JEMBATAN WHEATSTONE

I. TUJUAN Menentukan besarnya suatu hambatan dengan metode jembatan Wheatstone. I. DASAR TEORI I.1 Arus Listrik Arus listrik adalah aliran partikel-partikel bermuatan listrik Arah arus listrik (arah arus konvensional) berlawanan dengan arah arus elektron Arus listrik mengalir dari titik berpotensial tinggi ke titik berpotensial rendah (Reff : Marten Kanginan Kelas 2) I.2 Sumber Arus 1. Sumber arus terdiri atas 2 macam, yaitu a. AC yaitu sumber arus bolak-balik b. DC yaitu sumber arus searah 2. Macam-macam sumber arus a. Generator - Generator dibedakan atas generator bolak-balik (AC) dan generator arus searah (DC) b. Power Suply - Biasanya praktikum c. Baterai - Biasanya digunakan untuk alat dengan tegangan kecil digunakan didalam sekolah-sekolah sebagai alat

kendaraan roda dua I. jadi Jika arus yang melewati AD. sehingga susunan komponen yang semula tidak dapat disederhanakan secara seri – paralel. Marten K) dalam praktikum R1 dan R2 dapat merupakan sebuah kawat panjang AB seperti pada gambar dibawah ini : C G A L1 D L2 B E A R1 R3 C G D R2 R4 B Jika Galvanometer Vc = Vd (G) menunjukkan nol berarti tidak ada arus yang melewati (G) artinya tidak ada beda potensial antara titik C dan titik 0.3 Jembatan Wheatstone Pada tahun 1843. Rangkaian disamping adalah rangkaian jembatan Wheatstone sehingga berlaku prinsip jembatan wheatstone yaitu hasil kali dua hambatan yang saling berhadapan sama besarnya sehingga R1 x R2 = R 3 x R4 (Reff : Fisika 2 SMU.Vc = I3 x R3 dan VA – VD = I1 x R1 . Aki . DB dan CD berturut-turut misalkan Iq = I1 =I2 = I3 maka : VA . Sir Chones Wheatstone membuat suatu rangkaian yang dinamakan rangkaian Jembatan Wheatstone rangkaian ini dapat digunakan untuk menyederhanakan rangkaian.Digunakan untuk kendaraan bermotor contoh : mobil.d.

Maka didapat I3 x R b = I 1 x R 1 dengan jalan yang sama didapat I4 x Rx =I1 x R2 sehingga I1 = I2 dan I3 = I 4= dari persamaan siatas didapat Rx = Rx = R2 xRb atau R1 L2 xRb L1 (Reff : Petunjuk Praktikum) I. galvanometer bekerja bedasar prinsip bahwa komponen yang dialiri arus listrik dapat berputar ketika diletakan dalam sebuah /suatu daerah medan magnetic. Pada poros terpasang sebuah jarum penunjuk dan sebuah pegas Ketika arus listrik dialirkan pada kumparan kopel magnetic akan memutar kumparan. Ketika kumparan . kumparan terdiri dari beberapa gulung yang tiap gulungan terdiri dari beberapa lilitan kawat. Gambar disamping ditunjukkan sebuah galvanometer yang digantung diantara Utara-Selatan sebuah magnet U dan berputar bebas terhadap poros Vertikal. Kumparan hanya dapat berputar maksimum ¼ putaran. sampai kedudukan kumparan tegak lurus terhadap induksi magnetic. Oleh karena itu. skala penuh galvanometer didesain pada kedudukan ini. Dalam mengukur kuat arus listrik. Pada dasarnya.4 Galvanometer Galvanometer adalah komponen dasar amperemeter dan voltmeter digital.

berputar.5 Susunan Seri pada Resistor Yang dimaksud dengan susunan seri komponen-komponen listrik adalah komponen tersebut disusun sedemikian sehingga kuat arus yang melalui tiap-tiap komponen sama besar.) (Reff: Fisika SMU. Tegangan pada ujung-ujung R1 dan R2 adalah VAB = I x R1 dan VBC = I x R2 sehingga tegangan antara A dan C diberikan V = VAB + VBC V = I x R1 + I x R2 A I R1 B R2 C I = I (R1 + R2) (seperti pada gambar ) kita dapat mengganti kedua hambatan seri ini dengan sebuah hambatan pengganti Rx sehingga antara A dan C adalah V = I x Rx ruas kiri persamaan diatas adalah sama. sehingga kita peroleh I (R1 + R2) = I x Rx R1 + R2 = Rx Tampak bahwa hambatan seri sama dengan jumlah hambatan tiap-tiap komponen. Marten K) I. jarum penunjuk ikut berputar ketika kopel megnetik seimbang dengan kopel pegas.. Marten K) I. Untuk tiga atau lebih komponen disusun seri maka hambatan pengganti seri dirumuskan Rs = R1 + R2 + R3 + …. Pada saat itu jarum berhenti berputar dan menunjukkan angka tertentu pada skala (Reff : Fisika SMU.6 Susunan Paralel .

sehingga kita peroleh V 1   1 =V  +  Rp R 1 R 2  1 1 1 = + Rp R1 R 2 1 R1 + R 2 = Rp R1xR 2 R1xR 2 Rp = R1 + R 2 untuk tiga komponen /lebih yang disusun parallel. kuat arus yang masuk adalah I dan kuat arus yang keluar adalah I1 + I2. oleh karena tegangan pada tiap komponen adalah sama maka : I= V V 1   1 + =V +  R1 R 2  R1 R 2  kita dapat mengganti susunan parallel kedua lampu ini dengan sebuah hambatan pengganti paralel Rp I = V Rp ruas kiri persamaan adalah sama.Yang dimaksud parallel komponen-komponen listrik adalah komponenkomponen tersebut dihubungkan sedemikian sehingga pada tiap-tiap komponen sama besar R1 I a I I1 R2 b I V Kuat arus melalui R1 dan I1 dan melaui R2 adalah I2. sehingga sesuai hukum I Kirchoff : I = I1 + I2. Pada cabang a. sedangkan kuat arus yang keluar dari sumber adalah I. maka hambatan penganti paralel Rp dirumuskan secara umum .

. Erlangga. Tahanan geser pengatur (Rp) 3. Hambatan berbentuk kawat lurus pada mistar dengan penghubungpenghubung arus GAMBAR RANGKAIAN Cara teoritis R3 A R1 C G D R2 R4 B Dalam praktek R1 dan R2 merupakan sebuah kawat panjang AB C G A L1 D L2 B E Gambar secara skema . Sumber arus 2. Kabel-kabel penghubung 7.. Bangku hambatan (Rp) 4.. Rp R1 R 2 R3 (Reff : Fisika SMU. Marten K) II.1 1 1 1 = + + + . ALAT DAN BAHAN 1. Dua hambatan yang akan ditentukan besarnya 8.... Penghubung arus 6. Galvanometer 5.

CARA KERJA I. Komulator III. Kawat hambatan lurus 6. Resistor 8. Menghubungkan tombol hitam pada sumber arus dengan tombol sisi kanan papan yang berwarna merah c.7 Merangkai Alat a.Keterangan : 1. Mistar 7. Bangku hambatan 4. Galvanometer 5. Sumber arus 2. Menghubungkan tombol merah pada sumber arus dengan sisi kiri mistar/ papan yang berwarna merah b. Tombol on/off pada sumber arus 3. Menghubungkan 2 kabel pada bangku hambatan dengan 2 tombol sebelah kiri papan (boleh secara acak) .

Menghidupkan tombol on/off pada sisi depan sumber arus c. Ulangi dengan meletakkan komulator pada sisi paling kanan dan geserlah kekiri sampai jarum galvanometer menunjukkan angka nol kemudian catat jarak L2 pada mistar dibawah kawat. Jika jarum galvanometer bergerak berarti ada arus yang mengalir. g.8 Menjalankan Alat a. Menghubungkan kedua kaki resistor (hambatan) dengan 2 tombol sebelah kanan papan (boleh secara acak) I. Meletakan komulator pada salah satu titik pada kawat lurus dan membuat apakah jarum galvanometer bergerak d. Jika sudah bergerak letakkan komulator pada sisi paling kiri kawat dan geserlah. Rx seri dan parallel IV. Kekanan sampai jarum galvanometer menunjukkan angka nol kemudian catat jarak L1 pada mistar dibawah kawat f.d. Melakukan percobaan untuk posisi Rx2. jika tidak bergerak coba diperiksa lagi rangkaian tadi apakah \sudah benar e. Manghubungkan kabel yang berada dibelakang sumber arus dengan stop kontaks b. HASIL PENGAMATAN Sisi 3 I Sisi 4 II Kedudukan nol Pjg sisi 1 (L1) III IV Rata-rata harga III & IV L1 V Panjang sisi 2(L2) L2=L-L1 VI Perhitungan Rx’ dan Rx” VII . Menghubungkan tombol hitam galvanometer dengan tombol hitam yng berada ditengah-tengah papan e.

emas =1 =5 .25 61.9 43.2kΩ 1200Ω = 5% x 1200 = 60Ω  Rx1 Coklat Hitam Merah Emas = coklat.5(A+B) 54.8 45 44 55.5 L-C 45. emas =1 =2 = 00 = 1.85 55. merah.5 40.1 56.Rb Rb Rx1 Rb Rx2 Rb Rxseri Rb Rxpara lel Rx Rx1 Rb Rx2 Rb Rxseri Rb Rxpara llel A 54.2 57 24 68. hitam. merah. merah.5 43.25 42.15 44.5 40.5 57 34 B 53.5 Rb  Rb Coklat Merah Merah Emas = coklat.75 57.5 59. merah.75 38.5 30 68 66 47 C=0. hijau.75 73 31.25 27 68. emas =1 =0 = 00 = 1kΩ 1000Ω =5% x 1000 = 50Ω  Rx2 Coklat Hijau = coklat.

2kΩ = 1.Merah Emas = 00 = 1.2kΩ = 0.5kΩ 1 1 1 = + Rp 1000 1500 1 3 +2 5 1 = = = Rp 3000 3000 600 Rp = 600Ω R seri R parallel = = 0.5kΩ 1500Ω =5% x 1500 = 75Ω = 1000Ω + 1500Ω = 2500Ω = 2.15 x1. PERHITUNGAN 1) Rb-Rx1 Rx1 = kolomVI xRb kolomV 45.85 = 54.x) Penyimpangan .952 kΩ Percobaan Rx1 (Ω) Selisih rata-rata (x.25 = 55.016 kΩ Rx1 – Rb Rx2 = kolomVI xRb kolomV 44.75 x1.6kΩ V.

054 0.650 1.596 % Ralat nisbi 57.054 0.032 = 0.596 x100% = 3.4% 1.032 0.984 x100% = 1.032 -0.054 -0.952 0.9 Rx2 .2kΩ = 1.1 2 x 1.542kΩ (x.25)% = 96.Rb Rx2 = 31.1 x1.032 % keseksamaan % kesalahan = (100 – 3.2kΩ = 2.596 x100% = 6.244 kΩ .984 Ralat nisbi 0.75 x1.75 % = 1 − 0.054 % keseksamaan % kesalahan 3) Rb – Rxseri Rx1 = 73 x1.032 0.25 x1.579 kΩ 68.6% 1 2) Rb – Rx2 Rx1 = 42.25% 0.2kΩ 27 Rxseri .2kΩ = 1.016 0.x) 0.25 = 3.25)% = 96.3 % = (100 – 3.25 Penyimpangan 0.5 −1.5 56.542 1.650 kΩ Percobaan 1 2 x Rx2 (Ω) 1.054 = 1.Rb Rx2 = 43.984 x100% = 3.75 % = 1.

9115 (x.032 0.x) 0.816 kΩ (x.579 2.25 % = (100 – 3.5 x1.5 Penyimpangan 0.4% 2.33 -0.7 % = 2.33 Penyimpangan 0.25)% = 96.9115 x100% =16.5 − 2.032 -0.75 % = 0.032 0.2kΩ =0.6 40.5% 0.751 0.5 = (100 – 11.6 − 0. PEMBAHASAN Setelah dilakukan percobaan dan pengamatan ternyata didapatkan hasil sebagai berikut : .032 % keseksamaan % kesalahan VI.816 0.2kΩ = 0.5 Rxparalel .783 x100% = 30.3 % 0.032 = 0.244 2.33 Ralat nisbi % keseksamaan % kesalahan 4) Rb – Rxparalel Rx1 = 61.3)% = 88.Rb Rx2 = 59.9115 x100% = 11.751 kΩ Percobaan 1 2 x Rxparalel (Ω) 0.783 x100% = 3.783 Ralat nisbi 38.33 0.x) 0.Percobaan 1 2 x Rxseri (Ω) 3.5 x1.33 = 2.

7% dengan demikian didapat (%) kesalahan yaitu 30.7% dengan demikian didapat (%) kesalahan yaitu 6. Hal-hal yang mempengaruhi (%) kesalahan tersebut antara lain. a.4% 3. sedangkan dalam praktikum besar Rx2 rata-rata adalah 1596Ω.9115Ω. sedangkan dalam praktikum besar Rxparalel rata-rata adalah 783Ω. sedangkan dalam praktikum besar Rxseri rata-rata adalah 2. Dari sini dapat dihitung (%) ketelitian yaitu sebesar 88. Harga Rxparalel sebesar 600Ω (dalam teori). jika hal ini tidak terpenuhi maka harga yang didapat tidak akan sesuai . Harga Rxseri sebesar 1200Ω (dalam teori). Sensitivitas Galvanometer yang tidak cukup Untuk menentukan apakah galvanometer mempunyai sensitivitas yang diperlukan untuk mendeteksi kondisi tidak seimbang.75% dengan demikian didapat (%) kesalahan yaitu 1. Pemecahan ini ditandai dengan mmengubah jembatan wheatstone pada saat praktikum berlangsung. Galvanometer harus = 0 dan I = 0. arus Galvanometer perlu diperhatikan galvanometer yang akan membuat rangkaian jembatan Wheatstone lebih sensitive terhadap kondisi seimbang. Dari sini dapat dihitung (%) ketelitian yaitu sebesar 96. Harga Rx1 sebesar 1000Ω (dalam teoru).5% Adanya penyimpangan antara besar Rx dalam teori dengan besar Rx yang didapat dari praktikum mengakibatkan timbulnya (%) ketelitian dan (%) kesalahan. sedangkan dalam praktikum besar Rx1 rata-rata adalah 98Ω.1.7% dengan demikian didapat (%) kesalahan yaitu 16.4% 4.6% 2. Sensitivitas ini dapat ditentukan dengan memecahkan persoalan rangkain jembatan wheatstone pada ketidakseimbangan yang kecil. Dari sini dapat dihitung (%) ketelitian yaitu sebesar 96. Harga Rx2 sebesar 1500Ω (dalam teori). Dari sini dapat dihitung (%) ketelitian yaitu sebesar 96.

karena terdapat perbedaan pembacaan pada posisi yang berbeda. VII. Dalam hal ini praktikum harus berdiri didepan mistar. Komutator yang digerakkan digeser dan posisi praktikum mengikuti gerak komutator. Hal ini penting untuk menghindari kesalahan.984 kΩ sedang Rx1 teori 1 kΩ sehingga % kesalahan 1. Semakin besar perbedaan semakin besar (%) kesalahan. Dari hasil data praktikum didapat harga Rx 1.dengan sebenarnya dalam teori. Kondisi alat praktikum Berfungsi dengan baik atau tidaknya alat praktikum akan berpengaruh pada hasil yang akan diperoleh. selain itu posisi praktikum dan alatpraktikum juga menentukan. maka persen kesalahan menjadi semakin besar. KESIMPULAN a. Jika sensitifitas alat kurang baik data yang didapat menghitung. Rx1 rata-rata = 0. Pembacaan skala pada mistar yang kurang tepat Seperti telah diketahui untuk memastikan Galvanometer pada posisi nol sangatlah sulit.6 % untuk . b. c. Hal ini berhubungan dengan sensitifitas alat. Besarnya nilai hambatan (Rx) dapat ditentukan apabila pada Galvanometer menunjukkan nol pada Galvanometer yang tidak ada arus yang mengalir. berlaku Rx x L1 = Rb x L2 dan Rx x L2 = Rb x L1 c. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh ketelitian praktikum dalam membaca mistar. Jembatan Wheatstone adalah suatu metode yang digunakan untuk mengukur suatu hambatan yang belum diketahui b.

596 kΩ sedang Rx2 teori 1.783 kΩ sedang Rxparalel teori 0.5 kΩ sehingga % kesalahan 6. Rxseri rata-rata = 2. Rx2 rata-rata = 1.4 % 3. Rxparalel rata-rata = 0.2. Penetapan harga nol pada galvanometer d.9115 kΩ sedang Rxseri teori 2. Hal-hal yang mempengaruhi % kesalahan a.4 % 4. Kondisi alat praktikum . Sensitifitas detector nol yang terjadi cukup c.6 kΩ sehingga % kesalahan 30.5 kΩ sehingga % kesalahan 16. Ketelitian pembacaan skala mistar b.5 % 5.

14 Oktober 2004 : AV/C : 1. Setya P. Septiana Wati LOC 004 308 3. H LOC 004 309 Dosen Pembimbing Asisten Fakultas /Jurusan Universitas : : : Teknik / PSD III Teknik Kimia : Diponegoro Laporan praktikum Fisika Terapan dengan materi “Jembatan Wheatstone” ini telah diperiksa dan disahkan pada tanggal November 2004 Semarang.HALAMAN PENGESAHAN Praktikum Materi Hari/tanggal Kelompok/ Kelas Praktikan : Fisika Terapan : Jembatan Wheatstone : Kamis. Salida L LOC 004 307 2. Dosen Pembimbing Asisten November 2004 .

3. SEPTIANA WATI 3. LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA TERAPAN MATERI JEMBATAN WHEATSTONE DISUSUN OLEH: NAMA : 1. SETYA P. L 2.H (LOC 004 307) (LOC 004 308) (LOC 004 309) PROGRAM STUDY DIPLOMA III TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2004 . SALIDA.

Martin.DAFTAR PUSTAKA Anonim . 1994. “ Fisika SMU”. Kanginan. Erlangga : Jakarta . “Buku Petunjuk Praktikum Fisika Terapan” PSD III TEKNIK UNDIP Semarang .

5 Panjang sisi 2(L2) L2=L-L1 VI L-C 45.5 40.5 40.5(A+B) 54.5 Semarang.75 73 31.75 57. A.25 42. 14 Oktober 2004 Asisten Praktikan Novi Heryono.5 57 34 45 44 55.2 57 24 68. SEPTIANA WATI LOC 004 308 3.9 43.15 44.1 56.Md Kelompok AV/C .5 59.5 53.5 30 68 66 47 Rata-rata harga III & IV L1 V C=0.25 27 68. SETYA P. SALIDA L LOC 004 307 2.LAPORAN HASIL PENGAMATAN PRAKTIKUM NAMA : FISIKA TERPADU : 1.25 61.8 43.85 55.75 38.H LOC 004 309 KELOMPOK /KELAS MATERI HARI/TGL : VA/C : JEMBATAN WHEATSTONE : KAMIS / 14 OKTOBER 2004 DATA HASIL PERCOBAAN Sisi 3 I Rb Rb Rx1 Rb Rx2 Rb Rxseri Rb Rxparalel Sisi 4 II Rx Rx1 Rb Rx2 Rb Rxseri Rb Rxparallel Rb Kedudukan nol Pjg sisi 1 (L1) III IV A B 54.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful