Langsung ke isi CARI Jalankan

 

Mei 22, 2012

ASKEP POST CRANIOTOMI

Tinggalkan Komentar BAB I PEMBAHASAN

1. A. KONSEP DASAR PENYAKIT 1. DEFINISI Craniopharyngioma adalah Tumor otak yang terletak di area hipotalamus di atas sella tursica. Craniotomy adalah Operasi untuk membuka tengkorak (tempurung kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak. Trepanasi/ kraniotomi adalah suatu tindakan membuka tulang kepala yang bertujuan mencapai otak untuk tindakan pembedahan definitif. Epidural Hematoma (EDH) adalah suatu perdarahan yang terjadi di antara tulang dan lapisan duramater. Subdural hematoma (SDH) adalah suatu perdarahan yang terdapat pada rongga diantaralapisan duramater dengan araknoidea. 1. b. Ruang lingkup

Hematoma epidural terletak di luar duramater tetapi di dalam rongga tengkorak dan cirinya berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung. Sering terletak di daerah temporal atau temporoparietal yang disebabkan oleh robeknya arteri meningea media akibat retaknya tulang tengkorak. Gumpalan darah yang terjadi dapat berasal dari pembuluh arteri, namun pada sepertiga kasus dapat terjadi akibat perdarahan vena, karena tidak jarang EDH terjadi akibat robeknya sinus venosus terutama pada regio parieto-oksipital dan fora posterior. Walaupun secara relatif perdarahan epidural jarang terjadi (0,5% dari seluruh penderita trauma kepala dan 9 % dari penderita yang dalam keadaan koma), namun harus dipertimbangkan karena memerlukan tindakan diagnostik maupun operatif yang cepat. Perdarahan epidural bila ditolong segera pada tahap dini, prognosisnya sangat baik karena kerusakan langsung akibat penekanan gumpalan darah pada jaringan otak tidak berlangsung lama.

Suntikkan Adrenalin 1:200. Etiologi Kongenital : Beberapa tumor otak tertentu seperti kraniofaringioma. menghilangkan lemak yang ada di kulit kepala sehingga pori-pori terbuka. penetrasi betadine lebih baik. Teknik Operasi Positioning Letakkan kepala pada tepi meja untuk memudahkan operator. 5.5%. Operasi . pupil anisokor dengan refleks cahaya menurun dan kontralateral hemiparesis merupakan tanda adanya penekanan brainstem oleh herniasi uncal dimana sebagian besar disebabkan oleh adanya massa extra aksial. Tutup lapangan operasi dengan doek steril. Keringkan dengan doek steril.Pada pasien trauma. 1. Tujuan savlon: desinfektan. Ganjal bahu satu sisi saja (pada sisi lesi) misalnya kepala miring ke kanan maka ganjal bantal di bahu kiri dan sebaliknya. Desinfeksi Desinfeksi lapangan operasi dengan betadine. sutura – untuk mengetahui lokasi. dimana CT Scan Kepala tidak bisa dilakukan. Pasang doek steril di bawah kepala untuk membatasi kontak dengan meja operasi. Saat markering perhatikan: garis rambut – untuk kosmetik. Indikasi Operasi · Penurunan kesadaran tiba-tiba di depan mata · Adanya tanda herniasi/ lateralisasi · Adanya cedera sistemik yang memerlukan operasi emergensi. d. adanya trias klinis yaitu penurunan kesadaran. sinus – untuk menghindari perdarahan. 3. Washing Cuci lapangan operasi dengan savlon. Headup kurang lebih 15 derajat (pasang donat kecil dibawah kepala). terutma berasal dari sisa-sisa embrional yang kemudian mengalami pertumbuhan neoplastik. jalannya N VII ( kurang lebih 1/3 depan antara tragus sampai dengan canthus lateralis orbita). Letakkan kepala miring kontralateral lokasi lesi/ hematoma.000 yang mengandung lidocain 0. Markering Setelah markering periksa kembali apakah lokasi hematomnya sudah benar dengan melihat CT scan. zygoma – sebagai batas basis cranii.

. Lakukan pemotongan dengan gergaji dan asisten memfixir kepala penderita  Patahkan tulang kepala dengan flap ke atas menjauhi otak dengan cara tulangdipegang dengan knabel tang dan bagian bawah dilindungi dengan elevator kemudianmiringkan posisi elevator pada saat mematahkan tulang.0 sedikitnya 4 buah. Perdarahan dari tulang dapat dihentikan dengan bone wax. Kelupas secara hati-hati dengan rasparatorium pada daerah yang akan di burrhole dan gergaji kemudian dan rawat perdarahan. Buka tulang dengan gigli. Duramater dikait dengan pengait dura. Kompres dengan kasa basah.       Buka pericranium dengan diatermi. Tutup lubang boorholedengan kapas basah/ wetjes. dansefanjutnya dengan kapas ini sebagai pelindung terhadap kemungkinan trauma padalapisan tersebut. Evakuasi hematoma dengan spoeling dan suctioning secara gentle. Di bawahnya diganjal dengan kasa steril supaya pembuluh darah tidak tertekuk (bahayanekrosis pada kulit kepala). Pasang gigli kemudian masukkan penuntun gigli sampai menembus lubang boorhole di sebelahnya. Gantung dura (hitch stitch) dengan benang silk 3. tarik ke atas sekitar 60 derajat. Bila ada perdarahan dari tepi bawahtulang yang merembes tambahkan hitch stitch pada daerah tersebut kalau perlutambahkan spongostan di bawah tulang. Bila perdarahan profus dari bawah tulang(berasal dari arteri) tulang boleh di-knabel untuk mencari sumber perdarahan kecualidicurigai berasal dari sinus. Pastikan sudah tidak ada lagi perdarahan denganspoeling berulang-ulang. perdarahan dari dura dihentikan dengan diatermi. Lakukan burrhole pertama dengan mata bor tajam (Hudson¶s Brace) kemudiandengan mata bor yang melingkar (Conical boor) bila sudah menembus tabula interna.   Incisi lapis demi lapis sedalam galea (setiap 5cm) mulai dari ujung. Boorhole minimal pada 4 tempat sesuai dengan merkering. Pasang haak tajam 2 buah (oleh asisten). bersihkan tepi-tepi tulang dengan spoeling dansuctioning sedikit demi sedikit.0 secara simpuldengan jarak kurang dari 5mm. Penentuan lokasi burrhole idealnya pada setiap tepi hematom sesuai gambar CT scan.Masukan penuntun gigli pada lubang boorhole. Pedarahan dari tulang dapat dihentikan dengan bonewax. Klem pada pangkal flap dan fiksasi pada doek. berarti arachnoid sudah turut tersayat). Bebaskan dura dari cranium dengan menggunakan sonde. Evaluasi dura.    Bila ada dura yang robek jahit dura dengan silk 3. Pada subdural hematoma setelah dilakukan kraniektomi langkah salanjutnya adalahmembuka duramater.    Setelah nampak hematom epidural. kemudian bagian yangterangkat disayat dengan pisau sampai terlihat lapisan mengkilat dari arakhnoid. Sayatan pembukaan dura seyogianya berbentuk tapal kuda (bentuk U) berlawanandengan sayatan kulit. Buka flap secara tajam pada loose connective tissue.0 atau vicryl 3. (Bilasampai keluar cairan otak. Masukkan kapas berbuntut melalui lubang sayatan ke bawah duramater di dalam ruang subdural.

Reseksi jaringan otak didahului dengan koagulasi permukaan otak dengan pembuluh. dan paralisis. idealnya dipergunakan kauter bipolar. tandatanda papil edema.Untuk membakar permukaan otak.0. Lakukan fiksasi tulang dengan dengan silk 2. Periost dan fascia otot dijahit dengan vicryl 2. Bila tidak dikembalikan lapanganoperasi dapat ditutup lapis demi lapis dengan cara sebagai berikut:        Teugel dura di tengah lapangan operasi dengan silk 3.0. Perubahan bicara. untuk memegang jaringan otak gunakan pinsetanatomis halus sebagai alat bantu kauterisasi. Manifestasi klinik umum (akibat dari peningkatan TIK. pertama pada tulang yangtidak diangkat (34 buah).  Bila tulang dikembalikan. Hubungkan drain dengan vaum drain (Redon drain). selanjutnya tutuplapis demi lapis seperti diatas 1.pembuluh darahnya baik arteri maupun vena. Perlu dipertimbangkan dikembalikan/tidaknya tulang denganevaluasi klinis pre operasi dan ketegangan dura.    Perdarahan dihentikan dengan koagulasi atau pemakaian klip khusus. Buat lubang pada tulang yang akan dikembalikan sesuaidengan lokasi yang akan di fiksasi (3-4 buah ditepi dan 2 lubang ditengah berdekatanuntuk teugel dura).0. sehingga bila ditutup maka pada jaringan otak dibawahnya tak adadarah lagi. Semua pembuluh darah baik arteri maupun vena berada di permukaan di ruangsubarahnoidal. nystagmus. obstruksi dari CSF). diplopia.0 Jahit kulit dengan silk 3. buat lubang untuk fiksasi tulang. Jahit galea dengan vicryl 2. Manifestasi klinik lokal (akibat kompresi tumor pada bagian yang spesifik dari otak) : 1. Perubahan motorik. 2. msalnya: aphasia 3. misalnya: ataksia. Pasang drain subgaleal. Perubahan penglihatan. kelemahan. Biladipergunakan kauter monopolar. MANIFESTASI KLINIK 1.      Sakit kepala Nausea atau muntah proyektil Pusing Perubahan mental Kejang 1. d. misalnya: hemianopsia. Perlengketan jaringan otak dilepaskan dengan koagulasi. halusinasi sensorik. 4. jatuh. kebutaan. Tepi bagian otak yangdireseksi harus dikoagulasi untuk menjamin jaringan otak bebas dari perlengketan. . Koagulasi yangdipakai dengan kekuatan lebih rendah dibandingkan untuk pembuluh darah kulit atausubkutan. Operasi selesai.  Pengembalian tulang.0 menembus keluar kulit. Perubahan sensorik. misalnya: hilangnya sensasi nyeri. Tegel dura ditengah tulang yang akan dikembalikan untuk menghindari dead space.

5. organisme. Perubahan dalam seksual 1. CT-Scan memberikan info spesifik menyangkut jumlah. 5. Hypovolemik syok. Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi. Infeksi. ukuran. retensia urin. PEMERIKSAAN PENUNJANG Untuk membantu menentukan lokasi tumor yang tepat. serta meluasnya edema serebral sekunder. Infeksi luka sering muncul pada 36 – 46 jam setelah operasi. 1. 3. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens. 2. Hydrocephalus.5. Ini dilakukan untuk mendeteksi jejas tumor yang kecil. EKG dapat mendeteksi gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang. . Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. sebuah deretan pengujian dilakukan. 3. ambulatif dini. deafness. 6. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. Perubahan dalam pendengaran. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. 4. 7. 1. dan intracerebral. alat ini juga membantu mendeteksi jejas yang kecil dan tumor-tumor didalam batang otak dan daerah hipofisis. Angiografi serebral memberikan gambaran tentang pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral. kesalahan menutup waktu pembedahan. MRI membantu mendiagnosis tumor otak. 7. Biopsy stereotaktik bantuan computer (3 dimensi) dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis. dan kepadatan jejas tumor. epidural. Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. dan otak. Edema cerebral. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik. 4. Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 – 14 hari setelah operasi. KOMPLIKASI POST OPERASI 1. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka. Perubahan bowel atau bladder. misalnya : tinnitus. misalnya: inkontinensia. 6. dan konstipasi. Perdarahan subdural. 1. hati. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (SIADH atau Diabetes Insipidus). gram positif. 2.

jangan sampai drain tercabut. 4. Mobilisasi Biasanya pasien diposisikan untuk berbaring ditempat tidur agar keadaanya stabil. Pasien yang menjalani pembedahan abdomen dianjurkan untuk melakukan ambulasi dini. Dower catheter à kaji warna. Mempersiapkan pasien pulang.7. Palpasi. Pemenuhan kebutuhan eliminasi Sistem Perkemihan :    Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 – 8 jam post anesthesia inhalasi. 8. infus IV. IV. 1. Observasi dan catat sifat darai drain (warna. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan. Perkusià abdomen bawah (distensi buli-buli). Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi. Sistem Gastrointestinal : . sedangkan vitamin C yang mengandung antioksidan membantu meningkatkan daya tahan tubuh untuk pencegahan infeksi. 4. Biasanya makanan baru diberikan jika:     Perut tidak kembung Peristaltik usus normal Flatus positif Bowel movement positif 1. Biasanya posisi awal adalah terlentang. jumlah) drainage. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN 1. Pencegahan : Inspeksi. makanan yang dianjurkan pada pasien post operasi adalah makanan tinggi protein dan vitamin C. Mempertahankan konsep diri pasien. CVP. Monitor kesadaran. 1. 2. intake dan output 2. tapi juga harus tetap dilakukan perubahan posisi agar tidak terjadi dekubitus. Anesthesia. Protein sangat diperlukan pada proses penyembuhan luka. Makanan Pada pasien pasca pembedahan biasanya tidak diperkenankan menelan makanan sesudah pembedahan. out put urine < 30 ml / jam à komplikasi ginjal. 3. Tindakan keperawatan post operasi. spinal. PERAWATAN PASCA PEMBEDAHAN 1. Mempercepat penyembuhan. Perawatan luka operasi secara steril. 3. manipulasi operasi à retensio urine. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati. 5. tanda-tanda vital. 5. jumlah urine. Pembatasan diit yang dilakukan adalah NPO (nothing peroral).

Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan. Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.           Mual muntah à 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO meningkat. Kolagen terus-menerus ditimbun. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid. Pencegahan infeksi. latihan mobilisasi dini. Irigasi atau pemberian obat. tidak flatus. Proses penyembuhan luka Fase pertama Berlangsung sampai hari ke 3. Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus. Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektif. Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan decompresi dan drainase lambung.  Fase keempat Fase terakhir.  Fase ketiga Sekitar 2 sampai 10 minggu. Jumlah. Upaya untuk mempercepat penyembuhan luka : 1. seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin C. konsistensi isi lambung tiap 6 – 8 jam. Memonitor perdarahan. Kaji paralitic ileus à suara usus (-). warna. Meningkatkan istirahat. 3. 4. Pengembalian Fungsi fisik. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka. i. distensi abdomen. Pengisian oleh kolagen. Mencegah obstruksi usus. 2. . KRITERIA EVALUASI Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien post operasi. timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali. meliputi. 1.  Fase kedua Dari hari ke 3 sampai hari ke 14.

Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal. 7. Perubahan pernafasan (rata-rata.1. Sebelum pulang. 1) Primary Survey Airway Periksa jalan nafas dari sumbatan benda asing (padat. wheezing ( kemungkinana karena aspirasi). dan kedalaman). BAB II ASUHAN KEPERAWATAN 2. Napas berbunyi. 2) Potency jalan nafas. Pola eliminasi lancar. Auscultasi paru à keadekuatan expansi paru. Batas kegiatan dan rencana kegiatan di rumah. pasien mengetahui tentang :     Pengobatan lanjutan. pola. 4. ronkhi. a. 2. 5. respirasi cepat. à meletakan tangan di atas mulut atau hidung. Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat. kesimetrisan. frekuensi maupun iramanya. Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan. Diet. . Tidak timbul komplikasi. kedalaman. RR < 10 X / menit à depresi narcotic. cenderung terjadi peningkatan produksi sputum pada jalan napas. sehingga terjadi perubahan pada pola napas. cair) setelah dilakukan pembedahan akibat pemberian anestesi. 3. stridor. Breathing Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama jantung. PENGKAJIAN 1. Jenis obat yang diberikan. dangkal à gangguan cardiovasculair atau rata-rata metabolisme yang meningkat. Luka insisi normal tanpa infeksi. bisa berupa Cheyne Stokes atau Ataxia breathing. 6.

T 120/80 mmHg. S 374 0C. RR 20 X/menit. 5) Exposure Kaji balutan bedah pasien terhadap adanya perdarahan 1. perkusi bunyi redup. tanda-tanda respon mata. Perubahan frekuensi jantung (bradikardia. Kulit keriput. N 98 x/menit. bising usus 14 X/menit. 4) Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban. wajah menahan sakit. Kekuatan otot ekstremitas atas 4-4 dan ekstremitas bawah 4-4. disritmia). retraksi sternal à efek anathesi yang berlebihan. b. masalah bicara. 3) Integumen.- Inspeksi: Pergerakan dinding dada. GCS : 4-5-6. Disability : berfokus pada status neurologi Kaji tingkat kesadaran pasien. Distensi abdominal dan peristaltic usus adalah pengkajian yang harus dilakukan pada gastrointestinal. Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan transmisi rangsangan parasimpatik ke jantung yang akan mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat. perubahan visual dan gelisah. takikardia yang diselingi dengan bradikardia. pucat. merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial. Secondary Survey : Pemeriksaan fisik Pasien nampak tegang. apatis. turgor kulit. kesulitan menelan. obstruksi. akral dingin dan pucat. Inspeksi tidak ada asites. kelemahan atau paralisis ekstremitas. Turgor sedang . 2) Ekstremitas Mampu mengangkat tangan dan kaki. respon motorik dan tanda-tanda vital. Inspeksi respon terhadap rangsang. lemah.. Kesadaran somnolent. palpasi hati teraba 2 jari bawah iga. 1) Abdomen. penggunaan otot bantu pernafasan diafragma.dan limpa tidak membesar. balutan. 3) Circulating: Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah bervariasi.

Pemeriksaan laboratorium: HB = 9. klien nampak lemah. kulit dan kunjungtiva pucat dan akral hangat. 2. kehilangan sebagian lapang pandang. warna kuning kecoklatan. seperti ketajamannya. C. 3) Blader Klien terpasang doewer chateter urine tertampung 200 cc. . Gangguan nervus hipoglosus.9 gr%. simetri). disatria. keseimbangan tubuh. Ganggguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka insisi. konsentrasi. maka dapat terjadi : Perubahan status mental (orientasi. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan yang tampak lidah jatuh kesalah satu sisi. pemecahan masalah. refleks dalam batas normal. kewaspadaan. diplopia. disfagia. GCS: 4-5-6 (total = 15). pengaruh emosi/tingkah laku dan memori). HCT= 32 dan PLT = 235. nadi 120x/menit. kapiler refill 2 detik. 2) Brain Klien dalam keadaan sadar. foto fobia. Tekanan darah 120/70 mmhg.4) Pemeriksaan neurologis Bila perdarahan hebat/luas dan mengenai batang otak akan terjadi gangguan pada nervus cranialis. Terjadi penurunan daya pendengaran. sehingga kesulitan menelan. perhatian. Perubahan pupil (respon terhadap cahaya. deviasi pada mata. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka insisi. Perubahan dalam penglihatan. 1. 1) Tersiery Survey Kardiovaskuler Klien nampak lemah. Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus vagus menyebabkan kompresi spasmodik diafragma. c. 1.

5. 3.Mening fungsi or merangs kelancar menurun ketidakn   Ganggguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka insisi. 5. 3.mengh memperm dengan i 1. Selidiki dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat.3. skala (0-10). 4.Bergun keefektif penyemb pada kar menunju abses. 2.merupa protektif . Tujuan: Setelah diberikan tindakan pasien tidak mengalami gangguan integritas 1. Bersihan jalan napas inefektif berhubungan dengan penumpukan secret.Kaji dan catat ukuran. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan pendarahan. Tujuan:  Setelah dilakukan tindakan keperawatan rasa nyeri dapat teratasi atau tertangani dengan baik. Kriteria Hasil/ Tujuan Rasional 1. 2. dan kondisi sekitar luka. Mengungkapkan metode pemberian menghilang rasa nyeri. catat lokasi. 2. 2.Dorong ambulasi dini. 6. 9. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka insisi. Pola nafas inefektif berhubungan dengan efek anastesi. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan higiene luka yang buruk.  4.Mengid komplika 2. Kriteria hasil: Melaporkan rasa nyeri hilang atau terkontrol. warna. Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan efek anastesi.lakukan kompres basah dan sejuk atau 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah. karakteristik. 5.Mengu abdomen dengan p 1. D. 8.Berikan analesik sesuai indikasi. keadaan luka.Pertahankan posisi istirahat semi fowler. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan post operasi.mengh mengura penghila catatan:j kompres menyeba jaringan. 7. 4. INTERVENSI KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan Intervensi Keperawatan No. 1. Mendemonstrasika n penggunaan teknik relaksasi dan aktivitas hiburan sebagi penghilang rasa nyeri.Kaji nyeri.Berikan kantong es pada abdomen.

Mungk profilakt jumlah o menurun pertumbu 3. Tujuan:  Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan pendarahan. Kriteria hasil:  terapi rendaman.kulit. 4. mengura  Menunjukkan penyembuhan luka tepat waktu.berikan priopritas untuk meningkatkan kenyamanan dan kehilanan pasien.Deteks 2. 2. Tidak terjadi infeksi. .Menur bakteri 4. kejang.  Tidak menunjukkan adanya tanda infeksi. 1.awasi tanda-tanda vital. 3. catat karakteristik. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien diharapkan tidak mengalami infeksi. menggigil.Tirah b mencetu meningk pembent   2. berkeringat dan perubahan mental dan peningkatan nyeri abdomen. perhatikan demam.lakukan perawatan luka dan hygiene sesudah mandi.Indikas embolisa otak.Lakukan cuci tangan yang baik dan lakukan perawatan luka aseptik. dan eritema. pasien menukjukkan Pasien menunjukkan peril aku untuk meningkatkan penyembuhan dan mencegah komplikasi. 1. 3.Memun lebih beb meningk pasien. afasia. drainase luka.mempe penyemb pasien.Membe terjadiny Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan higiene luka yang buruk. Kriteria hasil: Tanda-tanda vital stabil. Setelah dilakukan perawatan tidak terjadi gangguan perfusi jaringan. 2. 3. Kriteria hasil:  1.Berikan antibiotik sesuai indikasi. 4. Kulit klien hangat dan kering 1. muntah dan peningkatan TD.Lihat lika insisi dan balutan. 4. 4. 3. lalu keringkan kulit dengan hati hati.Evaluasi status mental. perhatikan terjadinya hemaparalis.Observasi ekstermitas terhadap pembengkakan.

4. 2.  6.membe tentang p kebutuha 2.Awasi pemeriksaan laboratorium. 3. kedalaman 1.indicat volume s 3. kaji membrane mukosa. 2. 4.Evaluasi frekuensi pernafasan dan kedalaman.     5.Berikan tambahan oksigen sesuai kebutuhan. 1.Bunyi pada das periode w pembeda dengan t 3. Haluaran urine baik. membrane mukosa. 1. Bersihan jalan napas inefektif volume nafas adekuat.Mempe sirkulasi 1.awasi intake dan out put cairan. Masukan atau haluaran seimbang. irama.Membe tentang v keseimba elektrolit 4. Mukosa lembab Turgor kulit/ pengisian kapiler baik. 1.Awasi frekuensi.Lihat kulit dan membran mukosa untuk melihat adanya sianosis.Sianos adanya h dengan g komplika Pola nafas inefektif berhubungan dengan efek anastesi. Tanda-tanda vital stabil.  Nadi perifer ada dan kuat.Peruba menunju .Awasi TTV. turgor kulit.Auskultasi bunyi nafas. 3. Kriteria hasil:  1. setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien menunjukkan keseimbangan cairan yang adekuat. 4. klien dapat mempertahankan pola nafas normal dan efektif dan tidak ada tanda hipoksia. nadi perifer dan pengisian kapiler.Untuk pengamb akan diik menggan anestesid pengelua melalui z Tujuan: 7.Berikan cairan IV atau produk darah sesuai indikasi Tujuan:  Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan post operasi. 2.Kecepa upayamu karena n penuruna darah da secretata Tujuan: setelah dilakukan tindakan perawatan pasien menunjukkan pola nafas yang efektif.

selidiki penurunan aliran urine secara tiba-tiba. pernafas 2.berhubungan dengan penumpukan secret.Dugaan atau karb Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien menunjukkan aliran urine yang lancar.Mening paru opti pernafas frekuensi nafas dalam rentang normal.kehilan peningka perubaha kehilang menunju Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien menunjukkan keseimbangan berat badan. Kriteria hasil:   pernafasan.Auskultasi paru. 8. 4. setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien menunjukkan bunyi nafas yang jelas. 2.Perhatikan adanya warna pucat atau merah pada luka. 3.Dorong peningkatan cairan dan pertahankan pemasukan akurat.Mempe dan alira 1. 3. 2.Dorong batuk atau latihan pernafasan.Deteks 3. 2. Berat badan klien tetap seimbang. 3. perhatikan stridordan penurunan bunyi nafas.Penuru tiba dapa adanya o karena d Perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan efek anastesi. pengisian kapiler. turgor kulit.Meskip sering ta iritasi us hiperakti absorbsi 9.Kemaj hati saat dimulai l menurun . Kriteria hasil:  1.Catat keluaran urine.Indikat cairan.Awasi TTV. 2.Timbang BB secara teratur. kaji nadi perifer. 4. bebas dipsnea. 1. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah. 3. Kriteria hasil:  1.Tambahkan diet sesuai toleransi. 2. Haluaran urine adekuat.Auskultasi bising usus. catat bunyi tak ada atau hiperaktif.

3. Patofisiologi Post Craniotomy Kerusakan integritas kulit Resti Infeksi r .

Perubahan dalam pendengaran. Perubahan sensorik. Perubahan bowel atau bladder. msalnya: aphasia. Perubahan bicara. dan konstipasi. jatuh. misalnya: hemianopsia. misalnya: ataksia. retensia urin. Nausea atau muntah proyektil.BAB III KESIMPULAN 5. obstruksi dari CSF). Pusing. halusinasi sensorik. misalnya: hilangnya sensasi nyeri. tanda-tanda papil edema. Manifestasi klinik lokal (akibat kompresi tumor pada bagian yang spesifik dari otak) : Perubahan penglihatan. kebutaan. Sakit kepala. deafness. misalnya: inkontinensia. Kejang.Perubahan motorik. misalnya : tinnitus. Manifestasi klinik : Manifestasi klinik umum (akibat dari peningkatan TIK. Perubahan mental. KESIMPULAN Craniopharyngioma adalah Tumor otak yang terletak di area hipotalamus di atas sella tursica. Perubahan dalam seksual. Craniotomy adalah Operasi untuk membuka tengkorak (tempurung kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak. diplopia. kelemahan. nystagmus. dan paralisis. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful