You are on page 1of 41

BAB I LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS PASIEN : R. Deki Ardiansyah (32-49-31) : 16 Tahun Jenis kelamin : Laki-laki Suku bangsa : Jawa Agama Pendidikan : Islam : SMA

Nama lengkap Umur

Status perkawinan : Belum menikah Pekerjaan Alamat : Administrasi : Kampung Melayu RT 3/2 Batu Besar

Tanggal masuk RS:6/2/2013 Masuk dari IGD: Pukul 15.00

II.

ANAMNESIS Diambil dari autoanamnesis tanggal 6 Februari 2013, pk. 15.00

II.1.

Keluhan Utama: Nyeri di belakang lutut kanan sejak 6 bulan sebelum masuk rumah sakit

II.2.

Riwayat Penyakit Sekarang: Os datang ke IGD RSOB dengan keluhan utama nyeri di belakang lutut kanan sejak 6 bulan sebelum masuk rumah sakit. Nyeri diakui muncul pertama kali 6 bulan yang lalu setelah mengalami trauma pada lutut kanan ( di tackle saat bermain sepak bola). Nyeri menetap dan tidak hilang dengan istirahat. Oleh Os sempat dibawa ke pengobatan alternatif (diurut) namun keluhan nyeri tidak hilang, dan lama-kelamaan timbul benjolan dan bengkak. Benjolan dirasakan semakin membesar, merah, nyeri apabila tersentuh, dan disertai perdarahan merembes. Sendi lutut dan pergelangan kaku sisi yang sama diakui semakin bengkak dan tidak dapat digerakan. Selama 6 bulan terakhir berat badan dirasakan semakin menurun disertai badan terasa semakin lemah. Os kemudian berobat ke RS Tanjung Pinang dan didiagnosis terdapat cairan di sendinya, kemudian dilakukan operasi dan di gips. Namun keluhan bengkak dan nyeri tidak hilang sehingga kemudian dirujuk ke RSOB. Riwayat demam, paparan sinar Rontgen, dan konsumsi pengobatan kanker disangkal oleh pasien.

1

II.3.

Penyakit Dahulu Riwayat penyakit yang sama, hipertensi, penjakit jantung, asma bronchiale, dan kencing manis disangkal oleh Os.

II.4.

Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit yang sama pada keluarga disangkal. Riwayat keganasan mammae pada nenek pasien. Hipertensi, penyakit jantung, dan kencing manis diderita oleh kedua kakek pasien. Asma disangkal oleh pasien.

II.5.

Riwayat Pengobatan Riwayat pengobatan lama dan terpajan pengobatan radiasi disangkal oleh Os.

B. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan Umum Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah Nadi Suhu Pernafasaan Keadaan gizi : Tampak sakit berat dan pucat : Compos Mentis : 120 / 80 mmHg : 125 x/menit : (-) : (-) : Gizi kurang

Kelenjar Getah Bening Submandibula Supraklavikula Lipat paha Leher Ketiak : tidak teraba membesar : tidak teraba membesar : tidak teraba membesar : tidak teraba membesar : tidak teraba membesar

Kepala Normosefali, konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-

Telinga Tuli : -/Selaput pendengaran : intak 2

Lubang Serumen Cairan

: lapang : -/: -/-

Penyumbatan Perdarahan

: -/: -/-

Mulut Bibir Langit-langit Gigi geligi Faring Lidah : tidak kering : tidak ada tonjolan : OH baik : tidak hiperemis : licin, atrofi papil (-) Tonsil Bau pernapasan Trismus Selaput lendir : T1 –T1 tenang : tidak ada : tidak ada : tidak ada

Leher Tekanan Vena Jugularis (JVP) Kelenjar Tiroid Dada Bentuk Pembuluh darah Buah dada Paru – Paru Pemeriksaan Inspeksi Kiri Kanan Palpasi Kiri Depan Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis - Tidak ada benjolan - Fremitus taktil simetris Kanan - Tidak ada benjolan - Fremitus taktil simetris Perkusi Kiri Kanan Auskultasi Kiri Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru - Suara vesikuler - Wheezing (-), Ronki (-) Kanan - Suara vesikuler - Wheezing (-), Ronki (-) Belakang Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis - Tidak ada benjolan - Fremitus taktil simetris - Tidak ada benjolan - Fremitus taktil simetris Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru - Suara vesikuler - Wheezing (-), Ronki (-) - Suara vesikuler - Wheezing (-), Ronki (-) 3 : Simetris : Tidak tampak pelebaran pembuluh darah : Simetris, ginekomastia (-), benjolan (-) : tidak dilakukan : tidak tampak membesar.

Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Tidak tampak pulsasi iktus cordis : Teraba iktus cordis pada sela iga V, 1 cm medial linea midklavikula kiri. : Batas kanan Batas kiri Batas atas : sela iga III-V linea sternalis kanan. : sela iga III-V, 1cm sebelah medial linea midklavikula kiri. : sela iga III linea parasternal kiri.

Auskultasi: Bunyi jantung I-II murni reguler, Gallop (-), Murmur (-).

Perut Inspeksi : tidak ada lesi, tidak ada bekas operasi, datar, simetris, smiling umbilicus (-), dilatasi vena (-) Palpasi Dinding perut : supel, tidak teraba adanya massa / benjolan, defense muscular (-),. Hati Limpa Ginjal : tidak teraba : tidak teraba : ballotement -/-, nyeri ketok costovertebral -/-

Perkusi Auskultasi

: timpani di keempat kuadran abdomen : bising usus (+) normal

STATUS LOKALIS Regio Genu posterior dextra Look : Massa di daerah distal femur, ukuran 40 cm x 20 cm x 20 cm, warna hiperemis dan kehitaman, ulkus (+) rembesan darah (+) Feel Move : tidak dilakukan : tidak dilakukan

4

5 .

6 Nilai Normal Darah 9.4 – 4.5 10-18 L% Hb Ht Trombosit 6. Tungkai kanan pasien IV.81 10.8-5.8 g/dl Natrium 134 darah 108 <120 mg/dL 6 .8 474 11-16.37 2.2mg/dl 3.Gambar 1.7-1.7 21.5 g/dL Ureum 35-50 % Creatinin 150-350x103 Albumin mm3 125 – 147 mg/dl Gula 21.2 10-50 mg/dl 0.8 x 106 PDW mm3 Eritrosit 2.6 0.6 Nilai Normal 6. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium.5-10 x 103 MPV mm3 3. (diambil 6 Februari 2013) Hematologi Darah Leukosit 16.5-11 fL 3.

0 mg/dl .5 pq CT 31.6 23.5-33.Kalium / Cl 4.8 30.6 80-97 fL Golongan Darah 26.5-35 g/dL BT 10-15% LED A 2‟15” 7‟ 108 1-6 menit 6-11 menit mm/jam Radiografi 7 .7 19.5 – 5.0 / 105 3. sewaktu 94-111 mg/dl MCV MCH MCHC RDW 77.

Gambar 2. Foto Rontgen pada pasien 8 .

dengan ulkus dan rembesan darah. 2. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit berat.7 g/dl . Didapatkan peningkatan nilai leukosit dan laju endap darah. Tumor distal femur dextra suspek malignancy Anamnesis : Benjolan pada femur distal disertai rembesan darah Nyeri progresif disertai penurunan berat badan Pemeriksaan Fisik : Tampak massa di daerah distal femur. MCH : 23. Tumor distal femur dextra suspek malignancy 2. warna hiperemis dan kehitaman. merah. DIAGNOSIS KERJA DAN DASAR DIAGNOSIS Diagnosis Kerja : 1. Kedua konjungtiva pucat. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil penurunan nilai hemoglobin. dan MCHC. Pada region belakang lutut kanan tampak terdapat massa di daerah distal femur. nyeri apabila tersentuh. Sendi lutut dan pergelangan kaki sisi yang sama diakui semakin bengkak dan tidak dapat digerakan. MCV.8 . massa jaringan lunak. Riwayat trauma 6 bulan lalu mencetus kan nyeri. dengan ulkus dan rembesan darah. dan kalsifikasi pada foto rontgen tungkai kanan. Hipoalbuminemi Dasar Diagnosis : 1. Nyeri menetap dan tidak hilang dengan istirahat.7 9 . dan disertai perdarahan merembes. ukuran 40 cm x 20 cm x 20 cm. Badan semakin lemah dan berat badan semakin menurun.6 . warna hiperemis dan kehitaman. Benjolan dirasakan semakin membesar. Lama-kelamaan timbul benjolan dan bengkak. MCHC : 30. hematokrit. Pemeriksaan penunjang: (espertise tidak ada) Tampak gambaran sunburst appearace. Anemia mikrositik hipokrom Pemeriksaan fisik : konjungtiva pucat Pemeriksaan penunjang: Hb : 6. serta penurunan kadar albumin darah.RINGKASAN Seorang laki –laki usia 16 tahun datang ke IGD RSOB dengan keluhan utama nyeri di belakang lutut kanan sejak 6 bulan sebelum masuk rumah sakit. MCH. MCV : 77. Frekuensi nadi 125 denyut per menit. Anemia mikrositik hipokrom 3. ukuran 40 cm x 20 cm x 20 cm.

Hipoalbuminemi Pemeriksaan penunjang: Albumin : 2. Sulbacef 2x1 gram Inj.2 g/dl RENCANA PENGELOLAAN  Non medikamentosa   Hospitalisasi Diit tinggi karbohidrat tinggi protein ekstra telur  Medikamentosa: o Terapi IGD     : IVFD : Ringer Laktat / 8 jam Inj.3. Pantotis 1x1 vial Rencana transfusi PRC 3 pack : o Terapi Pre Operasi           IVFD RL + Ketesse + Norages / 8jam NaCl 100 + Norages 1 amp + Ketesse 1 amp / 8 jam Hemobion 2x 1 Zegavit 1x1 Lyvica 2 x75 mg Vitamin C 1x1 Vitamin K 1x1 Kalnex 3 x 500 mg Sulbacef 2x1 gr Transfusi PRC 7 pack : o Terapi Post Operasi  Sulbacef 2x1 gr 10 .

Jorianto J Ning Eko /Boby Nofri Tumor femur dextra suspek ganas sda Disarticulasi hip joint Elektif 10.  Cefazol 2x1 gr Drip Cernevit 1 ampul / 24 jam PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad malam Ad functionam : malam Ad sanationam : dubia ad malam LAPORAN PEMBEDAHAN Tanggal Nama Pasien Umur Bagian Operator Asisten operasi Instrumen D/ prabedah D/ pascabedah Nama Pembedahan Sifat Pembedahan Mulai Lama Pembedahan 12 Februari 2013 R. Dyah Fatimah GA III Uraian Pembedahan      Pasien posisi supine dalam GA A dan antisepsis daerah operasi dan sekitarnya Dilakukan disartikulasi sendi panggul kanan cara Boyd Perdarahan dirawat.00 Nomor MR Jenis kelamin Ahli anestesi As. Deki Ardiansyah 16 tahun Orthopedi Dr. Anestesi Teknik Anestesi ASA 32-49-31 Laki-laki Dr.34 146 menit OP theatre Selesai II 13. luka ditutup dengan meninggalkan drain vaccum Operasi selesai Instruksi / Terapi Pasca Pembedahan   Sulbacef 2x1 gram Drip Norages 1 amp + Ketesse 1 amp dalam NaCl 100 / 8 jam 11 .

Deki A 16 tahun Indonesia Makroskopik : Jaringan berlendir agaknya sebagian dari jaringan besar. Vol. 15 cc Sebagian cetak Mikroskopik : Sediaan terdiri atas massa tumor ganas dengan sel yang sangat pleomorfik disertai nekrosis dan massa miksomatosa Mitosis mudah ditemukan Kesimpulan : Tumor ganas jenis sarcoma DD/ 1.   Vit C Kalnex 500 1x1 amp 3x1 amp Periksa DL pasca operasi LEMBAR JAWABAN PEMERIKSAAN PA Tanggal terima Tanggal jawab Dokter Rumah sakit Bagian 15 Februari 2013 17 Februari 2013 Dr. Otorita Batam Orthopedi No PA 0178/13E Pasien L Bangsa R. Osteosarcoma paraosteal 12 . Malignant fibrous histiocytoma 3. Jorianto RS. Fibromyxosarcoma 2. padat putih.

Dari anamnesis didapatkan keluhan nyeri dan benjolan yang berkembang secara progresif. Dalam pertumbuhan nya tumor dapat menyebabkan kompresi. Keluhan benjolan besar dan bengkak pada tungkai distal juga terdapat pada pasien. Namun pada referensi didapatkan bahwa pasien sering kali menghubungkan keluhan dengan trauma. atau oleh perubahan respon imun dan hormon tubuh. Dari referensi tidak ada yang menyatakan bahwa trauma dapat menyebabkan osteosarkoma. pelebaran pembuluh darah pada permukaan kulit dan disertai efusi pada sendi yang berdekatan. Menurut pasien keluhan pada laporan kasus didahului oleh trauma. Di dalam sumsum tulang. Sifat nyeri yang timbul pada pasien adalah menetap. usia 16 tahun. Keluhan nyeri pada pasien dengan kanker dapat disebabkan oleh kompresi oleh tumor. dan muncul bersamaan dengan munculnya nyeri. dirasakan menetap baik saat istirahat dan menyebabkan keterbatasan dalam bergerak. sering kali sangat besar. Hal ini sesuai dengan referensi mengenai gejala nyeri pada penderita osteosarkoma yaitu keluhan sudah ada 3 bulan sebelumnya ( pada pasien 3 bulan lalu sudah berobat ke RSUD). Hal ini sesuai dengan insidensi yang dinyatakan pada referensi. sel tersebut akan menginisiasi respon imun yang meningkatkan sensitivitas nyeri serta memproduksi suatu senyawa kimia yang dapat menstimulasi reseptor nyeri (nociceptor). infiltrasi . 13 . Pada osteosarcoma terjadi invasi sel-sel kanker ke dalam tulang dan jaringan lunak sekitar.BAB II ANALISA KASUS Pada laporan kasus didapatkan penyakit ini terjadi pada laki-laki. nyeri semakin bertambah. tidak hilang dengan istirahat. menetap dan menyebabkan keterbatasan dalam bergerak. infiltrasi ke jaringan. Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Pada referensi disebutkan bahwa benjolan dapat tumbuh dekat sendi. dan menghambat aliran darah dimana semua ini dapat menyebabkan nyeri. bahwa kanker tulang (osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 – 25 tahun ( pada usia pertumbuhan ).. terletak pada sendi lutut kanan. Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. disertai nyeri tekan.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala berupa takikardi. 14 . Didapatkan pula penurunan nilai MCV. Pada laporan kasus juga dikeluhkan berat badan yang semakin berkurang dimana sesuai dengan referensi bahwa osteosarcoma disertai dengan gejala sistemik salah satunya adalah penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya. MCH. Hal ini kemungkinan merupakan suatu kompensasi dan tanda bahwa tubuh mengalami anemia. berupa keganasan mammae. Anemia pada kasus dapat disebabkan oleh karena perdarahan yang terjadi melalui rembesan darah pada benjolan dan intake nutrisi yang kurang. Pada referensi disebutkan bahwa osteosarkoma konvensional muncul paling sering pada metafisis tulang panjang. yaitu frekuensi nadi 125 denyut per menit dan kedua konjunctiva mata pucat. disertai ulkus dan rembesan darah.   Kehilangan besi (perdarahan kronis) Asupan nutrisi yang tidak adekuat / absorbsi besi yang kurang Pada pemeriksaan status lokalis didapatkan pada Regio Genu posterior dextra terdapat massa di daerah distal femur. Pada riwayat penyakit keluarga tidak ada keluarga pasien yang mengalami kelainan yang serupa dengan pasien. ukuran 40 cm x 20 cm x 20 cm.Berdasarkan lokasi timbul keluhan benjolan dan nyeri. Hal ini didukung pada pemeriksaan laboratorium dengan hasil kadar hemoglobin yang rendah ( 6. Pada referensi disebutkan bahwa hubungan kekerabatan dapat menjadi faktor presdiposisi. warna hiperemis dan kehitaman. proximal tibia (20%) dimana pertumbuhan tulang tinggi. pada laporan kasus didapatkan pada regio genu posterior.7 g/dL). Dapat timbul efusi pada sendi yang berdekatan. Terdapat riwayat penyakit keganasan payudara pada nenek pasien. dapat dianalisis bahwa keganasan pada mammae sendiri juga dapat disebabkan suatu presdiposisi yang sama dengan osteosarcoma (contoh Li Fraumeni Syndrome). dan MCHC yang menunjukan bahwa anemia yang terjadi bersifat anemia mikrositik hipokrom dimana dapat disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut. Hal ini didukung oleh gambaran klinis osteosarkoma yang terpadat pada referensi bahwa benjolan pada daerah sendi yang sering kali sangat besar disertai dengan nyeri tekan dan tampak pelebaran pembuluh darah pada kulit di permukaannya. terutama pada distal femur (52%). Walaupun pada kasus.

15 .

Berdasarkan referensi pemeriksaan X-ray merupakan modalitas utama yang digunakan untuk investigasi. CT kurang sensitif bila dibandingkan dengan MRI untuk evaluasi lokal dari tumor namun dapat digunakan untuk menentukan metastase pada paru-paru. Ketika dicurigai adanya osteosarkoma. Pada laporan kasus pemeriksaan radiologi yang dilakukan adalah X-ray. MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya. Pada pemeriksaan radiografi didapatkan hasil foto sebagai berikut.Pada pemeriksaan laboratorium selain didapatkan penurunan kadar hemoglobin juga didapatkan penurunan kadar albumin. 16 . Hal ini mungkin disebabkan oleh intake nutrisi yang buruk pada pasien.

femus. Pada pemeriksaan radiografi konvensional penampakan paling sering adalah reaksi periosteal yang secara klasik dideskripsikan sebagai bentuk lamellar atau “onion skin”. Predileksi nya adalah pelvis. Pada X-ray pasien juga dapat dilihat terdapat gambaran sunburst appearance. Pada referensi disebutkan bahwa pada X-ray juga dapat dijumpai terdapat gambaran segitiga codman. Beberapa massa pada tulang yang sering sulit dibedakan dengan osteosarcoma adalah sebagai berikut. humerus. Ewing‟s Sarcoma 17 . Ewing‟s sarcoma sering muncul pada remaha dan dewasa muda. pemeriksaan X-ray menunjukkan penyebaran pada jaringan lunak sering terlihat sebagai massa jaringan lunak dekat dengan persendian. Gambaran ini sulit dibedakan dengan efusi. namun pada X-ray pasien sulit ditentukan. dan clavicula. Ewing‟s sarcoma Merupakan keganasan yang jarang dimana ditemukan pada tulang dan jaringan lunak. dimana dimana meruapakan kombinasi antara tulang reaktif dan tulang neoplastik yang dibentuk sepanjang pembuluh darah berjalan radier dari kortek tulang ke arah masa tumor. tulang rusuk.Pada laporan kasus. Terlihat area seperti awan dimana dari referensi disebutkan dikarenakan produksi osteoid yang maligna dan kalsifikasi terutama apabila korteks tulang sudah ditembus. Diagnosis yang ditegakkan adalah tumor distal femur dextra suspek ganas. terutama osteosarcoma. Gambar 3. Hal ini yang membedakan dengan osteosarcoma. 1.

letargi. tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan radiologi. Pada osteomielitis awal. dan area destruksi pada korteks tulang tampak lebih jelas. Nyeri biasanya terlokalisasi meskipun bisa juga menjalar ke bagian tubuh lain di dekatnya. namun oedem dan kemerahan jarang ditemukan. dan nafsu makan menurun. penderita memiliki gejala dan tanda dari inflamasi akut. Gambar 4. Udara pada jaringan lumak ini dapat dilihat sebagai area radiolusen. Seiring berkembangnya infeksi. Secara klinis. yang membungkus fokus sklerotik dari tulang yang nekrotik yaitu sequestrum. yang mengawali destruksi cancellous bone. Pada pemeriksaan biasanya ditemukan nyeri tekan lokal dan pergerakan sendi yang terbatas. reaksi periosteal akan tampak. apabila penderita mengeluhkan nyeri lutut. Dapat pula disertai gejala sistemik seperti demam.2. Osteomielitis kronik diidentifikasi dengan adanya detruksi tulang yang masif dan adanya involukrum. menggigil. Ostemyelitis 18 . Setelah 7-10 hari. Sebagai contoh. dapat ditemukan adanya area osteopeni. analog dengan udara usus pada foto abdomen. Osteomyelitis Merupakan suatu proses inflamasi akut ataupun kronis dari tulang dan strukturstruktur disekitarnya akibat infeksi dari kuman-kuman piogenik. Infeksi jaringan lunak biasanya tidak dapat dilihat pada radiograf kecuali apabila terdapat oedem. maka sendi panggul juga harus dievaluasi akan adanya arthritis. Pengecualian lainnya adalah apabila terdapat infeksi yang menghasilkan udara yang menyebabkan terjadinya „gas gangrene‟. Penderita biasanya akan menghindari menggunakan bagian tubuh yang terkena infeksi.

disertai dengan anemia dan hipoalbuminemi.Bermacam-macam nama sarcoma diberikan berdasarkan dari mana jaringan itu berasal. dan nyeri hebat). dan apabila berasal dari otot polos maka disebut leiomyosarcoma. Berdasarkan referensi tatalaksana terhadap kasus osteosarkoma adalah preoperative kemotrapi diikuti dengan pembedahan limb-saring dan diikuti dengan kemotrapi postoperative. dan antipiretik atas indikasi pengobatan simptomatik pada pasien (pasien dalam keadaan demam. otot. Mengingat pada kasus keadaan umum pasien buruk. dan osteosarcoma paraosteal. lemak. Sarcoma adalah keganasan yang muncul dari sel-sel jaringan mesenkim. malignant fibrous histiocytoma. Pada pasien kemotrapi belum dilakukan sampai dengan saat laporan kasus ini dibuat. Pada hasil pemeriksaan patologi anatomi didapat kan kesimpulan tumor ganas jenis sarcoma dengan diagnosis banding. dari lemak disebut liposarcoma. Dari hasil pemeriksaan patologi anatomy dan klinis dapat ditentukan staging pada kasus ini adalah stadium IB menurut Enneking yaitu berdiferensiasi derajat rendah dan bersifat ekstrakompartemen. analgetik. Tujuan hospitalisasi adalah ssecara umum untuk keperluan monitoring baik pre operasi maupun operasi. Pada laporan kasus disebutkan salah satu diagnosis banding dari jenis keganasan sarcoma pada pasien adalah osteosarcoma paraosteal dimana sesuai dengan gambaran klinis yang muncul pada pasien. dari kartilago disebut chondrosarcoma. pembuluh darah dan jaringan hemopetik. Penanganan di rumah sakit juga diperlukan untuk kontrol lokal dari tumor baik pembedahan maupun pasca pembedahan. Jaringan ini terdapat pada tulang. sering muncul pada bagian posterior distal femur (predileksi). kartilago. leukositosis. fibromyxosarcoma. Dari referensi disebutkan bahwa penanganan osteosarkoma secara primer dengan pembedahan saja (biasa amputasi) dapat mengontrol tumor secara local dengan baik. pasien dirawat di rumah sakit. Selain itu juga diberikan antibiotik.Pada tatalaksana. Sebagai contoh apabila berasal dari tulang osteosarcoma. 19 . namun rekurensi tumor terjadi pada 80 % terutama ke paru-paru.

dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus tumor tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor tulang jinak (28%). Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut. Di RSCM jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni 22% dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas. Osteosarkoma merupakan neoplasma primer dari tulang yang tersering nomer setelah myeloma multipel.000 penduduk per tahun. Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker diantara 100.BAB III OSTEOSARKOMA Definisi (1) Osteosarkoma disebut juga osteogenik sarkoma adalah suatu neoplasma ganas yang berasal dari sel primitif (poorly differentiated cells) di daerah metafise tulang panjang pada anak-anak. Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. seorang guru besar dalam Ilmu Bedah Orthopedy Universitas Indonesia. Menurut Errol Untung Hutagalung. Tumor Frequency Telangiectatic Parosteal Periosteal Gnathic Small cell % 3. Tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. Sampai sekarang penyebab pasti belum diketahui.5-11 3-4 1-2 6-9 1 20 .000 anak yang menderita kanker per tahun. Epidemiologi(5) Menurut badan kesehatan dunia ( World Health Oganization ) setiap tahun jumlah penderita kanker ± 6. Dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa terdapat sekitar 11.1 Disebut osteogenik oleh karena perkembangannya berasal dari seri osteoblastik sel mesensim primitif.25 juta orang. Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 – 25 tahun ( pada usia pertumbuhan ).

Pertumbuhan tulang yang cepat terlihat sebagai predisposisi osteosarkoma.  Predisposisi genetik: displasia tulang. Adanya hubungan kekeluargaan menjadi suatu predisposisi.  Akhir-akhir ini dikatakan ada dua tumor suppressor gene yang berperan secara signifikan terhadap tumorigenesis pada osteosarkoma. Patofisiologi Proses perjalanan penyakit pada osteosarkoma belum dapat diketahui dengan jelas dan pasti. enchondromatosis. sehingga sel-sel tulang dapat membelah tanpa terkendali. Dikatakan beberapa virus dapat menimbulkan osteosarkoma pada hewan percobaan. begitu pula alkyleting agent yang digunakan pada kemoterapi. dan hereditary multiple exostoses and retinoblastoma (germ-line form). Kombinasi dari mutasi RB gene (germline retinoblastoma) dan terapi radiasi berhubungan dengan resiko tinggi untuk osteosarkoma. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang.  Radiasi ion dikatakan menjadi 3% penyebab langsung osteosarkoma. dimana area ini merupakan area pertumbuhan dari tulang panjang. low grade Surface. high grade Secondary <1 <1 5-7 Etiologi  Penyebab osteosarkoma masih belum jelas diketahui. dari beberapa penelitian mengungkapkan adanya pembelahan sel-sel tumor disebabkan karena tubuh kehilangan gen suppressor tumor. Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor. termasuk penyakit paget.. begitu pula adanya hereditery retinoblastoma dan sindrom LiFraumeni. fibrous dysplasia. 21 . Pada proses osteoblastik.Intraosseous. karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi terjadi sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif. Terjadi destruksi tulang lokal.  Lokasi osteosarkoma paling sering pada metafisis. seperti yang terlihat bahwa insidennya meningkat pada saat pertumbuhan remaja.

Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada. 22 . 2. berat badan menurun dan malaise.Terdapat benjolan pada daerah dekat sendi yang sering kali sangat besar. Nyeri dan/ atau pembengkakan ekstremitas yang terkena. Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena 5. 3. Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas. Penderita biasanya datang karena nyeri atau adanya benjolan. batuk. Nyeri semakin bertambah. Tidak jarang menimbulkan efusi pada sendi yang berdekatan. demam.Adanya tumor tulang Jaringan lunak di invasi oleh tumor Reaksi tulang normal Osteolitik (destruksi tulang) Osteoblastik (pembentukan tulang) Destruksi tulang local Periosteum tulang yang baru dapat tertimbun dekat tempat lesi Pertumbuhan tulang yang abortif Gejala Klinis (3) 1. Sering juga ditemukan adanya patah tulang patologis. Pada hal keluhan biasanya sudah ada 3 bulan sebelumnya dan sering kali dihubungkan dengan trauma. dirasakan bahkan saat istirahat atau pada malam hari dan tidak berhubungan dengan aktivitas. Fraktur patologik. 4. nyeri tekan dan tampak pelebaran pembuluh darah pada kulit di permukaannya.

Kebanyakan dari osteosarkoma varian juga menunjukkan predileksi yang sama. terkecuali lesi gnathic pada mandibula dan maksila. Pasien dengan osteosarkoma di femur distal 23 . lesi periosteal dan osteosarkoma sekunder karena penyakit paget yang biasanya muncul pada pelvis dan femur proximal. Tempat lainnya yang juga sering adalah pada metafisis humerus proximal (9%).Lokasi (2) Osteosarkoma konvensional muncul paling sering pada metafisis tulang panjang. proximal tibia (20%) dimana pertumbuhan tulang tinggi. lesi intrakortikal. Penyakit ini biasanya menyebar dari metafisis ke diafisis atau epifisis. terutama pada distal femur (52%).

Anatomi tulang 24 .

8. Osteosarkoma klasik.Klasifikasi (2) Berdasarkan atas gradasi. 5. penyebabnya. jumlah dari lesinya. 2. Osteosarkoma Klasik Osteosarkoma klasik merupakan tipe yang paling sering dijumpai. Tipe ini disebut juga: osteosarkoma intrameduler derajat tinggi (High-Grade Intramedullary Osteosarcoma). Osteosarkoma intrameduler derajat rendah. maka osteosarkoma dibagi atas beberapa klasifikasi atau variasi yaitu: 1. 4. Periosteal osteosarkoma. 7. Osteosarkoma sekunder 6. dengan prognosis yang lebih jelek. Tipe ini sering terdapat di daerah lutut pada anak-anak dan dewasa muda. (6) Apabila terdapat pada kaki biasanya mengenai tulang besar pada kaki bagian belakang (hind foot) yaitu pada tulang talus dan calcaneus. Osteosarkoma hemoragi atau telangektasis 3. Multifokal osteosarkoma. Parosteal osteosarkoma. lokasi. Sangat jarang ditemukan pada tulang kecil di kaki maupun di tangan. begitu juga pada kolumna vertebralis. 25 . Osteosarkoma akibat radiasi. terbanyak pada distal dari femur.

Osteosarkoma Sekunder Osteosarkoma dapat terjadi dari lesi jinak pada tulang. yang mengalami mutasi sekunder dan biasanya terjadi pada umur lebih tua. d. melakukan eksisi dari tumor dan survival ratenya bisa mencapai 80 . Terjadi pada umur yang sama dengan klasik osteosarkoma. Derajat metastasenya lebih rendah dari osteosarkoma klasik yaitu 20%. Pengobatannya adalah dilakukan operasi marginal-wide eksisi (wide-margin surgical resection). dan sangat vaskuler. misalnya bisa berasal dari paget‟s disease. Tumor dimulai dari daerah korteks tulang dengan dasar yang lebar. dan sering terdapat pada daerah proksimal tibia. dengan terjadinya diferensiasi derajat rendah dari fibroblas dan membentuk woven bone atau lamellar bone. yaitu pada umur 20 sampai 40 tahun. Tumor ini mempunyai derajat keganasan yang sangat tinggi dan sangat agresif. Dengan gambaran seperti ini sering dikelirukan dengan lesi binigna pada tulang seperti aneurysmal bone cyst. Biasanya terjadi pada umur lebih tua dari osteosarkoma klasik. 26 . Paraosteal Osteosarkoma Parosteal osteosarkoma yang tipikal ditandai dengan lesi pada permukaan tulang. Pengobatannya adalah dengan cara operasi. yang makin lama lesi ini bisa invasi kedalam korteks dan masuk ke endosteal.35% terutama ke paru-paru. Pengobatannya sama dengan osteosarkoma klasik. Diagnosis dengan biopsi sangat sulit oleh karena tumor sedikit jaringan yang padat.Sering juga terdapat pada diafise tulang panjang seperti pada femur dan bahkan bisa pada tulang pipih seperti mandibula. Terjadi pada umur yang sama dengan pada klasik osteosarkoma. dengan didahului preoperatif kemoterapi dan dilanjutkan sampai post-operasi. Periosteal Osteosarkoma Periosteal osteosarkoma merupakan osteosarkoma derajat sedang (moderate-grade) yang merupakan lesi pada permukaan tulang bersifat kondroblastik. Telangiectasis Osteosarkoma Telangiectasis osteosarkoma pada plain radiografi kelihatan gambaran lesi yang radiolusen dengan sedikit kalsifikasi atau pembentukan tulang.90% c. Bagian posterior dari distal femurmerupakan daerah predileksi yang paling sering. selain bisa juga mengenai tulang-tulang panjang lainnya. b.BEBERAPA VARIASI DARI OSTOSARKOMA (3) a. dan sangat resposif terhadap adjuvant chemotherapy.

Tipe ini sering terdapat pada anak-anak dan remaja dengan tingkat keganasannya sangat tinggi. dan derajat keganasannya sangat tinggi dengan prognosis jelek dengan angka metastasenya tinggi. Osteosarkoma Intrameduler Derajat Rendah Tipe ini sangat jarang dan merupakan variasi osseofibrous derajat rendah yang terletak intrameduler.Onsetnya biasanya sangat lama berkisar antara 3. Contoh klasik dari osteosarkoma sekuder adalah yang berasal dari paget‟s disease yang disebut pagetic osteosarcomas. Hal ini sangat sulit membedakan apakah sarkoma memang terjadi bersamaan pada lebih dari satu tempat atau lesi tersebut merupakan suatu metastase. Lokasi yang tersering adalah di humerus. Tipe lainnya adalah tipe Metachronous yang terdapat pada orang 27 . maka pengobatan dengan kemoterapi tidak merupakan pilihan karena toleransinya rendah. kemudian di daerah pelvis dan femur. Perjalanan penyakit sampai mengalami degenerasi ganas memakan waktu cukup lama berkisar 15-25 tahun dengan mengeluh nyeri pada daerah inflamasi dari paget‟s disease. f. Secara mikroskopik gambarannya mirip parosteal osteosarkoma. Multisentrik Osteosarkoma (3) Disebut juga Multifocal Osteosarcoma. Penderita biasanya mempunyai umur yang lebih tua yaitu antara 15. Oleh karena terjadi pada orang tua. Osteosarkoma Akibat Radiasi Osteosarkoma bisa terjadi setelah mendapatkan radiasi melebihi dari 30Gy. Variasi ini sangat jarang yaitu terdapatnya lesi tumor yang secara bersamaan pada lebih dari satu tempat. mengenai laki-laki dan wanita hampir sama. Selanjutnya rasa nyeri bertambah dan disusul oleh terjadinya destruksi tulang. tampak gambaran sklerotik pada daerah intrameduler metafise tulang panjang. fibous dysplasia. Lokasinya pada daerah metafise tulang dan terbanyak pada daerah lutut. Seperti pada parosteal osteosarkoma. osteosarkoma tipe ini mempunyai prognosis yang baik dengan hanya melakukan lokal eksisi saja. e. Pada pemeriksaan radiografi. Prognosis dari pagetic osteosarcoma sangat jelek dengan five years survival rate rata-rata hanya 8%.osteoblastoma. Ada dua tipe yaitu: tipe Synchronous dimana terdapatnya lesi secara bersamaan pada lebih dari satu tulang.35 tahun.65 tahun. (7) g. Di Eropa merupakan 3% dari seluruh osteosarkoma dan terjadi pada umur tua. benign giant cell tumor.

dewasa. yang mana ini dihubungkan dengan kepastian diagnosis dan prognosis dari osteosarkoma tersebut. Sistem ini dapat digunakan pada semua tumor muskuloskeletal (tumor tulang dan jaringan lunak). Pemeriksaan Penunjang 28 . dan ada tidaknya metastase. yaitu terdapat tumor pada tulang lain setelah beberapa waktu atau setelah pengobatan tumor pertama. lokasi anatomi dari tumor (intrakompartemen dan ekstrakompartemen). osteosarkoma harus berada diantara periosteum. Lesi tersebut mempunyai derajat IIA pada sistem Enneking. Pada tipe ini tingkat keganasannya lebih rendah. Jika osteosarkoma telah menyebar keluar dari periosteum maka derajatnya menjadi IIB. Pada tahun 1980 Enneking memperkenalkan sistem stadium berdasarkan derajat. Komponen utama dari sistem stadium berdasarkan derajat histologi (derajat tinggi atau rendah). penyebaran ekstrakompartemen. Untuk menjadi intra kompartemen. Untuk kepentingan secara praktis maka pasien digolongkan menjadi dua yaitu pasien tanpa metastase (localized osteosarkoma) dan pasien dengan metastse (metastatic osteosarkoma). karena tumor ini sangat jarang untuk bermetastase ke kelenjar limfa. dan adanya metastase. Stadium (3) Stadium konvensional yang biasa digunakan untuk tumor keras lainnya tidak tepat untuk digunakan pada tumor skeletal. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan peningkatan alkaline phosphatase dan lactic dehydrogenase.

Pada pasien tanpa metastase. CT kurang sensitif bila dibandingkan dengan MRI untuk evaluasi lokal dari tumor namun dapat digunakan untuk menentukan metastase pada paru-paru. Ketika dicurigai adanya osteosarkoma. potassium. yang mempunyai peningkatan nilai LDH kurang dapat menyembuh bila dibandingkan dengan pasien yang mempunyai nilai LDH normal. dan albumin. tetapi MRI seluruh tubuh dapat menggantikan bone scan. 29 . MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya. Isotopic bone scanning secara umum digunakan untuk mendeteksi metastase pada tulang atau tumor synchronous. chloride. phosphorus. bicarbonate. o Elektrolit : Sodium. Radiografi (1) Pemeriksaan X-ray merupakan modalitas utama yang digunakan untuk investigasi. Laboratorium Kebanyakan pemeriksaan laboratorium yang digunakan berhubungan dengan penggunaan kemoterapi. Pasien dengan peningkatan nilai ALP pada saat diagnosis mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mempunyai metastase pada paru. calcium.1. creatinine Urinalisis 2. magnesium. Pemeriksaan darah untuk kepentingan prognosa adalah lactic dehydrogenase (LDH) dan alkaline phosphatase (ALP). Beberapa pemeriksaan laboratorium yang penting termasuk: o o o o o LDH ALP (kepentingan prognostik) Hitung darah lengkap Hitung trombosit Tes fungsi hati: Aspartate aminotransferase (AST). o o Tes fungsi ginjal: blood urea nitrogen (BUN). bilirubin. alanine aminotransferase (ALT). Sangat penting untuk mengetahui fungsi organ sebelum pemberian kemoterapi dan untuk memonitor fungsi organ setelah kemoterapi.

2. Lesi terlihat agresif. dapat berupa moth eaten dengan tepi tidak jelas atau kadangkala terdapat lubang kortikal multipel yang kecil. Gambaran campuran antara proses destruksi dan proses pembentukan tumor tulang. Kombinasi antara tulang reaktif dan tulang neoplastik yang dibentuk sepanjang pembuluh darah berjalan radier dari kortek tulang ke arah masa tumor membentuk gambaran Sunbrust. Setelah kemoterapi. Dekat dengan persendian. yang semuanya mengindikasikan proses yang agresif. Area seperti awan karena sclerosis dikarenakan produksi osteoid yang maligna dan kalsifikasi dapat terlihat pada massa. Foto polos merupakan hal yang esensial dalam evaluasi pertama dari lesi tulang karena hasilnya dapat memprediksi diagnosis dan penentuan pemeriksaan lebih jauh yang tepat. Penyebaran pada jaringan lunak sering terlihat sebagai massa jaringan lunak. dan reaksi sunburst. yang diakibatkan oleh banyak pembentukan tumor tulang. penyebaran ini biasanya sulit dibedakan dengan efusi. 3. tetapi kebanyakan menunjukkan campuran antara area litik dan sklerotik.Radiologi : Didapat 3 macam gambar radiologi yaitu: 1. Berbagai spektrum perubahan dapat muncul. tulang disekelilingnya dapat membentuk tepi dengan batas jelas disekitar tumor. Gambaran osteoblastik. Pada MRI ditemukan garis akibat proses destruksi dan ekstensi jaringan lunak sel-sel tumor. spiculated. seringkali terdapat ketika tumor telah menembus kortek. pada MRI ditemukan garis destruksi.(3) Pertumbuhan neoplasma yang cepat mengakibatkan terangkatnya periosteum dan tulang reaktif terbentuk antara periosteum yang terangkat dengan tulang dan padaXRay terlihat sebagai segitiga Codman. a. X-ray Gambaran radiologis didapat adanya gambaran osteolitik dan osteoblatik. dimana proses destruksi merupakan proses utama. Gambaran foto polos dapat bervariasi. Sangat jarang hanya berupa lesi litik atau sklerotik.(1) 30 . termasuk Codman triangles dan multilaminated. Gambaran osteolitik.

Perubahan periosteal berupa Codman triangles (white arrow) dan masa jaringan lunak yang luas (black arrow). Sunburst appearance pada osteosarkoma di femur distal b. terutama pada area dengan anatomi yang kompleks (contohnya pada perubahan di mandibula dan maksila pada osteosarkoma gnathic dan pada pelvis yang berhubungan dengan osteosarkoma sekunder).Foto polos dari osteosarkoma dengan gambaran Codman triangle (arrow) dan difus. mineralisasi osteoid diantara jaringan lunak. CT Scan CT dapat berguna secara lokal ketika gambaran foto polos membingungkan. Gambaran cross-sectional memberikan gambaran yang lebih jelas dari destruksi 31 .

sendi dan jaringan lunak yang tertutupi fascia merupakan bagian dari kompartemen.(2) c. Pada osteosarkoma telangiectatic dapat memperlihatkan fluid level. Penilaian dari penyebaran tumor ekstraoseus melibatkan penentuan otot manakah yang terlibat dan hubungan tumor dengan struktur neurovascular dan sendi sekitarnya. CT jarang digunakan untuk evaluasi tumor pada tulang panjang. Penyebaran tumor intraoseus dan ekstraoseus harus dinilai. Hal ini penting untuk menghindari pasien mendapat reseksi yang melebihi dari kompartemen yang terlibat.CT sangat berguna dalam evaluasi berbagai osteosarkoma varian. keterlibatan epifisis. namun merupakan modalitas yang sangat berguna untuk menentukan metastasis pada paru. CT terutama sangat membantu ketika perubahan periosteal pada tulang pipih sulit untuk diinterpretasikan. Tulang.tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya daripada foto polos. dan adanya skip metastase. CT dapat memperlihatkan matriks mineralisasi dalam jumlah kecil yang tidak terlihat pada gambaran foto polos. Keterlibatan sendi dapat didiagnosa ketika jaringan tumor terlihat menyebar menuju tulang subartikular dan kartilago.2) 32 . MRI MRI merupakan modalitas untuk mengevaluasi penyebaran lokal dari tumor karena kemampuan yang baik dalam interpretasi sumsum tulang dan jaringan lunak. dan jika digunakan bersama kontras dapat membedakan dengan lesi pada aneurysmal bone cyst dimana setelah kontras diberikan maka akan terlihat peningkatan gambaran nodular disekitar ruang kistik. penilaian hubungan antara tumor dan kompartemen pada tempat asalnya merupakan hal yang penting. (1. MRI merupakan tehnik pencitraan yang paling akurat untuk menentuan stadium dari osteosarkoma dan membantu dalam menentukan manajemen pembedahan yang tepat. Untuk tujuan stadium dari tumor. Fitur yang penting dari penyakit intraoseus adalah jarak longitudinal tulang yang mengandung tumor.

namun skip lesion paling konsisten jika menggunakan MRI. (1.Gambaran MRI menunjukkan kortikal destruksi dan adanya massa jaringan lunak. d. Ultrasonography mungkin merupakan modalitas pencitraan satu satunya yang dapat menemukan rekurensi dini secara lokal. Nuclear Medicine Osteosarcoma secara umum menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop pada bone scan yang menggunakan technetium-99m methylene diphosphonate (MDP). (2) e. tetapi tidak bisa digunnakan untuk mengevaluasi komponen intermedula dari lesi. Pada pasien dengan implant prostetik. Ultrasonography berguna sebagai panduan dalam melakukan percutaneous biopsi.2) 33 . karena penggunaan CT atau MRI dapat menimbulkan artefak pada bahan metal. Ultrasound Ultrasonography tidak secara rutin digunakan untuk menentukan stadium dari lesi. skip lesion dan metastase paruparu dapat juga dideteksi. Meskipun ultrasonography dapat memperlihatkan penyebaran tumor pada jaringan lunak. Karena osteosarkoma menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop maka bone scan bersifat sensitif namun tidak spesifik. Bone scan sangat berguna untuk mengeksklusikan penyakit multifokal.

Dengan angiografi dapat ditentukan diagnose jenis suatu osteosarkoma. misalnya pada High-grade osteosarcoma akan ditemukan adanya neovaskularisasi yang sangat ekstensif. Angiografi Angiografi merupakan pemeriksaan yang lebih invasif. Selain itu angiografi dilakukan untuk mengevaluasi keberhasilan pengobatan preoperative chemotheraphy. 34 . Kriteria untuk diagnosis adalah didapatnya stroma sarkoma dengan pembentukan osteoid neoplastik dari tulang disertai gambaran anaplasia yang menyolok.f. Sel-sel ganas menembus rongga antara kumpulan osteoid. g. Patologi anatomi Gambar Patologi : Gambaran histologinya bervariasi. yang mana apabila terjadi mengurang atau hilangnya vaskularisasi tumor menandakan respon terapi kemoterapi preoperatif berhasil. Gambaran patologis ditemukannya stroma sarcoma dan anaplasia.

Osteomyelitis 3. Adapun kelainan-kelainan tersebut adalah: 1. Giant cell tumor 5.Gambaran angiografi pada Osteosarkoma DIAGNOSIS BANDING Beberapa kelainan yang menimbulkan bentukan massa pada tulang sering sulit dibedakan dengan osteosarkoma. Fibrous dysplasia Penatalaksanaan Preoperatif kemoterapi diikuti dengan pembedahan limb-sparing (dapat dilakukan pada 80% pasien) dan diikuti dengan postoperatif kemoterapi merupakan standar manajemen. Osteoblastoma 4.4 Medikamentosa Sebelum penggunaan kemoterapi (dimulai tahun 1970). Aneurysmal bone cyst 6. osteosarkoma ditangani secara primer hanya dengan pembedahan (biasanya amputasi). baik secara klinis maupun dengan pemeriksaan pencitraan. Meskipun dapat mengontrol 35 . sehingga radioterapi tidak mempunyai peranan dalam manajemen rutin.3. Ewings sarcoma 2. Osteosarkoma merupakan tumor yang radioresisten.

Pada pasien yang mempunyai lempeng pertumbuhan yang imatur mempunyai pilihan yang terbatas untuk fiksasi tulang yang stabil (osteosynthesis). namun lebih dari 80% pasien dengan osteosarkoma pada eksrimitas dapat ditangani dengan pembedahan limb salvage dan tidak membutuhkan amputasi. Batas radikal. dan methotrexate dosis tinggi dengan leucovorin. Fraktur patologis. dengan kontaminasi semua kompartemen dapat mengeksklusikan penggunaan terapi pembedahan limb salvage. cisplatin. dengan tingkat 5-year survival rates sebesar 50-70% dan sebesar 20% pada penanganan dengan hanya radikal amputasi. Pembedahan Tujuan utama dari reseksi adalah keselamatan pasien. Penggunaan neoadjuvant kemoterapi terlihat tidak hanya mempermudah pengangkatan tumor karena ukuran tumor telah mengecil. namun jika dapat dilakukan pembedahan dengan reseksi batas bebas tumor maka pembedahan limb salvage dapat dilakukan. 36 . Terapi kemoterapi tetap dilanjutkan satu tahun setelah dilakukan pembedahan tumor. Oleh karena hal tersebut maka penggunaan adjuvant kemoterapi sangat penting pada penanganan pasien dengan osteosarkoma. Tingginya tingkat rekurensi mengindikasikan bahwa pada saat diagnosis pasien mempunyai mikrometastase. maka dapat dilakukan rekonstruksi limb-salvage yang harus dipilih berdasarkan konsiderasi individual. Reseksi harus sampai batas bebas tumor. lebih dari 80% pasien menderita rekurensi tumor yang biasanya berada pada paru-paru. ifosfamide. Hasil dari kombinasi kemoterapi dengan reseksi terlihat lebih baik jika dibandingkan dengan amputasi radikal tanpa terapi adjuvant. Penolakan tidak muncul pada tipe graft ini dan tingkat infeksi rendah. Tipe dari pembedahan yang diperlukan tergantung dari beberapa faktor yang harus dievaluasi dari pasien secara individual. otot) biasanya tidak diperlukan. sendi. Pada beberapa keadaan amputasi mungkin merupakan pilihan terapi.tumor secara lokal dengan baik. sebagai berikut  Autologous bone graft: hal ini dapat dengan atau tanpa vaskularisasi. Semua pasien dengan osteosarkoma harus menjalani pembedahan jika memungkinkan reseksi dari tumor prmer. namun juga dapat memberikan parameter faktor prognosa. Jika memungkinkan. didefinisikan sebagai pengangkatan seluruh kompartemen yang terlibat (tulang. Pada penelitian terlihat bahwa adjuvant kemoterapi efektif dalam mencegah rekurensi pada pasien dengan tumor primer lokal yang dapat direseksi. Obat yang efektif adalah doxorubicin.

Kontrol lokal: penanganan di rumah sakit diperlukan untuk kontrol lokal dari tumor (pembedahan). Reseksi lobar atau pneumonectomy biasanya diperlukan untuk mendapatkan batas bebas tumor.  Prosthesis: rekonstruksi sendi dengan menggunakan prostesis dapat soliter atau expandable.  Resection of pulmonary nodules: nodul metastase pada paru-paru dapat disembuhkan secara total dengan reseksi pembedahan. Kemudian bagian distal dari kaki dirotasi 180º dan disatukan dengan bagian proksimal dari reseksi. Allograft: penyembuhan graft dan infeksi dapat menjadi permasalahan. namun lapangan pembedahan lebih baik jika menggunakan lateral thoracotomy. namun hal ini membutuhkan biaya yang besar. and ifosfamide. Oleh karena itu direkomendasikan untuk melakukan bilateral thoracotomies untuk metastase yang bilateral (masing-masing dilakukan terpisah selama beberapa minggu). Oleh karena itu hitung darah harus selalu dilakukan secara periodik. Selama reseksi tumor. Reseksi dari metastase juga dilakukan pada saat ini.   Demam dan neutropenia: diperlukan pemberian antibiotic intravena. cisplatin. terutama selama kemoterapi.6 Penanganan jangka panjang (7) Rawat inap  Siklus kemoterapi: hal ini secara umum memerlukan pasien untuk masuk rumah sakit untuk administrasi dan monitoring. biasanya sekitar 10 minggu. Obat aktif termasuk methotrexate. Dapat pula muncul penolakan graft. terutama bila ukuran tumor yang besar sehingga alternatif pembedahan hanya amputasi. 37 . pembuluh darah diperbaiki dengan cara end-to-end anastomosis untuk mempertahankan patensi dari pembuluh darah. Rotasi ini dapat membuat sendi ankle menjadi sendi knee yang fungsional. Prosedur ini dilakukan pada saat yang sama dengan pembedahan tumor primer. doxorubicin. Meskipun nodul yang bilateral dapat direseksi melalui median sternotomy.  Rotationplasty: tehnik ini biasanya sesuai untuk pasien dengan tumor yang berada pada distal femur dan proximal tibia. Pasien yang ditangani dengan agen alkylating dosis tinggi mempunyai resiko tinggi untuk myelodysplasia dan leukemia. Durabilitas merupakan permasalahan tersendiri pada pemasangan implant untuk pasien remaja.

Rawat jalan  Hitung jenis darah: pengukuran terhadap hitung jenis darah dilakukan dua kali seminggu terhadap granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF) pasien. sementara penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang memerlukan pembedahan radikal diikuti kemotherapy. Secara umum kunjungan dilakukan setiap 3 bulan selama tahun pertama. maka pasien dipertimbangkan sebagai survivors jangka panjang. dan neurologis.  Follow-up jangka panjang: ketika pasien sudah tidak mendapat terapi selama lebih dari 5 tahun. pengukuran G-CSF dapat dihentikan ketika hitung neutrophil mencapai nilai 1000 atau 5000/μL.  Monitoring rekurensi: monitoring harus tetap dilanjutkan terhadap lab darah dan radiografi. Pada permulaannya prognosis Osteosarkoma adalah buruk 5 years Survival Ratenya hanya berkisar antara 10-20%. kardiologi. 38 . Belakangan ini dengan terapi adjuvan berupa sitostatik yang agresif dan intensif yang diberikan prabedah dan pasca bedah maka Survival Rate menjadi lebih baik dapat mencapai 60-70%. sekarang pada pusat-pusat pengobatan kanker yang lengkap. Sekitar 75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis. dengan frekuensi yang menurun seiring waktu. Individu ini harus berkunjung untuk monitoring dengan pemeriksaan yang sesuai dengan terapi dan efek samping yang ada termasuk evaluasi hormonal.  Kimia darah: sangat penting untuk mengukur kimia darah dan fungsi hati pada pasien dengan nutrisi parenteral dengan riwayat toksisitas (terutama jika penggunaan antibiotik yang nephrotoxic atau hepatotoxic dilanjutkan. psychosocial. Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar ke organ lain. kemudian 6 bulan pada tahun kedua dan seterusnya. Prognosis Angka harapan hidup penderita kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru. maka terapi non amputasi atau Limb Salvage lebih sering dilakukan. Sayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Berkat terapi adjuvan juga terapi amputasi belakangan ini sudah berkurang.

39 .

Francis J.400-3. 2008. Meadows AT.medicastore. Textbook of disorders and injuries of the musculoskeletal system. McGraw-Hill : NewYork 3.com.522533. Womer RB. Salter. Kusuzaki K. Calcaneal osteosarcoma associated with werner syndrome.. Diakses 7 Juni 2010. Reksoprodjo. 2. 2003. Robert B. Hal. J Bone Joint Surg Am1992.p. 40 . 74:107983. Lippincott Williams & Wilkins : Philadeiphia. Current diagnosis & treatment in orthopaedics. Tsuji Y. Soelarto. 2002. 6. The Journal of Bone and Joint Surgery 2000. 7.175-82. Osteosarcoma as a second malignant neoplasmin children. McGraw-Hill: New York 4.DAFTAR PUSTAKA 1. Osteosarcoma. Kanemitsu K.p. Orthopaedic knowledge update musculoskeletal tumors. Gebhardt. 1st ed. Binarupa Aksara : Tangerang. Bechler JR. Hornicek. Robertson WW.82:9-12. Mark C. et al. 3rd ed. Edisi 2. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Tersedia di www. Skinner. 5. 1999.312-8. Harry B. 3rd ed. American Academy of Orthopaedic Surgeons.p. Lange Medical Book.

129 PEMBIMBING: DR JORIANTO J NING. SP.BO KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH RS OTORITA BATAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI BATAM MARET 2013 41 .08.CASE OSTEOSARKOMA OLEH: IVAN 030.