MAKALAH PENCEMARAN KEBAKARAN HUTAN

Mata Kuliah Disusun Oleh NPM

: Bahasa Indonesia : Harry Norman : G1B011004

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BENGKULU
2011/2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT. Atas rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Bahasa Indonesia ini. Tugas ini merupakan salah satu tugas yang harus dibuat sebagai bahan mata kuliah. Kami mengucapkan terimakasih kepada Dosen Mata Kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan arahan dan bimbingan sehingga kami dapat mengerjakan tugas ini dengan baik. Kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan dalam pembuatan tugas ini. Untuk ini kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki bahkan menyempurnakan kembali di tugas yang akan datang. Bengkulu, 2012 Juni

Penulis

Selain manfaat ekonomi. dan merupakan hutan tropis terbesar ketiga di dunia.BAB I PENDAHULUAN A. hutan pun memiliki fungsi ekologis yang penting bagi kehidupan. Hutan Indonesia memiliki berbagai species yang beraneka ragam. Indonesia mengalami kebakaran hutan yang paling hebat di dunia. sementara itu kerusakan hutan dalam 5 tahun seluas 12 juta hektar sehingga 10. Belakangan ini kebakaran hutan menjadi perhatian internasional sebagai isu lingkungan dan ekonomi. LATAR BELAKANG Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah.7 juta hektar pertahun bahkan pada tahun 2003 Departemen Kehutanan mengatakan bahwa laju kerusakan hutan mencapai 3.5 juta hektar terabaikan. Pergeseran paradigma pembangunan kehutanan yang terjadi di Idonesia tidak telepas dari kesepakatan internasional dalam Konferensi Tingkat Tinggi Dunia mengenai pembangunan berkelan-jutan di Johanesburg tahun 2002 yang meninjau kembali dari konferensi PBB mengenai lingkungan dan Pembangunan di Rio De Janeiro 1992. Selama peristiwa ENSO 1997/98. Laporan FWI pada tahun 2002 menyatakan bahwa laju kerusakan hutan mencapai 1. Kebakaran dianggap sebagai ancaman potensial bagi pembangunan berkelanjutan karena efeknya secara langsung pada ekosistem. Pembangunan hutan melalui Gerakan Nasional Rehabilitasi Lahan dan Hutan (GN-RHL) yang berjangka waktu lima tahun hanya mampu menyelamatkan 1. khususnya setelah bencana El Nino (ENSO) 1997/98 yang menghanguskan lahan hutan seluas 25 juta hektar di seluruh dunia. kontribusi emisi karbon dan dampaknya bagi keanekaragaman hayati. Namun kini telah mengalami degradasi yang luar biasa. Pencemaran kabut asap merupakan masalah berulang bahkan selama tahuntahun ketika peristiwa ENSO di Indonesia dan negara-negara tetangganya tidak terjadi.4 juta hektar per tahun yang diakibatkan oleh berbagai sebab. sekitar 72 % hutan asli Indonesia hilang dan dari sisa 28 % dari hutan asli tersebut ternyata 25 % atau sekitar 30 juta hektar dalam kondisi rusak parah. salah satunya adalah dari kekayaan hutan yang merupakan sandaran hidup bagi sekitar 60 juta rakyat yang bermukim di dan sekitar hutan. . Pembangunan kehutanan di Indonesia telah bergeser dari paradigma management forestry menuju social forestry.5 juta hektar. Masalah yang sama teruiang pada 2002. Dari 130 juta hektar luas tutupan hutan Indonesia.

Untuk mencermati kasus kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia 2.8 juta ha /tahun. 3. Agar masyarakat menyadari bahwa hutan adalah sumber kehidupan bagi dunia 4. Untuk mengetahui bagaimana cara mencegah terjadinya kebakaran hutan C. Untuk mengetahui dampak dari pencemaran kebakaran hutan terhadap kesehatan 4. Agar masyarakat waspada terhadap terjadinya kebakaran hutan 3. Laju deforestasi 1.Pada tahun 1999 tercatat 101. maupun sosial. Bahkan Bank dunia memperkirakan bahwa hutan di Indonesia akan hilang dalam 10 – 15 tahun ke depan. illegal logging dan kebakaran hutan. berbagai pakar memprediksi bahwa hutan tropis dataran rendah di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan akan musnah dalam waktu sepuluh tahun. Untuk mengetahui apa saja penyebab terjadinya kebakaran hutan 3.79 juta ha (total 120. Kehancuran tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain pengelolaan yang tidak berkelanjutan. Dengan laju kerusakan seperti ini. TUJUAN 1. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari kebakaran hutan 2. Untuk mengetahui apa saja penyebab dari kebakaran hutan . B. MANFAAT 1.6 juta ha /tahun (2004) dan pada tahun 2005 laju deforestasi sebesar 3. dan pada berbagai aspek baik ekonomi.6 juta ha /tahun (2000). ekologi. Kebakaran hutan merupakan salah satu sebab degradasi hutan dan terbukti menimbulkan dampak merugikan di bidang kesehatan dan bidang-bidang lainnya.35 juta ha) hutan Indonesia dalam keadaan rusak.

9) mengurangi konflik atas lahan. Pentingnya pengelolaan hutan berkelanjutan telah dinyatakan dengan jelas dalam PROPENAS yang menyatakan bahwa sasaran di bidang ini adalah : 1) meningkatkan pengelolaan hutan marginal dan mengembangkan kehutanan sosial berbasis masyarakat. dan 10) mengembangkan institusi sosial yang mampu mengelola sumber daya secara terintegrasi. 6) merestrukturisasi sistem pengelolaan hutan. Hal ini terlihat dari menurunnya target produksi kayu bulat nasional dari 37 juta m3 per tahun pada awal tahun 1980-an menjadi sebesar 22 juta m3 pada akhir tahun 2000. Kegiatan yang dapat dianggap mendukung langkah-langkah ini adalah mendukung pengembangan sistem sertifikasi pengelolaan hutan yang dilaksanakan oleh pihak ketiga. 5) meningkatkan status hutan dengan mengakui hak-hak masyarakat. 3) meningkatkan peran hutan lindung dan hutan konservasi dalam ekonomi lokal. mendukung pusat penanganan pembalakan liar di Kementerian Kehutanan. hutan alam Indonesia sebagai modal alam (natural capital) telah kehilangan lebih dari 50 % potensinya. Pengelolaan Hutan Sejak tahun 1967 sampai tahun 2000 kebijakan pembangunan kehutanan tidak mampu memperbaiki kinerja pengelolaan hutan. . memonitor dan mengumpulkan data tentang kegiatan penebangan. Memberantas pembalakan liar dan perdagangan haram merupakan sasaran terkait. Dalam dua puluh tahun terakhir. 7) meningkatkan investasi dan peluang bisnis di sektor kehutanan. merestrukturisasi industri perkayuan yang melebihi ketentuan. termasuk hasil hutan bukan kayu dan jasa-jasa kehutanan. termasuk verifikasi dan pemeriksaan atas konsesi hutan. serta mengembangkan kapasitas pengawasan daerah perbatasan untuk mencegah maraknya perdagangan haram. 4) mengurangi pembalakan liar dan kebakaran hutan. 8) menyeimbangkan antara pemanfaatan dan konservasi. 2) meningkatkan nilai sesungguhnya dari hutan.1.BAB II PEMBAHASAN 2.

antara lain musim panas yang berkepanjangan sehingga menimbulkan kekeringan. Kebakaran tak disengaja Kebakaran yang tak disengaja akibat api yang berkobar liar merupakan penyebab penting kedua. yang masing-masing mempunyai skala dampak yang berbeda. 1988 mengelompokkan kebakaran hutan kedalam 4 (empat) tipe. Mass Fire. Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai risiko terkena dampak EL-NINO dan La-Nina. Pembersihan lahan. Api sebagai senjata . Api merupakan alat yang murah dan efektif untuk membersihkan lahan. misalnya.5 juta hektar hutan di Kalimantan habis terbakar. 2001 mengatakan bahwa terdapat perbedaan pemahaman penyebab yang mendasari terjadinya kebakaran. 2003 menyebutkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia merupakan kasus yang berulang dalam beberapa tahun terakhir. Ebert. banyak penyebab kebakaran yang saling terkait erat satu sama lain. Kebakaran ini disusul dengan kebakaran besar tahun 1998. sekitar 3. para pecinta lingkungan hidup menyebutkan bahwa kebakaran-kebakaran yang terjadi merupakan akibat pengelolaan hutan yang buruk. 2). Surface Fire. Organisasi-organisasi lingkungan hidup menyalahkan perusahaan-perusahaan kayu dan perkebunan. Penyebab Kebakaran Hutan Berdasarkan lokasi biomassa dan perilaku api. yaitu: Ground Fire. Crown Fire. Menkes-RI. Tercatat kebakaran hutan terbesar di Indonesia terjadi pada tahun 1997. 1). Kemudian pemerintah menyalahkan “suku-suku pengembara” yang melakukan perladangan berpindah atas kebakaran yang terjadi.2. 3). Penelitian Cifor 2001. Departemen Kehutanan. Areal perkebunan kelapa sawit meningkat dari 120. Dikatakan bahwa identifikasi ini bukan penggolongan yang bersih dan berdiri sendiri. dalam Cifor.2.000 hektar di tahun 1989 menjadi hampir 3 juta hektar di tahun 1999. mengidentifikasi empat penyebab langsung dari kebakaran. dan disukai oleh usaha-usaha skala besar yang ingin memberikan material kayu berkualitas rendah untuk dapat menanam tanaman industri seperti karet dan kelapa sawit. G. dan pada akhirnya menjadi salah satu factor pencetus kejadian kebakaran hutan. dan enam kekuatan yang mendasari terjadinya kebakaran. Dampak dari ELNINO menimbulkan perubahan iklim. Applegate. Di pihak lain. menyalahkan para peladang berpindah sebagai penyebab kebakaran di Kalimantan.

Kekurang cukupan pencegahan kebakaran Seringkali. melainkan berskala nasional dan bahkan berskala regional. bahkan terlalu sering tidak ada lembaga yang kompeten untuk mencegah kebakaran secara tepat. Sebagian dapat disebutkan antara lain pada aspek kesehatan. Selain itu juga dapat menimbulkan gangguan jarak pandang/ penglihatan. sehingga dapat menganggu semua bentuk kegiatan di luar rumah. maupun global. Dampak kebakaran menyangkut berbagai aspek. langsung maupun tidak langsung pada berbagai bidang maupun sektor.5). dan lain-lain dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia. NOx. iritasi kulit. menyebutkan adanya 4 (empat) aspek yang terindentifikasi sebagai dampak yang ditimbulkan dari kebakaran hutan adalah :     Dampak Dampak Dampak Dampak Terhadap Sosial. Gumpalan asap yang pedas akibat kebakaran yang melanda Indonesia pada tahun 1997/1998 meliputi wilayah Sumatra dan Kalimantan. sesak nafas. antara lain infeksi saluran pernafasan. baik fisik maupun non fisik. nasional. dst. COx. regional. 2003 menyatakan bahwa kebakaran hutan menimbulkan polutan udara yang dapat menyebabkan penyakit dan membahayakan kesehatan manusia. 2.). biodiversitas.3. iritasi mata. berskala lokal. Menteri Kesehatan RI. serta penurunan kualitas udara. Berbagai pencemar udara yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan. gas SOx. penurunan kualitas lingkungan hidup (kesuburan lahan. Budaya dan Ekonomi Terhadap Ekologis dan Kerusakan Lingkungan Terhadap Hubungan Antar negara terhadap Perhubungan dan Pariwisata Hidayat.Pembakaran menjadi faktor penting di pedesaan Indonesia di tahun-tahun terakhir. menurunnya keanekaragaman sumber daya hayati dan ekosistemnya. dan lain-lain. misalnya : debu dengan ukuran partikel kecil (PM10 & PM2. emisi GRK yang selanjutnya menimbulkan permanasan global dan perubahan iklim. regional maupun internasional sudah dilakukan guna menangatasi kebakaran hutan dan lahan. Para petani dan masyarakat lokal yang merasa diperlakukan tidak adil dengan hilangnya tanah mereka yang „diambil‟ oleh perusahaan perusahaan perkebunan sekarang menggunakan api 10). antara lain kerusakan ekologi. Untuk itulah berbagai upaya baik pada tingkat nasional. juga Singapura dan . Asap yang timbul dari kebakaran hutan dan lahan dapat mengganggu negara tetangga kita seperti Singapura dan Malaysia. pencemaran udara. Syumanda. Dampak Kebakaran Hutan Terhadap Kesehatan Secara umum dampak kebakaran hutan terhadap lingkungan sangat luas. mengatakan bahwa akibat yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berskala lokal.

siapa yang bertanggung jawab. the International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF) dan the United States Forest Service. bagaimana cara api menyebar dan jenis habitat mana yang paling berisiko. Strategi dan Pengendalian Kebakaran Hutan Dalam skala nasional isu kebakaran hutan mendapat perhatian dari pemerintah antara lain dengan adanya Brigade Kebakaran Hutan (Manggala Agni/GALAAG) dibawah kendali Ditjen PHKA-Dephut RI Pada tahun 1998. Disamping LAPAN. 2. saat ini banyak stasiun bumi dibangun dan menyediakan informasi serupa (misalnya satelit NOAA). Hal itu membuat Indonesia menjadi salah satu pencemar lingkungan terburuk di dunia pada periode tersebut.62-2. berdasarkan Surat Perintah Kepala Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jau(No. memulai studi multi disiplin yang difokuskan pada delapan lokasi rentan kebakaran di Sumatra dan Kalimantan. 2003 menyebutkan bahwa kebakaran yang mengakibatkan degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya ekonomi sekitar 1. Sekitar 75 juta orang terkena gangguan kesehatan yang disebabkan oleh asap. Dampak kebakaran hutan 1997/98 bagi ekosistem direvisi karena perubahan perhitungan luas kebakaran yang ditemukan.: SPRINT/45/VII/03/BJ) dibentuklah Tim Verifikasi dan Validasi Metode Pemantauan Mitigasi Bencana Kebakaran Hutan (Hot Spot) dan Kekeringan . Atas dasar itulah.7 miliar dolar. Taconi. Biaya akibat pencemaran kabut asap sekitar 674-799 juta dolar. biaya ini kemungkinan lebih tinggi karena perkiraan dampak ekonomi bagi kegiatan bisnis di Indonesia tidak tersedia. Pada skala regional. Namun dalam perjalanannya ternyata terdapat perbedaan-perbedaan antara informasi dari LAPAN dengan dari penyedia informasi lain. Valuasi biaya yang terkait dengan emisi karbon menunjukkan bahwa kemungkinan biayanya mencapai 2. Gambut yang terbakar di Indonesia melepas karbon lebih banyak ke atmosfir daripada yang dilepaskan Amerika Serikat dalam satu tahun. dengan tambahan dana dari Uni Eropa.4. Taconi (2003) mengatakan bahwa di Asia Tenggara keprihatinan mengenai dampak kebakaran hutan cukup signifikan. CIFOR. yang ditunjukkan dengan penandatanganan Perjanjian Lintas Batas Pencemaran Kabut oleh negara-negara anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) pada bulan Juni 2002 di Kuala Lumpur.8 miliar dolar.sebagian dari Malaysia dan Thailand. untuk menentukan mengapa kebakaran bisa terjadi. Perbedaan yang dimaksud terutama menyangkut jumlah dan kejadian hot spot.

sebagian besar dibakar dengan sengaja. Diasumsikan dengan resolusi paling tinggi.500 m2. Syumanda. 289/MENKES/SK/III/2003.2001). mencakup 3 (tiga) fase prosedur yaitu :    Fase Pra Bencana Fase Bencana Fase Pasca Bencana Kebakaran Hutan.7 juta hektar menjadi 11. di 100 konsesi perkebunan dan di 31 . Taconi. diketahui kebakaran terjadi di 65 konsesi HTI. 2003 mengatakan bahwa belakangan ini kebakaran hutan semakin menarik perhatian internasional sebagai isu lingkungan dan ekonomi. maka propinsi Riau mengalami kebakaran terbesar dibanding dengan propinsi lainnya. Hasil analisis data yang dilakukan WALHI dengan menggunakan data hotspot yang dikeluarkan LAPAN tertanggal 1 . 2005 mengatakan bahwa untuk kebakaran hutan tahun 2005. (Cifor. Taconi. Syumanda. Sekitar 10 juta hektar hutan. Angka ini diperoleh dari hitungan bahwa pada awal Juni ini kita sudah menemukan 2.18 Agustus 2005 dan ditumpang tindihkan (overlay) dengan Peta Pelepasan Kawasan untuk Perkebunan.. Dari hasil pemantauan WALHI dan beberapa ornop di Sumatera dan Kalimantan menunjukan bahwa sampai tanggal 18 Agustus 2005 di Sumatera terdapat 4482 titik panas yang tersebar hampir seluruh Sumatera kecuali Bengkulu.Ditinjau dari sektor kesehatan. Rowell dan Moore 2001). Kebakaran hutan di Indonesia yang terjadi tahun 1997/1998 merupakan kebakaran yang terbesar dalam sejarah kebakaran hutan di dunia. ditemukan i 3258 hotspots yang tersebar di hampir di seluruh Propinsi Riau kecuali Pekanbaru dan terindikasi terjadi di 100-an perusahaan kehutanan di Riau. Didasarkan pada data satelit NOAA-12 AVHRR and NOAA-16 AVHRR pada Agustus 2005. Titik Api terbanyak di Sumatera terdapat di perbatasan Sumatera Utara dan Riau dengan titik terbanyak terdapat di Propinsi Riau (Syumanda. strategi pengendalian dampak pencemaran udara akibat kebakaran hutan sebagaimana tertuang dalam Kepmen Kesehatan RI no.406 titik api.2005) . khususnya setelah bencana El Nino (ENSO) 1997/98 yang menghanguskan lahan hutan seluas 25 juta hektar di seluruh dunia (FAO 2001. Peta Konsesi HPH dan HTI yang dikeluarkan Departemen Kehutanan.7 juta hektar. 2003 menyebutkan bahwa informasi tentang luas dan lokasi kebakaran hutan pada 1997/98 dikumpulkan dan perkiraan luas kawasan yang dilanda kebakaran hutan direvisi dari 9. semak belukar dan padang rumput terbakar. 1 titik hotspot mewakili luas 1. 2003 mendapatkan angka kerugian senilai 2 milyar lebih untuk sebuah kebakaran tidak lebih dari 10 hari. R. Kebakaran hutan yang melanda Indonesia pada tahun 1997/1998 merupakan bencana besar bagi lingkungan dan ekonomi.

Sejumlah pihak didakwa sebagai pelaku telah diproses. Upaya Preventif Pencegahan Kebakaran Hutan Menurut UU No 45 Tahun 2004. Sementara itu. penanganan yang dilakukan pemerintah dalam kasus kebakaran hutan. Sebagai contoh : pada bulan Juli 1997 terjadi kasus kebakaran hutan. Mapping : pembuatan peta kerawanan hutan di wilayah teritorialnya masing-masing. daerah. penanganan menjadi lambat dan efek yang muncul (seperti : kabut asap) sudah sampai ke Singapura dan Malaysia. sampai unit kesatuan pengelolaan hutan. pemetaan daerah rawan yang dibuat berdasarkan hasil olah data dari masa lalu maupun hasil prediksi b. 2005). lebih banyak didominasi oleh penanganan yang sifatnya represif. proses peradilan bagi pihakpihak yang diduga terkait dengan kebakaran hutan (secara sengaja). Oleh karena itu. bahkan pada tahun 2008 ini. dan lain-lain. Berdasarkan data yang ada. baik yang disengaja maupun tidak disengaja. yaitu penanganan yang bersifat represif dan penanganan yang bersifat preventif. Penanganan kebakaran hutan yang bersifat represif adalah upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasi kebakaran hutan setelah kebakaran hutan itu terjadi. Ada kesamaan bentuk pencegahan yang dilakukan diberbagai tingkat itu. pencegahan kebakaran hutan perlu dilakukan secara terpadu dari tingkat pusat. Selama ini. namun yang lazim digunakan adalah 3 cara berikut: a. yaitu penanggungjawab di setiap tingkat harus mengupayakan terbentuknya fungsi-fungsi berikut ini : 1. contohnya adalah pemadaman. Upaya untuk menangani kebakaran hutan ada dua macam. peristiwa kebakaran hutan pada bulan Agustus terjadi di 196 konsesi perusahaan kehutanan dan perkebunan (Syumanda. provinsi. namun karena banyaknya kendala. tindakan atau kegiatan yang dilakukan dalam rangka menghindarkan atau mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan. Jadi penanganan yang bersifat preventif ini ada dan dilaksanakan sebelum kebakaran terjadi.konsesi HPH. pemetaan daerah rawan yang dibuat seiring dengan adanya survai desa (Partisipatory Rural Appraisal) . Penanganan jenis ini. Fungsi ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. meskipun hukuman yang dijatuhkan tidak membuat mereka jera. Ketidakefektifan penanganan ini juga terlihat dari masih terus terjadinya kebakaran di hutan Indonesia. Hal ini terbukti dari pembakaran hutan yang terjadi secara terus menerus. penanganan yang sifatnya represif ini tidak efektif dalam mengatasi kebakaran hutan di Indonesia. Dengan demikian. penanganan yang bersifat preventif adalah setiap usaha. berbagai ketidakefektifan perlu dikaji ulang sehingga bisa menghasilkan upaya pengendalian kebakaran hutan yang efektif. Upaya pemadaman sudah dijalankan.

Adanya standardisasi ini akan memudahkan petugas penanganan kebakaran untuk segera mengambil inisiatif yang tepat dan jelas ketika terjadi kasus kebakaran hutan Supervisi : pemantauan dan pengawasan kepada pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan hutan.2. Pemantauan adalah kegiatan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya perusakan lingkungan. Deteksi dini dapat dilaksanakan dengan 2 cara berikut :  analisis kondisi ekologis. dan sumber daya manusia yang tersedia di daerah. . sosial. diperlukan standar yang baku dalam berbagai hal berikut :  Metode pelaporan Untuk menjamin adanya konsistensi dan keberlanjutan data yang masuk.  Peralatan Standar minimal peralatan yang harus dimiliki oleh setiap daerah harus bisa diterapkan oleh pemerintah. pemetaan daerah rawan dengan menggunakan Global Positioning System atau citra satelit Informasi : penyediaan sistem informasi kebakaran hutan. serta peran aktivitas manusia yang seringkali memicu dan menyebabkan kebakaran hutan. c. Standardisasi : pembuatan dan penggunaan SOP (Standard Operating Procedure) Untuk memudahkan tercapainya pelaksanaan program pencegahan kebakaran hutan maupun efektivitas dalam penanganan kebakaran hutan.  Metode Pelatihan untuk Penanganan Kebakaran Hutan Standardisasi ini perlu dilakukan untuk membentuk petugas penanganan kebakaran yang efisien dan efektif dalam mencegah maupun menangani kebakaran hutan yang terjadi. Penyuluhan dimaksudkan agar menginformasikan kepada masyarakat di setiap wilayah mengenai bahaya dan dampak. pembinaan dan pelatihan kepada masyarakat. Penyuluhan juga bisa menginformasikan kepada masayarakat mengenai daerah mana saja yang rawan terhadap kebakaran dan upaya pencegahannya. meskipun standar ini bisa disesuaikan kembali sehubungan dengan potensi terjadinya kebakaran hutan. Jadi. diperlukan analisis yang tepat sehingga bisa dijadikan sebuah dasar untuk kebijakan yang tepat. Hal ini bisa dilakukan dengan pembuatan sistem deteksi dini (early warning system) di setiap tingkat. Ketika data yang masuk sudah lancar. 4. Pembinaan merupakan kegiatan yang mengajak masyarakat untuk dapat meminimalkan intensitas terjadinya kebakaran hutan. harus diterapkan sistem pelaporan yang sederhana dan mudah dimengerti masyarakat. 3. fasilitas pendukung. 5. sedangkan pengawasan adalah tindak lanjut dari hasil analisis pemantauan. dan ekonomi suatu wilayah  pengolahan data hasil pengintaian petugas Sosialisasi : pengadaan penyuluhan. khususnya data yang berkaitan dengan kebakaran hutan.

Sedangkan.pemantauan berkaitan langsung dengan penyediaan data. Hal ini akan mendukung kelancaran early warning system. aparatur pemerintah. Contohnya : pengawasan untuk menentukan status ketika akan terjadi kebakaran hutan o Represif : kegiatan pengawasan yang bertujuan untuk menanggulangi perusakan yang sedang terjadi atau telah terjadi serta akibat-akibatnya sesudah terjadinya kerusakan lingkungan. o Pemantauan pasif : Pemantauan yang dilakukan berdasarkan dokumen. Peran serta masyarakat menjadi kunci dari keberhasilan upaya pencegahan ini. 3) Pengembangan sistem komunikasi Sistem komunikasi perlu dikembangkan seoptimal mungkin sehingga koordinasi antar tingkatan (daerah sampai pusat) maupun antar daerah bisa berjalan cepat. Pemantauan. Contohnya : melakukan survei ke daerah-daerah rawan kebakaran hutan. pengawasan dapat dilihat melalui 2 pendekatan. o Pemantauan aktif Pemantauan dengan cara memeriksa langsung dan menghimpun data di lapangan secara primer. militer dan kepolisian. 2) Pengembangan organisasi penyelenggara Pencegahan Kebakaran Hutan Pencegahan Kebakaran Hutan perlu dilakukan secara terpadu antar sektor. serta kalangan swasta perlu menyediakan fasilitas yang memadai untuk memungkinkan terselenggaranya Pencegahan Kebakaran Hutan secara efisien dan efektif. Untuk mendukung keberhasilan. dan sosialisasi kebijakan yangberkaitan dengan kebakaran hutan. laporan. diperlukan berbagai pengembangan fasilitas pendukung yang meliputi : 1) Pengembangan dan sosialisasi hasil pemetaan kawasan rawan kebakaran hutan Hasil pemetaan sebisa mungkin dibuat sampai sedetail mungkin dan disebarkan pada berbagai instansi terkait sehingga bisa digunakan sebagai pedoman kegiatan institusi yang berkepentingan di setiap unit kawasan atau daerah. upaya pencegahan yang sudah dikemukakan diatas. . tingkatan dan daerah. termasuk laporan pemantauan tertutup.kemudian pengawasan merupakan respon dari hasil olah data tersebut. Sementara itu. transfer data. dan keterangan dari data-data sekunder. menurut kementerian lingkungan hidup. dibagi menjadi empat. yaitu : o Pemantauan terbuka : Pemantauan dengan cara mengamati langsung objek yang diamati. Contoh : patroli hutan o Pemantauan tertutup (intelejen) : Pemantauan yang dilakukan dengan cara penyelidikan yang hanya diketahui oleh aparat tertentu. yaitu : o Preventif : kegiatan pengawasan untuk pencegahan sebelum terjadinya perusakan lingkungan (pembakaran hutan).

mengalami degradasi. dan ditumbuhi semak belukar. hutan-hutan yang telah dibalak. Upaya menyalahkan perladangan tradisional gilir balik adalah sangat tidak beralasan. Penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bisa bermacam-macam. Dapat dikatakan bahwa kebakaran hutan adalah side efek dari kesalahan kebijakan dan pengelolaan hutan di Indonesia. penyebab utamanya adalah akibat aktivitas pembukaan lahan (land clearing) dengan menggunakan api (dibakar). konversi lahan HPHTI/Perkebunan sawit (swasta). yang akhirnya menjadi ritme keseharian industri kehutanan dan perkebunan di Indonesia. Munculnya Kasus Kebakaran Hutan. mesikpun pada masa itu juga telah terjadi el Nino. Salah satu penyebab deforestasi hutan adalah kasus kebakaran hutan. imas dan bakar. jauh lebih rentan terhadap kebakaran.2. Kedua fungsi hutan tersebut sangat erat kaitannya dengan kepentingan nasional maupun internasional. Kontribusi kebakaran hutan dengan emisi CO2 pada GRK adalah sangat signifikan. . Sependapat dengan Hidayat dkk. terutama selama musim kering. Penyebab dan Kerugiannya Kasus kebakaran hutan yang besar di Indonesia dimulai sejak 1980 an. Sumatera ataupun di Kalimantan merupakan salah satu akibat dari salah urus pengelolaan hutan sejak awal. baik secara tradisional (oleh masyarakat).5. Kebakaran hutan dan lahan merupakan fenomena yang sudah sering terjadi di berbagai tempat di Indonesia. juga mengurangi kemampuan hutan dalam perannya sebagai fungsi klimatologis atau rosot karbon. Hal ini dapat dipahami bahwa kegiatan tradisional tersebut telah lama diakukan oleh masyarakat tradisional dengan kearifan lokalnya tidak pernah terjadi kebakaran besar. melepaskan jumlah karbon yang jauh lebih banyak daripada mangrove yang terbakar. Namun selama ini sebagaimana sudah diketahui banyak pihak. Sebaliknya. Dengan demikian secara global fungsi hutan terutama sebagai fungsi klimatologis (penyerap/ rosot karbon) dan fungsi ekologis (sebagai habitat biodiversitas) juga mengalami penurunan. Dampak peningkatan GRK ini adalah terjadinya pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim global yang pada akhirnya berdampak pada semua bentuk kehidupan di bumi. 2003 bahwa meningkatnya frekuensi dan intensitas kebakaran hutan di Indonesia seperti Riau. Hutan-hutan tropis basah yang belum ditebang (belum terganggu) umumnya benar-benar tahan terhadap kebakaran dan hanya akan terbakar setelah periode kemarau yang berkepanjangan. ketika industri perkebunan mulai menggeliat dan mulai mempraktekkan budaya tebang. Pada hutan rawa gambut yang terbakar. yang berdampak ganda disamping mempertinggi emisi CO2 ke atmosfer.

4 membuat komoditi perkebunan tidak cocok untuk tumbuh dikawasan tersebut. UU ini juga secara tegas memberikan denda sebesar 500. Perhitungan tersebut belum memasukkan nilai Tegakan Kayu. mencapai lebih dari 2 Milyar rupiah untuk kebakaran hutan tahun 1997/1998 pada delapan provinsi. Sumber Genetika. Jika perhitungan ini memasukkan luasan yang tidak lagi mengeluarkan panas sehingga tak terdeteksi sebagai hot spot tentu nilai yang terhitung akan jauh lebih besar lagi. Dapat disimpulkan bahwa penyebab utama kebakaran hutan adalah faktor manusia dan faktor yang memicu meluasnya areal kebakaran adalah kegiatan perladangan oleh masyarakat yang sembrono.Dalam skala lokal kasus kebakaran hutan di Riau dan juga kebakaran hutan di Kalimantan. Provinsi Riau tentunya menderita kerugian terbesar mengingat Riau mengalami kebakaran terbesar. Perhitungan kerugian kebakaran hutan sangatlah besar. UU Kehutanan No 41 tahun 1999 kurang memberikan perhatian yang memadai bagi upaya penanggulangan kebakaran. dengan pH berkisar antara 3 . abu yang tersisa akan mampu menaikkan pH tanah menjadi 5 – 6 sehingga layak untuk ditanami. Sejak bencana kebakaran hutan yang terjadi di tahun 1997. Kita bisa membandingkan dengan negara Malaysia yang memberlakukan kebijakan tegas (tanpa kecuali) tentang larangan pembukaan lahan dengan cara bakar. berbagai studi dan kajian telah dilakukan. Fungsi Rekreasi. Hasil Hutan Non Kayu. dan pulau-pulau lainnya berpengaruh antara lain pada aspek ekonomi (PAD) dan aspek ekologis dan juga segala aspek kehidupan masyarakat terutama aspek sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat. Bahkan sejumlah bantuan dari UNDP pada tahun 1998 yang telah menghasilkan Rancang Tindak Pengelolaan Bencana Kebakaran tidak dimanfaatkan. bersama UU No. Sulawesi. Fungsi Ekologi. Fakultas Kehutanan . Pembakaran hutan dan lahan dibeberapa tempat juga dijadikan pilihan untuk menaikkan pH tanah. Keaneka-ragaman Hayati dan Perosot Emisi Karbon. 6/99 tentang Pengusahaan Hutan dan Pemungutan Hasil Hutan pada Hutan Produksi dimana tidak ada satupun referensinya yang menyinggung masalah pencegahan kebakaran hutan dalam konteks pengusahaan hutan. Di sebagian Kalimantan dan Sumatera misalnya. Demikian halnya dengan PP No.000 ringgit dan/ 5 tahun penjara baik bagi pemilik mapun penggarap lahan. yang bila dihitung akan melebihi angka tersebut. Bahkan UU No 23/97 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pemerintah kurang serius untuk meminimalisir apalagi menindak pelaku pembakaran. pembukaan HTI dan perkebunan (sektor swasta) serta konflik penguasaan wilayah hutan. Sebagai contoh bahwa larangan membakar hutan yang terdapat dalam UU Kehutanan ternyata dapat dimentahkan untuk tujuan-tujuan khusus sepanjang mendapat izin dari pejabat yang berwenang (pasal 50 ayat 3 huruf d). 41/99 juga tidak memberikan mandat secara spesifik sama sekali untuk mengembangkan PP tentang kebakaran hutan. Dengan melakukan pembakaran.

baik di tingkat nasional dan di tingkat propinsi.IPB bersama Departemen Kehutanan dan ITTO juga menelurkan rancangan kebijakan yang menghasilkan rekomendasi kebijakan operasional. 2. Lembaga operasional kebakaran hutan dfisebut dengan Brigade Kebakaran Hutan. 4 tahun 2001). Indonesia juga memiliki beragam undang-undang lingkungan dan peraturan lainnya yang menghukum pelaku pembakaran yang dilakukan secara sengaja. dan pada saat penulisan laporan. Namun demikian berbagai undang-undang ini jarang ditegakkan. Berbagai usaha pemadaman kebakaran dilakukan berdasarkan koordinasi di antara beberapa lembaga yang terkait. tingkat . Berbagai lembaga yang terlibat dalam pengelolaan kebakaran tidak memi l iki mandat yang memadai. Kenyataan diatas menunjukkan bahwa prospek adanya suatu kebijakan yang efektif untuk menjawab masalah kebakaran yang muncul setiap tahun sampai saat ini masih suram. dalam usaha untuk menghentikan sikap sal ing menyalahkan di kalangan berbagai cabang lembaga pemerintah. Direktorat untuk menanggulangi kebakaran hutan berada di bawah Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA). yang meliputi polusi dan kerusakan terhadap lingkungan yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan. propinsi dan daerah dalam menangani kebakaran. yang menghambat pencegahan kebakaran lahan dan usaha untuk memadamkan api pada tahun-tahun sebelumya. Kelembagaan Kebakaran Hutan Departemen Kehutanan merupakan satu-satunya lembaga pemerintah dengan tugas khusus untuk pencegahan dan pengendal ian kebakaran. Peraturan Kebakaran Hutan dan Sanksi Pembakar Hutan Beberapa lembaga pemerintah memiliki berbagai kebijakan tentang pencegahan dan pengendalian kebakaran. dan semua itu belum diadopsi menjadi kebijakan pemerintah. tetapi kebijakan ini tidak terkoordinasi dengan baik dan umumnya tidak ditegakkan. hampir tidak ada tindakan resmi yang diambi l untuk menghukum berbagai perusahaan yang terlibat dalam pembakaran. tidak ada hukuman resmi penting yang dijatuhkan. Bahkan akibat kebakaran tahun 1997-1998.7. Namun menjelang pertengahan tahun 2001 kebakaran hebat telah membakar sebagian besar Sumatera dan Kalimantan pada bulan Juli. Secara kelembagaan Indonesia belum memiliki suatu organisasi pengelolaan kebakaran yang benar-benar profesional. diberi nama Manggalka Agni/GALAAG. 2. pemerintah mengeluarkan satu peraturan baru tentang kebakaran hutan (Peraturan Pemerintah No.6. Peraturan baru ini mengatur tanggung jawab masing-masing pemerintah pusat. Pada bulan Februari 2001. menyebarkan kabut sampai jauh ke Malaysia dan Thailand bagian selatan.

. Praktek Swalling dan Prescribe Burning telah lama dipraktekkan untuk mengelola hutan. dan berbagai kemampuan kelembagaan lokal yang lemah. Pengurangan Resiko Kebakaran Hutan Pada dasarnya resiko kebakaran hutan dapat dikurangi. mandat yang tidak memadai. Beberapa kelemahan pokok dalam hal pemadaman kebakaran di Indonesia yang diidentifikasi oleh kajian Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup/UNDP meliputi: tumpang tindihnya fungsi di antara berbagai lembaga yang berbeda. Hal ini mengacu pada praktek masyarakat tradisonal yang telah eksis ratusan tahun memanfaatkan api dalam usaha perladangan berpindah. Kearifan lokal masyarakat tradisional yang terbukti membuat selamat hutan selama ratusan tahun perlu digali dengan lebih dalam.8. wewenang dan tanggung jawab kelembagaan yang tidak jelas. diantaranya adalah bahwa dalam menggunakan api harus ditunggui dan jika ditinggalkan maka api harus benarbenar sudah padam. 2.kemampuan dan peralatan yang tidak memadai untuk melakukan tugas-tugas mereka. Kalangan rimbawan telah familiar dengan istilah manajemen api.

beberapa tipe vegetasi hutan merupakan klimaks api. Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk mencermati kasus kebakaran hutan di Indonesia yang terjadi dari tahun 1998-2005. dan pada berbagai aspek baik ekonomi. internasional.BAB III PENUTUP I.35 juta ha. lemahnya peraturan perundangan dan penegakan aturan yang ada. Indonesia mempunyai luas hutan yang menempati urutan ke tiga dunia setelah Brasil dan Zaire. dan juga bagi kesehatan manusia. serta sumber pendapatan masyarakat lokal. namun demikian saat ini semakin terancam akibat sering terjadinya kebakaran hutan dari tahun ke tahun. Dengan sumber yang cukup tinggi bagi pendapatan ekspor. Penyebab kebakaran hutan di Riau ataupun di tempat lain di Indonesia bersumber pada kebijakan pengelolaan hutan. nasional. ekologi. lapangan kerja. ekologi. atau 63 persen luas daratan (Herdiman. regional. penyebab kebakaran hutan. serta berskala lokal. 2003). dampak terhadap kesehatan (berbagai macam penyakit yang ditimbulkan) dan . dan global. Pengurangan resiko kebakaran hutan dapat ditempuh dengan mempertimbanglkan kearifan lokal dari masyarakat tradisional Rimbawan telah menggunakan api dalam praktek kehutanan yang dikenal dengan istilah manajemen api dalam bentuk Swalling dan Prescribe Burning. mencakup tingkat kebakaran hutan yang terjadi. maupun sosial. Hutan dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu merupakan salah satu sumber daya alam yang penting bagi Indonesia. Bahwa api tidak bisa sepenuhnya dihilangkan dari ekosistem hutan. dan mekanisme sistem/kelembagaan yang bertanggung jawab terhadap kebakaran hutan. KESIMPULAN Kebakaran hutan dalam skala besar merupakan salah satu sebab degradasi hutan dan terbukti menimbulkan kerusakan dan kerugian baik pada aspek ekonomi. Luas hutan Indonesia kini diperkirakan mencapai 120. maupun sosial. Kebakaran hutan merupakan salah satu sebab degradasi hutan dan terbukti menimbulkan dampak merugikan di bidang kesehatan dan bidangbidang lainnya. dan dapat dianggap sebagai ancaman potensial bagi pembangunan berkelanjutan karena efeknya secara langsung bagi ekosistem kontribusinya terhadap peningkatan emisi karbon dan dampaknya bagi keanekaragaman hayati.

ketika industri perkebunan mulai menggeliat dan mulai mempraktekkan budaya tebang. SARAN Sebaiknya untuk mencegah kebakaran hutan. . lemahnya peraturan perundangan dan penegakan aturan yang ada. kita sebagai masyarakat hendaknya melakukan hal yang positif. imas dan bakar. Bahwa api tidak bisa sepenuhnya dihilangkan dari ekosistem hutan. Pengurangan resiko kebakaran hutan dapat ditempuh dengan mempertimbanglkan kearifan lokal dari masyarakat tradisional. dan juga bagi kesehatan manusia. Rimbawan telah menggunakan api dalam praktek kehutanan yang dikenal dengan istilah manajemen api dalam bentuk Swalling dan Prescribe Burning. Penyebab kebakaran hutan di Indonesia bersumber pada kebijakan pengelolaan hutan. Kebakaran hutan dalam skala besar merupakan salah satu sebab degradasi hutan dan terbukti menimbulkan kerusakan dan kerugian baik pada aspek ekonomi. Kasus kebakaran hutan yang besar di Indonesia dimulai sejak 1980 an. II. seperti: o o o o o Penghijauan dan reboisasi atau penanaman kembali pohon-pohon Menghentikan pembakaran hutan secara terus-menerus Membentuk gerakkan penghijauaan secara berkalah Melakukan tebang pilih secara teratur Jangan melakukan tindakan yang bisa merugikan seperti hutan terbakar yang dilekukan secara sengaja. maupun sosial.pengendalian/pengatasan masalah kebakaran hutan dalam kontek pembangunan kehutanan berkelanjutan di Indonesia. ekologi. dan dapat dianggap sebagai ancaman potensial bagi pembangunan berkelanjutan karena efeknya secara langsung bagi ekosistem kontribusinya terhadap peningkatan emisi karbon dan dampaknya bagi keanekaragaman hayati. dan mekanisme sistem/kelembagaan yang bertanggung jawab terhadap kebakaran hutan. beberapa tipe vegetasi hutan merupakan klimaks api.

Jakarta. . 2005. Bogor . Iowa. http://www..wikipedia. Kendall/Hunt Publishing Company. 2005. Disasters Violence of Nature and Threats by Man. Forest Protection and Nature Conservation. Dephut-Jica.C. March 2005. Indonesia: Forest Watch Indonesia dan Washington D.com/akibat-pencemaran-kebakaran-hutan. Dubuque. Jakarta.V. A. Ginson. dalam FFPMP 2 UPDATE. Direktorat Penanggulangan Kebakaran Hutan. .H. FWI/GFW. 1988. Eksekutif Data Strategis Kehutanan 2003. . C. 2001. Ditjen PHKA-Dephut-RI.BAB IV DAFTAR PUSTAKA Departemen Kehutanan. Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Ditjen PHKA Dephut.: Global Forest Watch. Mobilisasi/Sistem Komando Pemadaman Kebakaran Hutan di Propinsi Jambi. Jakarta. Keadaan Hutan Indonesia. Ditjen PHKA. Ebert.

2001. Indonesia: Forest Watch Indonesia dan Washington D. Kebakaran hutan yang melanda Indonesia pada tahun 1997/1998 merupakan bencana besar bagi lingkungan dan ekonomi. sebagian besar dibakar dengan sengaja Direktorat Penanggulangan Kebakaran Hutan.wikipedia. Namun kini telah mengalami degradasi yang luar biasa Departemen Kehutanan. salah satunya adalah dari kekayaan hutan yang merupakan sandaran hidup bagi sekitar 60 juta rakyat yang bermukim di dan sekitar hutan ( http://www. Keadaan Hutan Indonesia. langsung maupun tidak langsung pada berbagai bidang maupun sektor. Bogor . antara lain kerusakan ekologi.C. serta penurunan kualitas udara. Surface Fire. Ebert. Berdasarkan lokasi biomassa dan perilaku api. Jakarta. regional. Eksekutif Data Strategis Kehutanan 2003. nasional. Sekitar 10 juta hektar hutan. Ditjen PHKA Dephut. menurunnya keanekaragaman sumber daya hayati dan ekosistemnya. berskala lokal. yaitu: Ground Fire. Crown Fire. 1988 mengelompokkan kebakaran hutan kedalam 4 (empat) tipe. semak belukar dan padang rumput terbakar. Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai risiko terkena dampak EL-NINO dan La-Nina FWI/GFW.Nama NPM : Harry Norman : G1B0011004 Artikel Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Mass Fire. . maupun global . baik fisik maupun non fisik. dan merupakan hutan tropis terbesar ketiga di dunia. Secara umum dampak kebakaran hutan terhadap lingkungan sangat luas.: Global Forest Watch. Jakarta.com/akibat-pencemaran-kebakaran-hutan ) Hutan Indonesia memiliki berbagai species yang beraneka ragam. yang masing-masing mempunyai skala dampak yang berbeda. Dampak kebakaran menyangkut berbagai aspek.

2005.( http://www. Dubuque. Di sebagian Kalimantan dan Sumatera misalnya. A. Kedua fungsi hutan tersebut sangat erat kaitannya dengan kepentingan nasional maupun internasional. March 2005 Salah satu penyebab deforestasi hutan adalah kasus kebakaran hutan..com/akibat-pencemaran-kebakaran-hutan ) Dari hasil pemantauan WALHI dan beberapa ornop di Sumatera dan Kalimantan menunjukan bahwa sampai tanggal 18 Agustus 2005 di Sumatera terdapat 4482 titik panas yang tersebar hampir seluruh Sumatera kecuali Bengkulu Ginson. Dephut-Jica. 2005. 2005. dalam FFPMP 2 UPDATE. yang berdampak ganda disamping mempertinggi emisi CO2 ke atmosfer. . Mobilisasi/Sistem Komando Pemadaman Kebakaran Hutan di Propinsi Jambi. Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Mobilisasi/Sistem Komando Pemadaman Kebakaran Hutan di Propinsi Jambi. Ginson. .4 membuat komoditi perkebunan tidak cocok untuk tumbuh dikawasan tersebut Ditjen PHKA. Dephut-Jica.wikipedia. dalam FFPMP 2 UPDATE. Dengan demikian secara global fungsi hutan terutama sebagai fungsi klimatologis (penyerap/ rosot karbon) dan fungsi ekologis (sebagai habitat biodiversitas) juga mengalami penurunan. Disasters Violence of Nature and Threats by Man. Provinsi Riau tentunya menderita kerugian terbesar mengingat Riau mengalami kebakaran terbesar. Kendall/Hunt Publishing Company. juga mengurangi kemampuan hutan dalam perannya sebagai fungsi klimatologis atau rosot karbon.H. dengan pH berkisar antara 3 . A. 1988. March 2005 Pembakaran hutan dan lahan dibeberapa tempat juga dijadikan pilihan untuk menaikkan pH tanah.V. Jakarta. mencapai lebih dari 2 Milyar rupiah untuk kebakaran hutan tahun 1997/1998 pada delapan provinsi. Iowa. . Ditjen PHKA-Dephut-RI. Perhitungan kerugian kebakaran hutan sangatlah besar. Ebert. Forest Protection and Nature Conservation. C.

Ditjen PHKA-Dephut-RI. Forest Protection and Nature Conservation. maupun sosial. 2005.Kebakaran hutan dalam skala besar merupakan salah satu sebab degradasi hutan dan terbukti menimbulkan kerusakan dan kerugian baik pada aspek ekonomi. Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Ditjen PHKA. . dan juga bagi kesehatan manusia. dan dapat dianggap sebagai ancaman potensial bagi pembangunan berkelanjutan karena efeknya secara langsung bagi ekosistem kontribusinya terhadap peningkatan emisi karbon dan dampaknya bagi keanekaragaman hayati. Jakarta. ekologi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful