PELEDAKAN TAMBANG

Diposkan oleh Najib ARANGI PANJAH di 8:33 AM Label: Blasting, Pertambangan A. BAHAN PELEDAK Bahan peledak yang dimaksudkan adalah bahan peledak kimia yang didefinisikan sebagai suatu bahan kimia senyawa tunggal atau campuran berbentuk padat, cair, atau campurannya yang apabila diberi aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal akan mengalami suatu reaksi kimia eksotermis sangat cepat dan hasil reaksinya sebagian atau seluruhnya berbentuk gas disertai panas dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil. Bahan peledak diklasifikasikan berdasarkan sumber energinya menjadi bahan peledak mekanik, kimia, dan nuklir (J. J. Manon, 1978). Karena pemakaian bahan peledak kimia lebih luas dibandingkan dengan sumber energi lainnya, maka pengklasifikasian bahan peledak kimia lebih intensif diperkenankan. Pertimbangan pemakaiannya antara lain, harga relatif murah, penanganan teknis lebih mudah, lebih banyak variasi waktu tunda (delay time) dan dibandingkan dengan nuklir bahayanya lebih rendah.

Klasifikasi bahan peledak menurut Mike Smith (1988) yaitu : 1. Bahan peledak kuat contohnya TNT, Dinamite, Gelatine 2. Agen Peledakan contohnya ANFO, Slurries, Emulsi, Hybrid ANFO, Slurry mixtures 3. Bahan peledak khusus contohnya Seismik, Trimming, Permisible, shaped Charges, Binary, LOX, Liquid. 4. Pengganti bahan peledak contohnya Compressed air/gas, Expansion agents, mechanical methods, waterjets, jet piercing Sifat-sifat fisik bahan peledak adalah suatu kenampakan nyata dari sifat bahan peledak ketika menghadapi perubahan kondisi lingkungan sekitarnya, yaitu antara lain : 1. Densitas yaitu angka yang menyatakan perbandingan berat per volume 2. Sensitifitas adalah sifat yang menunjukan kemudahan inisiasi bahan peledak atau ukuran minimal booster yang diperlukan 3. Ketahanan terhadap air (water resistence)

karena detonator biasa tidak dapat digunakan tanpa sumbu. Sumbu peledakan Detonator adalah alat pemicu awal yang menimbulkan inisiasi dalam bentuk letupan (ledakan kecil) sebagai bentuk aksi yang memberikan efek kejut terhadap bahan peledak peka detonator atau primer. Sedangkan sumbu ledak adalah sumbu yng pada bagian intinya terdapat bahan peledak PETN. Dapat dikatakan bahwa sumbu api merupakan pasangan detonator biasa. Jenis-jenis detonator : 1.4. 2. . fungsinya adalah menerima gelombang kejut dan meledak dengan kekuatan besarnya tergantung pada berat isian dasar tersebut. Sumbu api adalah sumbu yang disambung ke detonator biasa pada peledakan dengan menggunakan detonator biasa. Detonator nonel (nonel detonator) 4. Isian dasar (base charge) disebut juga isian sekunder adalah bahan peledak kuat dengan VoD tinggi. Terdapat dua jenis muatan bahan peledak dalam detonator yang masing-masing fungsinya berbeda. Detonator elektronik (electronic detonator) Yang dimaksud dengan sumbu peledakan disini adalah sumbu api dan sumbu ledak. Fungsi sumbu api adalah untuk merambatkan api dengan kecepatan tetap pada detonator biasa. Kekuatan ledak (strength) detonator ditentukan oleh jumlah isian dasarnya. Karekteristik gas ( fumes characteristic) B. PERLENGKAPAN PELEDAKAN Perlengkapan peledakan adalah bahan–bahan yang membantu peledakan yang habis dipakai yaitu : 1. Detonator 2. Fungsi sumbu ledak adalah untuk merangkai suatu sistem peledakan tanpa menggunakan detonator didalam lubang ledak. fungsinya untuk menerima efek panas dengan sangat cepat dan meledak sehingga menimbulkan gelombang kejut. yaitu: 1. Kestabilan kimia (chemical stability) 5. Detonator listrik (electric detonator) 3. Isian utama (primary charge) berupa bahan peledak kuat yang peka (sensitive). Detonator biasa (plain detonator) 2.

 Peralatan yang langsung berhubungan dengan teknik peledakan Peralatan pendukung peledakan Peralatan yang berhubungan langsung dengan peledakan adalah . dan listrik statis. misalnya alat mengangkut dan alat pengaman b. C. misalnya alat pengukur kecepatan detonasi. EKNIK PELEDAKAN . Alat pendukung utama. benturan. pengukur getaran dan pengukur kebisingan. . serta lingkungan. Alat Pemicu ledak  Pada peledakan listrik ( Blasting Machine)  Pada peledakan nonel (shot gun / short fire)  Alat Bantu ledak listrik  Blasting Ohmmeter (BOM)  Pengukur kebocoran arus listrik  Multimeter peledakan  Pengukur kekuatan blasting machine  Pelacak kilat (lightning detector)  Alat Bantu peledakan lain  Kabel listrik utama (lead wire) atau sumbu nonel utama (lead in line)  Cramper (penjepit sambungan sumbu api dengan detonator biasa )  Meteran (50 ml) dan tongkat bambu ( ± 7 m) diberi skala ncampur dan pengisi Peralatan pendukung peledakan antara lain : a. Peralatan peledakan dapat dikelompokan menjadi : 1. arus liar. Alat pendukung tambahan terfokus pada penelitian peledakan yang tidak selalu dipakai pada peledakan rutin. berhubungan dengan aspek keselamatan dan keamanan kerja.Sumbu ledak mempunyai sifat tidak sensitive terhadap gesekan. 2. PERALATAN PELEDAKAN Peralatan peledakan adalah perangkat pembantu peledakan yang nantinya dapat dipakai berulang kali.

volume hasil ledakan. sesuai dimensi bukaan luasnya dipengaruhi oleh kestabilan bukaan tersebut hasil Terbatas karena dibatasi luas permukaan bukaan. yaitu jarak burden dan spasi sama 2. Pola zig-zag (staggered pattern). yaitu jarak spasi dalam satu baris lebih besar dibanding burden 3. perbedaan itu disebabkan oleh beberapa faktor seperti luas area. suplai udara segar. yaitu antara lubang bor dibuat zigzag yang berasal dari pola bujur sangkar maupun persegi panjang b. yaitu : 1. guguran batu dari seluruh pekerjaan dilakukan atap . Pola pengeboran pada bukaan bawah tanah .Terdapat perbedaan antara teknik peledakan pada sistem penambangan terbuka dengan sistem penambangan bawah tanah. tempat penyelamatan diri pada area terbuka terbatas a. PENYEBAB YANG MEMBEDAKAN POLA PENGEBORAN DI TAMBANG TERBUKA DAN BAWAH TANAH faktor Luas area Tambang bawah tanah Terbatas. Pola persegi panjang (rectangular system). Pola pengeboran TABEL 1. sehingga dapat direncanakan target yang besar system Tidak bermasalah karena dilakukan pada udara terbuka Volume peledakan Suplai segar Keselamatan kerja Kritis. dan keselamatan kerja. diameter mata bor dan kedalaman pengeboran udara Tergantung pada ventilasi yang baik Tambang terbuka Lebih luas karena terdapat di permukaan bumi dan dapat memilih area yang cocok Lebih besar bisa mencapai ratusan ribu meter kubik per peledakan. Pola pengeboran pada tambang terbuka Terdapat tiga pola pengeboran yang ada pada tambang terbuka. A. Pola bujur sangkar (square pattern). diakibatkan oleh ruang Relative lebih aman karena yang terbatas.

Mengurangi overbreak dan batu terbang (fly rock) 3. Cara ini lebih mudah dari pyramid cut tetapi kurang efektif untuk batuan yang keras. 3. Dapat mengarahkan lemparan fragmentasi batuan 5. Cara membuat dengan cara lubang bor dibuat miring untuk membentuk rongga di lantai atau di dinding.Pada pengeboran bukaan bawah tanah umumnya hanya terdapat satu bidang bebas. 4. Dapat memperbaiki ukuran fragmentasi batuan hasil ledakan B. Mengurangi gegeran akibat airblast dan suara (noise) 4. Secara umum pola peledakan menunjukan urutan atau sekuensial ledakan dari sejumlah lubang ledak Adanya urutan peledakan berarti terdapat jeda waktu ledakan yang disebut dengan waktu tunda (delay time). Mengurangi getaran 2. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan menerapkan waktu tunda pada sistem peledakan yaitu : 1. tetapi lubang bor antar pasangan sejajar. setiap pasang dari empat atau enam lubang dengan diameter yang sama dibor kearah satu titik. sehingga terbentuk baji. bentuknya mirip dengan baji perbedaannya terletak pada posisi bajinya tidak ditengah-tengah bukaan. Burden dan spacing . Tinggi jenjang 3. Center cut disebut juga pyramid atau diamond cut. tetapi terletak pada bagian lantai atau dinding bukaan. perlu dibuat tambahan bidang bebas yang disebut cut. angled cut atau cut berbentuk baji. Wedge cut atau V. pola ini sangat cocok untuk batu yang keras dan regas seperti batu pasir (sandstone) atau batuan beku dan tidak cocok untuk struktur berlapis. Fragmentasi 4. Burn cut disebut juga cylinder cut. Untuk itu. yaitu pemuka kerja atau face. Drag cut atau pola kipas. 2. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam mendesain suatu peledakan antara lain : 1. DESAIN PELEDAKAN Kondisi-kondisi tertentu pada operasi akan mempengaruhi secara detail daripada desain peledakan.cut. Diameter lubang ledak 2. empat atau enam lubang dengan diameter yang sama dibor kearah satu titik sehingga membentuk pyramid. Cara ini efektif pada batuan berlapis dan tidak keras dan pula berperan sebagai controlled blasting. Secara umum terdapat empat tipe cut yaitu : 1.

Umumnya dipakai pada quarry atau tambang terbuka dengan diameter lubang besar biasanya dipakai antara 10 – 15 m . terlebih lagi apabila ledakan dilakukan dekat dengan perumahan penduduk 2.5. Struktur batuan 6. Kestabilan jenjang 7. Hal ini perlu diperhatikan. Makin besar diameter lubang maka akan diperoleh laju produksi yang besar pula. Tipe bahan peledak yang akan digunakan 1. Diameter lubang bor Pemilihan diameter lubang ledak dipengaruhi oleh besarnya laju produksi yang direncanakan. Pertimbangan lain yang harus diperhatikan adalah kestabilan jenjang jangan sampai runtuh. . konsekuensinya burden juga kecil. Oleh karena itu upayakan hasil perbandingan tersebut melebihi 60 atau L/d ≥ 60 inci atau d = 5 – 10 K Dimana : d = Diameter lubang bor (mm) K = tinggi jenjang (m) Dengan diameter lubang bor yang kecil. Ketinggian jenjang dan kedalaman lubang bor Tinggi jenjang berhubungan erat dengan parameter geometri peledakan lainnya dan ditentukan terlebih dahulu atau terkadang ditentukan kemudian setelah parameter serta aspek lainnya di ketahui. Dampak terhadap lingkungan 8. ukuran fragmentasi batuan cenderung meningkat apabila perbandingan kedalaman lubang ledak dan diameter kurang dari 60 inci. Faktor yang membatasi diameter lubang ledak adalah :    Ukuran fragmentai hasil ledakan Isian bahan peledak utama harus dikurangi atau lebih kecil dari perhitungan teknis karena pertimbangan vibrasi bumi atau ekonomi Keperluan penggalian batuan secara selektif Pada kondisi batuan yang solid. Tinggi jenjang maksimum biasanya dipengaruhi oleh kemampuan alat bor dan ukuran mangkok (bucket) serta tinggi jangkauan alat muat. dengan persyaratan alat bor dan kondisi batuan sama. akan memberikan hasil fregmentasi yang bagus dengan getaran (groun vibration) rendah.

1 – 0. Secara praktis hubungan diameter lubang bor dengan ketinggian jenjang dapat diformulasikan sebagai berikut : K = 0.baik karena daya dukungnya lemah atau akibat getaran peledakan.5 D Dimana : K = Tinggi jenjang (m) D = Diameter lubang (mm) GAMBAR 1 HUBUNGAN DIAMETER LUBANG BOR DENGAN KETINGGIAN JENJANG 3. Untuk menentukan besarnya burden perlu diketahui harga dari burden ratio. Halhal yang harus diperhatikan dalam menentukan burden adalah : . Geometri Peledakan a. Fragmentasi Fragmentasi adalah istilah umum untuk menunjukan ukuran setiap bongkah dari batuan hasil peledakan. Ukuran fragmentasi tergantung pada proses selanjutnya. maka dikurangi dengan menggunakan bahan peledak yang lebih kuat b) Penambahan bahan peledak akan menambah lemparan c) Batuan dengan intensitas tinggi dan jumlah bahan peledak sedikit dikombinasikan dengan jarak spasi pendek akan menghasilkan fragmentasi kecil C. Beberapa ketentuan umum tentang hubungan fragmentasi dengan lubang ledak : a) Ukuran lubang ledak yang besar akan menghasilkan bongkahan fragmentasi. Burden (B) Burden adalah dimensi yang terpenting dalam menentukan keberhasilan suatu pekerjaan peledakan.

dan arah dimana pemindahan akan terjadi Besarnya burden tergantung dari karekteristik batuan. Sedangkan untuk struktur batuan dengan orientasi kesegala arah /rock fracture. Biasanya harga standar tang dipakai adalah 0. Untuk mendapatkan stress balance maka harga stemming sama dengan burden.70 dan ini sudah cukup untuk mengontrol air blast dan stress balance. kedalaman lubang bor. misalnya orientasi joint sejajar dengan jenjang maka burden dapat dirapatkan dan spasi dapat dijarangkan. karekteristik bahan peledak. Bila orientasi joint tegak lurus jenjang maka burden dapat dijarangkan dan spasi agak dirapatkan. Stemming (T) Stemming disebut juga collar. harga stemming ini sangat menentukan stress balance dalam lubang bor. letak primer. Spasing Spasing adalah jarak antara lubang-lubang bor yang dirangkai dalam satu baris (row) dan diukur sejajar terhadap “pit wall”. Biasanya spasing tergantung pada burden. . b.  Burden harus merupakan jarak dari muatan (charges) tegak lurus terhadap “free face” terdekat. Untuk material (batuan) yang homogen B = S. fungsi lain adalah untuk mengurung gas yang timbul. waktu tunda dan arah struktur bidang batuan. terutama pada collar proming. dan lain sebagainya. sedangkan untuk struktur batuan yang kompleks. jika perbandingan antara stemming dan burden kurang dari satu maka akan terjadi cratering atau back break. GAMBAR 2 ORIENTASI STRUKTUR BATUAN PADA JENJANG b. Pada batuan kompak.

flyrock. Hal ini untuk menghindari terjadi atau cratering. air blast.3 B Penentuan diameter lubang dan tinggi jenjang mempertimbangkan dua aspek. ρe = berat jenis bahan peledak dan ρr = berat jenis batuan Spasi ditentukan berdasarkan sistem tunda yang direncanakan dan kemungkinannya adalah :  Serentak tiap baris lubang ledak (instantaneous single-row blastholes) H < 4B →  . flyrock. Kedalaman lubang bor tidak boleh lebih kecil daripada burden. airblast. de = diameter bahan peledak (inci). Tinggi jenjang (H) e. jenis batuan dan jenis bahan peledak yang diekspresikan dengan densitasnya Rumusnya adalah : B= Dimana : B = burden (ft). H > 4B → S = 1. Sementara diameter lubang ledak ditentukan secara sederhana dengan menerapkan “aturan lima (rule of five)’ . dan getaran tanah yang hasilnya seperti terlihat dalam table. Sub drilling (SD) Adalah bagian dari kolom lubang ledak yang terletak dibagian dasar jenjang yang dimaksud untuk menghindari terjadinya toe pada lantai jenjang setelah peledakan d. Tinggi jenjang (H) dan burden (B) sangat erat hubungannya dengan keberhasilan peledakan dan ratio H/B ( yang dinamakan stiftness ratio) yang bervariasi memberikan respon berbeda terhadap fragmentasi. yaitu 1) efek ukuran lubang ledak terhadap fragmentasi.c. dan getaran tanah dan 2) biaya pengeboran. H = L – SD Dimana : L = kedalaman lubang ledak SD = sub drilling RANCANGAN MENURUT KONYA Burden dihitung berdasarkan diameter lubang ledak. yaitu ketinggian jenjang (dalam feet) “lima” kali diameter lubang ledaknya (dalam inci) . H > 4B → S = 2B Berurutan dalam tiap baris lubang ledak (sequenced single row blastholes) H < 4B → .7 B Subdrilling (SD) = 0.4B    Stemming (T) : batuan massif T = B sedangkan batuan berlapis T = 0.

peraturan tentang batas maksimum ketinggian jenjang yang diijinkan pemerintah. J = 8d – 12d 5. bandingkan dengan L/d ≤ 60 2. secara empiris H = 60d – 140d. Spasi antar lubang ledak sepanjang baris (S). Stemming (T). POTENSI YANG TERJADI AKIBAT VARIASI STIFFNES RATIO Stifness ratio 1 Fragmentasi buruk Ledakan udara besar Batu terbang banyak Getaran tanah besar Komentar Banyak muncul back break di bagian toe. kondisi batuan setempat.GAMBAR 3 TINGGI JENJANG MINIMUM BERDASARKAN “ATURAN LIMA RULE OF FIVE“ TABEL 2. T = 20d .5B 4. Tinggi jenjang (H).45d 3.Jangan di lakukan dan rancang ulang 2 3 4 sedang baik memuaskan sedang kecil sangat keci. S= 1B – 1. Burden (B) antar baris : B = 25d . Subgrade (J). Selanjutnya untuk menghitung parameter lainnya adalah sebagai berikut : 1. Jadi cara ini menitikberatkan pada alat yang tersedia atau yang akan dimiliki. serta produksi yang diinginkan. sedang sedikit sangat sedikit sedang kecil sangat kecil Bila memungkinkan rancang ulang Control dan fragmentasi baik Tidak akan menambah keuntungan bila stiffnes ratio diatas 4 RANCANGAN MENURUT ICI – EXPLOSIVE Salah satu cara merancang geometri peledakan adalah dengan “coba-coba” atau trial and error atau rule of thumb yang akan diberikan adalah dari ICI Explosive.30d . Tinggi jenjang (H) dan diameter lubang ledak (d) merupakan pertimbangan pertama yang disarankan.

Powder factor (PF) PF = Powder Faktor menunjukan jumlah bahan peledak (kg) yang dipakai untuk memperoleh satu satuan volume atau berat fragmentasi peledakan.6. Konversi dari volume padat ke volume lepas menggunakan factor berai atau sweel factor yaitu : . Volume tersebut disebut volume padat (solid atau insitu atau bank). sedangkan volume yang telah lepas disebut volume lepas (losse). jadi satuannya biasa kg/m3 atau kg/ton. Pemanfaatan PF cenderung berdasarkan pertimbangan ekonomis suatu proses peledakan Perhitungan Volume yang akan diledakan Prinsip volume yang kan diledakan adalah perkalian antara burden (B). spasi (S) dan tinggi jenjang yang hasilnya berupa balok dan bukan volume yang telah terberai oleh proses peledakan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful