ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PNEUMONIA

I. KONSEP DASAR PENYAKIT A. PENGERTIAN Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. (Axton & Fugate, 1993) Pneumonia adalah Suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacammacam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing ( FKUI ). Pneumonia adalah Radang parenkim paru. Menurut anatomi, pneumonia dibagi menjadi pneumonia laboris, pneumonia lobularis, bronkopneumonia & pneumonia interstisialis. ( Makmuri MS ) Pneumonia merupakan peradangan pada parenkim paru yang terjadi pada masa anak-anak dan sering terjadi pada masa bayi. B. ETIOLOGI Virus Influensa Virus Synsitical respiratorik Adenovirus Rhinovirus Rubeola Varisella Micoplasma (pada anak yang relatif besar) Pneumococcus Streptococcus Staphilococcus

C. PATOFISIOLOGI Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada beberapa mekanisma yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Partikel infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organisme-organisme infeksius lainnya. Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital, defisiensi imun didapat atau kongenital, atau kelainan neurologis yang memudahkan anak

KLASIFIKASI Macam pneumonia antara lain: a. Setelah mencapai parenkim paru. virus herpes simpleks ) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata. kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Kemungkinan lain. dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. Virus. Pneumonia Lobaris Terjadi pada seluruh atau satu bagian besar dari lobus paru dan bila kedua lobus terkena bisa dikatakan sebagai pneumonia lobaris. c. CMV. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus. partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal.mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut. KOMPLIKASI . rubella. deposit fibrin. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus ( contoh: varisella. bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan. mikoplasma. E. virus Epstein-Barr. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. b. Bronkhopneumonia Terjadi pada ujung akhir bronkhiolus yang dapat tersumbat oleh eksudat mukopurulen untuk membentuk bercak konsolidasi dalam lobus. D. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas. campak. dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. seperti yang terjadi pada bronkiolitis. Pneumonia Interstisial Pneumonia interstisial dapat terjadi di dalam dinding alveolar dan jaringan peribronkhial serta interlobaris.

Rales (ronki).  Umur < 2 bulan 60 x/mnt. d. • Nyeri dada yang ditusuk-tusuk yang dicetuskan oleh bernafas dan batuk. • Batuk. • Kadang-kadang terasa nyeri kepala dan abdomen. f. Efusi pleura. Abses otak. e. g. • Nadi cepat dan bersambung.5 tahun 40 x/mnt atau lebih. gelisah.  Umur 2 bln-1 tahun 50 x/mnt atau lebih. b. Suhu dapat naik secara mendadak (38 – 40 ºC). Endokarditis. hidung dan kuku biasanya sianosis. TANDA DAN GEJALA • Biasanya didahului infeksi saluran pernafasan bagian atas. maka sputum yang berlebihan akan masuk ke dalam tuba eustachius. mendengkur. pernafasan cepat dangkal. retraksi interkosta. • Penggunaan otot bantu pernafasan. cepat lelah. Meningitis. Otitis media akut (OMA) à terjadi bila tidak diobati.Bila tidak ditangani secara tepat maka kemungkinan akan terjadi komplikasi sebagai berikut : a. Wheezing. • Mulut. Emfisema. mula-mula kering (non produktif) sampai produktif. • Frekuensi napas :  Umur 1 . kemudian gendang telinga akan tertarik ke dalam dan timbul efusi. • Suara nafas : lemah. c. sehingga menghalangi masuknya udara ke telinga tengah dan mengakibatkan hampa udara. • Kadang-kadang muntah dan diare. • Malaise. cuping hidung kadang-kadang terdapat nasal discharge (ingus). anoreksia dan perut kembung. . F. dapat disertai kejang (karena demam tinggi). Osteomielitis. • Nafas : sesak.

• Bila terjadi gagal nafas. • Amantadine. PENATALAKSANAAN Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi tapi karena hal itu perlu waktu dan pasien pneumonia diberikan terapi secepatnya : • Penicillin G: untuk infeksi pneumonia staphylococcus. 7. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi. sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada. rimantadine: untuk infeksi pneumonia virus. • Menganjurkan untuk tirah baring sampai infeksi menunjukkan tanda-tanda. 2. Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru. Pemeriksaan gram/kultur. 6. bronchial). 5. menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan. .G. diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis. Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar. H. 4. • Pemberian oksigen jika terjadi hipoksemia. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing. • Eritromisin. tetrasiklin. 3. derivat tetrasiklin: untuk infeksi pneumonia mikroplasma. dapat juga menyatakan abses). Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus.

Tapi ada rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14. Identitas • • • • • Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa Mycoplasma terjadi pada anak yang relatif besar Sering terjadi pada bayi & anak Banyak < 3 tahun Kematian terbanyak bayi < 2 bl.6 Kg. Riwayat Kesehatan Keluarga Tempat tinggal: Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar. Keluhan Utama Sesak napas. d. nafsu makan menurun. b. pada usia 4 tahun . Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam (seizure). Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA. perkiraan berat badan dalam kilogram mengikuti patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN A. jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis klien. cyanosis atau batuk-batuk disertai dengan demam tinggi. Riwayat Kesehatan Sekarang Didahului oleh infeksi saluran pernapasan atas selama beberapa hari. kemudian mendadak timbul panas tinggi. Penyakit paru.II. PENGKAJIAN 1. Timbul batuk. distensi abdomen dan kaku kuduk. Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas. influenza sering terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia. sakit kepala / dada ( anak besar ) kadang-kadang pada anak kecil dan bayi dapat timbul kejang. Riwayat Kesehatan Dahulu Anak sering menderita penyakit saluran pernapasan atas. Riwayat Tumbuh Kembang 1) Tahap pertumbuhan Pada anak umur lima tahun. sesak. 2. RIWAYAT KESEHATAN a. c. e.

• Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai melakukan kebiasaan prososial : sharing. 2) Tahap perkembangan • Perkembangan psikososial (Eric Ercson) : Inisiatif vs rasa bersalah. • Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik.5 cm/tahun.pendek-tinggi. bermain sesuai peran jenis kelamin. Untuk anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan berat badan 2.7 tahun ).Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm. membandingkan ukuran tubuhnya dengan kelompoknya.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah tinggi. Anak punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau diomeli maka anak merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan bahasanya. memberi sesuatu.Biasanya senang bermain dengan anak berjenis kelamin berbeda.peraturan yang dianut oleh keluarga. • Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap preoperasional yaitu fase preconseptual ( 2. • Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation – . dan 5 tahun 110 cm.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya ) dan Elektra komplek ( perempuan lebih dekat ke ayahnya ). 4 tahun 103 cm. jelek. • Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase oedipal/ falik ( 3-5 tahun ).16. • Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari ortu atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari hukuman.4 tahun ) dan fase pemikiran intuitive ( 4.7 kg. mencari teman dan mulai bisa menjelaskan peraturan. Pada tahap ini kanan-kiri belum sempurna. melindungi.12 tahun yaitu umur ( tahun ) x 6 + 77.baik-nakal. menolong. Rata-rata pertambahan TB pada usia ini yaitu 6 – 7. konsep sebab akibat dan konsep waktu belum benar dan magical thinking.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam senti meter menggunakan patokan umur 2.7 kg dan 5 tahun yaitu 18.3 kg/tahun.

dan nama-nama temannya. Dapat menerima atau memberikan perintah sederhana. memanjat. III.<80 %  Gizi baik 80 % . lebih banyak bergaul. DPT I. depresi. menangis Putus asa : tidak aktif. g. regresi Perpisahan Protes : pergi.dan bersepeda dengan roda tiga. Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti binatang. menendang. Dampak Hospitalisasi Sumber stressor : 1) a. POLIO I. III.Separation “.II. bagian tubuh. f. Riwayat Imunisasi Anak usia pra sekolah sudah harus mendapat imunisasi lengkap antara lain : BCG. menarik diri. dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai lingkungan luar. mulai menerima bahwa orang lain mempunyai pemikiran juga. Status Gizi = BBSekarang ×100% BBideal Klasifikasinya sebagai berikut :  Gizi buruk kurang dari 60%  Gizi kurang 60 % . • Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain yang mempunyai permainan yang mirip. II. Untuk pertambahan berat badan ideal menggunakan rumus 8 + 2n.4 kata menjadi kalimat. • Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari 2100 kata pada akhir umur 5 tahun.Pembatasan kalori untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. • Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan permintaannya. berlari. b.Berkaitan dengan pertumbuhan fisik dan kemampuan motorik halus yaitu melompat. Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang tak di kenal dan sudah bisa mentoleransi perpisahan dari orang tua walaupun dengan sedikit atau tidak protes.110 %  Obesitas lebih dari 120 % h. . Mulai bisa merangkai 3. dan campak. Riwayat Nutrisi Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.

4) lingkungan. c.c. Pola Metabolik Nutrisi Anak dengan bronkopenumonia sering muncul anoreksia(akibat respon sistemik melalui kontrol saraf pusat). Anak tampak lebih banyak minta digendong orang tuanya atau bedrest. anak juga sering menangis pada malam hari karena ketidaknyamanan tersebut. Penampilan anak terlihat lemah. Pada saat dirawat anak tampak bingung kalau ditanya tentang hal-hal baru . lingkungan. interaksi 2) Menerima : tertarik dengan Kehilangan control : ketergantungan fisik. POLA KESEHATAN FUNGSIONAL MENURUT GORDON a. Pola Eliminasi Penderita sering mengalami penurunan produksi urin akibat perpindahan cairan melalui proses evaporasi karena demam. e. d. 3) sakit. ketergantungan. Pola Aktivitas-Latihan Anak tampak menurun aktivitas dan latihannya sebagai dampak kelemahan fisik. biasanya orang tua menganggap anaknya benar-benar sakit apabila anak sudah mengalami sesak napas. Pola Persepsi Sehat-Penatalaksanaan Sehat Data yang muncul sering orang tua berpersepsi meskipun anaknya batuk masih menganggap belum terjadi gangguan serius. Pola Kognitif-Persepsi Penurunan kognitif untuk mengingat apa yang pernah disampaikan biasanya sesaat akibat penurunan asupan nutrisi dan oksigen pada otak. memulai sosialisasi 3. b. sering menguap. Pola Tidur-Istirahat Data yang sering muncul adalah anak mengalami kesulitan tidur karena sesak napas. Perlukaan tubuh : konkrit tentang penyebab Lingkungan baru. f. mual dan muntah (karena peningkatan toksik mikroorganisme). bersalah dan takut. perubahan rutinitas. ini akan menyebabkan anak malu. mata merah.

PEMERIKSAAN FISIK a. dispnea progresif. i. pernapasan dangkal. tidak suka bermain. b. letargi. Integumen Kulit 1) Warna : pucat sampai sianosis 2) Suhu : pada hipertermi kulit terbakar panas akan tetapi setelah Berat badan dan tinggi badan Kecenderungan berat badan anak mengalami penurunan. koma. Pada anak yang sudah mengalami pubertas mungkin terjadi gangguan menstruasi pada wanita tetapi bersifat sementara dan biasanya penundaan. g. penyebaran penyakit c. Pola Seksualitas-Reproduktif Pada kondisi sakit dan anak kecil masih sulit terkaji. kalau sudah remaja saat sakit yang dominan adalah mudah tersinggung dan suka marah. Pola Toleransi Stress-Koping Aktifitas yang sering tampak saat menghadapi stres adalah anak sering menangis. h. ketakutan terhadap orang lain meningkat. Pola Persepsi Diri-Konsep Diri Tampak gambaran orang tua terhadap anak diam kurang bersahabat. pelebaran nasal. Pola Nilai-Keyakinan Nilai keyakinan mungkin meningkat seiring dengan kebutuhan untuk menddapat sumber kesembuhan dari Tuhan. Tanda-tanda vital 1) Frekuensi nadi dan tekanan darah : Takikardi. apatis tergantung tingkat .disampaikan. 3) Suhu tubuh Hipertermi akibat penyebaran toksik mikroorganisme yang direspon oleh hipotalamus. d. hipertensi 2) Frekuensi pernapasan : takipnea. 4. k. anak lebih banyak diam dan selalu bersama dengan orang terdekat (orang tua). strupor. penggunaan otot bantu pernapasan. Status penampilan kesehatan : lemah Tingkat kesadaran kesehatan : kesadaran normal. j. e. Pola Peran-Hubungan Anak tampak malas kalau diajak bicara baik dengan teman sebaya maupun yang lebih besar.

ada tidaknya lesi. kejang. h. 3) Turgor : menurun ketika dehidrasi f. Obyektif : Denyut nadi meningkat. Tachicardia. retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan. kualitas darah menurun. 3) Perkusi : Suara redup pada paru yang sakit. 4) Auskultasi : Rankhi halus. hati kemungkin membesar.hipertermi teratasi kulit anak akan teraba dingin. kehilangan rambut. perubahan warna. Sistem Genitourinaria Subyektif : mual. l. k. Obyektif : tonus otot menurun. 5. g. Sistem Neurosensori Subyektif : gelisah. penurunan kesadaran. Obyektif : GCS menurun. Rankhi basah. PEMERIKSAAN PENUNJANG Studi Laboratorik : • Hb : menurun/normal Sistem Cardiovaskuler . i. pembuluh darah vasokontriksi. letargi. sianosis sirkumoral. j. distensi abdomen. Kepala dan mata Kepala 1) Perhatikan bentuk dan kesimetrisan 2) Palpasi tengkorak akan adanya nodus atau pembengkakan yang nyata 3) Periksa higine kulit kepala. refleks menurun/normal.Adanya sesak napas. dyspnea. nyeri otot/normal. Batuk : Non produktif Sampai produktif dan nyeri dada. Subyektif : sakit kepala. Sistem Musculoskeletal Subyektif : lemah. 2) Palpasi : Fremitus raba meningkat disisi yang sakit. cepat lelah. Sistem Pulmonal 1) Inspeksi : Adanya PCH . kadang muntah. Obyektif : konsistensi feses normal/diare. Sistem Digestif Subyektif : Obyektif : produksi urine menurun/normal.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan tekanan kapiler alveolus. 3. 2. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi. 3. Tujuan : Setelah diberikan askep selama . B. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi. RENCANA KEPERAWATAN • Prioritas Diagnosa 1. ventilasi paru adekuat dan tidak ada penumpukan . 5. 6. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum. Nyeri dada berhubungan dengan kerusakan parenkim paru. C.. 2. 4. 6. penumpukan secret. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan tekanan kapiler alveolus. Nyeri dada berhubungan dengan kerusakan parenkim paru.• Analisa Gas Darah : acidosis respiratorik. kadar karbon darah meningkat/normal • Elektrolit : Natrium/kalsium menurun/normal. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.x 24 jam diharapkan bersihan jalan nafas efektif. penurunan kadar oksigen darah. • Rencana Keperawatan 1. 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan. 5.

3) Bantu pasien latihan nafas dan batuk secara efektif. 2) Auskultasi area paru. pernapasan dangkal. Rasional : nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru atau jalan napas lebih kecil. Air hangat mengurangi tingkat kekentalan dahak sehingga mudah dikeluarkan. Rasional : mengeluarkan sputum secara mekanik dan mencegah obstruksi jalan napas. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan tekanan . dan gerakan dada tak simetris terjadi karena peningkatan tekanan dalam paru dan penyempitan bronkus. Tawarkan air hangat daripada dingin. retraksi dan diaporesis Intervensi : 1) Monitor frekuensi atau kedalaman pernapasan dan gerakan dada. 5) Lakukan fisioterapi dada. Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. 6) Berikan cairan sedikitnya 1000 ml/hari (kecuali kontraindikasi). Rasional : merangsang gerakan mekanik lewat vibrasi dinding dada supaya sputum mudah bergerak keluar. Rasional : memudahkan pengenceran dan pembuangan sekret dengan cepat. 2. Rasional : meningkatkan hidrasi sputum. Rasional : takipnea. Krekels terjadi pada area paru yang banyak cairan eksudatnya. 4) Suction sesuai indikasi. haluaran hidung. Semakin sempit dan tinggi tekanan semakin meningkat frekuensi pernapasan. Batuk secara efektif mempermudah pengeluaran dahak dan mengurangi tingkat kelelahan akibat batuk. cyanosis. 7) Kolaborasi pemberian obat bronkodilator dan mukolitik melalui inhalasi (nebulizer). catat area penurunan atau tak ada aliran udara Rasional : suara mengi mengindikasikan terdapatnya penyempitan bronkus oleh sputum.secret. Kriteria evaluasi : Suara nafas paru bersih dan sama pada kedua sisi Laju nafas dalam rentang normal Tidak terdapat batuk.

Rasional : Distres pernapasan yang dibuktikan dengan dispnea dan takipnea sebagai indikasi penurunan kemampuan menyediakan oksigen bagi jaringan. misalnya dengan masker. catat adanya sianosis pada kulit. 2) Observasi warna kulit. Rasional : Demam tinggi saat meningkatkan kebutuhan metabolik dan kebutuhan oksigen dan mengganggu oksigensi seluler.x24 jam diharapkan nyeri dapat berkurang. Kriteria evaluasi : .x24 jam diharapkan terjadi perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan. masker venturi...Kesadaran compos mentis . Oksigen diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pasien. bingung. dan somnolen sebagai petunjuk hipoksemia atau penurunan oksigenasi serebral. kuku. Rasional : tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg (normal PO2 80-100 mmHg). Tujuan : setelah diberikan askep.. 3. membran mukosa dan kulit sekitar mulut (membran hangat) menunjukkan hipoksemia sistemik. dan jaringan sentral. 4) Awasi frekuensi jantung atau irama Rasional : Takikardia biasanya ada sebagai akibat demam atau dehidrasi tetapi dapat sebagai respons terhadap hipoksemia 5) Awasi suhu tubuh. kedalaman dan kemudahan bernapas. Nyeri dada berhubungan dengan kerusakan parenkim paru. Rasional : Sianosis kuku menunjukkan vasokonstriksi. Tujuan : setelah diberikan askep selama. Kriteria evaluasi : . 6) Kolaborasi pemberian terapi oksigen dengan benar. 3) Kaji status mental dan penurunan kesadaran. nasal prong. Sedangkan sianosis daun telinga.Tidak gelisah Intervensi : 1) Observasi frekuensi.kapiler alveolus.Skala nyeri 0 . mudah terangsang. Rasional : Gelisah.Tidak terjadi hipoksia ..

konstan. Rasional : nyeri akan meningkatkan mediator kimia serabut persarafan yang dapat merangsang vasokonstriksi pembuluh darah sistemik. misalnya mendengarkan musik anak.. kalau pada dada bagian bawah nyeri kemungkinan timbul komplikasi perikarditis. Nyeri dapat dirasakan pada bagian apeks atau tengah dada. dispnea berat. 2) Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin.. dispnea dapat merangsang pusat pengaturan makan di medula oblongata. 4. ditusuk..Terjadi peningkatan nafsu makan . nyeri. Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi. 4) Berikan tindakan nyaman. meningkatkan kebutuhan oksigen jaringan (meningkatkan RR). menonton film tentang anak-anak. Rasional : nyeri pneumonia mempunyai karakter nyeri dalam dan meningkat saat inspirasi dan biasanya menetap. Rasional : tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan mempertahankan efek terapi analgesik. pengobatan aerosol. 2) Pantau tanda vital. 3) Berikan tindakan distraksi.x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi. Tujuan : Setelah diberikan askep . misalnya pijatan punggung. . Rasional : sputum akan merangsang nervus vagus sehingga berakibat mual. relaksasi. perubahan posisi. musik tenang.Tidak meringis Intervensi : 1) Tentukan karakteristik nyeri. meningkatkan denyut jantung. misalnya sputum banyak. Rasional : mengurangi fokus terhadap nyeri dada sehingga dapat mengurangi ketegangan karena nyeri. Kriteria evaluasi : . selidiki perubahan karakter atau lokasi atau intensitas nyeri. atau latihan napas. misalnya tajam.Mempertahankan berat badan Intervensi : 1) Identifikasi faktor yang menimbulkan mual atau muntah..

Berikan atau bantu kebersihan mulut setelah muntah. misalnya kompres . 5) Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang. krekers) dan atau makanan yang menarik untuk pasien.5 – 37. Setelah tindakan aerosol dan drainase postural. Ukur berat badan dasar. Kriteria evaluasi : Suhu tubuh dalam batas 36. Rasional : menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini. Rasional : menghilangkan tanda bahaya. Tujuan : setelah diberikan askep selama…x24 jam diharapkan suhu tubuh kembali normal. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi. 2) Pantau warna kulit dan suhu. 3) Jadwalkan pengobatan pernapasan sedikitnya 1 jam sebelum makan. 4) Auskultasi bunyi usus. Distensi abdomen terjadi sebagai akibat menelan udara atau menunjukkan pengaruh toksin bakteri pada saluran GI.2OC Intervensi : 1) Kaji suhu tubuh dan nadi setiap 4 jam. Rasional : tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali. Rasional : adanya kondisi kronis (seperti PPOM atau alkoholisme) atau keterbatasan keuangan dapat menimbulkan malnutrisi. Rasional : bunyi usus mungkin menurun/ tak ada bila proses infeksi berat atau memanjang. rendahnya tahanan terhadap infeksi dan atau lambatnya respons terhadap terapi. dan sebelum makan. sehingga banyak cairan tubuh yang keluar dan harus diimbangi pemasukan cairan. Rasional : peningkatan suhu tubuh meningkatkan peningkatan IWL. Rasional : sianosis menunjukkan vasokontriksi atau respons tubuh terhadap demam. Rasional : untuk mengetahui tingkat perkembangan pasien. 4) Lakukan tindakan pendinginan sesuai kebutuhan. rasa. 3) Berikan dorongan untuk minum sesuai pesanan. 5. bau dari lingkungan pasien dan dapat menurunkan mual. Observasi atau palpasi distensi abdomen. 6) Evaluasi status nutrisi umum.

Kriteria evaluasi : .Tidak adanya kelemahan Intervensi : 1) Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas. 5) Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. 2) Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Pembatasan aktivitas dilanjutkan dengan respons individual pasien terhadap aktivitas dan perbaikan kegagalan pernapasan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan. Rasional : meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kenutuhan oksigen. Rasional : demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolik dan kebutuhan oksigen dan menggangu oksigenasi seluler. menghemat energi untuk penyembuhan. Rasional : menurunkan stres dan rangsangan berlebihan. 5) Kolaborasi pemberian antipiretik yang diresepkan sesuai kebutuhan. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.Tidak ada dispnea .. tidur di kursi atau menunduk ke depan meja atau bantal. 6. Tujuan : setelah diberikan askep. meningkatkan istirahat. peningkatan kelemahan atau kelelahan Rasional : menetapkan kemampuan atau kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi. Catat laporan dispnea. ..hangat. Rasional : mempercepat penurunan suhu tubuh. 3) Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. Rasional : tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolik. 4) Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan atau tidur. Rasional : pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi.x24 jam diharapkan terjadi peningkatan toleransi aktivitas. Dorong penggunaan manajemen stres dan pengalih yang tepat.

SKp. Sujono dan Sukarmin. EGC. Widya Harwina.blog. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: TIM Bare Brenda G.blogspot. Ilmu Penyakit Dalam. (1990). 2001. EGC. Ilmu Penyakit Dalam. 2006.medecinsmaroc. Doengoes Marilynn E. Ngastiyah.html (diakses 13 Maret 2013) .blogspot. Edisi 3. FKUI. Jakarta: Sagung Seto. Jakarta. Volume II. (1997). 2010. Patofisiologi. Jakarta. Vol. Edisi 8. http://ardyanpradanaoo7.com/2011/04/asuhan-keperawatan-anakpneumonia.D. Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan.com/2011/02/laporan-pendahuluan-asuhankeperawatan. 1. E. Smeltzer Suzan C.com/2009/04/18/askep-pneumonia/ (diakses 13 Maret 2013) http://wwwensufhy. Tim Penyusun. Milson McCarty Covraine. EGC. Riyadi. IMPLEMENTASI Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan oleh perawat terhadap pasien. Keperawatan Medikal Bedah. 2009. EGC. Jakarta. (2000).html (diakses 13 Maret 2013) http://stikmuh-ptk. Yogyakarta : Graha Ilmu Suparman. Perawatan Anak Sakit. DAFTAR PUSTAKA Astuti.com/t3-askep-anak-dengan-pneumonia (diakses 13 Maret 2013) http://wildanprasetya. EVALUASI Evaluasi dilaksanakan berdasarkan tujuan dan outcome. MSN. Edisi 3. Jakarta. Rencana Asuhan Keperawatan. Price Anderson Sylvia. Jakarta Suriadi. Asuhan Keperawatan Pada Anak. buku-2. Asuhan Keperawatan Anak dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Edisi 4. EGC.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful