LANGKAH DAN TINDAKAN SESUAI PROSEDUR CARA PENYELESAIAN KONFLIK DI WILAYAH 1. Umum.

Konflik antar budaya ataupun multi dimensional yang sering muncul dan mencuat dalam berbagai kejadian yang memprihatinkan dewasa ini bukanlah konflik yang muncul begitu saja. Akan tetapi, merupakan akumulasi dari ketimpangan–ketimpangan dalam menempatkan hak dan kewajiban yang cenderung tidak terpenuhi dengan baik. Konflik merupakan gesekan yang terjadi antara dua kubu atau lebih yang disebabkan adanya perbedaan nilai, status, kekuasaan, kelangkaan sumber daya, serta distribusi yang tidak merata, yang dapat menimbulkan deprifasi relative di masyarakat. Konflik dan kehidupan manusia tidak mungkin untuk dapat dipisahkan dan keduanya berada bersama-sama karena perbedaan nilai, status, kekuasaan, dan keterbatasan sumber daya itu memang pasti ada dalam masyarakat. Konflik akan selalu kita dijumpai dalam kehidupan manusia atau kehidupan masyarakat sebab untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia melakukan berbagai usaha yang dalam pelaksanaannya selalu dihadapkan pada sejumlah hak dan kewajiban. Jika hak dan kewajiban tidak dapat terpenuhi dengan baik, maka besar kemungkinan konflik terjadi.

2. Pengertian. a. konflik adalah bentuk pertentangan alamiah yang dihasilkan oleh individu atau kelompok karena mereka yang terlibat memiliki perbedaan sikap, kepercayaan, nilai-nilai, serta kebutuhan. b. hubungan pertentangan antara dua pihak atau lebih (individu maupun kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki sasaran-sasaran tertentu, namun diliputi pemikiran, perasaan, atau perbuatan yang tidak sejalan. c. pertentangan atau pertikaian karena ada perbedaan dalam kebutuhan, nilai, dan motifasi pelaku atau yang terlibat di dalamnya. d. suatu proses yang terjadi ketika satu pihak secara negatif mempengaruhi pihak lain, dengan melakukan kekerasan fisik yang membuat orang lain perasaan serta fisiknya terganggu. Setiap masyarakat memiliki cara pandang tersendiri atas konflik yang terjadi di lingkungannya. Cara pandang ini sangat tergantung pada kerangka konseptual umum, atau budaya masyarakat yang melingkupinya. Cara pandang yang berbedabeda inilah yang kemudian menimbulkan perbedaan makna konflik antara masyarakat yang satu dan lainnya, yang kemudian memunculkan mito-mitos tentang konflik. Mitos ini kemudian menyadarkan bahwa setiap masyarakat memiliki mitos atau cara pandang tersendiri mengenai konflik, yang tentu berbeda antara yang satu dengan lainnya. Di antara mitos tersebut antara lain: pertama, mitos yang menyatakan bahwa suasana harmoni itu normal, kalau ada konflik maka keadaan itu tifak normal. Ada yang menganggap mitos itu salah karena menganggap konflik merupakan sesuatu yang alamiah. Konflik itu normal dan tidak dapat dielakkan sepanjang ada interaksi antarmanusia. Kedua, ada mitos yang menyatakan bahwa konflik dihasilkan oleh perbedaan kepribadian. Bagi sebagian orang mungkin ini dianggap salah karena ada yang berpendapat bahwa konflik terjadi karena ada perbedaan sikap dan persepsi dalam relasi antarmanusia. Ketiga, ada mitos yang menyatakan bahwa konflik dan pertentangan itu sama, sementara ada sebagian

perasaan. konflik merupakan suatu proses karena dilihat sebagai suatu yang sedang terjadi. Kita tidak bisa menganggap sepele komunikasi antarmanusia karena konflik bisa terjadi hanya karena dua pihak kurang berkomunikasi. b. Kegagalan berkomunikasi karena dua pihak tidak dapat menyampaikan pikiran. Hal itu karena masyarakat memiliki pandangan masing-masing tentang cara menyelesaikan konflik. sedangkan konflik lebih menunjukkan ancaman. Ketidakcocokan peran terjadi karena ada dua pihak yang mempersepsikan secara sangat berbeda tentang peran mereka masing-masing. Kebanyakan konflik terjadi karena perbedaan nilai. konflik dapat diselesaikan atau akan selesai dengan sendirinya. ada mitos yang menyatakan bahwa konflik merupakan peristiwa luar biasa yang dapat merusak. sebab setiap sudut pandang tentunya memiliki konsekuensi masing-masing dalam upaya mencari jalan keluarnya. bahkan ideologi atas apa yang diperebutkan.2 masyarakat yang menganggap berbeda karena pertentangan hanya perbedaan opini. Namun demikian. Kesenjangan ekonomi di antara kelompok masyarakat. termasuk dalam konflik ini. . tetapi dapat diselesaikan. Konflik Nilai. perasaan. c. Konflik ini terjadi karena ada perubahan keseimbangan dalam suatu masyarakat. Kurangnya Komunikasi. ada juga mitos yang menyatakan sebaliknya. kemarahan bahkan seringkali dilakukan secara irasional. dan hal semacam ini dapat mengakibatkan terjadinya konflik. untuk mendapatkan pemimpin yang ideal tidah mudah. Produktivitas Rendah . Secara politis kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang kuat. keyakinan. Penyebabnya bisa karena faktor alam. sesuai cara pandangan mereka tentang konflik. dan tindakan. Pertentangan dibatasi oleh kewajaran. Oleh karenanya muncul prasangka di antara mereka. Keenam. Nilai merupakan sesuatu yang menjadi dasar. Kepemimpinan yang kurang efektif ini mengakibatkan anggota masyarakat “mudah bergerak”. konflik bersifat alamiah sehingga tidak dapat dielakkan. Konflik semacam ini bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. maupun faktor sosial. Ketidakcocokan Peran. Penyebab Konflik. Oleh karena itu. pedoman. Yang termasuk dalam kategori ini adalah konflik yang bersumber pada perbedaan rasa percaya. Konflik karena kepemimpinan yang tidak efektif ini banyak terjadi pada organisasi atau kehidupan bersama dalam suatu komunitas. Banyaknya pandangan serta mitos tentang konflik inilah yang menyebabkan sulitnya menyelesaikan konflik di masyarakat. tempat setiap manusia menggantungkan pikiran. sedangkan konflik disertai ancaman. Kelima. e. 3. Namun demikian. dan tindakan sehingga membuka jurang perbedaan informasi di antara mereka. Perubahan Keseimbangan. bersifat produktif dan dapat dikelola. adil. d. d. dan demokratis. a. Konflik seringkali terjadi karena out put dan out come dari dua belah pihak atau lebih yang saling berhubungan kurang atau tidak mendapatkan keuntungan dari hubungan tersebut. Kepemimpinan yang Kurang Efektif. Keempat.

dan berusaha membangun hubungan baru yang relatif dapat bertahan lama di antara kelompok-kelompok yang bermusuhan. yakni abandoning atau mening-galkan konflik. avoiding atau menghindari. Sumber-sumber konflik dalam suatu negara antara lain konflik separatis. Setidaknya ada sepuluh strategi untuk mengakhiri konflik. bertujuan untuk mengakhiri kekerasan melalui persetujuan perdamaian. dominating atau menguasai. postponing atau menunda. 4. dan ada yang menang dari penyelesaian konflik yang terjadi. baik konflik vertikal maupun konflik horisontal telah menimbulkan gangguan terhadap ketahanan bangsa dan negara karena cenderung melebar ke aspek-aspek kehidupan nasi-onal yang lain. compromise atau berkompromi. problem solving atau bekerjasama menyelesaikan masalah. Ini bisa terjadi jika dua pihak kehilangan sedikit dari tuntutannya. Konflik-konflik yang tengah berlangsung di wilayah nusantara. Ciri kemajemukan bangsa dan wilayah negara kita yang berbentuk kepulauan harus diterima sebagai kenyataan objektif yang mengandung potensi konflik. Banyak pula konflik yang terjadi dalam masyarakat karena masalah terdahulu tidak terselesaikan. Sejalan dengan banyaknya konflik yang terjadi di Indonesia. Setelah mengetahui penyebab terjadinya konflik. juga perlu untuk mengetahui strategi. dengan mengalihkan kekuatan negatif dari sumber perbedaan kepada kekuatan positif. Tidak ada proses saling memaafkan dan saling mengampuni sehingga hal tersebut seperti api dalam sekam. humor atau bersikap humoris dan santai. bertujuan membatasi atau menghindari kekerasan melalui atau mendorong perubahan pihakpihak yang terlibat agar berperilaku positif.strategi untuk mengakhiri konflik. yakni (1) pencegahan konflik. (4) resolusi konflik. Selain asumsi-asumsi di atas. Istilah ini lebih popular dengan nama win-win solution di mana kedua belah pihak merasa menang dan tidak ada yang merasa dirugikan. penerapannya tidaklah mudah karena variabel faktor-faktor lain sulit diprediksi. namun hasil akhir bisa memuaskan keduanya. kini bisa dimulai untuk mencoba berbagai alternatif teoretis untuk menyelesaikan konflik yang tejadi. (2) Kalah–Menang. getting help atau mencari bantuan. asumsi-asumsi dalam penyelesaian konflik adalah (1) KalahKalah. Solusi penyelesaian konflik. bertujuan menangani sebab-sebab konflik. Secara umum. yakni mengatasi sumber-sumber konflik sosial dan politik yang lebih luas. setiap orang yang terlibat dalam konflik akan kehilangan tuntutannya jika konflik terus berlanjut. obliging atau melayani. Konflik atau Masalah yang Belum Terpecahkan.3 f. (2) penyelesaian konflik. pola ini bertujuan untuk mencegah timbulnya kekerasan dalam konflik. salah satu pihak pasti ada yang kalah. Jika yang kalah tidak bisa menerima sepenuhnya. di antaranya gejala pudarnya rasa persatuan dan kesatuan bangsa pada sebagian warga Indonesia. Namun demikian. (3) pengelolaan konflik. (5) transformasi konflik. maka ada indikasi munculnya konflik baru. Sementara itu. bersamaan itu muncul pula teori-teori tentang penyelesaian konflik yang berasal dari luar dan dalam negeri sebagai bahan referensi pada berbagai diskusi. untuk menyelesaikan konflik dikenal beberapa istilah. integrating atau mengintegrasikan. (3) MenangMenang: dua pihak yang berkonflik sama-sama menang. seminar dan analis konflik. perebutan . yang sewaktu-waktu bisa berkobar.

Hal yang sangat tepat menyelesaikan konflik dengan menggunakan adat lokal atau kearifan lokal karena selama ini sudah membudaya dalam masyarakat. Indonesia juga memiliki potensi konflik lain yang dapat menimbulkan integrasi nasional. dan sebagainya. Untuk mengatasi itu semua. Dengan adat lokal ini diharapkan resolusi konflik bisa cepat terwujud. dan tatanan kehidupan bangsa kita. kriminalitas. Oleh karena itu. ras. lembaga-lembaga pemerintah/negara. sipilmiliter. Hal itu karena kearifan tradisi lokal pada dasarnya mengajarkan perdamaian dengan sesamanya. Oleh karena kearifan lokal adalah sesuatu yang sudah mengakar dan biasanya tidak hanya berorientasi profan semata. Tradisi dan kearifan lokal yang masih ada serta berlaku di masyarakat. terdapat potensi konflik yang mewarnai implementasi otonomi daerah. tetapi perlu juga menggunakan paradigma nasional atau lokal agar objektivitas tetap berada dalam bingkai kondisi. fase dan intensitas. yaitu pontensi konflik antarsuku. persoalan SARA/etnisitas. ingsun yo siro (Jawa Timur). nilai. lingkungan. faktor penyebab. saling Jot dan saling pelarangan (NTB). jenis konflik. Pola penyelesaian konflik di suatu daerah tak mungkin diterapkan di daerah lain. lingkupnya. . Selain itu. pusat-daerah. pengangguran. arah/potensi. isu.4 sumber daya alam. dan lain-lain. bertahan lama serta sulit dikelola. usaha lain yang pernah ada. dan sebagainya. Faktor-faktor sebagai pendukung analisis pemecahan konflik tersebut antara lain: aktornya. Cara penyelesaian konflik lebih tepat jika menggunakan model-model penyelesaian yang disesuaikan dengan kondisi wilayah serta budaya setempat. Ideal apabila penyelesaian tersebut dilakukan atas inisiatif penuh dari masyarakat bawah yang masih memegang teguh adat lokal serta sadar akan pentingnya budaya lokal dalam menjaga dan menjamin keutuhan masyarakat. berpotensi untuk dapat mendorong keinginan hidup rukun dan damai. dan basusun sirih (Melayu/Sumatra). tidak ada resep mujarab yang langsung menyembuhkan karena selalu muncul interaksi rumit antarkekuatan berbeda di samping variabel kondisi sosial wilayah tanah air. politik. tetapi juga berorientasi sakral sehingga pelaksanaannya bisa lebih cepat dan mudah diterima oleh masyarakat. penguasamasyarakat. wilayah. konflik antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. konflik-konflik antarkekuatan rakyat berbasis lokal melawan aparat pemerintah. alatnya. sedangkan konflik yang berciri primordial sulit dipecahkan karena sangat emosional. dan sebagainya. pemberontakan bersenjata. agama. rumah betang (Kalimantan Tengah). keadaan hubungan yang bertikai. siro yo ingsun. dalam menentukan langkah penyelesaian berbagai peristiwa konflik perlu dicermati dan dianalisis. seperti konflik antarpemerintah lokal (saling berbatasan). Umumnya konflik tentang identitas dalam suatu masyarakat cenderung lebih rumit. alon-alon asal kelakon (Jawa Tengah/DI Yogyakarta). bisa diterima semua kelompok sehingga tidak ada lagi konflik laten yang tersembunyi dalam masyarakat. Jawa-non Jawa. kesenjangan ekonomi. dan Tuhan. kapasitas dan sumbernya. golongan. Di antara kearifan lokal yang sudah ada sejak dahulu dan masih terpelihara sampai sekarang antara lain dalihan natolu (Tapanuli). perang saudara. sifat kekerasan. tidak saja berdasarkan teori-teori konflik universal. menyama braya (Bali).

Bertugas menyelesaikan persoalan upah. bersifat spontan dan informal. Sudah barang tentu cara ini bukan suatu cara pemecahan yang memuaskan bagi pihak-pihak yang terlibat. Integrasi. Majority rule. Stalemate. Yaitu jalan tengah yang dicapai oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik. lalu berhenti pada suatu titik tidak saling menyerang. Kompromi. Bentuk-bentuk akomodasi : a. Yaitu keadaan ketika kedua belah pihak yang bertentangan memiliki kekuatan yang seimbang. b. Yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan. Yaitu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih sehingga tercapai persetujuan bersama. Minority consent. Kejadian seperti ini terlihat setiap hari dan berulangkali di mana saja dalam masyarakat. Adjudication (ajudikasi). yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat di dalam konflik.5 5. b. c. Negoisasi. dan sebagainya. Negosiasi adalah cara paling dasar untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan kita. yaitu orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar untuk dapat memaksa orang atau pihak lain menaatinya. f. Yaitu suara terbanyak yang ditentukan melalui voting untuk mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan argumentasi. g. f. dan lainlain. jam kerja. yang diungkapkan dengan ucapan antara lain : kami mengalah. Misalnya : untuk melakukan perawatan bagi yang luka-luka. Abitrasi. Kelompok minoritas sama sekali tidak merasa dikalahkan dan sepakat untuk melakukan kerja sama dengan kelompok mayoritas. Subjugation atau domination. Keadaan ini terjadi karena kedua belah pihak tidak mungkin lagi untuk maju atau mundur. d. Yaitu mendiskusikan. Elimination. c. Mediasi. Konsiliasi. Yaitu kemenangan kelompok mayoritas yang diterima dengan senang hati oleh kelompok minoritas. Contoh : PBB membantu menyelesaikan perselisihan antara Indonesia dengan Belanda. Sebagai contoh : adu senjata antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pada masa Perang dingin. menelaah. merayakan hari suci keagamaan. e. dan mempertimbangkan kembali pendapat-pendapat sampai diperoleh suatu keputusan yang memaksa semua pihak. . kesejahteraan buruh. Gencatan senjata. mengubur yang tewas. guna melakukan suatu pekerjaan tertentu yang tidak boleh diganggu. Jika pihak ketiga tidak bisa dipilih maka pemerintah biasanya menunjuk pengadilan. Prosedur Cara-cara Pemecahan konflik. kami keluar. d. e. Yaitu penghentian pertikaian oleh pihak ketiga tetapi tidak diberikan keputusan yang mengikat. Usaha manusia untuk meredakan pertikaian atau konflik dalam mencapai kestabilan dinamakan “akomodasi”. dan lain-lain. Yaitu penangguhan permusuhan untuk jangka waktu tertentu. Pihak-pihak yang berkonflik kemudian saling menyesuaikan diri pada keadaan tersebut dengan cara bekerja sama. Misalnya : Panitia tetap penyelesaikan perburuhan yang dibentuk Departemeapai kestabilan n Tenaga Kerja. Adapun cara-cara yang lain untuk memecahkan konflik adalah : a. Yaitu suatu perselisihan yang langsung dihentikan oleh pihak ketiga yang memberikan keputusan dan diterima serta ditaati oleh kedua belah pihak. hari-hari libur. atau mengadakan perundingan perdamaian. Hal ini diperlukan komunikasi antara pihak-pihak dalam konflik dengan tujuan mencoba untuk menemukan solusi.

penyelesaian konflik sering melupakan adat dan budaya lokal tersebut. Semua harus sadar bahwa setiap konflik memiliki kompleksitas masing-masing sehingga tidak bisa begitu saja mengaplikasikan sebuah teori untuk menyelesaikannya. Semua juga harus ingat bahwa selain teori-teori resolusi konflik yang ada. Jika bisa dikelola dengan baik. Penutup. dan lain sebagainya. konflik justru bisa menghasilkan hal-hal yang positif.6 5.. Khudori Kapten Arm NRP…. M. Desember 2012 Komandan Koramil 0621-…. maka akan menimbulkan dampak negatif dan merugikan bagi masyarakat. sebagai sarana evaluasi. tidak menutup kemungkinan bahwa jika konflik tidak dikelola dengan baik dan benar. Bogor. Misalnya. sebagai pemicu perubahan dalam masyarakat.. Sebagai sebuah catatan bahwa dalam upaya menyelesaikan konflik haruslah dipahami betul kompleksitas serta kerumitan konflik yang dihadapi. Namun demikian. memperbarui kualitas keputusan. . menciptakan inovasi dan kreativitas. Namun demikian. Konflik tidak selamanya berakibat negatif bagi masyarakat. sebenarnya masyarakat juga memiliki budaya sendiri dalam menyelesaikan masalahnya. Untuk itulah penting untuk menggali kembali dan memahami kekayaan budaya Indonesia sebagai salah satu modal untuk penyelesaian konflik yang terjadi di masyarakat khususnya bagi aparat keamanan tidak terkecuali TNI-AD dan aparat Satkowil sendiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful