A.

Pendahuluan Uji ranking merupakan salah satu metode pengujian yang banyak digunakan di dalam pengujian mutu produk terutama produk hasil perikanan. Pengujian ranking banyak digunakan dikarenakan metode pengujian ini yang tergolong mudah karena hanya mengurutkan (meranking) atribut pengujian dari suatu sampel dari yang paling tinggi ke yang paling rendah. Selain itu pengujian dengan metode ranking ini tidak memerlukan panelis yang terlatih sehingga peluang untuk dilakukan oleh orang banyak sangatlah besar (Kartika, 1998). Uji ranking termasuk pada uji skalar krena hasil pengujian oleh panelis telah dinyatakan dalam besaran kesan dengan jarak (interval) tertentu. Dalam uji ini panelis diminta membuat urutan contoh-contoh yang diuji menurut perbedaan tingkat mutu tingkat sensorik. Jarak atau interval antara jenjang/ranking ke atas dan ke bawah tidak harus sama, misalnya jenjang no. 1 dan 2 boleh berbeda dengan jenjang no. 2 dan 3. Dalam uji penjenjangan/ranking, komoditi diurutkan dan diberi nomor urut. Urutan pertama selalu menyatakan tingkat tertinggi, makin ke bawah nomor urutnya kian besar. Pada suatu industri pangan, perbaikan produk maupun pemilihan produk terbaik merupakan salah satu alternatif untuk menunjang pemasarannya. Keinginan konsumen yang selalu menghendaki produk dengan mutu baik harus disediakan bila industri tersebut ingin menjaring keuntungan dari penjualan produk yang dihasilkan (Anonim, 2013) Uji ranking dapat diterapkan untuk memecahkan permasalahan yang ditemui tersebut. Uji ini bisa mengukur pengaruh proses baru terhadap mutu produk, yaitu untuk mengetahui apakah produk baru sama atau lebih baik dari produk lama. Selain iu juga untuk menentukan contoh terbaik atau produk yang paling digemari konsumen, tujuan utama pemasaran produk itu. Dengan menggunakan uji ranking, uji penjenjangan atau pengurutan ini maka mutu produk dapat diketahui dan diurutkan. Produk kesukaan konsumen juga bisa diketahui sehingga untuk selanjutnya jenis atau tingkat mutu produk inilah yang dijadikan patokan dalam proses pembuatan suatu produk. Angka-angka atau nilai hasil uji ranking yang dilakukan hanyalah nomor urut, tidak menyatakan besaran skalar. Uji ini juga tidak menyatakan contoh pembanding sebagai komoditi yang paling tinggi nilainya tetapi hanyalah alat atau sarana untuk pedoman dalam membandingkan berbagai komoditi yang sama jenisnya sedangkan kualitasnya berbeda. Dalam uji rangking, tidak disertakan contoh pembanding seperti uji Duo-Trio. Jumlah sampel yang diujikan

Data dan Analisis Data Data Uji Ranking Nama Panelis Ichsan 575 -0. 1985). Setiap mencicipi satu buah sampel dilanjutkan dengan minum terlebih dahulu untuk kemudian mencicipi sampel selanjutnya. Alat • • • 2.00 0. Hasil penilaian berupa urutan sampel dengan penilaian atribut diisikan ke dalam scoresheet yang telah disediakan 5. Petugas pengujian mempersiapkan sampel pengujian yang terdiri dari 6 sampel nugget dengan merk dan rasa yang berbeda-beda. Bahan • Sampel nugget goreng (6 buah dengan tingkat merk dan rasa yang berbeda) C. tidak disertakan contoh pembanding (Soekarto. B. D.20 561 0.27 529 1.harus minimal 2 sampel atau lebih biasanya 2-7 sampel. 4. Uji rangking.27 Total X Total X² Alat tulis Lembar penilaian (scoresheet) Piring pengujian 0. Cara Kerja 1. panelis diminta membuat urutan contoh-contoh yang diuji menurut tingkat mutu sensorik. Mekanismenya adalah panelis masuk ke ruangan pengujian dan langsung mencicipi semua sampel yang disediakan.20 Kode sampel 756 0. Alat dan Bahan 1. makin ke bawah nomor urut makin besar.64 552 -0.00 . Panelis diminta menilai dengan cara mengurutkan sampel tersebut berdasarkan atribut rasa dari urutan tertinggi hingga terendah. 3. Urutan yang pertama selalu menyatakan yang paling tinggi. Lakukan analisis data. 2. Dalam uji rangking.64 296 -1.

36 54.49 1.00 0.27 -0.20 -0.20 0.27 -0.20 1.20 1.00 0.17 0.8356831 Tidak Beda 7 Nyata 2.64 0.00 0.64 0.00 0.64 -1.20 0.76 0.Alfani Diani Vivi Radipta Fitri Abdurriza Juju Igan Faldo Dwi Iqbal Ivon Ari W.07 0.27 -5.426196939 70 40.27 -0.64 -0.34 -1.64 -0.00 0.27 -1.91 -0.07 25.00 0.00 0.00 db 14 JK 0 KT 0 F hitung 0 F tabel 1.00 0.00 0.10 0.27 -0.64 -0.00 0.20 0.12 0.00 321.64 -0.19 51.00 0.00 0.20 0.20 -1.64 0.20 -0.00 0.3455863 3 Beda Nyata 5 21.64 -1.27 -0.20 0.20 1.88 Ho : Tidak ada beda nyata Hi : Ada beda nyata Pengambilan keputusan Jika F hitung > F tabel maka Ho ditolak Jika F hitung < F tabel maka Ho diterima Perhitungan FK = = =0 .45 131.00 0.20 -1.20 1.577610671 89 61.20 -0.27 1.64 -7.27 11.27 1.27 -0.61 57.00 0.27 -0.00 0.64 0.64 1.27 -1.20 -1.20 1.00 0.51 -0.64 -0.64 0.27 -0.20 -1.2894506 7.00 0.00 0.64 -0.00 0.447253 4.27 1.20 0.27 1.00 0.20 0.20 1.70 -0.432747 0.20 -7.64 -0.64 -0.64 -0.27 1.20 0.27 -1.00 0.27 0.64 -1.64 0.64 0.27 1.27 0.00 0.64 -0.64 -0.64 0.27 -1.27 0.20 -0.64 7.20 0.48 -0.27 0. Dewi Total Y Total Y² Rata-rata ANOVA Sumber Ragam Panelis Sampel Sesatan Total Hipotesis 0.20 -1.27 0.00 0.00 0.64 0.20 1.20 -1.71 0.00 0.27 0.00 0.20 0.64 -0.06 1.64 0.70 -0.00 0.27 -0.27 -0.

27²) – 0 = 61.51 1. maka dapat disimpulkan bahwa terdapat beda nyata antara keenam sampel yang diujikan sehingga diperlukan uji lanjut untuk menentukan adanya perbedaan antara ketiga sampel.58 0.24 529 0.76 0.97 0.00 0.17 0.00 Pengambilan keputusan Jika |Selisih Rerata| > BNTmaka Ho ditolak.55 0.00 0.83 0.88 – 0 – 21.69 756 -0. tidak ada beda nyata .10 552 -0.03 1.07 0.27 296 -0.17 0. ada beda nyata Jika |Selisih Rerata| < BNT maka Ho diterima.03 0.00 0.87 Tabel Uji BNT BNT = 0.41 0.34 0.20²+0.27 1.55 0.+1.76 575 0.97 0. salah satunya dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) Uji BNT n = Jumlah sampel = 6 t(α.87 575 561 756 552 296 529 Rerata 0.42 0.64²+0.426196939 > F tabel 2.00 0.20²+….69 1.83 1.49 0.88 JK Panelis = – FK = −0=0 JK Sampel = – FK = − 0 = 21.07 -0..10 1.00 0.41 0.14 0.27 0.4472533 = 40.24 0.34 -0.49 0.v) = 1.99443 Sd = = = 0.51 -0.42 0.FK = (-0.48 0.00 1.00 0.43 Kesimpulan Diperoleh nilai F hitung 7.4472533 JK Error = JK Total – JK Panelis – JK Sampel = 61.34558633.48 0.58 0.JK Total = ∑(Sampel)² .14 1.27 561 0.

756 dan 296. Penyajian cuplikan. dilanjutkan dengan uji jarak Duncan untuk melihat sampel yang berbeda. dan 4. Proses pelaksanaan analisis. . (Hastuti. nomor peringkat ditarsformasi terlebih dahulu menjadi data skor dengan menggunakan tabel Fisher. 575 dan 529. Metode Analisis dengan Tabel Fisher-Yates Pada analisis ini. pemberian nomor urut biasanya dimulai dari nomor satu yang menyatakan nilai atau peringkat tertinggi diikuti peringkat kedua yang mutunya lebih rendah dan seterusnya. misalnya tingkat kemanisan atau kerenyahan. 2. Hal ini bertujuan untuk pada saat waktu pengujian panelis tidak memihak (bias). Penyiapan panelis. Pada sampel yang diujikan perlu diberi pengkodean. Jika analisis sidik ragam menunjukan perbedaan yang nyata (F hitung > F tabel). Cara pengkodeannya yaitu dengan menggunakan nomor acak. 3. Data respon dapat dianalisis dengan menggunkan berbagai cara. 1988). yaitu : 1. Penyusunan format uji. Tahap ini meliputi : 1.. 561 dan 529. 561 dan 756. 756 dan 552. 575 dan 756. Pembahasan Uji peringkat atau ranking dilakukan untuk menentukan urutan sejumlah komoditas atau produk menurut perbedaan intensitasnya. Hasil Transformasi yang berupa matrix skor lalu dianalisis dengan sidik ragam. 561 dan 552. 561 dan 296.Yates. Metode Rata-rata Metode ini dilakukan dengan menjumlahkan tingkat urutan yang dinilai oleh panelis untuk masing-masing jenis produk yang sama dan dirata-ratakan (dibagi dengan jumlah panelis) 2. biasanya menggunakan nomor tiga angka (three digit number) Pada proses pengujian terdapat tahap kritis atau tahap penentu untuk pengujian pembedaan.Kesimpulan Terdapat beda nyata antara sampel 575 dan 561. 552 dan 296 E.

561. Metode skoring prinsipnya hanya memberikan skor (nilai) berdasarkan intensitas parameter yang diujikan sebagai contoh tekstur. 756. metode pengujian ranking memiliki beberapa persamaan dengan metode pengujian skoring yaitu kedua metode ini sama-sama memberikan penilaian berupa angka terhadap sampel yang diuji.Pengujian ranking haruslah menggunakan panelis yang terlatih dikarenakan kaitannya dengan data yang akan dihasilkan nantinya. dan 529 yang ada berdasarkan parameter rasanya. Pengujian dilakukan dengan membandingkan 6 sampel nugget goreng dengan kode 575. Tahapan terakhir adalah melakukan analisis data dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan pengujian lanjut jika diperlukan. Selain itu panelis terlatih sudah memiliki banyak pengalaman terkait teknik pengujian mutu. Akan tetapi kedua metode tersebut memiliki perbedaan yang cukup jelas. Panelis terlatih didapatkan dari hasil pengujian duo trio yang telah dilakukan sebelumnya. Pertama-tama panelis masuk ke ruangan uji dan dihdapkan langsung dengan 6 sampel nugget goreng yang diujikan. 552. 296. Lembar penilaian yang disediakan di dalam scoresheet berupa tabel berurutan dari 1 sampai 6 kemudian panelis diminta mengurutkan tingkatannya (ranking) berdasarkan rasanya. Yang pertama dilakukan adalah dengan menentukan panelis yang terlatih. Setelah itu langsung masuk ke tahapan pengujian. Penggunaan panelis yang terlatih bertujuan meminimalisir tingkat kesalahan yang dilakuakn oleh panelis dikarenakan panelis yang terlatih tentunya memiliki tingkat sensitifitas yang tinggi dibandingkan panleis yang tidak terlatih. Berdasarkan hasil dari uji duo trio dapat diketahuai apakah panelis tersebut terlatih atau tidak sehingga uji duo trio dapat dikatakan sebagai salah satu cara penyeleksian panelis terlatih. Maksudnya adalah pada metode ranking sampel-sampel tersebut diurutkan berdasarkan . Secara umum. Penentuan panelis terlatih yang digunakan pada acara praktikum kali ini menggunakan seleksi dari pengujian duo trio yang sudah dilakukan sebelumnya. Praktikum mengenai pengujian ranking ini dilakukan dengan beberapa tahapan kerja. Ranking 1 menunjukkan rasa yang paling gurih dan akan semakin menurun kegurihannya jika rankingnya bertambah hingga 6. Uji lanjut yang digunakan adalah BNT. Uji lanjut digunakan untuk mengetahui sampel mana sajakah yang berbeda. rasa dan sebagainya sedangak metode ranking prinsipnya adalah memberikan penilaian berupa ranking terhadap sampel yang diujikan.

Jarak didapat dari jumlah perlakuan -1. tahapan selanjutnya adalah dengan menetapkan pembanding dengan jarak yang ditentukan.91. Tahapan terakhir adalah membandingkan selisih antar sampel berdasarkan pembanding jarak tersebut. Terdapat perbedaan antara sampel 1 (kode 542) dengan sampel 2 (kode 424) dan sampel 3 (kode 246) sedangkan Sampel B dan C mempunyai tingkat kekenyalan hampir sama (mendekati keras). maka menentukan pembanding yang besarnya bergantung pada jarak yang didapatkan. 2010).34558633 dengan derajat bebas sampel 5 dan derajat bebas error 70. • Saran Sebaiknya tahapan kerja pada proses pengujian dilakukan lebih rapi dan teratur sehingga praktikan sebagai panelis tidak menjadi bingung unutk ..05. Jika hasil selisih nilainya > daripada pembanding jarak tersebut maka dapat dismpulkan bahwa kedua sampel tersebut berbeda nyata.51 dan 3 yaitu 0. Berdasarkan tabel Duncan didapatkan pembanding untuk jarak 2 yaitu 0. dan terbesar adalah sampel dengan kode 246 dengan 5. Berdasarkan hasil analisis data dengan ANOVA didapatkan hasil keenam sampel yang diujikan berbeda nyata tingkat kegurihannya (rasa).426196939 dan lebih besar dari F tabel yaitu 2. Praktikum kali ini terdapat 3 perlakuan maka akan didapat 2 jarak yang ada yaitu 2 dan 3. Kesimpulan dan Saran • Kesimpulan 1.54.05. F. Hal ini ditunjukkan dengan F hitung 7. Sampel dengan rata-rata terkecil adalah sampel dengan kode 542 dengan 2.intensitas atribut yang diujikan sehingga dapat terlihat sampel mana yang memiliki intensitas atribut uji terbaik (tertinggi) hingga terendah (Setyaningsih. diikuti dengan sampel dengan kode 424 dengan 4. Tahapan selanjutnya adalah dilakukan uji lanjut untuk mengetahui sampel mana sajakah yang berbeda yaitu dengan menggunakan uji BNT. Setelah didapatkan jarak yang dibutuhkan. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan didapatkan hasil yang berbeda nyata antara ketiga sampel. Langkah-langkah dalam melakukan uji BNT adalah dengan mengurutkan sampel berdasarkan rata-rata terkecil ke terbesar sampel.

G. Lampiran . Ebookpangan. 1985. Bhratara Karya Aksara :Jakarta. Soewarno.. Selain itu sebaiknya kondisi laboratorium sebaiknya lebih dikondusifkan lagi. PT. H. Hastuti. B. 2013. Supartono. PAU Pangan dan Gizi UGM.. Hastuti. Yogyakarta. Soekarto. Daftar Pustaka Anonim. Bogor. Apriyantono dan M. PAUPangan dan Gizi UGM. W.. Supartono. Kartika. 1988. penilaian organoleptik. Pengujian Organolpetik (Evaluasi Sensori) dalam Industri Pangan.. B. 2010. Setyaningsih D. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. 1988. A. Analisis Sensori Untuk Industri Pangan dan Agro. W. Yogyakarta. Sari.bergiliran masuk ke ruangan pengujian. P. IPB Press.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful