FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENYEWA ALAT BERAT PADA PERUSAHAAN KONSTRUKSI DI SURABAYA

Nama Mahasiswa NRP Pembimbing : Nida Istiqlaliyah : 3104.203.004 : Supani, ST., MT. Ir. Sri Pingit Wulandari, MSi.

ABSTRAK Keberhasilan dalam sebuah proyek juga ditentukan oleh sumber daya peralatan. Keberadaan alat sebagai sarana utama untuk mendukung pelaksanaan proyek juga memegang peranan penting dalam penanganan proyek. Semakin bervariasinya jenis proyek yang dikerjakan, perusahaan dituntut untuk memperhatikan terhadap peningkatan dan pengelolaan sumber daya peralatan yang efisien dan produktif. Pengadaan alat berat pada suatu perusahaan konstruksi dapat diperoleh melalui pembelian maupun dengan sewa. Alternatif sewa dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan, diantaranya perusahaan tidak perlu mengeluarkan sejumlah modal besar pada tahun pertama, fleksibilitas dari mekanisme sewa dan sebagainya. Alternatif menyewa atau membeli alat beart sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mungkin berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mepengaruhi dalam pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat pada perusahaan konstruksi di Surabaya dan juga untuk mengetahui variabel apa saja yang membedakan perusahaan golongan besar dan golongan menengah dalam pengambilan keputusan. Variabel penelitian diperoleh dari studi pustaka dan survei pendahuluan yang selanjutnya divalidasi oleh responden yaitu pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan menyewa alat melalui wawancara dan kuisioner. Data hasil kuisioner dianalisa dengan menggunakan teknik analisa faktor untuk menginterpretasikan seluruh informasi dengan mereduksi menjadi beberapa faktor dan analisa diskriminan untuk mengerahui variabel yang membedakan perusahaan golongan besar dan golongan menengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi perusahaan konstruksi untuk menyewa alat berat adalah faktor operasional (30.251 %) yaitu ketersediaan spare part, Kontinuitas masa sewa, ketersediaan SDM untuk operator dan maintenance, optimalisasi jam kerja alat dan Fleksibilitas dari masa sewa. Faktor kedua adalah faktor kelayakan investasi (10.941 %), faktor ketiga adalah faktor modal (7.720 %). Sedangkan variabel yang membedakan dari perusahaan golongan besar dan golongan menengah dalam pengambilankeputusan menyewa alat berat adalah NPV, Pajak dan Ukuran Proyek. Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi perusahaan konstruksi untuk kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan untuk pengelolaan sumber daya alat konstruksi, serta bagi pemilik alat dapat meningkatkan pelayanan dalam menyewakan peralatan sebagai penunjang peningkatan usaha. Kata kunci : pengambilan keputusan, sewa, alat berat, analisa faktor, kontraktor

DECISION MAKING FACTORS TO LEASE HEAVY EQUIPMENT IN CONSTRUCTION COMPANY AT SURABAYA
Name Student Identity Number Supervisor : Nida Istiqlaliyah : 3104.203.004 : Supani, ST., MT. Ir. Sri Pingit Wulandari, MSi.

ABSTRACT The successful of any project is determined on equipment resources. The equipments are also the main instrument to maintain and to manage the project. Supervising various projects, a company has to be more concern about the improvement and the management of equipment give in a more effective and productive way. The contribution of the equipment in the project can be fulfilled by buying and leasing activities. With leasing activities, a company does not have to spend a lot of investment by their first year, as an advantage. Moreover, leasing also have a flexible mechanism. A decision to buy or lease heavy equipment is influenced by various factors. This study aims to identify factors to lease heavy equipment in Construction Companies at Surabaya and to analyze variables that distinguish intermediate and big companies. The study’s variable delivered from literatures review and an initial survey which is subsequently validated by respondents. The respondents are person who is involved in decision making to lease a heavy equipment. The results is analyzed using factor analysis technique and discriminate analysis. Factor analysis technique is used to interpret the whole information by reduces them into some factors. Whereas the discriminate analysis technique aim to identify the discriminate variables of intermediate companies from big companies. The results indicated that the most significant factor in leasing heavy equipment was operational factors (30.251%) which is the spare part supply, lease period continuity, human resources for operator and maintenance, equipment work time optimization and lease period flexibility. The second factor was investment appropriate (10.941%) and the third was funding factor (7.720%). Afterwards, variables which distinguishes the intermediate companies and big companies in leasing heavy equipment is NPV, taxes and scope of the project. This study is expected to be consequential for construction companies, in decision making policy of heavy equipment resources management, and also to the owner of heavy equipment, by improving equipment lease services to enhance their business. Keyword: decision making, lease, heavy equipment, factor analysis, contractor

KATA PENGANTAR
Dengan rasa syukur yang sedalam-dalamnya, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas karunia serta hidayah-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penyusunan tesis yang berjudul “Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan menyewa alat berat pada perusahaan konstruksi di Surabaya”. Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan Program Pascasarjana, Program Studi Manajemen Proyek Konstruksi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Penulis berharap dengan terselesaikannya tesis ini, dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya penulisan tesis ini dengan baik. Terima kasih ini penulis ucapkan kepada : 1. Kedua orang tua, H. Syaichur Rozy dan Hj. Chalishah Amali dan

keluarga besar yang selalu memberikan kesabaran, dorongan, nasihat dan do’a bagi terselesaikannya tesis ini. 2. Bapak Supani, ST., MT dan Ibu Ir. Sri Pingit Wulandari, Msi., selaku Dosen Pembimbing Tesis yang telah memberi bantuan, arahan, koreksi dan bimbingan dalam penulisan dan penyelesaian tesis ini. 3. Bapak Ir. I Putu Artama Wiguna, MT. PhD, Ibu Retno Indryani, MS dan Bapak Tri Joko Wahyu Adi, ST., MT, selaku Dosen Penguji Tesis atas masukan, bimbingan, nasihat dan evaluasi yang sangat penting dan bermanfaat dalam penyusunan Tesis ini menuju kesempurnaan. 4. Sahabat dan teman-teman: Nine, Ana, mbak Nuffida, mbak Tria, Puri, Mbak Nita, mbak Farida, mbak Fibri, Shindy, mbak Eva, mbak Depsy, mas Isol, mas Doni, mas Djudjuk, Pak Sumardi dan temen-teman yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan dorongan dan semangat bagi penulis.

Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk kemajuan selanjutnya. Akhir kata penulis berharap agar tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi penulis pribadi dan Insya Allah dapat menambah pengetahuan dan Daftar Pustaka bagi yang mempergunakannya.

Surabaya, 8 Februari 2007

Penulis

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan Abstrak Kata Pengantar Daftar Isi ............................................................................ i iii vii xi xiii

........................................................................................

Daftar Tabel ........................................................................................ Daftar Gambar Daftar Lampiran ............................................................................ ............................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan ................................................................ ................................................................ 1 3 3 3 4

............................................................................ ................................................................ ................................................................

Manfaat Penelitian Batasan Penelitian

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengambilan Keputusan 2.1.1 2.1.2 2.2 2.3 ..................................................... ................. 5 5 7 7 9 9 9 10 11 12 12 14 15

Behaviorist Theory (Teori Ahli Perilaku) Learning Theories (Teori Belajar)

.............................

Investasi Sewa (Lease) 2.3.1 2.3.2 2.3.3 2.3.4

............................................................................. ............................................................................. ..................................................... ......................................... ............................. .............................

Pengertian Leasing

Pihak-pihak dalam leasing

Jenis pembiayaan dalam leasing Keuntungan dan Kerugian Leasing

2.4

Alat Berat 2.4.1 2.4.2

............................................................................. ............................. .................

Klasifikasi fungsional alat berat

Klasifikasi alat berdasarkan pergerakannya

2.5 2.6

Penggolongan Perusahaan

.....................................................

Variabel-variabel dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat .................................................................. 20

2.7

Analisa Statistik 2.7.1 2.7.2 2.7.3 2.7.4 2.7.5 2.7.6 2.7.7 2.7.8

..................................................................

27 27 28 28 28 30 30 33 33

Sampel .............................................................................. Rancangan Kuisioner ................................................

Pengukuran variabel penelitian .................................... Uji Validitas dan Reabilitas .................................... ........................

Uji Distribusi Normal Multivariat

Analisa Faktor ............................................................ Analisis Cluster ............................................................ Analisis Diskriminan ................................................

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 3.2 3.3 Jenis Penelitian ........................................................................ Proses Penelitian Pengumpulan Data 3.3.1 3.3.2 3.4 Data Primer ............................................................ ............................................................ ............................................................ 35 35 38 38 38 38 38 38 39 39 40 40

Data Sekunder ............................................................ .................................... ........................ ....................................

Populasi dan Sampel Penelitian 3.4.1 3.4.2 Populasi dan Sampel Penelitian Teknik Pengambilan Sampel

3.5 3.6 3.7 3.8

Rancangan Kuisioner

............................................................ ....................................

Pengukuran Variabel Penelitian Pengolahan Data Identifikasi Variabel

............................................................ ............................................................

BAB 4 PENGUMPULAN DATA 4.1 4.2 Survei Pendahuluan Pengumpulan Data 4.2.1 4.2.2 ............................................................. ............................................................. ................................................. 43 43 46

Profil Responden

Deskripsi Jenis Alat Berat Yang Banyak Disewa Oleh Responden ................................................. 48

4.2.3

Deskripsi Penilaian Responden terhadap Faktor-faktor Yang Mendasari Dalam Pengambilan Keputusan .......... 49

BAB 5 ANALISA DAN PEMBAHASAN 5.1 Uji Validitas ........................................................................... 53

5.2 5.3 5.4 5.5

Uji Reabilitas

........................................................................... .......................................

54 55 54

Uji Distribusi Normal Multivariat Analisa Deskriptif

............................................................

Hasil Analisis Faktor Terhadap Faktor-faktor Yang Mendasari Dalam Pengambilan Keputusan Menyewa Alat Berat ............. 5.5.1 5.5.2 Hasil Uji Kelayakan Data untuk Analisa Faktor ........... Analisa Komponen Utama (Principal Component Analysis) 5.5.3 5.5.4 Komunalitas ................................................. 61 62 64 66 57 57

............................................................. .....................................

Pola Matriks Sesudah Rotasi

5.6 5.7

Hasil Analisis Cluster ............................................................. Hasil Analisis Diskriminan Terhadap Faktor-faktor Yang Mendasari Dalam Pengambilan Keputusan Menyewa Alat Berat 5.7.1 5.7.2 5.7.3 5.7.4 5.7.5 ............................................................ ................................................ ................................................

66 67 67 68 69 70 71 71 72 73 73 74 74 75 75

Pengujian Box’s M Stepwise Statistics

Canonical Correlation ................................................ Fungsi Diskriminan Ketepatan Klasifikasi ................................................ ................................................

5.8

Pembahasan 5.8.1 5.8.2 5.8.3 5.8.4 5.8.5 5.8.6 5.8.7 5.8.8

........................................................................ ................................................

Faktor Operasional

Faktor Operating Cost ................................................ Faktor Modal ............................................................ .................................... ........................ ....................................

Faktor Sarana dan Prasarana Faktor Kewajiban dan Asuransi Faktor Alat dan Lingkungan Faktor Proyek

............................................................ ....................................

Faktor Instict dan Nilai Alat

5.9

Tanggapan Responden Terhadap Faktor-faktor Yang Terbentuk ......................................................................... 76

5.10 Variabel Yang Tereduksi Selama Iterasi Pada Analisa Faktor ........................................................................ 77

5.11 Variabel Yang Menjadi Pembeda Antara Perusahaan Golongan Besar Dengan Perusahaan Golongan Menengah ...... BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 6.2 Kesimpulan Saran ........................................................................ 81 81 83 77

.................................................................................... ........................................................................

Daftar Pustaka

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Batas Nilai Pekerjaan dan Jumlah Banyaknya Paket Pekerjaan Sesaat Perusahaan Golongan Kecil ............ Tabel 2.2 Tabel 2.3 Kemampuan Perusahaan Golongan Kecil Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha Perusahaan Kecil Tabel 2.4 ................................................. 16 ............ 15 16

Pengalaman Pekerjaan selama 8 tahun terakhir Perusahaan Golongan Kecil .................................... ............ 16 17

Tabel 2.5 Tabel 2.6

Keterangan Perusahaan Golongan Kecil

Batas Nilai Pekerjaan dan Jumlah Banyaknya Paket Pekerjaan Sesaat Perusahaan Golongan Menegah ........ 17 17

Tabel 2.7 Tabel 2.8

Kemampuan Perusahaan Golongan Menengah ............ Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha Perusahaan Menegah ................................................

17

Tabel 2.9

Pengalaman Pekerjaan selama 8 tahun terakhir Perusahaan Golongan Menengah ........................ 18 18

Tabel 2.10 Keterangan Perusahaan Golongan Menengah ........... Tabel 2.11 Batas Nilai Pekerjaan dan Jumlah Banyaknya Paket Pekerjaan Sesaat Perusahaan Golongan Besar ........... Tabel 2.12 Kemampuan Perusahaan Golongan Besar Tabel 2.13 Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha Perusahaan Besar ................................................ ............

18 19

19

Tabel 2.14 Pengalaman Pekerjaan selama 8 tahun terakhir Perusahaan Golongan Besar .................................... ........... ............ 19 19 39 41 44 46 48

Tabel 2.15 Keterangan Perusahaan Golongan Besar Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Perhitungan Jumlah Populasi dan Sampel Variabel-variabel dalam penelitian Jumlah Responden

........................

................................................ ....................................

Ringkasan Data Responden

Jenis Alat Berat Yang Sering Disewa Oleh Responden

Tabel 4.4

Skor Penilaian Responden Terhadap Variabel X1, X2, X3 dan X4 ............................................................. 49

Tabel 4.5

Skor Penilaian Responden Terhadap Variabel X5, X6, X7 dan X8 ............................................................. 50

Tabel 4.6

Skor Penilaian Responden Terhadap Variabel X9, X10, X11 dan X12 ............................................................. 50

Tabel 4.7

Skor Penilaian Responden Terhadap Variabel X13, X14, X15 dan X16 ............................................................. 51

Tabel 4.8

Skor Penilaian Responden Terhadap Variabel X17, X18, X19 dan X20 ............................................................. 51

Tabel 4.9

Skor Penilaian Responden Terhadap Variabel X21, X22, X23 dan X24 ............................................................. 51

Tabel 4.10 Skor Penilaian Responden Terhadap Variabel X25, X26, X27 dan X8 ............................................................. 52 52 53 60 61 63 64 67 67 68 68 69 69 68

Tabel 4.11 Skor Penilaian Responden Terhadap Variabel X29....... Tabel 5.1 Tabel 5.2 Tabel 5.3 Tabel 5.4 Tabel 5.5 Tabel 5.6 Tabel 5.7 Tabel 5.8 Tabel 5.9 Uji Validitas ............................................................. .........................

Nilai MSA Hasil Analisa Faktor

Hasil Ekstraksi Faktor ................................................. Nilai Komunalitas Setiap Variabel .........................

Hasil Bentukan Faktor ................................................. Hasil Pengujian Box’s M .....................................

Wilk’s Lamda ............................................................. Eigen value .............................................................

Wilk’s Lamda .............................................................

Tabel 5.10 Koefisien Fungsi Diskriminan ..................................... Tabel 5.11 Fungsi Kelompok .................................................

Tabel 5.12 Hasil Pengelompokan ................................................. Tabel 5.13 Skor Penilaian Responden Perusahaan Golongan Besar dan Mennegah terhadap variabel NPV ............. Tabel 5.13 Skor Penilaian Responden Perusahaan Golongan Besar dan Mennegah terhadap variabel NPV ............. Tabel 5.14 Skor Penilaian Responden Perusahaan Golongan

68

78

Besar dan Mennegah terhadap variabel Pajak ............. Tabel 5.15 Skor Penilaian Responden Perusahaan Golongan Besar dan Mennegah terhadap variabel Ukuran Proyek .........................................................................

78

80

DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Gambar 4.1 Gambar 4.2 Gambar 4.3 Gambar 5.2 Gambar 5.3 Diagram Alir Penelitian .................................... 37 47 47 48 56 62

Pie Chart Prosentase Golongan Perusahaan ............ Pie Chart Prosentase Jenis Kelamin Responden ........ Pie Chart Jabatan Responden Grafik Mean Significance index Scree Plot ........................ ........................

............................................................

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Kuisioner Survei Pendahuluan Kuisioner Survei ........................ 85 88

................................................

Daftar Anggota Gapensi Sub Bidang Gedung dan Pabrik ................................................ 92

Lampiran 4

Daftar Anggota Gapensi Sub Bidang Gedung dan Pabrik (lanjutan) ........................ 93

Lampiran 5

Daftar Anggota Gapensi Sub Bidang Gedung dan Pabrik (lanjutan) ........................ 94

Lampiran 6

Daftar Anggota Gapensi Sub Bidang Gedung dan Pabrik (lanjutan) ........................ .................................... 95 96 97 98 99 100 102 104 105 114 117

Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9

Tabel Perhitungan Sampel

Tabel Perhitungan Sampel (lanjutan) ........................ Jawaban Persepsi Responden .................................... ............

Lampiran 10 Jawaban Persepsi Responden (lanjutan)

Lampiran 11 Uji Validitas dan Reabilitas .................................... Lampiran 12 Tabel Korelasi (Perason Product Moment) ............ Lampiran 13 Uji Multinormal Lampiran 14 Analisa Faktor ................................................ ................................................

Lampiran 15 Analisa Diskriminan ................................................ Lampiran 16 Deskripsi Skor Jawaban Responden ........................

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Keberhasilan dalam sebuah proyek juga ditentukan oleh sumber daya peralatan. Keberadaan alat sebagai sarana utama untuk mendukung pelaksanaan proyek, dan juga memegang peranan penting dalam penanganan proyek. Dengan semakin bervariasinya jenis proyek yang dikerjakan, perusahaan dituntut untuk memperhatikan terhadap peningkatan dan pengelolaan sumber daya peralatan yang efisien dan produktif. (Konstruksi, Agustus 2002) Menurut Rudy Badaruddin Presdir PT. International Auction Multi Machine diperkirakan karena adanya otonomi daerah, pembangunan konstruksi di daerah akan terus berkembang. Sehingga kedepan akan banyak membutuhkan mesin dan alat berat (Pikiran Rakyat, 2003). Permintaan terhadap alat berat di Indonesia cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari periode tahun 1983 hingga pertengahan Juni 1997 mencapai sekitar 44.701 unit. Periode 1997 hingga tahun 2000 menurun 30%-40% menjadi sekitar 24.313 unit karena adanya krisis ekonomi. Pada tahun 2001 mulai membaik dengan permintaan sekitar 5000 unit. Dan untuk tahun-tahun berikutnya di prediksi akan meningkat sekitar 15%-20% (Konstruksi, November-Desember 2001; Pikiran Rakyat, 2003). Dengan adanya peningkatan alat berat tersebut perlu untuk di tentukan metode pengadaan yang sesuai. Pengadaan suatu barang pada suatu perusahaan sebagai pendukung dari kegiatan produksi, seperti alat berat pada suatu proyek, dapat diperoleh melalui pembelian maupun dengan sewa dari perusahaan yang menyediakan alat tersebut (Konstruksi November–Desember 2000). Pembiayaan dengan sewa lebih fleksibel karena dapat dilakukan dalam jangka waktu yang pendek, tetapi periode penyewaan tersebut bisa diperpanjang hingga 3 sampai 10 tahun untuk jenis peralatan tertentu. Sewa dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan yang akan melakukan investasi. Diantaranya perusahaan tidak perlu mengeluarkan sejumlah

modal besar pada tahun pertama, fleksibilitas dari mekanisme sewa, dan sebagainya. (Anwari, 1987; Soekadi, 1990) Pengambilan keputusan merupakan pekerjaan yang paling penting pada beberapa eksekutif. Hal tersebut berbahaya dan penuh resiko. Keputusan yang buruk dapat merusak bisnis dan karir, terkadang juga tidak dapat diperbaiki. Keputusan yang buruk bisa berasal dari proses untuk membuat keputusan, seperti alternatif yang digambarkan dengan tidak jelas, kebenaran informasi yang dikumpulkan, biaya-biaya dan keuntungan yang tidak akurat. Tetapi terkadang kesalahan bukan pada ketidak benaran pada proses pengambilan keputusan tetapi lebih pada pemikiran dari pengambil keputusan (Hammond, 2006). Menurut Norm Fujisaki, Wakil Direktur, Sistem Investasi U.S. FAA, teknis sudut pandang seseorang terhadap pertimbangan kritis finansial yang mengatur keputusan suatu bisnis. Yang perlu diketahui dalam konsep pokok dan pengertian yang mendalam dasar keuangan dari teori keuangan dan aplikasi dari teori keputusan bisnis yaitu analisa laporan keuangan, perencanaan keuangan dan pertumbuhan yang mendukung. (Scharfstein, 2002). Pengadaan peralatan pada perusahaan konstruksi di Surabaya, baik untuk golongan besar maupun menengah berdasarkan hasil dari wawancara langsung dengan sampel sebanyak 30 perusahaan, satu perusahaan yaitu PT. Prambanan Dwipaka memiliki alat berat sendiri sedangkan perusahaan yang lainnya menyewa. Selain itu juga ada beberapa perusahaan sebagian dari alat berat yang digunakan milik sendiri dan sebagian lagi menyewa. Pertimbangan beberapa perusahaan konstruksi untuk memiliki sendiri atau menyewa alat bermacammacam. Perbedaan dasar pengambilan keputusan untuk menyewa alat juga terjadi pada perusahaan besar dan perusahaan menengah. Seperti pertimbangan besar proyek yang sedang dikerjakan, asuransi, payback period, modal, penyimpanan alat, fasilitas pemeliharaan, dan sebagainya. Adanya perbedaan dalam pengambilan keputusan dalam pengadaan alat berat menunjukkan bahwa ada alasan tertentu mengapa perusahaan tersebut memilih untuk menyewa alat berat untuk pelaksanaan proyeknya. Dari latar belakang diatas maka perlu diadakan studi untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan untuk

2

menyewa alat pendukung produksi, dalam hal ini alat berat, bagi perusahaan konstruksi di Surabaya.

1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah pada penelitian ini adalah : 1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pada perusahaan konstruksi di Surabaya dalam mengambil keputusan untuk menyewa alat berat sebagai pendukung pelaksanaan proyek. 2. Variabel apa saja yang dapat membedakan dari perusahaan konstruksi dengan golongan besar dan menengah dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat

1.3 Tujuan Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat berdasarkan persepsi para praktisi yang berwenang dan terlibat dalam pengambilan keputusan terhadap penyewaan alat berat pada perusahaan konstruksi di Surabaya. 2. Mengetahui perbedaaan variabel dari perusahaan konstruksi dengan golongan besar dan menengah pengambilan keputusan menyewa alat berat.

1.4 Manfaat Penelitian 1. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perusahaan peralatan). 2. Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pemilik alat sehingga dapat meningkatkan pelayanan dalam menyewakan peralatan sebagai penunjang peningkatan usaha. 3. Memperluas wawasan dan pengetahuan bagi kepentingan peneliti dan akademik. konstruksi untuk kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan untuk pengelolaan sumber daya alat konstruksi (manajemen

3

1.5 Batasan Penelitian Lingkup penelitian ini meliputi : 1. Responden penelitian ini adalah para praktisi yang berwenang dan terlibat dalam pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat pada perusahaan konstruksi di Surabaya 2. Menyewa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah operating lease. Dimana biaya-biaya yang diperhitungkan dalam sewa adalah harga barang, bea masuk, bongkar muat di pelabuhan dan transpor. 3. Obyek penelitian ini adalah perusahaan konstruksi golongan Besar (B) dan Menengah (M) di Surabaya, yang terdaftar sebagai anggota Gapensi Jawa Timur tahun 2005 Sub bidang Gedung dan Pabrik.

4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengambilan Keputusan Cara setiap kita mengerti dan memecahkan masalah adalah menggunakan logika deduktif terhadap penyelesaian urusan yang sudah umum. Pada situasi yang tidak terstruktur, orang cenderung bertindak berdasarkan “gut feelings” (intuisi) daripada tetap berdasarkan kepada rasional. Orang tidak hanya memiliki perbedaan feeling (intuisi) terhadap situasi yang sama, tetapi intuisi mereka berubah atau dapat dirubah dengan diskusi, petunjuk baru, dan interaksi dengan orang lain yang berpengalaman. Pada kenyataannya ketika kita membuat suatu keputusan, pilihan kepribadian dan kepercayaan biasanya lebih jelas dan lebih logis. Pengambilan keputusan adalah kompromi. Pengambil keputusan harus memberatkan nilai pertimbangan yang mempengaruhi faktor ekonomi, teknik pratikal, keperluan ilmiah, manusia dan pertimbangan sosial, dan sebagainya. Untuk membuat keputusan yang benaradalah untuk memilih satu alternatif dari beberapa yang memungkinkan keseimbangan terbaik atau mengoptimalkan nilai total, dengan mempertimbangkan semua bermacam-macam faktor-faktor. Hal ini sering diperlukan untuk nilai penjualan pada sebuah dimensi (yang disebut reabilitas) dalam rangka memperoleh nilai pada dimensi yang lain (disebut biaya). Menemukan alternatif yang menghasilkan kompromi yang optimum dari semua faktor-faktor yang relevan merupakan tugas dari pengambil keputusan. (Dixon, 1966) Menurut Saaty (1988) tingkah laku manusia sangat kompleks; ada banyak teori yang menjelaskan bahwa tingkah laku manusia dalam dan berlapis-lapis, dan semuanya kemungkinan berkontribusi pada pengertian kita tentang tingkah laku manusia. 2.1.1 Behaviorist Theory (Teori Ahli Perilaku) 1. Instict-Drive Theory (Teori Dorongan – Naluri)

5

Beberapa dari tingkah laku kita dikendalikan oleh naluri. Sama halnya seperti tawon yang memiliki naluri untuk membangun sarang dan burung memiliki karakteristik lagu mereka, manusia juga mengikuti pola tanpa pembelajaran dari perilaku, seperti mencari makan, kawin, menghindari sakit, dan sebagainya. Walaupun tidak cukup untuk meliputi kebanyakan perilaku orang dewasa, termasuk perasaan, nilai, ambisi, sikap, rasa, dan kecenderungan. 2. Reason-Impuls Theory (Teori Nalar-Impuls) Beberapa dari keputusan yang diambil dirasakan mengalir dari keputusan logis bukan berasal dari tingkah dan perubahan pikiran yang secara tiba-tiba. Walaupun kita boleh mengakui adanya kebutuhan itu dan alasan pribadi adalah daya penggerak di balik tingkah laku manusia, kita anggap bahwa kita menggunakan akal sehat (nalar) untuk mencapai tujuan kita dalam batas dari sumberdaya yang ada. Dan banyak dari kita pada akhirnya memang belajar mengunakan teknik yang rasional pada pengambilan keputusan, terlepas dari apa yang didesakkan oleh keinginan prbadi. Para ahli teori nalar-impuls menyatakan bahwa reaksi berdasarkan pada tiruan, kebiasaan, sugensti atau bentuk pemikiran subrasional yang lain dari pikiran dan jarang berdasarkan logika murni. Tindakan yang direncanakan adalah hasil dari analisa yang didasarkan pada prefensi terhadap apa yang dianggap paling bermanfaat bagi pencapaian sasaran dan prefensi justru sangat kuat dipengaruhi oleh kebiasaan dan latihan, daripada pemikiran secara rasional.. 3. Dynamic Field Theory (Teori Bidang Dinamik) Kita bertindak pada tanggapan terhadap sebuah bidang dinamis (dynamic field) dari tekanan dan tegangan ketika kita mempersepsi lingkungan untuk menyangkal atau memenuhi keinginan atas apa yang kita inginkan dan butuhkan. Hirarki dari kebutuhan manusia yang memotivasi tingkah laku; kebutuhan ini berkisar dari hal-hal yang paling mendasar mulai dari kebutuhanfisiologis dan kebutuhan

6

keamanan dan keselamatan ke dalam ktualisasi diri dan kebutuhan estetika. 2.1.2 Learning Theories (Teori Belajar) Kebanyakan orang cenderung mengasumsikan bahwa cara berfikir dan logika yang digunakan untuk mengembangkan pikiran kita merupakan bawaan manusia sejak lahir dan dasar dari pengetahuan manusia datang kepada manusia sebagai pemberian dari Yang Maha Kuasa. Tetapi teori pembelajaran saat ini membantah bahwa pembelajaran utamanya dari trial and error dan lebih melalui perasaan (feeling) daripada melalui logika. Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali suatu tindakan khusus dipandang dari sudut pengalaman sebelumnya. Hal ini merupakan sebuah iteratif, atau pengulangan, proses dari penambahan pengetahuan yang menguraikan atau memperluas meninggalkan pengetahuan. Pembelajaran dapat disengaja dan sadar, seperti pada ingatan fakta, atau dapat tak disengaja dan tak sadar.

2.2 Investasi Investasi secara umum diartikan sebagai keputusan mengeluarkan dana pada saat sekarang untuk membeli aktiva riil (tanah, rumah, mobil dan sebagainya) atau aktiva keuangan (saham, obligasi, reksadana, wesel dan sebagainya) dengan tujuan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar dimasa mendatang. Pengertian investasi adalah pengeluaran untuk mengadakan barang modal pada saat sekarang dengan tujuan untuk menghasilkan keluaran barang atau jasa agar dapat diperoleh manfaat yang lebih besar di masa yang akan datang, selama dua tahun atau lebih. (Haming, 2003) Resiko yang ada pada investasi berkaitan dengan pengeluaran dana pada saat sekarang dan manfaatnya baru diterima dimasa mendatang, yaitu : (Haming, 2003) 1. Resiko nilai riil dari uang yang akan diterima di masa mendatang. 2. Resiko mengenai ketidakpastian menerima uang dalam jumlah yang sesuai dengan yang diperkirakan akan diterima di masa mendatang.

7

Perencanaan keuangan untuk sebuah bisnis konstruksi sering berasal dari investasi pada peralatan, karena seluruh elemen mendasari modal investasi jangka panjang yang paling besar pada bisnis. (Day, 1989) Alat analisis pada investasi dibedakan menjadi dua golongan besar (Haming, 2003), yaitu : 1. Metode konvensional Merupakan metode analis yang dibekalkan sebagai peralatan dari capital budgeting, yaitu : a. Metode pemulihan investasi (payback method) b. Metode tingkat balikan akunting rata-rata (average accounting rate of return atau AARR) c. Metode nilai sekarang (present value method) d. Indeks kemapulabaan (profitability index) e. Metode tingkat balikan internal (internal rate of return atau IRR) f. NPV (Net Present Value) 2. Metode analisis riset operasional Merupakan alat analisis yang berorientasi pasa sitem acuan optimal. Metode yang biasa digunakan adalah : a. Teori antrian (waiting line models) b. Simulasi Monte Carlo (Monte Carlo Simulation) c. Metode titik impas (break even point method) d. Program linier (linear programming) Dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi, ada lima metode standar yang biasa digunakan untuk mengevaluasi yaitu payback period, discounted payback period, net present value (NPV), internal rate of return (IRR) dan modified internal rate of return (MIRR). Selain itu ada empat pendekatan lain untuk mengevaluasi investasi, masing-masing pendekatan memiliki kekurangan. Pendekatan yang pertama dengan tidak menggunakan seluruh analisa keuangan formal seperti NPV. Kedua, yang diusulkan Kaplan yaitu menyaring NPV; kekurangan utama dari model ini adalah tidak memberikan perhatian yang tegas untuk isu stategi. Ketiga yaitu pendekatan dari Porter yaitu menghubungkan keputusan teknologi ke dalam analisa strategi. Pendekatan yang keempat oleh

8

Bromwich dan Bhimani yaitu membantah suatu terintegrasi kerangka analisis strategi finansial. Tetapi mereka tidak memaksakan ide-ide mereka hanya memberikan pengertian pengarahan bagi manajer dalam mengevaluasi investasi. (Shank, 1992)

2.3 Sewa (Lease) 2.3.1 Pengertian leasing Leasing berasal dari bahasa Inggris Lease berarti sewa atau lebih umum sebagai sewa menyewa (Anwari, 1987; Soekadi, 1990). Definisi leasing berdasarkan menurut Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. Kep-122/MK/IV/2/1974, 32/M/SK/2/1974, 30/Kpb/I/1974 tanggal 7 Februari 1974 yaitu : Setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk suatu jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama. Dapat disebut juga leasing adalah kontrak yang memperbolehkan individual atau perusahaan menggunakan nilai ekonomis dari suatu aset pada jangka waktu tertentu tanpa memperoleh hak kepemilikan atas aset tersebut. (Pikiran Rakyat, 2004) 2.3.2 Pihak-pihak dalam leasing Pihak-pihak yang terlibat di dalam leasing yaitu : (Anwari, 1987) 1. Lessor adalah pihak yang menyewakan barang, dapat terdiri dari beberapa perusahaan. Disebut juga sebagai Investors, Equity – holders, Owner – participants atau trusters – Owner. 2. Lessee adalah pihak yang menikmati barang tersebut dengan membayar sewa dan mempunyai hak opsi.

9

2.3.3

Jenis pembiayaan dalam leasing Pembiayaan investasi melalui leasing terdapat beberapa cara, yaitu : (Anwari, 1987; Soekadi, 1990) 1. Financial lease Jangka waktu kontrak financial lease lebih singkat dari umur ekonomis barang yang disewakan. Biaya sewa meliputi biaya modal serta biayabiaya lain seperti bunga, pajak, asuransi, biaya pemeliharaan dan sebagainya, karena lessor mengharapkan pengembalian biaya meliputi seluruh harga modal yang disewakan sekaligus biaya-biaya tersebut. Dalam perjanjian ini biasanya tidak bisa dibatalkan dalam pertengahan masa leasing oleh salah satu pihak, kecuali jika pihak lessee tidak memenuhi perjanjian/kontrak. Financial lease dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : a. Direct Financial lease Transaksi ini terjadi jika lessee sebelumnya belum pernah memiliki barang yang dijadikan obyek lease. Dapat dikatakan bahwa lessor membeli suatu barang atas permintaan lessee dan akan dipergunakan oleh lessee. Segi menonjol dari transaksi ini adalah lessee memerlukan suatu barang untuk kepentingan proses produksi dalam usahanya. b. Sale and lease back Cara pembiayaan dimana pemilik barang menjual hak miliknya kepada lessor kemudian barang tersebut di-lease-kan kembali kepada pemilik semula (pemilik menjadi lessee). Bentuk perjanjian ini biasanya terjadi karena pihak lessee, biasanya perusahaan besar, ingin menutup defisit yang telah diperkirakan akan terjadi. 2. Operating Lease Pada operating lease, lessor membeli barang untuk disewakan kepada lessee untuk jangka waktu tertentu. Lesse membayar uang sewa yang besarnya secara keseluruhan tidak meliputi pajak, biaya service, asuransi. Biaya-biaya yang diperhitungkan dalam sewa antara lain

10

harga barang, bea masuk, bongkar muat di pelabuhan, transpor dan persentase sewa. Resiko kepemilikan selama jangka waktu leasing menjadi tanggung jawab lessor, sehingga pajak kekayaan menjadi tanggung jawab lessor. Resiko turunnya nilai barang, kerusakan barang serta perawatan barang ditanggung oleh Lessor. Lessee dapat memutuskan perjanjian secara sepihak dengan pemberitahuan maksud pemutusan hubungan sewa secara tertulis dalam waktu yang layak dengan konsekuensi lessee memayar sewa penuh. 2.3.4 Keuntungan dan Kerugian Leasing 1. Penghematan modal Dapat menghemat modal dikarenakan tidak perlu mengeluarkan tunai yang besar pada awal tahun. 2. Flexibilitas Fleksibilitas ini meliputi struktur kontraknya, besarnya pembayaran sewa dan jangka waktu pembayarannya 3. Sebagai sumber dana Leasing merupakan salah satu sumber dana bagi perusahaanperusahaan industri maupun perusahaan-perusahaan komersil lainnya. Mekanisme untuk untuk memperoleh dana yaitu melalui sale and lease back atas asset tersebut. 4. On atau Off Balance sheet Kemudahan dalam pembukuan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, bisa dibukukan dengan menggunakan on atau off balance sheet. 5. Menguntungkan cash flow Fleksibilitas dari penentuan besarnya sewa sangat menguntungkan cash flow, karena dapat disesuaikan dengan kemampuan cash flow yang ada. 6. Menahan pengaruh inflasi 2.3.4.1. Keuntungan Leasing (Soekadi, 1990) :

11

Dalam keadaan inflasi, lessee mengeluarkan biaya sewa yang sama. Dengan demikian niali riil dari sewa tersebut telah berkurang. Dapat dikatakan bahwa lessee membayar membayar hari ini dengan dengan perhitungan niali mata uang kemarin. 7. Bebas beban pajak dan biaya seperti pajak kekayaan, depresiasi. 8. Bebas dari kewajiban mengurusi laporan investasi, barang bekas, dan lain-lain. 2.3.4.2. Kerugian leasing (Soekadi, 1990) : 1. Sewa membutuhkan biaya yang lebih besar karena kehilangan keuntungan pajak tertentu. 2. Kehilangan nilai ekonomis dari aset pada saat akhir dari waktu sewa, karena tidak memiliki aset. 3. Tidak dapat membatalkan perjanjian sewaktu-waktu. Jika melakukan pembatalan perjanjian maka dikenakan biaya sewa penuh.

2.4 Alat Berat Alat berat yaitu sarana angkut yang khusus dirancang untuk pelaksanaan rancang bangun yang berat dan tugas konstruksi. (www.wikipedia.com) Alat-alat berat yang dikenal di dalam ilmu Teknik Sipil adalah alat yang digunakan untuk membantu manusia melakukan pekerjaan pembangunan suatu struktur. Alat berat merupakan faktor penting di dalam proyek, terutama proyekproyek konstruksi dengan skala yang besar. Tujuan penggunaan alat-alat berat tersebut untuk memudahkan manusia dalam mengerjakan pekerjaannya sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan lebih mudah pada waktu yang relatif singkat. Alat berat yang umum dipakai di dalam proyek konstruksi antara lain dozer, alat gali (excavator) seperti backhoe, front shovel, clamshell; alat pengangkut seperti loader, truck dan conveyor belt; alat pemadat tanah seperti roller dan compactor, dan lain-lain. (Rostiyanti, 2002)

12

Alat berat dapat dikategorikan ke dalam beberapa klasifikasi. 2.4.1 Klasifikasi fungsional alat berat Klasifikasi fungsional adalah pembagian alat berdasarkan fungsi-fungsi utama alat. 2.4.1.1 Alat Pengolah Lahan Kondisi lahan proyek kadang-kadang masih merupakan lahan asli yang harus dipersiapkan sebelum lahan tersebut mulai diolah. Jika pada lahan masih terdapat semak atau pepohonan maka pembukaan lahan dapat dilakukan dengan menggunakan dozer. Untuk pengangkatan lapisan tanah paling atas menggunakan scraper. Sedangkan untuk pembentukan permukaan supaya rata selain dozer dapat digunkaan juga motor grader. 2.4.1.2 Alat Penggali Alat penggali juga dikenal dengan istilah excavator. Beberapa alat berat digunakan untuk menggali tanah dan batuan. Yang termasuk dalam kategori ini adalah front shovel, backhoe, dragline, dan clamshell. 2.4.1.3 Alat Pengangkut Material Crane termasuk di dalam kategori alat pengangkut material karena alat ini dapat mengangkut material secara vertikal dan kemudian memindahkannya secara horizontal pada jarak jangkau yang relatif kecil. Untuk pengangkutan material lepas (loose material) dengan jarak tempuh yang relatif jauh, alat yang dapat digunakan dapat berupa belt, truck, dan wagon. 2.4.1.4 Alat Pemindah Material Yang termasuk dalam kategori ini adalah alat yang biasanya tidak digunakan sebagai alat transportasi tetapi digunakan untuk memindahkan material dari satu alat ke alat yang lain. Loader dan dozer adalah alat pemindah material. 2.4.1.5 Alat Pemadat Jika pada suatu lahan dilakukan penimbunan maka pada lahan tersebut perlu dilakukan pemadatan. Pemadatan juga dilakukan untuk

13

pembuatan jalan, baik itu jalan tanah dan jalan dengan perkerasan lentur maupun perkerasan kaku. Yang termasuk sebagai alat pemadat adalah tamping roller, pneumatic-tired roller, compactor dan lain-lain. 2.4.1.6 Alat Pemroses Material Alat ini dipakai untuk mengubah batuan dan mineral alam menjadi sutu bentuk dan ukuran yang diinginkan. Hasil dari alat ini misalnya adalah batuan bergradasi, semen, beton dan aspal. Yang termasuk dalam kategori alat ini adalah crusher. Alat yang dapat mencampur material-material diatas juga dikategorikan ke dalam alat pemroses material seperti concrete batch plant dan asphalt mixing plant. 2.4.1.7 Alat Penempatan Akhir Material Alat ini berfungsi untuk menempatkan material pada tempat yang telah ditentukan . di tempat atau lokasi ini mterial disebarkan secara merata dan dipadatkan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Yang termasuk di dalam kategori ini adalah concrete spreader, asphalt paver, motor grader dan alat pemadat. 2.4.1.8 Klasifikasi operasional alat berat Alat-alat berat dalam pengoperasiannya dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain atau tidak dapat digerakkan atau statis. 2.4.2 Klasifikasi alat berdasarkan pergerakannya dapat dibagi atas: 2.4.2.1 Alat dengan Penggerak Alat penggerak merupakan bagian dari alat berat yang menerjemahkan hasil dari mesin menjadi kerja. Bentuk dari alat penggerak adalah crawler atau roda kelabang dan ban karet. Sedangkan belt merupakan alat penggerak pada conveyor belt. 2.4.2.2 Alat Statis Yang termasuk dalam kategori ini adalah tower crane, batching plant, baik untuk beton maupun aspal serta crusher plant. Dalam pemilihan alat-alat berat konstruksi diperlukan efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan dan pelaksanaannya. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pengunaan alat berat adalah biaya dari konstruksi, diantaranya kontraktor dihadapkan pada pilihan untuk menyewa, membeli atau memakai milik

14

sendiri tetapi harus mendatangkan dari tempat yang jauh. Pengeluaran biaya awal juga menentukan dalam pemilihan alat-alat konstruksi, yang terdiri dari biaya pembelian (investasi), biaya operasi dan pemeliharaan. Pilihan ini dipengaruhi oleh besar kecilnya ukuran proyek, tersedianya fasilitas pemeliharaan dan cashflow. Selain itu juga, faktor ekonomi dan jadwal proyek akan menjadi pertimbangan utama dalam mengambil keputusan tersebut. Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dan penggunaan alat berat untuk konstruksi yang harus diteliti sebelum sampi pada suatu keputusan seperti bengkel lokal, kelengkapan peralatan, ketersediaan suku cadang dan personil untuk menanganinya. Produktivitas serta usia serta penjualan kembali dari peralatan juga menjadi pertimbangan dalam pemilihan alat-alat konstruksi. (Soeharto, 1998). Biaya kepemilikan alat berat terdiri dari beberapa faktor. Faktor yang pertama adalah biaya dalam jumlah yang besar yang dikeluarkan karena membeli alat tersebut. Jika pemilik meminjam uang dari bank untuk membeli alat tersebut maka akan ada biaya terhadap bunga pinjaman. Faktor kedua adalah depresiasi alat. Sejalan dengan bertambahnya umur alat maka akan ada penurunan nilai alat. Faktor ketiga yang penting adalah pajak. Faktor keempat adalah biaya yang harus dikeluarkan pemilik untuk membayar asuransi alat. Dan faktor terakhir adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk menyediakan tempat penyimpanan alat. (Day, 1989; Rostiyanti, 2002)

2.5 Penggolongan Perusahaan Perusahaan jasa konstruksi digolongkan berdasarkan klasifikasi dan kualifikasinya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonnesia Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi, yang dimaksud dengan klasifikasi adalah bagian kegiatan registrasi untuk menetapkan penggolongan usaha di bidang jasa konstruksi menurut bidang dan sub bidang pekerjaan atau penggolongan profesi keterampilan dan keahlian kerja orang perseorangan di bidang jasa konstruksi menurut disiplin keilmuan dan atau keterampilan tertentu dan atau kefungsian dan atau keahlian masing-masing.

15

Sedangkan yang dimaksud dengan kualifikasi adalah bagian kegiatan registrasi untuk menetapkan penggolongan usaha di bidang jasa konstruksi menurut tingkat/ kedalaman kompetensi dan kemampuan usaha, atau penggolongan profesi keterampilan dan keahlian kerja orang perseorangan di bidang jasa konstruksi menurut tingkat/kedalaman kompetensi dan kemampuan profesi dan keahlian. Berdasarkan LPJK (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi), golongan perusahaan terbagi menjadi tiga golongan, yaitu : 1. Golongan Kecil Golongan Kecil terbagi menjadi 3 kualifikasi, yaitu : Tabel 2.1 Batas Nilai Pekerjaan dan Jumlah Banyaknya Paket Pekerjaan Sesaat Perusahaan Golongan Kecil Jumlah Banyaknya KualiBatas Nilai Paket Pekerjaan No Gol. fikasi Satu Pekerjaan Sesaat 0 s/d 1 K1 3 Rp 100.000.000,Rp 100.000.000,- s/d Kecil 2 K2 3 Rp 400.000.000,Rp 400.000.000,- s/d 3 K3 3 Rp 1.000.000.000,Sumber : LPJK Tabel 2.2 Kemampuan Perusahaan Golongan Kecil Range Kemampuan KualiNo Gol. Kemampuan Keuangan fikasi Kekayaan Bersih Sesaat Rp 50.000.000,- s/d Rp 50.000.000,- s/d 1 K1 Rp 400.000.000,Rp 720.000.000,Rp 100.000.000,- s/d Rp 180.000.000,- s/d Kecil 2 K2 Rp 600.000.000,Rp 1.080.000.000,Rp 400.000.000,- s/d Rp 720.000.000,- s/d 3 K3 Rp 1.000.000.000,Rp 1.800.000.000,Sumber : LPJK Tabel 2.3 Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha Perusahaan Kecil Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha KualiNo Gol. TA/T = Tenaga Ahli atau Terampil fikasi (Minimal Jumlah dan Pendidikan) 1 Kecil K1
PJTBU : 1 STM / 2 th / Badan Usaha TT sesuaikan dengan bidang pekerjaan bangunan /sipil/listrik/ mesin Tahun 2004 dilengkapi SKA/SKT sesuai bidang usaha

16

No

Gol.

Kualifikasi

.....Lanjutan Tabel 2.3 Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha TA/T = Tenaga Ahli atau Terampil (Minimal Jumlah dan Pendidikan)
TAT : belum disyaratkan PJTBU : 1 STM / 5 th / Badan Usaha TT sesuaikan dengan bidang pekerjaan bangunan /sipil/listrik/ mesin Tahun 2004 dilengkapi SKA/SKT sesuai bidang usaha TAT : belum disyaratkan PJTBU : 1 D3 / 4 th / Badan Usaha atau 1 STM / 10 th / Badan Usaha TT sesuaikan dengan bidang pekerjaan bangunan /sipil/listrik/ mesin Tahun 2004 dilengkapi SKA/SKT sesuai bidang usaha TAT : belum disyaratkan

2 Kecil 3 Sumber : LPJK

K2

K3

Tabel 2.4 Pengalaman Pekerjaan selama 8 tahun terakhir Perusahaan Golongan Kecil No 1 2 3 Sumber : LPJK Tabel 2.5 Keterangan Perusahaan Golongan Kecil No 1 2 Kecil 3 Sumber : LPJK 2. Golongan Menengah (M) Golongan menengah terbagi menjadi dua kualifikasi, yaitu : K3 Gol. Kualifikasi K1 K2 Keterangan
1. Pengalaman pekerjaan dibuktikan dengan kontrak pekerjaan yang dipunyainya dilengkapi dengan Berita Acara serah terima dan bukti pembayaran PPN atau laporan SPT tahun proyek ybs dilegalisasi pemilik pekerjaan 2. Untuk naik kulaifikasi maka harus dipenuhi dulu minimal satu sub bid yang punya pengalaman 3. Tambahan 2 sub bid tanpa pengalaman pada kompetensi kualifikasi yang lebih rendah dengan lihat totalnya.

Gol.

Kualifikasi K1 K2 K3

Pengalaman Pekerjaan Selama 8 th terakhir pada sub-bidang
Tanpa Pengalaman Pengalaman melaksanakan pekerjaan K1 sesuai sub bidangnya dengan jumlah total Rp 200.000.000,- selama 8 th Pengalaman melaksanakan pekerjaan K1 sesuai sub bidangnya dengan jumlah total Rp 200.000.000,- selama 8 th

Kecil

17

Tabel 2.6 Batas Nilai Pekerjaan dan Jumlah Banyaknya Paket Pekerjaan Sesaat Perusahaan Golongan Menengah Jumlah Banyaknya KualiBatas Nilai Paket Pekerjaan No Gol. fikasi Satu Pekerjaan Sesaat Rp 1.000.000.000,- s/d 1 M1 5 Rp 3.000.000.000,Menengah Rp 3.000.000.000,- s/d 2 M2 5 Rp 10.000.000.000,Sumber : LPJK Tabel 2.7 Kemampuan Perusahaan Golongan Menengah Range Kemampuan KualiNo Gol. Kemampuan fikasi Kekayaan Bersih Keuangan Sesaat Rp 1.000.000.000,- s/d Rp 420.000.000,- s/d 1 M1 Rp 3.000.000.000,Rp 12.500.000.000,Menengah Rp 12.500.000.000,Rp 3.000.000.000,- s/d 2 M2 s/d Rp 10.000.000.000,Rp 42.000.000.000,Sumber : LPJK Tabel 2.8 Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha Perusahaan Golongan Menengah Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha KualiNo Gol. TA/T = Tenaga Ahli atau Terampil fikasi (Minimal Jumlah dan Pendidikan) 1 Menengah 2 Sumber : LPJK Tabel 2.9 Pengalaman Pekerjaan selama 8 tahun terakhir Perusahaan Golongan Menengah No 1 Gol. Menengah Kualifikasi M1 Pengalaman Pekerjaan Selama 8 th terakhir pada sub-bidang
Pengalaman melaksanakan pekerjaan K3 sesuai sub bidangnya dengan jumlah total Rp 2.000.000.000,- selama 8 th

M1

M2

PJTBU : D3 / 5 th / Bid. Pekerjaan atau 1 S1/ 2th/ Bid. Pekerjaan TT sesuaikan dengan bidang arsitektur/sipil/listrik/mesin/ penyehatan Tahun 2004 dilengkapi SKA/SKT sesuai bidang usaha TAT : 1 D3/2th atau 1 STM/8th atau 1 S1/1 th PJTBU : 1S1 /8 th / Bid. Pekerjaan TT sesuaikan dengan bidang arsitektur/sipil/listrik/mesin/ penyehatan Tahun 2004 dilengkapi SKA/SKT sesuai bidang usaha TAT : 1 S1/2th atau 1 D3/5th dan 1 STM/10 th

Sumber : LPJK

18

.....Lanjutan tabel 2.9 No 2 Sumber : LPJK Tabel 2.10 Keterangan Perusahaan Golongan Menengah No 1 2 Menengah Gol. Kualifikasi M1 M2 Keterangan
Untuk Badan Usaha baru kualifikasi M2 harus memenuhi modal disetor atau K3 1M dan dimuat dalam akate pendiriannya serta satu direksi latar belakang S1 teknik pengalaman 5 th sesuai bidangnya.

Gol.

Kualifikasi M2

Pengalaman Pekerjaan Selama 8 th terakhir pada sub-bidang
Pengalaman melaksanakan pekerjaan M1 sesuai sub bidangnya dengan jumlah total Rp 7.000.000.000,- selama 8 th

Sumber : LPJK 3. Golongan Besar Golongan Besar hanya terbagi menjadi satu kualifikasi. Tabel 2.11 Batas Nilai Pekerjaan dan Jumlah Banyaknya Paket Pekerjaan Sesaat Perusahaan Golongan Besar Jumlah Banyaknya KualiBatas Nilai No Gol. Paket Pekerjaan fikasi Satu Pekerjaan Sesaat 8 Rp 10.000.000.000,- s/d Atau 12 N 1 Besar B Tak terbatas N= jumlah paket sesaat Sumber : LPJK Tabel 2.12 Kemampuan Perusahaan Golongan Besar Range Kemampuan KualiNo Gol. Kemampuan fikasi Kekayaan Bersih Keuangan Sesaat Rp 10.000.000.000,Rp 64.000.000.000,1 Besar B s/d s/d Tak terbatas Tak terbatas Sumber : LPJK

19

Tabel 2.13 Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha Perusahaan Golongan Besar Penanggung Jawab Teknik Badan Usaha KualiTA/T = Tenaga Ahli atau Terampil No Gol. fikasi (Minimal Jumlah dan Pendidikan) 1 Besar B
PJTBU : 1 S1 / 8 th / Bid. Pekerjaan atau 1 S1/ 2th/ Bid. Pekerjaan S1 sesuaikan dengan bidang arsitektur/sipil/listrik/mesin/ penyehatan Tahun 2004 dilengkapi SKA/SKT sesuai bidang usaha TAT : 3 S1/5th untuk 1 Badan Usaha

Sumber : LPJK Tabel 2.14 Pengalaman Pekerjaan selama 8 tahun terakhir Perusahaan Golongan Besar No 1 Gol. Besar Kualifikasi B Pengalaman Pekerjaan Selama 8 th terakhir pada sub-bidang
Pengalaman melaksanakan pekerjaan M2 sesuai sub bidangnya dengan jumlah total Rp 2.500.000.000,- selama 8 th

Sumber : LPJK Tabel 2.15 Keterangan Perusahaan Golongan Besar No Gol. Kualifikasi Keterangan
Pada akhir tahun 2003 telah mengikuti kursus Pemahaman Sistem Manajemen Mutu (ISO 9000-94 atau versi ISO 9000-2000) Badan Usaha harus bersertifikat ISO 9000-94 atau versi 2000 dan dapat diberi sub bidang baru tanpa persyaratan pengalaman seperti kualifikasi M2

1

Besar

B

Sumber : LPJK

2.6 Variabel-variabel dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat Varaibel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini diambil berdasarkan studi literatur dan wawancara. Variabel-variabel tersebut yaitu : 1. Naluri (Instinct) Beberapa dari tingkah laku kita dikendalikan oleh naluri. Manusia mengikuti pola tanpa pembelajaran dari perilaku, seperti mencari makan, kawin, menghindari sakit, dan sebagainya. Walaupun tidak cukup untuk meliputi kebanyakan perilaku orang dewasa, termasuk perasaan, nilai, ambisi, sikap, rasa, dan kecenderungan. (Saaty, 1988)

20

2. Reason-impuls Reaksi berdasarkan pada tiruan, kebiasaan, usul atau bentuk subrasional yang lain dari pikiran dan jarang berdasarkan logika murni. Tindakan yang direncanakan adalah hasil analisa dari pilihan yang mengarah pada sasaran atau tujuan dan pilihan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan, dan latihan daripada oleh pemikiran rasional. (Saaty, 1988) 3. Pembelajaran (Pengalaman) Teori pembelajaran saat ini membantah bahwa pembelajaran utamanya dari trial and error dan melalui perasaan (feeling) daripada melalui logika. Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali suatu tindakan khusus dipandang dari sudut pengalaman sebelumnya. Pembelajaran dapat disengaja dan sadar, seperti pada ingatan fakta, atau dapat tak disengaja dan tak sadar. (Saaty, 1988) 4. Pemulihan investasi (Payback Period) Analisis kelayakan investasi yang menilai kelayakan menurut jangka waktu pemulihan modal investasi. Perhitungannya dilakukan berdasarkan aliran kas baik tahunan maupun merupakan nilai sisa. Kriteria kelayakan dinilai jika masa pemulihan modal lebih pendek dari usia ekonomis. (Shank, 1992; Haming, 2003; Wawancara) 5. Nilai sekarang (Present value) Metode nilai sekarang adalah metode penilaian kelayakan investasi yang menyelaraskan nilai akan datang arus kas menjadi nilai sekarang dengan melalui pemotongan arus kas dengan memakai faktor pengurang (diskon) pada tingkat biaya modal tertentu yang diperhitungkan. PVt = At (1+i)-t (Haming, 2003) 6. NPV (Net Present Value) jumlah keseluruhan dari jumlah keseluruhan present value dari semua pemasukan dikurangi dengan jumlah present value dari semua pengeluaran. Nilai sekarang bersih (Net present value) dinilai layak jika bertanda positif (> 0). Dan dinilai tidak layak jika bertanda negatif. (<0).

21

NPV = ΣPV(+) – ΣPV (-) (Shank, 1992; Haming, 2003) 7. Tingkat balikan internal (internal rate of return atau IRR) atau Discounted Cash Flow Menilai investasi untuk mengetahui tingkat balikan internal sewaktu nilai sekarang arus kas masuk (TPV) sama dengan nilai sekarang pengeluaran investasi (Io) atau sewaktu NPV = 0. (Shank, 1992; Haming 2003) 8. Modified internal rate of return (MIRR) Merupakan suatu ukuran keuangan yang digunakan untuk menentukan penarik dari suatu investasi. Secara umum digunakan sebagai bagian dari proses penganggaran modal untuk mengurutkan berbagai macam pilihan alternatif. MIRR merupakan modifikasi dari ukuran keuangan IRR (Internal Rate of Return). (Shank, 1992; Wikipedia) 9. Tingkat balikan akunting rata-rata (average accounting rate of return atau AARR) Yaitu menilai investasi berdasarkan tingkat balikan akunting investasi. Metode ini menggunakan data laba sesudah pajak, maka sepanjang rasio laba positif, berarti berada pada posisi laba. Jika tanda dari rasio negatif maka tidak layak untuk diinvestasi. (Hamming, 2003) 10. Indeks kemapulabaan (profitability index) Mengukur investasi berdasarkan rasio antara nilai sekarang arus kas masuk total (TPV) dengan nilai sekarang total dari investasi inisial (Io). (Haming, 2003)

PI =

TPV Io

11. Inflasi Inflasi merupakan waktu atau peristiwa dimana terjadinya kenaikan harga-harga barang, jasa atau faktor produksi secara umum. Dalam keadaan inflasi, lessee mengeluarkan biaya sewa yang sama. Bisa dikatakan bahwa lessee membayar hari ini dengan perhitungan nilai mata uang kemarin.

22

Investasi dapat mengurangi tekanan inflasi. Dengan investasi dalam pemilihan perusahaan atau obyek lain, seseorang dapat menghindarkan diri agar harta atau kekayaan atau harta miliknya tidak merosot nilainya karena digerogoti inflasi. (Ahmad, 1996) 12. Biaya Modal Pengeluaran biaya menentukan dalam pemilihan alat-alat konstruksi, yang terdiri dari biaya pembelian (investasi), biaya operasi dan pemeliharaan. Perhitungan biaya investasi pertahun : (Soeharto, 1998)

I = ( P + B + A) x
I P B A S E

S+E 2

= Biaya investasi pertahun = Pajak = Bunga = Asuransi = Harga pasar awal tahun yang bersangkutan = Harga pasar akhir tahun yang bersangkutan

Biaya modal adalah jumlah dari biaya-biaya bunga, asuransi, pajak dan penyimpanan. Dan juga termasuk biaya-biaya dari modifikasi yang mahal.Keuntungan utama dari memiliki peralatan adalah yang memungkinkan sedikit biaya pengoperasian setiap jam untuk memiliki peralatan dibanding menyewa untuk jangka waktu pendek atau menyewa untuk jangka waktu yang lama. Kerugian dari memiliki (membeli) peralatan akan mengurangi modal kerja dan mungkin berdampak kurang baik pada likuiditas kontraktor. (Day, 1989) Modal kerja (working capital) adalah dana yang diperlukan untuk membiayai aktivitas operasi sesudah proyek memasuki fase operasi komersial. (Haming, 2003; Wawancara)
13. Bunga (interest)

Bunga adalah biaya untuk peminjaman uang atau pengembalian yang diharapkan dari uang yang diinvestasikan. Jika uang yang dipinjam berasal dari bank atau institusi pinjaman yang lain untuk membeli peralatan, peminjam akan membayar bunga pada pinjaman. Dan juga jika pemilik peralatan menggunakan hak kekayaannya sendiri untuk

23

membiayai

membeli

peralatan,

pemilik

meliputi

bunga

dalam

menghitung biaya kepemilikan. (Day, 1989; Wawancara)
14. Asuransi

Asuransi merupakan biaya dari premi asurasi untuk melindungi pemilik dari kerugian keuangan jika peralatannya rusak atau hancur. Asuransi adalah biaya kewajiban mobil, benturan dan sebagainyua, asuransi untuk peralatan yang diijinkan beroperasi di jalan dan biaya polis asuransi peralatan konstruksi kontraktor untuk perlatan yang lain. Biaya tahunan sekirat 1-3 % dari nilai buku. (Day, 1989; Wawancara) Dalam operating lease, beban asuransi ada pada lessor. (Anwari, 1987)
15. Pajak

Pajak adalah pajak milik perseorangan yang dibayarkan kepada pemerintah lokal berdasarkan pada kepemilikan peralatan. Biasanya sekitar 1-5% dari rata-rata investasi tahunan dari peralatan. (Day, 1989) Investasi dapat mendorong untuk menghemat pajak. Beberapa negara di dunia banyak melakukan kebijakan yang sifatnya mendorong tumbuhnya investasi di masyarakat melalui fasilitas kepajakan yang diberikan pada bidang-bidang usaha tertentu. (Ahmad, 1996; Wawancara) Dalam operating lease, beban pajak ada pada lessor. (Anwari, 1987)
16. Penyimpanan

Penyimpanan merupakan biaya dari menyimpan peralatan agar amam, tempat yang melindungi ketika tidak bekerja di bawah pengawasan kontraktor. Termasuk biaya sewa tempat untuk menyimpat peralatan. Biaya penyimpanan sekitar 1% atau lebih sedikit dari rata-rata investasi tahunan peralatan. (Day, 1989; Wawancara)
17. Ukuran proyek

Program pengelolaan alat-alat konstruksi yang berpengaruh besar terhadap biaya adalah pilihan membeli atau menyewa. Pilihan ini dipengaruhi oleh besar kecilnya ukuran proyek, fasilitas pemeliharaan dan cash flow serta kondisi ekonomi dan jadwal proyek. (Soeharto, 1998; Wawancara)

24

18. Jumlah Proyek

Banyaknya jumlah proyek yang sedang dikerjakan oleh sebuah kontraktor pada waktu yang sama. (Soeharto, 1998; Wawancara)
19. Fasilitas pemeliharaan

Dahulu pemeliharaan dipusatkan kepada perbaikan bila terjadi kerusakan. Sekarang hal tersebut dianggap tidak efektif untuk menjaga produktivitas dan kinerja peralatan. Pendekatan sekarang adalah dengan mengusahakan peralatan selalu dalam kondisi prima dan siap pakai, yaitu dengan mengadakan pemeliharaan preventif. Umumnya dilakukan dengan mengadakan pemeriksaan berkala harian atau selang tiga hari. Pemeliharaan ini bertujuan untuk mencari tanda-tanda kemungkinan terjadinya sumber kerusakan. (Soeharto, 1998; Wawancara)
20. Cash flow

Aliran kas berupa pencatatan penerimaan dan pengeluaran. Fleksibilitas dari sewa sangat menguntungkan cash flow. (Anwari, 1987;Soeharto, 1998) Dalam studi kelayakan rencana investasi, arus kas merupakan unsur analisis yang sangat penting kedudukannya karena kelayakan finansial sebuah usulan rencana investasi diukur pada nilai sekarang arus kasnya. Jika nilai sekarang arus kasnya masuk lebih besar daripada nilai sekarang arus kas keluar, maka rencana investasi itu dari sudut aspek finansial adalah layak dilaksanakan. (Haming, 2003)
21. Ekonomi (Dampak Sosial-Ekonomi-Lingkungan)

Tim manajemen proyek harus memahami keadaan tertentu dan kecenderungan pada suatu area mungkin memiliki suatu pengaruh besar pada proyek : perubahan kecil, biasanya dengan penyimpangan waktu, perubahan secara tiba-tiba di proyek. Dampak sosioekonomi yang utama dan sering berpengaruh pada proyek yaitu : a. Standar dan peraturan. Standar yaitu dokumen yang disetujui oleh suatu badan, yang menyediakan, untuk umum dan mengulangi penggunaan, aturan,

25

karakteristik atau petunjuk untuk produk, jasa atau proses di mana pemenuhan adalah tidak wajib. Peraturan yaitu dokumen yang meletakkan produk, proses atau karakteristik (layanan, jasa), mencakup ketentuan administratif yang bisa diterapkan, dimana pemenuhan adalah wajib. b. Dampak budaya Kebudayaan merupakan keseluruhan dari bentuk perilaku sosial yang dipancarkan, seni, kepercayaan, institusi dan seluruh produk dari pekerjaan manusia dan pemikiran. Setiap proyek harus beroperasi dalam konteks dari sebuah atau lebih norma kebudayaan. Lingkup dari dampak meliputi politik, ekonomi, demografi, pendidikan, kesusilaan, etnis, agama, dan lingkup lain dari praktek, kepercayaan, dan sikap yang mempengaruhi cara orang dan kelompok berinteraksi. c. Sosial-ekonomi-lingkungan yang memungkinkan Hampir semua proyek direncanakan dan diterapkan pada konteks sosial, ekonomi dan lingkungan, yang suda berniat dan tidak berniat berdampak positif atau negatif. Kelompok yang terus meningkat bertanggung jawab untuk dampak sebagai hasil suatu proyek, seperti halnya pengaruh dari suatu proyek kepada orang, ekonomi dan lingkungan setelah diselesaikan. (Soeharto, 1998, Project Manajement Institute; Wawancara)
22. Jadwal Proyek

Jadwal proyek menjelaskan mulai dan berakhirnya tanggal dari masingmasing aktivitas. Wawancara)
23. Fleksibilitas Dari Mekanisme Sewa

(Soeharto, 1998; Project Manajement Institute;

Pembiayaan dengan sewa lebih fleksibel karena dapat dilakukan dalam jangka waktu yang pendek, bulanan dan tahunan. Tetapi periode penyewaan tersebut bisa diperpanjang hingga beberapa tahun untuk jenis peralatan tertentu. Fleksibilitas ini meliputi struktur kontraknya,

26

besarnya pembayaran sewa dan jangka waktu pembayarannya. (Anwari, 1987; Wawancara)
24. Umur peralatan

Umur peralatan adalah perkiraan berapa lama peralatan masih dapat bekerja produktif. (Soeharto, 1988) Masa penggunaan peralatan harus diperkirakan dalam menetapkan suatu kelayakan biaya atau biaya penggunaan peralatan. Hal ini juga penting bagi pemilik peralatan untuk menentukan umur ekonomis peralatan dalam rangka meminimkan biaya dari kepemilikan peralatan atau untuk memaksimalkan keuntungan yang dapat di wujudkan dengan memiliki peralatan. (Day, 1989; Wawancara)
25. Penjualan kembali (resale value)

Harga yang berlaku dipasar ketika alat tersebut akan dijual kembali setelah selesainya proyek. Harga penjualan kembali juga harus mendapatkan perhatian yang seksama pada pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat. Harga jual kembali alat menjadi pertimbangan untuk berinvestasi, jika harga jual alat tidak sesuai dengan harapan serta kesempatan untuk menjual kembali alat berat tersebut tidak ada, maka keputusan cenderung untuk menyewa. (Soeharto, 1988, Wawancara) Alternatif ini lebih sesuai untuk pertimbangan dalam alternatif sewa atau beli.
26. Kontinuitas masa sewa (Survei pendahuluan )

Kelanjutan masa sewa dari alat yang disewa (perpanjangan masa sewa). (Survei pendahuluan )
27. Ketersediaan spare part

Disediakannya spare part dari pihak yang menyewakan alat. (Survei pendahuluan )
28. Ketersediaan SDM untuk operator dan maintenance

Disediakannya operator dan perawatan untuk alat dari pihak yang menyewakan alat. Sehinnga penyewa hanya menyediakan uang makan dan biaya BBM. (Survei pendahuluan)

27

29. Optimalisasi jam kerja alat

Kemampuan alat untuk bekerja secara optimal. (Survei pendahuluan )

2.7 Analisa Statistik 2.7.1 Sampel

Populasi adalah keseluruhan atau himpunan obyek dengan ciri yang sama. Target population adalah populasi kepada siapa kesimpulan digeneralisasikan. Sampel adalah himpunan bagian atau sebagian dari populasi. Dalam pengambilan sampel harus representatif, memenuhi tiga parameter yaitu : jumlah memadahi, ciri-ciri populasi terpenuhi, dan diambil secara ramdom. Tekhnik sampling atau cara pengambilan sampel dari populasi secara garis besar dibedakan menjadi dua cara, yakni random sampling (probability sampling) dan non-random sampling (non-probability sampling). Random sampling adalah tiap unit atau individu populasi mempunyai kesempatan (probabilitas) yang sama untuk menjadi sampel. Pada non-random sampling tiap unit atau individu populasi tidak mempunyai kesempatan untuk menjadi sampel. (Santoso, 2005) Ada beberapa metode random sampling: a. Simple random sampling Digunakan jika populasi dianggap homogen. Tersedia daftar (list), nomor urut dari seluruh unit populasi (merupakan kerangka sampel). Pengambilan unit sampel dapat menggunakan undian atau angka random. b. Systematic random sampling Metode ini digunakan untuk populasi yang dianggap homogen, telah tersedia daftar dan nomor urut setiap unit populasi. c. Stratified random sampling Digunakan pada populasi yang heterogen. Pada populasi heterogen, tetapi mempunyai strata atau lapisan yang homogen. Apabila jumlah tiap unit dalam strata sama, maka digunakan simple stratified random sampling. Bila jumlah unit dalam setiap strata tidak sama, maka digunakan proportional stratified random sampling.

28

d. Cluster/area random sampling Digunakan pada populasi yang heterogen yang terdiri dari beberapa kelompok (clusters/areas) yang didalamnya masih mengandung unit populasi yang heterogen.
2.7.2 Rancangan Kuisioner

Kuisioner merupakan alat untuk mendapatkan informasi persepsi responden terhadap pertanyaan pada kuisioner melalui sejumlah pertanyaan tertulis dan data-data lain yang dibutuhkan. Dalam kuisioner diberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian, serta petunjuk pengisian agar memudahkan responden.
2.7.3 Pengukuran variabel penelitian

Untuk mengukur variabel penelitian digunakan skala Likert dimana variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi dijabarkan menjadi sub variabel kemudian sub variabel dijabarkan lagi menjadi indikatorindikator yang dapat diukur. Indikator-indikator yang terukur ini dapat dijadikan titik tolak untuk membuat item instrumen yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab oleh responden. Bentuk setiap pertanyaan atau dukungan sikap diungkapkan dari sangat tidak penting sampai sangat penting dengan skor 1 sampai 5: a. Sangat Tidak Penting b. Tidak Penting c. Cukup Penting d. Penting e. Sangat Penting
2.7.4 Uji Validitas dan Reabilitas a. Uji Validitas

1 2 3 4 5

Validitas

menunjukan

sejauh

mana

skor/nilai/ukuran

yang

diperoleh benar-benar menyatakan hasil pengukuran/pengamatan yang ingin diukur. Macam validitas umumnya digolongkan dalam tiga kategori besar, yaitu validitas isi (contentvalidity), validitas prediktif (predictive validity), validitas eksternal (external validity) dan validitas konstruk (construct validity). Pada penelitian ini jenis validitas yang digunakan

29

adalah validitas konstruk, dimana dalam mencari konsep mengenai variabel yang membentuk kepuasan yang mengacu pada definisi konsep, pendapat ahli dan pendapat calon responden. Metode yang digunakan adalah teknik korelasi product moment. Hipotesa yang digunakan adalah : Ho : atribut tidak valid H1 : atribut valid Jika nilai r lebih besar dari titik kritis (r≥r kritis) untuk taraf signifikan 5%, maka H0 ditolak. Artinya ada hubungan antar variable atau atribut valid. Pengolahan data untuk menyelesaikan permasalahan pada metoda ini menggunakan program SPSS 10.0 for Windows.
b. Uji Reabilitas

Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Dalam artian jika alat pengukur dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten, maka alat pengukur tersebut dikatakan reliable (handal/konsisten). Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menghitung indeks reliabilitas, yaitu teknik pengukuran ulang (Test-Retest), teknik Spearman-Brown, teknik Cronbach’s Alpha, teknik K-R 20, teknik KR-21 dan teknik Observasi. Pada penelitian ini digunakan teknik Cronbach’s Alpha. Hipotesa yang digunakan untuk pengujian reliabilitas adalah sebagai berikut : H0 : atribut tidak reliabel H1 : atribut reliabel Dengan kriteria penolakan Ho adalah tolak Ho apabila nilai r total lebih besar dari nilai rtabel dengan derajat bebas n-2 dan tingkat signifikan 5%, artinya atribut reliabel. Pengolahan data untuk menyelesaikan permasalahan pada metoda ini menggunakan program SPSS 10.0 for Windows.

30

2.7.5

Uji Distribusi Normal Multivariat

Pengujian distribusi normal multivariate dilakukan untuk memperkuat dugaan bahwa data sudah berdistribusi normal multivariate. Sebagai asumsi dasar yang harus dipenuhi dalam analisis rata-rata antar sampel, analisis peta kendali multivariate, dan analisis kemampuan proses. Kemultinormalan data dapat diuji dengan menghitung nilai jarak kuadrat (jarak Mahalanobis) pada setiap pengamatan. Bila plot mendekati garis lurus, maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal multivariate. Selain dari plot kemultinormalan data, dapat ditunjukkan oleh nilai probabilitas d2j ≤ χ2 (p; 0,05) minimal atau lebih dari 50%.
2.7.6 Analisa Faktor

Proses analisa faktor mencoba menemukan hubungan (interrelationship) antar sejumlah variabel-variabel yang saling independen satu dengan yang lain sehingga bisa dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah variabel. (Santoso, 2003) Analisis faktor merupakan perluasan dari analisis komponen utama. Analisis faktor dipakai untuk menggambarkan hubungan atau korelasi dari beberapa variabel dalam sejumlah kecil faktor. Variabel-variabel ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa faktor dimana variabel-variabel dalam satu faktor mempunyai korelasi yang tinggi sedangkan korelasi dengan variabelvariabel pada faktor lain relatif rendah. Sebelum data yang terdiri dari beberapa variabel difaktorkan maka harus dilakukan suatu uji apakah data atau variabel layak untuk difaktorkan atau tidak. Pengujian ini biasanya menggunakan Uji Kaiser Maiyer Olkin/KMO dan Bartlett’s Test. Pada dasarnya analisis faktor bertujuan untuk mendapatkan sejumlah faktor yang memiliki sifat-sifat antara lain: a. Mampu menerangkan semaksimal mungkin keragamaan data. b. Faktor-faktor saling bebas. c. Setiap faktor dapat diinterpretasikan. Faktor-faktor yang diperoleh dari analisis komponen utama pada umumnya masih sulit diinterpretasikan. Karena itu harus dilakukan transformasi

31

pada matrik loading untuk meningkatkan daya interpretasi faktor. Transformasi matrik loading dilakukan dengan merotasi matrik tersebut dengan metode rotasi tegak lurus varimax. Hasil rotasi ini akan mengakibatkan setiap variabel asal mempunyai korelasi tinggi dengan faktor tertentu saja dan dengan faktor yang lain korelasi relatif rendah. Sehingga setiap faktor akan lebih mudah untuk diinterpretasikan. (Santoso, 2003; Johnson, 1992) Pengolahan data untuk menyelesaikan permasalahan pada metoda ini menggunakan program SPSS 10.0 for Windows.
a. Kaiser- Meyer-Olkin (KMO)

Uji KMO bertujuan untuk mengetahui apakah semua data yang telah terambil telah cukup untuk dapat difaktorkan. Dalam uji ini, bila data yang kita peroleh adalah kurang dari 100 maka nilai dari KMO haruslah lebih besar dari 0.5, tetapi bila data yang terambil antara 101 sampai 300 maka untuk menerima Ho cukup dengan nilai KMO lebih besar dari 0.4. Hipotesis dari KMO adalah sebagai berikut : Hipotesis : Ho : Jumlah data layak untuk difaktorkan H1 : Jumlah data tidak layak untuk difaktorkan Apabila nilai KMO lebih besar dari 0.5 maka terima Ho, sehingga dapat disimpulkan bahwa jumlah data telah layak difaktorkan. (Santoso, 2003; Johnson, 1992) Pengolahan data untuk menyelesaikan permasalahan pada metoda ini menggunakan program SPSS 10.0 for Windows
b. UJI V-Bartlett

Uji V-Bartlett bertujuan untuk menunjukkan apakah tiap variabel mempunyai nilai korelasi yang besar dengan variabel lain atau tidak. Adapun hipotesisnya adalah sebagai berikut : Hipotesis : Ho : R = 1 (matrik korelasi sama dengan matrik identitas) / tidak terdapat korelasi H1 : R ≠ 1 (matrik korelasi tidak sama dengan matrik identitas) / terdapat korelasi

32

2 Apabila V-Bartlet ≥ χ p ( g −1)(α ) , maka gagal tolak Ho, sehingga dapat

diartikan bahwa terdapat korelasi antar variabel. (Santoso, 2003; Johnson, 1992) Pengolahan data untuk menyelesaikan permasalahan pada metoda ini menggunakan program SPSS 10.0 for Windows.
c. Korelasi Anti Image

Untuk pengujian korelasi parsial maka digunakan korelasi anti image. Pada korelasi anti image, MSA (Measure of Sampling Adequacy) berkisar 0 sampai dengan 1 dengan kriteria: MSA=1, variabel tersebut dapat diprediksi tanpa kesalahan oleh variabel lain. MSA>0.5, variabel masih bisa diprediksi dan bisa dianalisis lebih lanjut MSA<0.5, variabel tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dianalisis lebih lanjut, atau dikeluarkan dari variabel lainnya. MSA ditunjukkan oleh nilai pada diagonal korelasi anti image yang berlabel (a). Sesuai dengan prosedur maka variabel yang bernilai paling kecil dikeluarkan terlebih dahulu dari analisa. Uji ini dilakukan dengan cara mengeluarkan satu-persatu variabel yang memiliki korelasi paling kecil sampai didapatkan variabel-variabel dalam matrik anti image yang bernilai korelasi > 0.5. (Santoso, 2003; Johnson, 1992)
d. Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis)

Analisis Komponen utama merupakan suatu prosedur yang dikembangkan oleh Hotteling (1933) yang menawarkan reduksi banyak variabel yang berkorelasi menjadi sejumlah komponen yang tidak berkorelasi. Metode ini berguna dalam menjelaskan keratan hubungan (dependensi) antar sekumpulan variabel dan juga dalam menentukan pengelompokan variabel. (Santoso, 2003; Johnson, 1992) Pengolahan data untuk menyelesaikan permasalahan pada metoda ini menggunakan program SPSS 10.0 for Windows.
2.7.7 Analisis Cluster

Analisis cluster merupakan teknik analisis multivariate yang digunakan untuk mengelompokkan obyek-obyek berdasarkan kesamaan karakteristik di antara obyek-obyek tersebut. Obyek dapat berupa produk (barang / jasa), benda (tumbuhan atau lainnya) serta orang (responden, konsumen atau yang lainnya).

33

Obyek yang memiliki derajat kesamaan yang tinggi diantara sesamanya akan dikelompokkan menjadi satu kelompok. (Santoso, 2003; Johnson, 1992)
2.7.8 Analisis Diskriminan

Analisis diskriminan adalah suatu teknik analisis data bila variabel dependennya adalah kategori dan variabel independennya adalag suati interval. (Haryono, 2003). Analisis diskriminan merupakan bagian dari analisis multivariate yang digunakan untuk mengetahui variabel-variabel penciri yang membedakan kelompok populasi. Selain itu juga dipergunakan sebagai kriteria pengelompokan penguna, yaitu dengan mengelompokan atau mengklasifikasikan sejumlah obyek ke dalam beberapa kelompok berdasar beberapa variabel dengan membentuk fungsi diskriminan, sedemikian hingga tiap obyek menjadi anggota dari salah satu kelompok. (Santoso, 2003; Johnson, 1992) Tujuan dari analisis diskriminan adalah : (Haryono, 2003) 1. Membuat fungsi diskriminan atau kombinasi linier dari variabel independen, yang dapat membedakan antara kelompok variabel dependen. 2. Menguji apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok sebagai fungsi variabel independen. 3. Menentukan variabel independen mana yang mempunyai kontribusi penting terhadap perbedaan antar kelompok. 4. Mengklasifikasi suatu sampel akan masuk kelompok mana berdasarkan variabel independen. 5. Mengevaluasi tingkat ketelitian dalam pengklasifikasian. Pengolahan data untuk menyelesaikan permasalahan pada metoda ini menggunakan program SPSS 10.0 for Windows.

34

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian survei dengan menjaring pendapat, pengalaman dan sikap responden mengenai permasalahan yang telah dan sedang dihadapi dengan pengambilan data primer melalui kuisioner pada populasi yang dikehendaki, yaitu perusahaan konstruksi di Surabaya. Penelitian ini juga bersifat deskriptif, bertujuan mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat terhadap populasi perusahaan konstruksi di Surabaya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat dengan teknik pembahasan deduktif dimana pembahasan dimulai dari hal-hal umum menuju ke hal-hal yang lebih khusus. Penelitian ini diharapkan dapat menjawab persoalan yang mempengaruhi pengambilan keputusan secara rasional oleh perusahaan konstruksi dalam pengambilan keputusan terhadap penggunaan alat berat dengan menyewa.

3.2 Proses Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memeberikan deskripsi mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat pada perusahaan konstruksi di Surabaya. Adapun tahapan dalam penelitian ini adalah : 1. Latar Belakang, memberikan gambaran-gambaran yang terjadi (fenomena) dalam pengambilan keputusan terhadap menyewa alat berat. 2. Masalah, merumusakan masalah yang terjadi akibat dari fenomena yang ada yaitu adanya perbedaan dasar pengambilan keputusan dalam menyewa alat berat. 3. Penyusunan Konseptual, yaitu mendefinisikan masalah penelitian untuk memberikan arti suatu fenomena dan kumpulan dari teori-teori yang telah dikumpulkan

35

4. Kuisioner pendahuluan, dilakukan untuk mengumpulkan variabel dari para ahli (experd) dibidang konstruksi dan penyewa alat berat terhadap faktorfaktor yang mempengaruhi dalam pengabilan keputusan menyewa alat berat. 5. Menentukan variabel penelitian, yang diperoleh dari kuisioner pendahuluan terhadap para ahli dan studi lieratur. 6. Penyusunan kuisioner, disusun berdasarkan tujuan yang ingin dicapai. Untuk mengetahui faktor dominan dari beberapa variabel maka pertanyaan dibagi kedalam dua bagian, yaitu bagian pertama tentang karakteristik responden, bagian kedua adalah variabel-variabel yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat. 7. Populasi dan sampel, populasi penelitian adalah semua perusahaan konstruksi di Surabaya yang terdaftar sebagai anggota Gapensi, Subbidang Gedung dan Pabrik. Sampel dipilih berdasarkan kelompok (strata) golongan perusahaan, kemudian data dikumpulkan dan dianalisa. 8. Analisa data, pengolahan data dengan pendekatan statistik, yaitu analisa faktor. Dari analisa data ini, variabel yang banyak diubah menjadi sedikit variabel yang masih memuat sebagian informasi yang terkandung dalam variabel asli. 9. Kesimpulan dan saran, memberi kesimpulan dan saran-saran bagi penelitian selanjutnya. Untuk mengetahui jalannya tahapan penelitian ini maka dapat dilihat Gambar 1 halaman 30 Tahapan Penelitian hingga didapatkan kesimpulan.

36

Proses penelitian :
Identifikasi masalah dan tujuan penelitian

Pengambilan Keputusan

Investasi

Leasing (Sewa)

Pengumpulan data dan variabel melalui wawancara dengan para ahli di perusahaan-perusahaan konstruksi

Menyusun variabel yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat pada perusahaan konstruksi dari literatur-literatur

Menentukan variable penelitian Populasi dan Sampel

Pembuatan Kuisioner

Pra Survey untuk mendapatkan variabel baru

Uji Validitas dan Reliabilitas

Penyebaran Kuisioner

Kontraktor Gol. Besar

Kontraktor Gol. Menengah

Analisa Fakator dan Analisa Deskriptif

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan untuk menyewa alat berat pada perusahaan konstruksi di Surabaya

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

37

3.3 Pengumpulan Data 3.3.1 Data Primer

Data primer didapat dari survei yang dikumpulkan dari responden secara langsung yaitu bagian yang berwenang dalam pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat pada perusahaan konstruksi di Surabaya. Alat yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan metode kuisioner. Untuk mengumpulkan data primer digunakan kuisioner dengan variabel melalui tahap sebagai berikut: a. Menyusun daftar pertanyaan yang sesuai dengan variabel-variabel yang telah ditetapkan b. Uji coba kuisioner dengan tujuan untuk meyakinkan bahwa kuisioner dapat dimengerti dan tidak menimbulkan salah paham. c. Perbaikan kuisioner, sekaligus memasukkan variabel baru atau pertanyaan baru yang perlu namun belum tercantum dalam kuisioner sebelumnya dan menghilangkan pertanyaan yang tidak relevan.
3.3.2 Data Sekunder

Data sekunder didapat dari literatur, jurnal, dan orang-orang yang ahli/pakar dibidangnya. Pengambilan data sekunder lebih banyak bersamaan dengan pencarian kajian teori.

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian 3.4.1 Populasi dan Sampel Penelitian

Target populasi penelitian adalah seluruh perusahaan konstruksi di Surabaya dengan Subbidang Gedung dan Pabrik yang terdaftar dalam Gapensi tahun 2005, sebanyak 100 perusahaan. 29 perusahaan konstruksi golongan besar (B) dan 71 golongan menengah (M) dan didapat jumlah sampel sebesar 80 perusahaan.
3.4.2 Tekhnik Pengambilan Sampel

Pengambilan data dengan survei yang dilaksanakan selama 10 minggu, yaitu pada minggu pertama bulan September hingga minggu kedua bulan November. Jumlah populasi 29 perusahaan konstruksi golongan besar (B), diperoleh jumlah sampel sebanyak 23 perusahaan dan untuk perusahaan

38

menengah (M) diperoleh jumlah sampel sebanyak 57 perusahaan. Perhitungan jumlah sampel dapat dilihat pada lampiran Metode random sampling yang digunakan dalam pengambilan sampel penelitian adalah stratified random sampling. Dikarenakan jumlah unit dalam setiap strata tidak sama dan jumlah sampel juga tidak sama maka digunakan metode proportional stratified randon sampling. Pengambilan sampel dilakukan dengan sengaja, dengan catatan bahwa sampel adalah representatif atau mewakili populasi. Tabel 3.1. Perhitungan jumlah Populasi dan Sampel
Golongan Perusahaan Besar Menengah Total Sumber : Santoso, 2005 3.5 Rancangan Kuisioner Populasi Sampel

29 71 100

23 57 80

Kuisioner diberikan kepada pihak yang berwenang dalam pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat pada perusahaan untuk memvalidasi variabel-variabel yang ada pada kuisioner tersebut.
3.6 Pengukuran Variabel Penelitian

Untuk mengukur variabel penelitian digunakan skala Likert dimana variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi dijabarkan menjadi sub variabel kemudian sub variabel dijabarkan lagi menjadi indikatorindikator yang dapat diukur. Indikator-indikator yang terukur ini dapat dijadikan titik tolak untuk membuat item instrumen yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab oleh responden. Bentuk setiap pertanyaan atau dukungan sikap diungkapkan dari sangat tidak penting sampai sangat penting dengan skor 1 sampai 5: a. Sangat Tidak Penting b. Tidak Penting c. Cukup Penting d. Penting e. Sangat Penting 1 2 3 4 5

39

3.7 Pengolahan Data

Data yang telah dikumpulkan akan diolah untuk menperoleh jawaban dari permasalahan yang ada sehingga tujuan penelitian dapat tercapai dengan menggunakan analisa statistika sebagai berikut : a. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas, untuk mengetahui apakah alat ukur yang digunakan sudah reliable dan menghasilkan jawaban yang valid. b. Uji Distribusi Normal Multivariat c. Analisis deskriptif, digunakan untuk mengetahui karakteristik responden. d. Analisa faktor Kaiser- Meyer-Olkin (KMO) UJI V-Bartlett Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis) Rotasi Faktor Interpretasi faktor.

e. Menentukan ketepatan model f. Analisa Cluster g. Analisa Diskriminan

3.8 Identifikasi Variabel

Variabel merupakan karakteristik atau keadaan atau kondisi pada suatu obyek yang mempunyai variasi nilai. Secara umum dapat dinyatakan bahwa variabel adalah operasionalisasi dari konsep. Variabel harus dapat diukur tetapi bukan ukuran (paremeter). Variabel merupakan konsep atau faktor yang dapat menunjukkan variansi nilai. (Santoso, 2005) Penentuan variabel diperoleh dari kajian pustaka dan survey awal kepada para ahli atas faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat pada perusahaan konstruksi di Surabaya.

40

Tabel 3.2. Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah :
No 1 Kode X1 Variabel

Naluri (Instinct) Kebiasaan Pengalaman Pemulihan Investasi (Payback Period) Nilai Sekarang (Present Value) NPV (Net Present Value)

Referensi Saaty, 1988

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12

Saaty, 1988 Saaty, 1988 Shank, 1992; Haming, 2003; Wawancara) Haming, 2003

Shank, 1992; Haming, 2003 Tingkat Balikan Internal (Internal Rate of Shank, 1992; Return atau IRR) atau Discounted Cash Flow Haming 2003 Modified Internal Rate of Return (MIRR) Shank, 1992 Tingkat Balikan Akunting rata-rata (Average Hamming, 2003 Accounting Rate of Return Atau AARR) Indeks Kemampulabaan (Profitability Index) Haming, 2003 Inflasi Ahmad, 1996 Biaya Modal Soeharto, 1998; Day, 1989; Haming, 2003; Wawancara Day, 1989; Wawancara Day, 1989; Wawancara Ahmad, 1996; Wawancara Day, 1989; Wawancara Soeharto, 1998; Wawancara Soeharto, 1998; Wawancara Soeharto, 1998; Wawancara Achmad, 1987;Soeharto, 1998 Soeharto, 1998; Project Manajement Institute;

13 14 15 16 17 18 19 20 21

X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X20 X21

Bunga (Interest) Asuransi Pajak Penyimpanan Ukuran Proyek JumlahProyek Fasilitas Pemeliharaan Cash Flow (Aliran Kas) Ekonomi (Dampak Sosial-EkonomiLingkungan)

41

....Lanjutan Tabel 3.2
No Kode Variabel Referensi Wawancara Soeharto, 1998, Project Manajement Institute Ahmad, 1987; Wawancara Soeharto, 1988, Day 1989, Wawancara Soeharto, 1988 Survei pendahuluan Survei pendahuluan Survei pendahuluan Survei pendahuluan

22

X22

Jadwal Proyek

23 24 25 26 27 28 29

X23 X24 X25 X26 X27 X28 X29

Fleksibilitas dari mekanisme Sewa Umur Peralatan Penjualan Kembali (Resale Value) Kontinuitas masa sewa Ketersediaan spare part Ketersediaan SDM untuk operator dan maintenance Optimalisasi jam kerja alat

42

BAB 4 PENGUMPULAN DATA

4.1 Survei Pendahuluan

Penelitian ini termasuk jenis penelitian survei dengan melakukan pengambilan sampel dari suatu populasi tertentu dengan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data-data primer. Untuk mendapatkan data yang baik dan lengkap, maka kuisioner tersebut harus mudah dimengerti dan lengkap. Dalam penelitian ini dilakukan survei pendahuluan untuk memperoleh tujuan tersebut. Survei pendahuluan dilakukan terhadap beberapa pihak yang dianggap ahli dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat untuk mendapatkan bentuk kuisioner yang baik dan lengkap. Responden dapat mengurangi atau menambah variabel jika dianggap perlu. Setelah dilakukan penyempurnaan terhadap kuisioner awal pada lampiran 1, didapat bentuk kuisioner akhir seperti pada lampiran 2. Variabel-variabel dipeoleh dari studi literatur serta variabel-variabel tambahan yang relevan dengan kondisi lapangan hasil dari survei pendahuluan. Variabel-variabel baru yang diperoleh dari hasil survei pendahuluan antara lain : 1. Kontinuitas masa sewa 2. Ketersediaan spare part 3. Ketersediaan SDM untuk operator dan maintenance 4. Optimalisasi jam kerja alat

4.2 Pengumpulan Data

Data diperoleh melalui survei dengan bentuk kuisioner yang dilakukan terhadap perusahaan konstruksi gedung dan pabrik dengan golongan Besar dan Menengah di Surabaya. Responden dari penelitian adalah manajer teknik atau pihak yang bertanggung jawab dalam melakukan pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat. Data yang diperoleh adalah data mengenai profil responden dan juga data mengenai penilaian responden terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat.

43

Dari populasi penelitian sebanyak 100 perusahaan, diperoleh 80 responden dari jumlah sampel seharusnya yaitu 80. Adapun perusahaan yang menjadi responden seperti pada tabel. Tabel 4.1. Jumlah Responden
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 Nama Perusahaan KOP. Jasa Manggalakarya Konstruksi PT. Shanty Wiraperkasa PT. Solobhakti Trading & contractor PT. Waringin Megah PT. Widya Satria PT. Aneka Jasa Pembangunan PT. Anggaza Widya Ridha Mulya PT. Anggrek Merah PT. Bintang Berkah Bersama PT. Cipta Karya Bhakti PT. Hastatunggal Persadabhakti PT. Jatim Mustika Sarana Steel PT. Kali Intanasri PT. Komunikanindo Sembada Sejati PT. Modern Surya Jaya PT. Rekayasa Konstruksi PT. Ryantama Citra Karya Abadi PT. Saka PT. Sanggar Adhisarana Teknik PT. Sasmito PT. Surya Bangun Persada Indah PT. Teduh Karya Utama PT. Trisantoso Karya Sejahtera PT. Wira Bumi Sejati PT. Putra Negara PT. Aries Bangn Karsa PT. Bangun Citra Perkasa PT. Ciptakarsa Baja Unggul PT. Citra Nusa Perdana PT. Dua Mutiara Mandiri PT. Ganesha Jaya PT. Guntur Jaya Makmur PT. Hasiholand PT. Jaya Karya PT. Jaya Raya Konstruksi PT. Jaya Mulya Usmini PT. Kartikamarga Jaya PT. Karya Serat Perdasa Teknik Golongan B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B B M M M M M M M M M M M M M M M Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

44

.... Lanjutan Tabel 4.1
No Nama Perusahaan 39 Kopegtel Kandatel SBT 40 PT. Kumala Wandira 41 PT. Marga Utama 42 PT. PT. Media Cipta Sejahtera 43 PT. Prayunita Sakti 44 PT. Rachma Utama 45 PT. Rekayasa Bumi Pertiwi 46 PT. Royan Jaya 47 PT. Sapta Bangun Manunggal 48 PT. Sekawan Sejati Utama 49 PT. Sumber Baru 50 PT. Surya Mandiri Abadi Perkasa 51 PT. Widha Perkasa Qolbunsalam 52 PT. Aprilian Dwipa Internusa 53 PT. Dwiwira Kusuma 54 PT. Eka Bima Pamula Sakti 55 PT. Haris Jaya Utama 56 PT. Jaya Dharmabakti Arthagraha 57 PT. Landas Putra Cahya Perdana 58 PT. Mandhalika Mitrasentosa 59 PT. Media Cipta Perkasa 60 PT. Sahhadi Surya 61 PT. Tukadmas General Contractors 62 PT. Argakencana Persada 63 PT. Arisza 64 PT. Aryana Cakasana 65 PT. Bukidalam Barisani 66 PT. Catur Elang Perkasa 67 PT. Daya Guna Sakti 68 PT. Dian Sentosa 69 PT. Duta Wulyo 70 PT. Erlangga Citra Perkasa 71 PT. Estetika Kencana 72 PT. Inneco Wira Sakti Hutama 73 PT. Makmur Madya Pratama 74 PT. Mawar Ireng 75 PT. Nosa Indah 76 PT. Panca Karya Bersama 77 PT. PT. Primamas Baktitama 78 PT. Sabamas Bangunmega 79 PT. Surya Cipta Nugrahatama 80 PT. Tectonia Grandis Sumber : Data Primer (2006) Golongan M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M M Jumlah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

45

4.2.1

Profil Responden

Dari hasil survei terhadap 80 perusahaan di Surabaya dengan golongan Besar dan Menengah, diperoleh profil responden yang ditunjukkan pada tabel berikut. Tabel 4.2. Ringkasan Data Responden No. 1 2 Uraian Jumlah Responden 80 23 57 80 74 6 80 6 1 2 10 13 4 7 10 1 2 4 2 2 5 2 1 3 1 2 2 80 Prosentase (%) 100 28.75 71.25 100 92.5 7.5 100 7.5 1.25 2.5 12.5 16.25 5 8.75 12.5 1.25 2.5 5 2.5 2.5 6.25 2.5 1.25 3.75 1.25 2.5 2.5 100

Responden Golongan Perusahaan : 1. Besar 2. Menengah Total 3 Jenis Kelamin Responden : 1. Laki-laki 2. Perempuan Total 4 Direktur Estimator Kepala Divisi Proyek Manager Teknik Staff Teknik Project Manager Site Engineer Site Manager Kabag Keuangan Kabag Umum Staff Bagian Umum Logistik Manager Admnistrasi & umum Staff Administrasi Manajer Operasional Staff Operasional Pelaksana Perencanaan Personalia Surveyor Total Sumber : Data Primer Diolah (2006)

Responden dari penelitian ini sebanyak 80 orang. Golongan perusahaan Besar sebanyak 23 (28.75%) dan golongan Menengah sebanyak 57 (71.25 %).

46

Kualifikasi Perusahaan

29% 1. Besar 2. Menengah 71%

Gambar 4.1 Pie Chart Prosentase Golongan Perusahaan
Jenis Kelamin Responden

1. Laki-laki 92% 8% 2. Perempuan

Gambar 4.2. Pie Chart Prosentase Jenis Kelamin Responden Adapun jenis kelamin dari responden terdiri dari 74 orang laki-laki (92.5 %) dan 6 orang Perempuan (7.5 %).

47

Jabatan Responden

Direktur Estimator Kepala Divisi Proyek Manager Teknik

3% 1% 1%3% 3% 4% 6% 3% 3% 5% 3% 1% 13% 9%

8%

1% 3% 13%

Staff Teknik Project Manager Site Engineer Site Manager 16% Kabag Keuangan Kabag Umum Staff Bagian Umum Logistik

5%

Gambar 4.3. Pie Chart Jabatan Responden Jika dilihat secara struktur organisasi, ada beberapa jabatan dari responden yang kurang berwenang dalam proses pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat, namun responden merupakan orang-orang yang pernah terlibat dalam pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat.
4.2.2 Deskripsi Jenis Alat Berat Yang Banyak Disewa Oleh Responden

Berdasarkan hasil survei diketahui beberapa jenis alat berat yang disewa dan jangka waktu sewa yang dilakukan oleh perusahaan konstruksi di Surabaya. Tabel 4.3. Jenis alat berat yang sering disewa oleh responden Jenis Alat yang disewa Alat Pemancang (Pile Hammer) Dump Truck Excavator Forklift Ponton Scafolding Pompa air Motor Grader Kompressor Pompa Beton Vibro roller Walles Tandem Roller Crane 10 Ton Crane 35 Ton Wheel Loader Drager Dozer minggu 1 Waktu sewa bulan 1;2;6 1;2;6; 8 1; 2 ;3;4;6 1 8 1;3;5 1 2 6 2 3 2;6 6 2;6 2;6 1 Tahun

1.5 1

1 2 2

1 1

48

............lanjutan tabel 4.3 Jenis Alat yang disewa Genset Tanki Air Stamper Aspalt Finisher Aspalt Spryer Concrete Vibrator Sumber : Data Primer Diolah (2006) minggu Waktu sewa bulan 3 2 2 2 2 Tahun 1.5

1

Jenis lat-alat berat yang disewa oleh kebanyakan perusahaan konstruksi bervariasi dan jangka waktu sewa yang beragam. Untuk jenis alat pengolah lahan seperti Dozer dengan jangka waktu penyewaan selama 2 hingga 6 bulan. Alat penggali seperti excavator dengan lama penyewaan antara 1 hingga 6 bulan. Jenis alat pengangkut material seperti crane dengan lama penyewaan antra 1 bulan hingga 1 tahun. Perbedaan jangka waktu sewa disesuaikan dengan kebutuhan setiap jenis pekerjaan pada proyek dan waktu pelaksanaannya.
4.2.3 Deskripsi Penilaian Responden terhadap Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dalam Pengambilan Keputusan

Deskripsi hasil penilaian responden terhadap variabel-variabel yang memepengaruhi dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat, disajkan dalam bentuk ringkasan dalam tabel. Tabel 4.4. Skor Penilaian Responden terhadap variabel X1, X2, X3 dan X4 Σ (%) Sangat Tidak Penting 12 15.00 Tidak Penting 8 10.00 Cukup Penting 24 30.00 Penting 30 37.50 Sangat Penting 6 7.50 80 100 Total Sumber : Data Primer Diolah (2006)
Skala Penilaian X1 X2 X3 X4

Σ 2 10 17 41 10 80

(%) 2.50 12.50 21.25 51.25 12.50 100

Σ 0 4 9 30 37 80

(%) 0.00 5.00 11.25 37.50 46.25 100

Σ 1 11 8 24 36 80

(%) 1.25 13.75 10.00 30.00 45.00 100

Berdasarkan persepsi dari 80 responden, variabel Naluri (Instict) (X1) dan Kebiasaan (X2) dinilai penting, sedangkan variabel Pengalaman (X3) dan

49

Pemulihan investasi (Payback Period) (X4) dinilai sangat penting dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat. Tabel 4.5. Skor Penilaian Responden terhadap variabel X5, X6, X7 dan X8 Σ (%) Sangat Tidak Penting 2 2.50 Tidak Penting 2 2.50 Cukup Penting 21 26.25 Penting 45 56.25 Sangat Penting 10 12.50 80 100 Total Sumber : Data Primer Diolah (2006)
Skala Penilaian X5 X6 X7 X8

Σ 3 3 20 45 9 80

(%) 3.75 3.75 25.00 56.25 11.25 100

Σ 3 9 27 32 9 80

(%) 3.75 11.25 33.75 40.00 11.25 100

Σ 5 6 30 29 10 80

(%) 6.25 7.50 37.50 36.25 12.50 100

Variabel Nilai sekarang (Present value) (X5), NPV (Net Present Value) (X6) dan Tingkat balikan internal (internal rate of return atau IRR) atau Discounted Cash Flow (X7) dinilai penting menurut responden, sedangkan variabel Modified internal rate of return (MIRR) (X8) dinilai cukup penting. Tabel 4.6. Skor Penilaian Responden terhadap variabel X9, X10, X11 dan X12
X9 Σ (%) Sangat Tidak Penting 1 1.25 Tidak Penting 4 5.00 Cukup Penting 34 42.50 Penting 26 32.50 Sangat Penting 15 18.75 80 100 Total Sumber : Data Primer Diolah (2006) Skala Penilaian

Σ 0 3 26 42 9 80

X10 (%) 0.00 3.75 32.50 52.50 11.25 100

Σ 2 3 35 27 13 80

X11 (%) 2.50 3.75 43.75 33.75 16.25 100

Σ 1 2 22 36 19 80

X12 (%) 1.25 2.50 27.50 45.00 23.75 100

Tingkat balikan akunting rata-rata (average accounting rate of return atau AARR) (X9) dan Inflasi (X11) menurut para responden dinilai cukup penting. Dan variabel Indeks kemapulabaan (profitability index) (X10) dan Biaya Modal (X12) dinilai penting.

50

Tabel 4.7. Skor Penilaian Responden terhadap variabel X13, X14, X15 dan X16
X13 Σ (%) Sangat Tidak Penting 1 1.25 Tidak Penting 4 5.00 Cukup Penting 20 25.00 Penting 48 60.00 Sangat Penting 7 8.75 80 100 Total Sumber : Data Primer Diolah (2006) Skala Penilaian

Σ 1 3 19 38 19 80

X14 (%) 1.25 3.75 23.75 47.50 23.75 100

Σ 2 2 19 37 20 80

X15 (%) 2.50 2.50 23.75 46.25 25.00 100

Σ 1 10 22 38 9 80

X16 (%) 1.25 12.50 27.50 47.50 11.25 100

Keempat variabel pada tabel 4.7. diatas, yaitu Bunga (interest) (X13), Asuransi (X14), Pajak (X15) dan Penyimpanan (X16) dinilai penting berdasarkan persepsi dari 80 responden. Tabel 4.8. Skor Penilaian Responden terhadap variabel X17, X18, X19 dan X20
X17 Σ (%) Sangat Tidak Penting 0 0.00 Tidak Penting 0 0.00 Cukup Penting 9 11.25 Penting 46 57.50 Sangat Penting 25 31.25 80 100 Total Sumber : Data Primer Diolah (2006) Skala Penilaian X18 Σ (%) 2 2.50 0 0.00 5 6.25 40 50.00 33 41.25 80 100 X19 Σ (%) 3 3.75 1 1.25 4 5.00 38 47.50 34 42.50 80 100 X20 Σ (%) 1 1.25 1 1.25 8 10.00 28 35.00 42 52.50 80 100

Ukuran proyek (X17), Jumlah Proyek (X18), Fasilitas pemeliharaan (X19) penting bagi dasar pengambilan keputusan menyewa alat berat, sedangkan Cash flow (X20) dinilai sangat penting bagi responden. Tabel 4.9. Skor Penilaian Responden terhadap variabel X21, X22, X23 dan X24
X21 Σ (%) Sangat Tidak Penting 0 0.00 Tidak Penting 4 5.00 Cukup Penting 47 58.75 Penting 21 26.25 Sangat Penting 8 10.00 80 100 Total Sumber : Data Primer Diolah (2006) Skala Penilaian X22 Σ (%) 0 0.00 0 0.00 7 8.75 23 28.75 50 62.50 80 100 X23 Σ (%) 1 1.25 2 2.50 34 42.50 21 26.25 22 27.50 80 100 X24 Σ (%) 0 0.00 2 2.50 10 12.50 48 60.00 20 25.00 80 100

51

Variabel Ekonomi (Dampak Sosial-Ekonomi-Lingkungan) (X21) dan Fleksibilitas Dari Mekanisme Sewa (X23) cukup penting sebagai dasar pertimbangan menyewa dan umur peralatan (X24) dinilai penting. Dan Jadwal Proyek (X22) merupakan variabel yang sangat penting bagi dasar pertimbangan menyewa alat menurut persepsi dari responden. Tabel 4.10. Skor Penilaian Responden terhadap variabel X25, X26, X27 dan X28
X25 Σ (%) Sangat Tidak Penting 2 2.50 Tidak Penting 6 7.50 Cukup Penting 34 42.50 Penting 31 38.75 Sangat Penting 7 8.75 80 100 Total Sumber : Data Primer Diolah (2006) Skala Penilaian

Σ 0 0 22 34 24 80

X26 (%) 0.00 0.00 27.50 42.50 30.00 100

Σ 2 0 12 42 24 80

X27 (%) 2.50 0.00 15.00 52.50 30.00 100

Σ 2 0 9 31 38 80

X28 (%) 2.50 0.00 11.25 38.75 47.50 100

Dan variabel Penjualan kembali (X25) dinilai cukup penting. Kontinuitas masa sewa (X26) dan Ketersediaan spare part (X27) merupakan variabel yang penting bagi responden. Namun Ketersediaan SDM untuk operator dan maintenance (X28) merupakan variabel yang sangat penting. Tabel 4.11. Skor Penilaian Responden terhadap variabel X29
X29 Σ (%) Sangat Tidak Penting 1 1.25 Tidak Penting 0 0.00 Cukup Penting 10 12.50 Penting 37 46.25 Sangat Penting 32 40.00 80 100 Total Sumber : Data Primer Diolah (2006) Skala Penilaian

Menurut responden, Optimalisai jam kerja alat (X29) penting sebagai dasar pertimbangan menyewa alat.

52

BAB 5 ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
5.1 Uji Validitas

Uji validitas merupakan pengujian terhadap alat ukur, dimana setiap pertanyaan dalam penelitian ini dikatakan valid jika mengukur aspek yang sama. Hipotesa yang digunakan dalam pengujian validitas adalah sebagai berikut : H0 : Atribut tidak mengukur aspek / dimensi yang sama H1 : Atribut mengukur aspek / dimensi yang sama Jika nilai r lebih besar dari titik kritis ( r≥ r tabel) untuk taraf signifikan 5%, maka H0 ditolak. Artinya ada hubungan antar variable atau atribut valid. Pada penelitian ini untuk 80 responden diperoleh r tabel sebesar 0.14480 (lampiran 7 halaman 104–105). Dapat dilihat pada tabel bahwa seluruh variabel memiliki nilai korelasi lebih besar dari nilai r tabel, sehingga dapat dikatakan bahwa alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini sudah tepat atau dapat mengukur aspek yang sama. Dengan bantuan software SPSS Release 10.0 diperoleh hasil pengujian validitas pada variabel yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat seperti pada tabel 5.1. Hasil perhitungan terlampir pada lampiran 6 halaman 102. Tabel 5.1 Uji Validitas
No X1 Variabel Naluri (Instinct) r hitung r tabel Keterangan

X2 X3 X4 X5 X6 X7

Kebiasaan Pembelajaran/Pengalaman Pemulihan Investasi (Payback Period) Nilai Sekarang (Present Value) NPV (Net Present Value) Tingkat Balikan Internal (Internal Rate of Return atau IRR) atau Discounted Cash Flow

0.8895 0.8921 0.8850 0.8765 0.8815 0.8734 0.8796

0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480

Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

53

......lanjutan tabel 5.1
No X8 Variabel Modified Internal Rate of Return (MIRR) X9 Tingkat Balikan Akunting rata-rata (Average Accounting Rate of Return Atau AARR) X10 Indeks Kemampulabaan (Profitability Index) X11 Inflasi r hitung r tabel Keterangan

0.8843 0.8760 0.8771 0.8763 0.8769 0.8756 0.8799 0.8783 0.8799 0.8848 0.8821 0.8766 0.8770 0.8828 0.8834 0.8779 0.8790 0.8777 0.8816 0.8781 0.8759 0.8805

0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480 0.14480

Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

X12 Biaya Modal X13 Bunga (Interest) X14 Asuransi X15 Pajak X16 Penyimpanan X17 Ukuran Proyek X18 JumlahProyek X19 Fasilitas Pemeliharaan X20 Cash Flow (Aliran Kas) X21 Ekonomi (Dampak SosialEkonomi-Lingkungan) X22 Jadwal Proyek X23 Fleksibilitas dari mekanisme Sewa X24 Umur Peralatan X25 Penjualan Kembali (Resale Value) X26 Kontinuitas masa sewa X27 Ketersediaan spare part X28 Ketersediaan SDM untuk operator dan maintenance X29 Optimalisasi jam kerja alat

Sumber : Hasil Olah Data Primer (2006)

5.2 Uji Reabilitas

Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan.

54

Hipotesa yang digunakan untuk pengujian reliabilitas adalah sebagai berikut : H0 : atribut tidak reliabel H1 : atribut reliabel Berdasarkan hasil uji reabilitas dengan bantuan software SPSS Release 10.0 for Windows terhadap data yang mempengaruhi menyewa alat berat, diperoleh nilai alpha sebesar 0.8837. Terlihat bahwa nilai alpha lebih besar dari r tabel sebesar 0.14480, maka tolak H0. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel yang digunakan untuk mencari faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat adalah reliabel. Hasil perhitungan terlampir pada lampiran 6 halaman 103.

5.3 Uji Distribusi Normal Multivariat

Asumsi yang harus dipenuhi dalam analisa faktor,

PCA (Principal

Component Analysis), adalah data berdistribusi normal multivariat. Sehingga langkah kedua yaitu pengujian distribusi normal multivariat untuk seluruh data. Hipothesis : H0 : Data mengikuti sebaran distribusi multinormal H1 : Data tidak mengikuti sebaran distribusi multinormal Dari pengujian yang dilakukan untuk seluruh data didapatkan daerah dibawah kurva Chi-Square = 76.25 atau nilai d2j yang kurang dari χ2 (10; 0,.5) lebih dari 50 %. Sehingga didapatkan kesimpulan gagal tolak H0, artinya data mengikuti sebaran distribusi multinormal. Berikut ini adalah plot dari uji multinormal. Hasil perhitungan terlampir pada lampiran 6 halaman 106.

55

PLOT DATA UJI MULTINORMAL
50

40

q

30

20

10 10 20 30 40 50 60 70

dd

Gambar 5.1 Uji Multinormal

5.4 Analisa Deskriptif

Analisa

deskriptif

dilakukan

untuk

memberikan

gambaran

dari

kecenderungan jawaban responden terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat. Nilai yang digunakan unduk menggambarkan kecenderungan jawaban responden adalah mean significace index. Hasil perhitungan terlampir pada lampiran 9 halaman 107.
4.5 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15 3.7 3.89 3.89

Series1 3.13 3.59 4.25 4.04 3.74 3.68 3.44 3.41 3.59 3.71 3.58 3.88

Gambar 5.2 Grafik Mean Significance index X1 – X15

56

5 4 3 2 1 0

X16

X17

X18

X19

X20

X21

X22

X23

X24

X25

X26

X27

X28

X29

Series1 3.55

4.2 4.275 4.238 4.363 3.413 4.538 3.763 4.075 3.438 4.025 4.075 4.288 4.238

Gambar 5.3 Grafik Mean Significance index X16 – X29 Lima variabel yang memiliki nilai mean significance index tertinggi berdasarkan hasil pengisian kuisioner oleh responden adalah variabel X22 (Jadwal Proyek), X20 (Cash Flow), X28 (Ketersediaan SDM untuk operator dan maintenance), X18 (Jumlah Proyek) dan X3 (Pengalaman).

5.5 Hasil Analisis Faktor Terhadap Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Dalam Pengambilan Keputusan Menyewa Alat Berat

Proses analisa faktor mencoba menemukan hubungan (interrelationship) antar sejumlah variabel-variabel yang saling independen satu dengan yang lain sehingga bisa dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah variabel. Analisis faktor dipakai untuk menggambarkan hubungan atau korelasi dari beberapa variabel dalam sejumlah kecil faktor. Variabel-variabel ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa faktor dimana variabel-variabel dalam satu faktor mempunyai korelasi yang tinggi sedangkan korelasi dengan variabelvariabel pada faktor lain relatif rendah. Dalam analisa faktor ini dilakukan beberapa kali iterasi; uji KMO, uji Bartlett dan Uji Korelasi Anti Image sebelum dilakukan penetapan faktor utama. Jika ada variabel yang memiliki korelasi yang kecil (MSA<0.5) maka variabel yang memiliki korelasi yang kecil harus dikeluarkan satu-persatu dari analisa selanjutnya hingga diperoleh seluruh variabel dalam matrik korelasi anti image yang bernilai korelasi > 0.5. MSA ditunjukkan oleh nilai pada diagonal korelasi anti image yang berlabel (a).

57

5.5.1

Hasil Uji Kelayakan Data untuk Analisa Faktor

Untuk mendapatkan hasil dari uji kelayakan data untuk analisa faktor yang memiliki nilai MSA dari variabel diatas 0.5 dilakukan dengan itrerasi sebanyak 4 kali. 5.5.1.1 Iterasi Pertama a. Uji KMO (Kaiser-Meyer-Olkin) Uji KMO bertujuan untuk mengetahui apakah semua data yang telah terambil telah cukup untuk dapat difaktorkan. Dalam uji ini, bila data yang kita peroleh kurang dari 100, maka nilai KMO haruslah lebih dari 0.5. Pada iterasi pertama nilai KMO dari 29 variabel yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat yang layak digunakan dalan analisa faktor sebesar 0.686. b. Uji Bartlett Uji Bartlett bertujuan untuk menunjukkan apakah tiap variabel mempunyai nilai korelasi yang besar dengan variabel yang lain atau tidak. Hipotesis : Ho : R = 1 (matrik korelasi sama dengan matrik identitas) / tidak terdapat korelasi H1 : R ≠ 1 (matrik korelasi tidak sama dengan matrik identitas) / terdapat korelasi Apabila V-Bartlet ≥

χ 2 ( g −1)(α ) p

, maka gagal tolak Ho, sehingga dapat

diartikan bahwa terdapat korelasi antar variabel Diperoleh Pvalue dari Uji Bartlett sebesar 0.000 dengan α=0.05. Karena 0.000<0.05, maka dapat diartikan bahwa terdapat korelasi antar variabel . c. Korelasi Anti Image Untuk pengujian korelasi parsial maka digunakan korelasi anti image. Pada korelasi anti image, nilai MSA (Measure of Sampling Adequacy) pada setiap variabel semakin memperkuat bukti bahwa antar

58

variabel saling terkait sehingga pemakaian analisis faktor pada data ini dapat dianggap tepat. MSA digunakan untuk mengukur dua hubungan yaitu korelasi seluruh variabel terhadap kelayakan untuk digunakan dalam analisis faktor. Nilai MSA berkisar 0 sampai dengan 1 dengan kriteria : 1. MSA=1, variabel tersebut dapat diprediksi tanpa kesalahan oleh variabel lain. 2. MSA>0.5, variabel masih bisa diprediksi dan bisa dianalisis lebih lanjut 3. MSA<0.5, variabel tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dianalisis lebih lanjut, atau dikeluarkan dari variabel lainnya. MSA ditunjukkan oleh nilai pada diagonal korelasi anti image yang berlabel (a). Sesuai dengan prosedur maka variabel yang bernilai paling kecil dikeluarkan terlebih dahulu dari analisa. Pada iterasi pertama, terdapat 2 variabel yang memiliki nilai MSA dibawah 0.5 yaitu variabel X1 (Naluri) sebesar 0.417 dan X3 (Pengalaman) sebesar 0.397. Variabel yang memiliki nilai MSA terkecil direduksi atau dikeluarkan pada iterasi kedua. Hasil perhitungan terlampir pada lampiran 9 halaman 108. 5.5.1.2 Iterasi Kedua a. Uji KMO (Kaiser-Meyer-Olkin) Nilai KMO dari 28 variabel pada itersi kedua sebesar 0.706. Karena nilai KMO sudah lebih besar dari 0.5 maka jumlah data cukup untuk dianalisis. b. Uji Bartlett Pada iterasi kedua diperoleh Pvalue dari Uji Bartlett sebesar 0.000 dengan α=0.10. Karena 0.000<0.10, maka dapat diartikan bahwa terdapat korelasi antar variabel. c. Korelasi Anti Image Terdapat satu variabel yang memiliki nilai MSA dibawah 0.5 yaitu variabel X2 (Kebiasaan) sebesar 0.458. Sehingga pada iterasi berikutnya

59

variabel ini tereduksi. Hasil perhitungan terlampir pada lampiran 9 halaman 109. 5.5.1.3 Iterasi Ketiga a. Uji KMO (Kaiser-Meyer-Olkin) Nilai KMO dari 27 variabel pada itersi ketiga sebesar 0.733. Karena nilai KMO sudah lebih besar dari 0.5 maka jumlah data cukup untuk dianalisis. b. Uji Bartlett Pada iterasi ketiga diperoleh Pvalue dari Uji Bartlett sebesar 0.000 dengan α=0.10. Karena 0.000<0.10, maka dapat diartikan bahwa terdapat korelasi antar variabel. c. Korelasi Anti Image Pada itersi ketiga masih terdapat satu variabel yang memiliki nilai MSA dibawah 0.5 yaitu variabel X8 (MIRR) sebesar 0.497. Sehingga pada iterasi berikutnya variabel ini harus dikeluarkan. Hasil perhitungan terlampir pada lampiran 9 halaman 110. 5.5.1.4 Iterasi Keempat a. Uji KMO (Kaiser-Meyer-Olkin) Nilai KMO dari 26 variabel pada itersi keempat sebesar 0.733. Karena nilai KMO sudah lebih besar dari 0.5 maka jumlah data cukup untuk dianalisis. b. Uji Bartlett Pada iterasi keempat diperoleh Pvalue dari Uji Bartlett sebesar 0.000 dengan α=0.10. Karena 0.000<0.10, maka dapat diartikan bahwa terdapat korelasi antar variabel. c. Korelasi Anti Image Pada iterasi keempat, seluruh variabel telah memiliki nilai MSA > 0.5 sehingga dapat dilanjutkan pada analisa berikutnya yaitu analisa komponen utama. Perhitungan MSA pada variabel-variabel yang mempengaruhi pada pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat, untuk sampai pada kelompok variabel dengan MSA > 0.5, melalui 4 iterasi. Pada setiap

60

iterasi terdapat 1 variabel yang dikeluarkan dari model karena nilai MSA < 0.5. pada data ini terdapat 3 faktor yang tereduksi, yaitu variabel kebiasaan (X2), Pengalaman (X3) dan Modified Internal Rate of Return (X8). Hasil perhitungan terlampir pada lampiran 9 halaman 111. Maka 26 variabel ini dapat diprediksi dan bisa dianalisis lebih lanjut. Tabel 5.2. Nilai MSA Hasil Analisa Faktor
Variabel Nilai MSA X1 0.565 X4 0.858 X5 0.584 X6 0.871 X7 0.677 X9 0.836 X10 0.852 X11 0.805 X12 0.758 X13 0.790 X14 0.740 X15 0.741 X16 0.603 Sumber : Data Primer Diolah (2006) 5.5.2 Variabel X17 X18 X19 X20 X21 X22 X23 X24 X25 X26 X27 X28 X29 Nilai MSA 0.570 0.568 0.819 0.764 0.544 0.689 0.769 0.745 0.774 0.786 0.728 0.793 0.669

Analisa Komponen Utama (Principal Komponen Analysis)

Analisa Komponen Utama (Principal Komponen Analysis) merupakan suatu prosedur yang menawarkan reduksi banyak variabel yang berkorelasi menjadi sejumlah komponen yang tidak berkorelasi. Metode ini berguna dalam menjelaskan keeratan hubungan (dependensi) antar sekumpulan variabel dan juga dalam menentukan pengelompokan variabel. Pada analisa ini akan diketahui banyaknya faktor yang dapat terbentuk dengan melihat nilai eigen yang lebih dari satu, persentase varian nilai eigen, hasil kumulatif dari presentase varian nilai eigen minimal 70 % dan screen plotnya. Nilai eigen menunjukkan kepentingan relatif masing-masing faktor dalam menghitung varians variabel yang akan dianalisis. Dari hasil analisis faktor diketahui bahwa berdasarkan kriteria nilai eigin, komponen yang memiliki nilai eigin lebih besar dari satu ada 8 komponen. Sehingga nantinya akan terbentuk 8 komponen atau 8 faktor. Sedangkan hasil

61

kumulatif proporsi keragaman yang mampu dijelaskan sebesar 73.966%. Hasil perhitungan terlampir pada lampiran 9 halaman 113. Tabel 5.3 Hasil Ekstraksi Faktor Nilai Eigen Komponen Total Keragaman (%) Keragaman Kumulatif (%) 30.251 41.193 48.912 55.683 60.857 65.591 70.053 73.966 77.388 80.443 82.919 85.280 87.422 89.270 90.926 92.430 93.808 94.898 95.832 96.752 97.541 98.234 98.791 99.264 99.682 100.00 Keterangan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan Tidak Digunakan

30.251 7.865 1 10.941 2.845 2 7.720 2.007 3 6.771 1.760 4 5.175 1.345 5 4.733 1.231 6 4.462 1.160 7 3.913 1.017 8 3.422 0.890 9 3.055 0.794 10 2.477 0.644 11 2.361 0.614 12 2.124 0.557 13 1.848 0.480 14 1.656 0.430 15 1.504 0.391 16 1.377 0.358 17 1.090 0.283 18 0.934 0.243 19 0.920 0.239 20 0.789 0.205 21 0.693 0.180 22 0.557 0.145 23 0.474 0.123 24 0.418 0.109 25 0.318 8.262E-02 26 Sumber : Data Primer Diolah (2006)

62

Scree Plot
10

8

6

4

Eigenvalue

2

0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25

Component Number

Gambar 5.4 Scree Plot Jika pada tabel menjelaskan dasar jumlah faktor yang didapat dengan perhitungan angka, maka screen plot menampakkan hal tersebut dengan grafik. Hal ini menunjukkan bahwa 8 faktor adalah yang paling bagus untuk meringkas keduapuluhenam variabel tersebut.
5.5.3 Komunalitas

Setelah terekstrak menjadi bebrapa faktor, selanjutnya akan diukur seberapa besar keragaman setiap variabel asal yang dapat diterangkan oleh hasil ekstraksi faktor. Besar keragaman setiap variabel asal ini dikenal dengan istilah komunalitas. Nilai Komunalitas diperoleh dengan menghitung jumlah kuadrat loading faktor setiap variabel asal. Semakin kecil communalities sebuah variabel, berarti semakin lemah hubungannya dengan faktor yang terbentuk. Tabel menunjukkan hasil ekstraksi seluruh faktor yang terbentuk dan perubahan nilai komunalitas yang terjadi. Nilai komunalitas untuk seluruh variabel setelah diekstrak menjadi beberapa faktor umumnya berada diatas 0.5. artinya common faktor masih cukup kuat dalam menjelaskan keragaman variabel asal. Hasil perhitungan terlampir pada lampiran 9 halaman 112.

63

Tabel 5.4. Nilai Komunalitas Setiap Variabel
No Kode Variabel Nilai Komunalitas 0.764 0.711 0.680

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

X1 X4 X5 X6 X7 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X20 X21 X22 X23 X24 X25 X26 X27 X28

Naluri (Instinct) Pemulihan Investasi (Payback Period) Nilai Sekarang (Present Value) NPV (Net Present Value) Tingkat Balikan Internal (Internal Rate of Return atau IRR) atau Discounted Cash Flow Tingkat Balikan Akunting rata-rata (Average Accounting Rate of Return Atau AARR) Indeks Kemampulabaan (Profitability Index) Inflasi Biaya Modal Bunga (Interest) Asuransi Pajak Penyimpanan Ukuran Proyek JumlahProyek Fasilitas Pemeliharaan Cash Flow (Aliran Kas) Ekonomi (Dampak Lingkungan) Jadwal Proyek Umur Peralatan Penjualan Kembali (Resale Value) Kontinuitas masa sewa Ketersediaan spare part Ketersediaan SDM untuk operator dan maintenance Optimalisasi jam kerja alat Sosial-Ekonomi-

0.656 0.772 0.638 0.666 0.809 0.737 0.753 0.762 0.855 0.826 0.690 0.865 0.758 0.744 0.746 0.613 0.699 0.762 0.731 0.702 0.709 0.840 0.747

Fleksibilitas dari mekanisme Sewa

26 X29 Sumber : Data Primer Diolah (2006)

64

5.5.4

Pola Matriks Sesudah Rotasi

Komponen yang terbentuk pada analisis faktor dapat dilihat pada komponen matriks. Nilai-nilai pada kolom komponen matriks menunjukkan factor loadings yang menyatakan besar korelasi antara suatu variabel dengan faktor satu dan faktor dua. Penentuan variabel mana yang akan masuk ke suatu faktor dilakukan dengan melakukan perbandingan besar korelasi pada setiap baris. Suatu variabel dimasukkan di komponen yang nilai factor loadingnya terbesar. Transformasi matriks loading dilakukan dengan merotasi matrik tersebut dengan metode rotasi tegak lurus varimax. Hasil rotasi ini mengakibatkan setiap variabel asal mempunyai korelasi tinggi dengan faktor tertentu saja dan dengan faktor yang lain korelasi relatif rendah. Sehingga setiap faktor akan lebih mudah diinterpretasikan. Tabel menunjukkan hasil ringkasan masing-masing 8 faktor yang terbentuk dari 26 variabel yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat. Hasil perhitungan terlampir pada lampiran 9 halaman 115. Tabel 5.5 Hasil Bentukan Faktor
Faktor Nama Kode Variabel Total Keragaman (%) Loading

X27 X26 1 Faktor Operasional X29 X23 X4 Faktor Kelayakan Investasi X5 X13 X20 X6 X28

2

Ketersediaan spare part Kontinuitas dari masa sewa Ketersediaan SDM untuk operator dan maintenance Optimalisasi jam kerja alat Fleksibilitas dari mekanisme sewa Pemulihan Investasi (Payback Period) Nilai Sekarang (Present Value) Bunga (Interest) Cash Flow (Aliran Kas) Net Present Value (NPV)

0.763 0.748 0.736 30.251 % 0.647 0.470 0.785 0.650 10.941 % 0.607 0.584 0.541

65

....lanjutan tabel 5.5
Faktor Nama Kode Variabel Total Keragaman (%) Loading

X7 X12 X11 X9 X16 X19 X10 X15 X14 X24 X21 X17 X18 X22 X1 X25

3

Faktor Modal

4

Faktor Sarana dan Prasarana Faktor Kewajiban dan Asuransi Faktor Alat dan Lingkungan Proyek Faktor Proyek Faktor Instict dan Nilai alat

5

Internal Rate of Return (IRR) Biaya Modal Inflasi Tingkat Balikan Akunting Rata-rata (AARR) Penyimpanan Fasilitas pemeliharaan Indeks Kemampulabaan (Profitability Index) Pajak Asuransi Umur peralatan Ekonomi (Dampak Sosial-EkonomiLingkungan) Ukuran Proyek Jumlah Proyek Jadwal Proyek Naluri Penjualan Kembali (resale value)

0.521 0.754 0.742 0.435 0.782 0.739 0.402 0.802 0.746 0.784 0.753 4.733 % 0.567 0.798 0.701 0.812 0.489

7.720 %

6.771 %

5.175 %

6

7 8

4.462 % 3.913 %

Sumber : Data Primer Diolah (2006) Berdasarkan hasil bentukan faktor pada tabel 5.5 kemudian dilakukan penamaan untuk masing-masing faktor yang terbentuk. Faktor 1 diberikan nama Faktor Operasional. Nama ini diberikan dengan pertimbangan bahwa kelima variabel pembentuk faktor 1 mempunyai kaitan dengan kegiatan pelaksanaan menyewa alat, ketersediaan suku cadang, sumber daya manusia dan mekanisme sewa. Faktor 2 adalah faktor operating cost dimana pada faktor-faktor ini pembentuknya berkaitan dengan penilaian kelayakan investasi yang berpengaruh pada biaya operasional pada proyek. Faktor 3 diberi nama faktor modal karena pembentuk faktornya berhubungan dengan modal yang dimilik perusahaan untuk proyek. Faktor 4 diberi nama faktor sarana dan prasarana, karena variabel-variabel

66

pada faktor ini berhubungan dengan adanya fasilitas untuk menyimpan alat dan fasilitas untuk pemeliharaan alat. Faktor 5 diberi nama Faktor kewajiban dan asuransi. Pada faktor ini variabelnya berhubungan dengan beban pajak dan asuransi. Faktor 6 adalah faktor alat dan lingkungan proyek. Karen pada faktor ini menjelaskan tentang umur alat, dampak sosioekonomi dan ukuran proyek. Faktor 7 adalah faktor proyek , dimana pada faktor variabelnya menjelaskan tentang jumlah proyek dan jadwal proyek yang dikerjakan oleh kontraktor. Faktor 8 adalah faktor instict dan niali alat.
5.6 Hasil Analisis Cluster

Pada analisis cluster pengelompokan terhadap 80 responden dilakukan berdasarkan golongan perusahaan yaitu Besar dan Menengah. Perusahaan dengan golongan Besar sebanyak 23 perusahaan, yang pada analisa selanjutnya di sebut Kelas 1. Dan 57 Perusahaan golongan Menengah yang disebut Kelas 2 pada analisa selanjutnya untuk memudahkan dalam analisa diskriminan.
5.7 Hasil Analisis Diskriminan Terhadap Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Dalam Pengambilan Keputusan Menyewa Alat Berat

Analisis Diskriminan ini bertujuan untuk membuat sebuah model regresi, yakni adanya sebuah variabel dependen, dan satu atau lebih variabel independen. Perbedaan dengan model regresi adalah pada jenis data pada variabel dependen yang berupa data kategori, yaitu kelas (golongan) perusahaan Besar dan Menengah. Pengolahan analisa diskriminan dengan menggunakan bantuan software SPSS Release 10.0.
5.7.1 Pengujian Box’s M

Tabel 5.6 Hasil Pengujian Box’s M
Test Results Box's M F 17.921 Approx. 2.822 df1 6 df2 11282.060 Sig. .010

Tests null hypothesis of equal population covariance matrices

67

Sumber : Data Primer Diolah (2006) α :10 % Hipotesa : H0 : group covarian matrices adalah relatif sama H1 : group covarian matrices adalah berbeda secara nyata Nilai Sig. Dari Tes Box’s M ≥ 0.01, maka terima H0. Berarti group covariance matrices adalah sama. Hal ini berarti data diatas sudah memenuhi asusmi analisis diskriminan, sehingga proses bisa dilanjutkan.

5.7.2

Stepwise Statistics

Tabel 5.7 Wilks’ Lamda
a,b,c,d Variables Entered/Removed

Wilks' Lambda Exact F Step 1 2 3 Entered X6 X15 X17 Statistic .888 .840 .793 df1 1 2 3 df2 1 1 1 df3 78.000 78.000 78.000 Statistic 9.881 7.316 6.632 df1 1 2 3 df2 78.000 77.000 76.000 Sig. .002 .001 .000

At each step, the variable that minimizes the overall Wilks' Lambda is entered. a. Maximum number of steps is 58. b. Maximum significance of F to enter is .05. c. Minimum significance of F to remove is .10. d. F level, tolerance, or VIN insufficient for further computation.

Sumber : Data Primer Diolah (2006) Wilks’ Lamda pada prinsipnya adalah varians total dalam diskriminant scores yang tidak bisa dijelaskan oleh perbedaan diantara kelas Besar dan Menengah. Pada step 1, dimasukkan variabel X6 (NPV) dengan angka Wilks’ Lamda adalah 0.888. hal ini berarti 88.8 % varians tidak dapat dijelaskan oleh perbedaan antar kelas. Kemudian pada step 2, dengan tambahan variabel X15 (Pajak), angka Wilks’ Lamda turun menjadi 0.840. dan pada step 3, variabel X17 (Ukuran Proyek), angka itu turun lagi menjadi 0.793. Penurunan angka Wilks’ Lamda tentu baik bagi model diskriminan. Karena varians yang tidak bisa dijelaskan juga menjadi semakin kecil (dari 88.8% menjadi 79.3%).

68

Dari kolom F dan signifikansinya, ketiga variabel adalah signifikan secara statistik. Hal ini berarti ketiga variabel tersebut yaitu X6 (NPV), X15 (Pajak) dan X17 (Ukuran Proyek) memang berbeda untuk kedua tipe konsumen.
5.7.3 Canonical Correlation

Canonical Correlation mengukur keeratan hubungan antara discriminant score dengan kelas. Tabel 5.8 Eigenvalues
Eigenvalues % of Variance 100.0 Cumulativ e% 100.0 Canonical Correlation .455

Function 1

Eigenvalue .262a

a. First 1 canonical discriminant functions were used in the analysis.

Sumber : Data Primer Diolah (2006) Angka 0.455 menunjukkan keeratan yang cukup tinggi, dengan ukuran skala asosiasi antara 0 sampai 1. Tabel 5.9. Wilks’ Lamda
Wilks' Lambda Wilks' Lambda .793 Chi-squar e 17.788

Test of Function(s) 1

df 3

Sig. .000

Sumber : Data Primer Diolah (2006) Angka Chi-Square sebesar 19.321 dengan tingkat signifikansi yang tinggi menunjukkan perbedaan yang jelas antara dua kelas yaitu perusahaan Besar dan Menengah.

69

5.7.4

Fungsi Diskriminan

Tabel 5.10 Koefisien Fungsi Diskriminan
Canonical Discriminant Function Coefficients Function 1 .781 .660 -.868 -1.793

X6 X15 X17 (Constant)

Unstandardized coefficients

Sumber : Data Primer Diolah (2006) Dari tabel diatas diperoleh fungsi diskriminan :
Y=-1.793 + 0.781 X6 + 0.660 X15 - 0.868 X17

Kegunaan dari fungsi ini untuk mengetahui sebuah kasus (dalam hal ini perusahaan Konstruksi) masuk pada kelas Besar atau Menengah. Tabel 5.11 Fungsi Kelompok
Functions at Group Centroids Function 1 .795 -.321

KELAS 1.00 2.00

Unstandardized canonical discriminant functions evaluated at group means

Sumber : Data Primer Diolah (2006) Ada 2 kelas perusahaan konstruksi, maka disebut Two-Group Discrimonant, dimana Kelas 1 (Perusahaan Besar) mempunyai Centroid (Group Means) positif dan Kelas 2 (Perusahaan Menengah) mempunyai Centroid (Group Means) positif. Y > 0.474, maka perusahaan termasuk dalam kelas/Golongan Besar Y < 0.474, maka perusahaan termasuk dalam kelas/Golongan Menengah. (Santoso, 2003)

70

5.7.5

Ketepatan Klasifikasi

Setelah fungsi diskriminan dibuat, kemudian diklasifikasi dilakukan, maka selanjutnya akan dilihat seberapa jauh klasifikasi tersebut sudah tepat. Atau berapa persen terjadi misklasifikasi pada proses klasifikasi tersebut. Tabel 5.12. Hasil Pengelompokkan
b,c Classification Results

Original

Count %

Cross-validateda

Count %

KELAS 1.00 2.00 1.00 2.00 1.00 2.00 1.00 2.00

Predicted Group Membership 1.00 2.00 20 3 23 34 87.0 13.0 40.4 59.6 17 6 23 34 73.9 26.1 40.4 59.6

Total 23 57 100.0 100.0 23 57 100.0 100.0

a. Cross validation is done only for those cases in the analysis. In cross validation, each case is classified by the functions derived from all cases other than that case. b. 67.5% of original grouped cases correctly classified. c. 63.8% of cross-validated grouped cases correctly classified.

Sumber : Data Primer Diolah (2006) Pada bagian Original, terlihat bahwa mereka yang pada data awal termasuk kelas 1 (Besar), dan dari klasifikasi fungsi diskriminan tetap pada kelas 1 adalah 20 perusahaan. Sedang dengan model diskriminan, mereka yang awalnya masuk kelas 1, ternyata menjadi anggota kelas 2 sebanyak 3 Demikian juga dengan Kelas 2, yang tetap pada kelas 2 sejumlah 34 perusahaan dan yang terjadi misklasifikasi adalah 23 perusahaan. Dengan demikian, ketepatan prediksi dari model adalah : (20+34)/80 = 0.675 atai 67.5 % Karena angka ketepatan tinggi sebesar 67.5%, maka model diskriminan di atas sebenarnya bisa digunakan untuk analisis diskriminan. Atau penafsiran tentang berbagai tabel yang ada valid untuk digunakan.

71

5.8 Pembahasan

Setelah diperoleh faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat sesuai dengan tujuan penelitian, maka dilakukan pokok pembahasan sesuai dengan permasalahan penelitian. Berdasarkan hasil analisis faktor, diperoleh 8 faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat berdasarkan persepsi dari 80 responden dari 80 perusahaan konstruksi di Surabaya.
5.8.1 Faktor Operasional

Faktor ini memiliki nilai pembentuk faktor sebesar 30.251 %. Pada faktor ini terdapat 5 hal yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan untuk menyewa alat berat, yaitu : a. Ketersediaan spare part Ketersediaan spare part dari pemilik alat menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat. Dikarenakan jika ada kerusakan yang memerlukan penggantian sparepart, penyewa dapat mengajukan komplain sehingga dapat diganti spare part yang diperlukan dan jika diperlukan alat diganti dengan alat yang lain. Selain itu juga pertimbangan harga spare part dan biaya perawatan alat yang relatif mahal juga menjadi pertimbangan untuk menyewa daripada memiliki alat. b. Kontinuitas dari masa sewa Kemudahan dari perpanjangan masa sewa alat oleh penyewa menjadi pertimbangan dalam menyewa alat berat, dengan lama penyewaan minimal 100 jam dari tiap alat yang disewa. c. Ketersediaan SDM untuk operator dan maintenance Keterampilan Sumber Daya Manusia untuk Operator dan Perawatan yang disediakan dari pemilik alat menjadi dasar pertimbangan dalam menyewa. Beberapa perusahaan konstruksi menengah dan besar juga membutuhkan operator yang telah memiliki sertifikat keterampilan untuk pengoperasian alat yang disewa. Keterampilan operator alat juga menjadi faktor terselesainya pekerjaan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat oleh kontraktor. Selain itu juga kemudahan dalam permintaan untuk mengganti operator yang kurang memadai dalam pekerjaan dapat dilakukan dengan

72

mudah. Serta perawatan dan perbaikan untuk alat yang mengalami kerusakan pada proyek dapat diajukan komplain, yang dapat segera diganti dengan alat yang lain dengan segera. Biaya yang dikenakan untuk penyewa alat tidak termasuk biaya BBM dan uang makan operator. d. Optimalisasi jam kerja alat Kinerja alat juga menjadi pertimbangan. Kemampuan kerja alat dapat dilihat berdasarkan volume pekerjaan yang dapat diselesaikan selama jam kerja yang disesuaikan dengan kapasitas dari alat tersebut. e. Fleksibilitas dari mekanisme sewa Kemudahan dari pembayaran sewa juga menjadi pertimbangan para kontraktor untuk menyewa, dikarenakan pembayaran dapat dilakukan dengan pemberian uang muka (down payment) sejumlah biaya sewa 1 minggu dari biaya sewa alat secara keseluruhan.
5.8.2 Faktor Kelayakan Investasi

Faktor kelayakan ionvestasi mempunyai nilai keragaman sebesar 10.941 %. Dalam penentuan kelayakan untuk menyewa alat, dilakukan juga perhitungan kelayakan untuk membeli (investasi) peralatan yang akan digunakan, jadi hanya bersifat untuk mencari alternatif dalam pembiayaan untuk penggunaan peralatan. Dimana metode-metode penilaian kelayakan investasu yang biasa digunakan oleh kontraktor-kontraktor di Surabaya berdasarkan persepsi dari 80 responden dipertimbangkan dari segi pemulihan investasinya (Payback Period) yang dinilai berdasarkan jangka waktu pemulihan investasinya, Nilai sekarang (Present Value) atau dengan menyelaraskan nilai akan datang arus kas menjadi nilai sekarang dengan melalui pemotongan arus kas dengan memakai faktor pengurang pada tingkat biaya modal tertentu yang diperhitungkan, pengaruhnya terhadap aliran kas (cash flow) proyek, NPV (Net Present Value) atau jumlah keseluruhan dari jumlah keseluruhan present value dari semua pengeluaran dikurangi dengan jumlah present value dari semua pengeluaran. NV digunankan untuk menghitung perkiraan nilai suatu modal/asset pada masa yg akan datang dan IRR (Internal Rate of Return) yaitu tingkat bunga yang menyebabkan terjadinya keseimbangan antara semua pengeluaran dan semua pemasukan pada suatu periode tertentu. Semua metode yang menjadi dasar pertimbangan dalam

73

pembiayaan terhadap alat yang akan digunakan, dimana tingkat suku bunga juga mempengaruhi dalam perhitungan untuk mencari alternatif dalam pembiayaan.
5.8.3 Faktor Modal

Modal yang dimiliki oleh perusahaan juga menjadi dasar pertimbangan untuk menyewa alat berat. Karena modal akan mempengaruhi dalam kinerja perusahaan dalam pelaksanaan proyek, dimana modal akan mempengaruhi dari cash flow proyek. Jumlah dari biaya modal terdiri dari biaya investasi alat, biaya operasi dan pemeliharaan. Dimana biaya investasi dipengaruhi oleh biaya-biaya bunga, asuransi dan pajak serta harga dari awal tahun dan harga akhir tahun dari alat yang akan diinvestasikan. Dengan menyewa alat tidak akan mengurangi modal kerja, namun dengan menyewa akan dikenakan biaya pengoperasian setiap jam yang agak besar. Selaian modal, pertimbangan seperti inflasi juga menjadi dasar pertimbangan. Dimana waktu terjadinya kenaikan harga-harga barang, jasa atau faktor-faktor produksi secara umum juga menjadi dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam kebijakan penggunaan alat berat. Penilaian investasi berdasarkan tingkat balikan akunting investasi (Tingkat balikan akunting rata-rata atau Average Accounting Rate of Return) juga menjadi dasar pertimbangan. Dimana penilaian ini menggunakan data laba sesudah pajak.
5.8.4 Faktor Sarana dan Prasarana

Dalam penggunaan alat berat konstruksi diperlukan tempat untuk menyimpan dan sarana untuk perawatan. Faktor ketersediaan tempat untuk menyimpan alat juga menjadi pertimbangan kontraktor untuk menyewa atau memiliki alat sendiri. Serta faktor fasilitas untuk pemeliharaan alat juga menjadi pertimbangan, dikarenakan pemeliharaan atau perawatan dari alat berat relatif tingi dan memerlukan perawatan secara berkala. Selain itu juga indeks kemampulabaan (profitability index) juga menjadi dasar pertimbangan menyewa alat. Jika alat tersebut memungkinkan untuk dibeli (investasi) maka alat tersebut akan dibeli dan jika tidak memungkinkan maka alat tersebut akan di putuskan untuk disewa, penilaian berdasarkan rasio antara nilai sekarang total arus kas masuk dengan nilai sekarang total dari investasi.

74

5.8.5

Faktor Kewajiban dan Asuransi

Dalam menyewa alat, biaya sewa tidak termasuk dalam biaya pajak dari pembelian alat tersebut. Pajak dibebankan pada pemilik alat. Pajak menjadi dasar pertimbangan pada saat analisa kelayakan untuk investasi sebagai alternatif pengadaan alat. Karena pada saat membeli alat akan dipertimbangkan beban pajak. Pihak kontraktor selalu memastika bahwa alat yang akan disewa telah diasuransikan oleh pihak pemilik. Sehingga jika terjadi kerusakan pada alat bukan menjadi tanggungan pihak penyewa. Pemilik juga dipastikan telah mengetahui kondisi dan lokasi proyek yang akan mengunakan alat tersebut. Jika lokasi dan kondisi proyek tidak memungkinkan, maka pemilik alat berhak untuk tidak menyewakan alatnya. Selain itu juga penyewa tidak di kenakan biaya asuransi dari alat tersebut. Faktor kewajiban dan asuransi ini memiliki nilai keragaman sebesar 5.175 % dalam pembentuk faktor.
5.8.6 Faktor Alat dan Lingkungan

Faktor ini memiliki nilai sebesar 4.733 % dalam pembentukan faktor. Umur alat juga menjadi dasar pertimbangan untuk menyewa. Karena umur dari alat yang akan digunakan bisa mempengaruhi dari kinerja alat yang akan digunakan, apakah volume hasil kerja alat telah sesuai dengan kapasitas alat. Perubahan-perubahan yang terjadi pada lingkungan proyek secara tiba-tiba harus dipahami oleh tim dari manajemen proyek, seperti penyimpangan waktu serta stabilitas perekonomian seperti harga dollar. Selain itu juga dampak sosioekonomi seperti standar dan peraturan dari dokumen, serta penerapan pada konteks sosial tehadap dampak pada lingkungan. Pemilihan jenis alat yang digunakan juga menjadi pertimbangan terhadap keadaan sosial lingkungan, dimana pemilihan alat tertentu juga menentukan dalam pembiayaan terhadap alat yang digunakan. Ukuran proyek yang dikerjakan pada kenyataan dilapangan berpengaruh besar pada pengambilan keputusan untuk menyewa alat. Dikarenakan pada setiap perhitungan rencana anggaran proyek setelah diestimasi dan di breakdown berdasarkan item pekerjaan, dapat memeberikan pertimbangan dan keputusan

75

untuk menyewa atau membeli alat. Jika proyek berskala besar dan membutuhkan jangka waktu yang panjang, maka di mungkinkan untuk membeli alat, jika memenuhi dalam perhitungan operating cost. Faktor Alat dan Lingkungan memiliki nilai keragaman sebesar 4.733 % dari totalkeseluruhan njilai keragaman sebesar 73.966 %.
5.8.7 Faktor Proyek

Jumlah proyek yang sedang dikerjakan oleh kontraktor juga bisa menjadikan dasar pertimbangan untuk memutuskan menyewa alat berat. Jika jumlah proyek yang sedang dikerjakan banyak namun jadwal pengerjaannya hampir bersamaan maka dapat diputuskan untuk menyewa alat. Karena ketepatan waktu dalam penyelesaian pekerjaan sesuai dengan jadwal juga menjadi prioritas pada proyek. Namun jika dihitung lebih efisien untuk memiliki alat tersebut, maka tidak menutup kemungkinan bagi kontraktor untuk membeli alat berat yang bisa digunakan untuk beberapa proyek yang sedang dikerjakan. Namun jenis pekerjaan yang dikerjakan juga menjadi dasar pertimbangan. Seperti pekerjaan jalan dan pekerjaan gedung. Hal ini dikarenakan kebutuhan alat yang digunakan berbeda dan lama penggunaan juga berbeda. Pada pekerjaan jalan prosentase biaya penggunaan alat bisa menjadi 60%, 15% untuk upah dan untuk material bisa menjadi 25 % dari keseluruhan rencana anggaran proyek. Sedangkan untuk pekerjaan gedung prosentase penggunaan alat sebesar 10-15 %, untuk upah sebesar 40 % dan biaya untuk bahan sebesar 45% - 50 %. Pada keadaan dilapangan, faktor ini bisa menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat, namum berdasarkan analisa faktor, faktor ini hanya memiliki nilai sebesar 4.462 % dalam pembentuk faktor.
5.8.8 Faktor Instict dan Nilai alat

Naluri atau instict dari orang yang berwenang dalam pengambilan keputusan sedikit perpengaruh dalam pengambilan keputusan. Hal ini dikarenakan sedikit sekali perusahaan yang menggunakan instict untuk mengambil keputusan. Instrict digunakan jika pekerjaan sejenis pernah dilakukan. Seperti pekerjaan pembukaan lahan. Namun untuk pekerjaan tertentu yang membutuhkan tingkat akurasi dalam perhitungan, seperti perhitungan pekerjaan galian (volume) maka faktor instict tidak dapat digunakan.

76

Harga jual kembali dari alat dinilai cukup penting dalam pengambilan keputusan pada beberapa perusahaan. Jika dalam perhitungan kelayakan untuk alat yang akan digunakan memungkinkan untuk membeli, maka dipertimbangkan juga nilai dari alat setelah pemakaian jika alat tersebut akan dijual setelah pemakaian. Karena jika harga jual kembali dari alat menguntungkan, maka bisa dipertimbangkan untuk memebeli alat, namun harga jual kembali dari alat kecil, maka keputusan cenderung untuk menyewa alat. Faktor ini memiliki nilai keragaman sebesar 3.913 %.
5.9 Tanggapan Responden Terhadap Faktor-faktor Yang Terbentuk

Berdasarkan wawancara dengan beberapa responden setelah pengolahan data dan memperoleh faktor yang telah terbentuk berdasarkan analisa faktor, didapat tanggapan responden terhadap faktor-faktor yang telah terbentuk. Responden dari PT. Istaka Karya, Ir. Sujono Nurbagyo yang menjabat sebagai Manajer Operasional memberikan tanggapan bahwa faktor yang telah terbentuk kurang lebih telah sesuai dengan dasar dalam pengambilan keputusan dalam menyewa alat berat. Namun ada beberapa urutan faktor yang kurang sesuai. Urutan faktor menurut Ir. Sujono Subagyo adalah : 1. Faktor Operasional 2. Faktor Operating Cost 3. Faktor Alat dan Lingkungan 4. Faktor Proyek 5. Faktor Modal 6. Faktor Sarana dan Prasarana 7. Faktor Kewajiban dan Asuransi 8. Faktor Instict dan Nilai Alat Sedangkan menurut dua responden yang lain dari PT. Widya Satria yaitu Ridwan Sholihin, ST yang menjabat Site Manager dan dari PT. Landas Putra Cahya Perdana dengan responden Slamet yang menjabat sebagai Site Manager berpendapat bahwa faktor yang telah terbentuk berdasarkan analisa faktor telah sesuai dengan proses pengambilan keputusan menyewa alat berat.

77

5.10

Variabel Yang Tereduksi Selama Iterasi Pada Analisa Faktor

Dalam proses analisa faktor terdapat 3 variabel yang tereduksi. Ketiga faktor tersebut adalah Pengalaman, Kebiasaan dan MIRR. Berdasarkan wawancara dengan responden, pada beberapa perusahaan Besar dan beberapa perusahaan Menengah, ketiga variabel tersebut tidak terlalu digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat. Namun ada responden yang berpendapat bahwa variabel pengalaman juga penting sebagai dasar pertimbangan untuk menyewa. Hal ini dikaitkan dengan pengalaman dari pekerjaan yang pernah dilakukan. Tetapi tidak semua pekerjaan baru dapat dilakukan berdasarkan pengalaman, hanya pekerjaan-pekerjaan tertentu seperti yang tidak memerlukan tingkat akurasi yang tinggi atau volume pekerjaan tidak memerlukan ketelitian yang tinggi, seperti pekerjaan pembukaan lahan untuk jalan daripada pekerjaan galian untuk waduk yang memerlukan perhitungan volume dengan akurasi yang tinggi. Sedangkan dari variabel MIRR (Modified Internal Rate of Return) jarang digunakan oleh kebanyakan perusahaan-perusahaan sebagai bagian dari proses penganggaran modal untuk mengurutkan berbagai macam pilihan alternatif dalam penentuan kelayakan untuk menyewa alat dan penilaian kelayakan untuk investasi.
5.11 Faktor Yang Menjadi Pembeda Antara Perusahaan Golongan Besar Dengan Perusahaan Golongan Menengah

Dari hasil pengolahan analisis diskriminan, diketahui ada 3 variabel yang dapat menjadikan pembeda dari perusahaan dengan golongan Besar dan perusahaan dengan golongan Menengah. Variabel tersebut adalah NPV, Pajak dan Ukuran Proyek. Menurut wawancara dengan responden, variabel NPV bisa menjadi pembeda dari perusahaan denga golongan besar dan golongan menengah. NPV merupakan metode yang digunakan untuk menghitung perkiraan nilai suatu asset pada masa yang akan datang. NPV merupakan salah satu indikator untuk menilai kelayakan investasi. Pada perusahaan golongan besar dalam pengambilan keputusan untuk menyewa alat, sebelumnya cenderung untuk melakukan penilaian kelayakan terhadap membeli alat. Sedangkan pada perusahaan

78

menengah kebanyakan cenderung untuk menyewa alat. Hal ini bisa dikarenakan perusahaan golongan besar lebih punya banyak modal dan memiliki kemampuan membeli. Hal ini juga bisa dikarenakan perusahaan besar lebih berani untuk mengambil resiko. Tabel 5.13 Skor Penilaian Responden Perusahaan Golongan Besar dan Menengah terhadap variabel NPV NPV (B) NPV (M) Skala Penilaian Σ (%) Σ (%) Sangat Tidak Penting 0 0.00 3 5.26 Tidak Penting 0 0.00 3 5.26 Cukup Penting 1 4.35 19 33.33 Penting 18 78.26 27 47.37 Sangat Penting 4 17.39 5 8.77 23 100 57 100 Total Sumber : Data Primer Diolah (2006) Berdasarkan deskripsi penilaian responden dari perusahaan golongan besar yang menilai variabel NPV cukup penting sebanyak 1 orang (4.35%). Sedangkan yang menilai penting sebanyak 18 orang (78.26%) dan yang menilai sangat penting sebanyak 4 orang (17.39 %). Pada perusahaan golongan menengah, responden yang menilai variabel NPV sangat tidak penting sebanyak 3 orang (5.26 %). Yang menilai tidak penting sebanyak 3 orang (5.26 %). Cukup penting sebanyak 19 orang (33.33 %). Yang menilai penting sebanyak 27 orang (47.37 %) dan yang menilai sangat penting sebanyak 5 orang (8.77 %). Sedangkan dari variabel pajak bisa menjadi pembeda dikarenakan dalam investasi alat juga mempertimbangkan bebab pajak yang ditanggung. Karena dengan menyewa alat tidak dibebani pajak. Tabel 5.14 Skor Penilaian Responden Perusahaan Golongan Besar dan Menengah terhadap variabel Pajak Pajak (B) Pajak (M) Skala Penilaian Σ (%) Σ (%) Sangat Tidak Penting 0 0.00 2 3.51 Tidak Penting 0 0.00 2 3.51 Cukup Penting 3 13.04 16 28.07 Penting 9 39.13 28 49.12 Sangat Penting 11 47.83 9 15.79 23 100 57 100 Total

79

Sumber : Data Primer Diolah (2006) Berdasarkan deskripsi penilaian responden dari perusahaan golongan besar yang menilai variabel pajak cukup penting sebanyak 3 orang (13.04 %). Sedangkan yang menilai penting sebanyak 9 orang (39.13 %) dan yang menilai sangat penting sebanyak 11 orang (47.83 %). Pada perusahaan golongan menengah, responden yang menilai variabel pajak sangat tidak penting sebanyak 2 orang (3.51 %). Yang menilai tidak penting sebanyak 2 orang (3.51 %). Cukup penting sebanyak 19 orang (28.07 %). Yang menilai penting sebanyak 28 orang (49.12 %) dan yang menilai sangat penting sebanyak 9 orang (15.79 %). Ukuran proyek bisa menjadi pembeda golongan perusahaan besar dan menengah dalam pengambilan keputusan menyewa alat. Ukuran proyek yang dikerjakan akan berpengaruh terhadap volume pekerjaan dan lama waktu pelaksanaan proyek. Selain itu juga berdampak pada lama penggunaan alat sesuai dengan jadwal proyek yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan untuk menyewa alat atau membeli alat. Dimana jangka waktu proyek pada perusahaan besar relatif lebih lama daripada perusahaan menengah. Untuk ukuran proyek yang di kerjakan ada perbedaan seperti pada peraturan yang telah di tetapkan yaitu disesuaikan dengan kemampuan perusahaan untuk mengerjakan proyek (batas nilai satu pekerjaan) seperti yang telah dijelaskan pada tabel 2.6 dan tabel 2.11. Untuk perusahaan besar hanya mengerjakan proyek dengan nilai diatas Rp 10 M. Sedangkan untuk perusahaan menengah, diperbolehkan mengerjakan proyek dengan nilai dibawah Rp 1M s/d Rp 3M untuk kualifikasi M1 dan Rp 3M s/d Rp 10 M untuk perusahaan golongan menengah dengan kualifikasi M2.

80

Tabel 5.14 Skor Penilaian Responden Perusahaan Golongan Besar dan Menengah terhadap variabel Ukuran Proyek Uk. Proyek (B) Uk. Proyek (M) Skala Penilaian Σ (%) Σ (%) Sangat Tidak Penting 0 0.00 0 0.00 Tidak Penting 0 0.00 0 0.00 Cukup Penting 5 21.74 4 7.02 Penting 12 52.17 34 59.65 Sangat Penting 6 26.09 19 33.33 23 100 57 100 Total Sumber : Data Primer Diolah (2006) Berdasarkan deskripsi penilaian responden dari perusahaan golongan besar yang menilai variabel ukuran proyek cukup penting sebanyak 5 orang (21.74 %). Sedangkan yang menilai penting sebanyak 12 orang (52.17 %) dan yang menilai sangat penting sebanyak 6 orang (26.09 %). Pada perusahaan golongan menengah, responden yang menilai variabel pajak cukup penting sebanyak 4 orang (7.02 %). Yang menilai penting sebanyak 34 orang (59.65 %) dan yang menilai sangat penting sebanyak 19 orang (33.33 %).

81

82

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisa dan pembahasan, maka penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : 1. Dengan mengunakan alat uji analisa faktor, berdasarkan persepsi dari 80 responden diperoleh 8 faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat. Faktor yang sangat berpengaruh adalah Faktor Operasional dengan nilai keragaman pembentuk faktor sebesar 30.251 %. Faktor kedua adalah faktor operating cost sebesar 10.941 %. Faktor ketiga adalah Faktor Modal dengan nilai keragaman sebesar 7.720 %, Faktor keempat hingga kedelapan adalah faktor sarana dan prasarana sebesar 6.777 %, faktor Kewajiban dan Asuransi sebesar 5.175 %, faktor Alat dan Lingkungan Proyek sebesar 4.733%, faktor Proyek sebesar 4.462 % dan faktor Instict dan Nilai alat sebesar 3.913%. 2. Dengan menggunakan alat uji diskriminan, diketahui 3 variabel pembeda dari perusahaan golongan besar dan perusahaan golongan menengah. 3 variabel tersebut adalah NPV, Pajak dan Ukuran proyek.

6.2 Saran

Beberapa saran yang disampaikan disini lebih bersifat sebagai sebuah penyempurnaan untuk penelitian yang lebih lanjut. 1. Bagi pembaca yang tertarik untuk melakukan penelitian sejenis, disarankan untuk menambahkan variabel yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat konstruksi. Dari pembagian kuisioner yang telah dilakukan, terdapat variabel tambahan dari responden, yaitu: biaya demobilisasi, merek (brand image) dari alat yang akan disewa, volume pekerjaan, harga sewa, jarak lokasi alat dengan lokasi proyek, kapasitas alat dan perjanjian kerjasama selama proses sewa antara pemilik alat dengan penyewa.

83

2. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mencari model dalam pengambilan keputusan untuk menyewa atau membeli alat berat.

84

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Kamaruddin, SE. 1996. Dasar-dasar manajemen investasi. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta Anwari, Achmad. 1987. Leasing di Indonesia. Ghalia Indonesia. Jakarta Day, A. David, P.E. 1989. Construction Equipment Guide. A Wiley-Inter Science Publication. New York Dixon, John. R. 1966. Design Engineering: Inventiveness, Analysis and Decision Making. McGraw-Hill Book Company. Dixon, J., Wilfried dan Massey, J., Frank. 1997. Pengantar Analisis Statistik, Gajah Mada University Press. Yogyakarta Haming, Murdifin, S.E., M. Si dan Salim Basalamah, S.E., M. Si. 2003. Studi Kelayakan Investasi Proyek dan Bisnis. Penerbit PPM. Jakarta. Hammond, John S. , Ralph L. Kenney dan Howard Raiffa. Januari 2006. The Hidden Traps in Decision Making. Harvard Business Review. Haryono. 2003. Modul 10 Statistika Bisnis dan Industri Teknik Multivariate Analisis Diskriminan. Program Magister Manajemen Teknologi ITS. Surabaya. Johnson, R. A, and D. Wichern.1992. Applied Multivariate Statistical Analysis. University of Wiscoer-Manson, Precentice-Hall, Inc. Engelwood. New Jersey. Konstruksi, November–Desember 2000 Konstruksi, November-Desember 2001 Konstruksi, Agustus 2002 Kountur, Ronny, D.M.S, Ph. D.2003. Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. Penerbit PPM. Jakarta. Pikiran Rakyat, 27 Februari 2003. Diakses melalui : www.pikiran-rakyat.com PT. Adhi Karya. 2003. Prosedur Pengelolaan Investasi. Rostiyanti, Susy Fatena. 2002. Alat Berat Untuk Proyek Konstruksi. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta

85

Saaty, Thomas L. 1988. Decision Making for Leaders : The Analytical Hierarchy Process For Decision In A Complex World. University of Pittsburgh. Santoso, Gempur, Drs. M. Kes., Dr. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Prestasi Pustaka. Jakarta Santoso, Singgih. 2003. SPSS Statistik Multivariat. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta. Scharfstein, David S.. Desember 2002. Fundamentals of Finance for the Technical Executive. MIT Sloan Management Review. Soekadi, Eddy P. 1990. Mekanisme Leasing. Ghalia Indonesia. Jakarta. Soeharto, Imam. 1998. Manajemen Proyek (Dari Konseptual Sampai Operasional) Jilid 2. Penerbit Erlangga. Jakarta. Shank, John K. dan Vijay Govindarajan. Fall 1992. Strategic Cost Analysis of Technological Investments. MIT Sloan Management Review. Tim Penelitian dan Pengembangan Wahana Komputer. 2005. Pengembangan Analisis Multivariate dengan SPSS 12. Penerbit Salemba Infotek. Jakarta Wikipedia. 2006. Modified Internal Rate of Return. Diakses melalui www.wikipedia.com

86

Lampiran 1 : Kuisioner Survei Awal

KUISIONER PENELITIAN
Dengan Hormat, Saya Nida Istiqlaliyah, Mahasiswa Program Pascasarjana Bidang Keahlian Manajemen Proyek Konstruksi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya yang sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan Thesis yang berjudul : Faktor-ffaktor Yang Mendasari Dalam Pengambilan Keputusan Menyewa (Leasing) Alat Berat Pada Perusahaan Konstruksi Di Surabaya. Tujuan Kuisioner : Untuk mendapatkan variabel-variabel yang mendasari dalam pengambilan keputusan menyewa (leasing) alat berat pada perusahaan konstruksi di Surabaya berdasarkan persepsi dari para ahli pada asosiasi-asosiasi konstruksi di Indonesia. Kami mengharap bantuan Bapak/Ibu untuk mengisi dan menjawab pertanyaan dibawah. Hasil Penelitian ini tidak untuk dipublikasikan, melainkan untuk penelitian thesis. Atas kesediaan dan kerjasama yang baik, saya sampaikan banyak terima kasih. Peneliti Nida Istiqlaliyah (3104.203.004) Program Pascasarjana Bidang Keahlian Manajemen Proyek Konstruksi Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Perumdin ITS, Jl. T. Komputer G-1 Sukolilo – Surabaya. Telp. (031)60201505 ; 08121653585. Fax. (031) 5927939. e-mail : n_ninid1808@yahoo.com

Identitas Narasumber
1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama Nama Asosiasi Jabatan Asosiasi Alamat No. Telp / HP e-mail : ______________________________________________________________ : ______________________________________________________________ : ______________________________________________________________ : ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ : ______________________________________________________________ : ______________________________________________________________ ______________________ 2006

__________________________

87

Bagian I
Petunjuk pengisian : Anda diminta untuk menjawab dengan memberi tanda silang ( ) pada pernyataan yang menggambarkan atau sesuai dengan penilaian Anda. Skor 1 = Sangat Tidak Penting (STP) Skor 2 = Tidak Penting (TP) Skor 3 = Netral (N) Skor 4 = Penting (P) Skor 5 = Sangat Penting (SP) Variabel-variabel yang mendasari dalam pengambilan keputusan menyewa (leasing) alat berat konstruksi Naluri (Instinct)
Pengambilan keputusan berdasarkan instict dari pengambil keputusan

No 1 2 3 4

1

2

3

4

5

Kebiasaan
Pengambilan keputusan berdasarkan tindakan yang biasa dilakukan (kebiasaan) pada perusahaan

Pengalaman
Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman sebelumnya pada perusahaan atau dari pengambil keputusan

Pemulihan investasi (Payback Period)
Pengambilan keputusan berdasarkan analisis kelayakan investasi menurut jangka waktu pemulihan modal investasi. Perhitungannya dilakukan berdasarkan aliran kas baik tahunan maupun nilai sisa. Kriteria kelayakan dinilai jika masa pemulihan modal lebih pendek dari usia ekonomis

5

Nilai sekarang (Present value)
Pengambilan keputusan dengan menyelaraskan nilai akan datang arus kas menjadi nilai sekarang dengan melalui pemotongan arus kas dengan memakai faktor pengurang (diskon) pada tingkat biaya modal tertentu yang diperhitungkan

6 7

NPV (Net Present Value)
Penilaian investasi berdasarkan Net present value. Dinilai layak jika bertanda positif (> 0). Dan dinilai tidak layak jika bertanda negatif (<0)

Tingkat balikan internal (internal rate of return atau IRR) atau Discounted Cash Flow
Menilai investasi untuk mengetahui tingkat balikan internal sewaktu nilai sekarang arus kas masuksama dengan nilai sekarang pengeluaran investasi atau sewaktu NPV=0

8

Modified internal rate of return (MIRR)
Ukuran keuangan yang digunakan untuk menentukan penarik dari suatu investasi. Secara umum digunakan sebagai bagian dari proses penganggaran modal untuk mengurutkan berbagai macam pilihan alternatif.

9

Tingkat balikan akunting rata-rata (Average Accounting Rate of Return atau AARR)
Menilai investasi berdasarkan tingkat balikan akunting investasi. Metode ini menggunakan data laba sesudah pajak, maka sepanjang rasio laba positif, berarti berada pada posisi laba. Jika tanda dari rasio negatif maka tidak layak untuk diinvestasi

10 11 12

Indeks kemapulabaan (Profitability Index)
Mengukur investasi berdasarkan rasio antara nilai sekarang arus kas masuk total (TPV) dengan nilai sekarang total dari investasi inisial (Io)

Inflasi
Waktu atau peristiwa dimana terjadinya kenaikan harga-harga barang, jasa atau faktor produksi secara umum

Biaya Modal
Pengeluaran biaya menentukan dalam pemilihan alat-alat konstruksi, yang terdiri dari biaya pembelian (investasi), biaya-biaya bunga, asuransi, pajak biaya operasi dan pemeliharaan

13

Bunga (Interest)

88

Biaya untuk peminjaman (uang, barang, dsb.) atau pengembalian yang diharapkan dari uang yang diinvestasikan

14 15

Asuransi
Asuransi merupakan biaya dari premi asurasi untuk melindungi pemilik dari kerugian keuangan jika peralatannya rusak atau hancur

Pajak
Pajak adalah pajak milik perseorangan yang dibayarkan kepada pemerintah lokal berdasarkan pada kepemilikan peralatan. Biasanya sekitar 1-5% dari rata-rata investasi tahunan dari peralatan

16

Penyimpanan
Penyimpanan merupakan biaya dari menyimpan peralatan agar amam, tempat yang melindungi ketika tidak bekerja di bawah pengawasan kontraktor. Termasuk biaya sewa tempat untuk menyimpat peralatan

17 18 19 20 21 22 23

Ukuran Proyek Jumlah Proyek
Jumlah proyek yang sedang dikerjakan oleh perusahaan

Fasilitas pemeliharaan
Mengusahakan peralatan selalu dalam kondisi prima dan siap pakai, yaitu dengan mengadakan pemeliharaan preventif.

Cash flow (Aliran Kas)
Aliran kas berupa pencatatan penerimaan dan pengeluaran

Politik, Ekonomi dan Lingkungan Jadwal Proyek
Mulai dan berakhirnya tanggal dari masing-masing aktivitas

Fleksibilitas dari mekanisme leasing
Pembiayaan dengan leasing lebih fleksibel karena dapat dilakukan dalam jangka waktu yang pendek, sekitar tiga hingga lima tahun. Tetapi periode penyewaan tersebut bisa diperpanjang hingga 10 tahun untuk jenis peralatan tertentu

24 25

Umur peralatan
Umur peralatan adalah perkiraan berapa lama peralatan masih dapat bekerja produktif

Penjualan kembali (resale value)
Harga penjualan alat setelah masa pakai oleh perusahaan

1 = Sangat Tidak Penting (STP); 2 = Tidak Penting (TP); 3 = Netral (N); 4 = Penting (P); 5 = Sangat Penting (SP)

Bagian II
Petunjuk pengisian : Anda diminta untuk menjawab dengan menuliskan dan mengurutkan 5 variabel penting dan tidak penting, serta menambahkan variabel penting selain 24 variabel diatas. Variabel lain yang penting menurut Bapak/Ibu selain 25 variabel diatas : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. .......................................................................................................................................................................... .......................................................................................................................................................................... ......................................................................................................................................................................... ......................................................................................................................................................................... ......................................................................................................................................................................... ......................................................................................................................................................................... ......................................................................................................................................................................... ......................................................................................................................................................................... ......................................................................................................................................................................... .........................................................................................................................................................................

89

Lampiran 2 : Kuisioner Survei

KUISIONER PENELITIAN
Dengan Hormat, Saya Nida Istiqlaliyah, Mahasiswa Program Pascasarjana Bidang Keahlian Manajemen Proyek Konstruksi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya yang sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan Thesis yang berjudul : Faktor-faktor Yang Mendasari Dalam Pengambilan Keputusan Menyewa Alat Berat Pada Perusahaan Konstruksi Di Surabaya. Tujuan Kuisioner : Untuk mendapatkan variabel-variabel yang mendasari dalam pengambilan keputusan menyewa alat berat pada perusahaan konstruksi di Surabaya berdasarkan persepsi dari para pengambil keputusan menyewa terhadap alat berat pada perusahaan-perusahaan konstruksi di Surabaya dalam lingkup pembangunan gedung. Kami mengharap bantuan Bapak/Ibu untuk mengisi dan menjawab pertanyaan dibawah. Hasil Penelitian ini tidak untuk dipublikasikan, melainkan untuk penelitian thesis. Atas kesediaan dan kerjasama yang baik, saya sampaikan banyak terima kasih. Peneliti Nida Istiqlaliyah (3104.203.004) Program Pascasarjana Bidang Keahlian Manajemen Proyek Konstruksi Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Perumdin ITS, Jl. T. Komputer G-1 Sukolilo – Surabaya. Telp. (031)60201505 ; 08121653585. Fax. (031) 5927939. e-mail : n_ninid1808@yahoo.com

Bagian I
7. 8. 9. Nama Nama Perusahaan Jabatan di Perusahaan : ______________________________________________________________ : ______________________________________________________________ : ______________________________________________________________ : ______________________________________________________________ ______________________________________________________________ 11. No. Telp / HP 12. e-mail 13. Golongan Perusahaan: Besar Menengah : ______________________________________________________________ : ______________________________________________________________

10. Alamat

90

14. Apakah perusahaan pernah menyewa alat berat ? Ya Tidak

15. Jenis alat berat yang pernah disewa : Jenis alat a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. ............................................................................................. ............................................................................................. ............................................................................................. ............................................................................................. ............................................................................................. ............................................................................................. ............................................................................................. ............................................................................................. ............................................................................................. ............................................................................................. ............................................................................................. ............................................................................................. Jangka waktu sewa ...................................................... ...................................................... ...................................................... ...................................................... ...................................................... ...................................................... ...................................................... ...................................................... ...................................................... ...................................................... ...................................................... ......................................................

______________________ 2006

__________________________

91

Bagian II
Petunjuk pengisian : Anda diminta untuk menjawab dengan memberi tanda silang ( ) pada pernyataan yang menggambarkan atau sesuai dengan penilaian Anda. Skor 1 = Sangat Tidak Penting (STP) Skor 2 = Tidak Penting (TP) Skor 3 = Cukup Penting (CP) Skor 4 = Penting (P) Skor 5 = Sangat Penting (SP) Variabel-variabel yang mendasari dalam pengambilan keputusan menyewa (leasing) alat berat konstruksi Naluri (Instinct)
Pengambilan keputusan berdasarkan instict dari pengambil keputusan

No 1 2 3 4

1

2

3

4

5

Kebiasaan
Pengambilan keputusan berdasarkan tindakan yang biasa dilakukan (kebiasaan) pada perusahaan

Pengalaman
Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman sebelumnya pada perusahaan atau dari pengambil keputusan

Pemulihan investasi (Payback Period)
Pengambilan keputusan berdasarkan analisis kelayakan investasi menurut jangka waktu pemulihan modal investasi. Perhitungannya dilakukan berdasarkan aliran kas baik tahunan maupun nilai sisa. Kriteria kelayakan dinilai jika masa pemulihan modal lebih pendek dari usia ekonomis

5

Nilai sekarang (Present value)
Pengambilan keputusan dengan menyelaraskan nilai akan datang arus kas menjadi nilai sekarang dengan melalui pemotongan arus kas dengan memakai faktor pengurang (diskon) pada tingkat biaya modal tertentu yang diperhitungkan

6 7

NPV (Net Present Value)
Penilaian investasi berdasarkan Net present value. Dinilai layak jika bertanda positif (> 0). Dan dinilai tidak layak jika bertanda negatif (<0)

Tingkat balikan internal (internal rate of return atau IRR) atau Discounted Cash Flow
Menilai investasi untuk mengetahui tingkat balikan internal sewaktu nilai sekarang arus kas masuksama dengan nilai sekarang pengeluaran investasi atau sewaktu NPV=0

8

Modified internal rate of return (MIRR)
Ukuran keuangan yang digunakan untuk menentukan penarik dari suatu investasi. Secara umum digunakan sebagai bagian dari proses penganggaran modal untuk mengurutkan berbagai macam pilihan alternatif.

9

Tingkat balikan akunting rata-rata (Average Accounting Rate of Return atau AARR)
Menilai investasi berdasarkan tingkat balikan akunting investasi. Metode ini menggunakan data laba sesudah pajak, maka sepanjang rasio laba positif, berarti berada pada posisi laba. Jika tanda dari rasio negatif maka tidak layak untuk diinvestasi

10 11 12

Indeks kemampulabaan (Profitability Index)
Mengukur investasi berdasarkan rasio antara nilai sekarang arus kas masuk total (TPV) dengan nilai sekarang total dari investasi inisial (Io)

Inflasi
Waktu atau peristiwa dimana terjadinya kenaikan harga-harga barang, jasa atau faktor produksi secara umum

Biaya Modal
Pengeluaran biaya menentukan dalam pemilihan alat-alat konstruksi, yang terdiri dari biaya pembelian (investasi), biaya-biaya bunga, asuransi, pajak

92

biaya operasi dan pemeliharaan

13 14 15

Bunga (Interest)
Biaya untuk peminjaman (uang, barang, dsb.) atau pengembalian yang diharapkan dari uang yang diinvestasikan

Asuransi
Asuransi merupakan biaya dari premi asurasi untuk melindungi pemilik dari kerugian keuangan jika peralatannya rusak atau hancur

Pajak
Pajak adalah pajak milik perseorangan yang dibayarkan kepada pemerintah lokal berdasarkan pada kepemilikan peralatan. Biasanya sekitar 1-5% dari rata-rata investasi tahunan dari peralatan

16

Penyimpanan
Penyimpanan merupakan biaya dari menyimpan peralatan agar amam, tempat yang melindungi ketika tidak bekerja di bawah pengawasan kontraktor. Termasuk biaya sewa tempat untuk menyimpat peralatan

17 18 19 20 21 22 23

Ukuran Proyek Jumlah Proyek
Jumlah proyek yang sedang dikerjakan oleh perusahaan

Fasilitas pemeliharaan
Mengusahakan peralatan selalu dalam kondisi prima dan siap pakai, yaitu dengan mengadakan pemeliharaan preventif.

Cash flow (Aliran Kas)
Aliran kas berupa pencatatan penerimaan dan pengeluaran

Politik, Ekonomi dan Lingkungan Jadwal Proyek
Mulai dan berakhirnya tanggal dari masing-masing aktivitas

Fleksibilitas dari mekanisme leasing
Pembiayaan dengan leasing lebih fleksibel karena dapat dilakukan dalam jangka waktu yang pendek, sekitar tiga hingga lima tahun. Tetapi periode penyewaan tersebut bisa diperpanjang hingga 10 tahun untuk jenis peralatan tertentu

24 25 26 27 28 29

Umur peralatan
Umur peralatan adalah perkiraan berapa lama peralatan masih dapat bekerja produktif

Penjualan kembali (resale value)
Harga penjualan alat setelah masa pakai oleh perusahaan

Kontinuitas masa sewa Ketersediaan spare part Ketersediaan SDM untuk operator dan maintenance Optimalisasi jam kerja alat

1 = Sangat Tidak Penting (STP); 2 = Tidak Penting (TP); 3 = Cukup Penting (CP); 4 = Penting (P); 5 = Sangat Penting (SP)

Bagian III
Petunjuk pengisian : Anda diminta untuk menambahkan variabel penting selain 29 variabel diatas. Variabel lain yang penting menurut Bapak/Ibu selain 29 variabel diatas : a. b. c. d. e. .......................................................................................................................................................................... .......................................................................................................................................................................... ......................................................................................................................................................................... ......................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................

93

Lampiran 3 : Daftar Angota Gapensi Sub Bidang Gedung dan Pabrik

94

Lampiran 3 : Daftar Angota Gapensi Sub Bidang Gedung dan Pabrik (lanjutan)

95

Lampiran 3 : Daftar Angota Gapensi Sub Bidang Gedung dan Pabrik (lanjutan)

96

Lampiran 3 : Daftar Angota Gapensi Sub Bidang Gedung dan Pabrik (lanjutan)

97

Lampiran 4 : Tabel Perhitungan Sampel Sumber : Santoso, 2005

98

Lampiran 4 : Tabel Perhitungan Sampel (Lanjutan) Sumber : Santoso, 2005

99

Lampiran 5 : Jawaban Persepsi Responden

100

Lampiran 5 : Jawaban Persepsi Responden (Lanjutan)

101

Lampiran 6 : Uji Validitas dan Reabilitas
****** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ****** R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S Mean 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. NALURI KEBIASAA PENGALAM PEMULIHA NILAI NPV IRR MIRR TINGKAT PROFITAB INFLASI BIAYA BUNGA ASURANSI PAJAK PENYIMPA UKURAN JUMLAH FASILITA CASH POLITIK JADWAL FLEKSIBI UMUR PENJUALA KONTINUI KETERSED SDM OPTIMALI 3.1250 3.5875 4.2500 4.0375 3.7375 3.6750 3.4375 3.4125 3.5875 3.7125 3.5750 3.8750 3.7000 3.8875 3.8875 3.5500 4.2000 4.2750 4.2375 4.3625 3.4125 4.5375 3.7625 4.0750 3.4375 4.0250 4.0750 4.2875 4.2375 S C A L E (A L P H A)

Std Dev 1.1733 .9506 .8494 1.1074 .8073 .8682 .9658 1.0150 .9769 .7150 .8969 .8476 .7531 .8567 .9000 .8987 .6244 .7952 .9035 .8151 .7411 .6549 .9311 .6894 .8545 .7627 .8233 .8597 .7671

Cases 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 80.0 N of Variables 29

Statistics for SCALE

Mean 111.9625

Variance 147.5049

Std Dev 12.1452

R E L I A B I L I T Y Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted NALURI KEBIASAA PENGALAM PEMULIHA NILAI NPV IRR MIRR TINGKAT PROFITAB INFLASI 108.8375 108.3750 107.7125 107.9250 108.2250 108.2875 108.5250 108.5500 108.3750 108.2500 108.3875

A N A L Y S I S

-

S C A L E

(A L P H A)

Scale Variance if Item Deleted 142.4669 148.3892 142.7138 131.8930 139.9994 132.3593 136.4297 139.9722 133.2247 137.0000 134.4935

Corrected ItemTotal Correlation .1307 -.0772 .2005 .5655 .3588 .7204 .4495 .2707 .5909 .5971 .5868

Alpha if Item Deleted .8895 .8921 .8850 .8765 .8815 .8734 .8796 .8843 .8760 .8771 .8763

102

BIAYA BUNGA ASURANSI PAJAK PENYIMPA UKURAN JUMLAH FASILITA CASH POLITIK JADWAL FLEKSIBI UMUR PENJUALA KONTINUI KETERSED SDM OPTIMALI

108.0875 108.2625 108.0750 108.0750 108.4125 107.7625 107.6875 107.7250 107.6000 108.5500 107.4250 108.2000 107.8875 108.5250 107.9375 107.8875 107.6750 107.7250

135.5492 135.3859 137.9943 136.0956 137.5366 144.7657 140.5973 134.6323 135.9899 141.8456 143.1842 135.3772 138.9366 136.0753 140.5150 136.7847 134.5513 139.5184

.5694 .6592 .4360 .5048 .4346 .1564 .3328 .5750 .5708 .2895 .2483 .5197 .4979 .5367 .3544 .5215 .6124 .4082

.8769 .8756 .8799 .8783 .8799 .8848 .8821 .8766 .8770 .8828 .8834 .8779 .8790 .8777 .8816 .8781 .8759 .8805

Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .8837 80.0 N of Items = 29

103

Lampiran 7 : Tabel Korelasi (Pearson Product Moment)

104

Lampiran 7 : Tabel Korelasi (Pearson Product Moment)

105

Lampiran 8 : Uji Multinormal
MTB > %c:/normalmulti.txt c1-c29 Executing from file: c:/normalmulti.txt

Plot q * dd
HIPOTESIS : ============ H0 : DATA MENGIKUTI SEBARAN DISTRIBUSI MULTINORMAL H1 : DATA TIDAK MENGIKUTI SEBARAN DISTRIBUSI MULTINORMAL TOLAK H0 JIKA DAERAH DIBAWAH CHI-SQUARE < 50 % HASIL PENGUJIAN : =================

Data Display
DAERAH DIBAWAH KURVA CHISQUARE= 76.2500

KESIMPULAN : ============ GAGAL TOLAK H0, ARTINYA DATA MENGIKUTI SEBARAN DISTRIBUSI MULTINORMAL

PLOT DATA UJI MULTINORMAL
50

40

q

30

20

10 10 20 30 40 50 60 70

dd

106

Lampiran 9 : Analisa Faktor
Descriptive Statistics Std. Deviation 1.1733 .9506 .8494 1.1074 .8073 .8682 .9658 1.0150 .9769 .7150 .8969 .8476 .7531 .8567 .9000 .8987 .6244 .7952 .9035 .8151 .7411 .6549 .9311 .6894 .8545 .7627 .8233 .8597 .7671

N X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X20 X21 X22 X23 X24 X25 X26 X27 X28 X29 Valid N (listwise) 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80

Minimum 1.00 1.00 2.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 .00 2.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 3.00 1.00 1.00 1.00 2.00 3.00 1.00 2.00 1.00 3.00 1.00 1.00 1.00

Maximum 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00 5.00

Mean 3.1250 3.5875 4.2500 4.0375 3.7375 3.6750 3.4375 3.4125 3.5875 3.7125 3.5750 3.8750 3.7000 3.8875 3.8875 3.5500 4.2000 4.2750 4.2375 4.3625 3.4125 4.5375 3.7625 4.0750 3.4375 4.0250 4.0750 4.2875 4.2375

107

108

109

110

111

Lampiran 9 : Analisa Faktor

Communalities Initial 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 Extraction .764 .711 .680 .656 .772 .638 .666 .809 .737 .753 .762 .855 .826 .690 .865 .758 .744 .746 .613 .699 .762 .731 .702 .709 .840 .747

X1 X4 X5 X6 X7 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X20 X21 X22 X23 X24 X25 X26 X27 X28 X29

Extraction Method: Principal Component Analysis.

112

Lampiran 9 : Analisa Faktor

Total Variance Explained Extraction Sums of Squared Loadings % of Cumulativ Variance e% Total 7.865 30.251 30.251 2.845 10.941 41.193 2.007 7.720 48.912 1.760 6.771 55.683 1.345 5.175 60.857 1.231 4.733 65.591 1.160 4.462 70.053 1.017 3.913 73.966

Component 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Initial Eigenvalues % of Cumulativ Variance e% Total 7.865 30.251 30.251 2.845 10.941 41.193 2.007 7.720 48.912 1.760 6.771 55.683 1.345 5.175 60.857 1.231 4.733 65.591 1.160 4.462 70.053 1.017 3.913 73.966 .890 3.422 77.388 .794 3.055 80.443 .644 2.477 82.919 .614 2.361 85.280 .557 2.142 87.422 .480 1.848 89.270 .430 1.656 90.926 .391 1.504 92.430 .358 1.377 93.808 .283 1.090 94.898 .243 .934 95.832 .239 .920 96.752 .205 .789 97.541 .180 .693 98.234 .145 .557 98.791 .123 .474 99.264 .109 .418 99.682 8.262E-02 .318 100.000

Rotation Sums of Squared Loadings % of Cumulativ Variance e% Total 3.390 13.040 13.040 3.014 11.592 24.632 2.635 10.134 34.767 2.478 9.532 44.298 2.156 8.291 52.590 1.978 7.608 60.198 1.895 7.289 67.487 1.684 6.478 73.966

Extraction Method: Principal Component Analysis.

Scree Plot
10

8

6

4

Eigenvalue

2

0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25

Component Number

113

Lampiran 9 : Analisa Faktor
a Component Matrix

X1 X4 X5 X6 X7 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X20 X21 X22 X23 X24 X25 X26 X27 X28 X29

1 8.780E-02 .607 .379 .772 .473 .648 .677 .646 .611 .727 .497 .562 .464 .174 .366 .672 .628 .299 .310 .645 .477 .616 .415 .624 .724 .497

2 -.644 -.210 .106 -9.50E-02 -.287 -.233 .149 -.399 -.450 -1.58E-02 -.182 7.046E-02 -.563 .552 .448 -5.95E-02 6.302E-03 -.261 .483 .445 -.175 .142 .484 .322 .246 .184

3 -7.45E-02 .178 .410 6.593E-02 -.135 -.330 -.156 -.142 -3.07E-02 .107 .368 .546 -9.01E-02 .133 8.405E-02 -.230 .498 .248 .268 1.331E-02 .115 .171 -.267 -.317 -.376 -.597

Component 4 5 .148 .102 -.270 .314 -3.93E-03 .561 -1.22E-02 .190 .103 .457 -6.05E-03 9.950E-02 .215 -.101 -.101 -.404 -8.00E-02 -.297 -.225 -8.18E-02 -3.61E-02 -9.36E-02 -.233 -.355 .254 .232 .547 1.380E-02 .277 .221 .104 .142 -.287 -1.63E-02 .618 -.201 9.406E-02 7.326E-02 -.216 -2.82E-02 .579 -.204 8.993E-02 -7.13E-02 .230 -.132 -.154 -.152 -.306 7.952E-02 1.914E-02 -1.97E-02

6 .423 -9.78E-02 9.794E-02 -1.48E-02 -.342 -6.81E-02 2.684E-02 .195 .129 -.237 .170 .102 .101 -.112 .622 -8.04E-02 1.966E-02 -.123 .276 -.103 -.127 -.423 -7.14E-02 6.406E-02 4.541E-02 .184

7 .140 .278 .164 5.169E-02 -6.61E-02 .190 -9.35E-02 1.049E-02 .149 .308 -.519 -5.58E-02 -.304 .103 -3.55E-02 -.449 .109 .217 1.941E-02 8.701E-02 .175 -.321 3.229E-02 -.124 -7.19E-02 .259

8 .323 9.472E-02 -7.28E-02 -8.03E-02 .328 -6.34E-02 -.309 -2.28E-02 -.166 -6.22E-02 .194 .204 -.255 .120 .101 -.105 8.232E-02 -.205 -.347 -.140 .258 -7.92E-02 .384 .219 8.572E-02 -9.11E-02

Extraction Method: Principal Component Analysis. a. 8 components extracted.

114

Lampiran 9 : Analisa Faktor

a Rotated Component Matrix

X1 X4 X5 X6 X7 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X20 X21 X22 X23 X24 X25 X26 X27 X28 X29

1 -8.80E-02 .110 -9.98E-02 .237 .243 .360 .359 .260 7.773E-02 .275 3.892E-02 .132 -.135 .278 .356 .362 7.217E-02 -.228 6.691E-02 .470 .176 .222 .748 .763 .736 .647

2 9.339E-02 .785 .650 .541 .521 .405 8.180E-02 8.971E-02 .230 .607 7.172E-02 .271 .135 -1.01E-02 3.957E-02 .126 .584 6.616E-02 .108 .377 .133 .220 -5.65E-03 8.988E-02 .321 .104

3 .238 .198 -.154 .292 -.162 .435 .372 .742 .754 .418 7.930E-02 .241 .333 -.345 -.123 .155 .218 .297 4.430E-02 .186 .147 2.498E-02 -.138 .167 .228 .397

Component 4 5 .122 4.145E-02 .120 .150 .134 7.141E-02 .375 .160 .503 -9.66E-03 .331 -.144 .402 2.777E-02 .217 .308 .190 .199 1.849E-02 .184 .414 .746 -.124 .802 .782 1.110E-02 -7.18E-02 -2.29E-02 7.167E-02 .139 .739 .141 -2.97E-02 .554 .157 -1.85E-03 2.379E-03 9.322E-02 2.878E-02 .152 .137 .172 .434 .355 -2.67E-02 7.083E-02 .136 .227 .257 9.825E-02 9.026E-02 -.335

6 9.437E-02 3.873E-03 3.780E-02 .148 .183 .124 .245 9.913E-02 .144 .168 2.766E-02 .121 .116 .567 9.428E-02 4.341E-02 5.408E-02 .753 5.262E-02 -1.05E-03 .784 .278 .323 -4.47E-02 -.210 1.549E-02

7 -7.51E-02 -2.09E-02 .447 .178 -.299 -6.59E-02 .311 -7.73E-02 -4.07E-02 -3.88E-02 9.873E-02 .139 5.467E-02 .348 .798 6.422E-02 .165 9.290E-02 .701 .264 -4.11E-02 -3.43E-02 8.688E-02 8.429E-02 .104 .197

8 -.812 -7.56E-02 -1.18E-02 4.358E-02 -.198 -7.04E-02 .270 -.158 -.102 .263 -.101 .118 -.225 .211 -.228 .121 .113 2.584E-02 .303 .456 -.163 .489 7.475E-02 .102 .116 -3.01E-02

Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 17 iterations.

Component Transformation Matrix Component 1 2 3 4 5 6 7 8 1 .486 .470 -.587 -.063 -.118 .029 .003 .423 2 .496 -.110 .291 -.300 .547 -.234 .456 .076 3 .406 -.421 -.185 -.181 -.513 .242 .270 -.444 4 .396 -.321 -.206 .262 .364 -.104 -.657 -.232 5 .310 -.027 .608 -.226 -.369 .124 -.436 .375 6 .232 -.038 .208 .820 -.246 -.270 .279 .135 7 .191 .476 .251 .235 .222 .669 .037 -.348 8 .100 .508 .136 -.162 -.213 -.583 -.133 -.533

Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.

115

Lampiran 10 : Analisa Diskriminan
Analysis Case Processing Summary Unweighted Cases Valid Excluded Missing or out-of-range group codes At least one missing discriminating variable Both missing or out-of-range group codes and at least one missing discriminating variable Total Total N 80 0 0 Percent 100.0 .0 .0

0 0 80

.0 .0 100.0

Box's Test of Equality of Covariance Matrices

Log Determinants Log Determin ant -3.116 -1.606 -1.803

KELAS 1.00 2.00 Pooled within-groups

Rank 3 3 3

The ranks and natural logarithms of determinants printed are those of the group covariance matrices.

Test Results Box's M F 17.921 Approx. 2.822 df1 6 df2 11282.060 Sig. .010

Tests null hypothesis of equal population covariance matrices.

116

Stepwise Statistics

a,b,c,d Variables Entered/Removed

Wilks' Lambda Exact F Step 1 2 3 Entered X6 X15 X17 Statistic .888 .840 .793 df1 1 2 3 df2 1 1 1 df3 78.000 78.000 78.000 Statistic 9.881 7.316 6.632 df1 1 2 3 df2 78.000 77.000 76.000 Sig. .002 .001 .000

At each step, the variable that minimizes the overall Wilks' Lambda is entered. a. Maximum number of steps is 58. b. Maximum significance of F to enter is .05. c. Minimum significance of F to remove is .10. d. F level, tolerance, or VIN insufficient for further computation.

Variables in the Analysis Sig. of F to Remove .002 .031 .041 .015 .031 .036 Wilks' Lambda .893 .888 .857 .843 .840

Step 1 2 3

X6 X6 X15 X6 X15 X17

Tolerance 1.000 .912 .912 .883 .904 .947

Summary of Canonical Discriminant Functions

Eigenvalues % of Variance 100.0 Cumulativ e% 100.0 Canonical Correlation .455

Function 1

Eigenvalue .262a

a. First 1 canonical discriminant functions were used in the analysis.

Wilks' Lambda Wilks' Lambda .793 Chi-squar e 17.788

Test of Function(s) 1

df 3

Sig. .000

117

Canonical Discriminant Function Coefficients Function 1 .781 .660 -.868 -1.793

X6 X15 X17 (Constant)

Unstandardized coefficients Functions at Group Centroids Function 1 .795 -.321

KELAS 1.00 2.00

Unstandardized canonical discriminant functions evaluated at group means

Classification Statistics
Classification Processing Summary Processed Excluded 80 Missing or out-of-range group codes At least one missing discriminating variable 0 0 80
b,c Classification Results

Used in Output

Original

Count %

Cross-validateda

Count %

KELAS 1.00 2.00 1.00 2.00 1.00 2.00 1.00 2.00

Predicted Group Membership 1.00 2.00 20 3 23 34 87.0 13.0 40.4 59.6 17 6 23 34 73.9 26.1 40.4 59.6

Total 23 57 100.0 100.0 23 57 100.0 100.0

a. Cross validation is done only for those cases in the analysis. In cross validation, each case is classified by the functions derived from all cases other than that case. b. 67.5% of original grouped cases correctly classified. c. 63.8% of cross-validated grouped cases correctly classified.

118

Lampiran 11 : Deskripsi Skor Jawaban Responden

Frequency Table
X1 Valid Percent 15.0 10.0 30.0 37.5 7.5 100.0 Cumulativ e Percent 15.0 25.0 55.0 92.5 100.0

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 12 8 24 30 6 80

Percent 15.0 10.0 30.0 37.5 7.5 100.0 X2

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 2 10 17 41 10 80

Percent 2.5 12.5 21.3 51.3 12.5 100.0

Valid Percent 2.5 12.5 21.3 51.3 12.5 100.0

Cumulativ e Percent 2.5 15.0 36.3 87.5 100.0

X3 Valid Percent 5.0 11.3 37.5 46.3 100.0 Cumulativ e Percent 5.0 16.3 53.8 100.0

Valid

2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 4 9 30 37 80

Percent 5.0 11.3 37.5 46.3 100.0
X4

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 1 11 8 24 36 80

Percent 1.3 13.8 10.0 30.0 45.0 100.0

Valid Percent 1.3 13.8 10.0 30.0 45.0 100.0

Cumulativ e Percent 1.3 15.0 25.0 55.0 100.0

119

X5 Valid Percent 2.5 2.5 26.3 56.3 12.5 100.0 Cumulativ e Percent 2.5 5.0 31.3 87.5 100.0

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 2 2 21 45 10 80

Percent 2.5 2.5 26.3 56.3 12.5 100.0 X6

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 3 3 20 45 9 80

Percent 3.8 3.8 25.0 56.3 11.3 100.0 X7

Valid Percent 3.8 3.8 25.0 56.3 11.3 100.0

Cumulativ e Percent 3.8 7.5 32.5 88.8 100.0

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 3 9 27 32 9 80

Percent 3.8 11.3 33.8 40.0 11.3 100.0 X8

Valid Percent 3.8 11.3 33.8 40.0 11.3 100.0

Cumulativ e Percent 3.8 15.0 48.8 88.8 100.0

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 5 6 30 29 10 80

Percent 6.3 7.5 37.5 36.3 12.5 100.0

Valid Percent 6.3 7.5 37.5 36.3 12.5 100.0

Cumulativ e Percent 6.3 13.8 51.3 87.5 100.0

120

X9 Valid Percent 1.3 5.0 42.5 32.5 18.8 100.0 Cumulativ e Percent 1.3 6.3 48.8 81.3 100.0

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 1 4 34 26 15 80

Percent 1.3 5.0 42.5 32.5 18.8 100.0

X10 Valid Percent 3.8 32.5 52.5 11.3 100.0 Cumulativ e Percent 3.8 36.3 88.8 100.0

Valid

2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 3 26 42 9 80

Percent 3.8 32.5 52.5 11.3 100.0
X11

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 2 3 35 27 13 80

Percent 2.5 3.8 43.8 33.8 16.3 100.0 X12

Valid Percent 2.5 3.8 43.8 33.8 16.3 100.0

Cumulativ e Percent 2.5 6.3 50.0 83.8 100.0

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 1 2 22 36 19 80

Percent 1.3 2.5 27.5 45.0 23.8 100.0

Valid Percent 1.3 2.5 27.5 45.0 23.8 100.0

Cumulativ e Percent 1.3 3.8 31.3 76.3 100.0

121

X13 Valid Percent 1.3 5.0 25.0 60.0 8.8 100.0 Cumulativ e Percent 1.3 6.3 31.3 91.3 100.0

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 1 4 20 48 7 80

Percent 1.3 5.0 25.0 60.0 8.8 100.0 X14

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 1 3 19 38 19 80

Percent 1.3 3.8 23.8 47.5 23.8 100.0 X15

Valid Percent 1.3 3.8 23.8 47.5 23.8 100.0

Cumulativ e Percent 1.3 5.0 28.8 76.3 100.0

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 2 2 19 37 20 80

Percent 2.5 2.5 23.8 46.3 25.0 100.0 X16

Valid Percent 2.5 2.5 23.8 46.3 25.0 100.0

Cumulativ e Percent 2.5 5.0 28.8 75.0 100.0

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 1 10 22 38 9 80

Percent 1.3 12.5 27.5 47.5 11.3 100.0

Valid Percent 1.3 12.5 27.5 47.5 11.3 100.0

Cumulativ e Percent 1.3 13.8 41.3 88.8 100.0

122

X17 Valid Percent 11.3 57.5 31.3 100.0 Cumulativ e Percent 11.3 68.8 100.0

Valid

3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 9 46 25 80

Percent 11.3 57.5 31.3 100.0 X18

Valid

1.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 2 5 40 33 80

Percent 2.5 6.3 50.0 41.3 100.0
X19

Valid Percent 2.5 6.3 50.0 41.3 100.0

Cumulativ e Percent 2.5 8.8 58.8 100.0

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 3 1 4 38 34 80

Percent 3.8 1.3 5.0 47.5 42.5 100.0 X20

Valid Percent 3.8 1.3 5.0 47.5 42.5 100.0

Cumulativ e Percent 3.8 5.0 10.0 57.5 100.0

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 1 1 8 28 42 80

Percent 1.3 1.3 10.0 35.0 52.5 100.0

Valid Percent 1.3 1.3 10.0 35.0 52.5 100.0

Cumulativ e Percent 1.3 2.5 12.5 47.5 100.0

X21 Valid Percent 5.0 58.8 26.3 10.0 100.0 Cumulativ e Percent 5.0 63.8 90.0 100.0

Valid

2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 4 47 21 8 80

Percent 5.0 58.8 26.3 10.0 100.0

123

X22 Valid Percent 8.8 28.8 62.5 100.0 Cumulativ e Percent 8.8 37.5 100.0

Valid

3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 7 23 50 80

Percent 8.8 28.8 62.5 100.0
X23

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 1 2 34 21 22 80

Percent 1.3 2.5 42.5 26.3 27.5 100.0

Valid Percent 1.3 2.5 42.5 26.3 27.5 100.0

Cumulativ e Percent 1.3 3.8 46.3 72.5 100.0

X24 Valid Percent 2.5 12.5 60.0 25.0 100.0 Cumulativ e Percent 2.5 15.0 75.0 100.0

Valid

2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 2 10 48 20 80

Percent 2.5 12.5 60.0 25.0 100.0
X25

Valid

1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 2 6 34 31 7 80

Percent 2.5 7.5 42.5 38.8 8.8 100.0

Valid Percent 2.5 7.5 42.5 38.8 8.8 100.0

Cumulativ e Percent 2.5 10.0 52.5 91.3 100.0

X26 Valid Percent 27.5 42.5 30.0 100.0 Cumulativ e Percent 27.5 70.0 100.0

Valid

3.00 4.00 5.00 Total

Frequency 22 34 24 80

Percent 27.5 42.5 30.0 100.0

124

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful