No : 01-2013 Maret 2013

Buletin

Pasca Banjir Jakarta 2013: Mendesak Pembangunan Infrastruktur

ILWI (Indonesian Land reclamation & Water management Institute), adalah sebuah lembaga kajian dibidang reklamasi dan pengelolaan air. Lembaga ini berupaya untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan di bidang reklamasi & pengelolaan air kepada masyarakat. Salah satunya dengan penerbitan buletin. Buletin ini kami kirimkan secara gratis. Tulisan, saran dan pemberitaan media menjadi bagian dari isi buletin ini. Alamat : Jalan Palapa II No 19, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 12520 atau P.O. Box 7277/JKSPM Jakarta Selatan 12072 Website : www.pengendalianbanjir.com Email : landwaterindonesia@gmail.com

ILWI Buletin No 01-2013

1

okezone.com

PENGANTAR REDAKSI
Pembaca yang budiman, di awal tahun 2013, ini, Jakarta langsung dikejutkan dengan masalah banjir yang kali ini genangannya cukup masif. Bagi ibukota urusan banjir sebenarnya bukan masalah baru, bahkan sudah terkesan usang dan bolakbalik dialami kota terbesar di Indonesia. Akan tetapi banjir kali ini lebih istimewa karena bagi Joko Widodo, Gubernur Jakarta, ini merupakan kali pertama dia mendapat cobaan banjir. Meski kemungkinan banjir pasti sudah diprediksi oleh gubernur dan wakil gubernur yang baru, akan tetapi tetap saja mereka kewalahan menghadapi tekanan masyarakat yang cemas aki bat rumah dan harta bendanya yang kebanjiran. Jokowi, demikian dia biasa disapa, harus pontang-panting kesana-kemari untuk memantau apakah aparatnya sudah bergerak maksimal dalam memberikan bantuan atau sekedar menyapa warganya yang menjadi korban. Basuki Thahaja Purnama, wakil gubernur DKI Jakarta, juga melakukan hal yang sama, memantau langsung kondisi warga yang menjadi korban. Disamping itu tentu saja mereka juga menawarkan rencana-rencananya berkaitan dengan penanggulangan banjir di ibukota. Pembaca, jika kita mengikuti perkembangan rencana penanggulangan banjir dalam beberapa bulan di awal tahun ini, setidaknya ada tiga upaya teknis yang berkembang. Pertama membangun sodetan antara Kali Ciliwung dan Kanal Banjir Timur Timur, kedua mempercepat realisasi pembangunan tanggul laut dan ketiga pembangunan rencana deep tunnel. Karena semua itu merupakan pembangun fisik maka tentunya rencana itu tidak gampang terealisasi. Butuh waktu, dana dan argumen yang kuat untuk bisa melaksanakannya dengan cepat. Pembaca, dalam kaitan itu Buletin ILWI kali ini mengangkat pemasalahan dan perkembangan penanggulangan banjir di Jakarta. Keterbatasan dana dan ide-ide baru mengenai upaya penanggulangan menjadi bagian dari wacana yang berkembang dan pas untuk kita bahas. Untuk itu kami berusaha menyegarkan ingatan dan menambah wawasan pembaca. Akhirnya kami ucapkan selamat menikmati buletin edisi pertama tahun 2013 ini. . Redaksi
ILWI Buletin No 01-2013 2

BERHARAP RELOKASI DANA SUBSIDI
Banjir Jakarta Januari 2013 memaksa pemerintah untuk memacu pembangunan infrastruktur pengendalian banjir. Pengalihan dana subsidi bahan bakar minyak menjadi alternatif penambahan dana pembangunan.

Jokowi meninjau banjir Jakarta 2013

solo pos .com

Sabtu, 19 Januari 2013, merupakan hari kedua bagi Sutrisno, 40 tahun, tidak mengemudi taksinya. Setelah banjir mencapai puncaknya pada Kamis sebelumnya, bapak satu anak ini mengaku merugi jika memaksakan diri untuk mencari penumpang pada harihari tersebut. Pengalaman pada saat banjir besar dua hari sebelumnya, dimana laki-laki berkulit gelap ini, bukan hanya tidak mendapatkan penumpang, tapi taksi yang sudah dikendarainya selama lima tahun itu, juga tidak bisa bergerak kemana-mana.
ILWI Buletin No 01-2013

Banjir besar di Jakarta membuat Sutrisno gamang, risiko tidak mendapatkan penumpang atau kenderaan terjebak genangan air, sangat menakutkannya. “Lebih baik dirumah saja daripada memaksa narik, “ katanya. Sebagai tulang punggung keluarga, tidak bekerja semacam ini tentu membebani ekonomi keluarga kecilnya. “Kalau Jakarta setiap tahun banjir semcam ini, berat bagi orang kecil seperti kami,” katanya dengan mata menerawang. Sutrisno tidak sendiri ada jutaan warga Jakarta yang harus kehilangan potensi ekonominya setelah
3

genangan air besar menggelontor ibukota. Ganasnya banjir di Jakarta membuat banyak orang tidak bisa beraktivitas dan banyak pabrik yang tidak berproduksi. Triliunan rupiah potensi ekonomi tergerus begitu saja terbawa aliran air yang menggenangi ibukota Republik Indonesia ini.

ini. Sama dengan masalah kemacetan, penanggulangan banjir selalu menjadi tolok ukur keberhasilan gubernur dalam memimpin Jakarta.

Perlu terobosan untuk perbaikan infrastruktur Banjir menghambat perekonomian
cincara.com

JG photo

Seandainya banjir tidak pernah ada tentulah laju perekonomian bisa berkurang hambatannya. Apalagi jika banjir tersebut menghantam kota sebesar Jakarta, dampak ekonomi yang ditimbulkannya pastilah cukup besar, belum lagi hambatan yang disebabkan oleh kemacetan lalu lintas. Dua permasalahan besar Jakarta tersebut bebar-benar menjadi momok yang menakutkan bagi warga dan pengusaha yang berada di kota yang didirikan oleh Fatahillah ini. Joko Widodo, Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, memperkirakan bahwa banjir kali ini menyebabkan kerugian hingga 20 triliun rupiah. Menurutnya jika keadaan semacam ini berulang terus maka akan sangat membebani ekonomi. Ditambahkannya jika dana sebanyak itu digunakan untuk pembangunan infrastruktur untuk mengantisipasi banjir maka akan dapat mengurangi potensi banjir. Banjir kali ini memang cukup merepotkan, tidak hanya warga yang terkena langsung dampak banjir yang menderita. Masyarakat di wilayah lain di Jakarta juga mengalami kesulitan. Untungnya harga-harga barang kebutuhan pokok masih bisa dikendalikan. Menurut Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan, meski pada saat banjir harga-harga sembako di Jakarta tergolong masih terkendali tapi hal semacam ini tidak bisa dibiarkan terus menerus. “Tapi kalau begini - begini terus, ya pastinya kita akan terpengaruh. Logistik akan terganggu,” ujarnya. Menurut Gita harus ada perbaikan infrastruktur dalam beberapa waktu ke depan, jika tidak maka dampaknya terhadap perekonomian akan semakin besar. Tuntutan untuk mengurangi dampak banjir di Jakarta memang cukup kuat beberapa tahun belakangan
ILWI Buletin No 01-2013

Dorongan untuk membangun infrastruktur penanggulangan banjir sering dikumandangkan para pengamat. Masalah klasik seperti keterbatasan dana dan pembebasan lahan membuat ruang gerak pemerintah menjadi terbatas. Sebenarnya akhir tahun 2012 lalu, Jokowi, demikian gubernur Jakarta biasa disebut, sempat melontarkan idenya untuk mengalihkan dana subsidi premium di Jakarta untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur. Kala itu usul mantan walikota Solo ini, adalah meminta kompensasi memakai dana subsidi untuk membangun infrastruktur, salah satunya untuk mengurangi kemacetan di ibukota. Ide ini langsung menimbulkan pro kontra yang ditanggapi Jokowi dengan menebar senyum. Usulan untuk mengkompensasi subsidi BBM dengan pembangunan infrastruktur kembali bergaung ketika Jakarta mengalami banjir besar, Januari lalu. Jusuf Kalla, Mantan Wakil Presiden, yang mengumandangkannya, menurutnya jika ingin persoalan banjir dan kemacetan bisa diselesaikan, maka infrastruktur harus dibangun dan diperbaiki. Konsekuensinya, subsidi untuk BBM direalokasi untuk perbaikan dan pembangunan tersebut. Subsidi BBM yang hampir mencapai Rp 300 triliun lebih bermanfaat bila dipakai untuk pembangunan infrastruktur. Untuk itu harus ditentukan pilihan, anggaran tersebut mau digunakan untuk subsidi BBM atau pembangunan infrastruktur. “Dana itu (bisa) digunakan untuk memperbaiki jalan, perairan, sekolah, hingga mushala agar anak jalan enak ke rumah tidak banjir,” tegasnya. Meski ini berakibat pada orang yang memiliki kendaraan bermotor harus membayar bensin dengan harga yang lebih tinggi. Suryo Bambang Sulistio, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) juga
4

berpendapat perlunya subsidi diberikan pada hal-hal yang dianggap penting saja. “Subsidi harus direalokasi, kalau perlu dihapus sama sekali. Kita setuju jika direalokasi. Misalnya untuk pembangunan infrastruktur dan pendidikan,” jelasnya. Untuk mendorong perekenomian maka dipandang perlu untuk lebih banyak membangun infrastruktur.

Merambah hingga pusat kota

Jika ini bisa dilakukan, Jakarta tidak hanya mendapat tambahan dana untuk membangun prasarana dan sarana yang diperlukan saja, disisi lain akan mengurangi juga permakaian BBM masyarakatnya untuk urusan-urusan yang tidak perlu. Kalau BBM naik tentu saja warga Jakarta akan lebih selektif melakukan pergerakan. Bayangkan saja Jakarta yang pemakaian BBM sekitar 8 % dari kebutuhan nasional, jika mendapatkan bagian dari subsidi yang jumlahnya hampir Rp. 300 triliun, maka ibukota akan mendapatkan dana tambahan pembangunan sekitar Rp. 24 triliun per tahunnya. Jika dana sebanyak itu terkonsentrasi untuk pembangunan infrastruktur yang mendukung transportasi dan penanggulangan banjir, pastilah akan memotong waktu yang cukup signifikan untuk membuat Jakarta sebagai kota yang benar-benar layak sebagai ibukota negara yang produk domestik bruto nya masuk dalam 20 besar negara-negara di dunia.

Sering memakan korban

detiknews

Pengalihan dana subsidi BBM memang menjadi pilihan yang cukup menarik untuk mengefektifkan penggunanan dana negara. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam kenyataannya subsidi BBM yang dikeluarkan oleh pemerintah lebih banyak dinikmati oleh kalangan berduit. Mengingat konsumsi BBM lebih banyak disedot oleh warga yang memiliki kendaraan bermotor. Padahal logikanya masyarakat yang memiliki mobil untuk keperluannya sehari-hari tidak layak lagi diberi bantuan subsidi oleh pemerintah. Karena sejatinya subsidi diberikan untuk membantu masyarakat golongan bawah untuk memenuhi kebutuhannya. Jakarta sebagai kota dengan beragam kepentingan sangat memerlukan dorongan pembangunan infrastruktur untuk memaksimalkan pertumbuhan ekonomi. Karena itu keinginan Jokowi untuk mengalihkan subsidi BBM kepada pembangunan infrastruktur cukup masuk akal.

Triliunan rupiah untuk perbaikan infrastruktur

tribunews

Dana triliunan rupiah yang harus disiapkan pemerintah untuk pembangunan angkutan publik, jalan, tanggul laut, normalisasi sungai, pembebasan lahan untuk ruang terbuka hijau, pembangunan sistem-sistem polder, akan banyak terbantu dengan adanya dana tersebut. Akibatnya program-program yang jangka waktunya puluhan tahun bisa dipotong lebih cepat lagi. Sehingga “kesengsaraan” masyarakat Jakarta tak terlalu lama berlangsung. Dampaknya tidak hanya itu, kota-kota disekitar Jakarta juga akan melakukan hal yang sama, mereka tidak lagi bisa bertahan dengan harga BBM yang rendah seperti sekarang ini. Karena penduduk Jakarta pasti akan menyerbu stasiun-stasiun pengisian bahan bakar ke wilayah mereka. Ini pastilah merepotkan kotakota satelit tersebut, akibatnya mereka juga terdorong untuk melakukan hal yang sama. Apalagi jika dengan menghapuskan dana subsidi mereka mendapat stimulus anggaran kompensasi.

ILWI Buletin No 01-2013

5

HARUSKAH IBUKOTA PINDAH ?
Wacana pemindahan ibukota merebak ketika banjir besar menggulung Jakarta. Isu banjir serta kemacetan menjadi alasan pemindahannya. Sekalipun ibukota berpindah, tidak mungkin Jakarta ditinggalkan dengan masalah banjir dan kemacetan yang tidak terselesaikan.

Banjir selalu membawa isu perpindahan ibukota

ILWI

Banjir besar pertengahan Januari 2013, benarbenar membuat kalang kabut banyak pihak. Tidak hanya sumpah serapah saja yang diungkapkan warga yang menjadi korban, kalangan lain juga mengangkat isu untuk memindahkan ibukota dai Jakarta. Menuntut perpindahan ibukota memang bukan merupakan wacana baru di republik ini, macet dan banjir menjadi alasan utama. Pro kontra masalah perpindahan ibukota merebak dengan cepat ketika Jakarta lumpuh akibat genangan air. Pemerintah pun menanggapi wacana tersebut, dan meminta agar usul tersebut dipertimbangkan secara matang terlebih dahulu. Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Perekonomian, mengaku telah memiliki beberapa studi terkait pemindahan ibukota negara dari Jakarta. “Kita jangan latah hanya karena banjir kemudian kita berpikir lagi seperti itu. Namun pikiran-pikiran itu bagus saja menurut saya," kata Hatta. Menurutnya memindahkan ibukota itu bukan perkara mudah, karena penempatan ibukota di DKI Jakarta sudah diatur dalam undang-undang. “ Kalau kita mau memindahkan, maka harus berpikir panjang dari segi lokasi, pembiayaan, dan lain-lain," jelas Hatta. Ditambahkannya yang mendesak sebenarnya adalah penataan tata ruang dan wilayah Jabodetabek, sehingga kondisi banjir seperti saat ini bisa dicegah. Isu memindahkan ibukota yang cukup hangat diperbincangkan ditengah-tengah hujan deras yang
ILWI Buletin No 01-2013

kerap mengguyur Jakarta, bukanlah satu bahasan yang tepat untuk diangkat. Apalagi ditengah-tengah kesibukan orang untuk melakukan tindakan tanggap darurat pasca banjir yang menghantam kota yang berpenduduk lebih dari sepuluh juta jiwa ini. Perbincangan yang dilakukan pada saat momen yang kurang tepat, seolah-olah akan menimbulkan pertanyaan, apakah jika ibukota dipindah maka masalah banjir atau kemacetan lalu lintas tak perlu lagi di selesaikan di Jakarta? Harus diingat penanggulangan banjir dan penyelesaian masalah kemacetan tidak harus dikaitkan dengan pemindahan ibukota. Bagaimanapun juga dua masalah besar itu harus tetap diselesaikan meski ibukota berpindah sekali pun. Bahkan sebagai pusat perekonomian dan industri, Jakarta dan kota-kota disekitarnya tidak bisa lagi berlarut-larut dalam menyelesaikan kedua permasalahan ini. Jika tidak bisa, maka triliunan rupiah potensi ekonomi yang dimiliki akan terbuang percuma. Padahal kesempatan untuk membawa kehidupan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan sangat tergantung kepada efektifitas pemanfaatan potensi potensi ekonomi yang dimiliki. Karena itu disetiap kali ada peristiwa banjir semacam ini kita tidak lagi harus mengangkat isu pemindahan ibukota. Lebih baik mencari solusi yang tepat untuk mengenyahkan banjir dari Jakarta dalam waktu dekat.

6

Terowongan Multifungsi :

MENGANGKAT KEMBALI IDE LAMA
Ide terowongan bawah tanah pertama kali diangkat enam tahun lalu. Biaya yang besar dan efektifitas fungsi dari terowongan menjadi pertimbangan. Kementerian Pekerjaan Umum terkesan hati-hati dalam menyikapi bangkitnya ide lama ini.

Berharap terowongan multifungsi untuk mengurangi banjir

Kamis, 1 Maret, 2007, Fauzi Bowo, Wakil Gubernur DKI Jakarta, kala itu, tekun mendengarkan paparan dari Badan Regulator. Pertemuan yang terjadi enam tahun silam itu sangat penting, maklum beberapa hari sebelumnya Jakarta baru saja dilibas banjir besar, yang memakan korban cukup banyak. Banjir terbesar dalam sejarah ibukota Indonesia. Karena itu Sutiyoso, Gubernur Jakarta kala itu, merasa perlu mengambil langkah-langkah yang penting untuk mengurangi dampak banjir. Saat itu Badan Regulator menjelaskan mengenai Deep Tunnel Reservoir System (DTRS), sistem yang dianggap bisa menjadi terobosan untuk menanggulangi banjir Jakarta. Dimana rencananya akan dibangun kanal raksasa dibawah permukaan tanah yang bisa mengalirkan air dalam jumlah besar. Menurut Fauzi Bowo, sistem ini sangat mungkin dilaksanakan di ibukota. “Nanti tidak ada warga yang menentang proyek ini karena terowongan dan tandon dibangun di dalam tanah,” katanya saat itu. Menurut Ahmad Lanti, ketua Badan Regulator, pembangunan deep tunnel ini tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Dia mengambil contoh Singapura yang membangun kanal sepanjang 70
ILWI Buletin No 01-2013

kilometer hanya dalam tiga tahun. “Kalau di Jakarta, kan hanya 17 kilometer. Jadi, bisa dibangun satu sampai dua tahun saja,” jelasnya. Pertemuan antara Badan Regulator dan wakil gubernur ini adalah untuk memberi masukan pada pemerintah provinsi yang akan memaparkan rencana ini di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Wapres Jusuf Kalla. Akan tetapi setelah beberapa tahun berselang rencana itu raib bak ditelan bumi. Tidak ada tindak lanjutnya bahkan dikalangan masyarakat nyaris tidak ada wacana deep tunnel tersebut. Sampai akhirnya di awal tahun 2013, sehabis meninjau gorong-gorong yang mampet di jalan Thamrin, Joko Widodo, Gubernur Jakarta, mengutarakan keinginannya untuk membuat terowongan raksasa. Sejak itu, ide deep tunnel seakan bangkit kembali. Tidak seperti di jaman Sutiyoso dan Fauzi Bowo, kali ini isu deep tunnel ini langsung menjadi berita hangat di berbagai media. Gaya khas Jokowi dan popularitas yang lagi menempel didirinya, berhasil membetot banyak perhatian dari berbagai kalangan atas ide ini. Tentu saja gagasan terowongan multiguna ini disambut oleh berbagai pihak baik yang pro dan kontra.

7

Menurut Jokowi nantinya terowongan itu memiliki 5 fungsi, sebagai jalan tol, saluran air bersih, saluran limbah, sebagai jalur kabel listrik dan serat optik, serta yang paling utama untuk menampung limpasan air akibat banjir. Terowongan yang diperkirakan berdiameter 16 meter ini diperkirakan mampu menampung 2,5 juta meter kubik air. Dibangun sepanjang 19 kilometer mulai kawasan MT Haryono, Ciliwung, hingga Pluit. Untuk membangun terowongan sepanjang itu pemerintah diperkirakan harus merogoh kocek hingga Rp. 16 triliun.

Pintu masuk terowongan Multifungsi di Malaysia

Kanal yang juga bisa digunakan untuk jalan raya

dot.gov

Seperti yang diberitakan Tempo, Firdaus Ali, pendukung ide terowongan ini menyatakan bahwa konsep gorong-gorong yang akan diterapkan di Jakarta ini merupakan terobosan, dengan mengadopsi kanal yang sama yang telah ada di 5 negara sebelumnya yaitu Amerika Serikat, Hongkong, Jepang, Malaysia, dan Singapura.

Pembangunan Smart Tunnel di Malysia

Allmalaysia.info

Disetiap negara rata-rata kanal mempunyai satu fungsi. Misalnya di Boston, Amerika Serikat yang berfungsi sebagai jalan tol, di Singapura sebagai pengendali limbah dan di Jepang sebagai pengendali banjir. Nah, untuk Jakarta rencananya terowongan itu memiliki 5 fungsi sekaligus, itulah makanya terowongan ini dikenalkan dengan sebutan MultiPurpose Deep Tunnel (MPDT). Multi fungsi dari terowongan ini yang disebut sebut sebagai nilai lebih dari sistem ini, ternyata masih dipertanyakan kefektifitasannya oleh ahli lain. Salah satunya adalah Joko Luknanto, guru besar pengairan dari Universitas Gadjah Mada. Dalam blog nya, Joko membandingkan dengan terowongan yang ada di Kuala Lumpur, Malaysia. Buletin ILWI nomor 1 tahun 2009, pernah juga membahas mengenai kanal yang di Kuala Lumpur dinamakan dengan SMART (Stormwater Management And Road Tunnel) itu. Menurut Joko Luknanto terowongan itu akan lebih mahal dibandingkan Kuala Lumpur (KL) karena posisi Jakarta yang relatif datar dan rendah serta beberapa daerah berada di bawah permukaan laut. Sedangkan KL berada lebih tinggi dari permukaan laut sehingga akhirnya air yang akan dipompakan dari kanal ke laut menyedot energi potensial yang lebih tinggi. Tentu ini menyebabkan biaya yang tidak sedikit pula. Dia menyimpulkan bahwa terowongan semacam ini sama sekali tidak efektif diterapkan untuk pengendalian banjir di Jakarta. Mantan Dirjen Sumberdaya Air PU Ir Siswoko, dalam kolomnya di harian Kompas, juga meragukan efektifitas manfaat terowongan ini. Pemerintah pusat sendiri cenderung hati-hati menanggapi rencana itu. Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum, menilai konsep proyek terowongan multifungsi ini masih belum jelas benar. "Itu harus dievaluasi dulu, konsepnya aja belum tahu, belum jelas," kata Djoko Selasa, 22 Januari 2013. Djoko belum tahu juga apakah terowongan ini direncanakan mau dijadikan flat way atau dijadikan reserved di bawah tanah.
8

ILWI Buletin No 01-2013

MENGGEBER PEMBANGUNAN TANGGUL LAUT
Niat Jokowi mempercepat pembangunan tanggul laut disetujui pemerintah pusat. Ahok yakin tanggul laut akan memperbaiki kualitas lingkungan Jakarta. Kementerian Pekerjaan Umum berharap perencanaan dilakukan secara matang agar tahu mana bagian tanggul yang harus dibangun terlebih dahulu.

Tanggul Laut mengubah Teluk Jakarta

ILWI

Baru beberapa bulan menjabat sebagai gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Joko Widodo, dipusingkan dengan gelontoran air dalam jumlah besar yang menggenangi ibukota. Dengan gaya khasnya, mantan walikota Solo, ini harus pontang panting kesana kemari memantau dan memberi instruksi ke daerah-daerah yang terkena banjir. Sesekali diselinginya dengan mengadakan rapat koordinasi dengan instansi terkait. Jokowi, demikian dia kerap disapa, juga langsung melihat rencana-rencana apa yang telah disiapkan oleh pendahulunya serta mencari jalan keluar lain yang mungkin dilakukan. Pembangunan deeptunel atau saluran raksasa di bawah tanah menjadi salah satu rencananya yang langsung mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Disamping itu Jokowi bersama pemerintah pusat juga berencana untuk segera membuat
ILWI Buletin No 01-2013

sodetan yang menghubungkan Kali Ciliwung dan Kanal Banjir Timur. Selain membuat rencana baru, Jokowi juga mendorong rencana yang dianggapnya cukup baik yang telah dilakukan gubernur sebelumnya. Seperti pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW), yang sudah mulai dilakukan pengkajian sejak jaman Gubernur Fauzi Bowo dulu. Jokowi sendiri menganggap bahwa pembangunan tanggul laut ini harus lebih didorong lagi agar realisasinya bisa cepat dilaksanakan. Proyek itu rencananya baru akan dibangun setelah tahun 2020. Gubernur sendiri tampaknya tidak mau terlalu lama untuk segera merealisasaikan pembangunan tanggul laut tersebut . "Kelamaan itu. Tahun depanlah, jangan lama-lama lah mulainya," kata Jokowi, awal Februari 2013 lalu. Untuk memastikan itu
9

pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, dengan bantuan Belanda, terus melakukan kajian, terutama berkenaan dengan perhitungan teknis pembangunan fisik, ekonomi dan masalah lingkungan. "Masih terus diproses rencana pembangunan ini. Secepatnya akan segera kita putuskan,” jelasnya.

Pemerintah Indonesia. Menurutnya Belanda dan Indonesia mempunyai 94 proyek berkaitan dengan tatakelola perairan, dimana 27 di antaranya berada di Jakarta dan yang terbaru adalah Jakarta Coastal Defence System (JCDS).

Pembangunan tanggul laut memakan waktu lama

Sepakat dengan Jokowi, Basuki Tjahaja Purnama, Wakil Gubernur DKI Jakarta, juga memandang penting adanya tanggul laut ini. Bahkan Ahok, demikian dia biasa dipanggil, yakin bahwa pembangunan GSW, yang nantinya dilakukan dengan cara mereklamasi pantai utara Jakarta, justru akan memperbaiki kualitas lingkungan di Jakarta. “Semua ekosistem di Jakarta sudah habis rusak oleh pencemaran sungai-sungai. Makanya diperbaiki itu dengan reklamasi," ujarnya. Menurutnya kelak dikemudian hari, laut yang berada di luar dari GSW, merupakan laut yang benarbenar bersih tanpa ada pencemaran. Sementara air yang berada didalam waduk, yang berasal dari sungai-sungai di Jakarta akan diolah sebagai sumber bahan baku air bersih. Sehingga pasokan bahan baku air bersih di ibukota bisa melimpah dan tidak tergantung lagi dengan Jatiluhur. Ahok juga berani menantang para ahli lingkungan, tentang upaya yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta berkenaan dengan pembangunan tanggul laut ini. Bahkan dalam kesempatan teleconference dengan mahasiswa dan para ahli Indonesia yang berada di luar negeri, Ahok juga menanggapi dengan santai pertanyaan-pertanyaan kritis berkaitan dengan upaya penanggulangan banjir di Jakarta. Salah satunya adalah mengenai mahalnya biaya pembangunan GSW. Ahok mengatakan bahwa Pemprov DKI akan menutup biaya mahal tersebut lewat investor yang mau menanamkan modalnya di sana. Dalam kesempatan tersebut Retno LP Marsudi, Duta Besar Republik Indonesia, untuk Kerajaan Belanda, menyatakan bahwa masalah tata kelola air merupakan satu bentuk kerjasama potensial yang bisa dilakukan antara Pemerintah Belanda dan juga
ILWI Buletin No 01-2013

Memperbaiki kualitas lingkungan

phy.org

Dimana JCDS inilah yang merumuskan strategi Jakarta dalam menghadapi ancaman air di pantai utara Jakarta, yaitu dengan melakukan pembangunan tanggul laut. Bahkan untuk tahun 2013 ini pemerintah Belanda juga telah menyiapkan tim konsultannya untuk membuat masterplan pembangunan GSW. Ini tentu saja merupakan berita gembira, karena langkah penataan Teluk Jakarta semakin bisa lebih cepat direalisasikan.

10

Ahok, sendiri juga memperbincangkan pembangunan tanggul laut itu dengan Frans CGM Timmermans, Menteri Luar Negeri Belanda. Secara umum mereka membicarakan beberapa proyek strategis, salah satunya adalah mengenai pembangunan tanggul laut. termasuk mengatasi banjir. “Saya bilang, kami bukan cuma mau bikin tembok raksasa saja. Kami ingin bikin seperti New Manhattan, supaya jadi kota baru," kata Ahok setelah ketemu Timmermans, Rabu 20 Februari 2013. Belakangan keinginan Jokowi untuk mempercepat pembangunan tanggul laut tampaknya mulai mendapat dukungan dari pemerintah pusat. Tidak tanggung-tanggung pemerintah menargetkan peletakan batu pertama (ground breaking) akan dilakukan pada tahun 2014. "Kami akan mempercepat

schedule dari tiga tahapan pembangunan giant sea wall,” yang tadinya ditargetkan rampung pada tahun 2020," jelas Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, 6 Maret 2013. Mengenai pendanaan Hatta mengatakan bahwa pemerintah akan mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan porsi kecil selebihnya akan diperoleh dari swasta melalui skema public private partnership. Ditambahkannya proyek ini sangat penting untuk penataan pantai Jakarta terutama untuk pengendalian banjir . "Tidak hanya sisi hilirnya saja, tapi juga sisi hulu untuk pengendalian air dan pengendalian banjir, sekaligus pembangunan kawasan yang terpadu," jelas Hatta.

TIM KAJIAN TANGGUL RAKSASA

pesatnews

Keinginan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera melanjutkan rencana pembangunan tanggul raksasa tidak bertepuk sebelah tangan. Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum (PU), menyambut baik keinginan itu. "Saya sangat mendukung dan yakin tanggul itu bisa dilakukan," ujarnya. Menurutnya pembangunan giant sea wall merupakan salah satu resolusi yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi banjir Jakarta. Apalagi, muka air laut terus naik akibat pemanasan global dan turunnya permukaan tanah Jakarta. Kementerian PU juga sudah melakukan kerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk membentuk tim kajian pembangunan tanggul laut raksasa. “Bahas giant sea wall, sudah ada timnya, sudah kita susun orang-

orangnya," kata Djoko, 27 Februari 2012 setelah bertemu dengan Marzan Iskandar, Kepala BPPT. Tim yang bertugas mengkaji secara komprehensif manfaat dan dampak keberadaan tanggul laut itu terhadap penanganan banjir ibu kota, ini akan bekerja selama satu tahun. Disamping mengkaji secara teknis tim ini juga harus memberikan analisa dampak lingkungannya. Dampaknya terhadap lingkungan harus benar-benar diperhatikan agar keberadaan tanggul ini benar-benar menguntungkan dan tidak memperburuk kondisi alam disekitarnya.. Menurut Marzan BPPT sendiri sudah memantau dan menganalisa GSW sejak rencana pembangunan tanggul itu mulai diwacanakan. "Giant sea wall harus diintegrasikan dengan sistem penanganan banjir secara kesuluruhan. Di DKI, yang
11

ILWI Buletin No 01-2013

sudah ada apa saja, performanya gimana. Sistem banjirnya gimana, apakah sudah optimal atau perlu diperbaiki," tutur Marzan. Meski Indonesia dianggapnya sudah mampu membangun proyek tersebut, Marzan berpendapat bahwa kita harus terbuka untuk mengadopsi teknologi asing bila hal tersebut dinilai lebih baik. "Kita terbuka untuk terima teknologi luar, tapi prioritas yang ada di

dalam negeri, harus pertimbangkan kontribusi tenaga ahli dalam negeri. Jangan sampai adopsi luar, padahal di dalam sendiri sebenarnya mampu," tambah Marzan.

.

Jakarta Menuju Kota Modern Bagaimana Tanggul Laut Bisa Merubah Ibu kota ?
Telah terbit buku :

Memasuki Era Tanggul Laut Harapan Baru di Teluk Jakarta
Membahas mengenai permasalahan Jakarta, kerawanan daerah delta, kecenderungan semakin tenggelamnya sebagian wilayah ibukota, isu-isu strategis dan potensi Teluk Jakarta, analisis keselamatan tanggul laut hingga pengembangan Jakarta menuju kota modern untuk bersaing dengan kota-kota terkemuka di dunia.

Untuk pemesanan bisa melalui email ke: : landwaterindonesia@gmail.com atau di toko buku Gramedia di kota anda

ILWI Buletin No 01-2013

12