You are on page 1of 36

KASUS Tn.

A usia 30tahun,TB 170cm,BB saat ini 50kg,BB awal 60kg,mengeluh lemah,lemas tidak bergairah,diare selama 40hari sehari 4x,250cc setiap BAB.Pemeriksaan vital sign TD 90/60 mmHg,suhu 40C,R=28x/menit.N=90/menit.Tn.A sering mendadak mengidap flu yang terasa seperti flu bert sampai suatu ketika hanya karena flu tersebut Tn.A nyaris pingsan.Hasil pemeriksaan lab didapat nilai ELISA western bold(+),neutropenia,anemia normositik normokorm.Limfosit CD4+ 200sel/µl.Obat yang di konsumsi adalah zidofudin.

A.DEFINISI
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus mirip lain yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). Proses perusakan zat kekebalan tubuh yang tersebut tidaklah terjadi seketika melainkan sekitar 5-10 tahun setelah seseorang terinfeksi HIV. Berdasarkan hal tersebut maka penderita AIDS digolongkan kedalam 2 kategori yaitu : 1. Penderita yang mengidap HIV dan telah menunjukkan gejala klinis (penderita AIDS positif). 2. Penderita yang mengidap HIV, tetapi belum menunjukkan gejala klinis (penderita AIDS negatif). (sumber:www.wikipedia.com,2010) Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang

mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara. Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Terkadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM IMUN SISTEM IMUN Keutuhan tubuh dipertahankan oleh sistem pertahanan yang terdiri atas sistem imun non spesifik dan sistem imun spesifik. 1. SISTEM IMUN NON-SPESIFIK Sistem imun non-spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan menghadapi serangan berbagai mikroorganisme, karena sistem imun spesifik memerlukan waktu sebelum memberikan responsnya. Sistem tersebut disebut non-spesifik, karena tidak

ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu. Komponen-komponen sistem imun nonspesifik terdiri atas : a. b. c. d. Pertahanan fisis dan mekanis Pertahanan Biokimia Pertahanan Humoral Perthanan Selular A. PERTAHANAN FISIS dan MEKANIS Kulit, selaput lendir, silia saluran anfas, batuk dan bersin dapat mencegah berbagai kuman patogen masuk ke dalam tubuh. Kulit yang rusak misalnya oleh luka bakar dan selaput lendir yang rusak oleh karena asap rokok akan meninggakan resiko infeksi. B. PERTAHANAN BIOKIMIA Bahan yang disekresi mukosa saluran nafas, kelenjar sebaseus kulit, kelenjar kulit, telinga, spermin dalam semen merupakan bahan yang berperan dalam pertahanan tubuh. Asam hidroklorik dalam cairan lambung, lisosim dalam keringat, ludah, air mata, dan air susu dapat melindungi tubuh terhadap kuman gram positif dengan jalan menghancurkan dinding kuman tersebut. Air susu ibu mengandung pula laktoferitin dan asam neurominik yang mempunyai sifat antibakterial terhadap E.coli dan stafilokok. Lisozim yang dilepas makrofag dapat menghancurkan kuman gram negatif dengan bantuan komplemen. Laktoferitin dan transferin dalam serum dapat mengikat zat besi yang dibutuhkan untuk kehidupan kuman pseudomonas. C. PERTAHANAN HUMORAL 1. Komplemen Komplemen mengaktifkan fagosit dan membantu destruksi bakteri dan parasit dengan jalan opsonisasi. Kejadian-kejadian tersebut diatas adalah fungsi sitem imun non-spesifik, tetapi dapat pula terjadi atas pengaruh respons imun spesifik. 2. Interferon

Sel NK dapat menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel neoplasma. Natural Killer Cell (sel NK) Sel NK adalah sel limfosit tanpa ciri-ciri sel limfoid sistem imun spesifik yang ditemukan dalam sirkulasi. Oleh karena itu disebut juga sel non B sel non T atau sel populasi ketiga atau null cell. Interferon mempercepat pematangan dan meningkatkan efek sitolitik sel NK. Perannya ialah sebagai opsonin dan dapat mengaktifkan komplemen. membunuh. menangkap. 2. sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap asing bagi dirinya. 1. dan mencerna. D. Fagosit Meskipun berbagai sel dalam tubuh dapat malakukan fagositosis. Benda asing yang pertama timbul dalam badan yang segera dikenal sistem imun spesifik. Fagositosis dini yang efektif pada invasi kuman akan dapat mencegah timbulnya penyakit. Di samping itu. sal utama yang berperan dalam pertahanan nos-spesifik adalah sel mononuklear (monosit dan makrofag) serta sel polimorfonuklear seperti neutrofil.Interferon adalah suatu glikoprotein yang dihasilkan berbagai sel manusia yang mengandung nukleus dan dilepas sebagai respons terhadap infeksi virus. SISTEM IMUN SPESIFIK Berbeda dengan sistem imun non-spesifik. akan mensensitasi . Kedua golongan sel tersebut berasal dari sel hemopoietik yang sama. 2. C-Reactive Protein (CRP) CRP dibentuk tubuh kita pada keadaan infeksi. PERTAHANAN SELULAR Fagosit/makrofag dan sel NK berperan dalam sistem imun non-spesifik selular. Interferon mempunyai sifat antivirus dengan jalan menginduksi sel-sel sekitar sel yang telah terserang virus tersebut. 3. interferon dapat pula mengaktifkan Natural Killer Cell/sel NK untuk membunuh virus dan sel neoplasma. Proses fagositosis terjadi dalam beberapa tingkat sebagai berikut: kemotaksis.

Sistem imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya bagi badan. B. A. SPESIFIK HUMORAL Yang berperan dalam sistem imun spesifik humoral adlaah limfosit B atau sel B.sel-sel imun tersebut. kebanyakan antigen (T dependent antigen) harus . tetapi poiferasi dan disferensiasinya terjadi di kelenjar thymus. Fungsi utama antibodi ialah mempertahankan tubuh terhadap infeksi bakteri. virus dan netralisasi toksin. Oleh karena komplemen turut diaktifkan. SPESIFIK SELULAR yang berperan dalam sistem imun spesifik selular adalah limfosit T atau sel T. Bila sel sistem imun tersebut terpajan ulang dengan benda asing yang sama. tetapi pada umumnya terjalin kerjasama yang baik antara antibodi. Sel tersebut berasal dari sel asal multipoten. sel T terdiri dari beberapa subset sel yang mempunyai fungsi yang berlainan. sel tersebut juga berasal dari sel asal yang sama seperti sel B. Fungsi sel T umumnya adalah: • Membantu sel B dalam memproduksi antibodi • Mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi virus • Mengaktifkan makrofag dalam fagositosis • Mengontrol ambang dan kualitas sistem imun Sel T terdiri dari beberapa subset sebagai berikut: 1. Sel Th (T Helper) Sel Th dibagi menjadi Th1 dan Th2. Oleh karena itu sistem itu disebut spesifik. Pada unggas sela asal tersebut berdiferensiasi menjadi sel B di dalam alat yang disebut Bursa Fabricius yang letaknya dekat kloaka. Th2 menolong sek B untuk memproduksi antibodi. Berbeda dengan sel B. Untuk memproduksi antibodi. komplemen. yang akhir akan dikenal lebih cepat dan sihancurkannya. Bila sel B dirangsang benda asing. respons imun yang trejadi sering disertai dengan reaksi inflamasi. sel tersebut akan berpoliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang dapat membentuk antibodi. Antibodi yang dilepas dapat ditemukan didalam serum. fagosit dan antara sel T-makrofag.

Sel Tdh atau Td (T delayed hypersensitivity) Sel Tdh adalah sel yang berperan pada pengerahan makrofag dan sel inflamasi lainnya ke tempa terjadinya reaksi lambat. Sel Ts (T supresor) Sel Ts menekan aktivitas sel T yang lain dan sel B. Sel Th dan Ts disebut juga sel T regulator sedang sel Tdh dan Tc disebut sel efektor. ANTIBODI DAN ANTIGEN ANTIGEN Antigen atau imunogen adalah ssetiap bahan yang dapat menimbulkan reaksi imun spesifik pada manusia dan hewan. 5. Dalam fungsinya. Komponen antigen yang disebut determinan antigen atau epitop adalah bagian antigen yang dapat mengikat antibodi. 3. limfokin asal Th1 mengaktifkan makrofag. Satu antigen dapat . sel Tc memerlukan rangsangan dari sel Th1.dikenal terlebih dahulu. sedang limfokin asal sel Th2 mengaktifkan sel B/sel plasma yang membentuk antibodi. baik oleh sel T maupun sel B. sel sasaran yang mengandung virus dan sel kanker. menurut fungsinya. jaringan cangkok alogenik dan sel kanker. memerluka rangsangan dari sel Th1. Sel Th juga melepas limfokin. Sel Th (Th1) berpengaruh atas sel Tc dalam mengenal sel yang terinfeksi virus. 2. Dalam fungsinya. Sel K Sel K atau ADCC (Antibody Dependent Cell Cytotoxic) adalah sel yang tergolong dalam sistem imun non-spesifik tetapi dalam kerjanya memerlukan bantuan imunoglonulin (molekul dari sistem imun spesifik). sel Ts dapat dibagi menjadi sel Ts spesifik untuk antigen tertentu dan sel ts non-spesifik. 4. Sel Tc (T cytotoxic) Sel Tc mempunyai kemampuan untuk menghancurkan sel alogenik. Istilah sel T inducer dipakai untuk menunjukkan aktivitas sel Th yang mengaktifkan subset sel T lainnya.

Ig ditemukan terbanyak dalam fraksi globulin γ meskipun ada beberapa yang ditemukan juga dalam fraksi globulin α dan β. Hapten biasanya dikenal oleh sel B dan carrier oleh sel T.000. kadarnya dalam serum yang sekitar 13 mg/mL merupakan 75% dari semua IG. Hapten adalah determinan antigen dengan berat molekul yang rendah dan baru menjadi imunogen bila diikat oleh molekul besar (carrier) dan dapat mengikat antibodi. IgG dapat menembus plasenta dan masuk ke fetus dan berperan pada imunisasi bayi sampai umur 6-9 bulan. Bila serum protein tersebut dipecahkan secara elektroforesis. Antibodi mengikat antigen yang menimbulkannya secara spesifik. Semua molekul Ig mempunyai polipeptid dasar yang terdiri atas 2 rantai berat (heavy chain) dan 2 rantai ringan (light chain) yang identik. Albumin serum memiliki 6 epitop dan masing-masing dapat merangsang sistem imun untuk membentuk antibodi dan terbentuk 6 jenis antibodi yang berlainan. Antigen poten alamiah terbanyak adalah protein besar dengan berat molekul lebih dari 40. IgG mempunyai sifat opsonin yang efektif oleh karena monosit dan makrofag memiliki reseptor untuk fraksi Fc dari IgG yang dapat mempererat hubungan antara fagosit dengan sel sasaran. dihubungkan satu dengan lainnya oleh ikatan disulfid. Carrier sering digabung dengan hapten dalam usaha imunisasi. Selanjutnya . IgG IgG merupakan komponen utama imunoglobulin serum. IgG dapat mengaktifkan komplemen. meningkatkan pertahanan badan melalui opsonisasi dan reasi inflamasi.memiliki beberapa epitop. IgG ditemukan juga dalam berbagai cairan lain antaranya cairan saraf sentral (CSF) dan juga urin.000 dan polisakarida mikrobial. ANTIBODI Antibodi atau imunoglobulin (Ig) adalah golongan protein yang dibentuk sel plasma (poliferasi sel B) akibat kontak dengan antigen. a. dengan berat molekul 160.

IgA IgA ditemukan dalam jumlah sedikit dalam serum. IgD tidak mengikat komplemen. Sekretori IgA diproduksi lebih dulu daripada IgA dalam serum dan tidak menembus plasenta. toksoplastomis. saluran cerna. dan Ig4. rubela. Fetus umur 12 minggu sudah dapat membentuk IgM bila sel B-nya dirangsang oleh infeksi intrauterin seperti sifilis kongenital. Baik IgA dalam serum maupun dalam sekret dapat menetralisasi toksin atau virus dan atau mencegah kontak antara toksin/virus dengan alat sasaran. IgM dapat mencegah gerakan mikroorganisme patogen. d. Bayi yang baru dilahirkan hanya mempunyai IgM 10% dari kadar IgM dewasa oleh karena IgM tidak dapat menembus plasenta. memudahkan fagositosis dan merupakan aglutinator kuat terhadap butir antigen. Ig4 dapat diikat oleh sel mast dan basofil. dan virus sitomegalo. IgG mempunyai 4 subkelas yaitu IgG1. saluran kemih. Selanjutnya IgD ditemukan bersama IgM pada permukaan sel B reseptor antigen. keringat. IgD IgD ditemukan dengan kadar yang sangat rendah dalam darah. antibodi heterofil adalah IgM. b. karena itu kadar IgM yang tinggi merupakan tanda adanya infeksi dini. Kebanyakan antibodi alamiah seperti isoaglutinin. Ig3. ludah dan kolostrum lebih tinggi sebagai IgA sekretori (s IgA). Molekulmolekul tersebut diikat rantai Y pada fraksi Fc. Ig2. IgM igM mempunyai rumus bangun pentamer dan merupaka Ig terbesar. Kebanyakan sel B mempunyai IgM pada permukaannya sebagai reseptor antigen. Kadar IgM anak mencapai kadar IgM dewasa pada usia satu tahun. . c. tetapi kadarnya dalam cairan sekresi salura nafas. IgM dibentuk paling dahulu pada respons imun primer tetapi tidak berlangsung lama. mempunyai aktivitas antibodi terhadap antigen berbagai makanan dan autoantigen seperti komponen nukleus. airmata.opsonisasi dibantu reseptor untuk komplemen pada permukaan fagosit. IgM juga merupakan antibodi yang dapat mengikat komplemen dengan kuat dan tidak menembus plasenta. golongan darah AB.

ETIOLOGI Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Pengaruh HIV terhadap sistem imun HIV terutama menginfeksi limfosit CD4 atau T helper (Th). trikinosis. sedangkan Gallo di Amerika Serikat pada tahun 1984 mengisolasi (HIV) III. makrofag. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T. Human Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. IgE IgE ditemukan dalam serum dalam jumlah yang sangat sedikit.e. tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. IgE pada alergi dikenal sebagai antibodi reagin. Th mempunyai peranan sentral dalam mengatur sistem imunitas tubuh. karena ia mempunyai . B. demikian juga fungsinya akan semakin menurun. Jadi akibat HIV akan terjadi gangguan jumlah maupun fungsi Th yang menyebabkan hampir keseluruhan respons imunitas tubuh tidak berlangsung normal. IgE dibentuk juga setempat oleh sel plasma dalam selaput lendir saluran nafas dan cerna. Bila teraktivasi oleh antigen. Th akan merangsang baik respon imun humoral. Kadar IgE serum yang tinggi ditemukan pada alergi. Kecuali pada alergi. sehingga dari waktu ke waktu jumlahnya akan menurun. Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang inert. Virus ini pertama kali diisolasi oleh Montagnier dan kawan-kawan di Prancis pada tahun 1983 dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV). IgE diduga juga berperan pada imunitas parasit. dan trombosit yang apda permukaannya memiliki reseptor untuk fraksi Fc dari IgE. IgE mudah diikat mastosit. Namun yang terutama sekali mengalami kerusakan adalah sistem imun seluler. sehingga seluruh sistem imun akan terpengaruh. basofil. Kemudian atas kesepakatan internasional pada tahun 1986 nama firus dirubah menjadi HIV. skistosomiasis. infeksi cacing. penyakit hidatid. eosinofil.

Karena bagian luar virus (lemak) tidak tahan panas. yang dapat menimbulkan kerusakan tubuh (penyakit). semen. Bagian selubung terdiri atas lipid dan glikoprotein (gp 41 dan gp 120). parasit. HIV dapat juga ditemukan dalam sel monosit. dari yang sangat sederhana sampai yang kompleks. kimiawi (enzim. Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA (Ribonucleic Acid). tetapi telatif resisten terhadap radiasi dan sinar utraviolet. atau zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. selaput lendir). Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut. dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. rambut .2004) C. Sistem kekebalan tubuh manusia dibagi 2. aseton. Tingkat kekebalan tubuh ini bervariasi. Gp 120 berhubungan dengan reseptor Lymfosit (T4) yang rentan. virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain. makrotag dan sel glia jaringan otak. Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis protein. Secara mortologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian selubung (envelop). sinar matahari dan mudah dimatikan dengan berbagai disinfektan seperti eter. keasaman lambung). seperti pada manusia. Virus HIV hidup dalam darah. saliva. (fazidah. mekanik (gerakan usus.reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-4.SISTEM KEKEBALAN TUBUH Setiap makhluk hidup dibekali suatu sistem kekebalan (imunitas) tubuh. virus. air mata dan mudah mati diluar tubuh. maka HIV termasuk virus sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih. bahan kimia. Kekebalan tidak spesifik ditujukan untuk menangkal masuknya segala macam zat dari luar yang asing bagi tubuh. Didalam sel Lymfosit T. Contohnya berbagai bakteri. Yang termasuk sistem kekebalan tubuh tidak spesifik misalnya pertahanan fisik (kulit. alkohol. jodium hipoklorit dan sebagainya. yaitu kekebalan tubuh tidak spesifik dan kekebalan tubuh spesifik.

akan terganggu. ada zat yang mempunyai sifat seperti itu. gizi buruk. atau gangguan proses penelanan kuman atau zat asing oleh sel darah putih (leukosit).Selain sintetik. Ternyata. dan lain-lain. maka diperlukan sistem kekebalan tubuh dengan tingkat yang lebih tinggi atau spesifik. Imunomodulator adalah zat yang dapat memodulasi (mengubah atau memengaruhi) sistem imun tubuh menjadi ke arah normal. daun ini punya efek meningkatkan sistem imun tubuh. Produk imunomodulator berperan menguatkan sistem imun tubuh (imuno stimulator) atau menekan reaksi sistem imun yang berlebihan (imuno suppressan). dan bukan . Akhirnya. serta zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses pemusnahan kuman atau zat asing. gangguan keasaman lambung. Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman atau zat asing ke dalam tubuh. Bila masuknya kuman atau zat asing tidak dapat ditangkal oleh daya tahan tubuh tidak spesifik.Di dalam tubuh.Kalau imunnya kurang maka ditingkatkan. misalnya infeksi (AIDS. Namun. Yang harus diketahui. obat untuk kanker. daun meniran. dicarilah cara menormalkan sistem imun tubuh dari luar dengan imunomodulator. kalau terlalu tinggi diturunkan. Kekebalan ini hanya berperan pada kuman atau zat asing yang sudah dikenal. Sekarang sudah dibuat dalam bentuk obat. Penyebab gangguan sistem kekebalan tubuh ada yang tidak diketahui dan telah ada sejak lahir (primer). fagositosis (penelanan kuman atau zat asing oleh sel darah putih). Sistem kekebalan tubuh harus selalu dalam keadaan seimbang. gangguan gerakan usus. Misalnya. serta penyakit ganas misalnya kanker.Misalnya. Misalnya. produk imunomodulator kini juga dibuat dari tanaman. kulit yang luka. artinya bila jenis kuman atau zat asing tersebut sudah pernah atau lebih dari satu kali masuk ke dalam tubuh manusia.getar selaput lendir). imunomodulator adalah obat. obat-obatan misalnya obat yang mengandung hormon kortikosteroid. campak dan lain-lain). leukemia. Ada juga gangguan kekebalan sekunder karena faktor lain. ada tanaman tertentu yang memiliki efek meningkatkan kekebalan tubuh. Sebetulnya. ada kalanya tubuh tak berhasil menormalkan sistem imunnya sendiri.Jika tidak. tubuh memiliki zat yang secara otomatis akan menormalkan sistem imun. Setelah diteliti.diberikan bersama antibiotic.

Sistem imun tubuh itu. makan cukup protein. Fungsinya pun hanya membantu meningkatkan kekebalan.suplemen yang bisa dikonsumsi sehari-hari. Gejala Minor a) Limfadenopati generalisata b) Kandidiasis oral c) Batuk menetap d) Distress pernapasan/pneumonia e) Infeksi berulang . gizi pun harus seimbang. sama seperti organ tubuh lain. lemak. agar sistem imun tubuh baik. butuh makanan (energi) juga. Berikut ini adalah tanda-tanda gejala mayor dan minor untuk mendiagnosis HIV berdasarkan klasifikasi WHO. vitamin. Gejala Mayor a) Gagal tumbuh atau penurunan berat badan b) Diare kronis c) Demam memanjang tanpa sebab d) Tuberculosis B. A. karena tubuh masih bisa menyeimbangkan sistem imun. memerlukan energi. Konsumsi imunomodulator pada orang normal tidak ada gunanya. dan mineral. Sel-sel kekebalan itu bisa bergerak.. Jadi. kan. D.direvisi tahun 2007) WHO mengembangkan diagnosis HIV hanya berdasarkan penyakit klinis dengan mengelompokkan tanda dan gejala dalam criteria mayor dan minor. karbohidrat. Sama seperti fungsi organ lain. Oleh karenanya.KLASIFIKASI Klasifikasi WHO(1990.

1993) CDC mengembangkan klasifikasi HIV berdasarkan hitung limfosit CD4+ dan manifestasi klinis penyakit. atau 3) dan kategori klinis (N.  Limfaenopati (≥0. 2. sinusitis. atau otitis media. Pasien dikategorikan berdasarkan derajat imunosupresi (1. B.5 cm) atau lebih pada 2 lokasi (bilateral=satu lokasi)  Hepatomegali  Splenomegali  Dermatitis  Parotitis  Infeksi peernapasan bagian atas menetap atau berulang. 1) Kategori N(gejala ringan) Pasien tidak mempunyai tanda dan gejala sebagai akibat infeksi HIV atau hanya mempunyai satu keadaan yang terdapat pada kategori A. 2) Kategori A (gejala sedang) Pasien dengan 2 atau lebih kriteria di bawah ini tetapi tidak menunjukkan adanya kondisi yang tertera pada kategori B dan C. C. klasifikasi ini memungkinkan adanya surveilans serta perawatan pesien yang lebih baik. A. E).f) Infeksi kulit generalisata 1. contohnya adalan sbagai berikut: . 3) Kategori B(gajala sedang) Pasien dengan gejala selain dari pada yang tertera pada kategori A dan C yang menunjukkan adanya infeksi HIV. Klasifikasi CDC(centers for disease control and prevention.

pneumonia atau sepsis (episode tunggal)  Kandidiasis orofaringeal yang menetap (>2bulan)  Kardiomiopati  Infeksi virus sitomegalo  Diare kronis atau berulang  Hepatitis  Nefropati  Nokardiosis  Varisela berat  Leiomiosarkoma 4) Kategori C(gajala berat) Pasien menunjukkan gajala seperti yang tertera pada definisi kasus HIV. sering atau kambuh-kambuhan  Kandidiasis esophagus atau paru (bronkus.000/mm3) mnetap >30 hari. neutropenia(<1000/mm3).  Meningitis bakterial . kecuali pneumonia interstisial limfoid (termasuk kategori B)  Infeksi bacteri berat. trakeal. dan paru)  Coccidiomicosis berat  Cryptococcosis. atau trombositopenia (100. di luar paru  Tuberculosis  Limfoma burkitt . Anemia (<8g/dl).

Manifestasi tumor diantaranya: . Penurunan BB >10%. pembuluh limfa)  Salmonella (nontyphoid) yang sering kambuh  Wasting syndrome. Diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus menerus c. TBC Gejala minor: a. < persentil ke 5 pada kurva tinggi badan disertai diare (sedikitnya BAB 2xsehari selama >30 hari) demam >30 hari terus-menerus. dan neurologis: 1. E.MANIFESTASI KLINIS Gejala Klinis pada stadium AIDS (menurut Depkes RI. servikal. BB menurun setidaknya 2 persentil kurva BB. Batuk kronis selama lebih dari satu bulan b. Sarkoma Kaposi  Ensepalopati  Histoplasmosis berat  Spesies mikobakterium yang lain (pada kulit. infeksi oportunistik. Munculnya Herpes zoster berulang dan bercak-bercak gatal di seluruh tubuh Manifestasi klinik dari penderita AIDS bisa juga dibagi menjadi 3 hal antara lain tumor. Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di seluruh tubuh d. 1997) dibagi antara lain: Gejala utama/mayor: a. Demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan b. Infeksi pada mulut dan tenggorokan disebabkan jamur Candida albicans c. Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam tiga bulan d.

2. b. terjadi setelah sarkoma kaposi dan menyerang syaraf. Frekuensi kejadiannya 36-50% biasanya terjadi pada kelompok homoseksual. berat badan turun lebih 10% per bulan. Limfoma ganas . diare khronis. dan jarang terjadi pada heteroseksual serta jarang menjadi sebab kematian primer. Manifestasi Neurologis .1. 2. kanker pada semua bagian kulit dan organ tubuh.1. Cytomegalo Virus (CMV) Pada manusia virus ini 50% hidup sebagai komensial pada paru-paru tetapi dapat menyebabkan pneumocystis. Mycobacterium Avilum Menimbulkan pneumoni difus. sakit bernafas dalam dan demam.1. Mycobacterium Tuberculosis Biasanya timbul lebih dini.1.2. batuk kering. 2. Sarkoma kaposi .a.1. 2. CMV merupakan penyebab kematian pada 30% penderita AIDS. 2. penyakit cepat menjadi miliar dan cepat menyebar ke organ lain diluar paru. Pneumonia Pneumocystis (PCP) Pada umumnya 85% infeksi oportunistik pada AIDS merupakan infeksi paru-paru PCP dengan gejala sesak nafas.4. timbul pada stadium akhir dan sulit disembuhkan. 3. Manifestasi pada Paru-paru 2. 2. dan bertahan kurang lebih 1 tahun. Manifestasi pada Gastroitestinal Tidak ada nafsu makan.3.1. Manifestasi Oportunistik diantaranya: 2.

Dalam cairan tubuh lain juga bisa ditemukan (seperti susu cairan) tetapi jumlahnya sangat kecil. Dengan pengobatan antiretroviral pada trimester terakhir kehamilan. C adalah kondom. Secara ringkas. demensia. 90% terjadi dari ibu dengan HIV. 3-5% melalui transfusi darah yang terkontaminasi. Pada prinsipnya. penyebaran AIDS dapat dicegah dengan tidak mengubah mitra seksual. F. saat melahirkan dan melalui menyusui. 5-10% akibat alat suntik yang terkontaminasi (terutama pada pengguna narkoba suntikan).PENCEGAHAN HIV AIDS Virus AIDS ditemukan dalam cairan tubuh manusia. Sebesar 75-85% penularan terjadi melalui hubungan seksual (50-10% diantaranya melalui hubungan homoseksual). yang berarti jika itu berarti A dan B tidak bisa dipatuhi maka harus digunakan alat pencegahan dengan menggunakan kondom. 1. yang biasanya timbul pada fase akhir penyakit. terutama laki-laki. Kelainan syaraf yang umum adalah ensefalitis. air mani dan cairan vagina. orang-orang dengan virus tersebut tidak boleh menjadi donor darah. tetapi wanita cenderung meningkatkan proporsi pasien. pencegahan dapat dilakukan dengan cara mencegah penularan virus AIDS. risiko penularan dapat dikurangi menjadi hanya 8%. infeksi terjadi selama kehamilan. Karena sebagian besar penularan AIDS adalah melalui hubungan seksual. seperti pencegahan penggunaan berulang jarum. mielopati dan neuropari perifer. dan paling sering ditemukan dalam darah. pencegahan dapat dilakukan dengan formula ABC yaitu abstinensia. B adalah setia. sebagian besar (lebih dari 80%) diderita oleh kelompok usia produktif (1549 tahun). Pencegahan lain adalah melalui pencegahan kontak darah. yang berarti bahwa jika sudah menikah hanya berhubungan seks dengan pasangan mereka saja. yang berarti tidak berhubungan seks sebelum menikah. Pemutusan Rantai Transmisi HIV: Stop Seks Bebas . infeksi HIV.Sekitar 10% kasus AIDS nenunjukkan manifestasi Neurologis. Infeksi pada bayi dan anak-anak. meningitis. Sekitar 25-35% bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu dengan HIV akan menjadi terinfeksi HIV.

Karantina ini bukanlah diskriminasi bagi ODHA karena dalam masa karantina semua kebutuhan fisik dan nalurinya wajib dipenuhi oleh negara serta akan dimotivasi untuk sembuh. Pemutusan Rantai Transmisi Melalui ODHA Untuk menghambat penularan HIV/AIDS melalui “efek spiral”. Pemutusan Rantai Transmisi HIV: Stop Penyalahgunaan Narkoba Narkoba dan segala jenisnya sangat berbahaya. Sedangkan ODHA yang terinfeksi karena aktifitas homoseks haruslah dibunuh untuk menekan jumlah yang tertular akibat “efek spiral”. karena selain dapat menghilangkan akal manusia juga dapat menularkan HIV/AIDS melaui jarum suntik yang tidak streril. maka yang harus dilakukan Pemerintah bagi ODHA yang terbukti terinfeksi karena zina dan sudah menikah akan dirajam. Langkah ini harus ditempuh oleh negara dengan menindak secara tegas bagi para pelaku. Aspek nutrisi klien HIV AIDS . ODHA akan diberikan terapi psikoreligi yaitu dengan memotivasi kesembuhan dan meningkatkan ketakwaan. Ada kontradiksi dalam hal ini. Selama masa karantina ODHA dapat melakukan aktivitas normal sepanjang tidak membahayakan individu sehat lainnya. 2. Transfusi darah juga harus dipastikan darah donor bersih dari infeksi virus HIV dan yang tidak kalah pentingnya negara wajib menyediakan perawatan khusus bagi ODHA dengan resiko penularan terhadap tenaga kesehatan secara maksimal. selama negara juga tetap memfasilitasi terjadinya aktivitas seks bebas. Selain terapi fisik. Bagi ODHA yang tidak terkena sanksi yang mematikan dan terinfeksi karena “efek spiral” yaitu dengan membuat karantina bagi ODHA. di satu sisi negara ingin penularan HIV/AIDS tidak terus meningkat tetapi di sisi lain negara malah memberikan izin beroperasinya tempat-tempat yang jelas-jelas menumbuh suburkan aktivitas seks bebas. 3. Untuk memberantasnya harus dilakukan peningkatan pendidikan mengenai bahaya penggunaan narkoba. Adanya sanksi yang berat dapat semakin menurunkan jumlah penularan HIV/AIDS. Hendaknya Pemerintah bertindak dengan tegas akan hal ini.Aktivitas seks bebas tetap akan terjadi di negeri ini.

9. makanan lunak/cair.brem). 12.Untuk mengatasi masalah nutrisi pada pasien HIV/AIDS. 14.jika tidak bisa makan secara oral berikan secara enteral dan parenteral secara aman. 7. Makanan harus bersih bebas pestisida dan zat kimia.alkohol. 4. Rendah laktosa dan lemak jika diare. Mengkonsumsi sayuran dan buah buahan dalam bentuk jus. Peningkatan berat badan dapat di capai dengan cara: . Disesuaikan dengan penyakit infeksi yang menyertai. 13. jika tidak dapat menerima susu sapi. Peningkatan berat badan di capai dengan mengkonsumsi lebih banyak makanan. Kebutuhan zat gizi di tambah 10-25% lebih banyak dari kebutuhan minimum yang di anjurkan.kaya vitamin dan mineral serta cukup air. 3. Menghindari makanan yang di awetkan dan makanan beragi (tape. Minum susu setiap hari. Menghindari rokok. Menghindari makanan yang merangsang alat penciuman (mencegah mual). Mengkonsumsi makanan rendah serat. Bila pasien mendapatkan terapi ARV. 5. Sesuaikan dengan infeksi penyakit yang menyertai. Diberikan dalamporsi kecil tapi teratur. 2. 6. dapat dig anti dengan susu kedelai. Mengkonsumsi protein yang berkualitas tinggi dan mudah di cerna. 11. Sysrat diet pasien HIV/AIDS yaitu: 1. mereka harus diberikan makanan tinggi kalori-tinggi protein. jika ada gangguan saluran pencernaan. 8. susu yang rendah lemak dan sudah di pasteurisasi.kafein. pemberian da sesuaikan dengan jadwal minum obat. 10.

6. misalnya perilaku seks aman.2002) Konseling Konseling adalah membantu seseorang agar menyadari berbagai reaksi pribadi terhadap pengaruh perilaku dari lingkungan dan membantu seseorang membentuk makna dari perilakunya. Konseling juga membantu klien untuk membentuk dan memperjelas rangkaian tujuan dan nilai-nilai untuk perilaku selanjutnya. biji bunga matahari.kacangan. ketela. dan ekonomi.Meningkatkan kandungan lemak dalam makanan dengan menggunakan lebih banyak lemak dan minyak serta mengkonsumsi makanan berlemak. 4. maizena. ODHA tidak hanya membutuhkan informasi belaka. psikologis. 1966) Konseling HIV AIDS merupakan dialog antara seorang klien dengan pelayan kesehatan/konselor yang bersifat rahasia.Meningkatkan asupan kacang. sosial. madu.1.Makan kudapan diantara waktu makan. tidak berganti-ganti jarum suntik.Makan lebih banyak sumber karbohidrat seperti nasi. Mencegah penularan HIV dengan cara mengubah perilaku ODHA. produk kedelai. gandum. roti.Tambahkan gula. tetapi yang jauh lebih penting adalah pemberian dukungan yang dapat menumbuhkan motivasi mereka. Meningkatkan kualitas hidup ODHA dalam segala aspek baik medis. kentang. 5.Tambahkan susu bubuk pada makanan. b. Untuk mengubah perilaku. Ciri-ciri konseling HIV: Konseling merupakan kegiatan membantu klien agar dapat: . sagu. terigu. sehingga memungkinkan orang tersebut mampu menyesuaikan atau mengadaptasi diri dengan stress dan sanggup membuat keputusan bertindak berkaitan dengan HIV/AIDS. atau sirup pada makanan (FAO-WHO. Selai. 3. (Blocker.Mengkonsumsi daging. dan telur sesering mungkin. 7. Tujuan konseling HIV: a. Dalam hal ini konseling bertujuan untuk memberikan dukungan kepada ODHA agar mampu hidup secara positif. dll. 2. ikan.

serta dukungan lainnya kepada ODHA. Deteksi HIV (sesuai keinginan klien dan setelah klien menandatangani lembar persetujuan-informed concent) c. Memperoleh akses informasi yang benar b. Agar mampu berkomunikasi dengan lancar e. keluarga. dan perubahan perilaku Aspek legal etik • • • • • Beneficience Normaleficience Justice Autonom Respect Fullness =kebaikan dari prosedur yang kita lakukan =bersikap sewajarnya dan menjaga rahasia =perlakuan yang sama pada setiap klien =klien dihargai =tidak boleh diskriminatif Aspek universal precaution . informasi.2007) VCT (Voluntary counseling Testing) VCT adalah suatu pembinaan dua arah atau dialog yang berlangsung tak terputus antara konselor dan kliennya dengan tujuan untuk mencegah penularan HIV. Tahap VCT: a. dan lingkungannya. memberikan dukungan moral.a. Mengantisipasi (nursalam. Sebelum deteksi HIV (Pra-konseling) b. Agar mampu menghadapi masalahnya d. kerelaan. Pascakonseling (konseling setelah deteksi HIV) harapan-harapan. Memahami dirinya dengan lebih baik c.

44 kg.752 = BB/3.06 =18x3.• • • • Melakukan tindakan pencegahan penyebaran infeksi Melakukan tindakan pengendalian infeksi oleh seluruh petugas kesehatan Pengendalian infeksi secara konsisten dan mencegah penularan bagi petugas kesehatan dan klien lainnya. Jadi.mencuci tangan.06 = 55.08 kg.752 = BB/3.08 kg sampai dengan 73.06 = 73. Melakukan pengolahan alat habis pakai.44 kg = BB/TB2(dalam meter) = BB/1. Bertujuan untuk . BMI pasien antara 55.06 = 24x3. PENATALAKSANAAN • Farmakologi Terapi antiretroviral (ARV) bekerja langsung menghambat replikasi(penggandaan diri) HIV.33 (under weigh) Seharusnya BMI 18 18 BB BB Atau BMI 24 24 BB BB = BB/TB2(dalam meter) = BB/1. Terapi ARV bekerja langsung menghambat replikasi.752 = 50/3.06 = 16. Penghitungan BMI klien BMI = BB/TB2(dalam meter) = 50/1.sanitasi ruangan desinfeksi dan strelisasi untuk alat yang dipakai ulang.

Enzim protease adalah enzim yang berfungsi sebagai gunting kimiawi dalam pemotongan protein rantai panjang menjadi molekul protein yang lebih kecil pada langkah yang memungkinkan protein virus yang baru dibentuk dan disusun. Zidivex. Sementara PI menghambat enzim protease. Golongan NRTI Nama Generik Zidofudine Singkatan AZT. Tujuan terapi antiretroviral: 1. Reviral Sediaan Kapsul/tablet 300 mg Kapsul 100 mg . Proses ini diperlukan agar virus dapat bereplikasi. Saat ini ada 3 golongan ARV yang tersedia di Indonesia: • Nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI) : obat yang dikenal sebagai analog nukleosida yang menghambat proses perubahan RNA virus menjadi DNA. Memulihkan dan memelihara fungsi kekebalan 4. • Non-nukleosida reverse transcriptase inhibitor (NNRTI) • Protease inhibitor (PI): obat ini bekerja menghambat enzim protease yang memotong rantai panjang asam amino menjadi protein yang lebih kecil. Menekan replikasi virus semaksimal mungkin dalam waktu yang lama NRTI dan NNRTI mempunyai cara kerja menghambat enzim reverse transcriptase sehingga menghambat pembentukan RNA ke DNA pada langkah ke-4 siklus hidup virus HIV. Mengurangi morbiditas dan mortalitas terkait HIV 2.mengurangi viral load (jumlah virus dalam darah) agar menjadi sangan rendah atau dibawah tingkat yang dapat terdeteksi untuk jangka waktu yang lama. Memperbaiki mutu hidup 3. ZDV Produsen Asli Glaxosmith kline Kimia Farma Nama Dagang Retrovir.

Duviral Tablet 150 mg Larutan 10 mg/ml Tablet 150 mg Kapsul 30 mg. AZT 300 mg + 3TC zidovex-L. Nelvex Combivir. ARV dipakai sebaiknya sebelum CD 4 < 200 • • • • • • Penurunan morbiditas dan mortalitas Menimbulkan pemulihan kembali sistem kekebalan tubuh Mengurangi penularan HIV dari ibu ke bayi Mengurangi biaya rawat inap dan memelihara anak yatim Pasien yang menerima ART tetap produktif Mengurangi kebutuhan akan profilaksis terhadap infeksi oportunistik . Stavex Videx Viramune. Nevirex Viracept. 40 mg Tablet Kunyah: 100 mg Tablet 200 mg Tablet 200 mg AZT 300 mg + 3TC 150 mg AZT 300 mg + 3TC 150 mg Kaformulasi AZT + 3TC Kaformulasi AZT + 3TC Glaxosmith kline Kimia Farma Combivir.Lamivudine Stavudine Didanosine NNRTI PI Nevirapine Nelfinavir 3 TC D4T ddI NVP NFV Glaxosmith kline Kimia Farma Bristol Myerssquibb Bristol Myerssquibb Boehringer in gelheim Agouron pharmaceutical Glaxosmith kline Kimia Farma Epivir. Hiviral Zerit. zidovex-L. 150 mg Duviral AZT 300 mg + 3TC 150 mg ZidofexLN Triviral AZT 300 mg + 3 TC 150 mg + NVP 200 mg AZT 300 mg + 3 TC 150 mg + NVP 200 mg AZT + 3TC + NVP Aurobindo Kimia Farma Manfaat ARV: • Peningkatan jumlah CD 4 rata-rata 100-200 pada tahun pertama. Lamivox.

Efek samping: • • Tidak menyembuhkan. intoleransi. Kombinasi dari : • • Nevirapine Nelfinavir dengan .ddI +3TC -d4T + ddI satu) -AZT + 3TC -d4T + 3TC Nama Generik Golongan NRTI: Zidovudine (AZT. misalnya hepatitis akut. neuropati perifer. hiperlipidemia dan perpindahan lemak dalam tubuh (lipodistrofi/lipoatrofi) • Efek samping jangka panjang belum diketahui. asidosis laktat dengan steoatosis hepatitis (jarang) Pankreatitis. neuropati perifer lipoatrofi. gastro intertinal. asidosis laktat dengan steatosis hepatitis (jarang) Sedikit toksisitas. Dosis obat : biasanya AZT 400 mg setiap 4 jam dan dikombinasikan dengan yang lain (300mg 2x/hari). reaksi hipersensitif dan sindrom stevens johnson.ZDV) Lamivudine (3TC) Stavudine (d4T) Didanosine (ddI) Efek Samping Anemia. bisa mengakibatkan anemia. mual. • Pada efek samping jangka menengah adalah resistensi insulin. asidosis laktat (pilih salah . sakit kepala.AZT + ddI . neutropenia. asidosis laktat. asidosis laktat dengan steatosis hepatitis (jarang) Pankreatitis. sakit kepala. sampai yang berat. obat harus diminum seumur hidup Pada jangka pendek. miopati. neutropenia. sulit tidur.

sindromstevens johnson. Pengkajian 1.kesembuhan karena iman dan kepercayaan(Faith healing). Pengumpulan Data a. 4.terapi spiritual atau psikologis yang mencakup terapi humor .Diare .hipnotis.Terapi tenaga fisik dan alat mencakup akupuntur. 9. Bio Data Nama Usia Alamat Jenis Kelamin Pendidikan Agama Suku Bangsa Tanggal pengkajian Diagnosa Medis : Tn.guided imagenery dan afirma positif.menkonsumsi vit.terapi message. 5.refleksologi.C atau beta-karoten dan kunir yang mengandung curcumin. 3.Terapi nutrisi mencakup diet vegetarian. keracunan hati yang mengancam jiwa . ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN AIDS A.Hiperglikemia . 7. 3.yoga dan terapi lainnya. peningkatan serum aminotranferase.Golongan NNRTI: Neviraphine (NVP) Golongn PI: Nelfinavir (NFV) dengan steatosis hepatitis (jarang) Ruam kulit.Perpindahan lemak (lipodistroti) kelainan lipid • Nonfarmakologi Melakukan terapi alternative seperti: 1. 8. 2.terapi sentuhan. 1. 2. 6.A : 30 tahun : : Laki-laki : : : : : AIDS . hepatitis.

b. 1. c. Pemeriksaan Fisik a) Keadaan Umum Kesadaran b) Tanda-tanda vital : composmentis : : : :- (1) Tachicardia (2) Apnea (3) HT tachipnea (4) Irama Jantung . 3. diare selama 40 hari 4x sehari sebanyak lebih kurang 250 cc setiap BAB. 4. Data Subjektif Klien mengeluh lemah dan lemas tidak bergairah. 2. Riwayat Kesehatan dahulu : Riwayat Kesehatan keluarga: Data Objektif : 50 kg : 170cm : 40oC : 90x/mnt : 28x/mnt : 90/60 mmHg Berat badan Tinggi badan Suhu badan Heart Rate Repiracy Rate Tekanan darah 2. Klien sering mendadak mengidap flu yang terasa seperti flu berat sampai nyaris pingsan. d. diare selama 40 hari 4x sehari sebanyak lebih kurang 250 cc setiap BAB. Klien sering mendadak mengidap flu yang terasa seperti flu berat sampai nyaris pingsan. Riwayat Kesehatan Keluhan Utama : lemah dan lemas tidak bergairah Riwayat Kesehatan Sekarang (PQRST) Klien mengeluh lemah dan lemas tidak bergairah.

Gejala subyektif : demam kronik. keringat malam hari berulang kali. c. cemas. e. Data Psikologis p. BB menurun. Data Sosial dan Spiritual . Psikososial : kehilangan pekerjaan dan penghasilan. dengan atau tanpa menggigil. o. ungkapkan perasaan takut. meringis. Denyut Nadi Kondisi Tekanan Darah : 90/60 mmHg (11) Respirasi (12) Tekanan Darah (13) Ekstremitas c) Pemeriksaan menyeluruh (a) Inspeksi (b) Palpasi (c) Auskultasi (d) Perkusi ::::- d. perubahan pola hidup. lemah. lelah. b.(5) (6) (7) (8) (9) Edema ::- Distensi Vena Jugularis Berat Badan : 50 kg Panjang Badan : 170 cm Denyut Nadi : 90x/m : : 90x/m :: 28x/m : 90/60 mmHg :- (10) Sirkulasi a. anoreksia.

q. HR= 90x/menit Ds:Klien sering Flu yang sering dan berat ↓ Produksi mucus berlebih ↓ Jalan nafas terhambat ↓ Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Infeksi HIV di jaringan intestinal ↓ makanan ↓ Diare kronik Output cairan berlebihan ↓ Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit Flu yang sering dan berat Gangguan nutrisi : Gangguan keseimbangan Penyimpangan Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif : menunjukkan bahwa klien sudah No Data 1. tidak bergairah Tidak optimalnya absorpsi air dan sari cairann dan elektrolit . Analisa Data Analisis Data Jumlah CD4+ terinfeksi meningkat. Ds: Klien mengeluh lemah. Data Penunjang 1. neutropenia. Limfosit cd4+ 200 sel/µl 3. Pemeriksaan Western Blot menderita AIDS (+) 2. RR: 28x/menit Ds: Klien diare selama 40 hari sebanyak 4x sebanyak ± 250cc setiap BAB Do: TDx/ 90/60 mmHg RR=28x/menit 3. anemia normositik nomokrom 2. lemas. CD4+ sehat ↓ ↓ Status Imunologi ↓ ↓ Do: Pemeriksaan leboratorium menunjukan klien mengalami anemia normostik normokrom 2.

tidak bergairah Do: - Intoleran aktifitas 6. Do: BB awal=60 kg 4. tidak bergairah ↓ Intoleran Aktivitas Replikasi tunas HIV dan CD4+ dihancurkan ↓ Jumlah CD4+ ↓ ↓ Imunitas ↓ ↓ kurang dari kebutuhan Gangguan thermogulasi 5. Ds: Do: Nilai Elisa Western Blot (+) Limfosit CD4+ 200 sel/jul Klien neutropenia Resiko tinggi infeksi . BB saat ini=50 kg Do: Ds: T=40 c ↓ Menurunnya sensorik terhadap bau ↓ Penurunan nafsu makan (anoreksia) ↓ Intake nutrisi ↓ ↓ Gangguan Nutrisi: Kurang dari kebutuhan Diare kronik ↓ Memicu set point otak ↓ Sekresi IL-1 ↓ Peningkatan suhu tubuh (demam) ↓ Gangguan Thermogulasi Suplay 02 keseluruh tubuh ↓ ↓ Produksi energy ↓ Lemas. Ds: Klien mengelus lemas.mendadak mengidap flu yang terasa seperti flu berat sampai suatu ketika sampai pingsan. lemah. lemah.

Mikroorganisme mudah menginvasi tubuh ↓ Resiko tinggi penyebaran tubuh Diagnosa Keperawatan 1.d meningkatnya set point di otak d. 3. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif b.d intake cairan menurun d. Gangguan thermogulasi b.d diare kronik. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b. Bersihan Nafas -TTV normal Jalan Tupan : jalan nafas bersih dan Tidak efektif setelah *Sajikan makanan yang hangat dan menari. . memperlancar Tujuan -Thermologi klien menjadi normal kembali setelah 1 minggu perawatan -Berikan minum sesuai kebutuhan -Kolaborasi pemberian obat antipiretik Intervensi . -Untuk menurunkan suhu tubuh klien. 2. lesu.d menurunnya 02 dalam tubuh d.d produksi mucus berlebih d.d meningkatnya suhu tubuh. 5. Diagnosa Keperawatan Gangguan thermogulasi b. Resiko tinggi infeksi b.d penurunan respon imun Intervensi Keperawtan No 1.d meningkatnya suhu tubuh. usahakan -Meningkatkan napsu makan klien. tidak bergairah. Kriteria: -Suhu turun menjadi 36.537. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b. 6.d meningkatnya set point di otak d.Kompres air hangat Rasional -Menurunkan suhu tubuh klien.5 c 2. Intoleran aktifitas b. 4.d output cairan yang berlebihan d. -Untuk menghindari dehidrasi.d flu.d lemah.d anoreksia.

lesi pada mulut akan pencegahan sekresi. termasuk makanan yang di suka dan tidak di sukai. -Pengeringan mucosa. -Berikan perawatan mulut. irama dan kedalaman nafas *Atur posisi tidur semi atau high fowler Berikan minum kurang lebih 2500 ml/hari. -Memberikan protein dan kalori tambahan. Gangguan nutrisi b.d anoreksia Perbaikan status nutrisi dalam 3x24 jam Kriteria: -Status BMI klien normal -Nafsu makan klien mengalami penigkatan. dengan kriteria : .Frequensi nafas 16-20x/mnt . Tupen : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 jam.anjurkan minum dalam kondisi hangat makan dan proses metabolisme -Adanya perubahan fungsi respirasi menandakan kondisi penyakit yang masih dalam kondisi penanganan penuh -Posisi semi/high fowler memberikan kesempatan paruparu berkembang secara maksimal akibat diafragma turun ke bawah Air digunakan untuk menggantikan keseimbangan cairan tubu -Melaporkan pemahaman kebutuhan nutrisi. -Klien dapat menghabiskan porsi makan yang tersedia -Dapatkan riwayat diet. awasi tindakan -Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat. menurunkan nafsu .d intake cairan menurun d.d dilakukan Asuhan keperawatan 7x produksi mucus 24 jam berlebih d.tidak ada dispnea makan dengan posisi duduk *Kaji fungsi respirasi antara lain suara. 3.d flu.Efektif b. -BB sebagai indicator kebutuhan nutrisi yang adekuat. jumlah. -Timbang berat badan setiap hari.

dapat meningkatkan -Membatasi isolasi social. -Dorong pasien untuk makan dengan orang lain 4. -Kaji kemampuan mengunyah. -Pantau berat badan dan nilai laboratorium untuk -Karena penurunan BB. -Meningjatkan nafsu makan klien. usahakan makan dengan posisi duduk. -Hipermetabolisme saluran gastrointestinal akan menurunkan tingkat penyerapan usus. sebelum makan. -Lesi pada mulut dan esophagus dapat menyebabkan disfagia. tapi sering. -Mengurangi -Batasi cairan 1 jam kekenyangan. merasakan dan menelan. -Berikan makanan dengan porsi sedikit. -Sajikan makan yang hangat dan menarik. klien akan lebih mudah makan. -Dengan memberi makanan seperti itu. . Gangguan keseimbangan cairan Kebutuhan cairan terpenuhi bila mungkin.Hindari obat kumur yang mengandung alcohol. memperlancar makan dan proses metabolisme. -Auskultasi bising usus. makan.

-untuk memonitor pola nafas klien. resiko kekurangan cairan. -Monitor intake cairan output. -Cairan elektrolit dapat mencegah dehidrasi. -Dengan beristirahat. Kriteria: -Turgor kulit baik -Membran mukosa lembab -TTV normal -Urine output 1cc/kgbb/jam -BB normal dan stabil -Tidak menunjukan tanda dan gejala dehidrasi Toleransi klien terhadap aktifitas meningkat setelah 1 minggu perawatan Kriteria: -Keluhan lemas hilang -RR= 1220x/menit status nutrisi. lesu. perubahan frekuensi nafas dan penggunaan otot tambahan. -memudahkan pasien bernafas. tidak bergairah. -Auskultasi bunyi nafas tambahan.d menurunnya 02 dalam tubuh d. dapat meminimalisir penggunaan energy.d output cairan yang berlebihan d. -Ijinkan klien untuk sering beristirahat. -Beri posisi semi fowler. -Tirah baring dapat mencegah . -Catat kemungkinan adanya cyanosis.d diare kronik.(kekurangan) b. -Intake output cairan menjadi acuan dalam -Berikan cairan elektrolit kepada klien. intervensi selanjutnya. Intoleran aktifitas b. 5.d lemah. -Anjurkan klien untuk tirah baring. -Menunjukan adanya infeksi jalan nafas atau peningkatan sekresi.

apalagi akibat garukan -Kaji adanya batuk. kemerahan. -Luka. tinggi Tidak ditemukan b. -Lingkungan yang kotor akan meningkatkan pertumbuhan kuman pathogen.6. -Tidak ada secret dan purulent. keletihan. -Ciptakan lingkungan yang bersih dan ventilasi yang cukup. memudahkan berkembangnya pathogen isolasi supaya menjauhkan dari kontak langsung dengan pathogen. bunyi nafas. Kriteria: -Tidak demam (suhu stabil). Observasi kulit (mucosa). sputum. -Peningkatan suhu -Kaji TTV termasuk suhu badan. -Panas. . -Resiko infeksii dapat melalui prosedur yang di lakukan. badan menunjukan adanya infeksi sekunder. adanya lesi. frekuensi nafas. -Penurunubuhan daya tahan tubuh penurunan system infeksi selama -Informasi adanya isolasi. memudahkan timbul infeksi luka.d penyebaran perawatan. Resiko infeksi imun. -Cuci tangan sebelum dan sesudah contact dengan pasien.

-Untuk mengantisipasi invasi mikroorganisme. pembengkakan merupakan tanda adanya infeksi. . secara ketat (mempunyai wadah sendiri). pemberian terapi anti mikronakterial. -Tindakan prosedur dapat menyebabkan luka pada kulit. pisau. -Kolaborasi. -Perhatikan adanya tanda-tanda inflamasi. -awasi penggunaan jarum suntik.Bersihkan kuku setiap hari.