BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venousus di dekat muara vena kava superior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup spontan setelah kelahiran, defek septum sekundum yaitu kegagalan pembentukan septum sekundum dan defek septum primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat sekat antar bilik atau pada bantalan endokard. ASD(Atrial Septal Defect) merupakan kelainan jantung bawaan tersering setelah VSD (ventrikular septal defect). Dalam keadaan normal, pada peredaran darah janin terdapat suatu lubang diantara atrium kiri dan kanan sehingga darah tidak perlu melewati paru-paru. Pada saat bayi lahir, lubang ini biasanya menutup. Jika lubang ini tetap terbuka, darah terus mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan (shunt). Maka darah bersih dan darah kotor bercampur. Sebagian besar penderita ASD tidak menampakkan gejala (asimptomatik) pada masa kecilnya, kecuali pada ASD besar yang dapat menyebabkan kondisi gagal jantung di tahun pertama kehidupan pada sekitar 5% penderita. Kejadian gagal jantung meningkat pada dekade ke-4 dan ke-5, dengan disertai adanya gangguan aktivitas listrik jantung (aritmia). Seluruh penderita dengan ASD harus menjalani tindakan penutupan pada defek tersebut, karena ASD tidak dapat menutup secara spontan, dan bila tidak ditutup akan menimbulkan berbagai penyulit di masa dewasa. Namun kapan terapi dan tindakan perlu dilakukan sangat tergantung pada besar kecilnya aliran darah dan ada tidaknya gagal jantung kongestif, peningkatan tekanan pembuluh darah paru (hipertensi pulmonal) serta penyulit lain. Sampai 5 tahun yang lalu, semua ASD hanya dapat ditangani dengan operasi bedah jantung terbuka. Operasi penutupan ASD baik dengan jahitan langsung ataupun menggunakan patch sudah dilakukan lebih dari 40 tahun. Tindakan operasi ini sendiri, bila dilakukan pada saat yang tepat (tidak terlambat) memberikan hasil yang memuaskan, dengan risiko minimal (angka

1

Bagaimanakah manifestasi klinis dari ASD? d. Bagaimana etiologi dari ASD? c. yaitu dengan pemasangan alat Amplatzer Septal Occluder (ASO). dengan trauma bedah (luka operasi) dan trauma psikis serta relatif kurang nyaman bagi penderita maupun keluarganya.3. Bagaimana model Asuhan Keperawatan dari ASD? 1. Agar mengetahui bentuk penata laksanaan dari ASD. 2 . Rumusan Masalah a. Untuk mengetahui bagaimana menifestasi klinis ASD. Pada penderita yang menjalani operasi di usia kurang dari 11 tahun menunjukkan ketahanan hidup pasca operasi mencapai 98%. Namun demikian. Apa yang menjadi komplikasi dari ASD? g. Untuk mengetahui apa defenisi ASD. c. tindakan operasi tetap memerlukan masa pemulihan dan perawatan di rumah sakit yang cukup lama. Bagaimana bentuk penatalaksanaan dari ASD? f. Apa patofisiologi dari ASD? e. Semakin tua usia saat dioperasi maka ketahanan hidup akan semakin menurun. Hal ini memacu para ilmuwan untuk menemukan alternatif baru penutupan ASD dengan tindakan intervensi non bedah (tanpa bedah jantung terbuka). berkaitan dengan sudah terjadinya komplikasi seperti peningkatan tekanan pada pembuluh darah paru.2. f. 1. d. Apa defenisi dari Defek Septum Atrium? b. b. Untuk dapat mengetahui patofisiologi dan etiologi dari ASD.kematian operasi 0-1%. Agar dapat menyusun Asuhan Keperawatan dari ASD. Untuk mengetahui komplikasi dari ASD. angka kesakitan rendah). Tujuan a. e.

proses kaperawatan. diagnose keperawatan. evaluasi. 3 . implementasi.1. etiologi. Manfaat Penyusunan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai apa defenisi.4. gejala klinis. anatomi fisiologi. serta lengkap dengan model penyimpangan KDM. penata laksanaan serta mampu menyusun asuhan keperawatan disertai bentuk penyimpangan KDM dari Defek Septum Atrium. patofisiologi. Manfaat dari asuhan keperawatan anak dengan Defek Septum Atrium Ini bermanfaat untuk melakukuan askep yang valid mulai dari pengkajian.

Bila sudah terjadi pembalikan aliran darah. Ostium Primum (ASD 1). 2.mungkin disertai kelainan katup mitral. Tindakan bedah berupa penutupan dengan menjahit langsung dengan jahitan jelujur atau dengan menambal defek dengan sepotong dakron. Defek septum atrium sekundum adalah kelainan yang dimana terdapat 4 . Kelainan ini menimbulkan keluhan yang lebih ringan dibanding VSD. letak lubang di tengah septum. lubang berada diantara Vena Cava Superior dan Atrium Kanan. yaitu 1.1. maka pembedahan dikontraindikasikan. tetapi letak kebocoran di septum antara serambi kiridan kanan. Defek Septum Atrium (ASD. Defenisi ASD adalah penyakit jantung bawaan berupa lubang (defek) pada septum interatrial (sekatantar serambi) yang terjadi karena kegagalan fungsi septum interatrial semasa janin.BAB II LANDASAN TEORI 2. Sinus Venosus Defek. b. ASD kompleks yang merupakan bentuk dari defek endocardial cushion yang sekarang dikenal sebagai defek septum atrioventrikular (DSAV) atau AVcanal. Ostium Secundum (ASD 2). diklasifikasikan dalam 3 tipe.  ASD diklasifikasikan menjadi: a.  Berdasarkan lokasi lubang. Kelainan jantung ini mirip seperti VSD. defek pada tepi bawah septum (DSAprimum) dan defek disekitar muara VCS (defek sinus venosus) yangseringkali disertai anomali parsialdrainase vena pulmonalis. Atrial Septal Defect) adalah suatu lubang pada dinding(septum) yang memisahkan jantung bagian atas (atrium kiri dan atrium kanan). Macam-macam defek sekat ini harus ditutup dengan tindakan bedah sebelum terjadinya pembalikan aliran darah melalui pintasan ini dari kanan ke kiri sebagai tanda timbulnya sindrome Eisenmenger. letak lubang di bagian bawah septum. ASD sederhana dengan defek pada septum dan disekitar fossa ovalis (dikenal dengan DSA seundum). 3.

dengan beban volume di atrium dan di ventrikel kanan. kecuali pada ASD besar yang dapat menyebabkan kondisi gagal jantung di tahun pertama kehidupan pada sekitar 5% penderita. darah terus mengalir dari atrium kiri keatrium kanan (shunt). yang ditandai dengan keluhan batuk dan panas hilang timbul (tanpapilek). dengan disertai adanya gangguan aktivitas listrik jantung (aritmia). Dalam keadaan normal.lubang patologis di tempat fossa ovalis. Faktor Prenatal. Akibatnya terjadi pirau dari atrium kiri ke atrium kanan. Etiologi Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti. 2.          Ibu menderita infeksi Rubella Ibu alkoholisme Umur ibu lebih dari 40 tahun Ibu menderita IDDM Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu b. lubang inibiasanya menutup. Selain itu gejala gagal 5 . tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD. Faktor genetic Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB Ayah atau ibu menderita PJB Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down Lahir dengan kelainan bawaan lain. Pada saat bayi lahir. pada peredaran darah janin terdapat suatu lubang diantara atrium kiridan kanan sehingga darah tidak perlu melewati paru-paru. Manifestasi Klinik Sebagian besar penderita ASD tidak menampakkan gejala (asimptomatik) pada masakecilnya. Jika lubang ini tetap terbuka. 2. ASD merupakan suatu kelainan jantung bawaan.2. Kejadian gagal jantung meningkat pada dekade ke-4 dan ke-5. Penyebab dari tidak menutupnya lubang pada septum atrium ini tidak diketahui. Gejala yang muncul pada masa bayi dan kanak-kanak adalah adanya infeksi saluran nafasbagian bawah berulang.3. Faktor-faktor tersebut diantaranya yaitu: a.

5. 2.Normalnya setelah bayi lahir complain ventrikel kanan menjadi lebih besar daripada ventrikelkiri yang menyebabkan ketebalan dinding ventrikel kanan berkurang. Hal ini juga berakibatvolume serta ukuran atrium kanan dan ventrikel kanan meningkat. Aliran yang melaluidefek tersebut merupakan suatu proses akibat ukuran dan complain dari atrium tersebut. Selanjutnya dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti elektro-kardiografi (EKG). Patofisiologi Pada kasus Atrial Septal Defect yang tidak ada komplikasi. Gejalanya bisa berupa : 1) Sering mengalami infeksi saluran pernafasan. 2. darah yang mengandung oksigendari Atrium Kiri mengalir ke Atrium Kanan tetapi tidak sebaliknya. mungkin sama sekali 6) Tidak ditemukangejala atau gejalanya baru timbul pada usia pertengahan Aritmia.4. Penatalaksanaan 1) Pembedahan Untuk tujuan praktis. Pada suatu saat sindroma Eisenmenger bisa terjadi akibat penyakit vaskuler paru yang terus bertambah berat. Arah shunt pun bisa berubah menjadi dari kanan kekiri sehingga sirkulasi darah sistemik banyak mengandung darah yang rendah oksigen akibatnya terjadi hipoksemi dan sianosis. kesulitanmenyusu. gagal tumbuh kembang pada bayi atau cepat capai saat aktivitas fisik pada anak yang lebih besar. Dengan terbuktinya defek sekat atrium dengan shunt dari kiri ke kanan pada anak 6 . 2) Dispneu (kesulitan dalam bernafas) 3) Sesak nafas ketika melakukan aktivitas 4) Jantung berdebar-debar (palpitasi) 5) Pada kelainan yang sifatnya ringan sampai sedang.jantung (pada ASD besar) dapat berupa sesak napas. rontgent dada dan echo-cardiografi. Jika complain ventrikel kanan terus menurun akibat beban yang terus meningkat shunt dari kiri kekanan biasa berkurang. Berdalih tentang pembedahan jantung yang didasarkan pada ukuran shunt menempatkan lebih pada kepercayaan terhadap data dari pada alasan yang diberikan. diagnosis ASD dapat ditegakkan. penderita dengan defek sekat atrium dirujuk ke ahli bedah untuk penutupan bila diagnosis pasti.

7 . ada beberapa manfaat menunda sampai pasti bahwa defek tidak akan menutup secara spontan. karenanya mencatat adanya shunt merupakan bukti cukup untuk maju terus.yang umurnya lebih dari 3 tahun. dan defek dengan tepi jaringan kurang dari 3-6 mm dari katup trikuspidal atau vena pulmonalis kanan dihindari.5 : 1 . Alat payung ganda yang dimasukan dengan kateter jantung sekarang digunakan untuk menutup banyak defek sekat atrium. Defek yang lebih kecil dan terletak lebih sentral terutama cocok untuk pendekatan ini. yang menderita penyakit ini. Defek yang lebih besar dari pada diameter 25 mm. penutupan adalah beralasan. Dalam tahun pertama atau kedua. sistem untuk memasukkan alat cukup besar menutup defek yang besar tidak tersedia. Kemungkinan penutupan tidak sempurna pada pembedahan jarang. Pencegahan masalah irama di kemudian hari dan terjadinya gagal jantung kongesif nantinya mungkin jadi dipertimbangkan. ukuran dan lokasi defek. Sesudah umur 3 tahun. seperti orifisium vena kava. defek sinus venosus yang meluas ke dalam vena kava. Kesukaran yang nyata yaitu dekatnya katup atrioventrikular dan bangunan lain. Sekarang resiko pembedahan jantung untuk defek sekat atrium varietas sekundum benar-benar nol. Keinginan untuk menghindari pemotongan intratorak dan membuka jantung jelas. Dari 430 penderita yang dioperasi di Rumah Sakit Anak Boston. Penyakit vaskular pulmonal obstruktif hampir selalu mematikan dalam beberapa tahun dan dengan sendirinya cukup alasan untuk mempertimbangkan perbaikan bedah semua defek sekat atrium 2) Penutupan Defek Sekat Atrium dengan kateter. tidak ada mortalitas kecuali untuk satu bayi kecil yang amat sakit yang mengalami pengikatan duktus arteriosus paten. adalah nyata dan hingga sekarang. Langkah yang paling penting pada penutupan defek sekat atrium transkateter adalah penilaian yang tepat mengenai jumlah. Komplikasi kemudian sesudah pembedahan jarang dan terutama adalah masalah dengan irama atrium. shunt dari kiri ke kanan harus memungkinkan rasio QP/QS sekurang-kurangnya 1. Agar terdeteksi. Berlawanan dengan pengalaman ini adalah masalah obstruksi vaskular pulmonal yang sangat menghancurkan pada 5–10 persen penderita. defek multipel termasuk defek di luar fosa ovalis. tetapi sebenarnya defek dapat ditutup kemudian jika masalah ini terjadi. Indikasi utama penutupan defek sekat atrium adalah mencegah penyakit vascular pulmonal abstruktif. penundaan lebih lanjut jarang dibenarkan.

8 . ukuran ditentukan dengan menggembungkan balon dan mengukur diameter yang direntangkan. Seluruh penderita dengan ASD harus menjalani tindakan penutupan pada defek tersebut. et. Tindakan operasi ini sendiri. Lokasi yang tepat dikonfirmasikan dan payung dilepaskan. pertama kali dilakukan tahun 1953 oleh dr. Gibbson di Amerika Serikat. Penderita dimonitor semalam. Kemudian. pada penderita yang menjalani operasi di usia kurang dari 11 tahun.Untuk penderita dengan defek yang letaknya sesuai. Namun kapan terapi dan tindakan perlu dilakukan sangat tergantung pada besar kecilnya aliran darah (pirau) dan ada tidaknya gagal jantung kongestif. dan bila tidak ditutup akan menimbulkan berbagai penyulit di masa dewasa. besoknya pulang dan dirumat dengan profilaksi antibiotik selama 6-9 bulan. Semakin tua usia saat dioperasi maka survival akan semakin menurun. karena ASD tidak dapat menutup secara spontan. lengan sisi kanan dibuka dan payung didorong ke posisi netral. Sampai 5 tahun yang lalu. bila dilakukan pada saat yang tepat (tidak terlambat) memberikan hasil yang memuaskan. Operasi penutupan ASD baik dengan jahitan langsung ataupun menggunakan patch sudah dilakukan lebih dari 40 tahun.al melaporkan survival (ketahanan hidup) paska opearsi mencapai 98% dalam follow up 27 tahun setelah tindakan bedah. 3) Terapi intervensi non bedah Aso adalah alat khusus yang dibuat untuk menutup ASD tipe sekundum secara non bedah yang dipasang melalui kateter secara perkutaneus lewat pembuluh darah di lipat paha (arteri femoralis). Lengan distal payung dibuka pada atrium kiri dan ditarik perlahan-lahan tetapi dengan kuat melengkungkan sekat ke arah kanan. peningkatan tekanan pembuluh darah paru (hipertensi pulmonal) serta penyulit lain. dengan risiko minimal (angka kematian operasi 0-1%. Di dalamnya ada patch dan benang polyester yang dapat merangsang trombosis sehingga lubang/komunikasi antara atrium kiri dan kanan akan tertutup sempurna. menyusul ditemukannya mesin bantu pompa jantung-paru (cardio-pulmonary bypass) setahun sebelumnya. semua ASD hanya dapat ditangani dengan operasi bedah jantung terbuka. Murphy JG. angka kesakitan rendah). Payung dipilih yang 80% lebih besar daripada diameter terentang dari defek. berkaitan dengan sudah terjadinya komplikasi seperti peningkatan tekanan pada pembuluh darah paru. Alat ini terdiri dari 2 buah cakram yang dihubungkan dengan pinggang pendek dan terbuat dari anyaman kawat nitinol yang dapat teregang menyesuaikan diri dengan ukuran ASD.

adanya dengkur ekspirasi). Kaji tampilan umum. murmur juga bisa terdengar akibat peningkatan aliran darah yangmengalir melalui katup trikuspidalis 2. perilaku.1.7. Lakukan pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan yang mendetail terhadap jantung. takipnea.2.7. yang sering menyertai penyakit jantung. c) Sedangkan pucat berhubungan dengan anemia. e) Jari tabuh ± Berhubungan dengan beberapa type penyakit jantung kongenital. Pengkajian 1. c) Bisa terdengar murmur akibat peningkatan aliran darah yang melalui katup pulmonalis tanda tanda gagal jantung d) Jika shuntnya besar.Perilaku ± Memilih posisi lutut dada atau berjongkok merupakan ciri khas dari beberapa jenispenyakit jantung.6. dan fungsi:InspeksiStatus nutrisi a) Gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang buruk berhubungan dengan penyakit jantung. d) Ekskursi pernapasan ± Pernapasan mudah atau sulit (mis. dispnea. a) Denyut arteri pulmonalis dapat diraba di dada b) Pemeriksaan dengan stetoskop menunjukkan bunyi jantung yang Abnormal.Pulsasi tidak umum ± Terkadang terjadi pulsasi yang dapat dilihat. 9 . Komplikasi 1) Gagal Jantung 2) Penyakit pembuluh darah paru 3) Endokarditis 4) Aritmia 2. b) Warna ± Sianosis adalah gambaran umum dari penyakit jantung kongenital. Asuhan Keperawatan 2.Deformitas dada ± Pembesaran jantung terkadang mengubah konfigurasi dada. f) Palpasi dan perkusiDada ± Membantu melihat perbedaan antara ukuran jantung dan g) karakteristik lain (sepertithrill-vibrilasi yang dirasakan pemeriksa saat mampalpasi)Abdomen ± Hepatomegali dan/atau splenomegali mungkin terlihat. 3. Lakukan pengukuran tanda-tanda vital.

ekg. dan amplitudo (kekuatan) dapat menunjukkanketidaksesuaian. angiografi. 2) Beri obat penurun afterload sesuai program 3) Beri diuretik sesuai program  DX II :Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen 1) Berikan periode istirahat yang sering dan periode tidur tanpa gangguan. gas darah). dengan menggunakan kewaspadaan yang dibuat untuk mencegah toxisitas. analisis darah (jumlah darah.7. dan kemampuan. 2) Anjurkan permainan dan aktivitas yang tenang.3. 5) Risiko tinggi cedera (komplikasi) berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi 6) Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD) 2. Implementasi  DX I :Tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur. ultrasonografi.h) Nadi perifer ± Frekwensi. 3) Bantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan usia.2. 4) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah. kondisi. mengi. Diagnosa Keperawatan 1) Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur. haemoglobin. kateterisasi jantung 2. ekokardiografi. volumesel darah. ketidaksesuaianantara ekstremitas atas dan bawah)Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian ± mis. keteraturan. k) Tekanan darah ± Penyimpangan terjadi dibeberapa kondisi jantung (mis. radiografi. 10 . isolasi sosial.7. 2) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen 3) Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan.AuskultasiJantung ± Mendeteksi adanya murmur jantung. i) Frekwensi dan irama jantung ± Menunjukkan deviasi bunyi dan intensitas jantung yangmembantu melokalisasi defek jantung. . j) Paru-paru ± Menunjukkan ronki kering kasar. 1) Beri digoksin sesuai program.

5) Implementasikan tindakan untuk menurunkan ansietas. isolasi sosial. 11 . gambarkan pada grafik pertumbuhan untuk menentukankecenderungan pertumbuhan. 1) Beri istirahat yang adekuat 2) Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan tubuh alami. 2) Pantau tinggi dan berat badan.  DX IV : Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah. 5) Gali perasaan mengenai pilihan pembedahan. bila dianjurkan. 1) Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat. 3) Dapat memberikan suplemen besi untuk mengatasi anemia. 4) Bantu membuat keputusan keluarga berkaitan dengan pembedahan.  DX V : Risiko tinggi cedera (komplikasi) berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi 1) Ajari keluarga untuk melakukan intervensi selama serangan hipersianotik 2) Jelaskan atau klarifikasi informasi yang diberikan oleh praktisi dan ahli bedah padakeluarga. 4) Dorong aktivitas yang sesuai usia. 3) Siapkan anak dan orang tua untuk prosedur. 5) Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap sosialisasi seperti anak yang lain. 6) Izinkan anak untuk menata ruangnya sendiri dan batasan aktivitas karena anak akanberistirahat bila lelah.4) Hindari suhu lingkungan yang ekstrem karena hipertermia atau hipotermia meningkatkan kebutuhan oksigen. 6) Berespons dengan segera terhadap tangisan atau ekspresi lain dari distress  DX III : Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatanoksigen dan nutrien pada jaringan.

4) Bantu keluarga dalam menentukan aktivitas fisik dan metode disiplin yang tepat untuk anak. 2) Dorong keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak selama hospitalisasi untuk memudahkan koping yang lebih baik di rumah. DX VI : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakitjantung (ASD) 1) Diskusikan dengan orang tua dan anak (bila tepat) tentang ketakutan mereka dan masalahdefek jantung dan gejala fisiknya pada anak karena hal ini sering menyebabkan ansietas/rasatakut. 12 . 3) Dorong keluarga untuk memasukkan orang lain dalam perawatan anak untuk mencegahkelelahan pada diri mereka sendiri.

dan tidak ditemukangejala atau gejalanya baru timbul pada usia pertengahan Aritmia. puskesmas. sesak nafas ketika melakukan aktivitas.pengkajian yang dilakukan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. mungkin sama sekali.2. Gejalanya bisa berupa Sering mengalami infeksi saluran pernafasan. 3. Kesimpulan ASD adalah penyakit jantung bawaan berupa lubang (defek) pada septum interatrial (sekatantar serambi) yang terjadi karena kegagalan fungsi septum interatrial semasa janin. tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD. atau pelayanan kesehatanlain Untuk keluarga bayi semestinya harus lebih tanggap terhadap pengkajian. dispneu (kesulitan dalam bernafas). Untuk keluarga bayi semestinya harus lebih tanggap terhadap pengkajian. Faktor-faktor tersebut diantaranya yaitu faktor prenatal dan faktor genetic.1. 13 . Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti.BAB III PENUTUP 3. jantung berdebar-debar (palpitasi).pengkajian yang dilakukan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Saran Perawat juga memberikan pendidikan kesehatan kepada bapak dan ibu atau keluarga dari anak tentang bahaya tetanus dan penyuluhan untuk melakukan persalinan di rumah sakit. pada kelainan yang sifatnya ringan sampai sedang. klinik bersalin.

scribd.wordpress.DAFTAR PUSTAKA http://www.com/2009/06/10/askep-anak-dengan-asd/ 14 .html http://hidayat2.com/2012/06/askep-anak-dengan-atrium-septal-defek.com/doc/55140787/Asuhan-Keperawatan-Pada-Anak-Dengan-KelainanJantung-Bawaan-Asd http://ardyanpradana007.blogspot.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful