BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Dalam berbahasa tercakup berbagai kemampuan yaitu, bicara spontan, komprehensi, menamai, repetisi ( mengulang), membaca dan menulis. Bahasa merupakan instrument dasar bagi komunikasi pada manusia dan merupakan dasar dan tulang punggung bagi kemampuan kognitif. Bila terdapat defisit pada sistem berbahasa, penilaian faktor kognitif seperti memori verbal. Interpretasi pepatah dan berhitung lisan menjadi sulit dan mungkin tidak dapat dilakukan. Kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa sangat penting. Bila terdapat gangguan hal ini akan mengakibatkan hambatan yang berarti bagi pasien. Gangguan berbahasa tidak mudah di deteksi dengan pemeriksaan yang tergesa-gesa. Pemeriksaan perlu meningkatkan pengetahuan menganai pola gangguan berbahasa. B. Rumusan masalah Apa definisi dari Afasia ? Sebutkan etiologi dari Afasia! Bagaimana masnifestasi klinis dari Afasia ? Bagaimana penatalaksanaan untuk Afasia ? Sebutkan pemeriksaan penunjang untuk Afasia! Bagaimana WOC untuk Afasia ! Bagaimana asuhan keperawatan untuk Afasia ?

C. Tujuan    Mahasiswa dapat mengetahui definisi dari Afasia Mahasiswa dapat mengetahui Etiologi dari Afasia Mahasiswa dapat mengetahui manifestasi klinis dari Afasia

1

  

Mahasiswa dapat mengetahui Pemeriksaan penunjang untuk Afasia Mahasiswa dapat mengetahui WOC untuk Afasia Mahasiswa dapat mengetahui Asuhan Keperawatan untuk Afasia

2

BAB II PEMBAHASAN A. Kata afasia perkembangan (sering disebut sebagai disfasia) digunakan bila anak mempunyai keterlambatan spesifik dalam memperoleh kemampuan berbahasa. Terdapat beberapa tipe afasia. tumor di otak. Gangguan artikulasi dan praksis mungkin ada sebagai gejala yang menyertai. B. biasanya digolongkan sesuai lokasi lesi. Definisi Afasia merupakan gangguan berbahasa. Etiologi Afasia biasanya berarti hilangnya kemampuan berbahasa setelah kerusakan otak. Semua penderita afasia memperlihatkan keterbatasan dalam pemahaman. demensi dan penyakit lainnya dapat mengakibatkan gangguan berbahasa. atau proses penyakit. perkembangan kemampuan berbahasa yang tidak sebanding dengan perkembangan kognitif umumnya. Defek dasar pada afasia ialah pada pemrosesan bahasa tingkat integratif yang lebih tinggi. Afasia adalah gangguan berbahasa akibat gangguan serebrovaskuler hemisfer dominan. 3 . trauma kepala. dan menulis dalam derajat berbeda-beda. Dalam hal ini. membaca. Dalam hal ini pasien menunjukkan gangguan dalam memproduksi dan / atau memahami bahasa. ekspresi verbal. cedera otak. Strok.

Tabel Algoritma Klasifikasi Afasia Kortika Kelancaran Pemahaman (Komprehensi) Mengulang (Repetisi) Baik Baik Buruk Lancar Baik Buruk Afasia Buruk Baik Baik Tak lancar Buruk Baik Buruk Buruk Global Broca Transkortikal Campuran Wernicke Transkortikal Motorik Transkortial sensorik Konduksi Anomik Jenis Afasia 4 .

trol. Penyebab lesi yang paling sering ialah oklusi arteri karotis interna atau arteri serebri media pada pangkalnya. baaaah. Manifestasi Klinis Gejala dan Gambaran klinik Afasia Afasia global... Bentuk afasia ini sering kita lihat di klinik dan ditandai oleh bicara yang tidak lancar.kon.. Kemungkinan pulih ialah buruk..." Mengulang (repetisi) dan membaca kuat-kuat sama terganggunya seperti berbicara spontan.. namun pemahaman kalimat dengan tatabahasa yang kompleks sering terganggu (misalnya memahami kalimat: "Seandainya anda berupaya untuk tidak gagal.sembuh. Contoh: "Saya.makan. Afasia global hampir selalu disertai hemiparese atau hemiplegia yang menyebabkan invaliditas khronis yang parah. iiya". Koadaan ini ditandai oleh tidak adanya lagi bahasa spontan atau berkurang sekali dan menjadi beberapa patah kata yang diucapkan secara stereotip (ituitu saja. Repetisi (mengulangi) juga sama berat gangguannya seperti bicara spontan.C. Afasia global ialah bentuk afasia yang paling berat... Komprehensi menghilang atau sangat terbatas. misalnya hanya mengenal namanya saja atau satu atau dua patah kata.. Membaca dan menulis juga terganggu berat. atau: "baaah... iiya. baaaaah" atau: "amaaang. misalnya : "iiya..ya. amaaang.lagi.. bagaimana rencana anda untuk maksud ini").kontrol.. Afasia Broca.. Ciri klinik afasia Broca: • • • bicara tidak lancar tampak sulit memulai bicara kalimatnya pendek (5 kata atau kurang per kalimat) 5 . serta tampak melakukan upaya bila berbicara. banyak. dan disartria. amaaang".. berulang).... Pasien sering atau paling banyak mengucapkan katabenda dan kata-kerja.. Pemahaman auditif dan pemahaman membaca tampaknya tidak terganggu.." "Periksa.rumah. Afasia global disebabkan oleh lesi luas yang merusak sebagian besar atau semua daerah bahasa. Bicaranya bergaya telegram atau tanpa tata-bahasa (tanpa grammar).

Selain itu. ada pasien dengan lesi dikorteks peri-rolandik. Karena pemahaman relatif baik. la tidak mampu memahami kata yahg diucapkannya. ada pula yang terganggu di daerah peri-rolandik dengan kerusakan massa alba yang ekstensif. Afasia Wernicke. dan bila ia menjawab iapun tidak mampu mengetahui apakah jawabannya salah. tanpa melibatkan jaringan di sekitarnya. terutama daerah Brodmann 4. Lesi yang menyebabkan afasia Broca mencakup daerah Brodmann 44 dan sekitarnya. Di klinik. seperti frustasi dan depresi.• • • • • • pengulangan (repetisi) buruk kemampuan menamai buruk Kesalahan parafasia Pemahaman lumayan (namun mengalami kesulitan memahami kalimat yang sintaktis kompleks) Gramatika bahasa kurang. Pada kelainan ini pemahaman bahasa terganggu. Lesi yang mengakibatkan afasia Broca biasanya melibatkan operkulum frontal (area Brodmann 45 dan 44) dan massa alba frontal dalam (tidak melibatkan korteks motorik bawah dan massa alba paraventrikular tengah). Ada pakar yang menyatakan bahwa bila kerusakan terjadi hanya di area Broca di korteks. apakah benar atau salah. pasien dapat lebih baik beradaptasi dengan keadaannya. dan tidak mampu mengetahui kata yang diucapkannya. maka tidak akan terjadi afasia. pasien afasia Wernicke ditandai oleh ketidakmampuan memahami bahasa lisan. tidak kompleks Irama kalimat dan irama bicara terganggu Menamai (naming) dapat menunjukkan jawaban yang parafasik. 6 . Apakah hal ini disebabkan oleh gangguan berbahasanya atau merupakan gejala yang menyertai lesi di lobus frontal kiri belum dapat dipastikan. Penderita afasia Broca sering mengalami perubahan emosional. Pemulihan terhadap berbahasa (prognosis) umumnya lebih baik daripada afasia global.

karena kelainannya hanya atau terutama pada berbahasa. 7 . Semakin berat defek dalam komprehensi auditif. Bila pemahaman kata tunggal terpelihara. Lesi yang menyebabkan afasia jenis Wernicke terletak di daerah bahasa bagian posterior. lesi cenderung mengenai daerah lobus parietal. ketimbang lobus temporal superior. Membaca dan menulis juga terganggu berat. Penderita yang tanpa hemiparese. semakin besar kemungkinan lesi mencakup bagian posterior dari girus temporal superior. Penderita dengan defisit komprehensi yang berat. ada pula yang tidak. Afasia jenis Wernicke dapat juga dijumpai pada lesi subkortikal yang merusak isthmus temporal memblokir signal aferen inferior ke korteks temporal. berisi parafasia. pronosis penyembuhannya buruk. namun kata kompleks terganggu. walaupun diberikan terapi bicara yang intensif.Maka terjadilah kalimat yang isinya kosong. Gambaran klinik afasia Wernicke: • • • • • • • • • Keluaran afasik yang lancar Panjang kalimat normal Artikulasi baik Prosodi baik Anomia (tidak dapat menamai) Parafasia fonemik dan semantik Komprehensi auditif dan membaca buruk Repetisi terganggu Menulis lancar tapi isinya "kosong" Penderita afasia jenis Wernicke ada yang menderita hemiparese. Pengulangan (repetisi) terganggu berat. dan neologisme. yaitu bicara yang kacau disertai banyak parafasia. Menamai {naming) umumnya parafasik. bisa-bisa disangka menderita psikosis. dan neologisme. Misalnya menjawab pertanyaan: Bagaimana keadaan ibu sekarang ? Pasien mungkin menjawab: "Anal saya lalu sana sakit tanding tak berabir".

dalam di korteks parietal inferior. dan mereka cenderung menjadi ekholalia (mengulang apa yang didengarnya). namun komprehensinya buruk. Afasia transkortikal ditandai oleh repetisi bahasa lisan yang baik (terpelihara). Sesekali ada pasien yang menderita kombinasi dari afasia transkortikal motorik dan sensorik. pasien dengan afasia sensorik transkortikal dapat mengulang (repetisi) dengan baik. Gambaran klinik afasia sensorik transkortikal: • • • • Keluaran (output) lancar (fluent) Pemahaman buruk Repetisi baik Ekholalia 8 . Terputusnya hubungan antara area Wernicke dan Broca diduga menyebabkan manifestasi klinik kelainan ini. Bicara spontannya dan menamai lancar. namun fungsi bahasa lainnya terganggu.Afasia konduksi. kesulitan dalam membaca kuat-kuat (namun pemahaman dalam membaca baik). Sebaliknya. Mudah mencetuskan repetisi pada pasien ini. namun komprehensinya lumayan. Ini merupakan gangguan berbahasa yang lancar (fluent) yang ditandai oleh gangguan yang berat pada repetisi. dengan tepat. parafasia yang jelas. Sering lesi ada di massa alba subkortikal . Pasien ini mampu mengulangi kalimat yang panjang. namun umumnya pemahaman bahasa lisan terpelihara. seperti pasien dengan afasia Broca. juga dalam bahasa asing. Ada pasien yang mengalami kesulitan dalam memproduksi bahasa. Ada pula pasien yang produksi bahasanya lancar. Anomianya berat. Afasia transkortikal. namun dalam bicara -spontan terbatas. Terlibatnya girus supramarginal diimplikasikan pada beberapa pasien. dan mengenai fasikulus arkuatus yang menghubungkan korteks temporal dan frontal. tetapi parafasik seperti afasia jenis Wernicke. Pasien dengan afasia motorik transkortikal mampu mengulang (repetisi). namun tidak memahami apa yang didengarnya atau yang diulanginya. memahami dan membaca. gangguan dalam menulis.

seperti yang 9 . Afasia transkortikal motorik terlihat pada lesi di perbatasan anterior yang menyerupai huruf C terbalik (gambar 9-1). Korteks peri sylvian yang utuh ini dibutuhkan untuk kemampuan mengulang yang baik. Lesi ini tidak mengenai atau tidak melibatkan korteks temporal superior dan frontal inferior (area 22 dan 44 dan lingkungan sekitar) dan korteks peri sylvian parietal. di dalam zona perbatasan antara pembuluh darah serebral mayor (misalnya di lobus frontal antara daerah arteri serebri anterior dan media).• • • • • • • • • • • • • • Komprehensi auditif dan membaca terganggu Defisit motorik dan sensorik jarang dijumpai Didapatkan defisit lapangan pandang di sebelah kanan. berupa infark berbentuk bulan sabit. Penyebab yang paling sering dari afasia transkortikal ialah: • Anoksia sekunder terhadap sirkulasi darah yang menurun. Gambaran klinik afasia motorik transkortikal: Keluaran tidak lancar (non fluent) Pemahaman (komprehensi) baik Repetisi baik Inisiasi ot/fpunerlambat Ungkapan-ungkapan singkat Parafasia semantik Ekholalia Gambaran klinik afasia transkortikal campuran: Tidak lancar (nonfluent) Komprehensi buruk Repetisi baik Ekholalia mencolok Afasia transkortikal disebabkan oleh lesi yang luas.

Afasia anomik. Mekanisme terjadinya afasia dalam hal ini belum jelas. putamen-kaudatus. nominal atau amnestik. 10 . Anoksia oleh keracunan karbon monoksida. misalnya oleh perdarahan atau infark. bukan oleh lesi kortikal saja. • • • Oklusi atau stenosis berat arteri karotis. dapat menyebabkan afasia anomik. mungkin antara lain oleh berubahnya input ke serta fungsi korteks di sekitarnya. Anomia dapat demikian ringannya sehingga hampir tidak terdeteksi pada percakapan biasa atau dapat pula demikian beratnya sehingga keluaran spontan tidak lancar dan isinya kosong. Berbicara spontan biasanya lancar dan kaya dengan gramatika. Banyak tempat lesi di hemisfer dominan yang dapat menyebabkan afasia anomik. Lesi di talamus. Prognosis untuk penyembuhan bergantung kepada beratnya defek inisial. Gambaran klinik alasia anomik: • • • • Keluaran lancar Komprehensi baik Repetisi baik Gangguan (defisit) dalam menemukan kata. Karena output bahasa relatif terpelihara dan komprehensi lumayan utuh. pasien demikian dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik daripada jenis afasia lain yang lebih berat. Afasia dapat juga terjadi oleh lesi subkortikal. Demensia. namun sering tertegun mencari kata dan terdapat parafasia mengenai nama objek. Keadaan ini disebut sebagai afasia anomik. dengan demikian nilai lokalisasi jenis afasia ini terbatas. Ada pasien afasia yang defek berbahasanya berupa kesulitan dalam menemukan kata dan tidak mampu menamai benda yang dihadapkan kepadanya. atau di kapsula interna.dijumpai pada henti-jantung (cardiac arrest).

Dimulai seawal mungkin. temporal superior posterior Peri sylvian anterior PerisylvianPost erior Global Konduksi Tak lancar Lancar Terganggu Relatif terpelihara Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Bervariasi Terganggu Terganggu Nominal Lancar Relatif terpelihara Terpelihara Terganggu Bervariasi Bervariasi Transkortikal motor Transkortikal sensorik Tak lancar Lancar Relatif terpelihara Terganggu Terpelihara Terpelihara Terganggu Terganggu Bervariasi Terganggu Terganggu Terganggu D. 11 . 2. girus supramarginal Girus angular. Hindarkan penggunaan komunikasi non-linguistik (seperti isyarat).Beberapa bentuk afasia mayor Bentuk Afasia Ekspresi (Broca) Reseptif (Wermicke) Ekspre si Tak lancar Lancar Komprehen si verbal Relatif terpelihara Terganggu Repetisi Terganggu Terganggu Menamai Terganggu Terganggu Komprehen si membaca Bervariasi Terganggu Menulis Lesi Terganggu Frontal Inferior Terganggu posterior Temporal Superior Posterior (Area Wernicke) Fronto temporal Fasikulus arkualtus. Penatalaksanaan Medis DASAR-DASAR REHABIL1TASI Bina wicara (speech therapy) pada afasia didasarkan pada : 1. Segera diberikan bila keadaan umum pasien sudah memungkinkan pada fase akut penyakitnya. 3. Dikatakan bahwa bina wicara yang diberikan pada bulan pertama sejak mula sakit mempunyai hasil yang paling baik.

menemukan kata yaitu jumlah kata tertentu yang dapat dlproduksi selama jangka waktu yang terbatas. dengan variasi I 5 . E. Skor : Orang normal umumnya mampu menyebutkan 18 . misalnya parafasia. status sosial dan kebiasaan pasien. Program terapi yang dibuat oieh terapis sangat individual dan tergantung dari latar belakang pendidikan. Orang normal yang berusia di bawah 69 tahun akan mampu menyebutkan 20 nama hewan dengan simpang baku 4. tulisan atau pun taktil. 5. Terapi dapat diberikan secara pribadi dan diseling dengan terapi kelompok dengan pasien afasi yang lain. 6.5. tanpa tertegun-tegun untuk mencari Kata yang diinginkan. lancar bila bicara spontannya lancar.4. Kelancaran berbicara verbal merupakan refleksi dari efisiensi menemukan kata. Kita catat jumlahnya serta kesalahan yang ada. misalnya huruf S atau huruf B dalam satu menit. Materi yang teiah dikuasai pasien perlu diulangulang(repetisi). Menyebutkan nama hewan : Pasien disuruh menyebutkan sebanyak mungkin nama hewan dalam waktu 60 detik. Usia merupakan faktor yang berpengaruh secara bermakna dalam tugas ini. Program terapi berlandaskan pada penurnbuhan motivasi pasien untuk mau belajar (re-learning) bahasanya yang hilang.20 nama hewan selama 60 detik. Bila kemampuan ini diperiksa secara khusus ilnpat dideteksi masalah berbahasa yang ringan pada lesi otak yang ringan iiImii pada demensia dini. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan kelancaran berbicara. Seseorang disebut berbicara . ulnu menyebutkan katakata yang mulai dengan huruf tertentu. Misalnya menyebutkan sebanyak-banyaknya nama jenis hewan selama jangka waktu satu menit. 7. 12 . Stimuli dapat berupa verbal. Defek yang ringan dapat dideteksi melalui tes knlnncaran. Memberikan stimulasi supaya pasien metnberikan tanggapan verbal.7. Penyertaan keluarga dalam terapi sangat mutlak.

8) pada usia 70-an. Pada usia 85 tahun skor 10 mungkin merupakan batas normal bawah. Skor: Orang normal umumnya dapat menyebutkan sebanyak 36 . letakkan di kotak dan taruh kotak di atas kursi (suruhan ini dapat gagal pada pendidikan 13 . mulai dari yang sederhana (Satu langkah) sampai pada yang sulit (banyak langkah) dapat digunakan untuk menilai kemampuan pasien memahami. dan menjadi 15. misalnya: mengambil pinsil.60 kata. Suruhan. Skor yang dibawah 10 pada usia dibawah 80 tahun. Tidak termasuk nama orang atau nama kota. yaitu dengan cara konversasi.Kemampuan ini menurun menjadi 17 (+ 2. A atau P. inteligensi dan tingkat pendidikan. kemudian tingkatkan kesulitannya. Serentetan suruhan. Namun kita harus hati-hati monginterpretasi tes ini pada pasien dengan tingkat tidak melebihi tingkat Sekolah Menengah Pertama. Pemeriksaan pemahaman (komprehensi) bahasa lisan Kemampuan pasien yang afasia untuk memahami sering sulit dlnllal Pemeriksaan klinis disisi-ranjang dan tes yang baku cenderung kurang cukup dan dapat memberikan hasil yang menyesatkan. Konversasi. Langkah terakhir dapat digunakan untuk mengevaluasi pemahaman (komprehensi) secara klinis. perlu dicurigai adanya gangguan dalam kelancaran berbicara verbal. Kemampuan yang hanya sampai 12 kata atau kurang untuk tiap huruf di atas merupakan petunjuk adanya penurunan kelancaran berbicara verbal. Menyebutkan kata yang mulai dengan huruf tertentu: Kepada pasien dapat juga diberikan tugas menyebutkan kata yang mulai dengan huruf tertentu. pilihan (ya atau tidak). sugestif bagi masalah penemuan kata.8) pada usia 80-an. suruhan.5 (± 4. tergantung pada usia. Dengan mengajak pasien bercakap-cakap dapat dinilai kemampuannya memahami pertanyaan dan suruhan yang diberikan oleh pemeriksa. Bila skor kurang dari 13 pada orang normal di bawah usia 70 tahun. Mula-mula suruh pasien bertepuk tangan. dan menunjuk. misalnya huruf S.

misalnya : "Andakah yang bernama Santoso?" "Apakah AC dalam ruangan ini mati ?" "Apakah ruangan ini kamar di hotel ?" "Apakah diluar sedang hujan?" "Apakah saat ini malam hari?" Menunjuk. Pemeriksa dapat pula mengeluarkan beberapa benda. Pemeriksaan sederhana ini. walaupun pemahamannya baik. geretan. Korelasi anatomis dengan komprehensi adalah kompleks. vulpen. Kita mulai dengan suruhan yang mudah difahami dan kemudian meningkat pada yang lebih sulit. Kemudian suruhan dapat dlpermilit. berbentuk pertanyaan yang dijawab dengan "ya" atau "tidak". mula-mula kata yang sederhana (satu patah kata). hal ini harus diperhatikan oleh pemeriksa). Pemeriksaan repetisi (mengulang) Kemampuan mengulang dinilai dengan menyuruh pasien mengulang. Pasien dengan Afasia mungkin hanya mampu menunjuk sampai 1 atau 2 objek saja. Suruh pasien menunjukkan salah sntu benda tersebut. kurang mampu menilai kemampuan pemahaman dengan baik sekali. pada pemeriksaan ini pemeriksa (dokter) menambah jumlah objek yang hams ditunjuk.pasien dengan apraksia dan gangguan motorik. Ya atau tidak. arloji. Mengingat paling sedikit 6 pertanyaan. Jadi. sampai jumlah berapa pasien selalu gagal. Misalnya: "tunjukkan lampu". jumlah pertanyaan harus banyak. setelah itu arloji. kemudian 14 . yang dapat dilakukan di sisi-ranjang. duit. kemudian vulpen. Pasion tanpa afasia dengan tingkat inteligensi yang rata-rata mampu menunjukkan 4 atau lebih objek pada suruhan yang beruntun. kemungkinan salah ialah Kepada pasien dapat juga diberikan tugas 50%. misalnya kunci. misalnya: tunjukkan jendela. misalnya arloji. kemudian "tunjukkan gelas yang ada disamping televisi". namun dapat memberikan gambaran kasar mengenai gangguan serta beratnya.

Jadi. dan sering lebih baik daripada berbicara spontan. dan kemudian pasien disuruh mengulanginya. kelupaan dan penambahan. maka daerah -sylvian bebas dari kelainan patologis. Bila kemampuan mengulang terpelihara. Banyak pasien afasia yang mengalami kesulitan dalam mengulang (repetisi). Mula-mula sederhana kemudian lebih sulit. salah tatabahasa. kita ucapkan kata atau angka. Contoh: • • • • • • • • • • • Map Bola Kereta Rumah Sakit Sungai Barito Lapangan Latihan Kereta api malam Besok aku pergi dinas Rumah ini selalu rapi Sukur anak itu naik kelas Seandainya si Amat tidak kena influensa Pemeriksa harus memperhatikan apakah pada tes repetisi ini didapatkan parafasia. Cara pemeriksaan Pasien disuruh mengulang apa yang diucapkan oleh pemeriksa. Umumnya dapat dikatakan bahwa pasien afasia dengan gangguan kemampuan mengulang mempunyai kelainan patologis yang melibatkan daerah peri-sylvian. 15 .ditingkatkan menjadi banyak (satu kalimat). namun ada juga yang menunjukkan kemampuan yang baik dalam hal mengulang. Orang normal umumnya mampu mengulang kalimat yang mengandung 19 suku-kata.

Bila pasien tidak mampu atau sulit menamai. warna. perlu digunakan aitem yang sering digunakan (misalnya sisir. Penilaian harus mencakup kemampuan pasien menyebutkan nama objek.. Dengan demikian. Yang penting kita nilai ialah sampainya pasien pada kata yang dibutuhkan.. dan bila perlu gambar geometrik. Misalnya: pisau. ia dapat dibantu dengan memberikan kalimat penuntun.. Kita dapat membantu dengan suku kata pi Atau dengan kalimat: "kita memotong daging dengan ". Hal ini sedikit-banyak terganggu pada semua penderita afasia. Misalnya bila ditunjukkan kunci ia mengatakan : "Anu .. ekstra-sylvian yang terlibat dalam kasus afasia tanpa defek repetisi terletak di daerah perbatasan vaskuler (area Pemeriksaan menamai dan menemukan kata Kemampuan menamai objek merupakan salah satu dasar fungsi herbahasa. Banyak penderita afasia yang masih mampu menamai objek yang sering ditemui atau digunakan dengan cepat dan tepat. Terangkan kepada pasien bahwa ia akan disuruh menyebutkan nama beberapa objek juga warna dan bagian dari objek suku kata pemula atau dengan menggunakan 16 . bagian dari objek. simbol matematik atau nama suatu tindakan. Cara pemeriksaan. Dalam hal ini.untuk masuk rumah. itu. arloji) dan yang jarang ditemui atau digunakan (misalnya pedang). dengan sirkumlokusi (misalnya. Ada pula pasien yang mengenal objek dan mampu melukiskan kegunaannya (sirkumlokusi) namun tidak dapat menamainya. bagian tubuh. namun lamban dan tertegun.Umumnya daerah water-shed).. semua tes yang digunakan untuk menilai afasia mencakup penilaian terhadap kemampuan ini. Kesulitan menemukan kata erat kaitannya dengan kemampuan menyebut nama (menamai) dan hal ini disebut anomia. melukiskan kegunaannya) atau parafasia pada objek yang jarang dijumpainya. kemampuannya (memberi nama objek).kita putar"..

Bagian dari objek: jarum jam. lensa kaca mata. Penelitian dengan PET (positron emission tomography) tentang meta-bolisme glukosa pada penderita afasia. Pemeriksaan sistem bahasa 17 . dapatkah ia memilih nama objek tersebut dari antara beberapa nama objek. parafasia. Gunakanlah sekitar 20 objek sebelum menentukan bahwa tidak didapatkan gangguan. Kita dapat menilai dengan memperlihatkan misalnya arloji. menyokong spesialisasi regional tugas ini. mengenai batasnya belum ada kesepakatan. lensa kaca mata. lampu. kepala ikat pinggang. Perhatikanlah apakah pasien dapat menyebutkan nama objek dengan cepat atau lamban atau tertegun atau menggunakan sirkumlokusi. Area bahasa di posterior ialah area kortikal yang terutama bertugas memahami bahasa lisan. kaca mata. dan bukan merupakan kumpulan dari pusat-pusat kortikal dengan tugas-tugas terbatas atau terpisah-pisah atau sendiri-sendiri. Penelitian ini memberi kesan bahwa sistem bahasa sangat kompleks secara anatomi-fisiologi. tidak tergantung pada jenisnya. didapat pula bukti adanya hipometabolisme di daerah temporal kiri. Bagian dari tubuh: mata.tersebut. bolpoin. bingkai kaca mata. pintu. neologisme dan apakah ada perseverasi. dapat pula digunakan gambar objek. sol sepatu. hijau. Disamping menggunakan objek. Area Brodmann 44 merupakan area Broca. kemudian bagian dari arloji (jarum menit. hidung. biru. ibu jari. kelabu. Area ini biasa disebut area Wernicke. kursi. lutut Warna: merah. pada hampir semua bentuk afasia. detik). Objek atau gambar objek berikut dapat digunakan: Objek yang ada di ruangan: meja. kuning. Area bahasa bagian frontal berfungsi untuk produksi bahasa. gigi. Namun demikian. jendela. Bila pasien tidak mampu menyebutkan nama objek.

Namun demikian. dengan demikian pengetesan membaca dan menulis dapat dipersingkat. Pemeriksaan penggunaan tangan (kidal atau kandal) Penggunaan tangan dan sisi otak yang dominan mempunyai kaitan yang erat Sebelum menilai bahasa perlu ditentukan sisi otak mana yang dominan. Dengan ilcmikian. pemeriksaan membaca dan menulis harus dilakukan sepenuhnya. karena aleksa atau agrafia atau keduanya dapat terjadi terpisah (tanpa afasia). repetisi (mengulang) dan menamai (naming). kanan sedikit lebih kuat dari kiri. Spektrum penggunaan tangan bervariasi dari kandal yang kuat. pada pasien yang tidak afasia. kiri sedikit lebih kuat dan kanan dan kidal yang kuat. mengobservasi cara menulis saja tidak cukup untuk menentukan npakah seseorang kandal atau kidal. Perlu diperhatikan bagaimana pasien berbicara spontan. Dengan mendengnrknn pasien 18 . Pasien yang afasia selalu agrafia dan sering aleksia. Ada individu yang kecenderungan kandal dan kidalnya hampir sama (ambi-dextrous) Pemeriksaan berbicara .Evaluasi sistem bahasa harus dilakukan secara sistematis. melempar bola. Suruh pasien memperagakan tangan mana yang digunakannya untuk memegang pisau. dengan melihat penggunaan tangan (kidal atau kandal). dengan melihat penggunaan tangan.spontan Langkah pertama dalam menilai berbahasa ialah mendengarkan bagaimana pasien berbicara spontan atau bercerita. Dengan melakukan penilaian yang sistematis biasanya dalam waktu yang singkat dapat diidentifikasi adanya afasia serta jenisnya. Mula-mula tanyakan kepadn p irsion apakah ia kandal (right handed) atau kidal. perlu pula diperiksa sisi otak mana yang dominan. Banyak orang kidal telah illnjarkan sejak kecil untuk menulis dengan tangan kanan. Membaca dan menulis harus dinilai pula setelah evaluasi bahasa lisan. komprehensi (pemahaman). Tanyakan pula apakah ada juga kecenderungannya menggunakan tangan yang lainnya. Selain itu. dsb.

kita dapat memperoleh data yang sangat berharga mengenai kemampuan pasien berbahasa. masing-masing mempunyai pola abnormalitas yang dapat dikenali. Perseverasi sering dijumpai Pada afasia sering ada gangguan ritme dan 19 . aaai. intonasi bicara terganggu). Pasien berbicaranya sangat terbatas atau hampir tidak ada. Kita mengenai 2 jenis parafasia. kesalahan sintaks. bila kita berbincang dengan pasien serta melakukan beberapa tes sederhana. disprosodik (irama. yaitu parafasia semantik (verbal) dan parafasia fonomik (literal). Parafasia fonemik. salah menggunakan kata (parafasia. Cara Ini tidak kalah pentingnya dari tes-tes bahasa yang formal. Parafasia semantik ialah mensubstitusi satu kata dengan kata yang lain misalnya: "kucing" dengan "anjing". beremosi tinggi. 2. keluar ucapan makian yang cara mengucapkannya cukup baik. Hi". Apakah ada afasia. namun bila ia marah. misalnya bir dengan kir. Afasia ialah kesulitan dalam memahami dan/atau memproduksi bahasa yang disebabkan oleh gangguan (kelainan. Bila mendengarkan pasien berbicara spontan atau bercerita. dan perseverasi. cadel. neologisme). Sesekali ditemukan kasus dimana pasien sangat terbatas kemampuan bicaranya. Afasia motorik yang berat biasanya mudah dideteksi. Coba ceritakan mengenai pekerjaan anda serta hobi anda. Parafasia ialah men-substitusi kata. balon dengan galon. perhatikan: 1. Apakah bicaranya pelo. Kita dapat mengajak pasien berbicara spontan atau berceritera melalui pertanyaan berikut : Coba ceriterakan kenapa anda sampai dirawat di rumah sakit. irama (disprosodi). penyakit) yang melibatkan hemisfer otak. Didapatkan berbagai jenis afasia. ialah mensubstitusi suatu bunyi dengan bunyi yang lain. mungkin ia hanya mengucapkan: "ayaa. Parafasia. ritme. ayaa. pada afasia. tertegun-tegun.berbicara spontan atau bercerita.

Pasien mengalami kesulitan menamai sesuatu benda. cara mengucapkan baik dan irama kalimat juga baik. Pada 20 . Pada lesi di temporo-parietal pasien justru bicara terlalu banyak.Pada semua pasien dengan afasia didapatkan juga gangguan membaca dan menulis (aleksia dan agrafia) Pada afasia semua modalitas berbahasa sedikit-banyak terganggu. baik motorik menulis maupun isi tulisan. membaca dan menulis. Pasien tidak begitu sadar akan kekurangannya. Pemahaman terhadap bahasa lisan dan tulisan kurang terganggu dibandingkan dengan kemampuan mengemukakan isi pikiran. Pasien sadar akan kekurangan atau kelemahannya. dengan artikulasi (pengucapan) dan irama yang buruk dan tidak bermakna. mem-formulasi dan menamai sehingga kalimat yang diucapkan tidak mempunyai arti. Lesi biasanya melibatkan semua daerah bahasa di sekitar fisura sylvii. pasien tidak bicara atau sangat sedikit bicara. Selain itu gramatikanya miskin (sedikit) dan menyisipkan atau mengimbuh huruf atau bunyi yang salah. dan mengalami kesulitan atau memerlukan banyak upaya dalam berbicara. yaitu bicara spontan. Pasien sama sekali tidak bicara atau hanya bicara sepatah kata atau frasa. Afasia jenis ke dua disebut jenis Wernicke atau sensorik atau reseptif. mengulang (repetisi). serta terdapat perseverasi. Kadang dijumpai pasien dengan gangguan yang berat pada semua modalitas bahasa. Bahasa fisan dan tulisan tidak atau kurang difahami. dan menulis secara motorik terpelihara. atau afasia motorik atau afasia ekspresif. namun didapat gangguan berat pada. namun isi tulisan tak menentu. Menulis sering tidak mungkin atau sangat terganggu. Kadang afasia ditandai oleh kesulitan menemukan nama. sedangkan modalitas lainnya relatif utuh. namai (naming). Afasia jenis yang disebutkan pertama disebut afasia Broca. Pada lesi di frontal. Hal ini disebut afasia global. yang selalu diulang-ulang. pemahaman bahasa.

Pemeriksaan ini sangat penting untuk terapi dan rehabilitasi pasien. kau tahu kan.pasien demikian kita dengar ungkapan seperti : "anu. Adakalanya digunakan kata afasia campuran. hanya bidang tertentu lebih menonjol atau lebih berat. membaca. Berbagai tes wawabcara. ataupun melakukan tugas-tugas tertentu bias digunakan untuk mengetahui terjadinya kerusakan otak. Sebetulnya kata ini kurang tepat. 21 . menulis. pada afasia yang tersebut terdahulu. ya anu itu". menggambar. dan tinggal dicocokkan dengan pemeriksaan CT-Scan pada otak. karena di klinik semua jenis afasia adalah campuran. itu. kau. namun dapat juga dijumpai pada berbagai gangguan otak yang difus. Afasia amnestik ini sering merupakan sisa afasia yang hampir pulih. Afasia amnestik mempunyai nilai lokalisasi yang kecil.

Kerusakan interaksi sosial yang berhubungan dengan gangguan bicara atau penurunan fungsi KERUSAKAN KOMUNIKASI VERBAL Data :  Mayor Ketidakmampuan untuk mengucapkan kata-kata tetapi dapat mengerti orang lain atau Minor Napas Pendek Yang Berhubungan Dengan Iskimea Dari Lobus Temporal Atau Trontal Kriteria Hasil Individu akan : 1. Mengungkapkan penurunan frustsi dengan komunikasi Intervensi 1. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan lesi area bicara otak (Afasia) 2. Identifikasi metoda alternatif yang dapat digunakan orang tersebut untuk mengkomunikasikan kebutuhan-kebutuhan dasar. Harga diri rendah kronik yang berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder akibat kehilangan fungsi bicara 4. 2. atau jenis pesan Anda. Kurang pengetahuan rehabilitasi 3. karena pada tingkat orang dewasa yang berhubungan dengan dasar-dasar terapi  22 . intonasi.F. Memperlihatkan kemampuan yang meningkat untuk mengekspresikan diri 2. Jangan ubah ucapan. Asuhan Keperawatan 1.

jangan gunakan istilah medis atau teknis e. Anjurkan Keluarga untuk membagi perasaan-perasaan mengenai masalahmasalah dalam berkomunikasi 4. Pertahankan agar pesan tetap sederhana. cara yang halus. depresi) mengakibatkan informasi atau kurang informasi  23 .3.. Untuk individu dengan hambatan bahasa a. validasikan pemahaman mutualisme c. KURANG PENGETAHUAN DATA :  Mayor − Mengungkapkan kurang pengetahuan atau keterampilan- keterampilan/permintaan informasi − Mengekspresikan suatu ketidakuratan persepsi status kesehatan melakukan dengan tidak tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang diinginkan Minor − Memperlihatkan atau mengekspresikan perubahan psikologi (mis. sedang. ansietas. berbeda kebangsaan  Mintalah untuk menerjemahkan dengan kata yang tepat. Gunaikan gerakan tubuh dan gambar-gambar d. Jika diperlukan interpreter   Klarifikasi bahasa apa yang digunakan di rumah Upayakan untuk menggunakan jender dan usia yang sama dengan klien  Hindari interpreter dari Negara yang berlawanan. Berkomunikasi tanpa tergesa-gesa. Dengarkan dengan cermat. Berbicara dengan suara pelan. Sopan dan format b.

bergantung pada pendapat orang lain Buruknya penampilan tubuh (Kontak mata.INTERVENSI : Beri tahu tentang penatapelaksanaan terapi/rehabilitasi HARGA DIRI RENDAH KRONIK  Mayor      Jangka panjang atau kronik: Pengungkapan diri yang negative Ekspresi rasa bersalah/malu Evaluasi diri karena tidak dapat menangani kejadian Menjauhi rasionalisasi/menolak umpan balik positif dan membesarkan umpan balik negative mengenai diri  Ragu untuk mencoba hal-hal/situasi baru  Minor       Sering kurang berhasil dalam kerja atau kejadian hidup lainnya Penyelesaian diri berlebihan. Mengidentifikasi aspek positif dari diri 24 . postur. Mengungkapkan penerimaan keterbatasan 3. gerakan) Tidak asertif/pasif Keragu-raguan Mencari jaminan secara berlebihan Yang berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder akibat : Kehilangan fungsi tubuh KRITERIA HASIL Individu akan : 1. Memodifikasi harapan diri yang berlebihan dan tidak realistis 2.

Pastikan interpretasi Anda terhadap apa yang dikatakan ataudialami (“Apakah ini yang anda maksud?”) 3. Mengidentifikasi perilaku baru untuk meningkatkan sosilaisasi efektif 25 .Intervensi 1. Menghargai ruang pribadi individu c. Tidak membiarkan individu untuk mengisolasi diri KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL DATA :  Mayor  Melaporkan ketidakmampuan untuk menetapkan dan/atau mempertahankan hubungan suportif yang stabil  Ketidakpuasan dengan jaringan sosial  Minor         Isolasi sosial Hubungan superficial Menyalahi orang lain untuk masalah-masalah interpersonal Menghindari orang lain Kesulitan Interpersonal di tempat kerja Orang lain melaporkan tentang pola interaksi yang bermasalah Perasaan teng\tang tidak dimengerti Perasaan tentang penolakan KRITERIA HASIL Individu akan : 1. Bantu individu untuk mengurangi tahapan ansietas yang ada 2. Tingkat perasaan individu terhadap diri a. Menyatakan masalah dengan sosialisasi 2. Penuh perhatian b.

Bantu untuk mengidentifikasi alternative tindakan 5. Bantu untuk mengidentifikasikan bagaimana stress dapat mencetuskan masalah 3. Berikan individu hubungan suportif 2. Bermain peran situasi bermasalah. Diskusikan perasaan-perasaan 26 . Melaporkan atau bermain peran terhadap penggunaan perilaku pengganti kontstruktif Intervensi Generik 1.3. Bantu dalam menganalisa pendekatan yang berfungsi paling baik 6. Dukung pertahanan kesehatan 4.

27 . bibir. Seringkali. disebabkan oleh kerusakan pada area bicara Broca. Kadang-kadang. dan otot-otot lainnya yang dipakai untuk bicara dimulai dari daerah ini. namun tak dapat mengatur sistem vokalnya untuk menghasilkan kata-kata selain suara ribut. Oleh karena itu. area Wemicke pada bagian posterior girus temporalis superior merupakan hal yang paling penting untuk kemampuan ini. mulut. maka penderita masih mampu memfontiulasikan pikirannya namun tak mampu menyusun kata-kata yang sesuai secara berurutan dan bersama-sama untuk mengekspresikan pikirannya. disebut afasia motorik. Pembentukan buah pikiran dan bahkah pemilihan kata-kata merupakan fungsi area asosiasi sensorik otak. penderita fasih berkata-kata namun kata-kata yang dikeluarkannya tidak beraturan. Efek ini. Atau. sistem respirasi. kemudian (2) mengatur motorik vokalisasi dan kerja yang nyata dari vokalisasi itu sendiri. dan mampu bervokalisasi. bila lesinya tak begitu parah. penderita yang mengalami afasia Wernicke atau afasia global tak mampu memformulasikan buah pikirannya untuk dikomunikasikan. penderita mampu menentukan apa yang ingin dikatakannya. Sekali lagi. pola keterampilan motorik yang dipakai untuk mengatur laring. Afasia Motorik Akibat Hilangnya Area Broca.BAB III PENUTUP KESIMPULAN Proses bicara melibatkan dua stadium utama aktivitas mental: (1) membentuk buah pikiran untuk diekspresikan dan memilih kata-kata yang akan digunakan. Oleh karena itu. yang terletak di regio prefrontal dan fasial premotorik korteks kira-kira 95 persen kelainannya di hemisfer.

DAFTAR PUSTAKA 1.. 1997 4. et all. S. Jakarta : ECG. Jakarta : Balai penerbit fakultas kedokteran UI. Carperito. Newologi klinik – pemeriksaan fisik dan mental.G. Newroanatomi klinik – ed 2. Lynda J. 2000 28 . 1996 2. Boeis. Snell. 1998 3. Jakarta : ECG. Jakarta : ECG. Ricard S.. Lumlantoling. Buku saku diagnosa keperawatan-ed-8. Buku ajar penyakit THT – ed.M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful