BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Secara demografi, Indonesia terdiri dari bermacam-macam etnik, agama, budaya, dan latar belakang sosial. Keadaan tersebut memberikan petunjuk bahwa Indonesia berisiko tinggi menjadi negara yang rawan terhadap bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, longsor, banjir maupun kecelakaan baik darat, laut maupun udara serta tidak jarang terjadi konflik dalam masyarakat. Bencana merupakan suatu kejadian yang mendadak yang tidak terduga, dapat terjadi pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Bencana mengakibatkan kerusakan dan kerugian harta benda. Bencana juga sering memakan korban manusia dan dapat menimbulkan cidera maupun meninggal dunia. Indonesia merupakan wilayah yang rawan bencana baik bencana alam maupun akibat ulah manusia yang dipengaruhi oleh letak geografis, jumlah penduduk, keterbatasan sarana dan sebagainya. Setiap bencana pasti menimbulkan korban baik korban hidup yang mengalami luka-luka atau korban mati, secara teknis penanganan korban hidup telah mendapatkan perhatian yang cukup baik dengan melibatkan baik pemerintah, LSM maupun masyarakat. Penanganan korban mati juga harus mendapat perhatian yang lebih optimal. Disamping bencana alam, kecelakaan alat transportasi juga akan membawa dampak besar baik jumlah korban meninggal atau korban masih hidup. Korban-korban dalam kasus tersebut di atas perlu kita identifikasi. Oleh karena itu, identifikasi ini penting sekali karena akan menjelaskan secara hukum masih hidup atau sudah matinya seseorang dan merupakan hak dari ahli waris korban. Disamping itu identifikasi korban juga berkaitan dengan klaim asuransi, pensiunan dan lain-lain. Tuntutan masyarakat terhadap kepastian hukum dan hak asasi manusia sekarang semakin tinggi. Di sisi lain, makin meningkatnya bencana dan ancaman teror bom yang pada saat ini dapat terjadi setiap saat merupakan tantangan yang akan dihadapi Polri dan seluruh masyarakat di masa mendatang. Dalam mengantisipasi hal tersebut di atas Polri sebagai pelindung masyarakat

1

DVI diperlukan agar korban bisa diidentifikasi dan dikenali identitasnya sehingga bisa diberikan kepada keluarganya dan korban dapat dikuburkan dengan layak sesuai agama yang dianutnya. Dalam pemeriksaan DVI ada berbagai macam hal yang diuji untuk mendapatkan informasi mengenai identitas korban yaitu kapan korban itu meninggal. bagaimana dan dengan cara apa korban meninggal. Dalam penanganan identifikasi korban mati tersebut hal yang perlu mendapat perhatian khusus adalah dana. Seperti yang tercantum di dalam Undang-Undang Kepolisian Nomor 2 Tahun 2002 adalah merupakan upaya penerapan ilmu pengetahuan dan tehnologi kedokteran untuk kepentingan pelaksanaan tugas operasional kepolisian yang perlu dikembangkan secara optimal dalam mengantisipasi tuntutan masyarakat yang semakin tinggi. Dalam identifikasi juga diperlukan data korban sesudah meninggal dan data korban sebelum meninggal sebagai pembanding. sarana dan prasarana yang cukup mahal.dituntut mempunyai kemampuan yang memerlukan dukungan ilmu pengetahuan dan tehnologi dari berbagai disiplin ilmu Kedokteran. Salah satu bentuk kemampuan dari Kedokteran Kepolisian dalam kepentingan pelaksanaan terhadap tugas-tugas operasional kepolisian adalah Disaster Victim Identification (DVI). 2 . serta dibutuhkannya profesionalisme dari petugas yang menangani hal tersebut.

Kenyataan cara ini banyak kendala-kendalanya oleh karena perubahanperubahan yang terjadi secara biologis pada seseorang dengan bertambahnya usia selain kesulitan dalam menyimpan data secara sistematis. dengan adanya perkembangan masalah-masalah sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan maka identifikasi dimanfaatkan juga untuk keperluan-keperluan yang berhubungan dengan kesejahteraan umat manusia. Pengetahuan identifikasi secara ilmiah diperkenalkan pertama kali oleh dokter Perancis pada awal abad ke 19 bernama Alfonsus Bertillon tahun 1853-1914 dengan memanfaatkan ciri umum seseorang seperti ukuran antropometri. warna rambut. ahli waris dan menelusuri sebab dan akibat kecelakaan. Manfaat identifikasi semula hanya untuk kepentingan dalam bidang kriminal (mengenal korban atau pelaku kejahatan). penentuan keturunan. mata dan lain-lain. Berdasarkan perhitungan matematis penggunaan sidik jari sebagai sarana identifikasi mempunyai ketepatan yang cukup tinggi karena kemungkinan adanya 2 orang yang memiliki sidik jari yang sama adalah 64 x 109: 1. 3 . Sistem yang berkembang kemudian adalah pendeteksian melalui sidik jari (Daktiloskopi) yang awalnya diperkenalkan oleh Nehemiah Grew tahun 16141712. kendala dari sistem ini adalah diperlukan data dasar sidik jari dari seluruh penduduk untuk pembanding. bahkan identifikasi dapat dimanfaatkan untuk pencegahan cedera atau kematian akibat kecelakaan. Identifikasi Korban Pengetahuan mengenai identifikasi (pengenalan jati diri seseorang) pada awalnya berkembang karena kebutuhan dalam proses penyidikan suatu tindak pidana khususnya untuk menandai ciri pelaku tindak kriminal.BAB II ISI 1. saat ini telah berkembang untuk kepentingan non kriminal seperti asuransi. kemudian oleh Mercello Malphigi tahun 1628-1694 dan dikembangkan secara ilmiah oleh dokter Henry Fauld tahun 1880 dan Francis Dalton tahun 1892 keduanya berasal dari Inggris.

dimana setiap fasenya mempunyai keterkaitan satu dengan yang lainnya. Metodologi Identifikasi Prinsipnya dari identifikasi adalah pemeriksaan identitas seseorang memerlukan berbagai metode dari yang sederhana sampai yang rumit. 2) Melalui kepemilikan (property). perhiasan. 3) Dokumentasi. identititas cukup dapat dipercaya terutama bila kepemilikan tersebut (pakaian. foto keluarga. foto sekolah. yang terdiri dari „The Scene‟. Dental Records dan DNA serta Secondary Indentifiers yang terdiri dari Medical. dan mutilasi. foto diri. terbakar. Metode sederhana 1) Cara visual. 3. bermanfaat bagi kondisi mayat yang masih baik. semakin banyak yang cocok maka akan semakin baik. Prinsip dari proses identifikasi ini adalah dengan membandingkan data Ante Mortem dan Post Mortem. b. Tidak berlaku bagi mayat yang telah busuk. Dalam melakukan proses tersebut terdapat bermacam-macam metode dan tehnik identifikasi yang dapat digunakan. a.2. Metode ilmiah. antara lain: 1) Sidik jari 2) Serologi 4 . Property dan Photography. Namun demikian Interpol menentukan Primary Indentifiers yang terdiri dari Fingerprints. Adapun proses DVI meliputi 5 fase. „Reconciliation‟ and „Debriefing‟. surat jati diri) masih melekat pada tubuh korban. Disaster Victim Identification (DVI) DVI (Disaster Victim Identification) adalah suatu definisi yang diberikan sebagai sebuah prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat bencana massal secara ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan dan mengacu kepada standar baku Interpol. „The Mortuary‟. KTP atau SIM dan lain sebagainya. Primary Identifiers mempunyai nilai yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan Secondary Identifiers. „Ante Mortem Information Retrieval‟.

Kesulitan dalam menggunakan tehnik ini adalah: 1) Korban tidak pernah membuat foto semasa hidupnya. dan DNA. 4) Membutuhkan kamar gelap yang perlu biaya tersendiri. semakin banyak kecocokan semakin tinggi nilainya. bentuk wajah. ras. Pemeriksaan gigi ini menjadi amat penting apabila mayat sudah dalam keadaan membusuk atau rusak. golongan darah. Identifikasi dengan Teknik Superimposisi Superimposisi adalah suatu sistem pemeriksaan untuk membandingkan korban semasa hidupnya dengan tengkorak yang ditemukan. (2) tanda khusus tentang korban seperti adanya gigi yang dibungkus logam.3) Odontologi 4) Antropologi 5) Biologi Prinsip dari proses identifikasi adalah mudah yaitu dengan membandingkan data data tersangka korban dengan data dari korban yang tak dikenal. Data gigi. sidik jari. Khusus pada korban bencana massal. khususnya bila rekam dan foto gigi pada waktu masih hidup yang pernah dibuat masih tersimpan dengan baik. atau DNA secara tersendiri sudah dapat digunakan sebagai faktor determinan primer. telah ditentukan metode identifikasi yang dipakai yaitu: a. Gigi merupakan suatu cara identifikasi yang dapat dipercaya. 3) Tengkorak yang ditemukan sudah hancur dan tidak berbentuk lagi. seperti halnya kebakaran. jenis kelamin. Identifikasi pada gigi dapat mengenali dua hal. sedangkan data medis. yaitu (1) memperoleh informasi seperti umur. property dan ciri fisik harus dikombinasikan setidaknya dua jenis untuk dianggap sebagai ciri identitas yang pasti. c. Primer/utama 5 . 2) Foto korban harus baik posisinya maupun kwalitasnya. gigi yang ompong atau patah dan lubang pada gigi.

1) Gigi geligi Identifikasi dengan cara gigi bukanlah teknik baru. pakaian. Gigi dpat bertahan lama setelah struktur kerangka lainnya telah menyerah pada pembusukan organik atau kehancuran oleh beberapa instansi lain. Ini adalah tanggung jawab seniman forensik yang memanfaatkan gigi untuk membantu rekonstruksi. dan mereka dapat digunakan bahkan meskipun mereka mungkin tersebar di daerah yang luas. seperti kebakaran. seks.  Penilaian Umur. seperti terjadi dalam kecelakaan pesawat terbang. Dalam keadaan langka. Usia anak dapat ditentukan oleh analisis perkembangan gigi dan selanjutnya sibandingkan dengan grafik perkembangan. Wajah Ante Mortem dicocokkan dengan bentuk gigi untuk melakukan superimposisi dan rekonstruksi. kebakaran. Hal ini biasanya mempunyai akurasi 1. atau pap smear. kebiasaan diet. Jika hasil visum Post Mortem tidak bisa untuk memunculkan identitas almarhum. fragmentasi. Selain itu bisa juga dicocokkan dengan DNA yang diduga orang tua atau saudara korban. Identifikasi gigi telah dianggap sebagai salah satu pengidentifikasian utama dalam korban bencana oleh Interpol. Struktur gigi mungkin satu-satunya bagian tubuh yang tidak hancur. maka perlu untuk melakukan rekonstruksi wajah. Catatan Post Mortem pada gigi dapat memberikan informasi tentang usia. serangan teroris. dan penyakit sistemik yang diderita.  DNA dalam Forensik Gigi. sisir rambut. Gigi adalah organ yang paling tahan lama di tubuh vertebra. 6 . Hal ini dipermudah dengan adanya alat PCR (Polimerase Chain Reaction). DNA korban bisa dicocokkan dengan DNA yang didapat dari Ante Mortem seperti darah yang disimpan. dan status sosioekonomi almarhum. Peran dari identifikasi gigi antara lain:  Rekonstruksi dan Superimposisi Wajah. dan dekomposisi parah. latar belakang keturunan. juga mungkin untuk diketahui pekerjaan.6 tahun. Sifat jaringan yang keras dan tidak hancur saat bencana menjadikan gigi sebagai lahan DNA.

Sebagai contoh dalam perkosaan mungkin ditemukan bekas gigitan di payudara. Dokter forensik harus dengan cekatan memeriksa adanya bekas gigitan karena tanda tersebut cepat hilang dalam hitungan jam. yang memerlukan aplikasi hati-hati dan lembut dalam menempelkan debu kering dengan kuas. yang hampir selalu menunjukkan post mortem kulit yang mengalami deskuamasi atau mengelupas. terdapat kesulitan untu mengidentifikasi identitas korban/maya secara fisik ataupun bimetri. Tes DNA memiliki tujuan hukum yang meliputi masalah forensik seperti identifikasi korban yang telah hancur. dikenal adanya “teknik bubuk”. Tanda gigitan biasanya menyertai perkelahian antara orang dewasa maupun anak-anak sebagai bagian atas penyerangan fisik atau seksual. air liur.  Mengetahui Adanya Bekas Gigitan. usapan mulut pada buccal. Untuk itu. sperma. Keterlambatan dalam pemeriksaan mengakibatkan hilangnya barang bukti yang berharga.identifikasi dengan metode tes DNA mungkin pilhan yang tepat. tetapi yang sering digunakan adalah darah.Untuk memperkirakan umur orang dewasa. atau sampel biologis apa saja yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) dapat dijadikan sampel untuk tes DNA. yang disebabkan oleh kondisi tubuh korban yang telah rusak atau hancur. 7 . 3) DNA Di berbagai kasus. tulang. kulit. sehingga untuk mengenali korban diperlukan pencocokan antara DNA korban dengan orang yang diduga keluarga korban. Dalam penelusuran sidik jari. memberikan tantangan yang cukup berat kepada petugas polisi yang ditugaskan untuk identifikasi. Hampir semua sampel biologis tubuh dapat digunakan untuk sampel tes DNA. Untuk kasus-kasus forensik. 2) Sidik jari Sidik jari dari tubuh yang sangat membusuk. dan kuku. sekarang digunakan rasemisasi asam aspartat dan translusen dentine dalam menilai usia korban dewasa. daging. rambut.

dan medik Selanjutnya dalam identifikasi tidak hanya menggunakan satu cara saja. Ante Mortem (AM) tim dan tim dukungan logistik. tim forensik Belgia diturunkan untuk melakukan proses identifikasi korban. Lemahnya penanganan baik dari lokal maupun nasional mengakibatkn terbatasnya kualitas dan kecepatan dari diperolehnya hasil identifikasi. Tim DVI Belgia dibagi menjadi tiga subtim utama. Petugas identifikasi mempertimbangkan beberapa parameter. atau DNA secara tersendiri sudah dapat digunakan sebagai faktor determinan primer. Pengidentifikasian mayat tidak bisa dilakukan dengan segera. Sekunder/pendukung: visual. pengidentifikasian mayat meggunakan struktur gigi dan sidik jari. ciri-ciri. property dan ciri fisik harus dikombinasikan setidaknya dua jenis untuk dianggap sebagai ciri identitas yang pasti. property. Prinsip dari proses identifikasi adalah mudah yaitu dengan membandingkan data-data tersangka korban dengan data dari korban yang tak dikenal. Proses identifikasi korban bencana tidaklah selalu berjalan mulus. hal ini penting oleh karena semakin banyak kesamaan yang ditemukan akan semakin akurat. kita ambil saja contoh penanganan korban bencana gempa dan tsunami di Sumatera Utara pada tanggal 26 Desember 2004. dan lain-lain yang melekat pada korban. Untuk beberapa korban menggunakan DNA. Srilanka dan Thailand. yaitu Post Mortem (PM) tim. Sedangkan tim AM 8 .b. segala cara yang mungkin harus dilakukan. sidik jari. sedangkan data medis. semakin banyak kecocokan semakin tinggi nilainya. PM tim sendiri bertugas untuk memeriksa dan menemukan segala tandatanda. Pada saat itu. 4. Data gigi. Identifikasi tersebut minimal harus menggunakan 2 cara yang digunakan memberikan hasil yang positif (tidak meragukan). pembuangan dan risiko kesehatan dari mayat/korban. Di Thailand. identifikasi. Kronologis Proses Identifikasi Korban Bencana Massal Untuk mengetahui kronologis proses DVI itu sendiri. seperti contoh studi kasus mengenai penanganan korban bencana yang terjadi di Indonesia. yaitu: penemuan dan penyimpanan.

Ini tidak hanya menuntut kehadiran khusus ahli forensik pada tim yang kuat tetapi juga ditambahkan jumlah personil tambahan. Untuk pemeriksaan post mortem yang tepat. tanda-tanda fisik yang khas semasa korban hidup. disarankan bahwa sebuah tim DVI dapat beroperasi mandiri. Pada akhirnya. Tim AM mengumpulkan identitas dari setiap korban yang memiliki keluarga. DNA. Dalam tahapan pemeriksaan tubuh oleh tim PM. e. dan untuk membantu penggunaan peralatan berat atau mesin. Informasi ini dapat dikumpulkan di rumah mereka atau di tempat di mana para anggota keluarga 9 . Rekonstruksi identifikasi merupakan prasyarat untuk dilakukan perbandingan identifikasi. Seorang dokter medis dan perawat terdaftar untuk menghadiri semua anggota tim kebutuhan medis.bertugas untuk menelusuri identitas korban semasa hidupnya. b. f. Odontologists forensik. dan sidik jari yang dikumpulkan dari tubuh korban yang tidak diketahui identitasnya yang telah dikumpulkan oleh tim PM. Selama proses identifikasi rekonstruktif informasi yang dibutuhkan adalah atribut fisik. petunjuk medis. dan lain-lain pada daftar pencarian orang hilang. semua elemen yang berguna untuk identifikasi secara sistematis diindeks pada formulir PM Interpol (tim multidisiplin yang melakukan otopsi). menyediakan logistik dan/atau administrasi. Seorang psikolog terlatih dalam stres pasca-traumadisorder (PTSD) dan tersedia untuk tim setiap saat. c. Forensik pemeriksa medis (idealnya dengan spesialisasi antropologi forensik). Identitas (AM) direkonstruksi kemudian dapat dicocokkan dengan informasi korban (PM) untuk identifikasi komparatif. d. serta polisi petugas laboratorium ilmiah dan fotografi. gigi. keluarga. Anggota perlindungan sipil untuk perawatan tubuh dan transportasi. Tim DVI Belgia terdiri dari: a. Polisi khusus dalam pemulihan/penggalian. informasi dari tim PM maupun tim AM dapat dibandingkan untuk mengetahui kecocokan dari kedua data tersebut. seperti mencari tahu nama.

informasi dari tim AM dan tim PM yang didapatkan dari hasil pemeriksaan dicocokan untuk mengarah ke hasil akhir identifikasi. Hal ini juga penting untuk mendapatkan gambar dari korban dan untuk mengumpulkan sidik jari mereka. majikan orang yang hilang. b. Bentuk identitas lain diselesaikan oleh tim dengan menghubungi keluarga korban dan mengumpulkan : a. Program perangkat lunak ini yang akan menjadi pembanding penelitian dan otomatis antara AM dan PM basis data dari kedua arah: PM untuk AM atau sebaliknya. dan benda pribadi lainnya yang dikenakan oleh orang hilang tersebut. Tim komputer bekerja dengan program perangkat lunak "DVI Internasional" yang dikembangkan oleh PlassData ™ dan digunakan oleh Interpol DVI Masyarakat di seluruh dunia. Semua proses informasi yang digunakan kemudian disusun dan disajikan untuk Rekonsiliasi Dewan. Informasi lebih lanjut kemudian akan dikumpulkan dari teman dan kenalan. sikat gigi atau barangbarang pribadi lainnya juga dapat berguna untuk menentukan identitas DNA yang akan dicari dan dikumpulkan. Bentuk interpol yang sebenarnya mengandung dokumen DNA penting. sistem melakukan pencarian otomatis setiap hari untuk mengidentifikasi kemungkinan yang cocok. Komputer diharapkan memfasilitasi kecocokan antara tubuh tak dikenal dan orang hilang secara lebih spesifik daripada kontrol. Setelah semua data yang didapatkan tim AM dan PM dimasukkan ke dalam PlassData ™. Sampel rambut. Dalam tahap selanjutnya. c. Tim komputer ini menginformasikan Kepala Tim Identifikasi tentang keputusan akhir tentang identitas manusia tak dikenal. dokter atau dokter gigi. menunjukkan metode dan penanda yang akan digunakan dalam rangka untuk memungkinkan perbandingan aplikasi yang seragam di tingkat internasional. Karakteristik morfologi Deskripsi pakaian. yang 10 .berkumpul. perhiasan. Semua data korban yang dikumpulkan ditransmisikan ke bagian Identifikasi dan ditranskrip ke dalam komputer file data. Gambar korban yang hilang. dekat dengan bencana atau di lokasi yang jauh menurut jenis bencana atau keinginan dari keluarganya.

alamat lengkap penerima. 5. mereview kasusnya. Identifikasi pada korban bencana massal adalah suatu hal yang sangat sulit mengingat beberapa hal yang sering dijumpai. sehingga menunjukkan bahwa proses identifikasi ini dikerjakan dengan baik dan penuh perhatian. Setelah Korban Teridentifikasi Setelah korban teridentifikasi sedapat mungkin dilakukan perawatan jenazah yang meliputi antara lain: a. Pengawetan jenazah (bila memungkinkan) c. Diserahkan kepada siapa. Adalah sangat penting untuk tetap memperhatikan file record dan segala informasi yang telah dibuat untuk dikelompokkan dan disimpan dengan baik. Negara mempunyai kewenangan untuk menghubungi keluarga korban sehingga keluarga korban dapat diberitahu tentang hasil identifikasi. untuk Setelah identifikasi dikonfirmasi. hubungan keluarga dengan korban. sertifikat kematian dikeluarkan dan dirilis. dalam hal ini Dinas Sosial dan Dinas Pemakaman yang dibantu oleh keluarga korban. Dibawa kemana atau dimakamkan dimana Perawatan jenazah setelah teridentifikasi dilaksanakan oleh unsur Pemerintah Daerah. Nomor registrasi jenazah c. Jumlah korban banyak dan kondisi buruk 11 . seperti di bawah ini: a.terdiri dari semua konfirmasi akhir. Memasukkan dalam peti jenazah Kemudian jenazah diserahkan kepada keluarganya oleh petugas khusus dari Komisi Identifikasi berikut surat-surat yang diperlukan pencatatan yang penting pada proses serah terima jenazah antara lain: a. spesialis dari bidang forensik dan ahli investigasi. Perawatan sesuai agama korban d. d. Perbaikan atau rekonstruksi tubuh jenazah b. Dokumentasi berkas yang baik juga penting agar pihak lain (misalnya Interpol) dapat melihat. Tanggal dan jamnya b.

Bersifat lintas sektoral sehingga memerlukan koordinasi yang baik Sehingga yang sangat dibutuhkan pada pelaksanaan tugas identifikasi massal ini adalah koordinasi yang baik antara instansi dan dukungan peralatan komunikasi dan transportasi.b. Lokasi kejadian sulit dicapai c. Memerlukan sumber daya pelaksanaan dan dana yang cukup besar d. 12 .

Selain itu. mereka yg selamat pasti ingin melihat adanya penanganan yang dilakukan dengan baik dan penuh hormat. Penanganan ini harus diinformasikan kepada instansi terkait dan pihak forensik regional maupun internasional. baik secara ilmiah dan secara hukum. Penanganan identifikasi korban bencana massal berdasarkan standar yang berlaku merupakan suatu proses yang dapat dipertanggung-jawabkan. 13 . Kesimpulan Metode identifikasi terus berkembang. komputerized atau yang sederhana lebih meningkatkan akurasi indentifikasi korban mati atau hidup. sehingga proses identifikasi mencapai ketepatan dalam identifikasi dan bukan hanya kecepatan dalam prosesnya. dan ini membutuhkan pedoman dan dukungan teknis. berbagai ilmu pengetahuan baik yang bersifat ilmiah. Tantangan yang dihadapi para pelaksana identifikasi di kemudian hari adalah apabila ada bencana massal.BAB III PENUTUP 1. karena kuantitas korban makin meningkat. Diperlukan kerjasama dan pengertian yang baik di antara semua pihak yang terlibat dalam penerapannya.

Penanganan terhadap korban bencana alam pada bencana tsunami di asia tenggara: studi kasus di Thailand . Mass Disaster Victim Identification-The Tsunami Experience.repository.annals. vol. Annals Academy of Medicine. vol. November. no. 2005. no.edu/courses/eeb320-2006/honors/article. 2008. Available from: http://www. 2009. no. G et al. Available from: http://www.pdf (Accessed 17 Desember 2011) Morgan. 2008. Carl KK. Indonesia dan Srilanka. 2006.pdf (Accesed 17 Desember 2011) Lau.com (Accessed 14 Desember 2011) Budowle. Available from: http://nitro.biosci. 41. 11. S.edu.sg/pdf/34volno5200507/v34n5p341.pdf (Accessed 14 Desember 2011) 14 .pdf (Accessed 17 Desember 2011) Leung.arizona. Desember. Jean-pol et all.bethamscience. Juni.00 Singh. pp 254-258.org/database/hkmd/md112008fullpage40pp. 30195 (Accessed 15 Desember 2011) Available from: http://www.pmed.plosmedicine. The Hongkong Medical Diary. Penatalaksanaan Identifikasi Korban.usu. 2005. After the Indian Ocean Tsunami: Singapore’s Contribute to the International Disaster Victim Identification Effort in Thailand. Bruce et al. Available from: http://www.org/article/info%3Adoi%2F10. 4. Majalah Kedokteran Nusantara. O. 34.fmshk.1371%2Fjournal. Available from: http://www. 5. Belgium: The Open Forensic Science Journal.id/bitstream/123456789/18620/1/mkn-des-200841(11).DAFTAR PUSTAKA Beauthier. Forensic Odontology. vol. 13.W et al. Forensic aspect of mass disasters: Strategic considerations for DNA-based human identification.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful