Teknologi Pengolahan Sampah

by Michael Hutagalung on 30/12/07 at 11:59 pm | 57 Comments | Print article | Email article

Pernah mendengan PLTSa? Pembangkit Listrik Tenaga Sampah? Suatu isu yang sedang hangat dibicarakan di Kota Bandung, sebuah kota besar di Indonesa yang beberapa waktu yang lalu pernah heboh karena keberadaan sampah yang merayap bahkan hingga badan jalan-jalan utamanya. Jangankan jalan utama, saat Anda memasuki Bandung menuju flyover Pasupati, Anda pasti akan disambut dengan segunduk besar sampah yang hampir menutupi setengah badan jalan. Itu dulu. Sekarang, Kota Bandung sudah kembali menjadi sedia kala dan solusi PLTSa-lah yang sedang diperdebatkan. Tujuan akhir dari sebuah PLTSa ialah untuk mengkonversi sampah menjadi energi. Pada dasarnya ada dua alternatif proses pengolahan sampah menjadi energi, yaitu proses biologis yang menghasilkan gas-bio dan proses thermal yang menghasilkan panas. PLTSa yang sedang diperdebatkan untuk dibangun di Bandung menggunakan proses thermal sebagai proses konversinya. Pada kedua proses tersebut, hasil proses dapat langsung dimanfaatkan untuk menggerakkan generator listrik. Perbedaan mendasar di antara keduanya ialah proses biologis menghasilkan gas-bio yang kemudian dibarak untuk menghasilkan tenaga yang akan menggerakkan motor yang dihubungkan dengan generator listrik sedangkan proses thermal menghasilkan panas yang dapat digunakan untuk membangkitkan steam yang kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin uap yang dihubungkan dengan generator listrik.

Proses Konversi Thermal
Proses konversi thermal dapat dicapai melalui beberapa cara, yaitu insinerasi, pirolisa, dan gasifikasi. Insinerasi pada dasarnya ialah proses oksidasi bahan-bahan organik menjadi bahan anorganik. Prosesnya sendiri merupakan reaksi oksidasi cepat antara bahan organik dengan oksigen. Apabila berlangsung secara sempurna, kandungan bahan organik (H dan C) dalam sampah akan dikonversi menjadi gas karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Unsur-unsur penyusun sampah lainnya seperti belerang (S) dan nitrogen (N) akan dioksidasi menjadi oksida-oksida dalam fasa gas (SOx, NOx) yang terbawa di

starved air unit. Beberapa contoh insinerator ialah open burning. methanol. dan fluidized bed incinerator. Dengan adanya proses pemanasan dengan temperatur tinggi. Seperti halnya pirolisa. molekulmolekul organik yang berukuran besar akan terurai menjadi molekul organik yang kecil dan lebih sederhana. Sebuah ilustrasi bagian-bagian dalam sebuah incinerator. Gasifikasi melibatkan proses perengkahan dan pembakaran tidak sempurna pada temperatur yang relatif tinggi (sekitar 900-1100 C). open pit. Incinerator. Pirolisa merupakan proses konversi bahan organik padat melalui pemanasan tanpa kehadiran oksigen. proses gasifikasi menghasilkan gas yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 4000 kJ/Nm3. . single chamber. multiple chamber. Hasil pirolisa dapat berupa tar. larutan asam asetat. rotary kiln. dan produk gas. padatan char. Gasifikasi merupakan proses konversi termokimia padatan organik menjadi gas.gas produk.

proses aerobik) dan menghasilkan gas methane (pada proses anaerobiknya). Senyawa-senyawa ini berinteraksi dengan air yang dikandung oleh limbah dan air hujan yang masuk ke dalam tanah dan membentuk bahan cair yang disebut lindi (leachate). Jika landfill tidak didesain dengan baik. Biogas adalah teknologi konversi biomassa (sampah) menjadi gas dengan bantuan mikroba anaerob. leachate akan mencemari tanah dan masuk ke dalam badan-badan air di dalam tanah. Modern Landfill. Sistem pengambilan gas hasil biasanya terdiri dari sejumlah sumur-sumur dalam pipa-pipa yang dipasang lateral dan dihubungkan dengan pompa vakum sentral. Aktifias mikroba dalam landfill menghasilkan gas CH4 dan CO2 (pada tahap awal . Produk dari digester tersebut berupa gas methane yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 6500 kJ/Nm3. Karena itu. Gas landfill tersebut mempunyai nilai kalor sekitar 450-540 Btu/scf. limbah organik akan didekomposisi oleh mikroba dalam tanah menjadi senyawa-senyawa gas dan cair. Konsep landfill seperti di atas ialah sebuah konsep landfill modern yang di dalamnya terdapat suatu sistem pengolahan produk buangan yang baik. Di dalam lahan landfill. . Proses biogas menghasilkan gas yang kaya akan methane dan slurry. Gas methane dapat digunakan untuk berbagai sistem pembangkitan energi sedangkan slurry dapat digunakan sebagai kompos.Proses Konversi Biologis Proses konversi biologis dapat dicapai dengan cara digestion secara anaerobik (biogas) atau tanah urug (landfill). tanah di landfill harus mempunya permeabilitas yang rendah. Landfill ialah pengelolaan sampah dengan cara menimbunnya di dalam tanah. Selain itu terdapat juga sistem pengambilan gas dengan pompa desentralisasi.

dan yang pasti: keekonomian. Variabel-variabel utama yang dikaji sesuai dengan yang disarankan. karakter pasar dari produk pengolahan. dan yang tidak dapat mengendap dalam air. implikasi lingkungan dan sistem. Kira-kira teknologi mana yang tepat sebagai solusi pengolahan sampah menjadi bahan berguna? Apakah PLTSa sudah merupakan teknologi yang tepat?? Simulasi Koagulasi-Flokulasi Dengan Jartest April 12. Koagulasi adalah proses pembubuhan bahan kimia (koagulan) ke dalam air yang akan dioIah. dan persyaratan yang digunakan untuk memperoleh hasil yang optimum. dan yang tidak dapat mengendap dalam air dengan menggunakan bahan kimia dalam proses koagulasi-flokulasi. 2007 · 19 Comments Download The Environmentalist. persyaratan lingkungan. yang dilanjutkan dengan pengendapan secara gravitasi. termasuk : • • • Bahan kimia pembantu pH Temperatur . termasuk prosedur umum untuk mengevaluasi pengolahan dalam rangka mengurangi bahan-bahan terlarut. karakter teknis teknologi konversi yang ada. Standar ini menetapkan suatu metode pengujian koagulasi flokulasi dengan cara jartest. maka kita bisa menggunakan alat laboratorium yang bernama Jartest. Flokulasi adalah proses penggumpalan bahan terlarut. kolois. Untuk mengentahui tingkat kekeruhan suatu sample air.Pemilihan Teknologi Tujuan suatu sitem pemanfaatan sampah ialah dengan mengkonversi sampah tersebut menjadi bahan yang berguna secara efisien dan ekonomis dengan dampak lingkungan yang minimal. Uji koagulasi-flokulasi dilaksanakan untuk menentukan dosis bahan-bahan kimia. Untuk melakukan pemilihan alur konversi sampah diperlukan adanya informasi tentang karakter sampah. Kembali ke Bandung. koloid. Jartest ini juga dapat digunakan untuk mengetahui kinerja kogulasi dan flokulasi secara simulasi di laboratorium asalkan air yang dilakukan simulasi dengan jartest ini adalah air yang benarbenar akan dilakukan pengolahan dilapangan.

Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat . penting bagi sektor industri kehutanan untuk memahami dasar-dasar teknologi pengolahan limbah cair. Rak Pereaksi Bahan kimia dan bahan pembantu. Untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti prosedur berpasangan 3 dan 3 jartest dianjurkan. Masukkan volume contoh uji yang sama (1000 mL) kedalam masing-masing gelas kimia. Ulangi langkah 1 sampai 6 di atas sampai semua variabel penentu terevaluasi. Namun demikian. Letakkan bahan (kimia) uji pada pereaksi. Operasikan pengaduk muIti posisi pada pengadukan cepat dengan kecepatan kirakira 120 Rpm. seperti industri pulp dan kertas. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Catat temperatur contoh uji pada saat pengujian dimulai. Tempatkan gelas hingga baling-baling pengaduk berada 6. mengingat penting dan besarnya dampak yang ditimbulkan limbah cair bagi lingkungan. Metode uji ini digunakan untuk mengevaluasi berbagai jenis koagulan dan koagulan pembantu pada proses pengolahan air bersih dan air Iimbah.4 mm dari dinding gelas. dalam perdagangan tersedia berbagai macam koagulan pembantu atau polielektrolit. kekeruhan. 6. 2. Gelas Kimia. catat bentuk flok pada dasar gelas dan catat temperatur contoh uji. pH dan analisis lainnya. Setelah 15 menit pengendapan. Tambahkan larutan atau suspensi pada setiap penentuan dosis yang telah ditentukan sebelumnya. Kurangi kecepatan sampai pada kecepatan minimal. 5. Pengaruh konsentrasi koagulan dan koagulan pembantu dapat juga dievaluasi dengan metode ini. Peralatan yang diperlukan terdiri dari: Pengaduk. Bagi industri-industri besar.• Persyaratan tambahan dan kondisi campuran. keluarkan sejumlah cairan supernatan yang sesuai sebagai contoh uji untuk penentuan warna. Koagulan pembantu. 3. Setelah pengadukan lambat selesai. namun tidak demikian bagi industri kecil atau sedang. kecuali koagulan pernbantu dapat dipersiapkan setiap akan digunakan dengan membuat larutan sampai mencapai konsentrasi 10 gr/L. teknologi pengolahan limbah cair yang dihasilkannya mungkin sudah memadai. Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. 7. angkat baling-baling dan lihat pengendapan partikel flok. untuk menjaga keseragaman partikel flok yang terlarut melalui pengadukan lambat selama 20 menit. Prosedur pengujian : 1. 4. digunakan untuk larutan dan suspensi pengujian. Dengan menggunakan pipet atau siphon. PENGOLAHAN LIMBAH CAIR Industri primer pengolahan hasil hutan merupakan salah satu penyumbang limbah cair yang berbahaya bagi lingkungan.

sehingga akhirnya dapat diendapkan. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit. Pengolahan Secara Kimia Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikelpartikel yang tidak mudah mengendap (koloid). dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. logam-logam berat. baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi. pengolahan secara fisika 2. yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi). Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan: 1. dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi. senyawa fosfor. biasanya dengan karbon aktif. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal. Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut. Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar.5 .yang bersangkutan. dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap. Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. pengolahan secara biologi Untuk suatu jenis air buangan tertentu. dan zat organik beracun. sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation). Endapan logam tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10. Proses adsorbsi. Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut. diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahanbahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan. pengolahan secara kimia 3. Pengolahan Secara Fisika Pada umumnya. biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya. ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi. terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah. akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam proses osmosa.Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil.

yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). aerasi. Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l. Khusus untuk krom heksavalen. Proses anaerob. Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl2).Pada dasarnya. akan tetapi biaya pengolahan menjadi mahal karena memerlukan bahan kimia. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional. 2. Proses kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan. kalsium permanganat.Di dalam reaktor pertumbuhan lekat. cukup untuk mencapai kualitas efluen yang dapat memenuhi standar yang ditetapkan. Kolam oksidasi dan lagoon. ozon hidrogen peroksida. reaktor fludisasi Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar 80%-90%. proses aerob masih dapat dianggap . waktu detensi hidrolis selama 12-18 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam lagoon yang tidak diaerasi. cakram biologi 3. yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. Berbagai modifikasi telah banyak dikembangkan selama ini. trickling filter 2.5. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal berlangsung dalam reaktor jenis ini. Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara biologi. kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang lain. Sebagai pengolahan sekunder. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%). antara lain: 1. yang berlangsung dengan hadirnya oksigen. mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya. pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis: 1. Pengolahan secara biologi Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Proses aerob. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang berbagai metode pengolahan biologi dengan segala modifikasinya. antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi. oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan. Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor). yang berlangsung tanpa adanya oksigen. Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi. reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis. sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)3]. mikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam keadaan tersuspensi. Untuk iklim tropis seperti Indonesia. juga termasuk dalam jenis reaktor pertumbuhan tersuspensi. atau Na2S2O5).dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9.Pada dasarnya kita dapat memperoleh efisiensi tinggi dengan pengolahan secara kimia. Di dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan waktu detensi 3-5 hari saja. baik yang diaerasi maupun yang tidak. Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor). SO2. filter terendam 4. yaitu: 1. terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor (FeSO4. 2.

18 tahun 1999. air. Oil sludge Limbah dari proses penyulingan minyak mentah (crude oil) dalam industri perminyakan sangatlah komplek. Limbah padat yang dihasilkan disebut oil sludge. phenol. dan logam berat seperti timbal (Pb) pada oil sludge merupakan limbah B3 yang dalam pengelolaannya harus mengacu pada peraturan pemerintah no. Plasma umumnya dipergunakan pada pengolahan limbah padat. Dewasa ini. xylenes. timbal. Kandungan limbah gas buangan seperti. Di negara maju seperti Jepang plasma dipergunakan untuk mengolah logam atau limbah domestik pada insinerator sekaligus dapat mendaur ulang limbah logam berat seperti timbal (Pb) dan seng (Zn) yang terkandung limbah tersebut. dan residu dari proses pengolahan siap dan aman untuk dibuang (landfill). karat tangki. ethylbenzene. dan SOx dapat mencemari lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat disekitarnya. tapi sekaligus dapat mendaur ulang limbah yang umumnya mengandung sekitar 40% minyak.lebih ekonomis dari anaerob. bahan-bahan kimia seperti. udara dan air menimbulkan adanya sedimentasi pada dasar tangki penyimpanan. cair dan padat. toluene. Kandungan dari hydrocarbon antara lain benzene. limbah beracun berbahaya. CO. Sorong (Papua). pasir. dimana . dan chloride yang merupakan limbah beracun berbahaya. Kasus pencemaran akibat oil sludge atau endapan pada tangki penyimpanan minyak industri perminyakan. Riau. Aplikasi Plasma Teknologi untuk Daur Ulang Limbah Oil Sludge Kata Kunci: Daur ulang limbah. Dengan mengolah oil sludge akan menghasilkan light oil seperti minyak diesel yang siap pakai. oil sludge Ditulis oleh Anto Tri Sugiarto pada 29-09-2004 Berbagai kasus pencemaran limbah beracun berbahaya (B3) dari penambangan minyak di Indonesia. volatile hydrocarbon. teknologi plasma juga dapat diterapkan dalam mengolah limbah oil sludge. seperti di Tarakan (Kalimantan Timur). Teknologi plasma banyak diterapkan sebagai salah satu teknik pengolahan limbah. abu. hingga saat ini belum pernah ditangani dengan serius. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/l. Dimana minyak hasil penyulingan (refines) dari minyak mentah biasanya disimpan dalam tangki penyimpanan. proses anaerob menjadi lebih ekonomis. endapan ini adalah oil sludge. Oksidasi proses yang terjadi akibat kontak antara minyak. dan bahan kimia lainnya. Plasma tidak hanya dapat mengolah oil sludge. Begitupula dengan limbah cair dari sisa proses penyulingan umumnya memiliki kandungan minyak. Oil sludge terdiri dari. NOx. sulphide. Limbah yang dihasilkan dapat diklasifikasikan sebagai limbah gas. dan terakhir kasus pencemaran di Indramayu sudah seharusnya menjadi catatan penting bagi para pengelola penambangan minyak akan pentingnya pengolahan limbah oil sludge di tanah air. minyak (hydrocarbon).

Plasma yang dihasilkan dapat dipergunakan untuk mengolah dan mendaur ulang limbah oil sludge. Beberapa kelebihan dari pemanfaatan proses ini adalah energi efisiensinya dapat mencapai 80%. Daur ulang limbah oil sludge Dewasa ini pemanfaatan plasma dengan suhu tinggi (thermal plasma) dalam berbagai proses industri meningkat. untuk mengubah uap gas tadi menjadi cairan. steam extraction (ekstraksi).000 ・. Plasma ini dapat dipergunakan untuk menguapkan senyawa organik (hydrocarbon) yang terkandung dalam oil sludge. argon. dan dapat dimanfaatkan. Gas yang dipergunakan dalam torch adalah argon atau nitrogen (dalam hal ini tidak ada oksigen). Gas argon atau nitrogen sendiri dapat dipergunakan kembali dalam reaktor proses. nitrogen. Senyawa organik yang menguap dapat dibentuk kembali dalam bentuk minyak. Kondisi dalam reaktor proses dikondisikan sedemikian rupa agar tidak terjadi proses oksidasi pada material hydrocarbon dan dapat mendukung proses pembentukan minyak pada condensator. dan bioremediation (microbiologi). dengan suhu tinggi diatas 10. dan siap untuk dibuang ke TPA dengan aman. Plasma yang dihasilkan oleh plasma torch dapat dioperasikan pada suhu 15. incineration (pembakaran). yang terbentuk diantara dua elektroda. Hasil dari proses ini adalah panas dan gas terionisasi yang akan memproduksi thermal plasma jet dengan temperature yang sangat tinggi. Thermal plasma dapat dibuat dengan electric arc. Normal operasi temperatur yang dipergunakan dalam proses ini adalah sekitar 800 hingga 1200 derajat celcius. Apabila pada oil sludge terkandung logam berat seperti timbal proses lanjutan dengan plasma dapat dilakukan untuk mendaur ulang logam tersebut. atom atau molekul gas akan bertumbukan dengan elektron yang terbentuk dalam electric arc.limbah B3 harus diproses untuk mengubah karakteristik dan komposisi limbah B3 menjadi tidak beracun dan berbahaya. Thermal plasma adalah gas yang terionisasi (ionized gas). dalam sebuah alat yang disebut plasma torch. suhu terbaik yang dibutuhkan untuk menguapkan kandungan hydrocarbon dalam oil sludge. Sebenarnya banyak teknik pengolahan limbah oil sludge yang dapat diaplikasikan seperti. Setelah melalui pendinginan dalam kondensor cairan yang terbentuk dari gas organik tadi adalah light oil yang 100% dapat dipergunkan kembali. Residu yang dihasilkan dari proses ini akan bebas dari kandungan hydrocarbon. centrifuges (pemisahan). Gas organik yang yang terbentuk dalam reaktor bersamaan dengan gas argon atau nitrogen kemudian dimasukkan kedalam kondensor. hal ini jauh lebih tinggi dibandingkan pada proses yang menggunakan . Prose sistem pengolahan limbah oil sludge dengan plasma dapat dilihat pada Gambar 2. Dengan memasukkan gas seperti. udara. steam dan lain sebagainya kedalam plasma torch. Namun.000 ・. kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa teknologi tersebut masih jauh dari yang diharapkan. Energi yang diperlukan dalam proses dibentuk dalam plasma torch. ditambah lagi dengan biaya operasional yang masih sangat mahal.

.gas atau bahan bakar minyak lain yang hanya dapat mencapai 20%. Selanjutnya. Juga plasma proses akan lebih efektif jika diaplikasikan pada limbah oil sludge yang memiliki kandungan hydrocarbon di atas 10%. Dengan menerapkan plasma proses pada limbah oil sludge diharapkan pencemaran lingkungan dan dampaknya bagi kesehatan masyarakat dapat dihindari. kandungan hydrocarbon pada residu yang dihasilkan berkisar dibawah 0.01% dari total hydrocarbon. Lebih dari pada itu oil sludge dapat didaur ulang sehingga dapat menjadikan nilai tambah bagi industri perminyakan nasional.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful