PENGKAJIAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PERSARAFAN

Pengkajian merupakan salah satu urutan/bagian dari proses keperawatan yang sangat menentukan keberhasilan asuhan keperawatan yang diberikan. Tanpa pengkajian yang baik, maka rentetan proses selanjutnya tidak akan akurat, demikian pula pada pasien dengan gangguan persarafan. Gangguan persarafan dapat berentang dari sederhana sampai yang kompleks. Beberapa gangguan persarafan menyebabkan gangguan/hambatan pada aktifitas hidup sehari-hari bahkan berbahaya. Komponen utama pengkajian persarafan adalah : 1. Riwayat kesehatan klien secara komprehensif 2. Pemeriksaan fisik yang berhubungan dengan status persarafan 3. Diagnostik test yang berhubungan dengan persarafan baik bersifat spesifik maupun bersifat umum. RIWAYAT KESEHATAN Tujuan diperolehnya riwayat kesehatan klien adalah menentukan status kesehatan saat ini dan masa lalu dan memperoleh gambaran kapan mulainya penyakit yang diderita saat ini. Riwayat kesehatan ini meliputi : data biografi, keluhan utama dan riwayat penyakit saat ini, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat keluarga, riwayat psikososial dan pemeriksaan sistem tubuh. Data Biografi : Termasuk diantaranya adalah identitas klien, sumber informasi (klien sendiri atau orang terdekat/significant other). Keluhan utama : Perawat memperoleh gambaran secara detail pada kondisi yang utama dialami klien. Memperoleh informasi tentang perkembangan, tandatanda dan gejala-gejala : onset (mulainya), faktor pencetus dan lamanya. Perlu menentukan kapan mulainya gejala tersebut serta perkembangannya. Riwayat kesehatan masa lalu : Mencakup penyakit yang pernah dialami sebelumnya, penyakit infeksi yang dialami pada masa kanak-kanak, pengobatan, periode perinatal, tumbuh kembang, riwayat keluarga, riwayat psikososial dan pola hidup. Penyakit saraf sering mempengaruhi kemampuan fungsi-fungsi tubuh. Perawat perlu menanyakan perubahan tingkat kesadaran, nyeri kepala, kejang-kejang, pusing, vertigo, gerakan dan postur tubuh. Masalah kesehatan utama dan hospitalisasi : Berbagai penyakit yang berhubungan dengan perubahan akibat gangguan persarafan misalnya diabetes mellitus, anemia pernisiosa, kanker, berbagai penyakit infeksi dan hipertensi. Penyakit hati dan ginjal yang menahun akan mengakibatkan gangguan metabolisme misalnya gangguan keseimbangan cairan elektrolit dan asam basa akan mempengaruhi fungsi mental.

____________________________________
Alle/Sistem Persarafan/Assesment

44

Perawat juga akan memperoleh informasi mengapa klien dirawat di rumah sakit, kecelakaan atau pembedahan sehubungan dengan sistem persarafan seperti trauma kepala, kejang, stroke atau luka akibat kecelakaan. Pengobatan : Perawat akan memperoleh informasi sehubungan dengan obat-obatan yang diperoleh klien. Banyak obat-obat anti alergi dan pilek yang bisa dikomsumsi dapat mengakibatkan klien mengantuk. Perawat harus mengkaji obat yang digunakan, jenis obat, efek terapinya, efek samping yang ditimbulkan dan lamanya digunakan. Riwayat keluarga : Perawat akan menanyakan pada keluarga sehubungan dengan gangguan persarafan guna menentukan faktor-faktor resiko / genetik yang ada. Misalnya epilepsi, hipertensi, stroke, retardasi mental dan gangguan psikiatri. Riwayat psikososial dan pola hidup : Perawat mengajukan pertanyaan sehubungan faktor psikososial klien seperti yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan, tingkat penampilan dan perubahan kepribadian. Perawat memperoleh informasi tentang aktifitas klien sehari-hari. Juga menanyakan adanya perubahan pola tidur, aktifitas olahraga, hobi dan rekreasi, pekerjaan, stressor yang dialami dan perhatian terhadap kebutuhan seksual. PENGKAJIAN NEUROLOGIK BERDASARKAN 11 POLA FUNGSI : HEALTH PERCEPTION – HEALTH MANAGEMENT • Apakah klien pernah mengalami ganguan neurologik, terjatuh/trauma, atau pembedahan; termasuk kejang, stroke, trauma kepala, trauma spinal; infeksi, tumor, meningitis atau enchepalitis • Apakah klien pernah mengalami masalah-masalah yang berhubungan dengan kemampuan pergerakan bagian-bagian tubuhnya. Uraikan • Apakah klien dapat berpikir dengan jelas. Uraikan • Apakah klien memiliki masalah yang berhubungan dengan penglihatan, pendengaran, pengecapan, atau pembauan • Jika klien menjawab ya dari pertanyaan ini, bagaimana klien melakukan/mengatasi permasalahan tersebut • Apakah klien pernah melakukan tes diagnostik terkait dengan masalah neurologik, kapan dan untuk apa? • Apakah klien menjalani pengobatan kejang, sakit kepala, atau gangguan neurologik lainnya, jenis apa dan dosisnya. • Apakah klien menggunakan tembakau atau minum alkohol, jenisnya apa, seberapa banyak, sudah berapa lama? NUTRITIONAL - METABOLIC • Tanyakan tentang kebiasaan makan klien selama 24 jam. Apaka klien makan makanan dari semua golongan makanan atau tidak adakag makanan pantang bagi klien • Apakah klien memiliki kesukaran mengunyah atau menelan

____________________________________
Alle/Sistem Persarafan/Assesment

45

Bagaimana perasaannya setelah kejang • Apakah klien memiliki pengalaman tremor/gemetar. suppositoria. lokasi dan faktor pencetusnya • Pernahkah klien merasakan pingsan atau pusing. penglihatan seperti dibatasi embun • Apakah klien pernah mengalami masalah pendegaran • Apakah klien mengalami perubahan pada pengecapan dan pembauan • Apakah klien mneglami kesulitan mengingat SELF PERCEPTION-SELF CONCEPT • Bagaimana masalah neurologik tentang dirimu • Bagaimana masalah neurologik tentang hidupmu • Bagaimanaperasaannmu tentang disebabkan dari masalah neurologik mempengaruhi mempengaruhi kelemahan perasaanmu perasaanmu mungkin yang ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 46 . terbakar atau perasaan geli. koordinasi atau berjalan. jenis. Apakah klien menggunakan alat bantu jalan • Apakah klien menaglami kelemahan pada lengan atau kaki • Apakah klien mampu menggerakkan seluruh bagian tubuhnya • Jika klien kejang. apakah klien mampu mengidentifikasi faktor pencetusnya.ELIMINATION • Apakah klien mengalami perubahan pada kebiasaan b a k atau bab • Apakah klien menggunakan laksatif. Apakah tidur dan istirahat menyimpan kekuatan dan energi COGNITIVE-PERCEPTUAL • Uraikan tentang pengalaman sakit kepala klien termasuk frekuensi. bagaimana ? • Apakah klien pernah memilki nyeri yang timbul pada malam hari. Jika demikian. Dimana bagian mana? SLEEP-REST • Apakah masalah kesehatan ini memiliki pengaruh terhadap kemampuan tidur dan isitrahat. Dimana areanya dan kapan • Apakah klien pernah mengalami masalah visual seperti penglihatan ganda. Jelaskan • Uraikan tentang tingkat energi. bantuan enema. jenis apa dan seberapa sering. • Apakah klien mampu berjalan ke kamar mandi dengan bantuan atau tanpa dibantu. Uraikan kebiasaan rutin klien ACTIVITY – EXERCISE • Jelaskan jnis aktifitas kliens selama 24 jam • Apakah klien memiliki kesulitan terhadap keseimbangan. Pernahkah klien merasakan berada di ruangan pemintalan • Apakah klien pernah mengalami perasaan kebas.

pekerjaannya. atau aktifitas apa yang dapat membantu mengatasi stres dengan gangguan neurologik • Apa yang dapat klien lihat yang dapat menjadi sumber kekuatan terbesar saat ini • Apa yang klien rasakan/percayai untuk waktu mendatang dengan gangguan neurologik ini PHYSICAL ASSESMENT: Abbreviated Neurological Assesment • Asses LOC (auditory and/tactile stimulus) • Obtain vital sign (BP. praktisian. dan aktifitas sosialnya • Apakah maslah neurologik berpengaruh terhadap kemampuan kerjanya SEXUALITY-REPRODUCTIVE • Apakah aktifitas sexual klien mengalami gangguan oleh adanya masalah neurologik • Apakah klien pernah menerima informasi tentang cara lain dalam mengekspresikan aktifitas sexual jika klien mengalami gangguan neurologik • Uraikan bagaimana masalah neurologik membuat klien merasakan dirinya laki–laki atau wanita COPING-STRESS • Uraikan apa yang klien lakukan untuk mengatasi stress • Bagaimana gangguan neurologik mempengaruhi cara klien mengatasi stress • Apakah dengan stres yang meningkat semakin memperburuk masalah neurologik • Siapa dan apa yang dapat membantu klien dalam mengatasi stres dengan masalah neurologik VALUE-BELIEF • Siapa orang terdekat. • Apakah masalah neurologik berpengaruh terhadap perannya dalam keluarganya. tumor otak. R) • Check pupillary response to light • Asses strength of hand grip and movement of extremities • Determine ability to sense touch/pain in ekstremities ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 47 . P. epilepsi • Apakah klien sulit mengekspresikan dirinya.ROLE-RELATIONSHIP • Adakah riwayat masalah neurologik keluarga seperti alzheimer disease. dengan teman-temannya. Bagaimana • Apakah masalah neurologik berpengaruh terhadap interaksi dengan anggota keluarga yang lain.

palpasi dan perkusi menggunakan refleks hammer.PENGKAJIAN FISIK DAN TEST DIAGNOSTIK Pemeriksan fisik sehubungan dengan sistem persarafan untuk mendeteksi gangguan fungsi persarafan. respon sensorik dan tanda-tanda vital. Contoh angka 100 selalu dikurangi 7. Berikan point 1 untuk masing-masing jawaban benar Perhatian dan perhitungan Tanyakan angka mulai angka 100 dengan menghitung mundur. Dengan cara inspeksi. Contoh kata JANDA. tanggal. kadang-kadang perawat mengalami kesulitan memperoleh riwayat kesehatan yang akurat langsung dari klien. berikan skor 1 unuk masing-masing jawaban benar Daya ingat (recall) Sebutkan tiga benda kemudian suruh Orang coba mengulangi nama benda tersebut. dilakukan pemeriksaan : Status mental : Masalah persarafan sering berpengaruh pada status mental. Tanyakan “kita ada dimana” seperti : nama rumah sakit yang ia tempati. komunikasi dan bahasa. negara. huruf ke 5. kota. Kemudian suruh orang coba untuk mengulang nama-nama benda yang sudah diperlihatkan. hari dan bulan. Secara umum dalam pemeriksaan fisik klien gangguan sistem persarafan. Pemeriksaan pada sistem persarafan secara menyeluruh meliputi : status mental. respon motorik. musim. pengkajian saraf kranial. asal daerah. berhenti setelah langkah ke 5. dan tanyakan nama benda tersebut (2 point) Pengulangan kata Ucapkan sebuah kalimat kemudian Suruh Orang coba mengulang kalimat tersebut. Status mental. Nilai 1 untuk masing-masing jawaban benar Bahasa : Memberikan nama Tunjukkan benda (pensil dan jam tangan) pada Orang coba. dan alamat rumah. Contoh ‘saya akan pergi nonton di bioskop’ (skor 1) Tiga perintah berurutan ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 48 . ke 4. Berikan point 1 untuk masingmasing jawaban yang benar Registration (memori) Perlihatkan 3 benda yang berbeda dan sebutkan nama benda-benda tersebut masing-masing dalam waktu 1 detik. Untuk orang coba yang tidak bisa menghitung dapat menggunakan kata yang dieja. termasuk kemampuan berkomunikasi dan berbahasa serta tingkat kesadaran dilakukan dengan pemeriksaan Glasgow Coma Scale (GCS). Orientasi Tanyakan tentang tahun. ke 3 dst.

ditandai dengan hilangnya kemampuan untuk mengerti bahasa verbal dan visual tapi memiliki kemampuan secara aktif mengucapkan kata-kata dan menuliskannya. Suruh Orang coba membaca dan melakukan perintah tersebut (skor 1) Menulis Suruh Orang coba menulis sebuah kalimat pada kertas kosong (skor 1) Mengkopi(menyalin) Gambarlah suatu objek kemudian suruh orang coba meniru gambar tersebut (nilai 1) Skor maksimun pada test ini adalah 30. lalu pindahkan ke tangan kirimu kemudian letakkan kembali dimeja. (skor tiga) Membaca Sediakan kertas yang berisi kalimat perintah contoh. respon verbal dan kalimat membingungkan. 3. verbal. tampak seperti enggan bicara. karena lesi di area Broca. (tutup matamu). tanpa stimuli individu terjaga dan sadar terhadap diri dan lingkungan. Afasia motorik.Berikan Orang coba selembar kertas yang berisi 3 perintah yang berurutan dan ikuti perintah tersebut seperti contoh. Alert : Composmentis / kesadaran penuh  Pasien berespon secara tepat terhadap stimulus minimal. 2.  Dengan pertanyaan kompleks akan tampak bingung. karena lesi pada area Wernicke. Afasia sensorik / perseptif. Tingkat kesadaran : 1. Lethargic : Kesadaran  Klien seperti tertidur jika tidak di stimuli. mungkin klien dapat berespon dengan cepat. Apa yang diucapkan dan ditulis tidal mempunyai arti apa-apa. Disatria.  Gangguan berbahasa (afasia) : 1. namun mengerti bahasa verbal dan visual serta dapat melaksanakan sesuatu sesuai perintah. 2. 4. 3. Obtuned  Klien memerlukan rangsangan yang lebih besar agar dapat memberikan respon misalnya rangsangan sakit. Ambil pensil itu dengan tangan kananmu. stimulus minimal.  Dengan sentuhan ringan. Stuporus  ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 49 . klien tidak mampu menyatakan pikiran dengan kata-kata. gangguan pengucapan kata-kata secara jelas dan tegas karena lesi pada upper motor neuron (UMN) lateral bersifat ringan dan lesi UMN bilateral bersifat berat. sedangkan rata-rata normal dengan nilai 27.

Motorik = Motoric response (M)  Menurut perintah  Dapat melokalisir rangsangan sensorik di kulit (raba)  Menolak rangsangan nyeri pada anggota gerak  Menjauhi rangsangan nyeri (fleksi abnormal)/postur dekortikasi  Ekstensi abnormal/postur deserebrasi  Tidak ada respon 3. Membuka Mata = Eye open (E)  Spontan membuka mata  Terhadap suara membuka mata  Terhadap nyeri membuka mata  Tidak ada respon 2.Klien dengan rangsang kuat tidak akan memberikan rangsang verbal. Koma  Tidak dapat memberikan respon walaupun dengan stimulus maksimal. Test nervus I (Olfactory)  Fungsi penciuman  Test pemeriksaan.  Pergerakan tidak berarti berhubungan dengan stimulus. klien tutup mata dan minta klien mencium benda yang baunya mudah dikenal seperti sabun. tanda vital mungkin tidak stabil. Dimana masing-masing mempunyai “scoring” tertentu mulai dari yang paling baik (normal) sampai yang paling jelek. Jumlah “total scoring” paling jelek adalah 3 (tiga) sedangkan paling baik (normal) adalah 15. hanya organ otonom yang bekerja < 7 : koma > 11 : moderate disability 15 : composmentis Adapun scoring tersebut adalah : RESPON 1. Score : 3 – 4 : vegetatif. dan respon verbal (verbal response = V). kopi dan sebagainya. tembakau. ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 50 .  Bandingkan dengan hidung bagian kiri dan kanan. 5. respon motorik (motorik response = M). Verbal = Verbal response (V)  Berorientasi baik  Bingung  Kata-kata respon tidak tepat  Respon suara tidak bermakna  Tidak ada respon SCORING 4 3 2 1 6 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1 Saraf kranial : 1.   Glasgow Coma Scale (GCS) : Didasarkan pada respon dari membuka mata (eye open = E).

informasikan agar klien langsung memberitahu klien melihat benda tersebut. tutup satu telinga klien. kepala tegak lurus. mengerutkan dahi. klien memandang hidung pemeriksa yang memegang pena warna cerah. 5. Usap pula dengan pilihan kapas pada maxilla dan mandibula dengan mata klien tertutup.  Test N VI. minta klien untuk melihat kearah kiri dan kanan tanpa menengok. VI (Oculomotorius. Refleks kornea consensual maka gerakan mengedip kontralateral. Refleks kornea langsung maka gerakan mengedip ipsilateral. lakrimasi dan salivasi  Fungsi motorik. klien tidak boleh menarik masuk lidahnya karena akan merangsang pula sisi yang sehat. Test nervus VII (Facialis)  Fungsi sensasi. manis. caranya : klien disuruh mengunyah. ulangi mata kedua. Test nervus III. ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 51 . caranya : dengan mengusap pilihan kapas pada kelopak mata atas dan bawah. Perhatikan apakah klien merasakan adanya sentuhan. klien diminta berjalan lurus. tutup satu mata klien kemudian suruh baca dua baris di koran. pemeriksa berbisik di satu telinga lain. terhadap asam. asin pahit. 4. letakkan obyek kurang lebih 60 cm sejajar mid line mata. menyorotkan senter kedalam tiap pupil mulai menyinari dari arah belakang dari sisi klien dan sinari satu mata (jangan keduanya). IV. pemeriksa melakukan palpasi pada otot temporal dan masseter. Trochlear dan Abducens)  Fungsi koordinasi gerakan mata dan kontriksi pupil mata (N III). Test nervus II ( Optikus)  Fungsi aktifitas visual dan lapang pandang  Test aktifitas visual.  Vestibulator (mengkaji keseimbangan). 3. usapkan larutan berasa dengan kapas/teteskan. ulangi untuk satunya. gerakkan perlahan obyek tersebut. menutup mata sementara pemeriksa berusaha membukanya 6.  Fungsi motorik. klien tutup mata kiri. apakah dapat melakukan atau tidak.  Test lapang pandang. kontrol ekspresi muka dengancara meminta klien untuk : tersenyum. atau menggesekkan jari bergantian kanan-kiri.2. diplopia. gerakkan obyek kearah kanan. Test nervus VIII (Acustikus)  Fungsi sensoris :  Cochlear (mengkaji pendengaran).  Otonom.  Test N IV. perhatikan kontriksi pupil kena sinar.  Test N III (respon pupil terhadap cahaya). Klien tutup mata. Observasi adanya deviasi bola mata. pemeriksa di kanan. nistagmus. Test nervus V (Trigeminus)  Fungsi sensasi. kaji sensasi rasa bagian anterior lidah.

karena sangat subyektif sekali.  N X. Oleh sebab itu sebaiknya dilakukan paling akhir dan perlu diulang pada kesempatan yang lain (tetapi ada yang menganjurkan dilakukan pada permulaan pemeriksaan karena pasien belum lelah dan masih bisa konsentrasi dengan baik).Stylopharingeus. Bagian parasimpatik N IX mempersarafi M. Apakah Sternocledomastodeus dapat terlihat ? apakah atropi ? kemudian palpasi kekuatannya. mati rasa (numbless). 9. untuk 2 (two) point tactile dyscrimination. 4. miotonia. Gejala paresthesia (keluhan sensorik) oleh klien digambarkan sebagai perasaan geli (tingling). Kapas untuk rasa raba. botol. twitching / kedutan. untuk rasa nyeri superfisial. dan sebagainya). untuk graphesthesia. Salivarius inferior. palatum lunak. Test nervus XI (Accessorius)  Klien disuruh menoleh kesamping melawan tahanan. Bahan yang dipakai untuk pemeriksaan sensorik meliputi: 1. Fungsi sensorik : Pemeriksaan sensorik adalah pemeriksaan yang paling sulit diantara pemeriksaan sistem persarafan yang lain. mempersarafi organ viseral dan thoracal. cramp dan sebagainya) disajikan oleh klien sebagai keluhan sensorik. tapi bagian ini sulit di test demikian pula dengan M. untuk rasa suhu.  Refleks menelan : dengan cara menekan posterior dinding pharynx dengan tong spatel. Test nervus IX (Glossopharingeal) dan nervus X (Vagus)  N IX. rasa dingin (coldness) atau perasaan-perasaan abnormal yang lain. Jarum yang ujungnya tajam dan tumpul (jarum bundel atau jarum pada perlengkapan refleks hammer). untuk pemeriksaan stereognosis  Pen / pensil. Sistem Motorik : ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 52 . tonsil dan palatum lunak. Botol berisi air hangat / panas dan air dingin.  Test : inspeksi gerakan ovula (saat klien menguapkan “ah”) apakah simetris dan tertarik keatas.  Benda-benda berbentuk (kunci. untuk rasa getar. Nervus XII (Hypoglosus)  Mengkaji gerakan lidah saat bicara dan menelan  Inspeksi posisi lidah (mormal. mempersarafi perasaan mengecap pada 1/3 posterior lidah. Bahkan tidak jarang keluhan motorik (kelemahan otot. Garpu tala. 3. sensasi pharynx. 8.test otot trapezius.  Minta klien mengangkat bahu dan pemeriksa berusaha menahan ---. 5. rasa terbakar/panas (burning). asimetris / deviasi)  Keluarkan lidah klien (oleh sendiri) dan memasukkan dengan cepat dan minta untuk menggerakkan ke kiri dan ke kanan. Lain-lain (untuk pemeriksaan fungsi sensorik diskriminatif) seperti :  Jangka. akan terlihat klien seperti menelan. uang logam. pergerakan ovula. 2.7.

Normal. terhadap tahanan pasif yang ringan / minimal dan halus. 2 = kemampuan untuk bergerak. kelemahan ( + ) 2 = normal ( ++ ) 3 = lebih cepat dari rata-rata. Sementara penderita dalam keadaan rileks. Pemeriksaan motorik dilakukan dengan cara observasi dan pemeriksaan kekuatan. dengan klonus ( ++++) Refleks-refleks yang diperiksa adalah : 1. Skala untuk peringkat refleks yaitu : 0 = tidak ada respon 1 = hypoactive / penurunan respon. Aktifitas refleks : Pemeriksaan aktifitas refleks dengan ketukan pada tendon menggunakan refleks hammer. Kekuatan otot : Aturlah posisi klien agar tercapai fungsi optimal yang diuji. Respon berupa kontraksi otot quadriceps femoris yaitu ekstensi dari lutut. tetapi tidak kuat kalau melawan tahanan atau gravitasi. impuls berjalan ke kapsula interna. 5 = kekuatan kontraksi yang penuh. Pada tiap gerakan pasif dinamakan kekuatan spastis. Bila tangan / tungkai klien ditekuk secara berganti-ganti dan berulang dapat dirasakan oleh pemeriksa suatu tenaga yang agak menahan pergerakan pasif sehingga tenaga itu mencerminkan tonus otot. berasal dari daerah motorik di corteks cerebri. Klien secara aktif menahan tenaga yang ditemukan oleh sipemeriksa. Refleks patella Pasien berbaring terlentang. 3. bersilangan di batang traktus pyramidal medulla spinalis dan bersinaps dengan lower motor neuron. Bila kekuatan otot klien tidak dapat berubah. tidak perlu dianggap abnormal ( +++ ) 4 = hyperaktif. lutut diangkat ke atas sampai fleksi kurang lebih 300. Gunakan penentuan singkat kekuatan otot dengan skala Lovett’s (memiliki nilai 0 – 5) 0 = tidak ada kontraksi sama sekali. Tendon patella (ditengah-tengah patella dan tuberositas tibiae) dipukul dengan refleks hammer. supinasi dan lengan bawah ditopang pada alas tertentu (meja periksa). normal dan atropi 2. Otot yang diuji biasanya dapat dilihat dan diraba. Bila tenaga itu terasa jelas maka tonus otot adalah tinggi. Suatu kondisi dimana kekuatan otot tidak tetap tapi bergelombang dalam melakukan fleksi dan ekstensi extremitas klien. Keadaan otot disebut kaku. sendi lutut dan sendi pergelangan tangan. 4 = cukup kuat tetapi bukan kekuatan penuh. 1 = gerakan kontraksi. Refleks biceps Lengan difleksikan terhadap siku dengan sudut 90 0 . Tonus otot : Dapat dikaji dengan jalan menggerakkan anggota gerak pada berbagai persendian secara pasif. Massa otot : hypertropi.Sistem motorik sangat kompleks. melainkan tetap sama. 1. 2. Jari pemeriksa ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 53 . lakukan test untuk menguji tahanan terhadap fleksi pasif sendi siku. 3 = cukup kuat untuk mengatasi gravitasi.

biceps (diatas lipatan siku). Refleks achilles Posisi kaki adalah dorsofleksi. umbilikus akan bergerak keatas dan kearah daerah yang digores. Brudzinski I positif (+) bila kedua tungkai bawah akan fleksi pada sendi panggul dan sendi lutut. bila tungkai bawah membentuk sudut 135 0 terhadap tungkai atas.tendon triceps diketok dengan refleks hammer (tendon triceps berada pada jarak 1-2 cm diatas olekranon). Pemeriksaan khusus sistem persarafan Untuk mengetahui rangsangan selaput otak (misalnya pada meningitis) dilakukan pemeriksaan : 1. Refleks abdominal Dilakukan dengan menggores abdomen diatas dan dibawah umbilikus. Kalau digores seperti itu. Normal jika timbul kontraksi otot biceps. Tanda Brudzinski II Tanda Brudzinski II positif (+) bila fleksi tungkai klien pada sendi panggul secara pasif akan diikuti oleh fleksi tungkai lainnya pada sendi panggul dan lutut. 2. 5. Refleks triceps Lengan ditopang dan difleksikan pada sudut 90 0 . Tanda Kernig Fleksi tungkai atas tegak lurus. Tendon achilles dipukul dengan refleks hammer. Respon yang normal adalah fleksi plantar semua jari kaki. sehingga dagu tidak dapat menempel pada dada ---. Untuk melakukan test ini. respon normal berupa gerakan plantar fleksi kaki. sedikit meningkat bila ekstensi ringan dan hyperaktif bila ekstensi siku tersebut menyebar keatas sampai otot-otot bahu atau mungkin ada klonus yang sementara. lalu dicoba meluruskan tungkai bawah pada sendi lutut.3. Ia hanya dijumpai pada penyakit traktus kortikospinal. Bila hyperaktif maka akan terjadi penyebaran gerakan fleksi pada lengan dan jari-jari atau sendi bahu. kemudian dipukul dengan refleks hammer. Kaku kuduk Bila leher ditekuk secara pasif terdapat tahanan. ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 54 . Respon yang normal adalah kontraksi otot triceps. 4. Kemudian kepala klien difleksikan kedada secara pasif. ditempatkan pada tendon m. untuk memudahkan pemeriksaan refleks ini kaki yang diperiksa bisa diletakkan / disilangkan diatas tungkai bawah kontralateral. Respon Babinski timbul jika ibu jari kaki melakukan dorsifleksi dan jari-jari lainnya tersebar. Tanda Brudzinski I Letakkan satu tangan pemeriksa dibawah kepala klien dan tangan lain didada klien untuk mencegah badan tidak terangkat. 4. Normal. 6. goreslah kuat-kuat bagian lateral telapak kaki dari tumit kearah jari kelingking dan kemudian melintasi bagian jantung kaki. sedikit meningkat bila terjadi fleksi sebagian dan gerakan pronasi. 3. Refleks Babinski Merupakan refleks yang paling penting .kaku kuduk positif (+).

Mengkaji abnormal postur dengan mengobservasi :  Decorticate posturing. kedua siku. pons atau diencephalon. Elektromiografi. Lumbal Pungsi 1. Computerized Axial Tomografi Scan (CT Scan) Otak A.Kecurigaan perdarahan sub arachnoid .  Decerebrate posturing. kedua kaki lurus keluar dan kaki plantar fleksi. ekstensi dan menutup kesamping. kedua kaki ekstensi dengan memutar kedalam dan kaki plantar fleksi.Mengurangi atau menurunkan tekanan CSF 4. Persiapan pasien ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 55 . Untuk Therapi .Evaluasi hasil pengobatan b. Angiografi. Indikasi a. Pengertian Adalah suatu cara pengambilan cairan cerebrospinal melalui pungsi pada daerah lumbal 2. terjadi jika ada lesi pada traktus corticospinal. TEST DIAGNOSTIK Lima Prosedur diagnostik yang lazim dilakukan yaitu Lumbal Pungsi. Tujuan Mengambil cauran cerebrospina luntuk pemeriksaan/diagnostik maupun kepentingan therapi kepentingan 3. ischiadicus. Elekto Encephalografi.Kernig + bila ekstensi lutut pasif akan menyebabkan rasa sakit terhadap hambatan.kecurigaan meningitis . kedua lengan pronasi. Leher ekstensi. Persiapan a. Nampak kedua lengan atas menutup kesamping.Pemberian media kontras pada pemeriksaan myelografi . Test Laseque Fleksi sendi paha dengan sendi lutut yang lurus akan menimbulkan nyeri sepanjang m. Untuk diagnostik .Pemberian obat anti neoplastik atau anti mikroba intra tekal .Pemberian anesthesi spinal . kedua pergelangan tangan dan jari fleksi. terjadi jika ada lesi pada midbrain. 5. dengan rahang mengepal.

Desinfektan (jodium dan alkohol) pada tempatnya . Meyakinkan klien tentang tindakan yang akan dilakukan b. Gaun. Bila akan mengetahui tekananCSF. Dokter mengenakan masker. Ini pertanda ligamentum flavum telah ditembus. Prosedur pelaksanaan a.- - Memberi penyuluhan kepada pasien dan keluarga tentang lumbal pungsi meliputi tujuan. Bila cairan tetap tidak keluar. hubungkan jarum lumbal dengan manometer pemantau tekanan.Lidokain/Xilocain .Pengalas .Tabung reaksi tiga buah . lama tindakan. spuit dan jarum. meskipun dianjurkan L4-L5 atau L5-S1 (Krista iliaca berada dibidang prosessus spinosus L4). sarung tangan. Lepaskan stilet untuk memeriksa aliran cairan serebrospinal. Posisi pasien lateral recumbent dengan bagian punggung di pinggir tempat tidur. Ulangi cara ini sampai keluar cairan. Tusukkan jarum spinal dengan stilet didalamnya kedalam jaringan subkutis. tutup kepala.Bengkok . prosedur. h. normalnya 60 – 180 mmHg dengan ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 56 . Anesthesi kulit dengan Lidokain atau Xylokain. infiltrasi jaringan lebih dapam hingga ligamen longitudinal dan periosteum f. posisi. Desinfeksi kulit degan larutan desinfektans dan bentuk lapangan steril dengan duk penutup. sensasisensasi yang akan dialami dan hal-hal yang mungkin terjadi berikut upaya yang diperlukan untuk mengurangi hal-hal tersebut Meminta izin dari pasien/keluarga dengan menadatangani formulir kesediaan dilakukan tindakan lumbal pungsi. Tusukkan jarum kedalam rongga subarachnoid dengan perlahanlahan. Tiap celah interspinosus vertebral dibawah L2 dapat digunakan pada orang dewasa. Cabut stiletnya pada interval sekitar 2 mm dan periksa untuk aliran cairan CSF. d. tutup kepala 5. pakai sarung tangan dan gaun steril. e. Persiapan Alat . kassa dan lidi kapas. Beri tanda pada celah interspinosus yang telah ditentukan. c. Masukkan lagi stiletnya dan tusukka jarum lebih dalam.Manometer . dan duk bolong. leher fleksi kedepan dagunya menepel pada dada (posisi knee chest) b. sampai terasa lepas. Jarum harus memasuki rongga interspinosus tegak lurus terhadap aksis panjang vertebra. Pilih lokasi pungsi. Lutut pada posisi fleksi menempel pada abdomen.Plester dan gunting .Bak streil berisi jarum lumbal. botol kecil (bila akan dilakukan pemeriksaan bakteriologis).Masker. Bila tidak ada aliran cairan CSF putar jarumnya karena ujung jarum mungkin tersumbat. . g.

Cairan ini digunakan untuk pemeriksaan hitung jenis dan hitung sel. bila perlu pemberian analgetik dan tidur sampai sakit kepala hilang. Cara penilainnya adalah sebagai berikut: ( -) Cincin putih tidak dijumpai (+) Cincin putih sangat tipis dilihat dengan latar belakang hitam dan bila dikocok tetap putih ( ++ ) Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi opolecement (berkabut) ( +++ ) ( ++++ ) Untuk Cincin putih jelas dan bila dikocok cairan menjadi keruh Cincin putih sangat jelas dan bila dikocok cairan menjadi sangat keruh test pandi bertujuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan globulin dan albumin. prinsipnya adalah protein mengendap pada larutan jenuh fenol dalam air.5 jam pada larutan asam sulfat.5 . i. Bantu pasien meluruskan kakinya perlahan-lahan. tekanan tersebut akan naik dan turun dalam waktu 30 detik. Setelah semua tindakan selesai.posisi pasien berrbaring lateral recumbent. k. manometer dilepaskan masukan kembali stilet jarum lumbal kemudian lepaskan jarumnya. kemudian masukkan cairan CSF 0. 6. anjurkan tekhnik relaksasi. Bila terdapat obstruksi medulla spinalis maka tekanan tersebut tidak naik tetapi apabila tidak terdapat obstruksi pada medulla spinalis maka setelah 10 menit vena jugularis ditekan. Setelah Prosedur a. l. petugas dapat melakukan test queckenstedt dengan cara mengoklusi salah satu vena jugularis selama I\10 detik. protein dan glukosa. Pasang balutan pada bekas tusukan. Klien tidur terletang tanpa bantal selama 2 – 4 jam b. Tampung cairan CSF untuk pemeriksaan. Untuk mengetahui apakah rongga subarahnoid tersumbat atau tidak.7 ml dengan menggunakan pipet. diamkan selama 2 – 3 menit perhatikan apakah terbentuk endapan putih. Masukkan cairan tesbut dalam 3 tabung steril dan yang sudah berisi reagen. j. Cara pemeriksaanya adalah kedalam tabung reaksi masukkan reagen 0. Untuk pemeriksaan none-apelt prinsipnya adalah globulin mengendap dalam waktu 0. cAranya adalah isilah tabung gelas arloji dengan 1 cc cairan reagen pandi kemudian teteskan 1 tetes cairan CSF. hindarkan mengedan. m. Sebelum mengukur tekanan. Anjurkan pasien untuk bernafas secara normal. Observasi tempat pungsi terhadap kemungkinan pengeluaran cairan CSF c. Bila lumbal pungsi digunakan untuk mengeluarkan cairan liquor pada pasien dengan hydrocepalus berat maka maksimal cairan dikeluarkan adalah 100 cc. perhatikan reaksi yang terjadi apakah ada kekeruhan. setiap tabung diisi 1 ml cairan CSF. ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 57 . Bila timbul sakit kepala. tungkai dan kepala pasien harus diluruskan. lakukan kompres es pada kepala. biakan dan pewarnaan gram.

Hal yang perlu dilakukan setelah tindakan dilakukan c. Kompres es pada daerah suntikan untuk menghilangkan rasa nyeri dan mengurangi/mencegah hematom c. Pengertian Adalah suatu cara untuk merekam aktifitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh. Elektro Encephalografi (EEG) 1. Keracunan zat kontras. Surat izin tindakan telah ditandatangani klien 4.7. Anomali congenital pembuluh darah c. seperti pada aneurisma atau angioma 3. Malformasi vaskuler. ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 58 . Persiapan ini meliputi : a. Pengertian Melihat secara langsung sistem pembuluh darah otak. Infeksi e. Komplikasi a. Hematom pada daerah suntikan. atau mungkin juga pada arteri brchialis dan arteri femoralis 2. Biasanya pada arteri carotis dan arteri vertebra. Herniasi Tonsiler b. Zat kontras dimasukkan melalui arteri. Meningitis dan empiema epidural atau sub dural c. Komplikasi a. sensasi yang terjadi (rasa terbakar saat penyuntikan zat kontras yang lama kelamaan akan menghilang) b. tungkai harus tetap lurus selama 6-8 jam e. Dapat dicegah dengan melakukan balut tekan pada daerah suntikan b. Setelah prosedur a. Pergeseran pembuluh darah yang mungkin mengindikasikan SOL (Space Ocupaying Lession) d. ANGIOGRAFI 1. Dapat dicegah dengan pemberian anti alergi sesuai program 5. Klien tidur terlentang tanpa bantal selama 24 jam. Kista epidermoid intraspinal f. C. Kerusakan diskus intervertebralis B. Angiografi dapat mendeteksi : a. Persiapan Pasien Menciptakan rasa aman dan nyaman pada diri klien. Menjelaskan prosedur pelaksanaan. observasi tanda-tanda vital setiap jam sampai kondisi stabil b. Catat perubahan-perubahan neurologi setelah tindakan angiografi. Jika penyuntikan dilakukan pada daerah femoralis. d. sumbatan pada pembuluh darah cerebral seperti pada stroke b. Sakit pinggang d.

2) Gelombang tajam (sharp wave) yaitu gelombang yang meruncing tetapi berlalu lebih lama dari 60 milidetik. Empat gelombang menurut frekuensinya : 1) Gelombang Alfa. yaitu dengan defleksi keatas kebawah secara berselingan. pola gabungan yang terdiri dari satu atau beberapa gelombang lambat berbaur dengan gelombang-gelombang berfrekuensi cepat. 3. Potensial dendrit pada korteks selalu berubah-ubah juga. Gelombang patologis 1) Gelombang runcing (Spike) yaitu gelombang yang runcing dan berlalu cepat (kurang dari 60 milidetik) sering ia muncul secara folifasik.2. 3) Kompleks K. sekelompok gelombang dengan frekuensi 10 – 15 siklus perdetik yang hilang pada waktu tidur dangkal. bersilus kurang dari 4 perdetik b. a. ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 59 . bilateral simetrik didaerah para sagital. sebagai fenomena potensial aksi neuron-neuron yang disalurkan kedndrit-dendritnya dikorteks serebri. timbul karena ada rangsangan sewaktu tidur dangkal. 2) Gelombang tidur. Tegangan otak sebesar 50 mikrovolt agar dapat direkam harus diperkuat sampai 1 juta kali. bersiklus lebih dari 13 perdetik 3) Gelombang teta. Fluktuasi inilah yang tercatat pada kertas EEG. sinkron bilateral dan hilang timbul secara tiba-tiba. Perekaman ini berlangsung terus menerus untuk beberapa menit. Fluktuasi ini yang tercatat pada kertas EEG. Tegangan yang tercatat pada kertas yang bergerak berupa gelombanggelombang. pola gelombang berbentuk jam. bersiklus 4 – 7 perdetik 4) Gelombang Delta. Oleh karena itu aliran listrik dari sumber lain seperti gerakan otot kepala atau generator listrik juga ikut tercatat (artefak) Seluruh korteks serebri merupakan medan listrik yang diproduksi pada ujung-ujung dendrit. potensial permukaan otak direkam. Dengan memasang 16 elektroda pada tengkorak aktivitas seluruh otak dapat di tekan dan diselidiki. maka dapat dibedakan menurut frekuensinya dan menurut pada gelombangnya. Macam-macam EEG Seluruh korteks serebri merupakan medan listrik yang mencerminkan adanya gaya listrik yang diproduksikan pada ujung-ujung dendrit. Juga gelombang tajam timbul secara polifasik. muncul sebagai gelombang positif dekat lobus oksipitalis terutama jika mata menatap sesuatu dengan penuh perhatian. berbentuk “spindel”. 4) Gelombang verteks. Kompleks tersebut muncul dengan frekuensi 3 spd secara teratur. Dari sekian banyak fluktuasi. Fluktuasi potensial otak menurut pola gelombang 1) gelombang lamda. antara daerah dan post sentral. 3) Gelombang runcing (spike wave)ialah kompleks yang terdiri dari gelombang runcing yang langsung disusul oleh gelombang lambat. c. Prinsip Kerja Dengan elektroda yang ditempelkan pada berbagai daerah tengkorak. sering muncul bersama kompleks K pada waktu tidur dangkal. Tegangan potensial neuron pada setiap waktu berbeda sehingga potensial dendrit juga berubah-ubah. bersiklus 8 – 13 perdetik 2) Gelombang Beta.

karen ahipoglikemia menyebabkan ketidak normalan potensial listrik. d.. Cairan yang mengandung caffein seperti kopi. elektroda yang kecil tersebut akan dihubungkan dengan mesin EEG. 5) Hypsarithmia ialah kompleks yang terdiri dari gelombang lambat yang bervoltase tinggi dan iramanya tidak teratur dimana berbaur gelombang runcing dan tajam. 4. e) Anjurkan pasien mengikuti perintah petugas selam proseur. hematom. minyak lotion dan hair fastener. duduk atau tiduran dengan tanpa gerakan sedikitpun sehingga mendapatkan hasil yang baik. Penatalaksanaan a. Dokter akan memberikan instruksi untuk pemberian anti konvulsi bila perlu 24 – 48 jam sebelum tindakan.hiperventilasi selam 3-5 menit . pemasangan alat bukan merupakan alat yang berbahaya. b. Menentukan kematian jaringan otak 5.4) Gelombang runcing multipel ialah ledakan dari sejumlah gelombang runcing yang bangkit sekali atau berkali-kali dan biasanya disusul oleh gelombang lambat. obat-obatan depresan susunan saraf pusat (alkohol atau tranqualizer) atau stimulan tidak diberikan selama 24 jam sebelum pemeriksaan dilakukan karena akan memberikan pengaruh terhadap aktivitas listrik otak. bebas dari spray. d) Menjelaskan kepada pasien bahwa pada waktu pemeriksaan harus dalam keadaan relaksasi sempurna. cokelat dan the tidak diberikan selama 24 jam sebelum tindakan dilakukan c. Mengidentifikasi infark pembuluh darah atau adanya lesi (tumor. b) Menganjurkan pada pasien untuk membebaskan rasa gelisah selama 4560 menit. Rambut harus bersih. abses) d. kecemasan atau gemetaran akibat pemasangan elektroda. Pasien harus makan pagi sebelum melakukan pemeruiksaan. tunjukkan melalui gambar atau video cassate bila memungkinkan. penderita dicurigai atau dengan epilepsi b. Didalam ruanga penderita akan dipasang elektroda sebanyak 16-24 dengan pasta. Indikasi Pemasangan a. c) Melakukan pendekatan kepada pasien untuk mengurangi kemungkinan terjadinya stres. antara lain: . EEG akan dikerjakan diruangan yang aman (laboratory diagnostik) oleh teknisian EEG. ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 60 . Membedakan kelainan otak organik c. Persiapan pasien 1) Penyuluhan kesehatan a) Penderita diberitahu hal-hal yang akan dilakukan. Diagnosa retardasi mental atau over dosis obat e.usahakan untuk tetap dapat menutup mata 2) Fisik a.

membantu menetukan penyakit degeneratif saraf sentral c. Khususnya bila pasien sendiri diberi rangsangan listrik. 2. Tujuan a. Persiapan pasien . ciptakan suasana sedemikian rupa sehingga nyaman bagi pasien b) petugas EEG menempelkan 14-16 elektroda pada lokasi yang spesifik pada kulit kepala serta menghubungkannya. tetapi bila oto berkontraksi secara volunter potensial aksi dapat direkam.Pastikan bahwa pasien tidak menggunakan obat-obat depresan atau sedatif 24 jam sebelum prosedur. . Hasil perekaman dari aktifitas listrik tersebut diinterpretasikan oleh neurologi Setelah tindakan bersihkan dan cuci rambut pasien ciptakan lingkungan yang tenang sehingga pasien dapat beristirahat dengan tenang berikan posisi tidur yang baik dan perhatikan pernafasan pasien terutama yang menggunakan obat hipnotik observasi aktivitas kejang bagi pasien yang cenderung untuk mendapat serangan kejang. Melalui kawat penghubung ke mesin/alat EEG. membantu mendiagnosa gangguan neuromuskular seperti myestania grafis 3.Menginformasikan kepada pasien seluruh pemeriksaan prosedur ini akan menyebabkan gangguan rasa nyaman sementara. jika pasien tidak bisa tidur dapat diberikan hipnotik yang bekerjanya cepat. Perlu diingat kenaikan PH serum kira-kira 7. Dalam keadaan istirahat otot tidak melepaskan listrik. Penatalaksanaan a.3) 4) - Pelaksanaan a) posisi pasien berbaring. Elektromyegrafi (EMG) 1. . Hiperventilasi : Pasien dianjurkan untuk melakukan hiperventilasi dengan cara mengambil nafas 30-40 nafas melalui mulut setiap menitnya selama 3-5 menit. D.Cegah terjadinya syok listrik ____________________________________ 61 Alle/Sistem Persarafan/Assesment . stimulasi ini akan menyebabkan aktivitas serangan bagi pasien yang mempunyai kecenderungan mendapat serangan Tidur : Pasien dianjurkan untuk tidur. membantu membedakan antara gangguan otot primer seperti distrofi otot dan gangguan sekunder b. stimulasi “photic” dan tidur. Pengertian Adalah suatu cara yang dilakukan untuk mengukur dan mencatat aliran listrik yang ditimbulkan oleh otot-otot skeletal. c) Pencetakan garis dasar (gambar dasar) dihasilkan mengikuti 3 urutan pemeriksaan yaitu hiperventilasi.8 akan menaikkan rangsangan neuron dan akan menyebabkan serangan aktivitas pada pasien epilepsi Photic stimulasi : Cahaya yang silau difokuskan kepasien dimana pasien dianjurkan untuk menutup matanya .

Hal-hal yang diperhatikan sebelum pemeriksaan . gambaran lesi dari tumor.berat badan klien dibawah 145 Kg ( pertimbangan tingkat kekuatan scanner) . Setelah tindakan .7 cm. brain contusion. hydrocephalus d.Ciptakan lingkungan yang memudahkan klien untuk beristirahat Computerized Axial Tomografi (CT Scan) 1. hematoma dan abses b. Penatalaksanaan Persiapan pasien ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 62 . perubahan vaskuler : malformasi. 3) Dimulai dengan dosis kecil rangsangan listrik melalui elektorda kesaraf dan otot. dua diantaranya menerima sinar yang telah menmbus tubuh dan yang satunya berfungsi sebagai detektor aferen yang mengukur intensitas sinar rontgen yang telah menembus tubuh dan penyinaran dilakukan menurut proteksi dari tiga titik. inflamasi 3.5 menit. c. brain atrofi.3 – 7. naik turunnya vaskularisasi dan infark c. Pengertian CT Scan adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak dan otak. 2) elektroda ditempatkan pada syaraf-syaraf yang akan diperiksa.Kaji kemungkinan klien alergi terhadap iodine. menurut posisi jam 12. Pencatatan ini dilakukan dengan mengkombinasikan tiga pesawat detektor.Mengurangi rasa sakit dan rasa takut b..Berikan kompres es pada daerah hematoma untuk mengurangi rasa nyeri. 5) Pasien mungkin dianjurkan untuk melakukan aktifitas untuk menukur potensila otot selama kontraksi minimal dan maksimal 6) Derajat aktifitas saraf dan otot direkam pada osiloskop dan akanmmemberikan gambaran grafik yang dapat dibaca. pemeriksaan ini mendeteksi : a. 7) Perawat berusaha memberikan rasa nyaman dan memantau daerah penusukan tarhadap kemungkinan terjadinya hematoama. 5. apabila konduksi pada saraf selesai maka otot akan segera berkontraksi.Kesanggupan klien untuk tidak mengadakan perubahan selama 20-45 meni (berkaitan dg lamanya pemeriksaan) . sebab akan disuntik dg zat kontras berupa iodine based contras material sebanyak 30 ml 4. . Prinsip kerja Film yang menerima proyeksi sinar diganti dengan alat detektor yang dapat mencatat semua sinar secara berdipensiasi. 4) Untuk mengetahui potensial otot digunakan macam-macam jarum elektroda dari nomor 1. 10 dan jam 02 dengan memakai waktu 4. Prosedur 1) prosedur dapat dilakukan disamping tempat tidur atau diruang tindakan khusus. 2.

Pasien diberi gambaran tentang alat yang akan digunakan. Hal-hal yang perlu diperhatikan a. hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengertian pada pasien dengan demikian mengurangi stress sebelum waktu prosedur dilaukuan. Bila perlu berikan gambaran dengan menggunakan kaset video atau poster. Posisi terlentang dengan tangan terkendali b. ukur intake dan output. Meja elektronik masuk kedalam meja scanner c. Memerlukan koreksi yang cepat oleh seorang perawat dan dokter ____________________________________ Alle/Sistem Persarafan/Assesment 63 . d. Selama prosedur berlangsung pasien harus diam absolut selama 20-45 menit e. Pengambilan gambar dilakukan dari berbagai posisi dengan pengaturan komputer. Rambut tidak boleh dikelabang dan tidak memakai wig.Pasien harus diberitahu sebaiknya dengan keluarga. Sesudah pengambilan gambarpasien dirapihkan. mengikuti aturan untuk memudahkan injeksi zat kontras. Prosedur a. melakukan pernafasan dengan aba-aba ( untuk keperluan bila ada permintaan untuk melakukannya) saat dilakukan pemeriksaan. Hal ini merupakan tindak lanjut setelah pemberian zat kontras yang eliminasinya selama 24 jam. Dilakukan pemantauan melalui komputer dan pengambilan gambar dari beberapa sudut yang dicurigai adanya kelainan. Bila terjadi alergi dapat diberikan benadryl 50 mg b. Apabila pasien merasakan adanya rasa sakit berikan analgetik dan bila pasien merasa cemas dapat diberikan minor transqualizer. 6. Oliguri merupakan gejala gangguan fungsi ginjal. Penjelasan kepada klien bahwa setelah penyuntikan zat kontras wajah akan nampak merah dan terasa agak panas pada seluruh badan. mobilisasi secepatnya karena pasien mungkin akan kelelahan selama prosedur berlangsung c. f. g. Selama prosedur berlangsung perawat harus menemani pasien dari luar dengan memakai protektif lead approan.. Perhatikan keadaan klinik klien apakah pasien mengalami alergi terhadap iodine. Bersihkan rambut pasien dari jelli dan obat-obatan. observasi keadaan alergi terhadap zat kontras yang disuntikkan. Hal ini merupakan hal yang normal dari reaksi obat tersebut. 7. Test awal yang dilakukan meliputi: kekuatan untuk diam ditempat (dimeja scanner) selama 45 detik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful