BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Unggas adalah jenis hewan ternak kelompok burung yang dimanfaatkan untuk daging dan/atau telurnya serta jenis burung yang tubuhnya ditutupi oleh bulu. Umumnya unggas merupakan bagian dari ordo Gallifores (seperti ayam dan kalkun), dan Anseriformes (seperti bebek). Unggas adalah tipe hewan yang berkembangbiak dengan cara bertelur. Telur adalah suatu bentuk tempat penimbunan zat gisi seperti air, protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan embrio sampai menetas. Telur yang dapat ditetaskan adalah harus fertil atau yang lazim disebut dengan telur tetas. Telur tetas merupakan telur yang sudah dibuahi oleh sel jantan. Bila tidak dibuahi oleh sel jantan, telur tersebut disebut telur infertil atau lazim disebut telur konsumsi, artinya telur tersebut tidak dapat menetas jika ditetaskan, melainkan hanya untuk dikonsumsi saja. Adapun untuk menetaskan telur perlu diperhatikan hal-hal yang menunjang keberhasilan dalam menetaskan. Untuk memperbanyak populasi hewan unggas seperti itik, ayam, dan burung puyuh dibutuhkan cara penetasan telur yang tepat, yaitu pengeraman telur tetas yang akan diperbanyak. Pengeraman ini dapat terjadi jika sifat mengerami telur pada unggas itu telah muncul. Misalnya pada ayam buras, sifat mengerami telur tampak jelas sekali. Pada saat sifat ini muncul, ayam buras tidak akan mau lagi bertelur. Berbeda dengan ayam ras yang sifat mengeramnya dapat diatur atau dihilangkan dari induknya. Penetasan pada prinsipnya adalah menyediakan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan embrio unggas. Lama penetasan telur ditempat pengeraman sangat tergantung dari jenis hewannya. Semakin kecil hewan, semakin kecil telur yang dihasilkan. Dan, semakin tinggi suhu badan hewan, semakin pendek waktu penetasan telurnya. Bila bentuk telur dan ukurannya seragam, waktu penetasan akan selalu hampir bersamaan. Berbeda dengan ayam, jenis unggas lain seperti itik dan puyuh tidak mempunyai sifat mengeram. Dahulu, untuk memperbanyak populasinya hanya dengan seleksi alam, baik oleh induknya maupun oleh lingkungan. Namun saat ini, dengan adanya alat penetas buatan akan mempermudah perbanyakan populasi unggas ini.

1

dan menghasilkan anak ayam yang cukup banyak (persentase daya tetas yang tinggi). 2. jauh sebelum jaman Aristoteles. Mulai dari kapasitas seratus hingga ribuan. Di Indonesia. berupa tungku – tungku yang dapat memuat ribuan telur. Usaha itu mulai dikembangkan pada akhir tahun 1959-an dan berkembang terus hingga kini. 4. 3. Mengetahui apa itu penetasan telur.2 Tujuan 1. 1. Mengetahui faktor yang mempengaruhi penetasan telur. Walaupun masih dalam bentuk yang sederhana. Usaha – usaha lain terdapat pula didaratan Cina. Usaha – usaha tersebut antaralain dilakukan oleh orang Mesir kuno yang pada saat itu memang sudah tinggi kebudayaannya. Mengetahui tata laksana penetasan telur.Sudah sejak ribuan tahun sebelum masehi orang berusaha dan mencoba penetasan tiruan tanpa melalui induk unggas. karena memang prinsipnya sederhana. 2 . juga ribuan tahun sebelum masehi. Mengetahui syarat penetasan telur yang baik. tetapi Indonesia sudah mampu membuatnya. Di Mesir sebuah alat penetas tiruan dengan memanfaatkan sinar matahari telah dicoba orang kala itu. Mesin tetas modern pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat sekitar abad 17-an dan berkembang terus hingga kini. Alatnya sederhana. sebenarnya mesin tetas buatan telah ada sebelum zaman kemerdekaan dengan prinsip dan cara pengoperasian mirip dengan mesin tetas sekarang.

1999). 1. terutama pada induk ayam yang baru belajar mengerami telurnya (Paimin.BAB II PEMBAHASAN 2. selama mengerami telurnya tidak berproduksi telur serta memudahkan penularan penyakit dari induk kepada yang baru menetas (Sukardi. Perbanyakan populasi unggas biasanya ditempuh dengan cara menetaskan telur yang sudah dibuahi. untuk mesin tetas sangat bervariasi tergantung kapasitas mesinnya (minimal 100 butir telur). 3 . Akan tetapi. Saat itu belum ada alat pengganti induk ayam. Menurut Paimin (2000) penetasan telur ada dua cara. Semua proses penetasan ditumpukan sepenuhnya pada induk ayam itu sendiri. Penetasan telur secara alami mudah dilakukan karena pengeraman telur sepenuhnya diserahkan pada induknya sehingga tidak memerlukan pengetahuan khusus. Tempat penetasan ini biasa disebut sarang atau sangkar. Menetaskan telur dengan induk ayam Pengeraman telur secara alami (dengan induk ayam) untuk memeperbanyak populasi telah dilakukansejak adanya pemeliharaan ayam.1 Penetasan telur Penetasan telur adalah usaha untuk menetaskan telur unggas dengan bantuan mesin penetas telur yang sistem atau cara kerjanya mengadopsi tingkah laku (behaviour) induk ayam atau unggas lainnya selama masa mengeram. Alasnya terbuat dari rumput atau jerami yang bersih dan lembut. Akan tetapi. Biasanya induk akan membuat sendiri sarangnya dengan menggunakan naluri kehewanan nya dan dapat menentukan baik tidaknya sarang yang telah dibuatnya. 2000). tidak memerlukan peralatan khusus serta tidak ada ketergantungan terhadap tersedianya sumber panas. Saat ini campur tangan manusia dalam pembuatan sangkar telah dilakukan. kejelekan dari penetasan alami diantaranya adalah kapasitasnya kecil. yaitu melalui penetasan alami (induk ayam) dan melaui penetasan buatan (mesin tetas). Yang perlu disiapkan untuk proses ini adalah tempat penetasan telur yang kelak akan menghasilkan individu baru. kegagalan penetasan menjadi lebih besar. Bila hal ini diabaikan. Kapasitas produksi unggas sekali pengeraman hanya sekitar 10 – 15 butir telur.

Selama mengeram hingga anaknya disapih. 2000). 3. 2. 1999). tiga hari kemudian ada yang menetas lagi. maka pada cara kedua ini 100% aktivitas penetasan itu membutuhkan campur tangan manusia dan sang induk tidak tahu menahu masalah penetasan. Dari kedua jenis ini pun terdapat bermacam – macam jenis alat tetas yang prinsip kerjanya sama. bahkan dapat kita buat sendiri. Hal ini disebabkan umur untuk berproduksi berkurang dengan adanya sifat mengeram dan mengasuh anak. 1990). Sehingga yang semula seekor induk hanya mampu berproduksi telur hanya 60-75 butir/tahun dapat meningkat menjadi 100-120 butir/tahun.2. Jumlah telur yang mampu dierami induk terbatas sehingga menyulitkan manajeman pemeliharaan. 4. bahkan ada yang menetas mungkin satu-dua bulan lagi. Kalau menggunakan jasa menthok atau lainnya maka perlu tambahan biaya untuk pemeliharaan menthok tersebut. Jika mempunyai 10 ekor induk. sehingga telur dapat menetas (Sukardi. Sebagai sarana pencegahan penyakit. Mengapa penetasan telur perlu dilakukan ? 1. Penetasan dengan alat tetas buatan terbagi atas dua car. ayam atau unggas itu tidak akan bertelur (Rasyaf. Alat – alat ini sederhana. kelembaban dan sirkulasi udara) yang sesuai agar embrio dalam telur berkembang dengan optimal. Saat sekarang ada yang menetas. Induk unggas itu hanya bertelur dan tidak punya tugas untuk menetaskan telur tetas melalui aktivitas pengeraman. Betapa kacaunya model pemeliharaannya karena harus punya beberapa kandang pembesaran. Menetaskan telur dengan alat tetas buatan Berbeda dengan cara pertama. yaitu menyediakan kondisi lingkungan (temperatur. karena di dalam proses penetasan buatan terdapat program penyucihamaan telur dan ruangan mesin tetas dengan 4 . baik panas matahari maupun panas listrik ataulampu teplok (Paimin. Penetasan buatan dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut mesin tetas atau inkubator. yaitu dengan matahari dan sekam serta mesin tetas. dua minggu ada yang menetas lagi. ayam arab. Karena ada jenis unggas yang mempunyai naluri atau sifat mengeram sedikit atau bahkan tidak punya sifat itu seperti itik. karena umumnya menggunakan tenaga panas. Pada prinsipnya penetasan buatan sama dengan penetasan alami. dan puyuh. Agar produksi dari seekor induk lebih banyak.

220C) dan akan berhenti berkembang jika suhu dibawah 800F (26. Kelembaban juga mempengaruhi proses metabolisme kalsium (Ca) pada embrio. Cara ini bertujuan untuk mendapatkan suhu telur tetas yang diinginkan.660C). Suhu dan perkembangan embrio Embrio akan berkembang cepat selama suhu telur tetap di atas 90 0F (32. Saat kelembaban nisbi terlalutinggi. sedangkan pada hari kesembilan belas hingga menetas. Sehingga suhu yang diperlakukan untuk penetasan telur ayam menurut kondisi buatan dapat sedikit berbeda dengan suhu optimum telur untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Perlu diperhatikan bahwa suhu ruang penetasan harus sedikit diatas suhu telur yang dibutuhkan.110C). 5 . Biasanya. sesudah telur diletakan dalam alat penetasan atau mesin tetas. Kalau penyucihamaan dilakukan dengan benar maka dapat memutus jalur penyebaran penyakit yang merugikan dapat merugikan (Harianto.55 – 1. pembelahan sel segera berlangsung dan embrio akan terus berkembang sempurna dan menetas.2 Syarat – Syarat Penetasan Telur Agar mencapai hasil yang diinginkan. Selama Kelembapan dalam induk buatan penetasan berlangsung diperlukan kelembapan yang sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan embrio.40F. 2. Mulai hari pertama hingga hari kedelapan belas diperlukan suhu ruang penetasan antara99 – 1000F (35 – 41. 2008). Kelembaban nisbi yang umum untuk penetasan telur ayam sekitar 60 – 70 %. Adapun suhu yang umum untuk penetasan telur ayam adalah sekitar 101 – 1050F (38. Mulai hari pertama hiungga hari kedelapan belas kelembaban nisbi yang diperlukan sebesar 60%.33 – 40. maka telur yang ditetaskan harus memenuhi syarat – syarat sebagai berikut : 1. sedangkan untuk hari – hari berikutnya diperlukan 70%. Sedangkan pertumbuhan embrio optimum akan diperoleh pada kelembaban nisbi mendekati 60%. perpindahan Ca dari kerabang ketulang – tulang dalamperkembangan embrio lebih banyak.550C) atau rata – rata sekitar 100. Pertumbuhan embrio dapat diperlambat oleh keadaan kelembaban udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.110C). sebaiknya suhu diturunkan sekitar 2 – 30F (0. 2.desinfektan.

5%. maka kematian embrio dapat meningkat. pertukaran gas oksigen dan karbondioksida akan mengalami gangguan.5%.3 Tata laksana Penetasan Telur Keberhasilan penetasan telur sangat tergantung pada manajemen penetasan. dengan kadar optimum 0. sedangkan kadar oksigen menurun sekitar 0. 1999). Hal – hal yang perlu diperhatikan pada tatalaksana penetasan adalah : Periode penetasan (hari) 42 35 35 35 28 24 21 17 17 6 . 3.5 – 0. perimbangan udara dalam mesin tetas selama periode penetasan adalah 0. Sedangkan jika peningkatan sebesar 5%. Dala keadaan yang demikian kadar karbondioksida akan meningkat sekitar 0.2000). embrio akan mati sebelum menetas. Untuk itulah didalam mesin tetas harus cukup tersedia oksigen. 2. Menurut Djanah Djamalin (1981). Penigkatan kadar karbondioksida yang masih diperbolehkan adalah sebesar 0. Peningkatan kadar karbondioksida yang terlalu tinggi dapat menyebabkan berkurangnya daya teteas telur.5% gas CO2 dan 21% O2 (Paimin. Ventilasi Perkembangan normal embrio membutuhkan oksigen (O2) dan mengeluarkan karbondioksida (CO2) melalui pori – pori kerabang telur. semakin besar ukuran tubuh dari masing – masing spesies semakin besar pula ukuran telurnya dan semakin lama jangka waktu yang diperlukan untuk menetaskan telurnya.8%. Jangka waktu yang diperlukan untuk penetasan telur pada masing – masing spesie dapat dilihat pada tabel berikut : Spesies Ostrich Angsa Itik manila Kalkun Itik Puyuh bobwhite Ayam Puyuh Jepang Burung merpati (Sukardi. Ada kecenderungan. Jika kadar karbondioksida meningkat 1%. Jika kerabang tertutup oleh kotoran.kelembaban dapat diatur dengan memberikan air kedalam mesin tetas dengan cara meletakannya dalam wadah ceper. Jangka waktu lamanya penetasan yang diperlukan pada masing – masing spesies unggas berbeda satu sama lain.5%.

gas tersebut mempunytai daya basmi terhadap mikroba yang tinggi ( Sukardi. telur yang akan ditetaskan harus berasal dari induk yang dikawinkan. c. sehingga telur yang kecil akan menghasilkan bobot tetas yang kecil. Fumigasi merupakan upaya untuk membasmi mikroba tersebut.1. b. demikian pula sebaliknya. Sesuai dengan kegunaannya. Bentuk telur . · Wadah/bak air diisi dengan air hangat-hangat kuku (38. 1999). karena disamping mudah dilakukan. Kerabang telur . Telur konsumsi umumnya berasal dari unggas yang tidak dikawinkan. d. juga untuk melindungi isi sel telur dari gangguan fisik serta mencegah masuknya mikroba yang dapat merusak isi telur sehingga daya tetasnya rendah. telur yang terlalu kecil ataupun terlalu besar mempunyai daya tetas yang rendah. Fumigasi Telur yang baru diambil dari kandang telah tercemar mikroba yang populasinya tergantung pada tingkat kebersihan telur. Besar telu . yaitu telur konsumsi dan telur tetas. maka telur tersebut tidak dapat menetas. telur dibedakan menjadi dua macam. Asal telur . Disamping itu ukuran (bobot) telur mempunyai korelasi positif dengan bobot tetas. sehingga didalamnya tidak terkandung embrio ( infertil). sehingga Pemilihan telur didalamnya terdapat embrio yang dapat berkembang bila kondisi lingkungannya sesuai. telur tetas adalah telur yang berasal dari induk yang dikawinkan. 2. kerabang telur disamping penting sebagai sumber mineral untuk pertumbuhan embrio. Persiapan penetasan · Dengan melakukan sanitasi / membersihkan mesin tetas dari segala kotoran. setelah itu bak air dimasukkan dalam mesin tetas. Telur yang normal memiliki indeks telur sekitar 74%. telur mempunyai bentuk oval (bulat telur) dengan dua ujung yaitu ujung tumpul dan ujung lancip. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam memilih teluryang akan ditetaskan adalah : a.5ºC). Fumigasi dengan menggunakan gas formaldehyde digunakan secara luas pada perusahaan penetasan telur. 7 . dengan perbandingan untuk 1 m³ diperlukan KMnO4 6 gram dan Formalin 40% 12 ml. kemudian dilakukan fumigasi dengan menggunakan KMnO4 dan Formalin 40%. Jika telur tersebut dierami.

dan bagian ujung tumpul berada diatas. 8 . untuk telur itik perlu dilakukan penambahan kelembaban dengan pengabutan air pada telur maupun dalam mesin atau telur di basahi dengan air hangat dilakukan setiap pembalikan telur. apabila suhu belum mencapai 101ºF lampu sudah mati maka skrup pada termostat diputar ke kiri sampai menyala. atau sebaliknya apabila suhu sudah mencapai 101ºF tetapi lampu belum mati maka skrup pada termostat diputar ke kanan sampai lampu mati. Pelaksanaan penetasan. Pekerjaan ini di ulang-ulang hingga diperoleh suhu 101ºF. · Susun telur yang akan ditetaskan pada rak telur dengan posisi kemiringan 45 derajat. · Penambahan kelembaban. Cara mengatur suhu dengan merubah kedudukan skrup termostat. apabila sudah tidak berubah lagi maka mesin tetas sudah siap digunakan. kemudian tunggu selama 24 jam.· Hidupkan mesin tetas dan stabilkan suhu dalam mesin tetas hingga mendapatkan suhu yang konstan pada skala 101ºF.

kontrol air. Hari ke 19 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 11 : Putar 3 kali dan pendinginan. Lakukan pemerikasaan telur (candling) setelah 24 jam. ventilasi dibuka ¾ bagian. Ventilasi dibuka ¼ bagian. Hari ke 18 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 15 : Putar 3 kali dan pendinginan. Suhu 101ºF. Hari ke 12 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 7 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 4 : Mulai pemutaran telur. b. Hari ke 21 : Putar 3 kali dan pendinginan. q. Hari ke 20 : Putar 3 kali dan pendinginan. ventilasi dibuka seluruhnya. catat posisi telur pada kartu kontrol. Hari ke 8 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 13 : Putar 3 kali dan pendinginan.00. u. air diperiksa dan jangan lupa dicatat. suhu 101 ºF. Hari ke 3 : Mesin tetas dibiarkan tertutup rapat. j. mengeluarkan telur beserta raknya. v. Hari ke 14 : Putar 3 kali dan pendinginan. g. dilakukan pemeriksaan telur dan hanya telur yang embrionya hidup yang dimasukkan kembali kedalam mesin tetas. Hari ke 16 : Putar 3 kali dan pendinginan. ventilasi dibuka ½ bagian. e. malam jam 22. m. dilakukan pemeriksaan telur ke dua. Hari ke 1 : Masukkan telur ke dalam mesin tetas setelah langkah-langkah persiapan sudah siap. siang jam 14. i. Pemutaran dilakukan diluar sambil pendinginan 10 – 15 menit (Putar 3 kali dan pendinginan). Hari ke 2 : Mesin tetas dibiarkan tertutup rapat. d. n. 9 . r. k. h. t. f. o.00. Hari ke 9 : Putar 3 kali dan pendinginan. Suhu 101ºF.00 (interval 8 jam) dengan cara membalik. c. suhu 101ºF. ventilasi dibuka seluruhnya. Ventilasi ditutup rapat. s. Hari ke 22 : Putar 3 kali dan pendinginan. pemutaran telur dilakukan sehari 3 kali yakni pagi jam 06. Hari ke 6 : Putar 3 kali dan pendinginan. l. Hari ke 17 : Putar 3 kali dan pendinginan. kontrol air. Hari ke 5 : Putar 3 kali dan pendinginan. Hari ke 10 : Putar 3 kali dan pendinginan. w. jangan lupa dicatat. Suhu 101ºF. Hari ke 23 : Putar 3 kali dan pendinginan. p.a.

2000). Penanganan Anak itik Setelah anak itik menetas mencapai umur satu hari. untuk itik seyogyanya pemberian pakan dicampur air (sedikit basah). rak maupun perlengkapan lainnya dikembalikan untuk disimpan atau digunakan lagi (Nuryati.x. Hari ke 29 : Pada hari ini biasanya telur sudah menetas. Hari ke 25 : Putar 3 kali dan pendinginan. peralatan thermometer. ab. Hari ke 28 : Pada hari ini biasanya telur sudah mulai retak. Ventilasi dibuka seluruhnya. y.4 Faktor yang mempengaruhi Penetasan. 10 . Jangan lupa dicatat. Pengakhiran praktikum Mesin tetas yang sudah selesai digunakan dicuci sampai bersih dan dicucihamakan kemudian dikembalikan ke ruang penetasan. z. 2. anak itik yang sudah kering dikeluarkan dari mesin tetas. keadaan mesin tetas utuh. Hari ke 26 : Tidak dilakukan pemutaran tetapi tetap dikontrol. air diperiksa jika perlu ditambah dengan air hangat. seperti kondisi saat peminjaman. pemeliharaan selanjutnya seperti memelihara itik unggas pada umumnya. Hari ke 24 : Putar 3 kali dan pendinginan. suhu dikontrol. dilakukan pemeriksaan telur ke tiga. aa. anak itik dipindahkan ke kandang box dan diberi pemanas sebagai ganti induk itik dan diberi pakan starter.

Mengatur ventilasi mesin tetas. Melakukan pemeriksaan telur dengan alat teropong. kalau lampu pijar terputus harus segera diganti. d.5ºC). 4. maka selama proses penetasan berlansung lampu pijar harus diusahakan tidak terputus. untuk telur dengan posisi mendatar yang bawah diputar menjadi diatas. Mengatur dan mengontrol kelembaban ruangan mesin tetas. dilakukan karena untuk mengetahui keberadaan atau perkembangan embrio secara dini. 5. berfungsi sebagai bahan untuk mempertahankan kelembaban didalam ruangan mesin tetas. Pemutaran telur dilakukan dengan mengubah posisi telur dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Peneropongan biasanya dilakukan sebanyak 3 kali selama penetasan berlangsung yaitu pada hari ke 1. Tugas operator selama penetasan adalah : a. b. Sumber panas. oleh karena itu air didalam mesin selama proses penetasan berlangsung tidak boleh kering. 2. untuk menjaga kestabilan suhu digunakan alat yang namanya termoregulator.Beberapa faktor yang sangat berpengaruh dan harus menjadi perhatian khusus selama proses penetasan berlangsung adalah : 1. Lampu pijar harus mampu menghantarkan panas yang dibutuhkan untuk penetasan yakni 101ºF (38. Selain itu untuk mencegah agar embrio tidak menempel pada salah satu sisi kerabang telur. Peneropongan. karena mesin tetas ini sumber panasnya dari energi listrik dan sebagai media penghantar panasnya menggunakan lampu pijar. Operator. apabila telur diberdirikan bagian yang tumpul harus diatas. mempunyai tujuan untuk memberikan panas secara merata pada permukaan telur. c. sedangkan pada hari ke 26 sampai menetas membutuhkan lebih tinggi yaitu 75%. ke 7 dan hari ke 25 ( Gatot. 2009).70%. Mencatat semua kegiatan yang dilakukan selama penetasan berlangsung. adalah orang yang mengoperasikan mesin tetas. 3. Mengatur suhu ruangan mesin tetas sesuai dengan suhu yang ditentukan. 11 . f. Melakukan pembalikan / pemutaran telur. e. Pemutaran telur. Kelembaban yang dibutuhkan pada penetasan umur 1 hari – 25 hari adalah yang ideal antara 60% . Air.

Syarat – syarat penetasan telur : suhu dan perkembangan embrio. b. c. 12 . Kesimpulan a. Faktor yang mempengaruhi Penetasan yaitu : Sumber panas. Penetasan telur adalah usaha untuk menetaskan telur unggas dengan bantuan mesin penetas telur yang sistem atau cara kerjanya mengadopsi tingkah laku (behaviour) induk ayam atau unggas lainnya selama masa mengeram. kelembapan Tata laksana meliputi pemilihan telur dan fumigasi. Air. d. Peneropongan.1.BAB III PENUTUP 3. Pemutaran telur. Operator. dalam induk buatan dan ventilasi.

telur. Muhammad.php/2008/09/01/tips-dan-trik-dalam-penetasan-telurunggas/. Fakultas Peternakan UNSOED.html. Dasar Ternak Unggas. Yogyakarta. Penetasan 2008. 2000. Rasyaf. 1990. dkk. 2000. Penebar Swadaya. Paimin. Tips dan http://gatotleo. dkk. Purwokerto. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Gatot. Sukardi. Membuat Dan Mengelola Mesin Tetas. Telur. Nuryati. 2009.com/2009/05/penetasanTrik dalam Penetasan Telur Unggas. Diakses tanggal 25 Mei 2012. Kanisius. diakses tanggal 5 Mei 2012. Harianto. 13 . http://sentralternak. Pengelolaan Penetasan. Jakarta. Agus.com/index. Sukses Menetaskan Telur. 1999. PT Penebar Swadaya. Farry.blogspot. Tutik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful