LAPORAN PENDAHULUAN HIV/AIDS

1. Pengertian AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh factor luar ( bukan dibawa sejak lahir ) AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). ( Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare ) AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi ( Center for Disease Control and Prevention ) 2. Etiologi

Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan Transmisi a. b. c. d. infeksi HIV keduanya dan AIDS terdiri disebut dari lima fase HIV. yaitu :

Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari,B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.

e.

AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system tubuh, dan manifestasi neurologis.
2

termasuk bayi. maka system imun seluler makin lemah secara progresif. dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi. 2-3 tahun setelah infeksi. 3. limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD4. Patofisiologi Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe. Tes Laboratorium Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. Pemeriksaan Diagnostik a. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah : 1. Penerima darah atau produk darah (transfusi). Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV) 3 . Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong. jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah. Partner seks dari penderita AIDS 4. Orang yang ketagian obat intravena 3. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. pria maupun wanita. maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T 4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu. 2. Selama waktu ini. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.AIDS dapat menyerang semua golongan umur. 5. 4. Dengan menurunya jumlah sel T4. Lelaki homoseksual atau biseks.

yang untuk orang normal tidak berarti. 2. Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV) Pemeriksaan ini digunakan dengan tes lainnya untuk mengevaluasi efek anti virus. melainkan infeksi dan kanker yang dideritanya. HIV biasanya ditularkan melalui hubungan seks dengan orang yang mengidap virus tersebut dan terdapat kontak langsung dengan darah atau produk darah dan cairan tubuh lainnya. Pemeriksaan kultur Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau kultur plasma kuantitatif dan viremia plasma merupakan tes tambahan yang mengukur beban virus ( viral burden ) AIDS muncul setelah benteng pertahanan tubuh yaitu sistem kekebalan alamiah melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV. Hubungan seks melalui anus berisiko tinggi untuk terinfeksi. Antibody terbentuk dalam 3 – 12 minggu setelah infeksi. Pada wanita virus mungkin masuk melalui luka atau lecet pada mulut rahim/vagina. Tapi antibody ternyata tidak efektif. Begitu pula virus memasuki aliran darah pria jika pada genitalnya ada luka/lecet. CT Scan otak. MRI. EMG (pemeriksaan saraf) Tes Lainnya 1.Neurologis EEG. Jadi bukan AIDS nya sendiri yang menyebabkan kematian penderita.1. namun juga vaginal dan oral. Tes Antibodi Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). atau bisa sampai 6 – 12 bulan. maka penderita mudah sekali terserang infeksi dan kanker yang sederhana sekalipun. dengan runtuhnya/hancurnya sel-sel limfosit T karena kekurangan sel T. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostik. HIV juga dapat ditularkan melalui kontak langsung darah dengan 4 . maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut.

Satu cara untuk mendapat kepastian adalah dengan menjalani Uji Antibodi HIV terutamanya jika seseorang merasa telah melakukan aktivitas yang berisiko terkena virus HIV. henti nafas sejenak. Tidak jarang diagnosa pada stadium awal penyakit HIV AIDS diduga sebagai TBC. karena virus ini sangat rapuh. penderita hanya mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh saat mendapat kontak virus HIV tersebut. seperti jarum suntik (pecandu obat narkotik suntikan). batuk. yaitu kehilangan berat badan tubuh hingga 10% dibawah normal karena gangguan pada sistem protein dan energy didalam tubuh seperti yang dikenal sebagai Malnutrisi 5 . walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel T4 semakin menururn. Tanda dan gejala Seseorang yang terkena virus HIV pada awal permulaan umumnya tidak memberikan tanda dan gejala yang khas. Berat badan tubuh. Semakin rendah jumlah sel T4. 5. 3. Saluran pernafasan. Masa inkubasi/masa laten sangat tergantung pada daya tahan tubuh masingmasing orang. Penderita mengalami nafas pendek. Saluran Pencernaan. gels bekas dipakai penderita. handuk atau melalui closet umum. nyeri dada dan demam seprti terserang infeksi virus lainnya (Pneumonia). Setelah kondisi membaik. mencium. rata-rata 5-10 tahun. serta mengalami diarhea yang kronik. 2. semakin rusak sistem kekebalan tubuh. orang yang terkena virus HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan perlahan kekebelan tubuhnya menurun/lemah hingga jatuh sakit karena serangan demam yang berulang. Penderita penyakit AIDS menampakkan tanda dan gejala seperti hilangnya nafsu makan. mual dan muntah.darah. Penderita mengalami hal yang disebut juga wasting syndrome. Tidak ada bukti penularan melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan. Adapun tanda dan gejala yang tampak pada penderita penyakit AIDS diantaranya adalah seperti dibawah ini : 1. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala. transfusi darah/produk darah dan ibu hamil ke bayinya saat melahirkan. kerap mengalami penyakit jamur pada rongga mulut dan kerongkongan.

6. 6 .penurunan berat badan. keletihan dan cacat. hal ini sebagai tanda awal terinfeksi virus HIV. selalu mengalami tensi darah rendah dan Impoten. 4.nutrisi. Lainnya adalah penderita AIDS wanita banyak yang mengalami peradangan rongga (tulang) pelvic dikenal sebagai istilah pelvic inflammatory disease (PID) dan mengalami masa haid yang tidak teratur (abnormal). Oral Lesi Karena kandidia. berefek perubahan kepribadian. menderita penyakit syphillis dan dibandingkan Pria maka wanita lebih banyak jumlahnya yang menderita penyakit cacar. Komplikasi a. sarcoma Kaposi. Penderita mengalami serangan virus cacar air (herpes simplex) atau carar api (herpes zoster) dan berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan rasa nyeri pada jaringan kulit. Pada system persyarafan ujung (Peripheral) akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki. Penderita seringkali mengalami penyakit jamur pada vagina.termasuk juga karena gangguan absorbsi/penyerapan makanan pada sistem pencernaan yang mengakibatkan diarhea kronik. HPV oral. kondisi letih dan lemah kurang bertenaga. kulit kering berbercak (kulit lapisan luar retak-retak) serta Eczema atau psoriasis. susah berkonsentrasi. sering tampak kebingungan dan respon anggota gerak melambat. Saluran kemih dan Reproduksi pada wanita. 6. b. peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV). sakit kepala. Luka pada saluran kemih. Neurologik  kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf. Terjadinya gangguan pada persyarafan central yang mengakibatkan kurang ingatan. reflek tendon yang kurang. gingivitis. System Persyarafan. 5. kelemahan. disfasia. System Integument (Jaringan kulit). Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan rambut pada kulit (Folliculities). dan isolasi social.dehidrasi. herpes simplek. leukoplakia oral. kerusakan kemampuan motorik.

hipoksia. meningitis / ensefalitis.   Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV) d. total / parsial.batuk. hipoglikemia. Hubungan seksual (homoseksual dan heteroseksual) yang tidak terlindung dengan seseorang yang 7 mengidap HIV. cytomegalovirus. Enselophaty akut.gagal nafas. pneumococcus. Respirasi Infeksi karena Pneumocystic Carinii. infeksi skunder dan sepsis. dan dekobitus dengan efek nyeri. dan maranik endokarditis.hipotensi sistemik. reaksi otot. 2005). Sensorik  Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan  Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media. dermatitis karena xerosis. Virus ini tidak hidup di dalam cairan tubuh lainnya seperti air ludah (air liur). sperma. ketidakseimbangan elektrolit. paralise. demam.nyeri. . rasa terbakar.hipoksia. virus influenza. karena reaksi terapeutik.keletihan. f. Penularan HIV/AIDS Virus HIV ini sangat mudah menular dan mematikan serta hidup dalam 4 jenis cairan tubuh manusia yaitu darah. Dermatologik Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster. dan strongyloides dengan efek nafas pendek. air mata maupun keringat sehingga penularannya hanya lewat empat cairan tubuh tersebut (Hutapea. kehilangan pendengaran dengan efek nyeri. e. Dengan efek : sakit kepala. 7. lesi scabies/tuma. malaise. Penularan HIV yang terjadi apabila terjadi kontak atau pertukaran cairan tubuh yaug mengandung virus melalui sebagai berikut: a. gatal. cairan vagina dan air susu ibu (ASI).

Transfusi darah yang tercemar HIV secara langsung akan menularkan HIV ke dalam sistem peredaran darah dari si penerima. menghindari hubungan dengan WTS dan meningkatkan pemakaian kondom Promosi penggunaan kondom merupakan upaya pencegahan IMS. b. Penggunaan alat protektif (pemakaian kondom) bagi kelompok resiko tinggi. c. tato) yang tercemar oleh HIV. Pendekatan pendidikan/penyuluhan tentang perilaku seksual. 2006). mengurangi pasangan seksual sekecil mungkin. tindik. Penularan dapat terjadi selama kehamilan atau persalinan atau selama menyusui (Nursalam. d. monogami. Transfusi darah dan transplantasi organ yang tercemar oloh HIV. pencegahan penularan HIV melalui hubungan seksual memerlukan pendidikan/penyuluhan yang intensif dan ditujukan untuk mengubah perilaku seksual masyarakat tertentu sedemikian rupa sehingga mengurangi kemungkinan penularan HIV. e. Menghindari hubungan dengan kelompok berisiko tinggi. Kelompok risiko tinggi tidak menjadi donor darah. Penggunaan jarum suntik harus steril dan bukan bekas orang lain (Aulia.b. 2003). Menghindari hubungan seksual di luar nikah atau tidak berganti-ganti pasangan. Oleh karena itu. d. 8. Menurut Suesen (1991) dalam Dachlia (2000). apabila salah satu di antara mereka adalah pengidap HIV. Jarum suntik atau alat tusuk lainnya (akupuntur. pemakaian jarum suntik secara bersama-sama oleh pecandu narkotika akan mudah menularkan HIV di antara mereka. misalnya tidak mengadakan hubungan seksual (abstinence).Cara pencegahan penularan HIV/AIDS Cara pencegahan penularan HIV/AIDS dalam masyarakat dapat dilakukan antara lain sebagai berikut: a. Penularan ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada anak yang dikandungnya. akan tetapi sering 8 . c. ditujukan terutama mengenai jumlah dan pilihan pasangan seksual.

misalnya mengurangi kenikmatan seksual. 9 . Masih banyak kelompok masyarakat yang khawatir promosi kondom akan mendorong sebagian masyarakat untuk berperilaku seksual yang berisiko. 2002).menghadapi kendala. tidak praktis dan kondom tidak bermanfaat (Aulia. Banyak juga mitos atau pendapat keliru yang mendorong rendahnya penggunaan kondom pada pria yang melakukan hubungan seksual beresiko.

10 .Kerusakan imunitas humoral (Antibodi) Limfositik leukemia kronis. frekuensi Jantun dan pernafasan ).disfungsi timik congenital.globulin anti limfosit. Pengkajian a. Pada lansia. menurunnya massa otot.aplasia timik. kanker adalah beberapa penyakit yang kronis. Riwayat Penyakit Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun.penuaan.mieloma. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun.Sirkulasi Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia).limpoma. atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes : . Tanda : Kelemahan otot. respon fisiologi aktifitas ( Perubahan TD. Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus.progresi malaise.perubahan pola tidur. . keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien.hipogamaglobulemia congenital.intoleran activity. Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens.Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T ) Terapi radiasi. . Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif) . perdarahan lama pada cedera.KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1.defisiensi nutrisi.kortikosteroid.protein – liosing enteropati (peradangan usus) b. anemia aplastik. Diabetes meilitus.Aktifitas / Istirahat Gejala : Mudah lelah.

Integritas dan Ego Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan. terus – menerus. . . perubahan status mental. kurang perawatan diri. edema .Makanan / Cairan Gejala : Anoreksia. disfagia Tanda : Turgor kulit buruk.takut. rasa terbakar saat miksi Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah. Tanda : Mengingkari.Eliminasi Gejala : Diare intermitten. sakit kepala.Hygiene Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS Tanda : Penampilan tidak rapi.perubahan penglihatan.dan sebagainya. diare pekat dan sering. kesehatan gigi dan gusi yang buruk.cemas. nyeri panggul. mual muntah. nyeri tekan abdominal. 11 . perpanjangan pengisian kapiler. lesi rongga mulut.kerusakan status indera.depresi.Tanda : Perubahan TD postural. .kelemahan otot. putus asa. .Neurosensoro Gejala : Pusing. marah.perubahan jumlah.warna. pucat / sianosis. lesi atau abses rectal.tremor.mengkuatirkan penampilan. mengingkari doagnosa. sering dengan atau tanpa kram abdominal.perianal.menarik diri.menurunnya volume nadi perifer.dan karakteristik urine.

tekanan umum. menurunya kekuatan umum.herpes genetalia . Tanda : Takipnea. pelebaran kelenjar limfe.nyeri dada pleuritis. rasa terbakar. .penurunan rentan gerak. sakit kepala.isolasi.luka perianal / abses.Tanda : Perubahan status mental.luka. batuk. perubahan bunyi napas. Tanda : Bengkak sendi. . timbulnya nodul.pincang.berkeringat malam. .penggunaan pil pencegah kehamilan.penyakit defisiensi imun. napas pendek progresif. distress pernapasan. ide paranoid. adanya sputum.Keamanan Gejala : Riwayat jatuh.transfuse darah. nyeri kelenjar. Tanda : Kehamilan.Interaksi Sosial Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis. demam berulang.pingsan.nyeri tekan. refleks tidak normal.Seksualitas Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi.menurunnya libido.hemiparesis.Nyeri / Kenyamanan Gejala : Nyeri umum / local.Penyuluhan / Pembelajaran 12 . terbakar.kejang. Tanda : Perubahan integritas kulit.tremor.adanya trauma AIDS Tanda : Perubahan interaksi .kejang. . sesak pada dada.Pernafasan Gejala : ISK sering atau menetap.kesepian. ansietas.

Intervensi -Monitor tanda-tanda infeksi baru. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi.dengan kriteria lab tidak ada infeksi oportunis. malnutrisi dan pola hidup yang beresiko.Gejala : Kegagalan dalam perawatan. 3. -Kumpulkan spesimen untuk tes lab sesuai order. tanda vital dalam batas normal. -Mencegah bertambahnya infeksi -Meyakinkan diagnosis akurat dan pengobatan -Mempertahankan kadar darah yang terapeutik 13 . adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan. 2. b. c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan. pertukaran oksigen. Tujuan dan kriteria hasil Pasien akan bebas infeksi oportunistik dan komplikasinya. Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV. a.prilaku seks beresiko tinggi. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang. -Atur pemberian antiinfeksi sesuai order Rasional -Untuk pengobatan dini -Mencegah pasien terpapar oleh kuman patogen yang diperoleh di rumah sakit. dan menurunnya absorbsi zat gizi. Cuci tangan sebelum meberikan tindakan. -Anjurkan pasien metoda mencegah terpapar terhadap lingkungan yang patogen. malnutrisi. Diagnosa keperawatan a. meningkatnya kebutuhan metabolic. malnutrisi dan pola hidup yang beresiko. tidak ada luka atau eksudat. -Gunakan teknik aseptik pada setiap tindakan invasif.tak ada tanda-tanda infeksi baru. d.penyalahgunaan obat-obatan. kelelahan. Perencanaan keperawatan. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi.

Tujuan dan kriteria hasil : Infeksi HIV tidak ditransmisikan.dengan kriteria bebas dyspnea dan takikardi selama aktivitas. Intervensi -Monitor respon fisiologis terhadap aktivitas -Berikan bantuan perawatan yang pasien sendiri tidak mampu -Jadwalkan perawatan pasien sehingga tidak mengganggu isitirahat. -Gunakan darah dan cairan tubuh precaution bial merawat pasien. Gunakan masker bila perlu. dan menurunnya absorbsi zat gizi. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan. meningkatnya kebutuhan metabolic. Tujuan dan kriteria hasil Pasien berpartisipasi dalam kegiatan. malnutrisi. pertukaran oksigen. adanya infeksi nonopportunisitik yang dapat ditransmisikan. Resiko tinggi infeksi (kontak pasien) berhubungan dengan infeksi HIV. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang. kelelahan. tidak terinfeksi patogen lain seperti TBC. Tujuan dan kriteria hasil Pasien mempunyai intake kalori dan protein yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan 14 .dengan kriteria kontak pasien dan tim kesehatan tidak terpapar HIV. Rasional -Pasien dan keluarga mau dan memerlukan informasikan ini -Mencegah transimisi infeksi HIV ke orang lain c. Intervensi -Anjurkan pasien atau orang penting lainnya metode mencegah transmisi HIV dan kuman patogen lainnya. tim kesehatan memperhatikan universal precautions.b. Rasional -Respon bervariasi dari hari ke hari -Mengurangi kebutuhan energi -Ekstra istirahat perlu jika karena meningkatkan kebutuhan metabolik 4.

intake dan ouput -Atur antiemetik sesuai order -Rencanakan diet dengan pasien dan orang penting lainnya. -Monitor BB. pasien makan TKTP. BB mendekati seperti sebelum sakit Intervensi -Monitor kemampuan mengunyah dan menelan. Rasional -Intake menurun dihubungkan dengan nyeri tenggorokan dan mulut -Menentukan data dasar -Mengurangi muntah 15 . dengan kriteria mual dan muntah dikontrol. serum albumin dan protein dalam batas n ormal.Metaboliknya.

Christine L.J. Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. et al.B. Jakarta 16 . Rampengan dan Laurentz. 1991. Jakarta. Grimes. Mudge-Grout.DAFTAR PUSTAKA Grimes. Lippincott Company. Immunologic Disorders. Mosby Year Book. London. E. St. 1992. Toronto. RSUD Dr. Merchant Evelyn.M. Phipps. 1995. Lyke. 1994. A Human Needs Approach. Louis. Toronto. Doengoes. Wilma. Mosby Year Book. and Hamelik. Infectious Diseases. R. Soetomo Surabaya. cetakan kedua. Mosby Year Book. Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam. Pedoman Diagnosis dan Terapi. 1991. Rencana Asuhan Keperawatan . M. Medical Surgical Nursing : Concepts and Clinical Practice. EGC. edisi 3. EGC. 2000. Assesing for Nursing Diagnosis . dkk. 1992. 4th edition. alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S.D. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Marilynn.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful