Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

MODUL 2.05 Distilasi
I. Pendahuluan

Proses perpindahan massa merupakan salah satu proses yang cukup penting. Peprindahan massa merupakan peristiwa yang dijumpau hampir dalam setiap operasi dalam kegiatan teknik kimia. Salah satu proses tersebut adalah distilasi yang merupakan proses pemisahan campuran cair-cair menjadi komponen-komponennya dengan berdasarkan pada perbedaan kemampuan/daya penguapan komponen-komponen tersebut. Adanya perbedaan kemampuan penguapan antara komponen-komponen tersebut dikenal sebagai volatilitas relatif. Distilasi batch adalah salah satu di antara proses-proses tersebut. Pada percobaan ini dilakukan operasi batch. Bahan yang akan dipisahkan secara distilasi adalah campuran etanol-air. Kolom yang digunakan adalah kolom vigreux. Data yang akan diambil pada percobaan ini adalah massa larutan distilat dan bottom setiap selang waktu tertentu. Dari data massa larutan, akan dikonversi menjadi fraksi mol. Setelah praktikum dapat diketahui jumlah tahap minimum, refluks total, refluks parsial, HETP, volatilitas relatif, yield, dan fraksi mol etanol campuran tersebut pada setiap variasi kondisi percobaan ditiliasi.

II. Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah agar praktikan mempelajari operasi pemisahan campuran biner dengan metoda distilasi batch

III. Sasaran

Diharapakan pada akhir praktikum praktikan dapat: 1. Menentukan karakteristik kolom fraksionasi: jumlah tahap kesetimbangan teoretis, HETP, refluks minimum. 2. Menentukan volatilitas realtif campuran biner 3. Menentukan efiseiensi pemisahan.

-1/31-

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

IV. Tinjauan Pustaka

IV.1 Tinjuan Umum Kolom distilasi adalah sarana melaksanakan operasi pemisahan komponenkomponen dari campuran fasa cair, khususnya yang mempunyai perbedaan titik didih dan tekanan uap yang cukup besar. Perbedaan tekanan uap tersebut akan menyebabkan fasa uap yang ada dalam kesetimbangan dengan fasa cairnya mempunyai komposisi yang perbedaannya cukup signifikan. Fasa uap mengandung lebih banyak komponen yang memiliki tekanan uap rendah, sedangkan fasa cair lebih benyak menggandung komponen yang memiliki tekanan uap tinggi. Kolom distilasi dapat berfungsi sebagai sarana pemisahan karena sistem perangkat sebuah kolom distilasi memiliki bagaian-bagian proses yang memiliki fungsifungsi: 1. menguapkan campuran fasa cair (terjadi di reboiler) 2. mempertemukan fasa cair dan fasa uap yang berbeda komposisinya (terjadi di kolom distilasi) 3. mengondensasikan fasa uap (terjadi di kondensor) Konsep pemisahan dengan cara distilasi merupakan sintesa pengetahuan dan peristiwa-peristiwa: 1. kesetimbangan fasa 2. perpindahan massa 3. perpindahan panas 4. perubahan fasa akibat pemanasan (penguapan) 5. perpindahan momentum Konsep pemisahan secara distilasi tersebut dan konsep konstruksi heat exchanger serta konstruksi sistem pengontak fasa uap-cair disintesakan, menghasilkan sistem pemroses distilasi yang tersusun menjadi integrasi bagian-bagian yang memiliki fungsi berbeda-beda. Distilasi adalah sistem perpindahan yang memanfaatkan perpindahan massa. Masalah perpindahan massa dapat diselesaikan dengan dua cara yang berbeda. Pertama dengan menggunakan konsep tahapan kesetimbangan (equilibrium stage) dan kedua atas

Modul 2.05 Distilasi

Halaman 2 dari 31

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB

dasar proses laju difusi (difusional forces).Distilasi dilaksanakan dengan rangakaian alat berupa kolom/menara yang terdiri dari piring (plate tower/tray) sehingga dengan pemanasan komponen dapat menguap, terkondensasi, dan dipisahkan secara bertahap berdasarkan tekanan uap/titik didihnya. Proses ini memerlukan perhitungan tahap kesetimbangan. Batas perpindahan fase tercapai apabila kedua fasa mencapai kesetimbangan dan perpindahan makroskopik terhenti. Pada proses komersial yang dituntut memiliki laju produksi besar, terjadinya kesetimbangan harus dihindari. Distilasi pada satu tahapannya memisahkan dua komponen, yang terdapat dalam 2 fasa, sehingga derat kebebasannya 2. Ada 4 variabel yaitu tekanan, suhu, dan konsentrasi komponen A pada fasa cair dan fasa uap (konsentrasi komponen B sama dengan 1 dikurangi konsentrasi komponen A). Jika telah ditetapkan temperatur, hanya ada satu variabel saja yang dapat diubah secara bebas, sedangkan temperatur dan konsentrasi fasa uap didapatkan sebagai hasil perhitungan sesuai sifat-sifat fisik pada tahap kesetimbangan. Kolom distilasi adalah kolom fraksionasi kontinu yang dilengkapi berbagai perlengkapan yang diperlukan dan mempunyai bagian rektifikasi (enriching) dan bagian stripping. Umpan dimasukkan di sekitar pertengahan kolom dengan laju tertentu. Tray tempat masuk umpan dinamakan feed plate. Semua tray yang terletak di atas tray umpan adalah bagian rektifikasi (enriching section) dan semua tray di bawahnya, termasuk feed plate sendiri, adalah bagian stripping. Umpan mengalir ke bawah pada stripping section ini, sampai di dasar kolom di mana permukaan ditetapkan pada ketinggian tertentu. Cairan itu lalu mengalir dengan gaya gravitasi ke dalam reboiler. Reboiler adalah suatu penguap (vaporizer) dengan pemansan uap (steam) yang dapat menghasilkan komponen uap (vapor) dan mengembalikannya ke dasar kolom. Komponen uap tersebut lalu mengalir ke atas sepanjang kolom. Pada ujung reboiler terdapat suatu tanggul. Produk bawah dikeluarkan dari kolam zat cair itu pada bagian ujung tanggul dan mengalir melalui pendingin. Pendinginan ini juga memberikan pemanasan awal pada umpan melalui pertukaran kalor dengan hasil bawah yang panas. Uap yang mengalir naik melalui bagian rektifikasi dikondensasi seluruhnya oleh kondensor dan kondensatnya dikumpulkan dalam akumulator (pengumpul D), di mana permukaan zat cair dijaga pada ketinggian tertentu. Cairan tersebut kemudian dipompa oleh pompa refluks dari akumulator ke tray teratas. Arus ini menjadi cairan yang mengalir ke bawah di bagian rektifikasi, yang diperlukan untuk berinteraksi dengan uap

Modul 2.05 Distilasi

Halaman 3 dari 31

05 Distilasi Halaman 4 dari 31 . sedangkan komponen yang kurang volatil akan terkondensasi dari uap sehingga konsentrasi uap naik dari yn+1 menjadi yn. konsentrasinya akan bergerak ke arah kesetimbangan. Distilasi kontinu dengan refluks efektif memisahkan komponen-komponen yang volatilitasnya sebanding. Karena tidak terjadi azeotrop. Bila uap yang keluar dari tray n+1 dan cairan dari tray n-1 dikontakkan. sehingga kalor yang dibutuhkan untuk penguapan didapatkan dari kalor yang dibebaskan selama kondensasi. maka konsentrasi aliran yang masuk dan yang keluar tray n adalah: uap keluar dari tray (yn). Aliran uap Vn naik ke tray n-1 dan aliran cairan Ln turun ke tray n+1. uap dan cairan yang keluar piring n berada dalam kesetimbangan. Jika konsentrasi aliran uap dalam fasa V ditandai dengan y. Metoda ini dimodifikasi menjadi lebih modern untuk diterapkan pada skala industri dengan dihasilkannya distilasi metoda rektifikasi. sedangkan komponen yang kurang volatil pindah ke fasa cair. Oleh karena konsentrasi dalam fas uap dan cair berada dalam kesetimbangan. Dengan melakukan redistilasi berulang-ulang dapat diperoleh komponen yang hampir murni karena jumlah komponen pengotor lain sedikit. Jika diperhatikan tray ke-n dari puncak kolom. Sesuai definisi tray ideal. dan konsentrasi aliran cairan ditandai dengan x. Tanpa refluks tidak akan ada rektifikasi yang dapat berlangsung dan kondensasi produk atas tidak akan lebih besar dari konsentrasi uap yang mngalir naik dari feed plate. yang disebut product cooler dan dikeluarkan sebagai produk atas. Sebagian komponen yang lebih volatil akan menguap dari fasa cair sehingga konsentrasi zat cair pada xn-1 turun menjadi xn. Kondensat yang tidak terbawa pompa refluks didinginkan dalam penukar kalor. maka tray yang langsung berada di atasnya adalah tray ken-1 dan tray yang langsung berada di bawahnya adalah tray ke-n+1. sehingga xn dan yn merupakan konsentrasi kesetimbangan. Aliran zat cair L n-1 (mol/jam) dari tray n-1 dan aliran uap Vn+1 dari tray n+1 (mol/jam) mengalami kontak di tray n. Ada 2 aliran fluida yang masuk ke dalam dan 2 arus keluar dari tray n. produk atas dan produk bawah dapat terus dimurnikan sampai tercapai kemurnian yang diinginkan dengan mengatur jumlah tray dan refluks ratio. dan cairan masuk ke tray (xn-1).Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB yang mengalir ke atas. aliran masuk dan ke luar tidak. Aliran zat cair berada pada bubble point sedangkan aliran uap berada pada dew point. Kolom distilasi terdiri dari banyak tray yang diasumsikan ideal. Karena konsentrasi Modul 2. Setiap tray berfungsi sebagai media pertukaran dimana komponen volatil pindah ke fasa uap. cairan keluar dari tray (xn). uap masuk ke tray (yn+1).

Faktor-faktor penting dalam merancang dan mengoperasikan kolom distilasi adalah jumlah tray yang diperlukan untuk mendapatkan pemisahan yang dikehendaki. n. Keterbatasan ini diatasi dengan memasukkan umpan ke tray yang berada di bagian tengah kolom. Neraca massa untuk komponen a sesuai dengan persamaan: D. Berapapun pertukaran konsentrasi komponen pada V dan L selisihnya selalu D. (1) Modul 2. dan menghasilkan D (mol/jam) distilat yang berkonsentrasi xd dan produk bawah yang berkonsentrasi xb. Distilasi satu tahap tidak efektif menghasilkan bottom product yang mendekati murni karena zat cair dalam umpan tidak mengalami rektifikasi.xd + B. (5) (2) Jumlah D adalah selisih antara laju aliran arus yang masuk dan yang keluar atas kolom.xn.xb Neraca massa pada konsensor dan akumulator adalah: D = Va – La (3) Selisih antara laju aliran uap dan laju aliran cairan di manapun pada bagian atas kolom adalah D. yang jelas terlihat bila diperhatikan bagian dari instalasi itu yang dikurung permukaan kendali I.xa = Vn+1. Kolom diumpani dengan F (mol/jam) umpan yang berkonsentrasi xf.ya – La. kalor yang dikonsumsi dalam pendidih. diameter kolom. Permukaan ini meliputi kondensor dan semua piring di atas n+1. ke n-1. xd = Va. analisis unjuk kerja kolom distilasi tray didasarkan pada neraca massa. Karena komponen volatil yang berada di reboiler telah diambil dari cairan maka produk bawahnya adalah komponen kurang volatil yang hampir murni dari komponen volatil. suhu akan berkurang dari n+1. neraca energi. Cairan itu mengalir ke bawah kolom menuju reboiler dan mengalami rektifikasi dengan uap yang mengalir naik dari reboiler. dan rincian konstruksi tray. Neraca massa total pada permukaan tersebut adalah: D = Vn+1 – Ln (4) Jumlah D adalah laju aliran netto bahan ke atas pada bagian atas kolom. dan kesetimbangan fasa. Sesuai dengan asas-asas umum.xf = D.05 Distilasi Halaman 5 dari 31 .yn+1 – Ln.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB komponen volatil di dalam cairan dan uap meningkat dengan bertambahnya tinggi kolom. Ada 2 neraca massa yang penting: Neraca massa total: F=D+B Neraca komponen: F.

x n + a a a a Vn +1 Vn +1 (8) Substitusi Va.05 Distilasi Halaman 6 dari 31 .B Lm .x b Lm .Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB Jumlah D.L .y m +1 = L m . Di sini pun gradien garisadalah ratio antara aliran zat cair dan aliran uap.xb – Vb. neraca massanya adalah: Vm +1 . laju alir netto juga konstan. Pada bagian bawah kolom. untuk komponen A adalah B.x m .xa menghasilkan y n +1 = D. Jika Vn+1 dieliminasi: y n +1 = D. Persamaan garis operasi untuk bagian pelucutan adalah: y n +1 = V . Eliminasi Vm+1 akan menghasilkan: y m +1 = B.yb = Lm. sesuai persamaan: B = Lb – Vb = Lm – Vm+1 B. Jumlah ini konstan pada seluruh bagian atas kolom. maka ada 2 garis operasi. Laju aliran netto total adalah B. baik pada bagian rektifikasi maupun Modul 2. persamaan tersebut menjadi (11) y m +1 = B.ym+1 (6) (7) Karena kolom distilasi terdiri dari bagian atas dan bagian bawah.x b Lm xm Lm .ya – La. satu untuk bagian rektifikasi dan satu untuk bagian pelucutan.xb = Lb.y . dapat digunkan konstruksi bertahap McCabeThille untuk menghitung berapa banyaknya tray ideal yang diperlukan untuk mendapatkan suatu perbedaan konsentrasi tertentu.xd adalah laju aliran netto komponen A ke atas pada bagian ata kolom.x Ln .x m Vm +1 Vm +1 (12) Persamaan ini adalah persamaan garis operasi bagian pelucutan.B (13) Bila garis operasi bagian atas dan bagian bawah tersebut digambarkan bersama kurva kesetimbangan pada diagram x-y. tetapi arahnya ke bawah.x d Ln xn + Vn +1 Vn +1 (9) Gradien garis operasi adalah ratio antara aliran cairan dan uap.x b Dalam bentuk lain.x d Ln xn + Ln + D Ln + D (10) Untuk bagian bawah kolom.xb.xm – Vm+1.B.

Pada distilasi.05 Distilasi Halaman 7 dari 31 . Karena itu. Dalam model ini. m. kecuali jika Ln dan Lm konstan. Untuk menentukan garis operasi yang berbentuk kurva diperlukan neraca entalpi.x d + Rd +1 Rd +1 (16) Titik potong y dari garis ini adalah xd/ (Rd+1). dalam merancang kolom distilasi biasanya digunakan konsep constant molal overflow. Jika dilihat persamaan garis operasi. Analisis kolom fraksionasi dimudahkan lagi dengan menggunakan besaran refluks ratio. dan garis operasinya mendekati garis lurus. m-1. Akibatnya. Hal ini akibat kalor penguapan molal yang hampir sama. n+1. laju aliran molar uap dan zat cair pada masing-masing bagian kolom itu hampir mendekati konstan. sehingga dalam persamaan garis operasi tanda tray n.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB pada bagian pelucutan. Ada 2 macam refluks ratio yang biasa digunakan. sehingga ratio molar aliran uap pada bagian bawah akan lebih mendekati 1. yaitu refluks ratio terhadap hasil atas Rd dan refluks ratio terhadap uap (aliran uap komponen) Rv. terlihat bahwa garis operasi akan merupakan garis lengkung. n-1. Konsentrasi xd ditentukan kondisi rancangan. dan Rd merupakan variabel operasi yang dapat dikendalikan dengan mengatur Modul 2. Persamaan kedua refluks ratio tersebut adalah: Rd = Rv = L V-D = D D L L = V L+D (14) (15) Karena itu persamaa garis operasi untuk bagian rektifikasi yang mengikuti constant molal overflow dapat disederhanakan: y n +1 = Rd xd . Garis operasipun hanya dapat digambarkan jika perubahan konsentrasi pada aliran dalam diketahui. dan m+1 pada L dan V dapat dianggap sama. persamaanpersamaan neraca massa adalah linear dan garis operasinya berupa garis lurus. metoda McCabe-Thiele dapat digunkan tanpa memerlukan neraca entalpi. sehingga setiap mol komponen yang titik didihnya tinggi yang terkondensasi pada waktu uapnya mengalir ke atas akan membebaskan energi sebanyak yang diperlukan untuk menguapkan 1 mol komponen yang titik didihnya rendah. Garis operasi dapat digambar bila diketahui dua titik. Perubahan entalpi aliran cairan dan uap dan kehilangan kalor dari kolom biasanya mengakibatkan perlunya pembentukan uap yang agak lebih banyak pada bagian bawah kolom.

y' y'-x' (19) Modul 2. jumlah tray akan besar. Jika α ab = y a /x y b /x a b (17) Jumlah tray minimum dapat dihitung dengan persamaan: N min = log[x d (1 . jumlah tray yang dibutuhkan untuk mendapatkan pemisahan tertentu akan lebih besar daripada yang dibutuhkan untuk refluks total. Jika refluks kurang dari refluks total. Jika refluks diturunkan perpotongan garis operasi atas dan bawah akan bergerak di sepanjang garis umpan ke arah kurva kesetimbangan. yang disebut refluks total. Pada kondisi ini refluks ratio disebut minimum. Pada refluks total dari operasi berimpitan dengan diagonal. dan jumlah tahap meningkat. tetapi produk atas dan bawah adalah 0 pada setiap umpan dengan laju alir tertentu.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB pembagian antara refluks dan hasil atas. Pada refluks ratio yang kecil. Jika perubahan nilai αab bagian dasar dan puncak kolam tidak signifikan nilai αab yang digunakan adalah rata-rata geometriknya.). dan pada refluks ratio minimum jumlah tray menjadi tak berhingga. refluks ratio minimum (Rdm) dapat dihitung dengan persamaan: R dm = x d . atau dengan mengubah banyaknya uap yang terbentuk dalam reboiler untuk suatu laju distilat tertentu. Jika x’ dan y’ adalah koordinat perpotongan antara garis operasi dengan kurva kesetimbangan. kemiringan dapat bertambah bila refluks ratio ditingkatkan sampai V=L saat Rd tak berhingga. Jika salah satu garis operasi tersebut menyentuh kurva kesetimbangan jumlah tahap yang diperlukan sebelum melintas titik singgung ini menjadi tak berhingga.05 Distilasi Halaman 8 dari 31 . Semua kolom distilasi yang menghasilkan produk atas dan produk bawah dalam jumlah tertentu harus beroperasi pada refluks ratio yang besarnya antara Rd minimum (saat jumlah tray tak berhingga) dan saat Rd tak berhingga (saat jumlah tray minimum). sehingga garis operasi menjadi berimpitan dengan diagonal.x d )] −1 log α ab (18) Persamaan tersebut adalah persamaan Fenske. Karena kemiringan garis rektifikasi adalah Rd/ (Rd+1).x b )/x b (1 . Pada refluks total jumlah tray minimum. Refluks ratio minimum dapat diperoleh dengan menggerakkan garis operasi sambil menurunkan refluks ratio. bergradien1. luas diagram yang dapat digunakan untuk konstruksi tahap makin kecil.

1 = fraksi berat B di fasa cair (setimbang) xA +xB =1 yA.2 Prinsip Operasi Pada operasi distilasi.1 Modul 2. uap dan cairannya dibiarkan dalam keadaan setimbang. dengan lebih banyak komponen yang mudah menguap dibandingkan dengan cairan yang tidak teruapkan. Untuk menunjukkan lebih jelas uraian di atas. IV. mula-mula dengan cepat .Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB Bila refluks ratio ditingkatkan mulai minimum. Uap akan mengandung lebih banyak komponen yang lebih mudah menguap. kemudian berangsur makin perlahan. berikut digambarkan secara skematis: 1. komposisi uap dan cairan berbeda. hingga jumlah tray minimum pada refluks total.1 = fraksi berat A di fasa cair (setimbang) xB. Biaya instalasi sebanding dengan luas permukaan piring dan jumlah piring kali luas penampang kolom. terjadinya pemisahan didasarkan pada gejala bahwa bila campuran cair ada dalam keadaan setimbang dengan uapnya.0 = fraksi berat A di fasa cair xB. Keadaan awal Campuran A dan B (fasa cair).1 dan yB. akan didapatkan cairan yang berbeda dari cairan yang pertama.0 = fraksi berat B di fasa cair xA +xB =1 2. V dan L akan meningkat sampai dicapai suatu titik dimana peningkatan diameter kolom jauh lebih cepat daripada berkurangnya jumlah piring. sedangkan cairan akan mengandung lebih sedikit komponen yang mudah menguap. xA.1 > xA. Luas penampang kolom biasanya sebanding dengan laju aliran uap. xA. Bila uap dipisahkan dari cairan dan uap tersebut dikondensasikan. Campuran diuapkan sebagian.1 = fraksi berat B di fasa uap (setimbang) yA +yB =1 Pada keadaan ini maka: yA. Bila kemudian cairan dari kondensasi uap tersebut diuapkan lagi sebagian.05 Distilasi Halaman 9 dari 31 .1< xB. jumlah tray akan bertambah. Bila refluks ratio meningkat sampai pada tingkat keluaran distilat dan bottom tertentu.1 = fraksi berat A di fasa uap (setimbang) yB. akan didapatkan uap dengan kadar komponen yang lebih mudah menguap lebih tinggi. A adalah komponen yang lebih mudah menguap.

1 < xB. maka didapat dua cairan.2. Campuran pertama disebut azeotrop maksimum seperti dapat dilihat pada Gambar 5 sedangkan campuran kedua disebut azeotrop minimum seperti pada Gambar 6. Ada beberapa campuran biner yang titik didihnya di atas atau di bawah titik didih kedua komponennya.1 > xA.05 Distilasi Halaman 10 dari 31 . sedangkan komposisi uap dan cairan yang ada dalam kesetimbnagan ditunjukkan pada Gambar 3. Dalam kedua hal. dengan komposisi uap ditunjukkan pada Gambar 2. ada kesetimbangan uap cairan dengan yA selalu lebih kecil daripada xA. yA sama dengan xA dan campuran cairan dengan komposisi sama dengan titik azeotrop tidak dapat dipisahkan dengan cara distilasi.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB Bila dibandingkan dengan keadaan mula: yA.3 Kesetimbnagan Uap-Cair Keberhasilan suatu operasi distilasi tergantung pda keadaan setimbang yang terjadi antar fasa uap dan fasa cairan dari suatu campuran. yA tidak selalu lebih besar daripada harga xA. Dalam banyak campuran biner.2 dan yB. Cairan I mengandung lebih sedikit komponen A (lebih mudah menguap) dibandingkan cairan II Gambar 1 Skema proses perpindahan massa pada peristiwa distilasi IV. Uap dipisahkan dari cairannya dan dikondensasi.1< xB. harga yA selalu lebih besar daripada harga xA. Untuk setiap suhu. Karena pada umumnya proses distilasi dilaksanakan dalam keadaan buble temperature dan dew temperature. 3. Modul 2. Pada titik azeotrop. DAlam hal ini akan ditinjau campuran biner yang terdiri dari kompoenen A (yang lebih mudah menguap) dan komponen B (yang kurang mudah mengaup).1> xA. titik didih campuran terletak di antara titik didih komponen yang lebih mudah menguap (Ta) dan titik didih komponen yang kurang mudah menguap (Tb). cairan I dan cairan II.

Gambar 3 Komposisi uap dan cairan pada kesetimbangan Gambar 5 Titik axeotrop maksimum dalam kurva kesetimbangan Modul 2.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB Gambar 2 Kesetimbangan uap cair pada temperatur buble dan temperatur dew xA.1 adalah komposisi cairan dan uap pada keadaan setimbang.05 Distilasi Halaman 11 dari 31 .1 dan yA.

(22) (23) Modul 2.05 Distilasi Halaman 12 dari 31 .Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB Gambar 6 Kurva azeotrop minimum dalam kesetimbangan IV. Bila konstan.4 Volatilitas Relatif Hubungan komposisi uap dan cairan dalam keadaan setimbang dapat dinyatakan dengan volatilitas relatif yang didefinisikan sebagai berikut: α= y A /x A y /x = A A y B /x B  1 − y A   1− x   A   α.5 Larutan Ideal Untuk larutan ideal berlaku hukum Raoult: PA = PA.x A − x A ) (20) Persamaan di atas dapat disusun menjadi yA = (21) Bila diketahui harga-harga sebagai fungsi temperatur. xA PB = PB. (1-xA) dimana: PA = tekanan parsial komponen A di fasa uap PB = tekanan parsial komponen B di fasa uap PA 0= tekanan uap komponen A PB 0= tekanan uap komponen B Untuk sistem biner: PA + PB = P dimana P adalah tekanan total. maka pada tekanan tetap. maka harga-harga yA pada setiap harga x1 dan sebaliknya (kurva yA tyerhadap xA) dapat langsung ditentukan.x A (1 + α. hubungan yA dan xA pada berbagai suhu pada keadaan setimbang dapat ditentukan. xB = PB. dan diketahui harganya. IV.

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB Bila persamaan penghubung xA dan yA tersebut digabungkan.n > yA. seperti pada Gambar 7.6 Fraksionasi Batch Prinsip fraksionasi adalah membuat kesetimbangan fasa uap cairan dan memisahkan uap dan cairan yang dalam keadaan setimbang tersebut. Uap Vn mempunyai komposisi yA. Pencampuran tersebut berlangsung pada suatu tahap kesetimbangan n.n-1 dicampur dengan uap Vn+1 dengan komposisi yA.x A = P P 0 0 (24) (1 − y A ) = PB = PB (1 − x A ) P P yA xA P α= = A (1 − y A ) PB (1 − x A ) (26) (25) Bila harga yA = xA maka harga α =1. Gambar 7 Skema aliran perpindahan massa pada proses distilasi Misalkan cairan Ln-1 dengan komposisi xA.n sedang cairan Ln yang mengandung lebih banyak komponen A (yA.05 Distilasi Halaman 13 dari 31 . IV. yang ditunjukkan pada titik m dalam Gambar 8.n+1. akan terbentuk uap dan cairan baru yang dalam keadaan setimbang (Vn dan Ln). didapat: yA = PA PA .n+1) dan cairan baru Ln yang mengandung lebih sedikit Modul 2. dan campuran biner pada komposisi tersebut tidak dapat dipisahkan menjadi komponen-komponennya dengan cara distilasi. Pada tahap kesetimbangan n.

D + Ln.yA. Gambar 8 Kurva operasi distilasi dalam keadaan kesetimbangan Dalam operasi fraksionasi. Sementara operasi berlangsung. pencampuran dilakukan berturut-turut dalam tahaptahap. Perbandingan tersebut disebut rasio refluks (R). Jumlah refluks dibandingkan distilat sangat mempengaruhi hasil pemisahan. Demikian operasi kesetimbangan diulang berkali-kali. cairan ditahap terendah dipanaskan sedangkan uap ditahap teratas didinginkan. diman R = Lo/D. Hasil atas yang diambil disebut distilat (D) dan yang dikembalikan ke kolom disebut refluks (Lo).n-1).n (30) (27) (28) (29) Neraca massa total untuk amplop 2 (termasuk tahap 2) : Dan seterusnya. IV.05 Distilasi Halaman 14 dari 31 . Hal ini ditunjukkan pada Gambar 8.n+1 = D. Neraca massa total untuk amplop 1: V2 = D + L1 V3 = D + L2 Vn+1 = D + Ln Neraca massa komponen A (pada amplop ke n): Vn+1.xA.xA.n < Xa.6 Neraca Massa pada Aliran Komponen Operasi Distilasi Lebih lengkapnya.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB komponen A (xA. sehingga didapat n tahap kesetimbangan: Modul 2. aliran perpindahan massa pada proses distilasi multi tahap ditunjukkan pada Gambar 9. sehingga diperoleh uap yang sangat kaya A dan cairan yang sangat miskin A.

n = laju massa uap masuk tahap ke-n = laju massa dsitilat = laju massa cairan keluar dari tahap ke-n = komposisi uap masuk tahap ke-n = komposisi dsitilat = komposisi cairan masuk tahap ke-1 = komposisi cairan keluar fari tahap ke-n Gambar 9 Aliran perpindahan massa pada proses distilasi multi tahap Penyelesaian persamaan neraca-neraca massa tersebut akan menghasilkan persamaan garis operasi fraksionasi: y A.d R +1 R +1 (31) Modul 2.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB dimana: Vn+1 D Ln yA.D xA.n + .x A.n+1 xA.05 Distilasi Halaman 15 dari 31 .n +1 = R 1 x A.

seperti dapat dilihat pada Gambar 10.n (32) Pada operasi dengan refluks total. Misalnya titik P pada gambar 10 menunjukkan hubungan antara komposisi uap Vn dan komposisi cairan Ln yang keduanya meninggalkan tahap n dalam keadaan setimbang. Kurva kesetimbangan yang dilengkapi dengan garis operasi sesuai persamaan yang diperoleh di atas akan menunjukkan hubungan antara komposisi uap Vn+1 dan komposisi cairan Ln. Modul 2.D (1 − x A.2 dan xA. maka jumlah tahap minimum (pada refluks total) dapat dihitung dengan persamaan Fenske:  x A. maka jumlah tahap minimum. maka operasi distilasi disebut berlangsung pada refluks total. Gambar 10 dapat pula digunakan untuk menentukan jumlah tahap kesetimbangan bila komposisi hasil atas (xA.F )   log  x (1 − x )  A. Misalnya titik Q menunjukkan hubungan antara yA.n+1 = xA. Gambar 10 Persamaan garis operasi pada kurva kesetimbangan Kalau volatilitas relatif dapat diangap konstan.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB Persamaan tersebut diperlukan dalam pencatatan jumlah tahap kesetimbangan teoretis menurut cara Mc Cabe-Thiele.0) dan komposisi hasil bawah (xA.D = komposisi distilat (33) xA. Sedang untuk 0<R<∞ operasi distilasi berlangsung pada refluks parsial.2.3) diketahui.F = komposisi umpan α = volatilitas relatif.d   n +1 = logα dimana: n = jumlah tahap xA. sehingga persamaan garis operasi menjadi: yA.0 sama dengan yA. Jika R tidak berhingga yang artinya semua hasil atas kembali ke tahap pertama. F A.05 Distilasi Halaman 16 dari 31 .

Wi (40) Modul 2. penambahan produksi distilat D (hasil atas) sama dengan pengurangan hasil bawah (W).D dimana W = jumlah hasil bawah D = jumlah hasil atas xA.W = komposisi hasil bawah xA.dW – xA.W (39) x A.dW (36) (37) (38) (34) (35) dx A.W.D. dan secara matematis dapat ditulis sebagai: -dW = dD Untuk komponen A: -d(xA.D.Wi x A.W Wf x A.dW -W.W = xA.D = komposisi atas Dari kedua persamaan diferensial tersebut dapat diturunkan: -W.W.05 Distilasi Halaman 17 dari 31 .W) = xA.D − x A.W = xA.D.8 Neraca Massa Operasi Batch Salah satu skema operasi distilasi batch ditunjukkan pada Gambar 11.W f dx A.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB IV.W Wf = ∫ ln Wi x x A.dxA.W A.D − x A.W f dx A.W dW = W x A.W dW = ∫ ∫ W Wi x A.D − x A.dxA. Gambar 11 Skema Operasi Distilasi Batch Pada distilasi batch.

W. tray) dikenal besaran HETP. HETP kolom = tinggi kolom pemisah jumlah tahap teoretis dari kolom (44) Modul 2.D. HETP adalah tinggi kolom yang bersifat sebagai satu tahap teoretis.9 HETP (Height Equivalent to Theoretical Plate) Dalam operasi distilasi yang menggunakan kolom (vigreux.F . Jadi dari kolom setinggi HETP akan dihasilkan uap dan cairan yang berada dalam keadaan setimbang. IV.05 Distilasi Halaman 18 dari 31 .Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB dimana Wi = jumlah hasil bawah pada saat awal Wf = jumlah hasil bawah pada saat akhir xA.Wi = komposisi hasil bawah pada saat awal xA.D = x A.W dimana xA.D = komposisi distilat rata-rata selama operasi xA.F = komposisi umpan xA.D + xA. Penyelesaian ruas kanan dari persamaan dilakukan secara grafis.F.F − x A.Wf = komposisi hasil bawah pada saat akhir Hasil penurunan tersebut dikenal sebagai persamaan Rayleigh.W .W F−W (43) Persamaan tersebut dapat dipakai untuk menentukan komposisi distilat rata-rata pada suatu distilasi batch. packed.F = xA. Neraca massa total untuk suatu operasi distilasi batch adalah: F = D +W dimana F = jumlah umpan D = jumlah distilat yang dihasilkan selama operasi W = jumlah hasil bawah yang dihasilkan (akhir operasi) Neraca komponen A: xA.W = komposisi hasil bawah pada akhir operasi Penyusunan kembali neraca massa dapat menurunkan persamaan: (42) (41) x A.

f. pengatur dan pembagi refluks. 8. e. g. Refraktometer Piknometer Termometer Selenoid valve Stopwatch Gelas ukur Pipet ukur Timbangan/ neraca Modul 2. Perangkat dan Alat Ukur 1. Satu set perangkat modul distilasi yang terdiri dari: a. c. 7.1. b. 9. pemanas listrik (untuk labu didih). labu didih (dilengkapi termometer dan alat pengambil sampel).05 Distilasi Halaman 19 dari 31 . 4. kolom fraksionasi batch (kolom yang dipakai adalah tipe vigreux yang dilengkapi dengan selubung pemanas listrik yang dapat diatur dengan menggunakan pengatur tegangan listrik). 6.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB V. kondensor. Heating Mantle d. penampung distilat Secara skematis alat yang dipakai tersusun seperti pada Gambar 11. 2. 5. 3. Rancangan Percobaan V.

2. metanol. aseton 2. Solven organik seperti etanol.05 Distilasi Halaman 20 dari 31 . Bahan/ Zat Kimia 1.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB Gambar 11 Skema alat percobaan Modul Distilasi V. Aqua DM Modul 2.

McCabe-Thielle (Grafis) 2. McCabe-Thiele 2.4. Menentukan jumlah tahap teoretis dari operasi: a. Refluks total dengan cara: 1. praktikum Modul Distilasi ini dikerjakan menurut diagram kerja berikut: Kalibrasi Refraktomter Kurva Kalibrasi Densitas Etanol vs X etanol Persamaan: X etanol = f (Densitas Etanol) Distilasi Refluks Total Jumlah tahap Teoretis: 1. Catat data yang diperlukan guna menyelesaikan tugas yang diberikan Tugas yang harus dikerjakan praktikan agar sasaran praktikum ini tercapai antara lain: a. Diagram Alir Percobaan Secara garis besar. c. Susun tata kerja untuk melakukan operasi distilasi dengan refluks total dan erfluks parsial c. McCabeThielle Hitung HETP Modul 2. Fenske Hitung HETP Ulangi pada 3 keadaan kesetimbangan Distilasi Refluks Parsial Jumlah tahap teoretis. Fenske b.05 Distilasi Halaman 21 dari 31 .3 Garis Besar Prosedur Kerja a. Kalibrasi refraktometer untuk menentukan hubungan antara komposisi cairan biner terhadap indeks biasnya b. Refluks parsial dengan cara McCabe Thielle masing-masing pada 3 keadaan kesetimbangan berbeda.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB V. Membuat hubuangan antara komposisi terhadap indeks bias campuran biner secara grafis dan dilengkapi dengan persamaan matematik b. Hitung HETP kolom vigreux untuk masing-masing operasi V.

2 Densitas Air pada Berbagai Temperatur T (0C) Sumber: ρair V.05 Distilasi Halaman 22 dari 31 .5.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB V.6 Data Percobaan V.1 Data Kesetimbanagn Uap-Cair Sistem yang Diuji pada Tekanan Praktikum T (0C) Sumber: x y Dari data tersebut dibuat Kurva Kesetimbangan Uap-Cair-nya V.6.2 Percobaan Utama Run ke : Refluks : Total/Parsial Xfed : t (min) Tkolom (0C) Tlabu (0C) camp.dest.5.5.bottom m pikno+ (g) ρbottom (g/mL) ρdistilat (g/mL) X bottom X distilat Modul 2.5 Data Literatur V.1 Kalibrasi Densitas Etanol Temperatur praktikum : Massa Piknometer Kosong : Massa Piknometer + air : Massa air : Densitas air : V air (mL) V etanol (mL) (0C) (g) (g) (g) (g/mL) m pikno+ camp. m pikno+ (g) camp.3 Sifat Fisik Etanol dan Air Mr (g/mol) Air Etanol Sumber Tdidih (0C) Puap (mmHg) V. (g) m campuran (g) X et-OH (V/V) ρ et-OH (kg/m3) X et-OH (mol/mol) V.6.

083 g massa piknometer + campuran etanol air = 22. dimana ρair = 997.6669 .Run Kondisi Refluks Xfed Vdistilat (mL) Vbottom (mL) V.997.635 g massa piknometer + aqua dm = 23.6.1.7.635 (pada suhu 28) = 957.045 23.ρ et    Mr etanol    (1 − % et .Vetanol .05 Distilasi Halaman 23 dari 31 .083 .537 kg/m 3 V. Penentuan Densitas Etanol Persamaan yang digunakan: ρ etanol (pada suhu T) = massa etanol .669 g Data diambil pada T = 280C. ρ ρ etanol etanol (pada suhu 28) = 22.7.3 Volume Destilat dan Bottom pada Akhir Setiap Run No.2.Vet .Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB V.045 kg/m3 Massa etanol = (massa piknometer + campuran) – massa piknometer kosong Massa aqua dm = (massa piknometer + aqua dm) – massa piknometer kosong. Penentuan Fraksi Mol Etanol dalam Campuran Etanol-Air Persamaan yang digunakan: X etanol = % etanol.635l .ρ etano l Mretanol   % et .ρ air     + Mr air  Misalkan data: Volume air Volume etanol Kemurnian etanol = 95% Dapat dihitung: Modul 2.)Vetanol .12.ρ air  +  Mrair   = 7 mL = 3 mL   Vair .7.ρ (pada suhu T) massa aqua dm air Contoh: Misalkan data: massa piknometer kosong = 12.12. Contoh Perhitungan V.

7.4 0.038913 0.898 21.516419 0.997.8 0.658861 0.535   (1 − 0.94 22.816398 835.058 X et (V/V) 0 0.896 R 2 = 0.61084 957.3.669 22.95.0213x + 11.3. Contoh data: V air (mL) 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 V etanol (mL) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 m (g) 23.314 22.957.997.081977 0.5 0. Grafik tersebut didekati dengan persamaan tertentu.3.957.1 0 800 900 Densitas Etanol (g/cm2) 1000 y = 9E-06x 2 .536905 944.3 0.9 0.045   +   + 18.95)3.114 21.65919 904.960234 859.2 0.185061 0.573154 883.5 0.6 0.806 22.386 21.7 0.8 (mol/mol) X etanol 0.407664 0. Pembuatan Kurva Kalibrasi Kurva kalibrasi dibuat dengan mengalurkan data fraksi mol etanol terhadap densitas etanol pada fraksi mol tersebut.016 46.534 22. seperti persamaan polinomial orde 2 yang menunjukkan hubungan fraksi mol etanol terhadap densitasnya.9988 Modul 2.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB X etanol 0.6 0.398484 970.535 46.856938 Kurva kalibrasi untuk data densitas terhadap freaksi mol etanol adalah: Kurva Kalibrasi Densitas Etanol 0.645 21.05 Distilasi Halaman 24 dari 31 .083 22.798881 X et (mol/mol) 0 0.016     X etanol = 0.3 0.045   7.099981 803.246858 0.13 V.7 0.9 1 densitas et (kg/m3) 997.07 18.65383 923.2 0.130207 0.319867 0.95.4 0.0.07 =   0.1 0.045 983.

10-6.693 22.7809509 Modul 2.79547 Refluks Parsial 21.087 950.4.85447 809.1980926 0.(0.0213.1966931 0.43106 807.171 973.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB Dari kurva tersebut didapat data persamaan kalibrasi antara densitas etanol terhadap fraksi mol etanol adalah: Xet = 9.81 22.0.1949476 0.608 22.99281 21.936 (g/cm3) Dengan menggunakan persamaan kalibrasi: Xet.087 941.5 82.57095 21.0.10-6.58424 0.444 22.0213.54284 21.0.1416813 0.(0.40572 21. m pikno+ camp.0802781 0.56818 806.05 Distilasi Halaman 25 dari 31 .896 V.1149885 0.(ρet)2 .75904 806.8281367 0.1689447 0.8229013 0. D = 9.114 962.(ρet)2 .2402 814.081 943.dest.9956 806.8118945 0.1076765 0.936) + 11.809) + 11.5 82.896 Misal didapat data: Massa distilat = 8.829302 0.0734489 0.7161 21.(0.117 935.095 936. Penentuan Fraksi Mol Etanol pada Distilat dan Bottom Persaman yang digunakan adalah persamaan kalibrasi Xet = 9.087 939.5 82.8136283 0.717 22.5 82.896 = 0.1845647 0.0657 21.8275543 0.449 22.11789 21. t (min) Tkolom (0C) Tlabu (0C) m pikno+ camp.8328021 0.02802 21.809)2 .1787497 0.115 970.936)2 .805 g Densitas bottom = 0.56818 806.834 Refluks Total 21.496 22.5 82.829302 0.68398 21.10-6. B = 9.5 82.0.82759 21.809 (g/cm3) Massa bottom = 9.5 82.766 Xet.896 = 0.5 82.7.5 82.0213.5 22.bottom (g) (g) ρbottom (kg/m3) ρdistilat (kg/m3) X bottom X distilat 10 20 30 40 50 60 70 78 86 94 102 110 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 82.5 82.14477 809.8130502 0.44 22.479 22.098 936.482 g Densitas destilat = 0.33161 806.525 22.5 82.28311 809.56818 805.1455498 0.226 Contoh berikut adalah data praktikum dan pengolahannya menggunakan persamaan-persamaan kalibrasi di atas.6179 807.8246449 0.829302 0.09 959.(ρet) + 11.(ρet) + 11.596 22.089 951.0213.10-6.(0.

4 0.05 Distilasi Halaman 26 dari 31 .2 0.8 0.3 0.5 0.5.3 0.7 0.169 Kurva Kesetim bangan Uap-Cair Et-OH-air 1 0.833 dan Xet. Xb (mol/mol) t (m enit) V. D = total 0.6 0.9 0.6 Modul 2.32. B = 0.9 1 x (fraksi cair) Dibuat garis yang bersingkungan dengan kurva kesetimbangan (x-y) dan memotong sumbu y pada titik y = 0.6 0. B /(Rm + 1) maka Refluks minimum Rm adalah 1.1 0.32 = Xet.5 0.5 0.3 0.9 0.1 0 0 Xdistilat 20 Xbottom 40 60 80 100 120 Xd.4 0.8 0.2 0.6 0.2 0.4 0.7.8 0. Penentuan Refluks Minimum Refluks minimum ditentukan dari data percobaan pada refluks total Misal didapat data: pada refluks Xet.7 y (fraksi Uap) 0.7 0. Sehingga didapat intercept = 0.1 0 0 0.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB Komposisi etanol di distilat dan bottom setiap saat dapat ditunjukkan oleh grafik berikut: Grafik Xd dan Xb terhadap w aktu 0.

5 0. Misalkan pada refluks total Xet.9 0. artinya garis operasi berimpit dengan garis y =x. D pada garis x = y dibuat garis operasi yang berpotongan dengan sumbu y pada intercept tertentu.8 0. D = 0.1 0.75x + 0.4 0.6 0.829 3 x+ 3 +1 3 +1 Kurva Kesetim bangan Uap-Cair Et-OH-air 1 0. dan inrtercept = 0.6 0.5 0.3 0. Pada data tersebut jumlah tahap minimum adalah 6.207 y= y= 0.86. B = 0.8 0. Penentuan Jumlah Tahap Kesetimbangan Minimum (pada Refluks Total) Untuk refluks total. V. persaman garis operasi adalah: y= x R x+ D R +1 R +1 Untuk R tidak berhingga.7. Misalkan untuk hasil run di atas: pada refluks parsial Xet.7. Penentuan Jumlah Tahap Refluks Parsial Dari titik Xet. B = 0.829 dan Xet.05 Distilasi Halaman 27 dari 31 .Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB V.1 0 0 0.7.146 nilai refluks R = 3 Maka gradien garis operasi x R x+ D R +1 R +1 y = 0.3 0. Dibuat anak tangga dari ke yang menyinggung kurva kesetimbangnan.833 dan Xet. D = 0.2 0. slope garis = 1.2 0.4 0.9 1 x (fraksi cair) Modul 2. Jumlah tangga pada refluks total adalah jumlah tahap minimum.7 y (fraksi Uap) 0.6.169.7 0.

9.7.824 dan Xet.5 cm jumlah tahap = 10.05 Distilasi Halaman 28 dari 31 . x   D B   Nm = log α av maka: log α av  xD 1− xB  log  1 −x .33 V.17. Maka dapat dihitung: Modul 2.7. x   D B   = Nm Dengan menggunakan data saat refluks total dengan tahap minimum: Nm = 5.5 = 14. B = 0.7. Penentuan Volatilitas Relatif Etanol-Air Persamaan yang digunakan adalah Persamaan Fenske:  xD 1− xB  log  1 −x .33 V. Anak tangga tersebut berakhir pada titik Xb.33 Maka dapat dihitung: HETP = 145. Xet.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB Pada grafik tersebut mulai dari titik Xd yang berpotongan dengan garis x=y dibuat anak tangga dengan batas persamaan garis operasi dengan kurva kesetimbangan. Jumlah tahap pada refluks parsial adalah jumlah anak tangga yang terbentuk sepanjang Xd sampai Xb. Penentuan HETP (High Equivalent Theoretical Plate) Persamaan yang digunakan: HETP = tinggi kolom jumlah tahap kesetimbangan Misalkan data pada packed column: tinggi kolom = 145.085 cm 10.8. Pada run ini diperoleh jumlah tahap = 10. D = 0.

4 0.10.7.824 0.516419 0. Penentuan Jumlah Perolehan Misal diperoleh data pada run Refluks Parsial: Volume distilat = 78 mL Fraksi mol etanol dalam destilat = 0.5.687x 2 + 19.960234 859.3 0.548x .185061 0.130207 0.95 Densitas Etanol (g/m L) 1 1.1 0.829 Densitas destilat = 0.  1 − 0.099981 803.8 0.548*(ρetanol)-5.536905 944.8 0.824 1 − 0. Dari data kalibrasi densitas etanol terhadap fraksi etanol sebelumnya diperoleh: densitas et (kg/m3) 997.17   log α av = 5.319867 0.7 0.407664 0.2 0.17 α av = 0.05 Diperoleh persamaan: Fraksi volum = -13.246858 0.6 0.999 0.5 0.85 0.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB  0.2276 V.878 R2 = 0.65919 904.8 0.17  log .398484 970.687*(ρetanol)2+19.61084 957.658861 0.045 983.6 0.65383 923.9 1 X et (mol/mol) 0 0.9 0.878 Modul 2.2 0 Kurva Kalibrasi Denistas Etanol terhadap Fraksi Volum e y = -13.038913 0.081977 0.4 0.05 Distilasi Halaman 29 dari 31 .798881 X et (V/V) 0 0.856938 1.2 Fraksi volume (mL/mL) 1 0.573154 883.816398 835.806 g/cm3 Terlebih dahulu dibuat kurva kalibrasi densitas etanol terhadap fraksi volume.

896 ρet = 0.908*0.(ρet) + 11.4391.548*(ρetanol)-5.936)-5.988 g Volume umpan = 400 mL Fraksi mol umpan = 0.986 Volum etanol dalam destilat = 0.806)-5.548*(0.0213.908 mL Massa etanol dalam destilat = 76.687*(0.986 * 78 = 76.(ρet)2 – 21.687*(ρetanol)2+19.169 Yield = 0.988 Yield = 160.428*400 = 171.548*(0.878 Fraksi volum = 0.2 : 0.428 Volume etanol dalam umpan = 0.896 Desitas destilat pada fraksi mol etanol 0.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB Jika densitas destilat = 0.(ρet) + 11.806 Maka: Fraksi volum = -13.936)2+19.0.878 Fraksi volum = -13.05 Distilasi Halaman 30 dari 31 .806 Massa etanol dalam destilat = 61.2 Dari persaman kalibrasi fraksi mol terhadap densitas: Xet = 9.10-6.169 g Maka dapat dihitung perolehan pada operasi distilasi ini adalah: massa etanol di destilat massa etanol umpan 61.936 g/mL Dapat dihitung fraksi volum destilat pada ρet = 0.387 Yield = Modul 2.2 = 9.936 g/mL adalah: Fraksi volum = -13.878 Fraksi volum = 0.806)2+19.121 * 0.121 mL Massa etanol dalam umpan = 171.687*(0.334.(ρet)2 .936 = 160.908* ρetanol =76.

1993. New York. Equilibrium Separation Operations in Chemical Engineering. Chapter 6 Modul 2. McGraw-Hill..1.05 Distilasi Halaman 31 dari 31 . 3.Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II Departemen Teknik Kimia ITB VI. and Maloney..E. 1984 McKetta. 1978. Chapter 19 Treybal. John Wiley and Sons. 1981 Chapter 9 Perry. Vol.W. McGraw-Hill Book Co. McGraw-Hill... Green. Daftar Pustaka 1.. Chapter 9 Mc Cabe. J. Mass Transfer Operations. J. 4. R. 2. Unit Operations Handbook. 5.J.. and Seader. W. D. R. Unit Operation of Chemical Engineering.L. 3rd Edition. 1981. Japan. Perry’s Chemical Engineers’ Handbook.. 6th Edition. Marcell Dekker.O. Hanley.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful