Mirza Ghalib: Untuk Sesamaku Muslim

Dengan kasih, untuk sesamaku Muslim:

Mengungkap Muhammad dan Islam Sesungguhnya
by Mirza Ghalib
(Apr 6, 2013)

Artikel ini sbg pencerahan bagi saudara Muslim-ku yang cerdas. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengungkap penipuan 14 abad, terhadap kita —Muslim biasa yang tak bersalah— oleh para diktator, penguasa dan fundamentalis, yang kehidupannya sepenuhnya tergantung pada kebodohan kita.

DIDEDIKASIKAN UNTUK PARA PEJUANG KITA Aku telah meninggalkan Islam, namun bukan meninggalkan komunitas Muslim. Dan aku memiliki rasa kasih mendalam pada sesamaku Muslim, korban terburuk Islamnya Muhammad, dan rasa kasih itulah yang mendorongku menulis artikel ini. Dewasa ini, ada sejumlah pejuang kebebasan ex-Muslim, yang mengambil resiko membahayakan hidup mereka dengan memerangi ideologi politik Islam yang berbahaya untuk menyelamatkan kita —sesama saudara Muslim— yang sangat mereka perdulikan. Suatu kebahagiaan bagiku untuk menyebut beberapa orang pahlawan terhormat dari kelompok yg jauh lebih besar tersebut: Dr. Ali Sina, M.A. Khan, Dr. Wafa Sultan, Ayaan Hirshi Ali, Ibn Warraq, Amil Imani, Taslima Nasreen, dan ... daftarnya masih terus berlanjut. Artikel yg terdiri dari beberapa bagian ini didedikasikan pada para pahlawan tsb, atas keberanian dan kasih sayang mereka yg luarbiasa terhadap komunitas Muslim. Aku tahu Muslim secara umum cukup cerdas. Namun mereka adalah korban cuci otak yang parah dari ajaran ideologi politik sesat yg berbahaya, lewat seni tipuan Islami yg disebut Al-Taqiyya. Ini adalah usaha tulusku untuk mencoba menolong saudara-saudari Muslim-ku, untuk melihat tipuan-tipuan tsb dengan jelas, agar dapat membuka mata mereka ttg Islam yg sebenarnya.

MUSLIM SEKULER SECARA TIDAK SADAR MENJADI YG PALING BERBAHAYA BAGI KEMANUSIAAN Kita, Muslim sekuler yg santai, tanpa beban, merasa bangga menyebut diri kita ‘Moderat’ dan tidak merasa malu mengambil muka pada para Muslim fundamentalis. Mereka sukses dalam misinya membuat kita menghadiri sholat Jumat, walau kita merasakannya sebagai beban. Kemunafikan kita ini menjadi contoh buruk, karena nonmuslim menganggap kita —mayoritas Muslim— sebagai Muslim taat yang cinta damai. Dengan cara ini, kita bukan hanya menipu dri kita sendiri, namun juga membuat nonMuslim tidak menanggapi serius bahaya yg mereka hadapi dari ideologi Islam. Dengan cara ini, kita menghadirkan bahaya yg jauh lebih besar dibandingkan para teroris, thdp 80% populasi non-Muslim, karena kita membuat mereka lengah akan bahaya Islam;

kita bertindak sebagai tameng bagi para fundamentalis dan teroris radikal Islam.

AJARAN ISLAM YANG MENANTANG KECERDASAN KITA Saat menghadiri sholat Jumat, kita mendengar ceramah membingungkan dari para Mullah kita yang penuh kesalehan disertai seruan pujan seperti ‘Subhanallah’, ‘Maasha Allah’ dan ‘Alhamdulillah’, walau isi ceramahnya terdengar sangat konyol. Sebagai contoh, menurut salah satu dari lautan hadist, para pengikut Muhammad memiliki kerinduan mengumpulkan ludahnya untuk dioleskan pada wajah mereka agar mendapat Noor (cahaya ilahi) di wajah mereka. (Sahih Al-Bukhari/ Vol 3/ Book 50/ Number 891) Bagaimana kita dapat menerima praktek tidak higienis dan merendahkan martabat ini didukung oleh seorang laki-laki yg mengaku Nabi Tuhan? Dewasa ini, berapa banyak dari kita bersedia melakukannya, andaikan Muhammad tiba-tiba hadir di hadapan kita? Mungkin ada diantara beberapa orang idiot diantara kita yang mau, hanya karena mereka tidak tahu siapa Muhammad sebenarnya. Dalam hadist lain, salah satu sahabat perempuan Muhammad (Sahabiyaat), mengumpulkan keringatnya dan mendistribusikan ke yang lain sebagai minyak wangi. Saat Muhammad bertanya pada Umm Sulaim, perempuan yang mengumpulkan keringatnya, “apa yang kau lakukan?” Dia berkata: ‘Rasullullah, kami mencari berkat bagi anak-anak kami melalui ini.’ Yang dibalas Muhammad, ‘Kau melakukan hal yang benar.’ (Sahih Muslim 30:5762-5763) AIR SUCI MUHAMMAD: Di hadist lain lagi tercantum ‘Nabi Muhammad biasa buang air kecil ke dalam wadah yang dibentuk dari batang pohon palem, di dalam kamarnya di malam hari dan menyimpannya di bawah tempat tidurnya. Pelayan perempuannya, Barakha, suatu ketika tanpa sengaja meminumnya karena haus di malam hari. Setelah mengetahui hal tsb esok paginya, Nabi Muhammad mentertawakannya, memberinya berkat dan berkata: “kau tidak akan pernah merasa sakit perut sejak hari ini, dan kau menyelamatkan dirimu dari api neraka.” (Al-Tabari 39:199) Ketiga hadist tercela ini hanya sepercik usaha menguak tabir kesempurnaan yang dipertahankan para pendakwah antara kita dan karakter asli Muhammad dan Islam. Kau mungkin berpikir ini hanya beberapa peristiwa yang tercatat secara tidak disengaja.

Namun, sayangnya masih ada beberapa peristiwa lain. Sebagai contoh, Anas berkata, “Suatu ketika Nabi Allah buang air kecil ke dalam sumur yang berada di dalam rumahku. Dapatkan hal ini diterima akal, seorang yang waras sengaja buang air kecil ke dalam sumur yang airnya digunakan orang-orang untuk minum? Bahkan orang gila saja akan dipukuli jika melakukannya. Dan bukan itu saja. Anas melanjutkan, “Tidak ada sumur di Madinah yang rasanya lebih sejuk dan manis dari ini. Ketika para Sahabah (sahabat Muhammad) datang ke rumahku, aku memberi mereka air manis dari sumur ini.” Anas lantas menambahkan: “….Selanjutnya aku berpikir, jika saja Allah memberitahuku mengenai kotoran rasulnya, agar aku dapat mengkonsumsinya! Aku melihat tanah tempat dimana ia duduk bersih. Lalu aku bertanya, ‘Bukankah kau buang air? Ia menjawab, ‘Ya, tapi bumi diperintahkan menyembunyikan kotoran kami, para nabi.’ (Dala’il Al-Nabuwwah 2:381, Dar Al-Baz, Makkah) Inilah bentuk ‘kerendah hatian’ Muhammad.’ Begitu lalainya kita sampai yang seperti ini terungkap dalam sumber-sumber islami. Para apologis Islam mungkin menolak hadist seperti ini, mengatakannya hadist lemah. Bahkan, mereka cukup berani mengatakan kalau mereka tidak pernah mendengar ttg ‘Dala’il Al-Nabuwwah’ (tanda-tanda kenabian). Namun, apologis yang sama akan mengutip ulang kutipan hadist lain yang bersumber dari buku yang sama atau sejenis tanpa menyebut nama sumber atau nomor hadist. Ada sejumlah buku-buku Islam kuno dalam bahasa Arab yang belum diterjemahkan ke bahasa lain. Untuk mengetahui ttg ‘Urine Suci Muhammad’… dan lainnya, click link ini. e Dalam Islam, Muhammad dikenal sebagai ‘Al-Insan Al-Kaamil’, yang berarti “Manusia Sempurna’ Quran berkata, ia adalah manusia terbaik dan teladan terbaik bagi umat Islam. (Quran 33:21). Adakah orang waras yang buang air ke dalam sumur untuk minum? Orang bisa memahami pentingnya sumur-sumur air di padang pasir Arab masa itu, ketika belum ada pabrik penyulingan air yg dibangun dari kekayaan minyak. Inikah yang diajarkan Nabi Allah untuk dilakukan pengikutnya: buang air ke dalam sumur air yang vital bagi hidup? Ia-kah teladan terbaik bagi umat manusia? Bukankah itu menjijikkan?

QURAN KURANG PENTING DIBANDING RATUSAN BUKU-BUKU ‘ISLAMI’ LAINNYA

Para Mullah biasa membanggga-banggakan bahwa Quran memberi jawaban atas semua permasalahan. Namun kenyataannya adalah: bahkan untuk menuliskan buku biografi sang nabi tercinta yang sangat diakui —The Sealed Nectar (Ar-Raheeq AlMakhtum)— yang diedarkan secara luas oleh pemerintah Saudi, pengarang terkemuka, Safi-ur-Rahman al-Mubarakpuri memerlukan bantuan 60 buku-buku Islami yang mungkin belum pernah kau dengar. Di bawah ini terlampir halaman buku ‘The Sealed Nectar’ yang mencantumkan daftar 60 buku-buku referensi yang digunakan (yang juga sering dikutip para Mullah, walau kebanyakan Muslim tidak pernah mendengarnya).

Ini berarti Quran kurang penting dalam membantu Muslim memahami nabi Muhammad, orang yang seharusnya diteladani untuk menuju kehidupan Muslim yang ideal, dibandingkan buku-buku ‘referensi’ yg ditulis Muslim yg tidak pernah berjumpa dengan Muhammad. Ini bukan berarti Quran sama sekali tidak mengatakan apapun ttg Muhammad. Dimanapun ayat Quran terkait Muhammad, yang dibicarakan eksklusif ttg hasrat birahi Muhammad dan untuk keuntungan pribadinya. Berikut beberapa contoh dari ratusan ayat sejenis: • Quran memerintahkan Muslim untuk member 1/5 bagian harta jarahan pada Muhammad, yang dijarah dari orang-orang tak berdosa dalam serangan/ perampokan tiba-tiba. (Sura Al-Anfa’l 8:41) • Memberi Muhammad kontrol atas ke-15 istrinya, yang terbagi menjadi dua kubu, Quran mengatakan, murka Allah akan berlipat ganda thp istri-istri Muhammad yang tidak patuh (Sura Al-Ahza’b 33:30) • Allah mengizinkan Muhammad menikahi Zainab, menantunya sendiri (istri dari anak yang diadopsinya), dan karena hasrat birahi Muhammad pada Zainab, Allah menghapuskan adopsi anak yatim piatu bagi semua umat Islam, sampai hari kiamat (Sura Al-Ahza’b 33:37-38). • Quran memberi dispensasi khusus bagi Muhammad, tapi tidak untuk para pengikutnya, untuk meniduri semua perempuan Muslim “yang menyerahkan dirinya pada sang Nabi.” (Sura Al-Azha’b 33:50) Untuk saudara-saudaraku sesama Muslim, yang tidak mau repot membaca Kitab Suci Islam atau tidak mau pusing memahami agamamu sendiri—itulah yang Quran katakan ttg Muhammad. Sudah tentu, apa yang dikatakan Qur’an adalah ‘pesan ilahiah’ absolut bagi Muslim hingga hari Kiamat, bukan tulisan-tulisan yang dipermanis oleh orangorang yang hidup 1400 tahun setelah Muhamad.

INTERNET – PAKU TERAKHIR PADA PETI MATI KEPERCAYAAN YANG TIDAK MASUK AKAL
Rasa malu di pihak kita yang membuat kita tidak menyuarakan penolakan thdp omong kosong semacam itu. Bukannya mempertanyakan pada Imam mengenai hal-hal menjijikkan itu dan kredibilitasnya, kita malah begitu bersemangat ikutan membeo “Subhanallah” dan “Alhamdulilah.” Tak satupun dari kita memiliki keberanian mengajukan keberatan terhadap omong kosong tsb. Ini karena kita tidak ingin menempatkan diri dalam kesulitan. Kita tidak mau dituduh ‘pembuat onar’ dan bahkan mungkin jadi korban kekerasan komunitas Muslim yang sangat kaku dan tidak toleran. Untuk melindungi generasi keturunan mereka, leluhur kita harus melakukan hal serupa, dan ini telah berlangsung selama 14 abad terakhir. Ketidakberdayaan leluhur kita menolak sampah semacam itu dapat dimengerti, karena mereka tidak memiliki pilihan lain untuk menunjukkan ketidaksetujuannya di tengah masyarakat Islam yang sangat represif dan kejam. Namun saat ini, kita tidak berada di situasi yang sama. Di abad ke-21 kita memiliki karunia Internet. Internet menyediakan kita sumber-sumber informasi melimpah, ‘perpustakaan’ tanpa batas, yang dapat kita pelajari, dan juga menyediakan tempat dimana kita dapat mengekspresikan pendapat kita tanpa rasa takut. Jika tidak berbicara sekarang, lantas kapan kita akan melakukannya?

SEMUA MUSLIM HARUS MEMPELAJARI KITAB-KITAB ISLAM LEMBAR DEMI LEMBAR DENGAN PIKIRAN TERBUKA
Beberapa tahun lalu, dikala aku masih seorang Muslim taat, tanpa sengaja aku membaca beberapa artikel yang menyerang Islam. Setelah membacanya, aku merasa marah luar biasa pada penulis non-Muslim yang menulis artikel tsb., yang kuanggap ‘berbuat jahat’ dengan mencemarkan dan menghina agama tercintaku yang damai. Membaca tulisan para “penjahat” ini mendorongku untuk mempelajari Islam lebih dalam. Aku biasa berdebat dan membela Islam secara buta —bukannya berusaha meneliti dengan kejujuran intelektual dan kejujuran nurani. Pada saat aku mulai membaca Kitab-kitab suci Islam untuk memeriksa apakah tuduhan-tuduhan tsb memiliki dasar, aku membaca beberapa ayat dalam Qur’an yang mengguncang keyakinan mendasarku dalam Islam (Imaan). Berpikir bahwa

pemahamanku akan ayat ini yang pasti kurang/salah, mendorongku untuk mempelajari Islam lebih dalam. Namun, bukannya menuntaskan keraguan, mengkaji lebih jauh justru menambah keraguan —yang pada akhirnya memerdekakanku dari Islam, yang bagiku saat ini tak lebih dari ideologi bengis dan tidak beradab. Dengan segera aku keluar dari Islam. Sekarang aku bangga dengan fakta bahwa aku tetap berpikiran terbuka dan rasional terhadap apapun; aku merdeka dari keyakinan (agama) yang tidak masuk akal. *** Sudah menjadi kecenderungan manusia untuk mencari kesalahan manusia lain. Selalu mudah melempar batu ke orang lain. Dan Muslim adalah pelempar batu yang paling bersemangat. Agama-agama lain mungkin memiliki absurditas mereka sendiri, namun tugas pertama dan terpenting kita adalah membersihkan rumah kita sendiri. Tapi, bagi kita, Muslim, justru kebalikannya yang terjadi. Orang-orang percaya di setiap agama harus mempelajari dan meneliti kitab suci agama mereka dengan pikiran terbuka. Pikiran yang terbuka, rasional –-bukannya kepercayaan buta---adalah satu-satunya jalan mencapai perdamaian nyata di dunia kita.

BERHENTI MENDENGARKAN 'PARA ULAMA'; BACALAH SENDIRI
Kita tidak terikat untuk mengikuti leluhur kita. Mereka hidup di tengah masyarakat yang kejam; mereka buta huruf dan tidak berdaya. Namun kita tidak. Kita terdidik serta memiliki begitu banyak ‘jendela aman’ untuk mengetahui kebenaran. Qur’an, Hadist dan Sira tersedia dalam banyak bahasa. Internet adalah harta karun informasi untuk pengetahuan tentang agama (islam) dari berbagai dimensinya. So, sangat memalukan saat ini untuk menerima sesuatu begitu saja tanpa berpikir. Kau pasti akan merasa malu ketika mengetahui utk pertama kali ttg Muhammad itu sesungguhnya seperti apa dan bagaimana ideologinya, bukan versi mitos yang kau telan bulat-bulat begitu saja dari ‘Imam’ atau ‘Sheikh’ atau orangtua Muslim-mu. Untuk memahami Islam dan Muhammad, kita perlu membaca biografinya. Bukan biografi yg dipoles-poles dan dipermanis yang ditulis para apologis modern. Kita sendiri perlu membaca langsung biografi paling awal yang belum dirusak, Sirat Rasul Allah, yang ditulis Ibn Ishaq, beberapa dekade setelah kematiannya. Selama berabad-abad, leluhur kita telah membaca Qur’an dalam bahasa Arab tanpa memahami makna teksnya, yang masih terus berlanjut hingga sekarang. Menurut Qur’an kita adalah ‘budak Allah’ dan pesannya yang ‘jelas’ disampaikan pada kita dalam ‘bahasa Arab kuno’ yang hanya bisa dipahami dengan belajar bertahun-tahun.

Kita, Muslim, telah dibuatnya membaca bahasa Arab Qur’an selama 1400 tahun, seperti burung beo, tanpa memahami maknanya, untuk meraih status ‘Hafiz’ (penghafal) Qur’an. Di dunia dewasa ini, kita perlu Muslim yang berpikir, bukan beo —betapapun terhormatnya status ‘kebeo-an’ itu.

KITA PERLU LEBIH BANYAK AHMED DEEDAT DAN ZAKIR NAIK
Para pendakwah Muslim dan Mullah tidak pernah mendesak umat jamaah mereka untuk membaca terjemahan Qur’an dalam bahasa mereka, lembar demi lembar. Para Mullah, tentu saja menyadari konsekuensi melakukan hal tsb pada ‘kawanan jamaah’nya— itu akan menjadi akhir nafkah hidup mereka. Maka merekapun terus menipu banyak Muslim menggunakan doktrin Islam Al-Taqiya, yang bermakna ‘mendustai mereka yang tidak tahu.’ Mereka tidak pernah memberikan referensi apa yang mereka kutip, salah satu tekhnik menipu. Kita harus berterimakasih pada Ahmed Deedat, yang memulai praktek memberikan referensi atas kutipannya, dilanjutkan kemudian oleh Zakir Naik yang mengaku sbg ‘penerusnya.’ Melalui kedua orang ini, bilamana mereka lupa memberi referensi atas kutipannya itu berarti kelalaian yang disengaja untuk menyembunyikan sesuatu yang tercela terkait kutipan yang tertentu. Aku justru berterimakasih pada dakwah-dakwah taqiya Deedat yang memotivasiku untuk mempelajari Islam dengan pikiran terbuka. Keduanya, Ahmed Deedat dan Zakir Naik sesungguhnya telah mebuat lebih banyak orang meninggalkan islam, dengan cara memotivasi Muslim moderat yang terdidik untuk mempelajari Islam lebih dalam. Izinkan saya menyimpulkan bagian pertama dari artikel ini dengan mengundang Muslim terdidik, yang sebagian besar bersentuhan dengan Internet, untuk mempelajari Islam dan mengekspresikan pandangan mereka dengan berani melalui Internet. Persepsi umum kita, umat Islam, adalah bahwa agama kita yang terbaik dan satusatunya yang benar, sehingga tuduhan-tuduhan thdp Islam oleh para ex-muslim dan kritikus non-muslim lainnya pastilah tidak berdasar. Kita berpikir tuduhan-tuduhan itu pastilah hasil konspirasi Yahudi dan Kristen, yang ingin mengejek dan menghancurkan Islam. Kita membela Islam dengan mekanisme yang telah berjalan selama 14 abad, dan percaya penuh pada kebijakan leluhur kita, yang menganggap Islam benar-benar ilahiah dan melebihi semua kepercayaan lain.

Namun, jika Islam benar-benar sebuah ideologi politik, lantas siapakah di balik kelangsungannya?

KITA, MUSLIM, TIDAK MEMBUTUHKAN ISLAM, PARA POLITISI DAN KAUM ULAMA-LAH YANG MEMBUTUHKANNYA.
Inilah waktunya untuk melihat dalam kitab suci kita untuk memahami fakta-fakta yang memotivasi para teroris Islami melakukan tindak kejahatan mengerikan mereka. Kita menyebut Osama bin-Laden dan kelompok Muslim militannya “teroris”. Ini benar-benar suatu kesalahpahaman. Allah menganggap Muslim-muslim seperti itu sebagai ‘Para Pejuang SuciNya’ yang diperintahkan untuk mendirikan pemerintahan ilahiahnya di seluruh muka bumi. Ada ratusan ayat-ayat Qur’an yang mempromosikan kekerasan untuk mendirikan pemerintahan Allah (lihat Sura Baqara 2: 191-193/ 216, Sura AlImra’n 3:56/ 151, Sura An-Nisa’ 4:74/76/89/95/104). Allah bakan mengancam untuk membunuh “Muslim moderat” karena tidak ambil bagian dalam jihad untuk mendirikan pemerintahannya (Sura An-Nisa’4:89). Kita dapat melihat, keluarga-keluarga penguasa Islam adalah mereka yang teramat sangat membutuhkan Islam untuk di eksploitasi secara turun temurun, kekayaan suatu wilayah dan mengklaimnya sbg warisan leluhurnya. Muhammad, si anak penjaga kambing, menjadi penguasa lewat penaklukkan kejam atas orang-orang Arab. Setelah dia, kerabatnya --ayah mertuanya, menantu, cucu, dsbnya -– yang berkuasa. Abu Bakr dan Umar (mertuanya) menjadi kalif ke-4 dan ke-5. Ustman (kerabat) dan Ali (menantu) menjadi kalif ke-4 dan ke-5. Cucunya, Hasan, ke-6. Mereka saling bunuh untuk memegang tampuk kekuasaan, dan kekerasan selalu mewarnai perebutan kekuasaan antar penguasa Islam sepanjang periode selanjutnya, hingga hari ini. Sehingga menjadi jelas: Muslim biasa tidak membutuhkan Islam, faksi-faksi penguasa yang bertikai di negara-negara Islam-lah yang membutuhkannya. Setelah melepaskan diri kita dari ajaran sesat kejam Islam, menjadi tanggungjawab moral kita untuk menyelamatkan saudara-saudara Muslim kita yang tak bersalah, yang tidak menyadari Islam sesungguhnya. Ketidaktahuan, buta huruf, dan kemiskinan menjadi nasib mereka. Mereka terlalu jauh dari menggunakan Internet. Mereka dibuat menjadi kambing congek oleh para penguasa serakah di negara-negara Islam atas nama Islam, dan dengan demikian tetap terbelenggu kemiskinan dan keterbelakangan. Sejujurnya, Islam adalah ideologi politik yang berbahaya, tidak ada sesuatu yang ilahiah di Islam. Dengan kata lain, ‘ISLAM’ merupakan ‘REZIM’

PENGETAHUAN ALLAH DAN MUHAMMAD AKAN YANG GAIB
Sebagai manusia terdidik yang memiliki kemampuan intelektual, sangat memalukan bagi kita untuk mengikuti agama yang kejam dan penuh tahyul. Kita perlu berkorban waktu kita yang berharga untuk mengkaji Islam demi pencerahan diri kita sendiri, yang akan berdampak pada jaminan kebebasan dan kemajuan bagi anak cucu kita kelak. Berikut beberapa dari banyak hadist yang mengungkap intelektualitas Allah dan nabinya. Mohon gunakan sumber-sumber referensi ayat-ayat dan hadist-hadist yang dikutip dalam artikel ini dari internet atau buku-buku hadist dan Qur’an untuk mengkonfirmasi dan meyakinkan dirimu, serta untuk kajianmu sendiri selanjutnya. Ayatayat dan hadist-hadist berikut sangat konyol dan kacau, sama sekali tidak terdapat sifat ilahiah di dalamnya. Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (Quran Al-Naml 27:65) (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya (Quran:Al-Jinn 72:26) Walau dua ayat di atas saling berkontradiksi, jika Allah adalah ‘Tuhan’ maka keduanya pastilah benar (sosok Allah mendeklarasikan dirinya sebagai ‘Kebenaran’ dalam Qur’an, dengan demikian kedua ayat harus benar). Bagaimana mungkin kita ‘memaksa sama’ kedua ayat ini? Jika hanya Allah ‘tahu perkara yang gaib’ dan perkara gaib itu diketahui Allah dan rasulnya, kesimpulan logisnya Muhammad dan Allah adalah sosok ‘ilahiah’ yang sama & setara. Aku menganggap Allah sebagai superman, yang mampu memungkinkan segala sesuatu. Aku juga sangat yakin Tuhan mampu menumbuhkan atau mengganti bagianbagian tubuh yang hilang karena kecelakaan. Sebaliknya, kaum teis meremehkan kuasa Tuhan dan tidak pernah meminta Tuhan menumbuhkan bagian tubuh baru, menggantikan yang hilang. Bukannya pergi ke Mesjid untuk minta bantuan Allah, mereka malah buru-buru ke RS seakan lebih percaya pada dokter yg manusia.

PENGETAHUAN ASTRONOMI ALLAH DAN MUHAMMAD
Inilah bukti yang menolak pernyataan ayat Qur’an di atas bahwa Allah dan Muhammad memiliki pengetahuan akan yang ‘gaib.’ Nabi buru-buru sholat karena takut saat gerhana dan meneruskan sholatnya hingga gerhana berakhir. Allah memperlihatkan padanya yang gaib selama gerhana. (Sahih AlBukhari Vol:7/ The Book of Dress/ hadith No:676) Rasullullah berkata, “Allah mendengar mereka yang memujinya. Gerhana matahari dan bulan diantara tanda-tanda Allah yang dengannya Allah menakutkan hambanya. Maka, saat kalian melihatnya saat gerhana, ingatlah Allah hingga mereka bersinar. (Sahih Muslim 4:1972) Setiap ada badai, rasul Allah selalu berkata, ‘Ya Allah! Aku berlindung padamu dari kejahatan di dalamnya, kejahatan yang dibawanya, dan kejahatan dari apa yang ditujunya; dan ketika ada guruh dan petir di langit, parasnya berubah, dan ia mondarmandir, ke belakang ke depan; dan ketika turun hujan, ia merasa lega. ( Sahih Muslim 4:1962) Berikut yang Qur’an ajarkan dan dikonfirmasi Muhammad ttg ‘posisi’ matahari: Allah berkata dalam Qur’an ‘suci’ bahwa matahari tenggelam di kolam berlumpur. (Quran 18:86: “when he reached the setting of the sun, he found it set in a spring of murky water”) Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam . Muhammad mengkonfirmasi ‘fakta tempat terbenam matahari’ ini dalam koleksi hadist. (Sunan Abu Dawood /Hadith No 3991) Muhammad memiliki ‘pengetahuan gaib’ namun ia lari ke mesjid karena ketakutan saat terjadi gerhana! Kita tidak merasa takut pada gerhana matahari atau bulan, tapi Muhammad ya. Nabi kita ini tidak tahu apa itu gerhana, tapi kita tahu. Kita bukanlah Allah atau nabinya yang ‘maha tahu.’ Kita hanya manusia biasa yang beruntung hidup di abad pengetahuan ilmiah. Kita tahu pasti gerhana adalah fenomena alam biasa dan matahari tidak pernah tenggelam —pertimbangkan ukurannya— di kolam berlumpur. See?! Pengetahuan kita akan hal yang ‘gaib’ jauh melebihi Allah dan Muhammad! Baik Muhammad maupun Allahnya, tidak satupun yang menepati klaim mereka:

“mengetahui hal yang gaib” seperti yang dinyatakan sebelumnya.

MUHAMMAD THE ‘GREATEST!’
95% Muslim tidak tahu bahwa Muhammad seorang penguasa yang bengis, yang memerintah di Arab selama 10 tahun terakhir misi kenabian dan kehidupannya di Medina. Muhammad tidak dapat sepenuhnya disalahkan, tapi kita, muslim yang hidup di masa modern yang harus disalahkan karena tidak mencoba mengetahui fakta tsb, dan terus mendukung ideologi politiknya. Di satu sisi Muhammad memiliki prestasi luarbiasa dalam hal berkonspirasi (pimpinan geng). Meskipun ia seorang barbar yg buta huruf, dengan licik dan kejam ia menaklukkan dan memerintah atas orang-orang di masanya menggunakan Qur’an dan kehendaknya sendiri (yang kemudian menjadi hukum syariah). Bahkan saat ini, sekitar 14 abad setelah kematiannya, ia masih merusak kehidupan manusia melalui hukum syariah di berbagai bagian dunia. Sejarah telah menggoreskan begitu banyak penguasa kejam, dari Genghis Khan hingga Hitler. Mereka semua telah berlalu dalam sejarah tanpa berdampak besar pada kehidupan kita. Kita tidak terlalu repot dengan hukum dan aturan mereka lagi. Namun tidak demikian halnya dengan Muhammad dan Islam. Setelah kematiannya, para sahabatnya yang sama tiran dengannya, terinspirasi oleh nabinya, terus mempertahankan hukum dan aturannya, mencari nafkah dengan menaklukkan dan memperbudak di wilayah yang luas, serta memberlakukan hukum syariah di wilayah tsb. Praktek yang terus dilakukan para tiran Islam selama 14 abad hingga sekarang. Dewasa ini, sekitar 50 negara Islam memberlakukan hukum syariah yang sebagian diciptakan Muhammad untuk meneror dan menundukkan orang-orang di masanya. Ia berhasil karena licik, namun sungguh memalukan bagi kita bila saat ini masih mengikutinya secara buta!

ISLAM: TIMBUNAN KEBOHONGAN, KONSPIRASI DAN PENIPUAN MEMBUNUH ATAU TERBUNUH ‘DEMI AKU’
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. (Quran 21:23).

Sebenarnya Muhammad-lah, si pengarang Qur’an, yang memperingatkan para pengikutnya agar tidak menanyainya. Diriwayatkan Abu Huraira: Rasulullah berkata ‘Perang adalah tipuan’ (Sahih Al-Bukhari/ Vol 4:268) Di salah satu hadist Muhammad berkata bangga, “Aku telah dibuat menang melalui terror.” (Sahih Al-Bukhari/ Vol 4:220) …(ketika musuh berada di atas angin) saat Perang Uhud, Rasullullah (pbuh) tertinggal dengan hanya 7 orang dari kaum Ansar dan orang dari Quraysh. Ketika musuh mendesak maju ke arahnya dan mengepung, ia berkata: Baransiapa yang mengusir mereka dari kita akan masuk surga atau bersama para Sahabat di surga. Seorang pria Ansar maju dan bertempur sampai terbunuh. Musuh mendesak maju dan mengepung lagi, dan ia mengulang kata-kata serupa: Baransiapa yang mengusir mereka dari kita akan masuk surga atau bersama para Sahabat di surga. Seorang pria Ansar maju dan bertempur sampai terbunuh. (Sahih Muslim Hadith 4413). Pembaca netral mungkin berpikir, apa sih yang istimewa menjadi sahabat Muhammad di surga? Para pengikut Muhammad dibuat percaya bahwa surga menanti mereka setelah meninggal dunia, dan para sahabat dekat Muhammad mendapatkan bonus tambahan 72 perawan surga setiap orang, sama seperti iming-iming lebih banyak budak perempuan hasil menjarah di dunia.

BERBOHONG, MELANGGAR SUMPAH DAN MENIPU
Apakah Muslim menyadari fakta bahwa Muhammad melanggar sumpahnya dan menganjurkan para pengikutnya untuk berbohong? “Demi Allah, dan kehendak Allah, jika aku mengambil sumpah dan di kemudian hari menemukan yang lebih baik darinya, maka aku melakukan yang lebih baik dan mengakhiri sumpahku” (Ishaq, p. 365, 519, Sahih Al Bukhari 4:268, 7:427) Muhammad bahkan mengijinkan para pengikutnya untuk melanggar sumpah mereka “Jika kalian bersumpah melakukan sesuatu dan di kemudian hari menemukan yang lebih baik, maka akhirilah sumpahmu dan lakukan yang lebih baik.” (Sahih al-Bukhari 9:260)

“Rasullullah berkata, ‘Siapa yang bersedia membunuh Ka’b bin Al-Ashraf, yang telah menyakiti Allah dan Rasulnya?’ Lalu Muhammad bin Maslama bangkit dan berkata, ‘Wahai Rasullullah! Apakah kau ingin aku membunuhnya?’ Nabi berkata, ‘Ya,’ Muhammad bin Maslama berkata, ‘Maka izinkan aku mengatakan suatu tipuan.’ Nabi berkata, ‘Kau boleh mengatakannya.”(Sahih Al-Bukhari 5:369) Qur’an mengajar Muslim untuk berbohong di bawah doktrin Al-Taqiya, berdasarkan Quran 16:106 & 3:28.

ALLAH MEMBUAT JANJI, KEMUDIAN MELANGGARNYA
Allah yang pengasih dan penyayang berkata: “And a declaration from Allah and His Messenger to all mankind: ‘Allah is free from all treaty obligations with non-Muslims and so is His Messenger.” (Quran Al Tauba’ 9:3) Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.

MUSLIM TIDAK LUPUT DARI TIPUAN ISLAM
Sahih Al-Bukhari, koleksi hadist otentik yang dianggap tersuci kedua setelah Qur’an, dan sangat dihargai di dunia Islam, menuliskan, “ajarkan agama pada orang-orang sesuai kemampuan mental mereka.” ( Sahih Al-Bukhari 1:129)

ALLAH & MUHAMMAD PEMBUAT TIPU DAYA TERLICIK
Aku penipu terbaik. Aku menipu mereka dengan tipu muslihatku agar aku membebaskan kamu dari mereka (Ishaq, p. 32) Qur’an menggambarkan Allah sebagai penipu terbaik, pendusta. Misalnya, Qur’an menyebut Allah sebagai ‘makr’ (pembuat tipu daya), yang terbaik malah: Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Quran 3:54) Hadist dan ayat-ayat Qur’an di atas jelas mengajarkan Muslim untuk berbohong,

menipu, dan membunuh non-Muslim demi kepentingan Islam. Situasi tanpa harapan di dunia dan komunitas Islam, apalagi yang bisa diharap dari suatu cult yang mengajarkan berbohong, berbuat kekerasan dan kejahatan kejam

KESIMPULAN
So, saudara-saudara Muslimku, pastilah kalian memiliki gagasan mengenai Islam yang sebenarnya. Sebagai manusia yang terdidik dan bernalar, menjadi tugas kita untuk berhenti mendengar Imam yang memanipulasi, menerjemahkan secara salah untuk mempermanis ajaran horror Qur’an dan Sunnah agar terlihat ‘ilahiah’ dan memiliki standar moral tinggi. Kenyataannya, mereka menipu kita. Kita harus membaca Qur’an dan hadist dalam bahasa kita atau bahasa lain yang kita mengerti untuk mengetahui betapa ‘suci’ dan ‘cerdas’nya ajaran Qur’an. Jangan patah semangat, saudaraku, setelah mengetahui ajaran Qur’an sesungguhnya. Walaupun secara mengejutkan sangat berbeda dari yang kita harapkan, hal tsb mungkin berdampak serius, bahkan fatal terhadap kita saat mengetahuinya secara tibatiba. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai pengalaman menyakitkan tsb, coba baca Menyadarkan Ayahku tentang Islam dan Akibatnya yang Fatal.

sumber: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/mirza-ghalib-untuk-sesamaku-muslim-t51592/

Diselaraskan oleh Admin :

islamexpose.blogspot.com