanya akan merasa terbebani karena satu sisi masih ingin menikmati masa muda dan di sisi lain dia harus mengurusi keluarganya. Pernikahan Dini Dalam Perspektif Agama dan Negara.pesantrenvirtual. Chaerunnisa. Kondisi ini sangat bertentangan dengan ajaran agama apapun termasuk agama Islam yang sangat menghormati perempuan (Rahmatan lil Alamin).pesantrenvirtual. Kondisi ini hanya akan melestarikan budaya patriarki yang bias gender yang akan melahirkan kekerasan terhadap perempuan. Dampak Pernikhan Dini (Perkawinan Muda) Noni Arni. http://www. Sosial Budaya tanggal 16 November 2009 UU No. yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dan hanya dianggap pelengkap seks laki-laki saja. Santri Lirboyo Kediri.com/index. http://www. Kuatnya Tradisi. Santri Lirboyo Kediri. http://www. 4.com tanggal 29 Oktober 2008 http://www. Namun jika dengan menunda pernikahan sampai usia matang mengandung nilai positif maka hal ini adalah lebih utama DAFTAR PUSTAKA        Abdul Bukhari Irwan Ibnu Abas. Oleh karena itu patut ditentang. Karena menurut Agama Islam jika dengan menikah muda mampu menyelamatkan diri dari kubangan dosa dan lumpur kemaksiatan maka menikah adalah alternatif yang terbaik.com/2010/10/15/makalah-pernikahan-dini/ Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan/Deputi Perlindungan Anak.com/index.wordpress. Pernikahan Dini Dalam Perspektif Agama dan Negara. Namun dilain pihak permasalahan pernikahan dini tidak bisa diukur dari sisi agama terutama dari sisi agama Islam.

Salah Satu Penyebab Pernikahan Dini. Sosial Budaya tanggal 16 November 2009 .wordpress. Kuatnya Tradisi.com/2010/10/15/pernikahan-dini/ [3] Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan/Deputi Perlindungan Anak.[2] http://www. Dampak Pernikahan Dini (Perkawinan Muda) [4] Noni Arni.

khususnya daerah Jawa. begitu ia akrab disapa berdalih untuk mengader calon penerus perusahaannya.[1] Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. Pernikahan antara pria berusia 43 tahun dengan gadis belia berusia 12 tahun ini mengundang reaksi keras dari Komnas Perlindungan Anak. Pernikahan Dini menurut Negara Undang-undang negara kita telah mengatur batas usia perkawinan. Sebenarnya kalau kita mau menelisik lebih jauh. psikis dan mental. Bahkan lebih jauh lagi. Menurut para sosiolog. seorang hartawan sekaligus pengasuh pesantren dengan Lutviana Ulfah. pernikahan dini mempunyai dampak negatif baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan. Lagi pula dalam pandangan Syeh Puji. memberangus kreativitasnya serta mencegah wanita untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. Hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik. . Oleh karenanya. hal itu dianggap menghancurkan masa depan wanita. Dalam Undang-undang Perkawinan bab II pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 (enam belas tahun) tahun. pemerintah hanya mentolerir pernikahan diatas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita. Hal ini dipicu oleh pernikahan Pujiono Cahyo Widianto. ditinjau dari sisi sosial. Penulis sangat yakin bahwa mbah buyut kita dulu banyak yang menikahi gadis di bawah umur. gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Arus globalisasi yang melaju dengan kencang mengubah cara pandang masyarakat. Perempuan yang tidak segera menikah justru akan mendapat tanggapan miring atau lazim disebut perawan kaseb. fenomena pernikahan dini bukanlah hal yang baru di Indonesia. Dia memilih gadis yang masih belia karena dianggap masih murni dan belum terkontaminasi arus modernitas. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil. Bahkan—jaman dulu—pernikahan di usia ”matang” akan menimbulkan preseden buruk di mata masyarakat. image masyarakat justru sebaliknya. Dari sudut pandang kedokteran.Pernikahan Dini Dalam Perspektif Agama dan Negara Ditulis oleh Yusuf Fatawie* Isu pernikahan dini saat ini marak dibicarakan. Perempuan yang menikah di usia belia dianggap sebagai hal yang tabu. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif. pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga. Bahkan dari para pengamat berlomba memberikan opini yang bernada menyudutkan. Syeh Puji. Di sisi lain. Namun seiring perkembangan zaman. menikahi gadis belia bukan termasuk larangan agama. Umumnya komentar yang terlontar memandang hal tersebut bernilai negatif.

Ibnu Syubromah mencoba melepaskan diri dari kungkungan teks. Hal ini tampak dari betapa dahsyatnya benturan ide yang terjadi antara para sarjana Islam klasik dalam merespons kasus tersebut. Istilah pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan umur. Sehingga dalam menyikapi pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah (yang saat itu berusia usia 6 tahun). Terlepas dari semua itu. harta. Pendapat yang digawangi Ibnu Syubromah menyatakan bahwa agama melarang pernikahan dini (pernikahan sebelum usia baligh). dan wanita tak bersuami ketika (diajak menikah) orang yang setara/kafaah”. jiwa. ketika ada jenazah. keturunan. hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui pernikahan. Hadis pertama adalah ”Ada tiga perkara yang tidak boleh diakhirkan yaitu shalat ketika datang waktunya. Bahkan sebagian ulama menyatakan pembolehan nikah dibawah umur sudah menjadi konsensus pakar hukum Islam. Syekh Ibrahim dalam bukunya al Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap terjaga.[2] Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini. Begitu pula pernikahan dini merupakan hal yang lumrah di kalangan sahabat. ”Dalam kitab taurat tertulis bahwa orang yang mempunyai anak perempuan berusia 12 tahun dan tidak segera dinikahkan.Pernikahan Dini menurut Islam Hukum Islam secara umum meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap agama. dan kultural yang ada. satu diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan (hifdzu al nasl). Dan kini. Ibnu Syubromah menganggap sebagai ketentuan khusus bagi Nabi Saw yang tidak bisa ditiru umatnya. sejarah telah mencatat bahwa Aisyah dinikahi Baginda Nabi dalam usia sangat muda. nilai esensial pernikahan adalah memenuhi kebutuhan biologis. Seandainya agama tidak mensyari’atkan pernikahan. Oleh sebab itu.[3] Imam Jalaludin Suyuthi pernah menulis dua hadis yang cukup menarik dalam kamus hadisnya. Wacana yang diluncurkan Ibnu Syubromah dinilai lemah dari sisi kualitas dan kuantitas. Sebaliknya. sosiologis. Sementara dalam kaca mata agama. Pemahaman ini merupakan hasil interpretasi dari QS. Ia lebih menekankan pada tujuan pokok pernikahan. Disamping itu.[4] Hadis Nabi kedua berbunyi. mayoritas pakar hukum Islam melegalkan pernikahan dini. Menurutnya. Dari kelima nilai universal Islam ini. sehingga gagasan ini tidak dianggap. isu tersebut kembali muncul ke permukaan. dan melanggengkan keturunan. Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimnal Undang-undang Perkawinan. dan akal. maka anak itu berdosa dan dosa . masalah pernikahan dini adalah isu-isu kuno yang sempat tertutup oleh tumpukan lembaran sejarah. pernikahan dini ialah pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh. al Thalaq: 4. Memahami masalah ini dari aspek historis. Sementara dua hal ini tidak terdapat pada anak yang belum baligh. secara hukum kenegaraan tidak sah. niscaya geneologi (jalur keturunan) akan semakin kabur. Konstruksi hukum yang di bangun Ibnu Syubromah sangat rapuh dan mudah terpatahkan.

[6] Permasalahan berikutnya adalah baik kebijakan pemerintah maupun hukum agama sama-sama mengandung unsur maslahat. jika dengan menunda pernikahan sampai pada usia ”matang” mengandung nilai positif. Begitu pula agama tidak membatasi usia pernikahan. Jika dengan menikah usia muda mampu menyelamatkan diri dari kubangan dosa dan lumpur kemaksiatan.501. 4.210 Darul Kutub Ilmiah.[5] Pada hakekatnya. Beliau mengatakan jika terjadi dua kemaslahatan. Hemat penulis. Fathul Bari vol. penulis teringat dengan gagasan Izzudin Ibn Abdussalam dalam bukunya Qowa’id al Ahkam. Jalaluddin Suyuthi. Fakta ini menunjukkan betapa moral bangsa ini sudah sampai pada taraf yang memprihatinkan. Semarang. 2 Toha Putra. 6. Imam Syatibi. maka hal itu adalah yang lebih utama.[7] Kaedah tersebut ketika dikaitkan dengan pernikahan dini tentunya bersifat individual-relatif. Artinya ukuran kemaslahatan di kembalikan kepada pribadi masing-masing. Beirut. jika sudah ada yang siap untuk bertanggungjawab dan hal itu legal dalam pandangan syara’ kenapa tidak ? Penutup Substansi hukum Islam adalah menciptakan kemaslahatan sosial bagi manusia pada masa kini dan masa depan. Apa yang pernah digaungkan Imam Syatiby dalam magnum opusnya ini harus senantiasa kita perhatikan. dimana akibat kebebasan itu kerap kita jumpai tindakantindakan asusila di masyarakat. Wallahu A’lam *) Penulis adalah santri Lirboyo Kediri asal Pati.220 Darul Kutub Ilmiah. 5.237 Darul Kutub Ilmiah. Ibrahim. hlm. Ibid. penikahan dini juga mempunyai sisi positif. Beirut. Kita tahu. maka menikah adalah alternatif terbaik. UU Perkawinan di www. Sebaliknya.depag. 2. . 3.go. Ibnu Hajar al ’Asqalani. maka kita dituntut untuk menakar mana maslahat yang lebih utama untuk dilaksanakan. Menyikapi masalah tersebut. pernikahan dini merupakan upaya untuk meminimalisir tindakan-tindakan negatif tersebut. relevan dan mampu merespon dinamika perkembangan zaman. 90 vol. saat ini pacaran yang dilakukan oleh pasangan muda-mudi acapkali tidak mengindahkan norma-norma agama. Hal ini bertujuan agar hukum Islam tetap selalu up to date. Daftar Pustaka : 1.tersebut dibebankan atas orang tuanya”. ternyata juga mempunyai nilai positif. Pemerintah melarang pernikahan usia dini adalah dengan pelbagai pertimbangan di atas.9 hlm. al Muwafaqot hlm. Daripada terjerumus dalam pergaulan yang kian mengkhawatirkan. Hukum Islam bersifat humanis dan selalu membawa rahmat bagi semesta alam. Beirut. Jami’ al Shaghir hlm. Sebuah permasalahan yang cukup dilematis. Kebebasan yang sudah melampui batas.id . al Bajuri hlm.

Izzudin Ibn Abd.7. Qowa’id al Ahkam hlm. s .90 vol.II Darul Kutub Ilmiah. Salam. Beirut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful