You are on page 1of 6

JUDUL SKRIPSI: HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PRIA TENTANG KELUARGA BERENCANA DENGAN PERILAKU PRIA DALAM BERPARTISIPASI

MENGGUNAKAN METODE KONTRASEPSI KELUARGA BERENCANA BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kontrasepsi masih dianggap urusan wanita, padahal pria pun harusnya peduli pada penggunaan kontrasepsi. Kepedulian dan dukungan pria terhadap kontrasepsi akan memperkecil kemungkinan kehamilan tak terencana yang dapat meningkatkan risiko angka kematian ibu yang tertuang dalam indikator Millenium Development Goals (MDGs) Provinsi DKI Jakarta pada point 5 (lima) “ Upaya Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga-perempatnya dalam kurun waktu 1990-2015” (Data dan Informasi Kesehatan Provinsi DKI Jakarta,2013) Program KB juga berperan bagi kesehatan reproduksi suami antara lain untuk mencegah terkena Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti: Sifilis, Gonorhea, dan penyakit kelamin lain yang diakibatkan oleh tidak menggunakan alat kontrasepsi (kondom) ketika melakukan hubungan seksual dengan istrinya yang terkena PMS. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 7 tahun 2004 tentang Rencana pembangunan Jangka Menengah (RPJM) ditetapkan bahwa peserta KB Pria sebesar 4,5%, namun kenyataannya partisipasi pria dalam KB masih rendah. Perkembangan partisipasi pria dalam KB khususnya dalam penggunaan kontrasepsi selama kurun waktu 12 tahun terakhir belum memperlihatkan kenaikan yang berarti, yaitu hanya 0,2 %. Hal ini dapat dilihat dari angka pencapaian peningkatan partisipasi pria tahun 1991 sebesar 0,8 % (SDKI 1991), pada tahun 2003 sebesar 1,3 % (SDKI 2002-2003), sedangkan pada tahun 2007 sebesar 1,5 % (SDKI 2007). Data BKKBN hingga September 2012 menyebut, ada 34,3 juta peserta KB aktif perempuan dan 1,4 juta peserta KB aktif pria. Peningkatan kepesertaan KB pria juga merupakan program yang dicanangkan di Provinsi DKI Jakarta. Pencapaian peserta KB baru pria terhadap total peserta KB baru di Tahun 2010 sebesar 6,7 persen, pada Tahun 2011 sebesar 7,4 persen, dan di Tahun 2012 sampai dengan Bulan Juni sebesar 7,8 persen(BKKBN,2012)

Salah satu kunci kesuksesan program keluarga berencana nasional adalah adanya keterlibatan semua pihak. namun juga bagi pria. 2008).Salah satu faktor tersebut adalah perilaku pria dalam berpartisipasi menggunakan metode kontrasepsi keluarga berencana. bahwa program KB tidak hanya diperuntukkan bagi wanita saja.2003) . 1998). Pelayanan keluarga berencana ditujukan kepada pasangan usia subur. karena hal ini merupakan kepentingan bersama suami istri (Ekarini. swasta. Sehubungan dengan hal tersebut. masyarakat dan dalam lingkup yang lebih kecil adalah keterlibatan seluruh anggota keluarga itu sendiri.Perilaku merupakan semua kegiatan manusia yang dapat diamati maupun tidak dapat diamati oleh pihak luar. yang berarti harus melibatkan kedua belah pihak yakni istri maupun suami. sedangkan metode kontrasepsi bagi pria sangat terbatas pengembangannya (Dreman dan Robey. baik dari segi kepedulian maupun dalam penggunaan kontrasepsi. Salah satu penyebab masih rendahnya Partisipasi Pria dalam ber-KB adalah karena informasi tentang manfaat KB Pria belum banyak dipahami oleh masyarakat secara utuh serta masih adanya pandangan bahwa KB merupakan urusan wanita saja. Alasan rendahnya partisipasi pria dalam penggunaan alat kontrasepsi adalah adanya pandangan dalam program KB bahwa wanita merupakan klien utama karena wanita yang menjadi hamil. sehingga banyak metode kontrasepsi yang didesain untuk wanita. Hal ini dapat dilihat dari data akseptor KB di Indonesia yang menunjukkan bahwa lebih banyak wanita daripada pria (Siswosudarmo. Penerapan kotrasepsi pria dalam program keluarga berencana dipengaruhi berbagai faktor.Perilaku manusia di pengaruhi oleh dua faktor besar yang mempengaruhi yaitu pengetahuan dan sikap(Notoatmodjo.Partisipasi kaum pria dalam program KB dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. salah satunya adalah keputusan hasil pertemuan Internasional Converence Population and Demografi (ICPD) Tahun 1994 di Kairo Mesir. diperlukan terobosan baru dalam berbagai bentuk upaya untuk meningkatkan partisipasi pria dalam KB diantaranya melalui pemberian informasi kepada calon pengantin. 2007). dkk. bahwa Program KB memperhatikan hak-hak reproduksi perempuan dan kesetaraan gender. Namun kenyataannya saat ini hanya perempuan saja yang dituntut untuk menggunakan alat kontrasepsi. baik dari institusi pemerintah.

maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah belum diketahinya hubungan hubungan pengetahuan dan sikap pria tentang keluarga berencana dengan perilaku pria dalam berpartisipasi menggunakan metode kontrasepsi keluarga berencana Tujuan Penelitian 1.2. menggunakan metode kontrasepsi dalam keluarga menggunakan metode kontrasepsi dalam keluarga .2 Bagi petugas kesehatan dan petugas keluarga berencana dapat meningkatkan pelayanan keluarga berencana di Kecamatan Lubuk Pakam sehingga dapat meningkatkan cakupan akseptor keluarga berencana pria.4. 1. 1.1.2 Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan sikap pria tentang keluarga berencana dengan perilaku pria berpartisipasi berencana.3.2. Karena dalam peningkatan pelayanan selama ini belum mencapai standar yang di inginkan. 1.3.4.3 Manfaat Penelitian Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti bermanfaat untuk kepentingan akademis maupun bidang praktis secara aplikatif.2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas minat serta partisipasi pria terhadap kontrasepsi pria masih kurang .1 Memberikan masukan bagi Badan Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana Kecamatan Lubuk Pakam dalam membuat kebijakan yang berkaitan dengan pelayanan Keluarga Berencana .4. 1.2 Tujuan Khusus 1.3.1 Tujuan Umum Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap pria tentang keluarga berencana dengan perilaku pria dalam berpartisipasi menggunakan metode kontrasepsi keluarga berencana.3 Penelitian ini dapat bermanfaat dalam memperkaya khasanah keilmuan dan pengembangan pengetahuan tentang partisipasi pria dalam keluarga berencana.3. 1.1 Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan pria tentang keluarga berencana dengan perilaku pria berpartisipasi berencana. 1.

1. 3.4 Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian mengenai keluarga berencana pria.1 Ada hubungan pengetahuan pria tentang keluarga berencana dengan perilaku pria dalam berpartisipasi menggunakan metode kontrasepsi keluarga berencana. BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.4 Kontrasepsi Pria BAB III KERANGKA KONSEP.1.HIPOTESIS.4.1 Tinjauan Kepustakaan 2.2 Pengetahuan 2.2 Hipotesis 3. Sikap 3.2.2.1. .1.3 Sikap 2. Pengetahuan 2.1 Perilaku 2.2 Ada hubungan sikap pria tentang keluarga berencana dengan perilaku pria dalam berpartisipasi menggunakan metode kontrasepsi keluarga berencana.DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1.1 Kerangka Konsep Variabel Bebas (Independent) Variabel Terikat (Dependent) Perilaku pria dalam berpartisipasi menggunakan metode kontrasepsi keluarga berencana 1.

Kurang Skala Ordinal BAB IV Metode Penelitian 4. Pandangan Kuesioner penilaian.Negatif Ordinal Skala Ordinal 2 Sikap N o 1 Variabel Dependent Perilaku Definisi Operasional Persepsi responden terhadap penggunaan metode kotrasepsi keluarga berencana. Cara Ukur 1.Tidak Pernah Hasil Ukur 0.3.observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach).Kurang < 85% 1. Alat Ukur Kuesioner Cara Ukur 1.Survey cross sectional ialah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek.Sering 3.Baik 1.dan perasaan responden dalam berpartisipasi menggunakan metode kontrasepsi keluarga berencana.Tidak setuju 0.Salah Hasil Ukur 0.Tinggi: Nilai ≥ 85% 1.Benar 2.Jarang 4.Selalu 2. Artinya .dengan cara pendekatan. Kurang stuju 4.1 Metode Penelitian Penelitian ini mengunakan jenis penelitian Survey Research Method (Metode Penelitian Survei) dengan rancangan Cross Sectional (Rancangan Survei).Setuju 3.tiap .3 Definisi Operasional N o 1 Variabel Independent Pengetahua n Definisi Alat Ukur Operasional Pemahaman Kuesioner responden tentang pentingnya program KB dan jenis-jenis kontrasepsi pria.Sangat setuju 2.Positif 1.

2010) sekali saja dan pengukuran dilakukan subjek pada saat pemeriksaan. variabel .subjek penelitian hanya di observasi terhadap status karakter atau (Notoatmodjo.