You are on page 1of 12

FRAKTUR NASAL

I.

DEFINISI Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar daripada yang diabsorpsinya. Fraktur nasal disebabkan oleh trauma dengan kecepatan rendah. Sedangkan jika disebabkan oleh trauma kecepatan tinggi biasanya berhubungan dengan fraktur wajah biasanya Le Fort tipe 1 dan 2. Selain itu, injury nasal juga berhubungan dengan cedera leher atau kepala.

II. ANATOMI HIDUNG Hidung secara anatomi dibagi menjadi dua bagian yaitu : 1. hidung bagian luar ( Nasus eksterna ) 2. rongga hidung ( Nasus interna atau kavum nasi )

gbr. Anatomi Hidung(6)

Hidung bagian luar (Nasus Eksterna) Bagian hidung yang paling menonjol kedepan, disebut ujung hidung ( apeks nasi ). Pangkal hidung disebut nasi. Bagian hidung mulai dari radiks sampai apeks nasi disebut dorsum nasi. Lubang hidung ( nares anterior ) kanan dan kiri dipisahkan oleh sekat yang disebut kolumela. Disebelah lateral nares dibatasi oleh ala nasi kanan dan kiri. Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari 1). Tulang hidung (os nasalis), 2). Prosesus prontalis os maksila dan 3). Prosesus nasalis os prontal, sedangkan tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung, yaitu 1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior, 2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang di sebut juga sebagai kartilago ala mayor, 3) beberapa kpasang kartilago ala minor dan 4). Tepi anterior kartilago septum. Arteri karotis eksterna dan interna memberikan aliran darah ke nasus eksterna. Aliran darah balik dialirkan melalui fasialis anterior yang berjalan

bersama a. maksilaris eksterna. Aliran getah bening dari nasus eksterna melalui pembuluh getah bening yang mengikuti jalannya v. fasialis anterior ke

limfonoduli submaksila. Kemudian mengadakan anastomosis dengan pembuluhpembuluh getah bening dari rongga hidung.

gbr. Perdarahan hidung(9) Persarafan nasus eksterna adalah oleh cabang dari n. trigeminus , yaitu n. oftalikus yang mempunyai tiga cabang yaitu n. etmoidalis anterior, n. suprakoklearis dan n. infrakoklearis. Cabang lain adalah n. maksilaris, melalui cabang-cabang dari n.infraorbitalis.

gbr. Persarafan hidung(9)

Rongga Hidung ( Kavum Nasi ) Rongga hidung dibagi dua bagian, kanan dan kiri di garis median oleh septum nasi yang sekaligus menjadi dinding medial dari rongga hidung. Kerangka septum dibentuk oleh : a. Lamina perpendikularis tulang etmoid ( superior ) b. Kartilago kuadrangularis ( anterior ) c. Tulang vomer ( posterior ), dan d. Krista maksila dan krista palatina ( bawah ) yang menghubungkan septum dengan dasar rongga hidung.

gbr. Septum Nasi(6)

Dibagian anterior septum nasi terdapat bagian yang disebut Area Little, merupakan anyaman pembuluh darah yaitu Pleksus Kiesselbach. Tempat ini mudah terkena trauma dan menyebabkan epistaksis. Dibagian antrokaudal, septum nasi mudah digerakkan. Ke arah belakang rongga hidung berhubungan dengan nasofaring melalui sepasang lubang yang disebut koana berbentuk bulat lonjong ( oval ), sedangkan ke arah depan rongga hidung berhubungan dengan dunia luar melalui nare. Atap rongga hidung bentuknya kurang lebih menyerupai busur yang sebagian besar dibentuk oleh lamina kribosa tulang etmoid. Di sebelah anterior, bagian ini dibentuk oleh tulang frontal dan sebelah posterior oleh tulang sfenoid. Melalui lamina kribosa keluar ujung-ujung saraf olfaktoria menuju mukosa yang melapisi bagian teratas dari septum nasi dan permukaan kranial dari konka nasi superior. Bagian ini disebut regio olfaktoria. Dinding lateral rongga hidung dibentuk oleh konka nasi dan meatus nasi. Konka nasi merupakan tonjolan-tonjolan yang memanjang dari anterior ke

posterior dan mempunyai rangka tulang. Meatus nasi terletak di bawah masingmasing konka nasi dan merupakan bagian dari hidung.

gbr. Kavum nasi dan Konka nasi(9)

Konka Nasi Di dalam kavum nasi terdapat tiga pasang konka nasi, yaitu konka nasi inferior, konka nasi medius dan konka nasi superior. Konka nasi inferior merupakan konka yang terbesar diantara ketiga konka nasi. Mukosa yang melapisinya tebal dan mengandung banyak pleksus vena dan membentuk jaringan kavernosus. Rangka tulangnya melekat pada tulang palatina, etmoid, maksila dan lakrimal. Konka nasi media adalah yang kedua setelah konka inferior. Terletak di antara konka inferior dan konka superior, mukosa yang melapisinya sama

dengan yang melapisi konka nasi inferior. Rangka tulangnya merupakan bagian dari tulang etmoid. Kadang-kadang di dalam konka media terdapat sel sehingga konka menjadi besar dan menutup meatus nasi media yang disebut konka bulosa.

Konka nasi superior merupakan konka yang paling kecil. Mukosa yang melapisinya jauh lebih tipis dari kedua konka lainnya. Rangka tulangnya juga merupakan bagian dari tulang etmoid. Kadang-kadang didapatkan konka nasi suprema yang merupakan konka nasi yang keempat. Jika ada, konka suprema ini sangat kecil dan sebenarnya merupakan bagian dari konka superior yang membelah menjadi dua bagian.

Meatus Nasi Meatus nasi inferior merupakan celah yang terdapat dibawah konka inferior. Dekat ujungnya terdapat ostium ( muara ) duktus nasolakrimalis. Muara ini seringkali dilindungi oleh lipatan mukosa yang disebut katup dari Hasner ( Plika lakrimalis Hasner ). Meatus nasi media terletak diantara konka inferior dan konka media. Ostium sinus merupakan lubang penghubung sinus paranasal dan kavum nasi, berfungsi sebagai ventilasi dari sinus paranasal sebagian besar terletak di meatus media. Sinus frontal bermuara di bagian anterior, sedangkan muara dari sinus maksila terdapat kira-kira di bagian tengah, tempat muara dari sinus etmoid anterior. Struktur-struktur yang ada di dalam meatus nasi media disebut kompleks ostiomeatal. Kompleks ini penting artinya secara klinis dalam menimbulkan gangguan drainase sinus paranasal. Kelainan dalam kompleks ini akan mempengaruhi potensi ostium sinus sehingga berperan besar dalam patofisiologi sinus paranasal. Meatus nasi superior terletak diantara konka media dan konka superior dan merupakan meatus yang terkecil. Disinilah bermuara sinus etmoid posterior. Resesus sfeno-etmoid terdapat pada dinding lateral rongga hidung di antara atap rongga hidung dan konka nasi superior. Di sini terdapat muara sinus sfenoid.

Sinus Paranasal Di sekitar rongga hidung terdapat rongga-rongga yang terletak di dalam tulang yang disebut sinus paranasal. Terdapat empat sinus paranasal, yaitu sinus maksila kanan dan kiri, sinus frontal kanan dan kiri, sinus etmoid kanan dan kiri serta sinus sfenoid kanan dan kiri.

gbr. Sinus paranasal(9)

Sinus maksila disebut juga Antrum Higmori atau lebih sering disebut antrum saja. Rongga sinus paranasal berhubungan dengan rongga hidung melalui suatu lubang yang disebut ostium. Selula etmoid dikelompokkan menjadi selula etmoid anterior dan selula etmoid posterior. Salah satu sel etmoid paling besar dan terletak paling medial disebut ostium. Sinus maksila dan selula etmoid sudah terbentuk sejak lahir dalam ukuran kecil dan bertambah besar sampai ukuran maksimal pada dewasa. Sinus frontal merupakan ekstensi dari selula etmoid anterior dan mencapai pertumbuhan penuh antara umur 8 sampai 15

tahun. Pertumbuhan sinus frontal kanan dan kiri besarnya sering tidak simetris dan pada sekitar 5% populasi, sinus frontal hanya tumbuh pada satu sisi.

gbr. Sinus Paranasal(9)

Mukosa Rongga Hidung Rongga hidung seluruhnya dilapisi oleh mukosa, kecuali nares dan vestibulum nasi dilapisi oleh kulit tempat tumbuh rambut yang disebut vibrissea. Bagian lainnya dari rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang epitelnya terdiri atas epitel kolumnar pseudostratifikasi bersilia. Diantaranya terdapat sel goblet yang menghasilkan lendir. Lendir ini mempunyai pH 6,5 dan mengandung lisozim yang mempunyai efek antiseptik. Tiap sel mukosa rongga hidung mempunyai silia yang jumlahnya dapat mencapai 25 sampai 100 buah. Silia bergerak secara otomatis dan terkoordinasi dalam arah dan waktunya. Pada manusia silia dapat bergerak sekitar 250 gerakan permenit. Pergerakan ini dipengaruhi oleh suhu, kelembaban dan paparan zat anestetik atau gas. Gerakan silia akan mendorong selimut lendir diatasnya ke belakang dengan kecepatan 5-10 mm permenit.

FISIOLOGI Fungsi hidung ialah untuk 1) jalan napas, 2) alat pengatur kondisi udara (kelembaban udara dan suhu), 3) penyaring udara, yang dilakukan oleh rambut pada vestibulum nasi, silia dan palut lendir, 4) sebagai indra penghidu ( oleh mukosa olfaktorius ), 5) untuk resonansi suara, 6) turut membantu proses bicara, dan 7) refleks nasal.

ETIOLOGI Penyebab trauma nasal ada 4 yaitu: 1. Mendapat serangan misal dipukul. 2. injury karena olah raga 3. kecelakaan (personal accident). 4. kecelakaan lalu lintas. Dari 4 causa diatas, yang paling sering karena mendapat serangan misalnya dipukul dan kebanyakan pada remaja. Jenis olah raga yang dapat menyebabkan injury nasal misalnya sepak bola, khususnya ketika dua pemain berebut bola diatas kepala; olah raga yang menggunakan raket misalnya ketika squash, raket dapat mengayun ke belakang atau depan dan dapat memukul hidung atau karate; petinju. Trauma nasal yang disebabkan oleh kecepatan yang tinggi menyebabkan fraktur wajah.

PATOGENESIS Trauma wajah disebabkan oleh 5 hal tergantung dari kecepatan dan kekerasan pukulan, yaitu : 1. Bukan fraktur

Disebabkan pukulan yang tidak keras. 2. Fraktur kelas 1 3. Fraktur kelas 2 4. Fraktur kelas 3 5. fraktur Le Fort tipe 2 dan 3.

KOMPLIKASI 1. Deviasi hidung Deviasi dapat terjadi pada septum nasal, tulang nasal atau keduanya. 2. Bleeding 3. Saddling 4. kebocoran cairan serebrospinal 5. komplikasi orbital

PENATALAKSANAAN 1. Deviasi Tindakan yang dilakukan pada deviasi septum biasanya dengan septoplasty. Selain itu seiring dengan perkembangan bedah plastic untuk komestika, maka dapat dilakukan rhinoplasty. Rhinoplasty adalah operasi plastic pada hidung. Ada 2 macam : a. Augmentasi rhinoplasty : penambahan pada hidung. Yang harus diperhatikan tidak boleh menambahkan injeksi silicon. Yang boleh digunakan adalah bahan dari luar, misalnya silicon padat maupun bahan dari dalam tubuh sendiri misal tulang rawan, flap kulit/dermatograft.

b. Reduksi rhinoplasty : pengurangan pada hidung. 2. Bleeding Terjadi bleeding karena lacerasi mucosal sebaiknya dihentikan 24 jam dengan nasal packing atau jika persisten dan banyak dilakukan dengan membuka arteri sphenopalatine atau arteri ethmoidal anterior. Tempat terjadinya bleeding seharusnya diidentifikasi dan jika dari sphenopalatine maka eksplorasi septal dikeluarkan dan ketika arteri dibebaskan dari segmen fraktur biasanya dihentikan dengan packing (balutan). Jika arteri ethmoidal masih terjadi bleeding setelah fraktur ethmoidal maka dilakukan clip dengan ethmoid eksternal yang sesuai. 3. Saddling Biasanya terjadi pada fraktur kelas 3 dan hasilnya adalah kegagalan untuk mengextract tulang nasal dari bawah tulang frontal atau terjadi malunion tulang nasal yang disebabkan fraktur laybirith ethmoidal.

4. Kebocoran cairan serebrospinal Ini jarang terjadi. Ini hanya akan terjadi jika fragmen tulang menginsersi ke dalam area dural tear (air mata) maka akan terjadi kebocoran. Tindakan yang dilakukan dengan craniotomy frontal. Perlu diperhatikan juga bahwa kebocoran bisa terjadi karena komplikasi dari meningitis sehingga perlu diobservasi kondisi pasien post trauma dan periode discharge. Penanganan dengan antibiotic prophylactic perlu dilakukan. 5. Komplikasi orbital Tindakan dacryocystorrhinostomy dilakukan untuk mengatasi masalah.