Ksatria Negeri Salju

Oleh : Sujoko Seorang bocah lelaki berusia sepuluh tahun membongkar lemari tua milik kakeknya. Dari dandanan yang dipakainya tampak ia adalah seorang anak sekolahan. “Di sini tidak ada buku itu kek!” “Cari aja disitu! Pasti ketemu,” ujar kakeknya yang sudah berusia enam puluhan tapi masih terlihat gagah, dan dari tampilannya semua orangpun tahu ia seorang sastrawan. Dan di Kanglam ini siapa yang tidak mengenal Ouwyang Sim, guru besar para sastrawan. “Eh ini gambar siapakah kong-kong?” Kakek itu melirik kain yang dipegang si bocah. Sebuah gambar wajah lelaki tampan berbaju putih kembali hadir di depannya. Lelaki yang paling dihormatinya, setelah ayahnya sendiri Ouwyang Bun. “A Siu ini adalah lukisan sahabat sekaligus guru kong-kong, namanya......ksatria salju.” “Eh ini ada puisinya!” Kemudian bocah itu, yang bernama Ouwyang Siu membaca puisi dengan penuh penghayatan. Lelaki berbaju putih berjalan di atas rumput Berapa ilalang lagi harus kau susuri hei ksatria Berapa badai lagi mesti kau lalui Dan kau terus berjalan, menyusuri padang bunga, lembah delapan rembulan, puncak-puncak salju abadi Apakah yang kau cari? Ksatria Pengelana Siapa pesilat yang tak mengenalmu? Berbekal pedang sedingin salju Puluhan pesilat menghadangmu Tak satupun pernah menyentuh tubuhmu Pengembara hanya bernyanyi Syair merdu tentang burung-burung yang terbang di langit biru Anak-anakpun mengiringimu dengan lagu ceria itu Tapi siapa tak tahu mendung terus menggantung di hatimu Ksatria salju berjalan di atas awan Ketika senja yang paling ungu mekar di puncak Gongga Bukankah engkau tahu wahai sang guru Jarak terjauh yang pernah ada di semesta ini

Adalah masa lalu? Seribu tahunpun tak kan pernah kau bertemu Air mata sang kakekpun meleleh tanpa usaha untuk mencegahnya. Puisi itu mengingatkannya pada kisah sepenggal perjalanan hidup ksatria salju muda, Tiong Gi. Bersama dengan Chien Ce, Souw Mei dan Liu Siang, mereka sama-sama berjuang mengungkapkan jati dirinya. Mereka memiliki sejarah masa kecil yang berbeda, namun kemudian dibesarkan pada dunia yang serupa, dunia yang mendidiknya menjadi ksatria sejati. Seringkali mereka dihadapkan pada situasi yang menuntut mereka berbuat di luar kemampuan sewajarnya. Maka ketika bocah itu memintanya agar ia bercerita, kakek itupun dengan penuh semangat menuturkan kisah ini.

Bab 1. Yu Liang Pay
Pegunungan Fan Cing san merupakan pegunungan yang sangat terkenal di Cina Tengah. Salah satu daya tarik pegunungan ini adalah puncak awan merah atau Hung Huang Teng yang merupakan salah satu dari tiga puncak pegunungan yang berada di sebelah utara kota Kwei Yang yang termasuk propinsi Kwei chow (Guizhou). Jika ada awan yang berarak ke puncak ini pawa waktu fajar atau sore, tampaklah semburat kemerahmerahan pada awan itu. Pada jaman kisah ini dituturkan yaitu masa dinasti Sung utara, puncak ini juga dikenal dengan nama puncak Tiong Kiam atau pedang tengah, karena memiliki pemandangan yang unik di puncak yaitu adanya bukit pagoda, yang menjulang di antara bebukitan. Pada waktu awan berarak dan menyelimuti bebukitan, maka puncak ini dilihat dari kejauhan seperti pedang raksasa yang tinggi menembus langit. Memandang jauh kebawah dari puncak ini terlihat bentang alam yang sungguh mempesona. Bagian dasar pegunungan yang hijau rapat oleh belantara hutan subtropis, bagian atasnya ditumbuhi hutan campuran luruh daun, bagian tengah yang ditumbuhi pohon pinus dan bagian puncak tumbuh pohonan yang mulai jarang diselingi semak dan rerumputan disela-selanya yang pada musim panas menghijau bak beludru. Pucak Tiong Kiam berketinggian 340 m dan diameter 50 m dari pangkal punggung suatu bukit. Puncak ini dikelilingi bebukitan. Bukit-bukit di sebelah barat dan di sebelah timur dibelah oleh sungai Wu (anak sungai Yang Ce Kiang) yang mengalir dari pegunungan Shao Tong san di wilayah Kwei chow selatan menuju ke kota Chuan Sing, dan bertemu dengan sungai Yang Ce Kiang di timur kota ini, terlihat dari puncak seperti lekuk tubuh naga. Sungai ini pula yang memisahkan propinsi Hunan disebelah timur dengan Propinsi Kwei chow di sebelah barat. Dari puncak ini di sebelah timur meski berjarak ribuan li masih terlihat kota Shao Yang, di sebelah selatan terdapat kota Kwei Yang, yang merupakan kota terbesar di wilayah Kwei chow.

Berlawanan dengan tamasya alam disekelilingnya yang demikian penuh pesona. Pemandangan di bukit pedang itu sendiri sungguh mengerikan. Pada akhir jaman Tang, orang-orang Tionggoan sangat gemar membentuk sekte-sekte magis. Sekte-sekte seperti ini belum mengenal mengubur mayat atau membakarnya secara layak. Mereka memang mengubur badan namun setelah sepuluh tahun lebih, kuburan tersebut dibongkar, dan tengkoraknya dibuatkan lubang-lubang pada dinding bukit pedang, dan menjadikan puncak pedang sebagai berhala sesembahan. Karena letaknya yang ditengah-tengah dan dianggap strategis, selama ratusan tahun pengunungan ini dijadikan rebutan untuk menjadi markas perkumpulan kaum bulim dan kangouw. Sudah berpuluh perkumpulan atau partai muncul dan runtuh di pegunungan ini. Karena selalu jadi rebutan, tak terhitung pula berapa ribu manusia telah binasa menjadi korban nafsu angkara ingin mendapatkan posisi di tengah ini, meski pada kenyataannya dibandingkan keuntungan lebih banyak kerugian yang ditangguk oleh mereka yang tinggal di pegunungan ini. Satu dapat, yang lain beramai-ramai mengeroyoknya bagaikan seekor harimau dikeroyok puluhan serigala. Dengan melihat deretan relung tengkorak di bukit pedang yang sangat tinggi bagai jendela-jendala pagoda, orang akan tahu betapa di tempat yang mestinya damai itu telah banyak nyawa manusia melayang. Maka lambat laun karena sudah terlalu bosan dan lelah, puncak ini akhirnya ditinggalkan oleh rombongan penghuni terakhir dari sekte Shin. Setelah puluhan tahun kosong, di akhir dinasti Tang puncak ini kembali di datangi oleh berbagai golongan karena terjadi pergolakan di manamana. Kelompok yang tidak ingin terlibat dalam pertikaian akhirnya kembali berbondong-bondong ke Fan Cing san. Salah satu rombongan yang kembali datang adalah orang-orang dari sekte Shin yang dipimpin oleh Huang Shin. Dulu Huang Shin muda dan kawan-kawannya termasuk yang menolak untuk meninggalkan Fan Cing san, namun tak mampu menolak keputusan tetua. Rombongan lainnya berasal dari berbagai kota. Dua rombongan yang terbesar adalah golongan Duang yang dipimpin oleh Tan Hong Bu dari Siang Tan dan golongan Im Yang Pay yang dipimpin Kang Kiu Yang dari Kwei Yang. Untuk menghindari perebutan demi perebutan Huang Shin, memutuskan untuk menyatukan berbagai golongan yang berebut itu. Huang Shin membagi wilayahwilayah yang bisa ditempati dengan cukup adil, dan menawarkan kepada tiga kelompok terbesar untuk menyatu membentuk satu perkumpulan besar. Huang Shin membangun pusat perkumpulan di puncak bukit di sebelah selatan Tiong Kiam. Singkat cerita terbentuklah satu perkumpulan besar gabungan beberapa golongan yang dipimpin tiga golongan, yang bernama Yu-liang-pay. Untuk menghindari bentrokan maka Huang Shin membuat peraturan bahwa ketua partai harus dijabat secara bergiliran dari ketiga golongan. Dengan urutan sekte Ming, Duan dan Im Yang. Adapun para anggota dibebaskan untuk mempelajari ilmu dari ketiga perkumpulan itu. Untuk menyatukan berbagai kelompok, maka selama beberapa tahun Huang

Shin bersama kedua tetua yang lain menciptakan suatu ilmu pedang baru yang dinamakan Yu Liang Kiamhoat. Pada masa inilah tradisi menyimpan tengkorak di dinding bukit dihapuskan. Itulah sekilas sejarah Yu-liang-pay, tempat kisah ini dimulai. Pagi itu, tanggal ke enam bulan ke lima, tahun 978 merupakan suatu pagi yang cerah di musim semi. Burung-burung yang beterbangan, kupukupu yang menari disela-sela semak dan bunga-bunga yang bermekaran, kesegaran udara musim semi yang melapangkan dada dan urat-urat kepala. Beberapa pepohonan yang semula tinggal batang dan ranting seperti bayi yang bugil, kembali dihiasi daun-daun baru. Sedangkan pohon yang lain menyambut datangnya musim semi dengan menumbuhkan kuncuk-kuncup bunga yang sebagian telah bermekaran. Bagi mereka yang pernah mengujungi keindahan musim semi di puncak ini tak heranlah mengapa tempat ini menjadi rebutan. Fan Cing san adalah gunung yang menyimpan keragaman bunga yang paling tinggi seluruh daratan Cina waktu itu, lebih dari empat per lima bunga yang ada di Tionggoan dapat dijumpai di sini, mulai bunga siang, bunga lee, bunga kiok, bunga anggrek, bunga jit dan yang lainnya. Namun kedamaian pagi itu terusik dengan suara kaki-kaki manusia yang menapaki puncak secara berombongan. Berbondong-bondong rombongan orang berpakaian singsat menaiki dari berbagai jurusan. Sebagian naik dengan berjalan lambat sambil menikmati wisata alam gunung Fan Cing san yang sangat indah. Kelompok yang datang belakangan menaiki punggung bukit dengan gerakan yang sangat gesit. Beberapa orang dari setiap kelompok terlihat membawa pedang atau golok. Dari gerakan dan dandanan, tampak mereka adalah orang-orang kangouw yang berkepandaian. Ada apakah yang terjadi di puncak sana? Di awal musim semi ini, Yu-liang-pay mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke 100. Ulang tahun yang spesial sehingga dirayakan cukup meriah oleh Yu-liang-pay. Tamu dari berbagai golongan semua diundang dalam pesta itu. Dari rombongan putih terlihat tamu dari Siauw-lim Pay, Kunlun-pay, dan Kong Thong Pay, ketiga perguruan ini merupkan perguruan tua yang sudah berdiri pada masa itu. Dari rombongan lain dari berbagai golongan, sedangkan dari golongan hitam juga ikut menghadiri pesta yang berasal dari kelompok Pek Tung Pang, Ang Lian Pang, Hek In Pang, dan Tok Nan-hai Pang. Saat itu di halaman depan Yu-liang-pay yang luas telah dipasang tenda, dan ditata kursi secara setelah lingkaran. Tanpa dipersilakan para tamu langsung mengambil posisi duduk masingmasing, seolah-oleh sudah tahu dimana tempat mereka seharusnya. Kelompok hitam dan putih tanpa dikomandopun mengambil posisi yang memisah, kelompok pendekar berada di sebelah kanan sedang kelompok penjahat berada di sebelah kiri. Riuh rendah obrolan yang diucapkan oleh semua orang seperti pasar. Harap maklum mereka jarang sekali dapat kesempatan bertemu dengan anggota partai atau perguruan lain, apalagi dalam jumlah yang boleh dikatakan lengkap seperti saat itu. Obrolan paling hangat tentu saja kabar burung mengenai ilmu pedang Yu Liang Kiamhoat yang berhasil disempurnakan oleh Yu Liang Pangcu. Seperti apakah gerangan ilmu pedang Yu Liang Kiamhoat itulah yang membuat penasaran kaum kangouw, sehingga

mereka rela berlelah-lelah menempuh perjalanan ribuan li. Di tengahtengah ruangan yang bertenda berdiri sebuah panggung, tempat berbagai pertunjukan. Pada waktu itu Yu-liang-pay dipimpin oleh Kwan Liong Ping, generasi ke empat dari golongan Duang. Jika melihat betapa besarnya Yu-liang-pay yang memiliki banyak anggota, area gedung-gedung yang luas dan usia yang cukup tua untuk ukuran partai saat itu, maka para tetamu memandang heran dengan penampilan Yu Liang Pangcu Kwan Liong Ping ini. Usia Liong Ping saat itu tidak lebih dari lima puluh lima tahun, suatu umur yang termasuk sangat muda untuk ukuran pemimpin partai besar saat itu. Sebagai perbandingan ketua Siauw-lim Pay sudah berusia seratus sepuluh tahun, sedangkan ketua Kong Thong Pay berusia sembilan puluh lima tahun. Setelah tamu berdatangan Liong Ping memasuki ruangan dan duduk di kursi yang telah disediakan. Ia memakai jubah sutera biru tua yang bersulam, tampak gagah berwibawa. Sinar matahari pagi yang mulai terang membuat wajah ketua ini tampak dengan jelas oleh seluruh hadirin. Meskipun sudah berusia di atas lima puluh tahun, namun wajah itu masih tampak tampan dan padat. Janggut dan kumis pria yang agak kurus dan jangkung tetapi masih kelihatan gagah bersemangat ini dicukur rapi. Rambutnya disisir rapi dan kelimis, disanggul ke belakang, dan ditali kain yang menjuntai. Di sebelah kirinya duduk Sam Pangcu Siong Hok Cu seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun yang bermuka mulus, berjenggot tipis dan bertubuh tinggi gagah. Kepalanya ditutup kopyah pada bagian belakang terlihat mencuat ke samping khas gaya Tang. Sedangkan di sebelah kanan duduk Ji Pangcu Lauw Kian Bu, pria berusia lima puluh tiga tahun, berwajah dusun berbaju hijau tua sederhana dari kain katun. Di belakang ketiga orang ketua ini duduk para tetua yang berusia lebih dari enampuluh tahun dengan sikap keren, semuanya berbaju hitam dan berpenutup kepala kain warna merah. Mereka tokoh kawakan dari generasi tua. Setelah hampir semua perwakilan yang diundang datang, Ji Pangcu menaiki panggung dan berkata dengan lantang: “Cuwi sekalian, mewakili tuan rumah kami mengucapkan terima kasih yang sangat mendalam atas kehadiran cuwi memenuhi undangan kami. Perkenalkanlah saat ini kami bertiga adalah pimpinan di Yu-liang-pay, toa pangcu kami adalah Kwan Liong Ping, aku sendiri ji pangcu dan yang duduk di samping kiri toa pangcu adalah sam pangcu Siong Hok Cu. Berbahagia sekali pada kesempatan yang baik ini kami dapat merayakan ulang tahun Yu-liang-pay yang ke seratus. Pertama-tama perkenankanlah kami untuk menghormati leluhur kami terutama adalah sucouw kami Huang Shin.” Dengan dipimpin oleh Kwan Liong Ping yang membawa tiga biting dupa, para murid Yu-liang-pay kemudian berlutut menghormat meja sembah yang di atasnya masih disimpan abu Huang Shin dan kedua pendiri lainnya. Pada bagian yang biasa ditempati cermin pada meja itu

. “Wahh. Mereka semua makan minum dengan gembira sambil menikmati hiburan tari-tarian baik tarian yang berasal dari timur maupun dari barat. namun tamu yang sudah kenyang makan asam garam rimba persilatan maklum belaka bahwa ketua Yuliang-pay sedang membanggakan ilmu pedangnya. Dengan cekatan pelayan mengedarkan arak dan makanan. Diantara decak kagum penonton. Gerakan itu seakan-akan memancarkan hawa magis yang dasyat sehingga penonton yang jaraknya jauh terlihat menggoyang kepala dan badannya karena seakan-akan serangan pedang itu mengarah ke dirinya. Harap maklum jurus-jurusnya masih belum sempurna!” Ucapan ini sepertinya berendah hati.kapan pertunjukkan Kiamhoatnya?” Celetukan itu segera ditingkahi berbagai cecowetan tamu lainnya. Sampai kemudian terdengan celetukan dari salah seorang tamu. Gerakannya mula-mula lembut dan indah. Setelah selesai bersembahyang ji pangcu berseru: “Silahkan dicicipi hidangan arak dan makanan yang telah kami siapkan. mereka kembali duduk ke tempat masing-masing sambil terus saling bercerita tentang pengalaman mereka di dunia persilatan.. wajahnya terlihat cukup cantik dan montok.” Setelah semua tamu menghaturkan selamat dan memuji keberhasilan Yu-liang-pay membentuk partai yang besar dan kuat.. amat sukar diduga perubahannya sehingga pandang mata penonton yang tingkat ilmunya rendah berkunang-kunang dan silau dibuatnya. Ujung pedang amblas hampir separohnya.! Crat….. tapi lama-kelamaan gerakannya makin hebat. mulailah ia memainkan ilmu pedang Yu Liang Kiamhoat. Sinar pedang gelap itu bergulung-gulung dan membentuk lingkaran-lingkaran panjang dan luas seperti seekor naga hendak membelit tubuh mangsanya. namun baju hitam dan pedang yang berwarna gelap pekat yang dikenakannya membuat kesan yang menggiriskan. Toa pangcu memberi kode pada seorang murid. Setelah memberi hormat ke semua sisi dengan bersoja. Ujung pedangpun seolah berubah menjadi puluhan banyak saking cepat dan tak terduga. Baru murid tingkat .. dan hiburan tari-tarian yang sebentar lagi akan kami panggungkan. Ia berumuran tigapuluh tahunan.ditempel gambar Huang Shin dalam ukuran cukup besar. “Hiaaat. Pada jurus ke enampuluh setelah bersalto dua kali secepat kilat wanita itu berteriak sambli melontarkan pedangnya ke belakang. seperti tarian bidadari.!” Pedang itu tepat menembus tengah-tengah papan kayu tebal yang sengaja disiapkan.. Selanjutnya seorang murid wanita maju ke atas panggung.. Toa pangcu berdiri dari tempat duduknya dan berseru: “Maafkan kalau pertunjukan ilmu pedang murid tingkat dua kami tidak memuaskan.

. Dengan dingin ia kemudia membalas ucapan lelaki setengah baya dihadapannya: “Ambil senjatamu di rak sana! Pedangku tak bermata maka siaplah rasakan setiap goresannya!” Para tamu sekejab jadi melongo melihat sebuah golok panjang tiba-tiba sudah ada di tangan laki-laki ini. Laki-laki itu terkesiap demi merasakan tangannya tergetar hebat. Penonton yang lain hanya dapat menahan napas. Golok di tangan lelaki itu segera disilangkan untuk menangkis serangan pertama “Cring. “Nona.” Ucapan pria setengah baya itu sungguh enak didengar tapi sangat tidak sopan diucapkan kepada wanita. Terkurung serangan sedasyat itu seolah-oleh tubuhnya lemas lunglai. Berkali-kali ia hanya mampu menangkis sambil mundur. dengan sigap melompat ke . sekonyong-konyang seorang laki-laki meloncat ke panggung menghadapinya.!” bunga api berpijar disertai suara yang menggores di telinga. bolehlah aku coba merasai belaiannya. Laki-laki itu berumur sekitar empat puluh tahunan... Tiba-tiba pada jurus ke duapuluh dengan gerakan naga sakti mengibaskan ekor. karena serangan demi serangan segera mengurungnya.” Tak ayal.! Ayyaaaaaa. tanpa dapat dicegah. Tak disangka bahwa wanita itu memiliki sinkang yang sedemikian kuatnya. tubuhnya kekar. “Brugg. Rupanya ia masih menyimpan senjata meskipun sudah melewati pemeriksaan. apalagi kehadirannya di panggung tanpa permisi lebih dahulu.. Jie Kung sute ketiga dari Hek In Pangcu yang memimpin rombongan dari awan hitam. Sambil cengar-cengir ia coba merayu. dalam waktu bersamaan kaki kirinya mengait kaki kanan lawan. pedang di tangan wanita itu seakan-akan mencongkel pangkal golok yang digenggam lelaki.... Selesai mengucapkan jawaban itu tubuhnya langsung meloncat melancarkan serangan pertama.. Ia adalah murid termuda dari Hek In Pangcu (ketua perkumpulan awan hitam) dari bukit awan hitam.! Crapp... Baru saja wanita itu mencabut pedangnya dan bersoja ke empat penjuru.. hanya dalam waktu dua puluh jurus seorang murid perkumpulan awan hitam yang sangat terkenal di utara dapat dikalahkan. kumis dan janggutnya tak terawat..... ilmu pedangmu sangat indah.. wajahnya kecoklatan. lelaki itu roboh dan goloknya jatuh tepat di telinga.. apalagi murid tingkat satu atau pimpinannya sendiri... Namun wanita yang jadi lawannya tidak membiarkan orang berlama-lama heran... Peluh di dahi lelaki itu sudah meleleh membasahi mukanya.. sehingga daun telinga lelaki itu terbelah.. Namun ia tidak punya banyak kesempatan untuk melamun.dua saja sudah sedasyat itu ilmu pedangnya. Wanita itu menoleh ke Liong Ping dan dibalas dengan anggukan meski sambil berdehem dua kali.

bahkan baru tersentuh saja. anggota hek in pang dengan sigap menyambut lontaran. aku bersumpah tak kan pernah menginjakkan kakiku di Fan Cing san. “Liong Ping pangcu. lelaki ini diam-diam telah melumuri kedua tangannya dengan racun yang selalu dibawanya.panggung. digantikan oleh seorang pemuda. “Loheng. tangannya menyambar-nyambar seperti sambaran geledek di antara kepulan awan . putera dari sampangcu Siong Hok Cu. Kini kedua tangannya itu mengeluarkan asap hitam dan racun yang dipakai di kedua tangannya amat jahat karena jangankan sampai lawan yang terpukul robek kulitnya sehingga racun itu dapat meracuni darah. kalau aku tidak bisa merobek mulutmu. anggota tingkat satu perkumpulan ini semua memiliki keahlian menggunakan racun. akan tetapi biarpun hanya memukul dengan tangan kosong. “Hari ini penghinaan Yu-liang-pay hanya bisa ditebus dengan nyawa!” Tanpa dikomando wanita yang tadi mengalahkan murid awan hitam mundur. wajahnya tampan dan berdandan perlente. Mohon loheng menjelaskan apa maksud loheng dengan penghinaan?” Jie Kung tidak melayani jawaban Siong Chen. apakah kau merasa terlalu rendah untuk berbicara pada kami. kau mau adu mulut apa adu silat? Silahkan pilih tangan kosong apa pakai senjata!” “Bocah sombong. racun ini dapat meresap melalui lubanglubang kulit dan membuat daging menjadi membusuk dalam waktu singkat! Hebat sekali serangan yang dilancarkan Jie Kung. Pemuda itu adalah putera sam-pangcu Siong Hok Cu. Bersiaplah!” Jie Kung segera menyerang dengan tangan kosong. Jie Kung berusia paling banyak sepuluh tahun di atas murid Hek In Pangcu yang dilontarkan. Dengan wajah keruh ia memelototkan matanya seperti hendak meloncat keluar. Siong Chen berusia kurang lebih duapuluh lima tahun. Tangannya langsung mencekal baju di bagian punggung dan melontarkan tubuh anak buahnya itu ke belakang. “Perkenalkan namaku Siong Chen. yang bernama Siong Chen. Sesuai dengan julukan perkumpulan awan hitam. ia justru berkata lantang kepada Toa-pangcu. mengapa mesti bocah ingusan ini yang kau sodorkan padaku?” Diacuhkan seperti ini membuat Siong Chen mendongkol juga. Apakah ada tindakan kami yang tidak adil? Kami masih belum memberi kesempatan pada tamu untuk maju memberi wawasan pada kami. segera ia jawab.

Julukan ini bernama Hui-seng-coan-in (Bintang Terbang Menembus Awan). Siong Chen berlaku cerdik.. Jie Kung mulai melancarkan serangan-serangannya. sedangkan elakan tak mungkin dilakukan karena golok dapat digerakkan mengejar tubuh lawan.. tapi cukup membuat dadanya serasa sesak. Ia sudah tidak mungkin lagi menyerang dengan tangan kosong. Tak dinyana.hitam. Jie Kung menangkap gagangnya. jurus terlihai akan tetapi juga merupakan jurus bunuh diri atau mengajak lawan mati bersama. namun berusaha menyerang bagian tubuh lain.!” dari belakang anak buah awan hitam melontarkan golok yang telah diambil dari rak. Pedangnya makin ganas saja menyambar-nyambar. karena tangkisan lawan tentu akan dibarengi dengan pukulan tangan kiri. atau mati bersama... Adapun dua orang muda itu yang melihat keadaan lawan makin lemah. dan turun dengan ringan. Inilah jurusnya yang terakhir. Ia tidak mau menangkis serangan lawan. Sebaliknya posisi Jie Kung makin lemah.. maka dia makin memperkuat serangannya. dengan gerakan ginkang yang sudah mencapai tingkatan tinggi ia lebih banyak menghindar sambil mencari kelemahan lawan.!” Hebat sekali hasil pertemuan kaki dan tangan. melihat lawannya selalu menghindar Jie Kung mengira lawannya takut. Baru angin yang ditebarkan saja sudah membuat rambut Jie Kung berkibar-kibar. napasnya makin memburu dan pandang matanya mulai berkunang. “Desss. Serangan yang dilakukan dengan tubuh melayang dengan luncuran kilat ini takkan dapat ditangkis atau dielakkan lagi oleh lawan. "Anak muda... Mula-mula serangan yang dilancarkan cukup hati-hati namun lama-lama makin ganas. Yuliang-pay terkenal baru saja menyempurnakan ilmu pedang. Dadanya terasa nyeri. Jurus tendangan bayangan budha yang dilancarkan dari udara benar-benar dasyat. Baru murid tingkat dua saja sudah mampu merobohkan murid tingkat satu Hek-inpang. kepalanya terasa pening. ia merasakan hawa pukulannya membalik. Meski tidak berat. “Wuss. Siong Chen tak berani memandang rendah. Satu-satunya niatan dalam hatinya hanya mengalahkan dengan senjata. Golok ini menusuk ke arah tubuh lawannya. Kalau lawan . apalagi yang dihadapi adalah murid langsung toa-pangcu. terus mendesaknya. pada jurus ke tiga puluh Siong Chen melompat tinggi dan menyerang dengan kakinya. Tapi justru inilah kesalahan terbesarnya. biar aku mengadu nyawa denganmu!" Tiba-tiba Jie Kung yang sudah pening dan sudah gelap pandang matanya itu mengeluarkan suara melengking keras dan tubuhnya melayang naik terus meluncur seperti burung garuda menyambar ke arah Siong Chen dengan golok di depan. Siong Chen bersalto dua kali.. Siong Chen menghadapi dengan hati-hati namun jurus-jurus pedangnya makin lama makin kuat dengan hawa magis yang jauh lebih hebat dari wanita yang tampil sebelumnya... Jurus demi jurus sudah berlalu. Jie Kung terdorong tiga langkah ke belakang. Jie Kung menyambut serangan dengan tangkisan berbentuk cakar harimau..

sehingga seorang tokoh dari Kun-lun-pay. tubuhnya roboh muntah darah dan langsung pingsan. Biarlah aku mewakili Kun Lun. Usianya sekitar lima puluh tahunan. namun telinganya menangkap bisikan dari suhunya..berkepandaian tinggi..” Bisikan itu sungguh halus. Siong Chen segera merangkapkan tangan dan berkata: “Maafkan kami. sedang tendangan kakinya membuat lawan terjengkang. ternyata disuguhi berbagai kesombongan Yu-liang-pay.” “Marilah kita mulai totiang! Silahkan sebagai tamu totiang menyerang dahulu. yang menjadi pimpinan rombongan hanya hanya memandang diam saja ketika sutenya maju... kami para tamu yang diundang jauh-jauh untuk berkenan mengikuti ulang tahun partai.. “Totiang. tapi tak tahu kenapa Yu Liang menurunkan kamu untuk melawan aku. Bhok Kian Tosu memang paling berangasan dibandingkan saudara-saudaranya. Kejadian dua pertarungan yang dilihat itu membuat gusar sebagian besar penonton.” .. perkenalkan saya Kwan Tiong San.” Bhok Kian Tosu.anak muda. Siong Chen dibuat bingung dengan serangan ini... Betapa gusar ia dibuat ketiga dari pihak tuan rumah menurunkan murid yang lebih muda dari pada Siong Chen. adalah pentolan Kun Lun yang sudah sering malang melintang di dunia persilatan. sebagai orang muda saya mohon petunjuk totiang!” “Hmmm.. “Proook. pukulan tangan kiri dapat di tangkis dengan pedang. golok Jie Kung dapat disampok. Ia datang bersama tujuh tosu yang lainnya..!” Tangan kiri Jie Kung putus sebatas ujung lengan. “Tangkis golok dengan cara menyampok. Entah sudah setinggi apa gunung Fan Cing yang menjulang di puncak keseratusnya.. maju untuk meminta pelajaran. jalan satu-satunya bagi lawan hanya membarengi dengan serangan balasan terhadap tubuh melayang yang tidak memperdulikan akan penjagaan diri melainkan sepenuhnya dicurahkan untuk menyerang itu. tak kukira tokoh Hek In Pang bisa bertindak senekat itu!” Anak buah awan hitam yang berjumlah lima belas hanya mendengus. Tak ayal. Anak buah Hek In Pang segera merubung dan membopong susiok mereka. tendang perut lawan sekuat tenaga dari bawah. Bhok Kian Tosu bangkit dan berseru: “Sungguh penasaran. Maka begitu kata-kata suhunya diikuti..! Bruug! Krontang. jangan dianggap aku menghinamu. jatuhkan badanmu. dan segera berlalu dari ruangan. Ki Liang Tosu. sehingga hanya Siong Chen yang mendengar.

. “Dalam pertarungan tangan kosong. saya mengaku kalah. Hadirin yang duduk di belakangpun dapat merasakan angin sambarannya.. “Sraattt. Namun sudah kepalang basah maka mulailah Bhok Kian Tosu menggerakkan tangan dan kakinya mulai menyerang Tiong San. Dari samping Tiong San menangkis. Adapun melihat lawan mulai melemah.. Mula-mula serangan yang dilancarkan cukup hati-hati namun lama-lama makin kuat. Bhok Kian Tosu bersiap menerima tendangan dengan menggerakkan tubuhnya seperti kitiran.dessss!” Hasilnya luar biasa. dalam peraturan tak tertulis di dunia persilatan menyerang lebih dulu biasa dilakukan oleh pihak yang kedudukannya lebih rendah.Merah muka Bhok Kian Tosu. Sebaliknya posisi Tiong San makin lemah.. Ia terdorong selangkah ke belakang. “Plak.. “Plaaak. otomatis tenaga serangannya menurun. Kembali Bhok Kian melancarkan serangan demi serangan yang sangat kuat. Hanya dengan daya tahan yang sangat itu ia mampu melayani sampai lebih dari seratus jurus. Serangan Bhok Kian Tosu terpaksa dibelokkan. Ketika dapat kesempatan menyerang.” “Majulah anak muda. Tiong hanya mampu menangkis dan menghindar. sedangkan Bhok Kian mundur tiga langkah.. Bhok Kian tosu menghadapi dengan hati-hati namun jurus-jurus pedangnya mampu mengimbangi gerakan Tiong San.plaak. Serangan pembukaan Bhok Kian Tosu sangat hebat karena ia menggunakan jurus Lao Seng Yikai In (Nabi Lao menghalau awan). Sayangnya. Namun begitu sudah tiga puluh jurus lewat. Tiong San tak berani langsung menangkis dari depan. Makin lama gerakan pedang Bhok Kian tosu makin cepat menderu-deru. Kun Lun juga memiliki ilmu pedang yang tak kalah bagusnya dengan Yu Liang Kiamhoat. masih belum ada pukulan telak yang mengenai tubuhnya.... ujar Bhok Kian sambil menangkap pedang yang dilontarkan kepadanya. saya belum menyerah..!” dari pertemuan dua lengan. seperti awan menindih bukit. ia bergerak cepat kekanan.. tanda ia telah terluka. Meskipun ringan namun Tiong San merasakan dadanya sedikit nyeri. Tiong San dapat merasakan tenaga sinkang lawan sangat kuat.!” Tiong San meloloskan pedang dari sarungnya yang terikat di pinggang. pertanda selisih sinkang mereka cukup tipis. karena sudah melihat pertarungan Siong Chen dengan Jie Kung.. tapi sebelum totiang bisa mengalahkan ilmu pedang kami. segera Tiong San melompat tinggi hendak melancarkan serangan tendangan budha tanpa bayangan. sedang tangan Bhok Kian Tosu tergetar. Tiong San terlempar lima langkah. Tiong San mulai melancarkan serangan-serangannya. Bhok Kian makin memperkuat .. Tangannya bergerak semakin cepat.

Hanya dengan gerakan miringkan kepala. tak ada adegan yang lebih menyenangkan selain melihat orang berpibu. Tiba-tiba salah seorang tamu yang berasal dari kelompok kiri berseru lantang: . Pedangnya makin kuat saja menyambar-nyambar sedangkan gerakan pedang Tiong San makin mengecil. “Hmmm.. pedang Tiong San hampir menebas kepala. Lagi pula. namun masih belum mampu menghalau jurus Hui-liong-coan-san (naga terbang menembus bukit). Bu Sian Taisu... sekonyong-konyong Tiong San melompat tinggi tubuhnya jungkir balik di udara. Dan tak dipungkiri sebagai para pesilat. Kwan Liong Ping maju kedepan merangkapkan tangan bersoja dan berseru: “Cuwi sekalian mohon dimaafkan sikap kami. maka kedudukannya tidak berselisih jauh dari tingkatan kami. pedangnya berputar seperti kitiran.. tanda ia telah terluka. Biksu yang barusan berkata ternyata pimpinan rombongan dari Siauwlim.criiing! crok. Pada jurus ke seratus sepuluh... “Omitohud. ketahuilah bahwa dua orang murid kami Siong Chen dan Tiong San.. maka tak ayal pada serangan ke tiga. sehingga tidak memandang mata kepada para tamu. Bhok Kian tosu membalikkan badan dan dengan dipapah oleh tosu-tosu yang lain ia meninggalkan Yu-liang-pay. mulutnya mengeluarkan darah. Sungguh posisi kami sangat terdesak” Meskipun dalam hati sebagian tamu menggerutu dan mengomel. Namun Bhok Kian juga terluka. Tubuh Tiong San terbanting. dan mulailah ia menyerang dari atas. juga sempat belajar pada couw-su kami. Namun demikian. dan pedangnya terlepas. tanpa menyadari bahwa napasnya mulai memburu. namun tak dapat disangkal pernyataan Yu-liang-pay tak ada yang keliru.gerakan pedangnya. Pada suatu kesempatan. bahkan sampai terdengan suara mencicit-cicit seperti anak tikus mencari induknya. semua serangan Bhok Kian dapat tertangkis dengan baik. “Criiing.. mulailah ia merapalkan matera gerakan pedang magis.” ucapan yang cukup nyaring dari seorang biksu membuat semua hadirin terdiam. tidak kami sangka Yu-liang-pay sudah sedemikian pesat majunya. Suasana menjadi riuh rendah dan tidak enak bagi ketiga ketua Yu-liang-pay.plak! Bhok Kian Tosu dua kali menangkis serangan. Tubuhnya merendah hampir jongkok. namun tangan kirinya mampu menohok punggung lawan. pihak kami hanya menerima tantangan dari tamu. lain kali kami akan datang lagi meminta tambahan pelajaran dari ketua Yu-liang-pay.. untuk menghibur biarlah kami tampilkan pertunjukkan tari lagi agar hilanglah segala ketegangan. Tiong San mengubah gerakan.biarlah hari ini pinto menerima kekalahan ini. Bhok Kian mampu menghindar dan hanya pundaknya yang tertusuk.

marilah kita nikmati keindahan musim semi di temaraman malam di taman cemara biru ini. apa kau tak apa-apa?” secepatnya ia merangkul Tiong San dan langsung memapahnya masuk ke dalam. Makanan dan arak dihidangkan. kami akan persembahkan berbagai hidangan dan hiburan. secepat kilat ia balas memukul dengan sungguh-sungguh. dan pimpinan Kong Thong Pay. maka sekejap. Sadar pukulan tangan kirinya bisa mengenai lawan. seolah-olah sepasang dewa yang sedang menari-nari. kami . Bab 2. sedetik setelah pukulan Tiong San mengenai dadanya. kami akan maafkan Yu Liang . tapi tetap saja menimbulkan luka dalam. Berbagai lampion digantungkan di tiang-tiang. ternyata pertarungan berlangsung sungguh-sungguh. Makin lama. Di satu kesempatan Siong Chen sengaja bergerak lambat. Tiong San menarik tenaga sinkangnya. Siong Chen mengajak Kwan Tiong San untuk naik kembali ke panggung. Gerakannya keduanya mula-mula kelihatan lambat namun pedangpedang itu seolah-olah berubah menjadi dua ekor naga putih berebut mustika. kalau tamu menghendaki marilah kita bermain-main sebentar. Ditengah-tengahnya dipasang lilin yang besar. Meski pukulan itu tak terlalu berat. Pesta malam diadakan di taman. “San te. Setelah semua tamu duduk. dan hawa magis yang tersembunyi. Dengan semedi sebentar dan perawatan yang dilakukan oleh Sam Pangcu. Huru-hara di Yu Liang Pay Persekongkolan untuk meracuni Tiong San Pada malamnya kembali perjamuan diadakan. Siong Chen waspada. sebagian diletakkan di dekat bunga-bunga yang bermekaran. Namun sesungguhnya di dalam keindahan "tarian" ini tersembunyi tenaga sinkang yang menyambar-nyambar dahsyat. sekejap tidak mengucapkan sepatah kata. Para tamu duduk melingkar pada meja-meja yang disediakan.” Pertarungan Siong Chen dan Kwan Tiong San berjalan seperti berlatih. Siong Chen segera berseru: “San-te. sambil memegang cawan arak Liong Ping berpidato: “Cuwi sekalian. hanya melirik ke kedua belah muridnya.” Kwan Liong Ping terperangah.“Ahh. kalau dua murid Yu Liang diadu ketangkasan kiamhoat itu. untuk itu. Masing-masing meja diisi empat sampai lima kursi.. dan memperlemah pukulannya.bosan pertunjukan tarian bebek melulu. pada malam yang spesial ini. Masing-masing menggunakan pedang yang biasa dipakai untuk berlatih. Amat indah tampaknya. Akibatnya Tiong San terdorong tiga langkah. Toa pangcu duduk semeja dengan Bu Sian taisu. Tiong San sudah pulih.

mari Bersulang!” Para tamu mengikuti bersulang. Tiong San dan istrinya semeja dengan tamu-tamu muda yang berpasangan. Para tamu menjadi ribut. Mereka semua makan minum ditingkahi lantunan musik yang meriah. semua mata memandang awas kekanan-kekiri. biar saya periksa” ujar biksu itu lembut. “Dia keracunan!” tamu yang di dekat Tiong San berteriak.. Makin malam makin ramai. namun teriakan nenek yang baru datang membuyarkan usaha Liong Ping. Semua tamu mengarahkan pandangan ke Liem Bi Lian.pertama-tama mari kita cicipi arak wangi yan-tai-jing dari Kwei Yang. Semua tamu berdiri dengan sikap waspada. “Ada pengkhianat datang! Hai orang-orang tengkorak hitam majulah! Lawanlah aku secara terang-terangan! Huh beraninya hanya membokong. pedang dan semua senjata yang tersusun di rak-rak sudah berpindah digenggaman secara erat di tangan masing-masing.takdir tuhan tak bisa diubah! Semoga Budha memberkati! Sungguh aneh. Liong Ping berusaha menenangkan suasana. apalagi sebagian ada yang mulai mabuk. Saat malam makin larut dan pesta semakin meriah.. hari ini kemunculannya pasti akan menimbulkan kehbohan-kehebohan” Secepat kilat nenek itu berkelebat ke taman tempat pesta. .. Ketika ia datang suasana sudah berubah ramai. “Omitohud. ilmu ini sudah lama tidak muncul di Tionggoan. dan dilanjutkan dengan makan minum menikmati hiburan yang ada. pengecut!” Teriakan yang disertai khikang bagai guntur itu membuat semua orang terpana. maka omongan yang diucapkan juga makin ngelantur. “Ilmu totok delapan belas jari iblis!” hampir bersamaan biksu Siauw-lim dan nenek berwajah bundar itu berteriak mengagetkan. istri Tiong San yang sedang memegangi suaminya. “Saya bisa sedikit pengobatan. masing-masing bergabung ke kelompoknya. Tampak mulut Tiong San berbusa namun tubuhnya kaku. Namun ji pangcu menggeleng. “Terlambat!” Nenek yang berwajah bundar yang datang belakangan dengan berseru keras: “Dia tertotok!” serunya sambil membuka punggung Tiong San. Dengan sigap Ji pangcu yang ada di dekatnya menyambar tubuh Tiong San dan dibopong masuk menuju ke kamar. sekonyong-konyong terdengar jeritan seorang wanita.. Seorang nenek dan Bu Sian taisu tergopoh-gopoh memasuki kamar.

. sehingga terlihat jelaslah mukanya... usaha pelayan untuk melarikan diri diketahui Siong Chen. Kalau kamu tidak puas datang saja sendiri ke bukit tengkorak salju!” Dengan berkelebat secepat hantu Tung Nio.. sedangkan tangan kanan dikibaskan untuk menyampok belatinya dan "Cratt!.. Demi melihat secara pasti wajah itu timbul senyum mengejek di wajah Siong Chen. tanpa mampu membalas sedikitpun. Tubuh para tamu tergetar melihat pemandangan yang sehebat itu. Namun untung.Tung Nio. ia hanya berkeinginan lolos secepatnya.. hati-hatilah menghadapi musuh berilmu tinggi!” Suasana gempar. Seorang pelayan yang beberapa waktu sebelumnya menyajikan minuman ke Tiong San terlihat kaget. Bu Sian taisu dari Siauw-lim juga diamdiam mengakui ilmunya masih belum dapat menandingi nenek itu... dan di sela-selanya sekonyong-konyong terdengar teriakan seorang pemuda. Tidak berlebihan dugaan Siong Chen. Tidak sempat berpikir banyak. Pada jurus ke enam. dengan gerakan tipu pelangi menyongsong rembulan Siong Chen memutar pedangnya seakan-akan mengarah ke jantung.. hampir tak pernah mimpi mereka melihat pameran ginkang yang sedemikian sempurna. Aku hanya membantu saja.. Tangannya tergetar hebat dan kakinya terdorong dua langkah. Pelayan itu terus terdesak mundur hanya mampu menangkis. Ada pengkhianat di dalam rumah kita. pelayan yang biasanya berjalan lemah gemulai sekonyong-konyong bisa melompat gesit. dan ketika sampai di lorong menuju pintu belakang Siong Chen berhasil mencegat pelayan itu.Tiba-tiba terdengar gema jawaban dari kejauhan: “He he heh. Hari ini kami cukup puas menjadi saksi maut satu nyawa orang Dalu. Dengan mata berlumuran darah dia . "Trangg!" Terdengar dentingan pedang beradu belati yang memekakkan ketika pelayan itu menangkis serangan Siong Chen. dan tak menduga akan menghadapi suasana seperti itu. Siong Chen segera melancarkan serangan-serangan susulan yang mengarah pada titik-titik yang mematikan.. Masih untung aku tidak membunuh dia. tangannya tergetar sampai linu... sepertinya ia melihat bahwa besar kemungkinan pelayan terlibat. Tangkap seluruh pelayan dapur!” seru Siong Chen secara mendadak. Tak henti disitu saja. “Mau minggat kemana kau pengkhianat!” jengek Siong Chen sambil menusukkan pedangnya. Tembok setinggi dua tombak dengan enteng dilompati begitu saja. Pelayan itu cepat berkelebat lari ke bagian belakang. Teriakan Liong Ping dari bawah tak dihiraukannya.. melompat tinggi dan menghilang dibalik tembok pagar. niatan jahat ada pada anak buahmu sendiri.aiiiih!" pelayan yang bernama Cu Hoa Naynay itu mengeluarkan jerit pendek ketika pedang di tangan kiri Siong Chen berhasil menusuk mata kanannya. Karena terus mundur tak terasa posisi pelayan itu menghadapi lampu penerangan. ketika pelayan itu berusaha menangkis secepat kilat Siong Chen memindah pedangnya ke tangan kiri. “Istrikuuu.

Dalam keadaan yang ramang-remang sulit sekali memastikan siapa bayi yang direnggut Cu Hoa. Waktu yang meski singkat tapi cukup berharga bagi Cu Hoa untuk meloloskan diri. terbersit gagasan licik di pikiran Cu Hoa. Sadar bahwa dirinya sudah terkurung. meskipun dicegat beberapa murid yang bahkan dipimpin langsung oleh Ji Pangcu Lauw Kian Bu. Setelah keluar dari kawasan Yu Liang Pai. sungguh mujur nasib Cu Hoa karena ada satu perahu yang menganggur. Namun secepat kilat suasana di taman itu telah berubah onar. karena suasana pesta anak-anak masih bermain di luar kamar. Tak disangka justru kedatangan para murid ini mempermudah jalan dia meloloskan diri. Cu Hoa berlari menyusuri jalan yang baru bukan jalan yang umum dipakai. biarkan aku dulu yang masuk!" Ketika Siong Chen berhasil masuk dia hanya sempat melihat tubuh dayang roboh bersimbah darah. Seorang dayang hanya mempu menjerit kecil ketika tanpa aba-aba Cu Hoa menebaskan belati ke lehernya. cepat pelayan melompat masuk ke dalam. Sesampainya di tepi sungai. atau anakmu menyusul mampus dayangnya!" Sesaat Siong Chen memandang tertegun mendengar teriakan Cu Hoa.masih terus berusaha bertahan sambil mundur. para pencegatnya sejenak terperangah tak mampu bertindak apa-apa. karena para dayang lari serabutan. Serangan-serangannya mengarah ke titik-titik maut tanpa mempedulikan keselamatan dirinya. "Hei lepaskan dia!" teriak Siong Chen sambil matanya jelalatan mencaricari bayi yang lain dengan harapan anak yang dipondongan Cu Hoa bukan anaknya. Ketika melesat ke pinggir bangunan. sedangkan Cu Hoa yang dikejar sudah mendobrak pintu kamar.. dan menempelkan belatinya ke lehernya. tempat para dayang mengasuh bayi dan anak-anak.minggir. . Kamar yang dimasukinya ternyata kamar dayang pengasuh anak. Seperti sudah merencanakan jalan lolos. Cu Hoa tahu kemana dia harus lari.. membuat Cu Hoa lebih leluasa meloloskan diri. "Minggir. Ketika bisa keluar dari bangunan. Jalanan menurun itu memiliki satu tujuan yang sudah dipersiapkan Cu Hoa. namun untuk sementara ia bisa lolos. demi melihat jendela masih terbuka. Dengan berpoksai dia menjadikan bahu-bahu mereka pijakan. baik pukulan maupun sambitan senjata rahasia. Demi melihat dayang pengasuh anak. Sementara itu gerakan Siong Chen terhambat kehadiran murid-murid tingkat dua yang baru datang. Cu Hoa berhasil menggertak "Jangan halangi aku. atau bayi Siong Chen mampus!" Siasat Cu Hoa berhasil. secepat kilat Cu Hoa menyambar salah seorang bayi berusia satu tahunan. dia nekad untuk mengadu jiwa. menyongsong pelayan itu dari belakang. Di luar kamar terdapat taman bermain. sambil berteriak ke Siong Chen "Berhenti! Jangan halangi aku. Demi melihat sasaran di depan mata. Kekagetan Siong Chen yang tak menduga Cu Hoa punya jalan pikiran gila. ditingkahi jeritan dan tangis anak-anak. Meskipun sudah malam. Meski dikejar-kejar. meski beberapa tusukan mengenai kakinya. Segera ia melompat ke dalam dan mendayungnya cepat. Sementara itu mendengar jeritan seorang wanita para murid tingkat dua cepat berlari ke arah lorong. karena jalanan menurun dan banyak pepohonan Cu Hoa selalu lolos dari serangan gelap dari belakang.

Meski kejaran mereka dapat melampaui perahunya Cu Hoa. papan haluan perahu telah sempal sebagian. ia harus mengejar menyusur tepi sungai. berturut2 sambitan batu Ji Pangcu diikuti oleh murid-murid yang mengikutinya itu. namun tengah malam langsung berubah menjadi duka. tapi jaraknya juga bertambah jauh. tapi batu kedua menyambar datang dengan sangat rendah. dan setelah kelokan amanlah Cu Hoa dari kejaran. Mereka masih terus mengikuti peristiwa demi peristiwa yang cukup mendebarkan. segera kucabut nyawamu!” Sudah tentu Cu Hoa tak gubris pada teriakannya. Cu Hoa sendiripun sedang curahkan antero perhatiannya terhadap batu sambitan pangcu itu sambil tetap mendayung se-kuat2nya. Kian Bu menjadi murka. Meski satu dua tepat mengenai sasarannya. “plok”. Maka selama itu para pengejar takdapat berbuat apa2. sekonyong2 batu lain menyambar tiba pula. kalau tidak. namun cuma menghancurkan sedikit papan dan dinding perahu saja. Cuma sayang rombongan mengejar sisi timur. Ji Pangcu masih tidak rela melepaskan Cu Hoa begitu saja. selisihnya cuma beberapa senti saja. Bukankah benar kata orang-orang bijak bahwa dunia itu tempat yang fana? Lantas mau menunggu apa kita kalau tidak segera berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya? Baik Ji pangcu maupun Tung Nio kembali dengan tangan hampa. Batu pertama dengan mudah dapat dihindarkannya dengan merendahkan tubuh. Berita yang mereka . Tapi kini jaraknya sudah makin jauh. tetamu yang sebelumnya menyampaikan ucapan selamat juga berubah menjadi ucapan bela sungkawa. Aliran sungai Wu di bagian itu cukup deras karena berada di perbukitan. baru saja sore itu mereka bersuka ria dalam pesta. menyusul tangan yang lain sambar sepotong batu lagi dan segera disambitkan pula. Begitu cepat larinya hingga sampan Cu Hoa kalah cepat meluncurnya. karena jarak sudah mulai jauh. ia mendayung lebih keras malah. mereka baru kembali ke markas. sebaliknya Cu Hoa mendayung perahunya menyorong ketepi barat. Keruan rombongan pengejar yang dipimpin oleh Ji Pangcu bertambah gopoh ingin lekas2 dapat membekuk Cu Hoa. Ji Pangcu Kian Bu segera membentak: “Hayo engkau lekas balik kemari. hanya suara tangis bayi saja yang dijadikan patokan. Dan baru saja ia berbangkit. Biasanya lalu-lintas perahu dan sampan disungai Wu itu sangat banyak. Karena cuaca gelap maka sambilatn itu dilakukan secara serabutan tak tentu arah. Para tamupun tak beranjak pamit dari Yu-liang pay. cepat ia jemput sepotong batu terus menimpuk. serendah badan perahunya. Dengan tepat batu itu kena dihaluan perahu hingga kayu bubuk bertebaran. Begitu cepat segala sesuatu berubah. untung Cu Hoa karena sepanjang beberapa li dipantai timur sana tiada sebuah perahupun yang berlabuh di sana. terpaksa Cu Hoa merebahkan diri kelantai perahu hingga batu itu persis menyambar lewat di atas telinganya. Ji Pangcu semakin mendongkol ketika melihat perempuan itu dapat menghindarkan setiap timpukannya. peristiwa yang memang menjadi kejaran kaum kang-ouw.Orang-orang yang mengejar Cu Hoa berhenti di tepi sungai. Setelah mentari diufuk mulai menunjukkan semburat cahayanya sebagai pertanda fajar telah menyingsing.

Meski agak pendek namun tubuhnya kekar. terutama ilmu pedangnya yang sangat terkenal.peroleh akan menjadi bahan rapat yang sangat berharga bagi tiap-tiap perkumpulan mereka. Cu Hoa tertarik pada Tiong San yang memiliki wajah khas. Selama beberapa bulan mereka menjalin hubungan. pelan-pelan Cu Hoa tahu kalau Siong Chen ada perasaan iri kepada Tiong San. Selain itu. Empat tahun yang silam Cu Hoa disusupkan oleh Hek In Pang ke Yuliang-pay. kulit putih dan agak pendiam. Sebaliknya Tiong San. Dia tahu Cu Hoa bukan gadis baik-baik. yaitu Sam Pangcu Siong Hok Cu terkenal sebagai lelaki yang alim. Ia termasuk lelaki yang cinta pada keluarganya. terutama di mata kanannya. sehingga mengesankan sebagai lelaki yang jantan. ayah Siong Chen. Melihat kesempatan yang ada mulailah Siong Chen mendekati Cu Hoa. Dengan menjanjikan akan mengajarkan ilmu pedang Yu Liang Kiamhoat. ketua pertama yang pemogoran itu. Untuk menjalankan siasatnya Cu Hoa mencoba mendekati dua orang muda calon pengganti Liong Ping. Namun berbeda dengan ayahnya. Tapi sakit di tubuhnya masih tak seberapa dibandingkan dengan sakit di hatinya akibat dikhianati oleh Siong Chen. Tak heran kalau semenjak Liong Ping memimpin partai ini menerima murid-murid perempuan. meskipun belajar pada Liong Ping. Siong Chen benarbenar dapat memenuhi hasratnya. Dari perkenalan dan pengamatan. rayuan Siong Chen ditanggapi oleh Cu Hoa. selama itu Siong Chen mengajarkan ilmu pedang kepada Cu Hoa. Siapakah sebenarnya Cu Hoa? Setelah jauh dari pengejarnya. Cu Hoa menuliskan kembali gerakan-gerakan ilmu pedang yang dipelajarinya. dia tidak cocok pada tabiat ayahnya. Cu Hoa justru makin tergila-gila. setelah mengorbankan tubuhnya kepada Kwan Liong Ping. Di saat sendirian seringkali ia termenung memikirkan Tiong San. Biasanya setelah Siong Chen pergi. Namun kalau ditelisik lebih dalam. namun kecantikan dan kemontokan tubuhnya membuat Siong Chen mengilar. Tiong San bukan tipe lelaki hidung belang. Cita-citanya adalah mempelajari ilmu-ilmu Yu-liang-pay. Tiong san berumur tiga puluh tahun lebih waktu itu. Baru sekarang terasa sakit di sekujur tubuhnya. perlahanlahan Cu Hoa membalut matanya dan kakinya. Oleh karena itulah maka ia lebih banyak menghabiskan waktunya berguru pada Ji Pangcu Lauw Kian Bu. Siong Chen selain belajar dari ayahnya juga berguru pada Liong Ping. Karena hubungan mulai dekat. dan perilaku Liong Ping lebih banyak mempengaruhinya. namun anaknya justru menurun tabiat dari Toa Pangcu Liong Ping. Ia diterima menjadi murid tingkat tiga. hal ini sangatlah beralasan. Karena kepribadiannya yang penuh pesona. Sungguh aneh memang. Meskipun sudah punya tiga istri Siong Chen tak pernah puas memenuhi nafsu syahwatnya. Karena pada dasarnya bukan gadis baik-baik. Tujuan utama kedatangan Cu Hoa adalah mencuri ilmu pedang Yu Liang kiamhoat. Siong Chen selalu mengamati perilaku Cu Hoa. Dia sama sekali tak mengira Yu-liang-pay yang di seluruh pelosok kangouw terkenal sebagai partai aliran putih memiliki pemimpin mata keranjang yang doyan perempuan. bak gayung bersambut. dia juga khawatir . Siong Chen merasa iri dengan bakat Tiong San yang cepat mempelajari ilmu silat.

namun buru-buru Cu Hoa tersenyum. Kita bunuh istrinya. –Apa sebaiknya aku ceburkan aja di sungai ini. Mereka bersepakat untuk meracuni istri Tiong San. Tergagap-gagap Cu Hoa memutar balik haluan demi menyadari di depannya ada air terjun. bagaimanakah ide kamu?” “Aku ingin menghancurkan keluarga Tiong San” “Dan bagaimanakah caranya?” “Tiong San sangat mencintai keluarganya.. Sekejap Cu Hoa diam mematung.jika Liong Ping berumur panjang dan setelah ia meninggal kelak. mau diapakan anak itu. Gerakannya membuat tangisan bayi yang dipangkunya. “Hmmm.dia.. Ia meletakkan bayi ke buritan dan mengamati wajah bayi dengan seksama. Cu Hoa masih ingat seluruh pembicaraan di malam itu. .tak terasa Cu Hoa terkejut seperti disengat kalajengking demi menyadari bahwa bayi yang diculik adalah anak Tiong San.. Diluar penglihatan Cu Hoa. meski sekuat tenaga berusaha mengayuh dayung kembali ke hulu. dia. Senyum yang mengandung ejekan. pasti dia akan kehilangan dan hancurlah hidupnya!” “Ide gila! Bagaimana caranya?” “Dekatkan telingamu Chen ko!” Berbisik-bisiklah dua orang itu merencakan suatu kejahatan. Sungguh siasat yang sangat culas. awas Siong Chen.. mengingat Ji Pangcu tidak menikah dan sangat sayang pada Tiong San. ketika Siong Chen menginab di kamarnya.. biar kelak tidak menjadi duri dalam daging .. maka bisa saja Ji Pangcu memilih Tiong San. – aku akan titipkan dulu pada orang di kampung depan. Setelah lebih dari seperempat malam.. Di suatu malam.tunggu saja pembalasanku kelak. sudah jelas bubuk yang diberikan Siong Chen dimasukkan ke makanan yang dihantarkan ke Liem Bi Lian.. Ji Pangcu yang berhak menggantikan posisinya sudah merasa tua. Namun siapa kira Siong Chen berkhianat.. Keterkejutan dan kegalauan membuat Cu Hoa tak sadar makin dalam masuk ke arus sungai yang semain melaju. aku tahu kau tidak suka pada Tiong San. maka bagaimakah pendapatmu kalau kita bekerja sama untuk menyingkirkannya?” “Hoa moy. Ketika sudah sadarpun terlambat. Timbul gejolak di hatinya. agar tubuhnya lemah sehingga pengaruh racunnya dapat mematikan. pantas saja Siong Chen sengaja mengajak Tiong San bertanding. apa daya kekuatan alam tak mampu di lawannya. lamunan Cu Hoa terputus oleh suara gemuruh air di kejauhan.. Untuk menyelamurkan siasatnya sengaja mereka menunggu acara ulang tahun Yu-liang-pay. Siong Chen menyungging senyuman. lalu mengapa yang jadi korban adalah Tiong San? Ah betapa bodohnya aku! Pasti bubuk yang aku bawa bukan bubuk racun tapi bubuk penawar.. dan dengan mata kepala sendiri dia lihat Liem Bi Lian menyantap daharan yang diserahkan.. sehingga kecurigaan bisa ditimpakan ke pihak tamu. Cu Hoa sengaja memancingnya dan mulailah Siong Chen mengungkapkan kebenciannya Karena perbincangan seperti inilah Cu Hoa menyampaikan niatnya “Chen ko. kelak aku akan ambil kembali untuk mendidiknya.. – ohhh ternyata dia bukan anak Siong Chen...

... cukup cerdik ia tidak mengambil tindakan saat itu.. Sebaliknya. sekalipun ia adalah kaisar. Di tempat yang sangat sepi dan jarang dikunjungi manusia ini berdiri kokoh sebuah partai yang tidak hanya terkenal di bagian barat. Cu Hoa jatuh dan terseret air ratusan li jauhnya... namun hidup mati semua orang ada di tangan Tuhan.. sejauh mata memandang hanya bisa menemukan padang rumput... marilah kita lihat situasi di tempat lain.. Namun Cu Hoa. Ketika pada pagi harinya nelayan setengah baya hendak mengambil jalanya. Cu Hoa berkelana menyusuri sungai dan mencari bayi yang dulu diculiknya. betapa terkejutnya dan sekaligus bersyukur karena ia sendiri sudah belasan tahun menikah tak dikaruniai anak. namun juga sangat dikenal di Tiong goan: Kun Lun Pai. semak dan hutan yang didominasi oleh pinus. dalam tempo setengah tahun ia sudah menemukan titik terang. Kalau Tuhan belum menghendaki... Usahanya tak sia-sia.. Di salah satu dataran rendah di pegunungan itu. berdiri sekumpulun bangunan kota berarsitektur tibet. tampak sedang memberi pelajaran To bagi murid-muridnya. tak seorangpun bisa menolaknya... Pegunungan yang memiliki luas hampir menyamai Borneo... Ketua Kun-lun-pay Giok Yang Cinjin. Tosu yang berwajah teduh ini berumur hampir . meski sekujur tubuhnya penuh benjolan luka luar. Inilah tempat yang dikenal dengan nama Kun Lun San. jatuh ke jurang seperti itu tentu kecil kemungkinan masih hidup. dan selama satu bulan bersembunyi di suatu goa dalam hutan yang lebat. Kita tinggalkan dulu Cu Hoa dan Tiong Gi. Pada saat itu di di bangsal utama tempat biasa para tosu belajar agama.. kalau kematian sudah datang. namun beruntung ia selamat..” Dengan lengkingan yang tinggi Cu Hoa. Di tempat setinggi itu. Bahkan ada anggapan pegunungan tersebut merupakan tempat bersemayam para dewa... Jauh di sebelah barat.. di pegunungan yang sangat tinggi. namun ketinggiannya tidak kurang dari 3500 m. Pegunungan yang puncak-puncaknya berselimut salju abadi dan jarang sekali dikunjungi manusia. Dengan tertatih-tatih ia berhasil keluar sungai..”Aaaa. meskipun bersembunyi di dalam benteng yang kokoh.. Meskipun di sebut dataran rendah. Adapun bayi yang diculik Cu Hoa beruntung hanya terseret satu dua li dan tersangkut pada jala yang dipasang nelayan sungai... Setelah pulih dari luka. meskipun menghadapi perang dan diserang ratusan senjata mudah saja seseorang lolos dari kematian.. Maka ia kemudian mengangkat bayi yang kemudian diberi nama Tiong Gi. Tak ada lagi jenis pepohonan yang mampu tumbuh di ketinggian itu. Di desa-desa sekitar air terjun itu selama berbulan-bulan ia mencuri dengan informasi tentang bayi yang hanyut di sungai. Bagi orang biasa. ia dengan sabar menunggu empat tahun lagi... sampan dan bayi yang diculiknya terjatuh ke dasar air terseret arus dan terjun ke dasar yang sangat dalam...... karena tempat itu terletak di kaki-kaki pegunungan.

. Wajah tosu yang biasanya tenang ini dibuat berkerut-kerut tanda ada keganjilan dalam peristiwa yang dihadapinya.” sungut ketua Kun-lun-pay sambil mengelus-elus jenggotnya. menegaskan bahwa sebagai penganut To dan murid Kun-lun-pai yang gagah perkasa dan bijaksana mereka harus menyerahkan segala peristiwa kepada kekuasaan alam berdasarkan kewajaran. bahkan tidak selisih jauh dari suhengnya yang calon ketua. Siapakah yang melukainya dengan tusukan beracun ini Ki Liang?” Selanjutnya Ki Liang menceritakan pengalamannya di Yu-liang-pay. Dilihat dari pakaiannya yang berdebu dan wajahnya yang kusut. Hal ini hanya mudah dicapai dengan sikap diam dan tidak mencampuri urusan yang tidak menyangkut diri pribadi. Dan yang membuat suasana menjadi gaduh adalah sebuah tandu yang diusung rombongan. “Suhu. Hanya bergerak untuk menghadapi dan menanggulangi keadaan sebagai akibat. Jangan sekali-kali menjadi sebab timbulnya sesuatu ketegangan. Sulit sekali dipercaya. Selanjutnya Giok Yang menotok jalan darah sana-sini. . Suasana belajar yang penuh kedamaian ini pecah ketika tiba-tiba serombongan tosu yang dipimpin Ki Liang tosu masuk. dan menyalurkan tenaga sinkangnya. Ki Liang sangat dipercaya untuk menghadapi urusan luar Kun Lun. murid ketua yang memiliki kelihaian sangat tinggi. Begitu datang ketua rombongan langsung buka tutup tandu. tapi dia perlu istirahat tiga bulan untuk memulihkan kesehatannya. Selanjutnya dengan suara penuh kesabaran. dapat dikalahkan oleh murid Yu Liang yang barusia tak lebih dari dua puluh lima. “Lukanya tidak berbahaya. Giok Yang Cinjin memberi wejangan kepada murid-murid Kun-lun-pai.. “Hmmm. mohon perkenan untuk melaporkan hasil kunjungan ke Yu-liang-pay!” “Ahhh…Ki Liang kamu tenanglah. sedangkan rambutnya disanggul ke atas khas sanggulan agama To. Cerita yang disampaikan Ki Liang membuat semua murid terperanjat. biar pinto berusaha untuk mengobati Bhok Kian dulu” ucap Giok Yang tosu dengan tenang meskipun wajahnya berubah pucat ketika menyambut kedatangan muridnya di tandu. taecu Ki Liang.sungguh aneh. di dalam tandu itu Bhok Kian tosu tampak sedang terkena demam tinggi.sembilan puluh tahun.. sejak kapan Yu-liang-pay menggunakan racun pada senjatanya. Semua yang melihat terperanjat. tampat mereka baru datang dari tempat yang jauh. Sebagai murid langsung ketua Kun Lun. Kumis dan jenggotnya yang sudah memutih dibiarkan panjang..

Ilmu Kun Lun tidak kalah dengan partai manapun. dan sudah tiga tahun dia berada di kuil itu.tidak baik.. tosu-tosu yang lain terkejut mendengar ucapan Bhok Kian. Semua wejangan dan percakapan yang terjadi di ruangan belajar yang luas itu didengarkan penuh perhatian oleh seorang anak laki-laki yang sedang bekerja membersihkan jendela-jendela dan pintu-pintu dengan kain kuning. pandangan luas dan penuh pengertian. Aku tidak bisa melarangmu menemui pamanmu. Ki Liang tosu sendiri tidak melihat kejadiannya. berwajah tampan dan berpakaian sederhana. “Suhu. Yang menarik pada anak ini adalah sepasang matanya. kita harus membalaskan sakit hati ini dan yang lebih penting kita musti menyelidikinya. Bhok Kian sungguh hatimu telah dibakar oleh kesumat..Bhok Kian yang baru saja baikan. karena keluarganya. Lagi pula tidak baik memendam rasa dendam. segera menjawab.” “Hmmm.. Chien Ce si putra salju Anak laki-laki ini berusia kurang lebih enam tahun..” Giok Yang tosu. Suhu perkenankanlah taecu membawa beberapa susiok untuk kembali ke sana. Dia adalah seorang anak yatim piatu. Bab 3. Tai Swat shan merupakan dataran tinggi di sebelah timur pegunungan Kun Lun.” Pertemuan itu bubar. kau harus istirahat dulu Bhok Kian.. Tosu ini sedang melakukan perjalanan merantau dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendekar dan penyebar Agama To ke bagian utara Tai Swat shan. aku akan menemui pamanku. asal kita bersungguh-sungguh mempelajarinya. Bocah yang menjadi kacung (pelayan) di kuil besar Kun-lun-pai ini adalah Shu Chien Ce. dengan biji mata yang terang jarang bergerak. yaitu .. semua dikabarkan telah tewas dalam perjalanan pergi ke luar daerah... Namun tanpa sepengetahuan mereka semua ada seseorang yang menguping seluruh pembicaraan yang terjadi.tidak baik. Kun Lun sam lojin. Ki Liang tosu menemukannya tergeletak pingsan di dekat gelimangan mayat pada usia dua tahunan.. Chien Ce sendiri beruntung bisa sembunyi pada saat kejadian.” “Kalau suhu tidak mengijinkan aku mengajak susiok. Hanya satu tanda yang bisa menjadi petunjuk yang kemudian disimpan oleh tosu ini. membayangkan pikiran yang dalam.. “Ah. Ki Liang tosu. Semoga Thian selalu memberi petunjuk padamu. Berita ini justru harus menjadi cambuk bagi kita untuk lebih giat belajar dan berlatih. banyak sekali keganjilan yang taecu temui di sana. ayah-bundanya dan saudara-saudaranya. dari kain katun kasar.. dan Kun-lun-pay tidak ikut campur urusan kalian. karena pandang matanya amat tajam.

Semenjak kecil. Maka demi mendengar tosu itu hendak menemui Kun Lun sam lojin. pelajaran-pelajaran Tao. yaitu setiap orang murid Kun-lun-pai haruslah seorang calon tosu. meskipun wajahnya masih pucat. Dan di waktu kembali dari perjalanan tosu itu selalu mempunyai banyak cerita untuknya. Ki Liang pasti mengajarinya. namun dia kadang-kadang sampai lupa akan pekerjaannya karena mendengar halhal yang amat menarik hatinya. Sebulan setengah setelah peristiwa itu. Bhok Kian sudah sehat kembali. sungguh hubungan merka bagaikan anak dan ayah. Chien Ce sedang membersihkan daun-daun pintu dan jendela yang terkena debu ketika rombongan Ki Liang tosu datang disongsong oleh Giok Yang Cinjin dan anak muridnya yang berkumpul di ruangan belajar. juga kitab-kitab pelajaran dasar ilmu silat Kunlun. saat pulang dari perjalanan jauh. membersihkan kuil. . sehingga punya kebiasaaan jalan-jalan. Di malam hari. dia boleh ikut belajar baca tulis yang diperuntukkan bagi tokong. Setelah mandi Bhok Kian tampak berkemas hendak berangkat. Pada waktu itu. anak itu diajak ke Kun-lun-san dan disitu ia bekerja sebagai seorang kacung.keping besi berwarna hitam berbentuk seperti tengkorak manusia. apa saja yang diperlukan. Pada pagi itu cuaca cukup hangat. akan tetapi bocah ini masih terlalu kecil untuk menjadi tokong (calon tosu). karena para tosu yang sayang kepadanya. bahkan menggembala kerbau milik kuil yang dipergunakn untuk meluku sawah. Suasana di ruangan belajar itu amat hening dan para murid mendengarkan wejangan guru mereka dengan penuh hormat dan kesungguhan. semua dia kerjakan dengan tekun dan rajin. Chien Ce hendak dijadikan murid Kun-lun-pai. Sebetulnya. Kemudian oleh Ki Liang tosu yang merasa kasihan melihat Chien Ce. Mengisi tempat air. semua pekerjaan dia pegang. Ia mendengarkan terus. merawat bunga. membuat Chien Ce makin hati-hati agar tidak mengganggu. Dia rajin sekali. Chien Ce sudah lama ingin sekali jalan-jalan keluar kuil. Ia juga diijinkan memasuki kamar perpustakaan dan membaca kitab-kitab. Karena sudah tidak mempunyai keluarga maka ia bekerja sebagai seorang kacung. menyapu lantai dan kebun. Kitab-kitab tentang filsafat kebatinan. apalagi Ki Liang tosu yang membawanya adalah tosu urusan luar. semua dia baca di usia yang sangat dini enam tahun. maka Chien Ce dapat melihat dan mendengar semua. Tentu saja karena tidak ada gurunya. tergerakkan Chien Ce untuk mengikutinya. tanpa diperintah dia kerjakan. Karena dia tidak diusir dan memang dia bekerja tanpa mengeluarkan suara. karena musim panas telah tiba. bahkan bisa lebih dekat lagi seperti sahabat. dia hanya bisa membaca tanpa dapat menangkap jelas inti sarinya. murid Kun-lun-pai haruslah seorang calon yang memegang keras peraturan.

Bhok Kian tosu sampai mengulang tiga kali. Selama ini ia jarang mengamati kacung kecil ini. “Kenapa engkau mengikutiku bocah. ketika ia membalikkan badan. tapi harus berjanji ketika aku bertemu dengan orang lain.. meskipun dia tetap sok jual mahal. dari kejauhan Bhok Kian sudah melihat pamannya menyambut di depan pintu goa. Biasanya sebelum sampai di goa.” Bhok Kian sebenarnya malas untuk mengajak anak itu. siauwte Bhok Kian mohon menghadap!” Lama tak terdengar suara. Di depan pintu goa. . ada maksud apa kau mengunjungi kami? Siapa yang kamu bawa?” Bhok Kian tertegun. asal tidak jauh aku pasti tidak akan kecapaian. maka bisa dibayangkan kekagetannya. aku berjanji. Di sepanjang perjalanan Bhok Kian lebih terkesima lagi dengan wawasan yang dimiliki oleh anak sekecil itu. Lewat seperempat hari tibalah mereka di sebuah pintu goa.” “Baik totiang. sikap Kun-lun sam-lojin tidak seperti biasanya. Hei tahukah kamu aku tidak hendak berpesiar ke taman binatang bicah. Chien Ce berbicara banyak hal. “Baiklah kau boleh ikut.kau ingin jalan-jalan?. lagipula ia tidak sedang tergesa-gesa. baru kemudian muncul suara balasan yang sangat pelan: “Kian-ji.” “Ehhh. namun betapa kagetnya ia ketika sembunyi untuk coba menengok ternyata yang mengikutinya adalah Chien Ce. Aku berjanji tidak akan mengeluh dan memberatimu.. kau tidak boleh ikut berbicara. Dan ketika tosu itu berangkat iapun mengikutinya.Chien Ce dari tadi sudah mengawasi Bhok Kian. Bhok Kian sadar perjalanannya diikuti. mulai dari barang permainan sampai karya sastera. namun tak kuasa menolak permintaannya. hei bukankah engkau kacung kecil yang dibawa Ki Liang suheng?” “Totiang. Betapa terperanjatnya Chien Ce ketika pundaknya ditepuk seseorang. dan perjalanannya paling lama setengah hari. Lewat sepeminuman teh. kalau perjalananmu kali ini tidak jauh ajaklah aku. Banyaknya puisi dan ujar-ujar kuno yang dihapal Chien Ce sungguh membuat Bhok Kian tidak menyesal mengajak anak itu. aku ingin jalan-jalan. Bhok Kian berseru: “Samwi locianpwe. aku sedang melakukan tugas yang sangat penting!” “Aku tidak peduli kemanapun totiang pergi. ia hanya bisa tersenyum malu..” Maka berangkatlah mereka menuju ke suatu puncak bukit di sebelah utara Kun-lun-pay.

sekonyong-konyong ia merasakan ada tenaga tarikan yang sangat kuat. seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu. “Taecu Bhok Kian mohon maaf mengganggu ketenangan sam-wi locianpwe. dan tiba-tiba mereka sudah berada di suatu ruangan yang cukup terang. “Demikianlah yang terjadi. bicaranya serak-serak basah. Yang kedua bertubuh tinggi. matanya selalu mengatup. Ketiga pertapa tua tersebut menyimak cerita Bhok Kian dengan penuh perhatian. tangannya membawa kipas bulat. rasanya ada yang nggak beres di sana!” Beberapa saat suasana hening. karena ada hal yang sangat menganggu. Sebelum menyadari kejadian selanjutnya. hanya cawat yang menutupi tubuhnya inilah orang kedua dari Kun-lun sam-lojin. berkulit putih. sampai dengan peristiwa yang terjadi di sana.” Tiba-tiba seorang kakek sudah berdiri di depan pintu goa. Siauwte punya urusan yang sangat penting. Selanjutnya Bhok Kian menceritakan dari mulai datangnya undangan dari Yu-liang-pay. terus terang saja ada taecu ingin memohon pertolongan. rambut. karenanya mohon kesediaan sam-wi locianpwe membantu kami menyelidiki Yu-liang pay. Keduanya susah ditaksir berapa umurnya. Bhok Kian mengakhiri cerita dengan satu permintaan. Chien Ce dan Bhok Kian tersedot tenaga yang keluar dari tubuh kakek itu. Bergantian Chien Ce memandangi wajah ketiga pertapa yang namanya menjulang tinggi lebih dari enam puluh tahun yang lalu. Yang pertama bertubuh pendek bulat seperti jai la hud. mukanya cekung.” “Hal apakah itu Liang ji. . katakanlah kepada kami!” tanya sam lojin menyelidik. tapi ada suara parau yang tiba-tiba keluar. kepalanya pelontos tanpa kumis maupun janggut. Tiba-tiba keheningan itu dipecahkan oleh suara lirih namun bening. Bhok Kian kemudian berlutut di hadapan tiga kakek tua ini. Tak lupa keracunan yang dialami juga turut disampaikan.“Siuwte membawa kacung Kun-lun-pay. ah dia ini masih anak kecil. Di ruangan itu duduk dua orang kakek yang bentuk tubuh dan penampilannya sangat aneh. Tubuh kakek ini kurus sekali. kumis maupun janggutnya dibiarkan panjang menjuntai. wajahnya tirus. pakaiannya lengkap semodel dengan pakaian Bhok Kian tosu. di tangan kanannya ia memegang sebatang tongkat bambu yang sudah tua. alis. wajahnya selalu berseri. Ketiga-tiganya memeramkan matanya. “Masuklah kalian!” Chien Ce tidak melihat kakek itu membuka mulut.

” papar toa lojin sambil tetap memejamkan mata. Dia hanya tertarik membayangkan tempat-tempat yang jauh yang belum pernah dikunjunginya. “Bhok Kian.wah kurang ajar sekali Yu-liang pay berani-beraninya sekarang berkongsi dengan segala dukun.dia ini.“Hmmm. himalaya atau india. Sementara kedua orang tamunya masih melamun dengan pikiran masing-masing. Sekarang kalian kembalilah. Kekuatan seperti ini mudah dipunahkan jika pihak yang diserang memiliki sinkang yang kuat. “Begini saja. “Dukunnn. Selama ini Bhok Kian hanya pernah berhadapan denga tukang sihir yang hanya memengaruhi pikiran seseorang. Sebenarnya Yu Liang Kiamhoat masih belum bisa menandinginya. “Tunggu!” Bhok Kian dan Chien Ce berhenti dan membalikkan badan... sekonyong-konyong Ji-lojin berseru. Aku agak heran kalah ilmu pedang seperti itu bisa digabung dengan unsur magis. sam lojin berujar. Hanya ada dua kemungkinan. biar dibuktikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi dan siapa dalang dibalik perubahan gaya pedang Yi Liang Pay.” ujar ji lojin.Yu-liang Kiamhoat baru diciptakan oleh Huang Shin ketika aku masih muda. Bhok Kian. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang istimewa dari ilmu pedang ini. apakah anak yang kau bawa ini murid Kun-lun?” tanya ji lojin penuh selidik.. Namun jika dibandingkan dengan Kun-lun Kiamhoat yang sangat kuat dalam pertahanan dan penyerangan serta lebih murni.. Namun belum ada tiga langkah. Bhok Kian yang sudah belasan tahun terjun ke dunia persilatan masih merasa asing dengan segala macam sihir yang bisa menggerakkan orang lain... dia belum diangkat sebagai murid Kun-lun. sebulan lagi setelah kesehatanmu benar-benar pulih aku tunggu kamu di lembah bunga mawar. maupun Chien Ce mengikuti tutur kedua lojin itu dengan mulut terbuka. . Bhok Kian.. mungkin sekitar sembilan puluh tahun lalu.. kecuali perkembangan jurus-jurusnya yang sangat banyak. masih seorang kacung.. Mengapakah locianpwe menanyakan hal ini?” Ji lojin bukannya menjawab pertanyaan Bhok Kian. aku akan menemaniku kembali kesana. Bhok Kian dan Chien Ce membalikkan badan dan hendak meninggalkan ruang itu. Di lain pihak.” “Ilmu sihir seperti itu hanya dimiliki oleh dua kelompok. “Emm. memegang pundak dan tangannya. Chien Ce yang masih kanak-kanak tak bisa mencerna apa yang dibicarakan.. dia justru mendekat ke Chien Ce. Pelakunya dibekingi oleh dukun atau pelakunya kesurupan.

. Dan Kun-lun-pay punya peraturan ketat yang melarang murid Kun-lun-pay mempelajari ilmu dari sumber lain.. toako bukankah cukup pantas kalau kita minta imbalan atas bantuan kita ke Bhok Kian dengan meminta anak ini jadi pewaris ilmu kita.. kami mohon diri" Tosu itu kemudian mengandeng tangan Chien Ce untuk kembali ke Kun-lun-pay. Namun Bhok Kian punya pandangan lain. namun demikian saya harus melapor dulu ke pimpinan di Kun Lun. Sebagai murid yang bercita-cita tinggi ingin menjadi yang terbaik di Kun-lun-pay.mau. supaya hubungan kita tetap baik. Mulai saat ini Chien Ce belajar dengan tekun dibawah bimbingan toa-lojin dan ji-lojin. aku mau beli permen. ia sudah merasa nyaman menjadi tosu di Kun-lun-pay. Berbagai ilmu silat tingkat tinggi dipelajarinya dengan kesungguhan.. Sebulan kemudian Bhok Kian tosu kembali ke goa itu mengantar Chien Ce dan mengajak sam lojin yang juga pamanya ke Yu-liang-pay. langsung mencabut pedang... apa suhu bisa mengajak aku kesana?” Segera ji-lojin berujar sambil melirik Bhok Kian “Nahh. bukan begitu sam-te?” Sam-lojin yang diajak bicara ji lojin memandang tajam keponakannya. Sebulan lagi biar siauwte datang kembali kesini mengantar anak ini dan menjemput sam-lojin. “Siauwte mengucapkan terima kasih kepada sam-wi locianpwe. Nah... apakah dia mau jadi murid kita?” Chien Ce yang masih kanak-kanak cukup cerdas untuk mencerna pembicaraan mereka..engkau kini murid tiga suhu yang paling sakti di kolong langit”. selama ini dia selalu jual mahal kalau ditawari oleh sam-te.” “Jite. Pagi-pagi ketika mereka tiba di pintu gerbang. untuk melepas rasa tidak enaknya maka dengan muka yang diramah-ramahkan ia mengucapkan selamat ke Chien Ce.tulang bagus. Beberapa kali dia memang pernah diminta pamannya untuk mewarisi kepandian Kun-lun-sam-lojin... “Mau..tapi aku ingin belajar sambil jalan-jalan ke kota atau ke India. Kita tinggalkan dulu Chien Ce yang sedang belajar di goa di bukit sebelah utara Kun-lun-pay. marilah kita ikuti petualangan Bhok Kian dan sam-lojin di Yu-liang-pay... Namun dengan polos ia menjawab. Bhok Kian yang jadi pusat perhatian hanya tersenyum hambar. dan dengan kerennya mereka membentak....“Tulang bagus. Dua orang penjaga itu begitu melihat dua orang tamu yang berkunjung bertampang orang persilatan. mereka disambut penjaga dengan wajah yang galak dan tegang..anak ini ternyata berotak lebih encer dari majikannya.. kamu belum bertanya ke anak itu. “Kionghi Ce-ji. Bhok Kian tentu saja menolak segala tawaran dari ‘sumber lain’. “Siapa kalian dan ada urusan apa datang ke sini!” .. Bhok Kian dan sam-lojin melakukan perjalanan cepat ke pegunungan Fan Cing san tempat Yu-liang-pay.

” Tiba-tiba pedang di tangan penjaga kedua tersedot oleh tenaga yang tersembunyi kemudia bergerak sendiri hendak menusuk penjaga pertama yang bicara. “Sekonyong-konyong terdengar suara yang menggetarkan. Kedua penjaga hendak membunyikan kentongan.. Temannya hanya mampu menonton sambil mulutnya mangap. “Ji wi totiang siapakah? Mohon sebutkan nama dan keperluan!” bentak wanita yang dulu pernah memamerkan ilmu pedang Yu Liang Kiamhoat itu galak. dalam kekagetan penjaga pertama tadi mundur hingga tubuhnya membentur pintu. Hatinya terkejut dan kagum. Mengetahui bahwa yang datang adalah lawan yang berkepandaian. nona katakan saja kepada pangcumu. Ruangan itu luas. maka tidak lekas laporkan majikan tunggu apa lagi.Sam-lojin yang banyak pengalaman menggoda. “He he he heh. Pintu utama dibuka dari dalam.” Demi mendengar suara ini. “Silahkan jiwi ikuti aku. wajahnya yang semula keras dan galak kini memucat. giginya menggeletuk. apakah dulu gebukan kami kurang keras!” kalimat ejekan yang dilontarkan wanita ini sungguh membuat muka Bhok Kian memerah. Bentakan ini ditimpali dengan ketukan tongkat sam lojin lima kali ke lantai di depannya. jangan hanya mengandalkan bangsat kunyuk seperti kalian!” bentak Bhok Kian dengan suara menggelegar. langsung menjawab. wanita yang bernama Lian Hui ini lantas menjawab. Sedangkan wanita yang memimpinnya hanya terhuyung empat langkah. “Bangsat sundal! Suruh keluar Liong Ping menghadapi kami. Akibatnya empat orang langsung terlempar tiga tombak ke belakang dan jatuh terjengkang. ajaklah tamu ke lian bu thia.. tidak ada yang . Tapi terlambat usaha mereka ternyata diketahui oleh dua orang tamu. karena Bhok Kian sudah berteriak mengirimkan suara ke penghuni gedung utama.” Disusul dengan ajakan ke dua tamu. Namun keributan itu tidak berlangsung lama. “Baiklah pangcu. kami menunggu di sana. dengan nada suara yang lebih ramah. matanya melotot. aku Bhok Kian tosu ingin bertemu!” “Ooooh rupanya tosu dari Kun Lun. “Hei kami ini tukang sulap yang diundang untuk menghibur majikan kalian. sehingga dengan mudah kentongan direbut.” Bhok Kian memasuki ruangan lian bu thia. Lima orang murid tingkat dua dipimpin seorang wanita menyambut kedatangan tamu. akan tetapi kini dikelilingi pagar hidup berupa anak murid Yu-liang-pay yang berdiri dengan disiplin baik. “A Hui. Luar biasa sekali akibat dari lima kali ketukan ini karena dari masing-masing ketukan keluar hawa pukulan yang dapat menjalar di lantai dan menyerang lima murid Yu-liang-pay. Bak dipatuk ular..

lagi pula bagi kami apakah untungnya memusuhi kalangan kang-ouw?” “Aku adalah Bhok Kian. toyu ini orang keberapakah?” potong Liong Ping. Namun untunglah pada saat kunjungan mereka. “Ahh kiranya Bhok Kian toyu yang berkunjung. Jumlah anak murid yang berkumpul disitu dia taksir tidak kurang dari seratus orang! Bhok Kian tidak tahu bahwa belum sebulan berselang Yu-liang-pay juga dikunjungi lima tokoh dari Hek-in-pang. panggillah murid yang dulu melukai pinto. Dari dalam kemudian muncullah dua ketua Yu-liang-pay. kami meminta pancu menuliskan surat permohonan maaf secara resmi ke . “Liong Ping! Tidak perlu kita berbasa-basi. Senyuman sinis yang penuh nuansa ejekan. Kami ingin bicara langsung dengannya!” pinta Bhok Kian tosu dengan nada tegas. Baik aku lanjutkan. Ji-pangcu menjanjikan akan menyelesaikan masalah satu tahun lagi. bukan Ki Liang. Dulu kalian hendak mencelakai aku dengan racun. “Pada hari itu pula kami juga kehilangan anak murid kami Tiong San. Kalau pangcu masih memandang muka Kun-lun-pay. “Aku sam-lojin.bicara. ada keperluan apakah kunjungan jiwi ke sini. Wajahnya memerah penuh hawa kemarahan. Liong Ping menatap kedua tamunya dengan pandangan penuh selidik.” jawab sam-lojin pendek. sungguh peristiwa ini perlu kami selidiki. yang langsung menyambutnya dengan keramahan. namun dengan sikap siap siaga dan penuh kewaspadaan semua mata ditujukan kepada mereka. “Ahhh begitukah kiranya? Maafkan aku Liang toyu. dan siapakah totiang ini?” ujar Liong Ping sambil tersenyum. di puncak bukit Yuan Ling san. maka kini tuntutan kami yang kedua. Siapa pelakunya sampai saat ini masih kabur bagi kami.” “Kiranya Kun Lun sam-lojin. Kedatangan pinto dengan pamanku ini tidak lain hendak menuntut pertanggung jawaban kalian.” Kali ini giliran Bhok Kian tosu dan sam-lojin yang terperanjat. sehingga mereka ditemui ji-pangcu yang lebih sabar. Mereka menuntut keadilan. kemudian lirih menjawab. karena waktu itu buru-buru Bhok Kian mengundurkan diri maka kejadian selanjutnya tidak dia ketahui. sebelah utara Fan Cing san. masing-masing. Masing-masing akan diwakili tiga orang. toa-pangcu Liong Ping sedang tidak ada. “Kalau memang demikian. Apakah memang Yu-liang-pay hendak menantang Kun-lun-pay?” Bhok Kian berkata dengan berapi-api. parau dan nyaris tak terdengar beda vokal dan konsonan dalam kata-katanya. karena terus terang kejadian itu diluar sepengetahuanku.

Biarlah aku mulai menyerang. Ia memang belum mengenal Kun-lun-sam-lojin. Tak pelak sam-pangcu kemudian mencabut pedangnya.pihak Kun-lun-pay.” sam-lojin segera melontarkan sebuah pukulan pembuka. Lebih terkejut lagi adalah sam-pangcu.. .” “Ooo.. barangkali saja memang ilmumu sudah melampaui kepandaian guru kalian. melatih kesabaran. Sam-lojin tidak menyangka pukulan yang dilancarkan tiga perempat tenaga hanya mampu mendorong lawan dua langkah. “Sam-pangcu menurut kedudukan mestinya gurumu yang menyambut aku. “Silahkan lotiang memulai. aku tuan rumah akan melayani berapa jurus yang kau kehendaki!” Dihadapi hanya oleh orang ketiga membuat wajah sam-lojin sebentar merah sebentar pucat. “Plaak.” Sejenak Liong Ping terdiam sambil memicingkan matanya.. kiranya masih jauh dari kesempurnaan. bukankah begitu anak-anak? Entah kalau di Kun-lun ada aturan yang berbeda.di sarang naga.. Selama ini ia telah giat belajar memperdalam sinkang. Meskipun sudah berpuluh tahun menenangkan diri. Dulu mendiang Hong Bu pangcu juga tidak akan gegabah menghadapiku. “Kalau memang Yu-liang-pay tidak berkenan meminta maaf. sebagai manusia biasa sam-lojin juga masih memiliki perasaan termasuk rasa amarah. Huh.begitu rupanya. Kenapa tidak terus terang saja dari tadi! Sam-pangcu silakan layani lotiang ini!” Liong Ping menoleh ke Sam-pangcu dan menyuruhnya melayani tamu bersilat.” “Hiaaattttt. dan berkata dengan lantang.” Jawaban toa-pangcu ini kontan disambut ramai oleh anak-anak murid Yuliang-pay.. Sam-pangcu melompat ke depan dengan gagah. sedang sam-lojin merasakan kesemutan. Pada pukulan pertama ini sengaja ia ingin menguji kekuatan sinkang lawan. pendekar sakti yang sudah lebih dari tiga puluh tahun mengundurkan diri. yang ditulis pangcu sendiri dan akan kami bawa sendiri ke Kun Lun.. jangan tanggung-tanggung pamanku juga ingin meminta pelajaran dari pangcu.. lantas ia menjawab seolah sedang bergumam.." pukulan sam-lojin ditangkis. kura-kura meminta naga tak berbasa-basi siapa sangka kura-kura menyampaikan hajat dengan berbelit-belit. beberapa mengeluarkan ucapan-ucapan ledekan yang menghina.. Keduanya terkejut.. “Kalah menang dalam sebuah pibu adalah hal yang sudah sewajarnya. Akibatnya sam-pangcu terdorong dua langkah.

"Lihat serangan!" Sam-pangcu membentak dan pedangnya menyambar. Maka ketika dia mendapat kesempatan menyerang. “Marilah kita main-main sebentar dengan senjata. secepat kilat ia gerakkan pedangnya memutar untuk menangkis serangan dari bawah. Dengan tenang sam-lojin kembali menangkis serangan pedang. tampaknya serangan demi serangan pedang sam-pangcu selalu terbentur tembok pertahanan tongkat yang sangat kuat. seperti suara yang menusuk-nusuk dadanya. hingga akhirnya pada jurus ke lima belas. dan ia kini melompat ke kiri. menjadi sinar keperakan menebas ke arah leher sam-lojin. Ia merendahkan tubuhnya. Pedang ditangannya diputar membentuk gulungan sinar yang menyilaukan. Namun sam-pangcu adalah orang yang cerdik dan sudah cukup banyak pengalaman. dan langsung menusuk tembok dengan tongkat.“Sratt! Sambil menghunus pedang sam-pangcu berseru. Gerakan ini sepertinya sudah diduga oleh sam-lojin. Hampir saja pedang di tangannya lepas. Dari tangkisan ini ia merasakan getaran aneh. Sam-pangcu tidak berani gegabah menyambut serangan. Ia merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lutut sehingga ia tahu bahwa pedang itu akan melewati atas kepalanya dan langsung ia membalas dengan gerakan tongkatnya menyerampang kaki lawan. “Traang. dan balas menyerang bagian perut sam-lojin. ia tahu asal-usul hawa magis yang menyerangnya. Ia melompat ke belakang.. sambil menyapu pandangan ke bagian tembok di belakang. Jurus demi jurus telah dilalui. Cepat sekali gerakannya itu. Cepat sekali sam-pangcu kembali melancarkan serangan-serangannya. lotiang!” “Aku sudah siap pangcu!” jawab sam-lojin sambil mementang kaki membentuk kuda-kuda yang kokoh. hampir bersamaan dengan serangan sampangcu sehingga ketua ketiga Yu-liang-pay ini terkejut dan cepat meloncat sabil miringkan tubuh dan dia pun meniru lawan untuk bergerak cepat. digerakkanlah tongkatnya dengan hebatnya. kalau saja tidak dia genggam erat-erat. kemudian tubuhnya berkelebat lenyap dan yang tampak hanyalah sinar pedang tebal meluncur ke arah sam-lojin. menyerang kepala sam-pangcu. karena secepat kilat kakinya menotol pedang yang sedang menyambar.. Namun kali ini wajah sam-lojin berubah pucat.. Sungguhpun dari getaran yang melalui pedang mereka itu jelas membuktikan bahwa tenaga sinkang orang tua ini seperti yang sudah dia ketahui amat kuat. namun pedangnya yang terpental itu diikuti dengan tubuh.” kembali terdengar suara benturan yang sangat keras. menuju tembok. Dengan perasaannya yang sudah sangat terasah. "Trang!" pedang sam-pangcu sudah menangkis serangan tongkat itu. Sam-lojin menggunakan tenaga totolan kaki untuk meloncat jauh ke belakang. Sam-lojin ini melihat bahwa gerakan lawannya cukup kuat dan cepat baginya. .

Bhok Kian tosu hampir terlambat menyadari perubahan yang terjadi. Sam-lojin hanya sempat melihat kelebatannya saja. dukun pembokong ada di balik tembok. Senja telah berlalu dan keadaan cuaca di padang bunga itu sudah remang-remang. kita beristirahat dan bermalam di sini!" Kata sam-lojin sambil melempar tubuh di atas rumput hijau. setelah menemukan desa mereka menyeberang. Dengan mengandalkan kekebalan ia terima tusukan-tusukan pedang. Secepat kilat ia sudah memutuskan untuk mencongkel dupa. terlihat dari tanda-tanda. sekonyong-konyong tubuhnya dicongkel oleh tongkat sam-lojin dan dilontarkan ke luar. kepung dan tangkap mereka berdua!” Secepat kilat murid-murid sudah membentuk barisan yang rapi dan langsung mengirimkan serangan. Semua orang terkejut tak tahu apa yang terjadi. Mereka mengira tubuh sam-lojin terlontar sampai menubruk tembok. Sengaja ia mengarahkan tenaga luncurannya ketika mencongkel Bhok Kian. dan melanjutkan perjalanan ke barat. Sam-lojin sendiri terkurung oleh serbuan pedang. Bhok Kian tosu lalu menyalakan api dan membuat api unggun sehingga di situ selain hangat dan tidak diganggu nyamuk. dan langit memerah mereka sampai di padang bunga merah. jauh dari desa atau pemukiman penduduk. Secepat kilat sam-lojin menotolkan tongkatnya dan melompat jauh. Pada waktu yang sesingkat itu bebagai pikiran berkelebat di benak sam-lojin. Kemudian dengan gerakan melompat ia sudah kembali ke arena. Benar saja dugaan sam-lojin. adanya dupa yang masih menyala. Namun pada saat itu. dan menyambar dengan tangannya. sehingga tusukan yang diterimanya tidak sampai melukai tubuh.!” tusukan tongkat di tangan sam-lojin menyebabkan bunyi ledakan yang keras. persis kejadian lolosnya Cu Hoa. Dengan dua kali loncatan ia sudah keluar dari kompleks gedung Yuliang-pay dan dengan menyambar tubuh Bhok Kian bersama-sama mereka menuruni bukit dan menghilang di atas sungai. diikuti ambrolnya tembok meninggalkan lubang seukuran tubuh lembu muda.“Bruaaakkkk. . Hanya sepenanakan nasi mereka mendayung perahu. Ketika ia mulai menangkis serangan pedang yang bertubi-tubi.. dan akibatnya sungguh luar biasa. toa-pangcu sudah memberikan komando ke seluruh murid. Puluhan murid tingkat dua terlempar ke kanan ke kiri seperti debu yang ditepuk sapu. juga agak terang. Karena sudah menjelang malam. Setelah senja tiba. Bhok Kian. mereka akhirnya memutuskan untuk bermalam di dekat telaga kecil di padang itu. Sedangkan sam-lojin duduk bersamadi. ke arah murid-murid tingkat dua. Padang bunga merah ini padang yang sangat luas. Begitu menyentuh tanah sam-lojin melakukan gerakan mengibas-ngibas. Namun sayang pelakunya sudah keburu melesat. seperti anjing bangun dari tidur. “Bentuk formasi lima elemen.

Ia mengambil sedikit daging yang disodorkan Bhok Kian.. Rupanya mereka sudah mengetahui kehadiran dua orang . Hal itu tak lain akibat tertular sikap sam-lojin yang sangat hati-hati. Sekonyong-konyong terdengar bunyi menjepret. Aku menduga salah seorang yang kulihat sekelebatan... dan sambil menikmati tak lupa menawarkan ke sam-lojin. Mendung yang menebal dan suara lolongan anjing dari kejauhan menambah nuansa seram yang dirasakan.” belum selesai Bhok Kian bertanya.” “Fitnah besar akan segera melanda kang-ouw.. baru kali ini ia merasakan suatu ketegangan yang sangat mencekam. Tiba-tiba terlihat nyala api. yang kedua adalah Vicitra Rahwananda. separo rembulan tanggal tujuhan sudah dari sore muncul-sembunyi sehingga cahayanya redup. ”Ada yang datang. Selama belasan tahun terjun ke dunia persilatan. Aku melihat sekelebatan sosok yang berada di belakang layar. Sam-lojin menyambar tangan Bhok Kian tosu dan mengajaknya berlari. Dengan berbisik sam-lojin berkata. ”Aku mendengar lebih dari sepuluh ekor kuda.. Bhok Kian segera mematikan api unggun. Cepat matikan api unggunnya!” jawab sam-lojin. “Di dunia ini aku hanya mengenal dua orang dukun sihir yang mahir pula bersilat. dan tak sampai sedetik sebuah panah api melesat mendekati tempat istirahat mereka. ”Siapakah mereka dan berapa jumlahnya?” tanya Bhok Kian dengan wajah menegang karena ia sendiri belum mendengar apa-apa.” “Siapakan dia paman?” tanya Bhok Kian penasaran. dari satu kemudian bertambah banyak sampai enam buah. seakan-akan ratusan iblis hendak mengepung padang itu.” Dengan wajah serius sam-lojin konsentrasi mendengarkan suara yang masih jauh. Bhok Kian melihat pemandangan yang remang-remang dengan muka tegang. Ketika sosok-sosok mereka sudah mulai terlihat tiba-tiba saja berhenti. Sam-lojin membuka mata. “Dunia persilatan dalam bahaya Liang ji.. Tugas kamu makin berat Liang-ji.” ”Kira-kira bagaimana kita bisa menga. Yang pertama adalah Pek-mau Say-ong (Raja singa berambut putih). Malam itu cuaca berawan.Sepenanakan nasi kemudian Bhok Kian memanggang daging kelinci yang berhasil ditangkap. Setelah sepeminuman teh suara itu makin jelas terdengar. Belum sampai sepuluh langkah. yang kedua asli India. Yang pertama berdarah campuran. Sam-lojin memberi tanda supaya dia tidak bersuara. tiba-tiba terdengar bunyi kuda berlari cepat ke arah mereka.

pamaann. Karena kesulitan menyerang dari kuda... hanya mampu ditangkisnya lemah.buruan. tingkat kepandaian mereka yang sangat tinggi. Tubuhnya limbung. sam-lojin mulai terhuyunghuyung. Tongkat di tangan sam-lojin terus berputaran dengan cepatnya. Hingga pada jurus ke seratus.. ”Triingg. Mulailah terjadi pertarungan yang sangat seru dan mati-matian. Masing-masing dinaiki oleh seorang bertopeng. Sabetan dari samping yang mengarah ke leher. Beberapa mampu ditangkisnya tapi ada sebagian yang dihindari. karena selain berusaha melindungi diri sendiri dia juga ingin melindungi keponakannya. ”Paman... Namun satu pukulan terakhirnya juga tak mampu dihindari lawan.. Dari gerakan silat mereka. Kali ini ia bertekad mengeluarkan tenaga terakhirnya. ”Ha. Mereka terkesiap melihat sepuluh ekor kuda sudah mengelilingi dari berbagai arah.. Pada saat yang hampir bersamaan.. Pertarungan ini sungguh sangat seru. karena ia berkonsentrasi menghadapi serangan dari depan... ”Desss.auurrggg... Pada jurus ke empat puluh dua orang dari pihak pengejar roboh bersimbah darah. bunyi mengaung-ngaung cukup memekakkan telinga mereka yang memiliki sinkang rendahan. sekarang mampuslah kalian.!” seru Bhok Kian tosu pilu..... Bhok Kian dan sam-lojin dapat menduga bahwa lawan yang mengeroyok berasal dari Yu-liang-pay. dan memakai caping.. namun pukulan susulan yang dilancarkan tak sanggup lagi ditangkisnya. Hal yang membuat Bhok Kian dan sam-lojin kaget setengah mati adalah.. karena posisi bersatu punggung. Pukulan dan hujaman pedang tiga orang musuh yang mengepungnya tak sanggup dilawan semuanya. akhirnya mereka turun dan mengepung dua orang sasaran.. . Celakanya. sebuah pisau kecil terbang menyampoknya. Gerakan mereka sangat tangkas.ha. serangan pedang lawan juga sangat hebat. jarum-jarum rahasia yang dihindari mengenai tubuh samlojin. Yang luar biasa adalah tingkat kepandaian mereka yang tidak disebelah bawah sam-pangcu. hiaatttt!” seorang yang paling tinggi di antara penyerang menyambitkan puluhan jarum-jarum beracun. Tanpa kata-kata kemudian mereka mulai menyerang.. Ia sangat kepayahan.croott. Semak dan rerumputan pada jarak empat tombak sudah roboh seperti tertiup angin topan.. Namun mereka berdua seakan bersepakat untuk terus melawan sampai titik darah penghabisan.! sejengkal sebelum ujung pedang itu menyentuh tubuh Bhok Kian. Namun serangan yang ditujukan ke dua sasaran justru makin meningkat. Bunyi dentingan dan pijaran bunga api dari jauh seolah-olah sedang ada pesta kembang api.. Merasa usahanya bakal sia-sia Bhok Kian dan sam-lojin berhenti kemudian berbalik...ha. Lewat tiga puluh jurus terlihat pihak Bhok Kian mulai kewalahan dan terus terdesak. Bhok Kian berusaha menangkis..!” Jerit parau melengking yang keluar dari mulut sam-lojin adalah jerit kematian... Tusukan pedang ke arah punggungnya berkelebat cepat.

. Lelaki yang bertubuh tinggi bertopeng setan merah itu menotok beberapa bagian tubuhnya.. Apakah . Namun seseorang yang bertubuh agak pendek berkata agak mencela..”Jangan bunuh dia!” ujar orang bertubuh paling tinggi yang melontarkan pisau kecil itu. Namun tak seorangpun membantahnya. Namun sampai saat ini. Setelah menuangkan isi botol kecil itu. Dengan cekatan anak buahnya menjalankan perintah itu. Segera ia mendekati Bhok Kian. Tubuh Bhok Kian lunglai dan pingsan tak sadarkan diri. hingga membuat bulu kuduk meremang. lelaki bertubuh tinggi itu memerintahkan penguburan sam-lojin. orang yang bertanya dapat melihat betapa dingin tatapan matanya.. “Aku sudah meracuninya! Begitu bangun dia akan kehilangan ingatannya. “Foi sicu. Dua bulan setelah peristiwa di padang bunga merah itu. Darah bercucuran keluar dari luka. ia seakan tak mampu menggerakkan seluruh tubuhnya. Kemudian rombongan penyerang itu dengan cepat meninggalkan tempat pertarungan. “Ji-te. sambil membawa mayat tiga orang saudaranya. dengan paksa laki-laki itu mencekoki Bhok Kian dengan suatu cairan. Sekaligus aku memang ingin mencoba khasiatnya.! auggghhh. wajahnya yang bertopeng melawan sorotan sinar rembulan yang baru muncul dari balik awan kelam. Setelah luka itu terbalut. takut apa sama Kun-lun-pay!” Ucapan ini sungguh jumawa. Anehnya ia memerintahkan anak buah untuk menaburi luka itu dengan obat dan membalut lukanya. ”Crooott. hanya bunyi jangkerik dan suara serangga malam yang terdengar. kenapa engkau tidak binasakan saja tosu keparat itu sekarang juga? Sesungguhnya kalau dibiarkan dia bisa bocorkan rahasia kita!” Lelaki bertubuh tinggi itu menoleh ke orang yang baru saja bicara. Maka perlahan-lahan mereka kembali naik dan keprak kudanya.. Aku sengaja membiarkan dia hidup. Kemudian orang itu mengajak anak buahnya pulang. Lagian kalaupun racun itu tidak ces pleng.. Kebetulan aku dapat resep membuat racun itu dari perwira Sung yang menjadi murid iblis timur. tak ada kabar beritanya. namun karena konsentasinya terpecah ke pamannya. di depan goa tempat bersemayam Kun-lun-sam-lojin terjadi obrolan serius dua kakek penunggu goa itu di atas sebuah dahan. Dan padang bungapun kembali sunyi. Tak jauh dari tempat mereka kangkauw-kangkauw seorang anak lelaki sedang melakukan gerakangerakan silat. Apalagi disampaikan oleh orang bertopeng yang jelas-jelas tak ingin identitasnya diketahui. sudah lebih dari dua bulan sam-te dan Bhok Kian pergi menyelidiki Yu-liang-pay. dan mengayunkan pedang ke pangkal lengan kiri Bhok Kian.! lengan kiri Bhok Kian putus. Bhok Kian bukannya tidak tahu kalau sedang dibokong. agar menjadi fitnah bagi dunia persilatan. Selama ini dunia persilatan hanya mengenal racun perampas ingatan yang dimiliki klan Tok Nan-hai pang (Perkumpulan racun dari Nan-hai).

.. Di kota Heng Yang. kita punya murid yang bisa mengemban tugas ini. Dengan tingkat kelihaian sute Tanpa berpamit. Di Kun Lun tak seorangpun mendengar berita Bhok Kian. “Berita tak baik loheng. Di sepanjang perjalanan. Jauh di sebelah timur pegunungan Fan Cing san.. menurut perhitunganku mereka tak kan lebih dari dua minggu berkunjung ke sana..” Ucapan yang damai dari toa-lojin ini membuat suasana kembali tenang. Akupun khawatir terjadi sesuatu atas mereka. Kota yang saat itu menjadi ibu kota propinsi Hu-Nan. Malam itu..praaak.!” Enam orang tampak sedang mencoba untuk menebang batang pohon hek siong yang sangat besar berukuran lebih dari dua orang dewasa. akupun hendak menyampaikan hal ini kepadamu. Di depan gedung tua yang cukup megah di kota Heng Yang terdengar suara keras beradunya kapak dengan batang kayu. Dua minggu setelah kepergiannya. Chien Ce juga sudah tidak pernah lagi bertanya tentang keadaan mereka berdua. tapi kalau hilang tanpa jejak juga akan membuat orang penasaran..” “Benar. “Sama sekali tidak loheng. Sedang di Yu Liang mereka berdua pernah bentrok dengan anak-anak murid Yu-liang-pay. Pada suatu malam yang kelam. “Praakk. ia kembali dengan wajah kusut.siancay. dengan sekali ayun bagaikan terbang kakek bertubuh gembul ini telah berkelebat ke arah selatan. dan kemudian melarikan diri. Lukisan misterius Sepuluh tahun tak terasa berlalu sejak peristiwa kegemparan di Yu-liang Pay.prakk. Saat semua orang terlelap dalam bilik masingmasing terbungkus selimut tebal. terjadilah suatu peristiwa yang menggemparkan. Bab 4. menanyakan kepada para tosu kabar berita mereka berdua?” Yang ditanya sambil tersenyum menjawab..” “Siancay.. di musim dingin yang sangat menusuk tulang.. Malam ditemukannya sebuah lukisan misterius.kehendak Thian tak seorangpun yang tahu. Biarlah sekarang juga aku mencari berita mereka berdua. Biarlah kita menunggu saja kabar berita dari tosu Kun-lun-pay... .engkau keberatan mengunjungi Kun-lun-pay. Jika kelak memang ada sesuatu musibah yang menimpa mereka.. Dia tetap bersemangat berlatih silat dibawah bimbingan dua pendekar tua yang namanya sangat mashur puluhan tahun silam.. Hujan es bercampur salju dari sore turun dengan lebat disertai kilat yang menyambar-nyambar.. Kita tidak pernah sayang pada nyawa.. aku tidak pernah mendengar ada orang yang melihat kepulangan mereka.

. Karena sempat terpercik air. teman-teman yang lainnya kontan langsung merubungi.. “Seperti lukisan!” anak buah yang menemukan berseru. Sungguh berani sekali tindakan penebang itu karena gedung tua itu adalah gedung gudang senjata tentara gubernur Heng Yang. Bahkan pohon hek siong semacam pinus yang batangnya berwarna hitam yang berada di depan sebuah gedung tua yang berarsitektur sangat indah.. dan diikuti kekurangan pangan. kuno dan unik tak luput dari penebangan itu.. orang sudah tidak lagi memedulikan jenis pohon. sedang mengalami bencana salah musim yang parah.Hentikan!” seorang tua yang menjadi pemimpin penebang pohon berseru begitu mendengar suara aneh... “Prakk. ada sedikit bagian gambar yang menjadi luntur. Ketika A Cin coba putar-putar ternyata tabung terbuka. Pada bagian bawah lukisan tertulis “siapa mendapatkan lukisan ini sungguh akan sangat beruntung”. “Hei suara apa itu.. namun masih terlihat jelas menggambarkan suasana pegunungan. Pohon ini sebenarnya cukup mahal untuk dijadikan kayu bakar. pepohonan yang rindang salah satunya pohon hek siong dan angsa yang saling berkejaran.. pada saat musim semi dan panas terjadi kekeringan yang sangat. jadi tidak bisa membaca isi tulisan itu. Lukisan tua yang aneh pada bagian bawah ada lukisan pemandangan alam yang cukup indah namun bagian latarnya terdapat coretan-coretan mirip cacing menuju lubang. . Anehnya malam itu tak seorang prajuritpun yang menjaga di luar gedung dan keadaan di luar gedung itupun gelap gulita. tak heran jika dingin yang dirasakan semua orang sangat menusuk hingga terasa ke tulang belulang.. “Ehh. Penduduk menebangi berbagai pohon untuk dijadikan kayu bakar. Dibawahnya terdapat danau yang bening...!” teriak salah seorang anak buah yang kapaknya beradu dengan logam tadi. A Cin segera berlari menuju emperan sebuah toko yang sudah dari sore tutup.seruling perak. Bagi yang berpengetahuan sekilas latar belakang itu mirip peta. Namun di musim seperti ini.. A Cin yang memimpin penebangan pohon hek su gi di depan gedung tua itu melihat ditemukannya tabung perak sepanjang dua jengkal. Di dalamnya terdapat selembar kain. Celakanya A Cin dan kawan-kawannya tidak pernah makan sekolahan.Pada waktu itu di propinsi Hu-Nan. teman yang lainnya menimpali. Dia lantas menyelidiki sumber suara... Dan pada musim dingin terjadi badai yang luar biasa. “Ada logam seperti perak.ting!” tiba-tiba terdengar suara nyaring beradunya dua logam. Beberapa perahu tampak sedang terapung-apaung di tengah danau tersebut. Lukisan itu meskipun sudah lusuh dimakan usia... Tabung yang berukuran seperti suling itu memang bukan suling. bukan seruling tapi hanya tabung saja”. Di bawah cahaya lampion yang remang-remang ia dapat melihat memang itu lukisan adanya.

opas-opas Kong taukue. Mereka rata-rata berpakaian gelap dan ringkas. namun pola pikir jaman itu sangat dalam sekali oleh pengaruh mistik dan budaya. namun A Cin masih menolaknya. Prajurit penjaga gedung yang bertugas jaga hanya dapat bersungut-sungut ketika mereka berkilah bahwa pohon itu sudah terlanjur roboh akibat disambar petir. ia justru harus membayar mahal. A Cin segera menjual lukisan itu ke Hung tauke. Rupanya mereka sedang tawar menawar harga kayu yang roboh itu. Maka dengan enteng keenam penebang itu melanjutkan pekerjaannya. kabar penemuan lukisan ini sudah tersiar luas ke seluruh penjuru kota. untuk melihat seperti apa adanya lukisan aneh itu. Meski . kadang satu dua terlihat membawa senjata seperti golok atau pedang. Semua melihat lukisan itu seperti kucing kelaparan melihat mangsa. Si juragan kayu ini memang pandai sekali merayu komandan tamtama agar diperkenankan mengambil kayu dari pohon-pohon yang roboh. Maklumlah meskipun mereka tinggal di kota.“Cin ko. *** Esok harinya. di depan gedung itu juragan Kong tampak sedang berbincang serius dengan komandan prajurit penjaga gedung. orang-orang yang perpenampilan asing dengan berbagai logat. Tak tahan mendapat teror terus menerus. Padahal prajurit itu tahu belaka bahwa dari bekasnya pohon itu roboh ditebang. Bagi orang seperti Hung tauke yang bergelimang harta. “Tidak! Ini adalah rejeki kita! Kita hanya bertugas menebang kayu dan besok kita lanjutkan lagi memotong-motong kayu ini. Mulailah orang-orang ramai berdatangan ke rumah A Cin. sambil memasukkan kembali lukisan ke tabung perak dan mengantonginya dengan cepat. kota Heng Yang ramai dikunjungi orangorang luar daerah. Ia juga tidak pelit memberi persen bagi para prajurit jaga. Setelah ada tawaran yang besar. A Cin memutuskan untuk menjual rumah dan pindah ke kota lain. Beberapa orang bahkan menawarnya itu dengan harga yang cukup tinggi. Namun bagi prajurit jaga yang biasa ternaungi oleh pohon itu sudah kebayang hari-hari kedepan di musim panas adalah hari jaga yang bakalan berat. Namun bagi A Cin. Tak berselang hari. Juragan Kong minta harga yang rendah. tiga tail emas tidak seberapa dibandingkan dengan hoki yang dipercaya datang dari lukisan itu. apa yang harus kita lakukan? apa perlu kita sampaikan lukisan ini ke Kong tauke?” salah seorang dari mereka bertanya. Ayo kembali lagi bekerja!” tegas A Cin. beberapa kali menterornya. sedang komandan prajurit yang tahu kelicikan juragan Kong minta harga tinggi. juragannya. Ia menerima tiga tail emas untuk lukisan itu. Toh sebentar lagi mereka akan tersenyum kalau sudah kecipratan ang-pao dari Kong tauke. *** Seminggu setelah kejadian itu. akhirnya disepakati harga tengahtengah dengan catatan ang-pao prajurit ditanggung si juragan. tak peduli dengan cara bagaimana pohon itu roboh.

Melihat kelihaiannya. *** Dua hari setelah kejadian itu. Rambutnya awutawutan. keadaan di sekeliling rumah tampak amat menyeramkan karena ada bayangan-bayangan yang berkelebatan. di lembah antara Pegunungan Lian-san. Berbeda dengan Heng Yang. . tempat seperti itu paling cocok menjadi tempat tinggal setan iblis dan siluman. jelaslah mereka bukan tergolong pencuri kampung. pakaiannya tak karu-karuan. Hujan yang masih cukup deras mengaburkan pemandangan ini. orang-orang berwajah luar daerah yang datang ke kota Heng Yang. Opas-opas Hung tauke yang hanya jagoan kandang pagi-pagi sudah terkapar di halaman rumah. perutnya dan bawahnya berlumuran darah. bayangan-bayangan itu sama sekali bukanlah setan melainkan manusia-manusia. Pada malam harinya. Serombongan pencuri bertopeng seram menyatroni rumahnya. di sebelah selatan kota Siauw-koan. bersikap kasar dan berwajah liar. Berbeda dengan penduduk. Rumah itu bukan lain milik Hung tauke. pagi harinya. sungguhpun manusia-manusia yang menyeramkan karena mereka yang berjumlah lima orang itu bertubuh tinggi besar.dari berbagai wilayah namun kedatangan yang berbarengan menunjukkan ada persamaan tujuan. kuil ini kosong dan bagi yang percaya. beberapa saat setelah kelebatan manusia-manusia itu dari kejauhan orang akan mendengar teriakan-teriakan disertai suara beradunya senjata tajam. Biasanya. Mereka melompati gedung tinggi itu dengan menggunakan tangga tali. menggasak harta benda. Tak lain adalah lukisan misterius. Sekilas saja orang sudah menebak apa yang terjadi. setelah fajar menyingsing diketemukan pedagang tergeletak di tepi sungai Cho. Di suatu gedung megah di pinggir jalan utama kota Heng Yang. Akan tetapi kalau diperhatikan. Pelaku pencurian dan pengejarnya rupanya memang telah mempersiapkan diri dengan baik. Mereka telah menyiapkan kuda untuk meloloskan diri. Suatu tempat yang sunyi dan kuno sehingga kuil yang amat kuno dan sudah bobrok itu cocok sekali dengan keadaan alam yang sunyi dan liar di sekelilingnya. cucunya yang diculik itu. sekujur tubuh penuh lebam bekas pukulan. kota kecil di sebelah selatan Heng Yang. Siapakah pelaku perampokan di rumah Hung tauke? Tak ada seorang pendudukpun tahu. Yang paling mengenaskan nasib Hung Chi Yi. sehingga masih banyak pepohonan yang rimbun menghijau. Namun. dan jeritan histeris perempuan. begitu cepat gerakan bayangan-bayangan itu sehingga agaknya iblisiblis sendiri yang sedang sibuk mencari korban. di sebuah kuil tua yang berdiri di tepi Sungai Pei-ho. kota Siauw-koan ini tidak mendapat serangan badai musim dingin. memaksa juragan Hung menyerahkan lukisan misterius. Tak ketinggalan cucu Hung tauke yang baru berusia dua belas tahunpun tak lepas dari sasaran penculikan. pagi-pagi setelah kejadian langsung bergerak mengejar pelaku. Akan tetapi. pada malam hari itu. ketika hujan kembali tercurah dari angkasa. Rumah yang biasanya banyak dihiasi lampu-lampion yang besar dan indah.

!” hampir semua anak buah Siong Chen berseru terheran-heran. hampir setombak lebarnya. Siong Chen berseru mencegahnya. Uap racun itu masih berbahaya pada jarak satu tombak di atas tanah. Dengan golok dan pedang dengan cepat mereka menebangi pohon. sehingga cuaca masih gelap karena awan mendung belum luruh semuanya menyirami bumi. Siong Chen selalu memperdalam ilmu pedangnya. Dan betapa merindingnya mereka melihat tebaran tepung kasar seperti garam di sekitar kuil yang cukup lebar.. Mereka adalah lima orang tokoh dari Yu Liang Pay. “Chen-te. “Tidak salah lagi!” jawab Siong Chen yang kini usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun itu sambil memandang ke arah kuil tua. “Tunggu! Kalau memang ingin menyerbu sebaiknya kita cari dahandahan pohon kita buat batu loncatan atau jembatan. Mereka benar-benar merasa kagum atas pengetahuan Siong Chen. Rombongan ini dipimpin oleh orang paling muda yang berpakaian perlente. Sejak tadi lima orang ini berkelebatan di sekitar kuil tua... yang mempunyai tahi lalat besar di dagunya. mengapa kelihatan sunyi dan kosong?! Apakah sepagi ini mereka sudah meninggalkan kuil? Namun kita tidak menemukan jejaknya” “Lebih baik kita serbu saja ke dalam!!” kata Si Tahi Lalat sambil mencabut goloknya. Namun ketika hendak mencoba mendekat. Meskipun kita bisa melompatinya tanpa jembatan atau tangga yang tinggi kita pasti kena racun itu. “Tahaann!” Sebelum Siong Chen menjelaskan.” “Ahhh. Rombongan yang pertama datang adalah lima orang yang rata-rata berusia di atas tiga puluh lima tahunan. Kuil ini mulai didatangi beberapa rombongan. maka bisa dibayangkan tingkat kelihaiannya dibandingkan dengan yang dulu. orang yang diseru bertanya. Kepandaian mereka amat tinggi karena mereka ini adalah murid-murid tingkat satu. apakah benar kata desas-desus bahwa lukisan itu berisi peta rahasia penyimpanan harta karun Lau Cin Shan. Akan tetapi sungguh heran. Apalagi sejak peristiwa kegemparan di Yu Liang Pay. bertanya kepada Siong Chen. Gerakan mereka tidak seperti orang biasa. Apakah orang itu . Kalain tidak tahu kehebatan racun putih tepung setan itu. Memang sesungguhnyalah bahwa lima orang tinggi besar ini bukan orang-orang sembarangan. karena selain cepat juga membayangkan kekuatan yang jauh lebih daripada manusia-manusia biasa. “Lihat di sekeliling kuil bertebaran bubuk racun warna putih. seperti hendak menyelidiki keadaan kuil yang sunyi dan kelihatan kosong itu. tidak kelirukah kita? Apakah benar kuil ini yang dijadikan tempat sembunyi pencuri dari Nan-hay itu?! Tiba-tiba seorang di antara mereka. yang dipimpin oleh Siong Chen. Pedang dan golok yang terselip di pinggang lima orang tinggi gagah itu menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah biasa mengandalkan ilmu silat dan senjata mereka. meski matahari belum terbit. “Chente.Namun di pagi buta itu.

Bukan hanya kepandaiannya melukis yang mebuat namanya demikian menjulang. terakota. Siapakah sebenarnya Lau Cin San? Kota Heng Yang yang terletak ribuan li di sebelah timur Fan Cing san. Setelah dinasti Tang jatuh.memang benar-benar ada?” salah seorang yang berhidung mancung bertanya. meskipun tidak sampai selesai namun tempat kematiannya berada di bukit di seberang patung itu. Lau Cin Shan bukan hanya tokoh dongeng. Maka satu per satu karena pupusnya harapan. Patung ini dibangun selama sembilan puluh tahun pada jaman dinasti Tang. merupakan kota yang sangat terkenal sebagai pusat kebudayaan dan kesenian. diproduksi oleh berbagai pengrajin. sehingga seakan-akan rohnya tetap memantau pembangunan” papar Siong Chen. patung-patung kayu dan batu. sastrawan dan penasihat gubernur maupun raja. banyak yang meninggalkan Lau Cin Shan. Lukisan itu berisi petunjuk warisan Lau Cin San. Pertunjukan seni dan taripun mudah di jumpai di berbagai gedung teater. ilmu perang. hingga akhirnya di usia yang lima puluhan hanya tiga orang yang masih setia mendampingi sang maestro. Tak terhitung berapa puluh wanita yang pernah menjadi isterinya yang tersebar di berbagai kota sepanjang propinsi Hu-Nan sampai Secuan. Di kota Heng Yang. dan langsung berbatasan dengan wilayah yang dikuasai kerajaan Tayli. pada tahun 713 – 803. dengan minat menonton masyarakat yang sangat tinggi. “Menurut toa-pangcu begitu. Bahkan ia dipercaya sebagai arsitek terakhir pembangunan patung budha terbesar di Secuan. Pria yang merupakan seorang sastrawan sekaligus pelukis sekaligus pesilat yang sangat terkenal seantero Tionggoan. sastra. nama Lau Cin Shan sang maestro bahkan jauh lebih terkenal dibandingkan dengan nama gubernur atau kaisar sekalipun. namun juga kepandaian silat. dan menjadi . ia memang benar-benar pernah ada. hingga yang maestro harus pergi berjuang sebagai penasihat perang ke wilayah Secuan dan tak pernah kembali lagi selamanya. Berbagai hasil barangbarang seni tingkat tinggi seperti keramik. lampion. namun begitu Lau Cin Shan tetap mampu melakukan tugas-tugas sebagai pelukis. sering bergolak. di masa keemasan dinasti Tang. ilmu perbintangan bahkan ilmu nujum. Tak heran kalau dari tempat seperti ini ratusan tahun silam pernah lahir seorang maestro besar. dan yang lebih membuat ibu-ibu atau anak gadis kepincut adalah ketampanan rupa dan keromantisannya. Ia seorang pelukis dan pesilat besar jaman Tang. Patung budha yang dimaksud adalah patung budha berukuran tinggi sepuluh tombak berada di selatan menghadap sungai Toa-tu dan sungai Beng. propinsi Hu-Nan merupakan propinsi paling selatan dari dinasti Sung. Satu hal yang membuat kekecewaan dan kegusaran istri-istri Lau Cin Shan adalah karena tak seorangpun dari mereka yang dapat mengandung. Dahulu. Hanya yang masih belum jelas apa warisan yang disimpan dalam tempat di peta itu. Sebagai propinsi di daerah perbatasan maka HuNan menjadi daerah yang kurang aman.

Rupanya orang-orang bambu putih melontarkan bambu putihnya. “Biarlah nanti toa-pangcu yang memutuskan!” jawab Siong Chen.. .. jumlahnya ada belasan.wuss.. membentuk posisi mengelilingi kuil.ha. mulailah mereka menancapkan tonggak-tonggak dahan sebesar betis orang dewasa berjajar. Sekonyongkonyong terdengan suara ribut berdengung-dengung dari kejauhan.lihat suko. mereka bisa bergerak tanpa menjejakkan kaki di tanah.ha. “Bukankah pembuatnya bernama Cong taisu?” timpal lelaki bermata lebar.. “Pasang formasi perisai bambu!” “Wuusss... “Apakah lukisan yang dicuri orang-orang Nan-hay peta asli?” kembali si hidung mancung bertanya. Mendengar ejekan dari Siong Chen..clap..sarang berbagai kelompok yang anti pemerintah pimpinan Tio Kuang Yi. tapi nyalinya tak ada. Ternyata pimpinan rombongan klan bambu putih berpandangan tajam juga... ada laki-laki ada perempuan semuanya berpakaian putih dan memakai caping dari bambu yang dicat putih.... hanya menduga bahwa mereka adalah rombongan musuh... “Ha.. dan langsung memberi komando kepada anak buahnya... Namun pemimpin rombongan yang memakai rompi cokelat berpikir cerdik. ia tidak mau melayani olok-olok pihak Yu-liang pay. mata mereka sudah melotot..... Dari kejauhan terlihat daun-daun dan ranting pepohonan bergoyang-goyang. monyet-monyet kudisan macam mereka berani bersaing dengan kita! Sungguh menjemukan!! Bambunya saja yang mengerikan.. Siong Chen yang mengenali rombongan mereka sebagai kelompok bambu putih segera berseru. Berbeda dengan kakak-kakak seperguruannya.wusss..clap. begitu melihat rombongan pertama hendak memasang tonggak-tonggak.. Setelah dekat mereka kemudian bertengger di pohon-pohon yang masih tersisa.. Hal itu sudah membuat hati mereka bergetar.. termasuk bambu putih. Golongan yang kedua datang ini terdiri dari orang-orang berumur campuran ada yang masih muda ada yang sudah tua. Mereka harus menancapkan tonggal-tonggak itu di dekat kuil.clap. nama aliasnya!” jelas Siong Chen. Setelah lebih dari sepuluh batang ditebang. Aneh.ha.. Mereka tidak tahu apa yang bergerak itu..” nampak sinar putih meluncur secepat kilat dari atas pohon. Seketika mereka membalikkan badan... Namun ketiga mereka masih sibuk meruncingi ujung dahan yang hendak ditancapkan dengan cara dilepar dari atas tonggal luar. ia tahu lawan hendak menyeberangi pembatas taburan racun dengan tonggok-tonggak itu. “Cong taisu adalah Lau Cin Shan itu sendiri... coba aja kalau berani menginjak tanah! Mana ada hak mereka mengaku-aku ahli waris Lau Cin Shan!” Teriakan ini segera ditimpali tertawa pihak Yu-liang pay..

Siong Chenpun menjadi malu... Dengan tertancapnya puluhan bambu di sekitar kuil. bahkan beberapa menutup hidung sambil mengipas-ngipaskan tangannya. “Kalian siapakah dan mau apa bergerombol di depan kuil kami? Kami tidak punya uang receh untuk gelandangan-gelandangan seperti kalian. Tapi bagi yang mengenal tahu belaka bahwa bubuk putih yang dilaburkan ke bambu bukan cat melainkan racun. Dari hitung-hitungan kalau mereka mengepung mereka pasti kemenangan berada di pihaknya.. Namun jika orang-orang Nan-hay . Namun. namun kelihaiannya tak kalah mengerikan.. Semua mata melotot dengan waspada. rombongan yang terdiri dari tiga orang. Pihak Yu-liang Pay dibuat terkejut terkejut. Tiba-tiba suasana sunyi itu dipecahkan oleh bunyi kentut dari orang bertahi lalat besar.. demi mengetahui yang datang dari Yu-liang pay dan bambu putih.“Awaass. Kalaupun salah satu mereka mendapatkannya. dan itu berarti cukup waktu untuk memperebutkannya.. yang berbaju seperti nelayan.. Gantian pimpinan bambu putih berseru. Senjatasenjata sudah ditangan. Dengan saudara sendiri saja tega memangsanya apalagi orang lain!” Teriakan ini segera ditimpali tertawa pihak bambu putih... perjalanan pulang memerlukan waktu cukup lama... Sungguh bunyi yang sangat tak sopan.” jawab Siong Chen sambil tersenyum mengejek. Mereka adalah rombongan Nan-hai yang sedang mencari kuda pengganti. Suasana menjadi penuh ketegangan.srett. Bambu-bambu itu berwarna putih seperti dicat. Tiba-tiba. betapa lucunya. Meskipun bahannya berbeda dengan racun yang ditaburkan pihak Nan-hay.. pimpinan rombongan ini masih mencoba bersikap tenang.” orang-orang dari Yu-liang pay sudah mencabut senjata masing-masing.. Kontan aja mereka jadi kebakaran jenggot.. Hmmm. Awalnya mereka menyangka musuh hendak menyerang tapi ternyata mereka lontarkan bambubambu ke sekeliling kuil.. “Enam orang!” bisik masing-masing yang berilmu tinggi. maka gerakan Yuliang untuk melompati sungai racun jadi terhambat...! Siong Chen berteriak memperingatkan kawan-kawannya.hendak kulihat apakah hari ini kalian bisa lolos dari kepungan dengan membawa peta itu. Mereka yang sudah tegang menjadi lebih terhanyut suasana yang makin menegangkan lagi. Tak berselang lama muncullah rombongan ketiga. Namun sebelum ada salah seorang yang mau mengumpat sekonyong-konyong terdengar suara derap kuda. Betapa kagetnya ketika melihat banyak orang sudah mengelilingi kuil. kalau dilihat dari jumlah kuda yang datang mestinya yang didalam berjumlah tiga.. dari kejauhan.he. Siong Chen yang cerdik tahu.sreett.orang-orang Nan-hay dari dulu tidak pernah memandang sebelah mata pada orang lain. Muka tiga orang ini berubah pucat..he.. “Sret.. kuperingatkan kalian agar hait-hati berhadapan dengan mereka. Ayo pergi!” “He. “Kawankawan lihat sekawanan tikus kanibal kehilangan liang. Sedangkan lima orang dari pihak bambu putih mulai turun. Urusan dengan bambu putih bisa diselesaikan belakangan. Semua menahan nafas. bahwa kawan-kawan rombongan yang baru datang ini masih ada di dalam kuil. Puluhan bambu yang kedua ujungnya runcing menancap mengelilingi bangunan kuil seperti pagar.

tapi belum tentu kalian mampu mengalahkan kami.waktu sesingkat itupun cukup bagi bala bantuan kami datang dari Nan-hay. Dan ia tahu posisinya lebih di atas angin daripada kedua rombongan yang dihadapi. kamu tidak boleh sok jago... “Tunggu! Biarlah kami yang mengajukan usul!” “Apa usulmu?” sergah Coan Kok.. namun mereka paham medan. “Ha-ha-ha. tidak salah kabar orang! Kabarnya Yu-liang pay amat sombong. Pihakku paling banyak jumlahnya dan paling berhak atas peta itu!” ujar pimpinan rombongan bambu putih yang bernama Tik Coan Kok. Sehingga suasana mirip pasar. Can Seng memandang dengan tersenyum. mereka masih mampu keluar membantu kami. Aku ingin tahu apa yang akan kalian lakukan. lagi pula hanya beberapa li dari sini sudah masuk wilayah kekuasaan kami. Mana bisa seenak perutmu sendiri kau meminta peta itu diserahkan padamu... Apa hendak menjadi anjing memperebutkan tulang!” Siong Chen maupun Coan Kok tersadar. apakah kalian tak bisa lihat. kuil itu sudah dikepung bambu putih!” seru salah seorang anggota bambu putih. Ucapan ini segera ditimpali oleh anak buah rombongan bambu putih.” laki-laki berkulit hitam pemimpin rombongan Nan-hay balik mengejek.” “Mana mungkin.ha. Ketika kedua belah pihak sudah hendak saling serang. Karena itu maka Siong Chen berkata.” seru Siong Chen. dan ternyata ucapan mereka besar-besar. Can Seng yang tahu gelagat menjulurkan tangan ke depan dengan telapak terbuka.dibiarkan maka dalam waktu sehari perjalanan kuda mereka akan sampai ke daerah kekuasaannya di laut selatan. “Apa susahnya kami keluar lewat genting?” jawab ketua rombongan Nan-hay. “Kami tunggu disinipun kawan kalian yang di dalam akan dapat pasokan makanan dari mana?” jawab Siong Chen cerdas. “Ha. namun semuanya geleng-geleng kepala.” “Hei. “Kalian bisa mengepung kami. ayo serahkan saja peta itu pada kami! Saat ini. Siong Chen mengikuti perdebatan itu dengan bersungut-sungut.hei. Peta belum di tangan sudah hendak adu nyawa. terdengar teriakan seorang wanita dari pihak bambu putih: “ Sudah cukup! Cih kaum lelaki tak tahu malu. Sebagai orang yang paling tua diantara mereka pengalamannya lebih banyak.Siong Chen. “Can Seng! Dengan jumlah anak buah paling sedikit bagaimana kamu masih bisa berlagak. Pimpinan rombongan diam sejenak.. Tiga orang yang baru datang ini tampak tereheran namun tidak terkejut. Tak mau kalah gertak. Posisi mereka masih belum jelas. kami masih mempunyai kawan di dalam. kalian anggap kami ini sebagai apa.. dan tanpa dikomando keduanya memandang Can Seng dengan mata melotot. jadi posisi kalian sebenarnya sudah diujung jurang. “Kita bereskan dulu ikanikan kerapu amis ini! Baru nanti kalau peta sudah ada kita selesaikan sengketa kita.ha. Meskipun jumlah orang-orang Nan-hay yang di luar hanya tiga. ia memandangi dua orang kawannya. kalian mau apa?” “Kepung mereka!” ujar pimpinan rombongan dari bambu putih. Katanya. sedang ketua rombongan sudah mampu menenangkan diri. Setelah beberapa . sehingga bisa menguasai pertandingan. rombongan Yu-liang Pay juga membalas adu mulut dengan tak kalah berbusanya. tidak salah.

jago kalian berdua harus untuk menentukan pemenang untuk menghadapi aku. sudah lama aku dengar kelihaian pedangmu!” kata lawan Siong Chen yang bernama Ma Ciu. kalian masing-masing satu jago.” “Gan Hung. kami masingmasing juga dua.. majulah!” seru lelaki itu. si pimpinan rombongan itu berkata. itu tak adil. nah sekarang kau boleh pilih: menyerahkan peta kemudian bunuh diri atau menyerah kupenggal!” Sungguh hebat sekali hinaan yang dilontarkan Siong Chen. Jika kedua jago kami kalah. emangnya kami orang-orang bodoh. karena kedua pasangan yang cukup seimbang ilmunya..apakah kalian hendak mengeroyokku? Silahkan-silahkan. Mereka berdua kemudian melakukan siulian untuk memulihkan luka. mari hadapi aku. Untung luka mereka tidak terlalu parah. “Siong Chen. tanda kemarahannya sudah melonjak.ha. “Hmmm. Rupanya mereka telah saling kenal satu dengan yang lain. dulu guru besar kalian memang pernah menakhlukkan ilmu pedang kami.” “Hmmm. maka kalian harus enyah dari sini!” “Mana bisa seperti itu. Namun dengan sigap ia segera memberi pertolongan dan mendekatkan mereka dengan kuda yang ditambat dibelakang. Tak seorangpun dari pihak lawan yang mengganggunya.baiklah. enak di kalian.saat dilanda kebingunan. salah satunya adalah pimpinan. kau bukan lagi lawanku. wajah pimpinan Nan-hay terlihat gelisah. Can Seng meskipun bertampang kasar namun cukup cerdik.. Kalau jago kalian kalah dalam satu babak. kami mengajukan dua jago. mereka berdua sejenak hanya saling tatap. tampak pihak Nanhay mulai terdesak dan hampir berbarengan keduanya roboh tersungkur. tapi setelah ilmu pedang itu kami sempurnakan. Demikian pula dari Yu-liang-pay yang muncul juga dua. sungguh itu sama dengan bo-ceng-li. Akhirnya Ma Ciu berhadapan dengan Gan Hung. Tantangannya membuat kedua lawannya tidak segera menyerang. siapakah masing-masing wakil kalian?” Dua orang dari bambu putih maju.. Kalau aku sudah terkalahkan. Kalian dua. Setelah saling berhadap-hadapan maka dimulailah pertandingan. “Ma Ciu. salah satunya Siong Chen. Pertarungan itu cukup seru. aku akan berikan obat pemunah racun tepung setan. tak enak di kami. tapi kalian minta sekali kalah kami haruh enyah. Mata lelaki tinggi besar bermuka brewok yang dipanggil Can Seng itu sudah menyala. itu baru adil. sedang saudaranya yang bernama Ma Kun bertanding dengan orang kedua dari bambu putih. Dua orang dari Nan-hay pun maju kedepan. Melihat kedua jagoannya roboh.. Dalam kondisi terdesak seperti itu ia masih mampu berpikir jernih. Sebagai pimpinan rombongan tentu saja .ha Can Seng! Jagoanmu ternyata tak lebih tukang pukul kampung nelayan. “Begini saja. Serangan pedang dan golok bergantian meluncur dari kedua belah pihak. kalian mengajukan dua jago. Siong Chen mulai tak sabar melihat musuh yang bekerja klemar-klemer segera berseru “Ha. Gerakan-gerakan mereka cukup tangkas dan kuat. Namun setelah bertanding empat puluh jurus. Kalau salah satu jagon kami kalah. kami harus dua kali mengalahkan kalian. maka pihak pemenang bertarung untuk menyelesaikan pertandingan. hadapi orang she Ma ini!” perintah Siong Chen.

Ilmunya sudah tidak kalah dengan paman-paman gurunya. Maka sambil melontarkan ejekan ia maju ke depan dan berkata: “Ha. Ketika saat-saat kekalahan Can Seng sudah didepan mata sekonyong-konyong terdengar suara ledakan keras di angkasa.. karena dengan secepat kilat mereka memanfaatkan keterkejutan lawan untuk angkat kaki secepatnya.kalau bambu putih tak berani melawanmu hayoh kau lawanlah aku Can Seng!” “Baguslah kalau memang kamu maju sendiri. karena mereka tahu siapa yang maju duluan tenaganya akan terkuras. Siong Chen menghadapi pukulan itu dengan pukulan yang tak kalah hebatnya. Can Seng hampir mewarisi seluruh ilmu gurunya. sedang dia lebih hebat ilmu tangan kosongnya karena kelompok Nan-hay sangat terkenal dengan jurus-jurus tangan beracunnya. Tapi Can Seng keliru menilai Siong Chen. karena rombongannya hanya sedikit. ledakan seperti kembang api berwarna merah itu seakan genderang bagi Can Seng dan kawan-kawannya. Berbeda dengan pertandingan sebelumnya.ha. Siong Chen sudah mendapat kemajuan yang hebat.. hingga seluruh kulit seperti terkena bulu-bulu ulat. “Hentikan mereka! Formasi biting salju!” Anak buah bambu putih yang sebagian masih bergelantungan segera mengejar lawan.ha. Karena pimpinan bambu putih hanya menatap saja. posisi tawarnya lemah. tangannya seakan-akan diselimuti halimun merah yang mampu meredam serangan racun dari pukulan-pukulan Can Seng. Berbagai pukulan yang dilontarkan Can Seng sangat kuat. dedengkot setan tangan beracun dari Nan-hay. Setelah tiga puluh jurus berlalu. Sebagai murid ketiga Tok Ciang Sin Kwi. Ini membuat posisi Siong Chen di bawah angin. namun yang dihadapi adalah pendekar Yu-liang Pay yang sudah matang. Kini pertarungan kedua belah pihak jauh lebih seru. Dengan menggunakan ilmu Fan cing san ang in ciang hoat. Maka mulailah keduanya memasang kuda-kuda dan mulai saling serang. Seujung kukupun jika terkena akan mengalami gatal yang hebat dan bisa segera menjalar ke seluruh tubuh. tangannya yang berubah keputihan penuh dengan hawa racun. namun untuk menentukan siapa yang harus menghadapi lawan merekapun tidak ada yang mau berinisiatif. tampak posisi Can Seng mulai terdesak. sehingga kehebatannya tidak usah diragukan. Jika sehari saja tidak dapat pertolongan maka yang kulit yang bersangkutan akan terkelupas semua bahkan daging di bawah kulit akan segera membusuk.. Sungguh cerdik sekali tantangan Can Seng ini. kalau dia takut. Sambil melompati pepohonan mereka melontarkan . Ia tahu pihak Yu-liang Pay sangat hebat ilmu pedangnya. Sejak kejadian di Yu-liang Pay. Meskipun ia menang pengalaman dan banyak memiliki gerak tipu. “Ayo majulah!” seru Can Seng. Maka mulailah satu dua pukulan Siong Chen mengenai tubuhnya. hayo lawanlah aku dengan tangan kosong kalau kau berani!” jawab Can Seng sambil tersenyum mengejek. Bagaimana dua lawan mereka yang tadi masih bersiulian tiba-tiba saja sudah meloncat ke atas kuda dan segera membedal kuda mereka. bukan anak hijau lagi.malu untuk mengeroyok. Kedua rombongan lawan menjadi kebingungan. Sungguh racun yang sangat jahat.. mau tak mau Siong Chen merasa pihaknya yang harus maju. Di tengah situasi yang membingungkan Coan Kok berteriak.

Siong Chen melarang anak buahnya mengejar Can Seng.” pikir Gan Hung. Hebat sekali akibatnya. “Kalian telah berbuat keonaran di Heng Yang. sedang rombongan yang tak berkuda juga dikejar yang tak berkuda. jika terbukti tak bersalah kalian akan dibebaskan!” . tapi keringat sebesar biji jagung sudah deras keluar dari dahinya. Begitu kuda tertangkap segeralah mereka membedal kuda. akibatnya justru mereka berbalik arah ke Heng Yang. Begitu terjungkal ia langsung diserbu oleh rombongan yang mengejar mereka. Ia berlaku cerdik. Begitu mereka hendak berbalik. “Gan Hung periksa bekas galian itu kami akan terus mengejar!” Gan Hung yang memeriksa gundukan tanah itu terperanjat. "Tihu-tayjin tiba. yang lain ikuti jejak kami!” Melihat gelagat keanehan. Baru saja dua puluh tombak mereka berlari. karena biting yang kelihatan terbuat dari bambu itu ujungnya terbuat dari besi yang direndam larutan racun yang sangat hebat. diperintahkannya rombongan dari Yu-liang Pay mengejar arah kembang api. Maka dari barisan prajurit keluarlah seorang lelaki dengan pakaian kebesaran. karena dalam jarak yang sudah cukup jauh masih ada satu biting yang mengenai punggung lawan. Coan Kok sendiri bersama dua orang anak buahnya termasuk seorang wanita mengejar tiga ekor kuda yang berlarian tak karuan ditinggal oleh si empunya. Celaka bagi rombongan Nan-hay yang tak berkuda. sambil berseru pada anak buahnya. Lewat sepeminuman teh kedua rombongan ini sampai di sebuah padang rumput yang sudah terkepung prajurit. Gundukan tanah itu ternyata berasal dari sebuah lorong bawah tanah yang berasal dari kuil. “Tahan dulu. siapapun dilarang bergerak!” seorang komandan prajurit berteriak. Lelaki itu bukan lain adalah gubernur Heng Yang itu sendiri. Laki-laki pemimpin rombongan Nan-hay mencoba bersikap tenang. tiba-tiba saja barisan prajurit yang lain juga sudah mengepung di belakang mereka. Sementara Siong Chen yang melihat gelagat tidak baik segera berkata. tayjin ijinkan hamba menyampaikan pendapat terlebih dahulu!” “Siapakah kamu anak muda? Bajumu berbeda dengan mereka. karena tergesa-gesa tak mereka tak memikirkan arah. apakah rombonganmu bukan bagian dari mereka? Jangan kawatir. Rombongan berkuda dikejar oleh tiga orang dari bambu putih yang juga berkuda. Untuk itu serahkan kembali lukisan itu kepada kami dan menyerahlah!” ucap gubernur tegas.biting-biting berwarna putih. “Celaka orang-orang Nan-hay ternyata menggunakan kesempatan membuat lorong bawah tanah dan keluar dari lorong itu. Kedua rombongan ini terpisah. dari pinggir lereng mereka melihat gundukan tanah bekas galian. Kejar mengejar tak terhindarkan lagi. rombongan dari Nan-hay. Celaka sekali Ma Kiu yang terkena biting itu. disampingnya berdiri Hung tauke dengan muka memerah penuh kesumat. “Gu Tian pimpin lima orang tetap jaga di sini.

marilah kita tengok keadaan tempat lain di perbukitan yang berada di tepi barat sungai Wu. untuk apa gubernur punya tentara kalau tak sanggup melindungi rakyatnya!” Melihat suatu gelagat tak baik. suatu tempat yang sangat sunyi di perbukitan yang agak berkabut ada peristiwa yang menarik untuk diikuti. tapi ini adalah urusan kaum persilatan. Secepat kilat mereka menerobos lowongan. Sebagian berusaha menangkap peta yang terlontar cukup jauh ke belakang.. Sedikit lowongan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh orang-orang Nanhay. “Nih kuserahkan lukisan yang tak ada harganya!” Mendapatkan lontaran seperti itu para prajurit jadi gelagapan. Hung tauke hanya bisa berteriak-teriak supaya prajurit ada yang mengejar rombongan Nan-hay. Tiong Gi mendapatkan lukisan kedua Kita tinggalkan dulu kota Heng Yang yang perlahan-lahan kembali pulih dari badai. Orang-oang Nan-hay berusaha melarikan diri. dua bulan sejak peristiwa di Heng Yang. di pinggiran suatu hutan yang sangat lebat.. Akhirnya lukisan itu jatuh ke tangan gubernur Heng Yang. mengapa harus menghadapi prajurit? Urusan kaum kang ouw biarlah diselesaikan dengan cari kami.“Hmm.urusan kang ouw? Sejak kapan kalian menganggap Hung tauke sebagai pesilat?” jawab gubernur sinis.” “Hmmm. dari tadi orang-orang Nan-hay saling berdekatan dan berbisik-bisik tanpa menolehkan mukanya. Suasana pagi yang dingin seperti ini biasanya orang lebih suka .. Sementara banyak prajurit yang berebut tabung berisi lukisan dengan rombongan dari Yu-liang Pay.bukan begitu gubernur. “Tapi bukankah lukisan ini miliki Lau Cin Shan? Sedangkan dia adalah guru besar kaum persilatan. tiga prajurit telah terjungkal bermandikan darah. Lama sekali gubernur Heng Yang mempelajari gambar di lukisan itu namun tak ada petunjuk yang bisa menjelaskan letak penininggalan Lau Cin Shan. Sekejab mata kemudian pimpinan rombongan Nan-hay melempar tabung perak ke arah prajurit bagian belakang. kami tidak melakukan tindakan makar. Bab 5. sambil berteriak menggunakan kiekhangnya. Suasana kemudian menjadi kacau. Di akhir dingin yang sangat berat di Tiongoan ini. Sekuat apapun Siong Chen berusaha merebut tabung perak. Adapun rombongan Siong Chen juga ikut mengejar ke arah lontaran tabung perak. Namun serangan dari prajurit berturut-turut tak mampu dilawan. Angin berhembus cukup kencang menggoyang rumpun bambu di tepian sungai.. Akhirnya setelah dua anggotanya roboh bermandikan darah iapun melompat melarikan diri beserta satu saudaranya yang masih hidup.” “Kalau kaum kang ouw dibiarkan seenaknya bertindak pada orang awam maka rusaklah tatanan masyarakat.

hup.sebenarnya untuk apa kita bercapai-capai berlatih silat ini. maka bisa menebak wanita itu adalah murid yang bersekongkol dengan Siong Chen. Aku selalu kesulitan mengatur nafasku!” jawab bocah itu penasaran. Sudah lebih dari seperempat hari mereka bertarung belum terlihat tanda-tanda pihak yang kalah atau yang menang.aku ingin pulang aja. kau harus belajar giat kalau ingin menjadi orang yang berguna. engkau belum pernah mengajarkan jurus ini. seranganmu sungguh sulit kutangkis. antarkan aku pulang bibi! Seru si bocah merengek. Sambil beristirahat tangan kanan wanita itu merogoh obat luka dan melemparkannya ke depan si bocah dan berujar... “Bibi Ciu.. sedangkan lawannya adalah wanita setengah baya. Namun wajah wanita paruh baya yang mestinya masih menyimpan daya tarik itu sungguh tambah mengerikan dengan adanya satu garis panjang di pipi kiri sampai ke bibir atas bekas goresan pedang makin menambah kesan angker sehingga tampak seperti layaknya wajah bajak laut... Jangankan manusia.. Lewat beberapa waktu setelah matahari mulai meninggi.. Bagaimana tidak penasaran sudah lima tahun ia diculik oleh wanita yang mengaku sebagai bibinya dan dibawa ke tempat-tempat sepi untuk menerima hajaran yang dikatakan sebagai latihan silat. membunuh Tiong San.. Di depannya seorang wanita setengah baya berbaju hitam. Si anak laki-laki memainkan jurus-jurus serangan dengan sangat agresif dengan pedangnya. Bagi orang yang mengikuti peristiwa kegemparan di Yu-liang.. dan bocah yang dilatihnya adalah yang putera Tiong San yang diculiknya. Di balik rimbun pepohonan.bergerombol mengelilingi tungku api atau meringkuk di atas ranjang... sungguh aneh dari dalam hutan yang lebat itu terdengar suara pedang berdenting nyaring diselingi teriakan seorang bocah dan bentakan wanita. “Anak bodoh! Sudah berapa kali kukatakan petani itu bukan orang tua .. melihatnya dengan pandangan bengis. Namun sayang mata sebelah kanan tertutup kain hitam.. Suara beradunya pedang dan teriakan kedua belah pihak menandai adanya pertarungan di situ. Meski sudah siang.hiaaahhh..” “Bibi.! Bibi.” teriak bocah laki-laki sambil meringis memegangi pahanya yang terluka... Kalau diperhatikan lebih dekat di wajah itu masih tampak bekas garis kecantikan meskipun sudah mulai keriput.. sedangkan hewan saja masih bermalas-malasan untuk mencari makan di pagi sedingin itu. Namun. “Gi-ji. gerakanmu sudah cukup bagus.. sedangkan wanita berusaha menangkis dan balik menyerang saat terlihat ada gerakan yang lowong. karena yang satu adalah seorang anak laki-laki berusia sebelas tahunan.. cahaya matahari buram terhalang tirai kabut yang berarak dihembus angin.aduhhh. tepat di atas tanah lapang seluas satu petak yang hanya ditumbuhi rerumputan pendek tampak dua tubuh manusia berkelebat saling serang.. Pertarungan itu tampaknya seimbang. namun masih lambat.... menimpa wajah wanita yang berumuran empat puluh tahunan.trang. barulah terdengar suara dentingan makin melemah dan diakhiri dengan suara.trang!” “Aahh. Anak itu sebenarnya lebih suka kembali lagi ke kampung halamannya.. “Ciattt.

nafasnya memburu demi mengingat kejadian peristiwa delapan tahun yang lalu. Cu Hong juga ingin dihormati oleh Tiong Gi. kalau kau gak mau menceritakannya. Tapi demi mengingat anak itu masih polos dan sebentar lagi akan menjadi anak dewasa. Namun harapan itu makin lama makin memupus seiring makin besarnya Tiong Gi.kamu. Belakangan ini. kamu harus pandai bermain silat dulu. si bocah. Sudah saatnya Tiong Gi belajar pada guru yang lain. “Anak itu sudah mulai hafal caraku menotoknya atau menyampok tangannya agar pedangnya terlepas. Anak itu kemudian tertatih-tatih lari turun bukit sambil menyeka pipinya. Namun lekuk senyum yang terbentuk dari bibirnya lebih mirip senyuman sinis yang mengejek meski di dasar hati perempuan ini sebenarnya keadaanya telah terkoyak. merupakan waktu yang sangat berat. ujar Cu Hoa sambil meraba pipi kirinya. ngilar Cu Hoa dibuatnya. sudah kukatakan berkali-kali padamu. Karena masih kanak-kanak sifatnya tak mau kalah. aku tidak mau belajar silat lagi. Kalau sudah terdesak Tiong Gi sering tidak mengindahkan teknik jurus yang diajarkan dan menyerang membabi-buta sehingga mengenai tubuh Cu Hong. Matanya memerah. Akulah satu-satunya keluargamu yang masih hidup. batin Cu Hoa sambil terkekeh. Perempuan seperti Cu Hoa yang menghamba pada nafsu. “Bibi. Sudah sebulan Tiong Gi mengalami kemajuan gerakan silat yang pesat. Gi-ji. takkan sanggup untuk bertobat meski wajahnya sudah lebih mirip hantu dibandingkan manusia. Karena itu kamu harus patuh pada bibimu. . baru aku akan ceritakan tentang orang tuamu. Meskipun tidak mengeluarkan suara tapi Cu Hoa yang mengaku ke Tiong Gi bernama Ciu Hong tahu kalau Tiong Gi menangis. Sebagai guru yang membutuhkan penghargaan dari muridnya. Pukulannya ke paha tadi memang cukup keras palagi disertai pengerahan dua pertiga bagian sinkangnya. meskipun kemampuan menghimpun hawa murninya payah. “Wajahnya cukup tampan meski agak berbeda dengan wajah orang kebanyakan dan daya tahan tubuhnya juga sangat kuat”..” bantah Tiong Gi sambil membanting pedangnya. Tiong Gi. Sebelumnya ia selalu menyatakan bahwa ayahnya adalah kakak kandungnya. Masalah yang Cu Hoa Nionio enggan membicarakannya.sebenarnya siapakah ayah ibuku? Wanita itu terdiam sejenak hanya berusaha memaksa menyunggingkan senyuman. Kena segebrakan dengan pendekar kelas tigapun pasti kau sudah terkapar. Sungguh lima tahun bersama Tiong Gi. karena sudah tidak mampu lagi mengalahkannya dengan membuat pedang Tiong Gi atau menotoknya. setiap ada kesempatan. Peristiwa terceburnya mereka ke air terjun dulu sepertinya menyebabkan sumbatan ke beberapa pembuluh darah Tiong Gi. Peristiwa yang menyebabkan dia harus kehilangan mata kanannya itu tak pernah seharipun rehat dari pikirannya. tahu! “Bibi. Akhir-akhir ini tiap kali berlatih selalu ia mengakhirinya dengan melukai badan Tiong Gi. Ilmu silat yang kamu pelajari masih cetek. selalu menanyakan soal yang itu-itu juga. Namun belum pernah ia menceritakan dimana dan siapa orang tua Tiong Gi..

bersama suhu. Dalam bentrokan sebelumnya meski pihak awan hitam kalah dan kehilangan seorang murid namun ketiga musuh yang waktu itu diwakili oleh Sam Pangcu.Tidak berhenti sampai di sini. empat tahun bercokol di sana masih tidak bisa menyerap ilmu pedang yang benar. Dengan tingkat sinkang yang dimiliki cuaca dingin di luar tidak lagi terasa. Dua tahun semenjak melarikan diri dari Fan Cing san. taecu sudah berusaha dan berkorban banyak hal. apa saja yang telah kau lakukan!” Semprot gurunya. dan terlebih lagi Siong Chen yang telah menggombalinya. Masih melekat rasa sakit yang dialaminya waktu itu. Dengan membawa luka hati yang berdarah-darah Cu Hoa minggat dari puncak awan hitam. bahkan harus kehilangan susiok mereka. sedangkan dari Yu-liang Pay diwakili Ji Pangcu. namun tak kukira bahwa ilmu pedang yang diajarkan Siong Ceng hanya sebagiannya ilmu pedang mereka” “Dasar tolol” bentak Hek Shin Loco sambil menendang perut Cu Hoa. Namun sakit di pipi masih belum seberapa di bandingkan sakit hatinya terhadap gurunya. “Suhu ampunkan taecu. namun suara gemerisik daun-daun bambu di kejauhan sungguh seperti irama yang menyayatnyayat hatinya. tanpa memberi aba-aba ketika Cu Hoa kembali bangkit secepat kilat Hek in Loco mencabut pedangnya dan menyayat pipi Cu Hoa. untuk diajak bersama-sama membalaskan dendamnya dan hidup berdua selamanya. Pada pertemuan itu Pihak awan hitam yang diwakili susiok dan dua suheng Cu Hoa. Namun dengan tingkat kepandaian seperti ini bagaimana mungkin mereka akan mampu membalaskan sakit hati itu? Harapan Cu Hoa agar suatu ketika Tiong Gi dapat diambil oleh seorang locianpwe yang maha sakti dan kelak membantunya melunasi hutang-hutang Siong Chen. Ia menyadari bahwa harapan itu sangatlah tipis. Siapakah locianpwe yang ilmunya lebih tinggi dari Yu- . tetap saja pihak awan hitam kalah. Dari gerakangerakan yang diperagakan Cu Hoa. Namun siapa sangka meski sudah mempelajari ilmu pedang Yu-liang Kiamsut. Siong Chen dan Pat Sun. Hek in Loco guru Cu Hoa sampai dibuat gusar. dan menyalahkan kekalahan mereka pada Cu Hoa “Dasar perempuan sundal berotak kerbau. Setelah dua tahun berlatih mereka menantang pihak Yu-liang Pay. “Ini ampunan yang setimpal untuk murid bodoh yang tak berguna!” Hembusan angin yang datang tiba-tiba menyapu mukanya. semakin hari semakin memudar. guru mereka kemudian mencoba mempalajari kelemahan-kelemahan ilmu pedang itu. sekan-akan pisau yang mengoyak pipi Cu Hong. satu-satunya harapannya adalah mendidik Tiong Gi. Cu Hoa mempelajari catatan ilmu pedang Yu-liang Kiamhoat yang dipelajari dari Siong Chen. susiok dan dua orang suhengnya.Perlahan-lahan Cu Hoa memasuki gua dan merebahkan diri di tumpukan jerami yang dipakai untuk alas tidur. Siong Chen dan Tiong San juga terluka.

Gerakan pohon-pohon bambu selalu mampu mengusir kegusaran bocah itu. “Gi-ji aku mau pergi ke pasar. Ciu Hong sering meraba-raba tubuhnya. Cahaya yang bagaikan kilat membawa ingatan Cu Hong pada seorang tokoh raja siluman penukar rupa Hoan Bin Kwi Ong Tian Ce Ting. Masih segar diingatannya ia hidup damai dengan ayah dan ibu yang menyayanginya. Dari kejauhan terlihat tubuh seorang bocah yang sudah mulai gede. Kenapa Liong ping demikian sakti dari mana ilmunya? Jangankan Cu Hoa. dan ia pernah melayani siliman itu dengan baik. menyempurnakan ilmu pedang itu dibantu sahabatnya seorang dukun yang berasal dari India. sudah lima hari ini kita hanya makan dari sayuran di kebun kita. Aku harus mendekatinya kembali. karena Tiong Gi menanam sayuran di antara semak-semak yang ada di bagian lembah di dekat sungai secara sembarangan. Ketua Siauw Lim saja belum tentu lebih tinggi tingkatannya dibandingkan Kwan Liong Ping. “Hmmm sekarang saatnya aku menagih bayarannya”. Ia sering dimarahi.liang Pangcu? Suhunya sendiri mungkin tidak ada setengah kepandaian ketua pertama Yu-liang Pay itu. Seketika bangkit kembali semangat Cu Hoa. hidup sebagai petani dan nelayan. bagaikan langit dan bumi. “Iya!” balas Tiong Gi dingin. Yang dimaksud dengan kebun tidaklah seperti kebun yang sering kita lihat. Ketua yang bernama Hong Bu. “Ahh bocah itu pasti lebih lapar lagi. Namun ketika bangkit baru terasa perutnya dari tadi berkukuruyuk. Sekonyong-konyong sinar matahari menerobos ke pintu gua. Vicitra Rahwananda. Perlahan-lahan Cu Hoa mendekati sungai kecil di bawah bukit. Ia ingat diajak ayahnya mencari ikan. Unsur magis inilah yang tidak diajarkan oleh Siong Chen. sehingga meskipun ilmu pedangnya sudah cukup bagus tapi tetap belum mencapai kesempurnaan ilmu pedang. Hati-hati jaga diri!” ujar Cu Hoa begitu dekat dengan Tiong Gi. sedangkan murid Yu-liang Pay saja tidak banyak yang tahu kalau ketua terakhir sebelum Liong Ping telah memperbaiki ilmu pedangnya dengan mencampurkan unsur magis. bahkan kadang-kadang pada malam hari bibinya sering berbuat aneh. desir angin tidaklah sekencang di goa. Akhirakhir ini ia merasakan adanya kejanggalan-kejanggalan hidup dengan Ciu Hong. . siluman yang berwajah mirip kera itu sering menggodanya ketika ia masih gadis. memiliki gerakan-gerakan tertentu yang bisa didukung oleh hawa magis yang luar biasa. orang yang mengaku sebagai bibinya. sehingga seolah-olah sayuran yang di tamannya bagian dari semak-semak tersebut. Dulu ia masih ingat. Di tempatnya berdiam. memendarkan sinar yang lebih terang dibandingkan sebelumnya. atau mencari katak di sawah buat dimasak swike. Kini keadaan yang dialami sungguh sangat jauh berbeda. Tiong Gi biasa menaman lobak dan kubis. dilukai. sehingga ilmu pedang Yuliang kiamhoat yang baru. yang merupakan sahabat gurunya.” Cu Hoa tahu tempat biasanya Tiong Gi menyendiri.

dan karena tak ingin menyerah begitu saja. sekonyong-konyong terdengar lemparan gulungan kertas.. sebaiknya kau serahkan lukisan itu pada kami!” “He. Setelah kegagalan mendapatkan lukisan yang dirampas oleh pasukan gubernur.. Tiong Gi perlahan-lahan mendekat hendak melihat apa gerangan yang terjadi. huh enyahlah!” Rupanya mereka senang memperebutkan sebuah gulungan kertas. Melihat keadaan sangat mendesak. Tok Nan-hay pang yang sudah memiliki salinan lukisan itu berusaha mencari peninggalan Lau Cin San. karena ternyata salinan lukisan itu sudah beredar luas di kalangan kang ouw. Ternyata.mana ada aturan itu. Lewat lima puluh jurus tiga orang sudah roboh bermandikan darah. sejak kecil sudah menjadi budak pelecehan seksual bibi palsunya. kami yang merebutnya dari bukit menjangan salju. Maka.heh. dikeroyok oleh enam orang dari Tok Nan-hay pang. hanya suara cecowetan burungburung pemangsa sedang memperebutkan bangkai manusia. Beberapa waktu berselang. Dua dari pihak lawan satu dari pihak pembawa gulungan. entah angin apa yang menghembusnya. “Cun Kak tosu.he.. Sungguh kasihan nasib Tiong Gi. ada lukisan yang sama anehnya ditemukan orang di bukit menjangan salju. dengan penuh gopoh mereka coba mengejar jejak rombongan terakhir. sehingga mereka mendapat banyak pesaiang. maka bergegaslah mereka menuju ke bukit itu. Siapa sangka ketika mereka datang. Sebelumnya Tiong Gi tidak merasakan suatu keanehan. namun sudah sebulanan ia merasakan bahwa itu hal yang aneh. gulungan kertas itu mengarah ke Tiong Gi. Tiong Gi menyelinap di balik gerumbulan semak-semak. kalau kalian tidak mau serahkan itu lukisan. ia dapat mendengar apa yang dipertengkarkan oleh dua kelompok itu. Kadang kala bibinya minta ia meraba-raba selangkangannya. “Tosu muka kadal. Bibinya menciuminya dengan nafas memburu dan mulut yang mendesah. Terperanjat Tiong Gi demi melihat gulungan kertas itu melayang ke arahnya. Pihak lawan terus merangsek pembawa gulungan. rasakanlah ini!” Serentak pihak Tok Nan-hay pang memulai menyerang.. enam lawan empat. Pihak yang membawa gulungan kertas berjumlah empat berpakaian tosu. Meskipun perbandingannya tidak imbang namun pertarungan berlangsung seru..bahkan menciuminya. suatu ketika mereka mendengar kabar. Dari lacakan tahulah mereka sedang berhadapan dengan tosu-tosu dari Kong-thong pay. Bahkan.. tapi betapa terkejutnya mereka. karena rasa penasaran dan rasa gusar . Kalian orang-orang racun timur mau enaknya saja minta lukisan ini. Dari balik semak-semak itu. dari tempat menyendiri Tiong Gi mendengar suara dentingan pedang dan teriakan beberapa orang seperti sedang terjadi perkelahian. Ada sekitar sepuluh orang. tempat itu sudah sepi.

Di dalam gua Tiong Gi membuka gulungan kertas itu yang ternyata adalah sebuah lukisan. Anehnya..demi menyaksikan orang-orang itu merusak kebunnya. karena bukan orang sekolahan Tiong Gi tidak bisa membaca tulisan di balik lukisan tersebut... karena orang-orang yang berebut gulungan hanya mendengar kecipakan air dan menyangka gulungan kertas tersebut jatuh ke dalam air.. Ketika kertas itu dibalik terlihatlah bercak-bercak air yang seperti mengandung tulisan. Dari hulu sampai hilir. ngabisin duit!” “Bibi. “Ah tidak. rumah-rumah yang ada di gambar itu berbentuk seperti tempurung kelapa.. namun ketika gulungan kertas itu terlepas dan dikira jatuh ke sungai. aku pingin jadi anak pintar yang bisa baca tulis!” . namun dia tahu bahwa itu adalah suatu tulisan..kiranya kertas ini harus di basahi dulu dengan air supaya gambarnya bisa terlihat”. Ciu Hong Nionio sangat pelit. “Ah... “Peta itu jatuh kesini!” .. Sebelum lukisan dimasukkan. Cu Hoa mendapatkan Tiong Gi merengekrengek minta sekolah. Namun bukan gambar yang muncul tapi tulisan... Lukisan itu menggambarkan suatu perkampungan di suatu lembah.pasti sudah terhanyut aliran kali... bergegas mereka meninggalkan gelanggang beramai-ramai.. Anehnya. Namun. Maka segera kertas itu dibasahi dengan air yang menetes-netes dari langit gua... Untunglah kali itu hanya sedalam paha. Di bagian tepi terlihat ada telaga yang jernih. akibat tergesa-gesa tak sadar kaki kanan Tiong Gi terantuk batu dan dia kecebur dalam kali. meski sebelumnya mereka sekali sudah saling berebut dan dengan sendirinya saling baku hantam. aku ingin sekolah! Antarkan aku ke sekolah bibi!” “Sekolah? Buat apa sekolah? Untuk jadi orang hebat yang penting bisa silat! Tidak perlu sekolah.kalau gitu aku tunggu saja Ciu Hong Nionio untuk menanyakan isi tulisan ini”. Tiong Gi sering melihat lembaran-lembaran tulisan yang dimiliki oleh bibinya atau yang “Hmm.. Sekembalinya dari pasar.” Dicarilah bagian dinding goa yang agak lunak kemudian Tiong Gi membuat lubang. Aku harus menyimpannya..!”seru yang lain. terlebih dahulu ditaruh di sebuah bambu seukuran suling..tidak... Tiong Gi langsung sambar gulungan kertas itu dan dengan sigap memutar tubuh berbalik kanan untuk kabur. Tiong Gi punya firasat bahwa gambar itu berisi suatu rahasia.. sehingga dengan kegesitannya Tiong Gi segera naik ke tepi dan kabur di balik tikungan pepohonan. pasti kalau lukisan ini harganya mahal hasilnya dimakan sendiri.begitu pikir Tiong Gi....! Ikuti aliran sungai ini. dan sebuah pohon miok berdaun merah. Kejadian ini malah menguntungkan Tiong Gi.” “Kejar..Ahhh. “Bibi. Namun teringat bahwa gambar itu habis diperebutkan..... Bergegas mereka berebut mengikuti aliran sungai..

Ketika guru mengucapkan sesuatu mereka mengikutinya. Huruf yang diajarkan tidak berurutan. Anak-anak belajar di sebuah pendopo. Lewat dua bulan. Biasanya Tiong Gi diam saja atau menangis. itu mengajari dengan cara yang buruk. Di pojok pasar. ia belum juga kembali.pergi kau!” Cu Hoa membalas pukulan dengan pukulan dan tendangan dengan tendangan yang lebih keras lagi..... meski sudah merasa jenuh dan bosan menjaga Tiong Gi. Cu Hoa dibuat kerepotan karenanya. mengapa aku tidak seperti mereka?” “Mereka itu anak-anak orang kaya. Tiong Gi menjadi bosan dan malas. kertas dan alat tulis? Dari mana bis didapatkan? “Ini neh. Tiong Gi adalah satusatunya harapannya. Cu Hoa lantas mulai mencari-cari. rambut kepalanya disanggul.pergi. tuan tanah. Tiong Gi jatuh berguling-guling dan bergegas pergi... maka ia lantas sampaikan ke Cu Hoa. cukong. karena ia tidk pergi jauh. Keesokan harinya Tiong Gi masih belum juga datang.“Sudahlah kau belajar padaku saja. namun ditunggu-tunggu sampai sore.. aku ingin bersekolah seperti anak-anak yang lain.. Di depan masing-masing anak ada meja kecil. Mereka duduk bersila bersaf-saf dengan teratur. Namun karena tidak berbakat mengajar.aku mau sekolah. yang kerjanya memerah tenaga orang-orang kecil seperti kita. Sehari kemudian Cu Hoa mengira Tiong Gi akan kembali. Sesekali ia berjalan ke kampung ia suka melihat anak-anak sedang belajar di sekolah..!” “Plok!” sebuah gamparan mendarat di pipi Tiong Gi. namun ia masih belum rela melepaskannya.... Cu Hoa mulai khawatir.uang buat beli kertas dan pit!” Sejak hari itu mulailah Tiong Gi belajar baca dan tulis. Sehingga justru memusingkan yang diajari.. Semua pakai baju seragam berwarna putih dengan rompi warna biru. Sekolah itu terletak di pinggiran desa. “Bibi. ia ditemukan meringkuk di . hayo cari kertas dan alat tulis!” Tiong Gi diam saja. Kamu tidak perlu bergaul sama mereka!” “Aku tak peduli. Kini dengan mata memerah ia merangsek dan memukul dengan kedua tangan sekenanya ke Cu Hoa. dan kini keinginannya untuk bersekolah tak bisa dibendung lagi... Tak sulit mencari Tiong Gi. aku akan mengajarimu!” “Benar bi?” “Tentu saja. “Anak setan. tampak perlente dan berwibawa. Cu Hoa juga membatin. Sudah dua kali Tiong Gi melihat pemandangan seperti itu.

“Apaa. Ia mengikuti apa yang diucapkan oleh Guru Tien: berbakti pada orang tua.. tubuhnya tambun wajahnya bulat. Hari itu musim dingin sudah mulai berangsur pergi. Seketika itu kemarahan Tiong Gi meluap. pikirannya sudah melayangjauh ke sekolah di tepi desa. Tiong Gi kalau kamu sudah besar nanti. “Kamu benar-benar mau sekolah? Baiklah ayo kita cari baju seragam dan alat tulismu. tumbuhlah keinginannya untuk makan juga.bawah kios tua yang ditutupi oleh daun-daun oleh Tiong Gi sendiri. Dengan setengah menyeret Cu Hoa menggelandang Tiong Gi. Ia duduk di bangku paling belakang.. Kemudian beristirahatlah anak-anak itu.. Karena pembeli pagi itu sedang ramai. Sun Kian adalah anak tauke beras di desa itu. Kalau ketauan mereka bisa pukuli kau sampai babak belur.” ucapnya sambil melempar segumpal rumput dan serasah ke arah muka Tiong Gi. Cu Hoa melakukan hal yang sama. Sun Kian sebenarnya sedikit-sedikit . Guru Tien memperkenalkannya pada seluruh teman yang ada. “Heh. dengan gerak tangan yang tak kentara ia mengambil begitu saja dagangan yang dijual. Tiong Gi tidak membawa makanan. Pada waktu itu. Demikianlah satu bait kata-kata bijak selesai diganti dengan bait yang lain. penjual tidak melihatnya. Kemudian guru Tien menunjuk salah seorang untuk menghapalkannya secara bergantian. Kemudian mulaiah Tiong Gi belajar. tahu?” Tiong Gi tak menjawab sepatah katapun. “A Sun. berilah aku separoh bakpaomu!” pinta Tiong Gi dengan penuh harap. mereka biasanya memakan makanannya. Di sekolah Siauw Can Bun Tiong Gi mulai bersekolah. Ia kemudian menuju ke warung pakaian. matahari muncul dengan cerahnya. berbakti pada negara anak Siauw Can Bun bersikap ksatria dan berbudi luhur rajin belajar dan bekerja demi mengabdi pada yang mulia Tio Kuan Yi Tiong Gi dan kawan-kawan yang lain mengulanginya berkali-kali. Demikian juga waktu di toko alat tulis. dekat sawah yang sedang menghijau. Guru Tien cukup ramah namun tegas.” “Benarkan?” tanya Tiong Gi dengan mata berbinar. Saat itu ia sedang duduk agak jauh dari kawan-kawan yang lain. Cu Hoa hanya tersenyum sinis. Melihat kawan-kawannya makan.huh...minta. Dengan beringas ia menendang Sun Kian. kau harus hati-hati kalau mau ambil barang pedagang.. Maka berkatalah ia pada salah seorang dari mereka. gembel busuk anak petani kudisan! Neh makan bakpaomu. Tiong Gi hanya memandangi saja.

. Guru Tien memandang Tiong Gi dengan berapi-api. di rumah maksudnya di goa ia dididik dengan cara-cara yang mengandalkan kekerasan. Pada jurus yang ke sepuluh tiba-tiba saja Tiong Gi menarik baju lelaki itu sehingga keduanya terguling ke tanah. “Bocah sial. mana bisa berubah dalam sekejap mata. dan mengantarnya pulang. Namun tepuk tangan mereka tidak .!” Begitu melihat keributan anak-anak bergerombol mengerumuni mereka. dia menang angin. Tiong Gi mundur beberapa langkah... namun Sun Kian sudah KO.plok” bunyi pukulan demi pukulan ke muka Tiong Gi ditingkahi tepuk tangan Sun Kian dan beberapa temantemannya yang baru datang. Begitu Tiong Gi datang langsung disemprot si centeng dengan kata-kata. putera majikanku. Keesokan harinya. sehingga lebih leluasa memukuli Tiong Gi.. Karena posisi centeng itu berada di atas.. Meskipun sempat menghindar tendangan pertama. satu dua pukulannya menembus pertahanan Tiong Gi. Dengan tenaga yang sangat kuat tentu saja. Meski hanya mendapat tiga kali bogem mentah... beraninya kamu pukul Kian kongcu.belajar silat. Dengan sigap Tiong Gi menangkis. Celakanya. Terlambat. “Bocah pembawa sial....kau bisa berkelahi rupanya!” Merasa pukulannya bisa dihindarkan.. “Buggg” sebuah tonjokkan tangan mengenai lambung kiri Sun Kian. Ia tidak peduli dengan larangan guru Tien. Sebagai centeng cukong terkenal di desa Cong Bun pria itu sedikit pernah belajar silat.! Plok. ia tak mampu menangkis tonjokan tangan kanan Tiong Gi. Bagaimana ia bisa paham. namun ia anak yang pemalas. “Buk.” Habis berkata-kata guru Tien menolong Sun Kian. centeng itu makin bertambah kalap..plok.. di sekolah itu pagi-pagi sekali seorang pria setengah baya bertubuh tinggi brewokan sudah menghadang. dan mulai melancarkan serangan demi serangan.buk.plok. “Hoeekkk. “Plaakk. Dengan tergopoh-gopoh guru Tien mendatangi mereka mencoba untuk melerainya.. Disampingnya berdiri Sun Kian dengan wajah masih lembam. Kelaspun dibubarkan. Dengan menahan amarah guru Tien berkata ketus.. Dan ia tak bisa menahan laju makanan keluar dari kerongkongannya. Sebagian bersorak memberi semangat. kenapa kamu pukuli Sun Kian? Dasar anak baru yang tak tahu diri! Besok kamu tak usah masuk sekolah lagi... apa yang kau andalkan?” begitu selesai bicara langsung tangannya bergerak menonjok. kembali Tiong Gi ke sekolah..”! “Ehh.... Kontak perut Sun Kian menjadi mulas dibuatnya.

Empat biksu muda dan satu biksu tua yang sekaligus biksu kepala biara. tangannya mendekap ulu hatinya yang telah menucurkan darah segar. Kalau Tiong Gi tahu arah mata angin sebenarnya ia bisa belok ke selatan menuju ke arah hulu dari sungai ini untuk kembali ke petani yang dulu mengasuhnya yang disangkanya sebagai orang tua. Jeritan si centeng ditimpali jeritan siswa sekolah itu. Ia lantas mendekat Bin bin. sambil kepalanya tengok ke kanan dan ke kiri. Sun Kian hanya melongo dan dengan ketakukan lari lintang pukang. coba melihat barangkali ada seseorang yang mencari anak itu. “Ah sebaiknya kita tolong saja dulu. Tiong Gi merasa terkejut sekali dengan perbuatannya. karena sekonyong-konyong terdengar jeritan menyayat. Kegembiraan memukuli korbannya membuat si centeng kehilangan kewaspadaan sehingga tidak sempat mencegah ketika tangan Tiong Gi menarik golok di pinggang kirinya dan menusuk ulu hati. Akhirnya di ujung desa di depan kuil yang cukup besar ia terjatuh kelelahan dan langsung tertidur. menjauhi goa tempat tinggal dia yang berada di barat. Memang si centeng Sun tauke terkenal galak ke petani. Maka larilah ia sekencangnya keluar dari desa itu. Kota ini berada di tepi sungai Yang ce kiang. “Ehhh ada bocah yang tergolek di sini. Sungguh malang nasib si centeng. Tapi begitu melihat korban mereka hanya diam seribu basa. dan beberapa kali ia mengigau. Empat biksu menjadi kelabakan dibuatnya. “Aaaaaagggggghhh. Rata-rata adalah petani. Maka dengan bahan seadanya atas ... Jeritan siswa terdengar ke rumah-rumah di dekat sekolah sehingga beberapa penduduk berdatangan. karena ia tahu pasti akan dimarahi.berlangsung lama. mari kalian angkat bocah ini. Bahkan kalau ada yang mendekat akan terdengarlah bisik-bisik yang menunjukkan perasaan lega dan gosip nyukurin korban. Sungguh seperti peribahasa senjata makan tuan. Ia tidak ingin kembali ke bibinya. Pada detik itu pula Tiong Gi telah berhasil meloloskan diri. Pada malam harinya tubuhnya terkena demam. Tiong Gi masih tetap dalam posisi tertidur.... Yang ia tahu hanyalah berlari secepatnya kemanapun ke arah timur. siapa dia?” kata biksu itu penuh tanda tanya. “Omitohuud... Namun saat itu keinginannya adalah pergi jauh. Bin bin ada apa engkau berteriak seperti itu?” biksu kepala yang bertubuh pendek gemuk itu berseru. Memang dialah yang menusuk si centeng dengan golok milik centeng itu sendiri. Biksu muda yang menjumpainya berteriak membuat seisi kuil keluar.” Empat orang biksu murid bersama-sama kemudian angkat tubuh Tiong Gi dan dibawa masuk ke dalam untuk mendapat perawatan sekedarnya. Ada lima orang biksu yang berada di kuil itu. sejauh kaki bisa melangkah.! Tubuh centeng itu tiba-tiba saja terguling. Setelah seharian penuh ia berlari sampailah ia pada kota kecil Tee-kim.

. “Silahkan kongcu ini disantap sarapannya” Tiong Gi makan dengan lahapnya karena sudah seharian kemaren ia belum makan. kongcu sudah bangun. namun bajunya yang compang camping dan terlihat ada percikan darah sungguh mencurigakan. Saya tidak punya orang tua lagi. Pengalaman itu pula yang menjadikan dia memiliki kepekaan luar biasa terhadap sifat . Mohon losuhu tidak memberitahukan keberadaan saya jika bibi saya datang. dan sayur kubis. “Selamat pagi siauw kongcu. seorang biksu tua sudah menunggu sambil berliamkeng. Setelah dua hari tinggal di kuil itu kesehatan Tiong Gi mulai pulih. Saat terbangun di pagi hari Tiong Gi menemukan dirinya tergolek di sebuah dipan.” “Apakah nama desa siauw kongcu?” “Aku tinggal di desa Cong Bun. Sekejap terjadi perubahan raut muka di wajah teduh itu.petunjuk biksu kepala mereka merebus obat dan meminumkannya pada Tiong Gi.” Biksu kepala itu yang bergelar Kim-sim hosiang menggeleng-gelengkan kepala. “Aku. Namun bibi saya galak sekali dan sering memukuli. Sambil berjalan Tiong Gi berpikir apa yang harus dia ceritakan... Sekujur tubuhnya terasa penat luar biasa. Di ruang tengah. siapakah nama dan dari mana asal usul siauw kongcu?” tanya biksu kepala itu dengan ramah. berasal dari barat.beri aku makan siauw suhu!” Biksu itu tersenyum. menyapa.. Pagi itu seorang biksu muda mengajaknya menghadap ke biksu kepala.aku.. Sebagai biksu yang sudah berpuluh tahun menyebarkan ajaran budha di wilayah itu ia tahu betapa jauhnya desa Cong Bun. Dengan tertatih-tatih ia mencoba keluar dari kamar. Kemudian ia bangkit dari dipan itu. “Saya bernama Tiong Gi. ia mesti menutupi peristiwa penusukan itu. Bagus sekali pagi yang cerah ini pinceng bisa menerimamu. sebaiknya beristirahat saja. Pagi itu karena saya membuat ulah di sekolah bibi memukuli saya hingga babak belur. Ketika Tiong Gi masuk menghadap ia berhenti berliamkeng dan membuka matanya. “Omitohud. tapi tubuh kongcu masih lemah.. Tak peduli ada lauknya apa tidak.. kongcu sudah bangun rupanya.lapar. Di lorong salah seorang biksu yang kemaren membopongnya. bubur itu disantapnya sampai tandas. agar ia tidak ketahuan. selama ini saya tinggal bersama bibi. Lalu dengan sopan ia kemudian masuk ke dapur mempersiapkan semangkuk bubur.

sampai terakhir dia menoleh ke Tiong Gi.. pinceng hanya bisa berpesan agar kongcu hati-hati. Dan sekali melihat ia merasakan aura kegelapan menyelimuti wajah yang masih kanak itu... mengikuti petunjuk Kim-sim hosiang menuju ke dermaga kecil di desa itu.aku mau kemana aja!” jawab Tiong Gi gagap. . Si nakhoda melihatnya dengan mata berbinar.” “Kalau demikian rencana kongcu. “Kemana aja? He. Pada saat itu sudah ada lima penumpang dengan membawa barang bawaan yang sangat besar. kau akan menemukan sungai. Setelah menunggu tiga orang penumpang lagi.seseorang.. tunggu! Hendak kemana kamu?” “Lopeh. aku mau ikut naik perahu. Turun aja di sini!” omel si nahkoda.. tak ada salahnya kongcu mampir ke kuil suheng pinceng Kong-sim hosiang di desa Sin heng. silahkan siauw kongcu!” serunya sambil mendukung Tiong Gi menaiki tangga perahu. Kalau kongcu belum menetapkan tujuan.. Berkarung-karung barangbarang bawaan sedang ditata oleh anak buah perahu. “Eh bocah.apakah kalau perahu ini menuju neraka kamu juga mau ikut.” singkat sekali jawaban Tiong Gi. Tiga tael perak ini mungkin bisa membantu kongcu dalam perjalanan. dan tanpa permisi ia lantas meninggalkan kuil itu. bolehkah?” “Mana orang tuamu?” “Aku sendirian!” “Heh!.. Nahkoda menanyai satu persatu tujuan masing-masing penumpang dan menarik ongkos..” jawab Tiong Gi sambil menunjukkan tiga tael perak di tangannya. aku ingin pergi jauh dari bibi Ciu.” “Iya. kau kira naik perahu gratis? Kau punya uang nggak?” “Neh. Ketika Tiong Gi hendak menaiki tangga perahu..naik. Dasar bocah edan.. “Naik.heh. Bab 6: Kelompok pengemis sabuk hitam Kebetulan pada saat ia datang di dermaga kecil itu ada perahu yang cukup besar. seorang lelaki yang mengawasi perahu itu menegurnya. perahu besar itu mulai berlayar.. “Lalu kemanakah tujuanmu sekarang?” “Aku hanya ingin menuruti langkah kakiku. Kalau kongcu berjalan lurus memasuki desa nanti akan bertemu pasar beloklah ke kiri.heh. “Aku. Barangkali saja ada perahu yang berlayar menuju ke timur.. desa di pinggiran kota Yi chang.

Semua penumpang ribut... Dengan golok panjang di tangan salah seorang membentak. Setiap ada dermaga besar perahu berhenti menurunkan atau menaikkan penumpang. Satu bajak roboh bersimbah darah. “Wusss. Seperti hari sebelumnya setiap dermaga besar perahu merapat.. Terlambat. “Cring.. dari pihak awak kapal satu orang juga sudah roboh tak bernyawa.. di sebuah tikungan terdapat perahu besar melintangi sungai. Malam harinya perahu merapat ke dermaga dan nahkoda beristirahat. Akibatnya tangkisannya jadi kendur dan pedang lawan yang kebetulan juga penumpang menembus lehernya. Karena yang bersangkutan tidak menyangka ia tidak melindungi tubuhnya dengan sinkang..! Aduuhh...cep! Aduuhh!” Jarum seukuran satu dim itu terkena ke pundak Tiong Gi dan masuk seluruhnya. “Celaka. Tiong Gi turun mencari makan.Auughhhh!” Pukulan itu terkena telak. Diserang seperti itu para bajak tidak tampak terkejut. aku akan turun aja. Pandangan matanya berkunang-kunang. Pertarungan di atas perahu yang tidak terlalu lebar itu menjadi kurang leluasa. Ketika ada pembajak yang menghindar ke arah Tiong Gi... dengan golok dia segera menyerang gerombolan bajak itu. bajak sungai Tiat-sim heng-kang pang (Bajak berhati besi merintangi sungai). Keesokan harinya perahu melanjutkan perjalanan. Secepat kilat empat orang berwajah garang melompat ke perahu...“Aku turun di pelabuhan terakhir aja!” “Ke Sanshi? Tahu kamu berapa lama perjalanan ke sana? Tiga hari tiga malam. . Perahu-perahu kecil sudah meluncur ke arah mereka.. Penumpang yang sudah ketakutan mulai menceburkan diri..” “Mana kasih aku dua keping!” Perahu itu berlayar tenang mengikuti arus. “Buggg. Karena penasaran ia menjadi nekad menyerang pimpinan bajak itu. sementara ada satu orang yang ikut meramaikan gelanggang. dan kau harus bayar tiga keping perak!” “Sudahlah lopeh. Pimpinan yang sempat melirik kejadian menjadi jengkel dan marah kepada Tiong Gi.. “Tinggalkan perahu dan semua uang kalian. Putar haluan!” perintah nahkoda dengan wajah pias.Croott. ia melontarkan jarum rahasia ke Tiong Gi. wajah mereka menunjukkan ekspresi ketakutan yang sangat. nanti kalau aku bosan. Pada suatu kesempatan dengan gerakan tersamar.criing... atau menggelindinglah ke neraka!” Nahkoda yang digertak tak terima begitu saja. Ketika senja sudah mulai memerah. Namun.. Ketika ada warung roti kering maka segera ia sambar beberapa potong roti. Tiong Gi merasakan rasa panas dan gatal sekujur tubuhnya....cring!” denting beradunya golok tak bisa terhindarkan lagi. secepat kilat Tiong Gi mengirim pukulan ke arah ulu hati.

*** . Dalam keadaan setengah sadar. “Heii. kemungkinan hidup sangat tipis sekali. Tiba-tiba saja tubuh Tiong Gi memasuki arus pusar yang mendorong tubuh Tiong Gi atas dan menghempaskannya ke samping hingga terdampar di bantaran sungai.. tapi si pimpinan bajak masih sanggup berkelit. Meski tubuh mereka terlihat kekar tapi pakaiannya dekil dan compang-camping.” Dengan penuh gopoh kedua orang pengemis itu menggotong Tiong Gi ke tempat yang disebut markas. “Ayo kita bawa ke markas.. Sungguh mujur nasib Tiong Gi karena ia terdapar di dekat mereka. kita harus bersulang untuk sam-suko..” kata orang ke tiga. “Suko kionghi. Tanpa terasa ketiga orang ini sudah berada di pinggiran perahu.Diambilnya golok milik mayat yang tergeletak dan mulailah ia ikut terjun ke gelanggang mengeroyok si pimpinan bajak.. Gerakan-gerakan yang sangat kuat ini membuat perahu oleng. Tangkisannya hampir terlambat..” kata salah seorang pengemis itu ketika memegang tangannya.selamat panjang umur!” seorang yang lebih muda kepada seorang yang lebih tua. Tetapi. Dalam keadaan seperti itu. Pimpinan bajak tidak menyangka mendapat serangan. sehingga hanya pundak kanannya yang robek sampai ke tulang-tulangnya. Bersamaan dengan itu perahu yang olengpun menjadi terbalik. Sampai lewat sepeminuman teh akhirnya kepalanya tak muncul-muncul lagi. “Desss..” “Silahkan ikannya di santap sute. Kepalanya timbul tenggelam. di pinggiran sungai tampak tiga orang yang sedang memanggang ikan di pinggiran sungai. dengan sisa tenaga ia masih sanggup menendang Tiong Gi... Serangan maut itu sudah tak bisa ditangkis.! Byuurrr. mari ini aku bawakan arak harum dari Tong-ten. “Sute terima kasih. Pada saat itu ketika matahari sedang memasuki peraduannya..” “Tunggu dulu..!” tubuh Tiong Gi terlempar keluar perahu dan tercebur ke sungai. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh nahkoda perahu untuk mengirimkan bacokan maut ke arah leher.. biarpun hanya pengemis kitapun tak ada salahnya merayakan ulang tahun seperti kongcu-kongcu itu. Pada saat mereka hendak bersulang inilah tubuh Tiong Gi terlihat terdampar.ada mayat!” Begitu melihat ada tubuh yang terhempas ketiganya jadi terkejut dan bergegas mendekatinya. Namun benar kata orang bijak bahwa hidup mati di tangan Tuhan.. Tiong Gi terseret arus sampai megapmegap. “Masih ada detak jantungnya..

syukurlah Sin Hwat. kudengar mereka sedang mempersiapkan pesta perhelatan pergantian ketua baru. berbaju tambal-tambalan namun bersih dan bersabuk hitam. Karena berada di kota-kota di lembah sungai Yang-tse tak aneh jika mereka sering bersinggungan dengan kelompok bajak sungai Tiat-sim heng-kang pang.” gumam seorang lelaki berjanggut panjang setelah memeriksa tubuh Tiong Gi. Kay pang sabuk hitam ini merupakan cabang kaipang sabuk hitam paling timur. bagaimana keadaannya sekarang?” tanya salah satu anak murid yang menggotong Tiong Gi... Dan kabarnya ini ada hubungannya dengan kebangkitan bangsa Khitan di timur.” jawab orang yang duduk paling dekat pangcu.. “Susiok. Darah hitam keluar dari lubang bekas eraman jarum.“Luar biasa. Dengan tenaga sinkangnya ia telah berhasil mengeluarkan jarum yang mengeram di tubuh Tiong Gi. Mereka rata-rata berwajah dusun tak terawat. Kota Yi Chang merupakan kota paling timur kekuasaan pengemis sabuk hitam.” tambah Te Kang lo kay.. berumuran empat puluh sampai limapuluhan. orang ke tiga. Dan sebentar lagi Hoan bin kauw ong pemimpin bajak sungai Yang tze akan mengundurkan diri. Setelah darah hitam keluar tiga sendok maka kemudian berubah menjadi merah. “Ada hal yang berbahaya pancu. Mereka adalah pimpinan pengemis sabuk hitam kota Yi Chang. Gedung yang dari luar terlihat kuno dan tidak begitu indah tapi di dalamnya sangat bersih dan indah. Lelaki ini kira-kira berusia empat puluh lima tahunan. . Campurkan serbuk ini dan rebus kemudian minumkan setelah ia siuman.” Setelah mengobati Tiong Gi. sorot matanya tajam. Kay pang sabuk hitam adalah kelompok pengemis yang menguasai kota-kota yang dilewati sungai Yang-tse Kiang mulai dari Jung-hu di barat. Anak ini pada hari itu berusia lima belas tahun. “Ah. lelaki itu kembali ke ruang tengah di sebuah gedung yang cukup besar. sebagian juga memakai sabuk seperti yang kita pakai. Tubuhnya kekar. racunnya sudah keluar. “Benar pangcu! Aku melihatnya sendiri mereka merampasi perahuperahu yang lewat bahkan menjarah ke daratan. Seorang lelaki berusia lebih dari enam puluhan di ruang tengah sedang memimpin pembicaraan dengan dua orang lainnya. Ketiga pengemis ini bersama dengan pengemis berjenggot panjang adalah adalah pimpinan kay pang cabang Yi Chang yang bergelar Yi Chang su-sin-kay. aku melihat banyak pengemis dari luar berdatangan ke sini. benarkah demikian?” sang ketua memulai rapat malam itu. wajahnya cukup tampan.! sudah terkena jarum beracun masih bisa bertahan dan aneh sekali racun itu tidak sampai menjalar ke perut. “Dalam beberapa minggu terakhir ini kelompok Tiat-sim heng-kang pang sangat agresif mencari mangsa.

Apakah ada hubungannya dengan kelompok Tiat sim heng kang.. kuil Khong-sim liok si sepertinya sudah terjatuh ke tangan orang-orang asing. kemudian ia menghela nafas dalam-dalam. puteranya yang baru menyelesaikan pertapaannya. “Nenek iblis kelabang emas???” berbarengan ketiga pengemis itu berseru kaget..” tanggap ji-kay. “Bocah yang luar biasa.” “Ji-te kita sedang membicarakan masalah pergerakan Tiat-sim hengkang.. bagaimana kalau anak itu kita kirim ke sana untuk menyelidiki keadaan kuil.bagaimana pendapat pangcu sendiri. “Baiklah kita kirim dia kesana.” “Benarkah kabar yang mengatakan mereka akan mendirikan pusat pergerakan di bukit ular merah?” tanya ji-kay.” usul sam-kay..” timpal pengemis yang berjenggot yang baru saja datang... kita belum tahu. seperti ada yang menotok jalan darah di punggungnya. Wajahnya berubah menjadi menegang. Namun saya kita kita pantas menyuruhnya. sungguh celaka. Dia bukan anggota kay-pang kita toh. “Itulah yang kukuatirkan. Dia berada di sebuah kamar yang agak kecil.. Racunnyapun tidak sampai menjalar ke tempat yang lain. Mereka pasti akan melabrak kita. Benarkah ia masih hidup?” pangcu bertanya dengan suara tercekat. bagaimana keadaan bocah itu?” tanya su-kay pada pengemis berjenggot yang baru masuk itu. Kabar yang santer menyatakan bahkan ilmu Hiat kiam Lomo lebih hebat dibandingkan Hoan bin kauw oang. ia baru saja berguru pada nenek iblis kelabang emas. anak masih kecil seperti dia tahu apa?” bantah su-kay. Kalau mereka benarbenar mau membuat cabang di sana.. “Ah seadainya Gan supek punya penerus.” Pagi harinya ketika siuman Tiong Gi merasa tubuhnya sudah agak baikan. sudah terkena jarum hek-tok-ting masih sanggup bertahan. di samping . “Ah itu tidak baik sam-ko.“Dan digantikan dengan Hiat kiam Lomo.. ji-te.” “Oh ya. “Anak itu bertulang baik. Sebenarnya sayang kalau kita sampai mengorbankannya.. Ada kabar kurang baik yang baru-baru ini kita dengar tentang bajak itu.aku punya ide.. “Benarkah itu? Iblis kelabang emas sudah setengah abad tidak pernah terdengar lagi beritanya. kita sambil terus memantaunya. Tubuhnya juga sangat kuat. Hmmm..” “Aha.

. Begitu tiba. “Ehh. siapa namamu hiante?” “Tiong Gi. “Aku baikan. Tapi ia kemudian tahu apa yang hendak dilakukan. sementara Tiong Gi hanya menjawab sepatah dua patah kata..” jawab Tiong Gi singkat. apakah sudah ditangkap.hiante kau sudah baikan? Gimana punggungmu. Waktu itu kata paman. Sejak peristiwa itu ibuku menjadi sakit-sakitan dan meninggal dunia ketika aku berumur enam tahun. hanya menyisakan kepalanya saja. dan seseorang yang membelakangi mereka. Ketika ia bangkit.. Halaman ini dekat dengan ruangan berlmpat itu sudah ada kursi tinggi. boleh aku makan bubur ini?” “O... “Ah kasihan sekali dirimu Gi te. Seorang penjahat telah membunuh kedua orang tuaku. Setelah bercerita tangannya mengepal. tenanglah aku tukang cukur paling top di Yi Chang.ayo Gi te. mereka penjahat bertopeng.kau pasti seorang kongcu muda ya? Bagaimana keadaan keluargamu. keadaanku juga tak jauh berbeda. su-kay. “Gi te.dipannya ada meja kecil. Orang tuaku sendiri sudah sejak aku berumur dua tahun meninggal dunia. “Rambut siauw kongcu sudah sangat panjang.” “Siapakah penjahat itu. kamu kalau tidak punya rumah tinggal aja di sini! Eh tidak. Tiong Gi langsung didudukkan dan ditutup dengan kain besar. O ya. Pisauku takkan melukai kulitmu . dari luar masuk seseorang.” Bergegas penegmis cilik itu mengajak Sin Hwat dan Tiong Gi ke halaman belakang. sam-susiok memanggilmu.... “Kalau tamu kita sudah siuman.Eh di mana rumahmu Gi Te?” Sin Hwat terus saja nerocos.” papar Sin Hwat pelan. seorang pengemis cilik mendatangi mereka. masih sakit?” tanya Wan Sin Hwat ramah. Sin Hwat juga agak heran melihat Tiong Gi didudukkan di kursi itu. Hwat ko?” “Belum tahu. ayahku beserta tiga saudaranya termasuk paman mengikuti pertemuan pendekar di suatu perguruan. “Eh.tidak baju yang kau pakai. Lewat sepeminuman teh. Mulutnya mulai menyantap bubur itu dengan lahapnya. aayaa. Di atas meja ada mangkok yang berisi bubur..silahkan bubur ini memang untukmu. Tiong Gi menatap pemuda itu dan menjawab datar. pulangnya di tengah jalan mereka dicegat oleh pihak lawan dan terjadilah peristiwa itu.. matanya menitikkan air mata. dia dipanggil sam-susiok!” “Ohh.aku mau diapakan?” tanya Tiong Gi. atih silat. hanya beruntung aku dipungut oleh pamanku.

he.segorespun. Tapi barubaru ini ada gerakan tersembunyi yang hanya kami dengar dari kabar angin saja. cocok sekali itu. kami masih melihat orangorang berpakaian biksu di kuil itu. dengan mimik serius ia memerintah Tiong Gi. Sin Hwat memoyokinya sambil “Wahh. lewat sepeminuman teh. kenapa aku harus ke sana?” “Eh. Gi te. untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. maka kehadiranmu mungkin tidak terlalu mencurigakan. tapi terburu munculnya sam-kay. biarlah aku berterus terang saja. atau ada sesuatu yang terjadi” berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya.. he. harus diganti!” katanya sambil melucuti baju Tiong Gi dan menggantinya. Sin Hwat belum tahu kalau Tiong Gi baru sempat setengah hari makan sekolah sebelum akhirnya ia membuat keributan. Tiong Gi. melihat kelakuan Tiong Gi. “Baju kongcu juga sudah lusuh.he. Kami mengenal pimpinannya yang bernama Kong sim hosiang. Kami akan mengirimmu ke sana. “Tiong Gi. karena memang di kay-pang ini budi pekerti masih tetap dijunjung tinggi. mengapa anak yang berpakaian anak sekolah seperti tidak mengenal tata krama... Kamu mengerti anak baik?” Tiong Gi terkejut demi mendengar nama kuil yang disebut. “Biarlah Sin Hwat. kami memberi tugas kepadamu untuk mendatangi kuil Kong-sim liok si di sebelah utara. maunya sih Tiong Gi balas. justru karena kau bukan anggota kay-pang kami maka mereka tidak akan mencurigaimu. untuk memuaskan segala yang berkelebat dipikirannya Tiong Gi bertanya.... “Kuil apakah itu lopeh. Melihat dandanan Tiong Gi berubah.kini dirimu telah berubah menjadi siauw suhu.” kata lelaki itu sambil mendudukkan Tiong Gi dan menotoknya.” “Tapi aku bukan anggota kay-pang sam-lokay.. biksu yang sabar dan lembut... tinggallah dua tiga hari disana untuk melihat keadaan. sebaiknya kamu berganti nama juga Tiong Gi hwesio. sedikit banyak Sin Hwat juga merasa aneh. Gi te. setelah dibebaskan dari totokan tukang cukur itu langsung melucuti baju luarnya dan menggantinya dengan kain yang dililitkan. dia masih muda.” ujar Sin Hwat. Kay-pang kami memiliki hubungan yang baik dengan Kong sim liok si. meskipun pengemis Sin Hwat belajar budi pekerti dengan baik. he he he. lebih baik kau penggil beliau sam-lokay atau cianpwe. apa mereka belum pernah ke sana. kemudian apapun yang terjadi kamu harus bisa kembali ke sini memberi laporan. “Bukankah kuil itu yang disebutkan oleh biksu Kim sim hosiang? Apa yang terjadi. Kuil yang dipimpinnya sekaligus juga menjadi klinik pengobatan bagi mereka yang memiliki kelainan jiwa. tandaslah seluruh rambut kepala Tiong Gi.” . kenapa tidak pengemis yang lain saja yang lebih tahu keadaan?” “Pertanyaan cerdas.” yang diejek hanya melototkan mata saja.

Setelah duduk sebentar dan agak tenang. Di bagian belakang dari gedung ini terdapat kamar-kamar yang disulap menjadi penjara. Pelahan-lahan ia merasakan kesakitan luka jari tangannya itu. jalanan menuju kuil cukup lebar dan dikelilingi pepohonan yang rindang. kemudian merasakan punggung. Ketika Tiong Gi siuman ia sudah berada di dalam penjara. Ia ingin membalik tubuh supaya tempat yang kesakitan itu tidak tertindih dibawah.. Kuil itu terletak di suatu perbukitan di luar kota Yi Chang. Begitu masuk dia disambut oleh seorang berpakaian biksu yang berkulit gelap. kuil ini juga merawat para penyandang cacat jiwa. lantainya batu. Tiong Gi mencoba memasuki gedung yang paling dekat dengan gerbang. ia tidak tahu dimana dirinya berada saat itu dan sudah lewat berapa lamanya. beberapa kali bogem mentah mendarat di sekujur tubuhnya hingga ia pingsan. ketika Tiong Gi sudah dekat ia melihat bangunan kuil yang cukup megah.Maka berangkatlah Tiong Gi menuju kuil Kong sim liok si. rambutnya panjang .. Selain melayani orang yang hendak bersembahyang. “Bugg! Auhh. Tak tersangka olehnya didalam bui itu masih ada seorang lain lagi. dindingnya dari tembok tebal. Tiong Gi menjadi gugup sehingga terlambat menangkis. Dua lelaki yang kepalanya diikat kain kelabu itu terkejut melihat lawan bisa bergerak sedemikian lincahnya.. Kuil Kong sim liok si merupakan kuil terbesar di kota ini. Sampai tiga kali mengubar mereka masih belum bisa menangkap. ia coba memeriksa keadaan kamar bui yang terbuat dari tembok tebal itu. Ia lihat orang itu penuh berewok. Tiong Gi terkejut. Waktu ia berpaling. Usianya sekitar empat puluh tahunan. Dua orang itu menyeretnya ke sebuah ruangan di belakang. luasnya kira-kira tiga meter persegi. Tiong Gi yang tubuhnya masih lemah tak sanggup membela diri. “Selamat datang siauw hwesio. kesempatan ini tak disiasiakan oleh kedua lawan. kemudian tangannya bertepuk tiga kali. bau yang tercium olehnya adalah bau apek dan bacin melulu. Mereka menyangka menemui makanan empuk sehingga mereka menjulurkan tangan hendak menangkap Tiong Gi sambil menyeringai.!” tubuh Tiong Gi terpental. Dari gerbang terlihat berderet bangunan-bangunan yang sudah cukup tua tapi sangat menarik. Karena mendapat serangan tiba-tiba. siapakah namamu dan apa tujuanmu?” tanya biksu itu dengan pandangan menyelidik. paha dan bokong juga kesakitan sekali. Tiong Gi berkelit. Dipojok sana terdapat sebuah tong kotoran. ia merasa kepalanya sangat berat. secepat kilat ia mengirimkan tendangan.” Biksu yang diajak bicara terbelalak. murid suhu Kim sim hosiang. Di dalam ruangan tak ada. Tiba-tiba dari belakang muncul dua lelaki berpakaian hitam-hitam dan langsung hendak menangkap Tiong Gi. Mereka juga ikut menendang dan memukuli Tiong Gi. “Aku Tiong Gi. Pintu penjara terbuat dari jeruji besi yang kokoh. Biksu berbaju merah muda menjadi gusar. Melihat gelagat datangnya dua orang ini. ia lihat diujung sana ada sepasang mata yang bengis sedang melotot kepadanya. Di depan kuil tidak ada penjaga sehingga ia bebas memasukinya. hendak menghadap supek Kong sim hosiang.

Ketika hendak merebut. Melihat itu. jengkel. Tangan kirinya buntung. Maka mendaratlah satu dua pukulan ke tubuh Tiong Gi. menyengir ejek sekali. baki itu di taruh di bagian bawah jeruji. Tiong Gi mencium bau anyir. “Diammm! Kamu ini laki-laki apa banci huh!” semprot orang tua itu. ia kemudian menempelkan tangan di punggung Tiong Gi dan keluarlah hawa hangat dari tangan itu. mangkok kecil ini untuk si bocah. Berbeda dengan Tiong Gi. “Ini makanan kalian. Sungguh apes nasib Tiong Gi. Dari luar jeruji kamar tahanan. terus saja ia siramkan air itu kebadan Tiong Gi. tapi selama itu ia mengertak gigi bertahan sebisanya dan tidak pernah meneteskan air mata. Tapi ternyata pertolongan mereka hanya semu belaka karena mereka kemudian menjerumuskannya ke tempat seperti ini. Tiong Gi tidak tahu siapa nama pengemis itu. sudah banyak derita yang dirasakan. Di tegur seperti itu bukannya diam Tiong Gi justru berteriak terlebih keras lagi. aku tak mau tinggal di sini. ia putar badan dan datang pula dengan membawa seember air. Sepertinya si jembel sudahmeminta agar kamar diguyur air bersih. bajunya compang-camping tak keruan hingga lebih mirip orang hutan. dari menuduh Tiong Gi menyerobot tempatnya sampai tuduhan pembunuhan. Sering ia melihat pengemis itu nyerocos . Terbayang peristiwa-peristiwa pukulan bibi Ciu. marah. *** Tiap hari peristiwa yang dilalui Tiong Gi hampir sama. Jika Tiong Gi melawan ia akan marah dan memukul. “Keluarkan aku. Namun tetap saja ia masih lebih gesit dibandingkan Tiong Gi. karena ia juga merasa muak dengan guyuran itu. tukang pukul di kampung. Begitu Tiong Gi siuman ia nyerocos gak karuan. setelah matahari agak naek. Demi melihat Tiong Gi deman. ia menjadi tak tahan lagi. ejekan-ejekan orang. dan sering merebut makanannya.” Belum sempat Tiong Gi mengambil mangkok yang dikatakan untuknya. Kemudian ia terjatuh ke sungai hampir mati tenggelam. seorang lelaki muda mendatangi mereka dengan membawa baki isi makanan. Di kamar itupun sudah tidak terlalu bacin lagi. jembel tua itu kasihan juga. tapi jika ia diam pengemis itu juga diam. ia hampir muntah dibuatnya.terurai sampai diatas pundak. Karena tak tahan sore harinya tubuh Tiong Gi mulai demam. sehingga tidak terlalu leluasa untuk bergerak. Rupanya air yang disiramkan adalah air comberan. akhirnya ia menangis ter-gerung2 dengan keras. jembel itu kakinya diborgol rantai besi. si tua itu mengepalkan tangannya. namun ditolong oleh pengemis sabuk hitam. karena jembel itupun tidak kenal sama dirinya sendiri. Pengemis yang sekamar dengannya selalu di depan pintu jika sudah waktu kiriman ransum tiba. pindahkan aku ke tempat yang lain!” Penjaga bui yang berkepala gundul. sembari berkata. si jembel tua sudah menyerobotnya dulu. Keesokan harinya Tiong Gi sudah agak segar. berbagai perasaan timbul di hati Tiong Gi. Waktu terjatuh ke sungai dan terluka karena serangan gelap bajak sungai. Betapa setelah mengikuti bibi Ciu hidupnya terus dirundung kemalangan dan duka. Jembel tua itupun tambah keras memarahinya. Hanya sedikit nasi yang dimakannya. sakit hati sampai putus asa. Mendadak ia menangis.

pikir Tiong Gi.. Tapi bentuk barongsai itu bukan harimau melainkan mirip hewan melata seperti kelabang raksasa. Kelabang raksasa itu diiringkan oleh penjaga dan biksu baju merah. sejak beberapa hari setiap sore ia sering mendengar suara orang berkelahi dan selalu diakhiri dengan teriakan yang menyayat. Pada kedua tangan orang-orang yang memanggul kelabang itu terdapat sepasang gambreng. Setelah selesai seperti disedot selendang itu masuk kembali ke lubang di kepala...” “Wuussss.. Tiba-tiba rasa takut menyelimuti pikirannya.... Tiong Gi melihat gerakan hewan raksasa yang aneh.!” Tiong Gi terlongong-longong setengah mati mendengarnya... Tapi dilihatnya jembel yang sekamar dengannya cuma duduk terpekur diam.. Tiba-tiba “kaki depan” kelabang membunyikan gambreng. Tiong Gi menjadi kaku dan bebaslah selendang membelit beberapa bagian tubuhnya. Dugaan Tiong Gi tak keliru karena pada tengah malam beberapa penjaga membawa sisa-sisa makanan dan dibagikan ke penghuni penjara. awas kalau tidak hik. Bertambah hari bertambah aneh saja kejadian yang dialami oleh Tiong Gi. Selendang itu meluncur ke arah tubuh Tiong Gi dengan cepat.. biksu baju merah berkata. jantungnya berdegup kencang. sebuah selendang meluncur keluar lubang kecil di kepala.bu. dan mengomel-omel. Yang mengerikan adalah bentuk gambreng itu yang bergerigi runcing. menotok bagian sana-sini. baru pada larut malam ia tertidur.. Ia tak tahu bahwa jembel di sampingnya sedang duduk semedi.. diselingi berbagai nyanyian dan bunyi-bunyi lainnya. Di lorong yang menuju ke kamar tahanan.bi. sayang masih kurus.. untuk melindungi serangan khikang yang keluar dari gambreng. Di bagian kepala yang berukuran besar terdapat dua lubang.hik. suatu hari para penjaga seperti terlihat sibuk. dan menggunakan manusia sebagai kelinci percobaan ilmunya.. Ia tidak tahu bahwa suara yang didengar bukan suara orang berkelahi namun orang berlatih ilmu baru.. Biksu baju merahpun ikut-ikutan sibuk.ngalor-ngidul... kakinya lebih dari lima pasang.. apakah sian-li ingin memeriksanya. Ternyata pada bagian kepala kelabang . dan dia harus lebih gemuk. Kulitkulit yang menyelubunginya berbentuk perisai terbuat dari logam yang dicat keemasan. Karena ada keramaian Tiong Gi kesulitan tidur.. Suaranya melengking tingi mencicitcicit seperti burung hantu.. inilah kamar anak yang taecu maksud. “Sian-li.. Malam harinya Tiong Gi mendengar suara alunan musik yang merdu..” nyaring sekali ucapan yang dikeluarkan oleh orang terdepan dari kelabang raksasa itu.. “Heh heh heh. Tercium bau wangi sebelum selendang itu nyampai.srett. Sepertinya sedang ada pesta.! tanpa berkata ba.santapan lezatt. seminggu lagi aku hendak kemari lagi. sekonyong-konyong ia terbangun dan terperanjat kaget.hik. Setelah dua minggu tinggal di tempat sial itu.tuk. seperti barongsai tapi panjang. “Pranggg. meskipun Tiong Gi sudah berusaha menghidar selendang itu seakan-akan bagai ular yang bermata.... Tapi sering juga ia melihat pengemis itu diam termenung. Ia sampai menjerit lirih.tuk.. Begitu dekat baru kelihatan bahwa yang datang bukan raksasa namun rombongan orang yang dibungkus benda seperti barongsai. Setelah dekat...

. kalau begitu. Tiong Gi mendekatkan mukanya ke pintu jeruji. tiba-tiba selendang meluncur ke kepala gundul si biksu dan terdengar bunyi “Tokkk” seperti kepala diketok. tapi ruangannya sudah habis. yang satu dipanggul yang lain. dua orang penjaga dan biksu baju merah mendatangi kamar tahanan. Tapi ketika pengawal hendak membuka pintu si biksu mencegahnya......baiklah. aku ingin melihat kamar tahanan biksu tak berhati.. Terdengan bunyi bag-bug dan diakhiri dengan suara rintihan yang makin lama makin perlahan... Sayup-sayup ia masih mendengar percakapan mereka. Dan secara kebetulan hari itu muridmurid kuil Kong-sim liok si datang bersama serombongan biksu berbaju kuning.. Pengemis kumal itu tentu saja tidak membiarkan dirinya mendapat serangan dari selendang sehingga ia menangkis.” katanya sambil menyeret tubuh jembel tua. Setelah itu ketiga orang yang menjemput si jembel kembali menggelandangnya menuju kamar Tiong Gi. Par biksu baju kuning itu ada sejumlah lima belas orang yang . hari ini kamu akan menerima hukuman setimpal atas kesalahanmu. kapan ia bisa jadi gemuk.. Pintu kamar kemudian di buka. Tiong Gi tidak tahu apa yang terjadi tapi lewat setengah jam lapat-lapat ia mendengar suara suara pertarungan.lo-sian-li ingin tubuhnya gemuk sehingga sumsumnya segarrr. kemudian terdengan suara biksu baju merah yang dia hapal berseru. Begitu jembel tua keluar pintu ditutup kembali.” Merekapun kemudian berlalu... Tiong Gi bertanya-tanya dalam hati apa maksudnya tubuhnya supaya gemuk dan sumsumnya segar??? **** Peristiwa kematian biksu Kong-sim hosiang berbuntut panjang. “Jangan di kamar ini bodoh! Ingat pesan sian-li. buru-buru mengerahkan lweekang untuk melindungi telinganya.. Mayatnya sengaja dibuang di tempat umum.. “Emangnya kalau kurus kenapa twako?” tanya salah seorang pengawal. kamar sebelah sana saja.. *** Sore harinya.” Tiong Gi mencelos mendengar seruan itu. Ketua kami akan membuat perhitungan denganmu. Selendang ditarik kembali tidak melanjutkan serangan.. “Ha. Dan akhirnya iapun pingsan.. Tiba-tiba selendang itu meluncur lagi namun kali ini ke arah si jembel. . Yang lain sudah penuh semua.. “Iiihhh. “Aduhhh. namun tetap saja suara itu membuat kepalanya pening. “Jadi barusan biksu Kong-sim hosiang dibunuh..raksasa terdapat dua orang...mampuslah sekarang kau Kong-sim hosiang. ah bagaimana nasib si jembel?” pikirnya. anak itu tak gemuk-gemuk kalau dikumpulkan dengan si jembel.ha. “Stttt.ampunkan taecu sian-li. “Ampun sian-li... Meskipun lirih namun karena angin berhembus ke arah yang berlawanan maka Tiong Gi masih sempat mendengarnya. kenapa kau kumpulkan anak itu dengannya!?? Bodoh!!.” jawab biksu pelan..” “Brengsekk! Berani kau membantah subomu!” “Duggg!” Entah bagaimana caranya tiba-tiba saja biksu baju merah terjengkang karena terkena tendangan di bagian bokongnya.ha.ada jembel busuk di kamar ini. “Jembel tua.akan taecu pindah!” “Hemm bagus.. Bagi yang mengenal raksasa ini... Tiong Gi yang tak tahan menutup telinganya.

kenapa ini. Suatu ketika bertandang seorang pelancong dari barat. Hari sudah gelap.lari ke luar lewat pintu samping!” seru si pengemis baju kumal ini sambil lari ke arah samping. namun karena keahlian Kong-sim hosiang dalam menyembuhkan orang sakit lama-lama kuil berkembang menjadi klinik. Mereka mengisi hari dengan berdiskusi tentang berbagai hal dalam kehidupan. betapa sedih.. Di kuil itu mula-mula hanya melayani orang bersembahyang. tapi dari bangunan samping Tiong Gi melihat ada api dan asap tebal membumbung. tapi apapun ini harus kita laporkan ke ketua. “Prangg!” pintu kamar tahanan terbuka begitu si jembel mematahkan gembok penguncinya.. karena suasana hiruk pikuk tak seorangpun yang menghalagi lari mereka. gusar dan marahnya mereka semua.. Bab 7. sampai ke hal-hal filosofi dan kejiwaan. untuk meminta bantuan.bukankah ini tanda bekas pukulan tapak tangan delapan jurus sakti dari perkumpulan pengemis sabuk hitam?” timpal biksu kedua yang ikut memeriksi.. Pertentangan antara pengemis sabuk hitam dan biksu Siauw-lim cabang selatan Keluar dari gedung Tiong Gi lari ke selatan. Dan tepat pada hari yang sama mereka menemukan mayat biksu Kong-sim. dengan membawa golok besar. Ia sangka jembel itu hendak membunuhnya. Rupanya di daerah . Karena menyukai pemandangan di tepi sungai Yang-tse. Ia menjadi kebingungan. “Mengapa bisa begitu? Apakah orang-orang yang merebut kuil berasal dari Kun-lun pay? Sungguh sulit dipercaya. Tiba-tiba salah seorang yang mengerubuti mayat berseru. dan Kong-sim hosiang bertindak sebagai dokter. yang ia tahu di selatan terletak kota. Akibat terusir sejak peristiwa pengambil alihan kuil itu beberapa murid pergi ke Kuil Siauw Lim cabang selatan. Tiba-tiba pengemis berbaju kumal sudah ada di depan pintu kamar..rata-rata berkepandaian.. *** Apa sebenarnya yang terjadi di kuil Kong-sim liok si? Kuil Kong-sim liok si didirikan oleh Kong-sim hosiang. Tiong Gi salah terima. tak tahu bagaimana kalau api ikut melalap bangunan kamarnya. seorang suku uigur. bukankah di kota ini juga ada markas pengemis sabuk hitam? kita datangi mereka meminta pertanggung jawaban. “Ahh.. sedangkan pengemis baju kumal lari ke utara. Kong-sim hosiang menyambut dengan tangan terbuka dan melayani dengan baik. *** Malam harinya ketika sudah mulai mengatupkan mata terdengar suara ribut-ribut.” “Tidak usah sekarang! yang penting kita serbu dulu kuil untuk kita ambil alih kembali.. Maka berserulah ia minta tolong. “Ayo cepat keluar! Lari.. Ia tidak berniat kembali ke perkumpulan pengemis sabuk hitam lagi...bukankah ini bekas pukulang tongkat Thai-kek sintung hoat?” “Thai-kek sin-tung hoat. Tiong Gi tak tahu arah tujuan. seorang biksu murid Siauw-lim pay cabang selatan. ia tinggal beberapa hari di kuil. bukankah itu ilmu tongkat dari Kun-lun pay?” “Dan ini.” “Suheng.. rupanya terjadi kebakaran.

kumis dan jenggotnya dipelihara rapi. Orang yang terkena pukulan itu akan hancur isu perutnya. Biksu ini dipimpin oleh Kong-san hwesio. Beruntung jembel gila berlengan satu yang dijadikan tawanan berhasil lolos kemudian menolong Tiong Gi untuk melarikan diri. Maka tidak menunggu lama. perselisihan tak dapat dihindari maka terjadilah peristiwa pertempuran kecil di kuil Kong-sim liok si. Kedatangan biksu-biksu dari Siauw-lim cabang selatan sudah diketahui dengan baik oleh anak buah yang sengaja disebar untuk memata-matai meraka. Setelah itu ia memberikan uang yang cukup besar. Sungguh rencana busuk yang sangat keji. setelah bergabung dengan mereka. Mereka kehilangan empat orang biksu. pada suatu hari terjadilah penyerangan secara mendadak ke kuil Kong-sim liok si. Suatu ketika datanglah seorang tua ingin bersembahyang. Namun suasana panas penuh amarah masih membara. namun setengah bagian kuil sudah hangus terbakar. Mereka merencanakan tindakan selanjutnya yaitu mengadu domba kaum persilatan antara anak buah. Biksu yang bertubuh kekar ini masih adik seperguruan . ketika tujuh biksu datang ke markas pengemis sabuk hitam. gedung kemudian dibakar oleh anak buah kelabang emas. berkulit bersih. Di hasut seperti itu api kedengkian di hati Ang I hwesio makin membara sehingga ia menurut saja diajak oleh Hiat kiam Lomo berguru ke biang iblis kelabang emas. makin tinggi pohon makin kencang angin bertiup. bersama-sama dengan anak buah kelabang emas. karena sedemikian terkesan dengan pelayanan biksu Kong-sim ia kemudian meninggalkan satu buah kitab tentang ilmu jiwa yang kemudian diterjemahkan sendiri ke bahasa mandarin. Ajakan Hiat kiam Lomo bukan tanpa tujuan. Sesuai hukum alam. Ilmu tapak kelabang adalah sejenis pukulan yang sangat kejam dan mengandung racun kelabang yang sangat hebat. mayat semua biksu termasuk Kong-sim hosiang dikremasi. Matahari baru sepenggalah naik. kuil Tong-im bio pimpinan Ang I hwesio si biksu baju merah. Mereka di terima oleh keempat pimpinan kaypang di ruang lian-bun-tia. Kong-sim hosiang sudah tidak pernah berlatih silat lagi. namun setelah selesai ia mengajak Ang I hwesio untuk bercakap-cakap. Karena mempelajari ilmu jiwa maka Kong-sim hosiang bisa mengobati penderita sakit mental maupun jiwa. yang selalu ingin dipanggil sian-li (dewi). Orang tua itu berumuran enam puluhan. Dua tiga kali datang maka mulailah ia terpengaruh oleh omongan orang tua yang bukan lain Hiat kiam Lomo. dan mereka melarikan diri. Dari duapuluhan murid yang dimiliki hanya empat orang yang berhasil meloloskan diri atau sengaja dilepaskan. Malam ketika Tiong Gi mendengar suara tetabuhan adalah malam kedatangan Kim-hu moli si biang iblis kelabang emas bersama Hiat kiam Lomo. demikian juga murid-muridnya. mengenakan jubah berwarna ungu. Sisa-sisa pasien diangkut dengan gerobak-gerobak kuda. dengan memakai pasien-pasien lama kuil sebagai obyek percobaan latihan ilmu ini. Demi merasakan kemunduran kuilnya. Kuilnya makin besar dan berkembang.asalnya pelancong ini adalah seorang ahli kejiwaan. Pada saat yang sama ternyata beberapa orang berseragam pengemis sabuk hitam sudah menanti di kuil. Dan angin itu bertiup dari salah satu kuil yang merasa tersaingi. keesokan harinya tujuh biksu mendatangi markas pengemis sabuk hitam untuk meminta pertanggung jawaban. Maka dengan mudah kuil diduduki dan biksu berhati kosong karena ketulusannya itu dapat ditawan. Suara-suara seperti pertarungan yang didengar Tiong Gi sebenarnya adalah latihan ilmu ini. Perlahan-lahan kuil bisa dibangun kembali. Pasiennya berasal dari berbagai penjuru dunia. Ang I hwesio menjadi gusar bahkan mulai panik ketika muridmuridnya satu persatu meninggalkannya. Maka. sedang sisanya diberi dua pilihan mengabdi pada Ang I hwesio atau dijadikan kelinci percobaan ilmu pukulan tapak kelabang yang dikembangkan oleh nenek kelabang emas yang mendatangi Tiong Gi dalam bentuk kelabang raksasa. Jika kuat bertahan maka kulitnya akan melepuh dan menjadi borok di sekujur tubuhnya. Setelah setengah hari bertempur akhirnya anak murid Kong-sim hosiang yang dibantu biksu-biksu dari Siauw-lim berhasil menguasai kembali kuil. maka disusunlah rencana menyerang dan menduduki kuil Kong-sim liok si. Sejak mendirikan kuil. Kuil Tong-im bio menjadi sepi pengunjung sejak pesaingnya maju.

Semalam kami mendatangi Kong-sim liok si. siapa lagi yang mampu menggunakan jurus itu kalau bukan pengemis sabuk hitam?” “Ahhh. “Su-wi kay-pangcu. tapak tangan delapan jurus sakti” teriakan itu hampir serempak meloncat keluar dari mulut ke-empat pimpinan kay-pang sabuk hitam. berani berbuat tak mau tanggung jawab. di depan mereka berdiri gagak ke-empat pimpinan pengemis. pengemis kedua yang bertubung tinggi berjenggot panjang berjuluk Lim Kang lo-kay. selain ke-empat pimpinan hanya ada dua anggota. “Ah selamat datang cit-suhu. Saat ke-empat pimpinan kay-pang melihat secara seksama.. kalau saya tidak salah lihat bukanlah cit-suhu ini dari Siauwlim pay cabang selatan? Gerangan apakah yang membawa langkah cit-wi suhu dari Wu-han berkenan mengunjungi gubug kami yang lusuh ini?” sapa Tiong Kang lo-kay. Dengan agak tergetar Kong-san hosiang mengeluarkan baju luar yang ditemukan dipakai oleh biksu Kong-sim hosiang...benar memang itu adalah pukulan tapak tangan kay-pang kami. “Apa maksud lo-suhu? Kami tidak mengerti.. kemudian ujarnya “Sungguh kami sendiri tidak memahami apa yang terjadi di kuil Kong-sim liok si. sampai kemudian kami mendengar kuil itu diambil alih oleh kelompok lain. namun dengan sikap siap siaga dan penuh kewaspadaan semua mata ditujukan kepada mereka.. “Jika masih belum puas. dan mendapatkan beberapa pengemis sabuk hitam berada di belakang pihak perampas kuil kami.. bawa kemari!” perintah Kong-san sambil bertepuk tangan.” “Cuhh.” bantah Kong-san hwesio. Pengemis berbaju kain satin tua. akan tetapi kini dikelilingi pagar hidup berupa anak buah kay-pang yang berdiri dbersaf-saf. Harap su-wi pangcu bisa menjelaskan dan mempertanggung jawabkan peristiwa di kuil suheng kami! Apa sebenarnya yang kay-pang sabuk hitam kehendaki?” Tiong Kang... Jumlah anak buah kay-pang yang berkumpul disitu tidak kurang dari lima puluh orang.. kemaren kami menemukan jenasah yang bukan lain adalah tubuh Kong-sim hosiang. yang salah satunya kami kenali sebagai pukulan Pat sin kun ciang hoat. tidak ada yang bicara. yang memiliki ilmu itu dalam tingkat yang masih rendah.. Pang-cu dari sabuk hitam menarik nafas dalam-dalam. sungguh watak rendahan!” potong salah seorang biksu yang bertubuh kurus berwajah tirus yang sudah agak tua. Kami ikut prihatin dengan kondisi yang dialami kuil itu.ah aku sendiripun belum bisa memukul sehebat ini.. ataukah yang berbuat pengemis dari pusat atau cabang lain” pikirnya penuh kekawatiran. tapi.. di tubuhnya terlihat beberapa bekas pukulan. pengemis . Kami tidak bercuriga karena pemimpin baru kuil itu juga seorang biksu. tidak berjenggot. Kong-san hwesio sangat tegas dan keras memegang prinsip. “Siapakah dia? Mungkinkah ada anggota pengemis yang memiliki pukulan lebih hebat dari yang kuasai. Ruangan itu cukup luas. kami sengaja datang atas keributan di Kong-sim liok si. Di cabang Yi Chang sendiri. “Hmmm.. terus terang saja kedatangan kami ini bukan untuk beramah-tamah..” “Memang barangkali saja benar ada biksu dari kuil lain yang mengambil alih.. Tiong Kang lo-kay agak maju ke depan menatap lekat-lekat ke baju di tangan Kong-san hwesio. bertubuh sedang. sehingga cenderung terkesan kaku. Hubungan kami dengan kuil itu dari dulu selalu akur. tapi dukungan kay-pang sabuk hitam kepada pihak perampok sungguh tidak kami mengerti.Kong-sim hosiang. Seruni lebat di rawa lembab. yang menajadi ketua itu berjuluk Tiong Kang lo-kay. namun berbeda dengan Kong-sim hosiang yang berwatak lemah lembut dan welas asih. “Su-wi pangcu. jurus ke tujuh .! Kura-kura dalam perahu. pengemis ketiga bertubuh pendek kurus berjuluk Te Kang lo-kay sedang yang terakhir berjuluk Siong Kang lo-kay.. Pukulan tapak tangan delapan jurus sakti hanya dimiliki oleh pengemis tingkat tinggi di kay-pang sabuk hitam. Dua orang biksu tiba-tiba masuk dengan menyeret seorang berpakaian pengemis. biar gak tanggung-tanggung. “Lihat ini buktinya!” sahut Kong-san hwesio tegas..” desis Tiong Kang lo-kay dengan wajah memucat.

hanya jerit rintih Nyo Beng yang terdengar... Mana mungkin Nyo Beng yang berbuat itu...lihat suheng. sebelum aku menurunkan tangan kerasku!” tanya pangcu dengan suara keras namun terdengar bergetar.... karena ia juga mengemis di pasar Kee-siang. Sambil membawa tubuh Nyo Beng. “Sin Hwat! Siapakah pengemis ini? Setahuku tidak ada anak buah kita bernama Ciam Tek. jembel busuk macam mereka mana tahu harga diri dan kehormatan.. Lim-kang terdiam. tapi ia bukan anggota pengemis sabuk hitam. Wajah Tiong Kang lo-kay yang sudah dari tadi memucat semakin pias. lagi pula bukankah semalam pang-cu juga sempat melihat Nyo Beng dan sam-te berlatih Pat sin kun ciang hoat.” Beberapa kali ia memukul dan menotok hingga Nyo Beng terkapar. segera ia kirimkan beberapa totokan sehingga tubuh pengemis itu menjadi kaku..bukan aku pelakunya! Aku tak tahu apa-apa!” serunya sambil berkelit dari kerubungan orang-orang.... bukan aku...... wajahnya bulat bertahi lalat di dahi kiri. Rupanya yang berseru adalah Sin Hwat.” cela biksu kurus yang bermulut tajam.. tapi tubuhnya gemuk. “Nyo Beng! Katakan apa alibimu.. Tiong Kang lo-kay bertindak cepat.cu-wi lo-suhu salah sangka. seluruh urat-uratnya telah putus.!” “Aacchhhhh. yang berarti hilanglah seluruh kemampuannya bersilat selamanya. coba sebutkan ciri-ciri pimpinan yang mengajak kamu dan tunjuk orang itu. “Pang-cu apalagi sekarang yang menjadi keraguanmu?” desak Kong-san hwesio. meskipun ia yakin setelah diskusi itu Nyo Beng kecapaikan dan pasti langsung tidur.. betapa setelah bukti kita ajukan mereka masih coba berkelit cuci tangan.. “Eehh aku.” tiba-tiba ji-kay Lim kang membantah tuduhan-tuduhan yang dialamatkan ke Nyo Beng.. “Alahh paling-paling hanya akan menjilat ludah sendiri. jika ada di sini biar aku yang akan menghukumnya!” desak Tiong Kang dengan suara mengguntur... Suasana menjadi ramai. “Dess. “Aku tidak mengamati seksama wajahnya. “Nah.... “Pang-cu tunggu dulu. aku memang mengenal Ciam Tek. Tiong Kang.. pengemis berbaju kedodoran bertubuh gemuk bertahi lalat di dahi yang bediri di belakang su-kay.. “Apakah kalian yakin semalaman penuh terus menerus di dekat Nyo Beng?” tanya biksu kurus. betapa menjemukan!” sahut biksu bertubuh kurus yang merupakan sute kelima dari Kong-san hwesio.. kay-pangcu terkejut mendengar seruan ini.. malam sebelum kejadian aku bersama Nyo Beng sedang berdiskusi tentang kebangkitan musuh-musuh kerajaan.. Ciam Tek apakah yang terjadi. Sin Hwat segera berlari ke depan memberi pertolongan kepada Nyo Beng. “Ah.. wajahnya mengeras.muda yang didorong dengan paksa bersimpuh di tengah ruangan.. Sin Hwat sempat menatap tajam wajah Tiong pang-cu dengan tatapan penuh perasaan tak percaya dan penasaran.nah.???”. tapi dia tidak bisa menjamin Nyo Beng tidak kemana-mana.. “Eh. Setelah . namun masih bisa bicara..” desak sam-kay dengan wajah memerah.tuk.” terang Sin Hwat meluruskan kesalah pahaman.aku diajak oleh kawan-kawan pengemis lain sebagian tidak kukenal tapi mereka memakai sabuk hitam dan bisa memainkan jurus yang kukenal dari sabuk hitam” jawab Ciam Tek terbata-bata.tuk. Dua pengemis muda lainnya membantu.tuk.” Semua orang terkejut dan serempak mengarahkan pandangan pada satu titik. “Ciam Tek!. membayangkan bahwa ada anak buah pengemis yang terlibat. Dengan penuh kegusaran dan rasa penasaran diserangnya Nyo Beng dengan jurus-jurus pilihan Pat sin kun ciang hoat.. ia mengeluh dalam hati.tuk. coba katakan sebenarnya!” “A. Suasana hening. Yang dijadikan sasaran tembak tercekat hatinya serasa mencelat saking terperanjatnya. sekonyong-konyong dari belakang ada seruan memanggil “Ciam Tek.. Nyo Beng digotong ke dalam.

. Besar kecurigaanku pada perkembangan bajak sungai Tiat-sim heng-kang. Kong-san hwesio tak kuasa mencegah. kamulah muridku yang paling. dan mengurungnya di kamar tahanan bagian belakang. satunya lagi untuk suhu Pek Mau lo-kay.. Kalau tadi siang aku memutuskan untuk melawan pasti permusuhan akan makin runcing dan menyeret dua perkumpulan besar. jangan sampai seorangpun tahu kepergianmu.. aku telah memberikan hukuman setimpal pada anggota kami sesuai dengan ucapanku. Aku yakin ada pihak-pihak tertentu yang bermain mengadu domba berbagai perkumpulan silat. “Lo-suhu tolong aku.” *** Kita tinggalkan dulu Sin Hwat yang sedang mendapatkan tugas ke barat.. namun baru dua tindak terdengar seruan Tiong Kang pang-cu. Mereka bisa melihat sendiri ketua pengemis itu menghukum Nyo Beng hingga berdarah-darah. sementara ini kita anggap selesai urusan kematian suheng Kong-sim hoasiang!” perintah Kong-san hwesio pada anak buahnya. Bergegas mereka membalikkan badan.. jangan tinggalkan aku disini!” ratap Ciam Tek sambil memeluk kaki salah satu pengawal. namun ada rasa puas tersendiri karena merasa biang keladi peristiwa kehancuran kuil Kong-sim liok si sudah diberi balasan setimpal. aku mengutusmu berangkat ke Chong King melaporkan kejadian ini pada perkumpulan pusat. Kata-katanya tidak lagi lembut. Dan di dalampun aku yakin ada pengkhianat. Hanya aku sangat ragu siapakah mereka..mereka masuk ke dalam. Mereka tidak meragukan pukulan kay-pangcu.. Meski kegeraman masih belum pudar dari wajah-wajah mereka. “Cit-wi lo-suhu. Dengan langkah cepat karena menggunakan ginkang mereka bergerak ke utara. dan nenek kelabang emas. semua mulut tertutup rapat. Sekarang kamu sudah cukup dewasa. kami benarbenar akan melupakan rasa malu untuk mengambil tindakan apapun untuk memaksa cit-wi keluar dari sini... Oleh karena itu. Rahasiakan tugas dan kepergianmu dari siapapun. “Tunggu! Tinggalkan bocah she Ciam di sini!” Ke tujuh biksu itu menatap Ciam Tek yang sudah hendak dibawa oleh dua pengawal mereka... Sim Hwat melihat wajah suhunya yang biasanya tenang dan sejuk seperti aliran sungai Yang tse di musim dingin sekarang menjadi keruh dan bergelombang seperti deru banjir sungai Huang di musim hujan.. Semua orang seperti sepakat mengunci rapat-rapat mulutnya. “Persiapkan barisan tujuh pintu bintang! . Mari kita ikuti perjalanan biksu-biksu dari Siauw-lim selatan... sekarang juga kalau cit-wi tidak tinggalkan markas kami. Tadi siang aku menghadapi suasana yang sangat mendesak dan menjepit posisi pengemis sabuk hitam. Ciam Tek segera berlutut dengan tubuh gemetar. “Sin Hwat.!” tubuh Ciam Tek terlempar dua tombak sehingga tepat terkapar di depan kaki Tiong Kang pang-cu. Satu untuk tai pang-cu. belum terseret oleh arus.. namun aku yakin kamu masih polos. namun itu kulakukan demi melindungi perkumpulan kita.pertikaian seperti sekarang. Tapi siapa nyana di pinggiran hutan menuju ke perbukitan di utara kota. Malam harinya.. dan terputus-putus diselingi hisapan nafas yang dalam. karena aku khawatir bajak ini masih berkeliaran di sepanjang sungai Yang tse di barat kota ini.. Tiong pang-cu memanggil Sin Hwat ke kamarnya. dengan suara keren Tiong Kang pang-cu membentak rombongan biksu.” “Hayo kita pulang. “Desss. dengarkanlah perintahku ini.. dan tempuhlah jalan darat sampai kota Hong ji. meski aku yakin ia tak salah.. Tiong Kang pang-cu segera memerintahkan anak buah untuk merawat Ciam Tek. pemimpin mereka tiba-tiba berhenti. Suasana di markas pengemis sabuk biru menjadi sangat beku. dan iapun berpikir membenarkan ucapan ngosutenya..kupercaya. Sepanjang sisa hidupku aku pasti akan sangat menyesali perbuatanku ini. Tak ada yang berbicara di sepanjang perjalanan itu. Namun sekonyong-konyong kesiuran angin menyambar dadanya disusul datangnya tendangan dari biksu kurus bermata tajam. bawalah dua suratku ini. “Kami sudah tak memerlukanmu lagi!” bentak biksu kurus. Sekarang juga kamu berkemas.... Terpaksa aku mengorbankan Nyo Beng. Setelah menyelesaikan masalah dengan kaypang mereka bergegas kembali ke kuil Kong-sing liok si.

.” Kehadirannya diikuti oleh lima orang yang berseragam coklat bersabuk hitam dipimpin oleh seorang tua berumur enam puluhan berwajah putih halus.. “Nyo Beng palsu! Orang lain boleh kau tipu dengan kedok busukmu... Meskipun mereka bertiga namun sejatinya justru merekalah yang dikeroyok oleh delapan bayangan Nyo Beng... Namun ke-empat biksu yang masih mampu berdiri itu masih tegak dengan sikap waspada di tempat masing-masing..” belum selesai Kong-san hwesio menyelesaikan perintah ke anak buahnya sekonyong-konyong dari segala penjuru meluncur senjata-senjata rahasia berbentuk bintang.. suhu dari Tiong Kang yang sudah menggundurkan diri selama 30 tahunan. Dibentak seperti itu Nyo Beng jadian hanya terkekh saja sedang salah seorang yang sepertinya memimpin rombongan itu memberi perintah....cring.. Dan sesaat setelah menyentuh tanah putuslah hubungan badan dan roh mereka.cring..he..cring cring. Dengan menggunakan pukulan-pukulan Pat sin kun ciang hoat yang tingkatannnya sudah sangat dasyat. Semak-semak dan batu kerikil semua bertumbangan yang terbang terkena kesiuran hawa yang keluar dari Pat sin kun ciang hoat itu.he.. dan kau Ang sicu dan sam-kay sicu tangkap hidup-hidup biksu Kong-san. Kong-san hwesio yang paling awas di antara mereka merasakan adanya kejanggalan.... salah satunya berkepala gundul.cep aurrrgghhh ” Puluhan senjata rahasia yang berwaran hijau itu meluncur dengan cepat menghujani mereka.cep.. “Nyo.. belum hilang kekagetan mereka karena suheng yang memimpin tiba-tiba berteriak memerintah tiba-tiba datang kesiuran angin disertai hujan senjata gelap... Pertandingan ke tiga biksu dengan Nyo Beng tidak berlangsung lama.wusss. Menghadapi gempuran demi gempuran ke-tiga biksu seperti serpihan kertas yang berputar-putar terkena arus yang disemburkan dari hawa pukulan Pat sin kun ciang hoat. Secepat kemampuan mereka memutar toya..cep..” desis mulut mereka dengan tubuh agak tergetar. Dengan cepat Kong-san hwesio memutar tongkat yang dibawanya. Sementara itu keempat biksu yang masih tersisa juga tidak mendapat kesempatan untuk menolong sute-sute mereka karena mereka juga sedang disibukkan oleh serangan gelap... tapi aku Kong-san hwesio tak bisa kau kelabuhi. Kong-san hosiang membentak dengan suara menggelegar “Pengecut rendah keluar kalian! Siapa berani bermain gila dengan Wu Han cit ceng” Tiba-tiba melompat keluar seorang bertubuh gemuk bertahi lalat di dahi sambil tertwa terkekeh-kekeh.. majulah biar pinceng antarkan rohmu ke alamat Giam-lo-ong yang tepat!” bentak Kong-san dengan mata berapi-api.wussss. Selesai hujan senjata yang bertubi-tubi suasana kembali tenang. Tiga orang yang terkena termasuk biksu kurus berlidah sembilu hanya mampu menjerit sebelum berkelejotan tewas.ha. Sungguh suatu tingkatan tapak tangan delapan jurus sakti yang sejajar dengan ketua kay-pang sabuk hitam pusat atau bahkan setingkat dengan Pek Mau lo-kay sendiri. semutpun pasti tak takut melawan kalian ha.ha.. “Wusss.. namun dari cara tertawa dan deretan gigi yang terlihat Kong-san tahu bahwa orang yang mirip dengan Nyo Beng berkedok......... ketiga biksu dari Wu Han itu hanya bisa bertahan. Sebelum tubuh ke-tiganya terjatuh berdebum di tanah dari mulut mereka telah menyembur darah segar. “He. Jurus-jurus mereka mental semua terkena hawa pukulan yang keluar dari tangan Nyo Beng. tikus gundul dari Wu Han kini tinggal berempat. “Nyo sicu.Ayaaa. namun masih ada satu dua senjata yang meluncur bebas menembus kulit daging mereka... Betapa terperanjatnya ke-empat biksu dari Siauw-lim cabang selatan yang berpusat di Wu Han itu.. .. Empat orang dibelakangnya berumuran empat puluh sampai lima puluh tahunan... Seluruh tubuhnya merubah membiru tanda keracunan yang hebat... namun tak demikian dengan tiga sutenya.. diikuti oleh beberapa anggota. hadapi tiga tikus gundul yang lain. hati-hati dengan gebukannya!” Serempak berlima mereka terjun ke gelanggang menyerang ke empat biksu yang masih tersisa.Nyooo Beng... Namun terlambat meskipun beberapa senjata bisa mereka tangkis. Lima belas jurus berlalu dan mereka sudah terlempar seperti layang-layang putus talinya.

heh.heh. Dengan sisa-sisa tenaganya Kong-san duduk bersemedi memusatkan perhatian pada penyembuhan luka dalam yang sangat hebat. Setelah diam sejenak ia melanjutkan lagi analisisnya.” “Dan kau Tao Leng. sedangkan mayat yang dibinasakan oleh pengemis berwajah Nyo Beng dibiarkan begitu saja. Tiga pukulan tapak kelabang yang berwarna biru telah membuatnya keracunan. setelah selesai kita akan kembali serbu. “Cuhh! Swi Kiong selama itu kau selalu mengagungkan kebodohan sendiri. “Tao Leng bangunlah! cukup sudah sandiwaramu yang mengesankan itu..rencanamu memang hebat Loco! Tak heran jika sian-li sangat sayang kepadamu!” dengan terkekeh-kekeh biksu yang ternyata pengkhianat itu mendekati Kongsan hwesio. dapat dipastikan pertarungan dengan pengemis sabuk hitam akan makin melemahkan kekuatan mereka yang selalu sok suci mengaku sebagai pendekar. apalagi keroco macam kamu. ayo lakukan tugasmu selanjutnya sesuai rencana kita!” ucapan orang tua yang menjadi pimpinan mereka itu.Keadaan Kong-san hwesio tidak lebih baik. dan kalau Siauwlim pusat turun tangan. posisi Siauw-lim selatan akan menjadi lemah. sedangkan Siauw-lim cap sha lohan gurumu sendiri juga belum tentu mampu melawan kamu. hari ini kau saksikanlah aku Tao Leng. sedangkan jika dilakukan sendiri maka banyak kelemahan yang tidak ditutupi oleh kawan yang lain. menyatakan permusuhan pada Siauw-lim” “Tao Leng. golongan bersih. Ia sendiri tak yakin jika tidak segera mendapat pertolongan berapa menit lagi ia mampu bertahan.... Oleh karena itu tak hiran pada jurus ke enam belas. Tubuh Kong-san hwesio limbung kemudian roboh. roboh dan berdarah. serangan ke-empat orang yang mengeroyoknya sungguh sangat dasyat. “Bodoh. “Dengan kematian Wu Han cit ceng. apa-apaan sih! Usaha kita masih baru permulaan tidak perlu didramatisir seperti itu! Sekarang tugas kalian adalah mengubur mereka yang terkena bintang kelabang maut! Kalian bertiga bantu Toa Leng!” Bersama-sama mereka kemudian membawa jenasah ke sebuah lubang gua kecil dan menimbunnya dengan batu. sebuah pukulan tapak tangan dengan telak mengenai pinggang Kongsan hwesio disusul pukulan yang lain ke beberapa bagian tubuhnya. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. tugasmu sekarang adalah kembali ke Wu Han. putra Tao Keng Bu. Nyo Beng palsu dan tiga orang anak buah yang mengeroyok Kong-san menjadi heran karena mereka tidak ada yang bernama Toa Leng. daerah di lembah dua sungai . jangan bunuh ia masih diperlukan!” seru orang tua berwajah putih itu. sebentar lagi kuil itu benar-benar akan menjadi markas kita bukan Loco?” tanya orang tua berkepala gundul. Lima puluh tahun aku menahan dendam.” perintah orang tua yang bukan lain adalah Hiat kiam Lomo. “Heh. Namun keheranan itu menjadi semakin menjadi-jadi ketiga tiba-tiba biksu kurus bermulut setajam sembilu itu bangkit mengibaskibas bajunya dan mebuang senjata rahasia yang mengenai dadanya. Ia sudah tidak berdaya ketika sebuah tendangan meluncur ke arah dadanya. Namun ketika gerakan kaki itu sudah tinggal berjarak satu dim terdengar tangkisan. Kerbau gundul macam kamu mana mampu menandingi kami. dan sudi merendahkan diri berguru di kuil kecil Wu Han. “Dessss! Tahan. Biarkan mereka membangun lagi kuil yang rusak itu. terkena senjata gelap. Lohan sian tung hoat pada dasarnya merupakan jurus-jurus pukulan toya yang merupakan jurus untuk membentuk barisan sehingga lebih efektif kalau dilakukan secara bersamaan dengan membentuk suatu barisan.. Gerakan pertahanan Lohan sian tung hoat tidak mampu membendung serbuan ke-empat serangan tangan kosong yang membawa hawa panas beracun. tunggu dulu. Dan dengan demikian rencana mengambil alih kekuasaan kay-pang sabuk hitam akan mulus kan Nyo Beng sicu? Tak kan lama lagi. “Ahhh lega rasanya. Kiranya ia hanya berpura-pura saja. dan melaporkan peristiwa ini ke Hong thio Siauw-lim di Siong san.

Dua pendekar itu terlalu perkasa untuk Tao Leng. Sapa kira kedatangan rombongan anak buah tiga iblis lembah dua sungai membawa oleh-oleh mayat ayahnya. mereka merajalela menebar kejahatan di wilayah itu. dan jadilah ia biksu yang ikut juga malang melintang dengan keenam saudara seperguruannya sebagai Wu Han cit ceng. Siapakah sebenarnya Tao Leng? Orang tua Tao Leng yang bernama Tao Keng Bu adalah adik sepupu dari biang iblis kelabang emas. ia segolongan dengan kita.” Akhirnya setelah senja tiba. kejadian ini sungguh menggoreskan kesedihan dan kesumat yang membara. hanya kedua kaki sebatas lutut dan tangan sebatas siku yang dikutungi sebagai hukuman. Pencurian. Dan kita tidak akan malu untuk menuntut posisi tinggi di samping Ong-ya.” Semua yang mendengar analisa ini mengangguk-angguk tanda setuju dan tersenyum membayangkan masa depan yang lebih cerah.benar-benar akan kita kuasai. sedang satunya lagi berjuluk pendekar bukit merak yang tinggal di bukit merak di kawasan pegunungan Tapa san.. Atas saran iblis kelabang emas. ia kemudian diminta untuk berpurapura menjadi biksu di kuil Siauw-lim cabang Wu Han. dengan suami nenek iblis kelabang emas. langit mulai semburat merah.“Bagimana halnya dengan Hek in pang di bukit awan hitam di tepi selatan Yang tse?” “Hemm. atas usul iblis kelabang emas ia diajak bersama-sama membasmi keturunan pendekar bukit merak. Sedang dalam keadaan tidak terusik saja para pendekar dari golongan yang lurus akan selalu menentang mereka. Lembah delapan rembulan . Maka suatu ketika datangnya dua pendekar muda yang memiliki kepandaian luar biasa yang menundukkan mereka. Nenek iblis kelabang emas sendiri masih beruntung dapat diampuni oleh kedua pendekar itu. pencopetan. Ketiga iblis itu suatu ketika mengusik perguruan-perguruan golongan lurus seperti Siauwlim pay dan Kong-thong pay. namun mari kita ikuti dulu perjalanan Tiong Gi. Tao Leng masih berumur lima tahun saat kejadian itu biasanya kalau ayahnya pergi jauh ia selalu mendapat oleh-oleh yang ditunggu-tunggu. Namun dendam Tao Leng belumlah pupus. Itulah sekelumit kisah dari Tao Leng yang mempunyai nama biksu Kong-meng hwesio. Bab 8. ia mencoba mencari pelampiasan. Rencana-rencana yang kejih yang menyembur dari mulut-mulut mereka sungguh merupakan racun yang akan mengancam dunia persilatan. Apakah yang akan terjadi pada kay-pang sabuk hitam yang bertahun-tahun terkenal sebagai kay-pang yang menjunjung tinggi kejujuran dan kegagahan? Mungkinkah mereka akan bertarung sendiri dengan biksu-biksu suci dari Siauw-lim si? Masih banyak pertanyaan lain yang masih menggantung.. sayang hingga akhir hayat dua pendekar itu upaya balas dendam Tao Leng tak pernah kesampaian.selama ini memang Suma Tiat selalu keras kepala.. Kaum pendekar benar-benar dalam bahaya. perampokan merupakan berita sehari-hari yang biasa terdengar. tak bakalan berani melawan arus kita yang sudah sedemikian besar. meskipun masih menyisakan satu anak yang seperti lenyap ditelan bumi pada saat keluarga itu dibantai. Puluhan tahun yang silam mereka bertiga. semerah percikan-percikan di atas rumput dan batu bekas pertarungan yang tidak seimbang itu. ke-enam iblis berbaju manusia itupun meninggalkan pinggiran hutan itu. Kalaupun tidak biarlah Kwi ong yang mengatasi. ia memiliki hubungan baik dengan mereka. Karena tidak mampu membalas sakit hatinya. apalagi ini mereka telah memberanikan diri mengusik ketenangan biara. Salah satu pendekar itu adalah murid preman dari ketua kuil Siauw-lim si waktu itu. Tao Keng Bu dan kakaknya tewas dalam pertarungan hidup mati selama sehari semalam. Keturunan pendekar bukit merak akhirnya dapat terbasmi. Pada saat itu kerajaan yang berada di bawah dinasti Tang sudah kehilangan kendali pemerintahannya. merupakan tiga serangkai iblis sakti yang menguasai lembah di antara dua sungai. sehingga situasi keamanan sangat buruk. namun tiba-tiba keceriaan itu dipecahkan oleh sebuah pertanyaan. sedang pendekar dari Siauw-lim tidak punya keturunan.

“Eh siauw suhu dapatkah membantu kami. Setelah keluar dari warung. maka percakapan mereka bisa ditangkap dengan baik. Setelah berkumpul sebentar berbagi tugas.. “Nanti siang kalau sudah ramai pasti banyak orang yang tahu. Ada enam orang yang turun..tidak. sialan!” gerutu orang kedua. Desa tempat tinggal mereka baru saja diserang oleh orang-orang jahat. Setelah keluar dari kuil Tiong Gi lari keselatan ke arah kota.Pada malam hari kebakaran di Kong-sim liok si. kabar berita apa yang lopeh cari di kota ini?” tanya Tiong Gi ketika mereka sudah dekat dengannya. hanya satu dua warung yang sudah buka. beruntunglah keduanya tidak lari ke arah timur. “Ahhh. di sana pasti orangorang yang datang dari jauh tahu banyak informasi dari berbagai tempat!” usul orang ketiga. “Tak ada satu informasipun yang penting.aku masih kepikiran nasib orang tua kita yang harus ditinggalkan anak-cucunya” desis orang kedua. karena arah itu yang dituju oleh musuh-musuh yang menangkap mereka. Tiong Gi mengangsurkan tangannya menadah. “Lopeh. tapi twako mereka . “Tidak. “Diam! Anak kecil tahu apa?” sahut orang kedua.” ujar orang tertua. Kiranya mereka adalah beberapa keluarga yang sedang pindahan. Pakaiannya ringkas dan membawa senjata yang tergantung di pinggang. “Gimana kalau kita cari penginapan saja twako. Dilihat dari bentuknya kereta itu merupakan jenis kereta barang yang biasa dipakai oleh piauw-su. dan karena hari masih agak gelap pasar itu masih sepi. atau lebih tepatnya mengungsi. tiga orang kemudian berjalan menuju ke pasar. kalau sudah mendapat tempat aman kita ajak orang tua ke tempat kita yang baru. Tiong Gi diselamatkan oleh jembel berlengan tunggal.. rata-rata berumuran tiga puluh lima hingga empat puluh lima tahun. wajah mereka masih tetap bersungut-sungut.” Tiong Gi mendengarkan dengan baik ucapan mereka. Secara tak sengaja Tiong Gi mendengar percakapan ke-tiga orang ini. kita cari dulu informasi di kota ini. kita harus berhemat uang! Kita tidak sedang mengirim barang.” jawab orang tertua. “Sam-te. sedang tangan kirinya mengelus perutnya. Di pasar itu Tiong Gi duduk di tepi jalan masuk ke pasar. Orang kedua sudah melotot.. Tiba-tiba ia melihat serombongan kereta yang berhenti di pinggir jalan besar menuju ke pasar. Beberapa lelaki turun dari kereta dengan wajah kusut dan pakaian kumal meskipun terbuat dari bahan yang mahal. apakah aman atau tidak. sedangkan pengemis berlengan tunggal lari ke utara.” jawab orang tertua. Tapi apa boleh buat. Aku tahu kita sudah lelah sekali. kami ingin tahu apakah kota ini pernah didatangi orang-orang yang mencari-cari anak kecil?” tanya orang pertama. Orang ketiga menyikut pinggangnya. Semalaman Tiong Gi berjalan ke Yi Chang hingga akhirnya menjelang fajar ia sampai di sebuah pasar. “Sudahlah ji-te. tanda mereka orang-orang yang tahu silat. “Twako. demi keselamatan anak-anak kita. apakah kita berhenti dan menetap di kota ini?” orang termuda bertanya pada salah seorang dari kedua orang yang lebih tua. kita hanya pindah untuk sementara. Sengaja ia menuju ke pasar karena dia merasa lapar dan di tempat ini banyak dijumpai warung makan.

Selanjutnya Tiong Gi menceritakan kejadian yang dialami di kuil itu secara singkat. Sambil cemberut orang itu mau juga ngasih sambil ngancam. . Di dalam kereta terdapat ibu dan beberapa anak-anak. Dalam keadaan tergesa-gesa mereka mencoba menyelamatkan anak istri mereka. Cerita mereka sungguh berkesan di hati Tiong Gi. Yach itulah yang dirasakah oleh Tiong Gi. Kasihan sekali nasib Tiong Gi. sehingga dua suadara mereka ada yang gugur.” papar Tiong Gi. Semalam terjadi pembakaran kuil Kong-sim liok si. Ketika mereka beristirahat sore hari. kenapa siauw suhu tidak ikut bersama kami saja?” ajak orang pertama. Di punggung mereka ditemukan bekas-bekas tusukan jarum besar. Tiong Gi-pun ikut diajak serta oleh anak-anak seumuran dirinya. Perjalanan dari Yi Chang ke Hong ji memerlukan waktu dua hari semalam. sedang di dada ada bekas telapak tangan yang menghitam. “Sungguh tak kami sangka kejadian di sini seperti itu. Mereka berasal dari Shashi. Tiong Gi menggeleng sambil jari tangannya diajungkan membentuk tanda dua.mengode supaya mereka memberi satu bakpao.” jawab orang ketiga. kalau begitu kami akan pergi saja.” Demikianlah akhirnya Tiong Gi mengikuti rombongan piauw-su itu sampai ke kota Hong ji. “Kota ini tidak aman. Para piauw-su ini baru saja datang dari mengantar barang ketika desa mereka diserang oleh rombongan nenek kelabang emas. “Kalau kalian tidak berkeberatan. Lebih dari separo anakanak berusia belasan tahun di desa itu tewas mengenaskan. Namun dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya tahulah ia watak manusia berbeda-beda. aku suka sekali ikut kalian. Tiong Gi baru paham kuil apakah itu. “Aku tidak tahu!” “Kalau begitu. Terlihat ketiga orang berpakaian piauw-su itu mendengarkan dengan mata terbelalak. sehingga sulit sekali membedakan tindakan yang baik atau yang buruk. dan ia mulai respek pada watak orang-orang yang berbuat baik. dan langsung dibawa pergi ke arah barat. “Kelainan jiwa?” “Itu kata lain dari gila!” jawab orang kedua gusar. Inilah pengalaman kedua Tiong Gi bertemu dengan orang-orang yang memiliki sikap sebagai orang-orang yang baik. eh siauw suhu sendiri mau kemanakah?” seru orang ketiga. sebaiknya cu-wi lopeh segera meninggalkan kota ini sambil mencari tempat lain yang lebih aman. Sungguh kekejaman yang sulit dibayangkan dengan pikiran sehat. Tiga diantarnya sebaya dengan Tiong Gi. Dari bercakap-cakap di sepanjang perjalanan dengan mereka tahulah Tiong Gi bahwa mereka adalah tukang kirim barang. “Dua hari yang lalu Kong-sim hosiang tewas dibunuh! Setelah raksasa binatang berbentuk kelabang datang menyatroni kuil. bagaimana mereka berjuang mati-matian melawan anak buah nenek kelabang emas. Ada juga yang ditemukan dalam keadaan tubuh hangus. anak-anak pada bermain-main. Tahukan lopeh kuil apakah itu?” “Kuil Kong-sim liok si??? Tentu saja kami tahu itu kuil tempat pengobatan terutama bagi orang yang memiliki kelainan jiwa. lahir dalam keluarga pesilat tangguh namun dibesarkan oleh wanita berhati iblis. Bagaimana mereka harus bahu membahu menyelamatkan diri.

kamu berbakat jadi aktor loh!” seru Kee Han. “Tapi sekarang kalau ikut ujian jin-shi sangat sulit. kamu keseringan berliamkeng kali. tak tahu apa-apa. Tiba-tiba Bin Chao mengajak Kee Han berlatih silat. “Hmmm. terkadang diselingi main petak umpet..kamu sudah tidak punya orang tua. Ternyata selama ini dia memang terkurung. latihan silat. Siaucay itu sastrawan atau orang terpelajar karena belajar ilmu membaca dan menulis. pertandingan kali ini berlangsung sangat seru. eh boleh aku panggil kamu seperti itu? Kenalkan aku bernama Kee Ling. she kami adalah Tauw. Anak ini berumuran setahun lebih tua dari Tiong Gi. tidur. Meskipun tidak pernah belajar sebelumnya ternyata akting Tiong Gi cukup sangat menawan.. Para orang tuapun ikut-ikutan menonton. seluruh Tionggoan. “Siapa namamu hiante?” tanya salah seorang anak lelaki yang berkulit putih bermuka lonjong. Selanjutnya mereka saling cerita. Kemudian mereka mulai saling serang.apa yaa.. Setahun yang diterima hanya dua ratus. “Namaku Tiong Gi!” “Kamu she Tiong?” “Mmm bukan. aku sendiri tidak tahu siapa orang tuaku. dan Tiong Gi diaulat menjadi Sam-pek-nya. hanya memikirkan makan. “Apa itu aktor?” “Hah. apa itu? “Waahhh masa sih nggak tahu siaucay. dengan perasaan haru. Mereka bermain drama sam-pek eng-tai. masa aktor nggak tahu sih. Kakakku bernama Kee Han dan dia sepupuku bernama Bin Chao.” papar Kee Ling yang wataknya memang suka ngomong. Tiong Gi mendengarkan dengan rasa malu.Meskipun agak kikuk namun akhirnya mau juga Tiong Gi bermain bersama mereka. bayangkan!” timpal anak lelaki yang lain yang berkulit kecokelatan yang bernama Bin Chao. aku ingin belajar baca tulis!” “Oooo kamu ingin jadi siaucay?” “Siaucay. kasian dirimu Gi ko. gak pernah gaul. Selama ini jarang sekali ia melihat orang saling berlatih silat.. Sekonyong-konyong hanya dari melihat saja.” kata seorang gadis kecil. dua tahun lebih muda dari Tiong Gi. “Waa. Tiong Gi meladeni. itupun silat yang sangat cetek.akting kamu bagus sekali Gi hian-tit !” puji salah seorang ibu muda berusia tiga puluhan. Setelah lewat dua puluh jurus terlihat . pukulan beradu pukulan. yang lebih sering adalah melihat pertempuran mati-matian. Drama yang dimainkannya sungguh mengesankan. Kalau mereka berbicara satu dengan yang lain. terbawa oleh cerita yang memang menyedihkan. Kalau kamu ikut kelompok drama kamu nanti akan menjadi aktor!” “Tapi aku tak ingin jadi aktor!” “Emang kamu pengen jadi apa?” selidik gadis kecil itu.. aku she Ciu!” “Ooo. gerakangerakan tersebut melekat di kepala Tiong Gi dan menambah pengertiannya tentang gerakan silat. Ketika selesai berlatih mereka mengajak Tiong Gi ikut berlatih. karena dasar-dasar ilmu silat mereka berbeda. “Benar Gi-te. Jurus beradu jurus. itu artinya pemain drama. namun menurut bibiku. Jurus-jurus mereka sangat cepat dengan gerakan yang indah.

“Tiong Gi! Siapa kamu sebenarnya? Bukankah ilmu silat yang kau pakai adalah jurus-jurus dari perkumpulan Awan Hitam?” tanya pemimpin rombongan piauwsu yang tiba-tiba berubah galak. “Desss!” Betis Tiong Gi yang tertangkis kaki pemimpin piauwsu terasa nyeri.. Seperti biasanya. Para piauwsu yang tergerak untuk melihat pertandingan memandang heran. Untuk melancarkan penyamaran ia mencari kuil untuk belajar agama. akhirnya para piuwsu itu mau mendengarkan keterangan yang disampaikan oleh Tiong Gi. hanya kaum tua saja yang suka cerita bahwa ada suatu masa dimana kejahatan di Hong Jie merajalela. Ia lihat dulu beberapa hari apakah kuil itu aman atau tidak. Sengaja ia membeli kain yang bisa dibuat menjadi jubah hwesio. tentu saja dia tidak pernah menyinggung soal lukisan. Seketika pandangan mereka terhadap Tiong Gi berubah curiga. yaitu pegunungan Tapa san. aku. sehingga banyak gerakan yang ganas.. bahkan hampirhampir mereka bisa menguasai pemerintahan. bibiku tidak pernah menyebut-nyebut nama itu. Memang jika dibandingkan dengan ilmu silat kaum piauwsu.. Di kota ini ke-enam piauw-su berlabuh.” Meskipun curiga. Hampir saja ia melanjutkan dengan tendangan jika tidak segera ditangkis oleh ketua rombongan piauwsu. Mereka membeli sepetak tanah di pinggiran kota dan mendirikan rumah di sana. Tiong Gi menolak diajak serta. Karenanya letaknya berbukit-bukit. Dua hari berguru di suatu kuil cukuplah bekal yang dibawa Tiong Gi menjadi biksu. ia lebih suka hidup bebas mencari seorang guru yang benar-benar mumpuni. golongan yang sering dia hadapi sebagai lawan.aku sendiri tidak tahu. Kota Hong ji terletak di suatu pegunungan.. Sudah hampir sebulan Tiong Gi tinggal di kota ini. Namun ia lebih berhata-hati. Hanya saja memang ilmu silat tangan kosong yang diwarisi Tiong Gi banyak yang berasal dari silat perkumpulan Awan Hitam. ilmu silat dari bibi Ciu lebih bermutu. *** Suatu hari di pasar Tiong Gi dikejutkan oleh peristiwa pencopetan. Pada saat kritis itu . Pertanyaan-pertanyaan mereka dijawab lancar oleh Tiong Gi. namun tidak punya alasan menyalahkan Tiong Gi. “Hah. ia tak segan bertanya pada pengunjung kuil. sebelum mendatangi kuil. Entah kenapa ia merasa dengan berpakaian seperti itu ia lebih berharga mendapat sumbangan dari orang-orang kaya daripada menjadi pengemis. Para piauwsu itu sendiri meskipun tidak senang. Dengan berbekal beberapa potong uang dari piauw-su ia bisa membeli pakaian dan makanan. awan hitam!” desis piauwsu yang lain. seakan-akan kota ini memiliki penjaga atau opas yang sangat kuat. “Awan hitam.. ia tidak pernah sekalipun menjumpai kejahatan. tapi tidak untuk pasar di wilayah Hong Jie. Peristiwa pencopetan sebenarnya biasa terjadi di pasar. Pengalaman berthuntahun membuatnya kenal terhadap berbagai macam jurus dari golongan hitam.bahwa Tiong Gi mampu mendesak lawannya. sehingga meskipun gerakan Tiong Gi masih mentah. Tiong Gi minta turun di pasar besar di kota. Tak banyak orang yang mengerti sebabnya. Akhirnya lawan Tiong Gi menyerah setelah pukulan Tiong Gi mengenai pinggangnya.. Kekerasan memang biasa dihadapi oleh kaum piauwsu. Tak mereka sangka biksu kecil itu bisa silat sehebat itu..

Mereka kemudian menakhlukkan penjahat. Di sekitar telaga bertumbuhan berbagai jenis bunga yang berwarna elok. seperti bangkai. Lembah delapan rembulan adalah sebuah lembah di pegunungan Tapa san. sekitar tujuh puluh li dari kota Hong Jie. dan mengikat perjanjian bahwa penjahat-penjahat itu harus melindungi kota. Karena seringnya hewan besar atau orang mencoba-coba masuk dan tersesat dan tak bisa kembali. Percikan air yang dihasilkan membentuk kabut air yang kadang-kadang membentuk bianglala. Hampir seluruh bagian lembah ini di kelilingi oleh dinding karang yang terjal.munculah orang-orang misterius. Namun jalan ini sungguh sangat berbahaya. sehingga orang-orang jahat itu kemudian berangsur meninggalkan kebiasaannya dan menjadi petani. Yang orang-orang ketahui kemudian adalah munculnya istana kecil yang indah di lembah delapan rembulan. seperti pakaian suku-suku pedalaman di barat sekitar Tibet. Pada dinding di sebelah barat terdapat sebuah air terjun mengucur dari puncak tebing. di seberang jurang. pantulan rembulan dari telaga yang membuat seolah-olah ada delapan rembulan di dasar lembah. orang-orang berpakaian putih bermantel tebal. Orangorang itu kemudian meminta kepala daerah membebaskan beberapa petak lahan yang kemudian dijadikan ladang atau sawah. pergi meninggalkan kota. Lambat laun wilayah Hong Jie menjadi kota yang aman tenteram. Selain itu juga terdapat berbagai tumbuhan seperti talas dan jamur yang beracun dan berbagai tumbuhan berduri. Di tambah lagi adanya lumpur pasir yang dapat menghisap hewan atau orang yang tak sengaja menginjaknya. yang terbuat dari batu karang yang berwarna putih. Sungguh aneh sekali keadaan lembah yang demikian indah dikelilingi oleh tempat yang sangat buruk yang menebarkan bau kematian. Untuk mendapati pemandangan indah seperti ini tidaklah gampang. Kebetulan sekali selang beberapa tahun semenjak peristiwa itu dinasti yang baru memiliki kerjaan pengembangan budidaya padi. dan keluar di tempat yang lain dalam bentuk mata air. Lembah ini terkenal karena pemandangannya yang indah. dari puncak bukit di sebelah timur dapat dilihat pemandangan yang indah sekali. karena setahun paling sering hanya dua kali purnama orang bisa menyaksikan pantulan rembulan dari delapan telaga. Tak seorangpun tahu. Satu-satunya jalan masuk ke lembah yang tidak terjal adalah hutan yang sangat lebat dan memiliki rawa-rawa yang terkenal sebagai hutan rawa bangkai. Pada bulan-bulan yang lain orang hanya akan mendapati selapis kabut yang menyelimuti seluruh bagian lembah. bagaikan piring perak berbentuk pat kwa. Air dari telaga mengalir dan bersambung ke sungai kecil dari air terjun. Adapun orang-orang asing yang membantu mereka. kelabang. Sungai itu mengalir menembus dinding jurang. entah kemana. dan laba-laba. maka dikenallah kemudian hutan rawa itu sebagai hutan rawa bangkai. karena banyak terdapat hewan-hewan berbisa. kalajengking. Yang masih belum jera untuk melakukan kejahatan dapat dipastikan keesokannya tubuhnya sudah menjadi mayat. ular. Tak seorangpun tahu siapa yang membangun istana dan taman di situ dan . Keanyiran hutan makin lengkap dengan adanya jenis tumbuhan yang memiliki bunga yang berbau sangat menusuk. Di dalam lembah itu terdapat delapan telaga kecil yang ukurannya berbeda-beda. Sudah lebih dari dua puluh tahun di lembah itu berdiri sebuah istana kecil. Jika malam purnama tiba. karena baunya yang sangat busuk.

Siapakah sebenarnya penghuni lembah itu? Peristiwa pencopetan di dekat Tiong Gi membuat anak itu bertindak cepat. Setelah di taburkan ke luka. Keangkeran hutan rawa bangkai dan kehadiran penduduk lembah menarik orang-orang awan dan pendekar dalam rimba persilatan untuk datang sekedar menyaksikan dari atas bukit atau mencoba-coba memasukinya. Bagi orang yang mengenal Tiong Gi. Dengan cekatan Tiong Gi menotok jalan darah di lengan kemudian meminta obat penyembuh luka kepada pedagang pasar yang kebetulan memilikinya. Dan rimba itu merupakan tempat sangat keramat yang ditakuti oleh setiap orang. Perempuan itu berusaha mempertahankan tasnya yang berisi uang. sudah dua bulan aku tinggal di sini selalu aman entah copet dari mana yang pagi-pagi seperti ini berani bermain gila di pasar Hong Jie. semua kepingin tahu rahasianya istana lembah delapan rembulan tersebut. selama dua puluh tahun lamanya. Suasana pasar menjadi riuh rendah.bagaimana mereka bisa memasuki lembah. Namun tak pernah terdengar kabar kembali. baik dari kalangan hitam maupun putih. Di pinggir lorong pasar mereka mendapati bibi pengasuh anaknya sudah ditolong oleh seorang biksu kecil. Heran sekali. dibalutlah luka dengan lembaran kain jubahnya yang masih bersih. Maka istana lembah delapan rembulan itu tetap merupakan satu rahasia bagi dunia persilatan. Karena tidak ada yang bisa kembali maka tak seorangpun pernah bercerita keadaan di dalam lembah. Namun siapa saja tidak perduli ia adalah tokoh atau jago ternama di kalangan Kangouw. seperti baju yang dikenakan oleh gadis kecil itu. Namun tak seorangpun yakin bahwa yang sedang berlatih silat itu adalah manusia karena mereka lebih sering hanya mendengar bunyi bertemunya dia senjata tajam dan suara teriakan dan auman yang sangat keras di bawah selimut kabut tebal. Teriakan si bocah perempuan itu mengejutkan sepasang orang tua yang berbaju mewah. wajah mereka penuh kekhawatiran. asal bibi ini bisa cepat sembuh hatikupun turut lega. sungguh mengherankan sekali jawaban . pengasuh anak yang bertubuh agak gemuk yang tangannya terkena sabet golok si pencopet. Dengan tergopoh-gopoh mereka kemudian menyibak kerumunan orang. Di tolongnya seorang perempuan setengah tua. banyak jago-jago dari berbagai golongan.” jawab Tiong Gi tenang. “Ah syukurlah kau sudah mendapat pertolongan bibi!” ujar lelaki yang sudah berusia lima puluhan itu lega. Seorang anak perempuan yang ada di dekat bibi pengasuh itu hanya bisa mewek dan menjerit-jerit sejadi-jadinya. yang mereka tahu adalah tiap malam di padang rumput di depan istana. “Ah tidak perlu disebut-sebut pertolongan ini paman. “Terima kasih banyak kami haturkan kepada siauw suhu inkong. sehingga membuat copet kalap dan menyabetkan golok sehingga melukai lengannya. pernah satu dua kali ada yang mencoba turun menggunakan tapi di waktu malam. tanpa benar-benar melihat kejadian yang sesungguhnya. Hingga dua puluh tahun lebih belum pernah ada yang bisa keluar lagi. siapakah nama siauw suhu dan dari kuil manakah suhu berasal?” tanya laki-laki itu ramah. ada belasan orang sedang berlatih silat di bawah temeraman cahaya obor.

bolehkan aku ikut numpang perjalanan paman. Dua hari tinggal di desa itu membuat Tiong Gi merasa betah. maka di sepanjang perjalanan ia banyak sekali menceritakan keadaan desanya. Tiong Gi diajari mengusiri kereta. “Tuan bolehkan aku menggantikanmu mengusiri kereta ini?” tanya Tiong Gi. berkawan dengan beberapa biksu yang kadang-kadang ia temui telah sedikit merubah wataknya. Istrinya bernama Siok Peng. hingga cerita tentang sungai yang airnya jernih. entah dengan cara apa kami bisa membalasnya. sehingga tawaran Liu Gan agar ia tinggal di rumah itu menjadi kacung tak ditampiknya. “Aku tidak ingin mengharap balasan. karena piauwsu sudah banyak yang kelelahan. hatihati jangan terlalu kencang!” Tiong Gi mengambil alih kendali kuda. Desa Lim Kee Cung terletak tepat berbatasan dengan hutan rawa bangkai.yang keluar dari mulutnya. Sifatnya . Liu Gan adalah seorang juragan yang terampil sekali berusaha. Tiong Gi duduk disampingnya. tapi kalau tuan tidak keberatan aku ingin berjalan-jalan. Aku ingin menambah pengalaman” jawab Tiong Gi. “Aaa ah tidak aku kehausan. Biasanya ia selalu bersikap pendiam dan dingin sekali. sehingga Tiong Gi ditawari untuk menginap. membuka warung. Sesampainya di Lim Kee Cung hari sudah sore. Setelah berkenalan dan berbelanja barang lain maka berangkatlah kereta itu ke desa tempat tinggal Liu Gan dan keluarganya. Oleh karenanya jalan menuju desa itupun keadaannya cukup baik. namun setelah dua bulan tinggal di pasar itu. beri aku minum! Kita berhenti dulu sebentar di sini. anaknya bernama Liu Ce Lin. bergaul dengan pedagang pasar. Kereta itu dikusiri sendiri oleh Liu Gan. “Baiklah kalau begitu. Namun ketiga hendak menceritakan tentang lembah delapan rembulan. “Tuan kenapakah?” tanya Tiong Gi. “Kami keluarga Liu sungguh berhutang budi kepada siauw suhu.” jawab Liu Gan sambil tangannya dijulurkan ke dalam meminta air minum. Di sepanjang perjalanan gadis kecil anak semata wayang dari juragan ini hanya mewek saja dipangkuan ibunya. Liu Gan berwatak ramah dan suka berbicara.” jawab lelaki yang bernama Liu Gan itu sambil menunjukkan keretanya. kambing.” kembali terdengar ucapan ramah dari lelaki yang dari dandanannya terlihat seperti seorang juragan. ke kereta itu. kau bisa bawakan keranjang kami. Apa yang disentuhnya seakan-akan berubah menjadi ladang uang. tiba-tiba mulutnya tercekat. mulai dari beternak kerbau. Namun benarkan demikian? Kita ikuti saja perkembangan selanjutnya. “Bisakah kamu? Cobalah kalau memang kau bisa mengendalikan. sehingga sering dilewati oleh orang-orang yang hendak pesiar melihatlihat pemandangan lembah delapan rembulan. menjadi tuan tanah. Liu Gan adalah seorang juragan sekaligus cungcu dari desa Lim Kee Cung. Ketika bersama dengan rombongan piauwsu yang berpindah. bahkan ia juga menyewakan beberapa kamar bagi pendatang. Mulai dari cerita tentang kerbaunya yang baru seminggu lalu melahirkan tiga ekor anak.

Sore itu untuk pertama kali Tiong Gi bertemu dengan guru Wang. Sebagai bocah yang sering berhubungan dengan orang persilatan Tiong Gi tahu bahwa sorot mata seperti itu hanya dimiliki oleh orang yang ada “isi”nya. Wajahnya tirus. Berlawanan dengan wajahnya yang terkesan keras. Liu Gan memanggil guru les untuk Ce Lin. Liu Ce Lin meskipun parasnya cantik dan manis. Sayang sekali Liu Gan hanya memiliki satu anak. Pandangan matanya seakan-akan mampu menjenguk isi hati Tiong Gi.yang ramah dan dermawan makin membuatnya dihormati dan disegani oleh semua orang di Lim Kee Cung. Sebenarnya Guru Wang baru berusia enam puluh tahun lebih sedikit. Karena khawatir perkembangan pendidikan anaknya. Sambil bekerja di rumah juragan Liu Gan. Pada malam harinya Tiong Gi menuliskan kembali apa yang diajarkan oleh guru Wang. Cepat sekali otak Tiong Gi menyerap pelajaran guru Wang. Tinggi tubuhnya sedang tapi badannya kurus agak melengkung seperti hanya tulang terbungkus kulit. Di sekolah ia sering mendapat nilai buruk. Terkesiap Tiong Gi dibuatnya. Sehingga jarang ada temannya. namun sengaja ia diam saja. namun sayang masih . ciri seorang yang sangat terpelajar. Ce Lin memanggil gurunya dengan sebutan guru Wang. hanya dengan mengulang semalam. pantas sekali ia menjadi guru di desa itu. Wataknya juga agak tinggi hati dan judes. sangat manja dan bodoh. Lelaki tua yang memakai baju kuning dengan jubah kecokelatan rapi itu membawa sebatang mauw pit. sehingga hanya sewaktu-waktu saja Tiong Gi mencuri pelajaran sambil pura-pura menyapu atau membereskan perabotan di rumah juragannya. Tiong Gi menyempatkan untuk mencuri dengar ketika putri Liu Ce Lin belajar menulis di rumahnya. Sorot mata yang dipancarkannya sungguh sangat mencorong seperti bintang timur. Di rumah tiap sore Ce Lin belajar les pada guru itu. gaya bicara guru Wang cukup lembut dan tertata baik. Sudah banyak pelajaran yang diserapnya dari guru Wang. itupun lahir setelah hampir dua puluh tahun setelah pernikahan dengan isteri ke tiga. membayangkan pengalaman hidup yang penuh dengan kepahitan dan beban yang sangat berat. semua pelajaran paginya bisa dihapalkannya. pipinya kempot. Sebaliknya putri juragan Liu setidaknya membutuhkan waktu empat sampai lima hari. Guru Wang bukannya tidak mengerti kalau pelajarannya dicuri dengar oleh kacung juragan Liu. namun kerut di wajahnya membuat raut muka itu jauh lebih tua dari umurnya. Dan yang lebih membuat orang-orang tidak habis pikir adalah perbedaan sifat Liu Gan dengan puteri semata wayangnya. jenggotnya selalu dicukur tapi kumisnya dibiarkan tak terawat seperti lidi. Tak terasa setahun sudah Tiong Gi berada di rumah juragan Liu. Karena putrinya rada bodoh maka pelajarannya sangat lambat sehingga Tiong Gi mudah mengikuti.

“Tiong Gi.belum ada sepersepuluh hurup di balik lukisan misterius yang disalin di kulit rusa yang pernah diajarkan.anak ini memiliki latar belakang yang sangat membuat penasaran. aku masih melihat awan hitam menyelimuti dirimu..ha.” Guru Wang memandang terkejut. bagaimana aku bisa menerimamu?” “Maksud suhu? Aku tak paham. Guru Wang yang sudah sedemikian matang pengalaman dan kemampuan bathinnya sehingga mampu membaca suara hati orang lain yang tak terungkapkan.. tapi guru Wang tak bergeming. asal kamu mau mengajar aku setiap malamnya..he.. aku dapat wasiat dari nenek moyangku agar menemukan warisan. segenap kemampuan inderanya tidak menangkap ada sesuatu keanehan dalam nada suara anak didepannya. Ketiga kalinya.” “Sebenarnya. “Guru Wang..he..” “He.. siapakah sebenarnya dia?” . Bujang seperti kamu mana ada kemampuan belajar baca tulis! Lagian dari mana kamu dapat uang untuk bayar gurumu hah? Heh jangan mimpi bisa membaca ya.. ketiga beliau sedang minum arak selepas mengajar. selebihnya adalah huruf-huruf yang jauh berbeda.kerjakan aja tugas kamu. di sini tidak ada awan!” “Apa sebenarnya yang kau cari anak baik?” “Aku ingin belajar supaya menjadi orang pandai!” “Untuk apa jadi orang pandai?” “Agar aku bisa jadi orang berguna.....” “Huhh. aku tidak mendengar kejujuran di ucapanmu bocah. Suatu ketika dia menemui guru Wang. aku ingin belajar membaca dan menulis padamu.. aku akan kasih semua gajiku tiap bulan. tidak merasakan tanda-tanda itu.gajimu sebulan paling banter sama dengan gajiku sekali ngajar Liu siocia... apakah pada malam hari engkau bisa mengajari aku?” “Ha....alangkah lucunya permintaanmu bocah.” Dua kali sudah Tiong Gi ketemu dan meminta agar guru Wang mau menerimanya. “Hmmm. ia sengaja mengejar guru Wang dan di jalan kecil menuju ke ujung desa ia berlutut dan memohon untuk yang ketiga kalinya. bodoh! “Lopeh.ha.

Kalau ada bakat aku tidak hanya ajar kamu tiap minggu tapi kamu akan dapatkan semua ilmu surat yang kumiliki. bahkan kalau kau bersedia aku juga akan mengajarimu ilmu silat. sejauh mana tingkat pentingnya suatu jati diri? Siapa sebenarnya diriku?” Pandangannya kemudian menerawang jauh. “Hmmm kenapa anak harimau segagah ini hidup di antara kerbau?” pikirnya. seru guru Wang dari dalam rumahnya.. . sembari menghela nafas dalam. Di bawah lukisan ia menuliskan kata-kata: ta-gu-niu-hui. baiklah nanti malem kita coba... “Masuklah Tiong Gi!”. Ruang tamu rumah itu cukup lebar dan di ujung sebelah dalam guru Wong sudah duduk menunggu. ”He he heh. tidak lebih dari sepeminuman teh Guru Wang sudah menyelesaikan sebuah lukisan pemandangan di pedesaan: ada sawah.. Kalau kau lulus peganglah janjiku! Aku akan melukis di kain ini. “Tiong Gi. Tiong Gipun masuk ke dalam rumah itu. Rumah guru Wang berada di ujung jalan menuju ke sungai. betapa terheran-herannya Guru Wang demi merasakan bahwa bocah yang hanya menjadi bujang di perkampungan memiliki tulang bagus seperti itu. Apalagi ketika dilihat wajah anak itu secara lebih seksama sambil berjongkok. terlihat raut mukanya berubah. Meski kecil tapi taman bunga di depan rumah menambah keasrian. siapakah she-mu.benarkah suhu???” Malam harinya dengan berindap Tiong Gi keluar dari kamarnya untuk pergi ke rumah guru Wang.. Dalam hati Tiong Gi merenung. Taman yang terlihat sangat indah dengan komposisi yang serasi. setelah selesai tolong tirukan lukisanku di papan tulis di sampingmu!” Setelah selesai bicara Guru Wang langsung menggoreskan pena bulunya dengan cepat. lembu dan seekor burung pipit terbang. ia seperti tidak asing dengan wajah itu. Malam itu guru Wang sudah menunggu. Di dekatnya ada kain cukup besar. dan siapa orang tuamu anak baiksiapa dirimu dan apa maksudmu?” Kali ini Guru Wang bertanya dengan wajah sungguh-sungguh dan pertanyaan yang tegas. “Kenapa orang selalu menanyakan itu. Untuk kesekian kalinya orang menanyakan asal-usul nenek moyangnya. ini ujian untukmu.” “Hahh. Kembali Tiong Gi menjelaskan latar belakang dirinya secara sekilas.bocah pintar.“Tiong Gi. Ketika tangannya memegang lengan Tiong Gi. Di depan rumahnya tiap malam selalu di pasang lampion warna-warni. ia tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Tiba-tiba guru Wang merasakan suatu kedekatan perasaan terhadap anak yang dihadapannya. seperti terawat oleh tangan yang terampil. katakan terus terang.

Setelah selesai Tiong Gi membangunkan gurunya. katakan terus terang apakah sebelumnya kau pernah belajar?” “Aku hanya belajar dari mengintip pelajaran yang suhu berikan pada Liu socia. dan mulai mengayun-ayunkan pedang memeragakan ilmu pedang Yu Liang ... “Suhu aku sudah selesai!” Guru Wang membuka mata dan membeliak. sedangkan lukisan di atasnya jauh lebih teratur goresan garis-garisnya antara yang tebal dengan yang tipis. kau akan mendapatkan apa yang mampu kau lukiskan!” Tiong Gi memeras otak untuk melukiskan apa yang dilihatnya.. Cepat otak dan tangannya bekerja menyalin tulisan di bawah lukisan terlebih dahulu. taecu akan mulai. Matanya merem melek menikmati rasa nikotin tembakau. Beberapa saat ia melukis. “Coba kau lebih mendekat!” Setelah Tiong Gi mendekat. sehingga ada kesan lebih hidup.tak mungkin. seakan-akan hampir loncat bola matanya demi melihat lukisan di papan itu. “Anak baik.. Sesaat ia ingin menengok kembali lukisan suhunya. Kata-kata di bawah lukisan itu persis seperti yang dituliskan. Tak dinyana suhunya telah menggulung lukisannya. Tiong Gi melirik gurunya yang sedang asik menghisap tembakau dengan huncwe yang panjangnya selengan. “Suhu bolehkan aku pinjam pedang?” “Ambil sendiri di rak senjata” Tiong Gi segera mengambil pedang. Gerakan silat yang dipraktikkan adalah ilmu silat Hek in Cianghoat.. “Coba tunjukkan ilmu silat yang kau pelajari dari bibimu!” Tiong Gi segera mengambil posisi kuda-kuda dan mulai melakukan gerakan-gerakan jurus-jurus silat. dan kau tirukan lukisan maupun tulisan di bawahnya!” “Baik suhu. Apa lukisanku aneh suhu?” “Aku tahu kau mencuri dengar ajaranku ke Liu siocia!” Hemm tak mungkin. secepat kilat Guru Wang menotol ujung huncwe beberapa kali ke bagian tubuhnya. “Tiong Gi. sekonyong-konyong muncul bau apek seperti daun tembakau dibakar. sedang lukisan sawah kerbau dan burung lebih mudah untuk dikarang-karang.” Dengan kapur tulis Tiong Gi mulai melukis seperti yang diminta suhunya.. namun gerakan-gerakan yang dilakukan masih sangat kaku dan banyak kesalahan. karena itu bagian yang paling sulit diingat. Setelah selesai Tiong Gi meminta guru Wang meminjami pedang.. sambil terkekeh.“Lihat baik-baik lukisan ini Tiong Gi.Guru Wang bergumam sendiri.

Ketika Tiong Gi hendak menguluk salam gadis tanpa menoleh berkata: “Kaukah murid baru kakek? Kabarnya bakat kamu bagus.” kata guru Wang sambil menotok punggung Tiong Gi.Kiamhoat. Coba kau sambut ini. Tapi aneh. . bukan hanya jurus-jurus serangan tangan dan kakinya saja yang indah. namun pada jurus ketiga. Bangkitlah!” gadis itu mengulur tangan dan menarik Tiong Gi. tapi tak ada tanda-tanda keracunan yang kau alami. atau kau mempraktikkan ilmu yang bersifat im. Wajah yang manis ayu dengan rambut dikuncir dan senyum dikulum menambah pesona yang bisa membuat copot jantung lelaki. Meski gerakannya kaku dan banyak kekeliruan. “Gerakan silatmu sangat kaku dan banyak lubang-lubangnya.” Coba mendekatlah kemari Tiong Gi” ujar Guru Wang sambil melambaikan tangannya. yang jelas sekarang kau sudah terbebaskan. Pada pertemuan berikutnya. untuk membebaskan totokannya. sampai selesai tidak tampak ada perubahan raut muka dari guru Wang. Tiong Gi baru menyadari kalau sudah kena tojok telak setelah terdorong tiga langkah dan terkapar. tangan kanan berhasil menyodok dada. kau memiliki keturunan dari suku yang tinggal di daerah dingin.” Selesai mengucapakan kata-kata sambutan Liu Siang langsung bergerak melancarkan serangan demi serangan. “Hmmm.. “Hanya ada dua kemungkinan. Setelah Tiong Gi mendekat. Guru Wang memegang pundaknya. Betapa tidak. Aku akan mengajarimu teknik mengumpulkan tenaga murni. tapi juga jurus serangan jantung. Hanya sedikit komentar yang disampaikan ke Tiong Gi. “Nona aku mengaku kalah!” “Namaku Wang Liu Siang. Tiong Gi dibuatnya gugup tak mengira akan mendapat sambutan sehangat itu. para pendekar yang banyak pengalaman akan mengenali bahwa ilmu pedang yang dipergakan adalah ilmu pedang dari Yu Liang Pay. Tiong Gi melihat seorang anak perempuan berusia sebelas tahunan sedang menyalakan Lampion. Tapi apapu kemungkinannya. Aku tidak percaya. ketika Liu Siang menggunakan gerakan tipu burung hong mengepak sayap.aneh.” ujar guru Wang sambil mengajarkan teknik-teknik mengatur pernafasan. Setelah malam itu. lain kali kamu jangan pakai lagi jurus ganas seperti itu. Jurus pertama dan kedua dapat dipapaki dengan baik.. Gadis itu bernama Wang Liu Siang. “Coba kau kerahkan sinkang di tubuhmu!” Tiong Gi mencoba namun kemudian kesakitan. guru Wang menjanjikan pertemuan dua malam lagi. jalan darahmu Leng thay hiat di punggung tertotok bertahun-tahun.

Tiong Gi mulai mempraktikkan teknik penulisan dan kuda-kuda. namun justru mudah hafal dalam bentuk bahasa aslinya. Karena singkatnya pertemuan mereka. Latihan lweekang dan ginkang dia berikan dan tekankan agar dilatih terus-menerus oleh . karena aku kan lebih dulu jadi murid kakek. guru Wang mulai menjelaskan dasar-dasar ilmu tulis dan ilmu silat. namun dengan ringan guru Wang menjawab Liu Siang tidak tinggal bersamanya. ilmu silat pukulan badai angin salju (Swat im soan hong sin ciang). jadi tidak perlu nona-nonaan segala!” jawab Liu Siang singkat. demikian juga dengan pelajaran Tiong Gi. Gaya bicara Liu Siang sangat menarik. apakah engkau ini cucu dari guru Wang?” tanya Tiong Gi tenang. Ada tiga jenis silat yang diajarkan ke Tiong Gi. Ada lima tingkatan yang bisa dilalui. Ilmu silat guru Wang sebagian besar bersumber dari silat nenek moyangnya. yang pertama ilmu pukulan bersifat dingin. Tingkatan pertama adalah penguasaan gerakan luar (gwakang). Demikianlah kegiatan yang dijalani Tiong Gi. tenaga dan pikiran. apalagi gerakangerakan tangannya menirukan ikan yang menggelepar-gelepar atau tawon yang berhamburan mengejar buruannya. maka guru Wang mengajarkan ilmunya kepada Tiong Gi dengan cara yang luar biasa.“Nona Siang. sehingga ia memberanikan diri bertanya kepada guru Wang. juga tidak ada di rumah. Pada hari itu. ia sering mengajak Tiong Gi bermain ke dekat sungai memancing ikan atau mencari madu. Ia meminta Tiong Gi menghafalkan teori-teorinya. bersama Liu Siang. namun guru Wang sendiri hanya menguasai tiga puluh jurus asli. Ilmu yang terakhir adalah Sai cu hokang (auman singa). Pada tingkatan terakhir ini seseorang yang menguasai ilmu ini bisa tetap melakukan penyerangan meskipun dalam keadaan terbelenggu kaki dan tangannya. Ilmu yang terdiri dari tiga puluh tiga jurus ini lebih menekankan im. Setiap hari keenam dan ketujuh guru Wang meliburkan kelasnya. sehingga membuat Tiong Gi tak berdaya untuk menolak. Tiap minggu selalu saja ada dua hari guru Wang tidak mengajarnya. tingkatan kedua adalah penguasan tenaga dalam (lweekang). Selama lima hari Liu Siang tinggal di rumah guru Wang. sedangkan lima jurus tambahan merupakan jurus kembangannya. Setelah kembali lagi belajar di rumah itu Tiong Gi tidak pernah melihat lagi batang hidung Liu Siang. “Panggil saja aku suci atau enci. sedangkan tingkatan terakhir adalah tingkatan harmonisasi sekeluruhan dengan hati. Ilmu pedang ini sebenarnya terdiri dari lima puluh jurus. tingkatan keempat adalah harmonisasi gerakan. sekalipun ia harus menyancang kerbau-kerbaunya. “Kita berdua adalah cucu guru Wang. tingkatan ketiga adalah penguasaan harmonisasi gerakan dan ukuran tenaga. sejenis ilmu teriakan yang disertai pengerahan khiekang yang dapat menggetarkan lawan. bahasa puisi. Anehnya Tiong Gi merasa kesulitan menghafal dalam bentuk teknik terstruktur. Ilmu yang kedua adalah ilmu pedang cahaya salju (Sue kong kiam hoat).

da apakah di sana suhu? Apa itu tempat sembunyi dewa?” . sehingga mau memaafkan. Orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka yang berhasil mengendalikan tubuh dan pikirannya. benarkah demikian?” Guru Wang hanya terkekeh pelan. ketika Tiong Gi hendak mencari ia melihat tulisan larangan memasuki hutan. namun kemudian ia ingat nasihat guru Wang. Tiong Gi tidak memperhatikan salah satu anak kerbaunya berjalan jauh meninggalkan induk menuju hutan rawa bangkai. “Tempat yang keramat menjadi sarang hantu atau orang yang ingin menjadi hantu. sehingga tidak pernah membiarkan dirinya larut dalam nafsu angkara. “Tubuh dan pikiran manusia hanyalah alat saja Tiong Gi. Tiong Gi meradang. namun membuat jantung Tiong Gi berdegup kencang. menurut orang-orang hutan rawa bangkai dan lembah delapan rembulan adalah tempat yang keramat. semua itu dikendalihan oleh bathin atau oleh hati. sehingga ia ragu. aku mau tahu dari mana ia dapat uang gantinya kalau bukan dari mengemis. sebaiknya kita minta saja dia mengganti kerbau yang hilang. Liu Gan merasa kasihan. “Ad. ia sudah lupa dulu kita temukan sebagai apa!” timpal nyonya Liu. “Ini pasti gara-gara dia itu keseringan main ke rumah guru Wang. “Kakanda Liu. senyum yang getir.” ujar nona Liu ketus. Huh. Itulah pentingnya ilmu mengelola hati.muridnya. namun Liu Gan masih berusaha sabar sehingga hanya memberi hukuman potong gaji dua bulan. Begitu ia sadar anak kerbau itu sudah lenyap ke jantung rimba itu. sambil sedikit demi sedikit "memindahkan" sinkangnya sendiri melalui telapak tangan yang dia tempelkan di punggung muridnya. Tiong Gi menyempatkan untuk bertanya kepada guru itu. Tiong Gi mempraktikkan pelajaran silat tidak hanya saat di rumah guru Wang. namun juga dilatih sambil menggembala kerbau-kerbaunya. Latihan samadhi dan mengatur pernapasan untuk mengumpulkan sinkang (hawa sakti) di dalam tubuh. Namun tak tertangkap oleh indera Tiong Gi. Tak ada hal yang aneh. Kejadian ini membuat keluarga Liu marah. rasanya hendak memuntahkan seluruh amarah di dadanya. “Suhu. Apakah kau ingin pergi kesana?” jawab guru Wang singkat. Tak terasa tiga bulan berlalu. karena tak ingin terlihat oleh orang lain. kacung bodoh sok-sok mau belajar baca tulis.. apalagi ia harus menyelamatkan kerbau-kerbau lain yang masih ada.” Karena ia hanya menunduk saja. namun kemudian tersenyum. suatu waktu ketiga saking getolnya belajar silat. Malam harinya ketika kembali belajar ke guru Wang.

Di sana ada Liu Siang. enam bulan lebih waktu sudah terlewati. dan ingin ketemu dengannya?” “Aha. apakah kau sudah pernah mimpi basah?” “Apa itu mimpi basah suhu?” “Itu adalah pertanda engkau harus lebih hati-hati dalam bersikap dan kendalikan dirimu baik-baik! Seorang laki-laki dewasa harus berani bertanggung jawab atas segala tindakannya!” “Oo. ia boleh ke lembah delapan bunga.. Perjalanan ke sana memerlukan keterampilan khusus yang hanya dimiliki oleh pesilat tingkat atas.. dan terikat dengan peraturan lembah. Namun ia tidak melihat raut muka bergurau. di wajah guru Wang. Berdebar-debar rasa hati Tiong Gi meninggalkan rumah-rumah di desa Lim Kee Cung menujua hutan rawa bangkai. namun tak kuasa melarang usul guru Wang. itu artinya kau sudah beranjak dewasa anakku. Jauh sekali beda watak nona Siang dengan nona Lin. Tanpa terasa. Makanya tidak aneh ketika Tiong Gi mengungkapkan perasaan hatinya. Ucapan guru Wang sangat sulit dipercaya oleh Tiong Gi.“Kalau kau mau memegang rahasia.. dengan syarat ia akan menjadi warga lembah. Yung Ci nama asli guru Wang. Riwayat penghuni lembah delapan rembulan . Di tambah lagi kerinduan bertemu nona Siang yang cantik dan lucu. sangat memahasi kebutuhan sosialisasi anak.. Setiap dua hari dalam seminggu aku pulang kesana” papar guru Wang. namun ia tidak kehilangan kemampuan interaksi dan komunikasi karena guru Wang juga sering mengajaknya ke kelas yang diasuh guru itu. aku akan mengajakmu ke sana. Pesan guru Wang benarbenar membuatnya deg-degan. Tiong Gi makin giat belajar dan berlatih. “Jadi apakah guru Wang anggota penghuni lembah itu?” “Anak bodoh. Tiap hari waktu luangnya diisi dengan berlatih dan berlatih. Ia lalu meminta ijin ke juragan Liu untuk membawa Tiong Gi. apakah masih perlu hal itu kamu pertanyakan?” Namun kamu harus menunggu sampai enam bulan lagi.iya memang aku sudah mengalaminya” jawab Tiong Gi malumalu. Liu Gan memandang heran. Bab 9. Sebagai seorang guru. kenapa beberapa waktu terakhir ini saya selalu ingat Siang suci.. “Suhu. Suatu ketika guru Wang bermaksud mengajak Tiong Gi ke lembah delapan rembulan. meskipun hanya dalam waktu singkat. Karena dijanjikan hal seperti ini. Teman sepermainannya hanyalah kerbau-kerbau piaraannya.

setelah menutup kembali batu itu. sampai gigi atas beradu dengan gigi bawah namun dia tetap bertahan. Di lembah itu selain bertemu Liu siang ia juga dikenalkan dengan penghuni yang lain. Tiong Gi hampir menjadi kaku oleh rasa dingin. Mereka semula dikurung. Mereka bukanlah orang sembarangan. Di ujung gua. yang berjuluk Sim Beng Tosu. Mereka sudah tinggal selama lebih dari lima belas tahun sampai yang paling belakangan datang adalah sute ketua Kong Thong Pay. Meskipun begitu mereka tak hentihentinya mencoba untuk keluar. suheng dari Bu Sian Taisu. Seluruh tubuhnya menggigil. namun selalu mereka gagal membuka pintu gua di tebing. Tiba-tiba guru Wang berhenti dan menuju ke batu yang ukurannya sebesar sapi. namun sampai sekian tahun mereka tak satupun yang mampu menembus tembok tebing yang mengelilingi lembah itu. Namun tebing ini lebih landai dibanding tebing lainnya. Ada dua pasang keluarga usia empat puluh lima tahunan. Ketika suhunya melepaskannya ia merasa ngeri. Guru wang menarik tangan Tiong Gi. sampai akhirnya mereka menemukan jalan buntu karena terhalang bukit karang yang tinggi. ternyata di balik batu itu ada gua kecil yang menjorok kebawah.Sepasang lelaki dan perempuan berpakaian biru-biru berusia empat puluhan lima adalah sute dari Hek in Loco. Gerakan guru wang sangat cepat seperti berputar-putar. kadang-kadang meraih akar-akar pohon kemudian berpindah menggunakan akar-akar pohon tersebut. mereka berasal . namun kemudian dibebaskan karena mereka berjanji untuk membantu lembah menghadapi musuh dari luar. guru Wang menekan suatu tombol. Setidaknya masih ada tonjolan-tonjolan batu yang dapat dijadikan batu loncatan. guru Wang Ketika mengempitnya dan melompati dahan dahan pepohonan. Seorang lelaki berpakaian tosu adalah murid Kong Thong Pay. Sepasang lagi yang berbaju hijau putih adalah murid dari Hoan Bin Kwi Ong. dan guru Wang sendiri yang menyusun jalan itu. dan Tiong Gi memandang sekelilingnya. Balasan atas janji mereka adalah kebebasannya. Guru Wang menggeser batu. Ternyata cara memasuki hutan itu dengan aman memang ada rahasianya. dua lelaki berusia lima puluh tahun dan enam puluh tahunan serta ada empat orang kakek seumuran guru Wang. sehingga pintu besi diujung gua itu terbuka. Bukannya mereka ini tidak pernah mengikuti guru Wang. tidak mau mengeluh sama sekali. sedangkan lelaki berjubah biksu adalah Bu Kong Taisu. dia melihat bahwa kini dia berada di dasar lembah. Adapun empat orang lelaki seumuran guru Wang yang bergaya pakaian barat ini adalah kawan-kawan seperjuangan guru Wang. akan tetapi Tiong Gi menguatkan hatinya dan sedikit pun tidak menyatakan rasa ngerinya! Ketika mereka memasuki halimun tebal yang menutup bagian dasar lembah. Bagaimanakah tokoh berbagai golongan ini bisa bersatu di lembah? Mereka adalah para petualang yang mencoba-coba memasuki lembah dan tertangkap dan dikalahkan oleh penghuni lembah.Begitu sampai di pinggiran hutan. Kadang-kadang menjejakkan kaki ke lantai hutan. Gua itu ternyata terbuka ke tebing. ia kembali mengempit tubuh Tiong Gi dan dibawa lari menuruni gua. ia adalah sute dari ketua Kong Thong Pay.

dari daerah yang sama di barat.” seru Liu Siang saat bertemu dengan Tiong Gi. sungguh besar sekali peruntungan Yung taihiap. “Gi ji. Latihan itu sungguh luar biasa. tubuhnya merendah dan menyerang bagian bawah. Ditambah lima orang yang ada di luar lembah. dari hanya latihan biasa menjadi pertarungan tersembunyi antara Bu Kong Taisu dengan salah seorang tetua negeri salju. ingin sekali aku kembali merasakan tendanganmu!” jawab Tiong Gi ceria. Puncak pertarungan ini terlihat ketika Tiong Gi mengeluarkan jurus badai salju kutub utara yang dihadapi oleh Liu Siang dengan serangan tapak sakti delapan dewa rajawali. Ilmu yang bernama Pat kwa sin tiauw ciang hoat (Pukulan cakar rajawali pat kwa). Tiong Gi menggunakan jurus-jurus dari pukulan saljunya sementara Liu Siang menggunakan jurus-jurus dari ilmu delapan unsur pat kwa. keluarkan jurus rajawali mengepak sayap” kata Bu Kong Taisu. mereka dinamakan Tai Swat San Kiu Tiauw Kwi (Sembilan burung hantu dari gunung salju besar). “Gi sute. bisa mendapatkan sepasang anak naga yang sangat berbakat. “Liu cici. aku akan mengajarimu cara pernafasan untuk menghangatkan badan. Hati-hati Sian serangan pukulan salju mengepung gunung harus kau bendung dari bawah. pakai jurus naga salju menyemburkan api. gimana perkembangan ilmu surat dan ilmu silatmu. sedangkan gerakan Tiong Gi tenang namun pukulan-pukulannya mengandung kekuatan tenaga im yang menggiriskan. gerakan lincah tangan Liu Sian benarbenar seperti patukan rajawali. namun demi mendengar nasihat dari Bu Kong taisu ia juga merubah gerakan mengeluarkan jurus kepakan sayap ke bagian bawah. Ilmu ini diajarkan oleh guru Wang dan dikembangkan lebih lanjut dengan tambahan pengertian dari Bu Sian Taisu dan Sim Beng Tosu. Liu Siang memapakinya dengan tangkisan tangan yang mengandung kekuatan yang tak kalah hebatnya. Tangan Tiong Gi bergerak cepat dari kedua tapak tangan tersebut keluar serangkum hawa dingin yang luar biasa.” tiba-tiba terdengar seruan salah seorang dari Kiu Tiauw Kwi. Hampir saja Liu Sian terdesak. bahkan ia . Tiba-tiba Tiong Gi mengubah gerakan. lama sekali kita tak bersua. ayo kita berlatih di dekat telaga. Para penghuni lembah menonton dengan mata berbinarbinar. “Omitohud. Meski seumuran mereka sebenarnya berguru pada guru Wang. Selanjutnya mereka berdua sudah terlibat latihan silat tingkat tinggi yang sangat luar biasa. menggunakan kecepatan tinggi dan ketepatan pukulan. Bahkan angin pusaran yang dihasilkan membuat terbang dedaunan di sekitarnya. Latihan makin sengit. Ilmu ini berdasarkan pada gerakan segi delapan. Ilmu ini cocok sekali dengan karakter Liu Siang yang langsing dan berbakat dalam ilmu meringankan tubuh.

mending kalau berhadap-hadapan bertarung secara jantan.lantas berapa tael yang enci mau?” “Alaa sok kaya. Namun untuk bertanya langsung ke guru Wang ia ragu. sedangkan Liu Siang bisa berpoksai dua kali dengan indah. ceritanya panjang. ia kembali teringat peristiwa di kuil Kong-sim Liok si. setahilpun kau tak punya khan? Lagian aku ingin kau membayarnya dengan mengajari aku ilmu auman harimau. Namun dinginnya luar biasa... Tepuk tangan bergema..” “Iya. Selain yang ditempati Tiong Gi. “Waahhh Gi te. Hari-hari pertama Tiong Gi ditempatkan di bagian belakang yang ada guanya. ia bertanya “Siang cici. Dua benturan jurus yang sangat hebat ini menimbulkan bunyi yang sangat keras.. apalagi kini ia punya lawan latihan yang sangat cerdas.iya. Guru Wang tampak puas.” . Namun setelah satu bulan ia sudah mampu mempraktikkan teknik untuk mengumpulkan hawa yang mampu menghangatkan tubuh. Di lembah delapan rembulan Tiong Gi makin giat berlatih. benarkah?” desis Tiong Gi perlahan. Kebanyakan mereka meregang nyawa di kamar-kamar penyiksaan. karena masih banyak sisi-sisi yang masih misterius!” “Coba ceritakan padaku cici!” desak Tiong Gi. Karena kata suhu.masih sempat melayangkan satu jurus ke Tiong Gi. trus tidak gratis. masih ada dua lagi yang dijadikan kamar tawanan. namun kukira riwayat itu belumlah lengkap. ada kalanya kita tidak memberi informasi secara percuma Gi te. Ia teringat dengan tawanan di Kuil Kong-sim Liok si.” “Loh. apalagi kalau kau jadi mata-mata wah itu satu dua katapun bisa berharga puluhan tael emas!” “Hah. masa sih sama adik sendiri main palak segala. Di lembah yang dari atas terlihat istana kecil ternyata dari dekat istana itu cukup luas. masa juru dongeng profesional seperti daku ini harus cuap-cuap tanpa bayaran sih?” “Aduh cici. Tiong Gi menjadi terperanjat dan menatap curiga. khiekang kamu jauh lebih dalam dibandingkan khiekangku. “Blaaarrr!” Tiong Gi terdorong tiga langkah dan terpelanting.. apakah engkau mengetahui riwayat lembah ini?” “Tentu saja. “Yaa tapi taruhannya nyawa. Tiong Gi masih kalah pengalaman dan kecolongan satu jurus. Tiap malam ia membuat api unggun. Rupanya di bagian belakang istana ada tiga gua. maka saat memancing ikan di tepi sungai bersama Liu Siang. Tampak dari hasil latihan ini.

” “Negeri salju???” “Ya benar! Di negeri ini pernah berdiam seorang maestro dunia persilatan waktu itu yang bernama Lau Cin Shan. Pada saat itu Lau Cin Shan diterjunkan ke medan pertempuran sebagai penasihat perang kerajaan Tang. karena negeri salju sendiri berdiri di belakang Tibet. Tibet dan Tayli. Shu dan Toan di bawah asuhan ibunya. menghadapi pasukan Tibet yang didukung oleh Buthan. Lau Cin San rela mengorbankan jiwa dalam peperangan itu. Kim.” “Lalu kenapa mereka tinggal di sini?” “Mereka lari mencari tempat yang tersembunyi agar tidak dapat ditemukan oleh musuh mereka.” “Wah ancaman besar bagi kita. Bagi penduduk Hu Nan. Bahkan demi menjaga kehormatannya yang dituduh membelot. Namun bagi musuh-musuhnya ia adalah pembelot. Singkat kata ia kemudian berkenalan dan menikah dengan wanita yang bukan lain anak kepala suku di wilayah itu. Saat itu ia bertemu dengan seorang gadis dan berkenalan. Pegunungan yang terletak di antara dua sungai besar Yalong dan Linsha ini memiliki perbukitan yang sebagian besar adalah puncakpuncak salju abadi. Pernikahannya dengan anak kepala suku negeri salju itu sangatlah aneh. “Penghuni lembah delapan rembulan sebenarnya berasal dari pegunungan Tai Sui san (pegunungan salju besar) yang terletak di Secuan barat. Pegunungan ini merupakan daerah perbatasan antara Tionggoan. Namun cinta mengatasi semuanya. Tujuan . Selarik senyum dikulum menambah kecantikannya. yang sering menjadi daerah konflik. sehingga mestinya ia berhadapan dengan suku itu sebagai musuh. ci! Apakah kita tidak membentuk pasukan tandingan?” Tentu saja sejak dulu juga sudah dibentuk oleh putera Cin Shan. Lau Shu Han tumbuh besar menjadi seorang ksatria dan bersama dengan empat saudara seperguruannya yang memiliki she Yung. Dan mulailah ia bercerita. Entah yang manakah yang benar. ia mendirikan klan ksatria salju. meskipun hanya beberapa hari. Pegunungan Tai Swat San memanjang dari utara yang berbatasan dengan Bayan Har san hingga ke selatan berbatasan dengan propinsi Yunnan. namun saat itu tokoh terlihai mereka lenyap. Meskipun dalam pertemuan terakhir mereka mengalahkan musuh besar mereka. Lau Cin San tetaplah harum dikenal sebagai seorang pahlawan.“Benarkah suhu berkata seperti itu?” Liu Siang hanya mengangguk. Dari hasil perkawinannya ia meninggalkan keturunan yang bernama Lau Shu Han. Tak lupa Lau Cin Shan mewariskan berbagai ilmu untuk keturunannya melalui isterinya. Tak heran jika ada yang menyebutnya sebagai negeri salju.

runtuh pula pondasi negeri salju. Menjelang berakhirnya pemerintahan . bahkan dianggap sebagai jelmaan iblis itu sendiri. bahkan keturunan ksatria terakhir waktu itu yang dipimpin oleh Yung Ci terpaksa melarikan diri hingga ke lembah delapan rembulan. Kekalahan dan kemenangan silih berganti di antara dua kelompok (tengkorak hitam musuh keturunan ksatria salju).iya deh.” “Daerah otonom? Kawasan konflik? Aduh cici. Salah satu kelompok yang beroperasi di wilayah yang dikuasai kerajaan Tayli dan sekitarnya termasuk negeri salju adalah kelompok tengkorak hitam.. Dalam masa kepemimpinannya ia telah membantai tak kurang dari lima ratus orang yang tinggal di negeri salju. Pada masa Lau Shu Han. aku janji akan lebih giat belajar biar jadi anak cerdas seperti cici. Dendam membuat Yung Ci memperkuat diri di pengasingan. tolong gunakan istilah yang aku pahami!” “Gi te. Namun seiring waktu. Menjelang keruntuhan masa lima dinasti dan sepuluh kerjaan. sayang neh gak ada uang receh. Kelihaiannya sungguh luar biasa. Seratus tahun silam. kamu harus lebih rajin belajar! Biar jadi orang cerdas!” “Iya. Kelima ksatria salju tewas satu persatu di tangannya. karena ia mendendam kepada Lau Cin Shan yang telah membunuh kakeknya. “Musuh utama negeri salju ini adalah kelompok tengkorak hitam. Kelompok ini punya pasukan iblis berani mati yang menggunakan topeng tengkorak.dibentukkan klan ini adalah mempertahankan negeri salju sebagai daerah otonom. Topeng memang benar-benar tengkorak nenek moyang mereka yang dilapisi besi yang dapat melindungi kepala. Wan Cun Ming adalah iblis bertangan besi dalam menghadapi orang-orang dari negeri salju. Api permusuhan yang disulut Wan Cun Ming menjadi dendam hingga tujuh turunan. Kelompok ini dibentuk oleh Wan Cun Ming seorang mantan mata-mata kerajaan Tang. “Eh.” Keduanyapun kemudian tertawa. negeri salju mencapai puncak kejayaan dan benar-benar menjadi daerah otonom. menjelang akhir masa dinasti Tang. pembentukkan klan ini menimbulkan reaksi berlebihan dari lawan-lawan mereka. bahkan kelihaiannya diakui oleh pesilat Tionggoan. Kelompok tengkorak hitam adalah kelompok iblis yang paling ditakuti di wilayah itu. dibentuklah sebuah kelompok milisi untuk menghadapi perlawanan musuh-musuh Tang.” “Benarkah aku cerdas Gi te? He he he. Cun Ming ternyata memiliki agenda tersendiri. sehingga negeri salju selama puluhan bahkan ratusan tahun setelahnya menjadi kawasan konflik. sebenarnya siapakah musuh besar itu?” Liu Siang kembali melanjutkan ceritanya. makasih ya pujiannya.

pertikaian ini akan berlangsung selama tujuh turunan. Belajar dari siklus dan melihat tanda-tanda alam dengan mata bathinnya guru Wang yang bukan lain adalah Yung Ci dapat merasakan waktu pembalasan dari tengkorak hitam sudah dekat. kiranya dulu ucapan Liu Siang hanya gurauan. Tapi dia menjadi heran karena tidak melihat perubahan ekspresi di wajah Liu Siang. dan turunan terakhirlah yang akan menyelesaikannya. Aku juga punya bibi pengasuh yang didatangkan oleh suhu. kamu tidak tampak sedih sudah tidak memiliki orang tua lagi.” *** . Tak ada orang di sekitar tempat ini yang mengenal keluarga kami.” “Gi te. Lagi pula belum tentu memiliki orang tua keadaannya lebih baik dari yang kita rasakan sekarang. hati-hati kamu. sampai detik ini ia masih menganggapnya begitu. Sedang seluruh keluargaku telah meninggal semua.. karena mereka adalah keturunan kelima. mereka tidak dilepaskan karena kawatir akan membocorkan rahasia lembah ini ke kalayak ramai. Menurut suhu..” “Lantas kenapa di belakang istana terdapat gua yang berisi penjara?” “Gi te. tapi menurut Cit Tiauw (burung hantu ke tujuh). ia mendapatkan diriku berada di bawah tumpukan jerami makanan kuda yang terlempar dari gerobak. aku bukan cucunya. semua orang yang disini adalah pengganti orang tua kita.. pasukan Yung Ci mampu menakhlukkan pasukan tengkorak hitam. karena sesuai dengan perjanjian nenek moyang mereka. apakah mereka memang benar-benar sakti?” “Tak seorangpun tahu. dan akibatnya jika didengar oleh tengkorak hitam.orang selihai suhu masih cemas menghadapi mereka.” Tiong Gi terperanjat mendengar pengakuan Liu Siang. puncak pertikaian kedua belah pihak akan pecah dalam waktu dekat. di sana dikurung tokoh-tokoh yang tidak mau bekerja sama dengan kita.” “Berarti kamu kan cici? Bukankah kamu cucu dari suhu?” “Bukan.” “Siapakah keturunan terakhir itu? Apakah suhu dan Kiu Tiauw?” “Bukan! Keturunan terakhir ksatria salju adalah generasi cucu mereka. “Benarkah begitu? Lantas siapakah orang tuamu?” “Aku tidak tahu.” “Cici. Bahkan dua dari tiga cucu Wan tewas ditangan puteranya.Kaisar Petama Sung yang berjuluk Sung Tai Cu. akan sangat berbahaya sekali.” “Ooo.

Tiong Gi dibiarkan berlari sendiri. Berbeda dengan saat datang. ia masih melamunkan peristiwa tadi malam. rahangnya kokoh. “Bagaimana dengan Siang cici. ia berlutut di hadapan suhunya.” Yung Ci Tianglo dan keempat Tiauw Kwi memang sengaja menguji perkembangan Tiong Gi. Masih terngiang-ngiang percakapannya dengan tiga Kiu Tiauw Kwi yang baru saja datang. namun tetap ia masih ngos-ngosan mengikuti gerakan mereka berlima yang berkelebat secepat kilat. dan kita bisa berlatih selama beberapa bulan sebelum musim salju tiba. apakah dia akan ikut?” “Tidak. Ia tumbuh menjadi pemuda yang bertubuh tegap. Kami kemudian berembug untuk menentukan rencana kedapan. Dan pada saat musim salju kamu akan menjalani latihan terakhir. Percakapan yang menuntut ia mengambil keputusan yang disampaikan ke Tiong Gi. Saat itu suhunya sedang memberi pesan-pesan yang sangat penting. apapun yang terjadi pada kami kau harus mentaati perintahku. dan aku sudah berketetapan untuk menunjukmu sebagai ahli waris ilmu-ilmu ksatria salju dengan tugas yang berat. Kalau kita berangkat dalam waktu dekat dan sampai di sana pada saat musim panas.” “Taecu mengerti suhu!” Setelah bersiap. Untuk itu maka kami berlima akan membawamu ke gua harimau salju di puncak Gongga Ma. Bunga-bunga yang elok bersemi. wajahnya agak bulat. meskipun Tiong Gi harus berjuang keras mengatasi musim salju yang sangat luar biasa dinginnya.” “Dan kamu harus berjanji padaku Tiong Gi. datanglah susim semi yang indah. “Tiong Gi. matanya agak lebar. Saat itu umur Tiong Gi sudah empat belas tahun. Saat ini adalah waktu yang tepat. mengira bayangan itu adalah setan. nyawa tidak ada artinya bagi kebenaran dan keadilan. maka pada malam hari itu juga mereka berangkat. dia akan dididik oleh lima dari Kiu Tiauw Kwi di sini. beberapa hari yang lalu tiga dari Kiu Tiauw Kwi telah datang. ketika keluar meninggalkan lembah. Malam itu kalau ada orang yang melihat berkelebatnya enam bayangan keluar dari hutan rawa bangkai pasti akan lari ketakutan. Akhirnya setelah tinggal di lembah itu selama setengah tahun. alisnya tebal.” “Taecu berjanji suhu!” “Ingatlah Tiong Gi. karena tak ingin menarik perhatian orang mereka . Perjalanan dilakukan lewat darat. Meskipun gingkannya sudah maju pesat. Mereka berenam kemudian bergerak menuju ke barat. sambil matanya mengatup. dan mereka sangat puas.” ujar guru Wang. kau akan dapat menyesuaikan diri.Lima bulan berlalu tanpa terasa. Di ruang depan istana delapan rembulan.

lanjutkanlah perjalanan kalian berdua ke Tai Swat san untuk mencari bibit-bibit yang bisa kita didik menjadi generasi penerus. Meski hanya satu jam rasanya setahun aja. Setiap minggu latihan ditambah. sampai gigi atas beradu dengan gigi bawah namun dia tetap coba bertahan. Untuk mendaki ke puncak ini sungguh sangat sulit dan berbahaya karena punggung-punggung bukit karang yang curam yang langsung berbatasan dengan jurang-jurang yang terjal. Dinamakan demikian karena dulu pernah dijadikan sarang harimau. Apalagi menghadapi cuaca yang sangat ekstrim dinginnya. Seluruh tubuhnya menggigil. tidak mau mengeluh sama sekali. Kulit tubuhnya yang terpapar udara mulai memerah. Bagaimanapun hidup di luar rumah tempat tinggal yang paling nyaman. Gunung Kongga atau dalam bahasa daerah setempat dikenal dengan Minja Konka. Di salah satu dinding bukit yang menghadap ke selatan terdapat gua yang dikenal dengan gua harimau salju. Setelah sampai di lembah bunga kiok. merupakan salah satu dari tiga puncak tertinggi di luar wilayah himalaya. sedangkan mereka mendaki ke Gongga Ma. Tiong Gi harus melakukan semedi di luar gua selama satu jam. Yung Ci Tianglo memerintahkan dua diantara Tiauw Kwi melanjutkan perjalanan ke Tai Swat san untuk mencari murid.melakukan perjalanan dengan jalan kaki seperti orang awam. Tak ada waktu untuk berleha-leha bagi Tiong Gi. Puncak ini memiliki salju abadi yang menyelimuti kawasan di atas ketinggian lima li. gua yang nyaris tak terjamah karena sulitnya jalan menuju ke gua itu. Tidak perlu banyak-banyak yang penting kejujuran dan bakatnya. Hari pertama latihan. makin lama makin sulit jurus-jurus yang harus dikuasai dan makin lama bertahan di bawah kabut salju. “Cit Tiauw dan kamu Pat Tiauw. Pergilah lewat sungai Yalong. Yung Ci Tianglo dan Tiong Gi sendiri tidak perlu repot-repot mencari makan. Setiap hari selalu digunakan untuk berlatih. Ada tiga gua yang berdampingan dan satu gua yang agak jauh. Jika gua itu terus dimasuki akn tembus ke sebuah lembah yang dikelilingi oleh tebing salju yang curam persis tempat di lembah delapan rembulan. Setelah sebulan mereka yang tinggal disitu . maka ia belajar ilmu surat. demikian terus menerus sampai satu bulan lamanya. Demikian terus menerus kegiatan yang menjadi rutin. karena dua Tiauw Kwi siap bertugas melayani kebutuhan mereka. Jika tidak berlatih silat. Dari luar gua itu sangat sempit namun setelah masuk makin lebar. Karena dilakukan dengan jalan darat maka perjalanan itu menempuh waktu satu bulan. Ketika menuju ke sana. saking terjalnya. mereka harus merayap dan merangkak. merupakan perjuangan tersendiri. Embun yang menerpa wajah dan rambutnya dalam waktu beberapa menit telah berubah menjadi es. Tiong Gi hampir menjadi kaku oleh rasa dingin.” “Baik suhu!” Mereka kemudian berpisah di lembah itu.

Kami baru saja mau mempersiapkan pembakaran! Hayo kembali lagi!!” seru Yung Ci keras. Yung Ci saat itu sedang sibuk membuat api.” rengek Tiong Gi sambil tubuhnya telentang. taecu sudah bosan!” “Ingat Tiong Gi.. Kiu Tiauw baru saja datang. sehingga ia menghentikan latihannya dan masuk ke gua. Tubuhnya terguling. pada waktu itu kamu harus mampu bertahan semalam suntuk.” seru Tiong Gi yang sudah sulit bertahan. hanya roti tawar saja yang dimakannya. namun sudah beberapa kali mencoba masih belum nyala. “Desss!” sebuah tendangan membuat tubuh Tiong Gi melayang kembali ke luar. aku tak tahan lagi. kau harus membulatkan tekad. “Taecu sudah tidak kuat.. Maka mulailah timbul kekesalannya. tinggal sedikit pematangan untuk mematangkan keselarasan gerak dan tenaga maka di akhir pertapaan kita kamu sudah mencapai tingkatan tiga. meskipun ia sudah menggunakan tenaga lwekangnya.! Taecu mau pulang saja. Sudah dua hari ia tak mendapat asupan daging. “Suhu. Tiong Gi yang semula mencoba untuk bertahan mulai menunjukkan kerewelan. tapi kamu males-malesan. dengan merayap. Ataukah kau akan lari menjadi seorang pengecut?” Nasihat-nasihat Yung Ci Tianglo awalnya dapat diresapi dengan baik oleh Tiong Gi.. . masih berapa lama lagi kita tinggal di sini?” “Tiong Gi. “Anak bodoh! Kami semua disini berjuang dan bertahan demi kamu. sedangkan tingkat tiga pada usia dua puluh lima tahun!” “Suhu. Memasuki minggu kedua musim dingin. Kekesalannya seakan-akan dapat muara.. Namun ia adalah manusia biasa yang memiliki banyak keterbatasan.mulai dihinggapi kejenuhan. Semoga di musim itu kita dapatkan badai salju. rasanya ia sudah tak mampu bertahan lebih lama dari satu jam. Kita masih harus menunggu musim dingin. Kalau kamu mampu bertahan maka ilmu Swat im soan hong sin ciang sudah akan kamu kuasai pada tingkatan kedua. Hayo keluar!” bentak Yung Ci. suhu. “Suhu aku kedinginan. “Bertahanlah! Kemarin kamu bisa bertahan dua jam. latihan kamu masih belum ada apa-apanya. kenapa sekarang malah lebih mundur. dan itu hasil yang luar biasa karena aku dulu menguasai tingkat dua pada usia duapuluh tahun. Di hadapanmu kelak akan bermunculan musuh-musuh yang memburumu.. dan ia membawa daging. Tapi sedingin itu masih belum apa-apa dibandingkan nanti waktu puncakpuncaknya. Ia merasakan seluruh tubuhnya ngilu-ngilu saking dinginnya. Ia sebenarnya juga merasakan malam itu suhu tiba-tiba turun dengan sangat drastis.

bahkan otot kakinya sudah sulit digerakkan karena kram. Tak biasanya suhunya bersikap seperti itu. Bentakan Tendangan itu meskipun perlahan, dan tidak mengandung tenaga keras, namun cukup membuat dadanya tambah nyeri, sehingga ia makin kesulitan mengatur nafas. Ketika sudah sulit bertahan ia kembali merayap ke dalam. Untung saat itu api sudah mulai menyala sehingga sampai di pintu guapun ia sudah bisa merasakan hawa yang lebih hangat. Tapi siapa sangka suhunya sudah menunggu di mulut gua. “Tiong Gi, seorang ksatria harus siap menghadapi maut tanpa keluhan. Kamu ini anak macam apa, baru sebentar sudah merengek-rengek minta berhenti!” “Su...hu...taecu...sudah...tak tahaan.....!” “Keparat, berani melawan perintah guru!” seru Yung Ci dengan mata melotot, nafasnya mulai tak beraturan, pertanda kemarahan mulai menguasainya. Sekejap kemudian tangan kanannya terangkat dan “Plaaakk!” bunyi benturan tapak tangan dan lengan terdengar cukup keras, meskipun keduanya tidak berisi sinkang. “Kiu Tiauw, kau.....ahh!” ucapan keras Yung Ci berubah keluhan pendek. Rupanya tadi tangan Kiu Tiaauw yang menangkis tamparan Yung Ci. Begitu menyadari dirinya telah dikuasai nafsu amarah tersadarlah Yung Ci. “Suhu, ampunkan taecu, bersabarlah, ingatlah pada Yung Lu,” jawab Kiu Tiauw sambil memeluk pinggang Yung Ci dan menariknya ke dalam. Tampak setitik air mata di pelupuk kedua lelaki tua ini yang tak dicoba untuk diusap. Sebenarnya Kiu Tiauw dan Yung Ci seumuran. Namun karena Kiu Tiauw belajar pada Yung Ci, maka ia memanggil suhu padanya. Kiu Tiauw segera merawat Tiong Gi yang mengeletak pingsan di luar. Sedangkan Yung Ci menyendiri melakukan semedi. Berbagai perasaan berkelebat di hatinya. Pikirannya menerawang jauh mengingat salah satu puteranya yang disebut Kiu Tiauw, Yung Lu. Musim dingin di Kongga san sangatlah dingin luar biasa. Angin bertiup sangat kencang, sedangkan salju turun hampir tiap hari, membuat pemandangan yang sudah putih menjadi semakin berkilauan bagaikan perak. Mendung dan kabut tidak pernah meninggalkan puncak pada musim itu, hingga siang malam sulit dibedakan. Latihan Tiong Gi sudah hampir mendekati saat-saat terakhir, karena sebentar lagi puncak musim dingin yang ditandai dengan datangnya badai salju. Selama dua minggu Tiong Gi sudah mampu bertahan lebih dari empat jam berdiam di luar gua. “Tiong Gi, dalam dua tiga hari mendatang badai salju akan tiba, saat itu kau harus melakukan latihan di puncak bukit harimau itu. gunakan seluruh kemampuanmu untuk tetap bertahan, dan jika kau sudah tidak

tahan lagi, biarlah dirimu memasuki badai, menyatulah dengan arus aliran angin kemanapun ia bergerak, seraplah unsur im sebanyak kamu mampu dan biarkan aliran hawa ini menyelimuti tubuhmu. Jangan melawan dan tetaplah konsentrasi. Yakinlah Thian akan melindungimu.” Puncak harimau (Hauw swat teng) adalah puncak tertinggi ke lima yang terletak di sebelah timur dari Kongga san. Pada musim dingin jalan menuju puncak ini bisa di kelilingi oleh timbunan-timbunan salju setinggi sepuluh meter. Bagi manusia biasa melewati timbunan salju seperti ini haruslah menggunakan tali. Pagi-pagi sekali Tiong Gi sudah bersiap menuju ke puncak. Yung Ci sudah dari fajar berada di luar gua, memusatkan seluruh panca indera dan segenap kemampuan bathinnya. Hatinya agak bergetar demi merasakan cuaca sedemikian tenangnya, setelah seminggu lebih badai selalu mendera dari arah barat. Ketenangan yang merupakan pertanda bahwa badai yang akan datang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Sebenarnya ia ragu untuk melepas Tiong Gi, namun ia sudah membulatkan tekad, kembali bersama atau tinggal di situ selamanya. Tiong Gi perlahan-lahan mendaki jalur yang sudah ditetapkan oleh suhunya. Ia dipesankan untuk tidak menggunakan ginkang menghambur-hamburkan tenaga. Tepat sore hari ia sudah sampai di puncak dan segera bersila melakukan semedi seperti yang diajarkan suhunya. Sampai pukul sembilan malam cuaca masih sedemikian tenang. Langit berkabut. Menjelang pukul sepuluh tiba-tiba cuaca berubah, mendung mulai menebal, angin datang berkesiuran susul menyusul berputaran. Sepenanakan nasi kemudian badai salju datang mengamuk. Suara guntur dan angin puting beliung yang datang silih berganti memekakkan telinga. Dua kekuatan angin dari barat dan timur bertemu menghasilkan pusaran badai yang sangat dasyat. Es putihpun tercurah seperti butiran-butiran kerikil jatuh dari angkasa, disusuli kemudian pusaran angin yang membawa bongkahan-bongkahan salju berputar-putar menghantam apapun yang dihadapinya. Tiong Gi mulai memainkan jurus-jurusnya dengan baik, gerakannya sangat sempurna, sesuai pesan suhu ia bergerak mengikuti arus putaran badai. Tenaganya diatur sedemikian rupa menyesuaian dengan hantaman-hantaman topan. Selama hampir dua jam ia terus menerus melatih ilmunya, baik secara tangan kosong atau dengan menggunakan pedang. Tepat tengah malam badaipun memuncak, pusaran angin yang semula simpang siur mulai menyatu membentuk kekuatan dasyat menyapu segala yang ada. Angin dingin yang menderu-deru itu seperti roh-roh gentayangan yang berpesta pora menyanyikan lagu yang memekakkan telinga. Manusia mana yang bisa berdiri menyombongkan hartanya, kedudukan, kecantikan atau kegagahannya di tengah-tengah kekuasaan alam yang yang takluk diatur oleh satu tangan yang tidak kelihatan, tangan Sang Pencipta. Tiong Gi mulai memainkan jurus-jurus baru yang dipelajarinya, dewa salju membuka gerbang (Swat sian kuan men) dengan jurus ini gempuran badai tak dilawan, bahkan dirinya menyatu dengan kekuatan maha dasyat yang diperlihatkan oleh badai, karena gerbang pintu masuk

kekuatan luar telah dibuka. Tubuh Tiong Gi-pun terhempas badai terbawa berputar-putar mengikuti kemanapun arah pusaran. Kadangkadang badai melontarkannya tinggi ke angkasa bertombak-tombak dari bumi, melewati puncak-puncak bebukitan, kadang menghempaskannya ke onggokan salju dan menyeretnya berli-li jauhnya. Yung Ci berdiri tegak di pintu gua, mulutnya berkemak-kemik memanjatkan do’a. Badai kali ini berbeda sekali dengan badai yang dulu dialami, dinginnya dan dasyatnya sungguh membuat harapannya tinggal sekuku kelingking. Angin salju yang menerpanya tak dirasakan. Ia tetap kokoh berdiri semalam suntuk. Menjelang subuh badaipun reda. Dengan bergegas segera ia dan Kiu Tiauw keluar gua menyusuri bekas-bekas badai. Sungguh bentuk permukaan gunung telah berubah akibat badai. Punggung-punggung bukit yang sebelumnya meruncing menjadi lebih tumpul, jurang-jurang yang dalam menjadi lebih dangkal. Dengan membawa logam tipis yang terikat pada lingkaran kayu seperti raket ia menyusuri punggung-punggung bukit sambil melongok ke kanan dan ke kiri. “Suhu benda apakan yang suhu bawa itu?” “Kiu Tiauw, ini adalah besi getar. Alat ini berguna untuk mencari benda hidup. Aku mendapatkannya dari Turki. Jika melewati daerah yang bersuhu panas ia akan bergetar.” Kiu Tiauw melihat benda yang berbentuk aneh itu. Suhunya menyusuri jalanan sambil tangannya menggerak-gerakkan gagang besi getar ke kanan dan ke kiri. Mereka mencari-cari di sekitar puncak harimau. Secara bergantian mereka berteriak-teriak memanggil Tiong Gi. Seharian mereka mencari ke sana ke mari, tanpa hasil. Tiong Gi tak ketahuan jejaknya sama sekali. “Ia sepertinya telah terkubur suhu,” kata Liu Tiauw. “Tidak...tidak, aku masih merasakan getaran kehidupannya, meskipun lemah dan jauh,” jawab Yung Ci yakin. Ketika senja tiba, cuaca mulai remang, mereka kemudian memutuskan untuk menuruni puncak menuju ke barat, sesuai dengan arah angin badai. Hampir sepenanakan nasi kemudian, setelah baru saja matahari tenggelam, mereka baru menemukan jejak Tiong Gi, berupa potongan kain yang dipakainya. “Suhu....taecu menemukan potongan kain, bukankah ini yang dipakainya?” “Aa.. benar...benar memang itu kain yang dipakai olehnya, ayo kita cari sampai dapat, sebelum hari benar-benar menjadi gulita.” Sepeminuman teh kemudian barulah besi getar menunjukkan tandatanda getaran. dan memang di daerah sekitar situ terdapat sepihan kain yang dipakai Tiong Gi. Ternyata getaran itu berasal dari lembah yang cukup curam. Dengan hati-hati mereka menuruni lembah. “Getarannya cukup kencang di sekitar sini, ayo kita gali bagian sebelah sini,” perintah Yung Ci. Setelah lewat setengah jam menggali di beberapa bagian, barulah Tiong Gi ditemukan dalam keadaan telanjang bulat. Luar biasa sekali, meskipun sudah sangat lemah ia masih memiliki detak jantung. Yung Ci segera menyalurkan lwekangnya. Akibat dingin yang sangat luar biasa, beberapa bagian kulit tubuh Tiong Gi menghitam dan mati, meskipun Yung Ci telah melumurinya dengan

cairan lemak beruang kutub yang sangat mujarab, namun tetap saja ada bagian yang mengalami luka. Dua minggu berikutnya Tiong Gi hanya diam menjalani perawatan lukanya. Setelah sembuh sebulan kemudian mereka turun gunung untuk kembali ke lembah delapan rembulan. Empat orang itu berjalan dengan langkah gagah menyusuri tepian hutan, meskipun pakaian yang melekat di tubuh mereka sudah kumal, tanda bahwa mereka telah melakukan perjalanan jauh. Sudah empat hari mereka menyusuri hutan di sebelah barat kota Ping Ho. Tiga di antaranya sudah berusia lanjut dipimpin seorang berpakaian rapi berwajah tirus, sedang seorang lagi pemuda yang masih remaja. Sudah seharian mereka berjalan dan berharap sebelum senja mereka bisa menemukan desa. Namun sayang, alih-alih desa, sedangkan rumah saja tak satupun mereka jumpai. “Suhu sepertinya malam ini kita harus menginap di hutan,” kata salah seorang dari mereka. “Iya, sepertinya memang desa masih jauh. Coba kita cari kuil atau bangunan kuno lainnya, Kiu Tiauw!” perintah Yung Ci Setelah berjalan kira-kira sepenanakan nasi, tepat ketika matahasi sejengkal dari tempat peraduannya, mereka menemukan sebuah bangunan kuno, mirip sebuah kuil atau tempat pemujaan. Mereka kemudian memutuskan untuk tinggal di kuil tua itu. Tiong Gi membersihkan kuil itu, dan mereka berjaga bergantian. Sampai fajar menjelang tidak ada peristiwa apa-apa, namun ketika semburat matahari mulai merekah di timur. Tiba-tiba saja terdengar bentakan menggeledek dari luar. “Yung Ci, keluarlah menerima pembalasan!” Tiong Gi tergagap mendengar bentakan ini, namun tiga orang tua dari lembah delapan rembulan itu dengan tenang bergegas keluar kuil. Tiong Gi sambil mengucak-ngucak matanya mengintip dari dalam, tak terlihat adanya bayangan. Ketiga tetua lembah delapan rembulan diam mematung sudah siap menanti. Kiranya bentakan itu dikirim dari tempat yang sangat jauh. Dan dari kuatnya getaran yang ditimbulkan dapat ditebak pengirimnya bukan orang sembarangan. Yung Ci Tianglo mengeluh dalam hati karena penyamaran mereka sudah ketahuan, bahkan sebelum orang itu sampai di depan kuil. Hal itu hanya menunjukkan bahwa mereka telah dimata-matai. Sepeminuman teh kemudian berkelebatan delapan sosok tubuh, bagaikan setan saja mereka telah tegak berdiri di pelataran kuil yang ditumbuhi rumput dan semak setinggi lutut. Saat itu cuaca yang baru terang tanah, dalam selimutan kabut tipis kehadiran kedelapan sosok ini bak hantu bergentayangan. Semua berbaju hitam empat diantaranya berjubah panjang juga berwarna hitam, serta bertopeng yang lagi-lagi berwarna hitam bergaris putih di pinggirnya. Yang membuat topeng itu mengerikan adalah bentuknya seperti tengkorak. Hanya sorot mata dari lubang pada bagian mata yang berbentuk bulat bercat merah di pinggirnya, yang menunjukkan di balik topeng itu wajah manusia.

“Tengkorak hitam......” desis kedua Tiauw kwi tercekat. Tiong Gi menatap tak berkedip. Tak terasa bulu kuduknya meremang, manusia atau hantukaha yang datang. Namun demi melihat tiga tetua lembah masih berdiri dengan tenang. Iapun berusaha tabah. Yung Ci Tianglo terbelalak demi melihat bahwa sosok yang mendatangi kuil berbaju terngkorak hitam. Sejenak wajahnya berubah pias, namun perasaan itu tak lama karena sedetik kemudian ia sudah bisa menguasai diri. “Siapa kalian!” bentaknya dengan suara mengguntur. Tiong Gi yang berada di belakangnya juga merasakan jantungnya bergetar oleh hawa khikang yang dikeluarkan. Memang bentakan ini mengandung serangan khikang yang menggunakan seperempat Sai cu hokang. Yang berada di belakang saja sudah sedemikian besar pengaruhnya, bisa dibayangkan jika yang di depan. Tapi yang diserang hanya empat orang saja yang tidak bertopeng yang terlihat bergetar, sedang yang bertopeng hanya tersenyum sinis. “Heh..heh..heh, Yung Ci tidak usah pura-pura, aku tahu nyalimu sudah terbang melihat kehadiran kami? Bertahun-tahun kau menyembunyikan diri, kalau sudah saatnya untuk membayar hutang, takdir juga yang akan membawamu ke liang kubur menyusul murid-muridmu yang lainnya....ha..ha..ha...., ” jawab salah seorang bertopeng yang tubuhnya paling pendek. Kiranya orang ini pimpinan mereka. Yung Ci tercekat mendengar ucapan ini, jantungnya berdetak bagaikan ditabuh bertalu-talu. Mata bathinnya dapat merasakan ancaman besar di lembah delapan rembulan. Kiranya orang-orang tengkorak hitam sudah mengetahui letak persembunyian mereka di lembah delapan rembulan. Dan itu hanya berarti satu hal: mereka yang berada di sana dalam bahaya. Yung Ci tidak memikirkan murid-muridnya Kiu Tiauw Kwi, tapi kepalanya ruwet memikirkan nasib Liu Siang. Dari gertakan awal, tampaklah musuh sudah lebih menang posisi. Benarkan ucapan orang-orang tengkorak hitam? Apakah yang sebenarnya terjadi di lembah delapang rembulan? Marilah kita ikuti peristiwa yang terjadi sejak mereka ditinggalkan Yung Ci.

Bab 10. Peristiwa di lembah
Pada saat Yung Ci meninggalkan lembah, di lembah terdapat lima Tiauw Kwi, secara bergantian mereka menjaga lembah dan mencari bahan makanan. Biasanya yang menjaga lembah berjumlah tiga orang. Liu Siang belajar kepada mereka. Ia sangat rajin sekali melatih ilmu-ilmunya. Mereka juga mulai mengajari ilmu pukulan salju kepada Liu Siang. Pada suatu pagi di akhir musim panas, saat seperti biasanya Liu Siang sedang berlatih dengan dua orang Tiauw Kwi, yaitu orang ketiga atau Sam Tiauw dan orang keempat atau Si Tiauw tiba-tiba terdengar suara teriakan. Teriakan terjadi di belakang istana. Demi mendengar teriakan

... Kiranya pelakunya adalah Coa Ting murid Hoan Bin Kwi Ong.” rayu seorang lelaki sambil menyeringai dan tanpa menunggu jawaban langsung mengempit tubuh Liu Siang. Mukanya putih pucat namun rambutnya masih hitam lebat. namun siapa kira ketika sampai di pojokan sudut istana ia diserang secara mendadak. namun tendangan secara telak mengenai lambungnya.he. Sebagai susiok dari Hek in Loco dapat dibayangkan betapa tinggi tingkat kesaktiannya. Nenek ini juga bukan orang sembarangan. Dan setelah beberapa kali mencoba akhirnya mereka dapat juga memasukinya.. “Dukk. hanya kain yang dililit-lilitkan di bagian bawah perutnya seperti cawat. yang berjuluk Hek in Pek Houw (harimau putih awan hitam). keduanya secepat kilat berkelebat ke sumber suara. pukulan susulan masih dapat ditangkis. sayang. Rupanya ada orang yang membokong. Hek in Siang Houw menyatakan tobat dan bersedia bekerja sama. di depang gua tahanan. Kiranya tobat itu palsu belaka. dengan kepala kecil gundul yang sedang menotok perempuan yang bukan lain adalah pasangan Coa Ting. Liu Siang menyusul di belakang. plakk desss. Hanya keluhan pendek yang mampu keluar dari mulut Liu Siang. Sebuah pukulan mengenai lengan. sehingga ia dibebaskan dari penjara dan dibiarkan berkeliaran bebas di lembah. begitu mendengar lembah delapan rembulan dihuni oleh orang asing ia bersama Hek in Siang Houw mendatangi lembah. Sementara itu di bagian belakang.heh. Namun di dasar lembah mereka dikalahkan oleh Yung Ci dan murid-muridnya.. Mengapa ia membiarkan . Setelah sekian tahun. atau susiok dari Hek in Loco. sambil secara kurang ajar menowel pipi dan dada Liu Siang. Puluhan tahun silam. karena pagi ini mereka membebaskan guru mereka dan bersekongkol untuk keluar dari lembah. Mereka memerlukan waktu hampir dua bulan untuk dapat menembus pertahanan lembah. yang sudah kumal dan apak. telah berdiri sepuluh orang penghuni lembah. Julukannya Pek Bin Hek Mau Kwi bo. Iapun langsung kaku tak mampu apa-apa.. Selain tubuhnya. sehingga kemudian dipenjarakan. Di belakang kakek kate ini ada nenek yang bertubuh kecil ramping. “He. sebaiknya engkau ikut aku. Tiga Tiauw Kwi sudah berhadaphadapan dengan sepasang sute dari Hek in Loco yang juga berjuluk Hek In Siang Houw (sepasang harimau awan hitam).itu. Hanya karena kulit tubuhnya berwarna putih saja yang membuat penampilannya tidak rombeng-rombeng amat.anak manis. pakaian yang dikenakan kakek kate ini juga aneh sekali. Siapakah kakek ini? Kakek ini tak lain adalah guru Hek in Siang Houw. Jika ditaksir usianya pasti sudah lebih dari delapan puluh tahun.! Auughhh. karena ia langsung ditotok di beberapa titik jalan darahnya termasuh jalan darah gagu.. karena dia adalah sumoi dari Hoan bin Kwi Ong. Mereka mengapit seorang kakek tua bertubuh kate.

lihat Pek Houw betapa lucunya orang-orang Tibet ini. Betapa marahnya ketiga Tiauw Kwi itu. Tapi kali ini Sam Tiauw sudah kepalang marah. sehingga tak lagi mengindahkan segala aturan yang sering justru membelenggu diri sendiri. Kiranya dengan menggunakan ilmu memindah tenaga lawan. “Dengarkan heh kalian setan keparat. . yang dari hawa pukulannya saja sudah mampu mengurung Coa Ting.”jawab Pek Houw. Sebagai kaum persilatan yang sudah puluhan tahun terjun di Bu Lim..begitu saja murid keponakannya ditotok.!” Tanpa diduga oleh siapapun begitu ditangkis tubuh Sam Tiauw seakanakan terpelanting ke arah Coa Ting...kek. sungguh kepongahan yang menjemukan. karena hawa pukulan yang sedemikian dingin sudah menimpanya.hik. “Hik. Sam Tiauw sengaja memukul untuk mengambil tenaga tangkisan untuk menyerang sasaran utama.kek. namun mereka tetap berusaha menguasai diri.. sebaliknya kelompok merekalah yang biasa menggunakan cara-cara curang seperti itu. Sudah tahu posisinya sangat tersudut masih berlagak sok kuasa. Pek Houw yang dijadikan sasaran serangan tidak menduga sama sekali. Kakek kate itu tidak sempat berpikir panjang mengapa Sam Tiauw melakukan serangan pengecut seperti itu. Dengan sigap ia menangkis. “Plak wuiss. Hayo kalau memang kalian ingin mencoba-coba kelihaian lembah delapan rembulan.heh.... Sekonyong-konyong tubuh yang tiba-tiba ada di depan Coa Ting sudah melakukan serangan yang sangat dasyat.. Apalagi ketika melihat kedatangan Coa Ting yang mengempit tubuh Liu Siang... ia tidak terbiasa menghadapi serangan tiba-tiba dari kaum yang mengklaim diri pendekar.. kamu tidak tahu di dalam hati mereka sudah dirasuki ketakutan yang disembunyikan kek.” ujar nenek Hek mau Kwi bo. lepaskan Liu Siang! Aku bersumpah akan membeset kulitnya sekerat demi sekerat jika kau berani seujung rambutpun mengganggunya!” bentak Si Tiauw yang paling sayang kepada Liu Siang dengan suara menggeledek.. Coa Ting sudah mencoba menangkis tapi terlambat. sehingga ia sudah tidak mampu berkelit kemanapun. “Coa Ting.heh.. “Heh...hik. majulah!” ujar Sam Tiauw yang saat itu jadi pimpinan mereka. jelaslah apa yang telah terjadi. karena kemarahan adalah pangkal kekalahan dalam pertandingan silat..Kwi bo manis. jangan kalian kira mudah keluar dari sini.. Melangkahi kami bertiga saja belum tentu kalian sanggup. Meski hanya sekilas namun ketiga Tiauw Kwi sadar mereka telah dikhianati.... Begitu selesai berkata dengan secepat kilat sudah melompat kedepan menyerang Pek Houw..

sudah hendak mengambil tindakan.. Sam Tiauw hanya sempat mengegoskan tubuh Liu Siang sehingga serangan ke arah dada dapat dihindari. Hayoo berikan penawar racunnya...celaka. Betapa kagetnya Si Tiauw merasakan tangkisan kakek kate itu. Dapat dibayangkan jika pukulan itu menyentuh langsung ke kulit.. apakah kita akan menyelesaikan pertarungan ini dan membiarkan murid kalian sekarat meregang nyawa.! Augghh..tahaan. “Plakkk...!” seru kakek kate sambil menangkis serangan Si Tiauw. atau kalian mau bicara baik-baik? Ingat nyawa murid kalian sudah diujung tanduk. kakek kate Pek Houw sudah menangkisnya. “Keparat katak busuk! Beraninya kalian bermain curang menyerang murid kami. Tangkisan itu sebenarnya sudah membuat tubuh nenek itu terpelanting... justru dari bawah ia kembali melancarkan serangan kedua. Nyawa Liu Siang jadi taruhannya. Namun luka pukulan yang mengenai pangkal lengan juga sangat berbahaya. Kali ini yang diserang adalah Liu Siang. Ia juga tidak menduga mendapat serangan dari nenek itu. Dua Tiauw kwi lainnya juga terkejut melihat serangan yang sangat cepat ini.“Duggg. “Tahaan. Sam Tiauw yang memang berwatak keras.. Begitu tangan kirinya memukul Coa Ting.. Keduanya samasama terdorong satu langkah... serangan pertama masih dapat di tangkis. Tangan nenek rambut hitam ini sebenarnya tidak sampai menyentuh.!” tubuh Coa Ting terlempar dua tombak dan langsung muntah darah. Masih untung sepasang Hek in Siang Houw sudah berada di belakangnya..” seru Pek Houw.... “Sam wi Tiauw Kwi.katakan apa mau kalian?” . “Awasss!. Namun ia menyadari posisinya tidak menguntungkan. sekonyong-konyong nenek rambut hitam sudah melancarkan serangan ke Sam Tiauw. Dulu waktu pertama kali datang ia masih satu tingkat di atas kakek kate itu...” teriak Sam Tiauw. dan langsung menyambar tubuh itu sehingga tidak jatuh di tanah. Namun baru saja Liu Siang berpindah tangan.. namun hawa pukulan tapak kelabang yang dilancarkan sudah mampu melukai Liu Siang.” seru Si Tiauw yang langsung menyerang nenek rambut hitam. Namun seperti sudah menduga akan terpelanting. siapa nyana kini kakek kate itu sudah memperoleh banyak kemajuan. Namun sebelum mengenai nenek itu.bugg!” “Ayaaa. demi melihat Liu Siang telah terkena pukulan. hingga mereka hanya mampu berteriak mengingatkan suheng mereka... teriak Si Tiuw. tangan kanan Sam Tiauw mencoba merebut Liu Siang. “Hmmm..

kalau kalian mengantar kami keluar. majulah!” Si Tiauw-pun maju. Pek Houw agak terkejut melihat yang maju Si Tiauw.” “Empat lawan dua. Si Tiauw menggelengkan kepala sedang Go Tiauw membisikkan sesuatu. Ia makin mendongkol demi melihat si nenek tersenyum-senyum penuh kemenangan. dua dari kalian. kami akan berikan obat penawarnya!” jawab Pek Hauw tak kalah sengitnya. “Hmmm aku harus mengajukan Si te lebih dahulu!” pikirnya.ha. baiklah berapa jago kalian yang akan kalian ajukan. Nenek rambut hitam menyadari betapa berbahanya jika ia terpecah dengan rombongan Pek Houw “Hmmm kalau itu kehendak kalian. “Baiklah tiga lawan enam. sungguh berbahaya jika nenek muka pucat itu menerimanya. Begini saja. Kalau ia mengajukan Go Tiauw. Akhirnya ia mengangguk. tapi kalian dulu yang mengajukan jago. begitu yang .” tantang Pek Houw. Ketika nenek itu menoleh lantas saja ia melotot kepadanya. kalau memang gagah hayo bertanding sampai mampus. empat dari kami. jika ia bisa menyembuhkan Liu Siang. pihak pemenang yang harus mengajukan jago lebih dahulu. Sebaliknya kalau ia maju lebih dulu mungkin dapat musuh yang terlalu empuk. dan ia boleh membawa serta kedua muridnya..tak disangka Kiu Tiauw Kwi yang namanya terkenal gagah bisa mengajukan usulan keji untuk memecah belah kami. namun untuk pertandingan pertama. Si kate terkesiap mendengar jawaban seperti ini.” jawab kakek kate itu penuh keyakinan. “Kalau seperti itu tentu saja sulit menetukan pemenang kalau hasilnya satu – satu.. ia coba hitung-hitung kemungkinannya. Si te.“Tentu saja kami ingin kebebasan.. maka kekalahan dari pihaknya sudah dapat diperkirakan dari awal. Dari tantangan ini sepertinya musuh ingin mengambil poin kemenangan pertama.ha. “Baiklah. “Kami akan beri kebebasan kepada Pek Bin Hek Mau Kwi bo.” kata Sam Tiauw tegas. tiga lawan enam!” Pek Houw diam sejenak. “Ha. kami akan mengajukan jago terlebih dahulu.. Ini diluar perhitungannya. Sam Tiauw menoleh ke kedua saudaranya.” Sam Tiauw berfikir sejenak. karena kalau yang maju pertama Go Tiauw pihaknya akan mengajukan pihak nenek muka pucat dan muridnya untuk mengambil keuntungan pada pertandingan pertama.

maka serangan tangan dengan jari-jari yang digerakgerakkan secara aneh seperti cakar ini bagaikan ratusan kelabang .” Kiranya. meskipun dari sisi tenaga lweekang mereka bertiga memperoleh kemajuan hebat saat di lembah. Coa Tingpun terpaksa ikut maju meskipun telah terluka sebelumnya. Ketika kemudian nenek muka pucat dan kedua muridnya mengeluarkan jurus kelabang emas terbang ke delapan penjuru (Pat hong hui kim hu ciang hoat). Pukulanpukulan tangan es dilakukan dengan penuh perhitungan. Pek Bin Hek Mau Kwi bo dan muridnya. Nenek muka putih dan kedua muridnya bahu membahu melakukan serangan bertubitubi ke Sam Tiauw. diiringi gerakan Pat kwa tiauw kwi ciang hoat yang didasarkan pada Pat kwa sin tiauw ciang hoat sehingga kedudukannya tidak menjadi terdesak. tapi kalian juga tidak boleh menggunakan senjata!” Dengan majunya Si Tiauw. Itupun pukulan nenek muka pucat masih mampu melukai Liu Siang. Kedua tangan mereka penuh berisi tenaga pukulan yang mengandung racun. “Dari pihak kami. “Baik marilah kita mulai. malah kadang-kadang dengan kelincahannya ia bisa balik memberikan serangan seolah-olah ada delapan burung hantu yang mematuk-matuk mangsa. Maka dapat dipastikan pertarungan ini mejadi sedemikian seru.maju Si Tiauw. silahkan kalian menyerang lebih dahulu. maka justru pertandingan pertama menjadi penentu kemenangan. jangan mengejek kami. Hanya sesekali saja dengan menggunakan hewan-hewan beracun yang ada di lembah. ia ragu untuk maju terlebih dahulu. Hanya sayang. Maka ia tetap mengajukan nenek muka pucat dan muridnya. sejak di lembah mereka tidak dapat lagi berlatih dengan merendam tangan dalam cairan beracun terutama racun kelabang sebagaimana mestinya. Kepalanya bergerak memberi kode supaya kedua murid keponakan nenek muka putih itu maju semua. Wajah Pek Houw bersungut-sungut penuh rasa mendongkol. Tapi apakah bersenjata atau tidak?!” “Huh. sementara itu Sam Tiauw sibuk memberikan perawatan pertama pada Liu Siang. pihak Pek Houw tak mau kepalang. Si Tiauw melayani keroyokan mereka bertiga dengan mantap. Siapapun yang dapat memenangkan pertandingan ini dapat dipastikan akan memetik keuntungan. “Biarlah biksu Bu Kong menjadi wasitnya!” seru Sam Tiauw. namun kekuatan racunnya justru sangat berkurang drastis. sejak kami kalian kalahkan belasan tahun silam kapan kami pernah menggunakan senjata. Hanya Go Tiauw yang terlihat tenang. Serang menyerang makin seru dan menegangkan.

Meskipun hantaman kaki itu bisa ditangkis namun posisinya yang ada di bawah tetap sangat rugi. “Wuss.. Serangan ini sungguh sangat keji karena musuh dalam posisi tidak siap. sekonyong-konyong Si Tiauw melakukan gerakan berpoksai.. tangkisan kaki Si Tiauw menjadi lemah.. Karena harus membagi tenaga.. Si Tiauwpun untuk sementara selamat.. mengeluarkan suara seperti anak panah menyambar dan didahului bau busuk seperti kelabang beracun. dan kali ini kejadian yang tak terduga oleh sepasang iblis murid Hoan bin kwi ong itu adalah tangkisan yang dilontarkan oleh Si Tiauw bersifat panas. Kedua pukulan tangan Si Tiauw bertemu dengan tangkisan tangan istri Coa Ting. ”Plakk. Si Tiauwpun menjadi kelabakan dibuatnya. nyawanya diujung tanduk...! Augghhh. Akibatnya tubuh Coa Tingpun hancur berkeping-keping. dan kembali berdiri meskipun sudah tidak tegak.. .... sehingga iapun terpelanting dan jatuh dalam posisi menelungkup. pasangan Coa Ting terluka dalam akibat pertemuan tenaga tadi. karena tidak ada ruang untuk terlontar. Keduanya menjadi terpelanting. kedua tangannya melakukan serangan ke sepasang suami istri yang menyerangnya dari bawah. Sungguh dasyat sekali akibatnya jika hentakan kaki ini berhasil mengenai sasarannya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mengginjakkan kakinya ke tubuh Si Tiauw yang sedang terjatuh... menjadi serpihan daging beku. Sementara itu. namun Coa Ting sendiri sudah tidak sanggup menangkis. darahpun tak bisa mengalir keluar dari mulutnya karena tubuhnya sudah membeku...desssss krotak!” Pada saat yang sangat kritis dengan gerakan yang sangat cepat. Sungguh berbahaya posisi Si Tiauw saat itu. Pukulan itupun mengenai punggungnya dan Coa Ting tewas seketika. Posisinya terjepit.” Dasyat sekali pertemuan empat kekuatan ini. Keadaan Si Tiauw sangat kritis. Sedang salah satu kakinya digunakan untuk menangkis serangan nenek muka pucat. Dengan cepat Si Tiauwpun mengeluarkan jurus naga salju menyembur api.. ia muntah darah.menerjang Si Tiauw. tangan Si Tiauw masih sempat meraih mayat Coa Ting dan dijadikan tameng untuk menangkis hantaman kaki. namun kemudian dengan gerakan merayap yang aneh seperti gerakan kadal mereka berdua menyerang bagian kaki. sehingga dapat dipastikan hantaman itu akan menggencet tubuhnya. kebalikan dari ilmu pukulan saljunya. Demi melihat kedua murid keponakannya roboh tak sanggup bangun lagi Pek Bin Hek Mau Kwi bo menjerit. posisinya menjadi berjumpalitan..plakkk.desss. Pada saat yang bersamaan nenek muka pucat melakukan serangan dengan tendangan kaki dari atas.! ”Blarrr... karena sepasang murid keponakan nenek muka pucat ini merangsek maju secara nekat. Pada waktu yang sangat kritis. karena serangan ke kakinya paling banter hanya satu yang dapat ditangkis.

. Dalam keadaan terbetot Si Tiauw justru menggunakan kesempatan tarikan untuk menendangkan kakinya. tapi siapa sangka justru yang dihantam itu adalah mayat Coa Ting.. Baik Si Tiauw maupun Pek Bin Hek Mau Kwi bo terluka dalam. Akibat tendangan kaki kiri Si Tiauw dan pukulan tangan kiri nenek muka pucat.. akibatnya dadanya terkena pukulan tangan kiri Pek Bin Hek Mau Kwi bo.. ia tidak berusaha melawan tarikan sehingga tubuhnyapun melayang dan bertemu di udara dengan nenek itu. Serangan ini sangatlah curang... karena di awal pertandingan nenek itu sepakat untuk tidak menggunakan senjata..dessss. rasakan kini jurus pamungkas serangan kelabang membelit mangsa!” “Wussss. Perasaan marah. keduanya terlempar ke belakang sejauh tiga tombak. Untung bagi nenek muka pucat itu karena tendangan kaki Si Tiauw sudah lemah. Ia mengira dirinyalah yang membunuh Coa Ting. Dari kedua mulut orang yang bertanding itu keluar darah segar... Pek Bin Hek Mau Kwi bo tidak keburu untuk menangkis karena iapun dalam posisi melayang..Kaki kanannya yang digunakan menangkis tendangan si nenek terasa sangat nyeri. sedangkan ulu hati nenek itu terkena tendangan. tahu belaka bahwa serangan selendang yang membelit dirinya akan diikuti pukulan tangan. Daun dan debupun beterbangan di sekeliling tempat pertarungan. sehingga pihak penyerang ketika membetot selendangnya akan mendapat tenaga tarikan dari lawan yang terbelit. “Setaaaan.. dan mendongkol membuatnya gelap mata. beraninya kau pakai muridku sebagai tameng.. Semula ia senang karena tendangannya mengenai sasaran. iapun mengumpat sambil melancarkan serangan pamungkas.bluarrr!!!” Dasyaat sekali pertemuan dua tenaga raksasa di udara. menyesal... bertemu dengan berbagai kalangan persilatan mengenal dengan baik teknik-teknik bersilat.sret. Kiu Tiauw Kwi dari yang tertua sampai Go Tiauw selama belasan tahun bertugas di luar. Namun mereka tak keburu mencegah ketika Pek Bin Hek Mau Kwi bo membetot tubuh Si Tiauw yang telah terbelit selendang yang terbuat dari robekan kain yang disambung-sambung. . Pada saat seperti ini ketenangan serta pengalaman bertanding sangat menentukan kemenangan seseorang..sret.!” Sekonyong-konyong dari lengan baju nenek muka pucat itu keluar selendang yang langsung menyambar Si Tiauw dan membelitnya. tulang-tulangnya sepertinya ada yang retak. Pek Bin Hek Mau Kwi bo kembali menjerit mukanya yang pucat menjadi semakin memutih. Biasanya lawan yang terbelit akan bertahan dan berusaha untuk membebaskan belitan. “Wussss. “Tahaaan!” bentak Sam Tiauw dan Bu Kong Taisu secara serempak. Nenek itu sangat terperanjat melihat tubuh Coa Ting menjadi berkepingkeping. Namun Si Tiauw yang paham teknik ini bertindak sebaliknya..

.he. Pertandingan antara Sam Tiauw dan harimau jantan terasa kurang menarik. jurus-jurus serangan Sam Tiauw sangat mantap dan terasa menggiriskan. Tapi apakah bersenjata atau tidak?!” “Dari pihak kami.” kelit Pek Houw. karena dari awal sudah dapat ditebak pemenangnya. Hek in Houw ko (harimau jantan awan hitam). tapi kalau kalian berani maju satu per satu matipun kami rela jika kalian bisa mengalahkan kami.Adapun pukulan tapak tangan kiri Pek Bin Hek Mau Kwi bo yang beracun bisa membahayakan..heh. karena ia ingin mengakhiri pertarungan secepatnya. tapi kalau memang Kiu Tiauw Kwi sudah kehilangan . “Tidak bisa. hayo serahkan saja obat penawar itu. “He.” Lelaki berusia empat puluhan lebih yang merupakan murid Pek Houw segera bersiap. tolong jaga Liu Siang” jawab Sam Tiauw pendek. silahkan Sam Tiauw mengajukan jago ketiga!” kata Bu Kong Taisu. Sam Tiauw melukai Hek in Houw ko. Namun karena sudah terlanjur kesal. “Biarlah pertandingan pertama ini dinyatakan seri!” jawab Sam Tiauw pahit.tidak bisa. “Pertandingan kedua dimenangkan oleh pihak Sam Tiauw. hasil pertandingan seri. silahkan kalian menyerang lebih dahulu. “Baik marilah kita mulai. “Sekarang gantian pihakmu yang mengajukan jago Pek Houw!” timpal Go Tiauw.. Perlu waktu beberapa tahun untuk bisa menyembuhkannya. dan kami akan ampuni jiwa anjing kalian!” bentak Sam Tiauw. Pek Houw!” balas Bu Kong Taisu. aku yang akan maju! Go te. sehingga tangan keduanya patah-patah. dan dapat dipastikan dalam pertandingan itu kami akan kalah. “Keduanya terluka. pihak kami tidak bisa dibilang kalah!” seru Pek Houw keras. artinya pihak kalian lagi yang harus mengajukan jago. maka Sam Tiauw segera merawat Si Tiauw. Sam Tiauw kalau kami berdua melawan kalian berdua jelas kami merendahkan kemampuan Kiu Tiauw Kwi..he. tidak tahu apakah Pek Houw masih ingin melanjutkan pertandingan? Bagaimanapun peluang kalian menang sudah tertutup. pihak kami bukan pemenang. Pertarungan kemudian segera dimulai. “Baik. “Dari pihak kedua belah pihak sama-sama tinggal dua orang. “Hmmm tapi pihak kalian telah berlaku curang.

jari-jari tangannya menyentil siku harimau betina. Sungguh kemahiran bicara Pek Houw harus diakui sangat lihai. Sam Tiauw mengimbangi dengan tangkisan dan serangan balasan yang tidak kalah sengitnya. Bu Kong Taisu makin terpaku pada pertandingan sehingga. Bu Kong Taisu dan Sim Beng Tosu yang menonton hampir berbarengan mengeluarkan seruan-seruan kagum. “Baiklah. “Sim Tosu. Wajah Sam Tiauwpun menjadi merah padam. tak menyadari bahwa sejak beberapa saat yang lalu. pasir dan dedaunan yang sudah berserakan jauh ketika pertempuran sebelumnya makin terbang lebih jauh. keadaan jadi seri.” kelit Pek Houw membela diri. dari lengan keluar kabut hitam yang berbau sangit seperti karet dibakar. Yang tampak olehnya hanyalah putaran tangan berwarna putih di antara asap hitam. penasaran dan malu. “Pertandingan tiga dimenangkan oleh pihak Pek Houw. Houw nio menarik tangannya karena tak ingin kena totok. “Pek Houw. Tanpa . Mereka sudah saling terjang maju dan terjadilah pertempuran yang lebih dahsyat lagi daripada tadi. Go Tiauwpun kemudian bersila untuk bersamadi memulihkan lukanya. mereka dapat menikmati dan mengagumi jurus-jurus yang belum pernah mereka saksikan keduanya di dunia ini. sudikah menjaga Liu Siang sebentar?” pinta Sam Tiauw pada tosu Kong Thong Pay yang tak lain adalah sute dari ketua Kong Thong Pay. namun dalam hal lweekang masih di bawah Pek Houw. Sam Tiauw mengegoskan kepala. Akibatnya luar biasa. meskipun ia masih menang dalam hal ginkang. Pek Houw memasang kuda-kuda.sifat keksatriaan aku tak tahu lagi. Kedua pihak kemudian bersiap. Bayangan mereka sudah lenyap. seperti merpati bermain-main diantara awan hitam. karenanya dalam dua puluh juruspun sebuah pukulan mengenai dadanya dan membuatnya terjatuh. menahan rasa gusar. kerahkan seluruh kemampuanmu!” bentak Sam Tiauw. Sim Beng Tosu sudah menjauhinya untuk mendekati nenek muka pucat. Go te lawanlah mereka! Jangan kasih ampun yang muda sekalipun!” Maka majulah Go Tiauw ke kalangan. Juga mereka merasa ngeri karena setelah kini mereka dapat mengikuti serangan iblis kate itu yang benar-benar luar biasa dan amat berbahaya. dan akal bulusnya sangat licin. Mereka adalah orang-orang sakti maka dengan pandang mata mereka yang terlatih. cakar tangannya menyambar-nyambar. tangannya membentuk cakar penyambar cepat ke ubun-ubun Sam Tiauw. pertandingan terakhir adalah penentuan!” kata Bu Kong Taisu. sementara dengan jerit melengking Hek in Houw nio (harimau betina awan hitam) mulai melancarkan serangan pembukaan. majulah! Jangan kepalang. Bersamaan dengan itu serangan susulan dilakukan oleh Pek Houw. Pertandingan satu lawan dua tidak seimbang untuk Go Tiauw.

.. Entah pikiran apa yang berkelebat di otak tosu itu. Yang jelas begitu menerima tubuh Liu Siang..!” “Ayaa..” seru Bu Kong Taisu.... “Lariii!” seru Sim Beng Tosu.... menuju dinding bukit yang ada guanya. “Prak. Bu Kong Taisupun terkejut dengan akibat serangan yang ditimbulkannya. Seketika itu juga ia tak mampu menggerakkan tangan. Wajah tosu itu kelihatan memerah.wusss. jika ada orang memperhatikan pasti akan kaget.prakk. Ia tak mampu menahan serangan pukulan jarak jauh Bu Kong Taisu. Sam Tiauw bukannya tidak sadar kalau dibokong tetapi karena ia sedang konsentrasi menghadapi serangan Pek Houw maka senjata rahasia berupa karang yang diasah hingga runcing amblas ke dalam punggungnya... . “Wuss. Mereka berlima tanpa mengindahkan seruan biksu itu tetap saja tunggang langgang melarikan diri dari arena.auuughh.. Namun perlahan asap itu terlihat makin meminggir terkena gelombang hawa pukulan Sam Tiauw. Lebih dari lima senjata rahasia dilontarkan secara menggelap oleh nenek muka pucat untuk menyerang Sam Tiauw. Terlihat bahwa tingkatan Sam Tiauw masih satu level di atas Pek Houw..dess!” bunyi desingan senjata rahasia itu mengakhiri pertandingan antara keduanya.... tosu itu menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung si nenek..sepengetahuannya. Ditambah lagi asap hitam yang makin tebal keluar dari tangan Pek Houw makin mngaburkan pandangan. Beberapa saat kemudian nenek itu seperti sudah pulih dari lukanya.. “Berhenti hoi! Tunggu! Pengecut!” Bu Kong Taisu berteriak-teriak dengan suara mengguntur sambil lari mengejar lawan. Bu Kong Taisu masih terpaku dengan mata yang berbinar-binar. Tetapi yang mengejukan Sam Tiauw adalah pukulan kakek kate yang terasa dingin. hanya selisih sedikit dengan kemampuannya. Akibatnya tubuhnya terlontar satu tombak dan roboh terguling. dan akibatnya dua pukulan dan satu tendangan Pek Houw mengenai dada dan perutnya. sambil menggendong Liu Siang. tapi tiba-tiba binar itu berubah ketika sekonyong-konyong terdengar bunyi desingan senjata rahasia yang dilontarkan dalam jarak dekat. Bu Kong Taisu hanya mampu menangkis tiga diantaranya. dengan nafas yang bergelombang dan tangan gemetar.wuss. yang satu tidak mengenai sasaran sedang yang satunya lagi mengenai punggung Sam Tiauw. “Omitohud.. Gerakan Sam Tiauw dan lawannya makin cepat sehingga sukar diikuti pandangan mata lagi.. semoga budha mengampuni hamba yang kesalahan tangan memukul lelaki ini hingga mati” kata Bu Kong Taisu dengan wajah sedih.. Akibatnya tubuhnya roboh terguling dan menghembuskan nafas terakhir.. Houw ko (harimau jantan) yang sudah terluka lari paling belakangan.

siapa percaya omongan tosu tengik seperti kamu. mereka pasti sudah tak mau mengampuni kita. dan hmmm kalian jangan bercuriga seperti itulah. “Gimana baiknya?” tanya Sim Beng Tosu. “Eh. lari terbirit-birit meninggalkan anak buah yang telah terkapar.. Namun sampai yang kesekian kalinya masih tetap gagal. namun ketika mendekati dinding kedua kakek dan nenek itu menghadang. . “Apakah kita paksa saja orang-orang tibet itu untuk mengaku?” tanya nenek muka pucat.” jawab Pek Houw.. Yang lainpun secara bergantian ikut mencoba... Akibatnya tubuhnya terdorong satu tombak. Kakek kate itu mencoba menuruti usul muridnya. dan tanpa komando menyerang secara bersamaan.ini dia..he. dan bergoyang-goyang. Kesempatan ini digunakan oleh kedua lawannya untuk mendaki dinding tebing...” cibir nenek muka pucat itu. Merekalah yang telah berkhianat mengeluarkan kakek kate dan nenek muka pucat itu. “Dugg.. “Huhh... bukankah kamu menghendaki gadis itu. berkali-kali ia mencoba namun tetap gagal. Sedang serangan satu orang saja sudah sedemikian hebatnya.heh. akhirnya mereka beristirahat.... kita semua bernasib sama di sini. “Ahh. Pek Houw dan Hek in Siang Houw yang tinggal betinanya saja.tidak sebaiknya kita kembali ke sana... iya.plakk. “Tidak. heh jangan harap ya! Selama nenek muka cantik ini tak memberikan obat penawar jangan harap ia bisa bangun lagi.. Bu Kong Taisu terus mengejar. apakah maksudmu membawa gadis ini?” tanya kakek kate itu dengan mulut menyeringai dan mata memandang curiga. Serangan keduanya sungguh dasyat bukan kepalang. cepat gunakan tenaga es yang sudah suhu latih itu!” kata Houw nio.percuma.” seru nenek itu perlahan. “Bagaimana kalau kita tawarkan kesembuhan gadis ini.. “Suhu. baik menekan-nekan sampai berusaha mendobrakknya. Ketiga memasuki gua itu Houw nio meraba-raba dinding dan mendapati tempat yang merupakan kunci pintu goa. Betapa malangnya nasib anak buah yang ditinggalkan.he... disini letak kuncinya.” jawab Sim Beng Tosu.Dengan pengecut Pek Bin Hek Mau Kwi bo.Sim Beng Toyu.” Bu Kong Taisu menangkis serangan mendadak ini. padahal mereka berempatlah yang telah berkorban untuk menyelamatkan mereka. namun tangkisannya tidak cukup untuk membendung benturan tenaga yang sangat dasyat. pasti mereka tidak akan mau..

namun gua itu terus naik dan berujung buntu. “Sudah. aku hanya melihat dari kejauhan. atau mengambil air?” “Aahh iya benar. Meskipun keadaan masih belum terlalu terang.. “Apakah kau melihat mereka mencuci tangan .. apa balasan untuk ide cermerlangku? Toanio berjanjilah memberi obat untuk bocah ini!” “Huh siapa sudi! Bocah apanya. Biasanya mereka keluar fajar.kalau begitu aku kira-kira tahu!” “Tahu apa? Eh katakan apa yang kau ketahui tosu busuk!” “Sabar. Namun karena terbiasa maka Houw Nio tidak lagi mengandalkan kemampuan penglihatan saja. eh. ketika Pek Houw mencoba-coba setelah beberapa kali akhirnya bisa juga pintu itu terbuka..” “Benarkan. nah Pek Houw cianpwe pasti bisa melakukannya. Luar biasa sekali memang pintu keluar ini. susunya aja udah nonjol gitu! Sapa yang tak tahu otak mesummu tosu palsu. Kwi bo apa salahnya kalau kamu memberikan sedikit obat penawarnya? Yang penting kita bisa lolos.“Toa nio dalam keadaan seperti ini masih perlukan omongan seperti itu? Jika tidak karena aku bantu apakah kiranya kita bisa lolos dari tiga burung hantu itu?” balas Sim Beng Tosu tak kalah sengit. “Eh Sim Beng toyu.” jawab Houw Nio yang menjadi matamata mengawasi bagaimana cara Kiu Tiauw Kwi keluar. tapi kalau benar pendapatku. aku akan coba!” Benar saja.sudah. Houw Nio lama sekali untuk bisa mengintip gerakan mereka.sabar.” balas Sim Beng Tosu enteng. Kita harus memikirkan cara keluar dari neraka ini.” jengek nenek muka pucat.. “Ya sudah kalau memang begitu... lapat-lapat aku mendengar gemericik air tanda ia cuci tangan. hanya saja kalau memang idenya ternyata sampah..ho.. menurutku kunci pintu itu harus dibuka dengan kekuatan hawa im yang mampu membentuk air ini menjadi kunci tiruan. “Aha.. apakah kamu mengamati apa saja yang dilakukan oleh mereka kalau sudah sampai gua ini?” tanya Sim Beng Tosu “Mana aku tahu.Houw Nio. tapi juga kemampuan pendengaran. “Baiklah.. aku masih mengira-ngira.” “Ho. tunggu dulu jangan pundung. kita sate rame-rame tosu cobul ini!” ancam Pek Houw..” lerai Pek Houw.cukup! Keadaan kita masih belum aman. dari kejauhan.dulu. hanya .. mungkin nasib kita harus mati kedinginan di sini. hanya saja sepertinya mereka cepat sekali gerakannya.

dan berlututlah seratus kali menyambut kedatangan kami!” Dua orang penjaga itu terkejut melihat kedatangan seorang kakek aneh yang hanya bercawat.! Kompraang!” . dan belum berani kembali ke Kong Thong Pay. Perkumpulan ini didirikan oleh suheng dari Pek Houw. Dengan kepandaian mereka meskipun menghadapi serangan binatang berbisa dan rawarawa berbahaya tidak banyak masalah yang mereka temui. “Ho. Anggota perkumpulan ini tidak terlalu banyak hanya sekitar empat puluhan. Dari sungai itu perjalanan dapat ditempuh sekitar setengah hari berkuda. tosu yang membopong seorang gadis. dengan gaya pongah. namun keadaannya masih lemah dan selalu dalam keadaan tertotok. dengan posisi menujulang di dekat sungai besar. neh kenalkan..! Praakkkk. Terbebaslah mereka dari lembah delapan rembulan.belum kenal kakek gurumu rupanya.ho. Dan inilah awal malapetaka yang menimpa lembah keramat ini. membentuk perkampungan kecil.. Dinamakan awan hitam.mereka yang menguasai ilmu es saja yang bisa membukanya. Karena masih belum tahu tujuan.. Lama sekali mereka mencari-cari tombol rahasia.. Karenanya sampai di gerbang Hek in Pang.ho. awan yang berasal dari penguapan sungai mudah sekali berarak ke bukit ini. bahkan Kiu Tiauw Kwi ke enam ke bawahpun belum bisa melakukannya. Pek Bin Hek Mau Kwi bo menepati janjinya memberi obat. yang berjuluk Hek in Lo kwi.. Di puncak awan hitam inilah. Meskipun paham bahwa yang datang bukan orang sembarangan. di puncak bukit awan hitam keadaan Liu Siang masih aman... sehingga perlahan keadaan Liu Siang membaik... namun tak ketemu.. Blughh. diiringi seorang nenek yang mukanya putih pucat. Maka keadaan Liu Siangpun tidak mendapatkan gangguan yang berarti karena Hek Mau Kwi bo tak sudi melihat tosu itu memperkosa anak gadis. kami tidak melayani pengemis. Pek Houw membentak penjaga. berdiri perkumpulan yang menamakan diri perkumpulan awan hitam (Hek in Pang). Puncak awan hitam adalah puncak sebuah bukit yang terletak di sebelah selatan sungai Yang tse kiang. karena awan yang memayungi bukit ini adalah awan mendung yang berwarna gelap keabu-abuan. Ketika sampai di pintu gerbang.. Hanya sedikit masalah yang dihadapi Houw Nio ketika kakinya menginjak jebakan yang membuat satu kakinya terluka sehingga terpaksi dipotong sebatas lutut. “Siapa kalian! Katakan nama dan keperluan. namun dua orang penjaga ini tak mau percaya begitu saja kalau kakek kakek kate ini kakek guru mereka. “Heh kunyuk buka pintu untuk kakek gurumu.. Baru setelah hampir putus asa mereka bisa mendorong batu.” balas salah satu penjaga dengan muka tak kalah garang... Mereka tinggal di sekitar markas utama. Sim Beng Tosu masih terus mengikuti mereka.

Cu Hoa Pangcu cepatlah beri ucapan selamat datang kepada kakek paman gurumu. Betapa herannya perempuan setengah baya yang memiliki codet di pipi melihat siapa yang datang. Ia tidak mengenali perempuan setengah baya yang merupakan murid dari Hek in Loco. Dengan mata melirik ke kanan dan ke kiri Pek Houw tidak melihat Hek in Loco. karena pestanya hanya dihadiri oleh beberapa orang murid saja. akhirnya ia memutuskan untuk mencari Hoan bin Kwi ong. mereka berdua datang untuk mengajak kerjasama. tapi ia mengenali kakek muka monyet yang tak lain adalah Hoan bin Kwi ong. maka seketika itu kehadiran Cu Hoa bagai pucuk dicinta ulam tiba. tapi dirinya sendiri memiliki wajah yang berbulu agak tebal mirip monyet. Kebetulan pada saat yang bersamaan Hoan bin Kwi ong mendapatkan tugas untuk menakhlukkan Hek in Pang. Setelah ditinggalkan Tiong Gi. Aneh memang untuk mendandani orang lain ia adalah ahlinya.Hanya dengan menghentakkan kakinya akibatnya dasyat. ketua Hek in Pang. Kakek muka monyet itupun terkejut demi mengenali kakek kate yang baru datang yang bukan lain adalah Pek Houw dan disertai tiga orang yang salah satunya adalah sumoynya. Drama itu berjalan mulus. kakek muka monyet yang ahli mengubah atau menyamar bentuk muka. Penyebab kematian kemudian dirahasiakan oleh Cu Hoa. kawan lama. Dua orang penjaga itu terlontar hingga menubruk pintu. serta wajahnya yang menunjukkan kelelahan lahir batin. Empat orang yang tiba itu pakaiannya sudah sangat kumal dan kulitnyapun kehitam-hitaman dan berdebu. kionghi. namun saat pesta. selamat datang. Maka gemparlah perkumpulan ini. murid tertua suhengnya. tapi menghadapi keroyokan mereka berdua. racun saja tidak mungkin membunuhnya karena ia sendiri mahir menggunakan racun. kiranya Pek Houw sicu yang datang. Pek Houwpun terkejut melihat hasil yang diluar dugaannya. Tak disangkanya tenaga yang hanya setengahnya mampu mendorong sedemikian hebatnya. Hek in Loco sebenarnya tidaklah semudah itu ditakhlukkan. selamat bergabung kembali dengan Hek in Pang. Cu Hoa berusaha mencari anak pungutnya itu. Iapun bersedia terlibat dalam drama pelenyapan Hek in Loco. namun berbulan-bulan mencari ia tak mendapatkan titik temu. Cu Hoa menaburkan racun ke minuman Hek in Loco. Dan . akhirnya iapun tewas. hingga langsung membuat seorang perempuan setengah baya yang sepertinya menjadi pimpinan mereka dan kakek tua berwajah seperti monyet keluar ke halaman depan. dan ia bersama dengan Hoan bin Kwi Ong berhasil menguasai Hek in Pang. bahkan salah satu di antaranya hanya berpakaian kain cawat. ia tak mampu melawan. Kejadian ini tidak banyak diketahui oleh anak murid Hek in Pang. “Ahaa. bahkan pintu itupun jebol dibuatnya. atau yang aslinya Cu Hoa Nionio. Apakah yang telah terjadi di Hek in Pang? *** Telah lama kita tidak mengikuti perjalanan bibi Tiong Gi yang mengaku bernama Ciu Hong.

. “He. tapi harap kau ketahui sekarang Cu Hoa ini menjadi muridku. Mereka yang terbiasa berdekatan dengan orang-orang kasar memang sering berbicara lebih blak-blakan. Tapi ucapan seperti ini tidak membuat panas hati Hoan bin Kwi Ong. jadi aku tidak bisa dikatakan lagi sebagai orang luar. taecu akan melaksanakan petunjuk susiokcouw. sebagai orang luar.. Hoan bin Kwi Ong tersenyum saja melihat sodokan pertanyaan seperti ini. kami bertahun-tahun mencari jejakmu tapi tak seorangpun pernah menemukan!” “Kwi ong suheng. semoga susiokcouw selalu panjang umur!” “Benarkah kau pimpinan baru Hek in Pang. meskipun aku hadir di . ia menjadi terkejut sekali mendengar disebutnya namanama ini. suhu Hek in Loco telah meninggal karena sakit. “Taecu Cu Hoa mengaturkan ucapan selamat datang kepada yang mulia susiokcouw. sedangkan susiok-susiok yang lain sudah lama meninggal karena permusuhan dengan Yu Liang Pay.he.. “Ah kau mengecewakan jadi pangcu dari Hek in Pang. “Susiokcouw. benarkah kau pernah menyuruh anak buahmu mencariku. tentu saja sebagai tamu aku tidak berani turut campur masalah tuan rumah. ia dapat merasakan desakan tenaga yang sangat hebat sehingga membuat tubuhnya terhuyung. Adapun Cu Hoa. waktu masih muda ia hanya mengenal namanya saja. apakah hubunganmu dengan peristiwa ini?” dengan lantang Pek Houw langsung saja bertanya blakblakan tanpa tedeng aling-aling. Untung di belakangnya Hoan bin Kwi Ong cepat memberi bantuan. huh lakilaki mulut buaya?” Di dunia hitam dialog memang beda dengan dunia para pendekar yang penuh dengan tata kerama dan sopan santun. dan adikadiknya?” tanya Pek Houw sambil mengirimkan serangkum pukulan dari telapak tangannya. bahwa gurunya masih memiliki seorang susiok kiranya inilah orangnya yang datang. sehingga ia tidak terdorong lebih jauh. sedangkan semua anak murid langsung berlutut.Pek Houw sicu kulihat semakin tua kau semakin gagah. karena memang ucapan itu banyak benarnya. jika susiokcouw ingin memberikan petunjuk bagi taecu.he. Dan iapun tahu belaka kalau dulu sumoy-nya pernah ada hati sama dirinya.kau sumoy. ia sudah hafal sekali tabiat dari kakek kate ini. Serangkum angin pukulan menghantam Cu Hoa. Eh Ce Ting.. apakah kau bicara dalam keadaan sehat? Sedangkan dulu ketika aku masih selalu mendampingimu engkau sering acuhkan aku. syukurlah kau telah kembali. maka Ciok Seng.” jawab Cu Hoa.. Dengan agak berdebar-debar ia menyampaikan juga ucapan selamat datang sambil membungkuk. coba kalau Houw nio sudah sembuh ingin sekali aku melihat bagaimana kemampuan kalian.

sicu?” Bab 11. hayo aku ingin sekali mencoba kelihaianmu merias wajahku.apa maumu? Apakah aku harus hengkang dari sini..” jawab Hoan bin Kwi Ong tenang. kalau aku kalah sudah sepantasnya menuruti kemauan yang menang. Terbongkarnya lembah delapan rembulan “Hemm. “Hayo kau keluarkanlah tapak kelabang andalan perguruan kalian atau tapak yang lainnya. “Huh.sini sebagai tamu. gaya bicara Hoan bin Kwi Ong sangat halus. baiklah pantang bagi Hoan bin Kwi Ong untuk menolak tantangan.” “Ah kau keliru sicu. apa kirakira taruhannya. jadi bisa kita sepakati taruhannya?” “Kerjasama? Dalam hal apa?” “Dalam banyak hal. dan bergaya orang sekolahan... ia memang seorang perias. okey tak masalah. Aneh memang meski tampangnya seperti genderuwo tapi lagaknya yang lembut sangat menawan para pelanggan.. Tapi tunggu dulu.” jawab Pek Houw. tapi yang paling penting dalam mewujudkan cita-cita besar. kalah lawan Hoan bin Kwi ong cukup wajar jika memaksaku pergi dari sini. “Ahh kiranya Pek Houw sicu masih berjiwa muda. hayo kamu pake senjata apa tangan kosong?” “Hmmm.” “Ah sesukamulah. sudah jelas belangnya! Kaulah dalang semua peristiwa ini.” . aku akan lawan pukulanmu dengan ilmu-ilmuku yang lama maupun yang baru.tidak seru kalau tanpa taruhan. Pada masa mudanya. Memang kontras sekali dengan bentuk tubuh dan wajahnya. mari sicu tidak perlu sungkan. tunjukkan padaku kelihaianmu.. tentu saja aku akan disebut pengecut kalau tidak berani menghadapi pukulan awan hitam.” seru Pek Houw sambil ancang-ancang mulai serangan. hayo gini saja kalau kau kalah kau harus ceritakan semua peristiwa yang terjadi dan bagaimana sikapku nanti tergantung dari jawabanmu. aku justru ingin mengajakmu kerjasama. “Bagaimana kalau aku yang menang sicu?” “Ah tidak mungkin! Tapi hmmm. sehingga lebih sering berhubungan dengan wanita yang jadi pelanggannya.benar.

... Sedangkan Kwi Ong menggerakkan kedua tangannya seperti kitiran. diringi suara benturan keras.! “Pek Houw..” “Hmmm kalau bukan sobat lama tentu aku tidak bermurah kepadamu Kwi Ong. Dengan gabungan kedua ilmu ini. awan hitam membongkar gerbang! Hiaaatt.. meskipun terluka namun tidak terlalu parah. Dengan gerakan memutari ia sering bisa mencuri setengah atau satu jurus pukulan... awas serangan balikku kera api membakar langit! Hiaatt. Hawa dingin yang keluar dari tapak tangan itu sungguh menggiriskan. Lantai yang mereka injakpun sudah melesak ke dalam.. dari tapak tangannya keluar serangkum hawa yang panas luar biasa.... Para penontonpun yang melihat mulai pening mengikuti gerakan yang sangat cepat itu.. Kedua tapak tangannya terbuka. Luar biasa sekali hasil dari gempuran-gempuran awal. hayo sesuai janjimu coba ceritakan apa . Dadanya terasa agak nyeri. akibatnya Pek Houw terdorong satu langkah ke belakang. Telapak tangannya berubah memerah seperti bara. Pukulan dari tangan Pek Houw yang bersifat im bertemu dengan pukulan Kwi Ong yang bersifat panas..bluarrrr!” Terdengar bunyi mirip logam panas yang dicelup ke dalam air es. Dari tangan Pek Houw keluar asap hitam yang sangat tebal. Namun meskipun bertubuh kate orang keliru kalau menilai Pek Houw lebih lemah. asap hitam yang keluar dari kedua lengannya seolah membungkus tubuhnya... digabungkan dengan ilmu barunya yang dinamai Hwee kauw sin kun (silat sakti kera api). Dua hawa pukulan yang mengandung hawa sakti yang berlawanan sifat bertemu di udara. hingga seakan-akan awan sungguhan yang bergerak. sedangkan Kwi Ong terpental lima langkah.. Arena pertarungan juga menjadi makin lebar. “Cessssssss.. “Ce Ting coba tahan pukulanku ini.. lengannya memerah.. Tangannya bergerak cepat. karena bagi orang yang telah menguasai ilmu secara sempurna jarak tetap bisa diatasi dengan kecepatan. seperti awan hitam menerpa baling-baling berwarna merah.!” .! Pek Houw bergerak bagai terbang ke depan...Serangan demi seranganpun mulai dilancarkan kedua belah pihak. “He he heh. keganasan sifat pukulan tapak kelabang menjadi lebih buas lagi. Sebaliknya Hoan bin Kwi Ong juga melayani serangan lawan dengan mengeluarkan ilmu-ilmu lama seperti pukulan tapak kelabang khas perguruan mereka. aku mengaku menyerah.. bahkan kadang-kadang bisa mulur ke depan sehingga membuat gerakan Pek Houw yang kate seperti hanya berputar-putar di tempat.Hek in Pek Houw makin tua makin gagah. Pukulan demi pukulan yang dilancarkan juga membawa kesiuran angin yang berhawa dingin menusuk tulang.

” Suasana mencari riuh rendah ketika Sim Beng Tosu berusaha mencari kesana-kemari. Pada saat ia asik mengikuti pertandingan. Ia berusaha lari ke arah utara. Lebih sedih lagi karena Sam Tiauw kini menjadi orang cacat yang sudah tidak bisa lagi bersilat. dua orang yang baru datang dari negeri salju masing-masing membawa seorang remaja yang akan mereka didik. terlihat ada tiga anak buah awan hitam yang tergeletak pingsan di halaman belakang. Beruntung saat itu di lembah empat dari Kiu Tiauw Kwi telah kembali ke markas. Pek Houw memang sengaja melakukan itu agar tengkorak hitam turun gunung. Cit . namun karena bingung menentukan arah yang tepat ia justru lari ke arah barat laut. Kwi Ong dan Kwi bo hanya mengomel dan menyumpah serapah atas kebodohon tosu cabul itu. Sebenarnya sudah sejak diturunkan dari pondongan totokannya telah terbebaskan. Akhirnya Cu Hoa dengan nada membentak menyuruh beberapa anak buahnya membantu mencari anak gadis yang telah melarikan diri. Ji Tiauw. langsung saja mereka bergerak menuju sumber berita. hingga semua roboh tak sadarkan diri. Di luar ia dihadang oleh tiga orang penjaga. Sekalian mereka membawa dua remaja untuk dikembalikan ke asalnya. dengan perlahan-lahan. Liu Siang terus melarikan diri menjauhi bukit itu. Betapa sedih dan gusarnya keempat tetua ini demi mendengar cerita pengkhianatan di lembah yang menyebabkan lolosnya tawanan. Pek Houw. Karena keadaan genting It Tiauw memerintahkan Si Tiauw dan Go Tiauw untuk mencari bantuan kepada nenek besar dari Tai Swat san untuk mencari suhu mereka dan Liu Siang. namun kalau hanya menghadapi kroco-kroco begitu dengan enteng Liu Siang berhasil memberikan hadiah bogem mentah kepada ketiganya. karena suasana telah berubah. ia dengan merangkak berhasil keluar dari kerumunan penonton dan segera melarikan diri menuju ke arah belakang. namun ia bersabar menanti saat-saat yang paling tepat. Adapun It Tiauw. Karena tawanannya lolos maka Pek Houw menyuruh Cu Hoa untuk menyebarkan informasi mengenai lembah delapan rembulan. dan setelah memperoleh informasi yang dibutuhkan. Maka ketika Sim Beng Tosu terlena. Gosip inilah yang akhirnya tersebar ke seantero dunia persilatan hingga terdengar kelompok tengkorak hitam. “Heiii kemana anak gadis itu? Celaka ia melarikan diri. tempat persembunyian orang-orang tibet yang berjuluk burung hantu dari gunung salju besar. Ketika Sim Beng tiba diluar. yang berarti cerita mengenai lembah akan dikenal oleh semua orang termasuk kelompok tengkorak hitam. Dan memang dugaan Sim Beng Tosu tidaklah keliru.Belum selesai Pek Houw bicara sekonyong-konyong terdengat teriakan Sim Beng Tosu. segeralah mereka menyerbu ke lembah. ia memang tahu permusuhan tujuh turunan dua laskar ini. Makin yakinlah ia Liu Siang telah berhasil melarikan diri. *** Begitu kelompok ini mendengar berita. Liu Siang bisa meloloskan diri.

. Sungguh kedatangan musuh besar yang berkekuatan hampir penuh.. “He.” desis Pat Tiauw dengan wajah pucat.he. Keempat kakek ini ratarata sudah berusia di atas enam puluh tahun. Topeng tengkorak berwarna hitam. “Ha. dan mencari suhu?” tanya Pat Tiauw pada suheng pertamanya. lima orang pendekar yang namanya pernah harum di negeri salju duduk bersila mengelilingi api unggun. itupun keadaan sam suheng seperti ini” bantah Pat Tiauw.. bagaimana kalau kemudian lembah diduduki oleh pihak musuh? Sebaiknya kita disini saja!” “Benar. “Tengkorak hitam. keadaan di lembah benar-benar terasa dingin menusuk tulang.. aku tidak melihat Yung Ci. Waktu itu musim dingin telah tiba.. Mereka sedang mendiskusikan masalah yang sedang mereka hadapi.ha. Keempat tetua menjadi terkesiap. Ketika dekat titik itu terlihat yang berbentuk seperti payung itu membawa delapan orang berjubah hitam..aku khawatir ketika suhu datang. “Suheng. Begitu kaki mereka menyentuh tanah tampaklah semuanya bertopeng. sedangkan kita disini hanya berlima. Jubah mereka berkibar-kibar terkena angin.heh. Di depan istana kapur. Di antara sembilan burung hantu gunung salju besar memang dia yang paling mudah panik.ha. hanya Pat Tiauw yang bertubuh paling berisi di antara mereka yang berusia lima puluh lima tahun. sekonyong-konyong terdengar suara ketawa bergema di lembah.” timpal Sam Tiauw. dari getaran suara yang terkirim mereka bisa menduga bahwa musuh yang datang adalah lawan-lawan yang berat. It Tiauw dan keempat sutenya benar-benar terperanjat melihat kedatangan mereka. “Bagaimana kalau musuh datang... Ayo Yung Ci keluarlah!” seru salah seorang bertopeng itu dengan suara menggelegar... Dia pula yang paling khawatir mendapat serangan musuh.Tiauw dan Pat Tiauw tetap berdiam di lembah.. . apakah dia masih bersembunyi di balik selimut. dari balik keremangan kabut dari atas tiba-tiba mereka melihat delapan titik melayang turun ke bawah. Delapan orang adalah jumlah terbesar yang pernah keluar dari markas tengkorak hitam. “Hmmm.. apa tidak sebaiknya kita tinggalkan saja lembah. Belum selesai mereka berdiskusi. Kabut dari pagi menyelimuti lembah itu. lembah dalam keadaan kosong.benar kami telah datang!” Benar saja. kalaupun kalian meninggalkan lembah ini aku tetap akan tinggal di sini.

. sekalipun bertiga belas. masih tak bermalu mengaku pemberani.. “Keparat. tak tahu apa maksud kedatangan kalian? Kalian telah mengusir kami dari kampung halaman. Hasilnya enam dari dua belas tengkorak hitam tewas. suhu kami tidak lari. “Ha. si iblis. di lembah dingin seperti ini. apakah kalian telah lupa belasan tahun silam kalian telah bunuhi saudara-saudara kami.. tak sedikitpun kami gentar!” balas It Tiauw dengan suara tak kalah bergemanya..penjajah selalu punya alasan untuk meneror pejuang. atau pimpinan mereka. Dengan hanya menyisakan tiga orang lagi di markas. biarlah selamanya aku tak kan menginjakkan kaki lagi ke sini. “Tengkorak hitam! Ketahuilah kami di sini hanya berlima.. sedangkan suhu kalian aja terbirit-birit meninggalkan gelanggang!” jawab Ji Tiauw..” “Siapa takut menghadapi kroco-kroco seperti kalian. maka mereka tinggal dua belas. sehingga mereka tinggal lima.. awas kelak kalau beliau datang.. keduabelas tengkorak hitam bertanding dengan dua belas ksatria salju. bahkan sampai sekarangpun suhu belum kembali!” balas orang yang paling pendek di antara mereka. Karena tengkorak emas sudah puluhan tahun lenyap. Namun di tangan mereka senjata-senjata itu . Kini kekuatan mereka telah kembali pulih bersebelas. ia akan tahu tengkorak nomer berapa yang berbicara.ha. tapi memperdalam kepandaian. Kini kami telah hidup tenang di lembah ini. Jangan kira kami takut atau akan mundur selangkahpun menghadapi kalian! Jangankan hanya berdelapan. huh kalau hari ini aku tidak bisa sate kalian semua. apakah kalian masih belum puas?” “Ha. berarti memang kepergian mereka bukan main-main..kawan-kawan bentuk formasi badai meteor!” Secara teratur empat orang kemudian membentuk formasi setengah lingkaran dan tiba-tiba empat yang lainnya menaiki pundak kawannya dan langsung melepaskan puluhan senjata rahasia. Senjata yang dilemparkan memang hanya sebuah besi pipih berbentuk tengkorak seukuran jempol tangan.ha. “Hemm.belasan tahun kalian menyembunyikan ekor. Dengan sikap gagah mereka berdiri menyambut kedatangan musuh-musuh yang siap bertempur.ha.. Kelimanya selanjutnya merekrut anggota baru dan mendidiknya. mula-mula dibentuk oleh Wan Cun Ming.. Sisa enam orang dari tengkorak hitam itupun kemudian ditinggalkan oleh tengkorak nomer satu.ha. tinggal menunggu ketua mereka dan tengkorak emas. sedangkan dari pihak ksatria salju hanya dua. Tengkorak hitam adalah laskar yang berjumlah tiga belas..masih perlukah diperdebatkan lagi dendam yang telah berakar selama tujuh turunan.. Pada belasan tahun silam. Dan jika orang memicingkan mata melihat tulisan di jubah bagian dada kanan...Tapi bukan sifat mereka takut menghadapi musuh dalam keadaan bagaimanapun.. iblis tengkorak emas.

yang merah membara saking panasnya. Selanjutnya terjadilah pertempuran perang campuh yang sangat hebat.. sehingga sosok yang disungginya ikut kerepotan.cring.. orang-orangpun kemudian menaiki bukit di sebelah timur lembah untuk melihat apa yang terjadi..... sehingga dua orang diantaranya tertembusi oleh piauw mereka sendiri. dengan ujungnya berupa mata tombak. cring. tiga senjata rahasia yang luput dari kedua sutenya langsung menyelonong mengenai dirinya.wuss.augh.. “Wuss... secepat kilat keempat Tiauw Kwi meloloskan pedang dan memutarnya sebagai bentuk pertahanana. Sungguh seperti kata pepatah: senjata makan tuan! Dua orang yang tertembusi pahanya oleh senjata rahasia jatuh tersungkur. Beberapa butir senjata milik mereka yang sempat di tangkapnya dilepaskan kembali saat ia terbang.. Tiga buah piauw telah menembusi dada dan perutnya. Panas yang ditimbulkan juga menyebabkan rumput-rumput kering menjadi terbakar. Kemarahan menyelimuti rona muka It Tiauw.bisa berubah menjadi hujan badai bintang jauh..!” Puluhan senjata-senjata rahasia meluncur dari tangan keempat tengkorak hitam penyerang yang berada di atas pundah kawannya.wuss. Namun karena kabut mereka tidak bisa melihat apa-apa.. Suasana pertarungan mirip peperangan.. Namun berbeda dengan senjata orang kebanyakan.. Namun karena saking terpakunya pada serangan pada diri masing-masing. tanpa kuasa menangkisnya. Namun mereka tak kalah sigap... Dari tingkatan kepandaian. “Awas lindungi sam sute!” teriak It Tiauw sambil melirik sutenya.... Karena dua anggotanya terluka sehingga tinggal berenam merekapun tidak bisa membentuk pola penyerangan dalam barisan.cring. cring.wuss..cring..wuss. senjata tengkorak hitam berbentuk seperti tulang lengan. Bunyi denting bertemunya logam terdengar sangat nyaring dan bergema hingga ke desa-desa sekitar. Enam manusia bertopeng tengkorak mengepung empat orang Tiauw Kwi. empat Tiauw Kwi sebenarnya seimbang dengan empat dari tengkorak hitam. Semuanya menggunakan senjata... sedangkan pohon maupun batupun berlubang tertembusi senjata ini. sedangkan empat .. bagaikan hujan meteor.wuss..wuss.cring..crin g.wuss.cring. meskipun sebilah pedang ada di tangan. Dengan secepat kilat tengkorak nomer dua telah meloloskan senjata dan menangkis serangan It Tiauw. Sayang teriakannya telah terlambat. Tiga buah piauwpun meluncur cepat dari tangannya mengarah ke sosok yang berada di bawah. karena tingkatan empat tengkorak hitam ini urut dari nomor dua sampai nomor lima... Serangan balik ini sungguh tak pernah diduga sebelumnya.. dengan penuh keberanian ia kemudian nekad melompat tinggi untuk menyerang salah satu dari penyerangnya. mereka lupa pada Sam Tiauw yang hanya bisa duduk di kursi.cring.. Jangankan tubuh manusia..wuss.

Karena di kepung oleh enam orang. “Haiyaa. It Tiauw mendengar suara lembut dari kejauhan. Dalam posisi miring ia mengirimkan dua kali tusukan ke kanan dan ke kiri. Belasan tahun yang silam mereka kelihaian orang-orang tengkorak hitam belumlah seperti sekarang ini. Makanya hal ini sungguh mengejutkan hati It Tiauw. nenek besarmu telah bertemu dua orang sutemu dan menolong Liu Siang.. namun jurus yang diajarkan kepada istrinya hanya sampai ke tiga puluh. Ilmu pedang ini memang cocok untuk pertahanan. Swat kong kiam hoat aslinya diciptakan oleh Lau Cin Shan. Namun sebaliknya posisi It Tiauw yang rebah juga sangat rawan serangan tendangan lawan. sampai puluhan jurus mereka mampu bertahan. perlahan-lahan kedudukan mereka menjadi terdesak. Dengan menggunakan ilmu pedang cahaya salju (Swat kong kiam hoat) yang memang memiliki daya tahan sangat luar biasa. Namun sebisa mungkin mereka tetap memberikan perlawanan yang kokoh.aduhhh!” terdengar teriakan dari salah seorang penyerangnya yang kakinya telah retak terkena pukulan. Dengan segera iapun memerintahkan sutenya untuk lari ke dalam istana. Namun secepat kilat pedang di tangan kanannya meluncur kedepan. namun It Tiauw masih belum lupa siapa pengirimnya. Serangan yang dilakukan menyebabkan mereka melupakan . Serangan ini membuat lubang terbuka. “It Tiauw bawalah sute-sutemu lari dari lembah ini.tenaga tambahan yang juga memakai topeng adalah anggota baru. sedangkan tangannya sekuat tenaga melancarkan pukulan tapak es ke salah satu kaki penyerangnya. Dua puluh jurus sisanya baru selesai dituliskan pada saat-saat istirahat dalam perang. Dengan nekat ketiga sutenya melancarkan serangan-serangan dasyat ke arah kepungan lawan. seorang diripun ia sanggup mengalahkan kekuatan dua belas tengkorak hitam saat ini. tubuhnya seolah-olah rubuh ke depan dengan posisi telentang. Dari pihak lawanpun selain memainkan senjata mereka juga mengirimkan ilmu pukulan yang mengandung hawa tenaga yang sangat dasyat. Hawa panas yang keluar telah membakar semak-semak dan bunga di sekitar mereka. Padahal jika saja Yung Ci mendapatkan jurus-jurus terakhir itu. tiba-tiba berkelebat kekhawatiran bahwa ilmunya kelak akan disalah gunakan orang. Akibatnya “Bresss!” sebuah tendangan mengenai lengan kirinya..” Meskipun sudah lama tidak pernah mendengar suara ini.. Ji Tiauw seimbang dengan tengkorak nomor tiga namun Cit Tiauw dan Pat Tiauw lebih rendah dari si nomor empat dan nomor lima. Tiba-tiba It Tiauw merubah gerakan pedang. Pada saat dalam perjalanan menuju ke rumah isterinya. Secepat kilat mereka kemudian melompat sambil menarik tangan It Tiauw.. Aku tunggu di tepi sungai. terdiri dari lima puluh jurus. Pada saat itu. It Tiauw sebenarnya sedikit lebih tinggi kepandaiannya dari tengkorak nomor dua. Lingkaran pedang mereka semakin lama semakin sempit. sehingga ketiga sutenya bisa terbebas dari kurungan. menyerempet dada lawan. Itulah sebabnya maka ia menyimpan dua puluh jurus terakhir di suatu tempat.

“Jangan kejar!” Namun terlambat.. Sebenarnya keranjang itu hanya mampu menampung dua orang..cring.. memasang keranjang dan menaikinya.. Sesampainya di mulut lorong... Karena tertindas suara gemericik air sungai kegiatan mereka tak terdengan oleh tengkorak nomor dua... Ia mengerahkan segenap kemampuan pendengarannya yang memang terlatih baik.cring. dengan sikap mematung. melemahnya kepungan menyebabkan mereka bisa lolos dan lari ke dalam istana. Namun beruntung.wuss. “Hei dasar tolol! Berbahaya sekali memasuki istana yang telah berisi jebakan!” “Suheng. Begitu sampai di ujung lorong itu mereka kemudian menggeser batu penutup lorong rahasia. dua diantaranya berhasil ditangkis oleh .. Maka begitu pelontar itu bergerak. “Wusss.... Dari dalam istana mereka berempat sudah mempersiapkan keranjang.. Lorong inilah yang menghubungkan istana dengan sungai.aaachh. pimpinan mereka melarang. Betapa terkejutnya ia demi menyadari ada gerakangerakan halus di bawah...! Lima keping senjata rahasia berbentuk tengkorak melaju dengan kecepatan yang luar biasa.. Memang benar dugaan tengkorak nomor dua ini. Ketika empat orang tengkorak hitam hendak mengejar. tangan tengkorak nomor dua mengibaskan pelorpelor senjata rahasia. Melalui lorong yang menghubungkan mereka ke sungai.wusss. Tangannya sudah mengepal kepingkeping senjata rahasia. Namun jangan dikira dia kehilangan kewaspadaan.. “Hmm apakah mereka lari keluar lewat lorong rahasia?” bisik tengkorak nomor dua.pertahanan sehingga satu dua tusukanpun mengenai tubuh mereka... keempat Tiauw Kwi ini berjalan perlahan menuju ke arah sungai. kalian tetap kejar juga. Tak lupa It Tiauw meskipun dalam keadaan kepayahan masih sempat menyambar tubuh Sam Tiauw.cepp. dengan kecepatan seperti iblis. dua orang sudah keburu masuk istana.. Di sungai kecil yang airnya deras itu terdapat tiang pelontar. dua orang sute terjatuh! Bagaimana kita dapat menolongnya?” “Sudah kukatakan jangan kejar.. Dan tepat di ruang tamu tiba-tiba saja lantai yang mereka injak terbuka.. Mata yang mencorong dibalik topeng itu bergerak liar ke sana ke mari.. dengan bergegas mereka mengambil tongkat pelontar itu.. Kita tunggu saja dulu sebentar!” Tengkorak nomor dua kemudian duduk bersila. namun karena keterpaksaan mereka mengisinya berempat. Ia bertekad untuk menyimpan mayat sutenya di dalam istana.. dan mereka terjatuh ke dalam penjara bawah tanah..

begitu menyadari posisi mereka tidak akan sampai di ujung tebing. Sayang karena oleng dan kelebihan beban.” teriakan Pat Tiauw dari atas tebing bergema ke seluruh lembah. karena seakanakan perpisahan itu terjadi untuk selama-lamanya. meskipun sudah berumur lebih dari tujuh puluh tahun. “Suheeeenggg. kelahiran. namun satu keping berhasil mengenai pundak kiri Cit Tiauw. namun bagi mereka yang memiliki kemampuan ginkang tingkat tinggi. masih mampu melayang ke arah semak di sekitar air terjun. “It suheeeeng. namun karena oleng posisinya justru tepat ke arah air terjun. wajahnya agak bulat. akibatnya ia terlempar dari keranjang. jika Thian belum menghendaki saudara-saudara mati. Seruan yang sungguh mengharukan. Mestinya mereka dapat mendarat dengan aman di semak-semak sebelah kiri air terjun. Pat Tiauw yang secepat kilat menjulurkan tangannya meskipun berhasil menangkap baju. “Wesssss. Dalam posisi masih melayang di udara... Liu Siang dan seorang nenek berwajah teduh menyunggingkan senyum yang ramah luar biasa... . ketiganyapun menjejakkan kaki mereka mengerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuh ginkang. Dalam waktu sekejab ujung tiang pelontar itupun sudah membentur dahan pohon yang cukup tinggi dan tepat pada saat terlontar. namun masih terlihat bugar.. Luka yang ditimbulkan sebenarnya tidak terlalu membahayakan.. namun sebagai akibat dari gerakan ini tubuh It Tiauw meluncur ke arah air terjun dan terjatuh ke bawah bersama kucuran air. dan sesaat kemudian dari balik semaksemak bermunculan Si Tiauw. Go Tiauw. Ji Tiauw dan Pat Tiauwpun terlontar ke atas. meskipun terkenal mengandung racun maut. posisi lontaran mereka tidak tepat.” “Selamat tinggal saudaraku. It Tiauw mendorongkan serangkum tenaga sekuatnya ke arah dua orang sutenya.. jaga diri kalian baik-baik!” dalam keadaan melayang di udara Cit Tiauw masih sempat mengucapkan kata perpisahan yang menggores di hati mereka. Bagaimana dia tidak merasa sedih kalau kematian suhengnya adalah demi menyelamatkan jiwanya.pedang Ji Tiauw. Tubuhnyapun ikut terjatuh ke dalam danau kecil di bawah air terjum. tetapi bagian lengan tidaklah terlalu berbahaya. dan mendarat dengan selamat di atas rerumputan di atas tebing. dua lagi dapat mereka hindari.. “Tidak perlu ditangisi. namun tiba-tiba lengannya kesemutan dan akhirnya iapun melepas Cit Tiauw. Dengan sesenggukan Pat Tiauw tidak bisa menutup-tutupi kesedihannya. jodoh dan kematian sudah tercatat dalam suratan takdir. Namun gerakan refleks tangan kanan menutup pundak kiri membuat keranjang kecil yang penuh sesak itu oleng. mautpun masih enggan menjemputnya!” tiba-tiba terdengar bisikan lembut di telinga mereka.” ketiga orang itupun terlontar ke arah barat ke dekat air terjun.... matanya bening teduh. sehingga Pat Tiauw harus meneteskan air mata. Jarak antara pohon yang menjadi as pelontar dengan ujung dinding sebenarnya ada puluhan tombak.

Marilah kita ikuti perjalanan Liu Siang melarikan diri dari puncak awan hitam. ia sudah merasakan ada hal yang tidak beres di tempat persembunyian Yung Ci dan murid-muridnya. Berbeda dengan Yung Ci. Karena di wilayah Sung mereka sering berulah maka mereka kemudian disatukan oleh kaisar Sung waktu itu yaitu Sung Tai Cu. Laskar ini kemudian makin menggila karena mendapat dukungan dari laskar tengkorak hitam. dan ditugaskan di wilayah-wilayah sempadan. nenek Wei Sian tidak mau meninggalkan kampung halamannya. Maklum sebagai petani mereka jarang bepergian dan awam terhadap nama-nama kota. Makanya begitu diminta iapun segera berangkat mengikuti mereka. namun karena bingung menentukan arah yang tepat ia justru lari ke arah barat laut. memiliki kepekaan bathin yang bahkan melampaui kemampuan sutenya. aku yakin Lau Keng bisa menjaga diri. Hanya di kampungnya saja wilayah yang cukup aman dari gangguan laskar negari. pada saat yang tepat. Beruntung mereka karena nenek yang masih tampak bersemangat itu. sebenarnya laskar ini adalah bekas prajurit masa 5 dinasti dan 10 kerajaan. Laskar negari adalah laskar penjajah bentukan Sung. Siapakah nenek yang disebut nenek besar itu? Nenek ini bernama Wei Sian. yang juga suci dari Yung Ci. termasuk di negeri salju. Ketika sampai di kota ini. Akhirnya Liu Siang menerima saran mereka. Banyak gedung-gedung yang besar berjejeran di sepanjang jalanan yang besar. Maka merekapun bergegas menuju ke tepi hutan rawa bangkai. Meskipun di sana ia harus menelan mentah penghinaan yang dialami oleh warganya. bahkan kota Hong Ji juga tidak mereka kenal.“Nenek besar?” “Lau Ceng. Saat itu Liu Siang sedang bertempur dengan beberapa pengemis bersabuk hitam. bingunglah Liu Siang dengan suasana kota yang sangat ramai. mereka bisa menemukan Liu Siang. Jalanan di kota sangat lebar. orang berlalu lalang dengan bergegas tak mempedulikan orang lain. Ada pula taman-taman kota yang . Perjalanan yang mereka tempuh tiga hari. Suatu ketika ia bertemu dengan rombongan petani yang akan menjual hasil panennya ke kota. ayo tunjukkan kepadaku tempat itu!” kata nenek itu dengan penuh semangat. datuk negeri salju. Karena ia wanita. Berbeda dengan Yung Ci dulu. tak satupun yang mengenal kampung Lim Kee Cung. Bagimanakah Liu Siang sampai bisa di pinggiran kota itu dan bertempur dengan pengemis sabuk hitam. Ketika ia dihubungi oleh Si Tiauw dan Go Tiauw. maka diikutilah rombongan itu. *** Setelah bisa meloloskan diri dari puncak awan hitam Liu Siang berusaha lari ke arah utara. Tujuan mereka yang pertama-tama adalah mencari Liu Siang. maka ia tidak terlalu khawatir karena ia bukan target dari laskar tengkorak hitam. Waktu ia bertanya-tanya ke mereka. nenek Wei Sian justru mengajak Si Tiauw dan Go Tiauw melakukan perjalanan dengan berkuda melalui kota-kota. Dan benar saja di pinggiran kota Chon King. Sekarang sebaiknya kita cegat saja mereka di jalan keluar yang biasa kalian lalui. agar ia mengikuti rombongan menuju ke kota Chon King.

hari ini masih pagi. Iapun mengaduh kesakitan. Namun hal yang aneh. bajunya compang-camping. Di warung makan itu.. Liu Siang tak tahu mengapa demikian. “Bug. aku akan seret jembel itu ke sini!” timpal pengemis pertama. “Heh.bug. tidak semua orang menderma dengan iklas. bahkan mungkin lebih kumal dari yang dipakai pengemis di kota itu.” . apa ini?” kata Liu Siang. sini biar aku keratnya sekilo aja!” jengek pengemis kedua. Ia kemudian mengawasi kedai dari kejauhan. biar untuk beberapa waktu aku bisa bertahan di sini. “Ah tidak apa-apa.. badannya dekil sekali. berani kau ya sekarang melawan kami! Apa yang kamu andalkan? Keponakanmu yang baru pulang dari sekolah silat?” bentak pengemis pertama. Namun ia tetap membantah meskipun dengan terbata-bata. kau lihat saja. Namun sebelum ia bertindak terlintas di benaknya untuk menyelidiki dulu keadaan pengemis sabuk hitam ini. pemilik warung pelit! Daging tubuhmu saja segede itu. Suatu pagi ia mendengar suara ribut-ribut di sebuah kedai. “Bu buukan tuan. biarlah untuk sementara aku pura-pura aja jadi pengemis. Lelaki pemilik warung yang bernama A Sam itu terlihat ketakutan. Baik. sabuk berwarna hitam. A Sam.. Liu Siang mengikuti percakapan mereka dengan hati penasaran sekali. baru sebentar saja. “Eh. aku tahu sejak datang jembel buntung busuk itu kau jadi berani sama kami. “Pasti kakek itu menyangka aku seorang pengemis” pikirnya. aku belum dapat untung sedikitpun. “Aku ikuti saja mereka! Aku ingin tahu apa yang akan mereka kerjakan. tubuh yang gembul itu bergoyang-goyang gemetaran di bentak-bentak oleh dua orang pengemis. Benar saja. banyak juga diantaranya yang mengeluarkan uang dengan penuh keterpaksaan. Liu Siangpun tertarik untuk mengikuti apa yang terjadi.. ternyata menjadi pengemis di kota ini sangat enak.Aduhh!” dua buah bogem mentah bersarang di perut A Sam. Apakah semua pengemis di kota itu telah menjadi preman? “Aku harus beri pelajaran pada mereka!” pikir Liu Siang. namun ia cepat sadar dengan keadaannya. ia sudah dapat mengumpulkan beberapa keping uang. sambil menatap Liu Siang dengan pandangan penuh kebencian. mengapa pengemis meminta sumbangan dengan cara memaksa... apa yang harus kukasihkan pada kalian!” “Cuh. ia melihat ada dua lelaki berpakaian pengemis berumur tiga puluhan sedang adu mulut dengan pemilik warung. Tanpa bekal uang sepeserpun bagaimana ia dapat bertahan hidup di kota. Atau oooo.sangat indah.. persis perbuatan preman. Tiba-tiba ada kakek tua yang berpakaian sederhana mengulungkan sekeping uang kepadanya. Baru ia sedikit menyadari ketika ia bertemu dengan pengemispengemis lain yang semuanya menggunakan satu penanda.

Rupanya tanpa sepengetahuan mereka liu Siang memasang benang pada dahan itu. Dua orang pengmis itu kemudian pergi ke sebuah gedung tua di pinggiran kota. Kemudian ditendangnya dahan itu keras-keras ke arah pohon sehingga menjadi hancur berkeping-keping. kenapa tiba-tiba ada dahan disini!” teriaknya sambil meringis memegangi kakinya yang terantuk sebuah dahan. dan terus menyerang mengacaukan barisan penyerang. sangat hebat. Kepalanya terbenam di antara kedua lututnya. terlihat si jembel tua mulai kepayahan. pengemis itupun kesakitan. Mereka kemudian berjalan bergegas menuju ke sebuah tempat. Tongkat di tangannya bergerak sangat lincah mengikuti pola jurus-jurus yang teratur. dan dialah yang menarik benangnya. Jembel itu mengenakan caping yang sudah banyak berlubang. tahu-tahu mereka terlibat sebuah perkelahian. Pada saat keadaannya sudah sangat kritis. Namun karena mereka bergerak secara keroyokan. gedung itu dari luar tampak sepi.aduhh! Apa ini. ketujuh lawannyapun dibuat kerepotan. Rupaya yang dituju adalah sebuah jembatan. namun karena tidak mengerahkan lweekang karena tidak menyadari. Mereka tidak melintas jembatan namun justru menuruninya. Sebenarnya ilmu ini cocok dipakai menggunakan pedang. Begitu datang ia langsung berteriak lantang. tapi yang membuat Liu Siang tertarik adalah gerakan jembel yang ternyata berlengan tunggal. Jembatan itu termasuk jembatan yang cukup besar karena sungai yang mengalir di bawahnya adalah sungai Yang tse kiang. Beberapa kali tongkat lawan mengenai tubuhnya. “Perampokperampok tak tahu diri! Rasakan ini derma dari nonamu!” Ranting di tangan Liu Siang digerakkan dengan cepat menggunakan jurus-jurus ilmu pedang cahaya salju. Liu Siang hanya tersenyumsenyum nakal penuh rasa kemenangan.. Setelah lima puluh jurus lebih. “Sukurin. Liu Siang mengawasi dari atas sebuah pohon yang sangat rindang. tanpa diketahui oleh kedua pengemis itu. di bawah sebuah pohon tiba-tiba salah seorang mengaduh. sedikit demi sedikit mereka kemudian mampu menekan si jembel berlengan tunggal. Gayanya juga lebih berwibawa. Kiranya yang datang adalah seorang gadis muda berpakaian compangcamping. Perkelahian satu dilawan tujuh memang tidak imbang. tahu rasa kamu sekarang!” katanya dalam hati.Ketika pengemis itu berjalan melewati depan gedung tempat sembunyi Liu Siang. Pada masa itu di kota Chon King baru ada dua jembatan yang dibangun di atas sungai Yang tse. namun senjata lain semisal tongkat juga bisa . karena terlalu jauh.. Liu Siang tidak bisa mendengar apa perkataan mereka. Tangannya memegang sebuah tongkat butut. datanglah bantuan. Setelah sepeminuman teh ia melihat dua orang pengemis itu keluar lagi bersama lima pengemis lain yang lebih tua dan dandanannya lebih keren. Terantuk sebenarnya perkara sepele bagi pesilat. Sebuah ranting menangkis serangan tongkat lawan. Dan jembatan yang mereka tuju adalah salah satu dari jembatan itu. Tongkat itu bergerak berputaran seperti kitiran. Ketika ketujuh orang pengemis sabuk hitam mendatanginya ia mendongakkan kepala. “Tuk. Tapi. Dari kejauhan Liu Siang melihat mereka bertujuh mendatangi seorang jembel tua yang sedang duduk terpekur di bawah jembatan. Mereka datang-datang langsung menyemburkan umpatanumpatan kotor sedangkan jembel berpakaian kumal itu cengar-cengir saja.

tentu saja dengan kembangan-kembangan yang menyesuaiakan bentuk tongkat. tapi tunggu saja pembalasan kami!” katanya penuh rasa gusar.. “Paman kau tidak apa-apa?” tanya Liu Siang mendekati jembel tua itu. karena ternyata jembel itu sudah tua. sebaiknya engkau juga pergi dari sini kek!” bujuk Liu Siang. “Desss. awas. tapi dari kerut wajahnya jelas ia sudah kakek-kakek... Tangan kirinya buntung.. “Nona Sin Tung Bi Liu. “Ah biarlah. Dua orang bahkan sudah tertotok tak sanggup bergerak. Ia hanya nyengir saja menunjukkan giginya yang sebagian sudah ompong. kenapa engkau berani-beraninya mencampuri urusan kelompok pengemis sabuk hitam!” Ia mengira nona itu akan lari terbirit-birit mendengan disebutnya nama pengemis sabuk hitam. “Anak baik...pergilah jangan mencari perkara di sini!” ujarnya.” Akibatnya lawan terdorong sampai dua tombak... jumlah mereka pasti banyak sekali. aku sudah tak punya apa-apa lagi yang perlu kukhawatirkan. Gerakan ketujuh pengemis menjadi kacau balau. Serangan tongkat bisa dihindari tapi pukulan susulan tangan kirinya yang mengandung hawa dingin tak kuasa ditangkis. Orang itu penuh berewok. katakan siapa namamu. ketujuh pengemis itu tentu saja bukan lawannya. tapi siapa sangka dengan nada mencibir si gadis kecil itu justru mengejek mereka “Kalian ini perampok muka tembok. aku tak peduli mereka mau berbuat apa. bajunya compangcamping tak keruan hingga lebih mirip orang gila. namun tidak terjatuh. Jangan salahkan aku Sin Tung Bi Liu (Liu cantik bertongkat sakti) kalau menurunkan tangan keras!” bentaknya sambil menusukkan tongkat ke ulu hati pengemis berkumis tebal itu.digerakkan menurut ilmu ini. aku tahu engkau dimusuhi oleh mereka. rambutnya yang sebagian besar telah memutih panjang terurai sampai diatas pundak.. Kini ia ganti penggilan menjadi kek. Liu Siang menyerang mereka dengan seenaknya.” “Kalau kakek tidak pergi aku juga tak mau pergi!” . Meskipun bekas pukulan di tangannya terlihat memar. Umurnya sulit ditaksir. aku disini saja. “Kek. tapi sepertinya tidak dirasakan.! Ayaaaa. beberapa bahkan kemudian mengaduh-aduh kesakitan karena tulang keringnya kena pukulan. mengaku-aku pengemis. Pengemis yang berkumis tebal yang menjadi pimpinan rombongan kemudian berteriak. “Nona kecil. kali ini kami mengalah.. karena Liu Siang hanya menggunakan setengah bagian tenaganya.anak baik... tapi lain kali... hari ini nonamu bersedia mengampuni jiwa anjingmu.

jangan sampai kami kesalahan tangan memusuhi orang muda!” tanya pengemis yang paling tua berjenggot putih dengan nada merendahkan.. Secepat kilat ia mengirimkan pukulan jarak jauh.” balas Liu Siang dengan nada mengejek tak mau kalah.. Salah seorang dikenalnya sebagai pengemis kumis tebal yang barusan mengeroyok jembel lengan satu. Yang tiga lagi berumur di atas lima puluhan. “Susiok. “Nona siapakah. Liu Siang memandang dengan tatap heran.“Eh kenapa begitu!” “Karena aku mengkhawatirkan keselamatan kakek!” “Tapi aku tak kenal kamu dan kau tak kenal aku. Kakek ini kadang bicara seperti orang bia sa. akupun tak tahu. itulah nona yang membantu jembel lengan buntung..nama yang bagus. kenapa kau khawatirkan aku?” “Sekarang engkau mengenalku Sin Tung Bi Liu.” lapor pengemis kumis tebal... “Huh. dengan kata-kata yang sulit dimengerti. dan dari perguruan mana.!” kata kakek itu sambil berjingkrak-jingkrak. Bab 12. Tak tahu kalau memang perkumpulan pengemis sabuk hitam adalah perkumpulan pengecut yang beraninya main keroyokan. “Anak setan! Siapapun dirimu aku bersumpah akan merobek mulut busukmu!” bentak pengemis yang berdiri di samping kiri pengemis tua berjenggot putih. tanda amarah sudah menguasai hati mereka. Tak mereka nyana ada seorang gadis muda berani menghina mereka. kadang seperti orang tak waras. dan aku mengenalmu It Jiu Lokay!” “It Jiu Lokay. dan pergi meninggalkan kakek jembel itu.nama yang bagus. aku tidak membawabawa nama suhuku. Wajahnya lebih berwibawa dibandingkan yang sebelumnya. perlukah itu?” Kakek itu kemudian bergumam seorang diri.. aku berjuluk Sin Tung Bi Liu. empat pengemis telah menantinya. tak disangka bahwa nona yang bisa mengalahkan tujuh pengemis tingkat dua hanyalah seorang gadis dekil berbaju compang-camping... Belum sampai sepuluh tombak dari jembatan.. Liu Siangpun menggerakkan pundaknya ke atas.. pengemis tua. Penyelamatan Liu Siang . Ketika pengemis itu memandang heran. dari mana aku. aku hanya membela orang tua lemah dari keroyakan anak buah kalian. di wilayah mereka sendiri.. di sebuah lapang rumput. Wajah ketiga pengemis tua itu seketika berubah memerah. horee. “Dari mana asal kakek? Apakah kakek asli orang sini?” “Aku? Siapa aku.

maka ia pun mengerahkan ginkangnya yang luar biasa untuk berloncatan kesana ke mari. dia laksana seekor capung yang dikejar-kejar hendak ditangkap oleh tiga orang anak-anak. “Nona aku membantumu!” seru jembel tua berlengan tunggal.Meski jarak antaranya dengan nona baju kumal itu ada lima tombak. Menurut penilaian. Liu Siang mulai terdesak. seolah-olah tiga pengemis lihai itu dikendalikan oleh sebuah pikiran dan perasaan. belum sempat ia menggerakkan tangan untuk membalas serangan. Gadis itu kini memutar ranting di tangannya dengan memegang senjata itu bagian tengah sehingga kedua ujung tongkat menyambar-nyambar dan ujungnya berubah menjadi banyak saking cepatnya gerakannya.tahan. “Tak. Ia hanya berteriak-teriak melarang...tak... tentu dia tidak kuat bertahan lama. Tongkat di tangan mereka bergantian bergerak menyerang secara teratur. Untunglah tiba-tiba datang bantuan. Dengan gerakan gesit ketiga pengemis sakti itu mengelilingi Liu Siang. Gerakan Liu Siang amat ringannya. kalau melawan salah seorang dari mereka ia tidak akan kalah. mengelak dan menangkis.Thai-kek sin-tung hoat. Liu Siang masih terlalu muda dan baru saja terjun di dunia ramai sehingga tidak terlalu paham kalau mereka menggunakan gerakangerakan teratur dari sam-kak-tin (Barisan Segi Tiga) sehingga mereka itu bergerak saling bantu. Mulailah ia menggerakkan ranting di tangannya dengan gerakan cepat sekali. ia jelas tidak berani mengganggu ketiga susiok mereka. Tapi karena mereka langsung maju bersamaan maka kehebatan mereka menjadi berlipat-lipat... “Bresss” Hawa tangkisan itu bahkan masih terasa sampai membuat rambut keempat pengemis itu berkibar.haiyaa. tapi tak tahu harus berbuat apa. Tapi siapa kira nona itu berani memapaki pukulan jarak jauhnya dengan tangkisan yang tak kalah kuatnya. Hal yang mengherankan tiga pengemis tua ini. “Hmmm kiranya kau ada sedikit kepandaian hingga berani menghadapi kami...tak. sambil masuk ke kalangan. Terpaksa gadis muda ini mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga diri.. Keroyokan mereka benarbenar teratur.. tapi kalau terkena pohon berukuran tubuh manusiapun akan roboh terhempas.. Kalau hanya mengandalkan senjatanya untuk menangkis hujan serangan itu saja.. Setiap ia menangkis satu pukulan. sudah datang serangan susulan secara bertubi-tubi. sampai sepuluh jurus mereka masih belum bisa mengenali gerakan tongkat Liu Siang... Tongkat di tangannya langsung bergerak memutar dengan cepat. Yang mereka tahu hanyalah bahwa gerakan tongkat Liu Siang berasal dari barat... sehingga Liu Siang menjadi kerepotan.. baiklah jangan salahkan Chon King Sam Sinkay kalau hari ini terpaksa kami turunkan tangan kejam padamu! Kepung!” perintah pengemis jenggot putih. Pengemis kumis tebal yang menjaga pertandingan tak kuasa mencegahnya. bukankah .

Mereka bertigapun menghentikan gerakan. Selanjutnya mereka berempat bergerak cepat menuju lembah. tubuh mereka bergetar hebat. Keadaan jembel tua lengan tunggal justru lebih parah... .” Kembali serangan demi serangan mereka lancarkan. Sedangkan tiga pengemis lihai ikut terkejut dan jantungnya tergetar luar biasa. Karena tidak mengalami luka dalam maupun luka racun...... kami akan maafkan. kami masih mau bermurah memberi kesempatan kepada kalian untuk menyadari kekeliruan. Si Tiauw langsung menggandeng jembel tua dan bergegas mereka berlari meninggalkan lapangan itu. Saat itu juga nenek besar sudah berminat mengambil Liu Siang menjadi muridnya. Akibatnya sungguh dasyat.”dengan tenaga menyedot dari jarak lima tombak nenek ini menarik tubuh Liu Siang dan jembel tua itu. “Hentikan.. Pada saat yang kritis inilah datang nenek besar dan dua Tiauw Kwi.. hanya dalam sehari keadaan mereka telah pulih. Pengemis jembel lengan tunggal karena “tidak bisa diajak bicara” dibiarkan pergi begitu saja. “Kun-lun pay??? Aku sepertinya pernah mendengar kata itu. darah mengucur dari beberapa luka di tubuh mereka.” ujar pengemis tua itu.... Pengemis tingkat kedua seperti kumis tebal terdorong tiga langkah. Lengkingan yang mengandung tenaga getaran yang kuat luas biasa ini bagai gelombangnya air bah yang menghanyutkan apa saja didepannya. kalian bisa apa?” balas Liu Siang tak mau kalah. baiklah kami tidak bermaksud jahat kepada kalian.. Begitulah cerita pertemuan Liu Siang dengan nenek besar. Setelah bertahan seratus jurus mereka berduapun mengalami kelelahan. Ia yang masih muda belum banyak mengenali gerakan-gerakan silat lawan. aku tak peduli dengan perkumpulan apapun!” “Hmm. “Hiyaaaatt. Dengan mengemposkan semangat ia kembali memusatkan konsentrasi untuk melawan tiga pengemis lihai ini. Kali ini serangan ketiga pengemis sudah tidak lagi serangan biasa..tak. Gerakan Liu Siangpun sudah mulai lemah... tapi jangan kalian kira kalian boleh seenaknya mengganggu kelompok kami.itu ilmu tongkat dari Kun-lun pay? Apakah hubunganmu dengan Kun-lun pay?” tanya pengemis tua berjenggot putih itu.. barulah mereka mengobati luka-luka Liu Siang dan jembel tua.. “Emang kalau kami menghendaki pergi dari sini... Kalau kalian mau berlutut dan meminta ampun.tak. Liu Siang melirik ke sekeliling. sekeliling kalian. Setelah berada di luar kota. tapi aku tak perlu membawa-bawa nama itu. Namun bukan Liu Siang kalau mudah digertak begitu saja. “Sreeeeerrr. Tak ada ruang untuk meloloskan diri. “Lihatlah. sekujur tubuhnya sudah lebam-lebam. Beberapa kali pukulan mengenai tubuh mereka berdua. dan biarkan kalian pergi dari sini.tak...” jawab pengemis tua itu. dan terkejut menyadari bahwa lapangan itu telah dikepung sedikitnya tiga puluh orang. pengemis-pengemis tingkat rendah yang ilmunya cetek langsung roboh dan bahkan masih terdorong oleh gelombang serangan satu tombak. begitu.. Dan dengan kecepatan luar biasa dia sudah memanggul Liu Siang dan menyerahkan jembel tua itu kepada dua orang Tiauw Kwi. Liu Siangpun terkejut mendengar ucapan pimpinan Chon King Sam Sinkay ini.! teriak nenek besar dengan mengerahkan khikang Sai cu hokang tingkat tinggi sekali. tapi serangan-serangan maut.

” tengkorak nomor duapun terjengkang terkena pukulan ini. begitu keluar hutan langsung disambut mereka berenam.. empat kali itu pula tendangan nenek ini mengenai dada empat tengkorak hitam...desss... It Tiauw yang masih dalam keadaan terikat ditarik dan ditodong senjata oleh tengkorak nomor dua.. “Aku berjanji membawa kalian keluar.!” lengkingan yang mengandung tenaga getaran yang kuat luar biasa ini gelombangnya seperti air bah menghanyutkan apa saja yang didepannya..... Berbeda dengan It Tiauw.. Tubuhnya melenting ke atas dengan kecepatan sulit diikuti pandangan mata.. *** Kita kembali ikuti perjalanan nenek besar Wei Sian.. tengkorak nomor dua dalam keadaan terjengkang masih sempat melontarkan senjata rahasia.. nenek besar langsung maju melakukan serangan ke mereka. It Tiauwpun dibantu kesembuhannya.”kata It Tiauw.dess. “Wusss.. Saudara-saudaranya sontak menangkisi semua senjata rahasia itu. Bentuk tubuh tengkorak nomor dua yang pendek menguntungkannya bersembunyi di balik It Tiauw.... Lengkingan ini tak akan banyak pengaruhnya jika tidak diikuti pukulan lanjutan. mereka sadar pelontar yang dipakai meloloskan diri hanya bisa dipakai sekali... “Desss. nenek besar menangkapi senjata-senjata yang dilontarkan dan dilontarkan balik saat tengkorak nomor dua bangkit kembali. karena seorang anggota tewas terkena jebakan di rawa bangkai.Sebenarnya apakah yang terjadi di perkumpulan pengemis sabuk hitam pusat? Mengapa mereka seperti kehilangan sifat kependekaran? Kelak akan diceritakan kejadian di perkumpulan itu..dess.. Hebatnya. Seperti dugaan nenek besar. It Tiauw tidak dibunuh oleh tengkorak hitam. pada saat yang singkat ini pukulan Wei Sian yang kedua segera menyusul diarahkan ke dada lawan yang terbuka. yang pertama tendangan jarak jauh ke arah lutut It Tiauw. empat Tiauw Kwi dan Liu Siang mencegat musuh di hutan rawa bangkai.. Pukulan yang dilakukan dua kali. Namun sayang yang diserang adalah anggota tengkorak hitam yang memiliki tingkat kelihaian tak disebelah bawah Tiauw Kwi. Namun dengan secepat kilat nenek besar melancarkan serangan khikang Sai cu hokang..” empat kali menendang.. sehingga It Tiauw hanya merasa kesakitan dan secara refleks berlutut. Meskipun sebagian berhasil menangkis. Betapa terperanjatnya tengkorak hitam yang kini tinggal tujuh orang.. It Tiauwpun terbebas. dan memiliki sinkang penuh... Senjatanya terlepas... Dengan mengibaskan tangan ke belakang senjata-senjata itupun runtuh.. “Lepaaaskaaaaan.. Karena itulah maka ia bisa ikut keluar dalam keadaan selamat. tapi tangkisan yang sia-sia karena tendangan yang mengandung sinkang sekuat tenaga gajah bagai tendangan gajah Ting ting (gajah di legenda see yu) akan . dan mereka memang membutuhkan It Tiauw untuk keluar dari tempat itu. Tapi It Tiauw dan nenek besar yang jadi sasaran bukanlah orang lemah.. Gagal dengan serangan itu.. Dari jarak empat tombak nenek ini melepaskan sebuah pukulan jarak jauh yang sangat kuat. Gerakan tubuh dan pusaran tenaga yang dihasilkan seakan menjepit posisi mereka dan menutup pintu keluar bagi ketujuh tengkorak hitam itu..des. tendangan ini bersifat lemas.. tapi aku harus dalam keadaan sembuh.

. namun binar di sorot mata mereka menunjukkan suasana ini... tinggal dua lelaki she Yung itu saja yang masih membangkang. Suasana makin menegangkan. seorang lelaki berjubah hitam dan juga bertopeng tengkorak juga terdorong empat langkah lebih. “Bresss... seperti suporter sepak bola.hah. Kedua kelompok kemudian samasama bersiap. Karena inilah tendangan ini bernama tendangan kaki gajah dan cocok sekali dengan bentuk tubuh nenek besar yang gempal. Akibatnya Wei Sian terpelanting. Hatinya mencelos menyadari munculnya lawan yang sungguh lihai luar biasa.. tidak perlu menunggu bambu bumbung berbunga. Adapun lawan yang datang. “Suhuuu.ha.. dan keturunan ketujuh nenek moyang kamilah yang akan menjagoi pertemuan nanti ha. Wajah nenek besar berubah pucat..” ucap sosok bertopeng tengkorak itu. Kiranya yang datang adalah tengkorak nomor satu.cesssss..ha. “Ha... dan hampir saja terjatuh kalau saja tidak segera berpoksai. jadi kamukah pelakunya? Ketahuilah orang-orang bertopeng yang tak punya rasa malu..... atau pimpinan kelompok tengkorak..ha... betapa menggembirakan kek.ha.” Benturan dua tenaga mukjizat menimbulkan bunyi yang sangat keras.menghempaskan apa saja. Tapi apalah artinya? Kalian tidak punya kesempatan lagi.. Seketika mereka berteriak-teriak penuh semangat.” ucapan ini sangat dalam menyindir tengkorak yang baru muncul ini.!” teriak tengkorak dua dan tiga. pasti akan membawa keberanian yang lebih baik...kek..kek. tanda bahwa tenaga mereka seimbang.. seratus tahun setelah kematian sucouw kami sebagai pertemuan terakhir kita tinggal empat tahun lagi.” gumam sosok berjubah hitam bertudung itu. tetapi ketegaran hatinya mengatasi perasaan. ketahilah kalau belasan tahun yang lalu pasukan Yung Ci tak sanggup membasmi seluruh binatang berjiwa kerdil seperti kalian. senjata sudah ditangan. yang berjubah lebar dan bertanda pada dadanya. satu setrip yang bermakna satu. Namun pada tendangan kelima yang mengarah pada tengkorak nomor dua. “Nenek gembrot ketahuilah belasan tahun silam aku memang mengalah pada kalian. sekonyong-konyong berhembus angin pukulan bersifat panas yang luar biasa hebatnya.. sekarang juga bersiaplah menerima pembalasan kami!” “Baguuss. Batu karangpun hancur terkena tendangan ini.hayo majulah! Ingin kulihat kemajuan yang telah kau yakini pangcu!” Perdebatan makin lama makin panas.. Meskipun kegembiraan di wajah orang-orang bertopeng tengkorak itu tak terlihat karena tertutup topeng. “Hmmm. hayo majulah kalau memang punya keberanian.... tak pernah terbersit ketakutan di hati kami melawan kalian. tapi perlu kalian ketahui keturunan murni ksatria sudah tinggal kenangan..... “Hemmm kiranya Kui bin pangcu sudah muncul dari persembunyian. sejak dulu nenek moyang kami adalah pendekar-pendekar berjiwa ksatria. bagai bara diguyur air.rupanya tokoh-tokoh puncak gunung salju besar sudah bermunculan. Di . kini biarlah aku yang akan menyelesaikannya!” “Tua bangka keparat! Nyawa sudah diujung tanduk masih bermulut besar..

.. Setelah ia mati topeng itupun tak tahu rimbanya. bahkan kelima ksatria salju tewas di tangannya..kehancuran kalian hanya tinggal tunggu waktu saja!” ujar lelaki bertopeng yang bertubuh pendek.” . hari ini kamu bermurah hati mengampuni kalian. ia membongkar kuburan nenek moyangnya dan mengambil tengkorak nenek moyang yang dikalahkan oleh Lau Cin Shan puluhan tahun sebelumnya.ha.ha. Tiauw Kwi ditugaskan untuk mencari Yung Ci sedangkan nenek besar langsung membawa Liu Siang ke gunung salju besar. *** Kita kembali ke perjalanan Tiong Gi dan rombongan Yung Ci Tianglo? Marilah kita ikuti perkembangan kejadian yang menimpa mereka. “Ha.ha. Meski pihaknya berjumlah lebih banyak. namun pria bertopeng yang baru datang sepertinya punya perhitungan lain. karena topeng emas belum muncul. rombongan nenek besar kemudian juga dibagi dua. Ada yang bilang bahwa topeng itu dikuburkan bersama dengan jasad Wan Cu Ting. “Hmmm. terjadilah adu mulut di antara dua kubu.ha. si iblis tengkorak emas. “Yung Ci.pihak tengkorak hitam jumlah personilnya lebih banyak. Ha.. Lagi pula sasaran utama mereka bukan nenek itu melainkan Yung Ci. Bertahun-tahun kemudian topeng emas menjadi legenda di laskar tengkorak hitam.. orang yang menemukannya dipercaya akan memiliki kekuatan sebagaimana kekuatan pembuatnya. Setelah mereka dikepung oleh delapan orang musuh. “Ketahuilah oleh kalian. dan menghilang di tikungan. topeng yang dibuat sendiri oleh Wan Cu Ting ini bagian luarnya dilapisi emas. yang merupakan tengkorak nomor dua. karena diyakini ilmu rahasia si iblis topeng emas dituliskan di topeng itu. bersiaplah menerima serangan kami. Kini pemimpin kami telah kembali dan berhasil menemukan topeng emas. Tengkorak itu kemudian ditatah menjadi topeng. Karena topengnya maka ia mendapat julukan iblis topeng emas.kita lihat saja nanti apakah memang topeng emas kalian memiliki harga setinggi sepuhannya!” jawab Yung Ci Tianglo tak mau kalah. dan tidak ada ketua penggantinya yang mencoba memahat topeng baru yang berlapis emas. Pangcu kami memang sengaja mengalah kepada kalian. mencari Yung Ci. berbeda dengan topeng-topeng yang lainnya yang dipakai anggota tengkorak hitam...nenek bau tanah. Siapakah yang dimaksud dengan topeng emas? Pada masa berjayanya Wan Cu Ting. Sementara itu. Kalau sampai dia kehilangan anak buah di sini tentu pihaknya yang menderita banyak kerugian. Tujuan mereka jelas. saat itu kami berjumlah dua belas. biarlah lain kali kita bertemu lagi.. namun ketika kuburannya dibongkar topeng itu tak ditemukan. Dengan menggunakan topeng inilah ia memimpin anak buahnya membumi hanguskan negeri salju. ayo kita pergi!” Dengan tergopoh-gopoh semua anak buah tengkorak hitam lalu pergi menuruni perbukitan.. tapi selisih satu tidaklah sangat menguntungkan. Topeng itu seolah-olah topeng yang keramat bagi kelompok ini.

wuss.wuss..criiinggg. “Wuss....augh. akibatnya memang tulang-tulang itu terpental satu dua tombak.. meskipun Tiong Gi berhasil mundur tapi serangan tulang itu terpaksa ditangkis.wuss. karena pentalan senjata itu belik menyerang ke pengirimnya.. tulang yang berwarna kehijau-hijauan.wuss!” “Haiyaaa. Tiba-tiba orang yang tadinya dipundak meloncat ke depan dan lantas duduk bersila.wuss..wuss...wuss.......Begitu selesai berkata-kata keempat sosok bertopeng tengkorak ini mengeluarkan seruan.. Pedang dan tulang belulang berputaran diudara dan . Namun ia dibentak oleh suhunya...cringg..wuss... dan terjadilah pertarungan senjata diudara yang sungguh ajaib. ia terkejut sekali mendapati tenaga luncuran senjata itu yang sedemikian kuat dan panasnya.cring.wuss. Senjata yang dilemparkan memang hanya sebuah besi pipih berbentuk tengkorak seukuran jempol tangan.wuss.wuss..crin g. cring.wuss. Luar biasa sekali cara penyerangan seperti ini.. Pada jarak tengah-tengah di antara dua kubu. bagaikan hujan meteor.. secepat kilat Yung Ci dan ketiga muridnya meloloskan pedang dan memutarnya sebagai bentuk pertahanan.!” Puluhan senjata-senjata rahasia meluncur dari tangan keempat tengkorak hitam penyerang yang berada di atas pundah kawannya... Berbeda dengan Tiong Gi.. sedang orang yang tak bertopeng yang sebelumnya ada di posisi bawah juga duduk bersila dibelakang masing-masing pasangannya dan menempelkan kedua telapak tangan.cring..... Satu pasang penembak roboh. namun benturan senjata telah menyebabkan bubuk racun yang menempel di tulang runtuh dan beterbangan. “Formasi badai meteor!” Secara teratur empat orang kemudian membentuk formasi setengah lingkaran dan tiba-tiba empat yang lainnya menaiki pundak kawannya dan langsung melepaskan puluhan senjata rahasia. “Wusss.... melainkan dikendalikan dengan tenaga dari jarak jauh.. pedang dan tulang bertemu.Tiong Gi mundurlah!” Tiong Gi awalnya tidak mengetahui apa artinya perintah dari suhunya. bahkan sebagian terhisap oleh Tiong Gi tanpa ia sadari...... cring.!” Tiga kali Tiong Gi menangkis serangan... Seorang bahkan telah terkena..........cring.wuss... Awalnya Tiong Gi berusaha melawan dengan memapaki tulang-tulang ini memakai pedangnya.. Tiong Gi menyambut serangan hujan senjata rahasia dengan memutar pedangnya. Yung Ci dan kedua Tiauw Kwi begitu melihat musuhnya meloloskan tulang juga ikut duduk bersila dan melontarkan pedang kedepan. Mereka yang didepan masingmasing kemudian mengambil dua buah tulang dari balik jubahnya. meskipun sudah memakai baju pelapis yang tebal namun tetap saja mereka terluka... “Awas tulang beracun!” Namun terlambat... namun ia kemudian sadar bahwa ternyata sepasang tulang itu bukan dilontarkan begitu saja..cring.cring. wuss. Hebat sekali putaran pedang di tangan Yung Ci..cring...wuss. yang merah membara saking panasnya. Namun di tangan mereka senjata-senjata itu bisa berubah menjadi hujan badai bintang jauh.. “Formasi delapan tulang!” komando tengkorak nomor dua.wuss...... “Cringgg.. Begitu diloloskan tulang itu seperti dilontarkan ke arah kubu Yung Ci dan Tiong Gi.

. dulu seorang diripun Yung Ci mampu menghadapi empat tengkorak hitam.. Tiong Gi yang melihatpun ikut meleletkan lidahnya... kemudian semuanya berdiri... Tapi hanya sekitar sebulan berselang sejak pangcu tengkorak hitam kembali dari pertapaannya.. dan ia bisa mengembangkan jurus-jurus ilmu .wess. makin lama pedang makin dekat ke arah mereka berdua.. Ia terus mundur hingga posisinya tak terjangkau lagi. Kadang-kadang posisi tapak tangan mendorong. mereka meloncat kebelakang sambil menarik pedangnya.. ini adalah pengalaman pertandingan pertamanya secara sungguh-sungguh.. bahkan golongan preman yang tidak bertopengpun telah memiliki kelihaian yang tidak kalah dengan mereka yang bertopeng sebelum mendapat didikan dari pangcu mereka. Ini dapat dilihat dari gerakan tangan dari dua kubu yang menari-nari di depan dada. itulah yang menyebabkan keadaan kubu Yung Ci terdesak hebat.. Dari tingkatan kepandaian.sesekali berbenturan menimbulkan percikan api dan bunyi dentingan yang sangat keras. Hingga akhirnya hampir berbarengan... tanda kekaguman yang luar biasa.criiing... “Haiiittt.! Serempak mereka kemudian menyerang... dari kubu tengkorak hitam juga menarik tulang-tulang mereka. Bunyi denting bertemunya logam terdengar sangat nyaring dan bergema. seolah-olah senjata itu digerakkan hantu yang sedang bertempur. Sebenarnya bukan hantu yang bertempur melainkan gerakan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkatan sedemikian tingginyalah yang mampu menggerakkan senjata secara sedemikian anehnya. namun beberapa saat kemudian terlihat posisi pedang Yung Ci mampu mendesak tulang-tulang yang mengerubutinya.wess. kadang-kadang memutar. karena setiap penyerang didukung oleh orang di belakangnya yang menyalurkan hawa sinkang ke penyerang. sementara kepala mereka mengepul uap putih.. Hati Yung Ci makin miris memikirkan nasib Liu Siang. Adapun pertandingan tiga pasang mula-mula terlihat seimbang.. Yung Ci merasa tidak habis pikir.... Biasanya ia berlatih secara satu lawan satu. Berbeda dengan keadaan kubu Yung Ci yang terlihat sangat kelelahan tampak dari butiran-butiran keringat yang membasahi tubuh ketiganya. bagaimana mereka sekarang bisa memiliki kelihaian sehebat ini.clap” “Wesss.!” berbarengan dengan mundurnya dua orang ini.. Hal ini bisa dimaklumi karena mereka ibaratnya menyatukan dua tenaga. pedang kedua Tiauw Kwi makin terdesak. Adapun bagi Tiong Gi..criing.wess.. “Criing...criing...... “Formasi gelombang kerangka...... Berkebalikan dengan pedang Yung Ci... Sementara itu tulang yang semula menyerang Tiong Gi ditarik dan diarahkan untuk mengeroyok pedang Yung Ci. Kini mereka menggunakan tulang yang ujungnya dipasang logam seperti tombak yang runcing. tanda mereka telah melakukan pengerahan tenaga yang sangat besar. Masih di posisi itu pula terjadi gerakan-gerakan menangkis dan menyerang... kubu musuh tidak tampak menunjukkan kelelahan itu. gerakan tangan mereka juga makin berat... senjata yang dipakaipun berubah.. seraaaannnggg... sehingga menambah kekuatan dan pertahanan mereka..!” Delapan orang bergerak dalam barisan yang rapi.

Orang-orang berbaju putih ini kemudian membawa masuk mereka ke kuil dan merawat ketiga tetua ini. sungguh ia kemudian merasa seperti bersilat diluar pakem. Memasuki kalangan dan menyerang tengkorak hitam. namun bantuan ini mampu membuat buyar kepungan mereka. Terdapat lebih dari enam orang berbaju putih. teratur dan sesuai dengan teori. Desakan-desakan lawan membuat pertahanan mereka kacau. dan Tiong Gi patut berbangga karena dalam hal lweekang. dan sebelumnya ia hanya menunggu saja. meskipun dari gerakan maupun kekuatan senjatanya masih dibawah Tiong Gi. Semua orang kemudian langsung menyingkir. orang-orang tengkorak hitam sudah tidak tampak lagi banyangannya. darah sudah banyak bercucuran dari luka. bersenjata bambu yang ujungnya runcing berwarna putih. kuat. Tiong Gi paling bersemangat di antara keempatnya. Tiong Gi berangkat tidur duluan. meski hanya goresan ringan. dengan masingmasing kadang-kadang dibantu seorang anggota preman. Adapun lawannya meskipun masing-masing hanya terkena satu tusukan namun luka yang ditusukkan oleh Tiong Gi cukup dalam. Pedangnya berputar-putar dengan bunyi yang mengaung dasyat. Siapakah mereka yang membantu rombongan Yung Ci ini? Pembaca pasti bisa menebaknya. Mereka beristirahat sampai malam tiba. Melihat posisi ini sepertinya mereka tidak akan bertahan lebih dari sepuluh jurus lagi. dan baru sore hari selesai. ia tidak kalah dengan lawannya. Hampir seharian penuh mereka bertarung.silatnya secara mantap. memakai rompi warna cokelat muda. dan munculah bantuan ke dalam kalangan. sehingga sejauh ini ia sudah hampir enam kali tergores. ya memang benar mereka dari kelompok bambu putih. apalagi lawan mereka yaitu tengkorak nomor lima dan nomor enam memiliki tingkatan sedikit diatas mereka. gerakan pedangnya meskipun masih jauh lebih kuat dibandingkan gerakan Tiong Gi. Rombongan ini dipimpin oleh pria berumur lima puluh tahunan. maka tak mengherankan jika sudah ada empat tusukan yang mengenai tubuhnya. Dari bertanding secara sungguhsungguh inilah akan diperoleh cara bersilat yang senyatanya. dan ketika asap itu mulai menipis ditiup angin. bernama Tik Coan Kok. Berbeda Tiong Gi. Tapi justru pengalaman bertanding seperti inilah yang akan menentukan kematangan ilmu silat seseorang. Sebagai tenaga paling muda. Namun dalam hal pengalaman bertanding memang jauh. akhirnya menyadari posisinya sudah tidak menguntungkan secara tiba-tiba terdengar bunyi ledakan disusul keluarnya asap yang pekat. Keadaan dua Tiauw Ki sungguh paling parah. dan kekuatan barisan menjadi pudar. namaun sudah lemah dibandingkan kemampuannya yang sebenarnya. beban pikiran membuat konsentrasinya sering buyar. Kini menghadapi keadaan pertarungan model keroyokan seperti ini. maka posisi Tiauw Kwi sangat terjepit. Ketika malam sudah tiba orang-orang berbaju putih inilah yang mempersiapkan ruangan dan makan malam. keadaan Yung Ci sudah amat payah. malah masih menang satu lapis. . Beberapa kali pedangnya berbenturan dengan senjata lawan. yang dihadapinya adalah dua orang laskar preman yang tidak bertopeng. namun disaat yang sangat kritis itu tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan.

Ia menarik nafas panjang dan kemudian terbatuk-batuk... tapi memang agak bandel. Tapi penentangan demi penentangan selalu saja dilakukannya. kemudian ia justru memilih orang Han. apakah locianpwe pernah berjumpa dengan rombongan mereka?” tanya Coan Kok bersemangat... sepertinya ia tidak pernah tertarik dengan rebutan warisan meskipun ia merasa lebih berhak atas warisan itu. barangkali aku memang terlalu keras mendidiknya.. Anehnya meskipun sudah menikah sesuai pilihannya. mau menyelesaikan masalah keluarganya.” “Rupanya ia masih ingat diriku. bagaimana kalian bisa kebetulan lewat di sini” Yung Ci mengucapkan kata pembukaan perbincangan mereka. “Locianpwe. sampai kapan locianpwe bersikap seperti ini. kenapa ia mesti mengganggu isteri orang. mereka lari ke timur. namun kami sudah seminggu kehilangan jejak. peta ketiga Lau Cin Shan sudah ditemukan. hhhh. dan kini hendak ke selatan. sepertinya beliau ingin kembali mengajak locianpwe untuk bersedia tinggal bersama pangcu di Siang Yang.” gumam Yung Ci dengan wajah yang berkerut-kerut.. kemudian ke utara. Yung Lu sebenarnya anak baik.“Aku menyampaikan terima kasih atas bantuan kalian. ia hanya menggeleng pendek. ada dugaan setelah mendapatkan peta. kami mendapat tugas dari pangcu untuk menyelidiki masalah peta harta karun Lau Cin Shan. Dan pangcu kalianpun tahu belaka apa jawabanku. Karena kakaknya meninggal dalam usia muda. sehingga hasilnya justru banyak yang diabaikan.” “Ahh. namun pada kenyataannya hal itu tidaklah mudah” timpal orang kedua. Beban bathin yang dideritanya seakan himpitan batu yang sangat berat. .” “Yaachh ini memang salahku.. hhhh.. apakah locianpwe masih belum bisa memaafkan pangcu. aku seakan menuntut ia bisa seperti kakaknya. “Locianpwe. namun kini keberadaannya belum diketahui dengan pasti. beberapa waktu terakhir ini pangcu sering membicarakan locianpwe. Aku memintanya untuk menikahi Shu Kiok Nio tapi ia menolaknya. Yung Ci tidak menanggapi pertanyaan Coan Kok.. katakan saja kepada Yung Lu. Aku memintanya menyelesaikan masalahnya dengan bijak ia selalu saja abaikan nasihat orang tua. biarlah hari ini aku akan bicara blak-blakan kepada kalian. aku bersedia tinggal lagi bersamanya. Menurut khabar. mungkin ini kesalahanku. tapi biarlah kalian juga perlu ketahui.” “Yung Lu Pangcu sudah berusaha untuk mengurangi jumlah dan peran mereka. aku sering membandingkannya dengan Yung Ceng kakaknya. mau meninggalkan segala macam racun. “Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan lagi masalahnya. kalau ia mau berpisah dari golongan hitam.

Benarkah anggapan bahwa dalam masa tua berkumpul dengan anak cucu. semoga locianpwe baik-baik jaga diri. aku tidak sedikitpun bergeming. dan ia sangat berbakat. Aku sudah mendidik pangcu kalian. kami enam pasukan sayap perkumpulan Bambu Putih mohon pamit. Tanpa disadari ujung patung yang dipegangi sudah beberpa serpihan yang diremasnya menjadi bubuk.keparat-keparat itu sungguh menjemukan!” ujar Guru Wong bergetar. Bagaimana locianpwe menyikapi ajaran seperti ini. locianpwe?” “Aku sendiri tidak mengetahui latar belakang kehidupannya. menimang cucu dan mendidiknya ilmu silat dan ilmu surat. hidup selalu dilayani oleh orang-orang dekat akan menjamin kebahagiaan itu? Dan haruskah selalu . damai dan bahagia.” “Tapi locianpwe. dan aku sudah menemukan orang yang akan melanjutkan tugas hidupku.“Anak memang tidak jauh dari watak orang tuanya. getaran yang menular ke tangannya. “Apakah pemuda itu yang locianpwe maksud? Siapakah pemuda itu sebenarnya. mohon pamit. mereka yang masih panjang harapan hidupnya. tapi aku yakin ia berhati baik.” Setelah rombongan bambu putih berlalu. Tapi. “Hmm. tinggal di rumah yang megah. Punya anak-anak yang berhasil. harus memegang ajaran seperti itu. Seringkali ia merindukan kehidupan keluarga yang tenang.. Betapa bahagianya. Kalau urusan kami sudah selesai kami akan kembali ke markas untuk melaporkan ke pangcu. aku sudah menyambungkan satu pasangan ksatria. Seorang ksatria pantang untuk lari dari gelanggang ketika musuh sudah datang. ahh. bukankah para pendekar selalu mengajarkan bahwa dalam posisi terdesak tindakan bertahan bukanlah tindakan ksatria tapi tindakan bodoh.. kalau kita bisa bersatu tentu kekuatan kita berlipat-lipat” ujar orang ketiga. Kalau aku boleh memilih aku ingin kembali ke sana. Ia seperti Yung Ceng. Bayangan-bayangan yang indah tentang kehidupan berkeluarga. mereka yang masih layak dibebani tugas yang berat. “Baiklah locianpwe. Permata yang perlu diasah. Kepala batu!” bisik Yung Ci. Bahagia? Benarkah anggapan seperti itu? Seringkali kita punya anggapan kalau cita-cita berhasil kita akan bahagia. aku sudah membesarkan anak yang dulu kutemukan. “Mereka yang masih muda.” sergah orang ketiga. Betapa rindunya ia terhadap puteranya. sebagian hati Yung Cipun berlalu.” Pagi harinya rombongan dari bambu putihpun berpamitan. tapi tidak bagiku.begitu tahu locianpwe ada di sini orang-orang tengkorak hitam itu pasti akan kembali lagi. “Apakah kalian kira aku takut? Biarpun seluruh pasukan mereka kerahkan untuk tangkap aku. bahkan bakat-bakatnya melebihi semua putra dan muridku.

Luka-luka mereka serasa sulit sekali disembuhkan. terutama guci. jika mayatku tak ditemukan di lembah ini. muridmurid yang setia. . Goan Kin Taisu merupakan ahli obat nomor satu di Siauw Lim. Adapun Tiong Gi yang sempat menghirup bubuk racun pada tulang hijau tengkorak hitam juga sering mengeluhkan sakit kepala. guru Bu Sian Taisu. Pat Tiauw selamat. Namun demikian ketika masih muda namanya kalah terkenal dibandingkan dengan pendekar Siauw Lim yang bersama-sama pendekar bukit merak menjagoi rimba persilatan di Tionggoan tengah dan utara.lengkap? Benarkah selalu seperti itu? Jawabannya akan sangat tergantung banyak hal. Mereka berempat memasuki lembah dengan penuh gopoh. mempunyai murid muda yang berbakat. maka Yung Ci akhirnya memutuskan untuk menggunakan perjalanan lewat sungai Yang tse. Dulu bersama dengan Thian Ho Taisu. dan ia bisa mendapatkan cucunya yang berdarah ksatria murni? *** Perjalanan mereka menuju lembah agak tersendat karena kedua Tiauw Kwi yang menderita luka yang perlu banyak istirahat. Setelah menyelenggarakan ritual penguburan. bahkan di beberapa bagian menjadi borok. bukankah Yung Ci sudah memiliki banyak hal. Ia adalah murid preman dari Siauw Lim satu generasi di atas ketua Siauw Lim yang sekarang. memiliki rumah yang megah di lembah delapan rembulan. Sun Ciak Kun. Bu Sim Siansu dan masih merupakan susiok dari Bu Sian Taisu. yang diberi julukan si guci obat. Yung Ci memutuskan untuk tinggal dulu di lembah sampai kedua Tiauw Kwi pulih kesehatannya. Karena ingin cepat. Sun Ciak Kun bukanlah orang sembarangan. Sun Ciak Kun. akupun masih ada harapan selamat”. Tapi ia menjadi agak tenang ketika mendapati pesan yang ditulis It Tiauw yang berbunyi “Liu Siang diselamatkan nenek besar. si guci obat Akhirnya Yung Ci memutuskan untuk membawa mereka ke raja obat sahabatnya di daerah timur. Yung Ci mendapati dua mayat muridnya Sam Tiauw dan Cit Tiauw. Namun harapannya sepertinya sulit terwujud karena justru keadaan dua Tiauw Kwi itu makin memburuk. Lagi pula ia termasuk yang jarang bermusuhan dengan kaum liok lim. Jika mau meresapi. sehingga ia juga dekat dengan Shu Hwang Ti. Dulu ia pernah merawat salah satu ksatria salju yang terluka berat karena pukulan kejam Wan Cun Ming. dari harapan-harapan yang dicita-citakan. pendekar Siauw Lim. Karena itulah maka Sun Ciak Kun juga memiliki keahlian pengobatan yang tinggi. Persahabatan gurunya dengan para ksatria salju juga diturunkan kepadanya. Di rimba persilatan ia adalah tokoh sakti sekaliber pendekar bukit merak. yang hidup di pengasingan. Pek Mau Lokay dan Kun-lun sam-lojin. Diberi julukan seperti itu karena Sun Ciak Kun selain memiliki keahlian sebagai ahli obat juga ahli membuat keramik. guru Yung Ci dan Wei Sian. bahkan saat itu barangkali merupakan ahli obat nomor satu di dunia. ia berguru pada Goan Kin Taisu. kurang apa lagi? Kenapa ia masih terus berobsesi anakanaknya bisa kembali. Betapa kaget dan sedihnya. Bab 13. yang siap setia melayaninya. Perjalanan memerlukan waktu hampir lima hari.

Dialah satu-satunya cucu yang berbakat bisnis. sehingga tidak terlalu lihai. bisa semingguan. dan melelahkan. Satu dua kali mereka mendapat gangguan dari gerombolan bajak sungai Yang tse Tiat-sim heng-kang pang. Di rumah yang besar itu juga digunakan sebagai bengkel membuat keramik. Perjalanan mereka cukup lancar meskipun boleh dibilang lama. Begitu masuk. Tiong Gi yang selama ini selalu melihat bukit-bukit. mereka melihat seorang tua yang tubuhnya kurus sekali lebih kurus dibandingkan Yung Ci. Perjalanan dari kota Hong Jie. Hamparan bumi di daerah ini sebagian besar adalah tanah-tanah datar. Tapi keahlian dagangnya sangat bagus. . sehingga dialah yang memajukan usaha keramik kakeknya. Di suatu ruang pembuatan keramik. Ia tampak sedang sibuk membuat suatu guci dari tanah liat. rambutnya jarang-jarang berwarna putih semua. kini dibuat terpesona dengan keindahan alam Kang Lam. benarkah ini rumah Sun Ciak Kun? Lohu ingin menemui beliau. namun gangguan seperti mereka bagaikan lalat mendekati api.. Saat itu usaha keramik dilakukan oleh cucu luar Sun Ciak Kun yang bernama Gu Soan Ceng. Dan kemudian menggandeng keempatnya ke gedung balian belakang. ia lebih banyak bersikap netral. Sungguh suatu wisata pedesaan yang mengesankan. dan menyewa jasa Piauw Kiok. tanpa menoleh ia langsung berkata ke keramik yang dibuatnya. seperti berpantun. ada keperluan apakah?” “Kong cu. namun wajahnya cerah. Kedua tangannya dengan sangat lentur membentuk tanah liat. Sun Ciak Kun tinggal di kota Hang Chao daerah Kang Lam. Badannya subur. anehnya alas pembuat guci yang terbuat dari kayu itu bergerak terus tanpa sekalipun tangan orang itu menyentuhnya. Rumah Sun Ciak Kun berada di perkampungan yang cukup padat. Sadar keadaannya diawasi terus oleh lawan yang sedang mengincar. Yung Ci sengaja menyamar sebagai pedagang. dan gunung-gunung yang hutannya lebat. Wajah Soan Ceng kemudian berubah serius. danau yang tenang. Mereka berangkat waktu fajar. Memang inilah salah satu kelebihan Soan Ceng. nelayan yang menjala ikan di sungai adalah pemandangan yang khas di daerah ini. Tepat seminggu kemudian sampailah mereka di wilayah Kang Lam.” jawab Yung Ci ramah. Namun kepada para muridnya yang pendekar ia menekankan supaya mereka bersikap sebagai pendekar yang menegakkan kebenaran dan keadilan. Meskipun belajar ilmu silat tapi bakatnya tidak terlalu baik. Dialah yang menyambut kedatangan rombongan Yung Ci. gayanya seperti tauke yang biasa berdagang. “Hayaa…. pohon-pohon bambu yang daunnya tidak pernah berguguran.Sebagai raja obat. Ia selalu menyambut sendiri tamu relasi bisnis atau yang berusia di atas usianya. rumahnya besar dengan halaman yang sangat luas karena dipakai untuk menjemur keramik.cuwi loya sepertinya datang dari jauh. lahan-lahan murbei yang menghijau. yaitu sebelah selatan muara sungai Yang Tse Kiang. Bentangan sawah yang sangat luas. siapapun membutuhkan pertolongan ia siap membantu. peternak yang menggembalakan bebeknya. Wilayah Kang Lam sangat terkenal dengan pemandangan alam yang khas daerah hilir. Gu Soan Ceng adalah seorang lelaki berumuran lima puluh tahunan.

tapi lagi-lagi Yung Ci menyodorkan muridnya yang tinggal Tiong Gi yang ada. saya Yung Ci dan murid-murid mohon menghadap kepada locianpwe Sun Ciak Kun. “Darah kalian keracunan. “Ah. Saya akan tuliskan resep. Berapa tahun kau habiskan untuk melakukan pencarian sia-sia itu sicu?” Yung Ci sungguh bagai disengat lebah. tapi murid-murid siauw-te ini!” “Hmmm..lagi-lagi tengkorak hitam bukan? Mari. Yung Ci menjadi terkejut. Sambil bekerja kemudian ia melanjutkan kata-katanya. “Apakah penyakitnya berbahaya? Locianpwe bisa mengobati bukan?” Ciak Kun kemudian tersenyum memamerkan gusinya yang sudah ompong. padahal ia sudah sedemikian rapi menyimpan rahasia tempat tinggal maupun tugas-tugas yang . “Aku menggeleng bukan untuk penyakit anak ini. tapi penyakit siculah yang aku khawatirkan. dan melihat lukanya. muridku yang nanti akan tangani!” Ciak Kun lantas memanggil pembantunya. Sayang sungguh sayang. coba aku periksa!” Ciak Kun lantas memegang tangan Tiauw Kwi bergantian. baru kemudian kita obati penyebabnya.. Kembali Ciak Kun memegang tangan pasiennya. tahukah kamu bedanya mendidik anak dengan membuat keramik?” Yung Ci tampak tercekat dan kemudian terdiam. muridnya. Tiong Gi dan kedua Tiauw Kwi juga ikut terdiam. lukanya tidak terlalu sulit disembuhkan.rupanya ada tamu yang berkunjung ke rumah kita. sicu. dan meminta untuk mengantarkan ke Kang Lam Yok Ong. obatnya gampang. Sepertinya kau sangat bernafsu untuk mendapatkan keturunan seorang ksatria. guci. tapi anak bukanlah tanah liat yang mudah dibentuk sesuai kehendak hati. tapi tidak habis mengerti apa maksud orang tua itu. Soan Ceng langsung saja meninggalkan mereka. guci” katanya kemudian menoleh..” Yung Ci terperanjat. racunnya memiliki sifat serangan yang lama. Ia kemudian mengangguk-angguk. Kemudian ia meminta Yung Ci untuk diperiksa. kepandaiannya tidak bertambah banyak sejak kau mengurungkan diri di lembah itu.. tanpa berusaha mengenalkan. Ciak Kun menyuruh Tiong Gi membuka baju kemudian duduk bersila membelakanginya. Murid-muridmu tidak perlu dikhawatirkan. dengan cara membusukkan luka luar!” “Aku tahu.” ucap Yung Ci. Kakek itu langsung melanjutkan ucapannya. kita sembuhkan dulu lukanya. kelihatannya engkau sakit sekali sicu? Coba saya periksa!” “Bukan siauw-te locianpwe.!” “Kami yang mestinya minta maaf. sehingga tidak mampu membeku. Matanya menatap lekat-lekat orang tua yang sudah berusia lebih dari seratus tahun itu memohon penjelasan. dan kali ini dia menggeleng-geleng. tak disangkanya Ciak Kun tahu belaka peristiwa yang dialaminya.. “Ah. Seperti sudah biasa dengan gaya kakeknya. Kemudian tangannya dengan terampil melakukan beberapa totokan. rupanya Yung sicu yang datang. kemudian mengambil dua jarum yang satu ditusukkan ke bagian leher Kie-kut-hiat dan lain pada Sin-to-hiat pada punggung.“Wahai guci.. “Mereka sama-sama membutuhkan kelembutan dan kelenturan tangan. “Murid-muridmu sungguh sangat berbakat sicu.mari ke kamar sebelah!” “Tapi kali ini racun yang mereka gunakanberbeda.

Itupun terkadang masih dilimpahkan ke muridnya. Tapi justru karena sifat inilah maka murid-muridnya berhasil mengembangkan kemampuan pengobatan. meskipun sudah berpredikat sebagai guru besar ilmu pengobatan. Cucu-cucu muridnya yang mahir silat masih aktif di dunia persilatan. “Ya. Apa kau kira aku tidak tahu kau memaksa-maksa anakmu Yung Lu untuk menikahi Shu Kiok Nio agar kau bisa mendapatkan seorang keturunan berdarah murni?” “Pengetahuan locianpwe tentang sejarah kami sangatlah dalam. tapi harus diwariskan melalui pembentukkan watak. Orang tua yang aneh. aku tidaklah seperti katak yang mengurung diri dalam tempurung sicu! Karena kenyataan kehidupan bisa aku terima dengan lapang. tak mungkin aku sudi jadi besannya. Tapi Yung Ci memandang rendah jika menyangka Ciak Kun tidak tahu peristiwa di bu lim. Hanya orang-orang yang sangat dikenalnya saja. Perkiraan pertamanya tidaklah meleset. Tapi harus siauw-te akui memang benar belaka bahwa siauw-te mempercayai pandangan seperti itu. meskipun namanya tidak pernah terkenal di rimba persilatan. Agaknya Yung Ci masih memandang ringan kemampuan Ciak Kun. Darah ksatria tidaklah harus diturunkan secara alamiah melalui perkawinan. “Bagaimana sampai dia tahu” pikirnya. tapi kau keliru memahami sicu.diembankan kepada murid-muridnya. memang ia berdarah murni. lembah delapan rembulan belasan tahun siauw-te rahasiakan.. seperti samudera yang siap selalu menerima limpahan air dari manapun.” . yang pertama dia mengira Ciak Kun tidak memiliki kemampuan menebak pikiran orang. Ia sangat hafal penyakit tukang kedai yang kebanyakan bertubuh gembul kebanyakan menyimpan lemak. Yang kedua ia mengira Ciak Kun tidak tahu peristiwa-peristiwa di bu lim. apakah Lau Sen Bu bukan berdarah ksatria murni? Tapi kenapa ia tidak mewarisi watak nenek moyangnya?” Mata Yung Ci terbeliak.ha. “Darimana locianpwe tahu itu semua? Sungguh aneh. tapi mengabaikan murid-muridmu sendiri bahkan telah mengabaikan pendidikan bagi anak-anak naga. iapun masih aktif mengikuti omongan-omongan kaum persilatan di kedai-kedai yang terkenal sebagai kedai-kedainya kaum persilatan di Kang Lam. dak kependekaran. Sekarang aku tanya kepadamu sicu. Jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kalian mempercayai kalau ksatria salju titisan salah satu dari 5 ksatria salju ratusan tahun silam akan muncul menjadi dewa penyelamat. Apakah menurut locianpwe pandangan kami salah. tapi masih suka berkeliaran seperti sinshe keliling. jika tidak. “Ha.ha. Dan tak seorangpun tahu. Ada dua hal yang tidak dia duga. aku menyuruh murid-muridku mencari keturunan ksatria salju. nafasnya seakan berhenti diingatkan seperti ini. atau mengajaknya minum teh bikinannya. siapa tak kenal dengan Guci Obat dari Kang Lam. sungguh siauw-te tidak pernah menyangka. kepribadian. Tiga hari sekali pasti ia menyempatkan untuk mengunjungi kedai-kedai itu sekedar mengurut sang juragan. Yang kedua. tolong tunjukkan di mana salahnya?” “Pandangan seperti itu memang tidak bisa disalahkan. Sun Ciak Kun. Karena sifat seperti inilah maka ia sangat dikenal oleh penduduk Kang Lam. Engkau belasan tahun menjadi ksatria berdarah murni... yang masih mau dilayani sendiri. Kemudian ia menunduk dan bergumam pelan sekali. Ia membiarkan penyakit-penyakit berat ditangani oleh murid-muridnya.

apakah tidak mungkin Lau Sen Bu memiliki keturunan seperti dirinya?” “Tapi coba bandingkan dengan murid-murid sicu.” Tiba-tiba wajah Yung Ci yang semula keruh. Tiong Gi mendapat kesempatan untuk melihat cara membuat keramik dan melukisnya. pandangan mata seakan berbinar. Hanya satu orang saja. bahwa selama darah masih mengalir. seorang wanita yang mengikuti jejak ayahnya berbisnis keramik. “Locianpwe. Tiba-tiba ia berlutut.” “Siauw-te kini paham. “Sicu. Itulah pentingnya pendidikan sicu. tapi ia mencoba untuk meresapi banyak hal.” Ciak Kun kemudian memegang pundak Yung Ci. “Taecu kini paham! Terima kasih atas wejangan suhu yang sangat bermakna ini. “Ahh aku harus berguru pada kakek tua ini. dan menariknya sehingga ia bangun kembali. Dua hari Tiong Gi berada di rumah itu. bolehkah aku belajar membuat dan melukis keramik padamu?” Ciak Kun menatap balik Tiong Gi. tapi dibandingkan dengan ribuan biksu dan pendekar yang pernah dihasilkan. dan sering menunduk menjadi cerah. Ia seakan-akan menemukan kepercayaan pada dirinya. aahh ternyata siauw-te banyak bersalah kepada anak-anak dan murid-murid sendiri. Sicu punya berapa murid? Berapakah murid sicu yang tidak mewarisi sifat ksatria seperti yang sicu harapkan? Di Siauw Lim juga ada murid yang menyimpang. tidak ada manusia yang sempurna.” Tiong Gi yang ikut mendengar percakapan ini. aahh maaf. karena ia tidak ketahuan keturunan siapa. dia diberi keleluasaan untuk jalanjalan keluar. jumlah yang menyimpang tentu sangat sedikit. kalau Lau Shu Han saja bisa memiliki keturunan seperti Lau Sen Bu.“Sicu. Ia selama ini selalu memandang rendah diri sendiri. justru karena itulah maka para nabi dan orang suci selalu menjadi guru dan penasihat bagi semesta. Semangatnya pulih. padahal pentingnya pendidikan bukankah untuk mengembangkan bakatbakat itu. lohu lupa sedang berhadapan dengan seorang guru. sehingga rumah itu terasa sepi sekali.” pikirnya. punya anak satu. benarkah kau sungguhsungguh ingin belajar? Apakah engkau tidak mau kembali ke suhumu?” . meskipun materinya untuk orang-orang dewasa. kembali. Hanya keluarga inilah yang menempati rumah. dan itulah inti ajaran yang harus kita petik. Ia sudah berusia dua puluh tiga tahun. Mulai hari ini siauw-te akan lebih memperhatikan kemajuan mereka. Ketika suhunya menjenguk Tiauw kwi di rumah murid Ciak Kun. “Anak baik. manusia tetap berpeluang berbuat salah. Ia tidak terlalu menghargai bakat-bakat yang dipunyai. Anak-anak Soan Ceng kebanyakan sudah menikah dan memiliki usaha sendiri-sendiri. oleh karena itu jangan segan-segan meminta maaf dan untuk saling menasihati. masih bayi.

Lama ia tidak menjawab sampai Ciak Kun duluan yang menanggapi. Karena dalam penggunaannya ilmu ini sangat menguras tenaga maka Ciak Kun sendiri jarang menggunakan. nanti tentu saja aku akan kembali pada suhu. Tiba-tiba Tiong Gi berkata. “Ikuti caraku!” Asik sekali Tiong Gi belajar membuat keramik.” Yung Ci tersenyum. teknik membuat air dalam guci dingin dengan . bisa belajar dari tokoh persilatan sekaliber Ciak Kun. Ilmu yang kedua yang diajarkan Ciak Kun adalah I-kiong-hoan-hiat yaitu ilmu memindahkan jalan darah. biarlah untuk sementara ia disini. Pada satu minggu pertama mula-mula memang Tiong Gi diajarkan cara membuat keramik seperti cara yang umum dipakai orang. sebaiknya memang kau berkonsentrasi mendidik Tiauw Kwi. Ia sebenarnya ingin mengajak pulang murid-muridnya. ia ingin berkonsentrasi mendidik mereka. Mulai hari itu. “Suhu ijinkanlah aku tinggal di sini barang sebulan dua bulan. dan khikang. Ilmu yang tergolong langka dan sulit sekali dipelajari karena harus memadukan kemampuan lweekang. Yang hebat dari ilmu ini adalah sifatnya yang mampu menghancurkan bagian dalam tanpa merusak bagian luar. sinkang. dan tinggal terapi obat dalam saja. Ilmu ini sangat berguna untuk menghindarkan dari totokan lawan. sehingga tak sadar ketika Yung Ci sudah kembali. Pada hari yang ketiga luka Tiauw Kwi sudah mengering. agak kurang percaya. ia kemudian mengambil tanah liat dan menyerahkan ke Tiong Gi. pukulan yang dilancarkannya tetap mampu menembus penghalang tersebut. Tiong Gi belajar pada Ciak Kun. Kiu Yang Sin Ciang adalah ilmu kembangan Ciak Kun sendiri yang merupakan ilmu pukulan bersifat keras. kemudian merekapun berpamitan.“Ah bukan begitu maksudku. Tetapi ia juga diajari suatu ilmu tingkat tinggi yang pertama adalah Kiu Yang Sin Ciang. atau baju jirah yang tahan pedang. tapi kemudian Ciak Kun mengajarkan. Kiu Yang Cin Keng bersifat keras dan panas. Dari orang tua itu Tiong Gi bahkan bukan hanya belajar membuat keramik. Dengan ilmu ini meskipun lawan yang dihadapi menggunakan tameng baja yang sangat tebal.” Ciak Kun tersenyum. Kekuatan “yang” tersebut baru bisa dikuasai jika seseorang memiliki hawa sinkang yang sangat tinggi. Ilmu ini bersumber dari Kiu Yang Cin Keng yang di Siauw Lim sendiri tidak banyak pendeta maupun pendekar yang mampu menguasai. “Yung Ci. Sungguh beruntung sekali nasib Tiong Gi. yang kebanyakan bersifat im. Getaran atau gelombang yang membawanya harus dikuasai dengan penguasaan tenaga khikang. Maka Yung Ci hendak berpamitan. Berbeda dengan ilmu-ilmu yang dipelajari oleh Tiong Gi dari Yung Ci. Yung Ci melihatnya dengan menganggukanggukkan kepala. melukis keramik sampai belajar menjualnya. aku hanya belajar sementara. Hal ini karena cara kerja dari pukulan ini adalah kekuatan “yang” yang harus dihantarkan melalui sebuah getaran atau gelombang dan terkendali jarak dan arahnya. tidak usah khawatir. aku ingin belajar membuat keramik pada Ciak Kun locianpwe!” Yung Ci menatap muridnya.

berkat latihan Sai cu hokang. Baru pada minggu kedua belas Tiong Gi belajar ilmu seni melukis guci dan keramik. Ciak Kun mengatakan. maka ia tidak terlalu kesulitan. membuat Ciak Kun sangat kagum. baginya keyakinan akan diri sendiri dan guru diatas rasa sakit itu. Dengan menjalankan pernapasan menurut peraturan yang sudah ditetapkan. Hawa pukulan yang dilepaskan mampu memanaskan air dalam guci nomor lima. lama-lama menjadi lima. Belasan murid-muridnya terdahulu tak satupun yang sanggup mempelajari ilmu Kiu Yang Sin Ciang. Tiong Gi diharuskan membangkitkan Cin kie (Hawa murni) yang hangat dari tantian mengalir keberbagai jalan darah dan kemudian kembali dan berkumpul pula sekitar tantian.” lanjut Ciak Kun sambil memeragakan cara menghancurkan guci-guci itu dengan urutan sama persis dengan sebelumnya. “Aku sudah mengajarkan dasar-dasarnya. Dan pada minggu ke delapan. Tiong Gi mulai belajar ilmu memindahkan jalan darah. Pada minggu kesepuluh. Tiong Gi dengan sungguh-sungguh dan tak kenal lelah mematangkan ilmuilmunya.memberi penghalang pada guci tersebut. kemudian ia melancarkan pukulan dari dapan pangkal barisan guci itu. selanjutnya kau harus mempelajari sendiri!” katanya mengakhiri pelajaran Kiu Yang Sin Ciang. ”Tiong Gi. Latihan ini tidak terlalu sulit namun butuh kesabaran dan pemahaman yang lengkap mengenai jalan-jalan darah. mengetahui ilmu yang dimiliki oleh Tiong Gi bersifat Im. Sesudah selesai satu putaran. ”Bahkan bisa merusak seperti ini. Pengaliran "Hawa murni" dari tantian ketantian merupakan satu putaran dan putaran itu diulang dan di ulang lagi. Tiong Gi sudah mahir memanaskan air dalam guci yang terhalang delapan guci di depannya. Baik murid maupun guru berlatih dengan penuh semangat. jika kau sudah mahir maka kau bukan saja mampu mendidihkan air. oleh karena ia ingin mengajarkan prinsip terlebih dahulu maka pertama yang diajarkan adalah teknik penggunaannya. secara terus menerus. Guci-guci itu ditata secara teratur dalam satu garis. Tiong Gi sudah cukup maju. maka latihan ini terasa sangat menyiksa baginya. namun air di guci paling depan maupun guci nomor empat tiak terpengaruh oleh hawa ini. tapi juga mampu membakar guci seperti ini. Ciak Kun sendiri merasa sangat beruntung menjelang akhir hayatnya ada murid yang mampu mewarisi kepandaiannya. Mula-mula Tiong Gi belajar tiga guci. beberapa kali ia merasa tubuhnya panas dingin. melatihnya. Obyekobyek yang dilukis Tiong Gi bahkan jauh lebih indah dan lebih beragam . namun kini ia tidak mau mengeluh. Selain itu ilmu membuat dan melukis guci dipelajari dengan sangat mudah oleh Tiong Gi. mestinya orang yang berlatih lantas saja merasa seluruh tubuhnya nyaman luar biasa. Pada minggu keenam Ciak Kun mengajarkan teknik mengatur kekuaran pukulan. Apalagi dalam hal khikang. mulai mengajarkan teknik pernafasan untuk menguasai hawa yang.” Ciak Kun lalu memeragakan cara membakar guci-guci itu urut dari ujung yan terjauh sampai pangkal yang terdekat. Ciak Kun. Namun karena Tiong Gi sebelumnya hanya melatih hawa im. Pada minggu ketiga. Pada bulan keempat sampai bulan kedua belas. Maka setelah dua minggu terus menerus mempelajarinya akhirnya iapun mampu memanaskan air dalam guci meskipun terhalang. Ciak Kun. Pada akhir pelajaran ini. Ia mencontohkan cara penggunaan ilmu itu dengan menata tujuh guci besar yang berisi air.

bersama empat orang sute. Adapun kematian Kong Sim hosiang cukup anehnya. Selanjutnya Ciak Kun menggambarkan yang terjadi seperti kisah dibawah. masing-masing terdiri dari tiga puluh murid. Namun belum sempat kami membebaskan. Akhirnya setelah setahun tinggal di Kang Lam barulah Tiong Gi dipanggil oleh Ciak Kun ke ruang pribadinya. Dan utusan ke Kun-lun. Namun kemudian utusan ini hanya kembali seorang. “Dua tiga tahun berselang Siauw Lim menghadapi ujian yang berat. tapi pengalaman di dunia perlu dicari sejak muda.” Ciak Kun berhenti sebentar menarik nafas. Kemudian dikirim dua kelompok utusan ke Yi Chang yang siauw ceng sendiri yang memimpin. Memang sudah jadi kebiasaan. dua diantara sute kami tewas. membuatnya sering menggeleng-gelengkan kepala.dibandingkan yang pernah dilukis oleh Ciak Kun sendiri. Siauw ceng coba selidiki kebenaran cerita biksu yang masih hidup. kami bertiga beruntung bisa meloloskan diri. seperti sudah tahu kehadiran kami. sudah setahunan kau tinggal di sini. dibandingkan dengan rencana semula. Belakangan utusan ke Kun-lun tidak pernah kembali. dan benar kami mendapati seorang biksu murid terpenjara di situ dalam keadaan mengenaskan. yang satu dikirim ke markas utama di Chon King. Kami sudah mencoba bicara baik-baik tidak diterima akhirnya terjadilah pertarungan mati-matian. yang dipimpin oleh dua orang susiok. tinggal melatihnya saja. Ketika kami selidiki di kuil Kong-sim Liok Si itu. ternyata penghuni baru kuil mengaku mengurusi kuil karena kuil kosong. tiba-tiba kami dikepung. Dari pihak musuhpun ada belasan yang roboh. Mereka adalah Bu Sian Taisu dan dua orang murid ketua yang sekarang. maka harus diselesaikan oleh generasi di atas siauw ceng. “Tugas apakah itu suhu?” “Dua hari yang lalu tanpa kau ketahui karena barangkali kau sangat sibuk. waktu setahun sudah lebih dari cukup dan teori dari pelajaran yang kuberikan juga sudah cukup kau pahami. Kuil kecil di kota Yi Chang. murid siauw ceng. datang tiga utusan dari Siauw Lim Pay. di tepi sungai Yang tse kiang itu suatu ketika diambil alih oleh pihak-pihak perusuh. Meskipun usiamu masih muda. suatu masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh generasi siauw ceng. “Tiong Gi. Karena masalah tidak bisa kami selesaikan maka Siauw Lim memutuskan untuk mengirimkan utusan yang jauh lebih besar. utusan dibagi menjadi dua. dan menyatakan bahwa peristiwa kerusuhan di kuil itu didalangi oleh pengemis sabuk hitam. beberapa diantaranya kami yakini tewas. ditemukan meninggal. Karena itu sudah saatnya kau merantau meluaskan pengetahuan Tiong Gi. yang satu dikirim ke markas pengemis sabuk hitam di Yi Chang. Tiga orang utusan Siauw Lim itu meminta bantuan Ciak Kun untuk mencari penyelesaian kemelut yang dihadapi Siauw Lim.” papar Ciak Kun memulai ceritanya. dari lukanya terlihat ada bekas-bekas pukulan dari tongkat Kun-lun (sudah diceritakan pada bab 6). dan menceritakan bahwa saudarasaudaranya yang lain telah dibunuh oleh para pengemis sabuk hitam. Masalah ini dimulai dari kejadian aneh di Kuil Kong-sim Liok Si. Maka kemudian kami coba selidiki markas pengemis sabuk hitam malammalam. Dan aku mempunyai tugas untukmu. Kemudian kuil Siauw Lim Si cabang selatan yang berpusat di Wu Han mengirimkan tujuh utusan. susiok. . Kong Sim hosiang.

ia berjanji akan menyelesaikan masalah secepatnya. Akibat dari semua peristiwa ini membuat susah hat supek Thian Jin Siansu. Berita ini datang dari laporan yang berkembang di rimba persilatan. Akibat dari peristiwa ini sungguh sangat membuat Siauw Lim merasa tidak enak. meminta maaf. Meskipun pada akhirnya kami bisa membebaskan Kong-san hwesio. Namun berbeda dengan di pusat. Lebih celaka lagi pada saat banyak tokoh keluar. apakah masih hidup atau sudah mati? Kabar terakhir menyatakan bahwa barisan ini sudah menguasai lembah dua sungai besar. dan menunjuk suheng Bu Sim Siansu sebagai penggantinya. sehingga ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Maka dari itu sutit mohon bantuan pada susiok. jika kelak ada orang yang membawanya kepadamu terimalah ia dengan baik. Dan yang sangat membahayakan. dan menceritakan bahwa perkumpulan sabuk hitam sedang dilanda kemelut internal. Sebuah kitab ilmu yang sangat penting yaitu Liong Jiauw Ciu dicuri maling. aku akan membantu Bu sutit. Siauw ceng sendiri mendapat bagian kelompok kedua yang dikirim ke markas pusat di Chon King. yang segenerasi denganku. “Begitulah kisahnya.” “Tentu saja. termasuk wakil kepala biara. semacam Tiat-sim heng-kang pang maupun Hek-in Pang. hanya berselang sebulan dari peristiwa itu kembali Siauw Lim mendapat berita duka. dedengkot pengemis sabuk hitam.Karena susiok yang masih hidup hanya dua. untuk ikut membantu masalah Siauw Lim. Di pihak lawan lebih dari tiga puluh murid tewas. karena ia adalah utusanku. Sungguh jumlah korban yang sangat besar. Aku sendiri tidak tahu kabar terakhir Pek Mau Lokay. Keteganganpun bisa diselesaikan. sedang di pihak kami ada sepuluh murid yang tewas. Datuk-datuk besar sudah bergabung di dalamnya. termasuk biang setan kelabang emas. tidak bisa menghindari kekerasan. Lihatlah baik-baik benda ini. utusan yang dikirim ke markas cabang di Yi Chang. bantulah Siauw Lim menyelesaikan masalahnya!” “Nenek kelabang emas. aku memberi tugas yang sebenarnya cukup berat bagimu.” kata Ciak Kun sambil menunjukkan sebuah guci bergambar kepala harimau. namun pimpinan pengemis sabuk hitam yang saat itu dipegang Sin ci Lokay. duka Siauw Lim dukaku juga. ciangbujin Siauw Lim saat itu. Setelah mendapat kepastian kesediaan Ciak Kun untuk membantu tiga utusan itupun besoknya kembali ke Siauw Lim. tapi siapa nyana. Siauw Lim kemalingan. Perkumpulan pengemis sabuk hitam yang dulu terkenal sebagai perkumpulan pengemis yang gagah sudah disusupi dan dikuasai. murid biksu yang ditawan dan bisa membawa kembali dua mayat sute. dalam barisan ini sudah bergabung perkumpulan-perkumpulan sesat. maka keduanya diterjunkan semua. utusan yang dikirim ke Kun-lun dipastikan telah meninggal. tetapi korban yang jatuh dari kedua belah pihak sangat banyak. Tiong Gi! Dunia persilatan sekarang dalam ancaman yang berbahaya muridku! Ada barisan orang-orang dari golongan hitam yang sedang mengobok-obok partai-partai persilatan. Meskipun disambut tegang. apakah dia yang memakai rangka barongan . sakit Siauw Lim sakitku pula. seperti ada pihak-pihak yang sengaja menjelek-jelekkan nama Siauw Lim. karena citra Siauw Lim menjadi merosot tajam. Karena itulah maka besok kau harus turun gunung. Siauw Lim kemudian mencoba menutup diri.

“Ahh. mereka menghendaki negeri itu tetap dalam genggaman mereka!” “Apakah suhu tahu apakah warisan Lau Cin Shan. kepandaiannya sungguh menggiriskan. “Ilmu melukis dan membuat keramik.berbentuk kelabang raksasa taecu. “Sun Kian. dan yang lebih penting lagi siapa yang menggerakkan mereka. Marilah kita tengok peristiwa yang terjadi di tubuh partai pengemis sabuk hitam.suhu taecu ingat. besan Yung Ci.. tapi intinya karena kelompok tengkorak hitam tidak menghendaki negeri salju menjadi daerah mandiri. taecu tahu peristiwa yang terjadi di kuil Kongsim Liok-si. terakhir kudengar mereka mulai merambah Kang Lam. Ia merasa tertarik sekali pada pembicaraan gurunya. Setelah terjadi kerusuhan di kaypang cabang Yi . pesilat-pesilat dari selatan lebih tergiur berebut warisan Lau Cin Shan couwsu. panjang sekali cerita dendamnya. seorang pemuda gagah yang masih berusia remaja yang akan mendapati berbagai pengalaman baru yang menegangkan. benarkah demikian... Dan perlu kau ketahui pula di saati kaum persilatan di wilayah tengah disibukkan oleh masalah pertikaian antar partai. entah untuk apa. sambil membayangkan peristiwa dipenjara Kuil Kong-sim Liok-si.” kata Tiong Gi. keponakanku mewarisi ilmu melukis yang sangat baik. ketika matahari sudah lebih dari sepenggalah. karena gerakan mereka bukan gerakan biasa tapi berpilin dengan gerakan perebutan kekuasaan..” “Tahukah suhu kenapa mereka bermusuhan dengan kelompok tengkorak hitam?” “Ya. ia pasti dibunuh oleh kawanan penjahat-penjahat itu. Ia memang sengaja hendak mencari pengalaman di dunia persilatan.” kata Tiong Gi penuh semangat. suhu?” “Benar ia adalah nenek moyang ksatria salju. yang diperbutkan kaum persilatan itu?” tanya Tiong Gi memancing.” Hampir semalam suntuk mereka berbicara banyak hal. kakek buyut Lau Cing San. Tiong Gi agak terperanjat mendengat jawaban ini. Tiong Gi melakukan perjalanan darat dengan berjalan kaki. Aku adalah sahabat Lau Cing San sehingga tahu riwayat mereka. ia tinggal di Heng Yang.taecu pernah bertemu dengannya. Ia hanya menggeleng ditanya balik seperti itu. mulai keadaan dunia persilatan sampai rahasia ilmu melukis. kepala kuil itu kalau memang meninggal. “Eh kau tahu siapa pelakunya? Aku sendiri hanya bisa menduga-duga siapa dibalik peristiwa ini. Tiong Gi dilepas berangkat menuju ke kota Yi Chang. Barulah keesokan harinya. Dari kota inilah ia akan menyelidiki pelaku-pelaku peristiwa yang terjadi waktu itu. selain itu tidak ada yang diwariskan secara lengkap!” kata Ciak Kun menjawab sendiri pertanyaannya. tepatnya ia adalah ayah dari Lau Shu Han. kakek dari Lau Bin Siong. Lau Cing San sendiri adalah ayah dari Lau Sen Bu. “Apa maksud suhu?” “Tahukan kamu apa warisan Lau Cin Shan yang lengkap?” Mata Tiong Gi berbinar-binar mendengar percakapan mereka ini.” “Warisan Lau Cin Shan??? Bukankah ia nenek moyang dari guru Yung? Nenek moyang ksatria salju. *** Kita tinggalkan dulu Tiong Gi. “Warisan kosong!” jawab Ciak Kun pelan.

mari coba kita lihat sejauh mana bakatmu. suhu mengirim surat itu untuk sucouw!” “Hmmm.surat dari suhumu sudah kubaca dengan baik Sin Hwat! Diakhir surat gurumu memohon agar aku sudi mengijinkanmu menemui Pek Mau suhu. ketua cabang waktu itu Tiong pangcu mengutus Wan Sin Hwat ke Chon King. Mata yang memiliki sinar mencorong seperti itu diakui pemiliknya sudah rabun. apakah lagi jika masih melek dengan sempurna. “Hmmm. siapa anak yang kaubawa ini?” ucap kakek tua itu dengan suara yang dalam dan berat. kiranya bisa menampung lima ribu orang. Sin Hwat disambut dengan baik oleh Ciangbujin kaypang yang berjuluk Sin ci lokay (pengemis tua berjari sakti). “Suhu. Sin ci lokay ini adalah murid pertama dari Pek Mau Lokay.. “Ada maksud apakah kedatanganmu Keng Ci. “Hmmm. mungkin sudah berusia lebih dari seratus tahun...aku sebenarnya sudah memutuskan untuk tidak lagi mencampuri urusan dunia persilatan.” Sin Hwat menjadi terheran dengan ucapan ini. “Apa maksud Tiong Kang menyuruhmu menghadapku anak muda?” “Sucouw. terdengar suara yang berat dari dalam mempersilahkan mereka masuk. hanya saja.. Di markas itu setelah diuji permainan tongkatnya.mataku sudah lamur. Aku sama sekali tidak keberatan. dia adalah murid Tiong Kang sute di Yi Chang. Mereka berdua akhirnya bisa menghadap Pek Mau lokay. Setelah mengucapkan kata-kata sandi permohonan menghadap. kalau suhu tidak ada keperluan untukku taecupun akan berpamit. terdapat gua yang menjadi tempat pertapaan pengemis tua itu. Sin Hwat dibuat kagun sekali dengan keindahan kota Chon King yang dikelilingi oleh pegunungan yang tinggi menjulang.. Untuk bisa menemui beliau hanya pada muridnya yang tinggal disini yang tahu tanda untuk menghadap beliau.” Lalu Sin tung Lokaypun berpamitan. Apakah aku bersedia . cobalah bacakan saja surat itu untukku. di situlah markas besar pengemis sabuk hitam. Di luar kota terletak sebuah gedung besar yang cukup kuno. dan rambutnya sudah memutih semua persis benang-benang salju. pangcu menyuruhku menghadapkannya padamu. hanya itu maksud kedatangan taecu. Baiklah anak muda. perlu kau ketahui Pek Mau suhu sekarang sudah tidak lagi tinggal di markas. khas suara orang tua. Sin Hwat dibuat terkejut dengan tatap mata yang mencorong sedemikian tajamnya. Aku akan mengutus salah seorang sute membawamu ke sana!” Selanjutnya Sin ci lokay mengutus seorang sutenya yang bergelar Sin tung lokay membawa Sin Hwat ke Pek Mau lokay.. Maka Sin Hwatpun membacakan surat gurunya... pengemis ini memang sudah sangat tua. yang intinya memohon agar Sin Hwat diberi petunjuk ilmu lebih lanjut supaya bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh cabang Yi Chang.Chang. markas pusat pengemis sabuk hitam. Rambut yang masih subur itu dibiarkan terurai begitu saja. Tempat yang mereka tuju adalah sebuah perbukitan di belakang markas. Tapi akan sayang kalau aku harus mati meninggalkan ilmu yang baru aku sempurnakan. Pelataran gedung itu sedemikian luas. sesepuh pengemis sabuk hitam yang paling dihormati. Persis seperti gelar yang disandang. beliau sudah nyepi ke suatu perbukitan. Dan ketika ia membuka matanya. Di sebuah tebing.

di musim gugur pengemis tua. Apalagi tampaknya guru baru Sin Hwat sangat mengasihi murid terakhirnya. “Sin Hwat. Ilmu ini memang sengaja diciptakan oleh Pek Mau Lokay. Ia memperbolehkan aku mempelajari kitab itu. Berbeda dengan jalan kita. Ilmu yang terakhir ini merupakan ilmu kembangan dari Pat sin kun ciang hoat dan ilmu yang diwariskan oleh suheng Pek Mau Lokay. Pada suatu pagi. Kami dulu sama-sama berguru kepada seorang orang tua sakti yang hidupnya menggelandang. penuh dengan tenaga yang dilepas. Ia hanya berpesan kelak murid terakhirnya akan ditugaskan untuk itu. Jika Pat sin kun ciang terdiri dari jurus-jurus yang bersifat keras dan kuat. setelah ia mendapat sebuah kitab dari suhengnya. Baik guru maupun murid. karena ternyata beberapa tahun berselang ia . Bahkan Pak Mau lokay terpaksa tidak ikut campur terhadap masalah yang dihadapi oleh kaypang. Tanah datar itu luasnya kira-kira hanya seratus meter persegi. sebaliknya Koai Eng Sin Kun terdiri dari dari hampir tiga puluh dua jurus. gesit. Maka boleh dikatakan setelah berguru hampir tiga tahunan. Nasib kaypang ini ada ditanganmu. Sin Hwat telah berubah menjadi rajawali sakti yang sulit dicari tandingannya. aku yakin kau bisa memikulnya dengan penuh tanggung jawab. dan langsung berbatasan dengan jurang. Mari ikutilah aku!” kata pengemis tua itu mengakhiri percakapan. Di lapangan inilah kemudian Pek Mau lokay menguji Sin Hwat. Gua itu ternyata tembus ke sebuah tanah datar yang hijau. Hang liong tung hoat (ilmu tongkat penakhluk naga) dan ilmu terakhir yang baru diselesaikan oleh Pak Mau Lokay yang diberi nama Koai Eng Sin kun (Silat sakti rajawali siluman). suheng memilih jalannya sendiri. Banyak tugas yang harus kau emban. Ia lebih memilih hidup sebagai petani. muridku. Boleh dikatakan kini kepandaiannya setingkat dengan Sin ci lokay. Karena itulah ia terkenal sebagai pendekar bukit merak. Kitab itu ditulis oleh suhengku pendekar bukit merak. Puluhan tahun yang lalu ia datang kemari menitipkan sebuah kitab. hari ini aku mencukupkan dalam membimbingmu. bahkan dengan ilmu barunya ia memiliki kelebihan dibandingkan dengan ketua pengemis pusat itu. Beruntung sekali nasib Sin Hwat karena mendapat kesempatan berguru langsung dari dedengkotnya pengemis. sudah waktunya engkau turun gunung.mendidikmu atau tidak tergantung jodoh. ia menyempurnakan Pat sin kun ciang hoat (ilmu pukulan tapak tangan delapan jurus sakti). Tugas ini sangat rahasia. Tapi belakangan baru aku ketahui pesan itu adalah pesan wasiat. Ia kemudian belajar selama kurang lebih dua tahunan. tapi berpesan bahwa kitab itu kelak harus kukembalikan lagi kepada keturunannya. sifatnya lentur. Ia tidak mau mengikuti jalan hidup suhu sebagai pengemis. Ia lalu berjalan ke belakang menyusuri lorong-lorong gua yang gelap. Yang pertama adalah tugas mencari kitab enam belas jurus merak sakti. Waktu itu aku heran mengapa ia tidak wariskan langsung saja ke anak cucunya. Ia tinggal di bukit merak. guru Sin hwat memanggilnya. Dari guru yang sakti ini. dan memang menjadi rahasia bagiku. tapi setelah lebih dari dua puluh tombak terdapat percabangan gua yang salah satunya lebih terang. Sin Hwat lulus ujian dan diterima sebagai murid terakhir dari Pek Mau Lokay. dan mengandung tenaga lemas yang mengandung kekuatan tersembunyi. karena kisah pencurian itu hanya sedikit yang tahu. Ada dua tugas yang harus kau selesaikan. Sin Hwat pun berlulut. sama-sama bersemangat tak kenal lelah dalam mengajar dan belajar.

Barisan inipun kocar-kacir tak lebih dari sepuluh jurus. ia dicegat oleh dua pengemis penjaga. langsung disusul oleh munculnya barisan kedua. aku masih muda tahu!” balas penjaga tadi. Celakanya. “Siapa kamu dan apa keperluan!” bentak salah seorang penjaga galak.. menjadi ikut terheran-heran. Ia ingin mengetahui dulu yang telah terjadi. karena pohon yang terdekat dari mereka berjarak lebih dari tiga tombak. Sampai sekarang aku masih belum menemukan titik terang siapa kira-kira pelakunya. Barisan sepuluh pengemis ini segera mengepung Sin Hwat. “Tukk! Aduuhh!” teriak pengemis itu sambil memegang-megang kakinya. Maka kau harus bergegas menyelesaikannya. Aku sudah berusaha memerintahkan murid-muridku mencari jejak keturunan terakhir dari suheng.” Sin Hwatpun berpamit. Maka betapa herannya ia ketika di sudut kota menemui pengemis yang bersikap garang.” “Baik suhu. taecu akan selalu ingat pesan suhu dan akan taecu junjung tinggi untuk taecu laksanakan dengan segenap kemapuan!” “Sudahlah Sin Hwat. tapi jika pelakunya muridmuridku juga sulit dipercaya mereka berani melakukan pencurian di kamar suhunya sendirian. Barisan ini terdiri dari lima pengemis tingkat dua. Ada kemungkinan penyusup masuk atau murid yang bekerja sama dengan orang luar.apa jarang di bersihkan!?” tanya Sin Hwat sambil tersenyum.. Tapi aku yakin ada hubungannya dengan kerusuhan yang akhir-akhir ini melanda kaum persilatan terutama yang sedang dihadapi oleh kaypang kita. bahkan ada sebagian yang ditemui sedang memaksa meminta sumbangan. yang kusimpan dikamar. ingin memberi pelajaran kepada pengemis muda yang dianggap tak sopan. Di depan pintu gerbang markas. Tapi mereka terlalu memandang rendah Sin Hwat dengan mengajukan barisan tingkat tiga. Ketika ia ikut membantu kawannya. Entah kenapa dan bagaimana caranya tiba-tiba ada kayu yang melintang di depannya. ketika aku sendiri turun gunung. sekarang waktunya sudah sangat genting. Tidak ada tanda-tanda pencurian dari luar.. Maka secepat kilat ia membunyikan loceng tanda bahaya.. “Ah tuan pengemis gagah kenapa di pintu gerbang ini bisa kejatuhan dahan sebesar ini yaa. dan keturunannya dikejar-kejar oleh salah satu musuh besarnya. Tak lebih dari lima jurus.meninggal. aku kehilangan kitab itu. tanpa sepengetahuan Sin Hwat. Robohnya barisan pertama. Ia mencoba untuk tidak turun tangan langsung. Dengan segera Sin Hwat berhadapan dengan barisan pengemis ini. tapi nihil. tiba-tiba pemuda yang didepannya sudah berkelebat lenyak dari pandangan. Teman penjaga yang satunya lagi. tugas kamu yang kedua adalah membantu menyelesaikan masalah kaypang kita. Dua tahun lebih ternyata waktu yang cukup panjang untuk mengubah wajah kaypang sabuk hitam ini. Oleh karena itu muridku. aku tak perlu segala ikrar dan janjimu yang penting sumpah dalam hati untuk melaksanakannya. sambil iseng kakinya menendang. atau dengan kata lain adalah merampok. aku Sin Hwat ingin menghadap kay pangcu!” “Enak aja bilang aku pengemis tua. Tiba-tiba di halaman depan itu sudah berdiri sepuluh orang pengemis tingkat tiga. Maka gemparlah markas . “Lokay. Tempat yang mula-mula dituju adalah markas kaypang. mereka semua telah roboh terkena tendangan dan pukulan Sin Hwat.

“Anak muda siapakah namamu. Mereka telah mendengar bahwa Pek Mau Lokay beberapa tahun terakhir mengambil murid terakhir bernama Sin Hwat. maka mulainya ia mempraktikkan ilmu barunya Koai Eng Sin Kun. sedikit demi sedikit tekanan Sam Sinkay mengendor. Tongkat di tangan mereka bergantian bergerak menyerang secara teratur. Dengan gerakan gesit ketiga pengemis sakti itu mengelilingi Sin Hwat. Menyelesaikan kemelut kaypang sabuk hitam Setelah menggunakan tongkat keroyokan mereka benar-benar menjadi lebih berisi. ketika menghadapi Liu Siang. ketiga pengemis ini telah banyak kemajuan. sehingga membuat tiga pengemis yang dulu pernah menghadapi Liu Siang muncul. aku juga anggota kaypang sabuk hitam. Bahkan dua orang terserempet pukulan itu. Koai Eng Sin Kun merupakan ilmu silat yang terdiri dari jurus-jurus yang dimainkan secara cepat. Maka serangan ketiga pengemis inipun segera mendapat lawan yang tangguh. kami Chon King Sam Sinkay ingin meminta pelajaran darimu. Bab 14. Jawaban ini membuat air muka ketiga pengemis tua ini berubah. dan dari kaypang mana? Dilihat dari pakaian dan jurus yang kau pakai mestinya kau anggota sabuk hitam. baiklah siauw susiok. mereka lebih rajin berlatih. “Ahhh kiranya kau murid Pek Mau Lokay. Kalau hanya mengandalkan senjatanya untuk menangkis hujan serangan itu saja. Jurusjurus ini cocok sekali menghadapi serangan tongkat yang datang bertubi-tubi seperti kitiran.pengemis ini. sehingga Sin Hwat menjadi kerepotan. sehingga memaksa mereka mengeluarkan tongkat. Karena jurusjurus Pat sin kun ciang sepertinya sudah dikenal oleh mereka. mengelak dan menangkis. Namun ia tetap bergeming dengan tangan kosong. banyak kembangannya dan memiliki banyak tipuan. Mulailah ia mempraktikkan Pat sin kun ciang. Mereka memang terkejut mendengar nama ini. siapakah gurumu? Jangan sampai kami kesalahan tangan memusuhi orang sendiri!” tanya pengemis yang paling tua berjenggot putih. Setelah Sin Hwat mengubah cara bersilat. Setiap ia menangkis satu pukulan. aku ingin menghadap kay pangcu!” jawab Sin Hwat tenang. tentu dia tidak kuat bertahan lama. “Sam-wi lokay. segera disusul pukulan susulan secara bertubi-tubi. sehingga Sin Hwat seperti terus tergencet serangan-serangan tongkat mereka. maka ia pun mengerahkan ginkangnya untuk berloncatan kesana ke mari. bersiaplah!” kata pengemis ini sambil memberi abaaba ke kedua kawannya. Pengalaman menghadapi orang-orang pesilatan yang berilmu tinggi membuat mereka lebih waspada. beberapa kali mereka menjadi terkejut karena belum pernah melihat jurus-jurus seperti itu sebelumnya. mestinya aku memanggilmu susiok. Setelah jurus ke sepuluh dari Koai . Maka kini Sin Hwatpun merasakan lawan yang cukup setimpal. Dibandingkan beberapa bulan yang lalu. Berbeda dengan pengemis-pengemis sebelumnya. tiga pengemis ini lebih bersikap hati-hati melihat kedatangan seorang pemuda yang tampaknya berisi. namaku Sin Hwat.

mereka duduk di kursi. dan untuk perjuangan itu. Kemudian diminumnya arak itu.. jangan khawatir. tapi untuk sebuah perjuangan. kemanakah Sin ci pangcu? Aku ingin menemuinya!” kata Sin Hwat membuka percakapan. kita membutuhkan tenaga muda. oleh karena itu kami memintamu untuk bergabung dengan kami sicu. sekonyong-konyong ada hawa tangkisan yang menahan tamparan Sin Hwat. Sin Hwat tersentak. dan Sin Hwat masih bisa merasakan kesiuran tenaga yang sangat kuat.” “Sicu masih terlalu muda. “Bagaimana ia tahu pikiranku. silahkan diminum. hidup bergelimang kesenangan??” bujuk Sin Tung Lokay. merampok harta orang dan mengganggu orang-orang kecil. Barisan mereka menjadi berantakan. Seorang pelayang kemudian menghidangkan arak. aku melihat beberapa pengemis melakukan hal yang memalukan. “Aha kiranya Hwat sicu yang datang. Sin Hwat agak ragu untuk memulainya. masuklah supaya kita bisa minum secawan arak. dan muridmurid yang lain kemudian mengangkatku menjadi pimpinan kaypang. hanya kepada orang-orang kaya yang pelit saja kami melakukan hal itu.” pikirnya. “Lokay. Untunglah tamparan yang hadiahkan bukan tamparan maut. aku yakin kau tidak akan menghina yang muda. Sin Hwat terperanjat demi melihat pengemis yang dihadapannya bukan lain adalah Sin tung Lokay.” ujar Sin Hwat sambil tangannya memegang arak. memiliki banyak kekasih. mari silahkan sicu.Eng Sin Kun. satu dua pukulan Sin Hwat bersarang di tubuh mereka bertiga. sehingga dengan mudah pada jurus berikutnya Sin Hwat memberikan tamparan keras. apakah kau takut aku meracunimu?” tanya Sin tung Lokay. . kita tidak sembarangan meminta sumbangan. berbaju kain sutera. “Sicu. kelak kalau perjuangan kita berhasil apapun yang sicu kehendaki pasti akan teraih.” “Ah benarkah? Hmmm.. Mereka memasuki ruang tamu yang cukup luas. hmm aku harus lebih berhati-hati. apakah sicu tidak ingin menjadi seorang kongcu yang dihormati. ketahuilah Sin ci suheng sudah mengundurkan diri. Akibatnya pukulan itu melenceng. dan hasil sumbangan ini tidak kita gunakan untuk memperkaya diri.pangcu kenapa engkau membawa kaypang ke arah yang sesat. “Mari sicu. dan sebelum tamparan itu mengenai tubuh mereka.” kata Sin tung Lokay berubah ramah. Tapi heran tampilannya berubah sekali dan tenaga tangkisan yang dirasakan benar-benar membuat Sin Hwat meragukan kemampuannya. di salah satu meja. “Baiklah Lokay. Di depannya sudah berdiri seorang pengemis tua.

pertentanganpun tak dapat dihindarkan.” “Silahkan sicu. hingga akhirnya ia dapat informasi posisi Sin ci Lokay. apalagi dari kedua belah pihak ada durna yang mengipas-ngipasi perselisihan. apakah yang terjadi?” “Panjang ceritanya sicu. Ia masih terlalu muda untuk bisa memahami pergolakan yang terjadi. akhirnya diputuskan untuk mengirim 20 pengemis. yang terpenting sekarang. Ketika bertemu. tidak dia duga Sin Tung Lokay justru mengajaknya bergabung. Korbanpun berjatuhan dari kedua belah pihak. nanti kalau kami tahu kami sampaikan ke sicu. aku harus berbicara padanya!” “Akupun tak tahu kemana ia sekarang. ia kemudian meninggalkan markas. Sayang yang dikirim adalah tetua yang beradat keras. Sin Hwat berasa terharu melihat kondisi mereka. ada pihak-pihak yang menganggap aku gagal. sehingga lima belas pengemis harus terusir dari markas. Setelah itu suasana di markas menjadi panas. aku tidak paham soal segala perjuangan. Namun baru tiga bulan kemudian ia bisa menemukannya. Beberapa bulan kemudian datang utusan dari Siauw Lim. Termasuk dua tetua. setiap perjuangan butuh pengorbanan. jangan segan-segan berkunjung ke markas. nah setelah para pengemis ini bisa terentaskan giliran orang-orang miskin yang akan kita perjuangkan. Kalau memang sicu ingin mencarinya. tahukan sicu untuk apa dibentuk kaypang ini? Tidak lain untuk mengangkat derajat pengemispengemis miskin. Ia masih terlalu hijau dalam berdiplomasi.” Selanjutnya Sin ci Lokay menceritakan peristiwa hebat yang dialami kaypang. kita sedang berjuang untuk mengentaskan oran-orang miskin terbelakang. tolong katakan dimana Sin ci Lokay. sehingga bukannya selesai justru masalahnya makin pelik. “Pangcu. Pertikaian antara kaypang dengan Siauw Lim tak dapat dihindarkan. Hanya tiga dari 20 pengemis yang dikirim ke Yi Chang bisa kembali ke markas. Sin ci Lokay berembug dengan saudara-saudaranya membahas masalah Yi Chang. sehingga mengakibatkan aku mundur.Sin Hwat tersentak dengan ajakan ini. Pada saat Sin Hwat datang. kalau begitu aku permisi dulu pangcu. “Pangcu. Setelah tidak menjabat pangcu. Berminggu-minggu ia melakukan penyelidikan. dan agak tak terurus. Gerakan mereka makin tak terbendung.” “Baiklah. Sin ci Lokay tinggal di sebuah kuil tua. . Silahkan sicu pikirkan ajakan kami!” Sin Hwat meninggalkan markas dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. tapi nalurinya memberi tahu kalau ada hal yang tidak beres. “Perjuangan apakah pangcu? Lantas kenapa para pengemis dibiarkan berbuat jahat seperti itu?” “Sicu. Sin ci Lokay yang terlah berusia tujuh puluh limaan tubuhnya tambah kurus.” Untuk beberapa saat Sin Hwat tidak bisa bicara apa-apa. bersama sekitar lima belas pengemis lainnya. makanya kita meminta dukungan dari orang-orang kaya. Ia merasa bingung. dua diantaranya sute dari Sin ci Lokay sendiri. Karenanya ia kemudia berusaha untuk mencari Sin ci Lokay. ada kelompok pengemis yang memecah belah kaypang kita. aku bisa mengerahkan pengemis untuk mencari beliau. itu yang sedang kita lakukan sicu. jauh di pinggiran kota.

Sayang suhu tidak bersedia turun tangan. “Siapakah orang-orang dibalik mereka. Siapa jago kalian?” Sin ci lokay lantas berunding dengan Sin Hwat. “Masih belum jelas siapa mereka. berbasa-basi. Posisi kubu Sin Hwat sebenarnya tidak menguntungkan karena mereka bertiga bukanlah pasangan segi tiga. pangcu?” Sin ci Lokay menarik nafas panjang. Diputuskan agar kaypang pusat dibersihkan terlebih dahulu. sadarlah untuk kembali ke jalan yang benar!” “Kalianlah para pengacau itu. Di markas mereka disambut baik. “Sute tidak perlu kita berbasa-basi. Maka dipilihlah lima jagoan yang akan mewakili pihak mereka yaitu sepasang pengemis tangan sakti murid dari Sin ci Lokay. “Hmm.aku tahu kau punya banyak pengikut sute. namun kelemahan ini bisa ditutup oleh kepemimpinan Pek Tung lokay yang cukup hebat mengarahkan Sin ciang Siangkay. Bahkan pada paruh waktu kedua. “Suheng syukurlah bisa datang kembali dalam keadaan sehat!” ucap Sin Tung lokay. Pertandingan ini sangat seru karena mereka bertanding dalam barisan. katakan saja apa yang kau kehendaki!” bentak Sin Tung Lokay langsung memanggil nama Sin ci Lokay. Sehingga pertarungan menjadi benar-benar seru. Tongkat Chon King Sam Sinkay menyerang bertubi-tubi seperti gelombang samudera. jika kalian tidak lagi mentaati perintahku. namun melihat situasi sebagai pihak penantang akan sangat memalukan jika tidak berani menyambut tantangan lawan. pangcu!” Selanjutnya mereka merencanakan tindakan selanjutnya. Pertandingan ini karena berpasangan dianggap sebagai satu paket. namun suasananya tegang sekali. Ia merasa sedih. baiklah sekarang kita ajukan lima jago dari kalian dan lima jago dari kami! Dan bersiaplah tiga dari lima jago kami akan maju bersamaan.. kemudian sute Sin ci Lokay yang bergelar Pek Tung Lokay karena selalu membawa tongkat berwarna putih.” “Kita harus temukan pimpinan mereka. karena pelakunya juga orang-orang dalam. namun gempuran ini menghadapi pertahanan kokoh sepasang karang yang bisa bergerak dengan dinamis berkat pengaturan Pek Tung Lokay. Pertandingan kemudian dibuka antara Chon King Sam Sinkay melawan sepasang pengemis tangan sakti. sepertinya kau lupa..” keluh Sin ci Lokay. kalian tentu tahu belaka kedatangan kami kemari untuk membersihkan kaypang dari tangan-tangan jahat!” “Orang she Boh. Maka berangkatlah mereka bertujuh belas ke markas. aku adalah pangcu sekalian pengemis sabuk hitam. tapi sepertinya bukan orang luar. dan Pek Tung Lokay. silahkan tanggalkan sabuk kalian atau bersiaplah menerima hukuman. “Aku tahu kalian membawa jago baru. gigi-giginya sampai menggeretak menahan amarah yang hendak meledak.“Begitulah yang terjadi Sin Hwat. “Sute. bahwa kau bukan lagi pangcu disini. tapi kalau kau masih punya sedikit kegagahan hayo hadapi kami secara jantan!” Meradang rasanya hati Sin Tung Lokay mendapat tantangan seperti ini. Paling tidak mereka masih anggota cabang. memudian Sin Hwat dan Sin ci Lokay sendiri. pihak Pek Tung Lokay . mereka sebenarnya ingin mengajukan komposisi pertandingan tiga lawan tiga.

dia sendiri yang maju. sementara itu Pek Tung Lokay yang bergerak mundur. tak satupun jenis pukulan yang dikenalnya. Kepandaian Sin ci Lokay di kaypang saat itu boleh dibilang sulit mencari tandingan. ia lebih banyak bertahan. Ketika pukulan lawan yang mengarah dadanya coba ditangkis. Maka bertandinglah keduanya dengan kecepatan tinggi. Ia menduga-duga bahwa orang ini adalah pihak luar yang mengobok-obok. Pada pertarungan terakhir ini dari pihak lawan Sin Tung Lokay sendiri yang maju. terlambat mereka tangkis. Ia ingin melihat gaya silat lawan untuk bisa menebak asal-usul perguruan lawan. akibatnya serangan tongkat sepasang pengemis tangan sakti. karena sebelumnya belum pernah bertemu. Tetapi Sin ci Lokay terkesan kurang leluasa mengembangkan kemampuannya. Kedua kubupun merasakan ketegangan. Akhirnya Chon King Sam Sinkay mengakui kekalahannya maka pertandingan dihentikan dan pihak Sin ci Lokay dinyatakan sebagai pemenang. Sin ci Lokay bukan tanpa alasan mencoba lebih banyak bertahan. Akibatnya. ia kecolongan karena ternyata lawan menggunakan gerak tipuan yang sungguh indah. namun dari pihak lawanpun sebagian masih ada yang setia pada Sin ci Lokay. namun dari mana asalnya banyak orang yang tidak tahu. dan menjadi pertandingan penentu. tubuh mereka lenyap tinggal bayang-bayang saja. Ciam Lun memang pihak luar. namun karena pertarungan tunggal maka tidak semeriah sebelumnya. bahkan sampai ia benar-benar terdesak. sebaiknya kamu menyerah saja. kecuali satu hal yang diyakini. lebih parah lagi ketika mereka setengah-setengah dalam menangkis pukulan tapak tangan delapan jurus sakti. “Pangcu palsu. Pertarungan dua orang ini lebih seru dari pertarungan pertama. gebukan tongkat mereka menjadi berkurang kekuatannya karena gerakan mereka menjadi lebih sempit. Padahal kemampuan totokan satu jarinya sangatlah lihai. Sebagai bekas Ciangbujian kelihaiannya sudah bisa dikatakan mumpuni. Maka pertandingan keduapun dimenangkan pihak Sin Tung Lokay. Sin ci Lokaypun berhati-hati menghadapinya. Namun percuma saja. Meskipun tidak terluka parah. sedangkan tongkat pengemis berjenggot putih yang menjadi orang nomor satu dari Chon King Sam Sinkay dibuat patah oleh pukulan tongkat putih Pek Tung lokay. Pat sin kun ciang.berhasil mengatur sepasang pengemis tangan sakti supaya berposisi capit udang untuk menjepit Chon King Sam Sinkay. jurus-jurus lawan bergaya Tibet atau Tayli. namun kalau dilanjutkan pasti ia akan kalah. Pertandingan ketigapun digelar. Pertandingan kedua. supaya Sin ci pangcu bisa mempertimbangkan untuk memberi keringanan hukuman!” kata Sin . dan akan dihadapi oleh Sin Hwat. seakan-akan terdesak menipu mereka. Sin ci Lokaypun terhuyung-huyung ke belakang. tubuhnya meliuk seperti burung dan tangan satunya berhasil mematuk paha kanan Sin ci Lokay. dua dari tiga Chon King Sam Sinkay terdorong dua tombak kebelakang. Namun lawan yang dihadapi kali ini adalah orang asing yang tak dikenal. dan dalam hati mendoakan kemenangannya. Orang berpakaian pengemis ini agak asing bagi Sin ci Lokay. Ketiga pengemis sakti Chon King terlambat menyadari bahwa posisi mereka terjepit. sedang pihak lawan yang maju adalah Ciam Lun. Sin ci Lokay merasa heran. dari pihak Sin ci Lokay. meskipun dari kubu Sin ci Lokay hanya membawa 16 anak buah. ia tidak mengenal ilmu silat lawan.

namun karena jurus-jurus yang digunakan sama-sama sudah dikenal dengan baik maka puluhan juruspun belum mampu memunculkan siapa yang lebih unggul. Kecepatan gerakan membuat penonton yang berkepandaian cukupan untuk menggertak pedagang dan penjual makanan. Kelenturan jurusjurusnya sudah mendekati sempurna. namun dari segi ginkang Sin Hwat sedikit lebih unggul.Boh Ceng! Mana pernah ada larangan pengemis sabuk hitam mempelajari ilmu lain!” balas Sin Tung Lokay. Bayangan yang dibentuk dari lampu-lampu obor di pinggiran seolah-oleh terjadi pertarungan dua burung raksasa di angkasa. . Ruang pertandingan makin melebar. Dari tapak tangan tersebut keluar serangkum hawa panas yang luar biasa yang menyambarnyambar ke arah Sin Hwat. Sin Tung Lokay mengubah cara bersilat. Tiba-tiba Sin Tung Lokay mengubah gerakan. Para pengemispun menyalakan lampion dan lampu obor. Sin Hwat segera memapaki serangan pertama ini. dan langsung melancarkan pukulan pertama. sehingga gerakannya lebih lincah. meskipun tampaknya Sin Hwat agak kewalahan mengahadapi jurus-jurus lawan. namun sebagai orang berpengalaman ia paham rasa marah bisa membuat gelap pikiran. Karena lawan bertongkal. sebagai tongkat ketua. Sambaran angin yang keluar dari jurus-jurus itu membuat rambut penonton berkibar-kibar. jangan kau kira setelah berguru pada orang tua tak berguna kau punya kepandaian yang bisa kau pamerkan. Dia tidak akan membiarkan dirinya termakan dipanas-panasi lawan. atau ayam jago.Hwat. Karena lamanya pertarungan dari pertandingan yang pertama sampai yang ketiga. Jari-jari tangannya dirapatkan seakan-akan berubah berbentuk mulut atau paruh. ”Hmm bocah bau bawang. Hingga pukulan kedelapan juga masih belum muncul siapa yang lebih unggul. “Ha. Semua pengemis termasuk Sin ci Lokay dibuat perpana. “Sute ilmu apa yang kau gunakan. dari mana kau mempelajarinya?” bentak Sin ci Lokay. Betapa marah rasa hati Sin Tung Lokay. Gerakan yang mirip burung yang sedang mematuk-matuk ini sungguh sangat luar biasa. hayo majulah tunjukkan kebodohanmu!” bentak Sin Tung Lokay.. Namun keunggulan ini belum mampu menembus kematangan gerakan Sin Tung Lokay yang sudah berpengalaman puluhan tahun. Pada awalnya Sin Hwat terkejut mendapati perubahan ini. gerakannya lebih cepat.ha. Merasa masih belum mampu menundukkan lawan. Serangan demi serangan dengan menggunakan ilmu yang sama membawa perbawa yang luar biasa. merasa pusing. Jurus demi jurus sudah berlalu. Sambaran-sambaran kaki yang tinggi juga membuat gerakannya mirip sambaran burung. Tongkatnya berpindah ke tangan kiri dan bergerak melambat tapi tangan kanannya segera memainkan jurus-jurus Pat sin kun ciang. dan penonton makin meminggir ke tepi lapangan. maka Sin Hwa juga menggunakan tongkatnya.. “Ilmu apa itu?” teriak sebagian pengemis..ha. jurus-jurusnya juga tak kalah dasyatnya. Kekuatan sinkang keduanya tampaknya sama. Serang demi serangpun berlangsung dengan serunya.. sehingga dalam dua jurus awal ia terdesak dan terserempet hawa pukulan.. Namun cepat ia juga menyesuaikan diri dengan menggunakan ilmu pukulan yang sama. tak terasa hari sudah berganti.

. Koai Eng Sin kun terdiri dari tiga puluh dua jurus yang kaya kembangan.. Dibandingkan dengan jurus-jurus Pat sin kun ciang. salah satunya sangat mungkin terluka parah dan bahkan jatuh binasa. Sin Hwat tak mau kalah dengan jurus-jurus lawan.. karena kaypang ini memang bukan partai silat yang khusus mengembangkan ilmu-ilmu khusus. Dari kepala keduanya muncul uap putih tanda mereka telah mengerahkan tenaga pada tingkatan tertinggi.Sin ci Lokay terdiam. Hasilnya bisa dipastikan keduanya bakal terluka berat. dan pasti butuh waktu panjang untuk memulihkannya. Gerakan keduanya semakin cepat sehingga kelebatan-kelebatan bayangannya cukup membuat pusing pengemis tingkat dua sekalipun. Tampak gerakan Sin Hwat juga mirip dengan gerakan Sin Tung Lokay.. Tampaknya mereka sudah mulai memasuki tahap akhir. karena jurus-jurus ini mengandung getaran dan sinkang lunak yang langsung menyerang inti kekuatan lawan. Keringat sebesar biji jagungpun mulai bercucuran keluar dari Sin Tung Lokay. Sin Hwat tidak mau kepalang. Posisi ini jadi lebih menguntungkan Sin Hwat karena ia lebih mudah menyesuaikan diri terhadap jurus lawan. memang benar dalam perkumpulan pengemis sabuk hitam tidak ada larangan mempelajari ilmu lain. Tangan kanannya dipentang kedepan.. dan kalah juga. Keadaan Sin Hwat meskipun terlihat masih lebih bugar. sampai ada yang leletkan lidah. tongkat kirinya juga bersiap menangkis serangan susulan.. memang jurus yang baru ini daya hawa pukulannya melemah sehingga tidak terasa sambaran angin keluar dari jurus tersebut. jurus-jurus tingkat tinggi yang digunakan keduanya mampu membuat semua orang disekeliling mereka terlongong-longong. jurus rajawali siluman mematuk lawan. jurus ini akan diikuti dengan pukulan tongkat terakhir dari tangan kiri. ia juga memapaki serangan akhir lawan dengan jurus yang tidak kalah berbahayanya. Posisi . “Blaaarrrr. namun bersifat paguyupan pengemis dari golongan manapun. jika dilanjutkanpun akhirnya ia akan kehabisan tenaga. Maka begeraklah ia melakukan serangan terakhir yang sangat dahsat. Karena seperti sudah habis upaya yang dilakukan Sin Tung Lokay menjadi nekad. namun jangan dikira daya serangnya melemah. Betapa kagetnya Sin Tung Lokay melihat kenyataan lawan masih memiliki jurus simpanan yang tak kalah dasyatnya. Gerakan tangan dan kaki keduanya diikuti dengan gerakan Hang liong tung hoat dengan tangan kiri membuat pertarungan sudah mencapai tingkat akhir. Tubuhnya melompat tinggi menggunakan jurus yang bernama burung merak melabrak awan. karena bila benturan keras terjadi. Tangan kanannya memapaki jurus tangan. Keadaan ini jelas sangat berbahaya.!” Akibatnya sungguh dasyat tubuh keduanya terlontar kebelakang. iapun mulai memainkan ilmu barunya Koai Eng Sin kun (Silat sakti rajawali siluman). dengan pengerahan seluruh daya dan kemampuannya. Sepuluh jurus sudah berlalu. Tetapi. bila pengerahan tenaga tidak seimbang. Beruntung Sin Hwat mempelajari jurus-jurus yang lebih banyak kembangannya. dan keduanya dalam keadaan pengerahan tenaga yang seimbang.. Pertemuan dua jurus dan dua tenaga yang samasama luar biasa menimbulkan bunyi ledakan yang luar biasa. namun bekas goresangoresan tapak delapan jurus sakti lawan menimbulkan luka yang mengeluarkan darah. kakinya berposisi menendang..

hingga Pek Mau Lokay terdorong satu tombak lebih. Namun tetap mereka mendapat hukuman sesuai dengan tingkat kesalahan. telah mampu menyihir semua yang ada menjadi terdiam. Sementara itu tubuh Sin Hwat seperti ditangkap sebuah tenaga yang lunak sehingga terhindar dari bantingan. “Suhu..” desis Pek Mau Lokay dan Sin ci Lokay hampir bersamaan. sebaliknya Sin Tung Lokay yang nekad sudah tidak memikirkan pertahanan tubuhnya.... Karena yang dikejar tak mau berhenti Pek Mau Lokay melancarkan pukulan jarak jauh. Kiranya dialah yang membantu Sin Hwat supaya tidak terbanting ke tanah.. membahas peristiwa yang terjadi saat pertandingan itu. Waktu yang sangat singkat itu tidak memungkinkan kakek tua yang bukan lain Pek Mau lokay menanggapi ucapan murid-muridnya. Tenaga itu pula yang mengarahkan Sin Hwat untuk ditangkap oleh Sin ci Lokay. Karena.! Berhenti !” serunya ketika melihat seseorang telah menyambar tubuh Sin Tung Lokay. Orang itu yang bukan lain Ciam Lun. Tubuhnya roboh terkapar dan terbanting ke tanah. "Wusss. Adapun para anggota pengemis yang menjadi anak buah mereka semuanya kemudian berlutut mohon ampun. Para pengemispun menjadi gempar mendengar nama itu...! hanya itu yang terucap dari Sin ci Lokay dan sutenya.. Pek Mau lokay kemudian membawa Sin Hwat ke salah satu kamar di markas. namun untuk tidak terkena hawa racun.!” Sekonyong-konyong muncul bayangan menangkis pukulan ini. Dan aku makin tak mengerti mengapa mereka juga mencuri kitab enam belas . Dan langsung balik kanan hendak melarikan diri. Setelah Sin Hwat mulai pulih mereka berempat kemudian berunding. Namun gerakan yang hanya sekejab mata itu. Ciam Lun melesat cepat keluar pekarangan. Pak Mau Lokaypun dengan kecepatan tinggi mengejar.. Hanya sesaat saja tubuh Sin Tung Lokay menyentuh tanah. Mereka bertigapun ditahan dihukum sesuai peraturan yang berlaku di kaypang.. Suasana akhirnya kembali damai.desss. Akibatnya dapat diduga ia menderita luka yang jauh lebih dalam.... Chon King Sam Sinkay ingin memanfaatkan kegaduhan untuk melarikan diri namun terlambat. Sementara lawan yang menangkis pukulan itu menggunakan tenaga dorongan untuk melompat ke belakang dan hilang di balik gulita malam. mampu meringkusnya. dari mulutnya mengalir darah segar. Ia setidaknya perlu waktu tiga hari sampai satu minggu untuk memulihkan kondisinya.Sin Hwat masih lebih beruntung karena ia masih siap dengan jurus tangkisan. sosok yang membantu Ciam Lun berjubah hitam betudung dan bertopeng tengkorak.. Pukulan yang dilancarkan bukan pukulan biasa. Karena orang yang memanggul tubuh Sin Tung Lokay tidak mau berhenti... Luka yang dideritanya tidaklah ringan. dan berusaha mengobatinya di sana. sebuah tangan menyambarnya. “Tunggu. “Aku tak menyangka tengkorak hitam berada di balik peristiwa ini... bahkan tenaga tangkisannya sedemikian kuatnya. namun jika terkena.. dengan gesit Sin ci Lokay dan Pek Tung Lokay. pasti ia akan terjatuh. “Tengkorak hitam. Entah kapan datangnya tiba-tiba di tempat itu sudah muncul kakek pengemis yang bertubuh kurus berambut putih yang dibiarkan terurai. Meskipun Ciam Lun berjarak lebih dari empat tombak.

Perjalanan Tiong Gi ke Yi Chang dilakukan dengan perjalanan darat sambil menambah cakrawala pengalaman. kami hanya pernah dengar nama kelompok yang bagai legenda itu?” tanya Sin ci Lokay. padahal kalian ingat khan.” kata orang termuda. yang menjadi pimpinan mereka memulai pembicaraan. jika Pek Mau Lokay sendiripun tidak mengenal mereka. Sehingga tidaklah aneh.” kata pimpinan. “Sialan sungguh sialan.” jawab orang kedua dengan berbisik. Karena sudah lapar maka iapun menuju ke rumah makan. dan menjadi ancaman juga bagi mereka. aku dari dulu tak habis mengerti deh dengan permintaan suhu. beberapa saat setelah ia duduk. memulai perbincangan. terlihat empat orang berpakaian orang persilatan masuk. kita sudah tiga kali hampir menangkap dia!” keluh si pimpinan. Mari kita kembali ikuti perjalanan Tiong Gi.” kata orang kedua. Ia mendapat tiga tugas. Rumah makan itu cukup terkenal rupanya karena ramai didatangi pengunjung. Pada suatu siang tibalah ia di sebuah kota kecil di seberang sungai Yang tse. Singkat cerita akhirnya Sin Hwat diutus untuk membongkar peristiwaperistiwa yang terjadi di kaypang.” kata Pek Mau Lokay dengan suara berat.jurus merak sakti. tapi dia adalah siaucay (sastrawan) paling terkenal di Kang Lam. “Tapi kali ini dia tidak akan lolos dari terkaman kita. dan menyampaikan surat ke Siauw Lim Pay.” kata orang ketiga. tapi herannya kenapa ia selalu dikelilingi oleh pendekar-pendekar yang tangguh. kenapa mesti dihabisi? Orang selemah dia sebenarnya apa yang yang perlu ditakutkan. namun isi pembicaraannya sungguh sangat membuatnya ingin lamalama mendengar. Usia mereka antara empat puluh sampai lima puluh. “Dan kudengar banyak para pendekar persilatan juga pernah berguru padanya. Benar saja. Tapi kini mereka terbuka matanya. Tiong Gi memilih duduk di tepi agak dalam. Ia ada di kota ini. Tubuhnya semuanya tegap dan kekar. Bab 15. nanti sore kita cari dan habisi. “Sam-te kau memang masih kurang pengalaman. nama tengkorak hitam bagaikan dongeng. tadi pagi mata-mata kita sudah berhasil mengintainya. . “Dia memang orang lemah. Tiong Gi menjadi agak kaget ketika mereka menyebut-nyebut peta. Awalnya Tiong Gi tidak begitu tertarik karena ia bisa melihat gaya mereka bukan gaya orang berisi. kalau tidak mana mungkin ia bisa menerjemahkan isi peta suhu. untuk lebih mudah melakukan pengawasan. memang Ouwyang Bun tidak mengenal silat. Bagi sebagian besar kalangan persilatan. menyampaikan surat ke Sun Ciak Kun sahabat Pek Mau Lokay. Orang tertua. membenahi kaypang di Yi Chang. sudah berpuluh hari kita mencari tak juga mampu mencekik betet tua itu. bahwa memang tengkorak hitam benar-benar ada. Ia memang sudah diajari oleh guru barunya bagaimana cara mencuri dengar pembicaraan orang-orang persilatan. karena mereka hampir tidak pernah berinteraksi dengan partai persilatan Tionggoan. “Suheng. Kang Lam Siaucay Ouwyang Bun Kita tinggalkan dulu perjalanan Sin Hwat ke timur. “Suhu siapakan tengkorak hitam itu.

Namun belum sampai Tiong Gi turun tangan tiba-tiba muncul seorang gadis mungil yang masih remaja. Dimana lihat sebaris bebek menyusuri pematang sawah? Terkadang selulup kepalanya mencocoh cacing Dimana kau dengar gemersik daun bambu setengah kering di musim panas? Terkadang gemerisik angin meliukkan batangnya mencumbu air danau Dimana kau nikmati aroma teh hijau bercampur bunga kui hwa? Terkadang sedapnya membuat mabok para pecandu Wahai pelancong dan pencari ketenangan Datanglah ke wisata alam penuh pesona Saat panen daun murbei tiba Di Kang Lam kita berpesta Entah tidak menyadari kalau sedang diindap oleh empat orang atau memang tidak peduli. Wajah gadis itu dari kejauhan terlihat sangat manis. Tiong Gi kemudian menguntit terus kemanapun mereka berempat pergi. mereka tampak sedang mengindap di sebuat taman. ha.. Tiong Gi bersiap-siap.” jawab orang tua yang dipanggil burung betet itu. Tapi begitu melihat pedang terhunus.. Setelah selesai memetik mulailah ia membacakan sebuah puisi yang indah sekali. pakaiannya merah menyala cocok dengan kulitnya yang .” Sebilah pedangpun sudah ditangannya. orangpun bergegas meninggalkan taman. usianya dia taksir masih lebih muda setahun dua tahun darinya. “Betet tua! Rupanya di sini kau sembunyi. dan benar saja.” kata orang tertua.ha…ha kau mengatakan sesuatu yang tak satupun mahkluk mengetahui rahasianya. Sungguh indah sekali nada-nada petikannya. Betapa herannya dia melihat orang yang dikepung itu tampak tenang-tenang saja. Di tengah-tengah taman yang banyak ditumbuhi bunga seruni terdapat seseorang sedang duduk membelakangi mereka memainkan sebuah yang-kim. adakah sesuatu lebih dekat darimu selaksa kura-kura dipelihara kau datang tak kenal tempat tak tahu waktu seribu bentengpun tak kuasa membendungmu Pimpinan empat orang yang berpakaian ringkas itu sudah kehilangan kesabaran.. hayo sekarang saatnya kau berdoa sebelum kepalamu berpisah dari tubuhmu.”pikirnya. sebutir batu sudah digenggamnya. Di taman ini sebenarnya ada beberapa orang yang lalu lalang.ha. Dan “siiingg….. Pada suatu sore.“Peta apakah itu? Aku harus kuntiti mereka. Orang tua itu tetap bernyanyi meskipun sudah dikepung empat orang.ha. “Kau berkata kepada siapakah tuan? Apakah kepadaku? Ha. Kemudian iapun kembali berpuisi “Kematian….

untuk suatu keperluan. kalau ada orangorang yang mengandalkan senjata untuk menindas yang lemah memang hal yang patut dicela. Ouwyang Bun tidaklah dikenal luas jika tidak punya banyak keahlian. Akhirnya Tiong Gi mengikuti orang itu. Gadis itu kemudian menghadapi keempat orang bertampang garang. ada orang-orang dari selatan lebih tergiur berebut warisan Lau Cin Shan yang mendatangi Kang Lam. “Hmmm. “Ooo.ha. Ingin rasanya Tiong Gi mendekati dan membantunya. catatan yang ditulis lebih dari dua ratus tahun berselang. Yang membuat Tiong Gi tidak habis pikir adalah karena orang tua yang ditolong itu. apakah kalau menolong selalu ingin mendapat imbalan terima kasih?” katanya tanpa memalingkan wajah.. “Pak tua. Yang lebih mengherankan lagi. karena ia bergelar Kang Lam Siaucay Ouwyang Bun... korup. sebagai orang sekolahan ia juga belajar ilmu matematika. Seperti yang pernah disinggung gurunya. Terlibatlah mereka dalam suatu perselisihan dan pertempuran.ha. menindas. Tangan kanannya memegang tongkat yang digerakkan ke kanan dan ke kiri di depan kakinya. penindasan dan perlawanan.. dan yang membuat ia dikejar-kejar oleh orang persilatan adalah kemampuannya membaca tulisan mulai jaman dinasti Cin sampai Tang. malah kemudian ngeloyor saja sambil mengomel. Keempatnya telah terkapar mendapat tendangan atau pukulan. tapi seperti menginterograsi mereka. kau benar pak tua. ilmu sejarah bahkan sedikit bisa ilmu pengobatan hasil belajar dari si guci obat.. Karena keahliannya inilah ia lulus ujian jian-shi yang mendapat jabatan penting di kota Hang Chou.putih halus. Keperluan menemui sastrawan tua inilah yang menjadi penyebabnya. Pertarungan itu berlangsung cukup seru namun keempat orang ini tampaknya bukan lawan si nona berbaju merah itu. tapi jika itu untuk melawan keangkara murkaan bukankah sudah pada tempatnya? Dan kenapa engkau tidak mengucapkan terima kasih pada penolongmu?” “Ha.nona itu. Tapi perbuatannya dicoba untuk ditahan. bukankah batasnya tipis sekali. sementara dari lirikan mata ia masih melihat si nona berurusan dengan empat orang lawannya. karena setelah belasan jurus satu per satu kemudian terdengar suara mengaduh. nona itu tak membutuhkan terima kasihmu!” Siapakah orang tua itu? Orang Kang Lam pasti mengenalnya.rupanya pak tua ini buta” pikir Tiong Gi baru menyadari.. dan .. “Ah orang-orang persilatan selalu saja mengandalkan ketajaman pedangnya!” Iseng-iseng Tiong Gi mendekati orang tua yang berpakaian sastrawan namun sudah kumal untuk menegurnya. Tidak sembarang sastrawan bisa melakukannya dalam jumlah sebanyak yang diketahui Ouwyang Bun. si nona setelah meng-KO keempat orang berwajah garang itu bukannya mengusir. pelit. tepatnya memandunya. anak muda? Lagipula. Sayang saat menjabat ia bersikap buruk.

tampaknya mereka orang-orang Kong Thong Pay. terlebih bagi pelahap tulisan kuno. namun kemudian meninggalkan semua itu. gaya pendeta To. “Kenapa mereka mengejarmu. Orang-orang awam kemudian sulit sekali menentukan sikap melihat keadaan Ouwyang Bun yang sekarang. hayo serahkan sastrawan itu pada kami. aku tahu sedang berhadapan dengan gerombolan macam apa?” . Dulu pernah jadi pejabat yang kaya raya. siapapun adanya dirimu.. kau boleh panggil aku Ouwyang Bun. Orang yang pertama yang menjadi juru bicara berusia sekitar empat puluh lima tahun. Dan jika dilihat dari tanda di dadanya. aku sudah bantu mereka menterjemahkan suatu puisi kuno.” “Benarkah?” Guru Sun pernah menceritakan tentang sastrawan Kang Lam yang bertabiat aneh. sebuah gelar kosong. mereka pernah memperebutkan lukisan yang kemudian tak sengaja terlempar ke arahnya. bolehkan aku mengenal namamu. Bentuk tubuh mereka ada yang kurus ada yang gemuk. Mereka kemudian terlibat perselisihan dengan Tiong Gi karena mengincar sastrawan she Ouwyang. “Anak muda. Karenanya banyak yang tidak menyukainya. karena tiba-tiba di depannya sudah berdiri lima orang. losiaucay?” “Kenapa? Haiyaa. Setelah turun sebagai pejabat mulailah dia menyesali perbuatannya. dan lebih memilih hidup menggelandang. dan secara ekstrem kemudian membagi-bagikan hampir seluruh hartanya kepada kaum papa.. wajahnya juga tidak semua garang. meskipun ia ingin banyak mengungkap hal yan terjadi. kenapa mereka masih mengejar-kejar aku. keahlian Ouwyang Bun baik dalam sastra maupun ilmu yang lain. waktu yang sama ketika ia menjadi pejabat.mereka memang rakus. Akibatnya dia mudah sekali digeser oleh lawan-lawannya. apakah merasa kasihan atau bersukur. aku tidak kenal siapa kalian tapi dari gerak-gerik kalian saja. kami hanya butuh keterangannya sebentar saja!” “Ngo-wi totiang. sangat diharapkan. huh orang persilatan memang selalu mengandalkan pedang!” Tiong Gi sudah tidak banyak tanya lagi.senang memperkaya diri. “Kenalkan nama cayhe Tiong Gi. Lima orang ini berbeda dengan orang yang sebelumnya. Namun semuanya memakai gaya pakaian yang sama.. Tapi bagai kaum pesilat. Tiong Gi teringat. Sudah lebih dari sembilan tahun ia meninggalkan semuanya. lopeh?” “Aku dikenal orang dengan Kang Lam Siaucay. Ia sendiri kemudian bersumpah untuk hidup menggelandang selama sembilan tahunan.

Go-te hadapi dia!” Kiranya memang banyak pihak-pihak yang mengejar sastrawan tua itu. pendekar muda didikan tokoh-tokoh ternama yang namanya bahkan bagaikan legenda. Namun begitupun pundak kedua tosu itu menjadi retak. Karena perang mulut tidak dapat diselesaikan. Orang yang melihat sorot mata seperti itu tentu akan menciut hatinya. Perlahan-lahan ditambahnya tenaga serangannya. ia melayani mereka hingga lebih dari tiga puluh jurus. tosu-tosu tingkat dua dari Kong Thong Pay harus menghadapi seorang bocah yang baru berumur belasan tahun. tapi di tangan sastrawan macam Ouwyang Bun. sambil bersila. yang kau pakai?” kata salah seorang yang masih jatuh terduduk. Tiong Gi menghadapi mereka dengan tenang. barisan yang teratur menjadi kocar-kacir karena serangan-serangan dengan pukulan Kui Yang Sin Ciang bisa menyerang siapa saja. ia sebenarnya bisa merobohkan mereka semuanya. Dengan tenaga yang sudah bisa dikuasai dengan terukur ia mencoba melakukan serangan-serangan. Bahkan kalau dia mau dalam sepuluh jurus saja. Pikirannya tersentak mendengar bunyi nada-nada yang menyejukkan hati itu. Setelah melihat keempatnya terkapar Tiong Gi merasa menyesal melihat hasil perbuatannya. bocah kemaren sore berani banyak mulut pada kami. Maka dengan memberi aba-aba ia memerintahkan sute-sutenya untuk mengeroyok pemuda itu. Akibatnya sungguh dasyat. sekarang apakah masih ada yang ingin totiang sampaikan?” “Ilmu apa itu tadi. Gerakangerakannya dilakukan dengan teratur sehingga gelombang serangan lawan semua bisa dipatahkan. Mukanya kemudian mengeras. Tanpa ia sadari matanya menjadi berkilat-kilat. Tapi lawan yang dihadapi orang kelima yang berbadan gemuk itu adalah Tiong Gi. Sungguh pemandangan yang memalukan. kalau saja Tiong Gi tidak mendengar petikan yangkim Ouwyang Bun. tosutosu kenamaan dari Kong Thong Pay. Akibatnya dua tosu terjerembab karena kakinya patah-patah. dengan nada dingin ia kemudian berujar: “Nah totiang. . maka kemudian terjadi pertarungan otot kedua belah pihak. Hanya dalam dalam 5 jurus saja ia sudah rubuh. Hebat sekali pengaruh dari petikan ini.“Kurang ajar. Meskipun pemetiknya bukannya orang persilatan yang memiliki tenaga khikang. Tiong Gi akhirnya sengaja memelencengkan pukulannya. Tiong merasa sangat gembira sekali melihat hasil pukulannya. tapi karena ia ingin menambah pengalaman bertanding. Pimpinannya sampai terbelalak tak menyangka anak buahnya akan dapat dipukul roboh dengan sedemikian mudahnya. Selain itu juga ia ingin mempraktikkan ilmu yang baru saja dipelajarinya dari si guci obat Ciak Kun. petikan tangannya mampu menggetarkan dawaidawai yangkim jauh lebih nyaring dan menyentuh hati. Hampir saja dua tosu sisanya terkena sambaran pukulan yang lebih berat. bahkan orang yang sudah berlindung di belakang kawannya juga bisa terkena getaran yang berisi kekuatan yang mampu merobohkan.

Tiong Gi juga akhirnya memutuskan untuk tinggal di situ. jadi hanya ini yang bisa kuhidangkan. lo-siaucay.bukankah kau membutuhkannya? Jangan salah sangka aku laki-laki normal!” Tiong Gi sebenarnya masih tidak paham maksud kata-kata terakhir dari sastrawan itu. yang sangat terkenal di di tempat tinggalku di Kang Lam..” “Haiyaa. Ouwyang Bun ternyata tinggal di penginapan yang sangat bagus di kota itu. jadi selamat tinggal!” Kelima tosu itu melihat kelebatan Tiong Gi membopong Ouwyang Bun dengan cepat. “Hei.. “Pelajaran yang tak sempurna. dalam hati mereka menjadi kagum sekali. ilmu langka yang jarang sekali muncul di dunia persilatan. pelajaran ilmu silat yang dipelajari masih belum lengkap.ha. Dan sejak saat itu didunia persilatan orang ramai membicarakan munculnya seorang pendekar muda yang memiliki ilmu pukulan Kui Yang Sin Ciang. aku sudah lama tak pernah jumpa Yung Ci di dunia persilatan..jangan katakan padaku engkau pernah ke gunung salju besar!” “Memang belum. tinggallah sekamar denganku!” Tiong Gi memandang heran. Tiong Gi lantas menceritakan sedikit pengalamannya. anak muda?” “Aku pernah belajar pada Yung Ci Tianglo!” “Benarkah? Haiya. “Anak muda kalau kau tidak keberatan. Tapi dia selalu ketawa saja. apa saja yang kau pelajari dari gurumu?” Mereka kemudian memasuki kamar. namun dengan tersenyum ia membalas.sungguh sulit dipercaya. aku sudah berkali-kali katakan ke Yung Ci. siapakah gurumu. dan menghidangkan untuk mereka berdua. Anehnya sastrawan itu malah menawari Tiong Gi. karena guru mengajakku ke Gongga san. kamu memang anak terpelajar.ha. “Terima kasih banyak atas tawaran. dikiranya kalau seorang sastrawan tidak tahu ilmu . Tapi apakah aku tidak mengganggumu?” “Ha.. silahkan dicicipi teh hijau campur bunga kui hwa. Ouwyang Bun lantas meramu teh. “Maaf aku orang tua tidak suka minum arak. Berbeda dengan penampilannya yang terlihat kumal...“Ketuilah aku baru saja menggunakan Kui Yang Sin Ciang! Maaf totiang sebenarnya tidak ada permusuhan pribadi antara aku dan Kong Thong Pay..

” “Hidup mati bukan di tangan mereka. benar memang begitu. apakah warisan Lau Cin Shan yang disampaikan dengan lengkap?” “ Setahu cayhe ilmu melukis dan membuat keramik.” “Hah..ha. kau harus berhati-hati menghadapinya. Eh tahukah kamu. ada satu pertanyaan. dasar Ciak Kun cianpwe tak pernah mau kalau sama suhuku.. Justru karena itu aku tahu ilmu silat yang diwariskan ke keturunannya tidak lengkap. pada saat itu pimpinan ksatria salju yaitu ksatria she Toan.Tapi mereka adalah orang-orang jahat. meninggal. dan bisa membaca isinya. Dan mereka tidak puas mengambil mataku kini mereka mengincar nyawaku. kenapa mereka memusuhi suhu?” “Dua ratus tahun yang silam. tepatnya tahun 795.. apakah ada catatan lengkapnya dan dimana?” “Di simpan di suatu tempat!” “Siapa yang tahu tempat penyimpanannya itu?” “Yang tahu yang punya petanya.. Menurut kepercayaan mereka dendam ini baru akan berakhir pada keturunan ke tujuh dari kedua belah pihak.” “Kalau begitu. Pertarungan dua kubu ini kemudian berulang 100 tahun berikutnya. kenapa mesti takut?” “Lo-siaucay. mereka membutakan mataku. mereka mengejar-ngejar aku. Dan mereka akan bertemu kembali tahun 995. mulai dari tahun 885 dan baru berakhir tahun 895 antara cucu iblis api yang bergelar iblis tengkorak emas melawan ksatria salju. padahal aku juga mendapatkan ilmu sejarah yang luar biasa lengkapnya.. benarkah?” “Ha.” “Jadi lo-siaucay bisa membaca isi peta? Dan gara-gara itu lo-siaucay dikejar-kejar oleh mereka?” “Ya.dua tahun lagi!” . Aku sudah berbaik hati menterjemahkan sebuah puisi dengan bayaran yang belum tunai. terjadi pertarungan hidup mati antara Lau Cin Shan dan iblis api. Tapi kelihatannya lo-siaucay tidak takut ke mereka. Gara-gara aku sebarkan bahwa Boan ciangkum dapat peta.silat. Tapi gara-gara aku bocorkan informasi itu. kenalkan siaucay pada orang-orang yang bertopeng tengkorak. Tahun 895 adalah pertarungan terakhir mereka.. hanya dia yang mengira mendapatkan ilmu yang lengkap.ha.” “Ahhh sungguh keterlaluan..

melalui catatan yang ditinggalkan di tengkorak emas. Ia merasa sulit membayangkan kesaktian iblis itu. kau harus berhati-hati. Ouwyang Bun kemudian memegang lengan itu. semangatmu tak kalah dari mereka. Tangannya mengepal..aku harus bantu. dan sebuah anak panah menancap di tiang.. mereka harus bangga memiliki murid sepertimu..” Belum selesai mereka berbicara. tetapi ilmu itu tentang penguasaan tenaga inti api dan tenaga inti tanah. Ketika ditanya oleh sastrawan tua. Tiong Gi. Dulu ia pernah dikalahkan oleh keturunan ksatria salju She Kim. Aku baru tahu kalau yang kuterjemahkan adalah ilmu silat setelah aku bertemu berdiskusi dengan Sun Ciak Kun.” Tiong Gi merasa tercekat mendengar cerita itu. sebagai murid Yung Ci. tiba-tiba terdengar suara desingan. tetapi aku seperti punya keyakinan kaulah pewaris ilmu-ilmu Lau Cin Shan. Haiyaa. Jika dua ilmu tingkat atas itu bisa mereka kuasai dan digabungkan.. yang berpuluh tahun menyembunyikan diri. benar khan?” “Iya.. Dan kini ia sedang memperdalam penguasaan ilmu-ilmu si iblis tengkorak emas... andaipun kau bukan keluarga mereka. Tiong Gi menjadi bingung menentukan sikap. Selama mengembara aku pernah disekap di perkampungan orang-orang tengkorak hitam. sedangkan menghadapi anak buahnya yang tidak bertopeng ia merasa kerepotan.“Benar! Dan itu akan menjadi pertemuan penentuan kubu siapa yang akan menang siapa yang akan hancur. seperti Lau Cin Shan. putra si iblis tengkorak emas.. Konon guru besar mereka. memang sengaja memperdalam kepandaiannya.. aku harus bantu. aku punya rahasia yang tak pernah kusampaikan kepada orang lain. sayang aku sudah tidak ingat lagi isinya.!” bisik Tiong Gi dengan penuh penghayatan. atau nona kecilmu hanya akan tinggal nama.. Tapi mana si sastrawan tua itu bisa .. “Ahh kasihan suhu. malam ini juga!. lo-siaucay. anak panah tersebut ternyata membawa selembar kertas bertuliskan: Kalau ingin si baju merah selamat! Serahkan sastrawan betet tua she Ouwyang pada kami di taman bunga seruni. ia coba berbohong bahwa yang berdesing bukan panah melainkan ada ranting dibawa angin. kecuali sedikit saja. Entah berasal dari mana.meskipun nyawa taruhannya. Mereka memaksaku menterjemahkannya. “Tiong Gi. orang persilatan memang selalu hidup dalam kekerasan mengandalkan pedang.” “Eh. Karena itu ia bersumpah untuk tidak akan muncul lagi sampai pertemuan yang terakhir dua tahun lagi. kiamatlah dunia persilatan jika inkarnasi Lau Cin Shan tidak muncul. Hampir-hampir saja ia tidak percaya..” “Tapi tidak semua bersikap seperti itu. yang selengkapnya.

Aku sebenarnya memesan mereka untuk besok pagi. setelah kepastian ia menitipkannya ke tempat yang cukup aman. sehingga bisa menggantikan indera penglihatannya. si guci obat. bahkan aku sendiri yang besok pagi-pagi akan mengantarkannya.katakan saja terus terang anak muda. Ban kauwsu (guru silat she Ban)!” “Haiyaa.tidak perlu. tolong kalian minta saja ke guruku. yang bertama sebuah buku kecil. gerombolan orangorang garang itu menangkap nono baju merah. keadaan sekarang agak genting. “Aku boleh kau tinggal di sini atau kau titipkan ke kenalanku.gimana baiknya yaa.” potong Ouwyang Bun. Tenang rasanya Tiong Gi meninggalkan sastrawan tua itu. “Atau kalau perlu sekalian saja kita ke Hui Liong Piauwkiok (perusahaan pengantaran barang naga terbang). “Keduanya perlu kita hubungi. untuk membantu penyamaran. Tiong Gi bahkan menunjukkan tanda guci kemala pemberian gurunya. jika biayanya masih kurang.. kemampuan pendengarannya sudah sedemikian terlatih..” kata pimpinan piauwkiok yang berjuluk Hui Liong Piauwsu. .kalau begitu cepat kau selamatkan nono itu. “Ah Sun locianpwe?Tidak perlu. dan mereka meminta agar lo-siaucay menyerah!” “Haiyaa. Iapun berpamitan. mari kita segera bergerak!” Maka malam itu juga. dan diterima dengan baik.” gumam Tiong Gi sambil garuk-garuk kepala.. baik mungkin sebaiknya kita kesana.. benda apa itu yang berdesing?” “Ah lo-siaucay. hmm.” kata Tiong Gi. kenapa aku tidak kepikiran menitipkan paman ke tempat lain. biarlah malam ini dia tinggal bersama kami. jangan kau pikirkan aku anak muda!” “Aku memikirkan keselamatanmu lopeh. Sun Ciak Kun!” kata Tiong Gi.. yang kedua selembar kertas agak kumal. Setelah menjempuk Ban kauwsu mereka langsung menuju ke Hui Liong Piauwkiok... Ouwyang Bun mengantarkannya sampai ke halaman depan. tolong jaga baik-baik lo-siaucay ini. “Paman. “Haiyaa. dengan bergegas mereka menuju ke Hui Liong Piauwkiok (perusahaan pengantaran barang naga terbang).dibohongi. bahkan kemudian ia merogoh kantung baju dan mengeluarkan dua benda. biaya yang sudah kami sepakati dengan siaucay sudah cukup.. tidak baik berangkat malam-malam. sengaja Tiong Gi memakai penutup kepala.

Ini adalah buku kamus bahasa Tiongkok kuno. Si nona ternyata disekap di gedung Kam tihu. dan lantas meninggalkan gedung Piauwkiok menuju ke taman yang dijanjikan. namun sayang belum sempat ia beranjak. Tak lama . kemudian ketika ia melihat ada dua prajurit jaga melintas. Setelah Tiong Gi memaksa mereka dengan totokan-totokan yang mengarah pada saraf rasa sakit. “Mana si betet tua?” balas pimpinan mereka bertiga. karena ternyata petunjuk yang diberikan justru mengarah ke sebuah ruangan yang cukup besar. Ketiganya tak menyangka sama sekali anak muda yang dihadapi sehebat itu. dalam sakunya. Malam hari di musim semi masih cukup dingin bagi orang awam. Keduanya merasa kecewa tidak melihat sandera masing-masing. Tiong Gi telah behadap-hadapan dengan tiga orang yang mengurung nya. kenama gedung kantor kabupaten (tikoan) bisa dijadikan tempat persembunyaian penjahat-penjahat seperti itu. Secepat kilat bayangan itu menyambar dan mengirimkan beberapa totokan. dan selembar kertas ini berisi ujar-ujar bagi orang buta. Dua prajurit itupun menjadi kaku. yang biasanya dipakai sebagai ruang latihan. tolong jaga baik-baik semoga bisa memberi manfaat buat kamu dan buat orang banyak. karena ketiganya masih tingkat rendahan. Tiong Gi kemudian mengikuti petunjuk yang diberikan prajurit itu. Selamat jalan sahabat mudaku. di taman yang lumayan lapang di pinggiran kota. Pertarungan tidak terjadi lama. salah satu benda inilah yang banyak menjadi incaran kaum persilatan. namun ia keliru menyangka mereka tidak mempersiapkan hal-hal seperti ini. Mereka kemudian terlibat perselisihan dengan Tiong Gi dan kemudian terjadi pertarungan. Dibawah ancaman Tiong Gi. ingatlah pesanku Tiong Gi. sebentuk watak yang aneh. yang ada dihatimu. selamat berjumpa lagi ksatria!” Tiong Gi memasukkan dua catatan penting itu. Namun sesosok bayangan tampak berkelabat cepat menuju ke gedung tikoan.” ! kata Tiong Gi memulai pembicaraan. Ketiganya berumuran empatpuluhan berpakaian ala nelayan. Sejenak ia terlihat mengawasi gedung itu. “Celaka mereka menipuku!” pikir Tiong Gi. Di kedaipun pintu-pintu dan jendela sudah ditutup rapat. merekapun bernyanyi. Semuanya kuberikan padamu. hanya dirimu yang tahu. barulah mereka mengaku. “Mana nona itu. selain rahasia tentang puisi pada lukisan yang ditemukan perwira she Boan. jadilah orang yang lebih sabar. Tiong Gi merasa heran. tiba-tiba disekelilingnya sudah ada lebih dari 25 orang mengepung ruangan tersebut. Setelah beridap-indap disekitar wuwungan bayangan itu kemudian menyelidiki keadaan gedung. semua dalam posisi siaga.“Tiong Gi.Tiong Gi kemudian memaksa mereka menunjukkan tempat penyekapan si nona. Meskipun aku tidak bisa melihat tapi aku bisa merasakan ada segumpal awan hitam. Di bawah temeraman cahaya sepotong rembulan.

Namun jangan dikira mereka tidak berbahaya.” oceh orang yang bertubuh tinggi itu. gerakan bersilatnya lebih lambat namun tangan mereka semuanya berubah keputihan penuh dengan hawa racun. satunya lagi anjing jantan yang bego. semua bersenjata dengan jenis senjata yang berbeda-beda. yang bertampang prajurit. “Lopeh. Sungguh seru sekali pertandingan kedua ini. yang satunya kucing muda yang binal.ha. Can Seng langsung membentak anak buahnya untuk mundur dan digantikan dengan barisan kedua. “Ooo. kalau kau mau membebaskannya.. sungguh pemberani hua ha ha. tetapi kedatanganku adalah untuk membebaskan nona baju merah itu. Tiong Gi merasakan sambaran-sambaran hawa berbau amis. Serangan kesepuluh orang ini tidak boleh dianggap remeh. Merasakan tekanan dari pihak musuh Tiong Gi ikut mengubah cara bersilat. Wajahnya garang. Barisan ini tidak boleh diremehkan karena bahkan Can Seng sendiri kalah oleh barisan ini. tangannya berkelabat cepat ke arah lawan-lawannya. Kepungannya merenggang. Tiong Gi berkelebat-kelebat di antara kepungan tiga lawan yang melancarkan pukulan-pukulan beracun. Mereka adalah murid-murid binaan Can Seng. Usianya sudah lebih dari lima puluh tahun. Mulailah ia menggunakan jurus- . dalam dua kali serangan balik sudah dua orang rebah dengan tulang retak. bahkan pukulan tangan mereka jauh lebih berbahaya dibandingkan pedang. Namun yang dihadapi adalah remaja gagah murid locianpwe kenamaan.. tentu aku akan sangat berterima kasih!” kata Tiong Gi tenang... habisi pemuda itu hidup atau mati!” Kelompok yang disebut pasukan pertama berjumlah sepuluh orang.itu rupanya yang kau kehendaki anak muda.. Berbeda dengan barisan pertama barisan kedua ini tidak bersenjata..ha. Beberapa jurus berlalu namun posisi seakan tidak berubah. tak satupun senjata mampu menyentuhnya.. “Ha.. Berbeda dengan rombongan yang mendatangi Ouwyang Bun pada sore. Orang bertubuh tinggi hitam yang bernama Can Seng itupun dibuat kagum atas ketabuahan anak muda ini. Orang yang pertama.ha. Sehingga sudah sepuluh jurus berlalu. salah seorang diantaranya langsung ketawa. Tiong Gi berhati-hati sekali menghadapi ketiga lawannya yang cukup berat ini..kemudian muncullah tiga orang dan langsung memasuki ruangan. bertubuh tinggi besar berkulit gelap.pasukan pertama maju. Menghadpi tekanan yang bertubi-tubi dari lawan ia memapaki dengan jurus-jurus dari pukulan badai angin salju.. bagai gelombang samudera menghantam pantai. namun penampilannya lebih tenang dari barisan pertama.ha.. Barisan kedua berisi tiga orang yang terdiri dari sute Can Seng sendiri. Melihat gelagat yang merugikan. Tiba-tiba lawannya mengubah cara bersilat. menandakan jenis pukulan yang sangat berbahaya. rombongan ini adalah anggota Tok Nan-hai Pang... membawa hawa yang dingin luar biasa.. sungguh bagus sekali perbuatanmu. minta pembebasana sandera tanpa tebusan. Bahkan perlahan tapi pasti pukulan demi pukulan yang dilancarkan Tiong Gi mampu membuat barisan menjadi kocar-kacir. ha. Sebagai murid Can Seng mereka terlatih untuk melakukan pengeroyokan... maafkan kelncanganku.

bahkan tidak mengeluarkan angin sambaran. Oleh karenanya Tiong Gi tidak roboh oleh pukulan lawan. Dua dari tiga lawannya oleng. Menyadari dirinya jatuh Tiong Gi mengerahkan ginkangnya.. Akibatnya pukulan lawan mengenai tubuh Tiong Gi dan tiba-tiba ia merasa kakinya tidak mendapat pijakan. Tubuhnya serasa gatal. Akibatnya seorang pengeroyoknya terlontar ke belakang menghantam salah satu anggota Tok Nan-hai Pang.. Namun dilain pihak pukulan penghadang ke arah dada Tiong Gipun tak sanggup ditangkisnya. Dengan gerakan kilat dilancarkanlah pukulan ke salah satu lawan.. Kiranya ia masuk ke dalam sebuah jebakan.. “Hiaatttt.bluarrr. Tiong Gi mengerahkan lebih dari tiga perempat tenaganya. Gerakan silatnya menjadi tidak teratur. yang bersifat “Yang” sehingga mampu membendung serangan pukulan lawan yang bersifat “im”. Dari kumpulan ini maju lima orang yang bersama-sama dan dua orang lawan Tiong Gi yang masih tersisa pelan-pelan mendesak Tiong Gi ke arah suatu sudut. Begitu Tiong Gi masuk. Tiong Gi biarpun lihai.. Kepungan lawan berubah. ia lebih banyak mundur untuk mencari saat yang tepat guna melancarkan kembali pukulan Kiu Yang Sin Ciang. namun kurang pengalaman.... Pukulan yang mengandung getaran yang sangat hebat. . Tapi mereka tidak tahu kehebatan Kiu Yang Sin Ciang ini yang bisa menembus hadangan lawan..... “Posisi jaring!” tiba-tiba Can Seng memberi komando ke anak buahnya. Pukulan-pukulan yang tak terasa sambarannya mulai dirasakan pihak pengepung. Untungnya Tiong Gi menggunakan pukulan Kiu Yang Sin Ciang. Posisi itu baru diperoleh saat Tiong Gi sudah makin terdesak ke sudut ruangan. tetapi karena keadaannya sudah cukup payah ia tidak bisa banyak berkutik. Ia mengabaikan pertahanan. Gerakan tangannya juga lebih lambat. meskipun ia masih sempat mengegos ke samping sehingga yang terkena pukulan adalah dada bagian tepi. Tiong Gi tidak tahu maksudnya. Gerakannya menjadi lebih menggiriskan.. dihadang lawan yang lain.jurus Kiu Yang Sin Ciang. Pundaknya terasa perih dan gatal.. Lawan yang menghadang Tiong Gi juga ikut membendung serangannya... maka tutup luarpun tertutup kembali... meskipun ia merasa keracunan. Namun kali ini Can Seng seperti sudah tahu maksud Tiong Gi sehingga buru-buru ia mendorong kawannya ke samping. “Celaka. mereka seperti gerakan prajurit saja berpindah mengelompok dalam satu sisi. Tapi jangan dikira jurus ini tidak berbahaya. sedangkan perisai besipun mampu ditembusnya. Pemuda ini terpengaruh oleh nafsu marah dan terus mengamuk seperti harimau terluka.! Pukulan Tiong Gi yang ditujukan pada salah satu lawannya. Untunglah dasar jebakan itu terisi jerami yang tidak keras. dan memuntahkan darah segar. kalau begini terus aku bisa keracunan!” pikir Tiong Gi. Pada satu kesempatan ia nekad melontarkan subuah pukulan ke arah lawan dengan kekuatan penuh..dessss. yang ikut roboh. Sekonyong-konyong mata Tiong Gi mengeluarkan cahaya berkilat yang aneh. namun dilain pihak Tiong Gi juga dua kali terserempet pukulan lawan. dan tubuhnya meluncur ka bawah.

berilah aku tangguh dua atau tiga hari. Ada tiga orang yang mengunjungi kamar tahanan itu dan Can Seng sendiri yang memimpin. Namun kali ini sekujur tubuhnya terasa nyeri dan gatal. Sungguh guci yang luar biasa. aku tidak peduli. Ia kemudian bersamadi memulihkan kesehatannya. suatu ketika pendekar bukit merak menyerahkan guci itu ke sahabatnya yaitu pendekar Siauw Lim. sampai perjuangan kita berhasil!” “Termasuk perintah untuk memusuhi Ouwyang siaucay?” “Semua perjuangan membutuhkan pengorbanan anak muda!” “Lopeh. tentu saja kau tidak ingin mendapatkan jawaban yang tergesa-gesa dariku bukan?. tapi mumpung kamu masih muda. dan oleh pendekar Siauw Lim guci itu diberikan ke si guci obat. Setelah meminum air dari guci itu tubuh Tiong Gi rasanya lebih nyaman. Kim Bu Shin dan kemudian didapatkan oleh Ciu Sian Koai Lojin (Orang tua aneh dewa arak). “Apa yang harus kulakukan kalau aku bergabung?” “Tentu saja kau harus ikuti semua perintah kami. Semua pemegang guci itu dengan sangat sabar meneliti gerangan apakah rahasia yang terdapat pada guci kemala itu? Dan selama lebih dari seratus tahun hanya rahasia kemampuan pengobatannya saja yang terbongkar. aku belum bisa berpikir jernih. dan memang guci ini memiliki riwayat yang sangat menarik. Ia punya keyakinan jika pihak lawan tidak membunuhnya. Dengan alasan yang panjang lebar yang tidak dijelaskan dalam cerita ini. pertimbangkan tawaran kami. Dari guci ini ia kemudian meminum air yang berkhasiat menawarkan segala macam racun. pagi harinya pihak musuh mendatangi kamar tahanan Tiong Gi. berarti nyawanya masih dibutuhkan. Untunglah ia membawa guci kemala pemberian gurunya. berusaha untuk mengulur waktu dengan bertanya. Guci ini dulu pernah menjadi rebutan kalangan persilatan karena adanya isu yang menyebutkan ada rahasia tertentu dalam guci. bergabunglah dengan kami. kelihaianmu sungguh mengagumkan aku. entah siapa dirimu dan dari kalangan mana. kelak kalau perjuangan kita berhasil kaupun pasti akan menjadi kongcu yang dihormati. aku masih kesakitan. Ia kemudian teringat peristiwa di kuil ketika ia tertawan oleh kelompok Tiat-sim hengkang. Mereka yang berebut termasuk iblis tengkorak emas. Belakangan Ciu Sian Koai Lojin mengambil dua murid yaitu Pek Mau Lokay dan pendekar bukit merak. hidup bergelimang kesenangan??” Tiong Gi yang sebenarnya cukup cerdas. rahasia yang lainnya masih gelap. memiliki banyak kekasih. Goan Kin Taisu.” .Kamar tahanan itu ukurannya hanya dua kali tiga meter. “Anak muda. Benar saja. Menjelang wafat ia kemudian mewariskan guci itu ke pendekar bukit merak.

“Baiklah anak muda. tapi Can Seng tidak gubris. “Ah andaikan ada pengemis tua berlengan tunggal. Ia awalnya menduga ini berasal dari racun. Sebenarnya usia Can Seng saat ini sudah lebih dari lima puluh tahun.Dua orang disamping Can Seng sebenarnya mengomel panjang pendek. tiba-tiba ia merasa seperti anak muda lagi.sepertinya ini adalah deretan kamar penjara bawah tanah. namun kalau nafsu sudah memenuhi isi kepala. Kam tihupun tertarik. Namun dasar pertimbangannya agak berbeda. Sebenarnya jabatan kepala daerah meskipun hanya tingkat kabupaten adalah jabatan yang cukup basah. namun ada rasa aneh di tubuhnya karena ia merasa ada hawa liar yang bergerak-gerak diluar kendalinya. mana ada puasnya untuk mereguk kesenangan dunia. Heii. Dalam samadi ia dapat mendengar ada suara lain di kamar sebelah kirinya. Hal yang sama ia lakukan juga terhadap nona baju merah. Kam tihu sebenarnya adalah bekas sahabat Boan ciangkum. hawa yang ia yakini bersifat “im”. Karena itulah ia yakin pemuda itupun akan mau bekerja sama. namun begitu bertemu dengan nona baju merah itu. dan diiyakan saja olehnya. Mungkinkah nona baju merah itu juga ditawan di deretan kamar itu? Bagaimanakah aku bisa bebas dari kerangkeng ini?” Tiong Gi berpikir tajam. tentu saja aku tidak merasa kesepian. ia sudah berhasil menarik lima tenaga pendukung untuk bergabung dengan mereka. Pada pagi hari seperti biasa. Akhirnya ia memutuskan untuk mengubahnya dengan mencoba mengikuti cara mengendalikan seperti yang diajarkan oleh Ciak Kun suhu. Pada hari barikutnya sebenarnya ia ingin membaca catatan dari Ouwyang siaucay.. Tiong Gi berusaha mengumpulkan kembali tenaganya. begitu ia melihat nona itu yang ditangkap oleh tiga orang yang mengeroyok Tiong Gi. Oleh karenanya ia kemudian kembali memusatkan pikirannya untuk mencoba mengendalikan hawa ini sesuai dengan cara yang diajarkan Yung Ci suhu.kenapa aku teringat pada pengemis itu?” Entah kenapa begitu teringat pada pengemis itu. timbul perasaan tertentu dihatinya. setelah setengah hari ini bersiulian ia merasa lebih bugar. maka ia manfaatkan untuk bersiulian. Anehnya setelah beberapa saat hawa itu ternyata mampu dikendalikan dan disimpan dengan baik di tantian. ada pelayan yang bertugas mengantarkan makanan. ia adalah murid dari mendiang supeknya. termasuk Kam tihu. dengan iming-iming perjuangan yang bisa mengantarkan mereka menjadi orangorang penting. namun berbeda nasibnya dari Boan ciangkum. terbersit akal untuk bisa membebaskan diri. “Hmm. Hingga saat ini. ia menjadi kepala daerah setingkat kabupaten.. Maka malam itupun ia tidur dengan tenang.. Boan ciangkum sendiri adalah suheng luar dari Can Seng. namun hingga sore hari ini tetap gagal mengendalikannya. ingat aku hanya beri waktu kamu dua hari. tapi sayang ruangan tahanan itu gelap. Pelayan itu meletakkan sarapan pagi ke bagian bawah yang . Bahkan kini ia merasa lebih bugar. dan pada hari ketiga aku akan datang lagi menagih janjimu!” Bukan satu dua kali Can Seng mampu merekrut tenaga-tenaga bantuan untuk keperluan sesuatu yang disebut perjuangan oleh mereka.

kedua belah pihak merasa ruangan terlalu sempit. tapi kami tak tahu kamar sebelah mana. tidak mudah didobrak.tolong apa yang terjadi pada pelayan ini. namun apalah artinya dia penjaga itu bagi Tiong Gi. maka Tiong Gi pura-pura berteriak-teriak penuh kekagetan. Salah seorang dari tawanan yang dibebaskan berkata. Tiong Gi mengeluarkan tangannya dari jeruji untuk menarik tubuh penjaga itu... Rupanya di bagian ataspun ruangannya berpintu. Bab 16. Begitu sampai di genteng. Begitu ruangan terbuka. dua penjaga tiba di hadapan Tiong Gi.” Dengan menggunakan pedang rampasan Tiong Gi membuat lubang di langit-langit dan secara bergantian Tiong Gi menyunggi keempat tawanan itu agar mudah keluar.” Mendengar teriakan ini dua orang penjagapun menjadi terpancing. Beruntung nasibnya karena ia segera mendapatkan kunci itu. sehingga lawanpun mundur.” . kita lewat atap saja. “Pintu ini dari besi. Dan betapa kecewanya ketika ia melongok kamar terakhir ia masih tidak menjumpai si nona. “Sebaiknya kita dobrak saja pintunya!” “Tunggu!” bantah Tiong Gi. Dengan cepat Tiong Gi menggunakan kunci untuk membuka satu persatu kamar-kamar tahanan. Sepertinya jeritan penjaga itu menarik perhatian penjaga yang lain.. Sayangnya sebelum Tiong Gi sempat merobohkannya ia keburu berteriak keras. dengan menggunakan Kiu Yang Sin Ciang ia mampu merobohkan lawannya meskipun lorong penjara itu sempit. Membebaskan nona baju merah Teriakan penjaga ini mengejutkan orang-orang yang ada di atas.ada rongga. Sudah tiga kamar dibuka namun ia belum menemukan nona baju merah.. Suasana menjadi kacau balau. salah seorang dari mereka berbisik ke Tiong Gi. “Penjaga.. Dengan tergesa-gesa Tiong Gi menrogoh kantung penjaga itu untuk mencari kunci. “Sui siocia disekap di sabuah kamar. maka Can Sengpun bergegas memimpin sendiri anak buahnya menuju penjara bawah tanah. dan lekas setelah pihak lawan keluar dari lorong penjara mereka segera menutup pintu kedua. Pada waktu itu ia mendengar suara kaki yang menuruni tangga. Bentrokkan itu makin seru setelah Tiong Gi ikut terjun. Terjadilah bentrokan antara mereka dengan tahanan yang baru saja dibebaskan Tiong Gi.. dan keluar dari lorong naik ke tangga. Ia tak tahu Tiong Gi telah melancarkan pukulan Kiu Yang Sin Ciang bertenaga im.. namun begitu mendekat mereka menjerit karena merasakan hal yang sama dengan pelayan itu. dan segera dipakai untuk membuka ruangan. Karena pelayan itu menjadi kaku. Tapi tubuh mereka juga menjadi kaku. tapi ketiga hendak bangkit setelah meletakkan nampan tiba-tiba ia merasa tubuhnya kaku. Pada saat itu rombongan anak buah Tok Nan-hai Pang dan prajurit tikoan sudah berada di lorong.

. Dan kita jadikan nona Sui sebagai taruhan.monyet dari teratai merah memang banyak bicara. Di bagian depan dari barisan Can Seng sudah berdiri sambil tangan kanannya menodongkan senjata ke leher nona berbaju merah. kedua belah pihak sama-sama mengajukan tiga jago. Akan sangat mudah bagi kami untuk bisa meloloskan diri. meskipun keadaan kami terkepung tapi posisi kami sekarang ada di atas. setelah berpikir sejenak berkata. Pertandingan silat selalu menarik bagi . mari kita selesaikan masalah kita secara jantan.Mereka tak perlu mencari-cari karena di halaman tengah sudah berkumpul hampir lima puluh orang. Toch kalau kalah. Namun ia kemudian mendiskusikan usulan itu dengan anak buahnya. Sepertinya dia bisa menerima usul Tiong Gi. anak muda baju putih. Sementara dua dari empat orang tawanan yang lolos. Ia yakin tiga jagoannya bisa memenangkan pertarungan. dan kami bertiga rela kembali ke kamar tahanan. Tidak ada gunanya kalian melawan.” Can Seng terlihat terkejut dengan usul Tiong Gi. Namun salah seorang tamtama pengawal Kam tihu yang tiga hari yang lalu ikut mengepung Tiong Gi meyakini bahwa ada kemungkinan mereka bisa lolos jika dilakukan upaya pemaksaan. monyet keparat. seperti mencela usulan Tiong Gi. separo diantaranya berpakaian prajurit. mari bertanding satu lawan satu secara jantan!” seru salah seorang tawanan yang paling tua. terserah apapun tindakan kalian! Dengan demikian timbulnya korban bisa ditekan. Maka dibuatlah sebuah arena yang cukup luas. Akhirnya Can Seng bisa menerima usulan. Kami masih akan mempertimbangkan untuk mengampuni jiwa kalian jika saja kalian mau bekerja sama!” “Genderuwo hitam.ha. Can Seng merasa mampu mengatasinya. bagaimana pendapatmu?” Tiong Gi yang dimaksud. kalian sudah terkepung. Tampak salah seorang dari mereka meninggalkan halaman dan memasuki gedung. Dan timbulnya korban yang cukup besar bisa dipastikan jika melihat sepak terjang tawanan. namun orang tertua dari mereka membujuk keduanya. belum terlambat untuk mengambil tindakan selanjutnya.. “Ha. Apalagi Tiong Gi masih tahap pemulihan akibat luka tiga hari sebelumnya. satu lawan satu. sedangkan tangan kirinya menelikung kedua tangan nona itu.ha. sebaiknya kalian menyerah saja. pihak Can Seng sangat yakin akan keunggulan diri. Dan kalau kami yang lolos.. kalian tidak akan bisa memaksa kami! Hayo kalian maju.”Lopeh. “Heh kalian berempat. melihat posisi kepandaian mereka. Jika pihak kami yang menang. Jika pihak kalian yang menang. ia menjadi meragukan kemampuan mereka untuk menangkap keempat tawanan. Wajah nona yang dipanggil Liu siocia itu terlihat sangat pucat. Ia sudah berumuran tiga puluh limaan. Awalnya Can Seng yakin akan kemampuan mereka meringkus keempat tawanan. aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib pengkongsian kalian. Aku punya tawaran yang dapat kalian semua pertimbangkan. berikan seekor kuda dan bebaskan nona Sui. Selain itu.

Tangannya bergerak cepat membawa pukulanpukulan berhawa dingin. Saling serang dan saling kelit berlangsung beberapa jurus. suasana pertarungan makin seru. Dari pihak Tiong Gi. jurus-jurus pukulan makin dasyat. tapi luka pukulan . Dapat dibayangkan betapa lihainya. namun dari jurus-jurus awal Tiong Gi bisa mengukur Hai Liong lebih menang kemampuan ginkang. sehingga pukulan lawan tidak sampai mengancam nyawanya. Semua penonton merasa kagum sekali melihat pertarungan yang sangat sengit dan seru. Pertarungan kedua antara Hai Liong lebih seru. Dari tingkat kedudukan Can Seng memiliki kelihaian yang hanya seusap dibawah gurunya. Ia tidak mengenal jenis jurus tersebut. tetapi dari hasil ia belajar pada Ciak Kun. Ia tidak menyadari ada kemungkinan bahaya yang mengancamnya. Sambil menonton Tiong Gi mencoba mempelajari jurus-jurus Hai Liong. ia bisa melihat dasar ilmu dari daerah utara sungai. sayang kepandaian Tiong Gi belum sempurna dan ia masih tahap penyembuhan luka dalam. tiga hari yang lalu pihak lawan belumlah sehebat ini. Dari pihak lawan yang jadi jagoannya adalah Can Seng dan dua lawan yang waktu itu mengeroyok Tiong Gi. Pertandingan makin seru ketika keduanya mulai melancarkan pukulanpukulan jurus simpanan. Masih untung ia tidak nekad. Pertandingan ketiga. dedengkot datuk sesat dari laut selatan. Pertandingan pertama Ang Siu melawan salah satu pengeroyok Tiong Gi. bahkan Kam tihu sendiri keluar dari gedung ikut menonton pertandingan di halaman itu. sebagian lagi layu karena terkena pukulan beracun. tawanan yang paling tua yang bernama Hai Liong dan adik seperguruannya yang bernama Ang Siu Kun. Mereka bertanding dengan tangan kosong. Arena pertarungan menjadi semakin luas. muntah darah. meskipun dampak racun sudah hilang.mereka yang terbiasa terjun di dunia kang ouw. Pertandingan pertama ini kurang menarik. karena memang secara tingkat kepandaian Ang Siu masih jauh dibanding lawannya. sementara Hai Liong hanya terdorong dua tombak. yang kuat dan ganas. Tiong Gi bertekad untuk tampil habis-habisan dalam pertandingan ini meski lawan yang harus dihadapi adalah musuh terberat dari pihak lawan. dalam belasan jurus ia sudah roboh terkapar. sebagian menjadi layu karena kena terjangan hawa yang luar biasa dinginnya. Rumput-rumput beterbangan. sebuah adu pukulan berakhir dengan robohnya pihak lawan. namun yang dihadapi kali ini adalah pemuda tempaan ahli-ahli silat kenamaan di dunia kang ouw. hingga akhirnya keuletan dan kedisiplinan Hai Liong menjadikannya lebih unggul tipis. kedua belah pihak tampaknya kedudukannya seimbang. ia mengajukan dirinya sendiri. Tok Ciang Sin Kwi (setan sakti tangan beracun). Tangannya berubah memerah dan Tiong Gi bisa melihat adanya hawa racun dalam pukulan itu. Tiong Gi melihat pukulan Hai Liong juga mengandung unsur-unsur keganasan. ia masih bisa bertahan berdiri. Iapun membendung serangan lawan dengan jurus-jurus serangan khas daerah selatan. Can Seng merasa terkejut sekali merasakan sambaran angin pukulan lawan. berhadapan Can Seng dengan Tiong Gi. Tiga puluh jurus sudah berlalu. Tiong Gi membuka serangan dengan jurus-jurus badai salju.

cessss. Belum selesai kekagetan Can Seng. secara tiba-tiba Tiong Gi mengubah tangannya seperti mematuk-matuk dari tapak tangannya mengeluarkan hawa panas luar biasa.. Beberapa kali kakinya terserempet pukulan Tiong Gi.. Gerakannya menjadi lebih lambat. Wwusss. dari mulutnya keluar darah. maka dapat dipastikan Can Seng tak kan mampu bertahan lebih dari lima jurus..! Pertemuan dua tenaga pukulan membuat Tiong Gi terdorong lima langkah ke belakang... secepat kilat Tiong Gi memanfaatkan waktu kelengahan lawan untuk melakukan sebuah pukulan terakhir.masih perlu beberapa hari untuk pemulihan.. Tiong Gi memapaki pukulan lawan dengan mengubah cara bersilat menggunakan Kiu Yang Sin Ciang.. namun lawannya terpelanting dan jatuh terduduk. Tiong Gi sudah bisa bangkit kembali namun ia pura-pura kesakitan... kedudukannya menjadi goyah. aku kagum padamu. Dengan sempoyongan Can Seng kemudia maju beberapa tindak. ia memapaki serangan Tiong Gi dengan pukulan tangan terbuka. kemudian ia berkata.. Meskipun ia sudah berusaha menangkis.... pasir itu mengguyur tubuh Tiong Gi. Can Seng yang melihatnya tertawa terbahak-bahak. tangan kanan dan kirinya bergerakgerak melancarkan pukulan demi pukulan secara bergantian. padang matanya berkunang-kunang... Jika saja ia sudah bisa menyempurnakan ilmu dan mengembalikan tenaganya.. “Anak muda. Bagaikan titik-titik air hujan. Hebat sekali pengaruh menawarkan racun dari air yang diminum dari guci sakti itu. Pada jurus ke lima puluh ia mengeluarakan jurus pukulan salju mengepung gunung. Secara berubah-ubah ia mengganti hawa sinkang im dan yang. Pada jurus ke empat puluh Can Seng mengubah cara bersilat. karena jurus-jurus pukulan tangan cocok untuk serangan atas.! Tiba-tiba ketika jarak mereka tinggal tiga meteran. hiyaat.!” Pasir putih yang sebenarnya adalah racun putih tepung setan. Can Seng merasa kerepotan sekali. Perlahan-lahan Can Seng terlihat mulai terdesak. ilmumu sungguh hebat.. Can Seng melompat tinggi selangkah kedepan sambil menghamburkan segenggam pasir putih. Can Seng .. Tubuhnya merendah dan menyerang bagian bawah lawan. Tubuh Tiong Gi seperti melayang dengan kecepatan seperti bayangan ke arah lawan. Ia kesulitan untuk menyesuaikan pukulan lawan yang berselang-seling. pukulan-pukulan yang dilancarkan sangat berat dan mengandung hawa yang sungguh amis.. namun masih ada beberapa yang mengenai kulit lengan dan mukanya. “Bresss... ia menggunakan jurus hujan salju menerobos awan. Can Seng yang sudah mulai kewalahan menjadi nekad. namun dari tangannya keluar hawa pukulan beracun yang sungguh kejih. iapun mundur sambil tangannya merogoh kantung mengambil guci dan segera meminumnya. namun akibatnya naas. Tiong Gi merasakan hujan yang sangat pedih.. Tangannya berubah putih. Hanya dalam beberapa kejap mata.

. tubuh Tiong Gi limbung. Nyawa Can Seng tak dapat diselamatkan.. meskipun dari mulutnya berlumuran darah. buru-buru ia mencoba menangkis. Hai Liong hendak merangsek barisan prajurit yang mengelilinginya. “Tangkap keenam tawanan hidup atau mati!” Hai Liong dan ketiga kawannya terkejut sekali mendengar perintah seperti ini. Namun buru-buru ia meminum air dari guci saktinya. sehingga bisa kembali bangkit.. tidak menyadari kelihaian pemuda itu. tapi cepat ia sudah dibisiki oleh Tiong Gi. hanya bisa mencelos hatinya melihat kelebatan pedang atau golok lawan.merasakan kesiuran hawa yang sangat dingin.. karena merasa lima sampai enam prajurit yang didepannya mampu melindunginya. Hai Liong yang sudah keburu berada di depan.akibatnya “Bresssss. seperti berebut untuk membacokkan senjata-senjata mereka. dengan menggunakan kata-kata sandi ia memberi perintah pada ketiga sutenya. sehingga beberapa prajurit yang mengepungnya bisa dibereskan.. dan bantu aku menelikung tihu she Kam itu!” Hai Liong kerepotan mendapat bisikan itu sementara ia sudah mulai diserang oleh lawan. Akibatnya suasana menjadi gaduh.. prajurit-prajurit yang didekatnya langsung menyerbu. Tapi disaat yang sedemikian gentingnya. “Perintahkan ketiga sutemu merebut Sui siocia.. tiba-tiba saja muncul sebilah golok menangkis semua serangan dan orang yang berkerudung dan menggunakan penutup kepala dengan gesit sudah menarik dan membopong Tiong Gi. dan sekonyong-konyong Kam tihu mengeluarkan perintah. Akibatnya tihu itu sampai terjengkang. . bahkan masih bisa melindungi Tiong Gi. Ternyata pukulan ke Kam tihu adalah tenaga tersisa yang dilancarkan seluruhnya. yang terus menerus mundur ke arah gedung. Hanya saja. dan keduanya roboh. tanda ia terluka. Dan loloslah semua tawanan. ia yang sebelumnya tidak terlalu dekat melihat pertarungan Tiong Gi. ketika tiba-tiba Ang Siu berseru agar mereka segera melarikan diri karena nona Sui sudah dapat mereka selamatkan. hingga sampailah ia berhadapan dengan barisan pelindung utama tihu. tapi siapa sangka pukulan itu bisa melewati begitu saja kelima prajurit yang melindunginya. Ia sendiri yang mendapat pedang titipan Tiong Gi lebih mudah menghadapi lawan. Kam tihu tidak tahu apa yang akan dilakukan kedua tawanan mereka.. Sebaliknya.. dan menghantam dirinya.. kemudian menerobos kepungan prajurit dan meloloskan diri. Melihat tawanan roboh. Namun ia tetap tidak peduli.. Melihat Tiong Gi bisa diselamatkan Hai Liong bernafas lega. sambil memapah Kam tihu.duaaarrr. sehingga mereka bisa leluasa mendekati Kam tihu. sehingga ketika Tiong Gi melancarkan pukulan Kui Yang Sin Ciang ia tidak mencoba untuk mengelak. namun ia masih mampu melakukan poksai (salto) di tanah. tubuh Can Seng terlontar menabrak salah satu anak buahnya.!” Benturan dua tenaga dengan masing-masing berkekuatan penuh tak dapat dihindarkan.. namun ia sudah waspada... tetapi di pihak lain Tiong Gi yang keadaannya sudah kepayahan karena tenaganya sudah hampir habis ketika melawan Can Seng ikut roboh.

Betapa marah dan gusarnya Kam tihu setelah kondisi kesehatannya pulih. Ia kehilangan lebih dari dua puluh anak buah, sedangkan anak buah Tok Nan-hai Pang yang tewas ada belasan. Siapakah yang menyelamatkan Tiong Gi? Seorang tua berkerudung dengan gesit membawa Tiong Gi ke sebuah kuil di pinggiran kota. Begitu memasuki kuil yang masih terlihat baru itu ia diterima seorang tosu, setelah berbicara sebentar ia kemudian kembali meninggalkan tempat itu. Seorang tosu yang ternyata bisa ilmu pengobatan menjadi terkejut ketika melihat sebuah guci yang sangat dikenalnya. Selanjutnya ketika Tiong Gi sadar pada keesokkan harinya, iapun dirawat oleh tosu yang ternyata adalah murid dari si guci obat. Hanya sehari semalam Tiong Gi tinggal di kuil itu, ia sudah pulih kembali. “Terima kasih banyak kuucapkan, selamanya Tiong Gi tak bisa lupakan budi totiang.” “Anak muda, namamu Tiong Gi? Darimanakah engkau mendapatkan guci ini?” “Ini guci kuterima dari suhu Sun Ciak Kun locianpwe!” “Ah, kalau begitu kita orang sendiri, ketahuilah namaku adalah Kiong Tojin, suhengmu, tapi aku lebih banyak belajar ilmu pengobatan pada suhu.” “Ah benarkah? Suhu memang pernah menyinggung nama suheng. Tapi suhu sendiri tidak tahu kalau suheng tinggal di sini.” “Benar, aku baru saja mendirikan kuil di sini, bersama dengan beberapa tosu yang lain. Untuk sementara kamu tinggallah di sini untuk memulihkan keadaanmu.” “Oh ya, Kiong suheng, siapakah yang membawaku kemari?” “Dia tidak mau kusebutkan namanya, tapi kau telah bertemu dengan beliau beberapa malam yang lalu bersama Ouwyang siaucay.” Tiong Gi menebak-nebak siapa gerangan yang membantunya. “Hmm ternyata masih sedemikian banyak tokoh baik di dunia ini, yang bahkan tidak mau disebutkan namanya, meskipun telah menyelamatkan orang lain,” pikir Tiong Gi. Demikianlah selama beberapa hari Tiong Gi tinggal di kuil itu untuk memulihkan diri. Pada saat-saat kosong, ia membukabuka catatan yang diberikan oleh Ouwyang siaucay. Betapa terperanjatnya ia, demi melihat isi dari kitab yang pertama. Kitab yang berjudul kamus tulisan kanji mulai jaman dinasti Cin hingga Tang, berisi huruf-huruf yang ingin ia pelajari. Itulah alasan utama dia lari dari gua. Ternyata ia mendapatkan secara kebetulan. “Hmmm pantas saja, suhu Yung Ci sendiri banyak yang tidak tahu makna satu dua huruf yang

pernah ia tanyakan. Ternyata lukisan yang ditemukan adalah warisan Lau Cin Shan yang dibelakangnya berisi puisi yang ditulis dengan kanji pada jaman itu. Inilah yang selama bertahun-tahun kucari. Sungguh sebuah keberuntungan yang sangat kebetulan.” Adapun tulisan kedua yang hanya selembar kain berisi dua bait puisi. Menari ia di panggung kehampaan Mengalun ia di dasar samudera Mengalir ia di lempeng yang datar Kebijaksanaan tertinggi seperti air yang member manfaat kepada segala sesuatu mengalir ke tempat rendah karena itu sifatnya berdekatan dengan Too Tiong Gi mengulang-ulang mengucapkan kalimat-kalimat itu, namun meskipun ia benturkan kepala pada tulisan di depannya tetap saja ia tidak mampu mengerti makna dari tulisan itu. *** Kita tinggalkan dulu Tiong Gi yang masih sibuk memulihkan kesehatannya dan mencari makna atas puisi yang didapatkan. Kita beralih sebentar ke rombongan nona baju merah she Sui, yang lengkapnya adalah Sui Souw Mei. Setelah berhasil meloloskan diri mereka seharian penuh lari ke arah utara. Hingga akhirnya setelah malam mereka sampai di pinggiran hutan. Dengan cara duduk mengelilingi api unggun, mereka memanggang hewan buruan untuk santapan malam dan tak habis-habisnya mereka membicarakan Tiong Gi. Apalagi bagi nona Sui, gadis manis yang baru mekar, membicarakan pemuda sungguh membuatnya tersipu-sipu. Entah kenapa, ia merasakan ada lampion di hatinya yang berpendar-pendar. Tapi yang keluar dari mulut mungil itu justru kekhawatiran. “Hai ko, bagaimanakah kira-kira nasib inkong (tuan penolong)?” “Sui moy, aku tidak tahu pasti, tapi sekilas aku melihat sesosok banyangan menangkis senjata-senjata yang mengarah padanya, dan memondongnya ke luar arena. “Ah kasihan sekali inkong, dia masih sangat muda, tapi sudah menunjukkan sikap yang gagah, bagaimanakah keselamatannya?” “Tenang saja Sui moy, orang baik biasanya bernasib mujur, kita doakan saja!” jawab orang she Ang. “Kelak kita masih ada kesempatan untuk mencarinya, sekarang yang penting kita kembali ke markas pusat. Kita laporkan ke suhu. Sungguh tak pernah kita duga, di kota sekecil ini mereka menempatkan orang selihai itu,” gumam Hai Liong.

“Twako, apakah tidak lebih baik kita laporkan saja persekutuan mereka ke tentara di kota raja?” tanya salah satu dari dua lelaki yang berusia paling muda. “Tidak, kita hanya bertindak atas perintah suhu. Lagipula kegiatan seperti itu pasti dilakukan sembunyi-sembunyi, kita tidak punya bukti, kita hanya membawa berita. Dunia mata-mata sungguh kejam, jika kita tidak dipercaya oleh tentara, malah kita yang akan kena hukuman.” Begitulah, lebih dari sepenanakan nasi mereka berbicara banyak hal. Hingga akhirnya mereka bergantian berangkat tidur berselimutkan mimpi. Dan bagi nona Sui, mimpi apalagi yang lebih mengesankan selain mimpi bertemu dengan seorang pangeran berwajah pemuda yang menolongnya. Sebenarnya siapakah mereka berlima? Mereka adalah anggota kelompok teratai merah, sebuah kelompok oposisi yang bekerja di bawah tanah. Berbeda dengan kelompok teratai putih yang membuat partai bahkan agama tersendiri dan sering menyimpangkan arah perjuangan. Kelompok teratai merah tidak terang-terangan menggunakan simbolsimbol perjuangan tetapi lebih murni dalam memperjuangkan keadilan dan kedamaian untuk orang-orang kecil. Mereka memusatkan pergerakan pada pembinaan pesilat-pesilat yang diluluskan dari bukoan yang di buka di tiap kota. Kelompok teratai merah sebenarnya tergolong masih muda, karena baru berumur lima puluh tahunan. Pertama-tama berdiri merespon kekacauan yang timbul pada pertengahan tahun 950-an. Kelompok ini didirikan oleh Sui Tek Han, pendekar segenerasi dengan Sun Ciak Kun dan Pek Mau Lokay. Sui Tek Han sendiri belajar silat dari guru-guru silat daerah utara. Kelihaiannya tidak disebelah bawah dua pendekar tersebut, bahkan ia bersama dengan Kun Lun Sam-lojin pernah bentrok dengan Nan-hai su kwi, pimpinan Tok Nan-hai Pang yang menyebabkan kematian salah satu dari empat setan itu. Karenanya ia memiliki hubungan baik dengan pesilat dan pendekar dari wilayah Mongol dan Khitan. Sui Tek Han sudah belasan tahun meninggal. Kedudukan ketua juga sudah berpindah beberapa kali, yaitu Sui Kong Sian, Sui Bok Yang dan Sui Bok Leng. Sui Bok Yang adalah ayah dari Sui Souw Mei, sedangkan Sui Bok Leng adalah pamannya. Kepemimpinan dari Sui Bok Yang tergolong sangat singkat. Baru enam tahun memegang kepemimpinan timbul malapetaka yang melanda keluarganya, malapetaka yang menyebabkan meninggalnya ibu Sui Souw Mei. Malapetaka itu berawal dari kepergian mereka berdua ke Heng Yang. Mereka bersama dengan enam orang lainnya dari teratai merah menghadiri acara pernikahan anak dari pimpinan cabang Heng Yang. Sepulangnya dari acara itu mereka dikepung oleh gerombolan Tok Nan-hai Pang. Dua anak buah mereka tewas, mereka kemudian bisa ditawan oleh gerombolan ini. Beruntung mereka bisa diselamatkan oleh Yung Lu. Namun keberuntungan ini berubah karena mereka kemudian mengikat suatu perjanjian yang aneh. Di kemudian hari ada pihak yang

merasa dikhianati sehingga terjadilah pembunuhan ibu Souw Mei. Kejadian itu sungguh menjadi rahasia besar keluarga Sui dan Souw Mei hanya tahu bahwa pembunuh ibunya adalah Yung Lu. Karena ibunya meninggal maka sejak kecil ia tinggal bersama neneknya di ibu kota. Sedangkan ayahnya lebih banyak menutup diri bahkan seperti mengalami penderitaan bathin yang dalam. Sou Mei tumbuh menjadi gadis yang manis, manja, melankolis namun memiliki kekerasan hati. Yang lebih menonjol dari itu semua adalah suaranya yang lembut merdu, yang mampu membetot hati pria manapun. Pada usia dua belas tahun, pamannya memanggil dan mendidik silat padanya. Sebulan yang lalu, ada desas-desus kelompok teratai merah di Heng Yang akan diserang musuh pihak Tok Nan-hai Pang. Ternyata dari hasil penyelidikan, memang terlihat adanya gerakan kelompok Tok Nan-hai Pang, yang mengarah pada penggalangan kekuatan. Karena itulah maka Sui Bok Leng menugaskan dua tim, yang pertama ke kota Heng Yang, yang kedua ke kota Lok An.Tim yang dikirim ke Lok An, sebenarnya rencananya hanya lima, namun Souw Mei memaksa diri ikut, sehingga berangkat berenam, sayang salah seorang anggota tewas dalam pertarungan awal dengan gerombolan Tok Nan-hai Pang, sehingga mereka akhirnya ditawan. Demikianlah sekilas mengenai asal-usul kelompok teratai merah. *** Sudah lama kita meninggalkan puncak Fan Cing San, tempat berawalnya cerita ini. Bagaimanakah keadaannya sekarang? Malam sudah sangat larut, ketika suatu kereta kuda memasuki gerbang Lu Liang Pay dan berhenti di halaman depan. Kedatangannya seperti sudah diketahui tuan rumah, terlihat penjaga langsung mempersilahkan masuk, dan dihalaman itu mereka segera disambut oleh pria setengah baya dan empat orang murid Yun Liang Pay menyambutnya. Pria yang menyambut tamu, kira-kira berumuran tiga puluh sembilan tahunan, berwajah tampan berdandan perlente. Di Yu Liang Pay, siapa lagi tokoh setengah baya yang berdandan seperlente itu selain Siong Chen. Seorang pria bertubuh tinggi kekar turun dari kereta, disusul dibelakangnya orang tua bertubuh pendek kurus berkumis panjang. Keduanya memiliki kulit kehitam-hitaman. Orang yang pertama berusia sekitar lima puluh enam tahunan namun terlihat masih gagah, kumisnya dicukur bersih, sedang jenggotnya dibiarkan panjang. Dari gerakannya yang gesit dan wajahnya yang penuh perbawa dengan pandangan tampak angkuh, orang akan menduga dia seorang pejabat. Memang tidak salah dugaan seperti itu karena dia adalah Boan Tek Ciangkum (perwira). Adapun pengawalnya juga jelas bukan orang biasa, meskipun terlihat sudah tua, pendek dan kurus tetapi jalannya nyaris tidak menimbulkan bunyi, seperti mengambang saja di udara.

Perwira Boan Tek adalah tentara berpangkat jenderal muda yang menguasai pasukan harimau besi. Pasukan harimau besi sangat terkenal sebagai pasukan pendobrak musuh dalam peperangan. Di usianya yang lima puluh tujuh memang Perwira Boan Tek sudah harus pensiun dari ketentaraan. Hanya karena rekomendasi dari pamannya yaitu Menteri Boan Shu ke kaisar, maka Boan Tek masih bisa bertahan. Menurut tradisi kerajaan Song, usia pensiun untuk perwira adalah lima puluh lima tahun, hanya panglima saja yang bisa pensiun pada usia lebih dari lima puluh lima tahun. Karena desakan menteri Boan Shu yang pandai menjilat, kaisar memperpanjang jabatan kepada Boan Tek selama dua setengah tahun. Ini adalah tahun terakhir Boan Tek menjabat, dan selama setahun ini tidak ada prestasi yang membanggakan yang bisa diandalkan untuk loncat menjadi pejabat sipil setingkat menteri, sedangkan pesaingnya sungguh luar biasa banyak. Karena itu, banyak rencana yang sudah dipikirkan olehnya. Salah satu rencana yang paling berpeluang besar inilah yang akan dijalankannya. Apakah rencana itu, marilah kita ikuti dialognya dengan ketua Yu Liang Pay. Siong Chen dan empat murid tingkat dua mengawal Perwira Boan Tek dan centengnya ke ruang tamu khusus di dalam gedung tempat tinggal Ketua Yu Liang. Hanya Siong Chen saja yang menemani ketua menemui kedua tamu ini, empat orang pengawal lain menjaga di luar. Segera ketua Yu Liang yang sudah berumur hampir tujuh puluh tahun menyambut dengan wajah berseri. ”Ah kiranya Boan Ciangkum, tak tahu angin apakah yang menuntun Ciangkum mengunjugi gubug kami di pegunungan ini.” Liong Ping tergopoh-gopoh menyambut Boan Tek perwira dari kota raja Kai Pong. Ketika pandangan Liong Ping bertemu dengan pengawal Boan Tek, wajahnya berubah serius. “Bukankah loheng ini adalah Tok Ciang Sin Kwi?” Orang tua yang menjadi centeng Boan Tek hanya menjengek kecil “Pandangan ketua Yu Liang ternyata masih belum lamur. Tak tahu apakah ilmu pedangnya juga masih sehebat dulu?” Berbeda dengan bentuk tubuhnya yang kecil, suara yang keluar dari mulut yang Dugaan Liong Ping memang tidak salah, orang tua yang seumuran dengan Liong Ping itu memang Tok Ciang Sin Kwi, guru Can Seng. Dia adalah susiok (paman guru) Boan Tek. Karena seangkatan, meski lebih dari lima belas tahun tak pernah bersua, sekali melihat bentuk tangan yang kecil dan berwarna kehijau-hijauan maka Liong Ping tak dapat melupakannya. “Ha..ha..ha...Sien Ping, perkumpulan ini tambah maju pesat saja sejak kau pimpin, hemmm sekarang anak gadispun bisa menuntut ilmu di sini,” ucap Boan Tek. “Tentu saja ciangkum, kami tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan, dan kalau ciangkum berminat, tinggal tunjuk saja kami

. sebaliknya malah..heh..... lihat ini yang aku bawa. aku ingin memajukan Yu Liang Pay.. tapi bukan perwira yang matang kalau tidak paham arah omongan seperti itu. namun buru-buru dia merubah mimik mukanya seakan-akan sangat terkejut. sekarang kau bukan buronan lagi ha ha ha. “Oo. Sebenarnya ia tidak terkejut dengan permintaan Boan Tek.. Apakah Boan Tek mampu mencuri dari kantor gubernur? Kalau memang bisa mengapa mesti minta bantuan dia untuk urusan yang dibisikkan itu.aku lupa.mujur sekali nasibmu pangcu.. mana mungkin saya bisa semujur ini.” Perwira Boan Tek merogoh kantung bajunya dan mengeluarkan gulungan kain yang segera dipentang di depan Liong Ping.. tapi Liong Ping atau Toa Pangcu. di sini sudah tidak ada lagi yang bernama Sien Ping. Tapi terakhir dia mendengar lukisan itu sudah dapat diambil oleh Gubernur Heng Yang. Liong ping sudah mampu menguasai diri.saya sungguh tak menyangka sama sekali permintaan ciangkum seperti ini.dengan senang hati akan menghaturkan ke ciangkum he... Tapi sebagai orang yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia kang ouw.” jawab perwira itu dengan senyum yang hanya Liong Ping saja yang bisa memaknai.” Liong Ping tidak melanjutkan pertanyaannya. berarti kau siap membalasnya khan?” “ Bantuan apakah yang ciangkum harapkan?” “Sini dekatkan telingamu pangcu!” Liong Ping terhenyak mendengar apa yang dibisikkan oleh Boan Tek.Oh ya ciangkum.he. “Lukisan apa ini ciangkum.. sepertinya lukisan kuno? Apakah. golongan pendekar yang membela kebenaran dan keadilan. “Ah..” Perwira Boan Tek hanya menyunggingkan senyuman sinis.. “Tentu saja tanpa bantuan ciangkum.” balas Liong Ping merendah. .. “Ternyata kau tidak melupakan budi itu. Ia paham sekali orang macam apa yang dihadapi. sebagai Pangcu partai besar tentu saja Liong Ping mendengar kabar munculnya lukisan misterius warisan Lau Mei Shan.apakah.. “Pangcu mana mungkin aku ingin menjerumuskan Yu Liang Pay ke sumur kehancuran. dalam hatinya ingin mengumpat omongon Liong Ping yang bau kentut. Mana mungkin Yu Liang Pay terlibat dalam urusan seperti itu ciangkum??? Yu Liang Pay dari dulu terkenal sebagai perkumpulan orang-orang gagah.

namun ia tahu asal usul dari sajak terkenal itu.. Meskipun tak tahu pasti maknanya. biar susiok yang membaca artinya untuk kalian!” Selanjutnya Tok Ciang Sin Kwi membaca terjemahan. yang didapatkan dari Ouwyang siaucay. Sebenarnya ia sendiri tahu itu bukan karya Yang Chen. .“Dengan lukisan ini Pangcu bisa mendapatkan warisan pendekar besar Lau Mei Shan... mana tahu dia letak rahasia lukisan itu. berarti dibalik lukisan yang ditemukan gubernur juga ada tulisannya... “Ciangkum ini seperti puisi pujangga Yang Chen. Puncak Siauw Tong San di musim semi Di padang bunga bo tan Akankah lahir pendekar pedang kedua Bukalah mata hati Pendekar pedang sejati Meski tak ada senjata di tangan Saljupun bisa setajam pedang Liong Ping agak terperanjat mendengar isi puisi itu. Dan aku tahu arti tulisan ini.. Sayang untuk itu kami harus mengorbankan salah satu sute kami.” “Dengarkan baik-baik.dasar gubernur bodoh itu.” “Ahhh siapa yang membeli lukisan gubernur? Ini adalah lukisan kedua Lau Mei Shan yang berisi harta warisannya. berseru tertahan.” “Bagaimana ciangkum yakin ini menunjukkan peta tempat pedang itu disimpan? Saya tidak melihat ada petunjuk apapun... bukankah ini huruf kuno?” “Benar ha ha ha . “Benar. Pedang Salju!” “Pedang Salju???” hampir berbarengan Liong Ping dan Siong Chen. “Ahh...dibalik lukisan itu ada tulisannya? Hmmm. bukan?” “Sungguh saya tak menyangka ciangkum mampu membeli lukisan itu dari gubernur.” Liong ping bergumam sambil mencoba mengeja tulisan di balik lukisan itu. “Tulisan ini sulit diartikan ciangkum..” “Lihatlah baik-baik!” seru Boan Tek sambil membalik lukisan itu. Sungguh ibarat elang tumbuh taring. melainkan pujangga yang lebih kuno lagi. apakah sudah ada yang mencarinya ke sana?” tanya Liong Ping mencoba mengukur tingkat pemahaman si perwira. Ilmu pedang yang hebat di tambah lagi pedang pusaka yang tak ada tandingannya. Pedang Salju yang akan mengangkat nama Yu Liang Pay. murid Tok Ciang sosiok..

Liong Ping menugaskan Siong Hok Cu. Celakanya. Satu bait sajak yang disampaikan oleh kaisar kepada bu beng hiap yang terkenal dengan sajak jalan pedang menunjukkan adanya pengaruh ini. Tok ciang sin kwi yang lebih banyak diam berkata “Tugas Yu Liang Pay mencari pedang ini pangcu. dan menjadi penasihat pribadi kaisar Shi Huang Ti.” “Hmmm. “Aku tidak tamak pangcu. Petualangannya tidak berlangsung lama. Siong Lee dan lebih dari dua puluhan anak buah untuk mencari pedang salju. aku tinggal tunggu tugas yang kuminta beres. ketika ia keluar dari negeri itu. Ketua Kwan Liong Ping mengundurkan diri. Ia sendiri kemudian meninggalkan . silakan pangcu cari! Kalau ketemu. meski tak terucap sepatah katapun. Terbayang kembali peristiwa empat puluhan tahun yang silam. Untunglah datang dewa penyelamat yang bernama Boan Tek. menyerahkan jabatan kepada ketua baru Lauw Kian Bu. Ketika pasukan Sung memenangkan pertempuran. dengan syarat ia harus mendukungnya. Namun sebelum itu.” Liu Pu Yi adalah pujangga terkenal. Siong Chen. tampak wajahnya memerah tanda aliran darah sudah mulai meninggi. seorang prajurit yang bahkan belum genap berusia dua puluh tahun. Permisi!” Liong Ping hendak mencegah perwira itu.bagaimana kalau tidak ditemukan? Dan apakah Sin Kwi dan anak buah pantai selatan tidak menghendaki?” pancing Liong Ping. karena keburu perwira Boan menengahi. namun puisipuisinya dan terutama kepandaian ilmu perangnya sangat menggugah semangat kaisar.“Bukan! Ini adalah karya Liu Pu Yi. sebagai pihak penentang. bersedia menyelamatkannya.. ia terlibat dalam konflik penyatuan kerajaan. Hal inilah yang menyebabkannya harus tersaruk-saruk mencari perlindungan hingga ke negeri salju. yang sebelumnya Ji Pangcu. waktu itu. Meskipun tidak pandai ilmu silat. untuk itulah Boan goanswe kesini. Tok Ciang Sin Kwi melotot. dijaman Cin. Sayang di masa tuanya karena tuntutan kaisar yang ingin hidup selamanya untuk dicarikan obat panjang umur membuat pujangga ini harus gugur menjalankan tugas mencari obat yang tak pernah ditemukan orang selamanya. Sehingga sedikit banyak kaisar ini juga termotivasi mengikuti petuah-petuahnya. sedang perjalanan ke sana bisa menyita waktu seminggu. Siong Lee adalah anak lelaki Siong Chen. ia waktu itu ikut memimpin sepasukan laskar. ia termasuk dalam daftar pencarian. namun keburu keduanya sudah berlalu. Kukira cukup pangcu. Dan hari ini sang prajurit datang untuk menagih hutangnya. Dengan bergegas keduanya sudah menuju ke halaman depan dan segera meninggalkan Liong Ping yang duduk termangu. ketika sepasukan prajurit berhasil menangkapnya.. Keesokan harinya terjadilah peristiwa yang luar biasa di Yu Liang Pay. Hitung saja sendiri kapan Yu Liang Pay akan kesana. Musim panas tinggal dua bulan lagi. Ketika itu ia masih muda.

Setelah lebih dari sepuluh tahun belajar di sebuah tempat di Kun Lun san. karena adanya larangan yang tegas dari Yu Liang Pay. Di sekeliling dasar dari bukit pedang itu oleh pimpinan Yu Liang Pay. Selama dua tahun ada di Yu Liang Pay. diterima sebagai anak murid. Puncak itu dari dari jauh seperti pedang yang mencuat. Karena tempat terakhir yang diyakini telah didatangi adalah Yu Liang Pay. ada sepasang mata yang mengawasinya. Bab 17. Di ujung hutan pinus Chien Ce berhenti. Untuk itu sudah lebih dari dua tahun ia menyusup ke sana. Memang tidaklah keliru menebak bahwa ia adalah anak murid Yu Liang Pay. beberapa hari setelah peristiwa pergantian pimpinan Yu Liang Pay. Sepasang mata yang sebening telaga. Pemuda ini tak lain adalah Cien Ce. puncak pedang (Tiong kiam teng). Kepalanya tertutup caping yang agak lebar. ia sepertinya tahu sedang diikuti oleh seseorang. Hebat sekali memang sandiwara Chien Ce. Yang jelas pada pagi ia mendaki pegunungan menuju puncak Tiong Kiam. Puncak itu berdiri berdiri kokoh menjulang dari dasar punggung bukit. Ia mendekati daerah yang sangat dikeramatkan oleh Yu Liang Pay. tinggal tempat inilah yang belum . Dengan melihat deretan ceruk-ceruk tengkorak di bukit pedang yang sangat tinggi bagai jendela-jendala pagoda. Ia juga mendapat bimbingan dari Lauw Kian Bu. Siapakah gerangan pemuda yang sudah sedemikian nekad mendatangi tempat yang dikeramatkan oleh Yu Liang Pay. dari dekat bagaikan pagoda raksasa. bahkan ia sering menjadi teman berlatih Siong Lee. di punggung ia menggendong sebuah bungkusan. maka dari sinilah ia mencari rahasia itu. Tidak sembarangan orang boleh mengunjungi puncak ini. Namun apa yang akan diperbuatnya sungguh membahayakan diri sendiri. dari dekat terlihat bagaikan pedang. atau lebih tepatnya ia hanya dididik oleh dua dari mereka. ia mengawasi keadaan puncak yang tinggal berjarak satu li di depannya. seorang pemuda tampak mendaki salah satu puncak di pegunungan Fan Cing San dengan cepat. Pemuda yang berwajah tampan dan jangkung itu sepertinya ia sudah terbiasa dengan hutan pinus di pegunungan itu. Tapi karena tugas yang diembannya. Chien Ce tidak merasa takut untuk menyelidiki puncak ini.markas dan tinggal di salah satu rumah di perkampungan di sekitar markas. Ia mendapatkan tugas untuk menguak misteri kematian sam-lojin yang hingga saat ini masih belum jelas. orang akan tahu betapa di tempat yang mestinya damai itu telah banyak nyawa manusia melayang. Tapi benarkah demikian? Keliru Chien Ce jika merasa demikian. sehingga sampai hari ini penyamarannya belum ketahuan. ternyata tidak membuat Chien Ce khawatir. murid Kun Lun Sam-lojin. di buat benteng yang mengelilinginya. Diawasi oleh sepasang mata yang nampak menyorotkan sinar penasaran dan kekhawatiran. Terkuaknya rahasia bukit pedang Pada suatu pagi buta yang masih remang-remang. Cien Ce akhirnya diijinkan turun gunung.

yang dari luar lebih mirip gudang dibandingkan rumah. yang tertutup rapat. Chien Ce perlahan-lahan turun dari tembok dan menginjak rumput. rumput berganti pasir. menyeberangi sungai kecil. Akhirnya sampailah ia di depan benteng yang cukup kokoh mengelilingi bukit pedang.criing. dan Chien Ce merasakan tangannya sedikit tergetar menandakan peluncur memiliki tenaga yang cukup kuat. Setelah memeriksa keadaan sekeliling untuk sesaat.! tiga kali bunga api berpijar. “Hmmm. Perlahan-lahan ia mendekati bangunan di salah satu sudut itu.criiing... Chien Ce berhenti kemudia berteriak.cringg.. dan menemukan benteng yang agak rendah. “Ayaaa. setelah ditarik-tarik dan terasa sudah kuat. namun sinarnya belum mampu menerangi seluruh sudut di dalam benteng itu.. Dari dekat wajah bukit pedang itu jauh mengerikan dari yang dibayangkan. Benteng itu terbuat dari batu setinggi tiga tombak. Setelah menyeberangi sungai kecil ia kemudian mendaki punggung bukit yang berbatu. Suasana sungguh sepi mencekam.. Di dalamnya berisi tengkorak utuh atau beserta sebagian tulang belulang kerangka manusia. Dari ujung hutan itu sebelum sampai ke punggung bukit tempat bersemayamnya puncak bukit pedang. Tengokan yang hanya sekejap tapi cukup mengecoh Chien Ce karena tiba-tiba jendela gudang terbuka dan langsung meluncur cepat tiga pisau terbang ke arah Chien Ce. Chien Ce menengok ke samping. dan mendaki punggung bukit yang berbatu. Sesampainya di atas tembok benteng.. sehingga menyerang orang secara pengecut?” . Tiba-tiba dari samping terdengar suara tengkorak keluar dari dinding dan menggelinding ke bawah. Chien Ce makin hati-hati.pernah dikunjungi. Dilontarkannya tali itu keatas. namun ia hanya menemukan satu pintu saja. Kira-kira berjarak tiga tombak dari gudang itu. Chien Ce memeriksa benteng itu dengan cara mengelilinginya... menambah suasana yang lebih mencekam. Namun adanya dupa juga pertanda bahwa ada manusia yang menyalakannya. Chien Ce kemudian berjalan perlahan-lahan menerobos semak belukar yang terlihat seakan tidak pernah dikunjungi manusia. Ia membuka bungkusan yang digendongnya. namun cukup bergema di sekitar benteng... ia melihat di salah satu sudut benteng terdapat sebuah banguan. “Siapapun penghuni gudang ini keluarlah! Aku Chien Ce ingin bertemu!” Suaranya tidak terlalu keras. apakah penghuni benteng bukit tengkorak sudah tak punya rasa malu. maka ia mulai mendaki menggunakan tali. meskipun matahari sudah terbit. Dari hasil penyelidikan awal. diloloskannya sebilah pedang.. Terdengar bunyi benturan senjata yang keras. Dari tempatnya berdiri Chien Ce dapat mencium bau wangi dupa. yang ternyata berisi tali dengan gaetan pada ujungnya. Tiga pisau yang meluncur itupun bisa ditangkisnya. ia pernah melihat ada sosok bayangan berkelebat menuju ke arah puncak ini.. Ceruk-ceruk yang digali di tebing bukit itu bentuk dan ukurannya tak beraturan. Chien Ce harus turun ke sebuah lembah.

Lawan kelihatan terkejut melihat sosok yang datang menolong Chien Ce. dan bahkan masih mampu meliuk hampir menotok pergelangan lawan.. tetapi perbuatanmu sungguh mengundang bahaya yang besar bagi dirimu!” balas gadis yang bernama Siong Bwee Nio.. Bersamaan dengan itu. Gadis kecil ini bukanlah orang sembarangan di Yu Liang Pay. seorang gadis cantik yang matanya bersinar kocak. pedangnya diayunkan cepat kedepan. Posisi Chien Ce makin lemah. Begitu datang.. karena ia adalah puterti Siong Chen.” kata Chien Ce lembut. Pada saat yang kritis. Tak tahu kenapa engkau melibatkan diri dalam urusanku. hingga akhirnya pada jurus ke sekian belas. “Siong kauwnio. Sekejap ia harus memecah perhatian untuk mengusir pengaruh jahat ini. Chien Ce lantas memainkan jurus-jurus pedang yang dipelajarinya. akibatnya beberapa kali ia tergores pedang lawan. sangat muda sekali karena baru empat belas tahunan. sekonyong-konyong meluncur sebuah pecut baja yang memapaki serangan lawan. Keterkejutan lawan dimanfaatkan untuk menarik tangan Chien Ce dan dengan tali yang dipakai sebelumnya mereka melarikan diri. Namun sekonyong-konyong dari pintu muncul sesosok bayangan yang tinggi besar.” kembali terdengar menimbulkan suara benturan yang sangat keras. aku tidak tahu kenapa engkau melakukan hal ini. Gadis yang masih muda. Begitu muncul langsung sebilah pedang yang bentuknya melengkung meluncur ke beberapa titik berbahaya Chien Ce dengan serangan dasyat. dari isteri keduanya Liem Bi Lian. Sesampainya di hutan pinus Chien Ce meminta berhenti. tapi ia masih berharap pedangnya juga mampu melukai lawan. mereka akhirnya beristirahat sebentar sambil mengobati luka-luka. namun ia didik . langsung menangkis serangan lawan. bahkan hampir seimbang. Meskipun berada di lingkungan perguruan yang tidak terlalu menjunjung kegagahan. Tangan kiri lawan tiba-tiba mengeluarkan uap hitam. pada suatu serangan pedang lawan dari atas sebuah tangkisan menghalau. Dari tangkisan ini ia merasakan getaran aneh. Kun-lun sin kiam hoat.Beberapa saat kemudian. tampaknya serangan demi serangan pedang lawan selalu terbentur tembok pertahanan ilmu pedang yang sangat kuat. Chien Ce memapaki serangan dengan tangkisan. Chien Ce sudah pasrah. seperti suara yang menusuk-nusuk dadanya. Jurus-jurus itu sangat kuat dan murni. Makin lama getaran itu dirasakan makin kuat menusuk dadanya. Namun kali ini wajah Chien Ce berubah pucat. “Chien ko. membuat konsentrasi Chien Ce menurun. terima kasih banyak atas bantuanmu. Darahpun mulai mengucur di beberapa tubuh Chien Ce. “Traang. Beberapa kali tangkisan membuat keduanyanya agak terkejut karena masing-masing memiliki sinkang yang sangat kuat. meskipun ia sadar serangan lawan pasti mengenainya. suasana menjadi senyap kembali. serangan-serangan pedang lawan seakan-akan mengepungnya. sekonyong-konyong lawan mengubah cara memainkan pedangnya.

langsung oleh orang-orang yang masih lurus di Yu Liang Pay, sehingga sedikit banyak tahu sifat-sifat pendekat. “Aku mengkhawatirkanmu, kauwnio sungguh selalu baik kepada saya!” “Sudah..tidak perlu kauwnio segala, panggil aja aku Bwee Nio. Sekarang kalau twako kembali ke perguruan, pasti pangcu marah padamu, sebaiknya twako pergi saja dari sini.” “Ya, memang aku akan pergi dari sini, terima kasih banyak atas bantuanmu, Bwee moy. Seumur hidup aku tidak akan melupakan bantuan ini, aku akan tulis di dasar hatiku, sebagai sebuah kenangan yang sangat indah dengan gadis yang pualiing manis,” kata Chien Ce romantis. Bwee Nio hanya tersenyum, ia masih terlalu polos untuk merasakan adanya getar-getar tertentu. Selama berguru di tempatnya, ia melihat Chien Ce sebagai pemuda yang sungguh mengagumkan, tampan, ramah, ringan tangan, tetapi tidak suka usil. Kepadanya pemuda itu suka sekali membantu, selalu bersikap hormat dan lembut. Sikap yang membuat gadis kecil itu sangat kagum kepadanya. Kakaknya sendiri Siong Lee juga tampan, tapi mulutnya ceriwis, kata-katanya juga kadang kasar, dan selalu memaksa kalau punya kehendak. Dan lebih buruknya lagi Siong Lee terkenal sangat angkuh di Yu Liang Pay, melebihi kakek dan ayahnya. Kepada Kwan Bu saja ia bisa bersikap seakan-akan mereka sederajat. Bisa dibayangkan sikapnya ke yang lain. Seakan-akan Yu Liang Pay miliknya seorang. Setelah bersoja, akhirnya Chien Ce meninggalkan Siong Bwee Nio yang untuk beberapa saat masih duduk tercenung, memikirkan alasan untuk berkelit. Chien Ce menuruni dengan cepat jalanan setapak Fan Cing san dan berniat kembali ke Kun Lun san. Chien Ce mengerahkan kemampuan lari cepatnya. Ia berlari terus sampai kelelahan. Setelah senja tiba, dan langit menjadi ungu sampailah Chien Ce di tepi hutan. Malam itu ia beristirahat di tepi hutan itu dan baru keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan. Entah kebetulan entah memang ada kekuatan gaib yang memandunya, Chien Ce siang harinya melewati padang bunga merah. Padang bunga merah ini padang yang sangat luas, jauh dari desa atau pemukiman penduduk. Ia berjalan perlahan, ketika suara derap kaki kuda terdengar mendekat. Awalnya ia tidak menyadari bahaya yang mengancam dari sosok-sosok yang dibawa oleh kuda. Barulah setelah mendengar desingan senjata rahasia, hatinya mencelos. Diloloskan pedangnya dan ia membalikkan badan sambil menangkis beberapa kali. “Cringg...criing...criiing....! tiga kali Chien Ce menangkis, tiga kali pula bunga api berpijar. Tiga buah amgi yang meluncur itupun bisa ditangkisnya. Ia terperanjat melihat empat orang yang datang menunggang kuda. Orang pertama bertubuh tinggi besar berkulit kehitaman, berhidung mancung berbentuk betet, kepalanya bersorban,

usianya ditaksir sudah delapan puluh tahunan. Tiga pengawalnya juga terlihat sudah tua, ada yang kurus ada yang gemuk. “Ha...ha...ha.....sam hengte, lihatlah seekor anak rusa didepan kita. Hayo kita balapan, siapa bisa menangkapnya duluan! Awas hati-hati ia adalah murid tiga orang jompo dari Kun Lun!” “Foi sicu, mari kita praktikkan ilmu baru kita, aku sungguh penasaran ingin melihat hasilnya, hi..hi..hi...!” ajak salah satu kakek tua yang bertubuh pendek. “Benar..ayo..ayo...!” timpal yang lain sambil menghunus pedang. Ketiga kakek tua pengawal kemudian duduk bersila di atas rumput yang tebal. Tangan kiri mereka ditempelkan pada dada kanan atas dekat pundak, tangan kanan yang memegang senjata berposisi lurus ke depan. Pedang ditudingkan ke arah Chien Ce. Lelaki bertubuh tinggi bersorban berdiri di belakang mereka. Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera. Sebilah pedang melengkung ditancapkan di depan kakinya. Tangannya bergerak-gerak ke depan seperti penari kecak. Tiba-tiba pedang yang ditancapkan tercabut dari tanah dan bergerak perlahan menuju ke atas tiga kakek yang bersila di depannya. Beberapa saat kemudian pedang itupun berposisi sama dengan pedang yang dipegang tiga kakek, itu. Namun sekejap kemudian pedang itu sekonyong-konyong meluncur cepat ke arah Chien Ce. Seakan-akan ada tenaga yang bisa membawanya pedang itu seperti digerakkan oleh tangan gaib menyerang Chien Ce bertubi-tubi. Chien Ce berusaha menangkis dan terjadilah perang tanding yang tidak kasat mata. Antara Chien Ce melawan sebuah pedang. Pada saat yang sama ketiga kakek yang duduk bersila kemudian menggerak-gerakkan pedangnya seakan-akan menggores-gores sesuatu yang ada di depan. Akibatnya luar biasa, Chien Ce merasa tubuhnya benar-benar tergores oleh tenaga gaib yang keluar dari pedang lawan. Ditambah lagi seakan-akan ada bunyi berdenging di telinganya, konsentrasinya menjadi buyar, sehingga pedang berbentuk melengkung beberapa kali mulai berhasil melukainya. Padahal luka yang kemaren, masih belumlah kering, masih ditambah lagi luka baru, betapa beratnya penderitaan Chien Ce. Ia semakin kepayahan. Pada jurus ke lima puluh, ia sudah sempoyongan. Namun rupaya musuh tidak ingin segera mengakhiri jiwanya. Terbukti kemudian ketika Chien Ce benar-benar roboh. Pedang yang menyerangnya ditarik oleh kakek tinggi besar bersorban. Pada saat yang sama ketiga kakek tua yang sebelumnya duduk bersila juga mengakhiri serangan dan bangkit. Dengan beriringan mereka mendekati Chien Ce, sambil tertawatawa gembira. Tertawa yang bisa menegarkkan bulu remang, karena tidak mirip dengan tertawa manusia biasa tetapi tawaan setan. “Ha..ha...ha...lihat kawan-kawan, seekor rusa muda yang kita dapatkan, akan kita apakan sebaiknya? Seperti orang jompo Kun Lun atau tosu buntung?Sungguh kasihan, nasib murid tak jauh-jauh dari gurunya.....”ujar orang tua bersorban. Sambil mendekat diputar-putar pedangnya.

Siapakah kakek-kakek, yang mengeroyok Chien Ce ini? Pembaca pasti masih ingat peristiwa di padang yang sama, ketika mereka mengeroyok orang ke tiga dari Kun Lun Sam-lojin. Memang benar kakek yang sudah terang-terangan membuka topengnya adalah Vicitra Rahwananda, atau yang disebut kawan-kawan dengan panggilan Foi Cit Ra, Foi sicu. Dan tiga kakek yang mengawalnya juga bukan orang sembarangan karena dia adalah tiga dari beberapa orang saja generasi di atas Liong Ping yang masih hidup. Mereka bersama-sama tinggal di gudang di dalam benteng bukit pedang. Orang-orang sesat macam mereka memang sudah biasa membicarakan kematian orang seperti kematian ayam. Mereka tak menyadari bahwa kematian adalah hak Tuhan yang tak bisa diganggu gugat. Jika belum saatnya mati, ajalpun tak jua menjemput. Hanya kurang dari dua tombak jarak mereka dari Chien Ce, tiba-tiba terdengar bunyi dengung dari hutan bambu kejauhan. Begitu sampai di padang, terlihat ada sepuluh orang berlari-lari ke arah mereka. Rombongan ini terdiri dari sembilan lelaki berusia di atas lima puluh tahunan dan seorang dara yang berusia tujuh belasan, yang berwajah cantik. “Hmmm....empat kerbau bau tanah mengeroyok anak muda, sungguh menjemukan!” ujar salah seorang yang baru tiba. Di lihat dari seragamnya, yang putih-putih dan memegang bambu putih, orang langsung tahu mereka adalah rombongan dari bambu putih. Memang benar, rombongan ini dipimpin oleh lelaki berumur lima puluh tahunan, memakai rompi warna cokelat muda, bernama Tik Coan Kok. Di samping kanan dan kiri berdiri dua orang tua berwajah khas, dua Tiauw Kwi, yang dulu ikut bersama Tiong Gi ke Hang Chow. Begitu tiba mereka langsung melontarkan lima bambu ke arah lawan. Lawan sempat mundur dua langkah. Namun sebenarnya bambu ini sengaja dilontarkan untuk menjadi pagar bagi Chien Ce. Begitu tiba di dekat Chien Ce beberapa orang mendekati tubuh pemuda ini untuk memberikan bantuan. Mereka menggotong Chien Ce ke pinggir kalangan. Liu Siang mengobati lukalukanya. *** Bagaimanakah Coan Kok dan dua Tiauw Kwi bisa sampai ke tempat ini? Sebenarnya bukan suatu kebetulan mereka sampai di sini. Sejak meninggalkan Hang Chow, Yung Ci memutuskan untuk mengunjungi puteranya Yung Lu di markas bambu putih yang terletak di sebelah selatan kota Siang Yang. Di markas ini kemudian Yung Ci diminta puteranya agar menetap supaya lebih bisa konsertrasi mendidik Tiauw Kwi. Dua bulan setelah Yung Ci tinggal di markas, Tiauw Kwi yang lain datang dan berkumpul di markas. setahun lamanya Yung Ci mendidik Tiauw Kwi yang tinggal tujuh. Ikut didik pula putera Yung Ci yang bernama Yung Seng. Pada waktu itu Yung Seng sudah berusia tujuh belas tahun. Berbeda dengan Kakeknya yang berwatak agak kaku dan berapi-api, atau ayahnya yang berwatak gembira, selalu ingin enaknya sendiri, dan mata keranjang. Yung Seng adalah remaja yang tenang dan sabar. Meskipun bakat silatnya tidak sebaik Tiong Gi ataupun Liu Siang, namun Yung Ci tetap puas, karena jika dididik dengan baik, kemampuannya tidak akan kalah dengan Tiauw Kwi.

Berbeda dengan sikap ayahnya yang lebih suka menyembunyikan diri, kelompok bambu putih yang didirikan Yung Lu sangat aktif terlibat dalam arena dunia persilatan, sehingga pengetahuan dan pengalaman mereka sangat kaya. Yung Lu juga sangat aktif merekrut anak buah dan melatihnya, sehingga di markas itu telah terdapat anak murid yang berjumlah lebih dari dua ratus orang, jumlah yang sangat diperhitungkan lawan. Karena sering membantu masyarakat di sekitar markas, dan juga penduduk kota Siang Yang pada umumnya, maka kehadiran bambu putih dapat diterima. Selain di luar kota Siang Yang, kelompok bambu putih sejak ada kabar penemuan lukisan milik Lau Cin Shan, membuka cabang di kota Heng Yang. Di cabang ini Yung Lu menempatkan lima puluh buah anggota, yang kemampuannya sudah teruji. Dari hasil pemantauan selama lebih dari satu tahun, Yung Lu melihat adanya gerakan dari Tok Nan-hai Pang, yang mulai mendekati Yu Liang Pay. Ia juga mendengar adanya sas-sus yang menyatakan bahwa Tok Nan-hai Pang telah mendapatkan lukisan berisi peta dan bahkan puisinya sudah tersebar di dunia kang ouw. Kalau ayahnya tidak suka terlibat dalam urusan warisan Lau Cin Shan, Yung Lu bersikap sebaliknya, menurutnya warisan Lau Cin Shan adalah warisan milik ksatria salju, dan sebagai ksatria berdarah murni ia merasa sangat berhak atas warisan itu, itulah sebabnya kenapa pihak bambu putih sangat antusias berebut lukisan Lau Cin Shan yang berisi peta penyimpanan harta karunnya. Setelah setahun dididik oleh Yung Ci, Yung Lu kemudian meminta agar Tiauw Kwi dilibatkan dalam pencarian lukisan. Awalnya Yung Ci tidak setuju, namun desakan terus menerus dari Yung Lu, akhirnya meluluhkannya, apalagi Yung Lu juga berjanji akan membantu mencari bibit-bibit baru yang dapat memperkuat barisan ksatria salju. Karena itu dibentuklah dua kelompok, yang pertama yang dipimpin oleh Coan Kok, bertugas untuk berkunjung ke gunung salju besar menengok perkembangan Liu Siang dan mencari bibit baru. Di perkampungan salju tempat tinggal nenek besar Toan Wei Sian, mereka tinggal selama beberapa hari, kebetulan sebulan sebelumnya datang serombongan tosu dari Kun Lun Pay, yang dipimpin langsung oleh Ki Liang tosu. Kedatangan Ki Liang tosu selain untuk menjalin tali persahabatan juga ingin meminta bantuan nenek besar untuk ikut membantu memikirkan, syukur-syukur bisa ikut membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh Kun Lun Pay. Kun Lun Pay sejak peristiwa di Yi Chang menghadapi ketegangan dengan Siauw Lim Pay. Utusan kedua belah pihak yang dikirimkan selalu mendapat serangan yang diduga dilakukan oleh pihak lain. “Begitulah locianpwe, suatu ketika pernah datang utusan dari Siauw Lim Pay, yang menyatakan bahwa anak muridnya tewas oleh pukulan tongkat khas Kun Lun Pay, mereka juga menuduh kami berkomplot dengan gerombolan penjahat dan berhadap-hadapan dengan biksu dari Siauw Lim. Sebaliknya ketika kami mengirimkan utusan ke Siauw Lim, dua dari lima utusan kami tewas, diserang oleh lawan gelap, namun dari bekas lukanya, jelas mereka kena pukulan cakar naga, khas Siauw Lim. Bagaimana pangcu kami tidak prihatin atas kondisi seperti itu. Sejak saat itu sudah tak terhitung berapa kali anak murid kedua belah pihak terlibat

bentrokan. Karena gunung salju besar termasuk tetangga kami, maka sengaja kami datang ke sini. Kami tidak terlalu berharap besar, karena kami juga tahu bagaimana keadaan di sini. Tapi barangkali saja kami bisa berbagi informasi yang penting bagi penyelidikan masalah ini. Oh ya, belasan tahun yang silam kami pernah menemukan seorang anak lelaki di antara beberapa orang yang tewas mengenaskan di daerah utara gunung besar. Di sekitar bekar pertempuran itu kami mendapatkan banyak sekali senjata rahasia berupa kepingan besi seperti ini, aku pernah mendengar dari suhu laskar yang bernama tengkorak hitam, benarkan memang benar-benar ada?” tanya Ki Liang tosu sambil mengulurkan tangannya menunjukkan sekeping besi berbentuk tengkorak kepada nenek besar. “Ooohhh.......Shu Jit Su...........ternyata kau tak pernah sampai ke suhu,” gumam nenek besar dengan mata menerawang. Tangannya gemetar memegang keping amgi (senjata rahasia) itu. Air matanya meleleh membasahi pipi, namun tak ada sedu sedan. Tanda kesedihan yang tertahan. Hanya sebentar saja nenek yang sudah kenyang asam garam meluapkan emosi sesaat, sesudahnya ia kembali lagi dengan ekspresi semula. Sungguh kematangan bathin seorang perempuan yang luar biasa. “Ahh, maafkan kami, tak kami sangka locianpwe mengenal rombongan yang meninggal itu. Kami telah menguburkan mereka semua termasuk kudanya. karena kami tidak mengenali kami tidak memberi nama pada batu nisannya. Tapi kami masih ingat tempatnya!” “Benar memang, aku yakin sekali mereka rombongan Shu Jit Su sekeluarga. Akulah yang menyuruh mereka meninggalkan negeri ini, mencari suhuku yang masih terhitung kakek Shu Jit Su. Antek-antek tengkorak hitam mengetahui rencana Yung Ci hendak menjodohkan puteranya dengan adik Jit Su yang bernama Shu Kiok Nio. Meskipun perjodohan itu batal, namun kehadiran Yung Ci ketahuan pihak lawan. Ketika kemudian muncul laskar tengkorak hitam menyerang rombongan Yung Ci, Shu Jit Su ikut membela Yung Ci. Nah karena ketahuan bisa silat Shu Jit Su dimusuhi oleh tengkorak hitam. Karena khawatir keselamatannya maka aku minta dia untuk mengungsi ke utara. Sayang ternyata semuanya sudah terlambat.” “Kiranya begitu kejadiannya. Kebetulan sekali kalau begitu. Perlu saya sampaikan pada saat ini putera Shu taihiap, yang kami beri nama Chien Ce sedang berguru pada Kun Lun Sam-lojin. Kalau locianpwe berkenan menengok, mereka ada di sebelan utara markas kami.” “Terima kasih totiang, budi totiang tak kan kami lupakan, kami berjanji akan memberi bantuan sesuai dengan kemampuan kami!” Sebulan kemudian kedatangan rombongan dari bambu putih diterima dengan gembira oleh nenek besar. Iapun menugaskan mereka untuk menemui putera Shu Jit Su, dan bersama-sama dengan Liu Siang, akhirnya rombongan ini berangkat ke Kun Lun, di Kun Lun mereka di

ha. karena toahengnya sudah meninggal. Ia hendak memberi aba-aba kepada enam anak buahnya untuk melayani tantangan. Hayo majulah. Vicitra meminta tiga tetua Yu Liang Pay menghadapinya. Tiga kakek tetua Yu Liang Pay ini memang sudah terlatih menyerang dalam barisan sehingga mereka bisa bekerja sama dengan baik. sehingga arena makin luas. “Biarlah kami melayani kalian sebentar!” “Aku ikut!” tiba-tiba Liu Siang juga sudah melompat ke samping dua kakek Tiauw Kwi. Ia juga menyampaikan bahwa Chien Ce sudah mereka kirim ke Yu Liang Pay.. namun kami tidak akan membiarkan setan-setan bangkotan seperti kalian berbuat jahat di depan kami!” “Ha. Karena serangan tangan kosong. namun tidak membuat rombongan Tik Coan Kok keder. Dengan membulatkan tekad ia berkata. Namun Tiauw Kwi berdua sudah maju ke depan. Dan pedang itu lantas kembali lagi ke tangan pemiliknya. Namun lawan yang mereka hadapi kini adalah dua Tiauw Kwi yang sudah digembleng oleh Yung Ci sehingga kelihaian mereka maju pesat dalam setahun terakhir. biar cepat kami memenggal leher kalian sebelum kami kerat daging bocah itu sekerat demi sekerat!” ujar Vicitra. jangan tanggungtanggung sekalian bersepuluh maju semua.ha. sedangkan Liu Siang menggunakan . Ditambah lagi dengan Liu Siang yang menyerang dengan tak kalah hebatnya.. anak-anak kemaren sore sungguh berani mati menantang kami. Jurus demi juruspun berlalu. Mendapat tantangan seperti itu Tik Coan Kok melototkan matanya kepada lawan. mampu di bendung oleh lawan. Melihat yang maju dua orang kakek dan seorang gadis.sungguh lucu. Hawa pukulan-pukulan yang dilepaskan juga makin lama dirasa makin berat. Tiauw Kwi juga melayani dengan mencabut pedang. Maka rombongan ini bergegas ke Yu Liang Pay. dan di lembah bunga inilah mereka bertemu dengan empat kakek tua yang sedang mengeroyok seorang pemuda.. lima bambu utung hingga tinggal tonggak-tonggaknya saja. Pedang itu seperti digerakkan oleh tangan saja menebas pagar bambu yang dibuat Tik Coan Kok dan rombongannya.. mulai mencabut pedang. maka tiga tetua Yu Liang Pay. Ji-lojin pada saat itu tinggal sendirian di gua. makin lama serangan-serangan kedua belah pihak makin cepat dan sulit diikuti oleh pandangan mata rombongan bambu putih. *** “Monyet-monyet bambu putih sungguh lancang berani bermain gila dengan tetua Yu Liang Pay!” kata Vicitra sambil melontarkan pedangnya ke depan. sehingga sekali tebas saja.terima oleh ji-lojin.. “Kami rombongan bambu putih tidak bermaksud turut campur... Sebuah adegan yang mengagumkan. Maka dimulailah pertarungan tiga lawan tiga yang sangat seru.sungguh lucu.

yang baru-baru ini sempat menggemparkan karena daya magisnya.. Kedua Tiauw Kwi menjadi terkejut dan khawatir melihat keadaan Liu Siang. lengkingan yang mengandung getaran yang luar biasa.. Vicitra sendiri dibuat . melompat mundur tiga tombak. Liu Siang mencari posisi yang tepat untuk bisa membantu memberikan perlindungan atau memperkuat pertahanan. sungguh sangat ketat. mulutnya berkemak-kemik. memang gerakan ilmu pedang ini sungguh dasyat. salah satu ilmu pedang terbaik di rimba persilatan. Liu Siang paling terlambat menyadari kelengahan sesaat mereka. mengakibatkan ketiga lawan seperti tersapu oleh angin yang tidak tampak. ia seperti sudah terkunci. Tongkat ini memang peninggalan salah satu ksatria salju yang bersenjatakan tongkat. tidak mampu melakukan tangkisan. dapat dibayangkan betapa hebat serangan pedang mereka.. Meskipun hanya sekejab namun cukup mengganggu konsentrasi mereka. Dan dimainkan oleh tetua yang ikut merintis perkembangan ilmu pedang ini sejak masih kanak-kanak. bahkan sudah dua kali berhasil menggores lengan lawan. baik Tiauw Kwi maupun Liu Siang merasa ada suara aneh yang menusuk-nusuk telinga. kedua Tiauw Kwi mengubah gerakan pedangnya dengan lebih banyak menyerang.! pedang lawan dapat ditangkis oleh salah seorang dari Tiauw Kwi. Melihat kedudukan ketiga tetua itu makin lama makin terdesak. “Auuoooooooooooooommmm!” Lengkingan dasyat keluar dari ketiga mulut mereka. Melihat kedua suhengnya sudah lebih banyak maju. kemudian mengumpulkan seluruh hawa khiekang ke pangkal pita suara. namun masih menyerempet lengan Liu Siang. meliuk-liuk bagaikan naga. Vicitra bersedekab. pedang berkelebat ke kanan kekiri. Akibatnya. Ketika sampai pada jurus ke dua puluh enam. Mereka bertiga kemudian menarik nafas hingga dadanya mengempang. namun masih diusahakan menghindari dengan menjatuhkan diri. Namun jangan dikira tongkat ditangannya rapuh. sehingga ketika sebuah tusukan mengancam dadanya. bergerak sangat hebat. Namun yang mereka hadapi adalah dua dari tujuh burung hantu gunung salju. dan bersiap melakukan serangan dengan tenaga Sai Cu hokang. Tangkisan dan serangan balasan dari dua Tiauw Kwi menyambarnyambar bagaikan rajawali. dan masih dibantu oleh Liu Siang. Mulai dari jurus kedua puluh enam. Tongkat di tangan Liu Siang adalah tongkat kayu cendana yang didalamnya terdapat baja yang keras luar biasa.tongkat. Mereka lebih serang maju kedepan. Pedang di tangan tiga tetua Yu Liang Pay. Pertahanan ilmu pedang mereka Swat Kong Kiam Hoat. Berkali-kali pedang di tangan Tiauw Kwi mengancam jalan darah utama lawan. nyaris tidak menyisakan satu celahpun bagi masuknya serangan lawan. pedang mereka berputar cepat hingga berdengungdengung seperti bunyi lebah. Akhirnya mereka seperti bersepakan. Mereka memainkan Yu Liang Kiam Hoat. “Pranggg. ia memang merasa cocok sekali bersenjatakan tongkat.

Posisinya tidaklah di atas tetua Yu Liang Pay. ketiga tetua Yu Liang Pay. bukan hanya karena kesulitan bernafat tetapi karena amarah yang mulai berkecamuk di dalam dadanya.laki-laki mulut buaya!” gumam Liu Siang sambil mengegoskan kepalanya. apakah aku sudah ada di sorga. kalau tidak keburu datang tentu nyawaku sudah tidak bisa diselamatkan!” “Chien Ce? Shu Chien Ce? Ya Tuhaaan. Begitu musuh mundur. “Ehm. sungguh ludah yang sangat menjijikkan.ehem. “Nama boanpwe Chien Ce. Tapi lain di mulut lain di wajah.syukurlah kongcu sudah bisa kami temukan dengan selamat.. cuhh!” Vicitra mengakhiri kata-katanya dengan meludah.mundur satu tombak.. sambil berkata. dimanakah aku sekarang.” Vicitra merasa serba salah. kalau boleh tahu siapakah nama dan dari mana asal kongcu?” kata Kiu Tiauw mengalihkan pembicaraan. sehinggi ia tidak dapat memerintah mereka. Nafanya sesak. wajahnya menghadap ke kiri. “Siapakah kalian?” “Ketahuilah Ce kongcu. terima kasih banyak atas bantuan locianpwe. dan sejenak kemudian Chien Ce sudah siuman. Rona merah pipi kiri dan kanan. dari Kun Lun san.. Namun belum sempat ia bertindak.” ujar Kiu Tiauw sambil mengangkat pundak pemuda yang masih rebah itu dan memeluknya. benarkan kau bidadari sorga?” ucap Chien Ce perlahan. sorbannya terbang entah sampai mana.. Akhirya dengan lemas. “Tunggu saja babi hutan bersorban! Kelak masih ada waktu bagi kami untuk mengusirmu dari sini!” balas Coan Kok tak kalah kasarnya. tapi kelak aku akan buat perhitungan. “Ah.. dan binar mata yang berbulu lentik itu.. seakan mengharapkan lebih banyak lagi pujian keluar dari mulut itu. kami ini rombongan dari bambu putih. biar lain kali kita ketemu lagi. Matanya seperti terpaku pada wajah gadis yang ada didepannya. Salah satu dari mereka kemudian menempelkan tangan ke punggung. kedua Tiauw Kwi mendekati Chien Ce. sudah balik kanan. “Ihh. Entah kebetulan atau tidak ketika siuman. dan begegas mendekati kuda-kuda mereka. ia terpaksa mundur. ke arah Liu Siang. kedudukan bahkan nyawanya bisa teranca. “Sai Cu hokang kalian sungguh luar biasa. Duhai bidadari. kalau ia kalau dan pemuda itu sempat ditolong.! Syukurlah kongcu sudah siuman. Nasibnya ditentukan oleh akhir pertarungan hari ini... Kita orang sendiri. kami bertiga bersama dengan kakakku Go Tiauw dan nona Liu . “Hari ini kalian monyet bambu putih boleh merayakan kemenangan.

namun hawa hangat di musim panas sudah mulai menjalari tubuh semua penumpang. mari kita mencari tempat istirahat yang nyaman dulu. ke Kun Lun Pay. ia terpilih menggantikan suhunya yang sudah sangat tua. ketika ia bertanya tentang makna selembar tulisan dari Ouwyang siaucay. Mari kita ikuti kembali petualangan Tiong Gi. karena itu sifatnya .Siang ini juga berasal dari negeri salju. Bahkan nenek besarpun berkenan untuk ikut serta rombongan. yang masih terhitung suheng Ki Liang tosu. Angin di awal musim panas berhembus perlahan-lahan. ia berpamitan ke Kiong tojin. akhirnya pada pagi harinya mereka memutuskan untuk kembali ke gunung besar dan melanjutkan lagi perjalanan ke barat. Ki Hun Sengjin adalah murid tertua Giok Yang Cinjin. Air sungai Yang tse mengalir dengan tenang. Di atas perahu Tiong Gi merenungkan kata-kata Kiong tojin suhengnya. Ciangbujin Kun Lun Pay. Dengan langkah mantap ia berangkat ke Yi Chang dengan menumpang perahu.” Akhirnya rombongan ini mencari desa terdekat dan menginap di bangunan tua yang kosong. Mereka kemudian duduk bersama untuk membicarakan masalah yang dihadapi. Membawa saksi ke Siauw Lim Kita tinggalkan dulu mereka yang masih sibuk berdiskusi di sebuah ruangan di salah satu gedung di markas Kun Lun Pay. Kebetulan ada perahu yang berlayar ke kota Wu Han. asal usul nenek moyangmu!” ucap Kiu Tiauw sambil matanya berkaca-kaca. soal negeri salju gampang diceritakan nanti. Dengan cepat Liu Siang dan Chien Ce menjadi akrab. maka Tiong Gi menumpang perahu ini. Chien Ce mendengarkan penuturan dari Kiu Tiauw dan ditimpali oleh Go Tiauw dan Liu Siang dengan penuh perhatian. Dua minggu kemudian mereka sampailah di Kun Lun Pay. sungguh kebetulan sekali ia bisa bertemu dengan orang-orang dekatnya. Setelah beberapa malam tinggal di kuil di luar kota An King. Tulisan yang yang berbunyi: Kebijaksanaan tertinggi seperti air yang memberi manfaat kepada segala sesuatu mengalir ke tempat rendah meski tak disukai orang. Kiong tojin menjelaskan panjang lebar mengenai sebaris terakhir dari baik puisi yang ditulis siaucay buta. pada saat-saat yang sedemikian gentingnya bagi keselamatan jiwanya. Ji-lojinpun akhirnya berkenan mengunjungi Kun Lun. Pada kesempatan itu Chien Ce juga mengundang gurunya untuk berkunjung ke Kun Lun San. Setelah beristirahat semalaman. Bab 18. Ia sama sekali tidak menyangka kisahnya seperti itu. terutama dalam merespon kejadian di Yu Liang Pay. Meskipun matahari belum ada sepenanakan nasi terbit. rombongan ini kemudian di terima dengan ramah oleh Ki Hun Sengjin. “Negeri salju? Di manakah itu? Benarkah aku berasal dari sana?” “Tentu saja panjang ceritanya.

berdekatan dengan Too. Kalimat yang dinukil dari kitab tao tik keng ajaran To. Banyak sifat-sifat air yang disampaikan oleh Kiong tojin yang memberi pelajaran bagi Tiong Gi, sifat yang selalu memberi manfaat sebagai sumber kehidupan, sifat selalu mengalir ke tempat yang rendah, sifat yang tenang namun juga sifat yang bisa menganyutkan apa saja yang dihamtam oleh gelombang. “Lihatlah air tidak punya mata, namun bisa berjalan, karena mengikuti sifat-sifat ini. Barangkali itu yang dimaksud oleh Ouwyang siaucay!” ujar Kiong tojin menutup nasihatnya.“Hmmm...sifat ini cocok untuk menggerakkan hawa sakti guna membuka jalan-jalan darah,” renung Tiong Gi. Maka dalam perjalanan selama empat hari, di atas perahu, dimanfaatkan oleh Tiong Gi untuk melatih kembali cara-cara bersamadi mengumpulkan hawa murni, dan mengalirkannya untuk membuka jalan darah di beberapa bagian tubuhnya. Tak terasa, ternyata setelah dengan tekun beberapa kali mencoba akhirnya Tiong Gi bisa merasakan manfaat dari tulisan Ouwyang siaucay, yang notabene bukanlah seorang pesilat. Karenanya maka di waktu-waktu lenggang ia terus melatih teknik mengumpulkan hawa murni. Sehingga mendapat kemajuan yang cukup pesat. Setelah empat hari, perahu akhirnya merapat di pelabuhan Wu Han. Dari pelabuhan ini tidak ada perahu lanjutan yang langsung ke Yi Chang, karena daerah di sungai itu sudah dikuasai oleh kelompok bajak sungai Tiat-sim heng-kang, sehingga Tiong Gi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan darat. Perjalanan darat yang ditempuh oleh Tiong Gi melalui bukit-bukit, padang, dan hutan belantara. Beberapa kali ia harus berhadapan dengan penjahat yang mencegatnya, namun dengan tingkat kelihaiannya yang dimiliki, mana ada penjahat yang mampu menyentuhnya. Pada hari kesepuluh dalam perjalanan darat barulah Tiong Gi sampai di Yi Chang. Sengaja Tiong Gi mencari warung makan yang cukup besar, dan seperti sebelum-sebelumnya, ia memilih tempat duduk di samping, sehingga cukup leluasa melihat sekeliling. Belum sampai makanan yang dipesan datang, tiga orang lelaki berpakaian singsat memasuki kedai. Mukanya terlihat kalut. Salah seorang dari mereka yang bertubuh agak gemuk mengeluh, “Suko, celakalah kita kalau kita berlama-lama di sini, kalau ketahuan gelandangan sabuk hitam kita pasti ditangkap!” Orang kedua yang berkumis tikus menimpali, “Benar toa-suko, kita harus segera mengambil sikap, apa sebenarnya maksud Chang susiok untuk mengundang kita makan di sini, bukankah berbahaya sekali?” “Kalian berdua tenang saja, Chang susiok pasti punya rencana untuk kita. Tempat ini cukup aman, para pengemis itu masih sibuk dengan kekisruhan di rumah mereka sendiri!” kata orang pertama yang berwajah tirus, bengis, dan berkumis.

Tak lama kemudian pesanan Tiong Gi tersajikan. Pada saat yang sama seorang lelaki agak pendek berusia lima puluhan memasuki kedai, dan langsung bergabung dengan ketiga lelaki yang sudah duduk mengelilingi meja. Mereka kemudian membicarakan sesuatu. Tiong Gi, tidak memperhatikan wajah mereka, namun ia memasang pendengaran dengan sebaik-baiknya. Ternyata lelaki tua yang baru datang itu memberi perintah kepada ketiganya untuk meminta bantuan ke Hek in Pang. Mendengar disebutnya nama Hek in Pang, Tiong Gi sudah mulai curiga. Selepas makan, ia kemudian membuntuti tiga lelaki tersebut, yang ternyata berjalan ke arah sungai. Tepat di suatu belokan di hutan yang tidak terlalu lebat, ketiga lelaki ini dikejutkan dengan munculnya seorang pemuda. Ternyata Tiong Gi yang mencegat mereka. “Heh, bocah gendeng, minggir! Biarkan kami lewat, atau kau terimalah ini!” lelaki yang agak gemuk yang paling berangasan, mengulurkan tangan hendak menangkap baju Tiong Gi. Namun beberapa sentilan membuatnya terdiam kaku dalam posisi tangan tangan kiri hendak mengcengkeram. Melihat saudara termudanya dengan mudah ditotok oleh lawan, kedua lelaki tersebut mencabut golok dan mulai menyerang Tiong Gi. Tiong Gi memapaki serangan mereka dengan dua kali kibasan. Dan hasilnya luar biasa. Golok di tangan lawan patah, dan mereka berdua terpelanting ke kanan dan ke kiri, tangan mereka rasanya seperti mau patah. Tiong Gi mengambil patahan golok dan menodongkan pada lelaki berkumis tikus. “Hayo katakan, apa yang telah terjadi di markas pengemis sabuk hitam, dan siapakah kalian?” “Aku tidak tahu!” “Wusss......crooott! Aaaaarrrch.......!!!” Patahan golok itu meluncur cepat, membabat telinga kiri. Darah mengalir membasahi leher dan dada. Lelaki berkumis tikus, melirik sepotong telinga yang tergeletak di tanah dengan tatapan ngeri. Ia hendak beringsut mundur, namun sebuah tendangan membuatnya roboh. “Jika kau tidak mengatakannya, bukan telinga sukomu yang tergeletak di tanah, melainkan telingamu, apakah kau mau seluruh panca inderamu kukerat sedikit demi sedikit?” ancam Tiong Gi. Mendengar ancaman seperti ini, akhirnya mengakulah si kumis tikus. Apakah sebenarnya tang telah terjadi di markas kaypang sabuk hitam cabang Yi Chang ini? Dua hari yang lalu perkumpulan kaypang sabuk hitam di Yi Chang kedatangan lima orang tamu daru markas pusat Chon King. Lima pengemis yang datang ini dipimpin langsung oleh Sin Hwat. Setelah beberapa waktu menyelidiki, akhirnya mereka mendatangi markas

cabang. Sin Hwat ingin mengajak pengemis di markas untuk kembali ke jalan yang lurus. Tapi pihak penentang mana sudi menuruti kata-kata Sin Hwat. Maka terjadilah pertarungan yang hebat, lebih dari sepuluh orang tewas dan puluhan orang lainnya akhirnya dipenjarakan. Namun Sin Hwat tidak menjumpai keempat tetua kaypang yang menjadi pimpinan mereka, termasuk pamannya. “Kemana perginya keempat pangcu?” tanya Sin Hwat kepada salah seorang pengemis yang menyerah. Ia mengenal pengemis muda itu adalah sahabatnya sendiri, yang dulu bersama-sama bercengkerama di tepi sungai Yang tse merayakan ulang tahunnya. “Sejak saat itu, ketua Tiong sakit-sakitan dan meninggal beberapa bulan kemudian. Setelah itu ketua cabang dipegang oleh Lim Kang lokay. Beliau gugur ikut ketika datang serangan dari Siauw Lim. Karena dua suhengnya sudah meninggal akhirnya Te Kang susiok, mengambil alih pimpinan cabang, namun baru sebulan timbullah huru-hara, yang memecah belah kaypang. Te Kang susiok meninggal dalam pertikaian ini. Dalang dari kericuhan ini adalah Chang lokay. Sekarang ia melarikan diri.” “Lantas pamanku? Kemana beliau?” “Beliau menghilang bersamaan dengan kepergianmu, kami malah menyangka ia ikut mengantarkanmu, eh sam-ko kau bakalan lama disini khan? Ajari aku ya...!” Sin Hwat tersenyum hambar, sutenya memang belum tahu bahwa kini dipundaknya terdapat beban tanggung jawab yang besar, namun ia tetap mengangguk perlahan. Keesokan harinya Sin Hwat mendatangi Kuil Kong sim liok si di sebelah utara kota. Namun ternyata kuil itu sepi, meskipun ada satu dua orang yang menjaga, namun sebagian besar penghuni kuil pergi ke ibu kota. Sin Hwat menangkap salah seorang yang memaksanya berbicara. Ternyata penghuni kuil sudah seminggu berangkat ke kota raja. Setelah berbicara dengan para tetua yang menyertainya, Sin Hwat akhirnya memutuskan untuk menyusul ke kota raja. Ia berangkat sendirian, sekalian meluaskan pengalaman. Begitulah kejadian yang baru-baru ini terjadi di Yi Chang, namun tentu saja tidak semua kejadian itu disampaikan oleh lelaki yang ditangkap Tiong Gi. Mendengar berita Sin Hwat telah kembali hati Tiong Gi menjadi tenang, setidaknya keadaan Yi Chang sudah tidak perlu dikhawatirkan, ia justru berencana menyusul Sin Hwat ke kota raja, “Bagaimana keadaan dia sekarang? Apakah sudah jadi pengemis yang sakti? Tentu saja sekarang ia makin matang,” pikir Tiong Gi. Tiong Gi baru saja mau beranjak ketika ia tersadar bahwa tiga lelaki itu hendak melarikan diri. Tiba-tiba saja di kepalanya terbersit pikiran untuk membawa salah seorang sebagai tawanannya ke Siauw Lim Pay. Maka

meloncatlah Tiong Gi mengejar salah seorang dari mereka, dan orang yang diinterogasi sebelumnya akhirnya tertangkap dan ditalilah tangannya. Selanjutnya dengan menggunakan kuda yang dibeli dari pasar, Tiong Gi melanjutkan perjalanan ke Siauw Lim Pay. Perjalanan ke Siauw Lim bagi seorang pemula macam Tiong Gi tidaklah mudah. Dengan menunggang satu kuda, Tiong Gi hanya mendapat petunjuk dari pedagang yang ditanya bahwa Siauw Lim berada di sebelah utara. Jarak antara Yichang yang berada di propinsi Ouw-pak dengan Siauw Lim di Ho lam barat, normalnya hanya memerlukan waktu beberapa hari. Namun karena tidak pengalaman serta membawa tawanan perjalanan Tiong Gi berlangsung hampir satu bulan. Bisa dibayangkan tingkat kesulitan yang dihadapi. Beberapa kali ia sempat dicurigai sebagai orang jahat, karena membawa tawanan dalam keadaan terikat. Beberapa kali tawanannya hendak melarikan diri. Bahkan pernah ada yang melakukan serangan senjata rahasia secara menggelap. Namun untung seperti ada senjata lain yang menangkis. Meski hanya sekelebatan, namun Tiong Gi yakin perjalanannya ada yang membayangi. Tetapi yang membuatnya tenang adalah karena ada bayangan yang sepertinya melindunginya. Masih ditambah perjalanan darat yang melewati bukit-bukit tandus, atau padang ilalang, hutan belantara. Beruntung ketika ia tiba di lereng pegunungan Hoa San, ia melewati sebuah padang yang sebenarnya merupakan tempat yang sunyi, yang jarang dikunjungi. Di padang itu ia mendengar seseorang seperti sedang berteriak-teriak berlatih silat. Dan benar saja, dari kejauhan ia melihat seorang pemuda sedang melakukan gerakangerakan silat, tubuhnya melayang-layang dengan ringannya, sementara itu seorang kakek tua berpakaian khas pendeta To duduk bersila di atas sebuah batu. Kakek itu bertubuh kurus sekali, rambut, kumis dan jenggotnya sudah berwarna putih semua. Melihat kedatangan Tiong Gi, mendadak pemuda itu berhenti dan menatap tamu yang tak diundang, dengan tatapan curiga. Tiong Gi segera mendekati mereka. “Mohon maaf atas kelancangan cayhe. Bukan maksud mengganggu jiwi, tapi kedatangan cayhe benar-benar ingin minta bantuan, sudilah menunjukkan letak kuil Siauw Lim Si.” “Hmmm, minta pertolongan dengan membawa seorang tawanan? Sungguh kami tak apa yang ada di benakmu anak muda,” jawab orang tua yang hanya duduk bersila itu. “Cayhe bisa menjelaskannya. Perkenalkanlah cayhe bernama Tiong Gi, utusan Sun Ciak Kun lociapwe dari Hang Chou.” “Dan aku adalah Cung Su, murid Nabi Lau Cu!” jawab kakek itu tanpa ekspresi. “Dan aku putra mahkota Chao Ceng!” kata pemuda yang habis berlatih sambil bersedekap dan mendongakkan kepala, berlagak seorang pangeran. Tiong Gi tertegun, ia menatap tak percaya, tapi yang bikin ia tambah heran, pemuda itu kemudian tertawa terbahak-bahak. “Ha...ha...ha.....Gi hiante, tak perlu basa-basi kalau memang murid Sun Ciak Kun, tentu saja kamu bisa membuka mata kami supaya kami benarbenar, supaya drama ini benar-benar happy ending (berakhir membahagiakan)!”

Tiong Gi kemudian tersenyum, otaknya yang cerdas akhirnya bisa memahami maksud mereka. Mereka kawatir ia hanya bersandirwara. Ia kemudian menunjukkan guci kemala pemberian gurunya. Kakek tua yang duduk tiba-tiba memandang takjub guci itu. Kemudian dengan perlahan ia berkata, “He..he..he....guci kemala itu memang punya Sun Ciak Kun, tapi cobalah tunjukkan keasliannya, bersiaplah menahan seranganku anak muda!” Selesai mengucapkan kata-katanya, kakek itu kemudian menggerakkan kedua tangannya kedepan, serangkum pukulan dasyat keluar dari tangan tersebut menyambar ke arah Tiong Gi. Jarak antara kakek itu dengan Tiong Gi berdiri lebih dari lima tombak. Namun Tiong Gi yang sudah siap juga menggerakkan tangannya dengan posisi bersilang untuk menangkis hawa pukulan lawan. “Desss....!” Hawa serangan lawan bisa dipunahkan oleh tangkisan Tiong Gi, namun ia terdorong satu langkah, dan masih merasakan hembusan gelombang hawa tersebut, meskipun sudah lemah. Kakek itu memandang kagum, kepalanya mengangguk-angguk. “Bagaimanakah kabarnya Sun Ciak Kun? Lama sekali aku tak jumpa pasti sekarang ia tambah keriput saja.” “Suhu baik-baik saja, siapakah nama locianpwe yang mulia?” “Orang memanggilku Hoa-san Siauw-jin, dan ini muridku yang terakhir Sim Houw!” Setelah saling berkenalan Tiong Gi kemudian menceritakan masalah yang dialaminya. “Kong sim hosiang? Aku tahu..aku kenal biksu suci itu. Beberapa tahun yang silam aku bahkan pernah berkunjung ke kuilnya. Singkat kata mereka berdua berkenan membantu Tiong Gi. Seorang anak murid tosu itu yang dikenalkan sebagai Hung Sim Houw bersedia membantu, setelah mendengar penjelasan yang panjang lebar dari Tiong Gi. Perjalanan dari Hoa San menjadi lebih santai karena Sim Houw sangat ramah dan pandai berkelakar. Tiong Gi jadi teringat Sin Hwat. Sin Hwat juga ramah, namun jarang berkelakar tidak seperti Sin Houw ini. Sehingga perjalanan lima hari serasa hanya sehari saja. Sesudah mendaki Siauw sit san, Sin Houw meminta Tiong Gi menambat kuda didahan pohon dan meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Sambil berjalan, mereka berbincang-bincang sambil mengawasi puncak-puncak gunung dan kuil Siauw Lim Sie dari kejauhan. “Gi-te, jagalah sikap dan bicaramu kalau menghadapi para losuhu di sana,” Sim Houw memulai perbincangan dengan ramah, karena lebih tua beberapa tahun, ia memanggil hiante (saudara muda) ke Tiong Gi. “Memangnya kenapa Houw-ko?” “Kuil Siauw Lim merupakan salah satu kuil yang sangat keramat. Gedung-gedungnya sudah berumur ratusan tahun. Biksu-biksunya sangat alim dan lihai. Kalau tidak hati-hati bicara, kau bisa menjadi gagu!” “Ah benarkah demikian?” “Benar, suhuku saja pernah membawa keledai ke sana. Pulang-pulang keledai itu tidak bisa bicara sama sekali.” “Ha..ha...ha....mana ada keledai yang bisa bicara Houw ko, kau ini bisa

Kong Ci menyikut tangan Kong Han disertai tatapan mata menegur. didatangi barong berbentuk kelabang. ia berkata: “Siauw-te Sin Houw dari Hoa San.jiwi siapakah eh siapa pula orang ini?” tanya Kong Ci Taisu. nanti kan para tetuanya akan datang. datang mengantarkan adik Tiong Gi yang ingin bertemu dengan Bu Sian Taisu. apakah dia ini sedang sakit?” tanya pendeta berbaju abu-abu dengan nada keren. Dengan panjang lebar ia menjelaskan kejadian yang diingatnya saat ditawan di kuil Kong-sim Liok-si. Tiong Gi merasa kecewa sekali. Tak lama kemudian. kita bisa bikin ribut di sini. “Anak buah??? Haa. dan berpaikaian kuning muda. bertemu dengan jembel berlengan tunggal.. Tiong Gi sama sekali tidak menduga mendapat respons dari tuan rumah seperti .saja!” Merekapun tertawa lepas.. Hampir semua pendeta Siauw Lim tahu belaka siapa Sun Ciak Kun.. Kebetulan. namun ada yang akan mewakili.. “Silahkan masuk ke pendopo.” Mendengar Bu Sian Taisu sedang keluar. hingga huru-hara yang menyebabkannya lari ke Hong Jie. ia ditemui dua orang biksu setengah baya.. “Dia adalah anak buah pengemis sabuk hitam palsu. mereka tiba di pendopo Lip soat teng. mereka membentuk komplotan untuk maksud jahat.” Pendeta itu makin terperanjat dengan disebutnya nama Sun Ciak Kun. karena beliau memang pernah belajar di Siauw Lim. “Ayo kamu jelaskan Gi-te!” “Memang tidak salah dia sedang sakit. “Kalau hanya anak buah sih. tidak biasanya ada tamu yang masih muda mencari Bu Sian Taisu. Kalau wakil dari Bu Siang Taisu tidak memuaskanmu.hanya anak buah?” ucap Kong Han Taisu dengan nada meremehkan. setalah beberapa menit menunggu. Kemudian bertemu dengan biksu berjubah merah. di Siauw Lin ini banyak biksu yang bersikap sangat bijak.” Salah seorang pendeta terlihat terkejut. hanya sayang Bu Sian Taisu sedang ada keperluan ke luar kota. Tiong Gi kemudian menceritakan maksud kedatangannya. Tidak menghiraukan tawanan yang cemberut dengan wajah yang nelangsa. “Ada keperluan apakah kalian bertiga datang menghadap. “Jangan khawatir. Dua-duanya pelontos. Selanjutnya ia menyerahnya lelaki tua yang wajahnya makin pucat. yang satunya lebih gempal bernama Kong Han Taisu. tapi yang lebih penting tolong suhu katakan siauw-te utusan Sun Ciak Kun locianpwe ingin menghadap.” Baik Tiong Gi maupun Kong Ci Taisu tertegun dengan ucapan terakhir Kong Han Taisu yang tak bisa dibantah kebenaran logikanya. “Omitohud. dan malulah mereka!” Benar saja dugaan Tiong Gi. Untung ada Sin Houw yang pandai menghibur. termasuk mengadu domba para pendekat persilatan. Sin Houw menghampiri dan sesudah memberi hormat. Biksu yang agak kurus memperkenalkan diri sebagai Kong Ci Taisu.” jawab Tiong Gi tegas.hmm. Namun Kong Han tidak berhenti sampai disitu saja ia masih melanjutkan. dua pendeta kelihatan mendatangi. Siauw Lim tidak perlu datang memohon-mohon bantuan kepada Sun Ciak Kun locianpwe yang kabarnya berilmu tinggi bagaikan dewa.

dengan berteriakteriak ia melabrak Kong Ci Taisu. “Omitohud. sedang Kong Ci Taisu yang menangkis tendangannya merasa tulang keringnya kesemutan. bahkan bisa membalas.aiihhh. sudah kita pulang saja Gite. kemanakah sebenarnya perginya Bu Sian Taisu!” bentak Tiong Gi dengan mengerahkan separoh khikangnya... “Tahan! Tak seorangpun boleh melakukan pembunuhan sembarangan di Siauw Lim!” “Desss. ia masih bisa menahan diri. ia masih coba bersikap sabar. Orang kalau sudah memohon bantuan berarti dirinya sudah kesulitan memecahkan permasalahannya.. Lebih kaget lagi ketiga sekonyong-konyong ada hawa dasyat dingin menyambar.!” Tendangan Sim Houw tertangkis. “Suhu. suhu sedang ke luar kota.sepertinya bantuanmu sia-sia Gi-te. namun ia tidak tahan mendengar ucapan Kong Han Taisu yang sangat tajam. Ia terdorong satu langkah.ini. tubuhnya menggigil. atau setidaknya bantuannya akan dihargai oleh tuan rumah. Ia menyangka akan disambut dengan penuh keramahan dan ucapan terima kasih yang besar. mungkin baru kembali satu minggu lagi.... sambil tersenyum-senyum. membuat dua biksu separoh baya itu bergetar... Adapun Kong Han. biarlah kita bunuh saja disini!” Sim Houw mulai pasang kuda-kuda hendak menendang lelaki yang sudah tidak berdaya itu. . kalau memang Siauw Lim bisa menyelesaikan sendiri masalahnya. tetapi jika nama suhunya diseret-seret dengan nada merendahkan seperti itu. Setelah saling berhadap-hadapan untuk saling menjajaki mulailah ia melancarkan beberapa serangan... Sim Houw sudah kehilangan kesabaran.sicu harap menahan diri.. Namun Kong Han lupa bahwa kedatangan wakil Siauw Lim ke Hang Chow adalah permintaan resmi permohonan bantuan... Terlihat mereka kemudian bersedekap memusatkan pikiran untuk menghalau pengaruh getaran khikang dari suara Tiong Gi. tak tahan untuk tidak ikut terjun. Kalau tahu diri sebenarnya kedua biksu itu malu melihat senyum penuh ejekan itu.... siapa bisa menahan kesabaran. melihat anak muda yang diserang tanpa sedikitpun menggeser kakinya mampu menahan serangannya. Ternyata hasil usahanya selama sebulan ini hanya untuk diremehkan. Suaranya mengguntur. masih saja hawa pukulan yang dilancarkan Tiong Gi menerobos pertahannnya. Betapa terkejutnya ia. gigi-giginya bergemeretakan. Wajah Tiong Gi mengeras. Dan kalau hanya dirinya saja yang diremehkan. Sim Houw tidak berhenti sampai disitu.!” Kong Han Taisu terdorong tiga tombak dan roboh kaku... Dengan suara keras ia berkata. dan sebagian besar pendeta Siauw Lim memang berharap datangnya bantuan bisa cepat dan segera mengatasi kemelut.. namun nada suaranya mulai meninggi. kalau jiwi ingin melancong dulu silahkan. minggu depan datang lagi!” kata Kong Ci Taisu.. Kong Han Taisu yang memang berwatak berangasan. merasa pihak tamu mulai cari gara-gara.... Tiong Gi merasa menyesal telah merobohkan lawan.. “Desss. Meskipun sudah mencoba menangkis.. mampir ke kota Lok Yang berpesiar!. “Waahhh.. “Kalau memang Siauw Lim tidak membutuhkan tawanan ini.” ujar Sim Houw.

sebentar-sebentar terlihat memucat dan tampak kesal..” “Baiklah Tiong Gi. Sebenarnya ada sedikit kegemasan dalam lubuk hati mereka. Ada sekitar tiga puluhan murid yang datang dengan tertib dan langsung membentuk barisan di belakang ciangbujin. siapa yang menjadi wakil Sun susiok?” Melihat kehadiran biksu yang lebih tua yang kedudukannya seperti sangat dihormati oleh yang lain.” Seorang biksu dari lima orang yang mengawal ciangbujin keluar . Kegaduhan di pendopo menarik perhatian murid-murid Siauw Lim. karena selempang berwarna merah kotak-kotak. pendopo itu didatangi rombongan biksu yang dipimpin oleh biksu tua berumur tujuh puluh limaan. kenapa guci ini diwariskan ke orang luar. Ia kemudian menyalurkan hawa murni ke tubuh sutenya itu. “Omitohud apakah yang terjadi di sini? Hmmm. Terlihat biksu tua yang berbadan kurus itu terkejut namun menganggukangguk. yang pagi itu sedang belajar. kegusaran Tiong Gi mereda. tolong urus tamu dan tawanan kita Dan kau sicu. Dan memang mendengar suara ini kedua biksu golongan Kong yang dihadapi mereka berdua... Biksu tua yang baru datang kemudian mengibaskan tangan tanda untuk menyuruh mereka berdiri. Gerakannya enteng sekali. Tak berselang lama. “Siauw-te bernama Tiong Gi. Cit te. Dengan suara lembut namun berwibawa kemudian ia berkata. Biksu tua yang dikawal oleh lima biksu ini menatap wajah kedua tamu mudanya bergantian. Kiranya suara itu dikirimkan dari jarak jauh menggunakan ilmu mengirim suara (Coan im jip pit).jiwi sicu. Baju kuning yang dikenakan meskipun sederhana namun berbeda dengan biksu yang lain.” kata Tiong Gi sambil menunjukkan gucinya. siapakah namamu?” tanya Bu Sim Siansu. Kedua belah pihak akhirnya menahan serangan. Muka Kong Ci sebentar-sebentar terlihat memerah.?”Rata-rata biksu tua di Siauw Lim tahu pasti riwayat guci ini. seperti jimat. “Guci sakti. sepertinya tidak menyentuh tanah.menyayat perasaan. ciangbujin Siauw Lim. silahkan duduk. harap bersabar menunggu di sini. selain itu juga tangan kirinya membawa tasbih dengan biji yang sangat besar. Meskipun wajahnya mengeras namun senyumnya tetap menghiasi bibir.. “Anak muda. menjadi terpaku. Dengan tutur lebih tenang ia berkata: “Siauw-te yang mewakili suhu. marilah ikut dengan kami. Kong Ci sudah melompat ke arah Kong Han ketika dilihatnya sutenya roboh kaku. Tiba-tiba terdengar suara bentakkan yang nyaring menggelegar “Berhenti! Hentikan pertarungan!” Namun tak terlihat ada tanda-tanda kehadiran manusia. Beberapa guru dan murid kemudian berdatangan memenuhi pendopo melihat apa yang terjadi.. Melihat kedatangan ciangbujin atau ketua partai kedua Kong Ci berlutut. Hanya sebentar saja Kong Han sudah bisa duduk bersila dan langsung melakukan siulian. Sementara biksu yang mengawal seperti dikomando mendesiskan suara kekagetan yang ditahan.. Dari getaran khikang yang dihasilkan menunjukkan pengirimnya bukan orang sembarangan. mohon maaf kalau kedatangan siauw-te hanya membuat kekacauan di Siauw Lim sini. Rombongan ini dipimpin oleh biksu berkepala kelimis dengan ikat kepala yang pada bagian dahi ada hiasannya.

Melihat lawan hanya menghidar. Kong Sun adalah murid dari Bu Kak Taisu. Tubuhnya merendah kedua tangannya bergerak-gerak memutar secara bergantian. sicu!” “Baiklah. Mereka kemudian menuju ke ruangan lian bun thia. Sedangkan seorang biksu yang berusia sekitar lima puluhan mempersilahkan Tiong Gi berhenti dan berkata: “Tiong sicu. “Silahkan mulai duluan.. karena tubuhnya sudah diselimuti oleh hawa sakti yang sangat hebat. Kong Sun merasa mendongkol lawan seenaknya saja bersilat bahkan masih sempat menengok ke samping. Namun kemanapun jari itu menyambar. Sebaliknya dari tangkisan lawan Tiong Gi bisa mengukur tenaga lawan. beliau mengangguk. Setelah saling bersoja. Maka mulailah ia mengeluarkan jurus-jurus pukulan salju. “Pukulan salju? Ah bocah ini…bocah ini pasti dari lembah delapan rembulan. Lawan mundur selangkah tangan kiri membentuk siku ke atas untuk menangkis. Ia mulai melancarkan totokantotokan sakti Im Yang Tiam Hoat. Biksu ketua dan keempat biksu lainnya kemudian duduk bersila di kursi lebar beralaskan tikar babut yang cukup tebal. Selanjutnya tubuh tadi meloncat tinggi dan melakukan serangan dari atas. Maka marilah kita berlatih silat sebentar!” Tiong Gi menatap Bu Sim Siansu. Ia makin hati-hati. Sekejab ia menoleh ke arah suara biksu tadi. perkenalkan aku bernama Kong Sun Taisu.. hong thio Siauw Lim balik kanan dan berjalan cepat diiringi empat biksu yang seumuran. dan seperti memiliki getaran kejut. murid nomer dua. Sebelum serangan sampai Tiong Gi sudah dapat merasakan hawa panas luar biasa keluar dari serangan ini. tubuh Tiong Gi seakanakan ikut terdorong oleh tenaga jari-jari yang menotok.!” Tiong Gi memulai serangan dengan sebuah pukulan dengan tangan mengepal ke arah dada. Kong Sun kemudian merubah cara bersilat. Seandainya jarijari itu mampu menotokpun tak seusap mampu mempengaruhi Tiong Gi. keduanya lantas memasang kudakuda. tanpa bermaksud meragukan kemampuanmu.. salah satu jenis totokan yang sangat ditakuti di dunia persilatan. “Plak!” Kong Sun terkejut sekali merasakan lengannya menyentuh tangan lawan yang sangat dingin.heeii benar kau adalah bocah yang dibawa oleh ketua Yung Ci. kami tentu saja sangat ingin berkenalan lebih dekat. Tiong Gi juga terkejut mendengar suara biksu itu yang dikenalnya. Ciangbujin dari Siauw Lim Pay. tanda persetujuan. Ia tidak mau . Selesai berkata Bu Sim Siansu. atau sute langsung dari Bu Sim Siansu. yang ia mendapatkan keyakinan bahwa memang biksu itu Bu Kong Taisu. Jari-jari tangannya menyambar-nyambar dengan suara mencicit ke arah delapan titik darah mematikan di tubuh Tiong Gi. lihat serangan hiaatt…. dan memang benar dia adalah biksu Bu Kong Taisu yang ikut meloloskan diri dari lembah delapan rembulan.dari barisan.” teriak salah seorang biksu yang ada di samping Bu Sim Siansu. ia tidak lagi menggunakan totokan Im Yang Tiam Hoat.

desss.. sekonyong-konyong dua bayangan maju ke depan. “Bu Kong dan Bu Kak sute. guru Kong Sun Taisu adalah biksu yang menekuni ilmu Kiu Yang Sin Kang. Masih beruntung Kong Sun. ia mendengar ada suara berkelebat sebuah sosok menuju ke suatu pot bunga. bahkan ia bisa menduga siapa adanya orang ini. Kiranya Bu Sim Siansu juga melihat sosok yang datang.!” Akibat tangkisan Kong Sun terdorong dua tombak. oleh karena itu jika tamu kita sanggup menghadapi kita akan mengajukan satu lagi. jangan tanggung-tanggung. namun sudah tidak terlihat lagi bayangan tadi. Belum selesai rasa heran mereka. Keduanya menghadap ke Bu Sim Siansu. majulah bersama. namun sebagai pemula di dunia persilatan. Kalau tidak mana mungkin siauw-te mampu mendesak suhu!” Jawaban Tiong Gi yang merendah cukup melunakkan kemendongkolan Kong Sun.ambil resiko. seperti dikomando. Sebenarnya kalau mau dalam sekali gebrakan saja Tiong Gi mampu menjatuhkan Kong Sun. aku tidak yakin kita bisa menguji tamu kita. Sungguh murid yang kita ajukan tadi bukanlah lawan tamu muda kita. . Bu Kak Taisu.. Belasan jurus berlalu. iapun kemudian mundur. Kiu Yang Sin Ciang. sehingga dengan bersoja ia mengakui keunggulan lawan.. siauw-ceng mengaku kalah!” “Ini karena siauw-te menggunakan sumber ilmu yang sama... kali ini kita kedatangan tamu yang sangat istimewa. namun karena tekunnya ia hampi tidak menguasai ilmu-ilmu yang lainnya. Ia menoleh ke belakang. Bu Kian sute silahkan! Bagaimanakah Gi-sicu. namun makin lama makin tampak Kong Sun terus terdesak. muridnya mendapatkan bimbingan juga dari Bu Sim Siansu sehingga bisa menguasai Im Yang Tiam Hoat. Bahkan kini ia menggunakan kombinasi serangan totokan dengan pukulan-pukulan yang menggunakan tenaga sakti Kiu Yang Sin Kang. Gerakannya enteng sekali bagaikan burung. Bu Sim Siansu sudah memberi sabda. Ia mengerahnya separoh bagian dari sin-kang yang dimilikinya.. “Plaakk. Untunglah sebelum Kong Sun nekad menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki ia mendengar suara suhunya menyuruhnya mundur. namun ia tidak surut. Setelah Kong Sun Taisu mundur. ia selalu punya keinginan untuk melihat jurus-jurus lawan. maka ia juga menggerakkan kedua tangannya untuk menangkis serangan dengan salah satu jurus dari Kiu Yang Sin Ciang. yang lebih murni. Tingkatannya dalam menguasai ilmu ini bahkan tidak disebelah bawah tingkatan Bu Sim Siansu sendiri. jika kalian maju satu persatu. Kembali ia melakukan serangan demi serangan dengan menambah kekuatan daya serang. Keduanya sepertinya sudah gatal-gatal ingin menjajal kepandaian Tiong Gi. apakah bersedia menghadapi sha-kak tin dari Siauw Lim?” Belum sempat Tiong Gi menjawab. kenapa bisa bersamaan. “Jurus-jurus sicu sungguh hebat. masing-masing juga merasa kaget.

pukulan-pukulan yang dilancarkan mantap dan kuat.“Aya. kalaupun mau apa kau kira masih sanggup ketawa? Sebelum digelitik kau pasti sudah pingsan duluan!” “Lo-suhu apakah bisa dimulai?” tanya Tiong Gi. Sin Houw keluar dari balik pot bunga.tunggu.bukankah akan lebih menarik kalau Houw sicu juga ikut latihan sebentar? Bagaimana Houw sicu?” “Kalau hanya sebuah latihan maka tidak sedikitpun siauw-te merasa keberatan. dengan senyum lebar yang tak disembunyikan. namun belakangan mereka tidak lagi aktif. mohon maaf telah berani lancang ikut menonton pertandingan persahabatan ini. mohon jiwi suhu tidak terlalu keras memberi pelajaran pada siauw-te. sungguh kehormatan besar sekali siauwte diperkenankan melihat pertunjukan ilmu-ilmu yang luar biasa ini. Mereka berdua sebenarnya masih lima sepuluh tahun lebih tua daripada ketua Siauw Lim yang sekarang. Kalau memang kesalahan ini tak termaafkan saya rela dihukum gelitik sepuasnya!” “Tidak ada yang perlu dimaafkan sicu. jauh lebih kuat dibandingkan biksu generasi Kong. yang masih bodoh ini. Tiong Gi melirik Sim Houw. lagi pula siauw-te masih belum kawin!” “Silahkan dimulai!” ucap Tiong Gi. silalahkan duduk di dalam saja!” Dan benar saja. dan kukira tak ada biksu yang mau menggelitikimu. Hoa-san Siauw-jin adalah guru Sin Houw.” “Oh ya. yang sedang menggunakan ginkangnya. dengan wajah yang tetap ceria. Puluhan tahun yang lalu nama mereka cukup terkenal di daerah Sansi.. “Tunggu. meskipun masih sedikit dibawah sucinya yang sudah sudah lama menghilang.. Hung Sin Houw memang murid suhu Hoa-san Seng-jin. Ilmu ginkang (meringankan tubuh) Hoasan Siauw-jin memang jempolan. Tidak percuma Bu Sim Siansu menjadi orang nomor satu di Siauw Lim. tubuhnya bagaikan tubuh seekor walet saja ringannya dan dengan kecepatan yang mengagumkan ia telah mengelak dari setiap pukulan . siapakah namamu sicu? Dan bagaimanakah kabar Hoa-san Siauw-jin (Orang rendah dari Hoa-san). “Sambut serangan!!” Tiba-tiba bentakan ini keluar dari tiga buah mulut secara serentak dan bergeraklah tiga orang paderi tua itu menyerang mereka berdua. pengetahuaannya dan pengalamannya di dunia persilatan sungguh sangat luas. “Siauw-te. sekali pandang saja ia sudah bisa menebak asal usul pemuda yang baru datang ini. kiranya sicu dari Hoa-san juga ingin menonton latihan.?” Sin Houw agak terkejut dengan ucapan ketua Siauw Lim yang tepat sekali menebak gurunya. “Terima kasih banyak lo-suhu.. Gerakan ketiganya amat cepat dan langkah-langkah mereka teratur.

yang menyerangnya. namun tiba-tiba tubuhnya seperti tertahan oleh hawa yang tidak tampak. Setelah memasuki jurus keduapuluh. sehingga beberapa kali ia seperti hampir terpelanting. namun semuanya seperti digerakkkan oleh satu jiwa saja. namun tangkisannya kalah kuat dibandingkan Tiong Gi. ia tak menyangka Sim Houw memiliki ilmu meringankan tubuh sedemikian hebatnya. . melainkan bergerak menurut ilmu barisan yang aneh dan hebat. Terpaksa pemuda ini menggunakan lengannya menangkis. Untunglah kerja sama dengan Tiong Gi bisa berjalan cukup baik. Tiong Gi sendiri sudah menggerakkan kedua tangannya secara bergantian. sehingga tak satupun pukulan yang mampu mengenai tubuhnya. Akan tetapi betapapun cepat gerakannya. dirasakan seperti terjangan badai salju di suatu saat. melompat kebelakang. Ke manapun kedua pemuda itu mengelak. Tiong Gi maklum biksu ini adalah guru dari Kong Sun. Apalagi pukulan Bu Kak Taisu yang mengandung sinkang yang sangat dasyat. Ia sudah mengerahkan hampir tiga perempat bagian sinkangnya. Sebaliknya dari pihak ketiga paderi tua itu. kiranya ia akan celaka di tangan tiga biksu ini. Ketiga biksu tua itu ternyata bukan sembarangan bergerak mengandalkan kepandaian perorangan. Belum pernah mereka bertiga menghadapi lawan yang sehebat ini. ada yang menggunakan totokan. setelah belasan jurus keringat dingin mulai membasahi leher mereka. Di pihak Sim Houw. apalagi keduanya masih begitu belia. Sehingga setelah belasan jurus posisi mereka belum terdesak. Pukulanpukulan tangan Tiong Gi. Berbeda dengan Sim Houw. Dan terlebih lagi ketiganya sepertinya sudah sejiwa sehingga gerakan-gerakan mereka seolah-olah diatur oleh satu pikiran. meskipun tidak ada satupun pukulan yang mengenai tubuhnya.dan perlahan gerakan para biksu itu mulai berubah. Mereka bertiga bersilat menggunakan berbagai ilmu yang berbeda. Meskipun lebih sering tertangkis namun satu dua pukulan yang mengenai tubuh mereka cukup membuat isi dada mereka terguncang. tentu saja mahir menggunakan Kiu Yang Sin Kang. mereka sudah menarik kembali tangan mereka untuk disusul dengan lain pukulan dari lain jurusan oleh hwesio lain. ada yang menggunakan pukulan tapak tangan. Beberapa kali saja menangkis. ada yang menggunakan tinju. Tiong Gi makin kagum. tiba-tiba ketiga biksu tua itu. Tiong Gi hendak mengejar Bu Kak Taisu. di situ telah menanti pukulan tangan kosong lain biksu yang disusul dengan pukulan-pukulan lain dari segala jurusan sehingga bagi keduanya seolah-olah tidak ada jalan keluar lagi. kini tidak pernah mereka membiarkan lengan mereka tertangkis lagi! Tiap kali lengan meereka ditangkis. Ia maklum bahwa andaikata ia tidak memiliki sinkang yang jauh lebih tinggi sehingga ia dapat mengandalkan kekebalan tubuhnya yang dilindungi sinkang dan mengandalkan pula kecepatan gerakannya mengandalkan ginkang. Tiong Gi sudah beberapa kali merasakan beberapa buah pukulan para pengeroyoknya yang tak dapat ia elakkan dan terpaksa ia terima dengan pengerahan hawa sinkang bergantian im dan yang. Barisan segi tiga yang kaya akan kembangan. dan disaat yang lain seperti pukulan godam. ia tidak dapat mengatasi kecepatan gerakan tiga orang sekaligus. terdengar seruan-seruan kagum dari para biksu yang tertangkis lengannya.

Siapa orangnya masih kami raba-raba. Karena di bagian bawah penuh maka mereka mencari tempat duduk di bagian loteng. “Pasti masakan bebek menjadi menu utama” pikir Tiong Gi. Menjelang kota Ceng Cou.” tutur Bu Sim Siansu dengan muka murung. Keributan di kedai Kao-ya Keesokan harinya Tiong Gi dan Sim Houw berpamitan. Belum sampai sepeminuman teh. Mereka kemudian menuju ke ibu kota. atau pengemis lengan tunggal.. Kedai yang mereka masuki tidak terlalu besar.” Seorang kacung kemudian mengajak kedua pemuda itu menuju sebuah kamar. Permintaan Siauw Lim jelas. Lepas sudah salah satu beban berat dipundak Tiong Gi. ada pihak ketiga yang mengadu domba partai-partai bersih. namun karena posisinya di pinggir jalan dan jauh dari kedai yang lain maka pengunjungnya cukup ramai. Hasilnya sama dengan temuan kalian. Siauw Lim memang kemudian memutuskan untuk tidak melibatkan diri di dunia bu lim. namun kami masih belum bisa bertindak tanpa bukti. Bab 19. Kami juga punya keyakinan bahwa ada pihak dalam yang membantu mereka. Terakhir menurut hasil pemantauan terdapat suatu pergerakan dari selatan menuju ke ibu kota. “Dua naga sudah keluar dari liangnya. Selanjutnya mereka kemudian merundingkan rencana-rencana ke depannya. Mereka kemudian memasuki kamar itu membersihkan diri dan beristirahat sebentar. namun setidaknya ada titik terang apa yang mesti dilakukan. Di atas pintu gerbang tertera nama kedai Kao-ya. Jika kita bisa menghadirkan Ang I Hwesio. Sore harinya ketika kacung yang sama menjemput mereka. di ruang pertemuan sudah duduk tujuh orang biksu dengan sikap sangat tertib.. kami akan bersabar dan sebaiknya sicu beristirahat saja nanti sore kita bertemu di ruang pertemuan Tat Mo. saat ini kami sudah mengirimkan Bu Sian Taisu ke sana. tokoh utama penggerak kerusuhan harus ditangkap untuk diadili. namun kami terus memantau keadaan.meskipun sekejab cukup untuk menghentikan serangannya. Dari Siauw Lim menuju ibu kota sebenarnya sudah dekat. mereka mendengar datangnya . “Semenjak dirundung berbagai masalah. Tapi kelompok mereka sungguh sangat kuat. “Omitohuud. tak mungkin Siauw Lim bersikukuh menuntut lebih. Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke ruang pertemuan yang cukup besar.. dua buah kursi yang telah disediakan. Salah satu dari jurus yang didasari tenaga Kiu Yang Sin Kang. tingkat atas. Di loteng hanya tersisa satu kursi kosong sehingga terpaksa Tiong Gi menunggu sambil berdiri. mereka berdua berhenti mencari kedai nasi. kami tidak bisa bergerak sendiri. meskipun tugas masih belum selesai.cukuplah sudah!” kata Bu Sim Siansu sambil menurunkan tangannya yang telah dipakai untuk mengirimkan hawa pukulan perisai kehampaan.. mungkin kita bisa mengorek keterangan lebih dalam. Panjang lebar akhirnya diskusi yang mereka bicarakan. Setelah ramah tamah mereka kemudian mendiskusikan perkembangan dunia persilatan terkini.

?” Tiong Gi hanya meletakkan jari telunjuk di mulutnya. dibandingkan Tiong Gi yang masih muda dan kurang pengalaman. naman Ho-pak Sanjin terkenal berwatak gagah. adalah nama yang menggetarkan seluruh pendekar di sebalah utara sungai Huang ho. meski kepalanya sudah ditumbuhi rambut namun Tiong Gi tidak lupa dengan bajunya yang selalu berwarna merah. keduanya berpakaian agak aneh. Kakek yang kedua berumur empat puluh limaan. berumuran enam puluh lima tahunan. “Ada apa? Kenapa wajahmu pucat sekali? Wah lihat gadis cantik yaa. belum tentu mereka mengenalimu. Tapi hanya sekejab saja. ksatria. Pemimpin rombongan ini yaitu Hiat Kiam Lomo. Meskipun tidak bisa murni digolongkan sebagai pesilat aliran putih. dan mengenal budi. Ia adalah sute dari kok-su kerajaan khitan yang berjuluk Pak San Koai Ong. tidak perlu kawatir. Orang kelima adalah kakek kurus berbaju biksu namun memakai caping sehingga wajahnya terhalang. Dengan tergopoh-gopoh Tiong Gi membalikkan badan dan memberi kode kepada Sim Houw untuk turun. Ia lebih tenang menghadapi situasi sulit sekalipun.. kumis dan jenggotnya dipelihara rapi. Orang yang mengenalnya pasti akan terperanjat melihat ia turun gunung dan bergabung dengan datuk-datuk hitam semacam Hiat Kiam Lomo. ia sendiri sudah hampir tidak mengenali lagi biksu baju merah. dengan muka serius ia berbisik ke telinga Sim Houw. karena memang pakaiannya khas daerah utara. Tiong Gi menjadi lebih tenang melihat tulisan itu. Ia kemudian mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan beberapa huruf: Sebaiknya kamu turun saja. mengenakan jubah berwarna biru tua. Wajah Sim Houw sontak memucat.rombongan berkuda datang. Di utara nama Ho-pak Sanjin Ha Chi Sui. Betapa terperanjatnya ia melihat siapa yang datang. siapa lagi kalau bukan Ang I Hwesio. Rombongan ini memang tidak lain adalah rombongan penjahat yang dulu mengobok-obok kelompok pengemis sabuk hitam. pura-pura jadi pelayan. Orang ketiga dan keempat tidak dikenali oleh Tiong Gi. Kakek yang pertama berkulit bersih.. seperti disengat kalajengking saja mendengar berita ini. tidak percuma pemuda itu punya pengalaman bertualang yang cukupan. sedang dua orang terakhir berpenampilan sebagai pengawal saja. Dua kakek yang turun dari kuda masih dikenali dengan baik oleh Tiong Gi. ia sudah . Tiong Gi melongok lewat jendela ke bawah.. Maka dengan perlahan ia turun dengan perlahan seperti tamu yang telah selesai makan. rambutnya digelung ke atas ditali dengan hiasan berbentuk bulat dari perak yang di tengah-tengahnya ada gambar pedang berwarna merah. Orang keenam dan ketujuh tidak dikenali oleh Tiong Gi. Belum sampai menginjak tangga kedua. datang membawa tamu pesilat dari khitan yang berjuluk Ho-pak Sanjin. Rombongan sembilan kuda itu ternyata bukan orang-orang sembarangan. Memang benar.

jangan.. Beberapa tamu terpelanting roboh. Ia masih melihat juragan pemilik warung disumpah serapahi.ain hendak memberi bantuan. Seorang pelayan ditampar dan ditendang. “Heh kamu tidak perlu bantu dia. Tiong Gi yang ikut berdesakan turun langsung mendekati pelayang yang roboh pingsan itu..bisa rugii aa... Dengan lagak sudah kenal Tiong Gi menggoyang-goyang muka pelayan itu. Untung saja.ampun tuan.. Tidak hanya yang di loteng saja. ia kemudian melucuti pakaian luar pelayan itu untuk dikenakan. namun buru-buru dibentak oleh pengawal yang barusan memberi tamparan. sehingga lawan tidak mengacuhkannya meskipun tamparannya hanya kena angin kosong. yang duduk dibawahpun buru-buru menghabiskan makanannya. kecuali Sim Houw. Seorang pelayan l. namun sebenarnya tidak perlu.. yang jelas tak berselang lama. ia masih menjewer juragan yang bertubuh gendut itu. Tangan dan kakinya masih sempat-sempatnya menampar dan menendangi para tamu tak bersalah... masuk ke dalam ruangan dalam. untuk tuan besarmu!” Tiong Gi membawa masuk pelayan itu ke suatu kamar dan membaringkannya di tempat tidur. dua orang anak buah Hiat Kiam Lomo tidak membiarkan begitu saja para tetamu lewat bebas. dan bersiap-siap hendak membayar.haiyaa. “Ampun.. entah karena bantuan pengobatan tersembunyi. ia bisa berkelit dengan pura-pura tersandung. bahkan uang hasil pembayaran mendadak para pelanggan dirampas salah seorang pengawal berbaju hitam.. Dengan lagak berat Tiong Gi memapah pelayan itu.jangan.. Setelah itu ia kembali lagi dan langsung menuju dapur. bangun Ma ko!” Entah sadar karena tepukan ke muka. Sepertinya ia membantah perintah anak buah Hiat Kiam Lomo. Dasar memang tangan sudah gatal.mendengar suara keributan di bawah. lelaki itu memang mulai siuman.!” . cepat siapkan hidangan paling lezat. Salah seorang pelayan hendak naik ke loteng. “Ma ko. hingga roboh tak sadarkan diri...!” “Ooo kau takut rugi yaa?? Hah! Masih untuk kami tidak sate tubuhmu saja!” Masih belum puas merampok. suasana menjadi kacau. Meskipun marah melihat sikap sok jagoan dari pengawal itu. “Eh tuan. karena orang-orang yang di loteng sudah buru-buru turun dengan penuh gopoh. namun Tiong Gi masih menahan diri.oe. Pemilik kedai menjadi kelabakan.. “Ayo cepat suruh semua yang ada di loteng turun! Kami akan menempati tempat duduk di sana! Siapa berani membantah akan bernasip lebih sial dari pada jongos muka kuda!” bentaknya..

Ia tahu memang kalau juragannya dimarahi orang... bersoja dan memeluk salah satu pengawal.iya.kamu sia. mana mungkin punya anak macammu. Dengan mengerahkan sinkang tenaga lembek kaki Tiong Gi menerima tubuh sebesar gajah itu tanpa mengalami luka sedikitpun.. Setelah semua masakan siap. “Ayo cepat loya... Untunglah sebelum mukanya menabrak lantai. “Ah paman Tan...... Namun Tiong Gi tidak melayani omelan juragan itu...” kata Sim Houw sambil berlutut dan menyembah-nyembah kepada Hiat Kiam Lomo. Sampai sepeminuman teh lamanya. siapa pernah punya keponakan macam kau? Ibumu hanya seorang pelacur jalang. Dan dasar memang lagi bernasib mujur. kelak kalau paman sudah pensiun tinggal aja di kampung kami paman!” “Kau.. mereka pasti sudah tidak sabaran! Biarlah saya nanti yang akan membantu membawa makanan ini ke loteng!” “Eh.. Dengan sigap ia membagi-bagikan masakan ke beberapa meja. Juragan itupun terdiam..lupakah sama keponakanmu? Wahh paman sekarang sudah jadi kapter rupanya. Mereka sudah terlanjur beranggapan tidak akan ada yang berani mati curi dengar pembicaraan mereka. kaki Tiong Gi sempat menggaetnya dengan gerakan tak kentara..“Sana cepat kerja masak yang paling enak untuk kami. Tiong Gi tidak melihat Sim Houw turun ke bawah.. Tiong Gi akhirnya membawanya ke atas.” “O.???” .?” Belum selesai juragan itu bicara Tiong Gi sudah berkedip-kedip memberi tanda agar ia menuruti perintah tamu yang baru datang itu.. tidat terbersit suatu kecurigaanpun ketika dengan sok ramah Sim Houw.. Dan melihat seorang pemuda yangh lemah seperti Sim Houw. Ia heran melihat Sim Houw sedang memijat punggung salah seorang tamu yang bepakaian asing itu. maka bisa dipastikan juragan itu akan memarahi anak buahnya... sehingga tidak peka lagi terhadap mata-mata.kau.. dasar babi pemalas!” kata pengawal itu sambil menendang pantat juragan... Namun dasar juragan sial. Untung saja rombongan itu sudah merasa sedemikian tinggi hati. seakan-akan tak sengaja. kalau ayahku seorang tuan tanah yang kaya raya.hamba hanya.eh ini tayjin ampunkan hamba. malah marah-marah tak karuan.. “Eh. entah apa yang dilakukan pemuda itu. ia tidak merasa kalau ditolong. dan segera mengomando anak buah yang lain untuk mempersiapkan masakan. ibu mungkin lupa memberi tahu ke paman. heh jangan ngomong ngaco balau yaa.. di gagang golok pengawal itu ada satu huruf tanda “she” dari pengawal yang berkumis njabrik itu...

Begitu datang ia diterima kembali oleh suhengnya dan banyak diberit tugas-tugas penting mewakili Kong Thong Pay. Namun hanya sedikit yang dapat ia tangkap. Kiranya mata mereka yang tajam tidak melewatkan pandangan kepada tamu-tamu yang datang. omongan bau kentut macam apa yang kau keluarkan. Juragan gemuk pemilik kedai itu kiranya juga tahu gelagat kedatangan orang-orang persilatan yang bisa bikin onar. ya benar memang rombongan ini dipimpin oleh Sim Beng Tosu. .Pengawal itu mendorong tubuh Sim Houw. aku liat sendiri kau masak begitu banyak. Belum selesai acara pesta pora di atas. Pada saat mereka mendengar berita mengenai pedang salju. Sim Houw akhirnya juga ikut menikmati makanmakan bersama mereka. ujung keping rata dengan meja. pasti aku akan celaka!” pikir Tiong Gi. Salah seorang diantaranya dikenal baik oleh Tiong Gi. “Celaka. maka ia mencari-cari Tiong Gi.. tiba-tiba salah seorang tamu yang berpakaian gaya utara berseru: “Heh keponakannya Tan. kemudian dengan tangan kiri keping itu digebrakkan pada meja. dengan sigap melayani mereka. Begitulah dengan gayanya yang tengil. “Prokkk. harap mencari warung lain!” “Ah. “Maaf tuan.. Di atas meja itupun masih terlihat bekas tapak tangan yang meninggalkan cetakan di atas meja sedalam setengah sentian. kalau sampai mereka ketebu pasti mereka terlibat bentrokan. Tiong Gi kemudian datang mendekat. kenapa kau tak sudi terima kami? Kau kira kami tidak bisa bayar??? Nih liat!” Tosu itu mengeluarkan sekeping uang perak. Sesekali ia curi-curi dengar omongan mereka. Namun belum sempat ia mengatakan sesuatu. Untung saja. padahal kalau sampai mereka mengenali diriku. Sim Houw pura-pura akrab dengan mereka. Ia tentu saja tak mau kedainya menjadi ajang pertarungan dua kelompok ini. Dua diantaranya adalah wanita. “Heh pelayan.!” Keping perak itu melesak ke dalam meja. dari atas sudah turun tiga orang. hingga terpelanting. Suasana di loteng itu benar-benar mirip pesta. mendadak masuk rombongan tosu berjumlah tujuh. Rata-rata mereka berumuran di atas empat puluh tahun. Sim Beng Tosu mendapat tugas untuk ikut memperebutkan pedang itu. Tiong Gi di bantu beberapa pelayan yang lain. sini-sini tolong kau pijiti punggung dan kakiku. Juragan itu terlihat kebingungan. hayo cepat kalian layani kami!” bentak salah seorang tosu yang bertubuh paling pendek. warung kami sudah tutup. kalau paman kau tak sudi akui kau. tak usah kau pikirin. aku sudah sangat kecapaikan ini!” kata Ho-pak Sanjin.

. Diingatkan hal ini. “Ah kongcu tampan apa tidak ingin lihat keramaian dibawah?” tanyanya dengan nada kesal. begitukah? Ingin kulihat seberapa besar nyalimu...Bak disengat kalajengking. “Hmm.. Sim Houw akhirnya ikut turun ke bawah.. Jembel yang pernah ditemui di kuil Kong sim liok si. Pada saat itu kawa-kawan Hiat Kiam Lomo sudah ikut turun melihat keributan di bawah. Dan terdengarlah bentakan keras seorang bercaping yang bukan lain adalah Ang I Hwesio.ha. benarkah? Kenapa yang datang hanya tujuh. Ia kemudian mendekati Sim Houw dan pura-pura membereskan mangkok yang sudah kosong. Sim Beng tosu kaget bukan kepalang melihat siapa yang ada dihadapannya. aku dengan anda baru saja dibebaskan dari lembah delapan rembulan. ketika mendadak. Tetapi Sim Houw masih belum juga turun. Melihat raut muka Tiong Gi yang penuh kecemasan.. “Ha.. mana satunya lagi?” Merah padam muka Sim Beng Tosu mendengar sindiran yang sangat menusuk atas ditahannya dirinya di lembah delapan rembulan. kau bicara ngaco balo.. Tiong Gi hampir bersorak melihat sikap kedua belah pihak yang kemudian terdiam. Ia sudah berencana segera minggat dari kedai ini.. “Ternyata kau boleh juga sutay!” ejek Hiat Kiam Lomo. “Wusss. iblis pisau merah! Jangan kau kira kami takut padamu.. Dilihatnya Sim Houw masih bercanda dengan pesilat dari khitan.kiranya Kong-thong pat-lo yang datang.. hiaattt. Membuat pendeta wanita yang berjuluk Sim Lian Sutay itu kelabakan dan terpaksa mundur tiga langkah.” bentak salah satu sumoi Sim Beng Tosu. “Heh. Ia pikir bisa memanfaatkan situasi ini untuk melarikan diri.. rupanya ia di sini malah enak-enakan minum-minum. Sampai di dekat Sim Houw kemudian disikutnya pemuda itu. Akhirnya ia memutuskan untuk naik ke loteng. meskipun dirinya sendiri belum sesuapun menikmati makan siang.. merasa keheranan. Sampai di sana mereka mendapati kedua belah pihak terlibat adu mulut.... di antara dua pihak yang sedang ribut-ribut itu ada seorang pengemis yang tiba-tiba nyonong tanpa permisi. “Sialan.!” serangkum hawa panas yang berkekuatan dasyat menyambar.” bentak Hiat Kiam Lomo sambil melakukan serangan dengan mengebutkan lengan jubahnya yang longgar.”pikir Tiong Gi. ...apa sebenarnya maumu. sungguh menggembirakan bisa berkenalan dengan ahli-ahli tongkat dari Kongthong! Aha bukankah anda ini Sim Beng tosu. bersiaplah.ha.sudah cukup... lomo?” Tiong Gi sudah hampir memutuskan untuk meninggalkan kedai itu.. sambil minum arak. Tiong Gi menjadi lebih khawatir lagi. Tapi siapa mengira yang datang adalah pengemis berlengan tunggal. dan langsung mendekati dapur.. “Sudah..

“Ahh aku ingat sekarang. seperti tatapan mata orang yang tak normal.. Pelayan-pelayan lain ribut tak tentu arah. Namun kiranya pengemis lengan tunggal itu punya kepandaian yang tidak boleh diremehkan. Tongkatnya membentuk pertahanan yang cukup kuat. sehingga kini kau datang mengantar nyawa!” Pengemis itu menoleh dan melotot ke arah Ang I Hwesio. Namun ia sama sekali tidak menduga bahwa pengemis yang baru datang inilah yang menjadi salah satu saksi kunci peristiwa di kuil Kong sim liok si. Ang I Hwesio memutar toyanya. rupanya kau yang datang.jangan bertarung di sini.kenapa kalian mengeroyok.. dan tanpa aba-aba kedua belah pihak langsung terlibat pertarungan. Karena sudah beberapa gebrakan justru Ang I Hwesio tampak keteteran.... haiyaa.” “Ayo kita bantu pengemis itu Houw ko!” kata Tiong Gi masih dengan berbisik. dikepung oleh kedua biksu berhati palsu..... Bahkan dari beberapa kali tangkisan Ang I Hwesio merasakan betapa kuatnya lweekang yang dimiliki oleh lawan. seorang pendek kurus yang juga bercaping ikut terjun membantu Ang I Hwesio. Toya ditangannya tergetar. Pengemis itu makin kewalahan. Karena di dalam kedai sempit dan tidak leluasa. beberapa kali ia mencoba untuk menotol tubuh lawan. perkelahian sudah berpindah ke luar. ia merasa tangannya kesemutan.!” teriak majikan berbadan gendut sambil berusaha melerai. tapi dasar memang di kehidupan dulu kau pernah berbuat dosa padaku.ha.ha.berhenti. Sementara itu pertarungan makin seru tapi kini kedudukan menjadi tidak seimbang. Tasbih di tangan kirinya digerak-gerakkan menyerang lawan. Ia mengira Tiong Gi gentar melihat lawan-lawannya. Tongkat bututnya diputar membentuk benteng pertahanan . ia melihat wajah pemuda itu penuh ketegangan.terdengar. dan akulah yang menyuruh seorang pengemis muda untuk mengantarkannya ke kuil Kong sim liok si. Tatapan matanya sungguh mengerikan... Telah beberapa pukulan dari kedua biksu palsu itu mendarat di sekujur tubuhnya... kira-kira empat tahun silam sehabis meminta obat kepada Kong sim hosiang aku bertemu dengan pengemis tua itu. Baru beberapa jurus sudah dua kali suara bag. Tetapi ia seperti banteng yang pantang menyerah.. Tapi buru-buru terdengat suara “hekk” ketika pengawal yang sebelumnya menendang pelayan muka kuda menyikut perut majikan itu. cuh betapa menjemukan!” Sim Houw mendekati Tiong Gi. ha.bug. “Berhenti. Kontan tubuh sebesar kerbau itu langsung terbanting menimbulkan bunyi gedebug yang cukup keras.“Heh jembel busuk.oe bisa rugi waa. di suatu kota kecil ia pernah bertemu dengan pengemis lengan tunggal itu. Dia kemudian menudingkan tongkatnya ke arah Ang I Hwesio.ternyata umurmu panjang juga. Barulah setelah ia memeras pikirannya ingatannya menerawang ke kejadian beberapa tahun silam. “Hei.

Toya ditangan biksu baju merah itu menyapu ke bagian bawah. tanpa menghiraukan pukulan dari biksu kurus.! Ang I hosiang mengaduh-aduh.. Sebuah serangan menggelap biksu kurus itu berhasil dielakkan.. Biksu kurus tak kalah terkejutnya. “Heii... Sebuah tendangan dari Ang I hosiang mengarah ke lambungnya.. .Trakk.. Mendadak terdengar teriakan dari belakang. pukulan demi pukulan makin mengurung rapat pengemis lengan tunggal.. Ia segera membopong pengemis yang sudah roboh. bagaimanakah bisa seorang pengemis gila mampu menguasai ilmu itu.. kakinya tertangkis oleh tendangan pemuda yang berpakaian pelayan.... Pada saat itu. sehingga darahpun mengalir dari sekujur luka.kebakaran. “Kebakaran....!” Sebuah pukulan yang dilancarkan biksu kurus mengenai dadanya.prang. menoleh ke belakang. Kiranya ia terlalu memandang tinggi kemampuan lawan...!” Sontak orang-orang yang menonton pertarungan yang tidak seimbang itu. Pada suatu kesempatan ia memang sengaja menerima serangan Ang I Hwesio. “Dessss. biksu palsu berhati iblis!” balas Tiong Gi tak kalas sengit. Namun dengan tangan tunggal.bukankah itu jurus Thai-kek sin-tung hoat dari Kun Lun Pay?” teriak Sim Lian Sutay. ia tak mengira tangkisannya berakibat seperti itu.... darah mengalir dari mulutnya.. ia terhuyung beberapa langkah... dada dan punggungnya. Pemuda yang barusan menangkis serang juga tak kalah terkejutnya. Sudah tiga kali tasbih di tangan kiri biksu kurus menyambar dan melukai lengan. Iapun roboh menjerit memegangi kakinya.. Saudara-saudaranya kemudian juga mendesis perlahan penuh keheranan. Pengemis lengan tunggal menotolkan kakinya dan melompat ke arah Ang I Hwesio. “Siapapun aku bukan urusanmu. praktis pertahanan yang dilakukan tetap lemah.... Tapi pukulan tongkatnya juga berhasil mematahkan toya lawan.. pengemis tua itu sudah terpelanting roboh. beberapa malah sempat masuk kembali ke kedai.. Saking kerasnya tangkisan hingga kakinya patah... Jurus demi jurus. “Bukk!.yang sangat rapat.krekk!” “Auuuhhhhh. “Siapa kau!” bentakknya...

Mendadak dari belakang terdengar suara bentakan. Hawa pukulannya sudah menyambar sebelum tangan sampai ke sasaran. Sim Houw berjumpalitan dengan posisi kaki di atas. “Plakkk.. bahkan tulangnya serasa copot. tasbih di tangan kirinya mengarah ke lambung kanan Tiong Gi. tingkatan Hiat Kiam Lomo bahkan sudah jauh lebih tinggi. Namun iblis itu keliru jika mengira Sim Houw tidak bisa berkelit. Hiat Kiam Lomo tidak tinggal diam.. sedangkan serangan utama adalah cakar di tangan kanan. dan menerobos dari bawah. Biksu kurus yang menyamarkan mukanya dengan caping secepat kilat melancarkan serangan sekuat tenaga.. Sementara Tiong Gi menggunakan tenaga benturan itu untuk terus mundur ke belakang untuk melarikan diri.!” Serangan dan tangkisan yang disertai tenaga lweekang yang sangat kuat membuat tangan biksu kurus itu tergetar hebat. sedang tangan kanannya membentuk cakar dilancarkan ke arah muka. Jika tidak mati maka kulit lawan akan melepuh dan menjadi borok di sekujur tubuhnya. Namun Tiong Gi bisa menduga bahwa serangan tasbih di tangan kiri hanya serangan pancingan. Namun kejadian yang berlangsung singkat itu sudah . Secepat kilat begitu lolos..!” Kaki Sim Houw tertolak.. dan digunakan untuk menangkis serangan tapak tangan Hiat Kiam Lomo. Di tangan Hiat Kiam Lomo ilmu ini menjadi dasyat bukan kepalang. Inilah salah satu kelebihan ginkang yang dimiliki oleh pemuda itu. Iblis tua itu kaget tidak kepalang... dan tibatiba sebuah kepala menguak kerumunan dan langsung menyeruduk Hiat Kiam Lomo. Hebat sekali serangan ini. namun bisa dielakkan oleh Tiong Gi. “Bresss. tubuhnya roboh dan terseret hawa pukulan sejauh satu tombak. ia tidak berusaha menarik pukulannya.Penonton yang sebelumnya menoleh ke arah belakang.. iapun terdorong dua langkah. Dua kali tangan Hiat Kiam Lomo menyambar. ikut terkejut melihat munculnya seorang pemuda yang tak lain adalah pelayan yang meladeni mereka. Maka dengan meliukkan badannya serangan tasbih itupun hanya menyapu baju luarnya. Dibandingkan dengan tingkatan Hoan Bin Kwi Ong ayahnya. sehingga terpaksa menunda serangan ketiga. dan melancarkan pukulan tapak kelabang yang berhawa racun. Merasakan sambaran serangan Sim Houw langsung merendahkan tubuhnya. Iblis itu terkejut namun tetap tenang.. Pukulan tapak tangan Hiat Kiam Lomo justru berbalik arah dan dimenuju ke Sim Houw. Mendengar jeritan Ang I hosiang barulah sebagian sadar bahwa mereka sedang ditipu oleh dua pemuda bengal. Ia sudah melompat ke arena. Sungguh gerakan yang sangat aneh luar biasa. Belum pernah pukulan tangan Hiat Kiam Lomo kuat ditahan oleh lawan. Kiranya yang muncul memberi bantuan adalah Sim Houw. sedangkan tangan kanan Tiong Gi mengepal dan bergerak dari bawah ke atas menangkis sambil mundur satu langkah.

Pagi harinya pengemis lengan tunggal siuman lebih dahulu. bersama suhunya dan Sun Ciak Kun. Sun Ciak Kun berhasil menghambat mereka. Saat berlarian mereka dikejar oleh rombongan Hiat Kiam Lomo.. meskipun hanya mendapatkan dua ekor ular yang tidak begitu besar. Tiong Gi sendiri yang perutnya keroncongan memilih mencari santapan makan malam. biksu kurus bercaping.. Begitu sadar ternyata mereka sudah berada di sebuah gua.!” Tubuh Sim Houw terlempar tiga tombak.. Ia merasa kepalanya langsung berkunang-kunang. Namun justru nyawa Sim Houw terancam karena biksu kurus bercaping yang melihat lolosnya Tiong Gi melampiaskan kemarahan pada Sim Houw. dan membawanya berlari. Dan lantas tidak ingat apa-apa. “Aku sudah memeriksanya. ia hanya dapat dipulihkan ingatannya pada kejadian yang paling berkesan di otaknya saja. Tiong Gi mengajak berbicara. “Eh. namun mendapat keroyokan empat tokoh bu-lim yang sangat kosen iapun kerepotan. selebihnya sudah tidak bisa disembuhkan. dan langsung memuntahkan darah segar. Empat orang pengejar terdepan adalah Hiat Kiam Lomo. “Dimanakah tempat tumbuh rumput itu suhu?” “Ada di pulau kabut!” “Pulau kabut???” tanya Tiong Gi tak percaya.... Dalam keadaan roboh kaki biksu yang ada di dekat robohnya Sim Houw langsung menendang Sim Houw.. mereka mulai mencari-cari tempat sembunyi dan berhasil menemukan sebuah gua. Setelah sebelumnya Hoa-san Siauw-jin berhasil menyelamatkan muridnya. ..” kata Sun Ciak Kun perlahan. Setelah malam tiba barulah mereka cukup aman. Saraf-saraf diotaknya sudah banyak yang rusak. namun sepertinya ia sudah tidak mengenalinya lagi.. hingga akhirnya ikut melarikan diri. Untuk itupun ia harus diminumkan sari bunga rumput embun yang tidak ada si sekitar sini. Beruntung ketika hampir saja mereka tersusul. Ia sudah tidak dapat diobati. padahal baru saja mereka mendapat serangan cukup kuat dari orang bertopeng. racun yang mempengaruhi sarafnya. Ia sudah belasan tahun keracunan. dimana aku?” “Sttt. Tatapan matanya kosong. Semalaman dua kakek itu merawat dua orang yang terluka.mampu membendung serangan Hiat Kiam Lomo sehingga Tiong Gi sudah bisa lolos. Aneh. Untunglah pada saat yang genting suhumu dan suhuku datang memberi pertolongan!” katanya sambil menoleh ke arah kedua kakek tua yang sedang bermain catur dengan gembiranya. muncullah Sun Ciak Kun.tenanglah Houw ko! Untuk sementara kita aman disini. Ho-pak San-jin dan pengawalnya. “Bresss. keadaannya sungguh lemah.

!” teriak kedua kakek itu hampir bersamaan. Orang-orang Hiat Kiam Lomo yang sedang membakar kayu semak dan serasah hutan langsung terpelanting ke kanan dan ke kiri begitu mereka bertiga keluar. yang juga memakai topeng. Dengan sembarangan ia kemudian mencengkeram kerah baju Hoa-san Siauw-jin sambil berseru keras di mukanya: “Kalau begitu kamu saja yang mencarikan rumput itu di neraka!” Tiba-tiba dari luar gua terdengar suara ancama halus. . Mereka bertiga langsung menghambur keluar. barulah ia akan menemukan pulau kabut. ayo bersiap keluar!” seru Cak Kun. “Siapa saja yang ada di dalam gua harap menyerahkan diri keluar. sehingga membuat bulu kuduk Tiong Gi meremang.” Orang yang tidak kenal Hoa-san Siauw-jin pasti marah besar diledekin seperti ini. Sepasang mata di balik topeng itu menatap dengan sorot yang sedemikian tajamnya. Hiat Kiam Lomo. Setelah beberapa saat mereka semua terpekur.. jika tidak gua ini akan ditutup dengan batu!” “Bau asap. dan dua pesilat kosen dari khitan berdiri di belakang.. Kedua kakek tua guru Tiong Gi dan Sim Houw juga terheran melihat orang bertopeng yang dilihat dari posisinya sepertinya kedudukannya di atas Hiat Kiam Lomo. sedangkan di depan mereka seorang bercaping mengenakan topeng dewa penjaga gerbang (Hengha Erchiang).. Tiong Gi.”Ya. pulau itu ada di sebelah utara.ha.. Di luar gua sudah menunggu empat orang yang berdiri tegak dengan sikap angkuh.ha.. Dinamakan begitu karena hampir sepanjang tahun ia selalu diselimuti oleh kabut. Namun tentu saja Sun Ciak Kun emoh dikelakari tanpa ada balasan. Orang ini bertubuh agak pendek.... Tapi sepertinya Sun Ciak Kun sudah kenal baik dengan gaya dan wataknya yang ugal-ugalan. Hanya pada bulan ke tujuh dan ke delapan saja kadangkadang ia bisa dilihat dengan kabut yang sangat tipis.. dan rata-rata bermata tajam. “Sialan mereka rupanya mau membuat kita mati kehabisan nafas..” ujar Sun Ciak Kun perlahan. masih ada satu tempat lagi dapat dicari rumput itu!” “Benarkah? Katakan dimana tempat itu?” “Di neraka! Ha.. Sun Cak Kun bertanya kepada Hoa-san Siauw-jin: “Siauw-jin apakah kau punya ide?” “Aha. Mereka mencoba mengingat-ingat siapakah tokoh yang yang memiliki ciri-ciri seperti di depan mereka. dari teluk Pohai orang harus berlayar semalaman menyusuri pantai. Ia menjadi teringat dengan orang-orang tengkorak hitam.

!” ucapnya dengan tatap tak percaya.Sun Ciak Kun? Si guci obat? Tak tahu ada angin apa yang membuat guci obat dari Hang chou menjadi berpihak pada pembunuh Kong sim hosiang!” ujar orang bertopeng itu. dan belum pernah pedang itu keluar dari sarung tanpa meminum darah. Pedang yang aneh sekali warnanya.. dan bahkan hendak dijadikan korban untuk iblis ratu kelabang!” “Ooo..jadi kamu rupanya bocah sial itu.siapa kau.tak tahu siapapun nama dan gelarmu. biar sekarang aku mewakilinya!” kata Hiat Kiam Lomo sambil menghunus senjata. “Kau. Sebelum maju Tiong Gi menatap gurunya meminta pertimbangan. Bahkan dengan suara yang tidak kalah menggelegarnya ia telah membalas: “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!” Orang bertopeng itu kelihatan terkejut mendengar balasan Tiong Gi yang memiliki khiekang yang tak kalah hebatnya. namun Tiong Gi dan dua kakek tua tampak tenangtenang saja. bocah yang dulu kau kurung. Meskipun masih berada di bawah tingkatnya sendiri.. Rupanya ia mengerahkan tenaga khiekangnya ketika membentak tadi. “Aku melihat kalian menyeret keluar pengemis itu dan memaksanya menyerang Kong sim hosiang! Jika tidak karena kalian panas-panasi mana mungkin pengemis lengan tunggal mau menyerang Kong sim hosiang!” lanjut Tiong Gi.“Hmmm. baiklah kalau dulu Kim-hu subo tidak berhasil mencincangmu.. Orang-orang yang lemah sudah terjengkang mendengar suara mengguntur ini. karena itulah maka iblis tua itu bergelar Hiat Kiam (pedang darah). “Pakailah gucimu! Jangan pernah tatap matanya!” . tapi kalianlah yang telah memaksanya!” bantah Tiong Gi.. aku Sun Ciak Kun takkan membiarkan orang mengasapku seperti mengasap tikus sawah!” “Hmm.. Sebilah pedang berwarna merah tua keluar dari sarungnya. Hiat Kiam Lomo langsung melompat ke depan dengan sikap mengancam... “Diam!!! Tutup mulutnya bocah gila! Kau anak kemaren sore tahu apa tentang pembunuh Kong sim hosiang!” bentak orang bertopeng dengan suara mengguntur.. “Kau pasti telah melupakanku. Hiat Kiam Lomo terlihat sangat terperanjat mendengar jawaban dari mulut Tiong Gi... Sungguh tak biasanya iblis ini mengeluarkan pedangnya. “Pengemis itu bukan pembunuh Kong sim hosiang.

ia mengubah Kiam hoatnya. Pertempuran ini benar-benar luar-biasa hebatnya. Hiat Kiam Lomo menyerang bagaikan setan edan dalam sekejap ia telah mengirim duapuluh lebih serangan yg membinasakan. demikian juga serangan pedang datuk sesat itu terarah. Gerakan pedang di tangan kanan iblis itu sungguh sangat cepat dan ganas. sehingga belakangan orang hanya bisa melihat sinar berkelebatnya pedang dan tak bisa mengenali lagi gerakan pukulan2nya. Dengan senjata yang lebih aneh. gerakan2 Tiong Gi kelihatan kaku dan perlahan. Bab 20.!” Dalam gebrakan pertama. Tubuh iblis pedang darah itu dibungkus sinar merah yang berkilauan. Tiong Gi segera memainkan jurus-jurus Kiu Yang Sin Ciang. Hoa-san Siauw-jin dan Ho-pak Sanjin menonton dengan berbinar-binar. bahwa si anak muda itu melayani lawanya dengan pukulan2 yg disertai lweekang yg sangat tinggi dan berselang seling. Mereka harus mengakui. ”Traangg. ”Jika aku tidak memperoleh kemenangan..Tiong Gi dengan tenang maju ke depan. Hiat Kiam Lomo benar-benar terkejut tak manyangka sama sekali bocah belasan tahun di depannya mampu menangkis pedang dan juga pukulan tapak kelabangnya. Tangannya bersoja. ilmu ini tidak bisa dibuat main-main.. Ujung pedang merah darah itu berkeredepan. Sun Ciak Kun sendiri tak kalah kagumnya. pedang Hiat Kiam Lomo masih tetap tak bisa menembus garis pertahanan si pemuda itu. tak disangkanya muridnya bisa memainkan guci dengan hebatnya. Pedangnya mendesingdesing bagaikan bermata. Dengan mendadak. Iapun tahu.! ”Plaaakkkk. pertempuran lantas saja berlangsung dengan hebatnya. seperti ikatan pinggang. Sambil menangkis dengan guci sakti yang dicekal dalam tangan kirinya. Di lain pihak. Tetapi musuh tidak menggubrisnya malah tanpa sungkan2 lagi menebaskan pedangnya. seolah2 puluhan batang pedang menyambar dengan cepat mengancam delapan jalan darah kematian di tubuh Tiong Gi. Pertarungan di depan gua Sebaliknya Tiong Gi juga sangat terpesona menyaksikan kehebatan ilmu iblis murid nenek kelabang emas ini.. Hiat Kiam Lomo membuka serangan dengan jurus delapan jalan darah kematian. Akan tetapi orang2 yg berkepandaian tinggi mengetahui. keringat dingin mulai membasahi lehernya. Biapun sudah menyerang bagaikan topan.. Hiat Kiam Lomo mulai merasa risau. Itulah Jiauw tiam hoat Jiu Kiam(ilmu . Setelah lewat gebrakan pertama. Makin lama Hiat Kiam Lomo makin mempercepat serangan pedangnya. bahwa tersohornya nama guci sakti bukanlah isapan jempol. Tapi biarpun begitu. orang2 tersebut masih merasa sangat kagum akan lihainya Hiat Kiam Lomo.. Kemana saja Tiong Gi bergerak. sedang tangan kirinnya melancarkan ilmu silat tangan kosong yang sangat keji karena mengandung hawa yang sangat beracun serta dilembari sinkang yang sudah tinggi sekali. Kelebatan buli-buli kemala yang menimbulkan warna kehijau-hijauan menyelimuti tubuh pemuda tanggung itu dengan sangat rapat. dimana aku harus menaruh mukaku?” Memikir begitu. seraya membentak keras. pedang yg kaku menjadi lemas.

hampir-hampir saja membunuh suci dari Hoa-san Siauw-jin. kemudian ia mengirup banyak udara.pedang lembek memutari jati tangan) itu yang semuanya memuat lima puluh lima jurus. sebuah ilmu hitam yang mengandung unsur magis dan kekejihan yang luar biasa. guru Hiat Kiam Lomo. Namun dipihak lain Tiong Gi memusatkan seluruh perhatiannya. Dengan menggunakan ilmu menyedot tenaga bumi.!” Hiat Kiam Lomo terdorong ke belakang. Tali rambutnya dilepas. ujung pedang mendadak membengkok dan menyambar pundak kanannya. tangannya mula-mula dirangkapkan di depan dada. ”Ngeekk. Demikianlah. Begitu ia menyerang. Sekonyong2 pedang merah itu menyambar dada Tiong Gi. Sedangkan tangannya berubah berwarna merah. Inilah ilmu yang baru diciptakan oleh nenek kelabang emas.. kemudian setelah dekat dengan lawan tangannya bergerak-gerak dengan cepatnya. Dari gerakan tangan keluar hawa serangan yang dasyat luar biasa. Hanya dengan meminum air di guci sakti saja. getaran tenaga sakti itu sudah menekan isi dada Tiong Gi. orang harus mempunyai Lweekang yg sangat tinggi untuk mengubah sifatnya pedang dari kaku menjadi lemas. Begitu mendarat ia merasakan perutnya mulas luar biasa. darah berwarna biru mengucur deras dari pundaknya. Tiba-tiba dari seluruh tubuhnya seperti keluar kabut yang berwarna kuning keemasan. sebuah ilmu yang diberi nama kelabang emas mengejar arwah. Dalam menggunakan ilmu pedang ini. Sepanjang hidup Tiong Gi belum pernah bertemu dengan kiam hoat yang seaneh itu. Sulit dibayangkan kedasyatan ilmu ini. Tapi sebelum menyentuh dada. Kemudian ia memasang kudakuda dan berganti gaya bersilat. ia mengengos sebab sudah tidak keburu untuk menangkis lagi. Mendadak tubuhnya dijatuhkan ke depan. Mula-mula tangannya lurus . tak terasa darah mengalir dari mulutnya. Karena dengan bersenjata banyak menghamburkan tenaga. sehingga rambutnya yang hitam tampak riap-riap. sebelum serangan itu sampai. ia bersiap memainkan jurus Swat sian kuan men (dewa salju membuka gerbang).. Keadaan Tiong Gi juga payah. maka dapat dibayangnya betapa dasyatnya. puluhan tahun silam suami nenek kelabang emas. hanya dengan bersalto ia selamat dari terjengkang. Ilmu ini merupakan kembangan dari pukulan ilmu tapak kelabang yang dikombinasikan dengan ilmu menyedot tenaga bumi. Mendadak tubuh Hiat Kiam Lomo melesat ke depan dan berputar-putar di udara dalam posisi masih menelungkup. melihat sambaran pedang ke arah jalan darah di lehernyanya. ia terhindar dari keracunan karena memang pedang merah darah di tangan Hiat Kiam Lomo mengandung racun yang sangat jahat. dan hanya hanya bisa ditundukkan oleh pendekar bukit merak dan pendekar Siauw Lim. Dengan posisi menelungkup seperti hewan melata tangan dan kakinya dipentang. Jurus ini kemudian dikombinasikan dengan ilmu silat Kiu Yang Sin Ciang. Hiat Kiam Lomo menancapkan pedang di tanah. yang merupakan jurus paling hebat dari silat pukulan badai angin salju yang telah dipelajari dengan penuh keyakinan. Mendadak terdengar suara “Croott… !” ujung pedang membal dan menikam pundak kirinya! Pada saat hampir bersamaan tendangan kaki kanan Tiong Gi mendarat telak di perut lawan. bahwa serangan pedang yg lemas seperti sabuk atau selendang sangat sukar ditangkis. Dapat dimengerti.

. perlahan-lahan tapak tangan itu bergerak ke atas sehingga posisinya tegak lurus dengan bumi atau sejajar dengan tubuh. pasti kau antek Yung Ci!” Sekonyong-konyong tubuh itu meluncur cepat ke arah dua pihak yang bertarung.. dari awal tidak pernah melepaskan mata dari orang bertopeng ini sehingga ketika ia menyerbu ke dalam arena. Karena hawa sakti itu bergerak mengikuti gelombang tinggi.. Adapun tangkisan kedua kakek tua terhadap...!” Maka terjadilah pertempuran yang luar-biasa hebatnya.wuss..!” “Haiiiitt... Pertemuan mereka bersamaan pada saat puncak pertemuan kedua tenaga dengan kekuatan penuh dari Tiong Gi dan Hiat Kiam Lomo. jelas ia telah terluka sangat parah. Sun Ciak Kun langsung meminta Hoasan Siauw-jin membawa masuk Tiong Gi. Inilah ilmu silat pukulan badai angin salju tingkatan yang sangat tinggi. Tapi inilah kekeliruannya...blaarrrrr. Kedua tangan Tiong Gi kemudian berputar-putar secara indah. empat tombak.blarrrrr!” Tubuh Tiong Gi terdorong ke belakang. tangan kiri empat kali “Hiaaattttt.... Ilmu Kiu Yang Sin Ciang yang dikembangkan oleh Sun Ciak Kun memang bisa menyerang tanpa hawa pukulannya dapat dirasakan lawan. marilah kita berlatih sebentar!” . ia sedikit tenang karena meskipun teluka parah namun nyawanya belum putus. hayo kalau kamu masih belum puas. majulah!” Orang bertopeng itu melirik ke arah Hiat Kiam Lomo. Dari tubuh Tiong Gi seakan-akan muncul uap yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Sebenarnya uap itu bukan keluar dari tubuh melainkan uap yang ada di sekitarnya yang mengenai tubuhnya yang telah menjadi dingin oleh ilmu silat badai salju. Sun Ciak Kun dan Hoa-san Siauw-jin. ”Manusia bertopeng.. Hanya orang-orang yang memiliki lweekang dan khiekang yang tinggi saja yang dapat menguasai ilmu ini. Keduanya mengirimkan pukulan-pukulan dari jurus kungfu yang sudah mencapai taraf tinggi sekali.. ”Sun Ciak Kun.. Mendadak orang bertopeng yang ada di pihak Hiat Kiam Lomo berteriak kaget. kemudian tapak tangan itu mulai tergetar hebat sekali tandan bahwa pengguna jurus ini telah mengerahkan tenaga khiekangnya dengan kekuatan makin lama makin penuh.. Pada awalnya Hiat Kiam Lomo merasa di atas angin karena ia sama sekali tidak merasakan hawa pukulan lawan.... dan ia seperti langsung ditarik masuk ke dalam gua. sedangkan ia menghadapi setan bertopeng itu. “Swat im soan hong sin ciang!Heiii darimana kau dapatkan ilmu itu... debu tanah berhamburan kemana-mana tergencet dua arus tanaga sakti yang saling berbenturan... kedua kakek tua inipun tak bisa berpangku tangan lagi. hampir berbarengan mereka melesat ke arah orang bertopeng itu. orang tua bau tanah..... bahkan bisa berubah menjadi kristalkristal es yang kecil sehingga terlihat seakan tubuhnya diselimuti oleh intan permata. seranggan membokong orang bertopeng juga membuat orang itu tertotal dan hanya dengan berpoksai tiga kali saja ia bisa menghindari jatuh terhempas. Sebaliknya tubuh Hiat Kiam Lomo terlempar seperti ranting terbawa gulungan ombak dan dihempaskan di pantai karang. ”Wusss. Pohon-pohon di sekitar pertempuran itu menjadi tumbang.kedepan dengan tapak tangan menghadap ke bumi.. tangan kanan lima kali.... dan terlihat dua orang khitan itu mendekati untuk merawatnya..

Setelah lukanya ditutup. dan ia diberi bantuan hawa murni oleh Hoa-san Siauw-jin. namun harapan sembuh sangat besar. seakan tidak menyadari bahwa Sim Houw sudah siuman. Cengkeraman demi cengkeraman sentilan demi sentilan menyambar-nyambar bagaikan hujan dan angin dalam sekejap. darimana kau mencuri ilmu itu?” bentak Sun Ciak Kun.bukankah itu jurus merak sakti?Iblis laknat.ha. meskipun isi dadanya terguncang hebat... Maka bisa dibayangkan tingkat kehebatannya.Sun Ciak Kun. dengan dilambari sinkang Kiu Yang Sin Kang. ilmu silat suhengmu sebenarnya tidak ada harganya bagiku. Sungguh dasyat sekali pertandingan ini. namun ia terdorong dua langkah. Itupun masih terdengar omelanomelan seperti anak kecil kalah bermain. ”Heiii.!” Sebuah pukulan dasyat dilontarkan oleh orang bertopeng.”Aku sudah siap!” Berbeda dengan pertandingan antara Tiong Gi dan Hiat Kiam Lomo. ”Ha. ”Paling tidak kau perlu istirahat tiga hari penuh untuk memulihkan tenagamu.. untuk berbalik arah dan melompat ke belakang menyambar tubuh Hiat Kiam Lomo dan berkelebat pergi diikuti oleh dua orang dari khitan. Bahkan ketika Sun Ciak Kun mulai mengubah serangannya menjadi pukulan-pukulan dari jurus tapak budha khas Siauw Lim. Setelah kembali ke gua Ciak Kun merasa tenang karena keadaan Tiong Gi tidak terlalu parah. Sun Ciak Kun menangkisnya. dan pundaknya terluka cukup dalam.. ”Wah. kenapa biji caturku bisa kaumakan? Kau curang! Dasar manusia rendah!” . Totokan dengan totokan juga.” kata Hoa-san Siauw-jin.... Sore harinya setelah enam jam bersamadi.. karena salah satu kakek itu seperti memanfaatkan kelengahan lawan saat menoleh untuk melakukan suatu manufer serangan catur. yaitu enam belas jurus merak sakti. keadaannya jauh lebih segar.. cengkraman kedua yang lebih cepat dan lebih dahsyat sudah menyusul. namun semua jurus-jurus dilambari tenaga sinkang tingkat sempurna. Sun Ciak Kun bersilat dengan ilmu silat khas Siauw Lim yang dikuasainya seperti Kim kong ci dan pukulan cakar naga. mereka baru tergerak untuk menengok. Anehnya lawan juga mengenali ilmu Siauw Lim ini. Tangannya bergerak-gerak kadang melentikkan jari-jarinya kadang mencakar. Baru saja cengkraman pertama gagal.” ”Blaarrr.. mohon bantuan. bahka ia kemudian melawan cakar naga dengan ilmu yang sama. Dua kakek tua itu masih main catur.. Sun Ciak Kun itu seolah-olah seekor naga yang terbang di angkasa sambil mementangkan cakarnya sehingga semua gerakan orang bertopeng di bawah kekuasaannya. Barulah setelah Tiong Gi memberi tahu mereka. ”cianpwe keadaan lomo sekarat. Mendadak Ho-pak Sanjin berseru. tapi sayang aku harus menyelamatkan Hiat Kiam Lomo. tubuhnya terasa lebih baik. pihak lawan masih bisa menghindari bahkan melawan dengan jurus-jurus yang sangat dikenal oleh Sun Ciak Kun.. selamat tinggal.ha. pertandingan dua dedengkot datuk persilatan lebih lamban.. sedangkan musuhnya seperti memanfaatkan daya tolak.. pada saat itulah Sim Houw baru siuman.

. “Benar. meskipun perjalanan mereka terhitung lambat karena Tiong Gi dan pengemis lengan satu masih dalam keadaan terluka. Hoa-san Siauw Jin dan muridnya pergi mencari rumput kabut. Perjalanan ke Siauw Lim cukup lancar dan aman.”Eh. besar kemungkinan di sanalah berkumpul musuh-musuh Siauw Lim. dengan tatapan tak percaya. Sun Ciak Kun. maka mereka hanya memberi petunjuk-petunjuk teoritis saja. kita tidak perlu ikut-ikutan. Empat hari pertama dimanfaatkan untuk bersamadi memulihkan kesehatannya. Karena akan banyak kubu yang menginginkannya.” kata Tiong Gi ikut menimpali. Di Siauw Lim mereka diterima dengan penuh hormat dan gembira. Yang jelas memang ada gerakan pesilat dari selatan memasuki ibu kota. Padahal semenjak Gak taihiap berpulang ilmu itu seperti lenyap di telan bumi.” kata Bu Sim Siansu.. masih sok-sok jago huu. Selanjutnya mereka saat ini sedang bergerak ke barat untuk mencari pedang salju. ..lihat muridku sudah siuman. yang penting kalau memang ilmu cakar naga sudah muncul dari pimpinan mereka.” ujar Bu Sian taisu.. “Tapi harus kuakui bahwa musuhku yang bertopeng itu memiliki kelihaian yang luar biasa. menurut cerita Sim Houw. Meskipun tidak secara langsung memberikan praktiknya. karena secara praktis kemampuan Tiong Gi sudah sangat tinggi.sudah.. Berdasarkan laporan Bu Sian taisu. sehingga ketua Siauw Lim sendiri mengaturkan rasa terima kasih yang sangat dalam. di mana markas mereka di ibu kota tak ada yang tahu.” kata Sun Ciak Kun.. Tiong Gi dan suhunya tinggal di kuil itu selama tiga minggu. Semua kejadian diceritakan dengan runtut oleh murid dan guru. sudah tersebar luas berita ini. Baru setelah itu Tiong Gi mendapatkan banyak petunjuk dari Sun Ciak Kun bahkan Bu Sim Siansu ketua Siauw Lim juga berkenan memperbaiki cara bersilat dan mengumpulkan hawa murni berdasarkan Kiu Yang Sin Kang. “Dapat dipastikan akan terjadi perebutan pedang yang sangat hebat. bahkan kini di dunia kang ouw.. Siapa dalang di balik gerakan itu masih sulit diraba.!” Untunglah kakek yang diomeli tidak membalas lagi. kau ini kakek tua sudah pikun rupanya. Pada malam itu juga mereka membagi tugas.. Setelah enam hari berjalan cepat sampailah mereka ke Siauw Lim. ada dua pergerakan di ibu kota. Pada saat itu Bu Sian taisu juga sudah datang menyampaikan kabar terbaru di ibu kota.eh. Dalam pertemuan yang diadakan di suatu malam mereka mendengarkan laporan masing-masing pihak dan berharap mendapat masukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi..sudah. Seumur hidup baru sekali ini kalah catur secara mengenaskan. Dua hari setelah mereka berdua tiba. entah siapa dan dari perguruan mana? Sungguh mengherankan! Bahkan ia bisa memainkan ilmu merak sakti peninggalan Gak taihiap. dan bergerak perlahan. kepergian mereka ke barat memang untuk memperebutkan pedang salju. datanglah Bu Sian taisu. matanya masih menatap meja catur yang dibuat dengan menggoreskan kuku pada batu gua yang sangat keras. muridnya dan pengemis lengan tunggal pergi ke Siauw Lim. “Pedang itu adalah hak ksatria salju. Malam harinya mereka memutuskan untuk keluar dari gua. karena tidak ada keturunannya yang mewarisi kepandaiannya. sudah tahu dari tadi hampir keok.

“Tapi apa alasan yang tepat?” Tiba-tiba terlintas sebuah pikiran yang baik. meskipun tugas yang kuberikan padamu sudah banyak yang terlaksana.” Usul Sun Ciak Kun bisa diterima. Di atas perahu ingatan Tiong Gi melayang-layang ke berbagai peristiwa yang sering dilalui di atas perahu. kumis dan janggutnya dicukur. dan ingin mengetahui keadaan mereka sekarang. Sehingga Tiong Gi memberanikan diri pamit ke suhunya. Rambutnya telah dirapikan. Sun Ciak Kun. dan yang dipilih adalah model pakaian pendeta To. ia sudah bisa memilih pakaian. Untuk menjelaskan duduk perkaranya dengan baik. “Muridku. tapi seperti petani. “Begini saja. Kini ia sudah tidak lagi berpenampilan seperti pengemis. sebenar-benarnya. Namun sejauh ini. ia masih belum bisa mengingat apa-apa. Tiga hari lamanya Sun Ciak Kun memberikan pengobatan dan perawatan pada pengemis lengan tunggal. ke arah barat. Tiong Gi.” “Jadi bagaimana baiknya?” tanya Bu Sian Taisu.kalau begitu dunia persilatan sedang menghadapi ancaman yang sangat hebat.Semuanya mendengarkan dengan penuh ketegangan.” pikir Tiong Gi. Tepat tiga minggu tinggal di Siauw Lim. karena ada keperluan yang lain. keadaan pengemis itu jauh lebih baik. Jawaban-jawabannya juga sudah mulai waras. “Ah.. ia sulit sekali menyelami apa yang tersembunyi dalam diri anak ini. dan keesokan harinya berangkatlah rombongan Bu Sian taisu diiringi oleh dua orang suhengnya Bu Kak taisu dan Bu Kong taisu. Setelah agak baikan nanti aku akan membawa pengemis itu ke Kun Lun. Hal ini makin menguatkan kecurigaan bahwa dia adalah tosu dari Kun Lun Pay. Dan ingatlah di rimba persilatan ini banyak iblis berkepandaian tinggi. “Suhu. berbahaya sekali kalau kamu sendirian. Setelah lebih dari dua minggu tinggal di Siauw Lim. Meskipun ingatannya belum bisa pulih. “Aku sekarang sudah punya kitab kamus huruf kuno. Sim Houw dan pengemis lengan tunggal ke Kun Lun. lagi pula aku masihbelum habis mengerti . kalau aku boleh usul. Mereka melakukan perjalanan melalui sungai Huang Ho. pasti sekarang bisa membacanya. “Peta” ya demi sebuah peta ia rela meninggalkan bibi Ciu. Mendapat pikiran seperti itu kemudian ia berencana akan memisahkan diri dari rombongan ke Kun Lun. namun kita belum dapat mendamaikan Kun Lun dengan Siauw Lim. Apakah suhu berkenan kalau aku mencari mereka?” Sun Ciak Kun menatap muridnya lekat-lekat. pahkan ketua Siauw Lim sendiri tidak tenang duduknya. Kini bahkan aku sendiri yang memikul tugas itu.. Dan tiba-tiba ia ingat tujuannya ketika melarikan diri. ** Dua minggu kemudian kemudian datanglah Sim Houw membawa obat. besok juga Bu Sian taisu berangkat ke Kun Lun Pay. namun pada hari ketiga ia sudah mulai tampak tenang dan bisa diajak bicara dengan baik. Aku dan muridku akan menunggu di sini sampai obat dari Hoa-san Siauw-jin datang. suhunya tidak ikut mengantar ke Siauw Lim. Bahkan setelah tiga hari dilakukan pengobatan. Aku curiga pengemis ini berasal dari Kun Lun Pay. dan dua biksu dari generasi Kong. taecu sudah lama meninggalkan Yung Ci suhu. taecu sudah kangen ke mereka.

Hanya saja semak belukar di . “Celaka. ia melompat ke daratan.. Sorot matanya tiba-tiba mencorong dan berkilat-kilat. sepertinya kata-kata itu tidak muncul dari otak tapi keluar begitu saja dari dasar hati. sungguh berat sekali penderitaanmu. mohon maaf. “Begitukah Tiong Gi? Coba katakan kenapa engkau ingin meninggalkan kami?” “Aku ingin berebut pedang salju!” tiba-tiba saja terlontar ucapan itu dari mulut Tiong Gi.. Sun Ciak Kun terkejut mendengar jawaban ini. Ia memang tahu bahwa muridnya membawa dasar watak yang sebagian gelap. anak ini sudah mendapatkan ilmu-ilmu yang lihai.kenapa manusia bertopeng tempo hari seperti memusuhimu.” ujar Sim Houw.. “Suhu aku hanya ingin mengembalikan pedang itu kepada yang berhak! Aku tidak ingin pedang itu jatuh ke tangan orang-orang jahat yang tidak bertanggung jawab. Perahu menepi ke selatan. “Yung Ci. merasa menjadi orang tua yang bawel terhadap anaknya. bukan maksud boanpwee lancang mencampuri. kalau sampai salah arah bencana besar akan melanda rimba persilatan” pikir Sun Ciak Kun. dan dari sungai ini ia naek perahu untuk menyusuri tempat dulu ia mengahabiskan masa kecil. ** Gua itu tidak banyak berubah bentuknya. Ia sendiri terlambat menyadari apa yang barusan diucapkan. Tiba-tiba saja kakek tua yang begitu dihormati di rimba persilatan sebagai sesepuh kaum putih. Tiong Gi menundukkan mukanya..” “Hmmm. “Oii Gi-te nanti kalau kamu sudah jadi taihiap (pendekar besar). Jarak yang ditempuh sungguh cukup jauh. jangan lupakan aku yaa.” kata Sun Ciak Kun sedih.Tiong Gi. namun dalam waktu satu minggu ia sudah bisa menemukan sungai Yang Ce. mana takut sama segala macam manusia jahat seperti itu. tapi tidak ia ketahui kenapa demikian. tapi dia sekarang sudah dewasa.Yung Ci. Ia terus berlari melakukan perjalanan cepat. Jika kau pergunakan kepandaianmu untuk kesesatan. maka hancurlah dunia persilatan. tapi ucapan sudah terlancut meluncur dari mulutnya sudah tidak bisa dihapus lagi. kepandaianmu saat ini sungguh kepandaian yang jarang dimiliki oleh pesilat manapun... Ia kemudian bergerak cepat menuju ke selatan. Sim Houw sendiri bergidik menatap mata Tiong Gi ketika mengucapkan kata-kata itu. Tiong Gi hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. “Untuk apa kau ingin memiliki pedang itu muridku?” Setelah bisa menguasai diri Tiong Gi sadar. kemudian dengan suara perlahan ia mohon pamit. sudah bukan anak-anak lagi. Sun Ciak Kun sendiri tiba-tiba merasa tidak lagi mengenali muridnya. Sorot mata itu seperti mengandung wibawa yang sukar untuk dibantah.” keluhnya dalam hati.awas aku akan jitak kepalamu!” seru Sim Houw. betapa banyak musuh-musuhmu.. Dan ingatlah nasihatku nak. ada terbersit kekhawatiran di dalam hatiku. Mendadak Sun Ciak Kun dilanda kekhawatiran kalau-kalau ia salah memilih murid. anaku?” “Sun locianpwee. jika memang itu yang kau kehendaki. Dan aku akan menjadi orang pertama yang akan memusuhimu! Pergilah. bahwa ucapannya sudah keliru.

Tiong Gi melakukan perjalanan cepat. dan ternyata lukisan itu masih ada disana.depannya sudah sangat rimbun. Mereka mencoba menyelidiki lagi kemungkinan lukisan itu tidak kecebur di air. “Negeri salju? Apakah ini hanya kebetulan saja? Ada negeri salju. Kota ini merupakan kota kecil yang terletak di sebelah utara Gongga san. terlihat dari dandanannya dan senjata yang dibawa. Semuanya sedang membicarakan kabar hangat yang mereka terima. kemudian disibak. ada pedang salju. yang dituju adalah Siauw Tong San. tempat yang disinggung-singgung oleh Hiat Kiam Lomo saat bercanda dengan Sim Houw. Semuanya dipenuhi kaum persilatan. Terjadilah keributan. Sesampainya di gua ternyata keadaan di situ sunyi. Tiong Gi duduk di sebuah sudut. Seminggu kemudian sampailah ia di kota Lu Ting. Di sebuah kedai yang cukup besar. tapi jatuh ke semak-semak. Tiong Gi meraba-raba tempat dulu dia menyembunyikan lukisan. setelah Tiong Gi menggambar ulang di atas kulit yang kemudian dipakainya sebagai sabuk. Demi mendengar tempatnya didatangi orang Cu Hoa terperanjat. “Sungguh mirip sekali. dan hanya karena menguasai medan dia bisa menyelamatkan diri. dan segera menyambut. Tiong Gi kembali turun menyusuri sungai Yang Ce. Cu Hoa sudah tidak lagi tinggal di situ. Setelah diikuti sampailah di depan sebuah gua tempat tinggal Cu Hoa Nionio. Setelah meninggalkan gua. Akhirnya bulat sudah keputusan Cu Hoa untuk menemui Hoan Bin Kwi Ong Tian Ce Tin. Akhirnya mereka menemukan bekas semak-semak yang tersibak bekas tapak kaki manusia. lewat sungai maupun lewat darat. kaum kang ouw kembali lagi ke lembah tempat pertarungan mereka. Ia menyapukan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Terdapat suatu puisi yang berbunyi: Mendaki puncak Kongla Susuri bukit-bukit bersalju Akankah kujemput puncak itu Meskipun beribu gelar ada di pundak Negeri ini negeri salju Aku hidup dan mati di sini Di malam yang mengambang Diantara danau dan pohon siong Sinar perak akan menyelimuti semesta a1am. tempat ini dengan Gongga.” Lukisan itu dibakar. Tiong Gi mampir untuk makan siang. Demi melihat kembali lukisan itu. Di antaranya pembicaraan itu ada yang mengabarkan bahwa sudah hampir sebulan berputar-putar mencari tempat penyimpanan pedang namun masih belum juga dapat .” Kemudian ketika membalik lukisan itu. dia terluka. Setelah Tiong Gi meninggalkan gua itu. Setelah memasuki goa. Tiong Gi membandingkan situasi di lukisan dengan tempat dia belajar di Gongga san. diambilah lukisan itu. Ia mendengarkan dengan baik seluruh pembicaraan orang-orang itu.

“Terlambat. “Kalau benar berada di sini. pasti pedang itu tersimpat di puncak yang ditutup salju. Bab 21. Di sekitar tempat itu. Sebagian seperti tosu dari Kong Thong Pay. Ternyata agak sulit mendapatkan tempat kosong. Ketika ia terus melangkah mendaki bukit itu.. Konon sebuah legenda menyebutkan bahwa di gunung itu pernah ada seorang anak kecil yang ditinggal ibunya untuk mencari makanan. Setiap hari selalu ada saja yang mencoba-coba untuk menggali tanah. meski pelan tapi sudah cukup membuat orang awam lebih memilih duduk mengitari tungku api. Semua mata menatapnya dengan tatapan penuh curiga. Namun di awal musim dingin seperti saat itu. Ada tiga kelompok tenda yang cukup besar..sekarang semuanya jadi sulit!” Tiong Gi melangkah ke suatu tempat yang diduga dibawahnya tersimpan pedang.. karena mereka tahu. Mereka semua bercerita dengan suara perlahan-lahan.ditemukan. Setelah makan malam. mata mencari-cari. karena kebanyakan kamar sudah dipenuhi para pesilat yang ingin memperebutkan pedang.. Selama empat hari Tiong Gi hanya berjalan-jalan berkeliling melihat keadaan. dan raut muka berdebar-debar. Yach. namun sejauh ini belum ada seorangpun berani bertindak. Perebutan pedang salju Siauw Tong San adalah salah satu pegunungan yang masuk wilayah pegunungan salju besar. Di puncak perbukitan Tiong Gi berhenti. siapa pesilat yang tidak mengilar mendengar mitos pedang salju yang akan membuat siapa saja yang berhasil mendapatkannya akan menjadi jago pedang nomor satu? Angin gunung berhembus pelan-pelan.terlambat.” Tiong Gi melangkah mantap melewati tenda-tenda itu menuju ke puncak. Akhirnya ia mendapat sebuah kamar yang agak buruk dan terletak di belakang. “Kenapa mereka menggali di lereng?” pikir Tiong Gi. Pegunungan ini bersebelahan dengan gunung Gongga. Dinamakan demikian karena dilihat dari barat gunung ini berbentuk seperti anak kecil yang sedang tidur. siapa yang memulai keributan sebelum pedang itu ditemukan dia akan menderita kerugian besar. terutama di dekat telaga sudah ada belasan lubang-lubang besar bekas galian. murid dari perkumpulan Tok Nan-hai Pang. Sebagian wajah-wajah pengawal itu dikenali Tiong Gi sebagai wajah yang mirip dengan wajah Can Seng.. atau setidaknya menonton keramaian. Di wajah semuanya terlihat gurat-gurat ketegangan. Tiong Gi mencari penginapan. satu dua orang mulai mengikutinya. Ia mengamati di lereng timur timur pegunungan itu sudah ada puluhan tenda berdiri mengelilingi sebuah telaga yang airnya mengalir tenang. Anak itu menunggu ibunya. Anak itu menunggu terus sampai ia tertidur selamanya. dari berbagai pihak. namun sang ibu tidak pernah kembali karena sudah diterkam oleh harimau. Namun sampai sepenanakan nasi ia masih belum menemukan . sebagian tidak dikenalinya.

Namun baru saja tubuhnya hinggap di atas. Tiong Gi kemudian menggali tempat itu. kakinya menghentak-hentak. kemudian dari Kong Thong Pay. namun seperti dikomando masingmasing pihak coba menahan diri. “Kenapa rombongan dari bambu putih belum terlihat?” pikirnya. Hanya tulang tangannya saja yang patah-patah... kemudian ia meminta diberi sebuah alat gali. Dicabutnya sebuah pohon di dekat situ. Ia kemudian memutar-mutar kotak besinya. Untunglah Tiong Gi tidak berniat mencelakakannya sehingga lukanya tidak parah. Tiong Gi jongkok mengambil kotak itu dan langsung dibawanya keluar.. Mereka menahan diri satu tombak dari lubang yang digali Tiong Gi. Bahkan ketika es yang digali sudah sedalam tubuh pemuda itu. iapun tersenyum.. Tiong Gi masih sempat melirik mereka yang datang. Sambil menggali. Mula-mula hanya sedikit dan berwajah kroco. Ia terus melangkah. Tampak kotak itu sudah berkarat saking tuanya. Mereka saling mengawasi satu dengan yang lain. Namun yang sedetik itu cukup bagi Tiong Gi untuk menyerbu ke salah satu penyerang yang lemah untuk membuka jalan. Hoan Bin Kwi Ong. Namun yang dihadapinya kini adalah pesilat-pesilat tingkat satu. namun makin lama makin banyak. tampak Siong Hok Cu. “Wuusss. Tiong Gi menyingkirkan es disekitar logam yang ditemukan. Ia merasakan tempat itu jauh lebih dingin dari yang lainnya... Dan langsung saja ia menghambur lari ke bawah. “Lepaasskaann !!!” Hasilnya sedetik mereka semua dikejutkan oleh bentakan itu.. puluhan senjata sudah menodongnya... Bongkahan demi bongkahan es dicongkel dari tempat itu.deesss. Kemudian dari pihak Hek in Pang tampak Cu Hoa Nionio. Siong Chen dan Siong Lee. dan beberapa mengomel panjang pendek.. Meskipun terdapat perasaan permusuhan atau dendam yang tak terselesaikan satu dengan yang lain. Dengan kakinya. Dari rombongan Yu Liang Pay. Pek Houw...bruaaakk!” Seorang dari Tok Nan-hai Pang jatuh berdebum. Sungguh yang datang ke tempat itu adalah pesilat-pesilat nomor satu pada saat itu.. orang-orang yang mengikuti sudah mulai bosan.. rombongan dari kota raja yang diwakili dua pesilat khitan dan biksu kurus yang tetap bercaping.Ayaaa. Mendadak sekopnya membentur benda keras. tokoh-tokoh pentingnya juga ikut berdatangan. yang kepandaiannya tidak terlalu selisih jauh ... Kong Thong Pat lo sudah lengkap berdelapan... “Traang!” Tiba-tiba dari belakang seseorang melakukan pukulan menggelap. Orang-orang lantas berkerumun di sekitarnya. pukulan menggelap yang dilancarkan ditangkis Tiong Gi dari bawah tanpa menoleh sedikitpun. Ternyata logam yang didapat berupa kotak tang terbuat dari besi..tempat itu. Tiba-tiba di suatu bagian datar ia berhenti. sambil membentak dengan suara menggelegar disertai tenaga khikang Sai cu hokang.

Dialah yang telah melancarkan pukulan jarak jauh ke arah Tiong Gi.. Seruan demi seruan terdengar saling bersahutan. “Dia adalah bocah yang menyerbu An King dan membunuh Can susiok!” seru seorang anak buah Tok Nan-hai Pang. Meskipun ia tidak berhenti dari lari. Sepeminuman teh kemudian ia telah sampai ke lembah dan secepat kilat lari ke arah padang. namun ketika ia hendak menangkis sambaran tongkat Sim Beng Tosu.. “Anak itu. Terpaksa ia memapaki dengan kotak besi ditangannya. Can Kong (suheng pertama dari Can Seng). Tapi bertapa kagetnya mereka karena pada bagian gagangnya telah terlebih dahulu di pegang oleh Tiong Gi. Maka iapun kemudian berhenti. hayo serahkan kepada kami!” kata Siong Hok Cu dengan muka mengeras. Ternyata pukulan itu bersifat memutar untuk membetot senjata lawan..” . Saat itu padang itu hanya ditumbuhi rumput. Mendapatkan serangan dasyat seperti itu dari tiga orang yang sangat kosen membuat Tiong Gi kerepotan. dia.anak itu mirip sekali dengan Tiong Gi. Tiba-tiba seperti dikomando tiga orang sudah melancarkan seranganserangan hebat ke arah Tiong Gi. seketika itu tanpa malu-malu semua tangan berusaha meraih dan menangkap pedang. “Ah benar.. “Anak muda. Empat tangan berhasil memegang sarung pedang secara hampir bersamaan. Seorang kakek kate yang hanya bercawat tiba-tiba melonjak-lonjak karena kotak di tangan Tiong Gi lepas.. Tiong Gi berlari ke arah utara.adalah murid Yung Ci Tianglo!” seru Sim Beng Tosu. “Bocah itu telah membuat lumpuh Hiat Kiam Lomo!” seru biksu kerempeng di dekat dua pesilat Khitan. namun gerakannya menjadi terhambat.. Berbagai senjata rahasia langsung meluncur ke arahnya. karena semak yang lainnya meluruhkan daun di saat musim dingin tiba. Dari kotak itu keluar sebuah pedang lengkap dengan sarungnya.. Mereka adalah Hoan Bin Kwi Ong. Setelah tiba di padang itu timbul pikiran untuk menghadapi saja mereka. karena ia tidak mungkin lari terus-terusan dibayang-bayangi oleh semua orang. sehingga ia terpaksa harus mengibaskan tangan ke belakang.. dan terbuka. “Sreeettt. Bak anjing berebut tulah. Golok Can Kong dan pukulan Hoan Bin Kwi Ong bisa di tangkisnya.dengan dirinya. dan Sim Beng Tosu. kau takkan bisa membawa keluar pedang itu. mendadak ada pukulan menyambar ke arah pundak kirinya. Pesilat-pesilat tingkat satuyang sudah menyusulnya kemudian mengepungnya.” desis Cu Hoa. Semua mata kini memandang Tiong Gi dengan tatapan liar penuh kobaran api amarah.

nak. Ia cukup terperanjat mendengar mereka membicarakan soal pembunuhan orang tua bocah yang wajahny mirip dengan Tiong San. namun semua orang bisa mendengar.ini aku nak. semua memandang takjub. aku bibi Ciu. dulu aku pernah berjanji memberi tahu nama orang tuamu. lagi pula bocah ingusan seperti Tiong Gi mana mungkin punya . karena merasa diri unggul. “Swat kong kiam!” hampir serentak bak dikomando semua berteriak tertahan.. kau telah merusak hidupku!” “Tiong Gi. Tapi tiba-tiba wajahnya mengeras.benarkah engkau Tiong Gi. bersemu malu...pembunuh orang tuaku ada di sini. kini biarlah aku menebus semua kesalahanku dengan melunasi janjiku. siapa dia. tapi berjanjilah kau sudi memberikan pedang itu untukku!” “Apa... “Kau telah menculikku. huh dasar kau anak tidak berbakti.. namun hanya sekejab saja air itu sudah berubah menjadi kristal-kristal es.. tunjukkan siapa dia!” “Berjanjilah untuk memberikan pedangmu!” “Aku tidak butuh pedang ini. Ia merasa jijik pada wanita yang ada di hadapannya. aku tak sudi!” seri Tiong Gi.” “Apa. Pembunuh orang tuamu ada di sini kau malah tidak sudi mendengarkan nama orang tuamu. tiba-tiba pedang itu seperti mengeluarkan air..bibimu!” “Siapa kau?” “Lupakan kau kepadaku. “Apakah kau tidak ingin mengetahui siapa orang tuamu sesungguhnya. Kini jarak mereka dengan Tiong Gi ada sekitar tiga tombak. Pedang itu diselimuti sinar berwarna kebiru-biruan. Mendadak Cu Hoa maju mendekat sambil merunduk. akulah yang dulu merawatmu di gua di luar desa Kee Cung.Semua mata memandang silau oleh sinar pedang yang ada di tangan Tiong Gi.. Ingatannya kembali menerawang ke masa lalu. Semua orang yang tadinya berada di dekat Tiong Gi pelahan-lahan mundur ke belakang. Namun ia tidak takut....memberikan pedang ini padamu? Huh. “Tiong Gi. termasuk Siong Chen.. kalau kau bisa tunjukkan aku akan serahkan pedang ini padamu!” Meski mereka berdua berbicara tidak terlalu keras.” Tiong Gi menatap lekat-lekat wanita yang kini sudah beranjat tua itu.

. Siong Chen sebenarnya bergidik melihat tatapan mata seperti itu. selama masih ada aku puterama. pasti mereka berlebih-lebihan. Api kemarahan telah menggelegak di dadanya. beraninya kau menantang ayahku pendekar Yu Liang Pay.. “Itu dia! Dialah pembunuh ayahmu Kwan Tiong San. benarkah ayahku bernama Kwan Tiong San?” tanya Tiong Gi dengan suara tergetar. Hayoo serahkan pedang itu!” Tiong Gi menatap kedua orang yang saling tuduh sebagai pembunuh ayahnya dengan sorot mata nanar. tidak melarikan diri. “Bocah ingusan.. Orang-orang tidak segera memperebutkan pedang karena Cu Hoa tetap berdiri mematung.. akulah lawanmu!” bentaknya sambil menusukkan pedangnya.ha. Betapa ringannya orang membicarakan telah meracuni orang lain. Mereka ingin menyaksikan pertandingan antara Siong Chen dengan pemuda yang akhir-akhir ini menggemparkan rimba persilatan meskipun jarang yang tahu namanya. namanya Siong Chen!” teriak Cu Hoa sambil menudingkan telunjuk tangan kanannya ke arah Siong Chen.kau telah berjanji untuk menyerahkan pedang itu padaku kalau aku memberi tahumu pembunuh orang tuamu. tapi perempuan jalang itulah yang memasukkan racunnya.. pikirnya. Kemudian sambil membentak ia menantang Siong Chen untuk bertarung..benarkah kau yang membunuh ayahku. sambil ketawa-ketawa. “Tiong Gi. hayo maju hadapilah aku secara jantan! Atau kau bersedia meminta ampun dan mengutungi kedua tanganmu!” bentak Tiong Gi. apa kamu hendak menyangkalnya Cu Hoa!” balas Siong Chen sambil balik menunjuk Cu Hoa. Begitu pedang sudah diraih Cu Hoa.ha. .. Tatapan matanya berkilatkilat mengerikan... dan dia telah mengakui telah meracuni ayahmu.. Siong Lee yang dari tadi sudah merasa iri dan benci pada pemuda itu langsung berkobar rasa marahnya.aku menyangkal tuduhannya. Tiong Gi bak disengat kalajengking langsung melompat ke arah Siong Chen. Ia langsung melompat ke depan Tiong Gi.kelihaian seperti yang digembar-gemborkan orang.. “Ha. Wajahnya sebentar merah sebentar pucat. Dengan tatapan bengis ia melempar pedang ke arah Cu Hoa. “Siong Chen. Hoan Bin Kwi Ong dan Pek Houw beserta orang-orang Hek in Pang segera melidunginya.memang benar aku yang menghidangkan racun kepada Tiong San.. “Benarkah. Sedangkan aku. tapi dengan menguatkan hati ia memaksa untuk tertawa..

Jarak ia dengan Siong Lee ada sekitar satu tombak.!!! Tiong Gi terlontar tiga tombak ke belakang oleh tangkisan kedua pesilat dari Yu Liang Pay ini. ia langsung memuntahkan darah segar. namun ketiga turun ia seperti masih terkena imbas benturan sehingga terpelanting. Pukulan demi pukulan sambar menyambar. Tubuhnya langsung berpoksai tiga kali... Beruntung Siong Hok Cu. Pertarungan kini dilakukan dengan keroyokan. Tiong Gi kemudian menghantamkan tangannya ke dada Siong Lee secepat kilat sehingga pemuda itu terlempar tiga tombak... Namun keburu ditangkis oleh Siong Ho Cu. yang terdiam berusaha untuk bisa bersamadi. ketika tangan kanannya hendak mencengkeram. Karena gusar. Tiong Gi menangkis pukulan tangan ini dengan tangan kirinya. Dua jagoan Yu Liang Pay mengeroyok Tiong Gi. Kemampuan Siong Lee memang masih jauh dari Dan dengan sekali lompat ia telah tiba di depan Siong Chen. ia jatuh terhempas di dekat puteranya..Tiong Gi menggeser kakinya. Serangan pertama gagal langsung saja Siong Lee melanjutkan serangan kedua.. karena lawan tidak ada tanda-tanda menyerangnya. sehingga kepandaiannya tidak diragukan lagi.. posisi kedua lawan Tiong Gi makin terlihat terdesak. sehingga tubuhnya luput dari serangan.. Dari mulutnya menetes darah. dari samping kanan meluncur tubuh Cu Hoa dan dengan . seperti saat ia menghadapi Hiat Kiam Lomo. secepat kilat ia bersiap memainkan jurus Swat sian kuan men (dewa salju membuka gerbang). Dua pesialat Yu Liang Pay yang dihadapi Tiong Gi bukanlah pesilat kacangan.. Dua puluh jurus sudah berlalu. Siong Chen sudah tidak mampu lagi mengendalikan diri.. Luka yang lebih serius dibandingkan dulu dengan Hiat Kiam Lomo. yang merupakan jurus paling hebat dari silat pukulan badai angin salju yang telah dipelajari dengan penuh keyakinan... mereka berkedudukan tinggi di Yu Liang Pay. Pada suatu kesempatan dengan sepenuh tenaga ia ingin mengakhiri pertarungan secepatnya. Pertarungan ini sangat seru luar biasa. Meskipun masih hidup namun luka dalam tubuhnya sangat parah. Siong Lee mencoba untuk menggeser tubuhnya perlahan ke arah ayahnya.blaaaarrrrrr. pemuda didikan Yung Ci Tianglo dan Sun Ciak Kun serta telah digembleng beberapa hari di Siauw Lim untuk mematangkan ilmu silatnya. Siong Chen yang terkejut melihat kemampuan pemuda ini... bagaikan hujan. masih mampu mengendalikan arah tubuhnya sehingga ia dapat jatuh dengan bersalto di tanah. Jurus ini kemudian dikombinasikan dengan ilmu silat Kiu Yang Sin Ciang. “Hiaattt..wusss. Apalagi Tiong Gi sudah mengalami tingkat kemarahan yang tidak tertahankan lagi. tanda bahwa ia telah terluka di bagian dalam tubuhnya. Namun yang mereka hadapi saat ini adalah Tiong Gi. dari samping ia menyentil pedang di tangan Siong Lee. Maka iapun melompat ke belakang dua tombak untuk mengambil ancang-ancang. Adapun Siong Chen dan Siong Hok Cu terlempar ke belakang lima tombak. langsung menghantamkan pukulan tangan kanannya. Mendadak..

Karena dikuasai oleh nafsu amarah yang luar biasa. ia terus menusuk dan membacokkan pedang salju dengan membabi buta. Pihak Hek in Pang dan Tok Nan-hai Pang terus mengejar.. Namun di sisi lain.. Tidak ada daras yang mengalir dari luka.cepat menusukkan pedangnya beberapa kali dengan penuh dendam. karena pada saat akhir musim semi padang ini akan berwarna merah bunga botan. karena sudah keburu membeku oleh hawa dingin pedang. mereka menyerbu kearahnya. “Crooot.. Matahari yang sudah meredup itupun sembunyi di balik awan.aaauuuuuggghhhh!” Tiga kali tusukan pedang salju memutuskan nyawa Siong Chen.croot. dan mereka sepakat untuk membuat saingan Siong Chen. barulah ia menjerit keras. Hamparan savana yang belasan tahun lalu pernah menjadi saksi pembunuhan pendekar yang namanya harum di barat oleh . karena berkonsentrasi pada penyerangan ia melupakan pertahanann sehingga ketika Siong Lee.. tidak tinggal diam. karena ia lebih di sayang oleh Kian Bu. menebaskan pedangnya ke tangan kirinya ia tidak sadar. bagaikan lolongan anjing. menukar cawan yang dihidangkan sehingga bukan isterinya yang meninggal tetapi Tiong San yang jadi korban. Hanya jeritan panjang yang lirih yang keluar dari mulutnya. bahkan ia telah menyerahkan tubuhnya dengan suka rela.. Padang rumput. ketika menyadari kedua tangannya telah buntung. Sudah dua minggu lebih ia berada di situ melihat Siong Chen tanpa bisa membuat perhitungan atas dendam lamanya. Tiga murid Yu Liang Pay. Siong Chenpun berjanji untuk menikahinya. Kini pedang itu ada di tangan Sim Beng Tosu karena posisinya lebih dekat dengan Cu Hoa. ayah Tiong Gi menderita dengan cara meracuni istrinya. sambil berposisi masih terduduk. yang dikenal dengan padang bunga merah. seperti tak mau melihat kekejaman umat manusia yang dianggap sebagai makhluk paling beradap di jagad raya. dan menyambar pedang.. Cu Hoa seakan tidak menghiraukan. Matahari sudah condong ke barat. Kutungan tangan Cu Hoa masih menggenggam pedang salju... Dulu ia pernah mencintai lelaki itu. Segera sesosok tubuh berlari kearah kutungan itu. Lima anak murid Yu Liang Pay. Namun perebutan pedang belum berakhir sampai di situ. Cu Hoa saat itu tidak bisa menguasai emosinya. Bahkan ketika tangan kanannya juga ditebas.croot. dengan berseru penuh kegembiraan ia mengacungacungkan pedang dan berlari ke utara. kembali senyap. Langit senja yang berlumuran warna kemerahan awan lembayung seakan muak melihat keangkaraan manusia yang demikian mudah melampiaskan nafsu membunuhnya.. maka Cu Hoa juga akhirnya mengamuk menusuk membabi buta. Siapa kira Siong Chen yang merasa dengki ke Tiong San... ia masih tidak percaya. Untung saja kakek kate Pek Houw segera membantunya dengan mengirimkan berbagai pukulan maut. roboh tewas bersimbah darah. yaitu Tiong San. Saking asiknya terhanyut dalam suasana membalas kesumat. Tersadar bahwa ia diserang.. Cu Hoa melupakan semua yang ada diluar dirinya. atau padang bunga botan.

tibatiba terdengar suara tangisan...” Suara tangisan itu sungguh menyedihkan. kini menjadi saksi kematian salah satu tokoh dari Yu Liang Pay. melainkan suara tangisan tua dari seorang kakekkakek. Namun suara tangisan itu bukanlah suara tangisan anak-anak.. ia yang sadar lebih dulu kemudian malah menarik perhatian tubuh tua yang yang juga bertangan buntung itu.. beberapa kali ia menarik nafas panjang. Dan setelah berjarak seratus meteran dari Tiong Gi. Tiong Gi dan Siong Hok Cu duduk bersila dengan mata rapat. digandeng oleh seorang pemuda tampan. dan langsung saja nenek dan Cu Hoa ikiut dibawa oleh rombongan ini meninggalkan padang bunga. Maka beruntunglah Cu Hoa Nionio karena saat itu juga diangkat sebagai murid terakhir nenek keriput yang bukan lain adalah Nenek Kelabang Emas. namun sudah terlambat. namun kenangan yang ditorehkan oleh kejadian dimasa silam itu seperti melekat kuat dalam ingatan kakek yang berlengan satu itu.. “Paman. sedangkan Siong Lee dan Cu Hoa rebah tak sadarkan diri.ohhh huu huuu huuu. Padang bunga kembali sepi untuk beberapa saat... kedua tapak tangannya bertemu di depan dada. Pedang yang dicari sudah tidak ada lagi. Tiba-tiba terdengan suara gemeresek langkah-langkah kaki menyibak rerumputan.. Sekonyong-konyong muncul sosok tubuh renta yang langsung meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah padang itu. Seorang tosu yang dua tiga tahun lebih tua berdiri tiga tombak dibelakang mereka. Hanya suara jangkrik ditingkahi suara burung dari kejauhan yang masih mampu menghadirkan melodi-melodi kehidupan. Matanya jelalatan mencaricari. Batu itu yang sudah lapuk dimakan umur. Sementara itu lima biksu berusia lebih dari enam puluh tahunan berdiri menundukkan kepala.. seakan hukum karma telah mengejawantah untuk memutuskan keadilan bagi semesta. Kepalanya beberapa kali menggeleng-geleng. Bhok Kian tosu. nama kakek itu. Makin dekat langkah itu makin cepat. Rombongan barongsai kelabang kemudian datang. Kakek yang kini berumur enam puluh lima tahunan itu mengguguk seperti anak kecil. memandang peristiwa itu dengan tatapan duka. Dua tosu yang lebih muda ikutan bersimpuh sambil merangkul kakek itu.. Ketika ia mendengar suara keluahan wanita yang kehilangan kedua tangannya.. Di sampingnya berdiri seorang kakek renta yang tubuhnya agak bongkok.pamaannn. Kakek yang rambutnya telah memutih dikuncir seperti pendeta To. bagaikan kejadian kemaren sore saja. . Namun sebelum matahari kembali ke peraduannya. nama yang telah hilang dari memorinya karena dirampas oleh racun perenggut ingatan buatan Vicitra Rahwananda. dengan posisi menyembah. Ternyata Cu Hoa belum mati. bagaikan ratapan anak kecil ditinggal mati orang tuanya. duduk bersimpuh di samping batu berbentuk segilima tak beraturan. Hampir saja rasa dongkolnya hendak dilampiaskan ke orang-orang yang masih bernafas.orang-orang berhati iblis dari Yu Liang Pay.

kami mengkhawatirkanmu!” ujar Sim Houw. Hatinya mencelos melihat salah satu orang yang bersamadi itu adalah Tiong Gi. ia kemudian meletakkan telapak tangannya di punggung Tiong Gi.. namun kadang sabar. seperti orang kampung yang tak terdidik. dan sulit mengenali pemuda di depannya.. dan lima biksu Siauw Lim Bhok Kian tosu dan dua orang tosu muda duduk memisah di pojokan. Di dalam tenda sudah berkumpul Sun Ciak Kun.. “Gi-te apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Sim Houw. kemudian ia berhenti menyalurkan hawa sakti ke tubuh muridnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan apa yang dilihat. Ia ngeloyor begitu saja ke arah bekas pertarungan.hawa nafsu selalu melahirkan kerusakan semesta. Bukankah nafsu makin dituruti makin merajalela menuntut hal yang lebih. Sun Ciak Kun kemudian meminta Tiong Gi untuk membuka baju. mana orang-orang dari Yu Liang Pay?” Tiong Gi berlarian ke sana kemari namun ia hanya menemukan gundukan tanah basah. masuklah dulu. Petang telah berubah gelap. Watak kakek tua ini memang kadang aneh. Dengan menunduk. “Terima kasih suhu. syukurlah. taecu selalu saja merepotkan suhu!” . Karena melawan arah cahaya lilin. darah berceceran dimana-mana. “Houw-ko. dengan peneragan beberapa lilin. tak nyambung. Kenapa manusia selalu ingin memperturutkan hawa nafsunya. Tiong Gi kembali memasuki tenda. beberapa mayat berserakan.kau sudah sadar. Ketika Tiong Gi tersadar ia telah berada di suatu tenda. Setelah sepenanakan nasi. lagian percuma kau lari-lari kesana kemari. Tiong Gi agak silau. “Gi-te.” bujuk Sim Houw. Ki Liang Tosu. kamukah itu?” “Memangnya ada Sim Houw palsu?” “Mana dia? Mana bibi Ciu. kau masih terluka. “Tidak tahu.“Siancay. Dari kejauhan terlihat ada tiga sosok tubuh diam duduk mematung seperti arca.. Kapankah manusia merasa puas? Kenapa bisa begitu Sun taihiap?” tibatiba seorang kakek yang berbaju To seperti Bhok Kian tosu. ugal-ugalan tak tahu sopan. aku mau liat dulu ada kejadian lain di sekeliling kita!” jawab Sun Ciak Kun. keadaan di tenda itu remang-remang. berseru perlahan sambil menggebutkan hudtim secara perlahan. kita bicara saja di dalam tenda. “Apa yang telah dilakukan anak itu?” pikirnya.. halus dan lemah lembut seperti seorang kuncu. keadaanmu masih belum pulih. “Gi-te. Sim Houw. Mereka kemudian duduk berkeliling..siancay. Tiong Gi merasa lebih baikan.

Hanya saja. siapakah dalang peristiwa itu masih kabur. lohu menemui Pek Mau Lokay untuk meminta penjelasan mengenai kemungkinan ini!” . dan orang tuanya. mungkin Sun taihiap punya wawasan yang bisa dibagi kepada kita semua?” tanya Ki Lian tosu. titik terangnya ada di kaypang sabuk hitam. Dan musuh sengaja memanfaatkan Bhok Kian tosu untuk mengadu domba Kun Lun dan Siauw Lim. “Eh. siauw-te punya sahabat di sana. kenapa demikian taihiap?” kali ini yang bertanya adalah Bu Kak taisu. bagi kami. atau Ki Liang toyu dapat memberi masukan?” “Kami dari Kun Lun. yang dulu melaporkan kejadian itu ke Siauw Lim. “Hmmm. dan kini ilmu cakar naga juga dikuasai oleh musuh. Masih gelap bagi kita. kini kita mendapat titik terang dalang dibalik peristiwa ini. bahwa ada pihak dalam yang membantu mencuri kitab Liong Jiauw Ciu.. hanya saja siapakah tokoh itu..sudah. salah satu dari Wu Han Cit Seng. dugaan kami sepertinya mendekati kebenaran. meskipun di kaypang cabang.” jawab Ciak Kun. “Lohu sendiri masih penasaran. ini memang sudah menjadi kewajiban kita semua untuk saling tolong menolong..“Sudah. “Hampir dapat pinceng pastikan dia adalah Kong Meng Hwesio. “Karena peristiwa ini bermula di sana.. Tentu saja ia tidak menceritakan kejadian di gua. ” “O ya. dan adakah tokoh kaypang yang sedemikian sulit diukur sampai dimana tingkat kelihaian. mungkin Sun susiok. apakah mungkin sosok yang barusan kita lihat orang yang berbeda?” tanya Bu Kak taisu. “Dari bentuk tubuhnya kukira orang yang sama!” jawab Ciak Kun.” Timpal Tiong Gi. Bukan tidak mungkin dalang peristiwa ini bermula dari sana. “Lantas apa kaitannya sang tokoh dengan Yu Liang Pay? Kenapa dua orang dari Yu Liang itu begitu mudah menghilang. kelak siauw-te akan mencarinya. Biarlah nanti siauw-te coba telusuri lagi dengannya. sungguh perbuatan yang kejih!” ujar Bu Sian taisu. Sekarang ceritakanlah apa yang telah terjadi!” Selanjutnya secara singkat Tiong Gi menceritakan kejadian yang dia alami. juga kejadian-kejadian yang dialami oleh Tiong taihiap dan Sun susiok... Setelah diam sejenak Ciak Kun melanjutkan lagi: “Biarlah. dari rangkaian peristiwa yang ada. siapa dalang di balik ini semua? Menurut keyakinan lohu. namanya Sin Hwat. “Apakah losuhu mengenal biksu itu?” tanya Tiong Gi. cuwi locianpwe. lebih jauh dari kabar..jadi jelaskan kini.

kita selesaikan dulu masalah yang paling dekat. baru kemudian kami mohon kesediaan cuwi untuk membantu Siauw Lim menangkap biksu palsu Kong Meng. “Sebenarnya. Saat istirahat di perjalanan Tiong Gi memanfaatkan untuk banyak bertanya pada gurunya tentang Yu Liang Pay. Ia tidak habis mengerti kenapa sesama saudara seperguruan bisa saling bunuh dengan kejamnya. sepertinya kawan-kawan dari bambu putih juga ikut membantu.” “Kami sendiri sepertinya akan ke Yu Liang Pay. suatu ketika kami pasti membutuhkan bantuan suadara-saudara di luar Siauw Lim. ternyata di antara kita memang harus ada persatuan dan ada komunikasi satu dengan yang lainnya. nanti dari sana kita bisa melalui jalan darat. kurasa sebaiknya kita ke Chon King terlebih dahulu. Sun Ciak Kun sendiri tidak begitu paham. sehingga ia tega menusuk-tusuk tubuh Siong Chen yang sekarang dengan membabi buta? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang menggantung. Tentang keluarga pimpinan Yu Liang Pay. Tiong Gi merasakan hawa yang dingin menusuk tulang. Kenapa ayahnya mesti diracun? Apa kesalahan ayahnya? Dendam apa yang menyebabkan Siong Chen tega meracuni ayahnya. “Hanya dengan kekuatan berempat?” tanya Tiong Gi. tentang peristiwa huru-hara yang kemudian menyebabkan kematian ayahnya. namun perasaannya terhadap orang-orang partai yang akan dikunjunginya jauh lebih dingin daripada angin yang menerpanya. Namun ia masih sulit menebak apa kira-kira penyebab ayahnya dibunuh. menuntut penjelasan dari mereka!” ujar Ki Liang tosu.peristiwa ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Siauw Lim. Yang tak bisa dijawabnya sendiri.” Malam sudah semakin tua ketika akhirnya pertemuan diakhiri. Dan mengapa seakan-akan dia dan bibi Ciu saling melempar tuduhan.. kami sudah berjanji untuk bergabung dengan Sam-lojin. Mereka melakukan perjalanan cepat dengan membeli kuda dan menyewa kereta piauw kiok (perusahaan pengantaran barang). Angin pegunungan berhembus perlahan. sehingga ia menyarankan agar Tiong Gi langsung saja bertanya pada Bu Sian taisu atau Ki Liang tosu yang banyak pengalaman berkecimpung di sungai telaga akhir-akhir ini. Sebesar apapun Siauw Lim. Apa yang sesungguhnya terjadi? Kenapa dia memanggil bibi Ciu dengan panggilan Cu Hoa? Mana yang benar? Kenapa pula bibi Ciu begitu benci kepada Siong Chen.“Kalau ngo-wi suhu. “Omitohud…. . Dua hari berikutnya setelah keadaan Tiong Gi sudah lebih segar berangkatlah mereka ke timur. Karena itu sebaiknya kalau sekarang kita bergerak bersama-sama. Dari keduanya ia mendapat banyak keterangan yang sangat berharga. hendak melanjutkan perjalanan kemanakah?” tanya Ki Liang.” “Kalau begitu.

toch itu tidak akan mengubah nasib mereka.Angin berhembus lagi lebih kencang. Pimpinan pengemis cabang Yi Chang dulu ada empat.” “Ah. sepotong ranting menegenai kakinya. Bukan hanya antara Sun Ciak Kun dan Pek Mau Lokay. sudahlah tidak perlu banyak kau pikirkan. ayolah kita berangkat!” Di markas penemis sabuk hitam. tetapi sejauh ini aku dapat mengenali asal-usul mereka. apakah kau masih punya orang tua?” tanya Tiong Gi sambil bangkit dan berjalan perlahan menuju kuda yang ditambatkan. mereka semua pernah berguru padaku.” “Eh Gi-te kenapa kau tanya hal ini?” “Aku tidak tahu. Obat yang kudapatkan dari Kong-sim hosiang. Memang saat itu ayahku sudah sakit parah. “Gi-te. “Ayahku sudah meninggal beberapa tahun silam. aku tidak tahu pasti. Dan mereka semua sama-sama kagum akan perkembangan ilmu yang telah dicapai masing-masing. meskipun persahabatan mereka lebih banyak karena pengaruh persahabatan suheng-suheng mereka. Banyak hal yang dibicarakan oleh Sun Ciak Kun dengan Pek Mau Lokay. mereka mampir dan tinggal selama sehari semalam. Keempat pimpinan cabang kecil sekali terlibat di sana. hanya mampu bertahan beberapa bulan. kita masih muda Gi-te. tetapi juga dengan Ki Liang dan Bu Sian. Kalau pengemis anggota. Ciak Kun. Pundaknya tiba-tiba ditepuk orang. Orang-orang sudah bersiap melanjutkan perjalanan. Memang perkumpulan kami tidak melarang anggota mempelajari ilmu dari golongan lain. Dari keterangan. Apakah kau tidak punya kecurigaan terhadap anak muridmu yang di sana?” “Lohu sendiri tidak begitu yakin. kenapa duduk sendirian di sini.” “Houw-ko. mendapat kabar yang mengagetkan mengenai pencurian kitab ilmu merak sakti. Sun Ciak Kun dan Pek Mau Lokay adalah dua sahabat lama. “Lokay. Tiba-tiba ia ingin bercakap-cakap dengan Sim Houw. Namun sedikit banyak mereka pernah beberapa kali terjun bersama menghadapi musuh-musuh di rimba persilatan. aku curiga asal muasal masalah ini dari cabang Yi Chang. Bahkan mereka memanfaatkan momen pertemuan dengan menguji kemajuan ilmu masing-masing. namun sulit sekali rasanya mencurigai mereka. hanya saja aku merasa aneh dengan peristiwa yang menimpa orang tuakau. untuk apa?” . Seorang pemuda yang dikenalnya. Tapi kalau memang benar. dan aku pernah mungujinya. nikmati saja hidup. yang hanya disampaikan empat mata. Kecurigaannya kini makin tumbuh berkembang.

” kata Chien Ce. dan mereka berempat akhirnya membentuk kelompok sendiri. Rambutnya yang hitam diikat dengan pita. Liu Siang. Pek Mau Lokay berkenan memberi bala bantuan sebesar sepuluh pengemis untuk mengikuti mereka ke Yu Liang Pay. Beberapa saat kemudian rombongan dari Bambu putih juga datang. Sim Houw-pun akhirnya ikut nimbrung. kau sekarang sudah tambah dewasa cici!” Hampir saja Tiong Gi mengatakan tambah cantik. diliriknya para tetua termasuk suhunya ada di situ. Tiong Gi segera mengenali kedua Tiauw Kwi dan langsung menghambur kearahnya. memakai rompi warna cokelat muda. Shu Chien Ce. Setelah melepas rindu. Ji-lojin memimpin sendiri rombongan. sambil merangkapkan kedua tangannya. bernama Tik Coan Kok. dua Tiauw Kwi. siapakah?” “Tiong hiante. Keesokan harinya mereka berpamitan. Kemungkinan paling besar adalah murid utamaku membocokan rahasia ini. sarang musuh. Mereka melangkah dengan langkah ringan . namun dengan halus Liu Siang melepaskannya.“Keyakinan saja tak cukup. Semua sedang memperhatikannya. Di samping kanan dan kiri berdiri dua orang tua berwajah khas. maaf. murid Kun Lun Sam-lojin. Perjalanan menuju ke Yu Liang Pay. Tepat pada hari dan tempat yang dijanjikan di sebelah barat Sungai Wu. Tapi sampai saat ini aku masih percaya padanya” “Hmmm sungguh aneh! Tetapi segala kemungkinan bisa saja terjadi. beberapa orang dari negeri salju. Wajah ayu yang tidak asing lagi bagi Tiong Gi. ia menatap seorang gadis yang tersenyum padanya. Ia seakan-akan menemukan kembali keluarganya. Apakah mereka juga tahu kamu menyimpan kitab ilmu merak sakti?” “Tidak! Aku tidak pernah memberitahukan ke mereka. sedang yang tiga lainnya tergolong anggota baru. Tiba-tiba muka Tiong Gi terasa panas. “Dan sicu ini. rombongan dari gunung salju besar datang. dan orang melihat pemuda itu tersipu-sipu. lokay. perkenalkan cayhe Chien Ce. saling bertukar wawasan mengenai ilmuilmu yang dilatih masing-masing. dikuti Chien Ce. Rombongan ini dipimpin oleh lelaki berumur lima puluh tahunan. Dari keempatnya hanya yang tertua yang berguru lama padaku. Tiong Gi membalas dengan bersoja. jadi seperti perjalanan reunian saja. “Ah. hanya saja kini wajah itu makin cantik. “Gi-te!” “Siang cici!” Tiong tanpa sadar kemudian memegang tangan Liu Siang. tapi ditelannya ucapannya. saling ngobrol dan bercanda dengan asiknya. memeluk kedua orang itu dengan rasa haru.” Setelah puas beramah-tamah.

Waktu itu Kian Bu menangguhkan jawaban. dan sudah saatnya dia kembali. Liong Ping melawan Kian Bu. Meskipun ia memiliki hubungan dengan Vicitra Rahwananda. sesuai tuntutan mereka. Pada saat itu mendadak orang yang dibicarkan muncul. namun karena mahir menguasai sihir. istri Liong Ping. Kian Bu dan Liong Ping. namun tetap saja tingkat kepandaian Kian Bu masih dibawah Liong Ping. Entah setan apa yang merasuki tubuh orang tua itu. Adu mulutpun berakhir dengan pertarungan. ia justru mendukung pendapat Kian Bu.penuh keceriaan. Liong Ping terjun ke ke dalam pertarungan. pertarungan itu berlangsung cukup sengit. Pertarungan antara Liong Ping dan Kian Bu hampir berimbang. “Benar. namun kini sudah bukan pangcu lagi. Kelihaian Vicitra Rahwananda sebenarnya dibawah Tung Nio. Kian Bu menginginkan benteng di bongkar. kaukah itu?” sapa Ki Liang tosu. tengkorak serta tulang belulang yang ada di bukit di turunkan untuk dikremasi. sehingga dia dibiarkan. Telah terjadi peristiwa besar di sana!” Ki Liang dan Ji-lojin saling berpandangan. roboh terluka. Apakah sebenarnya yang terjadi di sana? Sebulan sebelumnya. Tan Tung Nio datang.” “Eh. memang ini Kian Bu. dada isterinya sendiri. berbeda pandangan. “Kian Bu pangcu. Namun Liong Ping memang tidak bermaksud mencelakai Kian Bu. . Liong Ping menusukkan pedang ke dada nenek tua berwajah bundar itu. akhirnya Kian Bu. Ia telah didaulat menjadi juru bicara rombongan. Vicitra Rahwananda melawan nenek Tung Nio. Pedang itu terbenam dalam di dada Tan Tung Nio. apa yang terjadi?” “Sudah tiga hari yang lalu lohu mundur dari kepemimpinan di Yu Liang Pay. pada suatu kesempatan. membayar orang india itu. ketika terbuka pertahanan Tung Nio. bahkan marah-marah dengan sikap menentang. namun bukannya membela isterinya Liong Ping justru ikut mengeroyok Tung Nio. menyampaikan tuntutan agar. rombongan Ji-lojin telah mendatangi Yu Liang Pay. Vicitra Rahwananda diserahkan kepada mereka. Kakek yang kini sudah berumur enam puluh lima tahun lebih itu menggunakan tongkat dan masih dipapah oleh anak buahnya. dan puncak pedang tengah di bersihkan. Setelah mengalahkan Kian Bu. sehingga setelah ratusan jurus. Namun Liong Ping menolak. sambil merangkapkan tangan bersoja. Pada saat mereka adu mulut. Di tengah jalan tiba-tiba rombongan dihadang lima orang. Namun mereka mempercayai Kian Bu. Yang dipimpin langsung oleh Kian Bu. Namun bukannya membela suaminya. Namun sebaliknya. karena hati mereka penuh dengan kehangatan. pertarungan antara Vicitra Rahwananda melawan nenek Tung Nio berlangsung seru dan mati-matian. mantan pancu. namun ia merasa sudah cukup Yu Liang Pay. Angin musim dingin yang berhembus juga tak pernah dirasakan.

Di puncak Tiong Kiam dari luar suasana masih senyap. jikalau mereka menemui kesulitan. dengan mata terbelalak penasaran. karena ia adalah buron. dan memang ternyata belakangan ia tidak pernah dikaruniai seorang anakpun. namun demi menegakkan kebenaran untuk melawan Foi Cit Re (Vicitra) aku rela menjadi Wi Bi San (Wibisana). dan bahkan mengangkat Siong Lee untuk menjadi muridnya. namun kemudian manggut-manggut. Hancurnya bukit pedang (TAMAT) Puncak Fan Cing San dimusim dingin sungguh berbeda dengan di waktu musim semi. persis topeng yang dipakai oleh lawan Sun Ciak Kun. bahwa bayangan yang terlihat olehnya ketika sedang menolong Hok Cu dan cucunya adalah bayangan orang bertopeng dewa penjaga kuil itu. dendam dan kesedihan. Siong Hok Cu dan Siong Lee menerima tawaran itu. Keesokan harinya. Orang itu menawarkan bantuan untuk membantu mereka mendapatkan pedang salju. dialah dahulu yang menerima Liong Ping muda.karena dedaunan terlah luruh pada musim gugur. Dengan tongkatnya kemudian Kian Bu menggores-goreskan tanah menggambarkan lorong-lorong yang bisa dijadikan jalan keluar. Hanya hutan pinus yang berada di sekitar puncak saja yang dedaunannya masih utuh. Tetapi jelas ada maksudnya. ia menyerahkannya pada Liong Ping. Dia yang merawat anak Liong Ping dengan penuh cinta. Namun tak seorangpun tahu apa yang terjadi di dalam benteng. Ki Liang kemudian mengingatnya dengan baik. aku akan menunjukkan rahasia lorong-lorong di bawah puncak pedang tengah. Bukan suatu kebetulan. Dan karena peristiwa seperti itulah maka mereka kemudian menuntut Kian Bu mundur. Sesekali puncak ini di selimuti salju. bahkan saat itu Liong Ping tidak bisa dikatakan sebagai perjaka. orang bertopeng itu menolong mereka berdua. Karena medapat berita baru. dengan syarat agar mereka bersedia membantu perjuangan orang bertopeng itu.beraninya kau.“Kau. maka sebelum memulai penyerangan Ki Liang bersama dengan tetua yang lain berdiskusi melakukan perencanaan yang matang. .kau. Pohon-pohon tampak seperti telanjang. mereka berdua di antar oleh seseorang yang bertopeng. Betapa tidak penasaran. “Demikianlah yang telah terjadi di Yu Liang Pay.. dalam keadaan sangat mengenaskan. Betapa sakitnya.. dan murid langsung dari ayahnya Tan Sin Hong. ayahnya lebih berhak atas kepemimpinan Yu Liang Pay. Bab 22. Hanya saja karena saat itu ayahnya sudah tua dan sakit-sakitan maka jabatan itu diserahkan padanya. lelaki tak tahu diuntung!” kata Tan Tung Nio perlahan. Tapi ternyata lelaki yang dulu ditolongnya dari lembah kesengsaraan kini tega membunuh perempuan yang sangat mencintainya dengan sepenuh kasih. dan keluar dari markas. Aku memang akan dicap sebagai pengkhianat Yu Liang Pay. Sebagai cicit dari Tan Hong Bu...” kata Kian Bu mengutip kisah Ramayana dari India.. Dan benarlah dugaan Ciak Kun. namun akan cepat mengering. Ki Liang dan orang-orang dalam rombongannya tercengang. datanglah Siong Hok Cu dan cucunya dengan wajah keruh penuh rasa penasaran.

tosu-tosu anjing dari Kun Lun memang selalu pengecut. dan sersumpahlah jangan pernah lagi keluar ke dunia persilatan.ha. bisa dipastikan anak buah Vicitra Rahwananda. tepatnya di markas Yu Liang Pay. . kalau bertanding satu lawan satu tentu saja cukup dengan dua kemenangan saja untuk tiga pertandingan!” jengek Ki Liang. huh. Sun Ciak Kun. Di pihak tuan rumah berdiri Siong Hok Cu. “Hmm. Tiong Gi. Dari pihak tamu Ki Liang. tapi apakah mengundang Foi Cit Re dari Thian Tok (India) adalah perbuatan seorang lelaki sejati.. silahkan lakukan apa yang kalian kehendaki!” “Huh. Rombongan Ki Liang agak terkejut. Pendekar yang lain memilih langsung menuju ke puncak Tiong Kiam. selama aku masih hidup!” Pernyataan jangan pernah lagi keluar ke dunia persilatan.. yang kini menjadi Pangcu. “Kami hanya menuntut agar pembuat bencana orang India berhidung betet diserahkan ke kami serta bangunan benteng di robohkan.. Tetapi orang yang dicari-cari. tidak mampu menghadapi kami sendirian. kalau kalian bisa mengalahkan dua jagoan kami. orang Liong Ping. cuh tak tahu malu!” ujar Hok Cu angkuh. Di belakang mereka ada hampir empat puluhan anak murid yang masih setia. memang rombongan para pendekar ini dibagi menjadi dua.. seluruhnya berjumlah lebih dari tigapuluhan. silahkan angkat kaki dari sini. yang kini berpasangan. pihak tamu dan tuan rumah. Di belakang mereka berdiri para pengemis anggota sabuk hitam dan anggota bambu putih.. kalau kalian bisa mengalahkan ketiga jagoan kami. dan Sim Houw. Di lereng selatan puncak itu. dan orang bertopeng hengha. namun itu adalah hal yang wajar. Pat Tiauw Kwi. tentu dia harus lebih siap. terjadi ketegangan yang ramai. Kami menghargai jika Yu Liang Pay keberatan untuk menurunkan tengkorak dan kerangka yang ada di ceruk-ceruk tebing bukit!” “Ha. Bu Sian taisu. silahkan saja cari sendiri Foi Cit Le! Yu Liang Pay akan berlepas. Siong Lee. yang menjadi sumber kericuhan tak juga kelihatan batang hidungnya. tak tahu malu!” “Bangsaat! Kalau memang jantan. “Boleh juga.. Di belakangnya lagi ada belasan orang berwajah India yang berbaju hitam legam. antara dua pihak.ha.Berkebalikan dengan suasana yang hening dan mistis di puncak pegunungan. tetapi jika kalian kalah atau seri... sungguh sangat berat. menyeret-nyeret Siauw Lim dan bambu putih.kedengarannya sih memang Yu Liang Pay lebih jantan. ada yang menghadap ke markas ada yang langsung ke sasaran. mana bisa aturan seperti itu. apalagi sebagai pihak penantang. hayo hadapi kami satu lawan satu.

Bagaimana kalau aku yang harus menghadapinya. Tapi dua kemenangan sudah cukup bagi mereka. bahkan sekalipun yang maju adalah Sun Ciak Kun sendiri. dengan ilmu pedang gaib yang meraka miliki pasti bisa mengatasi lawan. Tangannya bergerak-gerak dengan sepenuh tenaga. namun penonton yang ahli dapat merasakan bahwa setiap pukulan mengandung hawa lweekang dan sinkang tingkat tinggi. Ia masih yakin Tiauw Kwi bisa diatasi oleh Liong Ping. Inikah kakeknya? Kalau memang ayahnya Kwan Tiong San.” Hok Cu. Gebrakan demi gebrakan dilakukan dengan cara yang luar biasa. tidak menduga kalau jago yang diajukan lawan termasuk Tiong Gi. “Kami mengajukan Kwan Liong Ping suko. Sebaliknya Tiauw Kwi memapakinya dengan pukulan-pukulan badai salju. Namun ia punya keyakinan besar pihaknya mampu mengatasi lawan. Baiklah. dan Tiong Gi. mula-mula dilakukan dengan tangan kosong. akhirnya disepakati tiga jagoan yang diajukan. Pertarungan segera dimulai.“Baik. Tangannya seakan-akan diselimuti halimun merah. Sambaran demi sambarannya saja sudah membuat penonton yang paling dekat kepanasan. Apalagi dua orang bertopeng dewa Heng yang salah satunya sudah menjadi guru puteranya tak diragukan lagi kemampuannya. Liong mengeluarkan jurus-jurus Fan cing san ang in ciang hoat. Pikirannya menjadi tenang ketika melihat orang tua ini maju menyambuti Tiauw Kwi. Dari tangannya seakan keluar kristal-kristal es yang . Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. siapa jago yang akan kamu ajukan lebih dulu?” Tiong Gi menatap tak berkedip orang tua yang disebut namanya pertama kali. kami terima! Dengan syarat kami juga diperkenankan menurunkan tengkorak-tengkorak di bukit pedang!” “Terserah! Siapa jago kalian!” Ki Liang berunding sejenak dengan rombongannya sebelum memutuskan tiga jagoan. Hanya saja orang bertopeng dewa Ha yang dibawa oleh guru meskipun dalam ujian mampu mengalahkannya namun ia masih belum terlalu yakin. berarti lelaki tua itu kakeknya sendiri. namun dihalangi oleh Hok Cu. Ia yakin Liong Ping bisa mengatasi semua lawan. “Dari kami Sun taihiap. jurus-jurusnya memang terlihat lambat. Tiauw Kwi. guru dari Siong Lee sudah geregetan hendak maju. “Kami mengajukan Tiauw Kwi! Silahkan cianpwe!” Sebenarnya orang bertopeng dewa Heng. pukulan tapak merah ini merupakan salah satu pukulan yang sangat di takuti di Cina tengah. dewa Heng dan dewa Ha. maka dari pihak tuan rumah Liong Ping langsung maju. Dengan penuh keyakinan diri Liong Ping langsung menantang lawan.

Kini keduanya sudah bertarung memainkan pedang pada tingkat-tingkat puncak. bahkan desakan lawan makin dirasa menekannya. Belum lagi serangan itu mengenai sasaran. Sinar perak berkelebat. membuat penontong yang ilmunya cetek sudah berkunang-kunang. tetapi kadang berpindah ke atap. sinar pedang gemerdep melayang meliukliuk. Selama ini ia menganggap ilmu pedang Yu Liang Pay. ilmu pedangnya segera berubah. sehingga pada jurus ke enam puluh ia mundur ke belakang kemudian meloloskan sebuah pedang. keringat dingin mengalir di lehernya demi melihat sedemikian hebatnya ilmu pedang lawan. saking kencangnya. Waktu Liong Ping itu menegakkan pedangnya. hingga mau tak mau Tiauw Kwi melawan dengan juga dengan jurus-jurus pamungkas dari ilmu pedang Swat Kong Kiam Hoat. Hanya dalam waktu singkat saja tubuhnya seakan-akan diselimuti oleh kilatan pedang. kadang di dalam pendopo. Lewat lima puluh jurus. maju mundur. ilmu pedang yang selain kuat juga mengandung hawa magis. Melihat lawan memakai pedang Tiauw Kwi juga mengimbanginya. ia kadang duduk di kursi kadang berdiri. Sungguh pertarungan mati-matian yang sangat menarik untuk diikuti. beberapa diantaranya bahkan sudah roboh pingsan. hampirhampir saja pedang ini menebas lehernya. saking cepatnya. Merasakan situasi seperti ini Liong Ping menjadi gusar sekali. Demikian pula Hok Cu. makin terlihat kedudukan Liong Ping makin terdesak. terbenturlah kedua pedang dan menerbitkan suara nyaring. menyusul sinar pedang gemerlapan pula. adalah ilmu pedang paling . ia sudah menggeser ke samping dan menyerang pula ke menebas ke arah kanan. naik turun tak dapat diduga dan sulit diraba arahnya. hatinya mencelos. Jurus-jurus terakhir ilmu pedang ini memang dikhususkan untuk penyerangan. Liong Ping mengeluarkan jurus-jurus andalan dalan Yu Liang Kiam Hoat. Pat Tiauw dapat kemajuan yang pesat. jadi bisa dibayangkan tingkat kelihaiannnya. Semua pukulannya amblas di dalam benteng pertahanan lawan yang lihai. Bahkan Hok Cu dan orang bertopeng itu sendiri tersentak dibuatnya. Karena gerakan Liong Ping semakin cepat. Pedangnya menyambarnyambar dengan cepatnya. Mereka bahkan tidak hanya bertarung di arena halaman depan. "trang". Semua penonton. hati Ki Liang rasanya seperti di parut sedikit-demi-sedikit. Ilmu pedang murni yang berdasarkan hawa lweekang “im” tingkat tinggi. Pedangnya berputar-putar seperti kitiran membentuk benteng pertahanan yang sangat kokoh. boleh dibilang Liong Ping sudah taraf sempurna dalam meyakini ilmu pedang ini. setelah belasan tahun menggembleng diri. Sejak digembleng mati-matiang oleh Yung Vi. melihat dengan berdebar-debar. Karena baru kali pertama melihat ilmu pedang lawan keduanya sama-sama kagumnya. pedang Tiauw Kwi menusuk cepat ke leher lawan.menghujani kabut merah yang dikeluarkan oleh tangan Liong Ping. ia merasa tergetar hebat. kadang berlarian di wuwungan. Tiauw Kwi memapaki serangan lawan dengan ilmu pedang cahaya salju (Swat Kong Kiam Hoat).

“Desss.. “Siapa kau?” “Ayahku bernama Kwan Tiong San.hebat..... maka ia bisa saja menjadi penengah agar pertumpahan darah bisa dihindari. Liong Ping berkelit dan pedangnya menggunakan kesempatan penjagaan lawan yang kosong segera menusuk ke tengah. Maka dengan hanya menggunakan tapak tangan ia menangkis sekuat tenaga.. awaassss. “Pergiii. hanya secara refleks saja ia berkelit ke kiri. Ia berusaha menahan tubuh dengan pedangnya namun gagal.. tamparan itu berjarak sedemikian dekatnya.croot.kaukah kakekku. ujung pedangnya menusuk miring. Tiauw Kwi tak sempat dan tak mungkin pula bisa menghindar.. “Kakeek. Suatu saat mendadak ia menyerang dengan jurus pedang salju menusuk awan. iapun roboh. bahkan jauh lebih berat.aduuhhh!” Pedang lawan hanya merobek sedikit pinggang kirinya. Matanya membeliak merah. kalau memang dia kakeknya. “Tiong Gi. Darah mengucur deras dari lukanya.. “Plakkk. sambil berjongkok mendekat ke tubuh orang tua itu yang disangga oleh Siong Lee.!” Mendadak ketika kepala Tiong Gi sudah dekat tangan yang semula hendak mengelus berubah menjadi tamparan yang keras dan secepat kilat. aku anaknya!” kata Tiong Gi. “Coba mendekatlah sini!” seru kakek itu perlahan..?” desis Tiong Gi perlahan. sambil mendekati orang tua yang roboh itu. Maka tanpa curiga ia mendekat dengan masih tetap berjongkok. namun kasib. Sedangkan pedangnya menusuk dalam dada kanan atas Liong Ping..!” . Hampir bersamaan Tiong Gi juga mendekati tubuh Liong Ping. Tiong Gi tidak mempedulikan bentakan itu. Ia tidak sempat menangkis. Makin lama pedang Tiauw Kwi semakin bertambah unggul... Tangan kakek itu seperti menggapai-gapai kepada Tiong Gi... Sekonyong-konyong dari arah belakangnya meluncur sesosok tubuh yang bergerak cepat.. Dan tak seorangpun mampu menandinginya. Tiong Gi hampir bersorak girang mendengar ucapan orang tua ini. Tiong Gi tersentak..plaakkk. Rasa haru sekonyong-konyong menyeruak dari dasar hati Tiong Gi.... Liong Ping terhuyung-huyung ke belakang..pergiii jauh babi kurap!” bentak Hok Cu sambil menudingkan telunjutnya.. Hok Cu dan Siong Lee menghambur ke arena. apalagi dengan hawa magis yang dihasilkan. Tapi sapa kira hari ini ilmu pedang ini mendapat lawan yang tak kalah hebat... bahkan ia makin mendekat.

.kau ah kau mirip sekali dengan dia.Tubuh Tiong Gi terpelanting. Dengan menggunakan pedang. Sebaliknya nasib wanita yang menyerang membabi buta itupun tak kalah mengenaskan. namun sayang rambutnya dibiarkan riap-riap... Pukulan dan tamparan diterima dari ayah mertua dan anak tirinya. lengan kanannya yang terkena tamparan terasa panas dan patah-patah. tepat di jantung Liong Ping. “Siauw-moy. Pedangnya amblas. Untunglah seperti tubuhnya sempat ditendang oleh seseorang yang tiba-tiba saja datang... Betapa teganya mereka menghina dirinya seperti itu. sayang dia telah meninggalkan kita... Liong Ping hanya bisa menatap tak percaya akan pandangannya...... apakah dia ini ibumu? tanya Tiong Gi berbisik... ia selalu melayani dan merawat mereka dengan baik..jangan tinggalkan aku.... .. dan pakaian yang dikenakan sudah kumal.. Matanya terbelalak dan seketika itu juga nyawanya melayang....!” ratap gadis bermata jeli itu...... Ia masih sempat mendengar umpatan busuk yang keluar dari mulut kakek tua itu: “Anak Tiong San. namun garis-garis kecantikannya seperti belum pudah.bibi apakah kau ibuku???” Sekonyong-konyong dari barisan murid-murid Yu Liang Pay menyeruak seorang anak gadis. “Heiii.ha. terima kasih atas bantuanmu. Dan meletakkan tapak tangan di punggung Tiong Gi. tolong kau jagalah Bwee Nio.. anjing kurap!” Ciak Kun segera menghampiri dan memapahnya keluar arena. siapakah nama bibi yang mulia?” “Kau...........awasss. Segera ia merobek baju bagian lengan.bibi.ibuuu.. “Bibi.. “Bibi.... siapa sudi aku menjadi kakekmu. hua.ayahmu anak pelacur haram! Cuh..” selesai mengucapkan kata-kata terakhirnya.dessss..jangan mati dulu bibi.... cepat ia mengambil koyo dan menempelkannya di lengan itu. “Ibu.. bu huuu. ia menusuk Liong Ping.huu.. mengaku-aku sebagai cucuku..ha..!” “Perempuan lancang! Pelacur busuk!” “Plaakkk.oohhh San-ko kau tunggulah aku. dan melihat bekas tamparan yang membiru di kulit Tiong Gi..!!!” Orang yang baru datang adalah seorang wanita... padahal semenjak tinggal di Yu Liang Pay.....crooootttt.. saat itu juga ia menghembuskan kata-kata terakhir... meskipun sudah setengah baya. jauh lebih menyakitkan dibandingkan luka tubuh yang dirasakannya..

karena Tiong Gi sudah terluka. berteriak: “Serbu. ia ingin mencari peluang untuk menghajar Tiong Gi. kalau Tiong Gi digantikan pihak lain.. anak nakal! Masuk. malah kemudian menyeka air matanya.. Demi thian aku akan memusuhimu kalau kau mengganggu gadis itu seujung rambutpun. Tapi nilah sebenarnya kesalahan Yu Liang Pay. Tiong Gi hendak mencegah. maka ada beberapa pendekar yang harus melayani dua lawan. Jika saja pertandingan perorangan dilanjutkan kiranya banyak kemungkinan pihak mereka dapat memetik kemenangan. Kalau Tiong Gi dan Sim Houw bertempur dengan tenang dan hati-hati karena maklum akan kelihaian lawaan. terutama Siong Lee. Tapi kini ia dibantu Sim Houw. Ia tidak menjawab.. dan berteriak dengan gagah.Gadis yang ditanya itu menengok ke arah Tiong Gi. “Adiknya. Hok Cu dan Siong Lee bertarung dara rasa marah dan penasaran sekali. Namun pikir Hok Cu.. dan mulut berapi-api Siong Hok Cu.. kenapa wanita itu membunuh Liong Ping? Kenapa dia menyebut nama ayahnya. Mereka kemudian saling menyerbu berhadap hadapan. Karena tidak bisa memusatkan perhatian pada beberapa jurus terakhir Siong Lee benar-benar keteteran. hanya saja kini mereka berpedang. tapi ia menjadi ragu. “Siong Lee. Kiranya Yu Liang Pay telah menyiapkan segala kemungkinan. Dan dengan perang campuh. sambil menarik tangan adiknya.. tunggu. “Siapa yang membunuh ibuku! Siapaa. Mereka masih sedih memikirkan kehilangan orangorang tercinta. Bahkan dengan muka merah penuh emosi. berarti anak Siong Chen.. maka secara psikologis pihaknya sudah kalah duluan. Pertandingan antara mereka berdua sudah berjalan puluhan jurus lebih...ayo. Dari pihak pendekar. Karena jumlahnya tidak seimbang..siapaa. mereka yang sudah menyiapkan tameng menggunakan tamengnya. Tiong Gi kembali menghadapi Hok Cu dan Siong Lee.. karena dengan sigap anak murid Yu Liang Pay membereskan kedua mayat itu. maka pertempuran berlangsung imbang. “Apa urusannya denganmu! Dia adikku!” bentak Siong Lee..???” teriaknya lantang. Karena lawan berpedang maka Tiong Gi juga meloloskan pedang yang memang sudah dipersiapkan. “Heh.masukkk!” seru Siong Lee.jangan kau ganggu dia!” seru Tiong Gi. ayahnya. Tiong Gi tidak sempat lagi berpikir panjang... Namun karena dipihak tamu banyak tokoh kosen. Pada saat yang berdekatan ia harus kehilangan ayah dan ibunya. sehingga . makin lama makin seru dan gerakan kedua orang ini benar-benar dahsyat.. benarnya nama “San” yang disebut itu adalah Tiong San. Perang campuh tidak bisa dihindari.!” Puluhan panah dan senjata rahasia di lontarkan dari atas. sambil menyeret Bwee Nio ke dalam.. kalau dia adik Siong Lee.

pada saat yang kritis itu Ki Liang menyadari satu hal. akhirnya ia hanya bisa menggunakan Kiu Yang Sin Ciang dengan tenaga mencongkel. Mereka bertarung sambil berloncatan dan terbang seperti burung. ia selalumemerintahkan anak buah untuk hati-hati. dan seandainya pertarungan di teruskan ia bisa tewas.. Sebaliknya lawan sepertinya masih jauh lebih muda. tetap saja banyak anak buah yang jadi . karena musuh masih sempat tiga kali memberikan pukulan telak padanya. Tapi ia agak heran karena musuh justru lebih ingin menyerang Tiauw Kwi. Ciak Kun yang ditinggalkan merasa segan untuk menyerang secara membokong. Pertarungan antara Sun Ciak Kun dan Pat Tiauw Kwi menghadapi iblis bertopeng dewa Heng dan iblis bertopeng dewa Ha. bahwa tujuan awal mereka bukan untuk menyerbu Yu Liang Pay. Bagaimanapun Ciak Kun sudah berumur lebih dari seratus tahun. Sementara itu pertarungan di luar markas berlangsung tidak kalah serunya dengan yang di dalam. ia tidak terluka parah. celakanya dengan cara melompat tinggi musuh masih terus melontarkan pukulan jarak jauhnya. Dua orang bertopeng lantas menyambar tubuh Hok Cu dan Siong Lee. dan dibawa terbang keluar. iblis bertopeng itu tampak marah. Untunglah. sehingga setelah menderita banyak luka ia dibiarkan begitu saja. Hanya dengan perlindungan sinkang yang cukup hebat saja. Dan mereka mendatangi markas sebenarnya bertujuan untuk menghambat gerakan orang-orang di markas.. Pada suatu kesempatan bahkan sebuah lontaran pukulan jarak jauh sempat menyerempet Tiauw Kwi sehingga ia hampir saja terpelanting. Dan kini ia mengejar Ciak Kun. sehingga meskipun terhalang lawan pukulannya tetap mampu mencongkel Tiauw Kwi. bahkan dengan nafsu membunuh sangat besar.beberapa kali pedang lawan. Untunglah Sim Houw tidak berniat membunuh. Melihat serangannya gagal.. bahkan boleh dikatakan ia masih kalah seusap dalam hal lweekang. Ciak Kun langsung melompat mundur.. sehingga daya tahan tubuhnya sudah lemah...! Dengan nafas megap-megap. Namun meski hanya tiga kali cukup menurunkan daya tahan tubuhnya. Sepuluh jurus berikutnya ia terdesak hebat. berhasil melukai tubuhnya. berlangsung paling seru dan dasyat. Oleh karenanya ia kemudian berteriak memberi komando untuk mundur: “Munduuurrrr. Benteng yang mengelilingi bukit pedang sudah dibangun lebih kuat semenjak Chien Ce masuk ke dalamnya. Di tambah lagi tingkat kelihaian Ciak Kun tidak disebelah atas lawannya. sehingga ia makin terdesak.. Kedasyatan pukulan-pukulan iblis bertopeng dewa Heng yang menjadi lawannya sebenarnya sulit sekali di tahan Ciak Kun. tetapi untuk menangkap Vicitra Rahwananda. Namun karena di dalam benteng berisi banyak sekali jebakan-demi-jebakan. Chien Ce bertindak sebagai pemandu. Kadang-kadang memasuki pendopo. Namun pada saat-saat terakhir ia menderita kerugian besar. sehingga ia terselamatkan.

Bu Kak taisu dan Bu Kong taisu. Sementara itu dari pihak pendekar selain Ji-lojin terdapat Bhok Kian tosu. Sedangkan anak buah tanding melawan anak buah. Dua pendeta Siauw Lim meskipun memiliki kekuatan bathin yang hebat. sehingga akhirnya terjadilah perang campuh. jikalau Liu Tiauw Kwi tidak bertindak. Tubuh mereka menjadi lemah. atau hewan-hewan buas. atau ular berbisa. Mulut mereka berkemik-kemik. Chien Ce. dan dengan mudah ia terkena tendangan lawan. Mereka melihat ilmu pedang lawan bisa menjadi lebih dasyat. Ji-lojin yang mendapat bagian untuk memimpin usaha mendobrak benteng. bahkan beberapa anak buah sudah berguguran menjadi korban. bahkan seolah-olah digerakkan oleh puluhan tangan. Situasi para pendekar berada dalam tekanan yang berat. Maka sibuklah anak buah yang menjadi tim pendobrak. Ia melancarkan serangan auman singa. Beberapa sudah jatuh menjadi korban. Sekonyong-konyong ada ratusan bayangan yang menyerang pihak kaum pendekar. Pada awalnya kedudukan penyerang berada di atas angin. Ji-lojin yang sudah mewanti-wanti anak buahnya untuk mewaspadai ilmu sihir lawan. Ji-lojin beberapa kali berhasil memberi hajaran kepada Vicitra Rahwananda. Akibatnya. suheng kedua dari Can Seng. tidak menduga kalau di pihak lawan telah berdiri lima penyihir sakti yang langsung datang dari India untuk membantu Vicitra Rahwananda. dan sepuluh orang dari Tok Nan-hai Pang yang dipimpin oleh Can Hok. Sudah beberapa kali mereka terkena tusukan pedang. Liu Tiauw. dari pihak pendekar semua terpengaruh oleh hawa sihir lawan. sehingga gerakan mereka menjadi kacau balau. dan Liu Siang. memerintahkan anak buah untuk menyerang dengan panah api. Mereka duduk di atas benteng membawa dupa yang mengepul. Chien Ce. Bahkan mereka seperti melihat lawan bisa berubah menjadi raksasa. Chien Ce dan Liu Siang paling menderita. Sai cu ho-kang. dan Liu Siang menghadapi lima tetua Yu Liang Pay. sedang Bhok Kian tosu menghadapi Can Hok. jebakan demi jebakan berupa sumur sumur yang dipenuhi oleh senjata. permainan tongkatnya menjadi lemah. Para pendekar mulai keteteran. Pada saat itu benteng memang dipertahankan oleh Vicitra Rahwananda.korban. Keadaan paling parah dialami oleh Bhok Kian tosu. juga masih terpengaruh ilmu hitam lawan. namun betapa batapa kagetnya mereka ternyata di dalam benteng sudah banyak dipasang. Bu Kak taisu dan Bu Kong taisu. ia melompat mundur dan dibantu oleh Ji-lojin yang menyibak jalan. Ji-lojin langsung menghadapi Vicitra Rahwananda. sehingga penyerbu bisa masuk. Gelombang suara yang dasyat meluncur cepat menghantam apa saja yang menjadi . Di belakangnya berdiri lima tetua Yu Liang Pay. Suaranya di arahkan ke lima penyihir yang duduk di tembok benteng. Liu Tiauw. akibat serangan sihir lawan. Untunglah dari barisan pendekar kerjasama dilakukan dengan baik. Namun demikian serbuan penyerang tidak dapat dibendung. Benteng yang sebagian terbuat dari kayupun terbakar. Namun ketika kedudukan lawan mulai terdesak tiba-tiba berbunyi suara genta. dan mereka merasakan kelelahan yang amat sangat. selain Ji-lojin dan Liu Tiauw yang memang sinkangnya sudah taraf sempurna. dan diikuti kehadiran lima orang India berpakaian serba hitam.

Hampir-hampir saja kelima tukang sihir ini roboh terpelanting. pihak tuan rumah juga ada yang terkena serangan. namun Liu Siang adalah gadis gemblengan lembah delapan rembulan dan ditambah lagi didikan dari nenek besar.. Ia tidak menangkis sambaran.. sekonyong-konyong dari atas mengguyur hujan. dan banyak korban jatuh. Vicitra kemudian memberi komando anak buah untuk lari menyelamatkan diri. Situasi segera berubah setelah itu. yang lidahnya menjulur-julur. Vicitra berusaha menangkis serangan.sasaran. “Awass ular raksasa!” Sejenak Liu Siang terbelalak melihat di depannya tergolek seekor ular. tendangan yang disebut tendangan kaki gajah Ting-ting ini merupakan jenis tendangan yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Sambil turun ia masih mencoba untuk membentak gadis itu. Ketika pihak pendekar hendak mengikuti mereka tiba-tiba pintu gudang. Mendadak Vicitra meninggalkan lawan. Ketika para pendekar berusaha mendobrak atau membongkar dinding gudang. Seorang anak buah Tok Nan-hai Pang menaburkan garam racun dari lubang di dinding yang memang sudah disiapkan. jika mereka tidak memiliki kelihaian yang memadai. lawan yang lemah. namun Vicitra berhasil menangkisnya. . karena kini para pendekar makin mempergencar serangannya. dengan tubuh gosong atau melepuh. namun akibatnya ia harus bersalto untuk menghidari luka. Garam ini ternyata ditaburkan dari atas. tongkatnya digerakkan untuk menyerampang kaki.. Tapi ia keliru sangka kalau gadis itu.!” Meskipun berhasil ditangkis. Para anak buah pendekar merasa kesakitan.. atau dari dinding bukit pedang. Meskipun kekujur tubuhnya telah terkena beberapa kali goresan. dupa-dupa beterbangan. bahkan bukan hanya para pendekar yang menjadi korban. Chien Ce berusaha memberikan pertolongan. Tetapi bukan hujan sembarang hujan melainkan hujan garam beracun.. yang memiliki keberanian dan tekad yang luar biasa. melainkan menjatuhkan diri. dan langsung membopongnya. yang terbuat dari besi tertutup. “Desss. Terlambat. bahkan pedang bengkok di tangannya berhasil mematahkan tongkat Chien Ce. namun dari bawah ia menlancarkan serangan dengan tendangan kaki. dari belakang Can Hok berhasil menotoknya. Tendangan kaki yang dilancarkan bukanlah tendangan sembarangan. dan langsung berniat menyambar Liu Siang.. Sehingga suasana menjadi kacau balau. Mereka kemudian memasuki sebuah gudang. Namun dengan tabah ia berusaha untuk memusatkan perhatian dengan mengerahkan sinkangnya.

Liu Tiauw dan dua biksu Siauw Lim berusaha menjebol dinding. dan membuat barisan kocar-kacir. Akhirnya ia jadi tontonan anak buah pendekar yang berada di bawah. Akhirnya benteng itu ditinggalkan lawan. Begitu sampai bawah. Tapi mendadak beberapa panah dijepretkan ke arah atas. karena memang tempat itu banyak ceruk. Rombongan Ji-lojin keluar ke arah tebing.!” Ternyata ia seperti dengan nekad berusaha menuruni. namun dmi melihat ia menoleh ke kanan ke kiri. Ternyata lorong di bawah sangat panjang karena cukup rumit. Dari tebing merena mendapati anak tangga. Dengan cepat Ji-lojin menuruni tangga. dan . keadaan di situ cukup gelap. namun akhirnya mereka berhasil keluar. Mereka kemudian menuruni tangga. lima belas dari anak buah Bambu Putih dan dari negeri salju. Korban dari pihak pendekar ada sekitar dua puluh orang. Memang tempat itu disengaja dilubangi seukuran lemari kemudian orang memasukinya dengan menggunakan tangga. dan barulah setelah lebih dari sepuluh menit mereka bisa membobol dinding itu. Dengan hati-hati kemudian Ji-lojin mengikuti petunjuk Kian Bu. rombongan Ki Liang berhasil menyusul. Namun terlihat rombongan lawan sudah turun dan berlari menuju ke arah sungai. Lima ahli sihir dari India juga sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya. “Tolonglah ambilkan tangga untukku!” Turunlah merayapi dinding!” “Jangan dilempari yaa. sehingga menyulitkan untuk mencari jalan yang dipakai oleh lawan. kebingungan tidak mendapat jalan keluar. perlahan-lahan ia bisa menuruni.. dan karung berisi garam terjatuh mengguyur tubuhnya. Melihat pimpinan mereka sudah melarikan diri anak buah lawan menjadi kebingungan dan berlarian kesana-kemari. dengan geli. ia seperti terendam dalam garam racun. Sedangkan korban dari pihak lawan ada dua puluh lima. Beberapa kali Ji-lojin. di dalam gudang tenyata ada tangga menuju ke ruang bawah tanah.. sesampainya di bawah ternyata banyak terdapat lorong-lorong. bahkan saking besarnya karung..Ketika anak buah hendak berusaha keluar melalui pintu gerbang depan yang berhasil dibobol. Sementara anak buah yang didepan akhirya mendapat bantuan dari bawah. Belum puas anak buah pendekar masih menghujaninya dengan senjata. ternyata dibagian itu sudah dikepung banyak sekali oleh lawan yang menyiapkan barisan pendam untuk memukul dari belakang. seperti monyet kena tulup. tinggal satu saja anak buah dari Tok Nan-hai Pang yang masih ada di atas. Meskipun awalnya dongkol dan marah. Lima dari kaypang. Mereka membawa lebih dari sepuluh anah buah. Suasana menjadi kacau balau. untuk meloloskan diri. Setelah ditinggalkan lawan kini. dengan percaya diri ia tertawa.

. warna air sungaipun berubah merah. Seketika itu jeritan dan teriakan terdengar bersahut-sahutan. “Ha. Meskipun tubuhnya gembur. Merasa tempat itu sepi tiba-tiba ia tertawa.. “Ha. hingga membuat Can Hok terkekeh. mana mampu mereka menghadapinya.. namun keburu dua pemuda menghadangnya. namun menghadapi dua iblis sesat. Merski hanya beberapa kejab mata. Can Hok dan Vicitra langsung saja berlari.anak muda. makin mempercepat gerakan renangnya.. namun tidak demikian bagi anak buah yang ilmunya cetek. Matanya jelalatan ke kanan dan kekiri khawatir kawan-kawan anak muda itu datang..ha. Tiba-tiba dua pemuda itu menari-nari sambil menguik mirip monyet. beberapa anak buah bambu putih menghadang mereka...langsung berusaha mengejar... namun tiba-tiba dari atas meluncur puluhan bambu berwarna putih yang menghujani mereka. Karena tangan dan kakinya terikat ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. namun karena diisi oleh banyak manusia.. Vicitra berhasil menaiki perahu dan meninggalkan lawan. Bahkan Can Hok masih sempat membawa Liu Siang.. seperti ada yang menarik dari dua tepi sungai.. Bagi dedengkot tidak ada kesulitan menangkisi serangan bambu dari atas. Rombongan anak buah yang berada di belakang bermaksud menolong.. Tik Coan Kok dan beberapa anak buah bambu putih sengaja di tempatkan di tikungan sungai untuk menghadang lawan yang melarikan diri lewat sungai. namun larinya kencang. Pemuda yang berenang mengejar mereka..ha. bukankah kalian berdua ini dua ekor monyet? Hayo menari-narilah di depanku!” perintah Vicitra sambil mengerahkan ilmu sihirnya. Liu Tiauw juga mengikuti dari belakang.. namun kejadian ini membuat mereka lengah.ha. kukupas hingga jadi tengkorak dengan daging membusuk!” ancam Vicitra sambil menempelkan pedang bengkoknya di kulit muka Liu Siang.kita bebas. Dua orang pemuda secara gesit langsung terjun ke sungai dengan penuh rasa khawatir. perahu bergoyang-goyang. ...ha. yang semuanya berjumlah empat. Akibatnya perahupun oleng dan mereka semuanya tercebur.. Diikuti perahuperahu yang dinaiki anak buahnya. Ternyata memang seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Sepeminuman teh kemudian. Liu Siang yang masih dalam keadaan terikat juga ikut terjebur. Cak Hok dan Vicitra berhasil mendarat di pinggir sungai sebelah barat. “Bocah sial! Jangan halangi kami atau aku akan buat kulit halus putih kemerahan dan hangat ini kubuang. tertawalah mereka terbahak-bahak..!” Tetapi betapa kagetnya mereka saat perahu melewati tikungan tiba-tiba dari dalam sungai muncul kawat besi yang merintangi perahu secara mendadak. Perahunya meluncur dengan cukup kencang.. Ternyata Can Hok dan Vicitra mahir berenang di sungai..

. dia langsung menggunakan jurus badai salju menyapu awan yang dipadukan dengan Kiu Yang Sin Ciang. dan dari atas ia mengirim serangan dorongan dengan kedua tangan ke arah dada Vicitra. maka cepat ia melompat menyongsong tubuh lawan dengan pedang yang pedang yang dibacokkan. Inilah tahap akhir dari ilmu silat Jit kong ci... Seranganserangannya sering menghadapi benturan hawa sinkang yang melindungi tubuh lawannya. Sebaliknya bagi Vicitra yang habis bertarung mati-matian dengan Ji-lojin.. Sedangkan Tiong Gi tidak menduga bahwa lawannya kali ini sungguh sangat lihai. Akibatnya masing-masing terdorong ke belakang dua tombak. yang sangat ditakuti di Thian Tok. yang baru saja mendapatkan luka. Karena itu Vicitra kemudian mengubah ilmu silatnya. Totokan ini bukan main hebatnya.Mendadak terdengar auman nyaring “Auuuuuummmm!” dari salah satu pemuda yang bukan lain Tiong Gi. Akibatnya. Tiong Gi tidak tinggal diam dengan badai serangan yang . Tetapi.blaarrrr!” Pertemuan dua tenaga sakti menimbulkan bunyi ledakan yang luar biasa memekakkan telinga. Bagaimanapun kalau terus-terusan ia bertarusng seperti ini. Belum lagi kegesitan lawan yang masih muda yang dapat bergerak cepat dan kokoh. cukup ampuh untuk membuat lawan menjadi berhitung banyak. ia kurang bisa mengembangkan jurusjurus pilikan dari ilmu silat badai salju maupun Kiu Yang Sin Ciang. bahkan dia masih mampu melakukan serangan serangan yang membahayakan Vicitra. Di sela-sela deburan arus sungai Tiong Gi lantas meloncat tinggi sambil berteriak nyaring. Dan sedekit saja cukup kesempatan bagi Tiong Gi untuk melakukan serangan ke Vicitra. Vicitra tidak menyangka bahwa lawan yang masih sangat belia bisa memiliki tenaga sakti sehebat itu.. Jurus-demi juruspun mulai dipertontonkan... Ia mengincar lengan kanan Tiong Gi.. sedang tangan kirinya melancarkan pukulan tenaga sinkang yang sangat kuat. “Bressss. mendesak pemuda itu juga bukan perkara mudah. Tiong Gi yang menyadari lawan mengincar lengannya bertindak hati-hati sekali. Vicitra mencerca Tiong Gi dengan serangan dasyat pukulan-pukulan yang sangat kuat. jari-jari tangan Vicitra bahkan bisa membara sehingga berwarna keperakperakan. Kakek hidung betet itu terkejut mendengar desir angin serangan yang demikian dingin dan beku. Keduanya merasa terperanjat dengan hasil pertemuan ini yang menunjukkan bahwa tenaga mereka berdua sama. Pukulannya badai saljunya. kini ia menggunakan jurus-jurus totokan Jit kong ci (jari sinar matahari). Pedang Vicitra terpental sebelum menyentuh tubuh lawan. lama kelamaan ia akan kehabisan tenaga. Keringat dingin mulai mengalir di dahi kakek hidung betet itu. Serangannya hebat sekali karena kedua lengannya penuh dengan hawa imkang yang mukjijat. Auman nyaring yang disertai sepenuh tenaga khikang membuat kedua iblis itu tersentak kaget. Sampai seratus jurus Tiong Gi masih belum terdesak. lawan yang lebih tua mulai kelelahan. Dalam kemarahannya. Namun justru karena ini. bertahan dan menyerang dengan sama baiknya.

Di saat yang sama sekuat tenaga ia melancarkan pukulan badai salju menusuk awan dengan tangan kirinya. totokan itu meninggalkan luka sedalam setengah senti. Kecerdasan dan ketenangan Tiong Gi.. sepertinya lawan sudah nekat untuk mati bersama. ”Ha. Maka ia menjadi gelap mata dan nekat melakukan serangan-serangan paling dasyat. Tendangan kaki kanan Tiong Gi tidak ditangkisnya melainkan dipengang dengan tangan kirinya. Dan untuk membantunya melawan kekuatan musuh yang dirasanya masih di atas tingkatannya.ha. pegangan tangan kirinya lepas.. sampai jumpa di neraka aaaaachhh!” Selesai mengucapkan kata-kata itu tubuh Vicitra berkelejotan sebentar dan terdiam. telah menyelamatkannya. Vicitra masih sempat tertawa dan berteriak girang.... Untunglah ia masih mengingat salah satu ilemu yang dipelajarinya dari Sun Ciak Kun. dengan harapan lawan yang pertahanannya sudah terbuka akan menarik serangan. Akibatnya kaki Tiong Gi menjadi terkunci.. ”Cussss. Mendadak tubuhnya mendoyong ke depan rendah sekali. apalagi ketika ia melirik arena pertandingan mereka sudah mulai di datangi oleh beberapa orang yang datang tanpa meninggalkan getaran suara yang keras.. namun ia masih sempat menumpu kedua tangannya sehingga berhasil bersalto sekali.. meskipun ia sudah melindungi tubuhnya dengan sinkang dan memindahkan jalan darahnya. . yang hanya berarti bahwa tempat itu sudah dikepung oleh orang-orang yang lihai. Tiong Gi tidak membiarkan lengannya terkena serangan lawan. yaitu I-kionghoan-hiat atau ilmu memindahkan jalan darah yang sangat langka dari Siauw Lim. Tetapi mendadak arah totokan jari-jari tangan kanan lawan berpindah ke jalan darah mematikan di bagian dadanya. kemudian duduk bersiulian. anak muda inipun kemudian mengerahkan dan meningkatkan kekuatan sinkangnya untuk mengimbangi kekuatan musuh... Sebaliknya pukulan tangan kiri Tiong Gi dengan telak mengenai ulu hati lawan...!” Totokan lawan mengenai dada Tiong Gi. tanpa menghiraukan lagi pertahanan tubunnya. sehingga lawan langsung jatuh berdebum.. meskipun isi perutnya terasa hancur luluh.desss. namun tetap saja. Waktu yang sekejab itu sungguh sangat menentukan bagi hidup mati Tiong Gi. Mendadak dari kerumunan orang Bhok Kian menyeruak dan mendekati mayat lawan.. maka ia gerakkan lengan ke atas sehingga sejajar dengan tubuhnya dengan maksud menangkis serangan lawan. Pedang di tangannya di bacokkan dua kali sehingga putuslah kedua lengan Vicitra. Dua puluh jurus berlalu tanpa hasil yang memuaskan membuat Vicitra makin lemas.menimpanya. akhirnya kita mati bersama.. Tiong Gi menjadi kehilangan keseimbangan sehingga ikut terpelanting. karena isi dadanya terguncang.. sehingga dada Tiong Gi berdarah.. Merasa lawan meningkatkan kekuatannya. Mellihat serangannya berhasil..ha anak muda. tiba-tiba jari-jari tangan kanan lawan meliuk dari kiri dan mengincar lengan kanannya.

hingga ajal tiba. ”Aneh sekali kelakuan Ce-ko. Can Hok yang sudah terkepung sendirinya ciut nyalinya. iapun berkata pelan ”Dulu kau menebas satu lengan kiriku saat aku tak berdaya. Liu Siang telah dibebaskan dari ikatan namun karena ia sempat tenggelam. Sim Houw memapahnya berjalan menusuri jalan yang barusan mereka lalui dengan tergesa-gesa begitu peristiwa di markas selesai. Namun Bhok Kian memang tidak berniat lebih dari itu. yang kanan adalah hutangmu.” . sute kendalikan emosimu!” teriak Ki Liang seraya bergerak mendekati dan memegang kedua pundang sutenya. ia hanya menjawab singkat ”Aku harus mencari Bwee Nio! Selamat tinggal.”Siancay. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan Chien Ce yang sedang turun bukit dengan wajah pucat diliputi kecemasan. sampai ketemu lagi. tak biasanya ia pendiam dan tidak ceria seperti itu. melainkan akibat diracun oleh manusia yang telah membujur kaku ini. yang masih setia menunggu sahabatnya itu. siapa sangka sepak terjangku di masa lalu justru menimbulkan pertentangan tajam antar partai persilatan. yang satunya lagi bunganya! Kau dulu tidak membunuhkan. tubuhnya terasa segar. dan selamanya aku tidak akan pernah lagi terjun ke dunia persilatan!” Para pendekar mendengar dengan haru ucapan Bhok Kian yang penuh perasaan itu. Bhok Kian melanjutkan ucapannya: ”Cuwi sekalian dulu aku pernah ditawari oleh pamanku sam-lojin untuk berguru padanya. kondisinya masih lemah. Orangorangpun akhirnya bubar meninggalkan tempat itu. iapun bersujud menyembah-nyembah minta ampun. karena aku ingin sepenuhnya mengabdikan hidupku pada Kun Lun Pay. karena memang ia tidak ingin serangannya merupakan serangan terakhir yang mengantarkan lawan ke ajalnya. Dan aku berjanji jika Kun Lun Pay mengijinkan. namun aku tolak. Oleh karena itu. sehingga Tiauw Kwi membopongnya. Gemericik air sungai seolah menyanyikan simfoni pulang ke rumah.” Tiong Gi menatap heran dan bergumam. Sekalikali tindakanku itu bukanlah keluar dari kesadaranku. Sepenanakan nasi kemudian Tiong Gipun sadar. aku akan mendirikan kuil di padang bunga untuk menjaga makam pamanku. Matahari sore bersinar cemerlang bagaikan piringan bersepuh perak. tinggal Sim Houw saja yang bertugas menjaga Tiong Gi sampai sadar. saat ini sungguh sangat tepat aku memohon maaf kepada cuwi sekalian. Ngarai di tepi sungai Wu kembali sepi. Setelah terdiam beberapa saat. Mereka memang sudah berjanji untuk berkumpul di markas lagi. Ketika mereka menyapanya. bahkan ia bertekad menemani Bhok Kian menyepi. Bekas luka-lukanya masih dibalut di sana sini. kini akupun membacok lengan kirimu. Setelah melihat kedua lengan lawan terpisah dari tubuhnya. Para pendekar sepakat untuk mengampuninya dengan syarat ia memotong kelima jari tangan kirinya. akupun tidak membunuhmu!” Sengaja memang Bhok Kian menunggu lawan sekarat. Can Hok dengan secepat kilat menebas jari-jari tangan kirinya. bagi petani yang bekerja di sawah.

Sun Ciak Kun termasuk salah satu di antara yang tergolek di sebuah dipan.Tak berselang lama tampak sesosok bayangan lain mengejarnya. Bayangan Liu Siang. kau hendak kemana. mukanya memerah. Siang cici. namun mukanya pucat karena tubuhnya masih lemah. aku hanya terharu melihat peristiwa di atas. ia merasakan suatu perasaan yang sukar dilukiskan bisa berdekatan lagi dengan Liu Siang. Jika Tiong Gi seperti dapat memahami alasan Liu Siang. ia hanya menggandeng Tiong Gi dan mengajak mereka berdua ke markas. Meskipun keadaannya sudah sangat lemah. ”Suhu kau tidak apa-apa? Apakah suhu terluka? Pakailah guci ini suhu!” . Di sampingnya duduk Jilojin yang sedang bercerita humor. Tetapi sebagai akibatnya. Para pendekar masih bertahan karena mereka berencana untuk merobohkan benteng dan membersihkan bukit pedang keesokan harinya. tadi Chien Ce juga bersikap aneh sekali. tidak sepatutnya sebagai seorang gadis mengejar-kejar perjaka. Ia yang sejak bertemu pertama kali dengan Liu Siang merasa kagum. Memang watak dari kakek tua nomor dua ini sangat ramah dan suka tertawa. Di Markas mereka di terima Kian Bu dan pendekar yang lain. Kebanyakan dari mereka terbaring lemah atau bersiulian untuk memulihkan luka. dengan senyumnya yang tetap mengembang. Tidak demikian halnya dengan Sim Houw.” Sejenak kemudian Liu Siang sudah bisa menguasai diri. Gadis yang selalu dekat di hatinya. karena hatinya telah diberikan pada Chien Ce. kini menyadari bahwa gadis itu tidak ada rasa apapun padanya. Tiba-tiba Liu Siang memegang lengan kanan Tiong Gi dan menangis di pundaknya. Bayangan gadis yang sangat cantik. Tiong Gi tidak mengerti mengapa Liu Siang mendadak menangis. para pendekar bahu membahu bekerjasama dengan penuh persahabatan. ”Eh. sambil ketawa-ketiwi. ia merasa jengah untuk menceritakan perasaan hatinya. apakah yang telah terjadi. Ditanya seperti ini gadis itu terdiam. wajahnya masih memerah. sehingga bisa menebak apa yang kira-kira terjadi di antara Liu Siang dan Chien Ce. Siang cici kau kenapakah? Apa yang terjadi. Ia yang lebih dewasa dari Tiong Gi. Namun Sim Houw tidak berkata apapun. Kini Kian Bu kembali memimpin Yu Liang Pay. Dan saat itu pula ia sadar. bahkan di dalam hatinya telah terpasang lentera yang berpendar-pendar jika bertemu dengan gadis yang sangat elok ini. ”Ah tidak apa-apa Gi-te. apalagi yang dikejar tampak tak menghendaki perjalanan bersama. ia menyeka air matanya. ”Eh. kau hendak kemanakah?” tanya Tiong Gi. tetapi Ciak Kun tersenyum cerah ketika Tiong Gi datang. tiba-tiba saja Sim Houw merasa hatinya perih.” Tiong Gi mengangguk-angguk.

Jadi sampai saat ini.suhu. aku sendiripun tidak yakin dengan she-mu anakku. tak seorangpun di Yu Liang Pay ini yang tahu. Tak lupa ia menziarahi makam ayahnya yang terletak bukit di belakang markas.. atau berburu rusa. Jalan hidupnya ditutup. Aku hanya merasa lemah. Tiong Gi tinggal di Yu Liang Pay selama tiga hari... yang jasanya sulit dilupakan begitu saja oleh mereka yang diberi bantuan dan diayomi. Tidak perlu sedih atau kau tangisi. air matanya berlelehan. Jawaban Kian Bu seolah mempertegas jawaban yang diberikan Liong Ping. ”Ayah. Dua hari sisanya ia membantu para pendekar merobohkan benteng. Apakah bayi itu anaknya atau bukan. Hanya saja. ”Suhu.jangan mati dulu suhu!” ujar Tiong Gi sedih. Satu-satunya petunjuk yang barangkali berguna untuk melacak asal usul ayahmu justru sekeping benda ini. Dulu Liong Ping datang kemari sambil menggendong bayi.” Sebelum berpamitan Tiong Gi menyempatkan diri berbincang agak lama dengan Kian Bu. Sedangkan ayahmu bukanlah putra Tung Nio. memancing ikan. dan sudah saatnya tiba masa berlalunya senja kehidupanku. bermain berdua. yang dipimpin oleh Bu Kak taisu.. Tokoh yang dianggap sesepuh kaum pendekar. iapun mengumpulkan abunya untuk kelak dibawa ke Hang Chao. Setelah prosesi ritual kremasi jenasah Sun Ciak Kun. tepat seperti matahari yang saat itu meninggalkan siang. mati sebagai seorang ksatria yang gagah... seperti apakah sosokmu? Inginnya aku kembali lagi ke masa lalu.”Tidak perlu muridku! Nyawaku tidak akan bisa diperpanjang oleh sebuah guci. Lagipula aku tidak sakit maupun keracunan. Ia menanyakan banyak hal mengenai jati diri orang tuanya. kita bisa bercengkerama. kalau memang ajalku datang di sini. bakarlah mayatku dan bawalah abuku kepada cucuku di Hang Chao. karena dia mandul. Ceruk-ceruk itupun kemudian diisi kayu-kayu dan dibakar.. karena ia menikah dengan ayahmu setelah engkau lahir. Besi inilah yang menotok jalan darah ayahmu sehingga racun yang ditelan tak bisa dimuntahkan.. Ingatlah selalu pesanku untuk menggunakan semua ilmu yang kuberikan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran!” Selesai berkata-kata seperti itu. agar hantu pergi dan penyakit tidak muncul dari bekas tengkorak manusia. Sun Ciak Kun menutup mata untuk selama-lamanya. Di depan makam yang sudah tua itu sukar sekali digambarkan apa yang ada di benak pemuda gagah itu. Semua orang di situ juga merasakan kesedihan yang mendalam. Aku bahagia mati dalam keadaan seperti ini. ”Liem Bi Lian bukanlah ibumu.” . menurunkan tengkorak dan tulang belulang yang ada di ceruk-ceruk dinding bukit pedang. Dunia persilatan berkabung kehilangan salah satu tokohnya yang telah mengabdikan hidupnya bagi orang-orang yang sakit dan membutuhkan pertolongan. berlatih silat.

Selain itu juga jati diri mereka semuanya akan diungkapkan secara lebih dramatis. Dulu ketika kisah ini bermula. Lebih dari itu. seperti Chien Ce. Seorang ksatria telah muncul di dunia sungai telaga. Sosok yang gagah. Pagi itu ketika matahari bersinar dengan cemerlangnya. “Tengkorak hitam???” desisnya. tentunya kisah cinta mereka akan menjadi lebih fokus karena mereka sudah menginjak masa-masa dewasa. Bagaimanakah nasib Cu Hoa. Bagaimanakah nasib Siong Lee? 3. Bagaimana akhir perseteruan dendam kesumat antara kubu ksatria salju (Yung Ci Tianglo) dengan kubu tengkorak hitam? . Sekeping besi berbetuk tengkorak. nona Souw Mei. namun kadang-kadang bersikap sangat dingin seperti puncak Gongga. Bwee Nio. Ksatria melangkah perlahan menuruni fan cing san Kebekuan musim dingin menjejaki langkah Ketika daun-daun siong melambai dan menari Ksatria menatap gelombang awan yang bergerak lambat Selarik kegelisahan yang mengendap Dan perjalanan esok masih akan menjadi tanya Andai burung-burung dapat bertutur Ingin rasanya ia mendengarnya Arti sebuah senyum kerinduan Ksatria tiga kali bernyanyi Lagu tentang pahlawan pembela negara Namun dibenaknya masih ada tanda tanya: Adakah kisah pahlawan tanpa darah dan air mata? Ah kenapa ia mesti bertanya TAMAT Dan sampai disini pula bagian pendahuluan kisah ini. Dalam bagian yang kedua akan dieksplorasi lebih lanjut karakterkarakter tokoh yang baru muncul sekilas saja. Siapakah iblis bertopeng dewa Heng dan Ha (dewa penjaga kuil)? 4. Dan masih banyak hal yang belum terjawab seperti: 1. Dan di tempat ini juga penulis mengakhiri bagian pendahuluan dari kisah Ksatria Negeri Salju.Tiong Gi menatap lekat-lekat dengan mata terbelalak melihat potongan besi di tangan Kian Bu. selain tokoh utama yang sering muncul. Semoga cerita yang cukup singkat ini bisa menghibur cianpwe semua. kokoh seperti batu karang. Tiba-tiba ia merasa jantungnya berdebar-debar. Tapi mungkin tidak bisa disusun dalam waktu dekat. Cerita ini akan dilanjutkan dengan judul yang sama pada bagian kedua nantinya. apa motivasi nenek kelabang emas mengambilnya sebagai murid? 5. kelak entah kisah apa yang akan dihadapinya. ia dibawa turun dan membuat cerita. Bagaimanakah kisah perebutan pedang? 2. Di sisi lain pergolakan yang melibatkan urusan kekuasaan juga lebih ramai. sesosok bayangan menuruni bukit dengan langkah tegap. Sin Hwat.

Siapakah yang mencuri kitab ilmu merak sakti 7.6. Dan masih banyak hal lainnya .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful