PAHLAWAN NASIONAL ITU AKAN MENEGUR KITA : 'ULANGI SYAHADAT KALIAN !!!

' Dengan tegas Natsir berkata, “Pilihlah salah satu dari dua jalan: Islam atau Atheis!” Ketika di parlemen Indonesia di masa kemerdekaan, Natsir mengulangi sikap tegasnya ini tanpa sedikit pun malu atau risih, berbeda jauh dengan tokoh-tokoh Islam di masa kini yang sedapat mungkin berusaha menghindari pengucapan kata “Islam” atau bahkan ada yang sampai hati menyatakan jika perjuangan politik Islam sudah ketinggalan zaman dan bagian masa lalu. Walau tengah duduk di pusat pemerintahan, sikap M. Natsir tidak pernah berubah: sangat tegas jika menyangkut akidah, namun lembut dalam hal hubungan sesama manusia. Terhadap para misionaris Kristen yang di masanya sangat gencar dan terang-terangan ingin memurtadkan umat Islam, Natsir dengan berani menentangnya. Juga ketika Soekarno dan para yes-man di sekitarnya menyatakan jika kemerdekaan Indonesia disebabkan oleh semangat nasionalisme, Natsir menolak keras dan menandaskan jika Islam-lah titik-tolak, penyebab, dari kemerdekaan dan kedaulaan Indonesia. Sejarawan Islam Ahmad Mansyur Suryanegara menyatakan, “Rakyat Indonesia melawan penjajah dengan semangat jihad, teriakan mereka “Allahu Akbar!”, bukan yang lain.” Ketika Soekarno sudah bersekutu dengan PKI, Natsir tanpa ragu melawannya walau itu berarti keselamatan jiwa dan karir politiknya terancam, Natsir sama sekali tidak perduli. Hidup bagi Natsir, dan ini harusnya juga bagi umat Islam lainnya, adalah berjuang di jalan dakwah untuk meninggikan kalimat Allah SWT, apa pun resikonya. Dalam hal ini, lawan-lawan politik Natsir dan kaum Islamophobia sering mengungkit keikutsertaan Natsir dalam PRRI yang melawan kekuasaan Soekarno. Terkait hal tersebut, di masa tuanya, Natsir pernah menuturkan, ”PRRI itu gerakan perlawanan terhadap Soekarno yang sudah sangat dipengaruhi PKI. Melihatnya tentu harus dari perspektif masa itu. Ini masalah zaman saya. Biarkanlah itu berlalu menjadi sejarah bahwa kami tidak pernah mendiamkan sebuah kezaliman.” Di arena Sidang, Natsir mampu berdebat dengan amat keras dengan lawan-lawan politiknya, tapi setelah itu mereka bisa makan-minum semeja di kantin dan mengobrol dengan akrab. “Saya sebagai tokoh Masyumi biasa minum teh bersama-sama tokoh-tokoh PKI,” akunya. “Jadi kita memusatkan diri kepada masalah, bukan kepada person”, tambah Natsir. Bahkan menurutnya beberapa masalah penting bisa diselesaikan melalui pertemuan informal seperti itu. Islam Sebagai Pedoman Pribadi dan Negara Dalam berbagai ceramah, Natsir berkata, “Islam tidak terbatas pada aktivitas ritual muslim yang sempit, tapi pedoman hidup bagi individu, masyarakat dan negara. Islam menentang kezaliman manusia terhadap saudaranya. karena itu, kaum muslimin harus berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan. Islam menyetujui prinsipprinsip negara yang benar. Karena itu, kaum muslimin harus mengelola negara yang merdeka berdasarkan nilainilai Islam. Tujuan ini tidak terwujud jika kaum muslimin tidak punya keberanian berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan, sesuai dengan nilai-nilai yang diserukan Islam. Mereka juga harus serius membentuk kader dari kalangan pemuda muslim yang terpelajar.” Seorang M. Natsir sangat menekankan pendidikan yang benar terhadap umat Islam, agar umat Islam memiliki akidah yang benar, bersih, dan lurus, yang bertauhid,

yang hanya menyerahkan wala’ atau loyalitasnya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, hanya kepada kitab suci Al-Qur’an dan Hadits, bukan kepada yang lain. Jika para pemuda Islam telah memiliki akidah yang lurus seperti itu, tauhid yang murni, maka perjuangan mereka juga akan lurus dan bersih, tidak mencla-mencle, tidak plintatplintut, tidak mengutak-atik syariat yang ada demi kepentingan duniawi sesaat. Itu tergambar dalam buku yang ia tulis yaitu : Fiqh Da'wah. Dalam pidatonya di depan Sidang Majlis Konstituante, 13 November 1957, M. Natsir berkata, ”Seorang sekularis tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang ini belaka… Jika dibandingkan dengan sekularisme yang sebaik-baiknya pun, maka adalah agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima oleh akal. Setinggi-tinggi tujuan hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang dapat diberikan oleh sekularisme, tidak melebihi konsep dari apa yang disebut humanity (perikemanusiaan). Yang menjadi soal adalah pertanyaan, ”Dimana sumber perikemanusiaan itu?” Natsir menjawabnya sendiri, “Islam-lah sumber segala kehidupan dan keteraturan di dunia ini.” Apa yang ditegaskan Natsir dahulu, di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini sama sekali tidak diperhatikan oleh mereka yang mengklaim sebagai “tokoh-tokoh Islam”, baik yang duduk di parlemen, di partai politik, maupun di kabinet. Malah sebagian tokoh-tokoh itu malah mulai teracuni oleh pemikiranpemikiran sekuler dengan menempatkan pluralitas—dengan konsekuensi juga paham pluralismenya—berada di atas dan menempatkan perintah Allah SWT di bawahnya. Bahkan untuk membohongi suara hati nuraninya sendiri, untuk menipu fitrah kemanusiaannya sendiri, ada yang memakai dalil jika Islam adalah “Rahmatan lil’alamin”. Maka tanpa malu sedikit pun mereka mulai memberikan loyalitasnya kepada kaum kufar, seolah mereka tidak pernah mendapat materi pengajian Wala wal Barra. Padahal tidak pernah sekali pun Rasulullah SAW memberikan loyalitasnya kepada kaum kuffar. Keluarga merupakan bentuk paling kecil dari pemerintahan, bukankah Islam mengatakan bahwa pernikahan otomatis batal jika seorang perempuan Muslim ternyata menikah dengan lelaki kafir?. Demikian juga dalam kehidupan bernegara. Sebab pangkalnya adalah masalah pembinaan atau pendidikan. Dalam wawancara dengan Jurnal Inovasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY, 1987), Natsir yang waktu itu telah berusia 79 tahun mengutarakan ada tiga unsur yaitu, masjid, pesantren, dan kampus, yang apabila dipertemukan, niscaya akan menjadi modal utama pembinaan umat maupun pembangunan bangsa dan negara, entah di bidang ekonomi, pendidikan, budaya dan sebagainya. Sayangnya, sekarang ini tiga pilar kekuatan umat tersebut ditinggalkan dan digantikan dengan tiga pilar lainnya: hotel, hotel dan hotel. Sebab itu tidaklah mengherankan jika ada segelintir “tokoh Islam” yang tidak malu-malu lagi melarang umat Islam untuk menghadiri kajian ilmu di sebuah masjid di Jakarta, namun menggelar dangdutan di tempat lain. Andai saja Natsir di zaman sekarang masih hidup dan melihat semua ini, maka bukan mustahil beliau akan berkata, “Ulangilah syahadat kalian!” Seperti yang biasa dikatakan oleh sahabat Natsir, Kasman Singodimedjo, ketika melihat ada yang tidak beres dalam tokoh-tokoh umat Islam http://www.youtube.com/watch?v=Y-AbiPF5IgU&feature=channel_page Tidak ada seorang Nabi maupun Rasul kecuali mengajak umatnya masing-masing untuk

memerdekakan diri dari penghambaan manusia kepada sesama manusia (yaitu Thaghut) untuk hanya menghambakan diri kepada Allah semata. Sembahlah Allah semata dan jauhilah Thaghut...! Dan sepanjang sejarah bilamana wujud suatu masyarakat jahiliyyah niscaya suburlah kehadiran aneka thaghut di dalam masyarakat tersebut. Sebaliknya bilamana berdiri suatu masyarakat berlandaskan kepercayaan, ideologi dan konsepsi aqidah Tauhid La ilaha ill-Allah, maka bersihlah masyarakat itu dari eksistensi thaghut. Seluruh masyarakat menyembah dan mengesakan Allah secara komprehensif, baik dalam aspek peribadatan, mu’amalat, hukum dan perundangundangan maupun kepemimpinan. Berjalanlah masyarakat tersebut sarat dengan perlombaan dalam kebaikan menjunjung tinggi nilai-nilai dan hukum Rabbani. Tidak ada yang dipatuhi dan diberikan loyalitas pada prioritas pertama dan utama selain Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Selama mayoritas warga di dalam masyarakat masih tenggelam dalam kejahiliyyahan maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam terus menganjurkan seruan kalimat La Ilaha ill-Allah. Sebab inti kejahiliyyahan terletak pada kepercayaan, ideologi dan konsepsi yang mengakui dan menerima penghambaan manusia kepada sesama manusia, mematuhi para pemimpin yang tidak menjadikan Allah semata sebagai sumber utama pengabdian, loyalitas dan kepatuhan, baik dalam urusan ritual-peribadatan, nilainilai moral maupun sistem hukum dan perundang-undangan. Artinya, tidak mungkin sesaatpun Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memandang urusan pembenahan kepercayaan, ideologi dan konsepsi masyarakat menjadi perkara usang alias out of date apalagi jadul (urusan jaman dulu) sebelum tampak perbaikan hal ini pada mayoritas masyarakat yang menjadi sasaran da’wah beliau. Tetapi resiko menempuh jalan menyerukan kalimat La Ilaha ill-Allah di dalam suatu masyarakat jahiliyyah ialah menghadapi reaksi keras penentangan. Inilah yang dialami oleh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat. Dan ini pulalah yang akan dialami oleh siapapun yang konsisten menyerukan hal serupa di negeri manapun di zaman kapanpun. Sehingga bila tidak cukup sabar menempuhnya pastilah akan tergoda untuk mencari jalan lain yang kiranya bisa mendatangkan resiko yang lebih ringan bahkan diyakini bisa mendatangkan percepatan meraih kemenangan da’wah. Sahabatpun sempat mengalami kondisi seperti itu. Di antaranya apa yang tergambar dalam hadits berikut:

‫ّ عليه وسلم وهو متوسد بردة له ف ظل لكعبة‬ ََِْْ‫َْ َّاِ ِْ اََّ َاَ َََْا إَ َُوِ اِ َّى اُ ََِْ َََّ ََُ ٌََُّ ًَُْ َُ ِ ِّ ا‬ ‫ل‬ ‫ل رس ل ّ صل‬ ‫ل‬ ‫عن خب ب بن لرت ق ل شكون‬ ‫رجل ف من قبلكم ُفر له ف لرض فيجعل‬ ََُُْ َِْ‫َُْا َُ أَ ََُِْْ ََا أَ َُْو اَ ََا َاَ َاَ الُُّ ِيَْ ََُْْ َُْ َُ ِ ا‬ ‫ي‬ ‫ّ لن ق ل ك ن‬ ‫ل‬ ‫ل تدع‬ ‫قلن له ل تستنصر لن‬ ‫ف ه فيج ء ب ْنش ر في ضع عل ر سه فيشق ب ثنتْ وم يصده ذلك عن د نه وُشط ب مش ط ْد د‬ ِ‫ِيِ ََُاُ ِاَِْاِ َُوَُ ََى َأِِ ََُّ ِاََِْ ََا َُُّ ََِ َْ ِيِِ ََُْ ِأَْاِ اَِي‬ ‫ل‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫ر كب من‬ ِْ ُِ‫َا ُوَ ِِْ ِْ ٍَْ أْ ٍََ ََا َُُّ ََِ َْ ِيِِ َاِ َُِّّ ََا اََْ َّ ََِ الّا‬ ‫لمر حت يسي‬ ‫م د ن َمه من عظم و عصب وم يصده ذلك عن د نه و ّ ليتمن هذ‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ذئب عل غنمه ولكنكم‬ ََُِّْ ََِِ ‫ََْاَ إَ ََََْْ َ َاُ إّ اَ أْ الَّْ ََى‬ ‫صنع ء ل حضرموت ل َ ف ل ّ و‬ ‫ل‬ ‫ي‬ ‫تستعجل ن‬ َ‫ََُِْْو‬ Dari Khabab bin Al-Arat ia berkata: ”Kami mengeluh di hadapan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam saat beliau sedang bersandar di Ka’bah. Kami berkata kepadanya: ”Apakah engkau tidak memohonkan pertolongan bagi kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kemudian bersabda: ”Dahulu seorang lelaki ditanam badannya ke dalam bumi lalu gergaji diletakkan di atas kepalanya dan kepalanya dibelah menjadi dua namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Dan disisir dengan sisir besi sehingga terkelupaslah daging dan kulitnya sehingga tampaklah tulangnya namun hal itu tidak

menghalanginya dari agamanya. Demi Allah, urusan ini akan disempurnakanNya sehingga seorang penunggang kuda akan berkelana dari San’aa ke Hadramaut tidak takut apapun selain Allah atau srigala menerkam dombanya, akan tetapi kalian tergesa-gesa!” (HR Bukhary 3343) Khabab merupakan salah seorang sahabat yang mendapat penyiksaan luar biasa dari kaum musyrikin semenjak ia masuk Islam. Ia datang kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengeluhkan nasib para sahabat yang mengalami hal serupa dengan dirinya. Ia hanya memohon Nabi shollallahu ’alaih wa sallam agar mendoakan para sahabat tersebut, agar Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memohon pertolongan Allah bagi mereka. Ia tidak sampai mengusulkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam agar merubah strategi berjuangnya. Ia tidak sedang menyatakan protesnya terhadap jalan penuh resiko karena menyerukan kalimat La Ilaha ill-Allah. Ia hanya memohon Nabi shollallahu ’alaih wa sallam agar mendoakan para sahabat agar mendapat pertolongan Allah. Namun demikian, keluhan Khabab telah dibalas dengan jawaban tegas Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengingatkan Khabab akan tabiat jalan da’wah yang telah ditempuh orang-orang beriman sepanjang masa. Ini bukanlah jalan melewati taman-taman bunga. Ini bukan jalan bagi mereka yang menyengaja merekayasa jalan da’wah agar menghasilkan berbagai kemudahan dan kesenangan duniawi. Ini bukan jalan bagi mereka yang ingin segera memperoleh kemenangan da’wah dengan meninggalkan seruan asli da’wah Islam yaitu proklamasi umum pembebasan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menjadi penghambaan manusia kepada Allah semata. Ini bukan jalan bagi mereka yang demi kekuasaan rela mengaburkan seruan La Ilaha ill-Allah menjadi seruan lain, seperti Nasionalisme atau Sosialisme atau bahkan Moralisme. Ya Allah, teguhkanlah pendirian kami di atas jalanMu. Karuniakanlah sabar sejati di dalam diri kami. Peliharalah istiqomah kami dalam proyek pembangunan Tauhid di dalam diri, keluarga dan masyarakat kami. Ust Ihsan Tanjung Referensi Video Dakwah Risalah VS Sistem Setan Jahiliyah: http://www.youtube.com/watch?v=H1G05Zuc70s&feature=channel_page http://2i2h.multiply.com/journal/item/569

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful