1

Kata Penulis
Sebuah naskah kejar-tayang gagal yang diikutsertakan dalam salah satu kompetisi menulis yang diadakan penerbit ternama di tahun 2010 silam. Ya. Begitulah saya mengistilahkannya. Naskah yang

beruntung karena bisa lolos menjadi finalis 20 besar, namun nyatanya cuma mentok di sana saja (baca: gagal terbit). Lantas saya berpikir,

daripada naskah ini membusuk tiada guna.. lebih baik saya biarkan ia bergerilya di antara mereka yang mungkin suka. Maka, saya putuskan
untuk mengkonversinya ke dalam bentuk pdf dan wallaaaa~~ jadilah ia didandani secara pas-pasan. Maklum lah, saya memang penulis

gadungan dan betul-betul bukan perancang tata letak buku yang baik dan benar :)) Well, berhubung saya tak tahu lagi mau nulis apa di salamsalam pembuka ala kadarnya ini dan tidak mau sok-sok an jadi penulis betulan yang berbagi kisah seputar pembuatan naskah, ataupun ucapan terima kasih untuk sanak saudara, maka.. saya ucapkan saja: Selamat Membaca! ^__________^ Kritik dan saran dan caci-maki dan apa saja yang hendak disampaikan pada saya secara langsung, bisa menghubungi saya melalui dunia maya di: Twitter: @mungkin_alien e-mail: alien.alien@rocketmail.com

Terima kasih!! ^__________^

Jakarta, Juni 2012 Penulis Gadungan, Ali N.

2

PROLOG
SATU cerita dituliskan untuk kita.

Dengan pena merah muda.

Disemprotkan parfum aroma surga.

Berjudul: Cinta.

Langit Jakarta malam itu sangat cerah. Ribuan kerlip kecil menghiasi pekat gelapnya. Namun, hujan ringan sore tadi masih meninggalkan jejak-jejak genangan air di beberapa tempat. Malam seperti itu membuat suasana taman kota menjadi lebih sepi dari biasanya. Hanya ada beberapa remaja yang sibuk menyulut sumbu kembang api di tengah-tengah taman. Sementara, di dekat gerbang taman, sebuah tenda dengan lampu temaram menjadi satu-satunya tempat yang lebih terang dibanding sisi-sisi lain taman tersebut. Suara jangkrik, tawa para remaja, serta gesekan wajan dan spatula, menjadi semacam paduan suara yang syahdu di taman itu. Dari dua arah yang berlawanan, tampak sosok-sosok yang berlari kecil saling mendekat. Memakai jaket yang cukup tebal. Sesekali kedua sosok itu melompati genangan air yang warnanya kecokelatan. Tak peduli pada cipratan air di ujung-ujung celana jeans keduanya. Mereka terus berlari kecil dan terhenti di depan tenda temaram beraroma nasi goreng yang begitu sedap. Membangkitkan rasa-rasa yang nyaris dihapus mereka berdua. Keduanya bergeming tanpa suara. Tidak saling menyapa. Kedua sosok itu hanya saling tatap dengan sejuta makna. Semua rasa tercampur dalam dada keduanya. Ada rindu, ada sendu, dan mereka tak tahu mana rasa yang lebih dominan. Entah apa nama rasa-rasa itu jika semuanya menjadi satu. Suara jangkrik, tawa para remaja, serta gesekan wajan dan spatula mendadak tak terdengar di telinga keduanya. Detik terbentang lebar. Membuka kenangan-kenangan yang telah nyaris usang. Kedua sosok itu larut dalam memori masa silam.

3

4 .

Senyumsenyum sendiri. Iris buru-buru menambahkan. tapi pegawainya! Pegawai toko bunga itu bernama Egi. ta.. Hanya beda wilayah kompleks saja. Usianya baru tujuh tahun. bosen gue. nyari makan kek. sebenernya gue juga bosen. Ayah Iris tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. “Gue laper tau.. agak gemuk. hahahaha!” Iris paham betul arti „pemandangan bagus‟ bagi sahabatnya bukan bunga warna-warni yang kebetulan ada di toko bunga di seberang tukang soto itu. Eta memang selalu suka 5 . Sudah tiga puluh menit ia duduk di sana dan belum merasa bosan sedikitpun.” Iris ngikik melihat wajah Eta yang manyun gara-gara kelaparan. Iris melihat banyak bentuk-bentuk awan yang menyerupai sesuatu. Bahkan. dan sedikit berwajah oriental. Entah kenapa. Warna-warninya bikin seger mata. warna biru langit dan kumpulan gas putih yang menghiasinya selalu tampak menarik bagi gadis sembilan belas itu. Setelah mengobrol lama. Motornya disambar truk yang oleng karena supirnya mengantuk.. Sejak saat itu. “Makan apa kita?” sebelum Eta menjawab. Ketika mereka sama-sama lulus ujian masuk. Iris lupa membawa alat tulis. Ia akhirnya mengangguk dan meninggalkan spot favoritnya. keduanya pun memutuskan untuk mencari kamar kos berbarengan. Akhirnya. beruang. Iris sangat merindukan figur seorang ayah. Kala itu. “Gue nggak mau makan soto depan kampus lagi ah.. lelaki berusia akhir dua puluhan. kelinci. Mobil. Iris kadang melihat awan yang menyerupai mendiang ayahnya. satu-satunya tempat makan yang pemandangannya bagus cuma di situ doang! Serasa ada di taman bunga gitu kan.. kedua gadis itu malah menyewa satu kamar kos untuk berdua agar lebih murah.. Persis warga Ethiopia yang busung lapar itu. “Ris..BENIH ITU DITANAM IRIS duduk di dekat jendela ruang kelasnya yang ada di lantai tiga. Eta adalah sahabat Iris sejak mereka pertama kali berkenalan tepat di hari ujian masuk kampus.” Eta menyikut bahunya pelan. Iris tak pernah punya ayah lagi sejak itu. berkacamata.” “Airis. rupanya Iris dan Eta berdomisili di daerah yang sama. tapi. Eta yang duduk di sebelahnya dengan baik hati menawarkan alat tulis cadangan miliknya untuk Iris pakai. udahan kek bengongnya.

“Lagi cuti kali. berusaha melihat penampakan Egi di seberang sana. Eta akhirnya menanyakan namanya dan berkenalan. “Beda. Eta melirik Iris yang masih sibuk mengais sisa-sisa daging di mangkuk sotonya. itu siapa tuh??” Seorang pria keluar dari dalam toko bunga itu. Ia lalu geleng-geleng kepala. soto pun sudah tinggal kuahnya saja. Mengingat Egi. “Ndut lu kurusan kali. Kala itu. Di akhir obrolan. odong! Itu mah bapak-bapak!” “Nyari si ngkoh ya. Ta. “Kalo nasi nya aja bisa nggak...” kata Iris asal saja. Iris cuma nyengir.cowok-cowok yang agak berdaging. Kalau menurut Iris. ta..” “Bentar dulu. Koh. Mereka cuma terkekeh saja.. “Soto dua ya. Iris ikut menjulur-julurkan lehernya. Sebelum gue berubah pikiran dan mesen satu porsi lagi. tidak 6 . Cara Eta mengajaknya berkenalan benar-benar konyol sekali. Iris merasa belum pernah melihatnya. Tukang soto manggut-manggut dan langsung meracik dua porsi untuk Eta dan Iris. akhirnya bersuara. Eta dan Iris menoleh dengan muka merah. membuat Iris ingin tertawa. ta. “Bosen-bosen abis juga!!” katanya meledek. Eta menghadiahkan pukulan di paha Iris atas kata-kata asalnya barusan.” “Tunggu-tunggu. ta? Enggak usah pake soto. Kalau temen saya ini udah dapet jodoh.. Pria itu bukan si ndut yang ditaksir Eta. neng?” Asisten tukang soto yang sedari tadi memperhatikan mereka sibuk menjulurkan leher. pak! Pake nasi!” Suara Eta mengembalikan Iris dari lamunannya. “Bisa. “Balik yuk. Dia lebih tua. dua piring nasi sudah tak bersisa. katanya. Eta juga mengatakan: saya mesen karangan bunganya kapankapan ya.” bisiknya. kebetulan Egi sedang membeli soto.. tentu saja karena Eta berbadan kecil dan tinggi. Bikin gemas. Tapi... Konyolnya. Ya. Iris menyenggol kaki Eta pelan. membawa ember yang penuh bunga berwarna kuning. gue kok belum liat si ndut yaa. seolah ingin memesan karangan bunga. yang dicari tak kunjung terlihat. Eta suka cowok berdaging hanya untuk memperbaiki keturunan. Eta pura-pura menanyakan soal bunga-bunga padanya.” Eta menjulur-julurkan lehernya. memicingkan mata. Saling injak kaki. kalo lu yang dagang sotonya!” Lima belas menit kemudian.

. sampai ketemu minggu depan. Dia melirik Eta. makasih ya. Iris melirik toko bunga itu sekali lagi. neng. Eta langsung menarik Iris meninggalkan tempat itu. “Delapan belas ribu. bang?” Eta cepat-cepat mengeluarkan dompet. Si Pria sedang melihat ke arah mereka. yaaa. Pria tadi sudah berbalik masuk ke tokonya. trus bilang ke si Egi nya. Sebelum pergi.menyahut. “. ta??” Eta geleng-geleng kepala.” “Nih. Wajah pria yang dua jam lalu ia lihat di toko bunga masih terbayang dalam ingatannya. bang!” Setelah menyerahkan uangnya. “Ini jadi berapa. Kertas di hadapannya pun masih kosong meski jam kuliah sebentar lagi berakhir. Iris cuma mengangguk-angguk. Ia melanglang buana di dunianya sendiri. neng. kekal dalam memori di kepala. Sekarang yang punya jadi ngurus tokonya sendiri dah tuh.” Iris mengangguk-anggukkan kepalanya.. Dia tak tahu apa nama rasa itu. “Makalah apaan. Iris dan Eta buru-buru beralih lagi ke asisten tukang soto. 7 . “Kalo tuh bapak-bapak tau kita nyariin si Egi. Nggak tau baliknya kapan. “Sendiri-sendiri ta?” Eta melotot kesal.” Iris dan Eta melirik lagi toko bunga itu. Ada perasaan aneh dalam hati Iris. “Berdua.. Pemilik toko bunga?  Detik itu. Tak sedikitpun ceramah dosen masuk dalam kepalanya. “Bengong aja sih lu dari tadi!” sahutnya.” Suara ribut kursi yang bergeser mengembalikan Iris ke kelasnya.. “Dia lagi pulang kampung. Bapaknya sakit.. tengsin gue!!” katanya. Ris!! Elu sama gue!! Isshhhh. “Makalah Patofisiologi1!” “Oohh. Sekelebat bayangmu. jadi saya minta makalahnya dikumpulkan minggu depan ya!! Kuliah hari ini cukup sampai di sini.” 1 Ilmu yang mempelajari tentang penyakit. tersimpan dalam benakku secara tak sengaja. Aku terpesona… Pulpen dalam genggaman Iris belum juga berkurang tintanya. Panik.

. mata lu mau loncat keluar tuh!” Iris cekikikan. Bunga-bunga yang berwarna-warni itu pun berserakan ke mana-mana. gasrem-gas-rem doang.. sukses... Iris menyalakan motor. Berusaha untuk tenang.. Gampang. Iris bengong. kan? Hari ini jatah lu beresin kosan!” “Oh iya! Soriiiii banget.” Eta yang s edari tadi sibuk merapikan bukubukunya menoleh dengan wajah penuh penyesalan. gas-rem-gas-rem doangan. diarahkannya motor itu keluar dari area parkir. Iris mengelus-elus lutut dan sikunya yang lecetlecet. Teringat saat terakhir ia mengendarai motor matic. sukses. Gas-rem-gasrem. gumamnya dalam hati. ta. “Abis ini lu langsung balik. terus bergerak maju dengan sangat cepat! “MINGGIIIIIIIIIIIIRRRRR!!! AWAAAAASSS AWAAAAAAASSSS!!!” Bunyi roda-roda kendaraan berdecit di jalanan.. Orang-orang mengerubunginya. “Gue kan nggak gitu lancar bawa matic.soriii banget ya ngerepotin. jangan melotot gitu lah. Ris. Semua dihentikan paksa oleh pengendaranya untuk menghindari motor matic yang melaju dengan gila-gilaan. Gas diputar dan wuuuuuuuuusssssssssshh. nanti jatah lu gue yang ngerjain deh.. Tidak berhenti. tapi tak masalah. gampang kok. Ia meringis kesakitan. saking gugupnya Iris lupa menekan rem. Sekarang.” Eta menyerahkan kunci motor matic nya pada Iris.. bawa motor gue sana nggak papa.. Sudah lima menit ia berdiri di parkiran kampus sambil memandangi motor matic Eta. Ia harus melawan arus sebentar untuk pindah jalur ke seberang kampusnya. Ris. Tiba-tiba seseorang menyeruak kerumunan itu.. Iris menarik napas perlahan.. “AWAAAAAAAAAAAAAAAASSSSSSS!!!!!!!! MINGGIR WOIIIIIIII!!!” Dan. gantiin dulu ya. Sedikit menyenggol kaca spion motor orang. BRUAKKKKKK!!!! Ember-ember bunga terguling di sana-sini. Motor melaju cepat menyeberang jalur.“Sip sipp. 8 . ta.. Segumpal ludah tertelan sudah.. Kini ia berhenti di depan gerbang kampus. “Gue ada praktek susulan di lab. kandang ayam dekat kosannya menjadi korban.” “Bisa dehh. okee?? okeee?? Gue ke lab dulu yaaaa!!!” Eta meninggalkan Iris yang masih memandangi kunci motor dalam genggamannya dengan tampang cemas.

” si petugas polisi tampaknya memahami posisi Iris yang seorang anak mahasiswi kosan berkantong pas-pasan. selebihnya mau bagaimana. Iris menggeleng. Tapi. bagaimana. nanti diobatin teman saya aja. “Duh.untuk sekarang saya lagi enggak ada uang. “Begini saja Pak. “Diselesaikan secara kekeluargaan saja. “gimana.” Iris menggigit bibir bawahnya sedikit. melirik ke arah si pemilik toko bunga. mbak?” Iris bengong. Iris bersyukur ia tak lupa memakai helm tadi. Ibunya pasti akan sangat marah sekali. gue nggak lancar bawa matic.. Pak. Pria itu menggeleng.“IRISSSSS!!! ASTAGA IRISSSS!!!” Eta memegangi pipinya sendiri dengan panik. “Anda butuh ke rumah sakit.. Petugas polisi yang berjongkok di samping Iris menoleh ke arahnya.” Iris meratap. Mbak? Saya pasti rugi kalau enggak diganti. Mbak. Cu-kup. Mulutnya komat-kamit tanpa suara... ini sih sekadar saran saja dari saya. ia melirik Iris.. mbak?” si petugas polisi berjongkok di samping Iris. gue enggak ada duit.” katanya. Eta menoleh ke arahnya.. Eta menyingkirkan motor matic nya ke trotoar.” kata petugas polisi itu. Seorang petugas polisi datang dan membubarkan kerumunan orang yang menontoni kekacauan akibat kecerobohan Iris itu.. Dia tak mungkin menghubungi orang tuanya di rumah dan minta uang untuk ganti rugi. bunga-bunga saya nasibnya gimana ini?” pria pemilik toko bunga tibatiba bersuara. Bingung. saya anak kosan. bisa mbak dan bapak bicarakan lagi baik-baik nanti. “Pak.. Mbak? Pak?” 9 . seorang pria berambut pendek dengan kumis dan janggut tipis seperti habis dicukur kasar.” sahut Iris masih sambil mengelus-elus lutut dan sikunya yang kini terasa sangat perih. “LU NGGAK PA-PA KAN???? ASTAGAAA!!!” “Kan gue udah bilang taaa. “Terus nasib bunga saya gimana.. Cukup tampan jika dilihat dari jarak sedekat ini. pak. maaf Pak.. pak. “Mbak bisa meninggalkan identitas Mbak ke Bapak ini biar gampang dihubungi. kondisi mbak juga kan sedang kurang baik seperti ini ya. dia sendiri juga tak ada uang lebih untuk mengganti bunga-bunga yang ia lindas barusan.. “Enggak usah. Iris merasakan bulir keringat mengalir dari dahi ke dagunya. Pria pemilik toko bunga tampak syok melihat bunga yang akan ia jual sudah menjadi sampah jalanan.

. Tampan. Lagipula.” Kali ini. Eta yang mengendarai motor sementara Iris duduk di belakangnya. Pak. Pria itu masih memperhatikannya.. ia merasa sekujur tubuhnya sakit sekali. sekali lagi. Ia merasa sangat tidak enak hati.” Dari kejauhan. Mbak. udah gue bilang gas-rem-gas-rem..mari. “Maaf Pak. Siapa pula namanya. maaf ya. atas kecerobohan teman saya ini. “Biar cepet sembuh!! Lu nggak mau luka-luka ini berbekas. dia nyaris saja lupa kalau ia masih berhutang pada si pemilik toko bunga itu.. Eta menyalami petugas polisi dan pemilik toko bunga. Eta sibuk menotol-notolkan kapas dengan antiseptic ke luka-luka di lutut dan tangan Iris. pelan-pelan dikit kek!! Perih nih!!!” Iris menarik paksa tangannya yang sedang diobati Eta.. kan??” “Iya. Pak. saya rasa cuma itu satu-satunya jalan keluar untuk saat ini. Pak. Ia beralih ke si pemilik toko bunga yang tampak berpikir. Lantas pria itu mengangkat bahunya. bahkan dia lupa menanyakan nama dan nomornya tadi.” Iris lalu mengeluarkan secarik kertas dan pulpen dari dalam tasnya. “Gimana juga tuh cara ganti rugi bunga-bunga yang udah lu lindes tadi?? Tabungan gue lagi kosong banget.. “Maaf banget ya. “Ya sudah. mau bagaimana lagi. uang dari mana?? 10 . Ia menyerahkan kertas itu pada si pemilik toko bunga.. pasti saya ganti kok.. AWWW AWWW!! Perih Ta!!” “Salah lu sih. “Lain kali hati-hati. Nyeri dan perih di sana-sini.. tapi pake perasaan kek!! Buset.Iris melirik Eta yang langsung angguk-angguk kepala tanda setuju.. Eta melotot dan menariknya lagi. Iris sempat melirik lagi ke arah si pemilik toko bunga itu. Kata „maaf‟ masih keluar dari mulutnya.. menuliskan nama dan nomor ponselnya di sana..” Petugas polisi memapah Iris untuk berdiri. lu malah ngegas doang tapi lupa ngerem!!” omel Eta masih sambil menotol-notolkan kapas ke luka Iris.  Malam itu kosan Iris berisik bukan main. “Ta!! Sumpah ya Ta. Iris menjerit-jerit. Betul juga.” Iris diam..

.” Iris teringat ibunya yang hanya seorang pegawai negeri sipil..maaf... “Bi.. Buat kuliah aja udah syukur ada..a.” suara di ujung sana berhenti sebentar. Ponsel Iris tiba-tiba berdering. Dia bingung. sementara separuh lainnya merasa... iya. justru itu.... Iris mengangkatnya. sekaligus.tapi pasti saya ganti kok pak.saya merasa lebih leluasa kalau kita bicara langsung.. takut.bisa.betulan. iyaa.. maaf.Ranu. Satu nomor yang tidak ia kenal..” Jantung Iris semakin menekan perutnya. Penting kali itu. Ranu.iya. “Jadi?” “Besok bisa ketemu? Nanti dibicarakan lebih lanjut kalau kita ketemu.” Iris membaca bibir Eta yang komat-kamit tanpa suara: bisa ngapain?? Ia membalas dengan komat-kamit juga: minta ketemu!! “Saya di toko sampai jam delapan malam. Ta.” Eta memandangi Iris dengan wajah panik.” “Malam..” suara itu berhenti lagi. namanya Ranu. Iris melirik ponsel yang tergeletak di sebelah kasurnya.saya betulan lagi enggak ada uang sekarang. Ibu tunggal semenjak ayah Iris meninggal ketika Iris masih berusia tujuh tahun. Pria bunga? “I.. “Halo. “Oh....“Gue nggak mungkin minta uang ke nyokap. seakan berkata: ngaku aja kalo kita enggak punya uang sama sekali!!! Enggak bisa bayar!!!! “Nah. “saya mau menawarkan penyelesaian yang terbaik buat kamu dan saya...ada apa?” “Saya Ranu. apakah saya bicara dengan saudari Iris?” suara berat nan menyejukkan di ujung sana bertanya. takut.” Eta ikut melirik layar ponsel Iris yang berkelap-kelip. Gugup. Satu bulatan air liur menggelinding dalam tenggorokan Iris. kagum. yang punya toko bunga. Siapa? “Angkat dulu sono..soal bunga-bunga itu ya pak. ..” 11 . Ris....duh gimana ya pak. mengapa separuh hatinya begitu senang sekali diajak bertemu oleh si Pria Bunga ini.” Jantung Iris serasa terjun bebas ke dasar perutnya. Ranu.

Kenapa begitu? Aku tak tahu.. sewot!!!” Entah kenapa. suaramu masih terdengar dalam kepalaku. gue ngantuk!!!” Ia lekas berbalik dan mencium kasur. Eta panik. “Siapa yang salting??!!! Udah ah. panik gue tau!!” Eta nyengir. melempar bantal dalam tangannya kepada Eta.” Iris benar-benar gugup dan merasa sangat berdosa sekarang. “Maaf jika saya mengganggu karena menelepon malam-malam begini. 12 .” Tak ada jawaban.” Iris mendorong wajah Eta hingga menjauh. Tak sadar kalau sedari tadi napasnya tertahan. Jika dia jadi si pemilik toko.” “Ahh.. “kenapa? Kenapa? Dia maksa lu buat lunasin bunganya???” ia mengguncang-guncangkan tubuh Iris dengan mata melotot.terima kasih..” Iris mengangkat wajahnya. pak. Pasti lah Pria bunga enggan bicara berlama-lama dengan pembuat masalah seperti dirinya. Bunga-bunga yang dilindasnya pasti lah tidak murah harganya.“Oh...nggak pa-pa Pak. Eta melempar bantal itu kembali ke Iris. “Enggak secara langsung. dia bilang apa lagi? Minta ketemu gimana??” “Besok.. Bagaimana jadinya besok?? “Lu kok jadi salting gitu deh..untuk ke sekian kalinya. Pria bunga sudah memutuskan teleponnya. Nggak tau deh mau disuruh bayar pake cara apa. “trus.tapi iya. justru saya yang jadi enggak enak. Saya tunggu sampai jam delapan malam ya.. Dia tak tahu kenapa wajahnya mendadak terasa panas dan jantungnya berdegup di luar kecepatan normal. maaf ya Pak. Ris. duuhhhhhhh!!!!” Iris menenggelamkan kepalanya ke dalam bantal.... “dan badan gue sakit kalo lu goyang-goyang begitu!!” “Sori-sori. tentu dia juga akan melakukan segala cara agar mendapatkan ganti rugi... gue ditunggu sampe jam delapan malem di tokonya.. Mengisi mimpiku malam itu.sekali lagi maaf ya pak atas kecerobohan saya tadi siang.saya ke situ habis pulang kampus.. Iris mengembuskan napasnya. “Yeeeeee.oke.o.

lu mau nemplok di punggung gue sampe kapaaan??” Eta mengejutkan Iris yang masih memandangi toko bunga di seberang kampus itu. Semua terasa jadi lebih praktis. Iris mandi secepat yang ia bisa. Andai tiap bagian tubuhnya bisa dilepas. Beberapa mahasiswa yang kemarin melihat insiden ketololannya tertawa geli. Hari ini kuliah pukul sembilan tepat. Sementara Iris yang dipenuhi plester di sana-sini duduk manis dibelakangnya. Rasanya seperti baru saja digilas truk molen. Iris benarbenar kapok untuk mengendarai motor matic lagi. lebih tepatnya bukan mandi. Anggap saja olahraga pagi yang tidak pernah sempat mereka 13 . Jantung Iris berdebar. dan berlari keluar kamar menuju kamar mandi dengan kaki separuh diseret. Iris sungguh ingin menggantungnya di tempat jemuran. Tentu saja Eta yang memegang kemudi motor matic pagi itu. Iris merasa beruntung memiliki rambut pendek. Ia melirik jam di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. yang dilempar mengangkat kepala dengan malas. Lututnya masih terasa ngilu. Kedua mahasiswi kesiangan itu berlari menuju ruang kelas mereka di lantai tiga. Iris merangkak turun dari kasurnya. termasuk toko bunga yang kemarin bunganya ludes dilindas Iris. Toko itu belum buka. bawel!!” Iris turun dari motor secara perlahan. Iris membaca papan namanya sekilas sebelum motor mereka menyeberang ke gedung kampus: Ranu and Lilac’s Florist. agar ia tak perlu merasakan nyeri itu. Sekujur tubuhnya makin terasa sakit sekarang. Iris melempar temannya itu dengan guling. Demi apapun. berjingkat menghindari buku-buku kuliah yang tercecer di lantai. Di saat-saat begini. Setengah jam kemudian. Mereka melewati jajaran toko di depan kampusnya. “Iyaaa. “Eta!! Buset lu bukannya bangunin gueeeee!!!!!” Iris buru-buru mengambil handuk dari pintu lemarinya. udah nyampe ini. keduanya sudah melaju di jalanan Jakarta yang padat. Sudah beristri kah Pria Bunga itu? “Ris. Iris pura-pura tidak melihat dan cepat-cepat menyeret Eta meninggalkan area parkiran motor. sementara Eta pun masih tertelungkup di kasurnya. Pukul delapan pagi. Tak ada lift. Eta ikutan panik dan memukuli pintu kamar mandi dengan kepalan tangannya. cuma membasuh mukanya dengan air dan menyikat gigi secara asal saja.

Lama.duluan yaa. dua sahabat itu terpaksa menanti toko Ranu and Lilac’s Florist di seberang sana buka dengan duduk-duduk bareng satpam kampus.lakukan. taa!! Masa gue sendirian ta??!!! Etaaaaaaaa!!! Temenin gue dong taaaaaaaaaaa!!!!!!!!” Eta cuma melambai saja tanpa berbalik. Sekali lagi ia membaca papan namanya..” “Bego nyaaaa kitaaaa.buang. nanti kalo lu udah ketemu si tukang bunga itu. “Lah. tak bisa. buru-buru nih gue!” Eta langsung beranjak dari pos satpam. disertai kebodohan Eta yang tak sadar bahwa ini bukan hari Kamis.. Iris yang tak sabaran akhirnya mendorong pintu itu hingga terbuka. “Ampun!! Gue lupa!!” “Ha? Lupa apaan?” “Kemaren kan gue nggak jadi praktek tuh gara-gara insiden lu nabrak toko bunga. Iris melirik toko bunga yang belum juga buka itu. “Ini hari Rabu. kata Iris. Ia menoleh kanan-kiri sebelum menyeberang jalan. dan melangkah meninggalkan pos satpam nya yang nyaman.. Eta mengetuk pintu kelas yang sudah tertutup. Tarik napas.tarik napas. Iris menoleh menatap Eta dengan bingung. Tapi. ia memutuskan untuk menunggu di depan toko itu saja. jadi hari ini gue disuruh ke sana!! Duh. Tiba-tiba Eta menepuk dahinya dengan panik. “Gue cabut duluan yaa. kita ketemu lagi di sini. GIMANA INI??? Iris melongo memandangi toko bunga yang kini sudah ada di hadapannya persis. Bulir-bulir keringat membanjiri wajah keduanya. sementara Iris ikutan panik..” Eta cepat-cepat mengemasi barangbarangnya.buang. Eta mengetuknya sekali lagi. etaaaaaaaaaaa!!!!!”  Iris dan Eta terdampar di pos satpam dekat gerbang kampus. tak ada jawaban. “Ini hari Kamis bukan??” Eta menggeleng.. Ia berusaha mengembalikan detak jantungnya ke kecepatan normal... Lagi-lagi tak ada jawaban. Iris mengelus-elus lututnya yang semakin terasa nyeri setelah berlari-lari di tangga tadi. di dalamnya tak ada siapa-siapa. Hal yang rutin mereka lakukan kalau datang kepagian ataupun kalau diusir dosen karena kesiangan. Ia menarik napas dalam-dalam. Lilac itu 14 . Lebih hemat ketimbang nongkrong di kantin. Akibat ketololan Iris yang mengira ini hari Kamis. mengembuskannya. hari ini mah nggak ada jam. Ranu and Lilac’s Florist. Akhirnya.

.baruu. Ada satu meja kecil yang di atasnya berserakan sampah daun dan tangkai bunga di hadapan Iris. setidaknya bagi Iris yang bertubuh mungil. DIA SUAMI ORANG!!!!! SU-A-MI O-RANG!!! Pria Bunga menoleh ke arahnya.kemungkinan nama istrinya. “Saya yang namanya Ranu. “Eh. “Maaf.makasih. bukan? Biasanya pasangan suami istri akan menamai toko mereka dengan nama masing-masing.ma.” Iris melangkah masuk ke toko kecil itu. Iris nyaris terlonjak saking kagetnya. Sementara Pria Bunga duduk di seberangnya. Kecil sekali.. mbak bilangnya mau datang setelah pulang kuliah.” Pria Bunga menggeser tubuh Iris sedikit ke pinggir. mbak. saya lupa kalau hari ini nggak ada jam..” Pria Bunga mengulurkan tangan kanannya. mbak. Iris mengerjapkan matanya.. Pria Bunga menyodorkan kursi plastik pada Iris.” Iris nyaris kehilangan suara saking kagetnya.. kaget dengan pikiran yang lewat dalam kepalanya barusan. “Sa. Iris mendengar nada malu 15 . Pria Bunga lalu menyapu tangannya untuk membersihkan sampah daun dan tangkai di atas meja kecil itu. tangan yang besar dan hangat.” “Kita bicara di dalam aja ya.. Pak. Perlahan... banyak. IRIS. Matanya menyapu ruangan. “Mari masuk. Tapi. “Sudah lama di sini?” Seseorang menepuk bahunya.” katanya.. Pria Bunga yang hari itu memakai kemeja panjang kotak-kotak yang digulung sampai di lengannya bikin Iris merasa semakin dag-dig-dug. Norak... Sementara Iris sibuk memandangi siluet pria itu dari belakang.. Pak. seingat saya.. Ukuran toko itu mungkin hanya 2x3 meter saja. Pria Bunga sibuk mencari kunci di sakunya. maaf toko saya agak berantakan.. iya. ember-ember bunga di sana-sini tentunya. Iris tak sadar kalau ia menghalangi pintu masuknya. “Duduk.ba. Badannya tidak terlalu besar. i..” Iris menarik kursi yang disodorkan Pria Bunga dan duduk di depan meja kecil yang sepertinya meja „kerja‟ itu. Pria Bunga.. sebentar saya buka dulu pintunya.” Iris mengangguk.” “Ah..saya Iris.iya. “Eh. mejanya berantakan. dia tinggi. Pak. Usahanya untuk memperlambat detak jantung kini gagal total. kelihatan sangat nyaman untuk dipeluk.. Pria Bunga cukup tinggi. Iris menyambutnya. Cukup panggil Iris saja... Iris membatin. kelihatannya sudah selesai dengan urusan kunci-kunci itu.. Ia menoleh.

.. “Jadi?” Pria Bunga menyodorkan tangan kanannya.saya akan menawarkan penyelesaian yang paling ringan buat mbak sekaligus tidak merugikan buat saya.. Jantungnya berdebar seketika. sepertinya tak masalah baginya. jadi... mungkin lebih baik mbak kerja membantu saya di sini. baru paham. saya kan kuliah. pegawai saya satu-satunya sedang cuti.dalam kalimat itu.. Ia kesulitan mencerna kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Pria Tampan. Pria Bunga barusan.lepas jam tiga. Pak. ng. saya juga ke sini deh. saya pasti kasih ganti rugi yang betulan ke 16 . Pak.. saya yakin sekali mbak nggak bisa membayar ganti rugi atas. “Saya paham betul keadaan seorang anak kosan. kalo. jadi mungkin waktunya nggak bisa dipastiin.. Pak. tapi. Mahasiswi keperawatan itu biasanya sibuk sekali. Sebagai ganti uang yang seharusnya mbak bayarkan pada saya... Perlahan.” Pria Bunga menarik napasnya... mendadak otaknya bekerja sangat lamban.. tapi lepas pukul tiga sore.. bisa kayaknya.” Iris mengingat jadwal kuliahnya di kampus.. “.satu hari nanti. mbak kerja di sini sampai pegawai saya kembali tapi tanpa digaji. jadi saya agak repot ngurus toko ini sendirian. Iris sibuk berkonsentrasi mengingkari bahwa pria di hadapannya kini memang benar-benar tampan. Pak.” “Hmm.. enggak pa-pa. Iris makin kikuk. “Jadi. “.” Pria Bunga menatapnya lurus-lurus.kalo saya ada uang lebih.. Bagaimana?” Iris masih melongo. “Bisa aja sih. Iris mengangguk..” Iris mengangguk-angguk...gimana?” Pria Bunga melambatkan bicaranya seperti sedang bicara dengan anak berusia lima tahun. “Gimana? Gimana? Saya kurang paham. begini mbak. Cuma sampai pegawai saya itu kembali. “Ng. “Kebetulan. gini. “Bi..eh.” Pria Bunga mengembuskan napasnya. terima kasih karena sudah memahami kondisi kantong anak kosan. Iris buru-buru menambahkan.” Pria Bunga berhenti sesaat. kalo ada jam kosong. Kikuk. “. “Ah.. ia mengulurkan tangan kanannya dan menjabat tangan itu. Yah.bisa deh. tanpa digaji tentunya.“ katanya. itung-itung gaji yang seharusnya mbak terima itu dipakai untuk bayar ganti rugi saya.. makasih banyak.” Iris tersenyum.” Iris tersenyum penuh rasa berdosa.. aroma mint meringsek masuk ke dalam hidung Iris. “Ohhh. Andai saja Pria Bunga tahu kalau kosannya lebih jorok dari tempat itu.bunga-bunga saya yang mbak lindas kemarin itu.

“Nggak apa-apa itu..mari. Pak. Ia melangkah keluar dari toko itu secepat yang ia bisa. “Kamu bisa mulai kerja besok.. perasaan aneh dalam hatinya mulai berakar… 17 . Dalam hati ia bersyukur bertemu orang sebaik ini di jaman seperti sekarang... menabrak kursi plastik yang barusan ia duduki hingga jatuh..” Pria Bunga menarik tangannya yang barusan menjabat tangan Iris. Pak. menatap penuh kecemasan.” Iris memamerkan gigi putihnya dengan tampang kikuk.. Rasanya ia ingin menangis..” katanya. tapi berhasil ditahannya. berusaha tersenyum dan menggeleng. lantas menunjuk plester-plester yang menempel di tubuh Iris. Gugup.” katanya sambil mengembalikan kursi itu ke posisinya semula. mungkin ia bisa melakukan tindakan konyol karena salah tingkah. “Nggak pa-pa.bapak.. Pak. Pria Bunga berdiri. mari. Entah kenapa ia merasa gugup sekali tadi. ma. saya permisi sekarang. Pak.. Jika tidak cepat-cepat pergi. “itu masih butuh diistirahatin kayaknya.. ditunggu temen di kampus. ia melirik jam di pergelangan tangannya. ”Kalo gitu.. Nyeri sisa insiden kemarin belum hilang. untuk hari ini sebaiknya istirahat dulu deh. “Ah. enggak pa-pa kok. Iris tak sadar. Atmosfer di ruangan tadi mulai terasa mengganggu. ya. Pak.” katanya dengan nada prihatin yang terdengar sangat lembut di telinga Iris. kini malah terantuk lagi.” Iris cepat-cepat berdiri dan berbalik. Jam metalik peninggalan mendiang ayahnya. Iris mengusap-usap plester di lengannya. Lututnya berdenyut. mbak?” Iris menoleh..

18 .

diletakkan tepat di samping mawar putih yang tadi ia bawa. Ia melirik sebentar ke gedung kampus di seberang toko bunga kecil miliknya itu. saat Ranu melirik ke gedung kampus itu. ia bisa melihat si mahasiswa itu. ia pasti akan repot sekali mengangkut ember-ember bunga itu ke dalam toko seorang diri. Ranu sudah hapal betul. Pria tiga puluh empat tahun itu tersenyum geli. Dua orang gadis itu buru-buru sembunyi setelah bertemu mata dengan dirinya. Ranu mengangkut seember mawar putih keluar toko. serta mengantarkan pesanan ke tempat tujuannya. karena dari meja kerjanya di dalam toko. begitu katanya saat minta cuti pada Ranu. tentunya mau tidak mau Ranu harus mengizinkannya. Baguslah. si mahasiswa sudah bertopang dagu di jendela. dengan kumis dan janggut yang tampak seperti baru dicukur secara asal___merapikan meja kerjanya yang bertaburkan daundaun dan tangkai bunga. Mungkin itu adalah para mahasiswi yang sering diceritakan oleh Egi. kalau hujan. Dia juga punya anak. Ranu geleng-geleng kepala. Sementara pegawainya lah yang bolak-balik merapikan dan mengangkut bunga-bunga keluar untuk dipajang. Yah. 19 . Ayahnya sakit. batinnya. dan membeli stok bunga di pasar grosir. Biasanya ada pegawai yang membantunya. Ia sibuk merapikan bunga mawar kuning untuk diletakkan di luar toko. Apakah ada siluet awan berwujud gadis cantik di sana? Aneh betul. Saat itulah ia sadar ada dua orang gadis yang sibuk memaksa leher mereka bertambah panjang beberapa inchi sedang memperhatikannya dari warung soto di seberang toko bunganya. ia mengangkut ember itu keluar. Ia lalu masuk kembali ke dalam toko untuk membereskan pekerjaannya yang masih menumpuk. Setengah jam kemudian. Benar saja. meletakkannya di sana. mulai hari ini semua itu harus dilakukannya seorang diri karena si pegawai sedang izin pulang kampung. Dimasukkannya satu-satu ke dalam ember. Ia memukul-mukul pinggangnya pelan. Pegal juga ternyata. biasanya ada seorang mahasiswa yang bengong memandangi langit di pinggir jendela. karyawan tokonya yang sedang cuti. Pada jam-jam seperti ini. Dia tentunya berharap anaknya juga akan menjenguknya jika suatu hari di masa tuanya nanti ia jatuh sakit. Sesekali membantu membuat karangan bunga juga.BENIH ITU DITANAM RANU___pria berambut pendek. dia hanya perlu duduk tenang mengerjakan penataan bunga di dalam toko. Ia mendongak sebentar menatap langit yang cukup cerah. Sayangnya.

Sudah pasti ia akan rugi kalau begini. Ia yang sedari tadi duduk di belakang meja kerjanya langsung berdiri dan melongok ke arah jalanan. Sebuah motor matic melaju tak terkendali dengan kecepatan tinggi. berubah menjadi sampah jalanan. Siapa kamu? Ranu tengah sibuk merangkai bunga untuk pesanan perayaan pernikahan seorang klien besok ketika ia mendengar suara ribut dari arah jalan raya. Entah kapan dan di mana. Helm si pengendara dilepas. Ember-ember bunga terguling di sana-sini. Bunga-bunga yang tadi ia susun sudah berantakan. “LU NGGAK PA-PA KAN???? ASTAGAAA!!!” Oh. Rugi. Siapa kamu?  Siapa kamu? Wajahmu terus mengganggu pikiranku. Dan.rupanya si biang onar ini bernama Iris. Motor matic itu melaju tepat ke arah toko bunganya. Pengendara itu mengelus-elus lutut dan sikunya yang tampak lecet-lecet.Menurut cerita Egi. ia lupa. salah satu gadis itu pernah mengajaknya berkenalan. “IRISSSSS!!! ASTAGA IRISSSS!!!” si gadis memegangi pipinya sendiri dengan panik. Gadis itu berteriakteriak dengan histeris. Ia panik. Siapa sih pengendara gila ini???!!! Ranu melongok dari kerumunan orang-orang yang ingin menontoni kekacauan itu.. Bunyi ban-ban kendaraan yang dipaksa berhenti oleh pengendara lainnya berdecit tak karuan. BRUAAAAAAAKK!!! Ranu cepat-cepat keluar dari dalam tokonya. Ranu sedikit heran. Gadis itu juga mahasiswi yang ia lihat tadi siang. Ah! Rupanya mahasiswi yang tadi siang ia lihat di warung soto!! Seorang gadis tiba-tiba menyeruak kerumunan orang-orang itu.. Dua mahasiswi yang lucu sekali. 20 . Tapi. ia masih mengingat-ingat wajah mahasiswi yang barusan melongoknya dari warung soto. ia merasa pernah melihat salah satu di antara mahasiswi itu sebelumnya.. Sambil berjalan masuk ke tokonya lagi. Melekat dalam ingatanku.

Sabar. Kalau tak diganti.” Iris meratap. ini sih sekadar saran saja dari saya.. selebihnya mau bagaimana. Pasti rugi..cantik. TERLALU MUDA!!! “Terus nasib bunga saya gimana. Ranu tak peduli. Sepertinya biang onar itu sedang berpikir bagaimana cara mengganti bunga-bunga yang dilindasnya barusan.. “gimana. saya anak kosan. mbak?” Si biang onar itu bengong sesaat. Rugi. Ranu melirik ke arah bunga-bunganya yang tampak sangat mengenaskan.untuk sekarang saya lagi enggak ada uang.” kata petugas polisi itu. “Mbak bisa meninggalkan identitas mbak ke bapak ini biar gampang dihubungi.” sahut si biang onar.. maaf pak. ia akan sangat merugi. Bunga-bunga itu tidak murah harganya. “Diselesaikan secara kekeluargaan saja. bunga-bunga saya nasibnya gimana ini?” Ranu melirik si petugas polisi. Iris. bisa mbak dan bapak bicarakan lagi baik-baik nanti. Bagaimanapun caranya.. ia melirik Iris. Si gadis kecil tinggi dengan rambut sebahu yang barusan menyeruak kerumunan. menyingkirkan motor matic Iris ke trotoar. Ranu berharap kelak anaknya tidak akan menyusahkan seperti si biang onar itu. Gadis itu. gue nggak lancar bawa matic. sambil mengelus-elus lutut dan sikunya yang diyakini Ranu pasti terasa sangat perih. mbak. Nu. Pasti. biang onar itu harus membayar uang ganti. berusaha menghilangkan pikiran tololnya barusan. ” si petugas polisi tampaknya memahami posisi Ranu yang sangat membutuhkan uang ganti agar ia tak merugi.sabar.. “Begini saja pak.“Kan gue udah bilang taaa. kondisi mbak juga kan sedang kurang baik seperti ini ya. “Duh. Sepertinya memohon bantuan.. Dia terlalu muda. Tak lama muncul petugas polisi yang membubarkan kerumunan orang-orang yang asik menontoni kecelakaan lalu lintas itu. Harus!! Iris tampak menggigit bibir bawahnya sedikit. Nuu.. melirik ke arahnya. mbak? Saya pasti rugi kalau enggak diganti. Selalu seenaknya dan senang mengacau. bagaimana. menatap kawannya yang berdiri di dekat motor matic. mbak? Pak?” 21 .” katanya sedikit memohon. Ah!! Tidak-tidak! Ia harus tetap minta ganti rugi! Ranu menggelengkan kepalanya. pak.. Berapa ember yang dilindas barusan? Banyak!! Ia harus dapat ganti rugi. “Pak. Petugas polisi yang berjongkok di samping Iris menoleh ke arahnya... pak.. Gadis muda memang selalu menyusahkan. Ranu mendengus kesal.

“Maaf pak. ponsel itu 22 . pak. dilihatnya gadis itu melirik ke arahnya sebentar. saya rasa cuma itu satu-satunya jalan keluar untuk saat ini.. Si biang onar hanya duduk di belakangnya.. maaf ya. Bagaimana jika suatu hari anaknya juga mengalami hal yang sama? Ranu mengangkat bahunya. silakan hubungi nomor ini ya pak. mau bagaimana lagi. “lain kali hati-hati.. pak. sekali lagi. temannya yang mengendarai motor matic itu..... mbak. Tak lama. pak.. atas kecerobohan teman saya ini.  Ranu menimbang-nimbang kertas dalam genggamannya.. Jika si Iris ini tak punya uang. “Ya sudah. tentunya ia harus punya alamat atau nomor telepon yang bisa dihubungi sewaktuwaktu. Ranu masih belum melepaskan matanya dari si biang onar. ia sendiri merasa tak tega dengan ABG yang kini lecet-lecet itu. Petugas polisi memapah si biang onar untuk berdiri. Lagipula.. Sepertinya gadis itu sangat tak enak hati padanya karena sudah melindas bunga-bunga yang akan ia jual.Ranu berpikir sejenak. Cantik. Ranu menggenggam kertas itu.. Masih meminta maaf pada Ranu. Pukul sepuluh malam.” Keduanya pun meninggalkan tempat itu. pasti saya ganti kok. Dari kejauhan. Maaf atas kekacauan yang saya buat..mari.” Si biang onar lalu mengeluarkan secarik kertas dan pulpen dari dalam tasnya. “Maaf banget ya.” Kali ini. Ragu. Ia melirik jam dinding di atas tempat tidurnya. menulis sesuatu di kertas itu dan menyerahkannya pada Ranu. Sudah tidurkah gadis bernama Iris itu? Dirawat di rumah sakit kah? Apakah mengganggu jika ia menghubunginya sekarang? Ranu meletakkan lagi ponselnya di atas kasur.” Suaranya. Tak ada jalan lain. Teman si biang onar lalu menyalami petugas polisi dan Ranu. melirik sekilas tulisan tangan di atasnya: Iris 085693906xxx Secepatnya saya ganti pak.

Ia membayangkan si biang onar itu banjir keringat karena ditagih hutang olehnya.. Om-om iseng lebih tepatnya. Ranu tertawa di dalam hati. pak.” terdengar suara lembut di ujung sana.duh gimana ya pak..a. Ia meneguk ludahnya sendiri.. “I.. Ia harus menagih ganti rugi...” Yaa.” suara itu terdengar makin gugup sekarang. maaf.. tapi sekaligus juga berdosa. Jantungnya berdebar. Ranu menanti suara lembut itu terdengar lagi. “Malam.... “besok bisa ketemu? Nanti dibicarakan lebih lanjut kalau kita ketemu. Ia menekan tombol angka seperti yang tertera pada kertas dalam genggamannya..betulan..bisa.diambilnya lagi.tapi pasti saya ganti kok pak.. Bukan untuk sekadar melihatnya.saya betulan lagi enggak ada uang sekarang..oke.soal bunga-bunga itu ya pak.maaf.” ia diam lagi.. yang punya toko bunga. “saya di toko sampai jam delapan malam..” suara lembut di ujung sana terdengar makin gugup. bikin Ranu semakin ingin tertawa.iya.sekali lagi maaf ya pak atas kecerobohan saya tadi siang. “oh. iyaa. Ranu membulatkan tekad. “Saya Ranu. “nah. “saya mau menawarkan penyelesaian yang terbaik buat kamu dan saya. Napasnya tertahan. dia rela menunggu sampai tokonya tutup agar gadis itu datang.ada apa?” ah... Tepatkah penyelesaian yang akan ditawarkannya pada si biang onar ini? “jadi?” suara lembut di ujung sana memotongnya. justru itu. Ranu! Ganti Rugi!! “oh. Terdengar nada sambung..itu dia... Ini yang paling tepat. Ia tak tahu mengapa demikian. Si biang onar ini tentunya merasa sangat takut karena ditagih uang ganti olehnya.saya merasa lebih leluasa kalau kita bicara langsung. “Halo.. Ia tak mau dituduh sebagai orang iseng.” Jantung Ranu mendarat di dasar perutnya.saya ke situ habis pulang kampus. Dia tahu pemilik suara lembut di ujung sana tentu sibuk menduga-duga siapa yang meneleponnya malam-malam begini. bukan bukan bukan.....” Ia mengenalkan dirinya. Lembut tapi gugup.o..” “bi. Entah kenapa.. apakah saya bicara dengan saudari Iris?” Lama. Sejujurnya Ranu mulai merasa ingin tertawa. Akankah ini menjadi penyelesaian yang tepat? Mudah-mudahan iya. iya.. 23 .” ia berhenti sebentar. ia merasa ada yang bersorak sorai di dalam kepalanya sekarang. Ganti rugi..

. Ponsel Ranu kehabisan daya. “ahh.nggak pa-pa pak. Bahkan si biang onar belum menyelesaikan kalimatnya. maaf ya p. Pria yang cuma peduli soal uang ganti saja. Lilac mau oleh-oleh apa?” Terdengar pekik kegirangan dari ujung sana. justru saya yang jadi enggak enak. kalau jalan-jalan lagi.“maaf jika saya mengganggu karena menelepon malam-malam begini. nama gadis kecilnya itu. kapan jalan-jalan lagi?” Ranu terkekeh pelan. ayah.” TUT! “Duh!” Ranu melempar ponselnya ke kasur. Jangan tertawa. Lilac. meninggalkan kasurnya dan melangkah menuju dapur. Saya tunggu sampai jam delapan malam ya. lagi apa?” Ranu tersenyum mendengar suara gadis kecilnya itu. ayah.. Diliriknya jam dinding di dekat lemari es. Sekarang ia merasa tidak enak. “Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh!!!” ujung sana menjerit penuh kerinduan. jangan tertawa..00 pagi.. “Kapan ya? Ayah lagi kerja. Ranu meracik secangkir kopi.terima kasih.ayah. Ia ketiduran di dapur. Siapa yang menelepon pagi-pagi begini? “Halo?” Suaranya masih serak. Kadang ia merasa kasihan pada anak satu-satunya itu.untuk ke sekian kalinya. Ia berdiri. meneguknya.. sayang. “Ayah..  Ranu terbangun setelah mendengar telepon rumahnya berdering.. “Baru aja bangun tidur.. Ranu.. Ia berharap semoga si Iris itu tidak batal datang besok karena berpikir seperti apa yang ia pikirkan barusan.. Hubungan itu terputus begitu saja. Lilac tak pernah merasakan kelembutan belaian seorang ibu yang dipanggil Tuhan tepat setelah mengantarkan gadis kecil itu dengan selamat ke dunia.. Pukul delapan.” Ia berusaha membuat suaranya tetap setenang yang ia bisa. Lilac lagi apa. berumur lima tahun dan tinggal bersama neneknya di daerah Jakarta Barat. Ia pasti dianggap sebagai orang yang tidak kenal kata maaf.. sayang?” “Lilac baru mau mandi. Ranu senyum-senyum sendiri membayangkan gadis kecilnya tengah meloncat-loncat bahagia ketika mendengar kata Suara manis di 24 .

.” Ranu menarik napas panjang.. Sementara. Bu.. pulang saja ke rumah Ibu. “Ayah. Tapi kini. ia tak pernah tertarik bekerja di bidang pertambangan. untuk membiayai hidup dua manusia saja ia tak sanggup. kamu bisa bantu-bantu di toko material bapak. Bu. keluarga kecilnya akan tetap tinggal di Jakarta. “Nu.. bu. “Lilac mau berbi! Lilac mau masak-masakan! Sama. Kala itu. suara mertuanya sudah terdengar. Ia mengatakan. ia merasa lelaki yang sudah berkeluarga tak pantas bergantung hidup pada sang ayah. toko saya lancar-lancar saja.. ketika ia baru menikah dengan Aster__almarhumah istrinya___ayahnya mengajak pasangan muda itu pindah ke Jayapura. nyatanya. Ibu kan neneknya juga.” “Maaf ya.. ia akan menjadi pemilik toko bunga yang sukses tanpa bergantung pada sang ayah.” belum sempat Ranu mengucapkan salam perpisahan... ia merasa malu untuk menyusul ayahnya ke Jayapura. jika saja ia ikut ayahnya kerja di perusahaan pertambangan di Jayapura.. Sebagai laki-laki. nggak masalah kalau hanya mengurus Lilac... gimana di sana? Kamu sehat?” “Ah. Ranu menolaknya. Lagipula. ngerepotin. nanti.iya. Dia dan Lilac bernasib sama. Namun. Ayah Ranu adalah seorang pengusaha pertambangan di sana..” “Ehh..” “Tokomu gimana? Kalau kurang lancar.. Setidaknya... Ranu dibesarkan oleh ayahnya seorang. bukan dengan ibu mertuanya di Jakarta Barat sana.” Ranu teringat a yahnya. kondisi keuangannya yang tidak stabil memaksanya untuk membiarkan ibu dari almarhum istrinya itu yang mengasuh Lilac. “Ah..daadaaaahhh. gemas sekali mendengar suara gadis kecilnya di telepon..ngomong apa sih kamu. Ia berjanji pada ayahnya. nggak pa-pa.. Lilac mau cokelat!!” Ranu tertawa. Tapi. dia bahkan tak mengenal ibunya sejak kecil.” Suara perempuan baya yang lembut.. “Nu.„oleh-oleh‟. sejujurnya ia ingin Lilac tinggal dengannya saja. Lilac saya jemput.. Bu. Ia dan istrinya adalah pecinta bunga. saya. ia masih sanggup membiayai hidupnya sendiri. saya sehat.” 25 . ia punya harga diri untuk tidak menerima uang pemberian ibu mertuanya itu. Ranu menerawang akankah suara ibunya terdengar seperti ini? Ah. “Kalau saya sudah ada uang. Lilac mau mandi dulu ya. akankah ia mampu menghidupi Lilac dan dirinya? Ranu ingat betul.

tapi Ranu merasa gadis itu agak sedikit linglung.” Sahut si biang onar dengan terbata-bata. salam buat bapak. si gadis mungil berambut pendek yang kemarin membuat kekacauan itu sudah ada di sana.” “Kita bicara di dalam aja ya. nggak usah sungkan gitu ah!” Suara lembut itu bernada tegas. dan malah pasrah saja badannya digeser oleh Ranu. sebentar saya buka dulu pintunya. Pak. Ranu nyaris tertawa karenanya.baruu. Bahkan. ibu mertuanya memang sangat baik terhadap Ranu. Ranu akhirnya menepuk bahu si biang onar itu. Ranu berharap semburat merah muda yang ia lihat di pipi si biang onar itu hanya perasaannya saja. Entah memang masih pusing atau apa. Si biang onar itu berdiri terpaku memandangi papan nama toko bunga Ranu.. “Iya. terima kasih.” Ranu mengulurkan tangan kanannya. Nu! Awas kalo enggak! Ibu marah lho!” Ranu tersenyum. “Ya sudah. Dia punya sepeda motor. motor itu ia simpan di tokonya.. Tapi. Ranu berangkat dari rumahnya naik metromini. mbak. “Saya yang namanya Ranu. Ranu sendiri jadi ikut menontoni papan nama tokonya itu.. baik itu pribadi maupun umum. Jalanan di kawasan Jakarta Selatan memang selalu dipadati kendaraan bermotor.ba. tangan yang mungil dan lembut sekali.saya Iris..”  Ranu sedikit terlambat tiba di tokonya.. ini ibu mau mandiin Lilac-mu dulu.. Lama sekali. Cukup panggil Iris saja. menoleh dengan kaget.. Wajahnya sedikit pucat dengan pipi kemerahan. Kalau ada waktu kapan-kapan saya main ke sana. khawatir barangkali ada sesuatu yang salah di sana.. bu. Saat Ranu tiba. “Sa. Nu. tapi hanya digunakan untuk membeli bunga di pusat grosir ataupun mengantar pesanan.“Kamu juga kan anak Ibu. tidak ada. tapi ia berhasil menyimpan tawa itu kembali. si biang onar menyambutnya. seperti mengeja hurufnya satu-satu. 26 . “Sudah lama di sini?” Gadis itu terlonjak sedikit. Perlahan.” Ranu menggeser tubuh si biang onar agak sedikit ke pinggir. si biang onar tak sadar sama sekali kalau posisi berdirinya menghalangi pintu masuk. Pak. “Eh. kalau ada perlu apa-apa langsung telepon ke rumah ya...

” “Ah.makasih.bunga-bunga saya yang mbak lindas kemarin itu. “Maaf.” Ranu menatap si biang onar lurus-lurus. Kata-kata yang sudah ia susun dalam kepalanya sejak tadi malam mendadak hilang tak bersisa.. enggak pa-pa.” Si biang onar mengangguk. ia selalu mencampur semua kunci miliknya dalam satu gantungan kunci. “. mejanya berantakan. “Mari masuk. Manis tapi terlihat canggung. Ia menyesal sekali semalam lupa membersihkan toko itu. Ranu memutuskan mempercepat urusannya itu. Bagi Ranu. Ketemu! Ranu menoleh.” si biang onar melangkah masuk menyusul Ranu dari belakang.” Ranu berhenti sebentar. mbak. mbak bilangnya mau datang setelah pulang kuliah.. “Jadi. begini mbak. Seakan dicuri oleh wajah manis yang duduk di 27 . mendadak ia merasa kesulitan menyusun kata-kata. saya yakin sekali mbak nggak bisa membayar ganti rugi atas. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa si biang onar tidak manis sama sekali. Pak.. Lama ia berkutat dengan para kunci dalam genggaman tangannya itu.. iya. membersihkan sampah daun dan tangkai bunga dari sana. “Duduk.ma.” Ranu mengembuskan napasnya yang sedari tadi tertahan tanpa sadar. maaf toko saya agak berantakan. TIDAK MANIS!! “Saya paham betul keadaan seorang anak kosan.Ranu mengeluarkan sekumpulan kunci dari saku celana jeans nya. pandangan itu terlihat seperti tatapan prihatin karena melihat tokonya yang berantakan.. Apalagi mata seorang gadis muda. seingat saya.. i.. Ranu mengambil satu kursi plastik yang ada di dekat meja kerjanya... Semburat merah muda di pipi gadis itu semakin jelas terlihat.” katanya agak malu. dan ember-ember bunga pasti terasa menyesakkan mata. membuatnya terlihat sangat manis.. “Ah. saya lupa kalau hari ini nggak ada jam. Bodohnya. “Eh.iya. Satu meja kerja penuh sampah. Sekali lagi.. Ia takut si biang onar membuat kekacauan di dalam tokonya yang sempit itu. Ia menyodorkan kursi itu pada si biang onar. motor yang terparkir di sebelahnya.. Matanya memandang berkeliling. Sedikit membungkuk di depan pintu.” Mata Ranu tak lepas dari pergerakan si biang onar yang menarik kursi plastik pemberiannya lalu duduk di seberang meja kerjanya.” Si biang onar tersenyum. Ranu menyapu tangannya ke atas meja... Ini dia yang paling malas ia lakukan: mencari kunci masuk! Ranu tak pernah hapal mana kunci untuk tiap pintu.

Kali ini senyum penuh penyesalan. Pak. cepat-cepat menambahkan. 28 ..” Si biang onar diam sesaat. jadi. tapi.. sepertinya ia baru paham. makasih banyak.. saya pasti kasih ganti rugi yang betulan ke bapak.gimana?” Ranu melambatkan nada bicaranya. Pak.. “. itung-itung gaji yang seharusnya mbak terima itu dipakai untuk bayar ganti rugi saya.hadapannya sekarang. terima kasih karena sudah memahami kondisi kantong anak kosan. Lalu. Bisa-bisa ia keceplosan mengikhlaskan semuanya kalau terlalu lama disuguhi senyum manis gadis itu. Bagaimana?” Si biang onar tampak bingung. jadi saya agak repot ngurus toko ini sendirian. pegawai saya satu-satunya sedang cuti. saya kan kuliah.. berharap si biang onar cepat paham dan cepat-cepat menghilang dari hadapannya. saya juga ke sini deh.bisa deh. bisa kayaknya.. Ia menekan tiap kata pada kalimatnya. Jangan-jangan si biang onar itu tak mengerti bahasa Indonesia. tanpa digaji tentunya. lalu usir dia pulang! Biang onar itu mengangguk... seperti mengingat sesuatu.. gini..kalo saya ada uang lebih.” Si biang onar mengangguk-angguk. “Ohhh. “Kebetulan..” Biang onar itu tersenyum lagi..lepas jam tiga.. Ranuuu. Dia terlalu manis.. “..“ katanya. Pak.” Si biang onar memamerkan gigi putihnya dengan pipi yang semakin merah muda. jadi mungkin waktunya nggak bisa dipastiin... “Bi..saya akan menawarkan penyelesaian yang paling ringan buat mbak sekaligus tidak merugikan buat saya.. kalo ada jam kosong. lebih cepat lebih baik!!! BERPIKIR RANU!! BERPIKIR!!! Ranu menemukan kembali kata-katanya.satu hari nanti. Salaman sebentar.jangan-jangan memang benar.” Nah. ia mengulurkan tangan kanannya dan menjabat tangan Ranu. “Bisa aja sih. “Gimana? Gimana? Saya kurang paham. Sepertinya atmosfer ruangan itu berubah seketika.” Ia menarik napasnya yang terasa sesak.... Terlalu manis. Jantung Ranu berdebar seketika. mbak kerja di sini sampai pegawai saya kembali tapi tanpa digaji.terlalu manis.. “Hmm. Pak.. Perlahan. Ranu makin tak tega melihat biang onar itu. Sebagai ganti uang yang seharusnya mbak bayarkan pada saya.. ng. mungkin lebih baik mbak kerja membantu saya di sini. “Ng. kalo. Ranu sempat curiga padanya. “Jadi?” Ranu menyodorkan tangan kanannya. Yah.

“Kamu bisa mulai kerja besok, ya.. untuk hari ini sebaiknya istirahat dulu deh..” Ranu merasakan tangannya berkeringat, cepat-cepat ia menarik tangannya yang menjabat tangan mungil si biang onar. Lantas, ia menunjuk plester-plester yang menempel di tubuh si biang onar sebagai pengalihan, “itu masih butuh diistirahatin kayaknya..” Kalimat bernada prihatin itu meluncur keluar begitu saja dari mulutnya. Ranu sedikit kaget. Gadis ini harus cepat-cepat diusir sebelum mulutnya menyerocos tak terkendali. Si biang onar mengusap-usap plester di lengannya, “Ah, enggak pa-pa kok, Pak..” katanya. Terburu-buru. ”Kalo gitu, saya permisi sekarang, Pak.. ditunggu temen di kampus.. mari, Pak..” Si biang onar berdiri dan berbalik, menabrak kursi plastik yang barusan didudukinya hingga jatuh. Ranu refleks berdiri, khawatir. Ia sudah menduga gadis itu akan melakukan kekacauan di dalam tokonya yang sempit. “Nggak apa-apa itu, mbak?” Si biang onar menoleh, tampak seperti ingin menangis, tapi gadis itu tersenyum dan menggeleng, “Nggak pa-pa, Pak.. ma..mari, Pak..” katanya sambil mengembalikan kursi itu ke posisinya semula. Yaa, cepat pergi sebelum aku berubah pikiran!! Gadis itu meninggalkan toko dengan langkah besar-besar. Ranu masih memperhatikannya berjalan menyeberang kembali ke gedung kampusnya. Siapa tahu manusia ceroboh itu akan mengacau di jalanan lagi jika tidak diawasi. Ranu mendadak teringat sesuatu, ia menarik laci meja kerjanya. Foto Aster ada di situ. Ia merasa berdosa, dalam hati Ranu berbisik, Sayang, kamu tetap yang termanis dalam hidupku..

29

30

TUMBUH DAN BERSEMI
DEBARAN jantungku tak terkendali. Bikin semburat merah muda tiba-tiba muncul di pipi. Ada apa ini?

Iris bengong di depan pos satpam di kampusnya. Tangannya yang tadi berjabat dengan Pria Bunga kini berkeringat. Gugupnya masih belum hilang. Hampir tiga puluh menit ia hanya berdiri diam di sana. Pikirannya tertinggal di toko kecil yang tadi ia kunjungi. Bahkan, ia tak membalas lambaian tangan Eta yang sudah kembali dari laboratorium. “IRIS!!!” Eta meneriaki wajah Iris kuat-kuat, Iris melonjak saking kagetnya. Ia nyengir lebar sesudahnya. “Doyan banget bengong ini anak satu! Ckckck..” “Gue lagi ngitungin motor di parkiran!” “Lu udah ketemu si tukang bunga itu?” Iris mengangguk, dalam hati menyahut: Justru gara-gara itu, tadi gue bengong!!!! “Terus gimana? Dosa-dosa lu kemaren akhirnya diampuni gitu aja??” Eta tampak bersemangat dengan dugaannya barusan. Iris menggeleng, wajah Eta langsung berubah drastis, “Yaaahh, tapi bayarnya gimana? Gue betulan lagi nggak ada uang ini..” “Bayarnya nggak dalam bentuk uang, ta..” Eta melotot, “LU BAYAR PAKE APAAN??!!” ia meremas bahu Iris, “tuh om-om ngegodain lu tadi??? Astagaaaaaa!!!!” Iris menempeleng kepala Eta, beberapa orang tampak mencuri dengar meski tanpa melirik mereka berdua, “Enggak gitu juga, taa.. nuduh aje lu!!” “Enggak gitu gimana? Kalo lu digodain kita laporin polisi aja! Ini namanya pemerasan!!” “Ihhh, dengerin gue dulu apa, ta!! Gini..” Iris menarik napasnya sebelum menjelaskan pada Eta, “..si Pak Ranu itu, nyuruh gue kerja di tokonya. Si ndut lu lagi cuti, jadi dia nggak ada yang bantuin. Jadi lah gue disuruh kerja di sana, tanpa digaji..” “What?? Hell-oooo!! Lu mau aja nggak digaji gitu??” Eta sewot.

31

melirik Iris. betulan lu nggak digodain. Eta sayaaaaaangg!! Pak Ranu baik banget gitu!!” “Tapi mukanya rada kayak om-om mesum gitu. “Enggak bakal.haha. Ris?” “Enggaaaaaakkkk. dua gelas es teh manis hanya tinggal es nya saja. “Ngomong-ngomong. “Ya enggak lah ta.. “Jadi. jadi gue sih oke aja.. Seperti biasa. Sebelum Eta mengusulkan tempat makan. Iris ngikik dalam hati. gue mulai kerjanya besok sore.. No soto today. mulai ngebabu di situ kapan?” Eta menunjuk ke arah toko bunga Ranu dengan dagunya. kita harus lapor polisi. Iris melakukan ritual bengong-memandangi- 32 . Siapa pula yang mau melakukan hal seperti itu kecuali karena merasa punya salah? Iris menggeleng. kan kemaren gue ngelindes bunga-bunga di tokonya ampe nggak berbentuk gitu. kemudian memasang tampang serius. Ris! Gue juga kan yang bakal kena nantinya!!” Eta diam sebentar..”  Dua bungkus nasi uduk lenyap tanpa sisa. ta. di lantai dua sebuah rumah lumayan besar yang sebetulnya tak begitu jauh dari kampus. tertawa. Eta!!!” Eta mengelus perutnya.” Eta manggut-manggut. Ris? Kita kan belom sarapan tadi. nasib anak kos berkantong tipis yang kesiangan..“Lah. Ris! Hahaha. “Eh. lu nggak ngerasa laper. masih bagus gue nggak dipaksa bayar pake duit kan. Iris duduk di jendela kamar kosnya. Rumah itu terletak di gang kecil yang hanya cukup untuk lewat satu mobil saja. Iris buru-buru menggeleng.” Ada juga gue yang jadi mesum gara-gara liat manusia satu itu. gara-gara bertanggung jawab atas izin lu ngebawa motor matic gue kemaren?” Eta terlihat enggan ikutan kerja tanpa digaji.. ta. “Please... itu mah gue aja sendirian.. “Tapi. tapi. Iris dan Eta telah selesai menunaikan ibadah makan mereka. dan gue harap lu nggak ngebocorin soal ketololan gue ini ke nyokap gue!” Eta manggut-manggut lagi.” Iris baru sadar. perutnya meronta minta diisi.. kalo nanti lu digodain. “Gue nggak kena jatah juga kan. Ris!!” “Enggak akan. Sarapan pagi sekaligus makan siang.

iyaa. pokoknya gue disuruh kerja tanpa digaji gitu deh. Iris mengalihkan pandangannya dari warna biru langit yang membius kepada Eta..” Iris mencoba mengingat pembicaraannya dengan Pria Bunga tadi.. “Eh. “Lu beneran nggak digodain. Ris.. tapi.. Eta merunduk. Ia duduk di pinggir kasurnya sendiri. ta! Dari tadi lu nanya begituan mulu!!” Ia batuk-batuk sedikit.” 33 .. ta.” “Ah! i. Pak Ranu. Dari kamar Iris. “Yaaa. bicara dalam bahasa yang asing. gedung kampusnya dapat terlihat jelas menjulang seperti tiang penyangga langit.. tadi lu ketemu ama si tukang bunga itu gimana? Lu belum cerita ke gue.” “SIALAN!!!” Iris melempar apa saja yang terjangkau tangannya ke arah Eta: kaus kaki di pinggir jendela. ngomong-ngomong. kaus kaki yang dilempar Iris meleset dari sasaran.. “Enggak gitu. lu kerja di sana sampe kapan?” Iris mengangkat bahu. gue. nggak begitu inget kata-kata persisnya... tepat di seberang jendela tempat Iris duduk.gitu dah. namanya Ranu. dengan empat kamar tidur dan satu kamar mandi di masing-masing lantainya.. Eta tertawa. “Ris. kan??” Iris merasa tenggorokannya tercekat mendadak.” Iris berdeham pelan kemudian.ehem. tadi gimana ketemu ama si tukang bunga itu?” Eta tiba-tiba bersuara.. Eta merapikan sisa-sisa ke-barbar-an mereka di lantai... Tergantung si Egi baliknya kapan.itu. berkemeja kotak-kotak panjang digulung hingga ke lengan. Ia melempar sampah-sampah itu ke dalam keranjang plastik di belakang pintu kamar mereka berdua..langit-nya. soalnya gue bingung aja. “Buset. “Enggak tau juga sih. “Eh? Kenapa?” “Ituu. meski yang menempel dalam ingatannya hanya manusia tampan. Kamar Iris ada di lantai dua. Tak ada dapur di sana. lu tuh kayak korban pelecehan seksual gitu dari tadi!! Hahahaha!! Bengong-bengong aneh gimanaaaaa gitu!!! HAHAHAHAHAHA. Kosan Iris merupakan sebuah rumah khusus kosan bertingkat dua yang terdiri dari delapan kamar tidur ukuran 3x3 meter berjajar mirip kamar asrama dan dua kamar mandi serta satu ruang tamu.

Iris menggeleng untuk celetukan terakhir yang ngawur.” Kaus kaki yang dilempar Eta meluncur ke luar jendela. Eta buru-buru melempar kaus kaki yang tadi tergeletak di lantai tepat ke wajah Iris..parah banget. itu yang diplester luka-lukanya ya??” “Katanya ngelindes tukang bunganya juga ya??” Iris pasang muka jutek. Persis kayak wartawan infotainment yang sering ia lihat di televisi. “Ta. “Awas lu yee kalo sampe ikutan naksir dia juga!!!” Iris merunduk. lo kecelakaan ya??” “Gue denger rem motornya blong ya?” “Beneran nabrak toko bunga?” “Ih. Plesterplester itu mengingatkannya pada sekumpulan tentara yang terluka di film-film perang orang bule. Iris tertawa jahil.“Si Egi. 34 . Iris langsung diberondong pertanyaan-pertanyaan seputar insiden ketololannya dua hari lalu oleh teman-teman sekelasnya.. gue aduin loh!!” Iris menjulurkan lidahnya. Koko Ndut gue tuh!” “Dih! Mending si Egi daripada Koko Ndut! Ntar kalo gue akrab sama orangnya. Heran. gosip selalu menyebar cepat kayak virus influenza. “IRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIISSSSSSS!!!!!!!!!!!!!!!!!!”  Plester terakhir sudah ditempel Iris di daerah lengannya. si Egi. “Gue nggak suka yang bentuknya kayak manusia salju gitu sih! Weeeekkk. Rasanya ia ingin tertawa melihat plesterplester yang menghiasi lengan dan kakinya selama dua hari belakangan itu. “Lu udah kelar belom?” Eta melongokan kepalanya dari pintu. Mereka tiba di kampus tepat lima menit sebelum dosen masuk. “Ris. “Ayo berangkat!” “Iyeeee bawel!!” Iris cepat-cepat menyusul Eta. itu kan kaos kaki lu tauuu!!! HAHAHAHHAHA!!” Eta melotot garang. Ia memandangi refleksi dirinya dalam cermin di lemari baju. berasa akrab aja.

tapi manusia satu itu tetap saja hobi makan soto depan kampus.. Itu saja. Iris kembali menatap langit. kursi di dekat jendela.“Bukan tukang bunganya yang gue lindes! Tapi bunganya!!” Iris beringsut ke kursi favoritnya. Dia cuma tahu mawar dan bunga matahari.. tapi ia tolak. Ris. Jam-jam segini. Heran. Jam-jam orang berangkat kerja dan pulang kerja. Pria Bunga.. Sadar.  Pukul dua belas siang adalah waktu di mana Iris akan duduk di dekat jendela kelasnya sambil senyum-senyum memandangi langit. mungkin memberi saran pada si pelanggan yang kini tampak mengangguk-angguk pelan. berpindah ke pertokoan di seberang kampusnya. menikmati alunan lagu dari sebuah band ternama di Jepang yang terdengar di telinganya. Kali ini. Toko-toko buah. padahal si ndut yang menjadi incaran Eta sedang cuti.. Pria Bunga kemudian mengambil beberapa tangkai bunga dari ember-embernya. Iris sendiri tak pernah tahu jenis-jenis bunga. kendaraan yang lalu lalang tak sepadat pada pagi dan sore hari. toko-toko bunga. Seorang pria sedang sibuk melayani pelanggannya. Ia enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol seputar insiden tololnya seperti tadi pagi. Iris menikmati pemandangan Pria Bunga bolak-balik menemani pelanggannya memilah bunga. Pria Bunga terlihat menunjuk beberapa jenis bunga. Agak lama Pria Bunga berjongkok di depan masing-masing ember sebelum akhirnya masuk kembali ke tokonya setelah tangannya penuh dengan bunga yang berwarna-warni. titik.. tapi tukang soto! Perlahan. Suami orang. Lama-lama Iris curiga. mata Iris berpindah ke arah jalan raya. ia menyumpal kedua telinganya dengan earphone. Eta barusan mengajaknya turun mencari makan. Ris. jangan-jangan bukan si ndut yang diincar Eta. matanya parkir di toko bunga yang tak asing lagi dalam ingatannya. Semua yang tadi ia tunjuk. Toko bunga Ranu and Lilac’s Florist. Pria Bunga bersalaman sebentar dengan pelanggannya sebelum si pelanggan kembali lagi ke mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Mata Iris bergerak lagi. Ia bosan makan soto. Iris menepuk-nepuk kedua pipinya. Ia berharap kelas hari itu cepat selesai. Ranu itu suaminya Lilac. 35 .

“Permisi. gue duluan ya!” Iris menepuk bahu Eta pelan. “Sudah.♪♫ kimi he to yume wa ima me no mae de kiramei teru hanabira no mai furu you na yuki ga shukufuku shi ta2  “Ta..” Pria Bunga menunjuk ke arah ember kuning di sebelah kiri Iris. Ris.” Pria Bunga mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk dan kini menatap Iris. Iris menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya melangkah masuk. menyeberang jalan dan diam sebentar di depan toko Ranu and Lilac’s Florist.” “Uhm. berkilauan di depan mata. Pria Bunga sibuk merangkai bunga. gue juga belum tau..tolong bunga-bunga yang di depan itu kamu semprotin air ya. Iris mengangguk pelan.” “Ati-ati ya. Ta!!” Iris berlari-lari kecil melewati area parkir motor. berusaha memberi kekuatan pada lidahnya agar tidak kaku mendadak... “Tergantung.. lapor polisi!!!” “Lapor Komnas HAM sekalian. 2 Mimpi itu kini untukmu.” Pria Bunga menunjuk sisi meja tempat ia sedang merangkai bunga. “Lu balik jam berapa?” Iris mengangkat bahu. Penyemprotnya ada di deket ember yang warna kuning. “Ah. Rasanya begitu. bukan „mbak‟. Salju yang menari seperti daun bunga pun memberkatimu. “Tasnya taro di sebelah sini aja. senyuman yang menyihir jantung Iris untuk bermain orchestra perkusi seketika. Di dalam toko. kalo ada apa-apa telepon gue!” Iris mengangguk. Eta buru-buru menambahkan. Ris. Iris terpaku di tempatnya. (L‟arc en Ciel .Bless) 36 . Dia tersenyum.. Ia meletakkan tasnya di kursi plastik dekat pintu masuk. Ia mendongak.. “Kalo digodain. Pak... Baru kali itu ia mendengar Pria Bunga memanggil namanya. Eta masih sibuk menjejalkan buku-bukunya ke dalam tas. sudah selesai kuliahnya?” Iris mengangguk.

Dia suami orang.” Iris menggeleng. Iris. yaaa. menjabat tangan lelaki itu dan bercakap-cakap dengannya... mengangguk pelan-pelan. Iris menyemprotkan air ke bunga-bunga yang ada di luar toko. semprot. Pak.” Seseorang menyentuh bahu Iris pelan.” Iris lalu meletakkan tasnya di tempat yang tadi Pria Bunga tunjukkan. “Sa. Iris bersumpah.. “silakan langsung ke dalam saja.” Lelaki yang baru datang itu bergegas masuk ke dalam toko.. “Bunga. kalau saya panggil nama kamu. karena. mengembalikannya dari dunia mungil dalam kepalanya.” Iris menggerakkan tangannya yang seperti kurang oli.. ia tak bisa menghentikan matanya untuk mencuri pandang ke dalam toko.. “.. Iris memaksa otot kakinya bergerak. menembus hingga ke hatinya. ia tak tahu kenapa ia sangat menyukai cara Pak Ranu memanggil namanya tadi. Iris menoleh. kalau.. jadi saya rasa lebih.enggak.. Berkali-kali juga ia berusaha mengingkari perasaan aneh dalam hatinya tiap kali ia melihat Pak Ranu karena keyakinannya itu. Ia merasa orchestra perkusi dalam jantungnya makin kencang suaranya. tersenyum. Dia suami orang.. di luar. tapi kalau kamu keberatan. Langkahnya kaku.“Eh. tolong disemprot. nyaman. kamu keberatan saya panggil „Ris‟....saya mau pesan buket bunga.. „Ris‟ yang diucapkan Pak Ranu tadi terasa berbeda di telinganya. mbak. saya bisa. Seluruh sendinya mendadak kaku.” Iris cepat-cepat menggeleng. Pak Ranu berdiri.. Tapi..” Iris buru-buru pasang senyum ramah.. Lidahnya juga ikut-ikutan kram. Pria Bunga menatapnya dengan heran. “Iya. Pak.” “Umm. Iris kembali sibuk dengan 37 . Sudah berkali-kali juga ia meyakini dirinya bahwa Pak Ranu adalah suami orang. menunjuk ke arah bunga di luar. Tepat seperti apa yang diperintahkan Pria Bunga. Iris melirik papan nama toko bunga yang kini menjadi tempatnya bekerja untuk mengganti rugi: Ranu and Lilac’s Florist... “Permisi..ya.saya enggak keberatan kok. Menggema dalam kepalanya. Pak. Sudah berkali-kali ia mengeja papan nama itu.” “Ah.. Hanya saja. suami si Lilac itu. Ke satu titik di mana Pak Ranu yang selama ini ia juluki Pria Bunga sedang merangkai bunga dengan serius.. eng.. cuma kaget aja....” Katanya lambat-lambat.soalnya biasanya kan.. mengarahkannya untuk keluar toko dan mengikuti perintah Pria Bunga. kamu resmi jadi pegawai di sini. dan ia merasa pipinya menghangat. “Sa....

. Pak.. Ia juga harus membuang sampah bunga-bunga yang layu.” Si abang ojek yang disapa Bang Jay itu mengangguk dan terkekeh pelan. Ia harus menyapu toko sebelum tutup agar tidak kotor besok pagi. Belum lagi mengangkut ember-ember bunga yang aduhai beratnya masuk ke toko sebelum mereka tutup. “Ma. Mendadak Iris merasa tubuhnya menyusut beberapa senti.. Egi juga mengantar bunga-bunga pesanan kepada para pelanggan! Iris sedikit bersyukur karena tak mahir mengendarai motor. Ternyata pekerjaannya tak semudah yang terlihat. Iris tak tahu kenapa bos barunya itu selalu lama berkutat dalam urusan kunci mengunci pintu. “Deket sini. rawan. Pak Ranu tengah mengunci pintu masuk tokonya. Ia memandang ruang dalam toko bunga kecil itu.  Iris melirik jam metalik di pergelangan tangannya. “Oh gitu? Ah. Satu ojek segera menghampiri mereka. Jadi ia hanya kebagian jatah jaga toko sementara Pak Ranu yang mengirimkan bunga-bunga karyanya sendiri ke para pelanggan. Pak Ranu terlalu tinggi baginya. “Rumah kamu di mana. bisa-bisanya Egi tetap bertubuh gempal padahal mengerjakan tugas-tugas seberat itu. dan daun ke tong sampah yang letaknya agak lumayan jauh. “Titip.makasih ya.. Ris?” Pak Ranu berdiri di sebelah Iris.. Dan penyemprot air itu. Pak.duh! Dia heran. Ia menunjuk kumpulan ojek yang mangkal di dekat gedung kampusnya.” Iris nyengir.” Iris tersenyum kikuk. Pak Ranu menepuk bahu si abang ojek itu.. Tepat pukul delapan malam. sudah malam begini. ya sudah nggak pa-pa naik yang kenalan saya ini aja.” katanya. “sebetulnya saya ada ojek langganan juga. Ini pegawai baru saya.”...ahaha.” Pak Ranu langsung melambai ke arah kumpulan ojek itu sebelum Iris sempat mengiyakan.bunga-bunganya. Sedikit berharap suara Pak Ranu yang tadi memanggil namanya segera menguap dari dalam kepalanya. Lama kemudian. “Sip. “Kalo gitu naik ojek yang kenalan saya aja.. Malah Pak Ranu bilang. 38 .. bos! Dijamin amaaann. Bang Jay. tangkai. Iris menoleh ke belakang. ia selesai. saya bisa naik ojek kok.” Pak Ranu tertawa pelan. Pak.

Ia menganggukkan kepalanya ke arah Pak Ranu. “Haha. Saya anak kosan. Neng rumahnya?” “Ah. “betul yang ini.. seakan siap mendengarkan cerita Iris. pelan-pelan ia bergerak ke lantai dua rumah kosan itu. Bang Jay mengangguk-angguk kecil. gue pulang. itu di. Neng..” Iris baru berniat menanyakan status Pak Ranu pada Bang Jay ketika motor berhenti di depan kosan Iris. Aneh.” Pak Ranu tersenyum. Iris meletakkan tasnya di meja belajar dekat jendela..” Bang Jay diam sebentar. lalu melanjutkan. Enak deh sama dia mah. kalo ganti uang. Neng?” “Oh. Bang. “Makasih ya. gimana Neng kerja jadi tukang bunga nya? Enak nggak?” Eta buruburu duduk manis di kasurnya. “makasih ya. “ngomong-ngomong. Bang. Enggan bercerita banyak. Ris. “Enak nggak?” “Capek. Mbak.” Ojek itu berputar dan menghilang di ujung jalan. “Taa.” “Ooh.lah kok bisa jadi kerja di situ?” “Yaah. Terutama bagian di mana ia merasa aneh tiap kali melihat Pak Bosnya. “Ah. Taa.” Ia berbisik pelan. rumah nomor 31B. Iris melangkah masuk. menyerahkan selembar sepuluh ribuan kepada Bang Jay.” Iris buru-buru turun dari motor..” Iris tak berani mengangkat wajahnya. itung-itung ganti rugi. Bos!” katanya. Pak. “Neng. ini rumahnya di sebelah mana?” Bang Jay tiba-tiba bersuara. saya nggak bisa. Neng.” “Okee. balas mengangguk. Pak Ranu itu.” Eta nyengir jahil. iya iya betul. Ta! Gue kayak kuli di sana!” 39 . Iris butuh nama untuk perasaannya itu. “Maaf.. lalu mengetuk pintu kamarnya. Ia terus tertunduk hingga kaki-kaki Pak Ranu yang berdiri di pinggir trotoar tak terlihat lagi. “Mari. Terdengar gusrak pelan.. Bang. “Pak Ranu itu orangnya baik. Ia merebahkan diri di kasurnya. “Cuapeeekk. saya nggak pesen bunga tuh. Pak. itu. suara gerendel pintu digeser. saya yang tempo hari nabrak tokonya Pak Ranu itu loh. “Sialan lu!!!” Iris mencubit lengan sahabatnya itu. lalu muncul lah kepala Eta dari balik pintu. Neng pegawai baru apa cuma gantiin si Egi.” “Sama-sama.Iris segera duduk di belakang Bang Jay itu.” Iris terkekeh pelan.

“Eh. “Belum. ada kabar terbaru seputar Egi nggak?” Iris menggeleng.” Iris nyengir. melambai dan meninggalkan Eta tanpa menoleh lagi. Ris. emang cocok. “Ris. menyeberangi jalan. Iris melihat Pak Ranu sedang berusaha mengikat karangan bunga yang cukup besar di keranjang motornya.. nasib makalah kita buat minggu depan gimana. Iris bangkit dari kasur dan melempar gulingnya ke arah Eta. “Tinggal dikit lagi sih. Iris mempercepat langkahnya. nih?” Eta menarik lengan Iris sebelum dia berlari keluar kelas. Selalu ada rasa menggelora di dalam dadanya tiap kali dia akan kembali ke toko bunga itu lagi. harusnya waktu gue ngajak dia kenalan. Ris?” “Sumpah ya. “Dasar tukang soto!” Iris meleletkan lidahnya. 40 . Dari kejauhan.. Ta. dan akhirnya berdiri di samping motor Pak Ranu. gue buru-buru!” Iris melepaskan tangan Eta dari lengannya. Ta. Gue nggak tau kapan dia balik. ama tampang lu yang kayak kuli panggul pasar tanah abang!!” Eta ngakak. lu masih nggak digodain kan. gantinya. sekali lagi lu nanya kayak gitu. Iris cepat-cepat menjejalkan buku-buku kesehatannya ke dalam tas. Ta! Hahaha!” “Sialan!” Eta terdiam sebentar.kerjaan lu di kosan. “Lu kerjain ya. meninggalkan kelas seperti bayangan. gue kerjain semua deh selama satu minggu! Ya? Ya? Ya?” “Semuanya ya?” “Iyaa! Udah ya. “Dasar tukang bunga!” Eta melempar guling Iris kembali.” “Nyesel juga. Iris masih belum bisa menamai rasa itu.“Oohh. langsung gue kasih payung cantik!!”  Begitu mata kuliah terakhir selesai.. tiba-tiba dia menyeletuk. minta nomernya sekalian ya hahahahhaa!” “Nggak bakal dikasih.. “Omong-omong. dan pergi ke toko Pak Ranu.

Iris menggeleng. “Tolong pegang di sini. Ris?” Pak Ranu cepat-cepat menghampiri Iris setelah memastikan motor dan karangan bunga itu masih dalam keadaan layak. Dia syok.” “Ah. Bunga-bunga yang ia lindas. Nyaris saja Iris mencium trotoar kalau Pak Ranu tidak cepat-cepat menangkap tubuhnya. Ahaha.” Iris menekan bagian tali itu kuat-kuat. Memperhatikan tangan dan lengan Iris dengan khawatir.” Pak Ranu menyentuh tangan Iris sedikit. itu mah nggak pa-pa. bisa saya betulin sedikit. Iris merasa tangan Pak Ranu lah yang justru terlalu hangat. “Butuh bantuan. dan kini motor berikut karangan bunga di atasnya tak sengaja ia gulingkan... Sepertinya sedari tadi Pak Ranu tidak sadar ada Iris berdiri di depannya. untung kamu udah dateng. 41 . Biar saya cari air dulu. Tak habis pikir kenapa belakangan ini selalu melakukan kecerobohan di sekitar Pak Ranu. Ris. “Kamu nggak pa-pa. Merasa bersalah.. Beberapa orang yang lewat di sana membantu Pak Ranu untuk mengembalikan motor berisi karangan bunga itu ke posisi wajarnya. Kecerobohan yang merugikan. BRAK!!!!! Motor berisi karangan bunga itu kini tergeletak di trotoar. dan membawanya masuk ke toko. Iya nih. Rupanya Iris tanpa sadar membebankan tubuhnya di motor tersebut. tangan kamu dingin banget. Tidak. Pak?” Pak Ranu mendongak dengan kaget. “Duduk dulu deh kamu di dalam. Rasanya detik berlalu dengan sangat lambat saat itu. Masih layak kok.” Pak Ranu tersenyum.” Pak Ranu menunjukkan tali yang sedang berusaha ia tautkan. Dia tersenyum.enggak pa-pa. Iris duduk di kursi plastik dekat pintu. Iris pikir itu hanya perasaannya saja sampai Pak Ranu berteriak panik. Iris merasa kakinya tidak lagi menjejak trotoar. Pak Ranu berjongkok di hadapan Iris dengan wajah panik.. “Eng. dengan ujung sepatu Iris tersangkut di joknya. Masih syok.. “Ah. AWAASS!!!!!” Pak Ranu melompat mundur tepat sebelum Iris dan motor itu menimpa tubuhnya. Pak Ranu menarik tubuh Iris yang separuh gemetar dan mendudukkannya di trotoar. Pak. “Itu. Pak Ranu tertawa. “IRIISSS. Mendadak.Iris mencondongkan tubuhnya. Wajah serius itu terlihat lucu sekali bagi Iris.” Iris melirik motor di belakang Pak Ranu. Pak Ranu membantu Iris berdiri. dia tidak terluka. Ris.. Ia dapat merasakan embusan hangat napas Pak Ranu di wajahnya dari jarak sedekat ini.. melongok Pak Ranu yang berjongkok di sisi lain motor.

saya... Hanya pagi hari di akhir minggu seperti itu jalanan Jakarta menjadi sepi kendaraan.” Iris refleks menarik lengan Pak Ranu.. Iris.. ya. “Udah.. Iris datang kepagian. Iris merasa Pak Ranu terlalu baik untuk menjadi suami orang. Pak. Dia mengeluh 42 . ya. Iris memperhatikan sosok itu dengan seksama. Saya urus bunganya dulu. “Nggak nggak.” Pak Ranu tampak mengerjapkan matanya.makasih. Kenapa. Pak Ranu terlihat memperbaiki karangan bunga di atas motor yang tadi tidak sengaja Iris gulingkan. Tangannya yang barusan menggenggam lengan Pak Ranu ia remas-remas. Pak Ranu ternyata malah belum datang. Pak. Padahal jam metaliknya sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. tadi.. “Maaf. Nggak mungkin kan kamu sengaja? Udah.  Iris duduk di depan toko. cepat? “Ini airnya.” Pak ranu tiba-tiba sudah muncul lagi di hadapan Iris sambil menyerahkan sebotol air mineral.“Sebentar.” Pak Ranu menggeleng.. Ia merasa masih menggenggam lengan Pak Ranu di sana. saya cari air dulu. “Anu. kamu harus minum buat ngilangin kaget.” ia benar-benar merasa bersalah. Seakan berusaha menetralisir tangan itu.. nggak apa-apa... Kamu duduk aja di sini. Pak.. Iris mengambilnya dengan hati-hati. Pak. Memperhatikan jalanan Jakarta yang lengang di hadapannya. Iris cepat-cepat menarik tangannya lagi. sebelum akhirnya berkata.” Pak Ranu melangkah keluar toko. diminum dulu airnya.” “Ng. Maaf.” Iris meneguk air itu sekali. Ris.tadi saya nggak sengaja. “Ma. Membiarkan jemari Iris merasakan denyutan nadi di lengan Pak Ranu yang mendadak terpacu. Masih merasakan denyut nadi Pak Ranu yang begitu cepat. nggak apa-apa kok. Menatap tangan Iris yang menggenggam lengannya. Oke? Tunggu di sini ya.. Bumi seakan berhenti berputar sejenak. Pak Ranu menoleh. Akan terasa lebih baik justru kalau Pak Ranu memarahinya. detik itu. “Itu kecelakaan.” Iris memandangi punggung Pak Ranu yang berlalu.nggak usah.” Pak Ranu menepuk bahu Iris pelan. “Kamu duduk aja dulu di sini.. Kenapa Pria Bunga-nya tidak marah? Sungguh.

Senyum yang bikin Iris melupakan paniknya dan sibuk berkonsentrasi memberi kekuatan pada kedua kakinya yang mendadak lemas. tersenyum.” Iris menjerit girang seakan baru saja menyelesaikan teka-teki silang. “Nah! Bisa nih. Sebuah bajaj tiba-tiba menepi di depan Iris. Pak Ranu menggeleng. Pak?” “Motornya lagi di bengkel. Ris. “Jangan. ya?” Pak Ranu menggeleng. “Lepas?!! Gara-gara kemarin jatuh.. “Nggak. Berat.” Pak Ranu ber-oh panjang sebelum akhirnya menurunkan ember bunga dari bajaj ke trotoar. kalau belanja selalu naik bajaj. Pak?” “Bukan. Terkejut melihat Iris yang sudah berdiri manis di depan toko pagipagi begini.” Pak Ranu tertawa pelan.dalam hati. Knalpotnya lepas.kenapa. Seharusnya dia datang pukul sepuluh saja. Iris memandangi kunci-kunci dalam tangannya. “Sabtu-Minggu saya libur.” “Be. saya nggak pernah hapal kunci mana untuk pintu mana soalnya. Jangan-jangan Pak Ranu mengatakan hal itu hanya untuk menenangkannya saja. Iris menghampiri.udah lama emang agak bermasalah knalpotnya. Jelas saja Pak Ranu selalu lama berkutat dengan urusan kunci-mengunci pintu. Ris?” Pak Ranu berdiri di samping Iris yang sudah satu menit mencoba tapi belum berhasil juga. benar kata Eta tadi pagi. “Biasanya naik motor.... “Pak. Ada bunga-bunga yang menyembul keluar dari pintu penumpangnya. Ris.” “Kuncinya yang mana. Pak Ranu keluar dari sana. berusaha ingin membantu. Pak. Ris. Pak?” Iris merasa curiga. “Bukan gara-gara kemarin.. kamu nggak kuliah?” Iris menggeleng. Menarik keluar sekumpulan kunci dan menyerahkannya pada Iris.” Tersenyum. nih.betulan.” “Motornya. Ia mendorong pintu toko hingga terbuka. Pak. “Kamu bukain pintunya aja. 43 .. Ris.” Pak Ranu menepuk kepala Iris pelan. Pak?” “Kamu cobain aja satu-satu.” Ia mencari-cari sesuatu dalam saku celana jins nya. Iris berdiri ketika pintu bajaj itu terbuka.” Iris panik. Kunci yang dimilikinya ada beraneka jenis dan semuanya dikumpulkan dalam satu gantungan kunci! “Bisa nggak. Ris. “Loh.

. Pak Ranu adalah suami orang. Iris selalu menikmati pemandangan Pak Ranu yang sedang melayani pelanggan. sibuk memilah bunga dan menyarankannya pada tiap pelanggan.” Pak Ranu tersenyum lagi. Sudah seminggu dia bekerja di tempat itu. Curiga Iris buyar seketika.. “Bisa.. Iris tahu.” “Eh? Saya nggak bisa.“Saya serius. apalagi untuk dinikmati senyumannya.. Mengambil gunting. Iris. Iris mendadak punya hobi baru. Pak. Tumbuh.” Iris menggeleng-gelengkan kepalanya.. semakin melekat bayang 44 . Hari itu. Perlahan mengakar. tiap kali ia menontoni Pak Ranu merangkai bunga secara diam-diam.” Pak Ranu menyeret Iris ke meja kerjanya. Dan berbunga. Semua lelahnya tak terasa tiap kali ia mendengar Pak Ranu memanggil namanya. untuk dipandangi. Ya. Tak hanya itu. Tapi Iris tak bisa menipu dirinya sendiri.. “Mending kamu belajar bikin karangan bunga. Semakin ia berkata tidak. dan perkakas lainnya. “Daripada kamu mikirin knalpot motor. Iris mempertajam konsentrasinya. Sepanjang hari juga ia berdoa. tiap kali Pak Ranu mengajarinya membuat karangan bunga.” Pak Ranu mengambil beberapa tangkai bunga dari ember di sebelahnya.saya ajarin. semoga Pak Ranu tidak mendengar debaran jantungnya dari jarak sedekat itu. tiap kali Pak Ranu tersenyum ramah padanya. Bahkan. mencuri pandang ke arah toko bunga tepat di seberang kampusnya.. Suami si Lilac itu___setidaknya itulah yang ia yakini saat ini___yang berarti adalah Pak Ranu itu pria terlarang.  Ada perasaan aneh di dalam dada. tiap kali Pak Ranu mengucapkan terima kasih padanya sebelum Bang Jay mengantarnya pulang. sepanjang hari Iris belajar membuat buket bunga dan karangan bunga.. Iris juga mulai merasa betah kerja di toko bunga Pak Ranu itu. Pria terlarang untuk dikagumi. Sudah seminggu juga hobi barunya itu ia jalani tanpa sadar. ia tak sadar kalau ia punya hobi baru selain menontoni awan berarak..

Eta cepat-cepat menoleh ke Iris. “Ris. Matanya tertumbuk ke satu titik. terus?” Iris berdebar. Berharap Eta tidak melihatnya. Mengunyah roti-kasurnya. langitnya pindah ke jalan raya?” Eta menyenggol bahu Iris pelan. Iris tahu sahabatnya menangkap sesuatu di seberang sana. Dahi Eta mendadak berkerut. “Gue duluan. “Toko bunganya keliatan dari sini!” “Ya. Kewajiban yang perlahan mulai dinikmatinya. Semenjak Iris punya kewajiban membayar hutangnya pada Pak Ranu. Membuatnya sulit tidur di malam hari. “Soalnya. Iris memperhatikan perubahan air muka sahabatnya itu. “Gue lagi ngitung metromini!” Iris melengos. Menyembunyikan wajah paniknya. “Yaelah. Membuatnya justru bermimpi di siang hari. Eta cekikikan. “Kan gue enggak perlu ke tukang soto buat memantau Koh Egi!!” “Hah?”  Iris cepat-cepat merapikan berkas bahan makalahnya yang barusan ia presentasikan bersama Eta. cacing di perut gue mulai demo minta ganti menu. “Hari ini kita anti-soto!” “Kok?” Iris melirik Eta yang agak manyun. Apapun nilainya. ngeles aja kayak ojek!” Eta menyodorkan roti-kasur dan duduk di samping Iris. Satu titik yang sudah seminggu ini Iris hapal tiap bagiannya. Iris pasrah saja karena bukan dia yang menyusun makalah tersebut. Iris tak tahu. Mencuri jiwanya. Iris nyaris melompat dari kursi karenanya. Rutinitasnya yang biasa selama seminggu ini. apakah dia sedang jatuh cinta pada bos-nya itu? Dosakah jika ia jatuh cinta pada suami orang? “Ris.” “Telat! Gue udah mau muntah sejak seminggu yang lalu!” Eta mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya.Pak Ranu dalam kepalanya. 45 . kok lu nggak bilang-bilang sih?” “Bilang apa?” Iris pura-pura tidak tahu. mimpi untuk paling tidak ada di dekat Pria Bunga-nya itu. Ta!” Iris menepuk bahu Eta pelan dan buru-buru meninggalkan kelas. Napasnya tertahan.

“Iris. Makasih.ru kok. Iris memperlambat geraknya. “Iya. Iris merasa pertanyaan itu mengisyaratkan bahwa pembicaraan di telepon barusan bukan untuk didengar orang lain. ya.” Pak Ranu mengantongi lagi ponselnya.” Pak Ranu duduk di balik mejanya.. Bu. Iris melangkah masuk ke toko.gitu. Ris. Pak. Saya khawatir dia sakit.” Pak Ranu tersenyum. tolong dibujuk dulu biar mau makan. Iris mendengar nama „Lilac‟ disebut-sebut barusan. Ia akan menghadiahkan benda itu pada Pria Bunga-nya. Besok saya pasti ke sana.” Deg. Terutama. Pak?” “Bentar ya..sore. mendadak teringat gantungan kunci Pak Ranu yang cuma satusatunya itu. Iris mengantongi benda itu.. Pak. ini yang gantiin kamu selama ini. Iris. Menoleh ke arah pintu. Baru menyadari kalau sedang ada bazar di kampusnya. Iris yakin lelaki gempal itu tengah mengingat wajahnya. Bu.” Pak Ranu melirik Iris... iya.. mencuri dengar pembicaraan itu. Bu.. Ris?” Iris menggeleng.. membelakangi Iris. udah dari tadi. Iris buruburu tersenyum.. Membayarnya..” Pak Ranu balas tersenyum.. “Ada. iya.. saya tau dia ngambek karena hampir sebulan saya nggak mampir ke sana. karena detik berikutnya ia langsung tertawa. Pria itu sedang bicara dengan seseorang di ponselnya. Kelihatan kaget karena Iris ada di sana. duduk dulu.Sekumpulan stand-stand di parkiran kampus menghentikan langkah Iris... itu knalpot motornya udah nggak masalah pas saya coba barusan. Siapa? “Pak. Padahal Iris berharap Egi 46 . Mengambil sebuah gantungan kunci berbentuk bunga matahari.” Pak Ranu diam sebentar. “So..” “Oh. “Ah. ada yang mau saya omongin. pasang tampang tidak-mendengar-stadium-tiga.” “Sore. tunggu satu orang lagi. tolong sampaikan salam saya ke Lilac ya. “Ba. ia duduk di sana. “Kamu. EGI???!!!! “Gi.. Cepat-cepat Iris meninggalkan tempat itu. Lantas. Sepertinya terlalu serius hingga tak menyadari kehadirannya. Iris menoleh. mengalihkan topik pembicaraan. Iris menarik kursi plastik di dekat pintu hingga ke meja kerja Pak Ranu... Bu.. apa.” Egi mengerutkan dahinya.” Seorang lelaki masuk ke toko.. Iris berhenti di salah satu stand. Refleks. “Permisi. Rencananya besok saya ajak Lilac jalan-jalan.. Ia berbelok ke sana. Iris senyum-senyum sendiri. kikuk.

.. kalau kamu nggak mau.” Egi tersenyum jahil. yaa.” Iris memilih tersenyum. tadi saya ngobrol-ngobrol sama Egi. jadi.” Iris mengekeh sesudahnya. Saya bersedia.” Iris menyunggingkan bibirnya sedikit. Jadi. Sumpah demi apapun. Iris sempat lupa keberadaan Pak Ranu di sana saking seriusnya berdoa agar Egi lupa ingatan.. “Tapi. Ris. Ris. Iris dan Egi menoleh ke arahnya. “Kalo jodohnya dapet. Ia tak sepenuhnya merasa yakin pada kesimpulan yang diserap otaknya.. ya?” Ia cepat-cepat menghampiri Iris. Menjabat tangannya.. Tak tahu harus berkomentar apa lagi.” Iris butuh beberapa detik untuk mencerna semuanya.” “Kamu bantu kita di sini.” Pak Ranu menambahkan. Iris sejujurnya sangat-sangat-senang dengan tawaran itu. “Jadi. kamu nggak perlu dateng lagi. “Apa kabar? Kaget ternyata kamu orangnya. sementara napas Iris justru tertahan. Iris bersumpah akan membuat perhitungan dengan Eta begitu ia kembali ke kosannya nanti.nggak apa-apa.tidak mengingat dirinya. tersenyum padanya. Untuk kali ini.. Pak. “Sampai dua minggu ke depan. Siapa yang akan menolak untuk berada dekat dengan seseorang yang dikagumi selama dua minggu lagi? Seseorang yang mungkin tak bisa selamanya kau kagumi karena dia milik orang lain? Siapa yang akan menolak? Iris mengangkat bahunya.” Egi menepuk bahu Iris. dan butuh pegawai tambahan. “Nggak perlu cari orang lain.. Iris hampir yakin kalau Pak Ranu akan mengatakan: Mulai besok. Nanti saya cari orang lain.. “Tapi. Pak Ranu tahu-tahu saja berdeham pelan.. jangan lupa pesen bunganya kemari. memikirkan untuk menerima tawaran Pak Ranu dan Egi atau tidak. dia batal diberhentikan?? “Gimana?” “Kamu tetep kerja di sini. Saya juga kaget bisa ada di sini. kamu kerja di sini sampai Egi pulang. Iris melongo. saya gaji kamu kayak si Egi. Acaranya sekitar dua minggu lagi.. “Baik. Mengembuskan napasnya. Ris. “Gampang. “Selamat datang di toko kami!” 47 . karena tadi saya dapet pesanan bunga buat pernikahan.” Egi menutup pidato panjang Pak Ranu.” Pak Ranu menegaskan sekali lagi.” Pak Ranu menarik napas. “Yang ketemu di tukang soto. Saya bilang kalau perjanjian saya sama kamu itu.

” Pak Ranu membujuk. Bajaj? Haruskah BAJAJ??!!!! “Boleh juga kayaknya naik bajaj. begitu lengah sedikit ikannya langsung hilang. “Bang Jay belum muncul juga?” “Belum.” Pak Ranu berdiri di sisi lain Iris.” Iris tersenyum... dia antipati dengan kendaraan mungil yang banyak berkeliaran di Jakarta itu. bisa-bisanya Eta naksir manusia seperti ini. “Enggak apa-apa. Iris melirik lelaki gempal itu... Seorang diri. Ris!” Egi tiba-tiba berceletuk. Dia tersenyum.. “Satu kamar malahan. Iris menunjuk satu arah. Iris merasa seperti diapit duo mario brothers. “Kosan saya ada di daerah situ.. Ia pernah punya pengalaman buruk dengan kendaraan beroda tiga itu.” “Salam ya buat Eta.” Pak Ranu ikut berkomentar pelan. gimana?” 48 . Menggaruk tengkuknya yang entah benar-benar gatal atau tidak. Jujur saja..” “Siapa tahu masih lama. Iris bingung.. Cuma.enggak kok. Pipinya terlihat makin menggembung.kayaknya lagi ada penumpang lain. pulang ke arah mana?” Egi tahu-tahu saja sudah berdiri di samping Iris. “Kalau bareng saya. “Eng. Mata lelaki satu itu hilang tiap kali dia tersenyum. “Naik bajaj aja. Iris kecil pernah nyaris diculik oleh tukang bajaj! Semenjak itu. “Saya.” Egi tersenyum lagi. “Ris.. Bagi Iris malumalu itu seperti malu-malu kucing yang menolak ketika disodori ikan.” “Kamu nggak takut naik bajaj kan.” Egi mengangguk-angguk... “Ris. Dulu.nunggu di sini aja deh... Ris. tentu tidak pada jam delapan malam seperti ini. Ris?” Egi menyenggol bahu Iris pelan. “Satu kosan sama Eta?” Iris mendadak mulai paham arah pembicaraan mereka.. Iris cepat-cepat menggeleng..” Pak Ranu tertawa pelan. Saya nggak masalah nunggu sebentar di sini. Kalaupun tiba-tiba ia harus___terpaksa___naik bajaj lagi. Pak.. Pak. Agak malu-malu. Iris tidak berani naik bajaj.

Makin membuatnya berkeringat. “Stop!! Stop!! Stop!!” Iris menepuk bahu tukang bajaj kuat-kuat ketika sadar kosannya hampir saja terlewat.“Wah! Iya tuh. Pak?” “Kamar kamu di sebelah mana?” Iris menunjuk sebuah jendela di lantai dua.... kan?” Iris seakan kehilangan kata-katanya.kamarnya? 49 . Iris buru-buru menggeleng.Pak Ranu. Pak Ranu memandangi kosan Iris lekat-lekat. Terlalu gugup. Jantung Iris berdebar-debar saat Ia dan Pak Ranu duduk berhimpitan di dalam bajaj. Kenapa pula Pak Ranu menanyakan. Oleh. “Eng.. kenapa. Mendadak ia merasa bajaj itu makin menyesakkan.” Iris akhirnya menuruti saran Egi. Makin. mengangguk.. Bajaj itu menepi. Egi sendiri rupanya menyeberang jalan dan naik bis ke arah yang berlawanan dengan mereka berdua. berhimpitan di dalam bajaj. “Iya.. rumah Pak Ranu kan ke arah sana juga!” Egi mengangguk anggukkan kepala tanda setuju.. Iris menoleh sebentar. Ia merasa Jakarta terlalu panas malam itu.kosan kamu. Iris berusaha tidak mengacuhkan bahunya yang menempel dengan tubuh Pak Ranu.. “Atau kamu justru takut naik bajaj sama saya. Iris segera turun dari bajaj itu.. tapi tak menemukan kejanggalan di sana. Iris hampir yakin pipinya mulai memerah sekarang. suami orang. Pulang naik bajaj bersama. Ia tak mau ekspresi itu dilihat oleh Pak Ranu. Ris?” Egi terbahak mendengar kata-kata Pak Ranu barusan. tak terbayang jika harus pulang diantar Pak Ranu. Ke mana perginya angin malam??!! “Ris. Ia merasa jantungnya akan rontok jika berdebar secepat itu. Baru menyadari betapa dekat jaraknya dengan Pak Ranu saat itu.panas! Iris mengembalikan pandangannya ke arah jalan lagi. Alisnya nyaris bertaut. Iris berkeringat.. Matanya diarahkan ke jalan raya. “Ini. Ris?” Iris mengangguk. daripada kita nungguin si Bang Jay yang nggak jelas kapan datengnya di sini. kosan kamu masuk gang ini?” Pak Ranu melirik Iris sambil menunjuk sebuah gang. Pak.enggak kok. Iris melirik kosannya.. Ia dapat merasakan keringat mengalir di punggungnya. “Yaaa.

Bernyanyi-nyanyi tidak jelas. membentuk gugus bintang baru yang hanya dapat dilihat oleh Iris seorang... Ada rasa bersalah dalam hatinya.Deg. Suaranya serasa dicuri orang. Dan dia. Iris sungguh ingin menari detik itu juga!!  “UDAH BALIK??? KIRIM SALAM BUAT GUE??? ASTAGAAAA!!!!” Eta menjerit-jerit girang mendengar kabar kepulangan dan salam Egi dari Iris.. Iris membiarkan sahabatnya itu bersenangsenang dalam dunianya sendiri. sekali lagi. Kali ini ia tersenyum penuh. tapi terlihat. Ris. “Bilang bilang bilang.” Pak Ranu terkekeh pelan.. Ris. Gantungan kunci! “Saya pulang dulu. Iris tersenyum... “Yang itu kamar saya. “Saya pulang sekarang. Sesaat Iris dan Pak Ranu hanya saling tatap. Iris merasa seperti melihat sebersit senyum di bibir Pak Ranu barusan. Iris cuma mengangguk pelan. Demi apapun. Kenapa?” Pak Ranu menggeleng. Meninggalkan kepulan asap di depan Iris..” Ia menunjuk gantungan kunci berbentuk bunga matahari pemberian Iris. “Nggak kenapa-napa. menyerahkan pada Pak Ranu yang tampak sangat terkejut. Pak. Pak Ranu tiba-tiba berdeham pelan. “Saya sendiri selalu lupa buat misahin kunci itu.” Entah Iris berkhayal atau tidak.” Iris cepat-cepat mengeluarkan gantungan kunci yang dibelinya di bazar kampus tadi..” Lantas Pak Ranu tersenyum. Langit yang bertaburkan bintang.. buat kunci toko.. salam balik dari gue!!” Eta bergulingan di kasurnya sambil memeluk guling. Gugus bintang Ranu. Ris.. Membuat Iris meremas jeans-nya saking gugupnya. Iris menyadari ada yang menyembul di kantong celananya.. Pak. Biar dipisahin aja sama yang lain. Pak.. menggaruk tengkuknya sedikit. “Ini. Sedetik. ya. Menatap langit-langit kosannya.. Seakan langitlangit itu menembus ke langit yang sesungguhnya. terima kasih.” “Sebentar. Pak Ranu lalu mengangkat kelima jemari kanannya sedikit sebelum bajaj itu berbalik arah dan kembali melaju. Deg. tapi sekaligus ada rasa senang di 50 .. Terima kasih. dalam dunianya sendiri juga Iris terlentang di kasurnya.

Bu. mencari ponsel mungil miliknya. Tiba-tiba.” Iris merasa seperti ada yang menohok perutnya. Hati-hati. telah mengantar Iris pulang. Iris kembali dari gugus Ranunya. di mana Iris harus sekolah. Ibunya menjadi sangat otoriter dan konservatif. Jangan khawatir.” “Nanti kalau sudah lulus kamu bisa kerja di tempat kawan ibu. Iris paham. Iris. seorang gadis baik-baik pantas mendapat lelaki baik-baik. dan setiap sebulan sekali Iris harus pulang ke rumahnya di Bogor. Jakarta itu rawan. Ibunya berubah semenjak ayah kandung Iris tiada.” “Sibuk kuliah. Wajah ibu melintas dalam kepala Iris. Tapi sekaligus senang karena pria yang dikaguminya. Ris? Sehat kan di sana?” “Mungkin minggu depan.sana. suami orang. Ibunya selalu berpesan. tak pernah lagi memberikan kebebasan dalam hidup Iris. Ia berdoa. Bu. ibu yang memilihkan tempat kosan.” Suara tegas yang sudah Iris hapal itu menyapa di ujung sana. jangan sampai nilai kamu turun. Iya. Entah kapan terakhir kali suara itu terdengar lebih keibuan. seorang perawan pantas mendapat seorang perjaka. Terdampar lagi di atas kasurnya. Ibu Iris adalah seorang guru SMA. ponsel Iris bergetar di sisi kasurnya. Semua sudah diatur ibu. “Kapan kamu mulai praktek di rumah sakit?” “Kayaknya mulai bulan depan. mengantarnya pulang. kuliah itu modal utama. Iris merasa bersalah karena Pak Ranu. kan? Inget. Ia meraba-raba kasurnya. Membaca nama penelepon pada layarnya yang berkedip-kedip. semoga ibunya tidak akan tahu perihal pekerjaannya di toko bunga Pak Ranu. Iris paham betul ibunya berusaha menjadi figur tegas seorang ayah. Seorang wanita paruh baya yang lebih sering memakai pakaian dinasnya ketimbang daster seperti layaknya ibu pada umumnya. pekerjaan apa yang harus Iris jadikan sebagai mata pencaharian. Ibu.. Ris. Nggak usah lah ikutan temen-temen kamu yang ambil kerja paruh waktu.” 51 . “Halo. Perdebatan panjang itu berakhir dengan disetujuinya keputusan Iris dengan ketentuan. mudah-mudahan nilai Iris nggak turun. mungkin nanti jadi jarang pulang.sehat. “Kamu kapan pulang. Belakangan ini Iris sibuk. Bu. pria yang mengisi hampir sebagian dari pikiran dalam kepalanya. bahkan bagaimana sosok pasangan suami ideal yang harus Iris nikahi. Iris teringat ketika Ibu menolak permintaannya untuk tinggal di kosan. kemarin ibu sudah ngobrol-ngobrol dan katanya kamu bisa ditempatkan di sana.

” Iris mengeja pesan ibunya di dalam hati. Egi menoleh. Iris. “Lilac itu anak satu-satunya Pak Ranu. Anak itu tinggal sama neneknya di daerah Jakarta Barat. Memejamkan matanya. Hanya ada Egi yang tengah membuat karangan bunga duka cita di dalam toko.Iris mengembuskan napas. Iris celingukan ketika masuk ke sana. “Istrinya?” “Istrinya udah meninggal.. Egi tertawa.” “Ibu tunggu minggu depan. “Ada yang salah di sini?” Iris duduk di sebelah Egi. Iris mengembuskan napas panjang. kamu belum tahu?” Iris menggeleng. Sayang jarang dibawa kemari.” Egi mengekeh pelan.seorang gadis baik-baik pantas mendapat lelaki baik-baik. Bu..” “Jangan lupa pesan ibu.  Tak ada sosok Pak Ranu di toko siang itu. “Loh. Jaga diri kamu baik-baik...... Bu. Tenyata tidak. Barangkali Pak Ranu terhalang tubuh besar Egi.” Iris mengernyitkan dahinya.anaknya Pak Ranu?” Iris bertanya hati-hati. “Hai. Eluarga kecilnya yang bahagia. seorang perawan pantas mendapat seorang perjaka. “Enggak kok.. Lucu deh. Iris sungguh rindu sosok ibunya di masa itu. “Iya. Ris.” Anak? Ayah? “Lilac itu. Waktu ngelahirin Lilac-nya itu. Enggan mengatakan kalau selama ini ia berpikir Lilac adalah istri Pak Ranu.” “Iya.” Tut. ketika ibu membiarkannya bebas tapi tak lepas. kata Pak Ranu. ketika ibu hanya menjadi seorang ibu dan bukannya sekaligus ayah. Ris!” Egi meliriknya sedikit. Teringat keluarga kecilnya sebelum sang ayah tiada. Ris.. Iris paham. “Ngambek lagi anak itu. Pak Ranu ke mana?” “Ada janji sama Lilac-nya. Ketika ibu berusaha tegas tapi tak keras... dia nggak mau makan sebelum ketemu ayahnya. “...” 52 . Masih kecil. Lucu ya. lalu kembali menatap karangan bunganya. Bahkan tempat kerja pun sudah ditentukan.

Sebelumnya saya minta maaf karena seharusnya saya nggak ngomong seperti ini ke kamu. Oke?” Iris tak menyahut. Kata-kata Egi barusan meresap dalam kepalanya.. “Saya belum pernah lihat Pak Ranu deket sama perempuan lain.” Egi menimbang sesaat.” “Maksudnya?” Egi mengembuskan napas. Hanya saja. seorang perawan pantas mendapat seorang perjaka.. Padahal siang tadi Eta senyum-senyum dan bilang akan menjemput Iris dari toko tepat pukul delapan 53 . menurut saya. ayah tunggal?” “Sejauh ini... Seperti seorang abang pada adiknya. Egi menoleh... sakitnya lebih dulu terasa. menepuk bahu Iris lembut. “Gini ya. “Nih. Meletup-letup sepuasnya.duda beranak satu. membangkitkan wajah ibunya di Bogor. “. Ternyata dugaan Iris selama ini salah... Belum.” Egi tersenyum.. iya.. status Pak Ranu itu.. Iris mengambilnya. Ternyata pria yang dikiranya suami orang itu seorang ayah tunggal. Belum ada penampakan dari Eta.... menambahkan. ada duka yang mengancam..” Egi menyodorkan setumpuk bunga pada Iris. “. saya cuma mengingatkan aja.. bantuin saya bikin karangan bunganya. Jam metalik di pergelangan tangan Iris menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. jadi.“Pak Ranu.kamu pikirkan lagi matang-matang. Nggak banyak orang tua yang terbuka dengan status seperti itu. Egi merapikan perkakas kembali ke tempatnya masing-masing. Perlahan direkatkan bunga-bunga itu pada karangan bunga duka cita di hadapannya. Iris melongok keluar toko. Ada perasaan yang tiba-tiba merdeka di sana. Ris. Tapi. Menggaungkan lagi suara ibunya di telepon tadi malam..sebelum ada sesuatu. Duka itu belum benar-benar datang. Bukan suami orang. Ketika rasa itu merdeka.sampai kemarin. kamu kenal saya aja baru satu hari. Yaa..” Mendadak Iris merasakan ada yang bergelora di dalam dadanya.  Iris berjongkok sambil mengikat kantung sampah terakhir yang ia kumpulkan dari lantai toko.

malam. Sudah pasti alasan Eta mendadak menawarkan diri untuk menjemput Iris adalah si Egi itu. Iris melirik punggung bulat yang sedang merapikan meja di belakangnya. Manusia yang sore tadi memberinya ceramah singkat. Obrolannya dengan Egi sore tadi terputar lagi dalam kepala Iris. Fakta bahwa dugaan Iris selama ini salah, bahwa Lilac adalah anak Pak Ranu dan bukan istrinya, terasa sangat melegakan bagi Iris. Tapi kenyataan bahwa Pak Ranu berstatus duda justru terasa sangat menyesakkan bagi Iris. Iris tak pernah mempermasalahkan status, usia, jabatan, pekerjaan, apapun itu, bagi Iris mereka semua sama. Bukankah tak ada yang sempurna di dunia? Hanya saja tidak bagi ibu Iris. Teman lelaki Iris semasa SMA, guru magang di sekolahnya, bahkan diusir ibu ketika bertamu. Cercaan, seperti Pedofilia3, dilontarkan pada lelaki itu. Nasib yang sama juga dialami teman lelaki Iris yang lainnya, salah satu pengurus karang taruna di lingkungan rumah Iris, diusir oleh ibu. Iris tak berkutik, tak berani menentang ibu. Iris meyakinkan dalam hatinya, ibu mungkin sudah berubah... “Ris, kamu pulang duluan aja.” Egi tiba-tiba bersuara. Berbalik badan. Menyadarkan Iris dari lamunannya. “Saya masih nunggu Pak Ranu dulu, katanya dia mampir buat ambil kunci toko. Takutnya Pak Ranu masih lama, nanti kamu kemalaman.” “Nggak kok, kebetulan saya lagi nunggu Eta, katanya dia mau jemput.” Iris tersenyum simpul. Separuh hati berdoa agar sempat melihat Pak Ranu sebelum ia pulang nanti. “Eta mau jemput?” Egi menghentikan kegiatan beres-beresnya. Iris mengangguk. “Iya, janjinya sih jam delapan.” Iris melirik jam metaliknya, sudah pukul delapan lewat dua puluh menit. “Tapi mungkin agak telat.” Egi cepat-cepat merapikan rambutnya. Menyeka keringat di wajahnya, dan mengelap kacamata dengan ujung bajunya. Lalu, menatap Iris. “Udah rapi belum?” Iris terbahak. Membuat Egi menguncupkan bibirnya dengan kesal. “Maafmaaf,” Iris menutup mulut dengan tangan kanannya, mengacungkan ibu jari kirinya. “Rapi!” katanya separuh menahan tawa. Suara klakson motor membuat Iris dan Egi menoleh keluar toko. Eta melambai di sana. Lantas menggantung helmnya di spion motor dan berjalan menuju
3

Sejenis kelainan seksual pada orang dewasa yang menyukai anak-anak untuk memuaskan hasrat mereka.

54

ke dalam toko. Egi terlihat salah tingkah sementara Eta berjalan mantap. Iris sungguh ingin tertawa melihat pemandangan itu. “Sori ya, Ris, telat. Gue ketiduran.” Eta berdiri di samping Iris, melirik Egi dan menganggukkan kepalanya. Tersenyum pada lelaki itu. “Halo, Koh Egi. Apa kabar?” “Halo..baik. baik. Panggil Egi aja.” Egi balas tersenyum. Kikuk. Iris makin ingin tertawa melihatnya. “Kamu.. apa kabar?” “Baik.” Eta menambahkan, “Salamnya yang kemarin...makasih ya.” Pipi Eta merona merah muda. Iris melihat rona yang sama di pipi Egi. Membuatnya senyumsenyum sendiri melihat dua manusia itu. “Ah, i..iya. sama-sama.” Eta menoleh pada Iris lagi, “Balik sekarang, kan?” Iris mengangguk-angguk. Berdiri, mengambil tasnya di meja. Menepuk bahu Egi pelan, “Duluan ya.” Iris dan Eta baru melangkah keluar toko ketika sesosok manusia menyeberang jalan. Berjalan menuju ke arah mereka. Siluet yang rasanya sudah sangat Iris kenali. Sosok itu berhenti beberapa langkah di depan mereka. Tepat di batas remang-remang cahaya dari lampu di sisi trotoar. “Pak Ranu?” Pak Ranu melangkah maju perlahan, “Iris? Kok belum pulang?” berhenti satu langkah di depan Iris dan Eta. “Itu..tadi saya nunggu dijemput teman saya...” Iris melirik Eta. Eta buru-buru menyalami Pak Ranu, “Eta...” katanya memperkenalkan diri. “Saya yang punya motor matic yang dipake Iris waktu itu, Pak...” Eta tersenyum takut-takut. “Oh...” Pak Ranu mengangguk-angguk pelan, “Motornya nggak apa-apa waktu itu?” Eta menggeleng, “Enggak, Pak. Cuma lecet-lecet dikit...” “Oh... bagus kalau gitu.” Hening sesaat sebelum Pak Ranu melanjutkan, “Kalian udah makan malam?” Iris dan Eta menggeleng. Iris cepat-cepat menambahkan, “Nanti kita beli makan di warteg deket kosan, Pak.” “Makan sama-sama aja.” Pak Ranu menunjuk ke satu arah, “Ada tukang nasi goreng langganan saya sama Egi di dekat taman situ. Saya yang traktir. Jarang-jarang 55

kan saya traktir...” Pak Ranu tersenyum. Ia lantas melambai pada Egi yang buru-buru keluar toko. “Kenapa, Pak?” “Tiba-tiba kangen nasi goreng yang di deket taman situ, sekalian ajak Iris sama temannya ini. Saya yang traktir...” Pak Ranu mengekeh pelan. Iris dan Eta terpaksa menurut saja. Separuh hati Iris merasa tak enak menolak tawaran Pak Ranu. Separuhnya lagi menerima dengan senang hati. Mereka berempat berjalan kaki menuju taman kota yang tak terlalu jauh dengan toko Pak Ranu. Egi dan Eta berjalan lebih dulu. Iris dan Pak Ranu mengekor di belakang keduanya. Iris cekikikan melihat dua sejoli itu. “Ada yang lucu, Ris?” Pak Ranu tiba-tiba bersuara. Iris mendongak sedikit. Pak Ranu sedang menatap dirinya. Jantung Iris berdegup kencang di balik kemejanya. Ia berbisik, berusaha mengabaikan degup jantungnya barusan. “Dua sejoli di depan kita, Pak...” Pak Ranu menundukkan kepalanya sedikit, “Bukannya, kamu sama Egi...” Iris cepat-cepat menggeleng, “Saya sama Egi nggak ada apa-apa, Pak.” Pak Ranu ber-oh panjang. Menegakkan kepalanya lagi. Memandangi Egi dan Eta, lantas tersenyum. “Saya bersyukur...” Jantung Iris berdegup makin kencang.


Empat piring nasi goreng sudah bersih dilahap empat perut yang lapar. Keempatnya kini sibuk memperhatikan sekumpulan remaja yang membakar sumbu kembang api tepat di seberang tempat mereka duduk. Detik berikutnya, angkasa terang benderang oleh warna-warni yang mempesona. Egi dan Eta menontoni hiburan gratis itu sambil bergumam-gumam kagum. “Wah, yang itu bagus...” “Kayak lagi tahun baru ya...” “Yang ini lebih bagus...” Iris dan Pak Ranu ikut mendongak, menatap angkasa, memandangi letusan kembang api dalam diam. Kata-kata tak diperlukan lagi ketika semua rasa dalam dada

56

Iris duduk di dekat jendela kamarnya yang ia buka lebar-lebar meski diprotes Eta karena merasa malam itu terlalu dingin. tersenyum. Langit hitam perlahan berubah menjadi biru cerah. tepat ketika Eta dan Egi sibuk bertukar nomor ponsel.. mimpi indah. “Saya sudah tahu soal Lilac. Iris melirik sahabatnya itu. Tak perlu. Bahasa yang menjalar hingga ke dalam hati Iris. Iris tersenyum. Iris memandangi jemari tangan kanannya. dan berucap. Menghangatkannya. Eta sudah tertidur pulas di kasurnya.sudah mengalir melalui tiap pori-pori kulit mereka yang bersatu. Mendadak.” Pak Ranu menoleh. Dibisikkan di telinga. Ia masih merasakan jari-jari Pak Ranu yang bertaut di sana beberapa jam yang lalu.  57 . ada jemari yang saling bertautan. “Saya suka anak-anak. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Pak Ranu. Iris lelap di pinggir jendela kamarnya. menambahkan. Bahkan Iris mendapat bonus ucapan selamat malam sebelum mereka berpisah tadi. Protes itu reda seiring dengan terpejamnya mata Eta. Dia masih terjaga meski sudah lewat tengah malam.”  Angin malam terasa sangat hangat di pipi Iris. Pelan. Ia berbisik. Iris teringat sesuatu. manis. Sudah ada bahasa lain yang disampaikan oleh jari-jari itu. Di balik kotak tisu.. Bermimpi Pak Ranu mengecup keningnya.

58 .

CKIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTT!!!! Ranu menginjak remnya kuat-kuat. 31B. Ia melirik rumah di sebelah rumah itu. Ia sendiri agak malas jika harus buka-tutup toko hanya karena mengantar bunga. Ranu turun dari motornya. Entah lelaki atau perempuan. Rumah tempat Ranu akan mengirimkan buket bunga nya terletak di gang kecil yang hanya muat untuk satu ukuran mobil. Matanya beralih ke sesuatu yang hampir membuatnya celaka itu. Dia benar-benar membutuhkan pegawai pengganti Egi sekarang. Ia melirik buket bunga di keranjang belakang motornya. membelakangi dirinya. melihat ke jendela di lantai dua. Tak mungkin ia membiarkan tokonya buka tanpa ada yang menjaga. Siang itu. Nyaris saja ia terjungkal dari motor. 32B. Kuharap semburat merah muda itu tidak benar-benar ada. Jadi. Ia harus mengantar buket bunga ke satu rumah yang tak jauh dari tokonya... Sungguh mengesalkan. mengumpat dalam hati. Ranu menutup tokonya lebih cepat.. Matanya sibuk mencari-cari rumah bernomor 32B. Seseorang berambut pendek duduk di sana. Terkejut. Ia ingin meneriaki orang di atas sana agar turun dan meminta maaf. Kaus Kaki? Ranu mendongak. Buket bunga itu masih dalam keadaan baik. Saat motornya melewati satu rumah yang lumayan besar tiba-tiba sesuatu terlempar keluar dari jendela di lantai dua. hei pelempar kaus kaki!! Tapi lain kali. Dahinya berkerut. tolong jangan rusak harapan ini. Hari ini kau kumaafkan. Manis. Ia mendongak lagi. ia putuskan untuk tutup saja sekalian. Niat itu batal saat ia melihat nomor rumah. Sesekali ia berhenti sebentar dan bertanya pada orang di sekitar situ. sosok itu tampak tertawa geli sekali. awas kau ya!!!!  59 .TUMBUH DAN BERSEMI KUHARAP mata ini salah. Manusia itu nyaris mencelakakan dirinya dan kini malah tertawa-tawa bahagia di atas sana.

“Uhm.tolong bunga-bunga yang di depan itu kamu semprotin air ya.. Pukul dua belas siang. Kalau iya. Tak sengaja matanya menangkap sosok mahasiswa tukang bengong yang selalu bertengger di pinggir jendela gedung kampus di seberang tokonya. rasanya ia sudah letih sekali. Ranu melirik jam di pergelangan tangannya. melayani pelanggan. Ranu membuat hipotesis sendiri. Niat mencari makan siang diurungkannya saat itu juga. mengira-ngira apa yang dipandangi si mahasiswa itu.. merangkai bunga. Si biang onar mengangguk.” suara seorang gadis. sudah selesai kuliahnya?” akhirnya dia berkata. Apa yang harus dilakukan gadis itu sekarang? Sesuatu yang tidak terlalu berat. sesuatu yang bisa dilakukannya tanpa mengacau.senang.Semalaman Ranu merasa seluruh tubuhnya pegal-pegal. Tapi dia masih juga tak menemukan sesuatu yang rancu di sana. Semua tampak normal di matanya. Ranu memijit lehernya sedikit. Pak. Ia merasa beruntung karena tidak sampai terjungkal dari motornya kemarin. Ia baru akan pergi membeli makan siang saat seorang pelanggan datang. Mulai dari membersihkan toko. Si biang onar meletakkan tasnya di kursi plastik dekat pintu masuk. “Ah. Bibirnya menyungging tanpa diperintah. hingga mengantar bunga-bunga itu ke tujuannya terpaksa ia lakukan seorang diri. mungkin hari ini dia tidak akan bisa bekerja. 60 . mungkin mahasiswa itu mengidap sejenis kelainan yang membuatnya tergila-gila pada angkasa. Berusaha membuat suaranya agar senormal mungkin. apa? Ia teringat bunga-bunga yang belum disemprot air di luar toko. Si biang onar. Gadis itu mengangguk pelan.  Ranu sedang serius merangkai bunga saat seseorang tiba-tiba masuk ke tokonya.” Ranu menunjuk ke arah ember kuning di sebelah kiri si biang onar. Entah kenapa. “Sudah. Ranu mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertumbuk pada bunga-bunga di mejanya. menatap sosok gadis berambut pendek. Baru beberapa hari ditinggal Egi cuti. melihat gadis satu itu. agar tidak terlalu terdengar.” Ranu berpikir cepat. Penyemprotnya ada di deket ember yang warna kuning. Ranu ingin tersenyum. “Permisi. Ranu melihat angkasa..

. Masih dengan gerakan ala paskibraka-nya. Tidak tahu kenapa... Sepertinya tas kecil itu muat diletakkan di sana.saya enggak keberatan kok. “Sa. saya bisa. Pintu tokonya terdorong membuka. “Iya. semprot.. “Bunga... Kenapa ia harus memanggil „Ris‟ tadi? Apakah karena gadis itu sudah resmi jadi pegawainya? Apakah karena sebagai bos ia harus dekat dengan bawahannya? Apakah karena.ya.. kamu resmi jadi pegawai di sini. Ada yang salah dengan gadis itu dan Ranu berusaha mati-matian untuk membuang jauh-jauh pikiran konyolnya. Pelanggan yang sudah sangat Ranu kenal.. “Umm..” Iris lalu meletakkan tasnya di tempat yang tadi Ranu tunjukkan..” Katanya lambatlambat. Kamu terlalu tua untuk ditaksir gadis muda semanis dia.enggak. Ranu mendongak. tapi kalau kamu keberatan. eng. ia hanya ingin tertawa. yaaa. Ranu tersenyum ramah menyambut. Ranu berharap itu hanya perasaannya saja. Pak. Pak. kalau. Nu!!! Ranu lantas mengangguk perlahan.” Ranu menunjuk sisi meja tempatnya sedang merangkai bunga. mendadak gerakan gadis itu seperti paskibraka di istana negara. Ranu tak bermaksud memanggil si biang onar dengan namanya begitu...soalnya biasanya kan.... Ranu juga diam. Melangkah keluar toko dan melakukan apa yang diperintahkan Ranu barusan. tolong disemprot. “Sa. Ris..” Ranu akhirnya bersuara.. Iris tak bergerak.. tapi seorang lelaki. Mencairkan hening yang datang tanpa diundang. jadi saya rasa lebih. gadis itu tersenyum.. Berusaha fokus ke kumpulan bunga-bunga itu meski tak bisa dipungkiri otot-otot bibirnya ingin menyungging segera.” Iris menggerakkan tangannya yang kini terlihat seperti boneka unyil di mata Ranu. Bukan Iris yang masuk ke toko. Ranu terkejut dengan apa yang barusan keluar dari mulutnya. karena. Kenapa lidahnya begitu seenaknya sendiri? Bagaimana jika Iris itu merasa keberatan? Bagaimana jika Iris itu merasa dia terlalu sok dekat? “Eh.” Iris cepat-cepat menggeleng. kamu keberatan saya panggil „Ris‟. Ranu merasa.. Iris berbalik meninggalkannya. Itu saja. nyaman. kalau saya panggil nama kamu. Ranu kembali menatap bunga-bunga di mejanya.... 61 .... di luar.” Iris menggeleng. cuma kaget aja. “Ah. Ris? Sungguh. “Tasnya taro di sebelah sini aja.” Ranu berpikir cepat.Ranu melirik sisi meja kerjanya yang kosong..

Berdiri di sebelahnya. Secepatnya. Terlihat agak kikuk.. Ia baru sadar tadi Iris belum mengiyakan tawarannya. sementara dia masih berkutat dengan kunci pintunya.” Bang Jay mengangguk dan terkekeh pelan.” Iris nyengir. “Titip. jam perak hadiah dari mendiang istrinya yang sudah berkali-kali direparasi tapi enggan Ranu ganti dengan yang baru. rawan. “sebetulnya saya ada ojek langganan juga.” Ranu cepat-cepat melambai ke arah tukang ojek kenalannya. Ranu masih memandanginya berlalu sampai motor yang ditumpangi Iris hilang dari pandangannya. Gadis itu menganggukkan kepalanya ke arah Ranu. berbelok ke satu gang tak jauh dari tempat Ranu berdiri sekarang. Ranu teringat pada tukang ojek kenalannya. 62 .” Gadis itu tertunduk.. Ranu bersumpah akan segera memisahkan kunci-kunci itu kalau ada waktu. “Ma. saya bisa naik ojek kok.“Apa kabar?” Sambil menjabat tangan lelaki itu. Ranu masih tersenyum. “Rumah kamu di mana.” Ranu tersenyum. “Mari. Pak. Iris sudah berdiri menunggu entah apa atau siapa...” Iris segera duduk di belakang Bang Jay. Setelah selesai dengan urusan kuncikuncinya. Ranu mendadak menyadari satu hal.. Pak. ya sudah nggak pa-pa naik yang kenalan saya ini aja. Tempat di mana Iris sedang sibuk dengan bunga-bunganya.” Ranu tertawa pelan.. Pak. tinggi Iris hanya sebatas ketiaknya saja. Pak. Gadis itu menunjuk kumpulan ojek yang mangkal di dekat gedung kampusnya. Ranu menghampiri Iris. seorang pria gemuk dengan jaket dealer motor yang lebih dikenal dengan panggilan Bang Jay. Ris?” “Deket sini. “Kalo gitu naik ojek yang kenala n saya aja. Pukul delapan malam. ujung matanya mencuri pandang ke luar toko.  Ranu melirik jam di pergelangan tangannya.ahaha. Mungil sekali.. Bang Jay segera menghampiri mereka. bos! Dijamin amaaann.makasih ya. Wangi tubuh gadis itu tertinggal di bulu-bulu hidungnya. Bang Jay. “Oh gitu? Ah..” Iris tersenyum. “Sip.” Ranu menepuk bahu Bang Jay. Ris. Ini pegawai baru saya.. Tidak mengucapkan apa-apa lagi.... sudah malam begini. balas mengangguk. “Makasih ya.

Iris tahu-tahu saja sudah tersenyum di hadapannya. Pak?” Ranu mendongak dengan kaget. Ranu.” Ranu lantas menunjuk tali yang sedang berusaha ia tautkan. dengan susah payah. Beberapa orang yang lewat di sana membantu Ranu untuk mengembalikan 63 . AWAASS!!!!!” Ranu berteriak panik. ia berharap Iris segera muncul. Menyadari itu. Beruntung. mengangkat sebuah karangan bunga yang cukup besar keluar dari tokonya. Entah sejak kapan gadis itu menontoni dirinya sibuk dengan tali pengikat. untung kamu udah dateng. Ia masuk kembali ke toko dan membawa keluar sebuah tali pengikat. Mendadak. “Ah. dengan ujung sepatu Iris masih tersangkut di joknya. Ia butuh sesorang untuk menekan talinya agar tidak longgar. Ranu dapat merasakan ujung-ujung rambut Iris membelai dahinya dari jarak sedekat ini. “Tolong pegang di sini. ketiga benda itu belum juga terikat. Ranu meletakkan karangan bunga itu di keranjang motornya.. Sungguh. karangan bunga. Ranu merasa wajah Iris kian dekat. “Butuh bantuan. Sulit sekali melakukannya sendirian. Ranu menarik tubuh Iris yang separuh gemetar dan mendudukkannya di trotoar. Ranu kemudian beralih ke motornya yang terguling di trotoar. membuat Ranu tertawa. Iya nih. Sudah beberapa menit Ranu berkutat dengan tali. Iris belum muncul.. dan keranjangnya. Ranu berusaha mengikat karangan bunga itu ke keranjang motornya. Ranu sigap menangkap tubuh Iris sebelum gadis itu jatuh mengendus trotoar. Ranu akan diam dan menikmati apa yang mungkin terjadi jika saja ia tak menyadari bahwa motor di hadapannya juga ikut bergerak mendekat.” Iris segera menekan bagian tali yang ditunjuk Ranu kuat-kuat. Terpaksa dia harus mengangkat karangan bunga itu seorang diri. “IRIISSS. Ahaha. Rasanya detik berlalu dengan sangat lambat saat itu. Ris. BRAK!!!!! Motor berisi karangan bunga itu kini tergeletak di trotoar. melompat mundur tepat sebelum Iris dan motor itu menimpa tubuhnya. Tapi.

dan karangan bunganya rontok beberapa. Seolah membiarkan Ranu terbius oleh tiap mili jemari Iris yang meremas lengannya dengan lembut dan bertenaga. “Kamu nggak pa-pa.motor berisi karangan bunga itu ke posisi wajarnya. Iris menggeleng. Pak.” Ranu menyodorkan botol itu kepada Iris. Motornya hanya lecet sedikit.” Ranu mengerjapkan matanya beberapa kali. Masih terlihat syok meski tak separah tadi.. nggak apa-apa kok. Wajahnya agak pucat. Tampak ngeri.” Iris melirik ke belakang Ranu. sebisa mungkin berusaha membuat Iris tidak merasa bersalah. Iris masih duduk di kursi plastik dekat pintu. Oke? Tunggu di sini ya. tangan kamu dingin banget. Pak. Pak. Iris dibiarkan duduk di kursi plastik dekat pintu. Tangan itu dingin sekali.enggak pa-pa.. ia menoleh. itu mah nggak pa-pa. Ris?” Ranu berjongkok di hadapan Iris dengan panik. Ranu lantas membantu Iris berdiri.. Kamu duduk aja di sini.. Ditatapnya tangan Iris yang menggenggam lengannya.” Ranu berbalik. Iris mengambil botol dari tangan Ranu dengan hati-hati.. bisa saya betulin sedikit.. Ia memperhatikan tangan dan lengan Iris dengan khawatir. Ranu membeli sebotol air mineral di warung yang tak jauh dari tokonya. Cepat-cepat keluar dari toko.” 64 . Pak. menghampiri Iris yang terduduk di pinggir trotoar. Ranu sangat khawatir gadis mungil itu kenapa-napa.. “Duduk dulu deh kamu di dalam. Takut kalau-kalau gadis itu terluka akibat insiden barusan. Biar saya cari air dulu. “Nggak nggak. Iris cepatcepat menarik tangannya lagi.. “Sebentar. Pucat di wajah Iris masih jelas terlihat. dan membawanya masuk ke toko. Ris. kamu harus minum buat ngilangin kaget. Tampak bulir-bulir keringat pada dahi gadis itu.” “Ah. “Ini airnya..” Ranu tersenyum. Sepertinya melihat ke arah motor Ranu.” Tiba-tiba Iris menarik lengan Ranu... Ia masih merasakan jemari Iris yang tadi meremas lengannya. Masih bisa diperbaiki. berusaha mengembalikan kesadaran otaknya yang terbius barusan. Ranu berusaha mengumpulkan suaranya lagi. “Eng. Ranu sangat kaget. Kemudian bergegas kembali ke toko. saya. “Anu. Ranu berbalik... Membuat lengannya berdenyut dengan sensasi yang membius otaknya. Bumi seakan berhenti berputar sejenak.makasih.nggak usah. Maaf. saya cari air dulu. “Ma. Masih layak kok. lekat-lekat. “Itu.” “Ng.tadi saya nggak sengaja.” Ranu menyentuh tangan Iris sedikit. tadi.. Ris. ya.

” “Udah. berusaha ingin membantu. nggak apa-apa.” Ranu tertawa pelan. Pak?” “Kamu cobain aja satu-satu. Nggak mungkin kan kamu sengaja? Udah. Saya urus bunganya dulu. Berarti khusus hari Sabtu dan Minggu. 65 . saya nggak pernah hapal kunci mana untuk pintu mana soalnya. diminum dulu airnya. Tadi pagi saat ia baru menghidupkan mesin motornya. “Nggak. Ranu tak peduli meski motornya lecet.  Ranu terpaksa berbelanja bunga dengan menumpang bajaj. Ranu menunjuk toko bunganya dan bajaj yang ia tumpangi segera menepi di sana. Ia terkejut saat melihat Iris sudah berdiri di depan tokonya sepagi ini. Mungkin penyebabnya insiden kemarin itu. mana tega ia membiarkan Iris mengangkat beban seberat itu. kamu nggak kuliah?” Gadis mungil itu menggeleng. “Kamu duduk aja dulu di sini. asal gadis mungil yang kini duduk di dalam tokonya baik-baik saja. “Sabtu-Minggu saya libur.” Iris meneguk air itu. Iris menghampiri. Pak. Iris. “Loh. Ris. tiba-tiba saja knalpot motor itu lepas. ya. nih. Pak.” Ranu ber-oh panjang sebelum akhirnya menurunkan ember bunga dari bajaj ke trotoar.Ranu menggeleng. “Maaf. ia akan seharian bersama Iris di toko. Pekerjaan membuka pintu jauh lebih ringan ketimbang mengangkat ember bunga. Ris.” Tersenyum. Berat. Sejujurnya ia kurang suka naik bajaj..” Ia mencari-cari sesuatu dalam saku celana jins nya. “Jangan..” Ranu melangkah keluar toko.” Ranu menepuk bahu Iris pelan. tak peduli meski bunganya rontok.” “Kuncinya yang mana. Ia berusaha memperbaiki karangan bunga di atas motor yang tadi terguling. “Kamu bukain pintunya aja. Ranu menggeleng. “Itu kecelakaan. tapi naik taksi akan jauh lebih mahal. benar-benar berusaha menghilangkan rasa bersalah yang ia yakini kini mendera Iris. Menarik keluar sekumpulan kunci dan menyerahkannya pada Iris..

Ris. Pak. Gadis mungil itu berbalik. betul saja dugaan Ranu. Ris?” “Nah! Bisa nih. tapi belum berhasil juga. “Mending kamu belajar bikin karangan bunga. Sepanjang hari juga Ranu berharap bahana orchestra di balik kaosnya tidak didengar Iris dari jarak sedekat itu. Teringat lagi pada knalpot motornya yang lepas pagi tadi..Iris memandangi kunci-kunci yang diserahkan Ranu ke dalam tangannya.. Sepertinya gadis itu sadar kalau Ranu berusaha „menipu‟nya.. “Saya serius.. dan perkakas lainnya. Ranu nyaris saja tertawa melihat kegigihan gadis itu. Mulutnya juga tidak terkatup rapat.” Iris menggeleng-gelengkan kepalanya.” Ranu tak bisa menahan tangannya untuk tidak menepuk kepala Iris pelan. Ranu menyingkirkan ember-ember bunganya dari trotoar ke depan tokonya persis. berjalan ke arah pintu. 66 ..” Ranu tersenyum lagi. sebisa mungkin berusaha menenangkan Iris kembali. sepanjang hari Ranu mengajari Iris untuk membuat buket bunga dan karangan bunga.. Ris. kalau belanja selalu naik bajaj.” “Lepas?!! Gara-gara kemarin jatuh. “Bisa nggak... Ris. Knalpotnya lepas. “Biasanya naik motor.” “Motornya. Ia memperhatikan Iris yang serius menyocokkan kunci-kunci dalam tangannya dengan lubang pintu satu persatu. “Motornya lagi di bengkel. Mengambil gunting. Mendadak terlintas ide untuk menghentikan pembicaraan seputar knalpot yang ia yakini tak akan ada habisnya. Seolah-olah bukan insiden kemarin penyebab lepasnya knalpot motor Ranu.. Bibirnya menyungging sedikit. “Daripada kamu mikirin knalpot motor.” “Eh? Saya nggak bisa. Iris. Ranu berusaha menahannya.. Kedua mata Iris terbuka lebar.” “Be.” Ranu menyeret Iris ke meja kerjanya. Ia tersenyum. “Bukan gara-gara kemarin.” Iris menjerit girang seakan baru saja menyelesaikan teka-teki silang. Tawa Ranu nyaris meledak saat itu juga. “Bisa.betulan. Pak?” Iris menatap Ranu dengan tatapan menyelidik. Hari itu.. Pak?” Ranu separuh yakin Iris akan panik jika mendengar jawabannya. Gadis itu panik. ya?” Ranu menggeleng. “Pak.saya ajarin. Pak.kenapa..udah lama emang agak bermasalah knalpotnya. “Bukan. Pak?” Nah.” Ranu mengambil beberapa tangkai bunga dari ember di sebelahnya. Sudah satu menit gadis itu mencoba.

. Ranu nyaris terjungkal dari kursi karenanya. Untuk mengisi ruang kosong dalam hatinya yang telah ditinggal mati penghuni sebelumnya. Tapi. apakah perasaan ini benar-benar nyata? Atau hanya perasaan sesaat saja karena terlalu lama ia menduda? “Pak Ranu. Pikirannya sedang berwisata entah ke mana tadi.. Pak. Memenuhi mimpi-mimpinya tiap malam.. Tumbuh. Ranu menikmati senyum malumalu itu. Mimpi untuk menjadikan gadis mungil itu sebagai ibu dari Lilac-nya. Gadis mungil itu terlihat semakin bersemangat setiap harinya. semakin melekat sosok mungil itu dalam tiap lipatan otaknya. caranya menunduk setiap pulang diantar Bang Jay. Bahwa Iris tidak memenuhi kriteria sosok ibu yang sesuai untuk Lilac-nya.. bahkan. Ranu sadar. Ranu seringkali melihat Iris senyum-senyum sendiri ketika Ranu sibuk___tepatnya pura-pura sibuk___merangkai bunga. “Maaf. Ia tak menyadari kehadiran Egi sedari tadi. sadar sekali bahwa Iris terlalu muda untuk menjadi pendampingnya. ketekunannya saat belajar membuat karangan bunga. Lelaki gempal di hadapannya tertawa.” “Loh?! Egi?!!!! Kapan kamu dateng???” Ranu segera berdiri dari kursi dan menjabat tangan pegawainya itu.. Menyebar. Ranu tak bisa memungkiri betapa dia sulit menghilangkan bayang Iris dari dalam benaknya.. Ah. Semakin Ranu berkata tidak. Dan berbunga. Satu pertanyaan berputar-putar dalam kepala Ranu. 67 . Sudah seminggu. Membuat Ranu enggan terbangun dari tidurnya. Aster-nya tercinta. Ranu juga menikmati wajah serius gadis mungil itu saat menyemprot bunga-bunga dengan air. gerak ala paskibraka gadis mungil itu tiap kali Ranu tersenyum padanya. enggan menghadapi kenyataan bahwa ia hanya bermimpi. tidak cuma senyum malu-malu itu.Pak.” Seorang lelaki menyentuh lengan Ranu pelan-pelan. Auranya menulari Ranu untuk ikut bersemangat juga. Ranu memperkerjakan Iris di tokonya. wajah lelah gadis mungil itu saat mengangkat kantung sampah. Ada benih yang mulai berkecambah dalam dada. Menggeliat.

“Udah nggak apa-apa kok. “Acaranya kapan.. “Ah ya. “Udah. Egi manggut-manggut beberapa kali. Lelaki gempal itu meletakkan tasnya di lantai. Agak nggak enak juga nolaknya. saya sih setuju aja. sekarang udah nggak apa-apa?” Ranu sungguh prihatin mendengar kabar ayah Egi itu.kalau si Iris ini kita tahan sampai dua minggu lagi.. Egi mengangguk lagi.” 68 . “.” “Tapi.tapi. kemarin-kemarin sempat saya ajarin.” Ranu mengangkat bahunya. “Pegawai yang gantiin saya itu gimana jadinya. Ranu juga menceritakan perjanjiannya dengan Iris. Ada penyumbatan di kepala. Acaranya juga nggak mewah banget kok.. Sedikit bingung. kamu setuju. Gi?” Egi mengembuskan napasnya. Pak.” Ranu berhenti sesaat sebelum mencetuskan ide gilanya. Pak? Saya nggak keberatan kalo dia bisa.. Ternyata kena stroke ringan. cuma. menyeka keringat di dahinya. Ranu menghilangkan bagian dugaannya tentang kemungkinan Iris adalah mahasiswi yang mengajak Egi berkenalan beberapa waktu lalu itu. Pak.” Egi tersenyum. Pemesannya teman lama saya. “Dia bisa ngerangkai bunga. “Dikit sih.” “Wah. kalau menurut Pak Ranu dia oke..jadi begini.. duduk di hadapan Ranu. Pak.merasa sedih? “Semalam. haruskah ia senang karena pegawainya yang berbakat ini kembali? Atau.” Ranu menceritakan kronologis bagaimana seorang Iris akhirnya bisa menjadi pengganti Egi di tokonya.jangan nanti kita berdua jadi keteteran aja.” “Ya.“Baru kok. “Kalau. Pak?” Wajah Iris yang tersenyum langsung terlukis sempurna dalam kepala Ranu saat Egi menanyakan gadis mungil itu. Kata dokter sih begitu.. Pak?” “Dua minggu lagi... lalu.. bahwa jika Egi telah kembali maka Iris tak perlu bekerja di toko itu lagi. Pak. Sederhana aja. Gi. “Kapan sampai di Jakarta?” Ranu kembali duduk di kursinya.” Egi menggaruk tengkuknya dengan wajah bingung.” Egi diam sebentar. Pak.” Egi membetulkan letak kacamatanya. “Ayah kamu udah sehat? Sakit apa jadinya?” Egi mengangguk. itu. Gi. Pak. masalahnya pagi tadi saya dapet pesanan bunga buat acara pernikahan. saya sendiri kurang paham.

” “Makasih. Ranu meminta Egi untuk membawanya berkeliling sebentar. Rencananya besok saya ajak Lilac jalan-jalan. ini mudah-mudahan Lilac sudah mau makan lagi kalau denger kamu mau datang besok.. Kekeliruannya selama ini. Bahkan dia juga nggak mau ngomong sama kamu.” “Seharusnya kamu jangan janji dulu kalau belum ada waktu. Sekadar memastikan bahwa knalpotnya tidak akan lepas lagi. Ranu sedang sibuk dengan guntingnya ketika Ibu mertuanya menghubungi ponsel Ranu. Dahi Ranu berkerut. Ya sudah. Nu?” “Iya. Saya khawatir dia sakit. kemarin sore ternyata lepas lagi. Dua orang gadis termangu di sana.. Dua minggu tambahan akan menjadi bonus spesial baginya. Dia jadi ngambek begini. Ia menyadari sesuatu. Sosok yang sering ia lihat bengong memandangi angkasa di lantai tiga gedung itu rupanya bukan mahasiswa. “Ya Bu?” “Nu. Nu.” 69 .. Lima belas menit yang lalu.Keduanya lalu diam. Egi memandangi tasnya di lantai..” “Ini dari tadi ibu sama adikmu lagi usaha bujuk Lilac biar mau makan. motor itu baru kembali dari bengkel. Siapa yang tidak ingin berada lebih dekat dengan orang yang dikagumi selama dua minggu lagi? Mata Ranu yang menerawang.” “Iya. Lilac-mu ngambek ini.” “Iya. Besok jangan sampai batal lagi. jaga diri baik-bai ya. Bu.” Suara ibu mertuanya terdengar khawatir. Bu. Dia mahasiswi. tolong sampaikan salam saya ke Lilac ya. Besok saya pasti ke sana. Nu. Bu?” “Dia nggak mau makan sebelum ketemu sama kamu. Bu.” “Iya. saya tau dia ngambek karena hampir sebulan saya nggak mampir ke sana. “Kenapa lagi. Dia. tolong dibujuk dulu biar mau makan. Ranu menerawang ke luar toko.Iris!  Motor Ranu yang knalpotnya lepas seminggu yang lalu. tak sengaja tertumbuk pada satu titik di lantai tiga gedung kampus di seberang tokonya. Kamu janji sama Lilac. Nu... Bu.

.sore.. Ris. Pak?” “Bentar ya... Sebelum ia justru menjadi keceplosan bicara soal pembicaraan telepon tadi. Menduga-duga reaksi Iris ketika melihat Egi. Sepertinya berusaha memanggil memori dalam kepalanya.. duduk dulu... ada yang mau sa ya omongin.. apa. itu knalpot motornya udah nggak masalah pas saya coba barusan.” Ranu melirik Iris.” “Oh. sudah jelas. Mungkinkah mahasiswi yang diceritakan Egi adalah..” Ranu balas tersenyum... Apa jadinya jika gadis itu. tunggu satu orang lagi. Pak. Pantas jika gadis lima tahunnya itu mogok makan demi mendapat perhatian dari ayahnya. Ris?” Iris menggeleng.. ya?” Deg. Tak akan ada penghuni baru dalam beranda hatinya.. ya.ru kok. Ranu baru akan melanjutkan pekerjaannya saat melihat sosok Iris terpaku di pintu masuk dengan separuh badan di dalam sementara separuhnya lagi masih di luar.. Mulai hampir yakin dugaannya benar. mimpinya selama seminggu ini hanya akan jadi mimpi saja. 70 . “Gi.tahu tentang status duda-nya?? “Kamu. udah dari tadi. Ranu harap.. Mulutnya terbuka. “Sore.Iris? “Pak. “Ah.gitu. tak seperti dugaanya.. “Ada. Dalam hati ia sibuk menduga-duga apakah gadis itu mendengar obrolannya di telepon barusan? Apakah wajah datar Iris dan senyumnya yang biasa itu benar-benar nyata? Atau hanya pura-pura saja? “So. Dia memang sudah sebulan ini tidak mengunjungi Lilac-nya. Kekikukan ini harus segera dialihkan. Sungguh berharap Iris tidak mendengar percakapannya barusan. “Yang ketemu di tukang soto..” Egi mengerutkan dahinya.Ranu mengantongi ponselnya lagi.” Iris menarik kursi plastik di dekat pintu hingga ke seberang meka kerja Ranu.” Ranu diam sebentar. Teringat obrolannya dengan Egi pagi tadi. Ranu melihat sekilas ekspresi Iris yang tampak kaget. “Iris. gadis mungil itu duduk di sana.. Lantas. Jika ya. ini yang gantiin kamu selama ini..” Egi muncul dari pintu setelah mencoba motor Ranu yang baru saja kembali dari bengkel.” Ranu tersenyum. Pak. Ranu harap kalimat yang akan diucapkan Egi. Sejak kapan gadis itu di sana??!! Ranu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas keberadaan Iris di sana. “Ba...” Kalimat gugup itu terdengar sangat mencurigakan bagi Ranu.

Saya juga kaget bisa ada di sini. saya gaji kamu kayak si Egi. kamu kerja di sini sampai Egi pulang. Ranu berdeham pelan. Bikin Ranu makin merasa. “Apa kabar? Kaget ternyata kamu orangnya. Iris dan Egi menoleh ke arahnya. jadi. Tampak bingung.gerah. Senyum ketika seorang pria berusaha akrab dengan wanita. “Jadi. Ris. Acaranya sekitar dua minggu lagi.” Deg. “tadi saya ngobrol-ngobrol sama Egi.... Ia sungguh berharap Iris tidak akan menolaknya.” Egi tersenyum.” Iris tersenyum.. Menjabat tangannya.” Iris mengekeh sesudahnya.” “Kamu bantu kita di sini. “Sampai dua minggu ke depan. Kerongkongannya mengering dan seperti dipenuhi pasir di sana... Entah angin panas dari mana.si wanita tersenyum. Kembali berdoa semoga keputusannya tidak salah. ... jangan lupa pesen bunganya kemari. “Gampang. karena tadi saya dapet pesanan bunga buat pernikahan. kalau kamu nggak mau. “Kalo jodohnya dapet. Ada senyum kecil di bibir mungilnya. Ris. berdoa semoga keputusannya ini tidak malah membuat Egi dan Iris semakin dekat. “Tapi. Refleks. Bukan acara besar sih. “Gimana?” “Kamu tetep kerja di sini.. Tanpa Ranu di dalamnya. Iris melongo. Senyum yang sulit diartikan maknanya oleh Ranu.nggak apa-apa. berusaha memberi kesan kalau ia tidak terlalu berharap Iris mau.” Ranu menarik napasnya.. Saya bilang kalau perjanjian saya sama kamu itu. Nanti saya cari orang lain. Senyum ketika seorang pria ingin melihat..” Ranu kemudian menambahkan. Meski ada kemungkinan gadis itu menerima tawaran Ranu karena pria di sampingnya..Egi menghampiri Iris. Ranu melirik Iris. Ranu merasa gerah tiba-tiba. Seakan deham Ranu barusan mengembalikan keduanya dari dunia milik mereka berdua. “Baik. “Tapi.” Egi menyelesaikan kalimat Ranu yang masih menggantung. Senyum ketika seorang pria ingin membuat pipi wanita merona malu-malu. Meski harapannya justru sangat besar.. yaa. Senyum menggoda..” Beberapa detik keheningan saat Iris berpikir terasa sangat lama bagi Ranu. Seakan barusan Ranu bicara dengan bahasa planet lain. dan butuh pegawai tambahan.” Ranu mulai bicara. 71 .” Ranu menegaskan sekali lagi. Untuk kali ini...

Saya bersedia. Ranu melirik Egi yang berdiri di samping Iris.. Ris. Dalam hati Ranu berterima kasih pada anak buah 72 .. Egi menepuk bahu Iris.” Ranu mengembuskan napas lega.” “Siapa tahu masih lama.” “Naik bajaj aja.” Iris berkeras. “Enggak apa-apa.. Ris!” Egi tiba-tiba berceletuk. Ranu menghampiri keduanya.” Ranu membujuk. “Selamat datang di toko kami!”  Ranu sibuk mengunci pintu tokonya.nunggu di sini aja deh. Mungkin jika ia menawarkan diri. Pak. “Kamu nggak takut naik bajaj kan..... “Ris.enggak kok.. Iris cepat-cepat menggeleng. Saya nggak masalah nunggu sebentar di sini.. “Eng. Pak. Cuma. Ranu melihat sedikit garis ketakutan pada wajah gadis mungil itu. gimana?” “Wah! Iya tuh. Sangat jelas terlihat ketakutan pada wajah Iris sekarang. “Nggak perlu cari orang lain. Dia teringat kalau tempat tinggalnya dan kosan Iris kebetulan satu arah. Pemandangan itu membuat Ranu merasa makin gerah. Egi tersenyum pada gadis mungil itu. Dia sebal karena tak juga ingat untuk memisahkan kunci-kuncinya dari satu gantungan kunci tersebut. “Belum.. “Boleh juga kayaknya naik bajaj.. Makin mengurangi jatah oksigen yang harusnya ia hirup. Jangan-jangan.Iris mengangkat bahunya...kayaknya lagi ada penumpang lain. Egi yang menggaruki tengkuknya dengan salah tingkah itu membuat Ranu benar-benar tidak nyaman.. Ranu melirik anak buahnya itu. Rasanya seperti ketika Ranu kecil melihat bocah lain yang mengambil alih mainan kesayangannya. berdiri di sebelah Iris. Berdua di pinggir trotoar jalan. rumah Pak Ranu kan ke arah sana juga!” Egi mengangguk anggukkan kepala tanda setuju. Bang Jay belum muncul juga?” Iris tersenyum.. “Kalau bareng saya. Mau tak mau terpaksa mengakui kalau bajaj memang alternatif yang bagus..” Ranu tertawa pelan.” “Saya. Pak. Ris?” Egi seakan meneriakkan pikiran Ranu.

. Debaran jantungnya masih belum kembali normal. Iris turun dari bajaj. 73 .. Ranu melirik nomor yang terpaku di samping pintu masuk kosan Iris. mengangguk. kan?” “Atau kamu justru takut naik bajaj sama saya. Semakin menyadarkan Ranu betapa dekat jaraknya dengan Iris saat itu. Apa yang akan ia lakukan jika mengetahui anak gadisnya duduk berhimpitan dengan seorang duda beranak satu seperti. Berusaha untuk tidak menautkan jemarinya pada jemari Iris yang berjarak hanya beberapa senti saja dari tangannya. Sebelum jiwa „ayah‟ menyadarkannya kembali. Ranu memandangi kosan Iris dengan seksama. 4 Hormon yang meningkatkan debaran jantung dan tekanan darah. Dopamin4 dalam tubuh Ranu meningkat tajam saat duduk berhimpitan dengan Iris di dalam bajaj.yang mendukungnya itu. Ranu lantas mengetuk-ngetukan jemarinya ke pahanya sendiri. kosan kamu masuk gang ini?” Ranu melirik Iris sambil menunjuk sebuah gang. agak terburu-buru. Iris menepuk bahu tukang bajaj kuat-kuat. Ranu berkeringat. Atmosfer di dalam bajaj membuat Ranu makin merasa gerah... Sebisa mungkin Ranu berusaha mengabaikan bahu Iris yang bersentuhan dengan tubuhnya. Tepat sebelum bayangan Lilac terlintas dalam kepalanya. 31B..dirinya? “Ris..” Meski mulanya berkeras untuk tidak naik bajaj dengan alasan yang tidak mau Iris jelaskan. “Yaaa. Mendadak ia merasa kembali ke masa-masa SMA nya dulu. Kenapa Jakarta begitu kering malam ini? Ke mana angin malam yang biasanya menusuk tulang itu?? Iris menoleh sebentar. ia menyeka keringat di dahinya. “Stop!! Stop!! Stop!!” Jeritan Iris mengembalikan pikiran Ranu yang melayang sejenak kembali ke dalam bajaj yang sempit. Bajaj itu menepi. pada akhirnya gadis itu menguntit Ranu menumpang bajaj. Satu bulatan air liur menggelinding masuk ke kerongkongannya.. Iris buru-buru menggeleng. Pak. Sesuatu jatuh. Ris?” Egi terbahak mendengar kata-kata Ranu barusan. daripada kita nungguin si Bang Jay yang nggak jelas kapan datengnya di sini. Makin berkeringat. Makin. nyaris membuat Ranu terjungkal dari motornya.. “Eng. Makin panas. Sekarang ia malah merasa suhu tubuhnya meningkat. Merasa pernah ke daerah itu. Sementara Egi menyeberang jalan dan naik bis ke arah yang berlawanan dengan mereka berdua.enggak kok.

Pak. Meninggalkan Iris yang entah masih berdiri di depan pintu kosannya atau tidak. Terima kasih. “Saya pulang sekarang. ya. Sosok yang membelakanginya di jendela tertawa.. tapi Ranu kemudian mengangkat kelima jemari kanannya sedikit sebelum bajaj itu berbalik arah dan kembali melaju. betapa gadis ini sungguh membuat Ranu selalu ingin tersenyum dan tertawa. buat kunci toko.  74 . sekali lagi. Ranu senyum-senyum sendiri di dalam bajaj. terima kasih. Meninggalkan kosan Iris..... Biar dipisahin aja sama yang lain. mengalihkan tangannya ke tengkuknya sendiri. “Iya. Sedetik sebelum ia benar-benar berhasil menyembunyikan tawanya. “Ini.” Kali ini Ranu benar-benar tersenyum. Menyodorkannya pada Ranu.. Ranu ingin tertawa. Ris.. Ris.” Ranu menunjuk gantungan kunci berbentuk bunga matahari pemberian Iris. saya pulang dulu. Sesaat Ranu dan Iris hanya saling tatap.” Ranu mengekeh pelan. Sedikit ragu. Tawa itu ia tahan hingga hanya tercipta senyum kecil di bibirnya. Iris tersenyum. Pak?” Sesuatu itu kaus kaki. “Kamar kamu di sebelah mana?” Iris menunjuk sebuah jendela di lantai dua. Iris mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk bunga matahari.. “Saya sendiri selalu lupa buat misahin kunci itu. Ranu benar-benar tak menyangka Iris ingat pada sekumpulan kuncinya yang disatukan pada sebuah gantungan kunci saja. jatuh dari lantai dua. Iris.“Ini.kosan kamu. Iris mengangguk pelan. Ranu menggeleng. Ranu sibuk menduga-duga apa yang akan dikeluarkan gadis itu dari sana. Pak. Pak.. Tertawa sekerasnya-kerasnya saat itu juga.. Tak sadar. kenapa...” “Sebentar. Sebelum akhirnya Ranu sadar tangannya nyaris menggapai jemari Iris. Kenapa?” Sosok itu.. “Nggak kenapa-napa.. Ris. Ranu sendiri bahkan tak juga ingat untuk membeli gantungan kunci lain.” Iris tiba-tiba merogoh kantong celananya.. Ris?” Iris mengangguk... “Yang itu kamar saya.. Ranu berdeham pelan.

Hmm? Ahh. Tersenyum dalam tidurnya. saya sangat mencintaimu. suara itu. Menggenggamnya. saya rindu.Ranu duduk di balkon kamarnya.. Jiwanya merayap naik ke lantai dua. maaf.. Hanya tersenyum. Lilac kita? Sosok itu menganggukkan kepalanya lemah. Di pipinya... Perempuan itu masih tersenyum.. Matanya terhenti pada satu bunga. Mampir sesaat lebih tepatnya. hanya. Kenapa menjadi ayah tunggal terasa begitu berat? Ranu bersandar di kursinya... Menelusup masuk lewat celah-celah di pinggir Jendela. Seperti kumpulan asap rokok yang menyesakkan dada. bahwa dia adalah seorang ayah. Lilac kita. Perlahan wujudnya memudar... Ia berjengit kaget saat melihat ada sosok yang tahu-tahu saja duduk di sebelahnya. Saya. Aster? Aster? Aster? 75 .. Menyadarkan jiwanya. Bunga berwarna putih dengan gradasi warna ungu di dasar mahkotanya. Suara yang sangat ingin ia perdengarkan pada Lilac-nya.maaf. berusaha menggapai tangan Aster-nya..hanya saja. Aster? Aster di sebelahnya itu tersenyum. Ranu mengembuskan napas panjang. lantas membelai wajah Ranu.. tak berani menatap. Memandangi pot-pot bunga yang berjajar rapi di sepanjang pagar balkonnya.. Dingin. Ranu mengerjapkan matanya.. lembut sekali. Ranu dengan takut-takut. Jemari Aster mengangkat wajah Ranu. Aster.. Ranu tertunduk. Sudah berapa lama tangan itu tak membelai wajahnya? Aster. Bunga Iris. Menyesap kopi di cangkirnya. Untuk Lilac kita..saya. Aster tak berkata apa-apa. Sosok itu makin memudar... meletakkan cangkir kopinya. Jiwanya terbang ke satu tempat yang beberapa jam lalu ia kunjungi.berbeda. Rambutnya yang terurai bergerak-gerak tertiup angin. gadis ini. Mimpi apa gadis itu malam ini? Mungkinkah Ranu bisa sebentar saja ada di dalamnya? Untuk sekadar mengucapkan selamat tidur padanya? Mengecup sedikit keningnya? Tiba-tiba wajah mungil Lilac melintas dalam pikiran Ranu. Barangkali gadis itu sudah lelap di kasurnya.. memaksa jiwanya pulang kembali ke balkon kamarnya di lantai dua.. Ranu masih merasakan samar-samar dingin dalam genggaman tangannya.

Rumah itu tak pernah berubah. Ranu menggeleng pelan sambil mengangkat tubuh Lilac-nya. manja yaaa..” Ibu mertua Ranu mendecakkan lidahnya. Ia memijit pelipisnya sedikit. udah salam belum sama ayah? Hayoo hayoo. Sungguh berharap Aster juga melihat anak gadis mereka yang tumbuh semakin menggemaskan itu. Berdiri. gendong.. “Kemarin kamu nggak mau makan yaaa?” Ranu mencubit hidung Lilac-nya dengan lembut. kalau nggak mau makan. nggak boleh bilang kayak gitu. Berusaha melupakan mimpi anehnya itu. nanti kamu nggak bisa secerdik kancil loh!” Gadis kecil itu memonyongkan mulutnya.. 76 . Lilac mengecup punggung tangan Ranu. memeluk Lilac-nya dengan penuh rasa sayang. ayahnya.kayak si Riri di kelas Lilac.. Melakukan seperti yang Lilac lakukan barusan. “Nggak setiap hari. Sekelilingnya sudah terang benderang. “Nenek tukang ngadu. Nggak apa-apa.” Ranu mengangguk.. “Lilac.“ASTER!!” Ranu berteriak tepat sedetik sebelum matanya terbuka lebar.” “Ehhh.” “Eeehh. Nu.” Ranu duduk di sofa ruang tamu yang sederhana. Bahkan semenjak Ranu pertama kali ke sana ketika masih SMA. Ranu tersenyum pada ibu mertuanya. Ia memandangi sekitarnya dengan mata yang disipitkan.... Lilac kan udah gede. “Katanya mau jadi seperti kancil yang banyak akal. menepuk punggung anak itu agar menyalami Ranu.. Lilac menarik-narik tangannya.” Ranu tertawa pelan. “Masuk dulu. Ranu berjongkok sambil tersenyum.  “Ayaaaaaaaaahhhhh!!!!” Lilac kecil berlari menyongsong Ranu yang baru saja melangkah masuk ke halaman rumah mertuanya. Ranu tertidur di balkonnya semalaman. “Ayah.. Tak ada siapa-siapa lagi selain dirinya di sana. Memutuskan untuk segera pergi mandi dan berangkat menjemput Lilac di rumah mertuanya.” Ibu mertua Ranu berdiri di belakang Lilac. salam dulu. Bu..

dan tiga manusia yang bergandengan tangan. Sehingga ia tak perlu mengomentari katakata ibu mertuanya barusan.. Dia juga mengerti hal itu.. Teringat pada istrinya yang juga tak pernah bisa duduk diam semasa SMA dulu. entah kenapa Ranu selalu merasa „berkhianat‟ jika ia menggantikan posisi Aster dengan orang lain. dan... Pada anak lain yang digandeng ibunya. begitu menusuk hati Ranu. “Ini siapa. Ranu merasa anak itu semakin lincah saja. mengembuskannya perlahan. “Ayah.. Apakah Aster-nya tidak akan marah jika Lilac mereka memanggil perempuan lain dengan sebutan ibu? Ranu merasa sangat tertolong ketika Lilac sudah kembali lagi dengan kertas gambar di tangan kanannya. “Ini ayah. “Anak itu semakin besar.“Lilac. Seharian penuh Ranu mengajaknya wisata di kawasan ancol.. ibu rasa. 77 . Anak itu tertidur dalam gendongan Ranu ketika diantar pulang ke rumah neneknya lagi.”  Wajah Lilac kecil masih terbayang dalam kepala Ranu.. Nu.” Perempuan baya itu menatap mata Ranu lekat-lekat. Lilac tersenyum lebar sekali.Lilac butuh seorang ibu. Bibirnya yang menguncup lucu dan berkata. Tapi. ibu. dan bersandar pada kursi metromininya. atau kakek kepada Lilac jika dia makin dewasa. Gadis kecil itu berlari ke lantai atas... katanya kamu mau ngasih lihat gambar kamu yang dapat nilai delapan itu ke ayah.” Lilac melompat turun dari pangkuan ayahnya dan menuruti perintah neneknya. Nu. Pada anak lain yang disuapi ibunya.Lilac dapat delapan dari bu guru. “Nu. nenek.. ibu. Seharian juga Ranu menangkap mata anaknya yang memandang iri pada anak lain yang dibelai ibunya..” Lilac menunjukkan gambar sebuah rumah. Lac?” Ranu menunjuk gambar tiga manusia dengan tinggi berbeda yang kurus-kurus itu. Lilac.” Ranu mengembuskan napasnya. Ranu menarik napas dalamdalam. Garis-garis usia tampak jelas di wajahnya. Tampak sangat lelah dengan keadaan. Banyak hal-hal yang tak bisa dijelaskan seorang ayah.coba diambil sana... Menatap keluar jendela. sebuah pohon.

. Ranu berhenti sebentar.. “Kalian udah makan malam?” Kedua gadis di hadapannya menggeleng. Gadis itu pasti sudah pulang sekarang. Entah kenapa.. bagus kalau gitu.. Ranu maju beberapa langkah. Terlintas pikiran untuk mengajak Iris makan malam.” Ranu mengangguk-angguk pelan. Tepat satu langkah di hadapannya. Pak.” katanya memperkenalkan diri. “Iris? Kok belum pulang?” Rupanya ia tak salah lihat. Iris cepat-cepat menambahkan.” Eta tersenyum. memicingkan matanya. memastikan bahwa ia tak salah lihat. Pak?” 78 .. “Enggak.. Sedikit sungkan sepertinya. menuju tokonya.. Kenapa tiba-tiba dia ingin bertemu Iris? Ranu melirik jam tangan peraknya. ia sangat ingin bertemu gadis mungil itu. “Ada tukang nasi goreng langganan saya sama Egi di dekat taman situ. pukul delapan lewat dua puluh menit. Mendadak.. Bukankah gadis itu seharusnya sudah pulang? “Pak Ranu?” Suara yang sudah sangat dikenali Ranu.” “Makan sama-sama aja. “Motornya nggak apa-apa waktu itu?” Eta menggeleng.” Iris melirik teman perempuan di sebelahnya.” Ranu menunjuk ke satu arah... Ranu mengingat gadis itu sebagai orang yang berteriak histeris ketika beberapa waktu lalu Iris melindas bunga-bunganya.. Ranu melihat dua orang baru saja keluar dari tokonya.. Dari kejauhan. berdiri Iris dengan seorang temannya. Ada perasaan seperti. Gadis mungil itu. “Itu.” “Oh. Berlari kecil menyeberang jalan. “Oh. melambai pada Egi yang buru-buru keluar toko. Pak. perlahan bias menjadi bayang-bayang Iris dalam matanya.. Jarang-jarang kan saya traktir. Lantas. Mungkin takut Ranu akan menegurnya soal insiden yang sudah Ranu ikhlaskan itu. Iris dan temannya..” Ranu tersenyum. Cuma lecet-lecet dikit. Pak. “Kenapa.” Ranu diam sebentar. Ranu merasa tak akan ada kesempatan untuk mengajak gadis itu keluar. Lampu toko dan lampu di sisi trotoar membantu Ranu melihat kedua sosok itu. Saya yang traktir. “Nanti kita beli makan di warteg deket kosan. “Eta.. Ranu turun di depan kampus Iris. akan kehilangan dalam dadanya. Gadis itu buru-buru menyalami Ranu.Kilatan-kilatan lampu kendaraan yang Ranu perhatikan..tadi saya nunggu dijemput teman saya. “Saya yang punya motor matic yang dipake Iris waktu itu.

. Pak. Menegakkan kepalanya lagi.“Tiba-tiba kangen nasi goreng yang di deket taman situ. Ranu cepat-cepat menoleh.” 79 .” Ranu ber-oh panjang. Ranu tersenyum. Mereka berempat berjalan kaki menuju taman kota yang tak terlalu jauh dengan toko Ranu. Ris?” Iris mendongak sedikit. “Ada yang lucu..”  Empat piring nasi goreng sudah bersih dilahap empat perut yang lapar. Mengikuti bisikan hatinya. “Saya sama Egi nggak ada apa-apa. Kedua tangan Ranu ia kantongi di saku celananya. seakan ia baru saja memenangkan lomba karangan bunga tingkat internasional. yang itu bagus. sebelum Ranu menyelesaikan kalimatnya. Pak... Matanya bertemu dengan mata Ranu. Pelan tapi masih cukup kencang agar gadis mungil di sebelahnya bisa menangkap kata-katanya.. Jadi.” Dua. Sesungguhnya ia hanya ingin berlama-lama dengan Iris malam itu. “Saya bersyukur.. Ranu memandangi Egi dan Eta. Terlalu takut tangannya meraih tangan mungil Iris yang berayun-ayun di sebelahnya. Terlalu gugup.. bergumam pelan. Ada yang tertawa bahagia di dalam kepalanya. “Dua sejoli di depan kita. Itu saja. angkasa terang benderang oleh warna-warni yang mempesona.. mengimbangi kaki-kaki Iris. Egi dan Eta berjalan di depan mereka berdua. Sebelum apa yang Ranu duga-duga sejak kemarin dituduhkan pada Iris. Membangunkan sekumpulan pemain orchestra perkusi di balik kemeja Ranu. “Bukannya. sejoli? Ranu menundukkan kepalanya sedikit. tak ada apa-apa di antara Egi dan Iris.” Ranu mengekeh pelan. “Wah.. Iris tiba-tiba cekikikan geli.. Ranu berjalan menyusuri Iris di sebelahnya... Egi dan Eta menontoni hiburan gratis itu sambil bergumam-gumam kagum. sekalian ajak Iris sama temannya ini. Saya yang traktir. Bukan. Memperpendek langkahnya. Detik berikutnya.. Keempatnya kini sibuk memperhatikan sekumpulan remaja yang membakar sumbu kembang api tepat di seberang tempat mereka duduk.” Iris cepat-cepat menggeleng. mungkin gadis itu sadar pada kegugupannya. kamu sama Egi.

Tak sedikitpun rasa kantuk hinggap di kedua kelopak matanya. Ia bermimpi menemui Iris.“Kayak lagi tahun baru ya.” “Yang ini lebih bagus. menatap angkasa. Tepat sebelum Ranu dan Iris pulang ke tempat yang berbeda. Ranu tertidur di balkon kamarnya. Tapi hanya ada satu bunga yang membuatku kembali jatuh cinta. Tak perlu mendengar ungkapan apa-apa. Ranu sibuk memandangi bunga-bunga di sepanjang pagar balkon kamarnya.” Ranu dan Iris ikut mendongak. Gelap malam perlahan digantikan cahaya mentari pagi. Beberapa jam yang lalu di pinggir taman kota.  80 . Bunga-bunga itu mendadak terlihat semakin indah saja.” Ranu menoleh. memandangi letusan kembang api dalam diam. Ia biarkan panas tubuh menghantarkan semua rasa dalam dadanya dan keringat yang ia rasakan sebagai jawabannya. Dalam keheningan. “Saya sudah tahu soal Lilac. Terutama bunga putih dengan gradasi ungu di dasar mahkotanya yang kini menjadi favorit Ranu. hampir mengangkat tangannya dari atas meja.. Ranu tak sanggup menemukan kata-kata yang pas untuk mengungkapkan ledakan rasa dalam dadanya tadi. Ranu masih merasakan jemari mungil yang tadi bertaut dengan jari-jari tangan kirinya. Ada banyak bunga yang menari di dalam dada. ada jemari yang saling bertautan. tiba-tiba Iris berbisik. Tepat sebelum Ia melihat Iris tersenyum dan menambahkan.. Bunga Iris-nya. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam di jam tangan perak Ranu. manis. Ranu merasa tak perlu mengungkapkan apa-apa. Mengecup kening gadis mungil itu dan mengucapkan.. Ranu hanya sanggup berbisik selamat malam di telinga Iris ketika Egi dan Eta sibuk bertukar nomor ponsel..”  Ada banyak bunga yang menari di angkasa. Di balik kotak tisu.. Telapak tangan yang berkeringat itu. mimpi indah.. “Saya suka anak-anak.

Menjadi ibu dan ayah sekaligus agar anak itu tetap merasakan bagaimana seorang ayah mencintanya. Iris-nya baru akan memasuki semester kelima.“Mau pesen soto?” Irene tersenyum dan menggeleng. Bahkan. Semua yang Irene lakukan selama ini. Irene memicingkan matanya. Irene baru akan melangkah melewati gerbang kampus ketika matanya menangkap sosok yang sudah sangat dikenalinya. tahu laki laki yang duduk di sana nggak. Sosok yang berbincang dengan pria dewasa di seberang sana memang Iris-nya. sementara dia berkunjung ke kosan anak satu-satunya. “Maaf. Bahunya ditepuk pelan. Anak kesayangannya. Sebuah toko bunga. Mengatur napasnya yang sejak tadi tertahan. “Maaf. Menuju kebahagiaan yang seakan telah terenggut ketika ayah Iris meninggal dunia dalam kecelakaan tragis. Irene ingin anaknya lebih bahagia dari anak-anak dengan anggota keluarga lengkap.” Irene diam sebentar. Sosok itu duduk di seberang tempat Irene berdiri sekarang. Gadis mungil berambut pendek yang amat Irene sayangi. Termasuk siapa yang akan menjadi pendampingnya. Paham betul akan makna tawa mereka yang bersamaan itu.. Perempuan paruh baya itu memutuskan untuk mampir ke kosan anaknya yang tak jauh dari letak kampus. Pemandangan di seberang sana membuat dadanya sesak. Pak. “Maaf. Dan bukan pria itu. Buah hati satu-satunya yang menjadi penghubung dengan suaminya yang telah lama tiada. Pak. Irene terduduk sebentar di warung penjual soto. Pak?” 81 . hanya untuk Iris-nya tercinta. Paham betul bahwa. sedikit berharap ia salah lihat. Saya numpang duduk sebentar. Terlintas dalam benaknya untuk menanyakan siapa pria yang sedang berbicara dengan anaknya di seberang sana.” Penjual soto tersenyum. Tapi tidak. Iris. Dia paham betul akan arti tatapan dua manusia itu. Napas Irene tertahan. Irene meminta rekan kerja yang datang bersamanya untuk menunggu sebentar di tempat itu. Seluruh jalan hidup Iris sudah Irene arahkan menuju yang terbaik.MENEPI SESAAT: MATA BUNDA IRENE datang jauh-jauh dari Bogor ke kampus anaknya di Jakarta hanya karena mendapat tugas untuk mengantarkan berkas siswa-siswinya yang ingin menempuh pendidikan di sana. akan ada yang menjegal jalan hidup Iris-nya yang sudah Irene susun matang-matang.. Ia menoleh dengan kaget. Bu. Irene selalu berusaha berperan ganda.

” Irene bergegas menghampiri sekumpulan tukang ojek yang tak jauh dari penjual soto itu. Tapi. mungkin heran dengan seorang ibu yang tiba-tiba menanyakan pemilik toko bunga padanya. saya lagi nyari orang. ya?” Irene bertanya dengan hati-hati.” Irene tersenyum. Tidak. lekas berdiri. enggak. 82 . Bu. Harus menunggu Iris-nya menghilang dari sana dulu.” Jantung Irene berdebar kencang. memicingkan matanya sedikit. Bu. “Ooh... Berusaha menutupi wajahnya ketika melewati dua manusia yang sedari tadi diperhatikan olehnya. Bu?” Irene menggeleng cepat. “Saya permisi dulu. Irene tak akan menghampiri pria itu sekarang. sepertinya bukan orang itu. “Setahu saya. dia duda anak satu. itu Pak Ranu. Kosan Iris lah kuncinya. Tidak boleh. Pak.Penjual soto itu mengikuti arah mata Irene. “Ah.” “Sudah berkeluarga. Pemilik toko bunga itu. terima kasih ya. “Ada perlu sama Pak Ranu. Iris-nya benar-benar tak boleh akrab dengan pria itu. Penjual soto itu mengerutkan dahinya.

83 .

“Iya. Ia baru selesai membuang sampah. “Hobi dari kecil.. Iris mengangguk. Lama kemudian... “Saya heran. mirip kendaraan.” Pak Ranu mengangguk kecil.” Iris dan Pak Ranu tertawa berbarengan. Pak. udah nggak ada. Pipinya merona.” Iris mengekeh pelan..” Pak Ranu tertawa. “Asal kamu siapin telinga aja buat dengerin Lilac ngomong nggak berhenti-berhenti. pekerjaan rutinnya tiap kali Egi ataupun Pak Ranu beres membuat karangan-karangan bunga mereka. Sesekali menunjuk awan yang 84 . Warna oranye dan garis-garis merah yang menghiasi awan membuat jantung Iris berdebar ketika melihatnya.DISERANG HAMA LANGIT Jakarta petang itu sangat cerah. Tapi Pak Ranu sudah terlanjur menoleh dan menanti kalimat Iris yang masih menggantung.. “Saya suka sama bentuk awan yang kadang-kadang mirip sama sesuatu yang saya kenali. memandanginya sambil berdecak kagum. seharian nggak berhenti ngomong. Iris ikut tertawa.. “Lilac. bengong sambil ngeliatin langit.. Iris tak sadar ada seseorang yang memperhatikan dan duduk di sebelahnya.” “Nggak pa-pa. Ris. “Lima tahun. Iris tak tahan untuk duduk sebentar di trotoar. Masih TK.. Pak?” Iris berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. “kamu suka banget ya. Kemarin.. Lain kali saya bawa Lilac ke sini. “Dari kecil. saya tinggal berdua sama ibu. Sudah lama juga. ayah saya. Ada aja yang diceritain ke saya.” Iris menggeleng pelan. Kaget. “Oh.” “Ayah?” Pak Ranu mengernyitkan dahinya. Ayah saya. Pak. Ragu untuk mengatakannya. Maaf. Senyum untuk dirinya sendiri. umurnya berapa tahun.” “Nanti saya siapin telinga cadangan. Pak Ranu tertegun sesaat sebelum menjawab..” Pak Ranu menambahkan. Orang itu tertawa pelan.” lantas pria itu ikut mendongak.. Iris menoleh.” Iris menimbang sesaat. bahkan mirip. “..” “Masa lucu-lucunya yaa.... mengembuskan napas bersamaan. Kadang mirip hewan. memandangi angkasa. “Jadi kepingin ketemu... Lagi cerewet anak itu.” Iris tersenyum. Kembali sibuk memandangi langit. Saya selalu suka anak-anak.” “Lain kali.“ Pak Ranu tersenyum..

Iris sedang menghitung jumlah bunga-bunga yang akan mereka butuhkan ketika Eta tiba-tiba menelepon ponselnya dengan panik. Kadang Eta juga ikut membantu. Pakai motor. “Saya antar. Gi. Kalau sampai tahu. “Buru-buru kenapa?” “Ibu saya yang dari Bogor datang ke kosan.berbentuk unik. motor itu sudah melaju di jalanan dengan Pak Ranu dan Iris di atasnya. Saya buru-buru. dan Pak Ranu makin sibuk. Iris memandangi punggung di hadapannya. Berharap perasaan tidak enaknya tak berhubungan dengan pria itu. Melingkarkan kedua lengannya di pinggang Pak Ranu.. Ada perasaan tidak enak saat memandangi punggung itu. Meski sadar badannya pasti akan terasa sangat lelah sekali. Mengelus-elus kepalanya yang diyakini Iris terasa nyeri sekali. “Sori.” Egi menghentikan pekerjaannya sesaat. Punggung yang sangat ingin dipeluk olehnya. Sebentar kemudian. bisa gawat!” Pak Ranu berdiri dari kursinya. Sampai langit berubah menjadi gelap dan awan digantikan kerlip bintang. 85 . Seperti tak akan ada waktu untuk merebahkan kepalanya di sana lain kali. Seperti ketika Iris dan Pak Ranu sedang mengecek rumah tempat akan berlangsungnya acara tersebut. maka Eta akan___dengan sangat senang hati___membantu Egi menjaga toko. melepas keranjang yang biasanya diikatkan di jok belakang motor tersebut. Iris benar-benar lupa akan hal itu.” Iris cepat-cepat menyambar tasnya hingga mengenai kepala Egi yang sedang berjongkok di depan meja kerja Pak Ranu. Iris. Perlahan.” Pak Ranu bergegas keluar toko. “Nyokap lu ada di kosan kita!” “Hah? Kok bisa?? Iya. Iris merapatkan tubuhnya di punggung Pak Ranu.  Beberapa hari menjelang pesanan bunga untuk pernikahan. Hari di mana Iris berjanji pulang ke Bogor. Egi. bentar lagi gue pulang. Iris mengikutinya dari belakang. Ris. Dia nggak tahu sa ya kerja di sini. Acara tersebut akan berlangsung hari Sabtu. Ia memutuskan untuk pulang sore hari setelah acara selesai..

“Itu. Seakan berusaha masuk ke dalam kepalanya. Ris?” Ibu memberi tekanan pada kata teman. Perempuan paruh baya itu masih mengenakan seragam dinasnya. Sangat terkejut dengan pemandangan di depan pintu kosan. Bu.” Iris memaksa dirinya untuk tersenyum.” Iris masih menunduk. Jadi mampir ke sini sebentar.. “Ibu mau ke sini kenapa nggak ngabarin Iris dulu.. Firasat buruk menggelayuti hati Iris saat itu juga. Mengecup punggung tangan ibunya.. Eta berdiri salah tingkah dengan Ibu Iris berada tepat di sebelahnya... Iris mengangkat wajahnya. “Tadi Ibu ke kampus Iris?” Ibunya mengangguk. tadi teman kamu. Kenapa kamu nggak minta uang gantinya ke ibu saja?” “Maaf.” Iris tertunduk. Berusaha membongkar memori dalam kepalanya satu-satu dengan 86 .” Ibu menatap mata Iris dalam-dalam. Iris paham betul apa yang dimaksud ibunya. Bu.. Iris menghampiri ibunya. Pak Ranu pamit pulang. Termasuk apa yang akan dikatakan ibunya jika dia bilang iya. “Kamu. Iris cepat-cepat turun dari motor ketika tiba di kosan. Tadi menyerahkan berkas siswa yang mau kuliah di tempat kamu. Merasa tak nyaman dengan tatapan ibunya. “Masuk dulu. Ris? Ibu kan sudah bilang. Ketiganya masuk ke ruang tamu di lantai satu. Pak Ranu melepas helmnya dan membungkuk sedikit. kenapa kerja paruh waktu. memberi salam.” Hening lagi. “Itu bos Iris. kamu jangan ikutan temen-temen kamu yang ambil kerja paruh waktu. Ibu mau kamu serius kuliah. Eta meninggalkan Iris dan Ibunya dengan alasan sedang menyetrika baju.” Hening sebentar.. “Iya. Tatapan yang sudah dihapalnya sejak tahunan lalu. Menggeleng pelan. “Ibu barusan memaksa Eta untuk cerita semuanya. “Iris nggak mau ngerepotin Ibu. Bu.. Jantung Iris berdebar ketika melihat kilatan di mata ibunya. Bu?” “Ibu cuma kebetulan mampir.” Deg.

astagaa.” Iris tersenyum. Nyokap gue emang begitu. Bukan salah Eta jika ibu mengintimidasinya hanya untuk mendapatkan secuil informasi yang ibu inginkan..” Iris tersenyum. Ibu akan bertanya pada siapa asaja. Dia pasti ngerti. Iris ikut berdiri. ibu sudah berubah. kapan saja. hanya untuk mengetahui informasi-informasi seputar Iris. Mungkin dugaan Iris memang benar. “Nggak usah. nanti kalo gue pulang juga udah nggak apa-apa lagi. ibu melirik Iris sedikit. gara-gara gue lu ribut sama nyokap. “Sudah sore. Rasa bersalah itu tergambar jelas di wajah Eta. hendak mengantar ibu keluar... “Nggak usah diantar. Puluhan kali juga Iris tersenyum dan menyahut.”  Puluhan kali kata maaf keluar dari mulut Eta. “Maaf banget Iris. Pak Ranu pasti mengerti. Seenggaknya nyokap nggak mencak-mencak sambil nyeret gue pulang ke Bogor. Tapi.” Sebelum keluar. Tidak lagi se-otoriter dulu. Apalagi lusa ada acara kan.” Eta menatap mata Iris lekat-lekat.... biar gue yang ngomong sendiri sama Pak Ranu. ibu bisa naik ojek. Ada guru lain yang nunggu ibu di kampus kamu. ibunya menggeleng.  87 . Iris menggeleng pelan. Iris bersyukur ibu tidak bertanya lebih lanjut seputar Pak Ranu. tak apa-apa.” “Gue bantuin ngomong ke Pak Ranu deh soal pengunduran diri lu yang t ibatiba ini. “Hari Sabtu jangan lupa pulang. “Kayaknya nyokap juga nggak semarah dulu-dulu kok.” Ibu melirik jam di dinding ruang tamu.” Ibu berdiri.terperinci. Iris berdoa agar mata itu tak menemukan rasa hati yang sedang Iris sembunyikan. “Nggak apa-apa. Ibu pulang sekarang. “Oh. gue makin nggak enak nih!” Eta meremas bahu Iris... Eta.

Saya sangat berharap kamu bisa mampir sering-sering. Maaf. Separuh berharap Pak Ranu akan berkata. Ia ingin bicara dengan Pak Ranu secepatnya.. Sekalipun ia memejamkan matanya dengan paksa. Memandangi Iris dalam diam. “Pak. Pak Ranu selalu tampak sibuk mengurus bunga-bunga. Jantung Iris berdebar. “Saya.. saya mau mengundurkan diri lebih cep at. Ada urusan sedikit..Semalaman Iris tidak bisa tidur. ternyata Iris tak juga mendapat kesempatan untuk itu. “Saya pulang duluan ya.. Iris menanti sampai Egi benar-benar menghilang dari pandangan matanya. Ia sibuk menyusun kata-kata pengunduran dirinya dari toko bunga Pak Ranu. Namun. Iris membuang jauh-jauh pikirannya tentang kemungkinan Pak Ranu sedang berusaha menghindarinya. Iris menganggu-angguk. Pak Ranu selalu cepat-cepat beralih pada pekerjaannya lagi ketika Iris baru membuka mulutnya untuk berbicara. berbalik menghadapi Pak Ranu. rasa kantuk itu tak juga ada. Memanggil kata-kata yang sudah ia susun semalaman dari dalam kepalanya. Ris. Iris menghela napasnya yang tertahan sedari tadi. Lantas ia mengumpulkan suaranya.” Egi tersenyum. Ris. kita.” “Ris.... Senang karena akhirnya ia punya kesempatan untuk bicara berdua saja dengan Pak Ranu. Tak menyangka kalau mereka akan bicara bersamaan. Tak ada tanda-tanda pria itu akan mengatakan sesuatu.” Hening. Memantapkan suaranya. Oh. Beberapa kali mata Iris dan mata Pak Ranu bertemu. Iris sedang berjongkok di lantai untuk membersihkan sampah ketika Egi tibatiba menepuk bahunya pelan. Tapi. saya tidak bisa ikut acara besok. Tapi. Pak Ranu akan memintanya mampir ke toko sesekali. Iris artikan itu sebagai keterkejutan. Mengangkat wajahnya sedikit. tak masalah. Berikut alasan-alasannya jika ditanya. Saya harap. Iris. akan terus ada..” Pak Ranu bergeming. Ia meyakinkan dirinya bahwa Pak Ranu akan mengerti. Mungkin kaget karena tiba-tiba Iris mengundurkan diri dari toko bunganya...” Iris berdiri. 88 . “Kamu duluan. Sedikit berharap. Iris bergegas ke toko bunga ketika mata kuliah terakhir selesai. Ia menatap mata Pak Ranu lekat-lekat.

“Mungkin lebih baik kamu tak usah datang ke sini lagi.. apa yang terjadi belakangan ini hanyalah sebuah kekeliruan besar. Mungkinkah semua yang telah terjadi belakangan ini hanya khayalannya? Hanya tipuan pikirannya? Iris bertanya-tanya dalam hati. cukup. Jatuh menimpa tubuh mungilnya... Berharap kata-kata ibu salah. Iris tak berniat menyusutkannya. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. berbicara dalam nada dingin.” Iris seakan tak percaya dengan telinganya sendiri. 89 .. saya sadar. “Mungkin. Karena bulan April masih beberapa minggu lagi. jangan bicara lagi.” Cukup.. Iris berharap pria di hadapannya ini bukan Pria Bunga-nya.” Jakun Pak Ranu bergerak satu kali. Cepat atau lambat kamu juga akan menyadari hal itu. Iris tertunduk. Kenapa? Kenapa? “Kenapa?” “Saya rasa. Namun.semua ini hanya kekeliruan semata..liru?” Lamat-lamat Iris berusaha mengeluarkan suaranya..” Dunia Iris serasa runtuh. lebih baik kita tak usah lagi bertemu. mungkin memang lebih baik kamu tak perlu ikut.. Iris masih mencari kebenaran pada mata Ranu. “Saya rasa. kamu hanya rindu sosok seorang ayah. Ris.. “. Menangisi seorang pria yang bahkan baru dikenalnya dalam waktu satu bulan. Kenapa? Kenapa? “Ke. Wajah Pak Ranu mulai buram. Wajah Pak Ranu semakin buram.” Iris berusaha menjejak tanah kuat-kuat. “Setelah pembicaraan kemarin sore... Kita keliru. cuma berharap. Iris. Lantas kembali menatap Ranu... yang terdengar hanya seperti bisikan. Sudah. Ia tertawa pelan.” Suara yang sangat asing di telinga Iris. Ia merasa ada yang mengalir dari ujung matanya menuju ke pipi. jangan bicara lagi. Berharap Pak Ranu akan berteriak April MOP!!! Memeluknya dan meminta maaf.. Mengerjapkan matanya beberapa kali.. Keliru.. Terkejut dengan kata-kata Pak Ranu yang tak diperkirakan olehnya. Tapi.. Mungkin kembarannya yang datang dari planet lain. Iris cepat-cepat menatap langit-langit toko. Berusaha menghilangkan air yang merembes keluar dari kelenjar di rongga matanya.Pak Ranu membuka mulutnya. Seorang pria yang ternyata menjadikan Iris sebagai pelampiasan atas kerinduannya pada sang istri.. Berusaha menemukan jawabannya pada kedua mata Pak Ranu yang tampak tak bersahabat. Iris. Dan saya rindu istri saya. Mendadak ia merasa semua itu lucu.

bukan saya yang Pak Ranu lihat.. saat itu pun bukan Iris yang ada di matanya. Minggu sore. Mungkin juga akan membuang dukanya di jalan menuju Bogor nanti dan tak perlu membawanya kembali ke Jakarta. Bahwa semua debaran jantung itu adalah kekeliruan. Ya. Merasa konyol sekali karena pernah begitu senang ketika Pak Ranu menggenggam tangannya. “Iya. “Udah. Rupanya air-air itu susut dengan sendirinya... istri Pak Ranu itu.. Ia menahan sakit dalam dadanya.” “Terus dia bilang apa? Nggak marah?” Eta mengusap wajahnya yang agak basah dengan handuk di lehernya. Langit pagi itu agak mendung. Barangkali.. duka itu tak sesakit yang kukira dulu.. Dia akan pulang ke Bogor hari ini dan kembali besok. 90 .” Suara Iris bergetar. Tidak berusaha menoleh lagi. “. ternyata selama ini. merasa Eta tak perlu tahu semua yang terjadi kemarin.ternyata saya memang keliru. udah ngomong ke Pak Ranu?” Iris menoleh. Menahan tangisnya agar tidak meledak di hadapan Pak Ranu. Melangkah keluar toko secepat yang ia bisa. Iris tak menangis semalam.. Lantas ia tersenyum. lu mau ke Bogor?” Eta muncul di belakang Iris dengan handuk melingkar di lehernya. Iris sempat meliriknya sedikit sebelum mengemasi barang-barangnya. Konyol sekali. “Ris. ya.“Saya sadar. bahwa dia telah keliru.” “Kemarin. Tidak di hadapan orang ini. Melepas penat sejenak. saya keliru.. Keliru. Mungkin benar kata-kata Pak Ranu barusan.” Iris tertawa pelan. seperti katamu. Kukeliru. Iris menarik tasnya dari atas meja kerja Pak Ranu. tapi. Terlalu mubazir dibuang untuk pria yang mengatakan semua yang terjadi selama ini hanyalah sebuah kekeliruan.  Ternyata. Tidak juga melirik sedikit.. Tidak semua barang-barangnya..

menyusuri jalan berbatu yang menghubungkan antara pintu pagar dengan teras rumahnya. Iris memandangi pintu pagar setinggi lutut yang sudah hampir sebulan tak disentuh olehnya. Tak sabar ingin segera membuang dukanya entah di mana nanti. Ris. Iris memejamkan mata. biasa aja sih... “Gue berangkat dulu ya.“Ya sudah. Iris ingin tiba di Bogor saat itu juga.” Iris menunggu beberapa saat sebelum mengetuk lagi pintu itu.” Iris cepat-cepat memakai tas ranselnya sebelum Eta mulai bertanya lagi. Keraguan di jalan tadi membuat Iris ingin menyimpan semuanya. Ibu sudah berubah. Ibu melongokkan kepalanya dari dalam. Bu... Iris melepaskan sepatunya. Sedikit keraguan menyergapnya. Mungkin juga memorinya sekalian. Berjalan menuju pintu rumahnya. Iris pulang. Terdengar derap langkah dari dalam rumah. Iris mengulang kalimat itu dalam hatinya. Mungkin juga sudah dipotong lagi oleh Mang Ujang. Tidak juga dengan memorinya. Iris mendorong pintu pagar itu hingga terbuka.. Tumbuhan yang memagari sekitar rumahnya tampak tak bertambah tinggi sejak terakhir kali Iris ke sana.” Iris memaksa bibirnya untuk tersenyum. mengetuknya beberapa kali.. Pintu terbuka perlahan. menjejakkan kakinya ke teras rumah. Bunga-bunga yang menghiasi sepanjang sisinya membuat Iris teringat pada sosok di Jakarta.. Mata Iris terbuka... Sungguh. datang darimu. Iris teringat pada kunjungan ibunya dua hari yang lalu.” Iris bergegas meninggalkan tempat itu. apakah duka itu. Iris lupa membuang dukanya di jalan tadi. Ibu sudah berubah. “Dari sana memang nggak terlalu pagi.. Tunggu. Iris bahkan tak menoleh ketika bus yang ditumpanginya lewat di depan toko bunga Pak Ranu. “Kirain ibu kamu nggak jadi pulang..  Apakah. mengapa dunia berbalik tiba-tiba? Apa yang salah? Bukankah belum lama ini semua masih baik-baik saja? Belum lama ini. Iris. Pulangnya besok sore. Ta. tetangga sebelah rumahnya yang biasa membantu ibu.. Turun-naik angkutan umum berkali-kali sebelum akhirnya tiba di rumah sederhananya di Bogor saat tengah hari. Ibu sudah berubah. Dia. Tak habis pikir.” Ibu membuka pintu lebar-lebar. Bunda? Iris menempuh perjalanan yang cukup jauh. “Ibu. Mencoba berhenti memikirkan kemungkinan bahwa kemarin lusa ibu 91 .

Ibu membuka tudung saji. ibu. Iris menoleh. dugaannya keliru. Bu.” Ibu berdiri dan sibuk di meja dapur menyeduh segelas teh manis untuk Iris. Menatap mata ibunya yang tampak terkejut... berharap jawaban ibunya nanti tidak seperti dugaannya. “Ibu mau yang terbaik buat kamu.. Berharap. biar ibu carikan yang masih sendiri! Jangan duda!” 92 . Betapa sakitnya menipu dirinya. “Ibu...menemui Pak Ranu seperti halnya ibu menemui dan mencaci semua teman lelaki Iris yang sudah-sudah. Bu?” Bunyi dentingan sendok dengan gelas terhenti tiba-tiba. mengambilkan nasi untuknya dan menyerahkan piring berisi nasi itu pada Iris. “Pak Ranu nggak bilang apa-apa ke Iris. Ibu. meletakkan tas ranselnya di dekat kaki. Iris! Kalau kamu suka yang lebih tua. Kemudian.. “Masih banyak yang sama sama sendiri di luar sana. Betapa sakitnya menipu diri sendiri. “Kemarin lusa. “Laki-laki itu. Bu?” Wajah ibu memburam. Tidak. Semua begitu tiba-tiba. Ibu selalu suka bersih-bersih. Iris! Dan seorang duda beranak satu itu tidak termasuk yang terbaik!” Nada bicara ibu meninggi.” Iris meletakkan piring nasinya di meja. Bu. sayur asam.. “Bu.. ibu buatkan teh manis dulu. Iris duduk di kursi rotan.. Ibu sudah berubah. mampir ke sana?” Ibu berbalik.. Belum berubah. Iris memandangi ibunya. Kini ia tahu apa penyebabnya. Belum? “Kamu mau istirahat dulu atau mau langsung makan siang. waktu ibu ke kosan Iris itu. Berdiri menatap Iris lurus-lurus. Ibu sudah berubah. “Dia bilang apa saja?” Wajah Pak Ranu semalam terputar dalam kepala Iris. belum berubah. Iris dapat melihat bahu ibu naik perlahan-lahan.” Iris mengikuti ibunya melangkah ke dapur rumah mereka yang juga sekaligus ruang makan. Tak tahan untuk tidak bertanya sekarang juga. Iris memandang berkeliling.” Iris bergeming.. bilang ke kamu?” Napas Iris tertahan. mampir ke tempat Iris kerja.. “Apa yang salah dari Pak Ranu. Kata-kata Pak Ranu yang tak disangkanya itu menggaung lagi dalam kepalanya. “Mau langsung makan aja.” Ibu duduk di hadapan Iris. “Hari ini ibu masak sayur kesukaanmu. Mendadak Iris merasakan bagaimana menjadi Pak Ranu tadi malam. “Sebentar. Ris?” Suara ibu mengembalikan Iris ke dalam ruangan itu. interior rumahnya selalu bersih dari debu.

Mungkin penyebabnya stres berlebih. “Tolong pola makan ibu anda dijaga. menghampiri dokter itu. Bu? Bukankah. Ia harus segera minta maaf. Terngiang lagi kata-kata Iris sebelum meninggalkan toko itu. Terima kasih.” 93 . “Apa yang salah dari seorang duda. Saya dengar anda mahasiswi keperawatan?” Iris mengangguk kecil. Ibu tersungkur di dapur tak sadarkan diri. Dok. Khawatir jika berkepanjangan.. Iris segera berdiri.. “IBUU. Baru kali ini ibu tak sadarkan diri seperti itu.. Panik. Butuh istirahat dan alangkah baiknya jika dijaga agar stresnya berkurang. Sehingga memicu terjadinya serangan jantung ringan. bisa terjadi serangan jantung yang lebih serius. Melangkah cepat keluar rumah. Jari-jari Iris menghentak pahanya tanpa henti. “Kamu pikir kita tinggal di mana. Setahu Iris. ibu tak punya penyakitpenyakit berat. bukankah semua sama?” Iris mulai terisak. Dok?” “Tekanan darah ibu anda naik. Embusan napasnya terputus-putus. agar tekanan darahnya tidak tinggi. Iris? Ibu nggak mau kamu jadi omongan orang karena dekat dengan duda!” Iris berdiri menyeret tas ranselnya. Iris menyesal telah mengatakan itu semua.”  Ruang rumah sakit terasa makin dingin bagi Iris. Iris berbalik. Ia duduk cemas menanti dokter yang sedang memeriksa ibunya. Iris menoleh ketika pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka. Bu. Iris harus minta maaf. Setidaknya sampai detik ini. Terbayang lagi wajah Pak Ranu. “Bagaimana keadaan ibu saya. “Iris mau kembali ke Jakarta. “Ini obat untuk menurunkan tekanan darahnya.” Dokter itu menyerahkan selembar kertas resep obat.. Pikirannya kacau. Tak dihiraukan teriakan ibu yang memanggil-manggil namanya.Iris mengusap pipinya yang mulai basah.” “Baik.” “IRIS!!!” BRUUKK!! Iris menoleh. Anda tentunya tahu makanan-makanan apa yang semestinya ibu anda konsumsi.

Ia tak akan rela kehilangan ibunya sekarang. Demi apapun juga. Merawat ibunya.Dokter itu meninggalkan Iris..” Iris berbalik dan meninggalkan tempat itu meski enggan. ada yang terluka di dalam dadanya. Ibu sedang tertidur lelap. Ia justru memutuskan untuk menetap di Bogor sedikit lebih lama. “Ibu nggak usah mengkhawatirkan Iris lagi sekarang. Kesalahan itu. Iris mengusap bulir-bulir air yang turun dari matanya. Biar sampai di kosan nggak terlalu sore.  Sudah seminggu Iris menetap di Bogor. “Ibu tahu cepat atau lambat kamu pasti akan sadar kalau semua itu. Susah payah berpura-pura tak melihat manusia itu dan tokonya yang akan ada di depan kampus Iris sampai entah kapan. Iris yang telah membuat ibu stres sampai seperti ini. Membelai kepala Iris dengan lembut ketika Iris berpamitan. ia akan melupakan Pria Bunga-nya.” Keliru. Garis-garis usia di wajahnya tampak sangat jelas. Iris mengecup punggung tangan ibunya.” Ibu mengangguk kecil. Iris batalkan. keliru. Bu. Susah payah berpura-pura tak pernah mengenal Pak Ranu. Iris. Tak masalah. Baru kali ini langkahnya terasa berat. Garis-garis kelelahan. Meski demi kebahagiaannya.. Tekadnya untuk kembali ke Jakarta hari itu juga. Perlahan. Ibu adalah harta Iris satusatunya..” Iris tersenyum. balas tersenyum. Ibu mengantar Iris sampai di pintu pagar rumahnya. Tidak. Demi ibu. “Iris minta maaf karena udah bikin ibu stres. Semua demi ibu. Sesekali menghubungi Eta. Kondisi ibu berangsur pulih dan sudah lebih baik ketika Iris akan kembali ke Jakarta. “Iris berangkat sekarang. 94 . Hartanya yang paling berharga.. Sejujurnya ia ingin menetap saja di Bogor. menanyakan bagaimana kuliahnya di Jakarta.. Tak perlu kembali ke Jakarta dan susah payah berpura-pura tak pernah mengetahui keberadaan toko bunga Ranu and Lilac’s Florist. Iris menggenggam tangan ibunya yang lemas.. nggak akan Iris ulangi lagi. Iris bergegas memasuki ruang tempat ibunya dibaringkan. Lelah karena harus mengurus Iris sendirian. Demi ibu.

95 .

Iris ikut tertawa.. Ayah saya. Ranu berdiri di sebelah Iris yang sepertinya tak juga menyadari keberadaannya di sana. Bukan senyum untuk Ranu. Satusatunya yang harus ia lakukan adalah membantu. seseorang harus menyukai anak-anak lebih dulu. Untuk menjadi seorang ibu.” Ia tertawa... Kadang mirip hewan. Lain kali saya bawa 96 . “Saya heran. “Saya suka sama bentuk awan yang kadang-kadang mirip sama sesuatu yang saya kenali.. saya tinggal berdua sama ibu. Mulutnya yang sedikit terbuka itu membuat Ranu tertawa. Ris. Senyum ketika seseorang berusaha menyenangkan dirinya sendiri. Berusaha mencari kenikmatan seperti yang Iris lakukan meski hasilnya nihil. Apakah awan dapat menyerupai seseorang? Iris mengangguk.” Ranu mengangguk kecil.” Iris mengekeh pelan. mirip kendaraan. Sudah lama juga. Kemarin.” Ranu sangat lega mendengar pernyataan Iris. Saya selalu suka anak-anak.. “Oh.DISERANG HAMA GADIS mungil yang duduk memandangi langit itu menjadi pemandangan indah bagi Ranu. bahkan mirip. ayah saya. Lebih indah ketimbang langit Jakarta yang sore itu sedang cerahcerahnya.. Pak?” Ranu tahu betul Iris sedang berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. “. seharian nggak berhenti ngomong.. Ranu menoleh. Lama.. Ranu memutuskan untuk duduk di sebelah gadis itu.” “Ayah?” Ranu mengernyitkan dahinya. Sepertinya sangat terkejut karena Ranu duduk di sebelahnya. “kamu suka banget ya. Ranu paham sekali senyum seperti itu. Lagi cerewet anak itu. “Lima tahun. Pak. “Lain kali.” “Masa lucu-lucunya yaa.. “Hobi dari kecil. umurnya berapa tahun. Ada aja yang diceritain ke saya. udah nggak ada. “Jadi kepingin ketemu. memandangi angkasa. menanti lanjutan kalimat itu. gadis itu seperti punya dunianya sendiri..“ Ranu tersenyum. Iris menoleh.” Iris menggantungkan kalimatnya. Maaf... Pipi gadis itu merona. “Dari kecil... Tiap kali Iris memandangi langit..” lantas Ranu ikut mendongak.” “Nggak pa-pa.” Iris menggeleng pelan. bengong sambil ngeliatin langit. Masih TK...” Iris tersenyum.. “Iya. “Lilac.

“Asal kamu siapin telinga aja buat dengerin Lilac ngomong nggak berhenti-berhenti. Ranu melirik Iris dari 97 . Kembali sibuk memandangi langit. “Buru-buru kenapa?” “Ibu saya yang dari Bogor datang ke kosan.” Ranu bergegas keluar toko. Sebuah karangan bunga sedang dirangkai Ranu ketika ponsel Iris berbunyi tiba-tiba.. Ranu menduga Eta lah si peneleponnya. Ranu berdiri dari kursinya. “Hah? Kok bisa?? Iya. Merasa bertanggung jawab jika ibu gadis itu marah. Pakai motor.. yang sesekali cukup membantu.. melepas keranjang yang biasanya diikatkan di jok belakang motor tersebut..” Ranu dan Iris tertawa berbarengan.” Ranu menambahkan. mengembuskan napas bersamaan. Hanya saja.. dan Iris makin sibuk. Pak. Iris mengikutinya dari belakang. Kalau sampai tahu. Ia tak tahu apa yang membuat Iris terdengar panik. maka Eta akan membantu Egi menjaga toko. “Saya antar. Seperti ketika Ranu dan Iris sedang mengecek rumah tempat akan berlangsungnya acara tersebut. Ranu. Gi. Ris. bisa gawat!” Deg.  Beberapa hari menjelang pesanan bunga untuk pernikahan. motor itu sudah melaju di jalanan dengan Ranu dan Iris di atasnya. Lama kemudian. Merasa harus mengantar pulang. “Sori.. Mengelus-elus kepalanya. Sampai langit berubah menjadi gelap dan awan digantikan kerlip bintang.” “Nanti saya siapin telinga cadangan. Sebentar kemudian.” Iris segera menyambar tasnya hingga mengenai kepala Egi yang sedang berjongkok di depan meja kerja Ranu. Egi. Dia nggak tahu saya kerja di sini. Saya buru-buru. Entah karena ada maksud tertentu atau tidak.Lilac ke sini. pasti kepala itu terasa sakit sekali. Ranu tahu. bentar lagi gue pulang. Merasa. Eta. ada firasat tidak enak yang menyergap hatinya tiba-tiba.” Egi menghentikan pekerjaannya sesaat. Sesekali menunjuk awan yang berbentuk unik. Ranu merasa tertolong dengan sahabat Iris.

” Perempuan itu tak juga tersenyum. “Mudah-mudahan enggak. Perempuan itu menghampiri Ranu. Berusaha membuang jauh-jauh perasaan tidak enak di hatinya. “Ibunya Iris. Pak. tubuh gadis itu merapat ke punggungnya. Gadis itu menatap lurus-lurus punggung Ranu. Ranu merasa sendu itu merembes ke dalam dadanya.. Pak?” Ranu mengangkat bahunya. Ranu memutuskan untuk segera kembali ke tokonya lagi. Deg. dan sejuta barangkali lainnya memenuhi kepala Ranu. marah-marah. “Hati-hati.  Ranu cukup terkejut dengan pemandangan di depan pintu kosan Iris ketika motornya berhenti di sana. “Saya Irene. Tatapan sendu yang Ranu tidak suka. Tatapan yang membuat perasaan tidak enak dalam hati Ranu makin menjadi-jadi.” 98 .spion motornya. barangkali memang tak suka berakrab-akrab dengan orang asing. Ia berusaha menyenangkan dirinya sendiri. Memandangi bosnya dengan khawatir. Ranu mengalihkan perhatiannya ke jalan lagi. Semakin memperburuk perasaan di hatinya. Tampak Eta berdiri salah tingkah dengan seorang perempuan berseragam dinas berada tepat di sebelahnya. Perlahan.. ia merasakan lengan Iris melingkari pinggangnya. Jantungnya berdebar setelah dilihat tak ada senyum pada wajah perempuan itu.” Ranu kembali pada karangan bunga yang tadi sedang ia kerjakan. memberi salam.” Egi buru-buru menyingkirkan bambu yang tadi membuat Ranu tersandung. “Ibunya Iris. Membuat Ranu sedikit tersandung ketika melangkah masuk toko. Pamit sebentar dan cepat-cepat memutar balik motor bebeknya. menjabat tangannya. Mendadak... Ranu meletakkan karangan bunga itu di keranjang motor. Ranu yakin sekali perempuan itu adalah ibu Iris. Wajah tanpa senyum ibu Iris sangat mengganggu pikiran Ranu. Mungkin pengajar. Satu karangan bunga yang cukup besar tengah digotong keluar oleh Ranu dan Egi ketika mata Ranu menangkap sosok perempuan paruh baya menyeberang jalan menuju tokonya. Ranu melepas helmnya dan membungkuk sedikit. Barangkali ibu Iris memang kurang suka tersenyum.

 Irene duduk di seberang meja Ranu. Seakan menusuknya dalam-dalam. Sungguh. Mendorong amplop itu menjauh.” Ranu merasa seakan ada petinju kelas berat menyerang perutnya. “Saya.” Ranu merasakan tenggorokannya mengering dengan cepat..” Ranu kehilangan suaranya.. Irene mengembuskan napasnya lagi. “Maaf karena saya lancang dan sempat bertanya-tanya tentang anda pada pedagang-pedagang di sekitar sini. “Keperluan saya ke sini. “Pecat Iris dari toko anda.” Irene mendorong kembali amplop itu kepada Ranu..” “Saya memaksa. “Maksud Ibu?” Irene mengembuskan napasnya. apa?” Ranu berusaha menyembunyikan kegetiran dari suaranya.” Irene menyodorkan sebuah amplop kepada Ranu. Biar saya yang mengurus masalah itu. saya tahu tentang latar belakang anda. Pandangan itu berhenti tepat di mata Ranu. Saya rasa anda sudah mengerti. Bukankah anda adalah orangtua juga? Bukankah semua orangtua ingin yang terbaik 99 . Bu. Kemudian melanjutkan. saya rasa hubungan tidak baik itu harus segera dihentikan. Tapi. Pandangan yang membuat Ranu tidak nyaman. “Masalah itu sudah selesai. “Saya tak tahu sejauh mana hubungan anda dengan Iris. Kenapa? “Maksud Ibu. Ranu makin merasa tidak nyaman. untuk membicarakan Iris... jangan ditolak. Tolong. Ranu tak akan merasa setidak nyaman ini kalau saja perempuan di hadapannya itu mau tersenyum sedikit. Irene membetulkan letak duduknya. Melempar pandangannya berkeliling ruang toko Ranu yang sempit.” Jantung Ranu mencelos mendengar Irene mengatakan itu.” Irene masih belum melepaskan tatapannya yang menusuk dari mata Ranu. saya juga meminta anda untuk memutuskan hubungan anda dengan Iris.. “Tolong. Ia hanya diam mendengarkan Irene menghujaninya dengan kata-kata seperti itu. Ranu menggeleng pelan. “Saya rasa anda paham mengapa saya meminta anda untuk menjauhi Iris. Anak dan almarhum istri anda. “Saya sudah mendengar duduk perkaranya sampai Iris akhirnya terpaksa bekerja di sini.” Irene berhenti sebentar. pecat anak saya dari toko anda ini. Meremukkan seluruh isinya.

Jadi.. Bukan di dalam toko.” Irene berbalik. Jauhi anak  Semalaman Ranu tidak bisa tidur. Ranu menegakkan tubuhnya. Bukan. “Saya permisi sekarang. Kepalanya mendadak terasa sangat pusing. Memecat sekaligus mengusir gadis itu dari kehidupan Ranu selamanya.” Ranu masih tidak bersuara. Maaf jika kata-kata saya kurang berkenan. ia ada di atas kasurnya. Ranu bersandar di kursinya. kata-katanya tak boleh terlalu pedas. Ada yang hancur menjadi serpihan halus di sana.” Irene menarik napasnya saya. Iris hanya mengagumi anda karena dia merasa anda adalah sosok ayah yang sempurna.” Egi tahu-tahu saja sudah berdiri di hadapan Ranu. “Saya hanya ingin mempercepatnya saja. Ada yang berdenyut sakit di dalam dadanya.. mengembuskannya perlahan..bagi anak-anaknya? Saya yakin. Ranu tidak tahu apakah yang dikatakan Irene barusan itu benar. tolong. dalam-dalam. “Pak. Namun. meninggalkan Ranu yang terpaku di kursinya. Menganggukan kepalanya sedikit. mengembuskannya perlahan. Andai saja.. Ranu tak mau melihat Iris menangis karena kata-katanya. Andai saja tak ada insiden itu dulu. Andai saja ia tak pernah mengenal Iris. bukan karena hari itu adalah hari terakhir untuk mempersiapkan pesanan bunga untuk pesta pernikahan besok. Apakah Iris memang hanya rindu pada sosok ayah dan padanya lah figur itu ada? Ranu memejamkan matanya. Tapi karena dia sibuk menyusun kata-kata untuk memecat Iris. “Sakit. Ada yang tersayat di dalam dadanya. Ranu menarik napas dalam-dalam. karena Iris hanya rindu sosok ayah yang mampu mengayomi dirinya. Pak?” 100 . Lilac-nya juga berhubungan dengan seorang pria seperti dirinya? Apakah sama seperti apa yang Irene lakukan padanya kemarin? Atau justru membiarkan Lilac-nya begitu saja? Hati kecil Ranu tidak menyahut. Lambat laun toh dia juga akan menyadari hal itu. Egi mengerutkan dahinya. Berharap saat ia membuka mata. mobil colt-nya udah saya sewa buat besok. Kata-kata Irene menggaung dalam kepalanya. bukankah anda adalah orangtua juga? Bukankah semua orangtua ingin yang terbaik bagi anak-anaknya? Ranu bertanya pada dirinya sendiri. putuskan benang tak kasat mata itu. Irene berdiri. Memijit pelipisnya. apa yang akan ia lakukan jika suatu hari nanti.

Dia tak mau Egi tahu kalau Iris akan ia pecat hari ini juga. “Kamu pulang duluan aja. Ranu menghampiri Egi. Ranu menghindari kontak dengan Iris. tapi. Pak. mulut gadis itu terbuka sedikit seperti ingin bicara.” Ranu pura-pura terkejut. menoleh.” Egi baru akan berbalik kembali mengurus tugas-tugasnya ketika Ranu teringat satu hal. Sementara Egi tengah sibuk merapikan emberember bunga ke sisi-sisi ruangan. akhirnya ia mengangguk. Beberapa kali matanya dan mata Iris bertemu. Ranu menanti sampai Egi benar-benar menghilang dari pandangan matanya. “Gi. Iris cuma mengangguk-angguk. “Kunjungan ibunya Iris ke toko kita. Kenapa tiba-tiba jadi nambah ya. Pak? Kan kita juga udah bertiga sama si Iris. Tapi. “Saya cuma kurang tidur aja semalam.” Egi tersenyum. tolong jangan sampai Iris dan Eta tahu. Ia pura-pura sibuk mengurus bunga-bunga. Iris sedang mengumpulkan sampah dari lantai. Ada urusan sedikit. Hal penting yang tidak boleh bocor ke Iris. Ranu membereskan perkakas di mejanya. Iris benar-benar tidak boleh mengetahui hal itu. Egi segera merapikan tasnya. Cuma nambah satu. ya!”  Sepanjang sore itu.Ranu terkekeh pelan. Ranu berdeham pelan. Ranu memutuskan untuk bicara dengan gadis mungil itu sebelum toko tutup nanti. Jam perak di pergelangan tangan Ranu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. “Masa?” Ranu pura-pura mengecek daftar nama orang yang akan membantu mereka besok. “Nggak apa-apa lah. “Saya pulang duluan ya. Gi. Saya ada perlu sebentar sama Iris. “Orangorang yang buat bantuin kita juga udah saya cari. Ris. berbisik pelan. Ia menghela napasnya dalam-dalam. Ranu akan cepat-cepat beralih pada pekerjaannya lagi. 101 . menggeleng. Iris mendongak.” Egi mengangguk-angguk kecil dengan wajah separuh tidak percaya.” Untuk sesaat Egi menatap Ranu dengan curiga. Menepuk bahu Iris yang sibuk berjongkok di lantai. Sungguh berharap hari itu akan segera lewat tanpa harus ia lalui.” Egi berhenti.

“Mungkin lebih baik kamu juga tak usah datang ke sini lagi. Iris mengalihkan pandangannya ke langit-langit toko.. “Saya.” Hening. Kumohon Iris. Mata itu mulai berkaca-kaca sekarang. Gadis itu tampak berusaha menyembunyikan keterkejutannya atas kata-kata Ranu barusan.. nyaris berbisik. “Mungkin. Ke lantai... saya sadar.” Ranu menelan ludahnya yang kini terasa bagaikan jutaan jarum kecil yang menusuk kerongkongannya.liru?” Lamat-lamat Iris berucap. kamu hanya rindu sosok seorang ayah. Bahwa satu-satunya yang keliru adalah kebodohan Ranu untuk melepaskan Iris dari genggamannya. “Kamu duluan.. Mata itu membuat Ranu ingin segera merengkuh tubuh Iris ke dalam pelukannya.. Maaf. Jantung Ranu berdebar. Semua ini hanya kekeliruan semata.” “Pak.. Dan saya rindu istri saya.. .. Napasnya tertahan. “Setelah pembicaraan kemarin sore. Ia tampak bingung. Iris. Keliru. Seakan baru kali ini mereka bertemu dan bicara.” Jantung Ranu melorot ke dalam perutnya. Ia tak perlu menyakiti diri sendiri dengan memecat Iris. saya tidak bisa ikut acara besok.” Iris berdiri. maka bebannya berkurang satu. saya mau mengundurkan diri lebih cepat. jangan menangis. Gadis itu mengangkat wajahnya sedikit..” Napas Ranu tertahan.. Tertawa pelan.” Ranu memperhatikan perubahan air muka Iris. Iris masih menatap mata Ranu lekat-lekat. “Saya rasa.. Menarik napas dalam-dalam lagi.” Ranu tak sanggup menatap mata Iris. “Saya rasa. Iris.. Ia menatap Ranu dengan tatapan asing.“Ris.. Terkejut karena mereka bicara bersamaan. Ada yang 102 . Wajah itu seakan mempertanyakan hari-harinya yang telah lewat bersama Ranu. Cepat atau lambat kamu juga akan menyadari hal itu. Lantas kembali menatap Ranu.. mungkin memang lebih baik kamu tak perlu ikut. Iris. Kebohongan besar ini akan sangat menyakitkan. berbisik di telinganya bahwa ini adalah sebuah kebohongan besar.. Ris. Maaf.. berbalik menghadapinya.” Maaf. Jika Iris ingin mengundurkan diri. “Ke.. kita keliru. apa yang terjadi belakangan ini hanyalah sebuah kekeliruan besar.. lebih baik kita tak usah lagi bertemu. jangan menangis. “Kenapa?” Senyum di wajah Iris hilang sudah.. Ris.

“Berhenti gimana. “Saya sadar. 103 . Untuk yang terbaik. Dia nggak akan datang.. Ranu mengerti rasa sakit itu.. bukan saya. Gi. “Iris berhenti.” Egi terbeliak.” “Tunggu. Sakit....” Jantung Ranu berdenyut mendengar nama Iris disebut.mengalir dari mata Iris. Ranu menoleh. Aliran yang hadir akibat keputusannya untuk menipu Iris dan dirinya sendiri.. “. Ranu. Untuk yang terbaik.. Melangkah keluar toko. Mungkinkah Iris juga sedang memandangi langit itu? Ranu menghela napasnya dalam-dalam.” Iris tertawa pelan.. Sungguh. Rasa sakit yang sama seperti yang dirasakannya. bergerak menuju pipinya. Ranu memejamkan matanya. menatap langit pagi itu yang agak mendung. Ini sebentar lagi harus berangkat kalau nggak mau terlambat. Iris menarik tasnya dari atas meja kerja Ranu. ya? Kita kan janjian jam delapan. Iris. memang bukan saya yang Pak Ranu lihat. Ranu tahu rasa sakit itu. mengembuskannya perlahan.” Egi menepuk bahu Ranu pelan.. Mungkin malah lebih. “Pak.ternyata saya memang keliru. istri Pak Ranu itu. Membaui aroma tubuh Iris yang tertinggal di sana untuk yang terakhir kalinya.” Ranu melirik jam perak di tangannya. Maaf. Lebih baik tak perlu menghubungi Iris lagi.. Iris.. Egi memandang Ranu dengan bingung. Terdengar seperti isakan di telinga Ranu. Ranu ingin menyusutkan aliran itu. “Kita berangkat sekarang aja.. Saya bukan yang terbaik. ternyata selama ini. Maaf atas kebohongan ini... Biar saya telepon Iris dulu. “Kok Iris belum datang juga. Sudah nggak kerja di sini lagi. Tidak berusaha mengatakan yang seharusnya ia katakan. Pak?” “Berhenti.. ini pasti ada yang salah. Ranu merasa sangat sesak mendengar suara itu. tapi. Ada rasa hampa dalam dadanya..” Suara Iris bergetar. Ranu mendongak. Pak... Mungkin rasa yang tak sengaja terbawa Iris ketika gadis itu meninggalkan tokonya tadi malam. Setidaknya tidak sekarang.” Egi mengeluarkan ponselnya.  Wajah Iris yang menangis semalam masih terbayang dalam ingatan Ranu. Ranu cepat-cepat menarik ponsel itu. Ranu tidak berusaha menghentikannya...

“Sebaiknya nggak usah dihubungi. Iris... dia minta untuk tidak diganggu hari ini.” Ranu mengembalikan ponsel Egi, “Kita berangkat sekarang.” Ranu berjalan menuju pintu tokonya yang belum terkunci. Merogoh saku celana jeans-nya. Tangannya terhenti. Napasnya tertahan. Ranu mengeluarkan kunci tokonya perlahan. Ia menggenggam benda yang tergantung di kuncinya erat-erat. Gantungan kunci berbentuk bunga matahari pemberian Iris. Iris, gadis mungil yang mencuri separuh rasa di hatinya. Ranu cepat-cepat mengunci pintu toko bunganya. Mengantongi lagi kunci itu. Berbalik menuju mobil colt-nya. Membuang jauh-jauh bayang Iris dalam kepalanya. Iris pantas mendapat yang terbaik, dan itu bukan kamu, Nu.


Ibu Iris sakit. Itu adalah kabar terakhir yang Ranu dengar dari Egi dan Eta. Katanya Iris memutuskan untuk merawat sendiri ibunya dan tinggal di Bogor sampai ibunya lebih sehat. Sedikit menjelaskan kenapa Ranu tak melihat gadis itu di jendela lantai tiga gedung kampusnya seperti hari-hari yang lalu. Sedikit mengecewakan karena setidaknya Ranu ingin melihat gadis itu untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pindah ke daerah Cihideung di Bandung Barat, membuka kebun bunga miliknya sendiri. Ranu menghabiskan tabungannya untuk membeli lahan di sana. Ia memang sejak lama mengidam-idamkan memiliki perkebunan bunga sendiri. Meski sebenarnya, itu bukan alasan utama kepindahannya yang sangat mendadak. Ranu membelai meja kerjanya. Memandangi toko bunganya sekali lagi. Dia akan sangat merindukan semuanya. Rumahnya, toko mungil itu, termasuk Lilac-nya. Ibu mertua Ranu tidak mengizinkannya membawa anak itu ke Lembang. Ranu paham, ibu tak mau kehilangan pengganti Aster dari rumahnya. Tidak semendadak ini. Ranu mengangkat kopernya. “Pak, yakin kalau saya nggak perlu ngabarin Eta dan Iris soal kepindahan Pak Ranu ini?” Egi mengiringi Ranu berjalan menuju taksinya. Iris... Ranu mengangguk meski sesungguhnya ia ingin menggeleng. Ingin menghubungi Iris, menemuinya, memeluknya bahkan mungkin membawanya ikut

104

serta ke Lembang. Namun, Ranu tahu itu tak mungkin. Tak mungkin untuk membiarkan Iris-nya melawan orangtua hanya demi dirinya. Sosok yang tak terbaik. “Nggak perlu lah... memangnya saya siapa?” Ranu tertawa pelan. Menepuk bahu Egi pelan, “Kelola toko ini baik-baik, Gi. Cari pegawai yang kompeten dan nggak asal-asalan...” Egi mengangguk-angguk pelan, “Pak Ranu betulan nggak mau saya antar sampai ke stasiun, Pak?” “Nggak perlu, Gi.” Ranu masuk ke taksinya. Menutup pintu, melambai ringan pada Egi sambil tersenyum. Ranu bersandar pada kursi taksi itu. Tangannya menggenggam satu benda. Gantungan kunci berbentuk bunga matahari.

Selamat tinggal Jakarta. Selamat tinggal Manis. Mungkinkah kita akan kembali berjumpa?

105

106

. tujuh tahun pun belum sanggup menguapkan kenangankenangan manis itu. Merasa lebih baik jika ia tak tahu pria itu ada di mana. begitu ibu berbisik di telinga Iris ketika memaksanya datang menemui laki-laki itu. Tujuh tahun sudah Iris lewati tanpa merasa bergerak maju sedikitpun. Iris tak pernah melihatnya di toko bunga lagi. Dia yang terbaik buatmu. Berat dan dalam. Laki-laki yang menghubunginya itu adalah calon suaminya. Menghela napas saat membaca satu nama yang berkelip-kelip pada layar ponselnya. Ibu yang menjodohkan laki-laki itu dengan Iris dua tahun lalu. Tak ada yang berubah pada dirinya.APA KABAR. Usianya bertambah. Iris enggan menanyakannya pada Egi ataupun Eta. Kenangan yang manisnya masih terasa hingga kini. di daerah Jakarta Barat. BUNGA? Pria Bunga. Anak pemilik rumah sakit yang sekaligus anak dari kawan dekat ibunya. masih berambut pendek dan masih bertubuh mungil. berapa lama kita tak bertemu? Satu hari? Satu minggu? Satu bulan? Satu tahun? Aku tak tahu.. Arga adalah laki-laki bertubuh jangkung 107 . Iris sukses lulus dengan nilai terbaik dari kampusnya.. Rupanya alasan ibu meminta Iris bekerja di rumah sakit pilihannya adalah perjodohan Iris dengan Arga. mereka akan melangsungkan pernikahan. Iris memandangi refleksi dirinya di cermin kamarnya. Bagiku kita selalu bertemu. Eta bekerja di rumah sakit swasta yang cukup besar di daerah Jakarta Selatan. Menikmati secuil kecil kehidupannya yang dulu Iris anggap akan segera menguap dari kepalanya dengan cepat. Kenangan yang manisnya mengusik ibu. Iris. Iris meliriknya. Ponsel Iris bergetar. Nyatanya. Sosok laki-laki itu segera terbayang dalam kepala Iris. Karenanya Iris terpaksa menyewa kontrakan seorang diri. tapi jiwanya masih terjebak di satu waktu pada masa lalu. Tempat yang sudah ditawarkan padanya sejak masih kuliah dulu. Ia kini bekerja di rumah sakit swasta kecil milik kawan ibunya. Mengusir Pria Bunga-nya hingga entah ke mana. meski hanya di dalam khayalku. Arga. “Ris. Iris memandangi cincin yang melingkari jari manisnya. Sementara. Yang terbaik.” Suara Arga terdengar di ujung sana. Hanya kini ia memakai seragam perawat. Dua bulan lagi.

sayang. tadi aku sempet ke warteg deket kontrakan aku. Sedikit berharap Arga menyadarinya. Tak berniat melakukan hal yang sama pada laki-laki itu. Lama-lama ia mulai lelah dengan segala kepura-puraan ini. sayangnya hal itu tidak terjadi. Iris mengangguk. Sama sekali tidak.” Iris akan berkata. Tersenyum pada Iris. “Aku udah di depan gang kontrakan kamu. “Udah. Iris tentu akan segera berlari menuju tempatnya menunggu secepat yang ia bisa.” “Jangan lama-lama ya. Pengemudinya bersandar pada pintu mobil. Manusia higienis yang sangat membenci warteg dekat kontrakan Iris. lantas meninggalkannya. Ris?” Arga memakai sabuk pengamannya.dengan badan yang tidak terlalu kurus.” “Warteg deket kali itu?” Mobil mulai meninggalkan tempatnya terparkir tadi. Iris cuma akan tersenyum sebagai balasannya. Arga. menoleh pada Iris. Iris mengangguk-angguk. meski sesungguhnya ia belum sarapan. Iris mengikutinya dari belakang. aku sebentar lagi ke situ. Tapi. Iris hanya berharap Arga akan merasa 108 . Lantas duduk di kursi sebelah pengemudi. Dua tahun cukup bagi Iris untuk memahami bahwa Arga sangat menjaga kebersihan.” Tut. Lebih tepatnya. Iris sengaja memperlambat prosesi-siap-siap-berangkat-kerja-nya. “Iya. Arga berputar dan membukakan pintu untuk Iris. Menunduk sedikit dan mengecup pipi kanan Iris. pergilah sana sendiri! Kalau saja bukan karena ibu yang mengenalkannya dengan paksa pada Arga. Kalau saja Pria Bunga yang membisikkan kata-kata itu di telinganya. “Kamu udah sarapan. Tempat Arga akan duduk. Arga melingkarkan lengannnya di pinggang Iris. Rambut ikalnya yang cukup panjang agak menutupi salah satu alis matanya. membenci semua warung makan kecil di pinggir jalan dan warteg-warteg kecil di ujung-ujung gang. Iris balas tersenyum pada laki-laki itu. nih.  Sedan hijau metalik itu terparkir di depan seberang gang tempat tinggal Iris. Perlakuan yang seperti biasa dilakukannya setiap pagi.

” Iris buru-buru menoleh. “Makanannya enak kok di situ. Pria di toko itu masih terlalu muda. Sekian lama Iris melalui jalan itu.. Jantungnya mencelos.” Arga tersenyum menggoda. Tubuhku jadi kebal sama bakteri-bakteri itu.” Iris mengikik pelan. Iris menyapu pandangannya ke jajaran toko di sisi kiri jalan.” Arga bergidik sekali. . baru kali ini ia melihatnya. Iris cepat-cepat menggeleng. Pria berambut pendek dengan kumis dan janggut yang seperti baru dicukur secara asal. Ga. Toko itu tampak baru.” Arga mulai menceramahi Iris. Iris mengerjapkan matanya beberapa kali. “Aku nggak tahu kalau kamu tertarik sama bunga-bunga. “Emang nggak tertarik.. Sadar bahwa Arga sudah selesai dengan kuliah tentang makanan bergizinya itu dan kini tengah memperhatikan dirinya. makanan nggak higienis itu sumber banyak penyakit. Iris tertawa-tawa di dalam hati.. Sejak dulu ia memang selalu suka anak-anak... Kemacetan seakan tak lagi terasa mengesalkan bagi Iris yang hampir setiap hari harus bergumul dengannya.” “Itu barusan kamu antusias banget ngeliatin toko bunga di pinggir jalan. Iris memilih memandangi jalanan alih-alih mendengarkan Arga melakukan ceramah paginya seputar makanan bergizi. Dan anak-anak juga selalu nyaman di dekat 109 . “Aku cuma lagi ngebayangin kalau tiba-tiba kamu jemput aku pakai colt tadi. Dan buktinya aku masih sehat wal afiat. dari dulu aku emang makan makanan kayak gitu.Iris terlalu jorok untuk menjadi pendampingnya. Sekali-sekali kamu harus coba. Pegawai toko itu sedang sibuk mengangkut ember-ember bunga dari sebuah mobil colt hitam menuju tokonya. Ris. kok. “Nih ya.”  Merawat anak-anak kecil di rumah sakit sangat menyenangkan bagi Iris.” “Ah. Jangan-jangan air masaknya diambil dari kali situ juga.. Mata Iris tak sengaja menangkap sebuah toko bunga di sana. dan segera membatalkan pertunangan mereka. Akhirnya menyadari bahwa ia salah lihat. Iris. Siapa tahu banyak bakterinya. Ga. “Itu nggak higienis.

Iris. memandangi jalan. Perlahan Iris beringsut dari spot favorit barunya itu. Setiap selesai memberikan obat pada peri-peri kecil itu. Iris sungguh berharap September tidak datang semakin cepat karena kartu-kartu itu sudah muncul di hadapannya. Arga tersenyum. memandangi Pria Bunga yang kini entah ada di mana. Mengelap mulutnya dengan tisu.  Arga menyodorkan sejumlah kartu undangan aneka rupa ke hadapan Iris. Tapi sebagian kecil dirinya yang usang memaksa Iris untuk tetap bertahan. “Kamu suka yang mana. Iris mengetik sebuah balasan: oke. Siap untuk kembali berpura-pura lagi. Membaca tulisan yang berkelip di sana. Setidaknya sampai ia tak bisa lagi membedakan mana yang pura-pura dan mana yang nyata. Siap untuk makan siang dengan Arga. menatap Iris dengan berseri-seri. Dari Arga: Ris. Mungkin itulah yang membuat Iris ditempatkan di bagian perawatan anak yang ada di lantai tiga. sang calon suami. Satu pesan masuk. Iris nyaris tersedak nasi yang tengah dikunyahnya. Ponsel Iris bergetar di saku bajunya. Kita makan siang bareng. yang suka bertengger di pinggir jendela dan memandangi langit. Menyerahkan pada Arga sambil memberikan pendapatnya seputar kartu pilihannya. Iris merogohnya. Terkadang Iris merasa usang dan berpikir untuk melebur saja dengan diri pura-puranya itu. sayang?” Arga mengulang sekali lagi. kemudian memilih salah satunya. Iris akan mencuri waktu sejenak untuk mengintip langitnya tercinta. Selera makannya hilang mendadak akibat melihat kartu-kartu itu. Dirinya yang masih seperti Iris tujuh tahun yang lalu. 110 . “Kamu suka yang mana. Tatapan yang berharap Iris akan antusias membolak-balik kartu-kartu itu. aku tunggu di lobi ya. Mungkin i a mengira Iris tak mendengar kata-katanya tadi. Satu-satunya waktu bagi Iris untuk sejenak berhenti dari segala kepura-puraannya dan menjadi dirinya sendiri. Ris?” Iris meneguk air minumnya. Hanya memandangi kartu-kartu undangan itu tanpa sedikit pun tergerak untuk mengambil salah satunya.

boleh?” Arga menarik tangan Iris yang menggenggam tangannya. Ris. Ris. Tak pernah benar-benar menerima dan setuju pada semua keputusan ibu. menatap mata Iris dengan tatapan yang tidak Iris suka. harus aku pilih sekarang. “Gimana?” Iris memutuskan untuk mengangguk kecil. Ga.. Tahu bahwa sejak dua tahun lalu. seakan menyetujui ide tersebut.. “Kalau aku pilihnya nggak sekarang. Mengingatkan Iris pada senyum-senyum yang sama ketika Arga memintanya memilih tempat resepsi. Ga?” Sedikit ragu.“Harus. maksud aku. kamu bawa kartu-kartu ini. Iris tak pernah sedikitpun benar-benar menerima. “Gini deh. “Kabarin aku secepatnya ya.” Iris tersenyum. “Iris. “Tunggu aja ya.” “Kamu aja deh yang pilih. kita nggak repot lagi. Malah mungkin juga hanya akan menghuni tas Iris saja tanpa disentuh si empunya. Aku lagi nggak mood buat milih-milih kartu. Jadi jangan semua aku yang milih. orangtua Arga..” Tidak akan pernah mood itu ada.  Sabtu. Satu hari spesial bagi Iris karena hari itu adalah waktunya untuk berkumpul bersama Eta dan Egi. Aku setuju-setuju aja kok sama pilihan kamu. ketika Arga memintanya menentukan konsep pernikahan mereka. nanti kalau sudah kamu pilih. Iris merasa Arga seharusnya tahu. ataupun Arga sendiri. Sama seperti saat siang itu. Ga. sejak pertama kali ibu dan orangtuanya mengatakan mereka akan menikah.. kamu pilih sekarang biar nanti kalau sudah makin dekat waktunya.. Tidak akan.” Arga berbisik di telinga Iris sebelum mereka memasuki lobi rumah sakit. Satu hari di akhir minggu yang memang sengaja dipilih Iris agar Arga tak punya banyak kesempatan untuk mengajaknya jalan keluar. Iris mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Arga. Tunggu lah sampai entah kapan.” Arga tersenyum. kartu-kartu yang masuk ke dalam tas Iris itu hanya akan jadi alat penghilang gerah saja di kontrakan. Iris akan menghabiskan waktu seharian bersama kedua sahabatnya itu dalam bentuk 111 . Tinggal bilang ke aku..

Iris tak ingin benteng pertahanan yang telah dibangunnya bertahun-tahun harus runtuh malam itu dan berakhir dengan dirinya yang menanyakan: Pak Ranu sekarang ada di mana? “Beli kopi lagi ya. Dan terkadang.” Iris nyengir lebar.makan. dan menemui event organizer untuk mengurus pernikahannya dengan Arga.. mungkin kita nggak bisa kayak gini ya. Seingat Iris.” Jantung Iris berdegup kencang saat mendengar nama itu disebut Egi. toko perhiasan. “Kok yang kayak kalian bisa-bisanya nggak kerja di rumah sakit jiwa. maka satu-satunya yang bisa Iris lakukan adalah melakukan hal yang serupa. atau piknik ke tempat wisata. Iris. Duduk di sebuah warung kopi pinggir jalan setelah menikmati wisata air terjun yang tempatnya tidak terlalu ramai. Angin yang menerpa kulit Iris mendadak terasa semakin dingin.” “Aneh gimana?” Eta menyambar. lebih parah!” “Kalau begitu ini aneh. Hari itu. Egi cuma tertawa melihat kekonyolan dua perempuan di hadapannya itu. Iris sempat mencurigai ini merupakan cara Arga mendapat perhatiannya 112 . Eta. nama itu tak pernah disebut selama hampir tujuh tahun ini... Pria itu sudah berusaha menghindarinya demi ibu Iris. “Tiba-tiba saya jadi kepikiran. nonton..  Hampir setiap akhir minggu. dan Egi terdampar di daerah Gunung Bundar. Iris dan Eta sibuk memperhatikan uap yang keluar dari mulut mereka saat bernapas. mulai tambah dingin nih kayaknya. Iris berharap Pria Bunga-nya bisa ikut serta.. kini Iris bolak-balik keluar masuk toko-toko kebaya. Kalau yang kerja di rumah sakit jiwa. kalau Iris nggak nyusruk ke toko bunga Pak Ranu. Jika begitu. “Apakah semua perawat kelakuannya seperti kalian berdua gini?” Egi mengekeh pelan.” Dua pukulan langsung mendarat di kedua lengan Egi yang mengikik bahagia. Baru kemudian menyadari bahwa cuaca memang sangat dingin hingga uap-uap itu tercipta. “Tergantung. Benar-benar tak ingin membicarakan soal Pria Bunga.. Gi. Jawa Barat. segera berdiri dan masuk ke dalam warung. Hanya berharap. Iris menggeleng.

” Iris merasa pernikahan memang tak seharusnya didasari oleh perjodohan. musim semi. Kamu tahu. Aku juga suka. Berwarna putih kehijauan dengan hiasan bunga-bunga clover di ujung salah satu sisinya. Mengurangi waktu Iris untuk sekadar mengobrol dengan Eta dan Egi. mungkin. musim ketika cinta ikut bersemi.” 113 .” Arga menggenggam tangan Iris. Matanya memancarkan aura hangat yang tulus. “Aku juga. Bahwa orangtua kita hanya perantara. Kadang mengunjungi ibu Iris di Bogor setiap mereka selesai dengan urusan pernikahan yang lama-lama bikin Iris semakin muak. “Aku suka yang ini.” Arga membelai lembut jemari tangan Iris. Mungkin. dan jujur saja. Ia letih mengelak dan mulai kehabisan alasan. Kelihatan puas sekali. “Cocok sama konsep pernikahan kita. Saling menyayangi dengan penuh ketulusan. Hanya selembar kartu tanpa amplop. “Bagus. Undangan. Suatu prosesi sakral yang seharusnya dilakukan sepasang manusia yang saling mencinta. “Terima kasih karena telah datang di kehidupanku.” Pernikahan.. Persis seperti kaset yang sudah rusak dan memutar bagian pita yang sama berulang-ulang. dan undangan. Bukan karena perjodohan. Iris. aku selalu berpikir bahwa perjodohan ini memang sudah ditakdirkan Tuhan. “Terima kasih. Arga memandangi kartu undangan dalam genggaman tangannya. Mungkin puas karena pada akhirnya Iris memilih satu kartu untuk segera dicetak seperti yang ia minta. Arga tersenyum. Baru sekali itu Iris melihat tatapan Arga yang sedemikian lembut. undangan. Iris balas menggenggam tangan Arga. Ga. untuk yang pertama kalinya. Tapi detik itu ia berpikir. Telinga Iris letih mendengar Arga menanyakan hal yang sama tiap kali mereka bertemu. dengan tulus ia tersenyum. Arga lah yang terbaik buat Iris. mungkin perjodohan akan menghadirkan rasa cinta yang mendasari pernikahan itu. Musim Semi..di akhir minggu. Bukan.” Iris menyodorkan kartu undangan itu pada Arga. Iris menyerahkan satu contoh kartu undangan yang sudah ditanyakan Arga sepanjang minggu itu. Arga malah makin memenuhi akhir minggu Iris dengan acara kumpul-kumpul dengan keluarga besarnya. Mungkin ibu memang benar. Memandangi Iris sejenak. aku tidak pernah keberatan. Sesuai dengan konsep pernikahan mereka. Iris mengulangi kata itu dalam kepalanya. Terima kasih.

Jantungnya berdebar ketika ia membaca nama yang tertera pada kartu pasien itu. Anak ini butuh istirahat. Nanti akan ada perawat yang datang beberapa jam sekali untuk mengganti botol infusnya. Lilac Asteria. Mengingatkan Iris pada wajah ibunya tiap kali Iris jatuh sakit. Permisi. Kenapa terasa begitu dekat? Begitu. Pikiran Iris melayang pada satu toko bunga yang papan namanya ia eja hampir setiap hari. Ada raut-raut kecemasan pada wajah perempuan itu.” Iris menunjuk satu tombol di sisi tempat tidur. Bu. tolong pasien ini jangan diganggu ya.. Ia masih memandangi kartu pasien gadis kecil tadi. ibu bisa memijit tombol ini ya. Tapi ia tidak ingat di mana.” “Kalau ada sesuatu pada pasien. Bu. Membiarkan yang berlalu agar tetap berlalu. Iris seperti pernah melihat gadis kecil itu di suatu tempat. Ada jutaan nama Lilac di dunia. Perempuan itu balas tersenyum dan mengangguk kecil.. Iris menusukkan jarum infus pada tangan gadis kecil itu. Seorang gadis kecil yang datang dibawa oleh nenek dan kakeknya. Iris melirik kartu pasien anak itu. Iris tersenyum sendiri. Iris menutup sedikit tirai yang mengelilingi tempat tidur si gadis kecil sebelum meninggalkan tempat itu. Jika anak ini memang putri dari Pria Bunga-nya. maka pria itu pasti sudah ada di sini. “Terima kasih ya. Merasa lucu karena memori- 114 . Iris menatap wajah anak itu sekali lagi.Ada hidup yang harus bergerak maju. suster. Bu. Ia menggeleng pelan pada dirinya sendiri. Ada perasaan aneh yang menghinggapi Iris ketika tangannya menyentuh tangan gadis itu. selalu datang dari ibu? Bukankah selalu begitu?  Pasien baru di ruang perawatan anak yang datang sore itu sangat mengusik ingatan Iris. Perempuan itu mengangguk lagi. Lilac Asteria. Pada pemiliknya yang tertawa pelan pada satu senja dan mengatakan akan membawa si empunya nama pada Iris suatu hari nanti. Entah kenapa wajah anak itu terasa tidak asing dalam ingatan Iris. bukannya malah diantar nenek dan kakeknya. Lilac.” Iris tersenyum pada perempuan baya di sebelah kasur gadis kecil itu. Sayangnya nanti itu tak pernah datang. akrab? “Bu. Bukankah semua yang terbaik.

Tak mungkin salah. Iris dengar anak itu terjaga sepanjang malam tadi. Ia membayangkan beberapa pasien kecilnya pasti masih lelap tertidur. Berkomat kamit tanpa suara: See You!  Iris paling suka bekerja di pagi hari. Ris!” Arga berdiri di depan lift ketika pintunya membuka. Seakan hanya dirinya dan 115 . Mungkin karena sore harinya gadis kecil itu sudah cukup tidur. Kamu?” “Aku mau ambil kunci mobilku di atas. anak itu masih tertidur pulas. Kasur yang pertama ia hampiri adalah kasur gadis kecil yang tiba kemarin sore itu. Pria itu.” Iris mengangguk. tersenyum pada Iris. Kumis dan janggut tipis yang tak pernah berubah. Iris berbelok ke dalam ruang perawatan anak. Iris menarik tirai yang menutupi kasur gadis kecil itu hingga terbuka separuh. “Iya. “Hey. Pria Bunga. dan paket-paket obat yang akan ia berikan pada pasien-pasien mudanya di lantai tiga. Jantung Iris berdebar sangat kencang. Kamu tunggu aku di lobby aja ya. Arga melambai kecil padanya. napas Iris tercekat ketika matanya bertemu dengan mata si pria yang duduk bersisian dengan perempuan itu. Iris merasa suasana menjadi nyenyat seketika. Pak Ranu. Perlahan. Seorang perempuan dan. Seluruh sendi di tubuh Iris mendadak kaku. Iris menyimpan kartu pasien yang sedari tadi ia pandangi. Ketinggalan di laci meja kayaknya. Saat rumah sakit belum terlalu ramai sekali dan para kerabat yang menemani masih separuh tertidur di sepanjang koridor rumah sakit atau pun di tepi kasur si pasien. Tak bisa digerakkan. Garis-garis kedewasan pada wajahnya yang masih sama. Iris membawa beberapa botol infus. Jika begitu tentunya pagi ini anak itu masih tertidur nyenyak..memori yang sedang berusaha ia hapus satu-satu malah kembali terbuka hanya karena sebuah nama yang belum tentu berasal dari sosok yang sama. Wajah yang sedang berusaha Iris hapus dari dalam kepalanya.. Benar saja. Ia buru-buru keluar lift. Iris menangkap dua sosok yang duduk di sebelah kasur gadis itu. Seakan tak ada manusia lain dalam ruangan itu. Wajahnya masih melekat dalam ingatan Iris. “Kamu sudah selesai?” Iris mengangguk.

tapi berusaha agar tidak terlihat terlalu buru-buru. Bu. Iris tahu ada luka yang kembali menganga di dalam dadanya karena sakitnya kembali terasa. Mengerjapkan matanya berkali-kali. dengan perempuan itu di sisinya. Ia berusaha tersenyum dengan ramah. Hal manis yang membuat Iris justru merasa sakit. Bu..” Iris tersenyum. Tangannya agak gemetar. Ia enggan berlama-lama di situ. 116 . Perempuan di sisi Ranu segera menarik perhatian Iris. Sedikit berharap Pak Ranu segera menguap hilang setelah matanya mengerjap. Pak. ia mengerjapkan matanya. Iris menatap Pak Ranu tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Iris cepat-cepat menyusutkan aliran itu dengan tangannya.” Iris merasa lebih mudah jika dia pura-pura tidak mengenal Pak Ranu. Pikiran Iris kembali dalam ruang perawatan anak. Ada yang hangat mengalir dari ujung matanya. Iris menoleh pada Pak Ranu dan si perempuan cantik itu. Terutama jika perempuan cantik yang memandangi Ranu di sisinya itu memang benar-benar ibu baru Lilac. “Pagi. Iris menghela napas dalam-dalam sambil bergerak menuju kasur selanjutnya. Botol infus telah terpasang sempurna.” Cekatan. “Permisi sebentar. Akan lebih baik jika mereka tetap begini. Sulit menahan matanya untuk tidak mengalirkan air dengan segera. Mari. Sakit rasanya melihat sosok yang ia rindukan selama hampir tujuh tahun lamanya duduk bersisian dengan perempuan lain. Pak. Menganggap apa yang terjadi tujuh tahun lalu itu adalah sebuah kekeliruan besar. “Permisi. Pak. Sulit menahan ledakan rasa yang sudah menekan kerongkongannya. Seperti juga halnya Iris yang akan segera punya kehidupan baru. Tapi harapannya sirna setelah sosok itu masih duduk tegak di hadapannya. Ia menutup tirai seperti semula. Iris mengalahkan kekakuan sendi-sendi tubuhnya. Bahwa sosok yang ia lihat duduk di hadapannya itu tidak benar-benar nyata.. Benar-benar tak menyangka akan bertemu Pak Ranu di waktu seperti ini. sedang menunggui anaknya yang jatuh sakit. Cepat.. Istri barunya kah? Iris mengumpulkan segenap suaranya yang dicuri mata Pak Ranu sedetik tadi. Napas Iris terasa berat. Tolong anaknya jangan diganggu dulu. Pria itu sudah punya kehidupan baru. Bu. anak ini butuh istirahat yang cukup. saya mau mengganti botol infus.. Suara-suara di sekitarnya kembali terdengar.Pak Ranu lah yang terpaku di tempat masing-masing. Iris berusaha menjejak tanah kuatkuat meski lututnya terasa lemas. Iris mengganti botol infus Lilac dengan yang baru.

panjang dan dalam.” Iris tersenyum. Jadi tenang aja. Perempuan yang beruntung. Wajah Pak Ranu yang tadi pagi dilihatnya masih membayang dalam benak Iris. “Ngebayanginnya aja aku udah ngeri. Mungkin lelaki higienis ini memang yang terbaik bagi Iris. Cuma wanginya aja yang kadang suka bikin nggak nahan. hari ini aku kebagian shift malam. Hanya satu yang berbeda.. Masa lalu akan tetap beku di tempatnya dahulu. Nggak apa-apa kan?” Dan.” “Naik bus? Berjejalan sama orang-orang yang berkeringat itu?” Arga menggeleng. “Nggak apa-apa. Kamu pulang naik taksi aja ya. Duduk di tempatku semula. tujuh tahun tak juga membuatku lupa? Lupa pada sesuatu yang bernama cinta.” Iris menoleh. sejak kecil. Naik taksi aja. adanya si perempuan cantik itu di sisinya. “Aku naik bus aja juga nggak apa-apa. sayang. lakilaki yang ada di hadapan Iris itulah yang akan menjadi laki-laki masa depannya.” Iris menarik tangan Arga. aku udah biasa naik bus. Tidakkah kau tahu. Lelaki yang dicintai ibunya. Iris menanti Arga datang sambil melamun menatap angkasa. Jam kerja Iris sudah berakhir sejak pukul tiga. Tak ada yang berubah dari sosok pria yang pernah dan masih Iris idamkan itu. Dan Iris adalah bagian dari masa lalu Pak Ranu yang harus merelakannya berlalu dengan perempuan masa depannya. Membisiki hati kecilnya agar menurut dan tidak rewel: yang berlalu harus tetap berlalu. Sebelah alisnya terangkat. Iris menghela napasnya. “Kamu kenapa?” 117 . “Maaf. Nggak sejorok itu juga kok. tertawa pelan.Tak kusangka sudah ada dia di sana.” Arga menatap Iris dengan heran. Iris masih tersenyum padanya.. Pak dokter. Bukankah apa yang dicintai ibu juga dicintai Iris? Bukankah yang membahagiakan ibu juga membahagiakan Iris? Bukankah yang terbaik bagi ibu adalah yang terbaik bagi Iris juga? Iris menatap mata Arga dalam-dalam. “Ris. Masa lalu memang tak bisa dibawa menyeberang waktu. Lelaki yang membahagiakan ibunya. “Pak dokter. Arga melambai ke arahnya.  Iris duduk di dekat tempat satpam tepat di sebelah pintu masuk rumah sakit.

” “Iya. Ga. ngobrol sama kamu nggak ada habisnya. ia melirik jam tangannya. Pukul satu pagi.” Iris menjulurkan lidahnya sedikit. ada yang beda. Iris merasa. 118 .” Beda? Bukan beda. Jalan yang sama seperti tahunan lalu. siapa tahu ada yang nemenin kamu pas jaga malam nanti.  Iris memandangi nama Arga di layar ponselnya. Ya. “Masa? Perasaan kamu aja. mungkin jalan itu adalah jalan yang terbaik yang pernah ia lalui. Udah kesorean.” “Pantes aja mukamu serem!” Iris mengekeh sambil melangkah cepat meninggalkan Arga yang bertolak pinggang dengan ekspresi sok-marah.” Iris nyengir lebar.” “Aku udah jadi sahabat mereka semua dari dulu. Arga tertawa.. separuhnya hilang dicuri orang. Hari itu. Kembali menjadi Iris yang hatinya utuh setelah selama tujuh tahun. Hati-hati ya. jadi ngerasa ada yang beda deh. “Aku pulang sekarang ya. pak dokter harus menunaikan kewajibannya melayani masyarakat dulu. Iris hanya kembali menjadi dirinya yang telah lama hilang. Ris!” Iris mengacungkan ibu jarinya. hari itu ada yang berbeda. Ga. Apa yang akan dilakukan seorang calon istri yang baik saat pasangannya tengah menunaikan kewajibannya melayani masyarakat? Menghubunginya. ya. Jalan yang biasanya ia lalui setengah hati. “Hati-hati ya. Kembali menjadi Iris sebelum pertemuannya dengan Pak Ranu.. Kembali. “Udah ah. Nona Suster. Pak Dokter. yang lebih tulus. Iris memutuskan untuk menjadi calon istri yang baik bagi Arga mulai hari itu. “Maaf ya Nona Suster.. Arga sudah meluruskan tangannya lagi. Mungkin. Berbalik dan menghadapi jalan raya. tersenyum.. karena kamu nggak enak nggak bisa nganter aku pulang. Melirik jam dinding di atas kasurnya. Tapi. nona suster memaklumi kok.“Kenapa apa?” “Kayaknya. dan balas melambai. aku pulang sekarang. Daahh!” Iris melambai sambil tertawa-tawa.

Nungguin anak di rumah sakit. Berapa lama ia tak pernah menganggap Arga ada dan memperlakukannya seperti ini? “Eitss. Jadi kepikiran. Sebentar kemudian suara Arga menyapa telinganya. kalau jadi orangtua mungkin begitu lah pengorbanannya.” Arga mengekeh lagi. Terdengar nada tunggu. Aku tutup deh kalau gitu. Sampai ketemu besok ya.” “Ohh.. Ga?” “Cerita soal kamu. bukan kok. Makasih ya udah sempat nelepon aku. ya ya... Sampai ketemu besok ya.Ibu jari Iris memijit tombol berlogo telepon warna hijau. “Ris?” Hanya satu anak di lantai tiga yang menderita gejala tyfus.. Seorang anak perempuan.. Nona Suster.” Arga mengekeh.” Deg.. “Ris?” Dan Arga baru saja berbincang dengan orangtuanya. maaf lama. Ris?” Pria Bunga. Mimpi indah. aku nggak rela kalau langsung ditutup. aku ngerasa dekat aja sama bapak-bapak tadi. Aku iseng tanya-tanya. Ris.” Iris meneguk ludahnya sendiri..” Iris tersenyum. “Halo. Anaknya salah satu pasien di ruang anak. Lilac. Ga. “kebetulan aja ketemu di kantin rumah sakit. Jarangjarang kamu nelepon aku. Ris. Ayahnya. Lilac Asteria. Sakit apa? Parah?” “Gejala tyfus. “Nggak tahu kenapa. “Pasien kamu?” “Bukan. jadi aku ganggu nih? Cewek ya pasti.” Iris tertawa pelan.. Ga. sayang. Bapak-bapak.. Ponselku lowbat..” Tut.” “Ya? Oh. 119 . Ris. Dia orangtua pasien. aku lagi ngobrol sama seseorang.” “Oh ya? Pasien yang aku rawat dong. kamu cerita apa aja. “Halo Nona Suster. “Maaf... “Kamu.

120 .

Kang. silakan dicobaan. Ranu menggenggam gantungan kunci berbentuk bunga matahari erat-erat. Pak Asep dan Istrinya. Mengirim sepiring makanan kecil pada Ranu. Ranu bergegas keluar dari kamarnya. 121 . Ranu akan kembali menyerah pada otaknya yang belum juga mampu mengusir sosok Iris dari tiap lipatannya. Satu-satunya cara untuk menghilangkan sejenak bayang-bayang seorang gadis di Jakarta yang sudah tak pernah dilihatnya lagi selama hampir tujuh tahun. Ya. Kang. “Ini tadi teh ngadamel bala-bala agak lebih. Saat senja tiba.APA KABAR. tak pernah mempermasalahkan kedekatan Aini dengan Ranu. Ranu akan kembali ke rumah sederhananya yang tak begitu jauh dari kebun mungilnya itu. Meski paham betul dengan status Ranu. Malam hari. Meski Ranu akan cukup terhibur mendengar kabar sekecil apapun tentang gadis itu. Rambut hitamnya yang panjang.5” Seorang perempuan muda berdiri di hadapan Ranu. Aini adalah tetangga Ranu yang ibunya membuka usaha warung kopi kecil-kecilan. Seperti setiap kali kumelihat dirimu tertawa di dalam kepala. Aini. Tersenyum sambil menyodorkan piring berisi bakwan goreng. berapa lama kita tak berjumpa? Kuharap kau bahagia. Aini adalah anak sulung keluarga tersebut. Kabar terakhir yang Ranu dengar dari Egi adalah kelulusan gadis itu dengan nilai terbaik dari kampus dan bekerja di rumah sakit yang direkomendasikan oleh Irene. Aini adalah 5 Ini tadi saya bikin bakwan agak lebih. orangtua Aini. hanya di dalam kepala. Perempuan di hadapan Ranu itu selalu datang tiap beberapa hari sekali. Egi tak pernah membahas Iris lagi sejak kira-kira dua tahun yang lalu. digulung setinggi lehernya. silakan dicobain. BUNGA? Manis. Hamparan kebun bunga berwarna kuning-putih menjadi satu-satunya embusan nyawa bagi Ranu. Ia akan berkutat dengan bunga-bunga krisannya sepanjang hari. Ia mengantongi gantungan kunci itu saat mendengar ketukan dari pintu rumahnya. Hampir yakin siapa yang ada di depan pintu rumahnya.

Ni. “Saya jadi ngarepotkeun. Kang. dan kopi susu hangat menjadi sarapan pagi rutin Ranu selain sebungkus nasi uduk yang kadang ia beli di warung dekat rumahnya. memakai sweater tebal sebagai penghalau suhu rendah ala pegunungan. Ia mengangguk-angguk kecil.” Aini tersenyum lagi. menatap mata Ranu. 6 7 Terima kasih.. Balas tersenyum.. Ranu merapikan seluruh peralatan makannya dan segera berangkat menuju kebun mungilnya. Kebohongan besarnya. “Saya permisi sekarang.” Ranu tersadar dari lamunan sekilasnya barusan. Kang. Malam terakhir pertemuannya dengan gadis itu. 8 Tidak apa-apa. “Nuhun atuh. “Mari. Kang.. Ia selalu berjalan kaki ke kebun mungilnya. Ni. rasanya pasti berbeda. Bikin perempuan itu tersipu dan mengalihkan matanya ke kaki-kakinya sendiri. Ranu duduk seorang diri di meja makannya.” Perempuan itu segera beranjak dari teras rumah Ranu.8” Aini mendongak lagi. Kang.6” Ranu menerima piring itu dari tangan Aini. ya.7.. Sinar mata Aini mengingatkan Ranu pada Iris. Kalau saja Iris yang memberikan piring itu padanya. Saya jadi merepotkan. Tidak enak dilihat orang malam-malam saya ada di sini. Tanah di jalanan desa selalu agak lebih lembek di pagi hari akibat embun yang membasahinya. Kang. “Teu nanaon. ya. Liburan sebentar lagi dan Lilac-nya tentu akan mengunjungi Ranu di Cihideung.. Ranu memperhatikan perempuan itu hingga sosoknya memasuki pekarangan di sebelah rumah Ranu. satu telur ceplok. “Ini piringnya mau langsung kamu bawa atau saya yang antar besok? ” “Biar besok saya saja yang ambil. Ranu melirik kalender di dinding dapur itu.” Aini cepat-cepat menggeleng. Hanya sesekali dalam setahun ia bisa duduk di sana bersama Lilac-nya yang sedang berlibur. 122 .  Sepiring nasi.perempuan yang paling senang mengajak Lilac-nya bermain jika anak itu sedang berlibur di tempat Ranu. Ranu berjalan dengan sangat hati-hati. Ranu menatap piring di tangannya. Sebentuk kabut tipis masih menyapa ketika Ranu keluar dari rumahnya.

10” “Iya. Pipinya bersemu merah. Ranu baru menyadari jika dia salah ucap saat Aini tak berbicara apa-apa lagi.” Ranu balas tersenyum. Semakin mirip ibunya.11” Ranu tertawa pelan. Kang? Biasanya tanggal-tanggal segini neng Lilac sudah datang. “Heran.. Perbincangan hangat mereka terkadang membuat Ranu merasa tak enak pada perempuan itu. “Cantik.. minta dibelikan mainan-mainan. kenapa selalu bareng Kang Ranu yah kalau pagi?” Aini tertunduk. “Neng Lilac teu ka Lembang9. berbincang hangat sampai berpisah di persimpangan jalan. Mereka akan menyusuri jalan yang sama. Ranu berbelok sementara Aini lurus mencari angkutan untuk ke pasar.Langkah Ranu terhenti saat ia melihat Aini baru saja keluar dari pekarangan rumahnya.. Cantik sekali.. Ranu merasa tak enak hati. Salah satu tanda bahwa anak itu memang sudah besar sekarang. 9 Tidak ke Lembang Sudah besar ya neng Lilac 11 Cantik pasti ya negn Lilac. Sisa perjalanan mereka lanjutkan dalam sepi. heran. Ditambah dengan garis-garis wajahnya yang semakin menyerupai ibunya. Aini berangkat ke pasar untuk membeli keperluan dagang warung kopinya dan Ranu berangkat menuju kebun mungilnya. Tidak seperti tahun-tahun belakangan ini.. “Mungkin minggu depan.” Aini terbatuk sekali sebelum akhirnya tak berkomentar lagi. berikut cerewetnya jika Ranu tidak mencukur habis kumis serta janggutnya. Lilac masih sibuk ngurus sekolah baru. hampir setiap pagi Ranu berpapasan dengan perempuan itu.” Ranu teringat Lilac-nya yang dulu masih sering minta gendong. Doa Ranu tak dikabulkan. “Saya juga.. dan tak pernah sungkan ketika Ranu mengecup pipinya dengan penuh cinta. berharap Aini tak menoleh dan melihat dirinya bergerak bagai siput tua. Aini keburu menyadari keberadaannya yang hanya terpaut tiga langkah di belakang Aini. Lilac-nya selalu mengomel tiap kali Ranu hendak mengecup dahinya. Entah kebetulan atau bukan. “Geulis pasti nya neng Lilac. Aster. Lilac benar-benar persis Aster.. Kang? Tos gede nya neng Lilac. 10 123 .” Aini melirik Ranu. Hingga Ranu pamit dan berbelok ke jalan yang berbeda dengan Aini. Perempuan itu tersenyum.. Anak itu sudah besar sekarang.” “Tahun ini masuk smp ya. Ranu memperlambat langkahnya sedikit.

“Nanti. Tepat di dekat Ranu berdiri dan menanti. “Capek. meninggalkan asap di belakang Ranu dan Lilac yang berjalan masuk ke rumah. Aster. kenapa anak itu malah lebih merindukan Aini ketimbang ayah kandungnya sendiri.” Lilac melorot di kursinya. “Lilac boleh ke rumah teh Aini. Anak itu biasanya diantar salah satu supir toko material kakeknya sampai ke rumah Ranu dengan menggunakan mobil. Yah?” Lilac menegakkan tubuhnya lagi dengan wajah berseri-seri. Mobil itu berhenti di depan rumah Ranu. Ranu segera membuka pintu itu. Bersandar pada kursi itu. Sabtu.” Ranu menoleh sebentar pada supir yang mengantar Lilac. Ia berpakaian rapi dan mencukur habis kumis serta janggut tipisnya. nggak mau mampir dulu?” “Nggak usah. Semalam Lilac menghubunginya dan bilang akan datang hari ini untuk berlibur di rumah Ranu selama seminggu penuh. tersenyum pada gadis kecilnya yang kini berambut panjang tebal. Tak pernah habis pikir. Saya langsung pulang saja. Ranu melirik gadis itu. Pak. Lilac menggeleng. tersenyum.. Ranu membawa segelas teh hangat itu ke ruang tamu dan menyerahkannya pada Lilac. Ranu menggeleng. “Mas. bertambah tinggi satu-dua senti. Ranu menanti di depan rumahnya dengan tidak sabar. Meletakkan ranselnya di atas meja. dan wajah semakin menyerupai ibunya. Saat pulang nanti pun Lilac akan dijemput dari rumah Ranu. “Nggak terlalu. Kamu kan baru sampai. Lilac berjalan lebih dulu. Ranu berjalan ke dapur untuk mengambilkan air.. Masih sibuk membuatkan teh hangat.” “Yaaaahh. Menduga-duga perubahan apa yang akan dilihat pada Lilac-nya kali ini setelah hampir satu tahun Ranu tidak bertemu dengannya. Ayah. “Gimana SMP kamu? Sudah diterima?” 124 . Pak!” Mobil kijang itu berputar. Lilac memilih duduk di kursi ruang tamu. Ranu tak ingat terakhir kali anak itu masih menggandeng tangannya saat mereka berjalan beriringan. Mari. Lilac. Ranu tersenyum sendiri. sayang?” Ranu mengangkat koper Lilac dari mobil. Sebuah mobil Kijang merah mulai tampak di kejauhan. Membelokkan pembicaraan dari sosok perempuan itu.

Ranu mengerutkan dahinya. Ayah!” Lilac melongokkan kepalanya dari kamar tamu. “Ikut yang ringan-ringan saja lah. Rasanya barusan ia mendengar nama seseorang disebut oleh Lilac. Ranu merasa menggendong carryl dan berjalan di hutan belantara sepertinya bukan ekskul yang baik untuk buah hati satu-satunya itu. Lac?” Ranu menatap gadis kecil itu curiga.  Seminggu ada di Lembang. Pokoknya sebentar-sebentar Aini. Nama kota yang mulai terasa asing di telinga Ranu. Ia benar-benar enggan pergi ke sana. Anak itu senang sekali ikut Aini berbelanja ke pasar. Mereka menerima keberadaan Lilac yang bolak-balik muncul ke rumah 125 . ibu Iris mengunjungi Ranu bertahuntahun lalu. Membayangkan gadis kecilnya ikut latihan camping saja sudah membuat kepalanya pusing. Yah.” Lilac mendekap mulutnya dengan kedua tangannya. “Ayah dapat salam dari Nenek. Itu pun karena ibu mertuanya jatuh sakit dan mengharuskannya pergi ke sana. Pak Asep dan istrinya malah tidak kelihatan direpotkan. Tidak jika ibunya tak menginginkan keberadaan dirinya di sekitar gadis mungil itu. Tempatnya bagus. Memastikan bahwa telinganya tidak salah tangkap.. “Lilac beres-beres dulu. Ranu merasa dirinya tak berhak ada di kota tempat Iris tinggal. Yah?” Ranu cepat-cepat menggeleng. Sejak Irene. paduan suara misalnya?” Lilac mengerucutkan bibirnya.. siapa? Dia siapa. boleh ya.. “Kak Ragil kan adanya di pram. Jika Lilac mulai dekat dengan lawan jenisnya.. Ranu merasa Lilac malah menghabiskan waktu lebih banyak dengan Aini ketimbang dengan ayahnya sendiri.Lilac menyeruput teh hangatnya. Mengangguk-angguk senang. “Lilac diterima di SMP favorit!” Gadis kecil itu senyum-senyum penuh kemenangan. “Bukan siapa-siapa. katanya pulang nanti harus ikut Lilac ke Jakarta!” Jakarta..” Gadis kecil itu cepat-cepat beringsut dari hadapan Ranu. selalu Aini. Terakhir kali ia ke sana adalah tiga tahun lalu. “Kak. Ikut Aini memasak untuk warungnya.. Ranu mulai memikirkan alasan untuk menolak berkunjung ke Jakarta. “Lain kali kalau Ayah ke Jakarta. Rencananya Lilac mau ikut pramuka. maka tidur Ranu akan semakin tidak tenang saja. ekskulnya juga bagus. Lilac buru-buru mengangkat ranselnya. harus mampir ke sekolah Lilac yang baru.

tidak bisa sekarang. Ranu tak ingin Lilac-nya terlalu dekat dengan keluarga itu.. putri tercintanya. Mengangguk kecil sambil berusaha tersenyum. ibu Iris. sayang. Aini terlalu baik. Meminta maaf dari lubuk hatinya yang paling dalam.” Bukannya Ranu terlalu pengecut untuk muncul di Jakarta. Ada kesedihan di wajah anak itu. mengecup punggung tangan Ranu sebelum meloncat naik ke dalam mobil. “Ayah betulan nggak bisa ikut sekarang? Nanti. Lilac memeluk Aini sebagai tanda pamit pulang. nanti nenek marah-marah loh. “Nanti biar Lilac yang bantu bilang ke nenek kalau kebun ayah betul-betul ngga bisa 126 . Ranu meletakkan koper anak itu di bagian belakang mobil. Lilac lalu berbalik. Tapi. Salam saja untuk nenek ya. Lilac menutup pintu mobil. Lilac mengangguk-angguk dengan penuh semangat. Apakah perempuan itu adalah ibu yang pantas bagi anaknya? “Neng Lilac harus sering-sering main ke sini ya. Tidak. Terlalu baik hingga Ranu merasa tak ada salahnya membalas budi baik itu dengan kebaikan yang sama. “Maaf. dia berdiri mematung di depan kosan lama Iris meski tahu gadis itu sudah tidak tinggal di sana lagi.. Justru Ranu yang merasa dipusingkan.mereka. Kamu tahu kan kerjaan ayah di sini lagi betul-betul nggak bisa ditinggal. “Ayah. bahwa memang ada sesuatu antara dirinya dengan Aini. Ranu terdampar di taman tempat ia makan malam untuk yang pertama sekaligus terakhir kalinya dengan Iris. Lilac memandangi Ranu sebentar..” Ia menarik lengan Ranu agar mendekat ke pintu mobil. Sepertinya cukup kecewa karena Ranu menolak ikut ke pulang ke Jakarta hari itu. Dan malam itu. untuk sekadar berkunjung ke toko bunganya yang kini dikelola oleh Egi. Lama Ranu duduk di sana sambil menikmati kembang api yang dibakar para remaja di sekitar situ. Ranu hanya berusaha memenuhi permintaan Irene. Tapi.. Kunjungan terakhir Ranu ke Jakarta. Hanya saja. Pemandangan yang menggoyahkan pendiriannya. bukan ibu mertuanya yang ingin Ranu pulang. kakinya selalu membawa Ranu ke tempat-tempat yang tak seharusnya ia kunjungi.” Ranu mengusap kepala Lilac-nya tercinta.. Kebaikan yang sepertinya justru disalahartikan oleh Aini dan keluarganya. nanti teteh ajarin masakmasak lagi. Meski sesungguhnya tak ada yang spesial di antara dirinya dan Aini. Terlalu dekat dengan keluarga Aini dan membuat para tetangga makin meyakini kasak-kusuk yang beredar. Dia tahu. Mungkin nanti ayah nyusul ke sana. Ranu memperhatikan perempuan itu membelai kepala anaknya seperti seorang ibu pada anak kandungnya sendiri. Tiap kali ia ke Jakarta.” Aini tersenyum.. Lain kali ayah mungkin datang ke sana.

Teh Aini!” Ranu masih berdiri di depan rumahnya sampai mobil yang mengangkut Lilac tak terjangkau penglihatannya lagi.13” “Belum sempat ketemu ibu sama bapakmu juga. Membawakan barang-barang belanjaannya sampai ke rumah sebelum ia pamit dan kembali lagi ke kebun bunga kecilnya. Apakah sebegitu dekatnya perempuan ini dengan Lilac-nya? “Ni.” Lilac lalu melambai pada Ranu..  Ada yang berbeda.” Aini tersipu-sipu. Ranu merasa Aini mungkin lebih dari sekadar kakak perempuan di mata Lilac-nya. kamu juga sudah seperti kakaknya sendiri ya. Detik itu. Ayah!” Gadis kecil itu menoleh pada Aini. Tidak. Kang. punten nya. “Neng Lilac teh siga adik saya sendiri. “Henteu. Mungkin Ranu memang bukan yang terbaik bagi Iris.” “Ibu. bapak. Selalu ada Aini di kebun kecil Ranu saat makan siang dengan bekal nasi untuk Ranu. Ranu melirik Aini yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Perempuan itu tampak manis dengan semburat merah muda pada kedua pipinya. “Mungkin bagi Lilac. Mungkin. Ranu hanya merasa mungkin ia patut mengenali Aini lebih dalam dan begitu juga sebaliknya. Lilac saya ngarepotkeun selama nginap di sini. malah senang karena Neng Lilac suka bantu-bantu. Kang. Lilac saya merepotkan selama nginap di sini. tapi bagi perempuan di hadapannya ini.ditinggal sekarang. Membuat para tetangga kian gencar membicarakan status mereka berdua. Tersenyum. Di matanya.” Aini tersenyum lagi.14” Ranu tertawa pelan. 14 Neng Lilac itu sudah seperti adik saya sendiri. Tak pernah ada yang memplokramirkan hubungan spesial itu. saya jadi nggak enak garagara Lilac bolak-balik ke sana melulu. “Tos lamaran!15” 12 13 Ni.. “Sampai ketemu di liburan semester depan ya. 15 Sudah lamaran! 127 .12” Aini menoleh. selalu ada Ranu yang mendampingi Aini setiap pulang belanja. “Sampai ketemu di liburan semester depan ya. maaf ya. Perempuan itu masih berusaha melihat mobil Lilac yang telah hilang di ujung jalan.

. “Henteu. ibu dan bapakmu. Ranu tertawa pelan melihat kegugupan perempuan itu... “Kamu merasa terganggu.“Ranu nu boga kebon kembang tea?16” “Tos nikah siri?17” “Sareng Neng Aini?? Eleuh. Ia duduk di sebelah Ranu saat sedang makan siang di pinggir kebunnya.eleuh. Ia buru-buru mengalihkan matanya ke hamparan bunga di kebun Ranu.aduh… 19 Tidak terganggu. saya. Memandangi kebun bunganya. “Mungkin omongan mereka itu doa buat kamu dan saya. Bapak bilang. Ni.18” Ranu hanya tersenyum setiap omongan-omongan iseng itu sampai di telinganya. tetangga memang suka usil. Sadar Aini masih menatapnya. “Saya setuju sama bapakmu. Bunga baru akan tumbuh saat yang lama telah layu.” Ia menyesap kopinya...” Ranu tersenyum. Lantas ikut memandangi kebun bunganya lagi. Ni?” Aini cepat-cepat menggeleng. ibu. Kita cukup menjalani apa yang ada sekarang. Ranu menoleh. layu itu hanya semu? Hingga sesungguhnya. Aini menatap mata Ranu dengan takut-takut.. “Kang Ranu sudah dengar omongan-omongan tetangga?” Ranu melirik Aini tersenyum padanya. teu kaganggu19.. “Ni.” Aini mengerjapkan matanya dengan cepat. Bukan begitu? Atau. Tidak juga kamu. Tak pernah ada yang tahu rahasia Tuhan untuk hari esok. atau para tetangga usil itu. 128 . “Bapak.” “Bapak dan ibu?” Aini kembali menggeleng.. tak akan pernah ada yang baru?  16 17 Ranu yang punya kebun bunga itu? Sudah nikah siri? 18 Sama Neng Aini? Aduh. Bahkan ketika Aini juga menanyakan pendapat Ranu tentang omonganomongan orang tersebut.” Ranu mengangguk-angguk.

Ibu pulang saja.” Ranu melirik Aini. Anak itu tertidur dengan selang infus terhubung pada nadinya. menatap seseorang yang menarik tirai itu hingga terbuka separuh. Beralih pada Ranu lagi. Wajah Lilac tampak pucat. Lilac nanti saya titip ke suster sebentar. Memandangi wajah Lilac-nya yang terlihat sangat letih.Ranu panik setengah mati ketika mendengar kabar Lilac dirawat di rumah sakit karena sakit gejala tyfus. Aini. Napas Ranu terhenti seketika saat matanya bertemu dengan mata 129 .. “Bu. Kebetulan akrab dengan Lilac. Bu.. tempat Lilac dirawat. Perlengkapan Ranu sudah dikemas dalam satu ransel yang tidak terlalu besar. Saya khawatir ibu ikut sakit kalau ada di sini. biar saya yang nunggu di sini. Aini tetap memaksa ikut dan dengan sangat terpaksa Ranu akhirnya membawa perempuan itu serta. Kemudian. Ia akan datang ke Jakarta menengok anak semata wayangnya itu. “Ini. Memandangi wajah anak itu dengan khawatir. Ranu sungguh berharap anak itu lekas sehat kembali jika nanti ia bangun dan melihat ayahnya menggenggam tangannya.” Ibu mertua Ranu tersenyum pada Aini. Ranu memilih duduk di sebelahnya. Aini duduk di dekat kasur Lilac. Aini menunduk sedikit saat bertemu ibu mertua Ranu di rumah sakit. Mengangguk kecil padanya sebelum pintu lift tertutup dan kembali lagi ke kamar perawatan anak. “Ibu datang lagi sore nanti. menungguinya di rumah sakit. Aini. teman saya dari lembang. Bu. Mereka tiba pada larut malam di rumah mertua Ranu.” “Nggak usah. Ia tak tahu harus memaki anak itu atau tidak jika nanti tiba di Jakarta. Istirahat sejenak sebelum pagi-pagi sekali berangkat menuju rumah sakit. Ranu mengantarnya sampai di lift. Ranu menegakkan kepalanya. Dan meski Ranu memohon pada Aini agar tidak perlu ikut ke Jakarta. Nanti biar saya ambil sendiri sambil mengantar Aini ke rumah. Hasilnya. Ranu menggenggam tangan Lilac-nya. Jika melihat perempuan yang dikaguminya. Lilac ternyata diam-diam tetap ikut pramuka dan memaksa neneknya untuk menandatangani surat izin pergi ke perkemahan selama tiga hari.” Ibu mertua Ranu mengangguk-angguk pelan. Tirai penutup di sekeliling tempat tidur Lilac ditarik perlahan oleh seseorang. bawa baju buat kamu kalau mau bermalam di rumah sakit menemani Lilac. anak itu sakit sepulang dari perkemahan dan kini terpaksa bermalam di rumah sakit. tapi perempuan itu tidak menurut.

Seorang gadis mungil dengan seragam suster berwarna putih bersih.. Bu. Hanya ada dua detak jantung yang mampu ia dengar. Gadis yang nyaris ia buang jauh-jauh dari kehidupannya. anak ini butuh istirahat yang cukup. Tangan gadis itu masih memegangi ujung tirai yang tadi ditariknya.. dan sosok itu bukan Ranu.” Iris menutup tirai di sekitar kasur Lilac seperti semula. Mata Ranu tak lepas memperhatikan gadis mungil itu bekerja. “Permisi. Iris masih berdiri di hadapannya. Ranu memperhatikan bayang gadis itu bergerak ke kasur di seberang tempat Lilac terbaring. Ia tersenyum lagi.” Dengan cekatan suster itu mengganti botol infus Lilac.. apa kabar? “Pagi.. Ranu meragu. Satu bulatan air liur yang menggelinding dalam kerongkongan Ranu terasa bagai satu bulatan kerikil yang menusuk. Ranu memberi kekuatan pada kelopak matanya untuk mengerjap... “Permisi sebentar. Ranu berharap suster yang tersenyum ramah namun asing barusan padanya bukan Iris. Iris.. Pak. Ranu bergeming. Gadis yang tak pernah dilihatnya sejak tujuh tahun yang lalu.seseorang itu. Pak. Sapaan itu mengembalikan pikiran Ranu ke dalam ruang perawatan anak dengan Aini meliriknya heran. Suster mungil yang merawat Lilac-nya adalah Iris. Untuk meyakinkannya bahwa apa yang dilihatnya itu bukan hanya fatamorgana semata. Bukan gadis mungil yang ia kenal tujuh tahun yang lalu. Seolah ia tak pernah melihat Ranu sebelumnya. Gadis yang sama yang bekerja di toko bunganya tujuh tahun yang lalu. haruskah ia menyapa lebih dulu? Ris. Bu. Pak. Mari. Memang benar. 130 . Tidak menghilang seperti apa yang diharapkan oleh secuil hati kecilnya yang paling kecil. Bu.” Iris tersenyum ramah seramah-ramahnya. saya mau mengganti botol infus. Miliknya dan milik Iris.. Mendadak ia merasa seluruh manusia di ruangan itu menghilang. Cincin? Sudah. malah sudah menjadi istri orang? Sudah bertemu yang terbaik kah? Iris menoleh lagi pada Ranu dan Aini. Gadis yang pantas mendapat sosok yang terbaik. Gadis yang telah mencuri hatinya dan tak pernah mengembalikannya. Sebentuk cincin di jari manis Iris segera menarik perhatian Ranu. Berusaha membaca nama pada seragam suster itu. sudah dilamar kah gadis ini? Atau. Tolong anaknya jangan diganggu dulu. tampak sudah selesai dengan botol infusnya. Harapan Ranu pupus seiring dengan berhasilnya ia membaca nama pada seragam itu: Zinnia Iris.

merasakan ada yang berdenyut menyakitkan lagi dalam dadanya. Tidakkah kautahu. asing. Iris yang pagi tadi mengganti botol infus Lilac-nya. tujuh tahun kumasih memendam sesuatu itu dalam dada? Sesuatu yang bernama cinta.” Aini tak perlu tahu soal dirinya dan Iris. “Kang Ranu teh sakit?” Ranu menggeleng pelan. Ranu merogoh saku celananya. Aini masih duduk menunggui Lilacnya di dalam ruang perawatan anak. Kenangan pahit yang mendamparkannya di lembang. Balutan seragam putih bersih tadi tetap tidak merubah Iris yang Ranu kenal tujuh tahun yang lalu. 20 Kenapa. Ia menggenggam tangan Aini yang menyentuh dahinya. Terlalu sakit untuk menegur dirinya. Satu-satunya benda berharga yang ia miliki. Kang Ranu?20” Aini menempelkan telapak tangannya pada dahi Ranu yang berkeringat. Kang Ranu? 131 . Tersenyum. “Saya baik-baik saja. berubah menjadi sangat. yang membuatnya mengenal Aini..  Ranu bersandar di dekat jendela di koridor depan ruang perawatan anak. Satu-satunya yang tersisa dari Iris-nya di masa lalu. Senyum asing nan ramah itu malah semakin membakar rasanya. Memandangi jalan raya yang padat di bawahnya. Menggenggam satu benda yang selalu ia bawa ke mana-mana. Wajah Iris masih membayang dalam benaknya.. Gantungan kunci berbentuk bunga matahari. Ranu tercenung. Ranu ingin Iris tahu bahwa rasa sakit karena mengucapkan hal itu juga membekas di dalam dadanya. Atau mungkin Iris benarbenar membenci Ranu hingga tak sudi mengucap namanya. Kenangan yang sepertinya sudah dihapus oleh Iris dari daftar pengalaman hidupnya. “Ku naon. Soal kenangan pahit tujuh tahun yang lalu itu. Sorot mata itu membuatku luka. Sungguh. Hanya satu yang berbeda. Ni.Ranu mengerti. Luka yang kembali terbuka. Hingga pura-pura tak mengenal akan menjadi obat yang paling mujarab. Ranu menghela napasnya dalam-dalam. tak sudi mengenalnya lagi. Mungkin terlalu sakit hati atas ucapannya bertahuntahun lalu itu.

Sentuhan lembut pada bahu Ranu membuyarkan lamunannya.” Ranu cepat-cepat masuk ke dalam ruang perawatan. Ia tidak mengizinkan Aini untuk ikut serta. Perempuan yang berusaha ia cintai sepenuhnya. Jangan bikin ayah khawatir lagi. Kang Ranu jadi beda. hanya Ranu yang akan tetap tinggal di rumah sakit. Perempuan yang dikagumi anak semata wayangnya... Ranu menoleh. Matanya berkaca-kaca sekarang. Lilac. Masih terbang melayang tak terkendali entah ke mana. Mata teduh Lilac membuat Ranu tak kuasa memarahi anak itu. Ranu justru merasa kembali... “Mungkin. “Kang Ranu teh. Puluhan kalimat omelan yang sebelumnya sudah berputar-putar dalam kepala Ranu hilang seketika. Kembali ke dalam lingkaran masa lalu yang berusaha ia hapus.. “Jangan bikin ayah khawatir lagi.” Bibir Lilac bergetar. Ranu menyunggingkan bibirnya. maaf karena Lilac tetap ikut pramuka.. Kembali kepada sesuatu yang berusaha ia lepaskan sejak tahunan lalu. Pertemuan Ranu dengan Iris pagi tadi benar-benar merusak isi kepalanya. Ranu menoleh pada perempuan itu. mendapati Aini berdiri di hadapannya.. karena terlalu khawatir sama Lilac. “Maaf. Seutuhnya. Ni. Mereka naik lift menuju ke lobby di lantai satu. kenapa?” “Kenapa apa.”  Ranu mengecup dahi Lilac lembut sebelum mengantar Aini pulang ke rumah ibu mertuanya. Perempuan masa depannya. Ranu tak banyak bicara sejak tadi pagi. tetap ikut kemah. Aini memandangi Ranu. Perempuan itu tampak sangat keheranan. Melamun terus. saya baik-baik saja. Lilac melambai lemah pada keduanya. menghampiri kasur Lilacnya. Tapi. Pelan. Lilac sudah bangun. Ranu membelai kepala anaknya itu. Kembali. Perempuan itu tersenyum. Perempuan dengan keluarga yang menerima Ranu apa adanya..” Beda? Bukan beda.” 132 . Ayah. Malam itu. Aini memperkuat genggaman di tangan Ranu. Lilac menatap Ranu dengan wajah yang masih tampak pucat. Ni?” “Sejak tadi pagi. Ranu menggandeng tangan Aini. “Kang. Pikiran Ranu masih belum mendapatan fokusnya kembali. Ranu duduk di sebelah tempat tidur Lilac.

Pak.Aini masih memandangi Ranu. Kopi Ranu sudah tinggal setengahnya ketika seseorang duduk di sebelahnya. “Eta teh suster nu ngaganti botol inpus neng Lilac tadi pagi nya?21” Aini memicingkan matanya. “Hayu cepetan pulang.” 21 Itu suster yang mengganti botol infus neng Lilac tadi pagi ya? 133 . Tadi saya pikir kenalan saya.” Ranu melirik jam tangannya. Ranu tahu perempuan itu sadar ia tidak jujur. Sangat berharap.” Lelaki berjas putih itu tersenyum. Ternyata bukan. “Permisi ya. tak sadar kalau sejak tadi Aini mengikuti arah matanya dan melihat sepasang manusia yang sama dengan yang ia perhatikan. “Malammalam di rumah sakit begini memang enaknya minum yang hangat-hangat ya.  Malam hari di rumah sakit memang tak seindah di dalam hotel. Pak.. henteu. Menghindari pertanyaanpertanyaan yang mungkin akan diajukan Aini selanjutnya. Lilac sudah tidur. Lantas ia duduk di salah satu kursi-kursi panjang yang berjajar di sana. nyaris tersedak saat melihat sosok yang duduk di sebelahnya. Orang yang sama yang tadi siang Ranu lihat berbincang dengan Iris. Pertanyaan-pertanyaan yang akan semakin memojokkan dirinya.. Ranu hanya mengangguk saja. Kekasihnya? Atau. Si mungil dengan seragam suster yang ia kenali sebagai Iris dan seorang laki-laki jangkung berambut sedikit ikal yang membawa jas putih di lengannya. Ranu menoleh. Sepasang manusia yang berbincang di sudut sebelah luar pintu kaca itu mengusik matanya. “Kang Ranu kenal?” Ranu menggeleng. Kantin rumah sakit sangat lengang. kasihan Lilac ditinggal kelamaan. Iris juga tak menoleh dan melihat dirinya lewat di sana. “Ah. Langkah Ranu terhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Satu cangkir kopi pasti mampu mengalahkan dinginnya udara di dalam rumah sakit. Pertanyaan-pertanyaan yang sulit ia jawab selain menyinggung soal Iris.” Ranu tak menoleh ketika melewati sepasang manusia yang tadi ia perhatikan. Ranu membeli secangkir kopi. Ranu mengalihkan matanya pada pintu lift yang terbuka. Ranu memutuskan untuk pergi ke kantin rumah sakit sebentar. suaminya? “Kang Ranu kenal sama dua orang itu?” Ranu cepat-cepat menoleh.

. ya?” Ranu tertawa pelan.. Lelaki itu ikut tertawa. Pak. “Bukan dokter juga sih. “Anak-anak memang suka begitu ya.” Ranu akhirnya memutuskan untuk tersenyum. Lelaki itu bersemu. Seorang dokter. “Cantik sekali. “Sekarang belum.” Lelaki itu tersenyum malu134 . “Kerja di sini juga. “Keluarganya dirawat di lantai berapa. Pak.” “Oh. Menoleh pada Ranu. pernikahan. Pak.” Lelaki itu menerawang. Dok?” Lelaki itu menggeleng. suster.” Lelaki itu mengangguk-angguk. Dok.” Iris. Pak?” “Lantai tiga. Cincin yang serupa dengan cincin yang Ranu lihat di jari manis Iris tadi pagi. mengucapkan terima kasih dengan wajah cerah.” Ia menyesap kopi di cangkirnya..” Tertawa pelan sesudahnya.. “Calonnya satu profesi. yang terbaik.” Deg. “Ya ya. mengekeh pelan.“Iya.” Ranu berusaha tersenyum. Ranu meyakinkan dalam hatinya. Dok. Satu cincin melingkar di jari manisnya. Lelaki itu menoleh. adalah sosok yang baik bagi Iris. Ranu memikirkan pertanyaan yang tepat untuk mengetahui cincin apa itu. tapi sama-sama di bidang kesehatan. anaknya yang sakit. “Saya belum menikah.” “Yang paling cantik pasti. Membayangkan dalam kurun waktu satu bulan lagi Iris akan dipersunting oleh lelaki di hadapannya ini benar-benar terlalu menyakitkan. “Anak Dokter juga begitu?” Ranu berusaha membuat nada bicaranya tak terlalu menginterogasi. selamat ya. Lelaki itu tertawa. Jantung Ranu berdebar melihat cincin itu. bulan depan sudah. Pak?” Ranu mengangguk. “Wah. jelas calon istri saya itu suster yang paling cantik. berusaha menyembunyikan getar pada suaranya. Pak?” “Gejala tyfus. “Sakit apa anaknya. Dok. Maksa ikut kemah tapi begitu pulang ke rumah langsung sakit. seakan teringat sesuatu. Tak sadar matanya memperhatikan jemari lelaki di hadapannya itu.” Ia melirik cincin di jarinya. Ranu tahu wajah siapa yang kini sedang terbayang dalam benak lelaki di hadapannya itu. Tak bisa menebak apakah itu cincin pertunangan atau cincin. Tak terlalu seperti polisi yang menanyai para tersangka. “Dia salah satu suster di lantai tiga.

Lelaki itu mengangguk. Tapi. Semoga sukses dengan pernikahannya nanti. Menoleh pada Ranu.” Ranu tersenyum. Ranu bukan menyerah pada waktu-waktu yang telah berlalu. Pak. Lelaki yang tentunya sanggup menjaga Iris-nya. Senyum yang cukup menjelaskan betapa lelaki di hadapan Ranu itu benar-benar sedang jatuh cinta. 135 . Lelaki yang ramah. dan menunjuk ponselnya yang berkelip. Mari. Lelaki di hadapan Ranu merogoh saku jas putihnya. Memperhatikan lelaki itu sekali lagi. dan mengucapkan terima kasih sebelum berpindah ke sudut kantin. Ranu berdiri. berbicara dengan ponselnya. Bukan menyerah pada nyonya Irene yang tidak memberi restu. Senyum yang sama jika Ranu juga sedang terbayang wajah si manis itu. tersenyum. Dok. yang sepertinya memang jauh lebih baik dari dirinya. tersenyum. Dulu. Satu suara ponsel memecah detik-detik hening di kantin itu. Ranu menyerahkan Iris pada masa depannya.malu. pada calon suami Iris. Calon pendamping hidup Iris selamanya. saya juga mau kembali ke atas. “Permisi dulu.” Ranu mengangguk. “Ya. Bukan.

136 .

Iris mempercepat langkahnya. “Pak Ranu juga.” “Selamat ya. “Apa kabar. Iris mempercepat urusannya dengan jarum-jarum itu. Iris meninggalkan tempat itu. Iris menanti komentar Pak Ranu sambil tetap berkutat dengan jarum dan botol infusnya. Untuk sesaat. Iris sungguh ingin berbalik. Iris tak berani menatap balik mata Pak Ranu.” Deg. Semoga kali ini tidak keliru. “Terima kasih. Merapikan sisa-sisa kerjanya dengan cepat juga. Ia berusaha bernapas dengan normal meski oksigen terasa sangat tipis. Andai ibu bisa menerima Pak Ranu apa adanya.” Hening sebentar. berandai.. Ucapan selamat yang keluar dari mulut Pak Ranu tidak terdengar membahagiakan di telinga Iris. “Baik. Iris menangis sepuasnya di sana. perempuan yang kemarin. “Terima kasih. Penglihatannya mulai buram. Namun. Ris?” Suara itu. Ke mana saja asal tidak melihat Pria Bunga-nya.” Iris menundukkan kepalanya sedikit. Iris mengumpulkan suara terakhirnya agar sejernih yang memungkinkan. Berbelok ke dekat lift.” Hening lagi. Jantung Iris berdebar semakin kencang. Memilih untuk menghentikan pekerjaannya sesaat. TANPA HAMA PERALATAN yang Iris bawa mendadak terasa lebih berat dari biasanya. Berharap.. Pak Ranu menyunggingkan bibirnya sedikit. tentu yang terbaik. Justru terasa mengiris.Deg. Suara yang sangat Iris rindukan. Dengan tetap menunduk. Menatap Iris. Sama seperti ucapan berbelasungkawa. Terlihat seperti separuh tersenyum. hanya tarikan napas Lilac yang terdengar.. atas pernikahanmu bulan depan.YANG KEDUA. Berlari meninggalkan tempat itu. Laki-laki itu. sepasang mata yang sudah Iris kenal telah terjaga di samping kasur itu. Menarik sedikit tirai yang menutupi kasur itu. Ia menghampiri kasur Lilac. “Permisi. Iris memasuki ruang perawatan anak dengan jantung berdebar-debar.” Susah payah Iris menahan kesedihannya agar tidak tumpah di sana.. masuk ke toilet wanita. cantik. Ia pura-pura sibuk dengan peralatannya. Tak perlu ada tujuh tahun untuk 137 . Gadis kecil itu masih tertidur. Atau mungkin itu malah bukan senyum sama sekali. Ia tak sanggup lagi berlama-lama di tempat itu. Suara tenang yang dalam.

Iris membuka pintu itu dan sangat terkejut dengan siapa yang ada di hadapannya.merasakan sakit hati. Iris mengatakan pada Arga bahwa ia sakit dan menolak untuk dijenguk meski Arga memaksa. Dia memang sakit. Baru kali itu Iris melihat wajah ibu yang seperti itu. Tapi sesuatu yang lebih halus di dalam dadanya.. Ia merasa harus membenahi pikirannya.. Iris terlentang di kasurnya. Kenapa manusia satu itu malah memberinya ucapan selamat? Bukankah sudah cukup dengan pergi menghilang begitu saja? Tak perlu mengucapkan apa-apa.. Andai ibu menerima Pak Ranu apa adanya. Suara ketukan di pintu kontrakan Iris membuat matanya kembali terbuka. Kata-kata Pak Ranu masih menggema di dalam kepala Iris. Tak perlu ada pernikahan yang tak pernah Iris impikan. Bahwa keputusannya untuk menerima pernikahan ini tidak keliru. Ibu jadi khawatir.” Iris mempersilakan ibu untuk masuk. Tidak keliru. atas pernikahanmu bulan depan. Iris tidak berbohong. Ingin sendirian. Iris butuh sendirian. Wajah yang sama seperti belasan tahun lalu. Selangkah lagi. Selamat ya.  Sudah dua hari Iris tidak masuk kerja. Bukan sakit fisik. Kata-kata yang membuatnya kembali tersakiti. Andai ibu menerima Pak Ranu apa adanya. Masa depan itu membentang di hadapannya.. Ke mana kakinya harus dilangkahkan? Putar arah? Atau tetap maju? Iris memejamkan matanya.. Bergegas ke arah pintu. Ia harap bukan Arga yang ada di sana. Memandangi langit-langit kamarnya. Tak perlu ada perjodohan yang tak pernah Iris inginkan.” “Cuma pusing biasa. Tak perlu membuat Iris menyesali lagi pernikahannya bulan depan itu. “Ibu?” Ibu tersenyum. Ibu memandangi Iris dengan wajah prihatin. apa yang akan dikatakan pada Iris? Ayah. Meyakinkan hati kecilnya bahwa hidup barunya akan baik-baik saja. Jika ayah ada di sisinya. 138 . Iris menyusutkan air mata di pipinya. Ketika ayah masih ada. Bu. aku bingung. “Arga bilang kamu sakit.. Menolak untuk dijenguk.

Bukan atas jalan yang telah ibu paksakan padamu...Ketika keluarga kecilnya sangat bahagia. Ris? Bahagia dengan keberadaan Arga di sisi kamu. Menatapnya dengan lembut. “Ris. bahwa yang terbaik belum tentu yang membahagiakan. “Kamu berhak meniti jalanmu sendiri. Ris?” Iris berusaha tersenyum. Ibu menyusutkannya dengan ibu jarinya.” Ibu tersenyum. ada satu hal yang ibu sadari.. melihat kamu seperti ini. sepasang mata yang kini teduh menatap Iris. satu waktu ketika keluarga kecilnya lengkap dan bahagia. “Ris. Ibu mau. “Ada apa. “Ibu kenapa nggak bilang dulu kalau mau ke sini? Kan Iris bisa siap-siap dulu. “Maaf karena ibu terlambat menyadari hal itu. Betapa ia ingin bebas.” Ibu mengangkat wajah Iris. Kamu berhak bahagia. Tentang pernikahannya..” Iris menangis. Penipuan besar-besaran. Ibu selalu memberikan yang terbaik buat Iris. ada janji sama orang nggak jauh dari sini. sama seperti belasan tahun lalu. cahayamu meredup. Bu?” “Tahun-tahun belakangan ini. Ris..” Jantung Iris berdebar. mengembuskannya dengan berat. Ibu menghela napas dalam. Maaf karena ibu terlalu memaksakanmu. Memori Iris terlempar pada belasan tahun yang lalu.. Iris selalu bahagia dengan semua pilihan ibu. Jadi sekalian main. bahagia dengan pernikahan ini.” Satu bulir air mata menetes di pipi Iris. Penipuan besar-besaran. Iris berusaha tetap tersenyum. Maafkan ibu..” “Ibu cuma mampir. Ris. “Iris. Arga termasuk salah satunya. membelainya dengan lembut. Ibu yang sama seperti yang kini ia peluk erat-erat.” Iris meneguk ludahnya. kamu bahagia atas jalanmu itu..” Iris tertunduk. Mata itu. Maaf karena ibu telah menjadi orangtua yang egois. menangis di bahunya dan mengatakan betapa ia tertekan dengan hidupnya selama ini. “Kamu. ibu merasa. Pastilah ini tentang Arga.. Terisak di bahu ibunya.. Senyum yang membuat Iris ingin memeluk ibu. Iris menghambur dalam pelukan ibunya. Tangan ibu meraih kepala Iris. Ketika ibu hanya mengawasi Iris dari jauh saat berlarian bebas di taman dan bukannya menuntunnya untuk berjalan lurus.  139 . ibu ingin tanya sesuatu. Di dalam hati.

Iris merasa Arga jauh lebih cerah dari biasanya. Ini akan jauh lebih baik buat Arga. Dan bukan aku. Meletakkan kartu-kartu itu di meja. Mempersiapkan hatinya. Senyum yang menghjangatkan. Hari itu.. Aku tahu kamu keberatan dengan perjodohan ini. Nada tunggu yang terdengar membuat jantung Iris berdebar hebat. Ris... Menit-menit berlalu.Iris memandangi satu nama di ponselnya. “Ga. aku tahu kamu tidak menerima perjodohan ini seperti aku menerimanya dengan tulus. Memainkan sedotan di gelasnya.” Iris merasa tak sanggup melanjutkan katakatanya. Membuat Iris semakin tak tega.. aku. ini saatnya ya?” Iris mendongak menatap Arga. “Ris. sayang. tapi. “Jadi. “Ketemu di mana?” “Aku tunggu di tempat makan kita yang biasa ya. “Kamu tahu.” 140 . Aku tahu ada manusia lain di matamu setiap kali mata kita bertemu.” Arga menyerahkan beberapa kartu undangan pada Iris. Arga muncul dengan senyum lebar di wajahnya yang cerah.. Senyum yang semakin membuat Iris merasa berdosa. Kamu lelaki baik. aku tahu... Kebetulan ada yang mau aku tunjukkin ke kamu. Ris? Ada apa?” Suara Arga.. maaf. Ia menunduk. “Halo. “Maaf.” Terdengar helaan napas dari hadapan Iris. Ga.” Tut. aku minta maaf. Arga. Iris harap dosanya akan diampuni Tuhan. Sangat berdosa dengan apa yang akan ia lakukan beberapa saat lagi. Nada suara yang membuat Iris merasa berdosa... “Persis seperti yang kamu mau. Dengan pernikahan ini.. Ris? Sejak awal. Ini dia saatnya. sejak awal aku selalu berusaha membuat kita ada. ini contoh undangan untuk bulan depan.” “Oke. Saat yang terberat.. Iris menyimpan ponselnya. Tapi.” Nada itu riang. “Maaf apa?” “Maaf karena.” Arga mengerutkan dahinya.” Iris menghela napas dalam-dalam. “Kamu udah sehat?” “Ga. bisa. Buat Iris.. Arga. Ibu jari Iris memijit tombol berlogo telepon warna hijau. Arga tersenyum pada Iris.. Aku selalu berusaha membuat kamu melihat aku. Aku langsung ke sana ya. aku nggak bisa. bisa kita ketemu sekarang nggak?” “Bisa.

. Iris sangat tahu akan hal itu.” Arga menggenggam tangan Iris dengan lembut. Ia pergi ke satu tempat yang sudah lama tidak disentuhnya selama bertahun-tahun. Iris melirik angkasa. Aromanya sedap sekali.. Ris. Ris. “Tak perlu minta maaf. Iris berdiri di trotoar jalan yang remang. Sesekali melompati genangan air yang tercipta di sana-sini. Tertegun sejenak karena menyadari ada sosok tinggi yang juga berhenti di depan tenda yang sama. Hanya ada beberapa remaja yang sibuk menyulut sumbu kembang api.” Suara Iris bergetar.  Iris tidak pulang ke rumah setelah menemui Arga sore itu.“Kamu tahu. Menyusuri trotoar yang agak basah karena hujan sore tadi. “Jangan lepaskan aku. maafkan aku.. meletakkannya perlahan di atas meja. Langit Jakarta tampak cerah bertaburkan bintang-bintang. Ris? Aku paham sekali bahwa pernikahan itu melibatkan sepasang manusia. Bukan cuma satu. Arga melepaskan tangan Iris. Iris menyeberangi jalan raya itu.. Bukan cuma aku yang menunggu kamu untuk menerimaku dalam kehidupanmu. Aku yang salah karena terlalu memaksakan diri.. Biar aku yang melepaskan kamu. “Maafkan aku.. Awan gelap benar-benar sudah berlalu. memandangi tenda tukang soto yang sudah digulung. Ia memandangi gedung kampusnya. memandangi toko bunga Ranu and Lilac’s Florist di seberangnya yang juga sudah tutup. “Semoga kamu bahagia. merasa bersalah. Aku berusaha. Aku yang akan melepaskan kamu. Arga lelaki yang baik dia tahu itu. ya. Ia berlari kecil ke arah tenda tukang nasi goreng itu. tapi maaf.” Iris terisak. Iris tak peduli pada cipratan air kecokelatan yang mengenai celana jeans-nya..” Arga membelai kepala Iris sebelum berdiri dan meninggalkan tempat itu. Taman kota menjadi tempat yang tak begitu ramai akibat hujan sore tadi. 141 . Hujan rintik yang mengguyur Jakarta tidak menghalangi niat Iris untuk mengunjungi tempat itu.” Wajah Arga mulai membayang.. Mungkin Egi sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Iris. Meninggalkan Iris yang terisak. Langkahnya terhenti di depan tenda nasi goreng itu. Arga. Terlalu lembut. Tenda remang yang tak jauh dari tempat Iris berdiri sangat menggoda untuk dihampiri.

Ya. Kerinduan yang tak sempat ditumpahkannya beberapa waktu lalu. Apa saja. Ia hanya diam sambil memandangi sosok di hadapannya itu. Iris berhenti tepat satu langkah di hadapan pria itu.. Suaranya saat menyebut nama Iris. suara malam. Iris menanti pria di hadapannya bicara. Suara gesekan wajan dan spatula.. Iris rindu pada sosok itu. Untuk sesaat. Sosok pria itu maju selangkah demi selangkah.Suara Iris hilang terbawa angin. suara anak-anak remaja. 142 . Iris tak peduli. Iris hanya ingin mendengar lagi suaranya yang tenang dan dalam. membantu Iris mengusir keheningan yang tidak ia sukai. Rindu. Iris ikut menggerakkan kakinya untuk mendekat.

143 .

Sosok suster yang sudah lama ia kenali. Laki-laki itu. Berat hati ia menyusun lagi kata-kata yang sudah dihapalnya semalaman. atas pernikahanmu bulan depan. “Permisi. Iris kembali sibuk dengan pekerjaannya. cantik. Ranu memaksa lidahnya yang kelu untuk bersuara. Meninggalkan Ranu yang masih memandangi punggungnya. Iris membereskan peralatannya. Ranu masih 144 . Kebohongan besarnya. Meski rasanya otot-otot senyum di wajahnya telah benar-benar kaku. Iris. “Baik. Kata keliru itu mengingatkan Ranu pada malam terakhirnya bertemu Iris tujuh tahun yang lalu. “Terima kasih.” Kalimat Iris menohok perut Ranu. Mungkin memberinya bonus senyuman.” Dengan tetap menunduk Iris meninggalkan tempat itu. Berharap Iris mau menoleh sedikit saja. Bahkan ketika Lilac sudah siap dibawa pulang. perempuan yang kemarin. Bersuara senormal yang ia bisa. Ia menanti sosok suster yang akan mengganti botol infus Lilac-nya. Jantung Ranu berdebar ketika tirai penutup kasur Lilac-nya terbuka perlahan. “Pak Ranu juga. tentu yang terbaik. Hanya berharap. “Selamat ya.” Keluar sudah. Tak juga menatap Ranu. “Apa kabar. Semoga kali ini tidak keliru. Ada suster lain yang menggantikan gadis itu. TANPA HAMA SEPAGI itu Ranu sudah terjaga. Ris?” Iris sibuk dengan peralatannya.” Ranu meneguk air ludahnya sendiri. Untuk mencuri tatapan yang meluluhkan hati Ranu itu. “Terima kasih. Pada Iris yang akan segera mempunyai kehidupan baru. Detik seakan membeku. Seakan tak mengizinkan Ranu untuk sekadar melihat matanya lagi. Ranu merasa harus mengucapkan salam perpisahan padanya.YANG KEDUA. Gadis mungil itu tentu terlampau membenci Ranu hingga tak rela jika Ranu melihat wajahnya meski hanya sedikit. Tertunduk dengan serius. Tak sengaja matanya bertemu dengan mata Iris.” Hening. Dipilih susunan kata paling baik dari yang terbaik. Ranu berusaha tersenyum.” Dingin Iris berkomentar.  Sudah dua hari Ranu tak melihat Iris di rumah sakit.

Ada satu hal yang sangat ingin Ranu tanyakan pada Lilacnya. Duduk di sisi kasur anak itu... “Ayah. menggeleng.  Lilac masih belum boleh melakukan banyak aktivitas. Aini sedang ada di dapur bersama ibu mertua Ranu. ayah mau tanya serius sama kamu. “Cari apa. Lilac menoleh. Kamu setuju. Ranu menghampiri Lilac.. menggeleng.juga tak melihat Iris di sana. “Ah. Aini ikut menoleh ke sana-sini..” Lilac menegakkan tubuhnya dengan cepat begitu mendengar nama itu di sebut. kalau teh Aini jadi ibumu.. mungkin memang Tuhan tidak mengizinkan Ranu melihat gadis mungil itu lagi. Sedikit ragu dengan apa yang ia lihat di sana. Lilac tertawa.. Yah?” Ranu tersenyum.” Hati kecil Ranu berbisik. tidak. Tas terakhir Lilac sudah Ranu letakkan di dalam bagasi taksi. Ini tentang teh Aini. Perempuan yang berjalan lebih dulu itu adalah masa depannya.. Ranu memperhatikan Aini yang menggandeng tangan Lilac-nya tercinta. Berharap Iris akan merasakan pesan yang Ranu tinggalkan pada angin di sana. Ranu melirik rumah sakit itu untuk yang terakhir kalinya. “Soal apa. Semoga kamu bahagia... Lilac cuma m enganggap teh Aini itu sebagai kakak perempuan Lilac. Yah? Kalau soal pramuka.” “Ya?” Lilac menutup novel yang sedang ia baca. Ris. sejujurnya... Tersenyum. Lac. Lilac sudah memutuskan untuk berhenti. sama ayah lagi. mengejar masa lalu dan menghancurkan masa depan banyak orang. Semoga bahagia.. Lilac nggak mau jatuh sakit dan ngerepotin nenek.” Ranu tertawa pelan. Mengikuti arah mata Ranu yang menyapu pandangan ke seluruh lobby rumah sakit dengan heran. Menyiapkan makan siang. kakek. Kang?” Ranu menoleh. “Lac. Satu hal mengenai Aini. “Ada apa. “Kalau. “Bukan pramuka. Lilac nggak nyangka kalau ayah malah punya pikiran seperti 145 . Ranu membiarkan gadis kecilnya itu berdiam diri di atas kasur sambil membaca novel-novel kesukaannya. Lac?” Ranu menatap mata Lilac-nya dalam-dalam. Masa depan Ranu dan Lilac-nya. Tidak mengizinkannya untuk berbalik arah. Tiba-tiba Ranu merasa tak perlu lagi bertanya karena jawaban Lilac sepertinya sudah sangat jelas.

itu.” Lilac bersandar lagi pada kasurnya, membuka novelnya lagi. “Maaf kalau Lilac sedikit lancang, tapi, Lilac suka tante suster itu. Lilac yakin, tante suster itu juga suka sama Lilac. Sama kita. Pasti dia nunggu Ayah buat datang menjemput dia pulang ke rumah kita.” Jantung Ranu mencelos mendengar Lilac mengatakan hal yang tidak ia duga. Jadi anak itu tidak tidur ketika Ranu bicara dengan Iris dua hari lalu? “Maaf, ayah. Lilac nggak pernah bermaksud menguping pembicaraan orang dewasa, apalagi pembicaraan Ayah dengan tante suster itu.” Lilac mengintip Ranu dari balik novel yang entah benar-benar ia baca atau tidak. “Maaf ya, Ayah...” Suara Lilac tak terdengar lagi. Punggung Iris dua hari lalu terbayang dalam kepala Ranu. Tujuh tahun yang lalu, ia membiarkan punggung itu berlalu. Pasrah pada keadaan. Tapi, kata-kata yang keluar dari mulut gadis dua belas tahun-nya menyadarkan Ranu bahwa ia harus melawan keadaan. Mungkin akan banyak yang terluka, tapi tidak akan lebih menyakitkan daripada kebohongan seumur hidup. Ranu mengecup dahi Lilac-nya. “Terima kasih ya, sayang.”


Kebun belakang rumah Aster memang selalu terlihat indah di mata Ranu. Hari itu pun tetap terlihat indah meski ada aura kesedihan di sekitarnya. Di sekitar Ranu dan Aini yang duduk bersisian. Ranu memandangi bunga yang berwarna-warni di kebun itu. “Ni,” Melirik Aini yang memandanginya dengan tatapan yang bikin Ranu berharap Tuhan akan mengampuni dosanya. “Saya tahu kamu perempuan yang baik. Bahkan Lilac juga sangat suka dengan kamu, tapi, maaf... maaf karena saya telah melibatkan kamu dalam kehidupan saya. Maaf... saya ternyata benar-benar tidak bisa...” Ranu tak tega melanjutkan kalimatnya. Aini mendongak, menatap angkasa. Mata berkaca-kaca itu membuat Ranu merasa makin berdosa. “Bukan salah Kang Ranu. Saya yang terlalu memaksakan diri.” Aini menghela napasnya, “Sejak awal... saya tahu Kang Ranu datang ka Lembang karena sedang menghindar dari orang lain. Sejak awal saya tahu. Tapi, dulu, saya pikir suatu hari nanti Kang Ranu akan melupakan orang itu. Melupakan orang itu dan akhirnya melihat saya...”

146

Ranu menggenggam tangan Aini dengan lembut. Rasa bersalahnya semakin terasa saat kulitnya menyentuh kulit Aini. “Maaf, Aini... saya berusaha... tapi, maaf...” Aini mengeluarkan sesuatu dari kantong roknya. Sebuah gantungan kunci berbentuk bunga matahari. Ranu terkejut benda itu bisa ada pada Aini. “Saya sering lihat Kang Ranu memandangi benda ini siga liat22 harta karun. Kamari teh kacuci di saku calana.23” Ranu melepaskan genggamannya dan menerima benda itu di tangannya. Aini berdiri. “Saya mau berkemas. Nanti sore saya pulang ka Lembang.” “Nanti saya antar, Ni.” Ranu ikut berdiri. Aini tersenyum. Senyum terakhir yang mungkin akan Ranu lihat setelah bertahun-tahun lamanya. “Nuhun, Kang Ranu.” Aini menyeka air yang mengalir dari ujung matanya. Air mata yang menyesakkan dada Ranu. Air mata yang menambah beban rasa bersalah Ranu. “Terima kasih untuk semuanya.” Aini berbalik, melangkah menuju kamar tamu tempatnya bermalam beberapa hari itu. Meninggalkan Ranu yang terpaku di tempatnya. Ranu yang menggenggam gantungan kunci berbentuk bunga matahari di tangannya.


Ranu tidak segera pulang ke rumahnya setelah mengantar Aini ke tempat travel. Ranu merasa travel lebih aman bagi Aini. Setidaknya ia harus bertanggung jawab tentang keamanan perempuan itu. Hujan yang mengguyur Jakarta sore itu, tidak menghalangi niat Ranu untuk mengunjungi satu tempat yang sudah tahunan tak ia jamah. Ranu berdiri di trotoar jalan yang remang. Ia memandangi toko bunganya yang sudah tutup, mungkin Egi sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Ranu memandangi gedung kampus akademi perawat di seberang tokonya, memandangi tenda soto yang sepertinya sudah digulung. Terlalu gelap untuk melihat lebih jauh lagi. Ranu berbalik. Menyusuri trotoar yang basah, sisa-sisa hujan sore tadi. Taman kota tampak tak begitu ramai. Mungkin karena hujan sore tadi. Hanya ada beberapa remaja di sudut taman yang sibuk menyulut sumbu kembang api. Ranu

22 23

Seperti melihat Kemarin tercuci di saku celana

147

melirik angkasa. Langit Jakarta tampak cerah. Ada titik-titik cahaya yang memperindah hitamnya. Awan hujan benar-benar sudah menyingkir ke tempat lain. Tenda remang yang tak jauh dari tempat Ranu berdiri terlihat sangat menggoda. Aromanya begitu mengundang. Ranu berlari kecil menuju tenda tukang nasi goreng itu. Sesekali melompati genangan air yang berwarna kecokelatan itu. Ia tak peduli pada cipratan-cipratan air genangan yang mengenai celana jeans-nya. Langkah Ranu terhenti di depan tenda nasi goreng itu. Tampak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pada keberadaan sosok mungil yang berhenti di depan tenda yang sama. Suara Ranu disembunyikan jakunnya. Untuk sesaat, Ranu hanya memandangi sosok di hadapannya itu. Rindu. Ya, Ranu sangat rindu pada sosok itu. Kerinduan yang tak sempat ia tumpahkan beberapa hari yang lalu. Suara gesekan wajan dan spatula, suara anak-anak remaja, suara malam, membantu Ranu menutupi hening yang tidak ia suka. Ia ingin bicara. Bicara dan mendengar sosok mungil di hadapannya itu berkomentar. Komentar apa saja. Sekadar tertawa pun tak masalah bagi Ranu. Ranu melangkah mendekati sosok gadis itu. Gadis itu melakukan hal yang sama. Ranu berhenti tepat satu langkah di hadapan gadis itu...

148

Menoleh saat menyadari hal itu dan tertawa bersama. Jarak mereka kini hanya terpaut satu langkah.” Si Pria melirik Si Gadis yang masih memandanginya. Lantas keduanya menghela napas bersamaan. Tapi. “Ya. “Dan kini saya melihat pelangi.” Si Pria mendongak menatap angkasa.” Si Pria mengeluarkan gantungan kunci berbentuk bunga Matahari. Pria itu menemukan jalan hidupnya terbentang lebar. 149 . dan untuk selamanya.. sore tadi hujan rintik. Perlahan. mengusir hening di antara mereka. Si Pria mengalihkan pandangannya ke jalan taman yang berbatu di bawah kakinya. Pipi Si Gadis bersemu merah muda saat melihat benda itu. menjadi yang pertama mungkin memang indah. Sementara Si Gadis melihat arti kata bahagia dalam sepasang mata yang meliriknya itu. Bunga Iris.” Bagimu. yang terakhir. bukan?” Pria itu menoleh pada Si Gadis.. Si Pria menautkan jemari tangannya pada jari-jari mungil Si Gadis. yang terbaik belum tentu yang membahagiakan. Keduanya lantas bergerak mendekat.” “Siang tadi.. Mata keduanya bertemu.EPILOG Kedua sosok yang sejak tadi hanya saling tatap itu akhirnya melempar senyuman. Pak Ranu tahu. Masa depannya. “Dan yang membahagiakan belum tentu karena menjadi yang pertama. Bunga favorit saya. Di mata Si Gadis. ibu bilang. “Saya nggak pernah hapal sama bunga-bungaan. Tapi bagiku. “Kamu tahu.” Si Gadis tertawa pelan. Ada aura kehangatan yang memancar di sekeliling mereka berdua. Iris dipakai sebagai nama bunga yang warnanya menyerupai pelangi itu. “Maaf. menatap angkasa. Tawa itu terhenti.” “Saya tahu itu. Benda lama yang tak ia sangka masih ada. Cuma tahu Mawar dan bunga Matahari. Si Gadis melakukan hal yang sama. Si Pria bersuara lebih dulu.. menjadi yang kedua. Lama keduanya memandangi benda kecil yang bergoyang-goyang tertiup angin itu. Ris. Sangat cerah.” Pria itu tersenyum.” “Hujannya sudah berlalu. Iris adalah nama seorang dewi pelangi bangsa Yunani. ibu menemui saya. saya tak bisa menjadi yang terbaik. “Malam ini cerah.

.adalah sebuah anugerah yang jauh lebih indah.. .Iris & Ranu 150 ...

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful