RANITIDIN

Ranitidin merupakan salah satu obat yang cukup dikenal dikalangan masyarakat umum, yang disebabkan pemanfaatan obat ini yang cukup tinggi. Dokter umum dan spesialis penyakit dalam umumnya akan sering meresepkan obat ini. Secara umum, masyarakat mengenal ranitidin untuk indikasi ulkus duodenum, ulkus lambung, dan kondisi hipersekresi gastrointestinal (GI) patologikal. Penyakit-penyakit yang mengindikasi penggunaan ranitidin ini prevalensinya cukup tinggi dimasyarakat, sehingga wajar jika penggunaan ranitidin juga cukup tinggi jumlahnya. Dalam peresepannya, dokter dapat meresepkan ranitidin ini baik sebagai terapi utama maupun terapi pendukung. Tulisan ini akan sedikit mengulas semua hal yang berhubungan dengan ranitidin. Semoga bermanfaat. NAMA, STRUKTUR KIMIA DAN DESKRIPSI Ranitidin memiliki rumus molekul C13H22N4O3S dengan bobot molekul 314,4 g/mol. Ranitidin adalah salah satu senyawa yang mengantagonis reseptor histamin H2 yang menghambat sekresi asam lambung. Selain digunakan dalam terapi penyakit ulkus peptikum dan gastroesophageal refluks, ranitidin juga dapat digunakan sebagai antihistamin pada berbagai kondisi alergi pada kulit.

Rumus Struktur Ranitidin

Struktur 3 Dimensi Ranitidin Ranitidin memiliki nama ilmiah NN-Dimethyl-5-[2-(1-methylamino-2nitrovinylamino)ethylthiomethyl]furfurylamine. Ranitidin yang tersedia umumnya adalah ranitidin hidroklorida. Ranitidin merupakan serbuk kristalin berwarna putih hingga kuning pucat, praktis tidak berbau, mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam alkohol. Larutan 1% ranitidin dalam air mempunyai pH 4,5-6,0. Setiap 168 mg ranitidin hidroklorida setara dengan 150 mg ranitidin base. KEGUNAAN Ranitidin diunakan secara oral dalam terapi ulkus duodenum dan ulkus lambung yang aktif, gasthroesophageal reflux desease (GERD), esofagitis erosif dengan endoskopi, dan

sebagai terapi pemeliharaan pada ulkus duodenum dan ulkus lambung. Keamanan dan khasiat ranitidin ini baru diketahui untuk penggunaan selama 8 minggu. dan 59-68% untuk kelompok plasebo. Dalam studi terkontrol angka kekambuhan ulkus duodenum setelah 4. dan angka kekambuhan pada kelompok yang diterapi dengan ranitidin 1 kali sehari 150 mg sebelum tidur masing-masing adalah 12-20. anoreksia dan nyeri dan mempercepat penyembuhan ulkus. Ranitidin mengurangi sekresi asam lambung yang berkaitan dengan gejala diare. 21-24 dan 28-35%. Dan masalahnya bahwa pengobatan jangka pendek ulkus duodenum aktif (hingga 8 minggu) ini tidak mencegah kekambuhannya. Pasien dengan ZES yang gagal dengan terapi simetidin berhasil diobati dengan ranitidin 600-900 mg perhari selama 1-12 bulan. Ranitidin intravena juga digunakan pada pasien anak-anak (lebih dari bulan) dengan diagnosa ulkus duodenum. . Khasiat dan keamanan ranitidin untuk terapi jangka panjang ulkus duodenum belum diketahui. Ulkus Duodenum Terapi Ulkus Duodenum Akut Ranitidin oral digunakan dalam terapi jangka pendek pada ulkus duodenum aktif yang dikonfirmasi dengan endoskopi atau radiografi. Pada pasien hipersekresi GI patologis. Antasida dapat digunakan bersamaan dengan terapi ini untuk menghilangkan rasa nyeri ulkus duodenum. Infus intravena ranitidin kontinue hingga 15 hari pada pasien ZES menghasilkan efek pengendalian asam lambung hingga 10 mEq/jam atau lebih rendah. Dalam studi tersebut juga diketahui bahwa efektivitas ranitidin dalam mencegah kekambuhan ulkus duodenum menurun pada kelompok pasien dengan kebiasaan merokok. Ranitidin parenteral digunakan pada pasien dewasa dengan diagnosa ulkus duodenum parah yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit atau pada terapi jangka pendek jika terapi oral tidak memadai. Kombinasi antasida dan ranitidin ini terbukti mampu mengurangi kesakitan pada pasien. Antasida dapat digunakan bersama untuk mengatassi rasa nyeri. Kondisi Hipersekresi GI Patologis Ranitidin oral maupun intravena juga digunakan pada kondisi hipersekresi GI patologis (misal pada pasienZolinger Ellison Syndrome (ZES). mastositosis sistemik. 8 dan 12 bulan masing-masing adalah 21-24. Terapi Pemeliharaan Ulkus Duodenum Ranitidin digunakan dalam dosis rendah untuk terapi pemeliharaan setelah proses penyembuhan ulkus duodenum untuk mencegah kekambuhan. Ranitidin juga dapat digunakan secara parenteral pada pasien rawat inap dengan kondisi hipersekresi patologis pada saluran GI. ranitidin terbukti mampu menyembuhkan ulkus pada 42% pasien yang tidak merespon terapi simetidin. 28-35. Antimuskarinik seperti propanthelin bromida dan iodida isopropamide juga dapat digunakan bersama guna memperpanjang masa kerja ranitidin. hipersekresi pasca reseksi usus. atau sebagai terapi jangka pendek jika terapi oral belum memberikan respon yang optimum. Ranitidin oral juga digunakan dalam manajemen kondisi hipersekresi gastrointestinal (GI) patologis dan sebagai terapi pemeliharaan untuk mencegah kambuhnya esofagitis erosif.

Swamedikasi Dalam swamedikasi ranitidin digunakan untuk mengatasi atau mencegah gejala mulas. Kini epidemiologi dan bukti klinis mendukung bahwa infeksi lambung oleh bakteri Helicobacter pylori (HP) berhubungan dengan patogenesis ulkus lambung. Esofagitis Erosif Dosis lazim untuk terapi esofagitis erosif yang terdiagnosa dengan endoskopi pada pasien dewasa adalah 4x150 mg perhari. Penggunaan ranitidin harus segera dihentikan jika gejala tidak membaik atau bahkan semakin parah. Sedangkan dosis terapi GERD pada anak-anak (1 bulan sampai 16 tahun) adalah 5-10 mg/Kg BB perhari dalam dosis terbagi 2. Sehingga dalam kondisi ini direkomendasikan penggunaan antibakteri untuk eradikasi bakterinya. Untuk keperluan swamedikasi. Efektivitas ranitidin dalam hal ini hampir sama dengan simetidin. DOSIS PARENTERAL Dosis Dewasa Dosis intravena intermiten atau intramuskular pada dewasa adalah 50 mg setiap 6-8 jam. Jika perlu dosis dapat dapat ditingkatkan dengan meningkatkan frekuensi pemberian. perih akibat gangguan keseimbangan asam lambung pada orang dewasa atau anak diatas 12 tahun. Untuk pencegahan mulas akibat konsumsi makanan yang dapat menyebabkan mulas maka ranitidin sebaiknya diminum 30-60 menit sebelum mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat menyebabkan mulas. 70-80% setelah 6 minggu terapi. Durasi optimum pengobatan GERD dengan ranitidin belum diketahui. Jika ranitidin diberikan dengan infus intravena lambat maka . Antasida dapat digunakan bersama untuk menghilangkan nyeri. namun tidak boleh melebihi 400 mg perhari. ranitidin sebaiknya digunakan tidak lebih dari 2 dosis perhari dan tidak lebih dari 2 minggu. Ranitidin menyembuhkan ulkus lambung pada 60-70% pasien setelah terapi selama 4 minggu. Sedangkan dalam fase pemeliharaan dosis ranitidin adalah 2x150 mg perhari. Gejala GERD sering muncul dalam waktu 24 jam setelah dumulainya terapi dengan ranitidin ini. Terapi pemeliharaan ranitidin 150 mg sebelum tidur terbukti efektif mencegah kekambuhan ulkus lambung. Terapi Pemeliharaan Ranitidin dosis rendah digunakan dalam terapi pemeliharaan dan mencegah kekambuhan ulkus lambung. dosis yang dianjurkan adalah 75-150 mg 1-2 kali sehari. Gastroeshophageal Reflux Desease (GERD) Dalam terapi GERD dosis yang umum pada dewasa adalah 2x150 mg perhari. Ulkus Lambung Terapi Ulkus Lambung Akut Ranitidin oral digunakan dalam terapi ulkus lambung jinak.Ranitidin IV juga berhasil mengobati hipersekresi pasca operasi pada pasien yang tampaknya resisten terhadap simetidin. Sedangkan pada pasien anak 1 bulan sampai 16 tahun dosis yang direkomendasikan adalah 5-10 mg/Kg BB perhari dalam dosis terbagi 2.

Sedangkan penggunaannya pada pasien neonatus (kurang dari 1 bulan) dosis 2 mg/Kg BB intravena setiap 12-24 jam sebagai infus intravena kontinue. pasien masih menunjukan gejala hipersekresi GI. SGOT.kecepatannya 6. gejala Babinski. PERHATIAN Ranitidin dapat menimbulkan efek-efek yang kurang menyenangkan diantaranya: 1. Dosis maksimum hingga 2. DOSIS PADA PASIEN DENGAN PENURUNAN FUNGSI GINJAL Pada pasien dengan klirens kreatinin kurang dari 50 mL/menit maka dosis ranitidin yang direkomendasikan adalah 150 mg setiap 24 jam peroral. 5. SGPT. hiporefleksia. Beberapa kasus juga diketahui bahwa terapi ranitidin dapat menyebabkan hepatitis baik hepatoseluler atau pun hepatokanalikuler dan kolestasis yang umumnya bersifat reversibel. dan bradikardia yang mana gejala-gejala tersebut akan menghilang dengan sendirinya setelah penggunaan ranitidin dihentikan dalam 24 jam. dan urtikaria ditempat penyuntikan. anemia aplastik dan pansitopenia yang disertai hipoplasia sumsum tulang belakang namun jarang. dan jika setelah 4 jam infus. Dosis Pediatrik Dosis pada anak usia 1 bulan hingga 16 tahun. LDH. urtikaria. Sedangkan infus kontinue lambat bagi pasien ZES atau hipersekresi GI patologis umumnya infus dimulai dengan kecepatan 1 mg/Kg BB perjam. nyeri dan ketidaknyamanan pada perut. gamaglutamiltranspeptidase. Reaksi sensitivitas dan dermatologi: ruam. trombositopenia. muntah. Efek pada hati: dapat terjadi peningkatan konsentrasi aminotransferase serum (AST. disartria. mengantuk. Eksaserbasi astma dan angiodema juga dapat terjadi. insomnia. ruam. pruritus. agitasi. Penggunaan ranitidin dosis tinggi dan dalam jangka panjang pada anak-anak (8 mg/Kg BB perhari selama 10 bulan) dapat menyebabkan perubahan pada pola kesadaran. dan pada sebagian kecil pasien dapat mengalami pankreatitis. bilirubin total. Efek pada Hematologi: dapat terjadi leukopenia. 50 mg setiap 18-24 jam untuk pemberian parenteral. Efek pada sistem syaraf pusat dapat berupa: sakit kepala. pusing. demam. Anafilaksis yang ditandai dengan urtikaria berat dan penurunan tekanan darah dalam satu kali pemberian dosis tunggal dapat terjadi namun jarang. Efek pada ginjal dan saluran kemih: peningkatan kreatinin serum tanpa disertai peningkatan BUN dapat terjadi namun jarang. Penurunan libido juga pernah terjadi pada pria yang diterapi dengan ranitidin. rasa tidak enak badan (malaise). untuk pengobatan ulkus duodenum aktif adalah 24 mg/Kg perhari dalam dosis terbagi setiap 6-8 jam. Reaksi hipersensitivitas seperti bronkospasme. alkalin fosfatase serum. 4. diaforesis. 2. Efek pada GI: konstipasi.5 mg/Kg BB perjam dan tingkat infus 220 mg/jam.25 mg/jam selama 24 jam. . vertigo.5 mg/Kg BB perjam. mengantuk. 6. maka dosis harus dititrasi ke atas dengan penambahan sebesar 0. dengan konsentrasi asam lambung harus terus dipantau. kebingungan mental. mual. 3. eosinofilia jarang terjadi. depresi mental dan halusinasi terutama pada pasien geriatri lemah. agranulositopenia. ALT).

tidak ada bukti yang menunjukan pengaruh ranitidin pada fertilitas 6. Penggunaan ranitidin juga harus dihindari pada pasien dengan riwayat porphyria. Namun penggunaan ranitidin oral ataupun parenteral untuk kondisi hipersekresi GI patologis dan untuk terapi pemeliharaan dan pencegahan kekambuhan esofagitis erosif pada anak-anak belum diketahui. PERINGATAN DAN KONTRAINDIKASI Ranitidin yang digunakan pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal harus digunakan dengan hati-hati dan disertai dengan pengurangan dosis. sehingga penggunaan ranitidin pada wanita menyusui harus sangat berhati-hati. ranitidin belum menunjukan adanya bahaya pada fetus 5. Efek lain: dapat terjadi arthralgia. myalgia dan porphyria akut. Nyeri ginekomastia juga dapat terjadi pada pria. demikian juga penggunaannya pada neonatus. GERD dan esofagitis erosif telah diketahui khasiat dan keamanannya. Efek pada endokrin: belum ada efek yang diketahui secara pasti sehubungan penggunaan ranitidin pada sistem endokrin. sesak nafas. ranitidin terdistribusi ke dalam susu. sehingga penggunaan pada kondisi tersebut harus dengan kewaspadaan penuh. Efek pada sistem kardiovaskuler: aritmia jantung jarang terjadi. Efek pada penglihatan: dapat terjadi kekaburan penglihatan yang bersifat reversibel. 11. Kondisi-kondisi berikut dalam penggunaan ranitidin harus disertai dengan peringatan dan kewaspadaan: 1. Pada pasien pediatrik.7. hingga dosis 160 kali dosis oral biasa. bradikardia yang berhubungan dengan dispnea dapat terjadi. Pada pasien geriatrik. karena sebagian besar ranitidin diekskresikan melalui ginjal. 2. Demikian pun pada pasien dengan penurunan fungsi hati. Pada kehamilan. Pasien dengan gejala mulas yang menetap lebih dari 3 bulan tidak boleh menggunakan ranitidin untuk swamedikasi. 8. Efek pada sistem pernafasan: ranitidin dan antagonis reseptor H2 lainnya berpotensi meningkatkan resiko infeksi pneumonia pada komunitas pneumonia. Ranitidin juga tidak boleh digunakan untuk swamedikasi pada pasien dengan keluhan nyeri dada dan atau bahu. penggunaan ranitidin oral maupun parenteral pada pediatrik ( 1 bulan sampai 16 tahun) untuk indikasi ulkus duodenum dan lambung aktif. Ranitidin tidak boleh digunakan untuk swamedikasi jika pasien mengalami kesulitan menelan dan tidak boleh digunakan dalam kombinasi dengan obat penekan sekresi asam lambung lainnya. dan rasa nyeri yang menyebar. Pada kesuburan/fertilitas. 10. tidak ada bukti pengaruh ranitidin terhadap efek mutagenisitas dan karsinogenisitas pada manusia 4. eksaserbasi nyeri mata dan kaburnya penglihatan yang berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler dan glaukoma kronis. pada pasien geriatrik (berusia lebih dari 65 tahun keatas) kemungkinan resiko hipersensitivitasnya akan meningkat. Penggunaan ranitidin harus dihindari pada pasien dengan riwayat porphyria. . dan buta warna. Mutagenisitas dan karsinogenisitas. Namun telah diketahui adanya pasien pria yang mengalami impotensi seksual akibat penggunaan ranitidin yang segera sembuh seiring penghentian penggunaan obat. dan impotensi berulang saat penggunaan obat diulang. 3. 9. Pada laktasi (wanita menyusui). karena ranitidin dimetabolisme melalui hati. disamping itu kemungkinan adanya penurunan fungsi ginjal pada pasien geriatrik akan berpotensi meningkatkan resiko toksisitas.

Hemodialisis dapat dilakukan bila perlu. Nifedipin. Penggunaan bersama 100 mg metoprolol dan ranitin menyebabkan AUC metoprolol meingkat hingga 80% dan rata-rata konsentrasi serum puncak meningkat hingga 50%. obat lain maupun parameter klinis. antikoagulan. Ranitidin berinteraksi dengan sistem enzim sitokrom P450 dihati. dan waktu paruh eliminasi metoprolol meningkat hingga 4. Bioavalabilitas ranitidin meningkat 23% jika digunakan bersama propantelin bromida. Makanan dan Antasida. INTERAKSI OBAT Ranitidin dapat berinteraksi dengan makanan. TOKSISITAS AKUT Overdosis ranitidin dapat terjadi pada konsumsi ranitidin hingga 18 gram peroral yang dapat mengakibatkan terjadinya kelainan cara jalan dan hipotensi. Konsumsi bersama makanan atau antasida dengan ranitidin dapat menyebabkan penurunan absorpsi ranitidin hingga 33% dan konsentrasi puncak dalam serum menurun hingga 613-432 ng/mL. Penggunaan ranitidin bersama nifedipin dapat menyebabkan peningkatan AUC nifedipin hingga 30%.5 jam. Efek ranitidin pada hati.4-6. asam amino. 7. Vitamin B12. 5. penggunaan bersamanya dengan warfarin relatif tidak berpengaruh terhadap bersihan warfarin dan atau PT. insulin. Pengunaan bersama ranitidin dan teofilin menyebabkan penurunan bersihan plasma teofilin. FARMAKOLOGI Efek farmakologi ranitidin dapat terjadi melalui beberapa mekanisme.5 mg telah terbukti memperpanjang PT secara signifikan. Sedangkan penggunaan bersama ranitidin 2x200 mg dan warfarin 2. . Penggunaan bersama ranitidin dan warfarin dapat menurunkan atau meningkatkan waktu protrombin (PT). Merokok.5-4. Namun penggunaan ranitidin lebih dari 400 mg perhari bersama dengan warfarin belum diketahui pengaruhnya. Pada dosis ranitidin hingga 400 mg perhari. Pengobatan overdosis ranitidin dapat dilakukan dengan cara mengeluarkan ranitidin tak terserap dalam saluran cerna. Kebiasaan merokok menghambat penyembuhan ulkus duodenum dan mengurangi khasiat ranitidin. Propantelin bromida menghambat penyerapan dan meningkatkan konsentrasi puncak serum ranitidin. Propantelin bromida. Alkohol. 3. Pengunaan bersama ranitidin dan diazepam maupun lorazepam relatif tidak saling berinteraksi. dan terapi suportif. 6. pemantauan klinis. melalui mekanisme penghambatan pengosongan lambung dan perpanjangan waktu transit. Penggunaan ranitidin dapat mengakibatkan defisiensi vitamin B12 karena malabsorpsi vitamin B12. 4. Perbandingan kesembuhan ulkus duodenum pada perokok dan bukan perokok dengan terapi ranitidin adalah 62 dan 100%. Ranitidin membentuk ligand-kompleks dengan enzim sitokrom P450 sehingga menghambat aktivitas enzim tersebut. 1. diazepam dan propranolol.7. histamin maupun pentagastrin. Ranitidin dikontraindikasikan pada pasien dengan hipersensitif terhadap ranitidin atau komponen lain dalam formula sediaan obat. 1. 2. teofilin. Penggunaan bersama alkohol dan ranitidin menyebabkan peningkatan konsentrasi alkohol serum. Efek pada GI. Ranitidin menghambat kompetitif reseptor histamin H2 pada sel parietal menurunkan sekresi asam lambung pada kondisi basal maupun terstimulasi makanan. Ranitidin hanya sedikit menghambat metabolisme hepatik beberapa obat seperti kumarin.

Ranitidin memberikan sedikit pengaruh pada konsenrasi prolaktin serum. Pada pemberian secara oral ranitidin juga terdistribusi ke CSF. 3. Ranitidin dan simetidin dapat menurunkan aliran darah hati. Pada pasien dengan sirosis hati.7 L/Kg dengan kisaran 1. Distribusi. Metabolisme.3-2. Absorpsi. FARMAKOKINETIK 1.7-3. Efek lain. Ranitidin terdistribusi secara luas pada cairan tubuh dan sekitar 10-19% berikatan dengan protein serum. dan ranitidin S-oksida.1-3. 150 dan 300 mg Tablet 150 dan 300 mg Sirup 15 mg/mL Injeksi 25 mg/mL . Peningkatan kadar prolaktin serum akan terjadi pada pemberian ranitidin 200 atau 300 mg IV. Ranitidin tidak menghambat metabolisme antipirin dihati.5 L/Kg dengan kisaran 1. Ranitidin dimetabolisme dihati menjadi ranitidin N-oksida. demikian pula pada anak-anak. Waktu paruh eliminasi rata-rata pada orang dewasa adalah 1. Pada pasien lanjut usia waktu paruh eliminasi umumnya meningkat seiring berkurangnya fungsi ginjal. Ranitidin meningkatkan reduksi nitrat oleh flora normal GI. Eliminasi.2. Ranitidin diabsorpsi dengan baik dari saluran cerna maupun pada pemberian secara intramuskular. Waktu paruh eliminasi akan meningkat pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal.9 L/Kg. Volume distribusi ranitidin rata-rata 1. Pada pemberian oral. 2. dan dapat berkorelasi positif dengan usia. konsentrasi serum akan meningkat akibat rendahnya metabolisme lintas pertama dihati dan bioavailabilitasnya rata-rata 70%.2 jam. 4. desmetil ranitidin. SEDIAAN Tersedia dalam produk generiknya berupa sediaan: Kapsul 75. Efek pada gonad dan endokrin. Bioavailabilitas absolut ranitidin pada pemberian secara oral adalah sekitar 50%. 3. ranitidin juga mengalami metabolisme lintas pertama dihati. Sedangkan pada geriatrik bioavailabilitasnya rata-rata 48%. Ranitidin juga terdistribusi ke susu.7 L/Kg.2-1. Sedangkan volume distribusi pada anak sekitar 2. Ranitidin sebagian besar diekskresikan dalam urin melalui filtrasi glomerular dan sekresi tubular.

Cefotaxime 500 mg Tiap vial mengandung: Cefotaxime sodium setara dengan cefotaxime 500 mg . infeksi susunan saraf pusat. termasuk keadaan parah atau yang mengancam nyawa. infeksi saluran kemih dan kelamin. infeksi sebelum atau sesudah operasi.000 mg Cara Kerja Obat: Cefotaxime adalah kelompok obat yang disebut cephalosporin antibiotics. Cefotaxime bekerja dengan cara memperlemah dan memecah dinding sel. infeksi kandungan.Penderita gagal ginjal yang berat.Penderita dengan riwayat hipersensitif terhadap antibiotik cephalosporin. . Kontraindikasi . Dosis: . membunuh bakteri. bakteremia (beredarnya bakteri dalam darah) atau septikemia (keracunan darah oleh bakteri patogenik dan atau zat-zat yang dihasilkan oleh bakteri tersebut). infeksi kulit & jaringan lunak. infeksi tulang dan sendi.Cefotaxime 1 g Tiap vial mengandung: Cefotaxime sodium setara dengan cefotaxime 1. Indikasi: Infeksi saluran pernafasan bagian bawah.Cefotaxime Sediaan dan Komposisi: . infeksi dalam perut. Cefotaxime digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi bakteri.

Efek pada parameter laboratorium. Jika diperlukan dosis yang lebih besar. • Karena pada bayi prematur.Pada pasien yang hipersensitif terhadap penicillin ada kemungkinan terjadi sensitivitas silang.8 jam. . Dosis awal tergantung dari sensitivitas patogen dan kegawatan infeksi. Pada infeksi yang mengancam jiwa dapat digunakan dosis sampai 200 mg/kg BB/hari. probenesid.60 menit sebelum pembedahan dimulai. klirens renal belum berkembang sempurna. Cara pemakaian: Cara pemberian obat sebaiknya melalui intravena (langsung pada vena atau bagian dari katup selang infus). Pada pemberian intramuskular injeksi harus disuntikkan dalam-dalam pada otot gluteal. . Bila klirens kreatinin < 5 mL/menit.Untuk terapi gonore non-komplikata pada orang dewasa. Pasien harus diperiksa terhadap kemungkinan infeksi sifilis sebelum terapi dimulai. dosis perhari tidak boleh melampaui 50 mg/kg BB. . .Bayi dan anak-anak : 50 . dibagi dalam 2 . dosis awal diberikan 30 . Tergantung dari resiko infeksi. Pada infeksi berat : 2 kali 2 gram/hari biasanya cukup.Hati-hati bila diberikan pada penderita dengan riwayat penyakit gastrointestinal terutama kolitis. interval pemberian obat dapat diperpendek menjadi setiap 6 . . . .100 mg/kg BB/hari. . . dosis pemeliharaan perlu dikurangi sampai separuh dosis normal.Agar dilakukan pemeriksaan hitung darah pada penderita yang mendapatkan pengobatan lebih dari 10 hari dan pengobatan dihentikan jika timbul neutropenia.Cefotaxime diekskresikan dalam air susu ibu sehingga penggunaannya sebaiknya hati-hati pada ibu menyusui. Disarankan injeksi intramuskular pada satu sisi yang sama tidak melebihi 4 mL (sekitar 1gram Cefotaxime). Pada bakteri yang kurang sensitif mungkin diperlukan peningkatan dosis.Dosis pada gangguan fungsi ginjal.4 dosis yang setara. dosis serupa dapat diulang. Rekomendasi dosis adalah berdasarkan pengalaman pada orang dewasa.Untuk profilaksis perioperatif. Hati-hati pemberian pada wanita hamil. walaupun pemberian dapat pula dilakukan secara intramuskular..Interaksi obat : penggunaan bersamaan dengan diuretik kuat. obat yang berpotensi nefrotoksik (misal Aminoglikosid).Dewasa dan anak > 12 tahun : 1 gram setiap 12 jam. Peringatan dan Perhatian: . . dosis tunggal Cefotaxime 1 gram diberikan intramuskular.

Hasil positif palsu mungkin diperoleh dari glukosa urin. hasil tes Coombs positif palsu dapat dihasilkan pada pasien yang diberi Cefotaxime. reaksi hipersensitivitas. rasa sakit/nyeri pada tempat penyuntikan. neutropenia. bila itu ditentukan dengan metode reduksi. . . Hal ini dapat dihindari dengan menggunakan metode enzimatik.Walaupun jarang. Efek Samping: Gangguan saluran pencernaan. eosinofilia.. flebitis (radang pembuluh balik). leukopenia yang bersifat sementara. superinfeksi.

25 L/kg. Farmakokinetik Ketorolac pada manusia setelah pemberian secara intramuskular dosis tunggal atau multipel adalah linear. Waktu paruh terminal plasma 5. Ketorolac secara parenteral dianjurkan diberikan segera setelah operasi. . Obat ini merupakan obat anti-inflamasi nonsteroid yang menunjukkan aktivitas antipiretik yang lemah dan anti-inflamasi. volume distribusinya rata-rata 0. Harus diganti ke analgesik alternatif sesegera mungkin. Lebih dari 99% Ketorolac terikat pada konsentrasi yang beragam. karena ada kemungkinan sensitivitas silang. Pemberian Ketorolac secara parenteral tidak mengubah hemodinamik pasien. Kontra Indikasi:  Pasien yang sebelumnya pernah mengalami alergi dengan obat ini. Pada dosis jangka panjang tidak dijumpai perubahan bersihan. Kadar steady state plasma dicapai setelah diberikan dosis tiap 6 jam dalam sehari. Indikasi: Ketorolac diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut sedang sampai berat setelah prosedur bedah. asalkan terapi Ketorolac tidak melebihi 5 hari. Ketorolac dan metabolitnya (konjugat dan metabolit para-hidroksi) ditemukan dalam urin (rata-rata 91. Ketorolac tromethamine menghambat sintesis prostaglandin dan dapat dianggap sebagai analgesik yang bekerja perifer karena tidak mempunyai efek terhadap reseptor opiat. Durasi total Ketorolac tidak boleh lebih dari lima hari. Setelah pemberian dosis tunggal intravena. Ketorolac tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai obat prabedah obstetri atau untuk analgesia obstetri karena belum diadakan penelitian yang adekuat mengenai hal ini dan karena diketahui mempunyai efek menghambat biosintesis prostaglandin atau kontraksi rahim dan sirkulasi fetus.Farmakodinamik: Ketorolac tromethamine merupakan suatu analgesik non-narkotik.3 jam pada dewasa muda dan 7 jam pada orang lanjut usia (usia rata-rata 72 tahun).1%) diekskresi dalam feses.2 mcg/ml setelah 50 menit pemberian dosis tunggal 30 mg.4%) dan sisanya (ratarata 6. Farmakokinetik: Ketorolac tromethamine diserap dengan cepat dan lengkap setelah pemberian intramuskular dengan konsentrasi puncak rata-rata dalam plasma sebesar 2.

pusing.  Pasien pasca operasi dengan risiko tinggi terjadi perdarahan atau hemostasis inkomplit. mengantuk. Mekanisme interaksi pastinya belum diketahui. pasien dengan antikoagulan termasuk Heparin dosis rendah (2.  Pasien yang menderita ulkus peptikum aktif.  Penyakit serebrovaskular yang dicurigai maupun yang sudah pasti.  Sindrom polip nasal lengkap atau parsial. berkeringat.  Gangguan ginjal derajat sedang sampai berat (kreatinin serum >160 mmol/L). Efek Samping: Saluran cerna : diare. Interaksi Obat:  Pemberian Ketorolac bersama dengan Methotrexate harus hati-hati karena beberapa obat yang menghambat sintesis prostaglandin dilaporkan mengurangi bersihan Methotrexate.000 unit setiap 12 jam).  Hipovolemia akibat dehidrasi atau sebab lain. sehingga memungkinkan peningkatan toksisitas Methotrexate.  Terapi bersamaan dengan ASA dan NSAID lain.  Riwayat asma.  Penggunaan bersama NSAID dengan Warfarin dihubungkan dengan perdarahan berat yang kadangkadang fatal.  Pemberian profilaksis sebelum bedah mayor atau intra-operatif jika hemostasis benar-benar dibutuhkan karena tingginya risiko perdarahan. namun mungkin meliputi peningkatan perdarahan dari ulserasi gastrointestinal yang diinduksi NSAID.  Terapi bersamaan dengan Ospentyfilline.  Pemberian neuraksial (epidural atau intratekal). Susunan Saraf Pusat : sakit kepala.  Diatesis hemoragik termasuk gangguan koagulasi. persalinan.  Pasien yang mempunyai riwayat sindrom Steven-Johnson atau ruam vesikulobulosa. dispepsia. Probenecid atau garam lithium. melahirkan atau laktasi. Pasien yang menunjukkan manifestasi alergi serius akibat pemberian Asetosal atau obat anti-inflamasi nonsteroid lain.  Selama kehamilan.  Anak < 16 tahun. nyeri gastrointestinal.500–5. nausea. angioedema atau bronkospasme. atau efek tambahan .

Penggunaan obat dengan aktivitas nefrotoksik harus dihindari bila sedang memakai Ketorolac misalnya antibiotik aminoglikosida. Ketorolac mengurangi respon diuretik terhadap Furosemide kira-kira 20% pada orang sehat normovolemik. ACE inhibitor karena Ketorolac dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal yang dihubungkan dengan penggunaan ACE inhibitor. Pernah dilaporkan adanya kasus kejang sporadik selama penggunaan Ketorolac bersama dengan obatobat anti-epilepsi. terutama pada pasien yang telah mengalami deplesi volume. .     antikoagulan oleh Warfarin dan penghambatan fungsi trombosit oleh NSAID. Pernah dilaporkan adanya halusinasi bila Ketorolac diberikan pada pasien yang sedang menggunakan obat psikoaktif. Ketorolac harus digunakan secara kombinasi hanya jika benarbenar perlu dan pasien tersebut harus dimonitor secara ketat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful